Anda di halaman 1dari 52

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan ilmu pngetahuan dan teknologi semakin meningkat dengan
drastisnya. Perkembangan tersebut merupakan suatu perkembangan diri manusia.
Dengan mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut manusia dapat berinteraksi
dengan alam dan bagaimana cara mengolahnya dengan ilmu tersebut. Misalkan
pada alat pembangkit listrik yang dulunya memakai kuda atau hewan yang
bergerak mengelilingi lingkaran poros generator sebagai penggerak utama
generator sekarang telah dirubah menjadi ketel uap sebagai penggerak generator.
Dengan ilmu pengetahuan tersebut akan lebih mudah mengaplikasikan sesuatu
dan merubahnya dengan meminimkan kerugian-kerugian pada alat tersebut.
Salah satu pengaplikasian ilmu pengatahuan dan teknologi tersebut adalah
dengan membuat ketel uap. Ketel uap merupakan alat berbentuk bejana tertutup
untuk menghasilkan uap (steam), uap tersebut diperoleh dengan memanaskan
bejana yang berisi air dengan pembakaran bahan bakar. Ketel uap digunakan
untuk menghasilkan uap bertekanan yang salah satunya digunakan untuk
menggrakkan turbin uap yang disambungkan ke generator, pompa dan lain-lain.
Ketel uap banyak digunakan pada industry kecil menengah sebagai system
peralatan prose pengolahan, seperti pengolahan cengkeh pala dan sebagainya.
Juga bisa digunakan sebagai media pemanas pada industry tahu, industry rotan
dan sebagainya. Sebagai pemanas dapur dengan bahan bakar kayu maupun ampas
tebu, karena ampas tebu maupun kayu murah harganya dan mudah didapat.
Namun, seiring dengan perkembangan jaman LPG merupakan bahan bakar
alternative untuk pengganti bahan bakar kayu. Ketel uap (boiler) sebagai
penghasil uap yang dipakai untuk sumber energy proses merupakan suatu alur
produksi dalam suatu industry pangan maupun industry lainnya karena sangat
penting fungsinya dalam prose produksinya. Boiler biasanya dipakai untuk proses
perebusan/memasak, sterilisasi, penyulingan, pengering dan sebagainya.
Dengan demikian ketel uap merupakan sarana penting dalam industri
pangan, obat-obatan, manufacturing dan lain-lain. Sehingga ketel uap perlu untuk
dipelajari lebih lanjut dan dikembangkan agar menjadi lebih baik dalam
2

penggunaanya. Terlebih jika dipelajari oleh mahasiswa teknik mesin yang


merupakan bagian dari manufaktur. Oleh karena itu, ketel uap perlu dipelajari
didunia manufaktur dalam teknik mesin.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dijabarkan rumusan masalah berikut ini.
1. Bagaimana Definisi dan fungsi dari Ketel Uap?
2. Bagaimana konstruksi dan komponen-komponen ketel uap?
3. Bagaimana siklus dan prinsip kerja ketel uap?
4. Bagaimana klasifikasi dan pemilihan ketel uap ?
5. Bagaimana jenis-jenis ketel uap secara umum ?
6. Bagaimana Heat Transfer perpindahan panas ketel uap dan proses
terbentuknya uap air dalam Instalasi Ketel Uap?
7. Bagaimana cara menghitung daya ketel dan efisiensinya?
8. Alat-alat apa yang dibutuhkan untuk meningkatkan efisiensi ketel uap?
9. Bagaimana kerugian-kerugian panas dan neraca kalor pada ketel uap?

1.3 Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa mengetahui dan
memahami:
1. Definisi dan fungsi dari ketel uap.
2. Konstruksi dan komponen-komponen beserta fungsinya.
3. Siklus dan prinsip kerja ketel uap.
4. Klasifikasi ketel uap dan pemilihanya.
5. Jenis-jenis Ketel Uap Secara Umum
6. Heat transfer perpindahan panas dan proses terbentuknya uap air dalam
instalasi ketel uap.
7. Cara menghitung daya ketel dan efisiensi ketel uap.
8. Alat-alat peningkat efisiensi ketel uap.
9. Kerugian-kerugian panas dan neraca kalor ketel uap.
3

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi dan Fungsi Ketel Uap
Menurut Syamsir (1988), Uap air (Steam) adalah gas yang timbul akibat
perubahan fasa air (cair) menjadi uap (gas) dengan cara direbus atau dipanaskan
(boiling). Untuk melakukan proses pendidihan diperlukan energi panas yang
diperoleh dari sumber panas, misalnya dari pembakaran bahan bakar (padat,cair,
gas), tenaga listrik dan gas panas sebagai sisa proses kimia serta tenaga nuklir.
Penguapan dapat terjadi disembarang tempat dan waktu pada tekanan normal
(atm mutlak), bila diatas permukaan zat cair tekanan turun (diturunkan) dibawah
tekanan mutlak. Uap yang terjadi atau yang dihasilkan dengan cara demikian tidak
mempunyai energi potensial jadi tidak dapat digunakan sebagai sumber energi.
Sedangkan yang dimaksud dengan uap air yang potensial sebagai sumber energi
adalah apabila uap air tersebut memiliki tekanan dan suhu yang tinggi yang
dipergunakan untuk alat tertentu. Untuk menghasilkan uap yang mempunyai
energi potensial yang dapat dipergunakan sebagai sumber energi dibutuhkan
sebuah alat atau mesin penguap air dengan cepat, salah satunya adalah ketel uap.
Ketel uap atau pendidih yang dalam bahasa inggris disebut dengan boiler
adalah alat untuk menghasilkan uap air, yang akan digunakan untuk pemanasan
atau tenaga gerak (Wikipedia), dalam pengertian lain ketel uap atau boiler adalah
suatu bejana atau wadah yang didalamnya berisi air atau fluida lain untuk
dipanaskan. Energi panas dari fluida tersebut selanjutnya digunakan utuk berbagai
macam keperluan, seperti untuk turbin uap, pemanas ruangan, mesin uap, dan lain
sebagainya.
Ketel uap merupakan gabungan yang kompleks dari pipa-pipa penguapan
(evaporator), pemanas lanjut (superhiater), pamanas air (ekonomizer) dan
pemanas udara (air heater). Pipa-pipa penguapan (evaporator) dan pemanas
lanjut (superheater) mendapat kalor langsung dari proses pembakaran bahan
bakar, sedangkan pemanas air (ekonomizer) dan pemanas udara (air heater)
mendapat kalor dari sisa gas hasil pembakaran sebelum dibuang ke atmosfer.
Air adalah media yang berguna dan murah untuk mengalirkan panas kesuatu
proses. Air panas atau uap (steam) pada tekanan dan suhu tertentu mempunyai
4

nilai energi yang kemudian digunakan untuk mengalirkan panas dalam bentuk
energi kalor ke suatu proses. Jika air di didihkan sampai menjati uap (steam) maka
volumenya akan meningkat sekitar 1600 kali dan meghasilkan tenaga yang
menyerupai bubuk mesiu yang mudah meledak. Sehingga sistem boiler atau ketel
uap dalam pengelolahanya harus dijaga dengan sangat baik.
Energi kalor yang dibangkitkan dalam sistem boiler memilki nilai tekanan,
temperatur, dan laju aliran yang menentukan pemanfaatan uap air (steam) yang
akan digunakan. Berdasarkan ketiga hal tersebut sistem boiler mengenal keadaan
tekanan-temperatur rendah (Low Pressure/LP) dan tekanan-temperatur tinggi
(high pressure/HP). Dengan perbedaan itu pemanfaatan uap air yang keluar dari
sistem boiler dimanfaatkan dalam suatu proses untuk memanaskan cairan dan
menjalankan suatu mesin, atau membangkitkan energi listrik dengan merubah
energi kalor menjadi energi mekanik yang memutar generator sehingga
menghasilkan energi listrik (power boilers). Selain pemanfaatan tekanan-
temperatur tinggi sebagai penggerak generator, sisa uap air turbin dngan keadaan
tekanan-temperatur rendah dapat dimanfaatkan ke dalam proses industri.
Bejana pada ketel uap biasanya terbuat dari baja (steel alloy), atau awalnya
dari besi tempa. Baja stainless steel atau baja anti karat sebenarnya tidak
disarankan oleh ASME Biler Code untuk digunakan pada bagian-bagian yang
basah dari ketel uap modern, tapi seringkali digunakan pada bagian pemanas
lanjut (superheater) yang tidak akan terpapar ke cairan untuk ketel uap. Tembaga
atau kuningan sering digunakan karena lebih mudah dipabrikasi untuk ketel uap
ukuran kecil. Sejarahnya, tembaga sering digunakan untuk peti api (firebox)
terutama untuk lokomotif uap air, karena kemudahanya dibentuk dan pegantar
panas yang tinggi. Namun saat ini, harga tembaga yang tinggi menjadi pilihan
yang tidak ekonomis dan lebih murah menggunakan material pengganti seberti
baja. Panas yang diberikan kepada fuida di dalam boiler berasal dari pembakaran
dengan solar atau minyak bumi, gas, ampas tebu dan batu bara. Dengan adanya
kemajuan teknologi, energi nuklir pun juga digunakan sebagai sumber panas pada
boiler.
Sistem boiler terdiri dari sistem air umpan, sistem uap air, dan sistem bahan
bakar. Sistem air umpan berfungsi sebagai penyediaan air untuk boiler yang dapat
5

bekerja secara otomatis sesuai dengan kebutuhan uap air. Sistem uap air berfungsi
sebagai pengumpul dan pengontrol produksi steam dalam boiler. Uap air dialirkan
melalui sistem pemipaan ke titik pengguna. Pada keseluruhan sistem, tekanan uap
air diatur menggunakan kran dan dipantau dengan alat pemantau tekanan. Sistem
bahan bakar berfungsi sebagai peralatan yang digunakan untuk menyediakan
bahan bakar untuk menghasilkan panas yang dibutuhkan. Peralatan yang
diperlukan pada sistem bahan bakar tergantung pada jenis bahan bakar yang
digunakan pada sistem.

2.2. Konstruksi dan Komponen-komponen Ketel Uap


Komponen sistem ketel uap terdiri dari komponen utama dan komponen bantu
yang masing-masing memiliki untuk menyongkong prinsip kerja ketel uap dalam
sistem.

Gambar Konstruksi dan Komponen-komponen Ketel Uap


Komponen-komponen ketel uap secara umum sebagai berikut
1. Dearator
2. Distribution conveyor
3. Dapur (furnace)
6

4. Superheated steam valve


5. Air heater
6. Induced Draft fan (I.D.F)
7. Cerobong asap (chimney)
8. Secondary fan
Komponen utama ketel uap sebagai berikut :
a. Dapur Pembakar (Furnance)
Dapur pembakar (furnance) adalah suatu ruangan dapur sebagai penerima
bahan bakar untuk pembakaran, yang dilengkapi dengan fire grate pada bagian
bawah diletakan rangka bakar sebagai alas bahan bakar, dan pada sekelilingnya
adalah pipa-pipa air ketel yang menempel pada dinding tembok dapur yang
mendapat atau menerima panas dari bahan bakar. Adapun pemindahan panas yang
terjadi pada ketel uap ada 3 proses, yaitu:
Pemindahan panas dengan pancaran atau radiasi dari nyala api dan gas
panas kepada dinding ketel dan pipa-pipa air.
Panas ini mengalir memalui hantaran atau konduksi dari sisi dinding yang
menerima panas ke sisi dinding yang memberi panas.
Selanjutnya panas ini dengan cara singgungan atau konveksi diserahkan
kepada air yang mengalir.
Ruang bakar terbagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu:
Ruang pertama berfungsi sebagai ruang pembakaran, sebagai pemanas
yang dihasilkan dan diterima langsung oleh pipa-pipa air yang berada di
dalam ruangan dapur tersebut (pipa-pipa air) dari drum ke header samping
kanan/kiri.
Ruang kedua merupakan ruang gas panas yang diterima dari hasil
pembakaran dalam ruang pertama. Di dalam ruang kedua ini sebagian
besar panas dari gas diterima oleh pipa-pipa air drum atas ke drum bawah.
Dalam ruang pembakaran pertama udara pembakaran ditiupkan oleh
Blower Forced Draft Fan (FDF) melalui lubang-lubang kecil disekeliling
dinding ruang pembakaran dan melalui kisi-kisi bagian bawah dapur (fire
grates).
7

Jumlah udara yang diperlukan diatur melalui klep (Air Draft Controller)
yang dikendalikan dari panel saklar ketel. Sedangkan dalam ruang kedua, gas
panas dihisap oleh blower (Induced Draft Fan) sehingga terjadi aliran panas dari
ruangan pertama ke ruang kedua dapur. Pembakaran di dalam ruang kedua
dipasang sekat-sekat sedemikian rupa yang dapat memperpanjang permukaan
yang dilalui gas panas, supaya gas panas tersebut dapat memanasi seluruh pipa air,
sebagian permukaan luar drum atas dan seluruh bagian luar drum bawah.

b. Steam Drum
Drum atas berfungsi sebagai tempat pembentukan uap yang dilengkapi
dengan sekat-sekat penahan butir-butir air untuk memperkecil kemungkinan air
terbawa uap. Steam drum terletak di bagian atas, adalah suatu tabung atau bejana
yang berisi air dan sebagian uap dengan perbadingan 50% : 50%. Steam drum
merupakan tempat pembuatan uap pada ketel. Disamping sebagai tempat
pembuatan uap, juga digunakan sebagai tempat penerima air pengisi ketel. Karena
perbedaan suhu pada air pengisisan dan air yang berada di dalam steam drum dan
air yang berada di dalam pipa-pipa, maka terjadilah sirkulasi air di dalam ketel,
sehingga air yang bersuhu rendah akan mengalir kebawah melalui pipa-pipa dan
down corner. Demikian pula sebaliknya pada air yang bersuhu tinggi akan
mengalir ke atas melalui pipa-pipa disekeliling dapur, akhirnya menguap pada
permukaan air yang ada di dalam steam drum.

Gambar Steam Drum


(Sumber: http//www.3.bp.blogspot.com)
8

c. Water Drum
Drum bawah berfungsi sebagai tempat pemanasan air ketel yang
didalamnya di pasang plat-plat pengumpul endapan lumpur untuk memudahkan
pembuangan keluar (blow down). Water drum terletak dibagian bawah, adalah
suatu tabung atau bejana yang berisi air sebagai penguhubung pipa-pipa ketel dari
pisteam drum. Disamping itu, water drum juga berfungsi sebagai tempat
pengendapan kotoran-kotoran air dalam ketel, yang tidak menempel pada dinding-
dinding ketel, melainkan terlarut dan mengendap. Dengan jalan atau perlakuan
blow down maka kotoran-kotoran tersebut akan dapat dibuang dan dikeluarkan
dari dalam ketel. Kotoran-kotoran tersebut misalnya, SiO2 , Fe, dsb.

Gambar Water Drum


(Sumber: http//www.2.bp.blogspot.com)

d. Pemanas Lanjut Uap (Steam Superheater)


Superheater adalah piranti penting pada unit pembangkit uap.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan temperatur uap jenuh tanpa
menaikkan tekanannya. Biasanya piranti ini merupakan bagian integral
dari ketel, dan ditempatkan dijalur gas asap panas dari dapur. Gas asap
ini digunakan untuk memberikan panas lanjut pada uap. Superheater
Sudgen yang biasanya terpasang pada ketel Lanchasire diperlihatkan oleh
gambar 4.10. Piranti ini terdiri dari dua kotak baja atau heater dimana
9

bergantung padanya sekumpulan pipa lengkung berbentu U. Ujung dari


pipa-pipa ini diteruskan ke header.
Uap masuk ke ujung belakang header dan keluar diujung depan
header. Panas yang berlebihan pada pipa superheater dicegah dengan
menggunakan damper penyeimbang yang diopersikan dengan handel.
Superheater bekerja jika damper pada posisi yang ditunjukkan gambar.
Jika damper pada posisi vertikal, gas akan lewat langsung di dasar tanpa
melewati pipa-pipa superheater. Pada kondisi ini maka superheater tidak
bekerja. Perlu dicatat bahwa jika superheater bekerja, katup G dan H
dalam kondisi terbuka dan katup F tertutup. Jika uap diambil langsung
dari ketel, katup G dan H tertutup dan katup F terbuka.

Gambar Superheater
(Sumber: Yunus, 2010)

e. Pipa Air (Header)


Pipa-pipa air berfungsi sebagai tempat pemanasan air ketel yang dibuat
sebanyak mungkin hingga penyerapan panas lebih merata dengan efisiensi tinggi,
pipa-pipa ini terbagi dalam beberapa macam, diantaranya adalah sebagi berikut:
Pipa air yang menghubungkan drum atas dengan header muka atau
belakang.
Pipa air yang menghubungkan drum dengan header samping kanan atau
samping kiri.
Pipa air yang menghubungkan drum atas dengan drum bawah.
10

Pipa air yang menghubungkan drum bawah dengan header belakang.

f. Air Heater
Air heater adalah alat pemanas udara penghembus bahan bakar. Prinsip
kerja air heater yaitu memanaskan udara yang lewat disela-sela pipa dialirkan
udara hembusan dari Forced Draft Fan (F.D.F) yang lewat di sekitar pipa-pipa
yang di dalamnya mengalir gas bekas dari pembakaran bahan bakar. Udara
berhembus sebelum melalui air heater mempunyai suhu yang sama dengan udara
luar yakni sekitar 380C, dan setelah melalui air heater dapat mencapai suhu
antara 2000C-2300C.
Keuntungan penggunaan air heater adalah:
Pemanfaatan kalor gas buang.
Pembuatan uap lebih cepat.

Gambar Air Heater


(Sumber: http//www.encrypted-tbn3.gstatic.com)

g. Dust Collector
Dust collector adalah alat pengumpul abu atau penangkap abu pada
sepanjang aliran gas pembakaran bahan bakar sampai kepada gas
buang. Keuntungan penggunaan dust colector adalah :
Gas buang akan menjadi bersih, sehingga tidak mengganggu
pencemaran udara.
Tidak menjadikan kerusakan alat-alat bantu lainnya, misalnya: pipa-
pipa air heater, cashing Induced Draft Fan (I.D.F) yang aus karena
gesekan abu, pasir, dsb.
11

Tidak mengganggu jalannya operasi.

Gambar Dust Collector


(Sumber: http//www.encrypted-tbn1.gstatic.com)

h. Pembuangan Gas Bekas


Gas bekas setelah ruang pembakaran kedua dihisap oleh blower isap
(Induced Draft Fan) melalui saringan abu (Dast Colector) kemudian dibuang ke
udara bebas melalui cerobong asap (Chimney) Pengaturan tekanan di dalam dapur
dilakukan pada corong keluar blower (Exhaust) dengan katup yang diatur secara
otomatis oleh alat hidrolis (Furnace Draft Control).

i. Air Seal Damper


Air seal damper adalah alat yang terdiri dari dua buah damper atas dan
bawah. Air seal damper bekerja membuka dan menutup secara bergantian yang
memiliki fungsi ganda, yaitu untuk mengeluarkan abu pada dust collector, juga
menjaga agar udara luar tidak masuk akibat tarikan yang berasal dari induced
draft fan atau biasa disebut dengan (I.D.F).

j. Ash Rotary Valve


Ash rotary valve adalah alat bantu yang berfungsi sama dengan air seal
damper, yaitu untuk mengeluarkan abu pada dust collector, juga menjaga agar
udara luar tidak masuk akibat tarikan induced draft fan (I.D.F) yang membedakan
yaitu ash rotary valve bekerja berputar. Alat-alat pengaman boiler, mengingat
12

bahwa tekanan kerja dan temperatur ketel yang sangat tinggi, maka ketel harus
dilengkapi dengan alat-alat pengaman sebagai berikut:
Katup Pengaman (Safety Valve), alat ini bekerja membuang uap apabila
tekanan melebihi dari tekanan yang telah ditentukan sesuai dengan
penyetelan katup alat ini. Umumnya pada katup pengaman tekanan uap
basah (Saturated Steam) diatur pada tekanan 21 kg/ cm 2 , sedang
pada katup pengaman uap kering tekanannya 20,5 kg/ cm 2 .
Gelas Penduga (Sight Glass), gelas penduga adalah alat untuk melihat
tinggi air di dalam drum atas, untuk memudahkan pengontrolan air
dalam ketel selama operasi. Agar tidak terjadi penyumbatan-
penyumbatan pada kran-kran uap dan air pada alat ini, maka perlu
diadakan penyepuan air dan uap secara periodik pada semua kran
minimal setiap 3 (tiga) jam. Gelas penduga ini dilengkapi dengan alat
pengontrolan air otomatis yang akan membunyikan bell dan menalakan
lampu merah pada waktu kekurangan air. Pada waktu kelebihan air bell
juga akan berbunyi dan lampu hijau yang akan menyala.
Kran Spei air (Blow Down Valve), kran spei air ini dipasang 2 (dua)
tingkat, satu buah kran buka cepat (Quick Action Valve) dan satu buah
lagi kran ulir. Bahan dari kedua kran ini dibuat dari bahan yang tahan
tekanan dan temperatur tinggi.
Pengukur Tekanan (Manometer), manometer adalah alat pengukur
tekanan uap di dalam ketel yang dipasang satu buah untuk tekanan uap
panas lanjut dan satu buah untuk tekanan uap basah. Untuk menguji
kebenaran penunjukan alat ini, pada setiap manometer dipasang kran
cabang tiga yang digunakan untuk memasang manometer penara
(Manometer Tera).
Kran Uap Induk, kran uap induk berfungsi sebagai alat untuk membuka
dan menutup aliran uap ketel yang terpasang pada pipa uap induk
terbuat dari bahan tahan panas dan tekanan tinggi.
Kran Pemasukan Air, kran pemasukan air 2 (dua) buah yaitu satu kran
ulir dan lainnya kran satu arah (Non Return Valve). Kedua alat ini
terbuat dari bahan yang tahan panas dan tekanan tinggi.
13

Peralatan dan perlengkapan lain yang diperlukan untuk ketel uap adalah: Alat
penghembus debu pada pipa air ketel (Mechanical Soot Blower). Alat Pemasukan
air ketel otomatis (Automatic Feed Regulator). Panel-panel listrik komplit dengan
alat-alat ukur. Meter pencatat tekanan dan temperature (Manometer & Temperatur
Recorder). Kran-kran buangan udara, air kondensat, dan header.

k. Soot Blower
Soot blower adalah alat yang berfungsi sebagai pembersih jelaga atau abu
yang menempel pada pipa-pipa. Alat ini berada pada dinding-dinding samping
kanan kiri ketel. Media pembersihnya adalah uap yang diambilkan dari steam
drum yang bertekanan 11-13 kg/cm2 setelah melalui steam reducer.
Soot blower bekerja secara manual yang biasannya dilakukan pada setiap 4
jam sekali atau pada saat setelah dilakukan damping stocker (pembuangan abu
dapur). Cara pelaksanaan soot blowing adalah berurutan dimulai dari depan atau
mengikuti jalannya gas asap. Hal tersebut dimaksudkan agar mendapatkan hasil
penyemprotan yang bersih dan sempurna.

Gambar Soot Blower


(Sumber: http//www.data:image/jpegbase64)

l. Burner
Burner adalah alat yang berfungsi sebagai penyemprot bahan bakar cair
misalnya solar, residu, dll. Pada pabrik gula penggunaan burner sangat ditekan
karena dengan penggunaan burner berarti menggunakan bahan bakar yang beli,
sedangkan pabrik gula adalah produsen bahan bakar padat yaitu bagasse. Oleh
karena itu harus diupayakan agar mois atau kandungan air pada bagasse sekecil
14

mungkin. Namun demikian peralatan burner harus tetap dipasang, karena pada
sebelum tersedia bahan bakar bagasse maka Burner harus digunakan. Selain itu
mungkin terjadi gangguan pada pada peralatan bahan bakar bagasse pada saat
operasi.

Gambar Burner
(Sumber: http//www.encrypted-tbn0.gstatic.com)

m. Blow Down Continue


Blow down continue adalah pembuangan air ketel yang dilakukan secara
terus menerus. Adapun air ketel yang dibuang tersebut diambilkan dari steam
drum yaitu pada permukaan air. Hal tersebut dilakukan karena menyangkut
beberapa hal :
Menghilangkan seandainya terjadi buih atau busa pada permukaan air
ketel, karena hal tersebut dapat mengganggu pandangan pada gelas
penduga yang memuliki peranan sangat penting pada ketel.
Menurunkan electric conductivity yang terkandung pada air ketel.
Aturan seberapa bukaan valve blow down continue adalah bergantung pada
bagaimana keadaan atau kondisi air ketel. Dalam kondisi normal, flow rate blow
down continue adalah sekitar 3% - 5% dari kapasitas operasi ketel.

2.3. Siklus dan Prinsip Kerja Ketel Uap


15

2.3.1. Prinsip kerja Ketel Uap


Sistem boiler terdiri dari sistem air umpan, sistem steam, dan sistem bahan
bakar. Sistem air umpan menyediakan air untuk boiler secara otomatis sesuai
dengan kebutuhan steam. Berbagai kran disediakan untuk keperluan perawatan
dan perbaikan dari sistem air umpan, penanganan air umpan diperlukan sebagai
bentuk pemeliharaan untuk mencegah terjadi kerusakan dari sistem steam. Sistem
steam mengumpulkan dan mengontrol produksi steam dalam ketel uap. Steam
dialirkan melalui sistem pemipaan ke titik pengguna. Pada keseluruhan sistem,
tekanan steam diatur menggunakan kran dan dipantau dengan alat pemantau
tekanan. Sistem bahan bakar adalah semua peralatan yang digunakan untuk
menyediakan bahan bakar untuk menghasilkan panas yang dibutuhkan. Peralatan
yang diperlukan pada sistem bahan bakar tergantung pada jenis bahan bakar yang
digunakan pada sistem itu sendiri.
Secara umum boiler dibagi kedalam dua jenis yaitu : boiler pipa api (Fire
tube boiler) dan boiler pipa air (water tube boiler). Pada boiler pipa api proses
pengapian terjadi didalam pipa, kemudian panas yang dihasilkan dihantarkan
langsung kedalam boiler yang berisi air. Besar dan konstruksi boiler
mempengaruhi kapasitas dan tekanan yang dihasilkan boiler tersebut. Sedangkan
pada boiler pipa air proses pengapian terjadi diluar pipa, kemudian panas yang
dihasilkan memanaskan pipa yang berisi air dan sebelumnya air tersebut
dikondisikan terlebih dahulu melalui economizer, kemudian steam yang
dihasilkan terlebih dahulu dikumpulkan di dalam sebuah steam drum. Sampai
tekanan dan temperatur sesuai, melalui tahap secondary superheater dan primary
superheater baru steam dilepaskan ke pipa utama distribusi. Didalam pipa air, air
yang mengalir harus dikondisikan terhadap mineral atau kandungan lainnya yang
larut di dalam air tesebut. Hal ini merupakan faktor utama yang harus diperhatikan
terhadap tipe ini.
Air yang disuplai pada ketel uap untuk dirubah menjadi steam disebut air
umpan. Dua sumber air umpan adalah:
1. Kondensat atau steam yang mengembun yang kembali dari proses air make
up (air baku yang sudah diolah) yang harus diumpankan dari luar ruang
boiler dan plant proses.
16

2. Economizer untuk memanaskan awal air umpan menggunakan limbah


panas pada gas buang yang berguna untuk mendapatkan efisiensi boiler
yang lebih tinggi.
Langkah dan urutan sistem kerja yang terjadi pada ketel uap, yaitu :
1. Air demineralized (air tanpa kandungan mineral/air murni)
dipompakan ke boiler dari condenser (kita bicara boiler turbin uap yg
siklus airnya tertutup) dengan pompa melalui pipa economiser, di
economiser, air menerima panas tapi belum menguap/masih fasa air.
2. Air tersebut masuk ke boiler drum dan diteruskan ke seluruh water
tube evaporator untuk dirubah fasanya menjadi uap jenuh (saturated
steam) dan kembali lagi ke boiler drum.
3. Uap di boiler drum dialirkan (uap melalui saluran diatas, sedangkan air
dibawah) ke superheater tube yang berada paling dekat dengan sumber
panas untuk merubah uap jenuh menjadi uap panas lanjut (super
heated steam).
4. Superheated steam kemudian dialirkan ke steam turbin untuk
menggerakkan blade turbin.
5. Setelah melalui turbin temperatur uap menurun/begitu juga enthalpy
nya, fasanya berubah kembali ke uap jenuh & mengalir ke condenser.
6. Di condenser fasanya dirubah kembali ke fasa cair dan kemudian
dipompakan kembali ke boiler.

2.3.2. Siklus Ketel uap (Siklus Rankine)


Siklus Rankine adalah siklus teoritis yang mendasari siklus kerja dari
suatu pembangkit daya uap. Siklus Rankine berbeda dengan siklus-siklus udara
ditinjau dari fluida kerjanya yang mengalami perubahan fase selama siklus pada
saat evaporasi dan kondensasi, oleh karena itu fluida kerja untuk siklus Rankine
harus merupakan uap. Siklus Rankine ideal tidak melibatkan beberapa masalah
irreversibilitas internal. Irreversibilitas internal dihasilkan dari gesekan fluida,
throttling, dan pencampuran, yang paling penting adalah irreversibilitas dalam
turbin dan pompa dan kerugian-kerugian tekanan dalam penukar-penukar panas,
pipa-pipa, bengkokan-bengkokan, dan katup-katup.
17

Temperatur air sedikit meningkat selama proses kompresi isentropik


karena ada penurunan kecil dari volume jenis air, air masuk boiler sebagai cairan
kompresi pada kondisi 2 dan meninggalkan boiler sebagai uap kering pada
kondisi 3. Boiler pada dasarnya penukar kalor yang besar dimana sumber panas
dari pembakaran gas, reaktor nuklir atau sumber yang lain ditransfer secara
esensial ke air pada tekanan konstan. Uap superheater pada kondisi ke 3 masuk ke
turbin yang mana uap diexpansikan secara isentropik dan menghasilkan kerja oleh
putaran poros yang dihubungkan pada generator lisrik. Temperatur dan tekanan
uap jatuh selama proses ini mencapai titik 4, dimana uap masuk ke kondensor dan
pada kondisi ini uap biasanya merupakan campuran cairan-uap jenuh dengan
kualitas tinggi.
Uap dikondensasikan pada tekanan konstan di dalam kondensor yang
merupakan alat penukar kalor mengeluarkan panas ke medium pendingin.

Gambar diagram siklus rankine


18

Gambar Diagram alir siklus Rankine sederhana dan Diagram T-s siklus
Rankine sederhana.
Salah satu modifikasi dari siklus Rankine dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar Diagram alir siklus Rankine dengan satu tingkat ekstraksi

Uap panas lanjut dari ketel memasuki turbin, setelah melalui beberapa
tingkatan sudu turbin, sebagian uap diekstraksikan ke deaerator, sedangkan
sisanya masuk ke kondensor dan dikondensasikan didalam kondensor.
Selanjutnya air dari kondensor dipompakan ke deaerator juga. Di dalam deaerator,
uap yang berasal dari turbin yang berupa uap basah bercampur dengan air
yang berasal dari kondensor. Kemudian dari deaerator dipompakan kembali ke
ketel, dari ketel ini air yang sudah menjadi uap kering dialirkan kembali lewat
turbin.
19

Tujuan uap diekstraksikan ke deaerator adalah untuk membuang gas-gas yang


tidak terkondensasi sehingga pemanasan pada ketel dapat berlangsung efektif,
mencegah korosi pada ketel, dan meningkatkan efisiensi siklus.
Untuk mempermudah penganalisaan siklus termodinamika ini, prosesproses
tersebut di atas disederhanakan dalam bentuk diagram berikut :

Gambar Diagram T-s siklus Rankine dengan satu tingkat ekstraksi

Siklus Rankine terbuka pada boiler yang ada di Palm Oil Mill :

Gambar Diagram alir siklus Rankine terbuka


20

Gambar Diagram T-s siklus Rankine terbuka

2.4. Klasifikasi Ketel Uap dan Pemilihanya


2.4.1. Pemilihan Ketel Uap
Klasifikasi ketel uap ada beberapa macam, untuk memilih ketel uap harus
mengetahui klasifikasinya terlebih dahulu sehingga dapat memilih dengan benar
dan sesuai dengan kegunaannya di industri. Karena jika salah dalam pemilihan
ketel uap akan menyebapkan penggunaan tidak maksimal dan dapat menyebabkan
masalah dikemudian harinya.
Pemilihan jenis dan ukuran ketel uap tergantung pada faktor-faktor berikut:
a. Daya yang diperlukan dan tekanan kerja.
b. Posisi geografi dari power house (sumber tenaga).
c. Ketersediaan bahan bakar dan air.
d. Kemungkinan stasiun permanen.
e. Faktor beban yang mungkin.

Berikut ini adalah esensi dari ketel uap yang baik.


1. Harus menghasilkan kuantitas maksimum uap dengan bahan bakar yang
diberikan.
2. Harus ekonomis ketika dipasang, dan menghendaki sedikit perhatian
ketika beroperasi.
3. Harus secara cepat bisa memenuhi beban yang berfluktuasi.
21

4. Harus bisa distarter dengan cepat.


5. Beratnya harus ringan.
6. Harus menempati ruang yang kecil.
7. Sambungan harus sesedikit mungkin dan bisa diinspeksi.
8. Lumpur atau endapan lainnya tidak boleh mengumpul pada pelat pemanas.
9. Tube tidak boleh mengakumulasi jelaga atau kotoran air, dan harus
mempunyai toleransi ketebalan untuk keausan dan korosi.
10. Rangkaian air dan gas asap harus didesain supaya bisa memberikan
kecepatan fluida maksimum tanpa mengakibatkan kerugian gesek yang
besar.

Ada banyak klasifikasi ketel uap, berikut ini diberikan beberapa klasifikasi
ketel uap yang penting.
2.4.2. Berdasarkan Isi Tube atau Pipa
Berdasarkan isi tube atau pipa, ketel uap dibagi menjadi dua yaitu Pipa api atau
pipa asap, dan pipa air.
Pada ketel pipa api, nyala api dan gas panas yang dihasilkan pembakaran,
mengalir melalui pipa yang dikelilingi oleh air. Panas dikonduksikan melalui
dinding pipa dari gas panas ke air di sekeliling pipa tersebut. Contoh ketel uap
pipa api :
1. ketel vertikal sederhana
2. ketel Cochran
3. ketel Lanchasire
4. ketel Cornish
5. ketel Scotch marine
6. ketel lokomotif
7. dan ketel Velcon
Pada ketel pipa air, air dimasukkan ke dalam pipa dimana pipa dikelilingi oleh
nyala api dan gas panas dari luar. Contoh ketel jenis ini :
1. ketel Babcock dan Wilcox
2. ketel Stirling
3. ketel La-Mont
22

4. ketel Benson
5. ketel Yarrow
6. dan ketel Loeffler

2.4.3. Berdasarkan Posisi Dapur Pembakar


(a) Dibakar di dalam, dan (b) dibakar di luar.
Pada ketel uap dibakar di dalam, dapur diletakkan di dalam kulit boiler.
Sebagaian besar ketel pipa api mempunyai jenis ini. Pada ketel uap dibakar di
luar, dapur disusun dibawah susunan bata. Ketel pipa air selalu dibakar di luar.

2.4.4. Berdasarkan Sumbu Shell atau Kulit


Berdasarkan sumbu shell atau kulit ketel uap dibagi menjadi dua yaitu Vertikal
dan horizontal.
Pada ketel uap vertikal, sumbu shell vertikal, sedangkan pada jenis horisontal,
sumbu shellnya horisontal.

2.4.5. Berdasarkan Jumlah Pipa


(a) Pipa tunggal, dan (b) pipa banyak.
Pada ketel uap pipa tunggal, hanya ada satu buah pipa api atau pipa air. Ketel
vertical sederhana dan ketel Cornish adalah jenis ketel pipa tunggal. Pada ketel
pipa banyak, ada dua atau lebih pipa api atau pipa air.

2.4.6. Berdasarkan Metode Sirkulasi Air Dan Uap


(a) Sirkulasi alami, dan (b) sirkulasi paksa.
Pada ketel dengan sirkulasi alami, sirkulasi air adalah dengan arus
konveksi alami/natural, dimana dihasilkan karena pemanasan air. Pada ketel uap
dengan sirkulasi paksa, ada sirkulasi paksa pada air dengan memakai penggerak
pompa. Penggunaan sirkulasi paksa dilakukan pada ketel seperti ketel La-Mont,
ketel Benson, ketel Loefler dan ketel Velcon.

2.4.7. Berdasarkan Penggunaannya


(a) Stasioner, dan (b) mobil (bergerak).
23

Ketel uap stasioner digunakan di pusat pembangkit tenaga, dan di industri proses.
Ketel ini disebut stasioner karena ketel tidak berpindah dari satu ke tempat
lainnya. Ketel uap mobil adalah ketel yang bergerak dari satu tempat ke tempat
lainnya. Ketel jenis ini seperti ketel lokomotif dan ketel marine.

2.4.8. Berdasarkan Sumber Panas


Sumber panas bisa berupa pembakaran bahan bakar padat, cair atau gas, gas sisa
panas yang dihasilkan dari proses kimia, energi listrik atau energi nuklir.

2.4.9. Berdasarkan Tekanan Kerja Ketel


Berdasarkan tekanan kerjanya ketel uap dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Ketel uap tekanan rendah, dibawah 5 kg/cm2
b. Ketel uap tekanan menengah, antara 5-30 kg /cm2
c. Ketel uap tekanan tinggi, antara 30-325 kg/cm2

2.4.10. Berdasarkan Kapasitas Uap


Berdasarkan uap yang dihasilkan ketel uap dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Ketel uap dengan kapasitas uap rendah (dibawah 10 ton uap/jam)
b. Ketel uap denga kapasitas uap sedang (10- 60 ton uap /jam)
c. Ketel uap dengan kapasitas uap besar ( di atas 60 ton uap/jam)

2.5. Jenis-jenis ketel uap secara umum


Secara umum ketel uap dibagi menjadi dua jenis yaitu :
A. Ketel pipa api
Pada ketel, gas panas melewati pipa-pipa dan air umpan boiler ada
didalam shell (rumah) untuk dirubah menjadi steam (uap). Ketel pipa api biasanya
digunakan untuk kapasitas steam yang relatif kecil dengan tekanan uap rendah
sampai sedang. Sebagai pedoman, ketel pipa api kompetitif untuk kecepatan uap
sampai 12.000 kg/jam dengan tekanan sampai 18 kg/cm2. Ketel pipa api dapat
menggunakan bahan bakar minyak bakar, gas atau bahan bakar padat dalam
24

operasinya. Untuk alasan ekonomis, sebagian besar ketel pipa api dikonstruksi
sebagai paket boiler (dirakit oleh pabrik) untuk semua bahan bakar.
Gambar 1a dan 1b menunjukkan sistem kerja ketel uap
pipa api 2 pass dan 3 pass [2].

Gambar Ketel uap pipa api 2 pass [2] Gambar Ketel uap pipa api 3 pass [2]

Keuntungan dan kerugian ketel pipa api


Keuntungan Ketel pipa api :
1. Konstruksi ketel sederhana
2. Biaya awal murah
3. Baik untuk kapasitas uap yang besar
4. Tidak bermasalah terhadap fluktuasi beban karena kapasitas uap cukup
besar dan jumlah air di dalam tangki banyak
5. Tidak memerlukan air pengisi yang begitu bersih
Kerugian :
1. Membutuhkan waktu start yang cukup lama untuk mendapat kualitas uap
yang diinginkan
2. Hanya dapat dipakai efisien untuk keperluan dengan kapasitas dan tekanan
uap yang rendah
B. Ketel pipa air
Pada ketel pipa air proses pengapian terjadi diluar pipa, kemudian panas
yang dihasilkan memanaskan pipa yang berisi air dan sebelumnya air tersebut
dikondisikan terlebih dahulu melalui economizer, kemudian uap yang dihasilkan
terlebih dahulu dikumpulkan di dalam sebuah tangki uap. Sampai tekanan dan
temperatur sesuai, melalui tahap secondary superheater sekunder dan superheater
25

primer baru uap dilepaskan ke pipa utama distribusi. Didalam pipa air, air yang
mengalir harus dikondisikan terhadap mineral atau kandungan lainnya yang larut
di dalam air tesebut. Hal ini merupakan faktor utama yang harus diperhatikan
terhadap tipe ini.
Gambar 2 menunjukkan sistem kerja ketel uap pipa air [2].

Gambar Ketel uap pipa air [2]

Keuntungan Dan Kerugian Ketel Pipa Air


Keuntungan-keuntungan ketel pipa air:
1. Menghasilkan uap dengan tekanan lebih tinggi dari pada ketel pipa api.
2. Untuk daya yang sama menempati ruang/tempat yang lebih kecil daripada
ketel pipa api.
3. Laju aliran uap lebih tinggi.
4. Komponen-komponen yang berbeda bisa diurai sehingga mudah untuk
dipindahkan.
5. Permukaan pemanasan lebih efektif karena gas panas mengalir keatas pada
arah tegak lurus.
6. Pecah pada pipa air tidak menimbulkan kerusakan ke seluruh ketel.
Kerugian-kerugian ketel pipa air:
1. Air umpan mensaratkan mempunyai kemurnian tinggi untuk mencegah
endapan kerak di dalam pipa. Jika terbentuk kerak di dalam pipa bias
menimbulkan panas yang berlebihan dan pecah.
2. Ketel pipa air memerlukan perhatian yang lebih hati-hati bagi penguapannya,
karena itu akan menimbulkan biaya operasi yang lebih tinggi.
3. Pembersihan pipa air tidak mudah dilakukan.
26

2.6. Heat Transfer dan Proses Terbentuknya Uap Air dalam Instalasi
Ketel Uap
2.6.1. Head Transfer dalam Dapur
Dalam dapur terjadi hantaran kalor (head transfer) dari sumber panas (hasil
pembakaran bahan bakar) terhadap bidang pemanas (heating surface) secara
pancaran dan rambatan (radiasi dan konduksi). Dari heating surface, panas
dihantarkan lagi kepada air ketel secara konveksi. Sebelum uraian mengenai
hantaran kalor ini dilanjutkan, perlu diingat kembali bahwa hantaran kalor (heat
transfer) berlangsung dalam 3 cara yaitu dengan cara pancaran (Radiasi), dengan
cara aliran (konveksi), dan dengan cara rambatan (konduksi).
A. Perpindahan Panas Secara Pancaran atau Radiasi
Perpindahan panas secara radiasi adalah perpindahan panas antara suatu
benda ke benda yang lain dengan jalan melalui gelombang-gelombang
elektromagetik tanpa tergantung kepada ada atau tidaknya media atau zat
perantara yang menerima pancaran panas tersebut. Perpindahan panas secara
pancaran atau radiasi dapat dibayangkan langsung melalui media berupa
AETHER yaitu suatu jenismateri bayangan tanpa bobot, yang mengisi seluruh
sela-sela ruangan di antara molekul-molekul dari suatu zat tertentu ataupun
didalam ruang hampa sekalipun. Molekul-molekul api yang merupakan hasil
pembakaran bahan bakar dan udara akan menyebabkan terjadinya gangguan
keseimbangan elektromagnetik terhadap aether tersebut. Sebagian dari panas atau
energi yang timbul dari hasil pembakaran tersebut, diserahkan kepada aether dan
yang akan menyerahkanya lebih lanjut melalui gelombang-gelombang
elektromagnetik kepada benda atau bidang yang dipanasi seperti dinding ketel,
dinding tungku, lorong api, pipa-pipa ketel dan lain-lain.
Penyerahan panas dari api atau gas asap melalui aether kepada bidang yang
akan dipanasi tersebut melalui gelombang-gelombang elektromagnetik yang
lintasanya lurus seperti halnya lintasan sinar. Apabila lintasan penyerahan panas
melalui gelombang-gelombang elektromagnetik dari aether tersebut tertutup atau
terhalang oleh benda lain maka bidang pemanas tidak akan menerima panas
secara radiasi. Dengan demikian bidang yang akan dipanasi hanya dapat
27

menerima perpindahan panas secara pancaran bila benda tersebut dapat langsung
berhubungan dengan geombang-gelombang elektromagnetis.
Semua zat-zat yang memancarkan panasnya (molekul-molekul api atau gas
asap) intensitas radiasi thermisnya atau kuat pancaran panasnya tergantung dari
temperatur zat yang memancarkan panas tersebut. Bila pancaran panas menimpa
sesuatu benda atau bidang sebagian dari panas pancaran yang diterima benda
tersebut akan dipancarkan kembali atau dipantulkan dan sebagian yang lain akan
diserap. Adapun banyaknya panas yang diterima secara pancaran atau Qp
berdasarkan rumus dari Sthephan-Boltzman adalah sebagai berikut :

[( ) (
Tapi 4 Tbenda
) ] KJ / jam
4
Qp=Cz . F .
100 100
Keterangan :
F = Luas bidag yang akan dipanasi (m2)
T = Temperatur dalam kelvin
Cz = Konstanta pancaran dari Stephan-Boltzman yang dinyatakan dalam
Kilojoule/m2.Jam..K4 atau dalam Watt/m2.k4 . Bila Cz dinyatakan dalam
Kilojoule/m2.Jam..K4 maka Qp dinyatakan dalam kilojoule/jam. Jika Cz
dinyatakan dalam Watt/m2.k4 maka Qp dinyatakan dalam WATT. Adapun
besarnya Cz lain ditentukan oleh :
Keadaan permukaan bidang yang dipanasi kasar dan halus.
Bahan benda yang dipanasi berupa tembaga, besi, aluminium dan lain-
lain.
Warna bidang yang akan dipanasi hitam, abu-abu dan lain-lain.
Berikut adalah tabel Cz yang dinyatakan dalam Kilojoule/m 2.Jam..K4 atau dalam
Watt/m2.k4 oleh Sthephan-Boltzman.

Nama Benda yang Kilojoule/m2.Jam..K4 Watt/m2.k4


akan dipanasi
Benda Hitam pekat 20,726 5,757
absolut
Jelaga yang licin 18,004 5,000
Baja yang dipoles 5,569 5,417
Baja berkarat 18,423 5,117
Besi tuang berkarat 16,748 4,652
28

Pasangan batu tahan api 19,260 5,350


Sumber : Djokosetyardjo (1993:25)
Untuk perhitungan-perhitungan praktis lebih lanjut dalam teknik ketel uap,
besarnya harga konstanta Sthephan-Boltzman adalah
Cz = 16,75 Kilojoule/m2.Jam..K4 = 4,65 Watt/m2.k4

B. Perpindahan Panas Secara Aliran atau Konveksi


Perpindahan panas secara airan atau konveksi adalah perpindahan panas yang
dilakukan oleh molekul suatu fluida (cair ataupun gas). Molekul-molekul suatu
fluida tersebut dalam gerakanya melayang-layang membawa sejumlah panas
masing-masing Q joule. Pada saat molekul fluida tersebut menyentuh dinding
ketel maka panasnya dibagikan sebagian yaitu Q1 joule kepada dinding ketel
selebihnya yaitu Q2 = Q Q1 joule dibawanya pergi. Bila gerakan dari molekul-
molekul yang melayang-layang tersebut disebabkan karena perbedaan temperatur
didalam fluida itu sendiri, maka perpindahan panasnya disebut dengan
perpindahan panas konveksi bebas atau konveksi alamiah. Bila gerakan molekul-
molekul tersebut sebagai akibat dari kekuatan mekanis (kerana dipompa atau
karena dihembuskan dengan kipas) maka perpindahan panasnya disebut konveksi
paksa (forced convection). Dalam gerakanya molekul-molekul api tersebut tidak
perlu malalui lintasan yang lurus untuk mencapai dinding-dinding ketel atau
bidang yang dipanasi. Jumlah panas yang diserahkan secara konveksi adalah
sebagi berikut:
Qk = . F. (T api T dinding) KJ/jam
Keterangan :
F = Luas bidag yang akan dipanasi (m2)
T = Temperatur dalam kelvin
= Angka peralihan panas atau koefisien konveksi dari api ke dinding ketel
dinyatakan dalam Kilojoule/m2.Jam..K atau dalam Watt/m2.k bila dinyatakan
dalam Kilojoule/m2.Jam..K maka Qk dinyatakan dalam KJ/jam. Jika dinyatakan
dalam Watt/m2.k maka Qk dinyatakan dalam Watt.

C. Perpindahan Panas Secara Rambatan atau Konduksi


29

Perpindahan panas secara rambatan atau konduksi adalah perpindahan panas dari
satu bagian benda padat ke bagian lain dari benda padat yang sama, atau dari
benda padat yang satu ke benda padat yang lain karena terjadi singgungan fisik
(kontak fisik atau menempel), tanpa terjadinya perpindahan molekul-molekul dari
benda padat itu sendiri. Didalam dinding ketel tersebut panas akan dirambatkan
oleh molekul-molekul dinding ketel sebelah luar yang berbatasan dengan api
menuju molekul-molekul dinding ketel sebelah dalam yang berbatasan dengan air.
Perambatan panas melalui benda paat menempuh jarak yang terpendek. Jumlah
panas yang dirambatkan Qr melalui dinding ketel adalah sebesar:

Qr= . F . (T d 1T d 2 ) Kilojoule / jam
s
Keterangan :
Td1 = Temperatur dinding luar ketel yang berbatasan dengan api (K)
Td2 = Temperatur dinding dalam ketel yang berbatasn dengan air dalam ketel
(K)
F = Luas bidang ketel yang merambatkan panas dalam m2
S = Tebal Dinding Ketel yang dinyatakan dalam Meter
= Angka atau koefisien perambatan panas didalam dinding ketel
dinyatakan dalam Kilojoule/m.Jam..K atau dalam Watt/m.k. Bila
dinyatakan dalam KJ/m.jam. K maka Qr dinyatakan dalam KJ/jam tetapi
bila dinyatakan dalam Watt/m.k. maka Qr dinyatakan dalam Watt.
Untuk selanjutnya, panas yang dibawa merambat oleh dinding ketel tersebut akan
diterima oleh molekul-molekul air, yaitu penyerahan panas dari molekul-molekul
dinding ketel kepada molekul-molekul air. Molekul-molekul air tersebut dalam
keadaan mengalir atau bergerak bukan dalam kondisi diam. Dengan demikian
penyerahan panas secara konveksi dan konduksi bersama-sama melalui proses
sebagai berikut:
a. Panas dialihkan dari fluida (api atau gas asap) kepada benda padat
(dinding ketel) secara radiasi.
b. Panas dirambatkan didalam benda padat dinding ketel secara
konduksi.
c. Panas dialihkan dari benda padat (dinding ketel) kepada fluida (air)
secara konveksi.
30

2.6.2. Heat Transfer Melalui Bidang Pemanas Primer


Bidang pemanas (heatig surface) primer pada ketel adalah bidang pemanas
yang kontaknya langsung dengan air ketel, sedang sisi-sisi lainya langsung pula
berhubungan dengan sumber panas (heat surface) yang menghantarkan panas
(heat transfer) melintasi tebal dinding ketel secara rambatan (conduktion). Tujuan
membicarakan hantaran kalor dalam hal ini adalah untuk mempelajari sifat fluida
(air) apabila menerima energi panas yang cukup akan berubah dari fasa fluida ke
fasa gas (steam).
Secar umum telah kita ketahui bahwa bila air dipanaskan akhirnya akan
mendidih, ini terjadi pada suhu 99,09. C atau 100. C bila pendidihan terjadi
dibawah tekanan atm.bila tekanan di permukaan fluida berubah, maka suhu
mendidih fluida yang juga akan berubah sesuai dengan tekanan tertentu
dipermukaan fluida yang dipanasi. Proses pendidihan terjadi pada suhu tinggi
sedangkan pendidihan didalam sistem refrigerasi terjadi pada suhu rendah dan
tekanan rendah. Peristiwa yang kedua tersebut sering kita jumpai dalam
kehidupan sehari-hari seperti air laut dan air dalam wadah yang menguap, pakaian
yang basah airnya dapat menguap walaupun tidak dibawah sinar matahari.ini
terjadi karena penurunan tekanan diatas permukaan fluida sedemikian rupa sesuai
denga temperatur fluid tersebut. Maka dapat dikatakan fluida tersebut dapat
menguap pada tekanan dan suhu saturasi. Dapat diamati dengan mata kepala kita
sendiri bahwa peristiwa mendidih dan menguap ini berbeda secara fisik walaupun
secara ilmu panas peristiwanya sama. Proses penguapan pada fluida hanya terjadi
pada permukaannya saja (liquid vapour interface). Heat transfer melalui bidang
pemanas primer dibagi menjadi 2 yaitu heat transfer pada alat penguap (boiler)
dan heat transfer pada komponen pemanas lanjut (superheater)
Pada heat transfer pada alat penguap (boiler) yang disebut mendidih
terjadi dipermukaan heating surface, uap terjadi dalam bentuk gelembung-
gelembung yang bila mencapai ukuran tertentu akan melepaskan diri naik melalui
fluida lalu ke ke liquid vapour interface. Peristiwa penguapan seperti ini disebut
dengan mendidih (boiling). Dipermukaan fluida uap mengembun kembali
(rekondensasi) gelembung-gelembung pecah dan jatuh ke permukaan fluida
31

sehingga menimbulkan bunyi. Proses seperti ini disebut dengan local boiling.
Proses yang terjadi bila gelembung uap menembus permukaan fluida disebut
pendidihan dengan penguapan jala (net evaporation).
Sedangkan heat transfer melalui bidang pemanas lanjut (superheater) pada
ketel uap dibagi menjadi dua yaitu kelas konveksi dan kelas radian. Pada heat
transfer pada super heater ini memanaskan uap basah hasil dari pemanas boiler
yaitu berupa uap basah kemudian dipanaskan lagi melalui bidang pemanas pada
super heater sehingga menjadi uap kering. Jadi fungsi dari super heater adalah
sebagai pemanas lanjut pada ketel uap dari uap basah dikeringkan menjadi uap
kering (uap saturasi). Pada heat transfer melalui pemanas lanjut dibagi menjadi
dua yaitu kelas konveksi dan kelas radian. Pada kelas konveksi superheater
dipanaskan oleh gas yang mengalir secara konveksi, jadi pemanasan disini
menggunakan gas panas sisa pembakaran berlangsung secara konveksi dan
konduksi. Pada kelas radian dipanaskan oleh radian langsung dari nyala
pembakaran batu-bara dan dari kisi-kisi panggangan atau dari grate dari dapur.
Super heat untuk ketel biasanya 454,4 . C. Pada dasarnya aliran uap dalam elemen
superheatig berlagsung secara aliran bebas, hampir tidak ada paksaan. Tekanan
uap sebelum dan sesudah superheater tetap akan tetapi yang berubah adalah
temperatur yaitu temperatur uap saturasi (tsat) ke temperatur heat (tsh). Pada ketel-
ketel modern dari kelas high pressure dipasang kombinasi dari radian dan
konveksi super heater. Heat transfer dalam super heater tube (pipa superheater)
adalah sama dengan heat transfer dalam pipa-pipa ketel uap dengan catatan bahwa
dalam superheater panas mengalir dari gas ke uap. Luas permukaan superheater
bergantung pada:
a. Jumlah uap yang akan dipanaskan
b. Temperatur superheater (panas lanjut)
c. Rata-rata temperatur different antar gas dapur dan uap

2.6.3. Heat Transfer Melalui Bidang Pemanas Sekunder


Heat transfer melalui bidang pemanas sekunder ini berupa pemanasan secara
konveksi dari aliran gas asap ke permukaan logam dan pemindah panas secara
konveksi ke permukaan logam ke udara pembakaran. Pemanas sekunder ini
32

menggunakan air heater atau pemanas udara, dalam hal ini untuk menambah
pemanasan dan peningkat efisiensi pada ketel uap. Dengan memberikan udara
panas pada ketel uap akan membantu percepatan proses pembakaran bahan bakar
didalam dapur. Selain itu pemanasan pada ketel terutama pada dinding-dinding
ketel akan bertambah sehingga efisiensi ketel akan meningkat. Heat transfer pada
pemanas sekunder bergantung pada bidang bentuk heating surface atau bidang
pemanas.

2.6.4. Proses Terbentuknya Uap Air


Sebagai fliuda kerja di ketel uap, umumnya digunakan air (H 2O) karena
bersifat ekonomis, mudah di peroleh, tersedia dalam jumlah yang banyak,
serta mempuyai kandungan entalpi yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan
fluida kerja yang lain.

Penguapan adalah proses terjadinya perubahan fasa dari cairan menjadi


uap. Apabila panas diberikan pada air, maka suhu air akan naik. Naiknya suhu air
akan meningkatkan kecepatan gerak molekul air. Jika panas terus bertambah
secara perlahan-lahan, maka kecepatan gerak air akan semakin meningkat
pula, hingga sampai pada suatu titik dimana molekul-molekul air akan
mampu melepaskan diri dari lingkungannya (100 o) pada tekanan 1[kg/cm2],
maka air secara berangsur-angsur akan berubah fasa menjadi uap dan hal
inilah yang disebut sebagai penguapan.

Proses perubahan fasa air menjadi uap dapat digambarkan pada diagram TS
seperti gambar dibawah :

Gambar 2.20 Diagram T-S


33

Keterangan :
1- 2 : Pipa-pipa evaporator pipa penguat
2-3 : Pipa-pipa superheater
1.3 : Ketel uap

2.7. Perhitungan Daya Ketel, Volume Gas Asap dan Efisiensinya


2.7.1.Kemampuan Kerja Ketel Uap dan Daya Kuda Ketel
Di awal abad ke dua puluh telah dilakukan usaha untuk menghubungkan
kapasitas ketel dengan kapasitas penggerak mula uap, yaitu mesin uap torak
(reciprocating steam engine). Mesin ini menghasilkan satuan kapasitas ketel yang
disebut daya kuda ketel (boiler horsepower), yaitu satu daya kuda ketel
menghasilkan satu daya kuda energi mekanis yang setara. Menuru The American
Society Of Mechanichal Engineers (ASME), satu daya kuda ketel setara dengan
energi penguapan 15,653 kg air per jam pada suhu 100. C. Selain istilah daya kuda
ketel, sebuah istilah lain, disebut dengan nilai ketel (boiler rating). Ketel dengan
nilai 100% diharapkan dapat menghasilkan satu daya kuda ketel untuk setiap sqft
( kurang lebih 1 m2), luas BP evaporatif atau tidak termasuk luas BP ekonomiser
dan BP pemanas lanjut.
Kedua istilah tersebut, yakni daya kuda ketel dan nilai ketel adalah harga
kadaluarsa karena kebanyakan pembangkit uap modern mempunyai nilai lebih
dari 400%. Kadang kadang dapat ditemui ketel-ketel tua atau kecil yang dinilai
dengan istilah daya kuda ketel.
Kebanyakan pembangkit uap modern dinilai dengan besaran kapasitas uap
(steam capasity) biasanya dengan satuan kkal/jam atau kkal/kg pada tekanan dan
temperatur tertentu. Sekarang kelihatanya belum ada usaha untuk menghubungkan
kapasitas turbin atau generator dengan kapasitas ketel. Penilai yang terakhir
disebut juga spesifikasi ketel.
Daya guna ketel yang dapat menunjukkan prestasi kerja ketel atau generator
uap adalah daya guna (efisiensi) (k). Besaran ini didefinisikan sebagai angka
perbadingan energi yang dipindahkan ke atau diserap oleh fluida kerja didalam
ketel degan suplai energi kimia dari bahan bakar. Biasanya efisiensi ketel berkisar
antara 70 hingga 90 % dan umumnya paling tinggi pada beban ketel yang rendah.
34

Daya kuda ketel dapat ditentukan sebagai berikut ini:


Ws (Hsat h 1)
daya kuda ketel= HP
539,2 x 15,653
Ws = jumlah aliran uap (kg/jam)
Hsat = enthalpi uap basah (KJ/jam)
H1 = enthalpi air pengisian (KJ/kg)

Selain daya kuda ketel tersebut ada lagi penilaian terhadap ketel uap yang
disebut dengan tara penguapan (equivalent evaporation), yaitu jumlah air ketel
yang menguap pada 100. C dan 1 atm normal menjadi uap saturasi kering pada
100. C dan 1 atm normal. Tara penguapan dari dan pada 100. C tersebut diberi
notasi E.
jumlah panas penguapan
E=
539,2
Jumlah panas penguapan adalah jumlah panas yang diperlukan untuk membentuk
uap dari air pengisi ketel (feed water).
Jadi

Ws (Hsat h 1)
E= (kg)
539,2
( Hsat h 1)
Harga dikenal sebagai faktor evaporasi (Fe) jadi
539,2
( Hsat h 1)
Fe = Kg
539,2
Jadi E = Ws x Fe (KG)
Disamping itu ada cara lain untuk menilai ketel yaitu dengan menentukan harga
harga kelipatan penguatan standart, yaitu perbandingan antara julah panas untuk
membentuk uap dengan enthalpi uap saturasi pada suhu 100. C dan tekanan 1 atm.
Ws( Hsath1)
Jadi (W e)std= (kg)
639,2
Angka 639,2 adalah entalpi uap saturasi pada suhu 100. C dan tekanan 1 atm
absolut. Sedangkan perbandingan antara produksi uap (kapasitas ketel) dengan
suplai bahan bakar disebut kelipatan penguapan (We), jadi :
Ws
(W e)std= (kg /kg)
Wf
35

2.7.2.Efisiensi Ketel Uap


Efisiensi boiler didefinisikan sebagai persen energi panas masuk yang
digunakan secara efektif pada steam yang dihasilkan. Terdapat dua metode
pengkajian efisiensi boiler:
a. Metode langsung: energi yang didapat dari fluida kerja (airdan steam)
dibandingkan dengan energi yang terkandung dalam bahan bakar boiler
b. Metode tidak langsung: efisiensi merupakan perbedaan antara kehilangan dan
energi yang masuk
Secara matematik efisiensi ketel dirumuskan sebagai berikut:
kalor yang digunakan untuk menghasilkanuap
=
kalor yang dihasilkandapur
We [ H h1 ]
=
C
Dimana:
We = berat air yang sebenarnya menguap/ penguapan sebenarnya
C = nilai kalor bahan bakar dalam kcal/ kg bahan bakar
h1 = kalor sensibel/ nyata air umpan dalam kcal/ kg uap bersesuain
H = kalor total uap dalam kcal/ kg uap pada tekanan kerjanya

2.7.3.Volume Gas Asap


Jumlah oksigen adalah 21% jumlah udara pembakaran. Jadi :
V(o2) = 21% (Va)act ; belum termaksud oksigen yang dikandung dalam
bahan
bakar. Oksigen yang terdapat dalam bahan bakar tergantung persentasenya.
Dengan demikian maka volume gas asap basah adalah :
36

2.7.4.Nilai Panas Bahan Bakar

Nilai kalor merupakan energi kalor yang dilepaskan bahan bakar pada
waktu terjadinya oksidasi unsur-unsur kimia yang ada pada bahan bakar tersebut.
Bahan bakar adalah zat kimia yang apabila direaksikan dengan oksigen (O2) akan
menghasilkan sejumlah kalor. Bahan bakar dapat berwujud gas, cair, maupun
padat. Selain itu, bahan bakar merupakan suatu senyawa yang tersusun atas
beberapa unsur seperti karbon (C), hidrogen (H), belerang (S), dan nitrogen (N).

Kualitas bahan bakar ditentukan oleh kemampuan bahan bakar untuk


menghasilkan energi. Kemampuan bahan bakar untuk menghasilkan energi
ini sangat ditentukan oleh nilai bahan bakar yang didefinisikan sebagai jumlah
energi yang dihasilkan pada proses pembakaran per satuan massa atau persatuan
volume bahan bakar.

Nilai pembakaran ditentukan oleh komposisi kandungan unsur di dalam bahan


bakar. Dikenal dua jenis pembakaran (Ir. Syamsir A. Muin, Pesawatpesawat
Konversi Energi 1 (Ketel Uap) 1988:160), yaitu :

1. Nilai Kalor Pembakaran Tinggi

Nilai kalor pembakaran tinggi atau juga dikenal dengan istilahHigh Heating
Value (HHV) adalah nilai pembakaran dimana panas pengembunan air dari
proses pembakaran ikut diperhitungkan sebagai panas dari proses pembakaran.

Dirumuskan dengan :

HHV = 33950 C + 144200 (H2O2/8) + 9400 S kj/kg


37

2. Nilai Kalor Pembakaran Rendah

Nilai kalor pembakaran rendah atau juga dikenal dengan istilah Low Heating
Value (LHV) adalah nilai pembakaran dimana panas pengembunan uap air dari
hasil pembakaran tidak ikut dihitung sebagai panas dari proses pembakaran.

Dirumuskan dengan :

LHV = HHV 2411 (9H2) kj/kg

2.7.5 Neraca Kalor

Rumus neraca kalor pada ketel uap adalah sebagai berikut:

W(LHV) = P + Qc + R (kkal/kg)

Keterangan :
P = Panas yang berguna untuk memanaskan air dan uap.
} -tv right ) kkal/k
i
S
P=
B
R = kerugian-kerugian lain yang tidak dapat dihitung, misalnya panas yang
terdapat pada abu, panas yang terpancar keluar dan lain-lain.
Qc = kerugian panas yang lewat cerobong

Qc = G . pj. (t2-t1) kkal/kg

Keterangan

G = berat gas hasil pembakaran

G=2,4 ( Co2c +3 H )+0,9 kg


Pj = panas jenis gas (kkal/.C)

T2 = suhu dalam cerobong (.C)

T1 = suhu luar cerobong (.C)


38

2.8. Alat-alat Peningkat Efisiensi Ketel Uap


2.8.1. Superheater
Superheater adalah piranti penting pada unit pembangkit uap. Tujuannya
adalah untuk meningkatkan temperatur uap jenuh tanpa menaikkan tekanannya.
Biasanya piranti ini merupakan bagian integral dari ketel, dan ditempatkan dijalur
gas asap panas dari dapur. Gas asap ini digunakan untuk memberikan panas lanjut
pada uap. Superheater Sudgen yang biasanya terpasang pada ketel Lanchasire
diperlihatkan oleh gambar 11. Piranti ini terdiri dari dua kotak baja atau heater
dimana bergantung padanya sekumpulan pipa lengkung berbentuk U. Ujung dari
pipa-pipa ini diteruskan ke header. Uap masuk ke ujung belakang header dan
keluar diujung depan header. Panas yang berlebihan pada pipa superheater
dicegah dengan menggunakan damper penyeimbang yang diopersikan dengan
handel. Superheater bekerja jika damper pada posisi yang ditunjukkan gambar.
Jika damper pada posisi vertikal, gas akan lewat langsung di dasar tanpa melewati
pipa-pipa superheater. Pada kondisi ini maka superheater tidak bekerja.
Perlu dicatat bahwa jika superheater bekerja, katup G dan H dalam kondisi
terbuka dan katup F tertutup. Jika uap diambil langsung dari ketel , katup G dan H
tertutup dan katup F terbuka.
39

Gambar Superheater.

2.8.2. Ekonomiser
Ekonomiser adalah piranti yang digunakan untuk memanaskan air umpan
dengan memanfaatkan panas dari gas asap sebelum masuk ke cerobong.
Ekonomiser akan meningkatkan nilai ekonomis ketel uap. Jenis ekonomiser yang
populer adalah ekonomiser Greans dan banyak digunakan pada ketel stasioner.
Ekonomiser ini terdiri dari sejumlah besar pipa vertikal yang ditempatkan sebagai
penambahan gas asap antara ketel dengan cerobong. Pipa-pipa ini mempunyai
panjang 2,75 m, diameter luar 11,4 cm dan tebal 11,5 mm dari bahan besi tuang.
Ekonomiser dibuat dalam seksi tegak. Setiap seksi umumnya terdiri dari enam
atau delapan pipa vertikal (1). Pipa-pipa ini disambung ke pipa atau kotak
horisontal (2) diatas dan (3) dibawah. Kotak atas (2) dari seksi yang berbeda
disambung dengan pipa (4), sedangkan kotak bawah disambungkan ke pipa (5).
Air umpan dipompa ke ekonomiser pada (6) dan memasuki pipa (5). Kemudian
air masuk ke dalam kotak bawah (3) dan kemudian ke dalam kotak atas (2)
melalui pipa (1). Air kemudian diarahkan pipa (4) ke pipa (7) dan kemudian ke
ketel. Perlu dicatat bahwa temperatur air umpan tidak boleh kurang dari 35 oC,
jika tidak ada bahaya korosi disebabkan oleh uap air di gas asap mengendap di
pipa dingin. Berikut ini adalah keuntungan-keuntungan menggunakan
ekonomiser:
40

Gambar Ekonomiser

3. Ada penghematan batubara 15 sampai 20%.


4. Meningkatkan kapasitas menghasilkan uap karena memperpendek waktu
yang diperlukan untuk merubah air ke uap.
5. Mencegah pembentukan kerak di dalam pipa air ketel, sebab kerak sekarang
mengendap di pipa ekonomiser yang bisa dengan mudah dibersihkan.
6. Karena air umpan memasuki ketel panas, sehingga regangan karena ekspansi
yang tidak sama bisa diminimasi.

2.8.3. Header
Header merupakan suatu media penampung air dan uap yang disirkulasi ke pipa-
pipa waterwall. Header pada ketel uap terdiri dari 4 ( empat) bagian yaitu :
A. Header Depan (Front Header)
B. Header Belakang (Rear Header)
C. Header Samping kiri (Division Wall side header)
D. Header Samping kanan (Furnace Side header)
41

2.9. Kerugian-Kerugian Panas Ketel Uap


Kerugian panas pada instalasi ketel terdiri dari:
1. Kerugian cerobong.
2. Kerugian panas karena terbentuknya gas pembakaran pada pembakaran yang
tidak sempurna.
3. Kerugian panas karena terdapatnya unsur karbon dalam abu dan terak.
4. Kerugian kareana abu dan terak masih mengandung panas.
5. Kerugian karena perpindahan panas dari peralatan ketel.
Efisiensi boiler rmerupakan nilai yang menunjukkan kemampuan boiler dalam
mengubah air menjadi uap dengan menggunakan kalor hasil pembakaran.
Kehilangan - kehilangan panas pada boiler meliputi :
1. Kehilangan panas karena gas buang kering (L1) :
Gas asap hasil pembakaran yang keluar dari boiler masih memiliki kalor yang
tinggi. Kalor yang berasal dari gas buang tersebut dimanfaatkan kembali dengan
menggunakan media Air Heater, yaitu berfungsi untuk memanaskan udara
pembakaran. Gas asap yang keluar dari Air Heater juga masih memiliki kalor,
tetapi sudah tidak dapat dimanfaatkan kembali. Hal ini menimbulkan kerugian
yang disebut kehilangan panas karena terbawa gas buang kering. Dapat dijabarkan
sebagai berikut :
Kehilangan panas karena gas buang kering / Heat Loss Due to Dry gas" (L1) =
{ Dry gas x Specific heat of flue gas x ( Flue gas temperature - Reference air
temperature ) }
2. Kehilangan panas karena adanya kandungan air dalam bahan bakar (L2) :
Air dalam bahan bakar tidak akan bereaksi dalam proses pembakaran, dan
akan menyerap sebagian kalor dari hasil pembakaran. Akibatnya akan mengurangi
kalor yang digunakan oleh boiler untuk menguapkan air umpan (Feed Water).
Kerugian ini yang disebut sebagai kehilangan panas karena adanya kandungan air
dalam bahan bakar. Dapat dijabarkan sebagai berikut :
Kehilangan panas karena adanya kandungan air dalam bahan bakar / Heat
Loss Due to Moisture in Fuel" (L2) = Moisture in Fuel (Mf1) x {595 + (0,46 x
Flue gas temperature) - Reference air temperature
42

3 Kehilangan panas karena kadar air untuk pembakaran hidrogen dalam bahan
bakar (L3):
Unsur hidrogen yang ada didalam bahan bakar menyebabkan terjadinya uap
air (H2O) pada proses pembakaran. Akibatnya kalor yang timbul akibat
pembakaran bahan bakar di boiler sebagian diserap oleh uap air ini, sehingga
mengurangi kalor yang digunakan oleh boiler untuk menguapkan air umpan (Feed
Water). Hal ini menimbulkan kerugian yang berdampak terhadap penurunan
effisiensi boiler, dan disebut sebagai kehilangan panas karena kadar air untuk
pembakaran hidrogen dalam bahan bakar. Dapat dijabarkan sebagai berikut :
Kehilangan panas karena kadar air untuk pembakaran hidrogen dalam bahan
bakar / Heat Loss Due to Moisture from Burning Hydrogen" (L3) = Moisture in
Fuel (Mf2) x { 595 + (0,46 x Flue gas temperature)
4. Kehilangan panas karena kandungan air didalam udara pembakaran
(L4) :
Udara pembakaran yang diambil dari udara bebas, selalu mengandung uap
air. Uap air ini tidak bereaksi selama proses pembakaran, tetapi hanya akan
bercampur dengan gas gas asap hasil pembakaran. Uap air ini akan menyerap
sebagian kalor yang dihasilkan oleh pembakaran dalam boiler, sehingga
mengurangi kalor yang digunakan oleh boiler untuk menguapkan air umpan (Feed
Water). Kerugian inilah yang disebut sebagai kehilangan panas karena kandungan
air didalam udara pembakaran. Dapat dijabarkan sebagai berikut :
Kehilangan panas karena kandungan air didalam udara pembakaran / Heat
Loss Due to Moisture in the Combustion Air" (L4) = 0,46 x Moisture in air (Ma) x
{ Flue gas temperature - Reference air temperature }
5. Kehilangan panas karena uap untuk pengabutan bahan bakar (L5) :
Uap / Steam digunakan untuk menspray atau mengatomisasi bahan bakar
residu sehingga dapat menyemprot ke dalam ruang bahan bakar. Akan tetapi uap /
steam ini akan bercampur dengan gas gas hasil pembakaran dan ikut menyerap
sebagian kalor dari hasil pembakaran. Adanya uap air ini dapat mengurangi kalor
yang digunakan oleh boiler untuk menguapkan air umpan (Feed Water). Kerugian
ini yang disebut sebagai kehilangan panas karena uap untuk pengabutan bahan
bakar. Dapat dijabarkan sebagai berikut : Kehilangan panas karena uap untuk
43

pengabutan bahan bakar / Heat Loss Due to Atomizing Steam" (L5) = Atomizing
steam flow per unit x { Enthalpy of vapor at 0,07 ata - Make up water enthalpy}
6. Kehilangan panas kaena terdapatnya unsur karbon monoksida (L6) :
Kerugian panas yang terjadi karena abu atau terak yang masih
mengandung kalor, yang masih dapat digunakan . Kerugian ini disebut sebagai
kehilangan panas kaena terdapatnya unsur karbon monoksida. Dapat dijabarkan
sebagai berikut :
Kehilangan panas kaena terdapatnya unsur karbon monoksida / Heat Loss Due
to Formation Carbon Monoxide" (L6) = { ( Carbon monoxide / ( Carbon dioxide
+ Carbon monoxide ) ) x 5644 x ( Carbon / 100 ) }
7. Kehilangan panas karena perpindahan panas atau radiasi (L7) :
Radiasi panas yang keluar dari dinding dinding boiler ikut mengurangi
kalor yang digunakan oleh boiler untuk menguapkan air umpan (Feed Water). Hal
ini menimbulkan kerugian pula yang disebut kehilangan panas karena
perpindahan panas atau radiasi. Dapat dijabarkan sebagai berikut :
Kehilangan panas karena perpindahan panas atau radiasi / Heat Loss Due to
Radiation" (L7) = (Look From radiation loss chart) Boiler steam flow.
Gas asap setelah meniggalkan superheater maupun reheater, temperaturnya
masih cukup tinggi sekitar 500C hingga 800C, sehingga akan merupakan
kerugian panas yang besar bila gas asap tersebut langsung dibuang lewat
cerobong. Gas asap yang masih panas ini dapat dimanfaatkan untuk memanasi air
terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam drum ketel, sehingga air telah
dalam keadaan panas, sekitar 30C sampai 50C dibawah temperatur
mendidihnya.
Air yang telah dalam keadaan panas pada saat masuk ke dalam drum ketel
membawa keuntungan karena di tempat air masuk ke dalam drum, dinding ketel
tidak mengerut sehingga drum ketel dapat lebih awet. Dengan demikian, biaya
perawatan atau biaya maintenance nya menjadi lebih murah. Lain halnya bila air
dalarn keadaan dingin masuk ke dalam drum tersebut, dinding drum akan
mengerut dan mudah pecah atau bocor, sehingga biaya perawatannya mahal.
Neraca Kalor Parameter kinerja boiler, seperti efisiensi dan rasio
penguapan, berkurang terhadap waktu disebabkan buruknya pembakaran,
44

kotornya permukaan penukar panas dan buruknya operasi dan pemeliharaan.


Bahkan untuk boiler yang baru sekalipun, alasan seperti buruknya kualitas bahan
bakar dan kualitas air dapat mengakibatkan buruknya kinerja boiler. Neraca panas
dapat membantu dalam mengidentifikasi kehilangan panas yang dapat atau tidak
dapat dihindari. Uji efisiensi boiler dapat membantu dalam menemukan
penyimpangan efisiensi boiler dari efisiensi terbaik dan target area permasalahan
untuk tindakan perbaikan. Proses pembakaran dalam boiler dapat digambarkan
dalam bentuk diagram alir energi. Diagram ini menggambarkan secara grafis
tentang bagaimana energi masuk dari bahan bakar diubah menjadi aliran energi
dengan berbagai kegunaan dan menjadi aliran kehilangan panas dan energi. Panah
tebal menunjukan jumlah energi yang dikandung dalam aliran masing-masing.
45

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Ketel uap sebagai mesin kalor (Thermal engginering) yang mentransfer


energi-energi kimia menjadi kerja. Secara garis besar perhitungan dari
karakteristik ketel uap melihat efek pemakaian bahan bakar terhadap kerja
ketel uap. Ketel uap secara umum dibagi menjadi dua yaitu ketel pipa api dan
ketel pipa air. Pada ketel pipa api pembakaran terjadi di dalam pipa yang di
luar pipa tersebut terdapat air, sedangkan ketel pipa air pada pipa berisikan air
dan diluar pipa ada pembakaran yang merambatkan panas ke pipa.

B. Saran
Untuk mahasiswa
Sebaiknya perlu memahami dan mempelajari lebih lanjut tentang ketel uap,
karena pembahasan ketel uap ini bila dijabarkan akan lebih banyak materi
yang terkandung didalamnya. Selain itu ketel uap ini dapat dijadikan sebagai
perencanaan mesin dan penelitian sehingga sangat berguna untuk kemajuan
teknologi ketel uap.
46

DAFTAR PUSTAKA

Djokosetyardjo. 1993. Ketel Uap. Jakarta : Pradnya Paramita


http://core.ac.uk/download/pdf/11727577.pdf

http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-16572-4206100061-
Presentation.pdf
http://eprints.undip.ac.id/41158/3/BAB_II.pdf

http://ft.unsada.ac.id/wp-content/uploads/2012/06/bab3_mke.pdf

http://www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/industrial-
technology/2008/Artikel_20401571.pdf

Priangkoso, T. 2005. Analisis Perpindahan Kalor Pada ketel Uap.

Setiawan, Deny. 2015. Mesin Konversi Energi. PASCASARJANA Universitas


Negeri Malang.
Syamsir. 1988. Pesawat-pesawat Konversi Energi I (Ketel Uap). Jakarta :
Rajawali
47

SOAL MKE II

MATERI : KETEL UAP


OFF : A2 / RABU 11-12
NAMA KELOMPOK : Bayu Aji Seto Nugroho. (140511606267)
Chrisrulita Sekaradi W. (140511606534)

SOAL PILIHAN GANDA


1. Sebuah alat yang digunakan untuk memindahkan panas yang dihasilkan
dari pembakaran bahan bakar ke air yang pada akhirnya menghasilkan uap
disebut.

a. Turbin Uap

b. Ketel Uap

c. Mesin Uap

d. Pompa

e. Bor listrik

2. Didalam ketel uap, komponen yang berfungsi sebagai penampung uap


adalah

a. Steam Drum

b. Water Drum
48

c. Dapur pembakaran

d. Steam superheater

e. header

3. Steam superheater adalah alat yang sangat penting dalam ketel uap, salah
satunya sebagai peningkat efisiensi ketel uap. Yang dimaksut dengan
steam superheater adalah
a. Alat pemanas udara pengehembus bahan bakar ketel uap.
b. Alat yang berfungsi sebagai tempat pemanasan air ketel yang
didalamnya dipasang pelat-pelat pengumpul endapat lupur untuk
memudahkan pembuangan keluar.
c. Alat yang digunakan untuk meningkatkan temperatur uap jenuh
tanpa menaikan tekanannya
d. Alat yang digunakan untuk mengumpulkan abu pada sepanjang aliran
gas pembakaran bahan bakar.
e. Alat yang berfungsi sebagai pembersih jelaga atau abu yang menempel
pada pipa-pipa ketel.

4. Berdasarkan peredaran air ketel, ketel uap dibedakan menjadi.

a. Ketel dengan peredaran vertikal dan horizontal

b. Ketel dengan peredaran terbuka dan tertutup

c. Ketel dengan peredaran konstan dan berubah-ubah

d. Ketel dengan peredaran maksimal dan minimal

e. Ketel dengan peredaran alam dan paksa

5. Tekanan ketel minimal yang diijinkan pada tekanan kerja yang sangat
tinggi pada ketel uap adalah.

a. 100 atm

b. 70 atm
49

c. 60 atm

d. 80 atm

e. 90 atm

NB :
Pilihan yang dicetak tebal adalah Jawaban

SOAL URAIAN
1. Bagaimana siklus dan Prinsip Kerja Ketel Uap?

Jawaban :
Prinsip Kerja Ketel Uap
Langkah dan urutan sistem kerja yang terjadi pada ketel uap, yaitu :
a) Air demineralized (air tanpa kandungan mineral/air murni)
dipompakan ke boiler dari condenser (kita bicara boiler turbin uap yg
siklus airnya tertutup) dengan pompa melalui pipa economiser, di
economiser, air menerima panas tapi belum menguap/masih fasa air.
b) Air tersebut masuk ke boiler drum dan diteruskan ke seluruh water
tube evaporator untuk dirubah fasanya menjadi uap jenuh (saturated
steam) dan kembali lagi ke boiler drum.
c) Uap di boiler drum dialirkan (uap melalui saluran diatas, sedangkan air
dibawah) ke superheater tube yang berada paling dekat dengan sumber
panas untuk merubah uap jenuh menjadi uap panas lanjut (super
heated steam).
d) Superheated steam kemudian dialirkan ke steam turbin untuk
menggerakkan blade turbin.
50

e) Setelah melalui turbin temperatur uap menurun/begitu juga enthalpy


nya, fasanya berubah kembali ke uap jenuh & mengalir ke condenser.
f) Di condenser fasanya dirubah kembali ke fasa cair dan kemudian
dipompakan kembali ke boiler.
Siklus Ketel Uap

Siklus Rankine adalah siklus teoritis yang mendasari siklus kerja dari
suatu pembangkit daya uap. air masuk boiler sebagai cairan kompresi
pada kondisi 2 dan meninggalkan boiler sebagai uap kering pada
kondisi 3. Boiler pada dasarnya penukar kalor yang besar dimana sumber
panas dari pembakaran gas, reaktor nuklir atau sumber yang lain
ditransfer secara esensial ke air pada tekanan konstan. Uap superheater
pada kondisi ke 3 masuk ke turbin yang mana uap diexpansikan secara
isentropik dan menghasilkan kerja oleh putaran poros yang dihubungkan
pada generator lisrik. Temperatur dan tekanan uap jatuh selama proses ini
mencapai titik 4, dimana uap masuk ke kondensor dan pada kondisi ini
uap biasanya merupakan campuran cairan-uap jenuh dengan kualitas
tinggi.
2. Apasaja yang memengaruhi pemilihan jenis dan ukuran ketel uap?

Jawaban :

f. Daya yang diperlukan dan tekanan kerja.


g. Posisi geografi dari power house (sumber tenaga).
h. Ketersediaan bahan bakar dan air.
i. Kemungkinan stasiun permanen.
j. Faktor beban yang mungkin.
3. Tentukan besar panas yang diterima ketel uap melalui perpindahan panas
secara konduksi, jika data yang didapatkan sebagai berikut: angka
konduktifitas 400 Kilojoule/m.Jam..K, temperatur dinding luar ketel yang
berbatasan dengan api adalah 1000 ..K, dan temperatur dinding ketel
sebelah dalam yang berbatasan dengan air adalah 700 ..K, tebal dinding
adalah 5 cm, dan luas bidang yang akan dipanasi adalah 20 m2 . tentukan
jumlah panas yang dirambatkan oleh ketel uap?
51

Jawaban :
Diket :
= 400 Kilojoule/m.Jam..K
s = 5 cm = 0,05
f = 20 m2
t1 = 1000 ..K
t2 = 700 ..K
ditanya panas yang dirambatkan (Qr) ?
jawab :

Qr= . F . (T d 1T d 2 ) Kilojoule/ jam
s
400
Qr= . 20 . ( 1000700 ) Kilojoule / jam
0,05
Qr=48.000 .000
6
Qr=48 x 10 kilojoule / jam
jadi panas yang dirambatkan adalah48.000 .000 kilojoule/ jam

4. Sebuah ketel uap memiliki jumlah aliran uap sebesar 200 kg/jam dan air
yang menuju ke ketel memiliki entalpi 300 KJ/Kg, ketel tersebut
menghasilkan enthalpy uap basah 1500 KJ/kg, berapakah daya kuda ketel
tersebut?

Jawaban:

Diket :
Ws = 200(kg/jam)
Hsat = 1500 (KJ/jam)
H1 = 300 (KJ/kg)
Ditanya daya kuda ketel dalam HP ?
Ws( Hsat h 1)
daya kuda ketel= HP
539,2 x 15,653
200(1500300)
daya kuda ketel= HP
539,2 x 15,653
240000
daya kuda ketel= HP
8440,09
daya kuda ketel=28,4 HP
52

5. Dalam tknologi terbaru dari ketel uap adalah Heat Recovery steam
generator (HRSG), bagaimana prinsip kerja dari ketel uap tersebut?

Jawaban:

Perkembangan terbaru teknologi ketel uap yang dapat kita jumpai


saat ini adalah ketel uap Heat Recovery Steam Generator (HRSG). Ketel
uap Heat Recovery Steam Generator ini adalah ketel uap atau boiler yang
memanfaatkan energi panas sisa gas buang suatu unit turbin gas untuk
memanaskan air dan mengubahnya menjadi uap, dan kemudian uap
tersebut dipergunakan untuk menggerakkan turbin uap. Pada umumnya
boiler HRSG tidak dilengkapi dengan pembakar dan tidak mengkonsumsi
bahan bakar, sehingga tidak terjadi proses perpindahan atau penyerapan
panas radiasi. Proses perpindahan atau penyerapan yang terjadi hanyalah
proses konveksi dan konduksi dari gas buang turbin gas ke dalam air yang
akan diproses menjadi uap melalui elemen-elemen pemanas di dalam
ruang boiler HRSG.
Boiler HRSG sangat bermanfaat untuk meningkatkan hasil guna
(rendemen) bahan bakar yang dipakai pada unit turbin gas, yang
selanjutnya akan menggerakkan unit turbin uap. Sistem pembangkit listrik
yang memanfatkan proses ini disebut Pusat Listrik tenaga Gas dan Uap
(PLTGU) atau unit pembangkit siklus kombinasi CCPP (Combined Cycle
Power Plant). Boiler HRSG adalah bagian penting PLTGU. Siklus Pusat
Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) adalah gabungan siklus Brayton
turbin gas dan siklus Rankine turbin uap. Boiler HRSG merupakan bagian
dari siklus Rankine.