Anda di halaman 1dari 13

Bioeksperimen

Volume 2 No. 1, (Maret 2016)


54
ISSN 2460-1365

REVIEW :
KAJIAN LICHEN : MORFOLOGI, HABITAT DAN
BIOINDIKATOR KUALITAS UDARA AMBIEN
AKIBAT POLUSI KENDARAAN BERMOTOR
Efri Roziaty
Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta
Email : er375@ums.ac.id

Abstrak - artikel ini akan mengeksplorasi masalah lichen terkait dengan fungsinya
sebagai bioindikator. Beberapa kriteria dikemukakan untuk bisa mengarahkan bahwa
lichen memang layak untuk dijadikan bioindikator lingkungan khususnya mengenai
kualitas udara. Polusi udara dapat mempengaruhi kondisi tumbuhan termasuk lichen
secara fisiologis. Beberapa jenis lumut kerak dilaporkan dapat menjadi bioindikator
yang peka terhadap pencemaran udara. Tulisan ini bertujuan untuk mengulas tentang
lichen dari sisi morfologi, anatomi dan habitat serta keterkaitan lichen dengan polusi
udara khususnya polusi yang disebabkan oleh pencemaran kendaraan bermotor.
Berdasarkan atas substrat tempat tumbuhnya, lichen dibagi menjadi Corticolous
(lichen yang tumbuh di permukaan pohon), Follicolous (lichen yang tumbuh di
permukaan daun), Saxicolous (lichen yang tumbuh di permukaan batu), Terricolous
(lichen yang tumbuh di tanah), dan Musicolous (lichen yang tumbuh dengan lumut).
Beberapa jenis lichen yang dapat dijadikan bioindikator pencemaran udara misalnya
Parmelia, Hypogymnia dan Strigula selain itu masih ada jenis jenis lichen lainnya
yang terdeteksi sebagai indikator di daerah yang tercemar seperti Buelia punctata,
Laurera bengaulensis, Lecanora paliida, D. picta, Trypethelium tropicum, Graphis liberta, dan
Cryptothecia sp, Verrucaria sp., Heterodermia sp., Phaeographis sp., dan Heterodermia sp.

Kata kunci : lumut kerak, lichen, Corticolous, Follicolous, Saxicolous, Terricolous, Musicolous

PENDAHULUAN Mereka ada di tempat yang jarang ada


1. Lichen organisme yang mampu hidup di sana
Di dunia ini ada sekitar 20.000 seperti puncah gunung, padang pasir,
spesies alga. Sebagian besar berada di dan daerah kutub Di samping itu, lichen
daerah tropis sebagai wilayah dengan seringkali tumbuh di pohon dan semak
tingkat keragaman organisme yang - semak sebagai epifit, mereka tidak
tinggi. Lichen merupakan tumbuhan mengambil makanan dari organisme
yang mampu hidup di daerah ekstrem yang ditempelinya akan tetapi mengambil
di permukaan bumi. Mereka dapat makanan dari atmosfer. Lichen sangat
tumbuh di permukaan tanah, bebatuan, beragam ukuran, warna dan bentuk.
pepohonan bahkan permukaan - Mereka juga mampu berubah warna
permukaan benda buatan manusia. selama musim hujan ketika terbilas oleh
Bioeksperimen
Volume 2 No. 1, (Maret 2016)
55
ISSN 2460-1365

air dan menghasilkan makanan (Kett, Komponen jamur penyusun


Dong, Andrachuck, & Craig, 2005). lichenes yang terbanyak adalah
Lichen sekilas setipe dengan dari kelompok Ascomycetes (96%),
tumbuhan lumut. Tapi jika diperhatikan selanjutnya diikuti oleh Basidiomycetes,
dengan seksama maka lichen merupakan dan Deuteromycetes. Jamur berperan
suatu bentuk life form yang unik (khas). menyerap air dan mineral dari udara,
Lichen merupakan suatu komposisi proteksi dari perubahan fisik, suhu, dan
organisme yaitu jamur dan alga atau intensitas sinar matahari tinggi. Dengan
cyanobakteri. Dua jenis organisme menyerap mineral dari udara sehingga
ini hidup saling berhubungan yang lichen dapat digunakan untuk indikator
dinamakan simbiosis, alga menyediakan biologi pencemaran udara (Aptroot,
energi melalui proses fotosintesis Diaz, Brcenas-Pea, Cceres, Fernando,
dan jamur menyediakan tempat & Dal-Forno, 2014).
perlindungan bagi alga (Kett, Dong, Untuk biomonitoring udara
Andrachuck, & Craig, 2005). dengan indikator biologi lichen
Lichen merupakan suatu menggunakan beberapa metode yaitu
organisme hasil asosiasi simbiosis antara perubahan komunitas dan perubahan
jamur dan algae dalam bentuk simbiosis fisiologi. Untuk perubahan komunitas
mutualistik dan helotisme yang dapat memerlukan respon yang lama. Berbeda
membentuk kesatuan morfologi yang dengan perubahan fisiologi yang
berbeda dengan spesies lain pada memerlukan respon yang cepat. Cara
komponen komponenya. Algae paling mudah melihat suatu daerah
memiliki klorofil untuk melakukan tercemar atau tidak dapat diketahui
fotosintesis sedangkan fungi mengambil dari lichen didaerah tersebut. Sehingga
air dan mineral lainnya dari lingkungan. indikator biologi lichen dapat diketahui
Sedangkan helotisme maksudnya dengan mudah oleh semua orang
pada awalnya menguntungkan tapi (Aptroot, Diaz, Brcenas-Pea, Cceres,
selanjutnya fungi bersifat parasit pada Fernando, & Dal-Forno, 2014).
alga dikarenakan hanya fungi yang Lichen dapat hidup bergantung
memiliki alat perkembangbiakan berupa pada kelembaban atmosfer: hujan,
badan buah/thalus (Muzayyinah, 2005). kabut & embun untuk pertumbuhan.
Berdasarkan fungsinya lichen Karena lichen menyerap udara untuk
memiliki nilai ekonomis diantaranya kelangsungan kehidupannya tetapi
sebagai bahan obat obatan (Parmelia udara yang mengandung air telah
sulcata) dan beberapa spesies Usnea bercampur dengan polutan yang terlarut,
untuk obat batuk, dan Cetraria islandica sehingga polutan yang terlarut merusak
untuk obat diabetes, paru paru dan jaringan pada lichen.
katarak. Fungsi lainnya dari lichen 2. Bioindikator
adalah sebagai indikator, misal dari Bioindikator atau biologi
genus Cetraria sebagai indikator adanya indikator atau Biological indicator
marmer atau pualam (Muzayyinah, merupakan organisme atau komunitas,
2005). yang reaksinya dianggap mampu
Bioeksperimen
Volume 2 No. 1, (Maret 2016)
56
ISSN 2460-1365

mengevaluasi situasi atau kondisi yang biomonitoring; 2) dimana faktor faktor


memberitahukan adanya sesuatu indikasi sulit diukur, misalnya, pestisida
dalam suatu ekosistem. Bioindikator dan residunya atau racun kompleks
mengidikasikan bahwa adanya benda yang mampu berinteraksi dan bereaksi
benda asing seperti bahan bahan fisika secara kimia; dan 3) dimana faktor
dan kimia yang mengalami perubahan lingkungan mudah diukur tapi sulit
jika ada ataupun tiada, jumlah, morfologi, diinterpretasikan, misalnya, observasi
fisiologi atau tingkah laku dimana spesies mengenai perubahan lingkungan yang
tersebut mengindikasikan adanya memiliki pengaruh nyata kondisi
sesuatu di luar batas (Gerhardt, xxxx). ekologis (Martuti, 2013).
Kebanyakan bioindikator Perbedaan jenis bioindikator
merupakan spesies yang bereaksi tersebut didasarkan atas perbedaan
terhadap pengaruh yang dilakukan oleh perpesktif (Gambar 2). Berdasarkan
manusia terhadap lingkungan. Secara tujuan bioindikasi, bioindikator dapat
umum, definisi dari indikator biologis dibedakan menjadi tiga macam : 1)
yaitu spesies yang mempengaruhi indikator kesesuaian, 2) indikator
faktor faktor biotik dan abiotik di diagnostik dan 3) indikator peringatan
suatu lingkungan, sebagai keterwakilan dini. Contoh indikator kesesuaian,
dari dampak perubahan lingkungan populasi ikan yang diukur adalah
terhadap perubahan habitat, komunitas populasi, komunitas atau ekosistem
atau ekosistem atau mengindikasikan dan difokuskan pada isu keberlanjutan
keragaman taksa atau keragaman hayati populasi atau komunitas sebagai suatu
secara keseluruhan dalam suatu area bagian yang utuh. Sedangkan, indikator
(Savic, 1998). diagnostik dan indikator peringatan
Menurut (Savic, 1998), bioindikator dini diukur berdasarkan individu (pada
berguna dalam tiga situasi berikut ini tingkat biomarker). Indikator peringatan
: 1) dimana faktor faktor lingkungan dini difokuskan pada sensitifitas respons
tidak bisa diukur, misalnya, di siatuasi terhadap perubahan lingkungan.
dimana faktor lingkungan di masa akumulasi bioindikator (misalnya : pada
lalu direkonstruksi seperti perubahan kerang, lumut dan kerang) dibedakan
iklim, pada studi tentang Palaeo berdasarkan efek toksik (Savic, 1998).
Bioeksperimen
Volume 2 No. 1, (Maret 2016)
57
ISSN 2460-1365

Gambar 2. Jenis jenis bioindikator dalam konteks penggunaannya dalam biomonitoring (Ger-
hardt, xxxx)

Biondikator berdasarkan spesies di suatu lingkungan. istilahnya


perbedaan aplikasi, dapat dibedakan saat ini telah berkembang menjadi
menjadi tiga kategori yaitu : 1) indikator parameter terukur biodiversitas,
lingkungan : merupakan spesies atau termasuk di dalamnya kelimpahan jenis,
kelompok spesies yang merespon endemisme, parameter parameter
gangguan lingkungan atau perubahan genetik, parameter spesifik populasi
(contoh : organisme organisme sentinel, dan parameter lanskap(Hardini, 2010).
detektor, eksploiter, akumulator, 3. Klasifikasi berdasarkan habitat dan
bioesay). Suatu sistem indikator morfologi lichen
lingkungan di susun berdasarkan tujuan Berdasarkan habitatnya, lichen
indikator yaitu untuk mengdiagnosis dibedakan menjadi tiga kategori : 1)
kondisi lingkungan untuk membuat Saxicolous, merupakan lichen yang
suatu kebijakan lingkungan. 2) indikator hidup di batu/cadas pada suhu dingin.
ekologi : ini merupakan suatu spesies yang Contoh : Acarospora ceruina, A. fuscata,
diketahui sebagai organisme yang sensitif Aspicillia corcota. 2) Corticulous,
terhadap polusi, fragmentasi habitat merupakan lichen yang hidup di pohon
atau tekanan lainnya. Respons indikator yang berperan sebagai epifit, kebanyakan
tersebut mewakili komunitas. Dan, 3) di daerah tropis dan subtropis dengan
indikator biodiversitas. Kelimpahan kelembaban yang tinggi. Contoh : Usnea
spesies dari takson indikator digunakan articulata, U. ceranita, U. hirta dan Artaria
untuk mengidikasikan kelimpahan suatu radiata. Dan, 3) Terriculous, merupakan
Bioeksperimen
Volume 2 No. 1, (Maret 2016)
58
ISSN 2460-1365

lichen yang hidup pada tanah. Contoh batu, kulit pohon, atau tanah. Jenis
: Cladonia ciliata, C. squamosa, C. uncialis, ini susah untuk mencabutnya tanpa
Peltigera canina, P. didactila, dan Leptogium merusak substratnya. Permukaan thalus
britanicum (Muzayyinah, 2005).
biasanyaterbagi menjadi areal areal
Menurut klasifikasi morfologi
yang agak heksagonal yang disebut
lichen dibagi menjadi : 1) Thalus Crustose
lichen - Lumut kerak yang memiliki areole(Pratiwi, 2006). Contoh : Graphis
thallus yang berukuran kecil,datar, tipis, scipta, Haematomma puniceum, Acarospora
dan selalu melekat pada permukaan atau pleopsidium.

a b c

Gambar 1. Jenis jenis lichen yang biasa di ditemui di Indonesia, jenis ini berdasarkan karakteris-
tik morfologi lichen. a) Crustose; b) Foliose; dan c) Fruticose (Pratiwi, 2006).

2) Thalus Foliose lichen - Lichen Cladonia - Squamulose lichen. Lichen ini


foliose memiliki struktur seperti daun memiliki lobus-lobus seperti sisik, lobus
yang tersusun oleh lobus-lobus. Lichen ini disebut squamulus yang biasanya
in relatif lebih longgar melekat pada berukuran kecil dan saling bertindih
substratnya. Lumut kerak ini melekat dan sering memiliki struktur tubuh buah
pada batu, ranting dengan rhizin. yang disebut podetia(Gambar 1).
Rhizines ini juga berfungsi sebagai alat Dari keempat kriteria bentuk lichen
untuk mengabsorbsi makanan. Contoh terdapat tiga lichen sebagai indikator
: Xantoria, Physicia, Peltigera, Parmelia. pencemaran udara yaitu Fruticose,
Fruticose lichen. Thalusnya berupa Foliose, dan Crustose. Fruticose menjadi
semak dan memiliki banyak cabang jenis lichen yang paling sensitif terhadap
dengan bentuk seperti pita. Thallus pencemaran udara kemudian Foliose dan
tumbuh tegak atau menggantung jenis Crutosie masih sedikit mentoleransi
pada batu, daun-daunan atau cabang pencemaran udara. Sehingga jika suatu
pohon. Contoh : Usnea, Ramalina dan daerah tidak terdapat Fruticose maka
Bioeksperimen
Volume 2 No. 1, (Maret 2016)
59
ISSN 2460-1365

daerah tersebut udara dapat dikatakan kekurangan satu atau beberapa sel tipis.
tercemar. Perubahan jenis lichen juga Namun, permukaan tersebut tertutupi
terjadi sesuai dengan pencemaran yang oleh epidermis. 2) lapisan alga, berada
terjadi di daerah tersebut. Kepekaan di bawah lapisan korteks atas yang
lichen berada dalam berbagai radius dari terdiri atas lapisan gonidial. Lapisan
sumber pencemar (Pratiwi, 2006). ini merupakan jalinan hifa fungi yang
Untuk mengidentifikasi lichen bercampur dengan alga. Berdasarkan
tercemar polutan perlu dilakukan penyebaran lapisan alga pada thalusnya,
identifikasi pada tingkat spesies, lumut kerak telah diklasifikasi menjadi
morfologi, taksonomi, dan anatomi. dua kategori yaitu homoiomerus dan
Dengan melakukan beberapa identifikasi heteromerous. Homoiomerus, sel alga
tersebut dapat mengetahui polutan tersebar merata pada jaringan longgar
yang terdapat didaerah tersebut. Lichen hifa fungi sedangkan pada heteromerous
menjadi sangat peka pada polutan sel sel alga terbatas pada lapisan atas
karena lichen tidak memiliki lilin & thalus(Pratiwi, 2006)(GC, Catalano I,
kutikula untuk melindungi sel-sel & A, 2011). 3) Medulla, merupakan
(struktur dalam). Sehingga polutan lapisan yang terdiri atas hifa longgar.
mudah terserap oleh klorofil lichen dan Lapisan ini akan memberikan kekuatan
merusak jaringan lichen (Pratiwi, 2006). dan penghubung antara lapisan bawah
4. Anatomi lichen dan atas atau bagian luar dan dalam
Lichen merupakan simbiosis thalus. Lapisan ini menyerupai lapisan
antara dua jenis organisme. Organisme parenkim bunga karang seperti jaringan
tersebut yaitu fungi (mikrobion) dan alga daun. Pembagian atau pemisahan antara
(cyanobacteria, protobion). Protobion lapisan alga dan lapisan medulla tidak
menghasilkan makanan dari fungsi selalu terjadi secara sempurna. Pada
dari proses fotosintesis dan fungi juga lapisan ini hanya sedikit terdapat sel
melindungi alga dengan menyisakan sel alga, pada uumumnya lapisan ini
air dan menyediakan nutrisi mineral relatif tebal dan tidak berwarna atau
(Sujetoviene, 2010). Simbiosis yang transparan; 4) Korteks bawah, lapisan
terjadi mengakibatkan kedua komponen korteks bawah ini menyerupai lapisan
tersebut saling tergantung satu sama korteks atas. Di lapisan ini terbentuk
lain. Lumut kerak dapat mengabsorbsi rhizoid yang berkembang masuk ke
air dari hujan, aliran permukaan dan substrat. Jika tidak ada rhizoid, maka
embun(GC, Catalano I, & A, 2011) fungsinya akan digantikan dengan hifa
(Pratiwi, 2006). hifa fungi yang merupakan perpanjangan
Secara anatomi, jaringan thalus hifa dari lapisan medulla (Pratiwi, 2006).
tersusun atas beberapa lapisan Alga yang menyusun tubuh
diantaranya : 1) lapisan yang paling lichen disebut gonidium, bisa berbentuk
atas disebut sebagai lapisan hifa fungi. uniseluler atau multiseluluer.
Lapisan ini tidak memiliki ruang antar Kebanyakan gonidium biasanya berupa
sel jika ada biasanya diisi dengan ganggang biru (cyanophyceae) antara
gelatin. Pada beberapa jenis lumut lain Chroococcus dan Nostoc, atau bahkan
kerak yang bergelatin, kulit atas juga kadang kadang ganggang hijau
Bioeksperimen
Volume 2 No. 1, (Maret 2016)
60
ISSN 2460-1365

(Chlorophyceae) misal Cystococcus dan memiliki sifat endolitik (Tjitrosoepomo,


Trentepohlia. Kebanyakan fungi yang 1998).
menyusun lichen termasuk ke dalam Lichen tidak membutuhkan
Ascomycetesterutama Discomycotales, syarat syarat hidup yang tinggi, tahan
hanya kadang kadang Pyrenomycetales. terhadap kondisi kekurangan air dalam
Kebanyakan fungi tertentu bersimbiosis jangka waktu yang lama, tahan terhadap
dengan ganggang tertentu pula. Lichen panas terik. Jika cuaca pana, lichen akan
termasuk tumbuhan alami yang sulit berubah warna seperti kekeringan, tetapi
untuk didomestikasi sekalipun sudah tidak mati. Jika disirami air maka lichen
disediakan medium yang tepat bagi akan hidup kembali. Pertumbuhan
lichen. Akan tetapi jika masing masing thalus sangat lambat, dalam satu tahun
dibedakan, masih bisa tumbuh dalam biasanya kurang dari 1 cm. tubuh buah
media buatan (Tjitrosoepomo, 1998). baru terbentuk setelah mengadakan
Menurut (Tjitrosoepomo, 1998) pertumbuhan vegetatif bertahun tahun
dapat dipandang bahwa hubungan (Tjitrosoepomo, 1998).
antara ganggang dengan jamur sebagai Hubungan simbiosis tersebut
suatu hubungan yang helotisme. memungkinkan bagi lichen untuk
Keuntungan timbal balik yang didapat hidup di berbagai tempat/habitat dan
hanya sementara saja yaitu ketika kondisi cuaca di seluruh dunia bahkan
di bagian permulaan saja, tapi pada di lingkungan yang ekstrim. Di wilayah
akhirnya ganggang akan dimanfaatkan yang kodisi lingkungan seragam masing
oleh fungi (seperti hubungan antara masing substrat cenderung lichen yang
majikan dengan pembantunya, helot) tumbuh juga relatif seragam. Mereka
sehingga diistilahkan sebagai helotisme. tumbuh di lingkungan dengan kondisi
5. Habitat dan penyebaran lichen iklim yang berbeda dan dengan substrat
Lichen atau umut kerak tumbuh yang berbeda. Mereka mampu dengan
tidak hanya di pepohonan akan tepai cepat menyerap dan menyiapkan air dari
juga di atas permukaan tanah, terutama banyak sumber maka memungkinkan
di daerah daerah ekstrem misalnya di bagi lichen untuk hidup di lingkungan
daerah tundra. Lokasi tumbuhnya lichen yang keras seperti gurun dan kutub,
tidak dipengaruhi oleh ketinggian dari dan terpapar pada suatu permukaan I
permukaan laut. Tumbuhan ini termasuk yang datar, dinding, atap, dahan/ranting
tumbuhan perintis yang ikut berperan pohon dan material buatan manusia
dalam pembentukan tanah. Tempat lainyya seperti gelas, logam dan lain
tumbuh lichen tidak terikat tempat, sebagainya. Lichen ini merupakan
bisa saja di bebatuan atau pada cadas vegetasi perintis bagi habitat terestrial
di bebatuan di atas permukaan laut, dari kutub utara hingga di banyak gurun
atau di gunung gunung yang tinggi. (Gambar 2) (Bhat, Dudani, & Subhash,
Dengan karakter inilah, lichen dikatakan xxxx)
Bioeksperimen
Volume 2 No. 1, (Maret 2016)
61
ISSN 2460-1365

Gambar 2. Perbedaan habitat lichen. lichen yang tumbuh di berbagai habitat di dunia.
Sumber : (Bhat, Dudani, & Subhash, xxxx)

Berdasarkan atas substrat tempat


tumbuhnya, lichen dibagi menjadi
Corticolous (lichen yang tumbuh di
permukaan pohon), Follicolous (lichen
yang tumbuh di permukaan daun),
Saxicolous (lichen yang tumbuh di
permukaan batu), Terricolous (lichen
yang tumbuh di tanah), dan Musicolous
(lichen yang tumbuh dengan lumut)
(Bhat, Dudani, & Subhash, xxxx).
Komunitas Corticolous : Lichen
berkembang di permukaan pohon dan Gambar 3. Corticulous lichen(Bhat, Dudani, &
ter frutiri atas spesies fruticose dan Subhash, xxxx)
foliose (Gambar 3). Yang termasuk
di dalamnya adalah spesies Evernia, Komunitas Follicolous : Spesies
Parmelia dan Usnea. Pertumbuhan lichen lichen yang tumbuh di permukaan daun
di permukaan pohon tergantung pada disebut dengan lichen fullicolous, yang
kestabilan pohon tersebut, tekstur, pH dan termasuk di dalamnyaseperti Calicium,
ketersediaan air. Permukaan yang kasar
Cyphelium and Strigula. Biasanya lichen
termasuk lichen Parmelioid and Physioid
ini menyukai daun yang tterkena sinar
dengan anggota Buellia, Lecanoraceae,
Lecideaceae dan Pertusariaceae. Permukaan matahari, licin, berwarna hijau sepanjang
yang kasar memerangkap spora-nya atau tahun yang terletak di bagian luar kanopi
diaspora vegetatif dan menyediakan pohon, di bawah tegakan, di batas cahaya
kelembaban dalam waktu yang lama dan di dekat pemukaan badan air(Bhat,
(Bhat, Dudani, & Subhash, xxxx). Dudani, & Subhash, xxxx).
Bioeksperimen
Volume 2 No. 1, (Maret 2016)
62
ISSN 2460-1365

Sumber (http://www.tnenvis.nic.in/Lichens/Field%20study.htm)
Gambar 4. Lichen fullicolous.

Komunitas Saxicolous : spesies yang termasuk di dalamnya


komunitas lichen yang berkembang seperti Caloplecta, Aspicilia tumbuh
di substrata bebatuan, jenis ini sangat di atas permukaan batu akik. Spesies
tergantung tipe batu. Tipe batu dan Verrucaria dapat di temukan di daerah
pH merupakan faktor penting yang bebatuan di sumur. Lepraria, komunitas
bertanggung jawab atas pembentukan Cystocoleus yang tumbuh di permukaan
koloni komunitas lichen jenis ini. batu silika(Bungartz, III, & Ryan, 2004).

Gambar 5. Lichen Saxicolous (Bhat, Dudani, & Subhash, xxxx)


Bioeksperimen
Volume 2 No. 1, (Maret 2016)
63
ISSN 2460-1365

Komunitas Terricolous : Lichen lingkungan ekstrim (Fryday, 2001).


di komunitas ini tumbuh di permukaan Komunitas terricolous semakin tereduksi
halaman atau tanah dan bahkan
seringkali membentuk komponen yang dari waktu ke waktu akibat kegiatan
dominan pada vegetasi lahan biasa di manusia.

Gambar 6. Lichen Terricolous


(Source: www.waynesword.palomar.edu)

Komunitas Muscicolous : Lichen lichen. lumut menyediakan air yang


jenis ini tumbuh di lumut (Gambar 7). cukup dan relung iklim mikro yang baik
Beberapa spesies jenis Cladonia, Peltigera
bagi lichen untuk tumbuh (Bhat, Dudani,
tumbuh pada tumbuhan lumut. Mereka
menyukai lumut lumut alami yang & Subhash, xxxx)(Diedrich & Lawrey,
kasar yang efisien dalam propagula 2007).

Gambar 7. Lichen Muscicolous


(Source: www.google images/broad-horizon-photos.co.uk/lichens)
Bioeksperimen
Volume 2 No. 1, (Maret 2016)
64
ISSN 2460-1365

6. Lumut kerak sebagai bioindikator SIMPULAN DAN SARAN


kualitas udara Berdasarkan atas substrat tempat
Lichen diketahui merupakan tumbuhnya, lichen dibagi menjadi
tumbuhan yang peka terhap pencemaran Corticolous (lichen yang tumbuh di
udara. Jika kulitas udara di suatu permukaan pohon), Follicolous (lichen yang
lingkungan telah menurun maka tumbuh di permukaan daun), Saxicolous
beberapa jenis lichen akan menghilang (lichen yang tumbuh di permukaan batu),
seiring dengan meningkatnya Terricolous (lichen yang tumbuh di tanah),
konsentrasi polusi di udara. Lichen dapat dan Musicolous (lichen yang tumbuh
mengindikasikan atau mencirikan polusi dengan lumut). Beberapa jenis lichen yang
udara khususnya yang berasal dari emisi dapat dijadikan bioindikator pencemaran
kendaraan bermotor. Dengan adanya udara misalnya Parmelia, Hypogymnia dan
pencemar di udara akan menyebabkan Strigula selain itu masih ada jenis jenis
terhambatnya pertumbuhan lichen. lichen lainnya yang terdeteksi sebagai
Selain itu, terjadi juga penurunan jumlah indikator di daerah yang tercemar seperti
jenis (genus) lichen yang dapat dijadikan Buelia punctata, Laurera bengaulensis,
indikator pencemaran udara. Lecanora paliida, D. picta, Trypethelium
Beberapa jenis lichen yang dapat tropicum, Graphis liberta, dan Cryptothecia sp,
dijadikan bioindikator pencemaran Verrucaria sp., Heterodermia sp., Phaeographis
udara misalnya Parmelia, Hypogymnia dan sp., dan Heterodermia sp.
Strigula(Pratiwi, 2006). Berdasarkan studi Beberapa saran yang mungkin bisa
dijadikan acuan untuk penelitian penelitian
kasus yang dilakukan di Thailand (Conti
mengenai lichen selanjutnya adalah meneliti
& Cecchetti, 2001), mengindikasikan
tidak hanya morfologi fisiknya akan tetapii
bahwa ada 7 jenis lichen dari sekitar 20
kandungan polutan apa saja yang berada di
pohon yang dijadikan sampel untuk
dalam tubuh lichen yang berada di daerah
meneliti jenis lichen yang ditemukan
tercemar, selain itu yang perlu diperhatikan
di daerah yang terpolusi yaitu Buelia
juga adalah lingkungan tempat tumbuh
punctata, Laurera bengaulensis, Lecanora
lichen yang secara khusus harus dibedakan
paliida, D. picta, Trypethelium tropicum,
mengenai jenis substrat, umur lichen dan
Graphis liberta, dan Cryptothecia sp.
iklim mikro yang mana ketiga hal ini masih
Pada lokasi pengamatan di kawasan
agak sulit dilakukan karena masing
industri Pulo Gadung ditemukan 3 masing memiliki kendala teknis tersendiri.
jenis lumut kerak (Phaeographis sp., Selain itu, penelitian mengenai lichen ini
Strigula sp. dan D. cf picta). Pada perlu terus dilakukan hingga kajian kajian
arboretum Cibubur ditemukan 6 jenis tentang lichen dengan memperluas wilayah
lumut kerak (Strigula sp., Verrucaria sp., penelitian sehingga akan di dapat faktor
Graphidaceae, Heterodermia sp dan P. lingkungan yang jelas jelas berbeda.
cf austrosinensis). Pada tegakan mahoni
Cikabayan ditemukan 10 jenis lumut DAFTAR PUSTAKA
kerak (Graphidaceae, Strigula sp. Dan Aptroot, A., Diaz, J. A., Brcenas-Pea, A.,
Verrucaria sp., Phaeographis sp., Parmelia Cceres, M. E., Fernando, L., & Dal-
sp. dan Heterodermia sp.) (Pratiwi, 2006). Forno, M. (2014). Rapid assessment
Bioeksperimen
Volume 2 No. 1, (Maret 2016)
65
ISSN 2460-1365

of the diversity of vehiculicolous Region - Italy). In Air Pollution -


lichens on a thirty year old Ford New Development (pp. 227-244).
Bronco Truck in Central Puerto Italiy : Intech .
Rico. Fungi, 22-27.
Gerhardt, A. (xxxx). Bioindicator Species
Bhat, S. P., Dudani, S. N., & Subhash, M. and Their Use in Biomonitoring .
(xxxx). Shilapuspa - Lichen : General Germany : LimCo International.
Characteristics. India: Indian
Hardini, Y. (2010). Keanekaragaman Lichen
Institute of Science, Bangalore.
di Denpasar Sebagai Bioindikator
Bungartz, F., III, T. N., & Ryan, B. (2004). Pencemaran Udra . Seminar Nasionl
Morphology and Anatomy of Biologi Fakultas Biologi UGM (pp.
Chasmolitic Versus Epilitic 790-793). Jogjakarta: UGM Press.
Growth : a Taxonomic Revision
of Inconspicuous Saxilous Buella Kett, A., Dong, S., Andrachuck, H., &
species From The Sonoran Desert Craig, B. (2005). Learning with
Region Generally Ascribed to The Lichens : Using Epiphytic Lichens as
Buella punctata Group. Canadian Bioindicators of Air Pollution. United
Journal of Botany, 540-562. States: Brook University.

Conti, M., & Cecchetti, G. (2001). Biological Martuti, N. K. (2013). Peranan Tanaman
Monitoring : lichens as bioindicators Terhadap Pencemaran Udara di
of air pollution assessment - a Jalan Protokol Kota Semarang.
review. Environmental Pollution , Biosantifika - Berkala Ilmiah Biologi,
471-492. 36-42.
Diedrich, P., & Lawrey, J. D. (2007). New Muzayyinah. (2005). Keanekaragaman
lichenicolous, muscicolous Tumbuhan Tak Berpembuluh. Solo,
corticolous and lignicolous of Jawa Tengah, Indonesia: Lembaga
Burgoa s. l. and Marchandiomyces Pengembangan Pendidikan (LPP)
s. l. (anamorphic Basidiomycota), UNS.
a new genus for Omphalina
Pratiwi, M. E. (2006). Kajian Lumut Kerak
foliacea,and a catalogue and a key
Sebagai Bioindikator Kualitas Udara -
to the non-lichenized, bulbilliferous
Studi Kasus : Kawasan Industri Pulo
basidiomycetes. mycol. Progress, 61-
Gadung, Arboretum Cibubur dan
80.
Tegakan Mahoni Cikabayan. Bogor:
Fryday, A. M. (2001). Phytosociology of IPB Press.
terricolous lichen vegetation in the
Cairngorm Mountains, Scotland. Savic, S. (1998). Epiphytic Lichens as
Lichenologist, 331-351. Bioindicators of Air Pollution in the
Area of Belgrade. IAL 3 (pp. 331-
GC, A., Catalano I, M., & A, M. 334). Belgrade: Verlag Alexander
(2011). Monitoring Epiphytic Just .
Lichen Biodiversity to Detect
Environmental Quality and Sujetoviene, G. (2010). Road trac pollution
Air Pollution the Case Study of eects on epiphytic lichens.
Roccamonfina Park (Campania Ekologija, 64-71.
Bioeksperimen
Volume 2 No. 1, (Maret 2016)
66
ISSN 2460-1365

Tjitrosoepomo, G. (1998). Taksonomi Bryophya, Pterydophyta. Yogjakarta:


Tumbuhan - Schizophyta, Thallophyta, Gajah Mada University Press.