Anda di halaman 1dari 27

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Dalam kegiatan sehari-hari, uang selalu saja dibutuhkan untuk

membeli atau membayar berbagai keperluan. Yang menjadi masalah

terkadang kebutuhan yang ingin dibeli tidak dapat dicukupi dengan uang

yang dimilikinya. Kalau sudah demikian maka mau tidak mau kita

mengurangi untuk membeli berbagai keperluan yang dianggap tidak

penting, namun untuk keperluan yang sangat penting terpaksa harus

dipenuhi dengan berbagai cara seperti meminjam dari berbagai sumber

dana yang ada.1

Jika kebutuhan dana jumlahnya besar, maka dalam jangka pendek

sulit untuk dipenuhi, apalagi jika harus dipenuhi lewat lembaga perbankan.

Sebaliknya jika dana yang dibutuhkan relatif kecil tidak jadi masalah,

karena banyak tersedia sumber dana yang murah dan cepat, mulai dari

pinjaman ke tetangga sampai ke pinjaman dari berbagai lembaga keuangan

lainnya. Bagi yang memiliki barang-barang berharga kesulitan dana dapat

segera dipenuhi dengan cara menjual barang berharga tersebut, sehingga

sejumlah uang yang diinginkan dapat terpenuhi. Namun resikonya barang

yang telah dijual akan hilang dan sulit kembali.

Untuk mengatasi kesulitan di atas di mana kebutuhan dana dapat

dipenuhi tanpa kehilangan barang-barang berharga, maka masyarakat

1
Kasmir, Bank dan Lembaga Kuangan Lainnya, Ed. Revisi, Cet.6, PT Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2002, hlm.245.
2

dapat menjaminkan barang-barangnya ke lembaga tertentu, yakni lembaga

pegadaian. Pegadaian merupakan salah satu Lembaga Keuangan Non

Bank di Indonesia yang secara resmi mempunyai izin untuk melaksanakan

kegiatan lembaga keuangan berupa pembiayaan dalam bentuk penyaluran

dana ke masyarakat yang membantu dalam memudahkan masyarakat

memperoleh uang dengan cepat dan proses yang mudah tanpa harus

kehilangan barangnya atas dasar hukum gadai.2

Lembaga pegadaian merupakan Badan Usaha Milik Negara

(BUMN) bernama Perusahaan Umum (Perum), yang saat ini telah berubah

status badan hukumnya. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 51

Tahun 2011 Tentang Perubahan Badan Hukum Perusahaan Umum

(Perum) Pegadaian menjadi Perusahaan Perseroan (Persero).3

Dilihat dari tujuan serta kegiatan utama pegadaian, maka

pelaksanaan kegiatan dalam penyaluran pinjaman (kredit) wajib

dilaksanakan berdasarkan hukum gadai. Hukum gadai yang berlaku di

Indonesia saat ini diatur secara khusus dalam Kitab Undang-Undang

Hukum Perdata (KUHPerdata) dalam Buku II BaB XX Pasal 1150 sampai

dengan Pasal 1160. Pengertian Gadai itu sendiri diatur dalam Pasal 1150

KUH Perdata, yang berbunyi sebagai berikut:

Gadai adalah suatu hak yang diperoleh seorang yang berpiutang


atas suatu barang bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh
seorang yang berutang atau oleh seorang lain atas namanya, dan

2
Pengertian Pegadaian diunduh pada tanggal 02 April 2017 pukul 22.30 WIB dari
https://id.,.wikipedia.org/wiki/Pegadaian_(perusahaan)
3
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP) No.51 Tahun 2011 Tentang Perubahan
Bentuk Badan Hukum Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian Menjadi Perusahaan Perseroan
(Persero)
3

yang memberikan barang kekuasaan kepada orang berpiutang itu


untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara
didahulukan daripada orang yang berpiutang lainnya, dengan
pengecualian biaya untuk melelang barang tersebut, dan biaya
yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah barang
itu digadaikan, biaya-biaya mana harus didahulukan.

Lembaga pegadaian memberikan peluang kepada masyarakat yang

tidak mampu mengikat kredit dengan pihak Bank, sehingga masyarakat

terhindar dari praktik pemberian uang pinjaman yang tidak wajar.

Masyarakat akan memperoleh kemudahan dalam meminjam uang dari

pemerintah melalui lembaga pegadaian ini, karena barang yang digunakan

sebagai jaminan adalah benda bergerak berwujud yang dimilikinya. Selain

benda bergerak berwujud objek gadai dapat juga berupa benda bergerak

yang tidak berwujud dalam bentuk surat-surat beharga.

Surat-surat berharga tersebut bermacam-macam tergantung kepada

jenis klausulnya, yaitu :

1. Surat berharga atas pengganti (aan tonder, to order);


2. Surat-surat berharga atas pembawa (tunjuk) (aan toonder, to
bearer);
3. Surat berharga atas nama (op naam).4

Namun oleh pegadaian hal diatas tidak dijadikan objek barang

jaminan yang dapat diterima. Jaminan sangat penting demi menjaga

keamanan dan memberikan kepastian hukum bagi kreditur untuk

mendapatkan kepastian mengenai pengembalian uang yang telah diberikan

oleh kreditur kepada debitur sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan

dan disepakati bersama.

4
Rachmadi Usman, Hukum Jaminan Keperdataan, Ed.1, Cet.2, Sinar Grafika, Jakarta, 2009,
hlm. 109.
4

Sahnya suatu pemberi gadai atau perjanjian gadai harus memenuhi

syarat sahnya suatu perjanjian secara umum sebagaimana diatur dalam

Pasal 1320 KUHPerdata. Didalam Pasal 1320 KUHPerdata ditentukan

bahwa untuk sahnya perjanjian diperlukan 4 (empat) syarat yaitu :

a. Adanya kesepakatan mereka yang mengikat dirinya;


b. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
c. Suatu hal tertentu;
d. Suatu Sebab yang halal.

Gadai diperjanjikan dengan maksud untuk memberikan jaminan

atas suatu kewajiban prestasi tertentu, yang pada umumnya tidak selalu

merupakan perjanjian hutang piutang dan karenanya dikatakan, bahwa

perjanjian gadai mengabdi kepada perjanjian pokoknya atau dikatakan

bahwa ia merupakan perjanjian yang bersifat accesoir (tambahan).5

Sedangkan perjanjian pokoknya adalah perjanjian pinjam meminjam uang.

Dalam Kota Bengkulu PT Pegadaian (Persero) memiliki kantor unit

pelayanan pembantu terdiri dari kantor unit pelayanan pembantu Rawa

Makmur, Sawah Lebar, Pasar Minggu, Arga Makmur, Muko-Muko,

Manna, dan bintuhan yang berada di bawah naungan kantor pelayanan

pusat Cabang Bengkulu terletak di jalan Veteran No.01 Kelurahan Tjitra

(sebelah RS.Bhayangkara) Kota Bengkulu, di mana kantor pelayanan

pusat Cabang Bengkulu digunakan sebagai objek penelitian.

5
J. Satrio, Hukum Jaminan, Hak-Hak Kebendaan, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002,
hlm.100.
5

Untuk menjadi lembaga keuangan yang terbaik di mata

masyarakat, maka PT. Pegadaian (Persero) termasuk pegadaian Cabang

Kota Bengkulu mempunyai berbagai macam produk yakni:

1. Kredit Angsuran Sistem Fidusia ( KREASI);


2. Kredit Angsuran Rumah Tangga ( KRISTA);
3. Kredit Perumahan Rakyat (KREMADA);
4. Kredit Aneka Guna Untuk Umum (KAGUM);
5. Kredit Tunda Jual Gabah (KTJG);
6. Investasi Emas ( MULIA).

Setiap produk pada PT. Pegadaian memiliki manfaat serta

keunggulannya masing-masing sesuai dengan kebutuhan dari para

nasabah. Salah satu produk PT. Pegadaian (Persero) yang bernama Kredit

Cepat Aman (KCA) adalah kredit dengan sistem gadai yang diberikan

kepada semua golongan nasabah, baik untuk kebutuhan konsumtif maupun

kebutuhan produktif.6 Keunggulan dari produk KCA saat ini barang

jaminan dapat berupa perhiasan emas, emas batangan, mobil, sepeda

motor, laptop, handphone, dan barang berharga lainnya, tarif bunga

kompetitif per 15 hari, barang jaminan diasuransikan, jangka waktu

pinjaman maksimal 4 bulan atau 120 hari dan dapat di perpanjang dengan

cara membayar sewa modal saja atau mengangsur sebagian uang

pinjaman, adanya masa bebas bunga setelah jatuh tempo serta

pengembalian kelebihan hasil lelang. Produk KCA dimanfaatkan oleh

semua golongan masyarakat Kota Bengkulu baik dari golongan

masyarakat ekonomi menengah kebawah sampai masyarakat ekonomi

6
Kredit Gadai Cepat Aman, diunduh tanggal 5 April 2017 pukul 21.30 WIB dari
http://www.pegadaian.co.id/pegadaian-gadai.php
6

menengah keatas ini dapat terlihat dari jumlah nasabah pengguna produk

KCA pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Bengkulu dari tahun 2015

sampai tahun 2017 berjumlah 4.425.000.7 Dengan memanfaatkan KCA

sebagai alternatif pemenuhan kebutuhan mendesak yang harus segera

dipenuhi dengan prosedur yang cepat serta aman.

Pada penelitian ini penulis hanya mengambil produk Kredit Cepat

Aman (KCA) pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Bengkulu. Hal ini

dikarenakan produk Kredit Cepat Aman (KCA) yang ditawarkan oleh PT.

Pegadaian (Persero) merupakan produk unggulan dan utama dari

Pegadaian serta memiliki paling banyak jumlah peminatnya. Guna

mendapatkan fasilitas kredit dari PT. Pegadaian (Persero) apabila telah

memenuhi persyaratan dan telah menyetujui besaran jumlah pinjaman

sesuai dengan hasil taksiran dari barang jaminan yang ditentukan, PT.

Pegadaian (Persero) akan memberikan Surat Bukti Kredit (SBK). SBK ini

berisikan beberapa klausul yang harus di patuhi oleh nasabah. Jika nasabah

sepakat dengan isi klausul SBK tersebut, maka SBK tersebut akan

ditandatangani serta diterbitkan oleh PT. Pegadaian (Persero) Cabang

Bengkulu.

Berdasarkan hasil pra penelitian ditemukan beberapa masalah yang

dikemukakan oleh Bapak Nopren Julyandi, Customer Service PT.

Pegadaian (Persero) Cabang Bengkulu, bahwa para nasabah tidak

semuanya beritikad baik dalam mematuhi Surat Bukti Kredit (SBK)

7
Hasil wawancara dengan pihak PT. Pegadaian (Persero) Cabang Kota Bengkulu Bapak
Nopren Julyandi, SE tanggal 5 Juli 2017 pukul 10.00 WIB
7

sebagai perjanjian antara pihak PT. Pegadaian (Persero) dengan nasabah

tersebut, seperti ada nasabah yang tidak membayar pinjaman beserta sewa

modal ataupun tidak memperpanjang jangka waktu jatuh tempo kredit

sesuai dengan perjanjian yang sudah disepakati.8

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk

melakukan penelitian dalam rangka penyusunan skripsi dengan judul:

PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT PADA PT. PEGADAIAN

(PERSERO) CABANG BENGKULU DENGAN NASABAH DALAM

PEMANFAATAN PRODUK GADAI KREDIT CEPAT AMAN

(KCA) DI KOTA BENGKULU

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas, dapat dirumuskan

permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana pelaksanaan perjanjian kredit pada PT. Pegadaian (Persero)

Cabang Bengkulu dengan nasabah dalam pemanfaatan produk gadai

Kredit Cepat Aman (KCA ) di Kota Bengkulu ?

2. Bagaimanakah upaya PT. Pegadaian (Persero) Cabang Bengkulu

dalam menyelesaikan wansprestasi nasabah dalam pemanfaatan

produk gadai Kredit Cepat Aman (KCA) di Kota Bengkulu ?

8
Hasil wawancara dengan pihak PT. Pegadaian (Persero) Cabang Kota Bengkulu Bapak
Nopren Julyandi, SE tanggal 5 Juli 2017 pukul 10.00 WIB
8

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Berdasarkan permasalahan diatas, maka tujuan dan manfaat

penelitian ini :

1. Tujuan Penelitian.

a. Untuk mengetahui pelaksanaan perjanjian kredit pada PT.

Pegadaian (Persero) cabang Bengkulu dengan nasabah dalam

pemanfaatan produk gadai Kredit Cepat Aman (KCA) di Kota

Bengkulu.

b. Untuk mengetahui upaya PT. Pegadaian (Persero) Cabang

Bengkulu dalam menyelesaikan wansprestasi nasabah dalam

pemanfaatan Produk Kredit Cepat Aman (KCA) di Kota Bengkulu.

2. Manfaat Penelitian

Dalam penelitian ini, manfaat utama yang diharapkan dapat

tercapai sebagai berikut :

a. Secara Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan

pemikiran dalam rangka mengembangkan serta memperkaya ilmu

pengetahuan mengenai hukum perdata khususnya hukum

perjanjian.

b. Secara Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan

wawasan pembaca dan masyarakat yang ingin mendalami

pengetahuannya tentang hukum perjanjian terutama tentang


9

pelaksanaan perjanjian kredit pada PT. Pegadaian (Persero) dalam

pemanfaatan produk gadai Kredit Cepat Aman (KCA).

D. Kerangka Pemikiran

1. Pengertian Gadai

Gadai menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, diatur di

dalam ketentuan Pasal 1150, disebutkan bahwa gadai adalah :

Gadai adalah suatu hak yang diperoleh seorang yang berpiutang


atas suatu barang bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh
seorang yang berutang atau oleh seorang lain atas namanya, dan
yang memberikan barang kekuasaan kepada orang berpiutang itu
untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara
didahulukan daripada orang yang berpiutang lainnya, dengan
pengecualian biaya untuk melelang barang tersebut, dan biaya yang
telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah barang itu
digadaikan, biaya-biaya mana harus didahulukan.
Gadai menurut Susilo sebagaimana dikutip oleh Muhammad

Sholikul Hadi, gadai yaitu suatu hak yang diperoleh oleh seseorang yang

mempunyai piutang atas suatu barang bergerak. Barang bergerak tersebut

diserahkan kepada orang yang berpiutang oleh seorang yang mempunyai

utang atau oleh orang lain atas nama orang yang mempunyai utang.

Seorang yang berutang tersebut memberikan kekuasaan kepada orang

yang berpiutang untuk menggunakan barang bergerak yang telah

diserahkan untuk melunasi utang apabila pihak yang berutang tidak dapat

melunasi kewajibannya pada saat jatuh tempo.9

Gadai menurut Salim HS adalah suatu perjanjian yang dibuat

antara kreditur dengan debitur, di mana debitur menyerahkan benda

9
Muhammad Sholikul Hadi, Pegadaian Syariah, Selemba Diniyah, Jakarta, 2003, hlm.17.
10

bergerak kepada kreditur, untuk menjamin pelunasan suatu hutang gadai,

ketika debitur lalai melaksanakan prestasi.10

Dari beberapa pendapat sarjana diatas maka dapat diketahui bahwa

gadai pada dasarnya adalah suatu jaminan dalam hal pelaksanaan suatu

prestasi yang akan diberikan oleh debitur untuk masa yang akan datang,

mengingat bahwa gadai memberikan kekuasaan kepada pemegang gadai

untuk menjamin pelunasan dari barang gadai secara didahulukan.

2. Teori Perjanjian

Istilah perjanjian di dalam hukum Indonesia merupakan terjemahan

dan Istilah Bahasa Belanda Verbienteenis namun istilah

Verbienteenis oleh para sarjana Indonesia dalam berbagai istilah, seperti

perhutangan, sedangkan dilain pihak ada juga yang menggunakan istilah

perjanjian untuk Verbienteenis, sedangkan Overeenkomst diterjemahkan

dengan persetujuan.11

Menurut teori perjanjian Van Dunne, Perjanjian adalah suatu

hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat

untuk menimbulkan akibat hukum.

Teori tersebut tidak hanya melihat perjanjian semata-mata.

Tetapi juga harus dilihat perbuatan-perbuatan sebelumnya atau yang

mendahuluinya.

Ada tiga tahap dalam membuat perjanjian, yaitu:

1) Tahap pracontractual, yaitu adanya penawaran dan penerimaan

10
Salim HS, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, Cet.6, Rajawali Pers, Jakarta,
2002, hlm.34.
11
R. Subekti, Hukum Perjanjian, PT Internusa, Jakarta, 1992, hlm.1.
11

2) Tahap Contractual, yaitu adanya persesuaian pernyataan kehendak

antara para pihak;

3) Tahap postcontractual, yaitu pelaksanaan perjanjian.12

Menurut Pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang

dimaksud perjanjian adalah :

Perjanjian adalah suatu perbuatan dimana satu orang atau lebih


mengikatkan diri terhadap satu orang atau lebih.

Suatu perjanjian dapat dikatakan sah apabila memenuhi syarat-

syarat tertentu. Di dalam Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum

Perdata menyebutkan ada empat syarat yang harus dipenuhi dalam suatu

perjanjian yaitu :

a. Sepakat untuk mengikatkan diri;


b. Cakap untuk membuat perjanjian;
c. Mengenai suatu hal tertentu;
d. Kausa yang halal.
Dua syarat yang pertama, dinamakan syarat subyektif karena

mengenai orang-orang atau subteknya yang mengadakan perjanjian.

Sedangkan dua syarat yang terakhir dinamakan syarat-syarat obyektif,

karena mengenai perjanjiannya sendiri atau obyek dari perbuatan hukum

yang dilakukan itu, bila syarat itu tidak dipenuhi maka dapat diancam

kebatalan atau dimintakan kebatalan.

3. Teori Wansprestasi

Prestasi atau yang dalam bahasa Inggris disebut juga dengan istilah

peformance dalam hukum kontrak dimaksudkan sebagai suatu

12
Salim H.S, Perkembangan Hukum Kontrak Nominat Di Indonesia, Buku Kesatu, Sinar
Grafika, Jakarta, 2003, hlm.16.
12

pelaksanaan hal-hal yang tertulis dalam suatu kontrak oleh pihak yang

telah mengikatkan diri untuk itu, pelaksanaan mana sesuai dengan

term dan condition sebagaimana disebutkan dalam kontrak yang

bersangkutan.13

Adapun yang merupakan model-model dari prestasi adalah seperti

yang disebutkan dalam Pasal 1234 KUH Perdata, yaitu berupa :

a. Memberikan sesuatu;

b. Berbuat sesuatu;

c. Tidak berbuat sesuatu.

Sementara itu, yang dimaksud dengan wansprestasi (default atau

non fulfiment ataupun yang didebut juga dengan istilah breach of

contract) adalah tidak melaksanakan prestasi atau kewajiban

sebagaimana mestinya yang dibebankan oleh kontrak terhadap pihak-

pihak tertentu seperti yang disebutkan dalam kontrak yang

bersangkutan.14

Tindakan wansprestasi membawa konsekuensi terhadap timbulnya

hak pihak yang dirugikan untuk menuntut pihak yang melakukan

wansprestasi untuk memberikan ganti rugi, sehingga oleh hukum

diharapkan agar tidak ada suatu pihak pun yang dirugikan karena

wansprestasi tersebut. Tindakan wansprestasi ini dapat terjadi karena :

a. Kesengajaan;

b. Kelalaian;

13
Munir Fuady, Hukum Kontrak dari Sudut Pandang Hukum Bisnis, Citra Aditya Bakti
Bandung, 1999, hlm.87.
14
Ibid.
13

c. Tanpa kesalahan (tanpa kesengajaan atau kelalaian).

Ada berbagai model bagi para pihak yang tidak memenuhi

prestasinya walaupun sebelumnya sudah setuju untuk dilaksanakannya.

Model-model wansprestasi tersebut adalah sebagai berikut :

a. Wansprestasi berupa tidak memenuhi prestasi;

b. Wansprestasi berupa terlambat memenuhi prestasi;

c. Wansprestasi berupa tidak sempurna memenuhi prestasi.15

Dalam hal wansprestasi berupa tidak sempurna memenuhi prestasi

dalam hukum kontrak dikenal dengan suatu doktrin yang disebut

dengan Doktrin Pemenuhan Prestasi Substansial (Substansial

Performance). Yang dimaksud dengan Doktrin Pemenuhan Prestasi

Substansial adalah suatu doktrin yang mengajarkan bahwa sungguhpun

suatu pihak tidak melaksanakan prestasinya secara sempurna, tetapi jika

dia telah melaksanakan prestasinya tersebut secara substansial, maka

pihak lain harus juga melaksanakan prestasinya secara sempurna,

Apabila suatu pihak tidak melaksanakan prestasinya secara substansial,

maka disebut telah tidak melakukan kontrak secara material (material

breach).

Pelaksanaan substansial performance terhadap kontrak yang

bersangkutan, tidaklah berlaku lagi doktrin exception non adimpleti

contractus, yakni doktrin yang mengajarkan bahwa apabila suatu pihak

tidak melaksanakan prestasinya, maka pihak lain dapat juga tidak

15
Ibid, hlm.89.
14

melaksanakan prestasinya. Sebagai contoh, jika seorang kontraktor

mengikat kontrak dengan pihak bouwheer untuk mendirikan sebuah

bangunan, misalnya dia hanya tinggal memasang kunci bagi bangunan

tersebut sementara pekerjaan-pekerjaan lainnya telah selesai

dilakukannya, maka dapat dikatakan dia telah melaksanakan kontrak

secara substansial. Sementara kunci yang tidak dipasang pada bangunan

tersebut bukan berarti telah tidak melaksanakan kontrak secara

material (material breach). Akan tetapi tidak terhadap semua kontrak

dapat diterapkan doktrin pelaksanaan kontrak secara substansial.

4. Konsep Kredit

Secara etimologi istilah kredit berasal dari bahasa latin yaitu

credere (credo dan creditium) yang berarti kepercayaan (trust atau

faith). Jadi kredit berarti kepercayaan dari kreditur bahwa debitur dapat

mengembalikan pinjaman sesuai dengan perjanjian). Istilah kredit dalam

masyarakat disamakan dengan utang.

Menurut Sastradipoera, Kredit adalah penyediaan uang atau

tagihan (yang disamakan dengan uang) berdasarkan kesepakatan pinjam

meminjam antara bank dan pihak lain yang dalam hal ini peminjam

berkewajiban melunasi kewajibannya setelah jangka waktu tertentu

dengan (biasanya) sejumlah bunga yang ditetapkan lebih dahulu.16

Selanjutnya Muhammad djumhana, menguraikan kredit dalam arti

16
Sastradipoera, Komaruddin, Strategi Manajemen Bisnis Perbankan: Konsep dan
Implementasi Untuk Bersaing, Kappa Sigma, Bandung, 2004, hlm 151.
15

ekonomi, kredit adalah penundaan pembayaran dari prestasi yang

diberikan sekarang, baik dalam bentuk barang, uang, maupun jasa.17

Levy dalam buku Mariam Darus Badrulzaman merumuskan

pengertian kredit dalam arti hukum yaitu, kredit adalah menyerahkan

secara sukarela sejumlah uang untuk dipergunakan secara bebas oleh

penerima kredit. Penerima kredit berhak mempergunakan pinjaman itu

untuk keuntungannya dengan kewajiban mengembalikan jumlah

pinjaman itu di belakang hari.18

Dari pendapat maupun istilah di atas dapat diketahui bahwa kredit

yang diberikan oleh lembaga kredit didasarkan atas kepercayaan,

sehingga pemberiaan kredit merupakan pemberian kepercayaan,

berarti suatu lembaga kredit baru akan memberikan kredit jika lembaga

kredit betul-betul yakin, bahwa debitur akan mengembalikan pinjaman

yang diterimanya sesuai dengan jangka waktu dan syarat-syarat yang

telah disetujui oleh kedua belah pihak.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan penelusuran dan pengamatan yang dilakukan oleh penulis

di perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Bengkulu tentang Pelaksanaan

Perjanjian Kredit Pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Kota Bengkulu

Dengan Nasabah Dalam Pemanfaatan Produk Gadai Kredit Cepat Aman

(KCA) Di Kota Bengkulu. Sepanjang pengetahuan penulis belum ada

17
Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung,
1991, hlm.217.
18
Mariam Darus Badrulzaman, Perjanjian Kedit Bank, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1991,
hlm.24.
16

ditemukan judul penelitian yang sama persis dengan skripsi ini. sehingga

dapat dikatakan bahwa penelitian ini sudah memenuhi kaidah keaslian

penelitian. Adapun penelitian yang berkaitan dengan Pelaksanaan Perjanjian

Kredit Pada PT. Pegadaian (Persero) Cabang Kota Bengkulu Dengan

Nasabah Dalam Pemanfaatan Produk Gadai Kredit Cepat Aman (KCA) Di

Kota Bengkulu yang pernah dilakukan oleh :

No Nama Judul Penelitian Permasalahan


1. Rado Perjanjian 1. Bagaimanakah status
Sahtantara19 Pembiayaan hukum dari perjanjian
(Skripsi Pembelian Logam pembiayaan
Fakultas Mulia Di PT. pembeliaan logam
Hukum Pegadaian mulia yang dilakukan
Universitas Cabang Pagar secara angsuran di PT.
Bengkulu Dewa Kota Pegadaian Cabang
2009) Bengkulu Pagar Dewa Kota
Bengkulu?
2. Bagaimana
pelaksanaan perjanjian
pembiayaan logam
mulia melalui PT.
Pegadaian Cabang
Pagar Dewa Kota
Bengkulu ?
3. Bagaimana
penyelesaian perjanjian
logam mulia yang
melakukan perbuatan
wansprestasi?

19
Rado Sahtantra,Perjanjian Pembiayaan Pembelian Logam Mulia Di PT. Pegadaian
Cabang Pagar Dewa Kota Bengkulu, Skripsi, Fakultas Hukum Universitas Bengkulu, 2009
17

2 Shifa Al- Tinjauan Yuridis 1. Apa dasar hukum


Adawiyah20 Terhadap pemberian kredit
(Skripsi Pemberian Kredit angsuran sistem fidusia
Fakultas Angsuran Sistem (KRESAI) pada perum
Hukum Fidusia(KREASI) pegadaian?
Universitas Pada Perum 2. Apa saja syarat dan
Lampung Pegadaian (Studi prosedur pengajuan
2010) Pada Perum kredit angsuran sistem
Pegadaian fidusia (KREASI) pada
Cabang Teluk perum pegadaian?
Betung) 3. Bagaimana hak dan
kewajiban para pihak
dalam perjanjian kredit
angsuran sistem fidusia
(KREASI) pada perum
pegadaian?

Perbedaan penelitian penulis dengan penelitian yang telah

dilakukan sebelumnya memiliki perbedaan, karena penelitian penulis

lebih mengarah pada pelaksanaan perjanjian kredit khususnya dalam

pemanfaatan produk Kredit Cepat Aman (KCA) sebagai alternatif

pemenuhan kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi, sedangkan

pada penelitian sebelumnya lebih mengarah pada perjanjian pembiayaan

pada produk Logam Mulia sebagai bentuk investasi serta pada penelitian

berikutnya lebih mengarah kepada dasar hukum pemberian produk kredit

angsuran sisten fidusia (KREASI).

20
Shifa Al-Adawiyah, Tinjauan Yuridis Terhadap Pemberian Kredit Angsuran Sistem
Fidusia(KREASI) Pada Perum Pegadaian (Studi Pada Perum Pegadaian Cabang Teluk Betung),
Skripsi, Fakultas Hukum Universitas Lampung, 2010
18

F. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris, yang

bersifat deskriptif. Menurut Soerjono Soekanto bahwa: Suatu

penelitian deskriptif, dimaksudkan untuk memberikan data yang

seteliti mungkin tentang manusia, keadaan atau gejala-gejala lainnya.

Maksudnya adalah terutama untuk mempertegas hipotesa-hipotesa,

agar dapat membantu di dalam memperkuat teori-teori lama, atau di

dalam kerangka menyusun teori-teori baru.21

2. Pendekatan Penelitian

Terkait dengan permasalahan yang akan diteliti dalam

penelitian ini, maka pendekatan yang akan dipergunakan adalah

pendekatan sosiologi hukum, yaitu melihat langsung berlakunya

hukum dengan masyarakat yang dimana bukan melihat kenyataan dari

bentuk pasal-pasal dalam perundang-undangan tapi bagaimana hukum

dioperasikan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Populasi dan Responden Penelitian

a. Populasi

Menurut Soerjono Soekanto, dalam bukunya Pengantar

Penelitian Hukum, Populasi adalah sejumlah manusia atau unit

yang mempunyai ciri-ciri atau karakteristik yang sama.22

21
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Cet. 3, UI Press, Jakarta, 1986, hlm. 10.
22
Ibid, hlm.172.
19

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pihak, yaitu semua

pegawai yang ada di PT. Pegadaian (Persero) Cabang Kota

Bengkulu dan nasabah dari produk Kredit Cepat Aman (KCA)

yang dapat memberikan informasi berkaitan dengan implementasi

pelaksanaan perjanjian kredit pada PT. Pegadaian (Persero) cabang

Bengkulu dengan nasabah dalam pemanfaatan produk gadai Kredit

Cepat Aman (KCA) di Kota Bengkulu.

b. Responden

Responden merupakan pihak yang terlibat langsung dalam

peristiwa hukum objek penelitian.23

Maka yang menjadi responden dalam penelitian ini yaitu

sebagai berikut :

1) Kepala PT. Pegadaian (Persero) Cabang Bengkulu.

2) Costumer Service PT. Pegadaian (Persero) Cabang Bengkulu

3) 25 (dua puluh lima) orang nasabah pengguna produk Kredit

Cepat Aman (KCA).

4. Data dan Sumber Data

Penelitian Penelitian yang dilakukan ini memerlukan dua (2)

jenis data yakni data primer dan data skunder, sumber data terdiri

dari :

23
Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung,
2004, hlm.171.
20

a. Data Primer

Jenis data primer adalah data yang bersumber dari penelitian

lapangan yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sumber

pertaman di lapangan baik dari responden maupun informan.24

b. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari studi

dokumentasi yang berupa hasil penelitian dari literatur-literatur,

buku-buku, teori-teori atau pendapat-pendapat ahli, Peraturan

Perundang-undangan yang berkaitan dengan masalah yang akan

diteliti.

5. Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan

sebagai berikut :

a. Data Primer

Data primer yang dipergunakan dalam penelitian ini di dapat

dengan melakukan wawancara terhadap responden. Wawancara

merupakan salah satu metode pengumpulan data dengan jalan

komunikasi antara penanya (Pewawancara) dengan responden.

b. Data Sekunder

Data sekunder dalam penelitian ini didapatkan dengan

melakukan studi pustaka. Sumber data sekunder yang diperoleh

dari data offline bersumber dari bahan bacaan yang sudah tersusun

24
Tim penyusun Fakultas Hukum UNIB, Panduan Penulisan Tugas Akhir Untuk Sarjana
Hukum (S1), Fakultas Hukum UNIB, Bengkulu, 2015, hlm.44.
21

dalam bentuk buku-buku, literatur-literatur, peraturan perundang-

undangan yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.

Sedangkan, sumber data sekunder yang diperoleh dari data online

bersumber dari pencarian situs-situs atau website internet yang

dapat memberikan informasi lebih lanjut berkaitan dengan masalah

yang akan diteliti.

6. Pengolahan Data

Data yang diperoleh dari lapangan maupun melalui studi

kepustakaan kemudian data-data tersebut dikumpulkan, diolah,

dihubungkan, dianalisis satu dengan yang lain sesuai dengan

kebutuhan melalui tahap editing. Editing yaitu memeriksa kembali

mengenai kelengkapan jawaban yang diterima, kejelasannya,

konsistensi jawaban atau informasi, relevansinya bagi penelitian,

maupun keseragaman data yang diterima oleh penulis.25 Dengan

melakukan editing ini diharapkan kelengkapan dan kejelasan

informasi yang telah diperoleh dapat terjamin.

7. Analisis Data

Analisis data dalam penelitian empiris pada hakekatnya

dilakukan secara terus menerus sejak awal sampai akhir penelitian.

Data yang diperoleh baik data primer maupun sekunder telah

dikumpulkan kemudian diperiksa kebenarannya dan disempurnakan

kedalam susunan tertentu yang mengandung unsur yuridis. Analisis

25
Soerjono Soekanto, Op.cit, Hlm. 264.
22

data yang digunakan dalam penelitian ini analisis kualitatif. Analisis

data secara kualitatif adalah langsung mengarah pada keadaan dan

pelaku-pelaku tanpa mengurangi unsur-unsur yang ada di dalamnya.

Dengan menggunakan metode berpikir deduktif dan induktif, Yang

dimana metode berpikir deduktif adalah suatu metode berpikir yang

menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya

dihubungkan dalam bagian-bagian yang khusus. Sedangkan metode

berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir

dengan bertolak dari hal-hal yang bersifat khusus untuk menentukan

kesimpulan yang bersifat umum. Dalam penalaran induktif ini,

kesimpulan ditarik dari sekumpulan fakta peristiwa atau pernyataan

yang bersifat umum.26

26
Adhalaman Penalaran Ilmiah Berpikir Deduktif Berpikir induktif diunduh pada tanggal
09 Mei 2017 Pukul 22.48 WIB dari https://afdhalarman.wordpress.com/2016/01/08/penalaran-
ilmiah-berfikir-deduktifberfikir-induktif/
23

G. Sistematika Penulisan
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING
HALAMAN PENGESAHAN TIM PENGUJI
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN PENULISAN SKRIPSI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR SINGKATAN
DAFTAR LAMPIRAN
ABSTRAK
ABSTRACT
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Indentifikasi Masalah
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
D. Kerangka Pemikiran
E. Keaslian Penelitian
F. Metode Penelitian
1. Jenis penelitian
2. Pendekatan Penelitian
3. Populasi dan Responden
4. Data dan Sumber Data
5. Teknik Pengumpulan Data
6. Pengolahan Data
7. Analisis Data
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Tentang Perjanjian
1. Pengertian Perjanjian
2. Syarat Sahnya Perjanjian
3. Asas-Asas Perjanjian
4. Jenis-Jenis Perjanjian
5. Berakhirnya Perjanjian
B. Tinjauan Tentang Kredit
1. Pengertian Kredit
2. Unsur-Unsur Kredit
C. Tinjauan Tentang Jaminan
1. Pengertian Jaminan
2. Jenis-Jenis Jaminan
3. Sifat dan Fungsi Jaminan
4. Berakhirnya Jaminan
D. Tinjauan Tentang Gadai
1. Pengaturan Gadai
2. Subjek dan Objek Gadai
3. Terjadinya Gadai
24

4. Hak dan Kewajiban Para Pihak Dalam Gadai


BAB III. PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT PADA PT.
PEGADAIAN (PERSERO) CABANG BENGKULU
DENGAN NASABAH DALAM PEMANFATAN PRODUK
GADAI KREDIT CEPAT AMAN (KCA) DI KOTA
BENGKULU
A. Tahap Procontractual Dalam Perjanjian
B. Tahap Contractual Dalam Perjanjian
C. Tahap Poscontractual Dalam Perjanjian
BAB IV. UPAYA PT. PEGADAIAN (PERSERO) CABANG
BENGKULU DALAM MENYELESAIKAN
WANSPRESTASI NASABAH DALAM PEMANFAATAN
PRODUK GADAI KREDIT CEPAT AMAN (KCA) DI
KOTA BENGKULU
A. Bentuk Wansprestasi oleh nasabah Dengan PT. Pegadaian
(Persero) Cabang Bengkulu Dalam Pemanfaatan Produk
Kredit Cepat Aman (KCA)
B. Upaya Penyelesaian Wansprestasi Oleh Nasabah Dengan PT.
Pegadaian (Persero) Cabang Bengkulu Dalam Pemanfaatan
Produk Kredit Cepat Aman (KCA)

BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
25

DAFTAR PUSTAKA

Buku-Buku
Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2004

J. Satrio, Hukum Jaminan, Hak-Hak Kebendaan, PT Citra Aditya Bakti, Bandung,


2002

Kasmir, Bank dan Lembaga Kuangan Lainnya, Ed. Revisi, Cet.6, PT Raja
Grafindo Persada, Jakarta, 2002

Mariam Darus Badrulzaman, Perjanjian Kredit Bank, Citra Aditya Bakti,


Bandung, 1991

Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, Citra Aditya Bakti,


Bandung, 1991

Munir Fuady, Hukum Kontrak dari Sudut Pandang Hukum Bisnis, Citra Aditya
Bakti Bandung, 1999

Muhammad Sholikul Hadi, Pegadaian Syariah, Selemba Diniyah, Jakarta, 2003

Rachmadi Usman, Hukum Jaminan Keperdataan, Ed.1, Cet.2, Sinar Grafika,


Jakarta, 2009

R. Subekti, Hukum Perjanjian, PT Internusa, Jakarta, 1992

Salim HS, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, Cet.6, Rajawali Pers,


Jakarta, 2002

________, Perkembangan Hukum Kontrak Nominat Di Indonesia, Buku Kesatu,


Sinar Grafika, Jakarta, 2003

Sastradipoera, Komaruddin, Strategi Manajemen Bisnis Perbankan: Konsep dan


Implementasi Untuk Bersaing, Kappa Sigma, Bandung, 2004

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Cet. 3, UI Press, Jakarta,1986

Tim penyusun Fakultas Hukum UNIB, Panduan Penulisan Tugas Akhir Untuk
Sarjana Hukum (S1), Fakultas Hukum UNIB, Bengkulu, 2015
26

Peraturan Perundang-undangan
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP) No.51 Tahun 2011 Tentang
Perubahan Bentuk Badan Hukum Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian
Menjadi Perusahaan Perseroan (Persero)

Skripsi
Rado Sahtantra,Perjanjian Pembiayaan Pembelian Logam Mulia Di PT.
Pegadaian Cabang Pagar Dewa Kota Bengkulu, Skripsi, Fakultas
Hukum Universitas Bengkulu, 2009
Shifa Al-Adawiyah, Tinjauan Yuridis Terhadap Pemberian Kredit Angsuran
Sistem Fidusia(KREASI) Pada Perum Pegadaian (Studi Pada Perum
Pegadaian Cabang Teluk Betung), Skripsi, Fakultas Hukum Universitas
Lampung, 2010

Website
Pengertian Pegadaian diunduh pada tanggal 02 April 2017 pukul 22.30 WIB dari
https://id.,.wikipedia.org/wiki/Pegadaian_(perusahaan)
Kredit Gadai Cepat Aman, diunduh pada tanggal 05 April 2017 pukul 21.30 WIB
dari http://www.pegadaian.co.id/pegadaian-gadai.php
Adhalaman Penalaran Ilmiah Berpikir Deduktif Berpikir induktif diunduh
pada tanggal 09 Mei 2017 Pukul 22.48 WIB dari
https://afdhalarman.wordpress.com/2016/01/08/penalaran-ilmiah-
berfikir-deduktifberfikir-induktif/
27