Anda di halaman 1dari 26

IV Tensile Test

4.1 Tujuan

4.1.1 Tujuan Intruksional Umum

1. Mahasiswa dapat melakukan pengujian tarik (Tensile Test) terhadap suatu material.

4.1.2 Tujuan Intruksional Khusus


1. Mahasiswa mampu membuat diagram tegangan-regangan teknik dan
sebenarnya berdasarkan diagram beban-pertambahan panjang yang didapat dari
hasil pengujian.

2. Mahasiswa mampu menjelaskan, menganalisa sifat-sifat mekanik material yang


terdiri dari kekuatan tarik maksimum, kekuatan tarik luluh, reduction of area,
elongation, dan modulus elastisitas.

4.2 Dasar Teori

Salah satu sifat mekanik yang sangat penting dan dominan dalam suatu perancangan
konstruksi dan proses manufaktur adalah kekuatan tarik. Kekuatan tarik suatu bahan di dapat
dari hasil uji tarik (tensile test) yang dilaksanakan berdasarkan standar pengujian yang telah
baku seperti ASTM (American Society of Testing and Material), JIS (Japan Industrial
Standart), DIN (Deutch Industrie Normung) dan yang lainnya.

Terdapat beberapa spesimen pada uji tarik. Bentuk spesimen sebagaimana ditunjukkan
pada gambar di bawah ini :

1. Specimen Plat
Batang uji berupa plat ditentukan dahulu gauge lengthnya, yaitu 60 mm. Setelah itu
diambil titik tengah dari gauge length, yaitu A0 = 30 mm & B0 = 30 mm. Kesemuanya itu
diberi tanda dengan penitik kemudian diukur kembali panjang gauge lenghtnya apakah
tepat 60 mm atau tidak, setelah itu nilainya dimasukkan kedalam penandaan (L 0).Gambar
berikut ini merupakan spesimen yang akan mendapat perlakuan uji tarik :
Gambar 4.1 Spesimen Plat

2. Specimen Round Bar


Batang uji berupa rounded ditentukan dulu gauge lenghtnya, yaitu 49.30 mm lalu
ditentukan titik tengah gauge lenghtnya. Setelah itu diukur lagi panjang gauge length dari
A ke B untuk dimasukkan kedalam penandaan (Lo). Setelah itu ditandai dengan penitik.
Lihat pada Gambar 4.2

Gambar 4.2 Spesimen Round Bar

3. Spesimen Beton Neser


Batang uji berupa deformed diratakan dulu ujung-ujungnya supaya dapat diperoleh
pengukuran panjang yang lebih presisi. Ujung batang dapat diratakan dengan cara dikikir
maupun dipotong dengan alat pemotong logam. Setelah itu diukur panjang batang uji
dengan menggunakan jangka sorong, lalu ditentukan titik tengahnya dan dapat ditandai
dengan menggunakan penitik. Setelah itu ditentukan gauge lenghtnya , yaitu melalui Lo

yang diperoleh dari rumus Lo=8 x D ; D=


4m
L
kemudian didapatkan Ao dan Bo.

Kemudian diukur lagi panjang gauge lengthnya (A ke B) Seperti Gambar 4.3 di bawah
ini :
Gambar 4.3 Spesimen Beton Neser

Pada pengujian tarik spesimen diberi beban uji aksial yang semakin besar secara
kontinyu. Sebagai akibat pembebanan aksial tersebut, spesimen mengalami perubahan
panjang. Perubahan beban (P) dan perubahan panjang (L) tercatat pada mesin uji tarik
berupa grafik, yang merupakan fungsi beban dan pertambahan panjang dan disebut sebagai

grafik P - L dan kemudian dijadikan grafik Stress-Strain (Grafik P- ) yang


menggambarkan sifat bahan secara umum. Berikut ini gambar grafiknya :

Gambar 4.4. Grafik P- hasil pengujian tarik beberapa logam

Dari Gambar 4.4 di atas tampak bahwa sampai titik p perpanjangan sebanding dengan
pertambahan beban. Pada daerah inilah berlaku hukum Hooke, sedangkan titik p merupakan
batas berlakunya hukum tersebut. Oleh karena itu titik p di sebut juga batas proporsional.
Sedikit di atas titik p terdapat titik e yang merupakan batas elastis di mana bila beban di
hilangkan maka belum terjadi pertambahan panjang permanen dan spesimen kembali
kepanjang semula. Daerah di bawah titik e di sebut daerah elastis. Sedangkan di atasnya di
sebut daerah plastis.
Di atas titik e terdapat titik y yang merupakan titik yield (luluh) yakni di mana logam
mengalami pertambahan panjang tanpa pertambahan beban yang berarti. Dengan kata lain
titik yield merupakan keadaan di mana spesimen terdeformasi dengan beban minimum.
Deformasi yang yang di mulai dari titik y ini bersifat permanen sehingga bila beban di
hilangkan masih tersisa deformasi yang berupa pertambahan panjang yang di sebut
deformasi plastis. Pada kenyataannya karena perbedaan antara ke tiga titik p, e dan y sangat
kecil maka untuk perhitungan teknik seringkali keberadaan ke tiga titik tersebut cukup di
wakili dengan titik y saja. Dalam kurva titik y ditunjukkan pada bagian kurva yang mendatar
atau beban relatif tetap. Penampakan titik y ini tidak sama untuk semua logam. Pada
material yang ulet seperti besi murni dan baja karbon rendah, titik y tampak sangat jelas.
Namun pada umumnya penampakan titik y tidak tampak jelas. Untuk kasus seperti ini cara
menentukan titik y dengan menggunakan metode offset. Metode offset di lakukan dengan
cara menarik garis lurus yang sejajar dengan garis miring pada daerah proporsional dengan
jarak 0,2% dari regangan maksimal. Titik y di dapat pada perpotongan garis tersebut dengan
kurva -. Dapat dilihat pada Gambar 4.5 di bawah ini :

Gambar 4.5 Metode offset untuk menentukan titik yield

Kenaikan beban lebih lanjut akan menyebabkan deformasi yang akan semakin
besar pada keseluruhan volume spesimen. Beban maksimum di tunjukkan dengan puncak
kurva sampai pada beban maksimum ini, deformasi yang terjadi masih homogen sepanjang
spesimen. Pada material yang ulet (ductile), setelahnya beban maksimum akan terjadi
pengecilan penampang setempat (necking), selanjutnya beban turun dan akhirnya spesimen
patah.Sedangkan pada material yang getas (brittle), spesimen akan patah setelah tercapai
beban maksimum.
Grafik Tegangan-Regangan Teknik ( t t )
Hasil pengujian yang berupa grafik atau kurva P tersebut sebenarnya belum
menunjukkan kekuatan material, tetapi hanya menunjukkan besarnya beban terhadap

pertambahan panjang. Untuk mendapatkan kekuatan materialnya maka grafik P

tersebut harus di konversikan ke dalam tegangan-regangan teknik (grafik


t t ). Grafik

t t di buat dengan asumsi luas penampang spesimen konstan selama pengujian.


Berdasarkan asumsi luas penampang konstan tersebut maka persamaan yang di gunakan
adalah :

t =P/A (4.1)
o

t = ( l/ l o )100
(4.2)

dimana
t = tegangan teknik (kN/mm2)

P = tegangan teknik (kN)

Ao = luas penampang awal spesimen (mm2)

t = regangan teknik (%)

lo = panjang awal spesimen (mm)

l1 = panjang spesimen setelah patah (mm)

l = pertambahan panjang (mm) = l1 l o

Adapun langkah-langkah untuk mengkonversikan kurva P ke dalam grafik

t t adalah sebagai berikut:

1. Ubahlah kurva P menjadi grafik


t t dengan cara menambahkan sumbu
tegak sebagai t dan sumbu mendatar sebagai t.

2. Tentukan skala beban (p) dan skala pertambahan panjang ( ) pada grafik P .
Untuk menentukan skala beban bagilah beban maksimal yang di
dapat dari mesin dengan tinggi kurva maksimal, atau bagilah beban yield (bila ada)
dengan tinggi yield pada kurva. Sedangkan untuk menentukan skala pertambahan
panjang, bagilah panjang setelah patah dengan panjang pertambahan total pada kurva dari
perhitungan tersebut akan didapatkan data:
1. Skala beban (P) 1mm : ........... kN

2. Skala pertambahan panjang ( ) 1mm : ........... mm


3. Ambillah 3 titik di daerah elastis, 3 titik di sekitar yield ( termasuk y), 3 titik di
sekitar beban maksimal (termasuk u) dan satu titik patah (f). Tentukan besar beban dan
pertambahan panjang ke sepuluh titik tersebut berdasarkan skala yang telah di buat di
atas. Untuk membuat tampilan yang baik, terutama pada daerah elastis, tentukan terlebih

dahulu kemiringan garis proporsional ( ) dengan memakai persamaan Hooke di


bawah ini:
= (4.3)

di mana = tegangan/ stress (kg/mm2, MPa,Psi)


= modulus elastisitas (kg/mm2,MPa,Psi)
= regangan/strain (mm/mm, in/in)

Dari persamaan 4.3 di dapatkan

= /

= tg (4.4)

4. Konversikan ke sepuluh beban (P) tersebut ke tegangan teknik


t dengan

menggunakan persamaan 3.1 dan konversikan pertambahan panjangnya ( ) ke

regangan teknik ( t ) dengan memakai persamaan 4.2.

5. Buatlah grafik dengan sumbu mendatar


t dan sumbu tegak
t berdasarkan ke
sepuluh titik acuan tersebut. Grafik yang terjadi (gambar 4.6) akan mirip dengan kurva

P , karena pada dasarnya grafik t t dengan kurva P identik, hanya


besaran sumbu-sumbunya yang berbeda.
Gambar 4.6 Grafik
t t hasil konversi grafik P

Grafik Tegangan-Regangan Sebenarnya ( s s )

Grafik tegangan-regangan sebenarnya ( s s ) di buat dengan kondisi luas


penampang yang sebenarnya yang terjadi selama pengujian. Penggunaan grafik ini
khususnya pada manufaktur di mana deformasi plastis yang terjadi menjadi perhatian untuk
proses pembentukkan. Perbedaan paling menyolok grafik ini dengan dengan grafik

t t terletak pada keadaan kurva setelah titik u (beban ultimate). Pada grafik

t t setelah titik u, kurva akan turun sampai patah di titik f (fracture), sedangkan pada

grafik
s s kurva akan terus naik sampai patah di titik f. Kenaikkan tersebut di
sebabkan tegangan yang terjadi dihitung dengan menggunakan luas penampang sebenarnya
sehingga meskipun beban turun namun karena terjadi pengecilan penampang lebih besar,
maka tegangan yang terjadi juga lebih besar.

Berdasarkan asumsi volume konstan maka persamaan yang di gunakan adalah:

s =
t (1 + t ) (4.5)

s =n ( 1 + t ) (4.6)
Persamaan diatas berlaku hanya sampai dengan titik maksimum, karena sampai
dengan titik tersebut tidak terjadi deformasi yang homogen sepanjang benda uji.

Adapun langkah-langkah untuk mengkonversikan garfik


t t ke dalam grafik

s s adalah sebagai berikut:

1. Ambil kembali ke sepuluh titik pada grafik


t t yang merupakan konversi dari

grafik P .Untuk menentukan nilai tegangan sebenarnya gunakan persamaan 5


sedangkan untuk nilai regangan sebenarnya gunakan persamaan 3.6. Persaman tersebut
hanya berlaku sampai titik maksimum yaitu titik 1-8. Sedangkan nilai ke dua titik
lainnya (titik 9 dan titik 10) yang berada setelah puncak kurva akan mengalami
perubahan.

2. Untuk menghitung nilai tegangan sebenarnya dan regangan sebenarnya pada kedua titik
tersebut gunakan persamaan berikut:

s=P / A i (4.7)

s =n(Ao/Ai) ` (4.8)

Dimana Ai = Luas penampang sebenarnya. Untuk titik ke-10, A 10 adalah luas penampang
setelah patah, sedangkan untuk titik ke-9, A9 nilainya antara A8 dengan A10.

3. Buatlah grafik dengan sumbu mendatar


s dan sumbu tegak
s berdasarkan ke
sepuluh titik acuan tersebut.
Kesepuluh titik acuan tersebut terdapat dalam gambar di bawah ini :
4.7 Grafik tegangan dan regangan sebenarnya ( s s )
Gambar

Sifat Mekanik yang di dapat dari uji tarik

1. Tegangan Tarik Yield ( y )

y=P y / A (4.9)

di mana
y = tegangan yield (kN/mm2)
Py = beban yield (kN)

2. Tegangan Tarik Maksimum/ Ultimate ( u)


u =Pu / A (4.10)

di mana
u = tegangan ultimate (kN/mm2)
pu = beban ultimate (kN)

3. Regangan ( )
0
=( / )100 0 (4.11)

di mana = regangan (%).


= pertambahan panjang (mm)
= panjang awal spesimen (mm)
Regangan tertinggi menunjukkan nilai keuletan suatu material.

4. Modulus Elastisitas (E)

Kalau regangan menunjukkan keuletan, maka modulus elastisitas menunjukkan


kekakuan suatu material. Semakin besar nilai E, menandakan semakin kakunya suatu
material. Harga E ini di turunkan dari persamaan hukum Hooke sebagaimana telah di
uraikan pada persamaan 4.3 dan 4.4.
Dari persamaan tersebut juga nampak bahwa kekakuan suatu material relatif

terhadap yang lain dapat di amati dari sudut kemiringan ( ) pada garis proporsional.
Semakin besar , semakin kaku material tersebut.

5. Reduksi Penampang/Reduction of Area (RA )

RA=[(A0-A1)/A0] 100%

di mana A1 = luas penampang setelah patah (mm2)

Reduksi penampang dapat juga di gunakan untuk menetukan keuletan material.


Semakin tinggi nilai RA, semakin ulet material tersebut.

4.3 Peralatan dan bahan

4.3.1 Peralatan-peralatan yang digunakan dalam pengujian tensile test adalah


sebagai berikut :

a. Mesin uji tarik.


b. Kikir.
c. Jangka sorong.
d. Ragum.
e. Penitik.
f. Palu.

4.3.2 Bahan bahan yang digunakan dalam pengujian tensile test adalah sebagai
berikut :

a. Specimen uji tarik pelat.


b. Specimen uji tarik round bar.
c. Specimen uji tarik beton neser.
d. Kertas milimeter.

4.4 Langkah kerja


Langkah kerja pengujian tensile test adalah sebagai berikut :
1. Menyiapkan spesimen

a. Ambil spesimen dan jepit pada ragum.


b. Ambil kikir, dan kikir bekas machining pada specimen yang memungkinkan
menmyebabkan salah ukur.
c. Ulangi langkah di atas untuk seluruh spesimen.

2. Pembuatan gauge length

a. Ambil penitik dan tandai spesimen dengan dua titikan sejuh 60 mm untuk
spesimen Plat dan Round Bar sedangkan untuk spesimen Beton Neser titiknya
sejauh 8 kali diameter dari spesimen Beton neser . Posisikan gauge lenght tepat
di tengah-tengah specimen.
b. Ulangi langkah di atas untuk seluruh spesimen.

3. Pengukuran dimensi

a. Ambil spesimen dan ukur dimensinya.


b. Catat jenis spesimen dan data pengukurannya pada lembar kerja.
c. Ulangi langkah di atas untuk seluruh spesimen.

4. Pengujian pada mesin uji tarik

a. Catat data mesin pada lembar kerja.

b. Ambil kertas milimeter dan pasang pada tempatnya.

c. Ambil spesimen dan letakkan pada tempatnya secara tepat.

d. Setting beban dan pencatat grafik pada mesin tarik.

e. Berikan beban secara kontinyu sampai spesimen patah.

f. Amati dan catat besarnya beban pada saat yield, ultimate dan patah
sebagaimana yang tampak pada monitor beban.

g. Setelah patah, ambil specimen dan ukur panjang dan luasan penampang yang
patah .

h. Ulangi langkah di atas untuk seluruh specimen.


4.5 Perhitungan dan Hasil Percobaan

4.5.1 Sifat Mekanik yang dapat di uji pada Uji Tarik adalah sebagai berikut :

1. Perhitungan Yield Stress

Spesimen I (Plat)
y=F y / A

= (29/ 103.98) x 1000

= 278.89 Mpa

Spesimen II (Deformate)
y=F y / A

= (27 / 66.73 ) x1000

= 404.6 Mpa

Spesimen III ( Round Bar)


y=F y / A

= ( 46 /68.19)

= 674.58 Mpa

2. Perhitungan Ultimate Stress


Spesimen I (Plat)
u =F u / A

= (34/103.98 )x 1000

= 326.98 Mpa

Spesimen II ( Deformate)
u =F u / A

= (36/66.73) x 1000
= 539.48 Mpa

Spesimen III (Round Bar)


u =F u / A

= (66/68.19 ) x 1000
= 967.88 Mpa
3. Perhitungan Elongation


Spesimen I (Plat)
0
=( / )100 0

= ((89.12-60.52 ) / 60.52 ) x 100%

= 42.26 %


Spesimen II ( Deformate)
0
=( / )100 0

= ((97.32 66.73 )/ 66.73)x100%

= 45.84 %


Spesimen III (Round Bar)

=((78.04-61.20 )/ 61.20 )x100%

= 27.52 %

4. Modulus Elastisitas


Spesimen Uji 1(Plat)

= /

= 0,29 kN/0,10 mm
2
= 2.9 kN/mm


Spesimen Uji 2( Deformate)

= /
2
= 0.39 kN/ 0,08 mm
2
= 4.875 kN/ mm


Spesimen Uji 3 (Round Bar)

= /
2
= 0.69 kN/0.02 mm
2
= 3.45 kN/ mm
5. Perhitungan Reduction of Area


Spesimen I ( Plat)

RA=[(A0-A1)/A0] 100%

=[(103.98-71.32)/103.98] x 100%

= 31.41 % Mpa


Spesimen 2 (Deformate)

RA=[(A0-A1)/A0] 100%

= [(66.73-45.25)/ 66.73] x 100%

= 32.19 % Mpa


Spesimen 3 (Round Bar)

RA=[(A0-A1)/A0] 100%

=[(69.10-64.13)/ 69.10] x 100%

= 7.19 % Mpa

Specimen 1 (Plat)

Skala Beban = Beban maksimum dari mesin ui tarik

Tinggi kurva maksimum

= 34 kN

34 mm

= 1.00 kN/ mm
Skala l = perpanjangan setelah specimen patah

Pertambahan panjang total pada kurva

= 28.6 mm

67 mm

= 0.42 mm

1 mm = 0.42 mm
Tabel 4.1

Sk Sk l P( Ao( A1( t t(m s s(m


N ala ala (m k L mm mm (kN/ m/m (kN/ m/m
o X Y X Y m) N) o Li ) ) mm) m) mm) m)
60 60
0. 0. 0.4 1.0 0.0 0. .5 .5 103. 103.
0 00 00 2 0 0 00 2 2 98 98 0.00 0.00 0.00 0.00
10 10 60 61
2. .0 0.4 1.0 0.8 .0 .5 .3 103. 102.
1 00 0 2 0 4 0 2 6 98 56 0.10 0.01 0.10 0.01
19 19 60 62
5. .0 0.4 1.0 2.1 .0 .5 .6 103. 100.
2 00 0 2 0 0 0 2 2 98 49 0.18 0.03 0.19 0.03
32 32 60 63
8. .0 0.4 1.0 3.3 .0 .5 .8 103. 98.5
3 00 0 2 0 6 0 2 8 98 1 0.31 0.06 0.32 0.05
10 32 32 60 64
.0 .0 0.4 1.0 4.2 .0 .5 .7 103. 97.2
4 0 0 2 0 0 0 2 2 98 3 0.31 0.07 0.33 0.07
13 31 31 60 65
.0 .0 0.4 1.0 5.4 .0 .5 .9 103. 95.3
5 0 0 2 0 6 0 2 8 98 8 0.30 0.09 0.33 0.09
15 30 30 60 66
.0 .0 0.4 1.0 6.3 .0 .5 .8 103. 94.1
6 0 0 2 0 0 0 2 2 98 8 0.29 0.10 0.32 0.10
18 32 32 60 68
.0 .0 0.4 1.0 7.5 .0 .5 .0 103. 92.4
7 0 0 2 0 6 0 2 8 98 3 0.31 0.12 0.35 0.12
20 33 33 60 68
.0 .0 0.4 1.0 8.4 .0 .5 .9 103. 91.3
8 0 0 2 0 0 0 2 2 98 1 0.32 0.14 0.36 0.13
22 34 34 60 69
.0 .0 0.4 1.0 9.2 .0 .5 .7 103. 90.2
9 0 0 2 0 4 0 2 6 98 1 0.33 0.15 0.38 0.14
25 35 35 60 71
1 .0 .0 0.4 1.0 10. .0 .5 .0 103. 88.6
0 0 0 2 0 50 0 2 2 98 1 0.34 0.17 0.40 0.16
33 36 36 60 74
1 .0 .0 0.4 1.0 13. .0 .5 .3 103. 84.6
1 0 0 2 0 86 0 2 8 98 0 0.35 0.23 0.43 0.21
38 36 36 60 76
1 .0 .0 0.4 1.0 15. .0 .5 .4 103. 82.2
2 0 0 2 0 96 0 2 8 98 8 0.35 0.26 0.44 0.23
51 34 34 60 81
1 .0 .0 0.4 1.0 21. .0 .5 .9 103. 75.0
3 0 0 2 0 42 0 2 4 98 7 0.33 0.35 0.45 0.33
55 32 32 60 83
1 .0 .0 0.4 1.0 23. .0 .5 .6 103. 70.6
4 0 0 2 0 10 0 2 2 98 6 0.31 0.38 0.45 0.39
1 62 25 0.4 1.0 26. 25 60 86 103. 55.2 0.24 0.43 0.45 0.63
.0 .0 .0 .5 .5
5 0 0 2 0 04 0 2 6 98 0
66 20 20 60 88
1 .0 .0 0.4 1.0 27. .0 .5 .2 103. 24.6
6 0 0 2 0 72 0 2 4 98 3 0.19 0.46 0.81 1.44

Grafik Tegagan regangan pada specimen I (plat) ditunjukkan pada gambar 4.8 sebagai

berikut :

Grafik Tegangan dan Regangan


0.50
0.45
0.40
0.35
0.30
0.25 Tegangan-Regangan Teknik
Stress

0.20 Tegangan-Regangan Sebenarnya


0.15
0.10
0.05
0.00
00 10 2 0 3 0 40 5 0 60 70 8 0 90 00 1 0 20
0. 0. 0 . 0 . 0. 0 . 0. 0. 0 . 0. 1. 1 . 1.
Strain

Gambar 4.8 Grafik tegangan-regangan specimen I (plat)

Specimen II (Deformate)

Skala Beban = Beban maksimum dari mesin ui tarik

Tinggi kurva maksimum

= 37 kN

37 mm

= 1.00 kN/ mm

Skala l = perpanjangan setelah specimen patah

Pertambahan panjang total pada kurva

= 36.12 mm
64 mm

= 0.56 mm

1 mm = 0.56 mm

Tabel 4.2

Sk Sk l P( Ao( A1( t t(m s s(m


N ala ala (m k L mm mm (kN/ m/m (kN/ m/m
o X Y X Y m) N) o Li ) ) mm) m) mm) m)
74
0. 0. 0.5 1.0 0.0 0. .3 74. 66.7 66.7
0 00 00 6 0 0 00 2 32 3 3 0.00 0.00 0.00 0.00
74
2. 5. 0.5 1.0 1.1 5. .3 75. 66.7 65.7
1 00 00 6 0 2 00 2 44 3 4 0.07 0.02 0.08 0.01
74
3. 9. 0.5 1.0 1.6 9. .3 76. 66.7 65.2
2 00 00 6 0 8 00 2 00 3 5 0.13 0.02 0.14 0.02
15 15 74
4. .0 0.5 1.0 2.2 .0 .3 76. 66.7 64.7
3 00 0 6 0 4 0 2 56 3 8 0.22 0.03 0.23 0.03
24 24 74
6. .0 0.5 1.0 3.3 .0 .3 77. 66.7 63.8
4 00 0 6 0 6 0 2 68 3 4 0.36 0.05 0.38 0.04
27 27 74
7. .0 0.5 1.0 3.9 .0 .3 78. 66.7 63.3
5 00 0 6 0 2 0 2 24 3 9 0.40 0.05 0.43 0.05
10 26 26 74
.0 .0 0.5 1.0 5.6 .0 .3 79. 66.7 62.0
6 0 0 6 0 0 0 2 92 3 5 0.39 0.08 0.42 0.07
13 29 29 74
.0 .0 0.5 1.0 7.2 .0 .3 81. 66.7 60.7
7 0 0 6 0 8 0 2 60 3 8 0.43 0.10 0.48 0.09
16 31 31 74
.0 .0 0.5 1.0 8.9 .0 .3 83. 66.7 59.5
8 0 0 6 0 6 0 2 28 3 5 0.46 0.12 0.52 0.11
20 33 33 74
.0 .0 0.5 1.0 11. .0 .3 85. 66.7 57.9
9 0 0 6 0 20 0 2 52 3 9 0.49 0.15 0.57 0.14
27 35 35 74
1 .0 .0 0.5 1.0 15. .0 .3 89. 66.7 55.4
0 0 0 6 0 12 0 2 44 3 5 0.52 0.20 0.63 0.19
35 36 36 74
1 .0 .0 0.5 1.0 19. .0 .3 93. 66.7 52.8
1 0 0 6 0 60 0 2 92 3 0 0.54 0.26 0.68 0.23
55 37 37 74 10
1 .0 .0 0.5 1.0 30. .0 .3 5.1 66.7 47.1
2 0 0 6 0 80 0 2 2 3 8 0.55 0.41 0.78 0.35
1 59 35 0.5 1.0 33. 35 74 10 66.7 43.4 0.52 0.44 0.81 0.43
.0 .0 .0 .3 7.3
3 0 0 6 0 04 0 2 6 3 3
61 32 32 74 10
1 .0 .0 0.5 1.0 34. .0 .3 8.4 66.7 39.7
4 0 0 6 0 16 0 2 8 3 1 0.48 0.46 0.81 0.52
63 25 25 74 10
1 .0 .0 0.5 1.0 35. .0 .3 9.6 66.7 24.7
5 0 0 6 0 28 0 2 0 3 0 0.37 0.47 1.01 0.99

Grafik tegangan- regangan pada specimen II (deformate) ditunjukkan pada Gambar 4.9

sebagai berikut :

Grafik Tegangan dan Regangan


1.20

1.00

0.80
Tegangan-Regangan Teknik
Stress

0.60
Tegangan-Regangan Sebenarnya
0.40

0.20

0.00
0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50 0.60 0.70 0.80 0.90 1.00 1.10 1.20
Strain

Gambar 4.9 Grafik tegangan-regangan specimen II (deformate)

Specimen III (Round Bar)

Skala Beban = Beban maksimum dari mesin ui tarik

Tinggi kurva maksimum

= 67 kN

67 mm

= 1.00 kN/ mm
Skala l = perpanjangan setelah specimen patah

Pertambahan panjang total pada kurva

= 3.72 mm

49 mm

= 0.076 mm

1 mm = 0.076 mm
Tabel 4.3

Sk Sk l P( Ao( A1( t t(m s s(m


N ala ala (m k L mm mm (kN/ m/m (kN/ m/m
o X Y X Y m) N) o Li ) ) mm) m) mm) m)
61 61
0. 2. 0.0 1.0 0.0 2. .2 .2 68.1 68.1
0 00 00 8 0 0 00 0 0 9 9 0.03 0.00 0.03 0.00
61 61
2. 6. 0.0 1.0 0.1 6. .2 .3 68.1 68.0
1 00 00 8 0 5 00 0 5 9 2 0.09 0.00 0.09 0.00
11 11 61 61
4. .0 0.0 1.0 0.3 .0 .2 .5 68.1 67.8
2 00 0 8 0 2 0 0 2 9 4 0.16 0.01 0.16 0.01
17 17 61 61
6. .0 0.0 1.0 0.4 .0 .2 .6 68.1 67.6
3 00 0 8 0 8 0 0 8 9 6 0.25 0.01 0.25 0.01
21 21 61 61
7. .0 0.0 1.0 0.5 .0 .2 .7 68.1 67.6
4 00 0 8 0 3 0 0 3 9 0 0.31 0.01 0.31 0.01
10 35 35 61 61
.0 .0 0.0 1.0 0.7 .0 .2 .9 68.1 67.3
5 0 0 8 0 6 0 0 6 9 5 0.51 0.01 0.52 0.01
12 49 49 61 62
.0 .0 0.0 1.0 0.9 .0 .2 .1 68.1 67.1
6 0 0 8 0 1 0 0 1 9 9 0.72 0.01 0.73 0.01
14 47 47 61 62
.0 .0 0.0 1.0 1.0 .0 .2 .2 68.1 67.0
7 0 0 8 0 6 0 0 6 9 2 0.69 0.02 0.70 0.02
16 51 51 61 62
.0 .0 0.0 1.0 1.2 .0 .2 .4 68.1 66.7
8 0 0 8 0 8 0 0 8 9 9 0.75 0.02 0.76 0.02
18 55 55 61 62
.0 .0 0.0 1.0 1.4 .0 .2 .6 68.1 66.6
9 0 0 8 0 4 0 0 4 9 2 0.81 0.02 0.83 0.02
21 59 59 61 62
1 .0 .0 0.0 1.0 1.6 .0 .2 .8 68.1 66.3
0 0 0 8 0 8 0 0 8 9 7 0.87 0.03 0.89 0.03
24 63 63 61 63
1 .0 .0 0.0 1.0 1.9 .0 .2 .1 68.1 66.1
1 0 0 8 0 2 0 0 2 9 2 0.92 0.03 0.95 0.03
28 66 66 61 63
1 .0 .0 0.0 1.0 2.2 .0 .2 .4 68.1 65.7
2 0 0 8 0 4 0 0 4 9 8 0.97 0.04 1.00 0.04
33 67 67 61 63
1 .0 .0 0.0 1.0 2.5 .0 .2 .7 68.1 65.5
3 0 0 8 0 1 0 0 1 9 1 0.98 0.04 1.02 0.04
36 67 67 61 63
1 .0 .0 0.0 1.0 2.7 .0 .2 .9 68.1 65.2
4 0 0 8 0 4 0 0 4 9 7 0.98 0.04 1.03 0.04
40 66 66 61 64
1 .0 .0 0.0 1.0 3.0 .0 .2 .2 68.1 64.0
5 0 0 8 0 4 0 0 4 9 2 0.97 0.05 1.02 0.06
44 63 63 61 64
1 .0 .0 0.0 1.0 3.5 .0 .2 .7 68.1 61.1
6 0 0 8 0 2 0 0 2 9 1 0.92 0.06 0.98 0.11
46 59 59 61 64
1 .0 .0 0.0 1.0 3.6 .0 .2 .8 68.1 57.2
7 0 0 8 0 8 0 0 8 9 3 0.87 0.06 0.92 0.18
49 54 54 61 64
1 .0 .0 0.0 1.0 3.7 .0 .2 .9 68.1 52.3
8 0 0 8 0 2 0 0 2 9 8 0.79 0.06 1.03 0.26
51 46 46 61 78
1 .0 .0 0.0 1.0 3.8 .0 .2 .0 68.1 38.9
9 0 0 8 0 8 0 0 4 9 1 0.67 0.06 1.18 0.56
Grafik tegangan-regangan pada specimen III (Round Bar) ditunjukkan pada gambar 4.10

sebagai berikut

Grafik Tegangan dan Regangan


1.40

1.20

1.00

0.80 Tegangan-regangan sebenarnya


Stress

Tegangan-Regangan Teknik
0.60

0.40

0.20

0.00
0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50 0.60 0.70 0.80 0.90 1.00 1.10
Strain

Gambar 4.10.Grafik Tegangan-regangan specimen III (Round Bar)


4.6 Kesimpulan

4.6.1 Kesimpulan Intruksional Umum

1. Mahasiswa dapat melakukan pengujian tarik (Tensile Test) terhadap suatu


material.

4.6.2 Kesimpulan Intruksioanal Khusus

1. Mahasiswa mampu membuat diagram tegangan-regangan teknik dan sebenarnya


berdasarkan diagram beban-pertambahan panjang yang didapat dari hasil pengujian.
2. Mahasiswa mampu menjelaskan, menganalisa sifat-sifat mekanik material yang
terdiri dari kekuatan tarik maksimum, kekuatan tarik luluh, reduction of area,
elongation, dan modulus elastisitas.