Anda di halaman 1dari 7

MARI 4HO!

4HO (EMPAT CARA HINDARI OTITIS MEDIA AKUT)


SEBAGAI LANGKAH AWAL PENCEGAHAN OTITIS MEDIA
AKUT BAGI ANAK-ANAK
Oleh : Nadia Annizar
Universitas Brawijaya

Siapa yang tidak mengenal telinga. Telinga merupakan organ yang


berfungsi sebagai indera pendengaran dan fungsi keseimbangan tubuh. Namun,
telinga juga merupakan organ yang sensitif dan mudah terserang penyakit. Tidak
dipungkiri juga dengan pertambahan umur akan mempengaruhi fungsi
pendengaran manusia. Namun, banyak diantara orang-orang yang masih dalam
usia produktif saat ini terserang penyakit telinga. Padahal telinga merupakan
organ penting bukan? Penyebabnya pun bermacam-macam. Selain dari faktor
umur, ada juga faktor kebersihan diri, lingkungan tempat tinggal, lingkungan
tempat kerja dan lainnya.

Estimasi suatu penelitian dari Global Burden of Disease (GBD) pada tahun
2010 mendapatkan bahwa 1,2% dari anak-anak di bawah umur 15 tahun, 9,8%
dari perempuan lebih dari umur 15 tahun, dan 12,2% laki-laki lebih dari 15 tahun
mengalami gangguan pendengaran dari sedang ke berat pada tahun 2008.2

Pada tahun 2005 terdapat 278 juta orang menderita gangguan


pendengaran, 75-140 juta diantaranya terdapat di Asia Tenggara. Dari hasil
WHO Multi Center Study pada tahun 1998, Indonesia termasuk 4 negara di
Asia Tenggara dengan prevalensi ketulian yang cukup tinggi (4,6%), tiga negara
lainnya adalah Sri Lanka (8,8%), Myanmar (8,4%) dan India (6,3%).2

Penyakit pendengaran yang sering diderita oleh masyarakat adalah otitis


media akut. Otitis media akut (OMA) adalah peradangan akut telinga tengah.
Penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan khususnya pada anak-anak.
Diperkirakan 70% anak mengalami satu atau lebih episode otitis media menjelang
usia tiga tahun. Penyakit ini terjadi terutama pada anak dari baru lahir sampai
umur sekitar tujuh tahun. Berbagai studi epidemiologi di Amerika Serikat
dilaporkan prevalensi terjadinya otitis media akut sekitar 17-20% pada dua tahun
pertama kehidupan. Otitis media berdasarkan gejalanya dibagi atas otitis media
supuratif dan otitis media non supuratif, di mana masing-masing memiliki bentuk
yang akut dan kronis.3

Etiology

Otitis media akut bisa disebabkan oleh bakteri dan virus. Virus terdeteksi
pada sekret pernafasan pada 40-90% anak dengan otitis media akut, dan terdeteksi
pada 20-48% cairan telinga tengah anak dengan otitis media akut. Virus yang
sering sebagai penyebab otitis media akut adalah respiratory syncytial virus.
Bakteri yang paling sering ditemukan adalah Streptococcus pneumaniae, diikuti
oleh Haemophilus influenza, Moraxella catarrhalis, Streptococcus grup A, dan
Staphylococcus aureus. Beberapa mikroorganisme lain yang jarang ditemukan
adalah Mycoplasma pneumaniae, Chlamydia pneumaniae, dan Clamydia
tracomatis. Staphylococcus aureus dan organisme gram negatif banyak ditemukan
pada anak dan neonatus yang menjalani rawat inap di rumah sakit. Haemophilus
influenzae sering dijumpai pada anak balita. Jenis mikroorganisme yang dijumpai
pada orang dewasa juga sama dengan yang dijumpai pada anak-anak.1

Klasifikasi

Ada 5 stadium otitis media akut berdasarkan pada perubahan mukosa telinga
tengah, yaitu: 2

1. Stadium Oklusi
Stadium ini ditandai dengan gambaran retraksi membran timpani akibat
tekanan negatif telinga tengah. Membran timpani kadang tampak normal
atau berwarna suram.
2. Stadium Hiperemis
Pada stadium ini tampak pembuluh darah yang melebar di sebagian atau
seluruh membran timpani, membran timpani tampak hiperemis disertai
edem.
3. Stadium Supurasi
Stadium ini ditandai edem yang hebat telinga tengah disertai hancurnya sel
epitel superfisial serta terbentuknya eksudat purulen di kavum timpani
sehingga membran timpani tampak menonjol (bulging) ke arah liang
telinga luar.
4. Stadium Perforasi
Pada stadium ini terjadi ruptur membran timpani sehingga nanah keluar
dari telinga tengah ke liang telinga.
5. Stadium Resolusi
Pada stadium ini membran timpani berangsur normal, perforasi membran
timpani kembali menutup dan sekret purulen tidak ada lagi. Bila daya
tahan tubuh baik atau virulensi kuman rendah maka resolusi dapat terjadi
walaupun tanpa pengobatan.

Diagnosis otitis media akut

Menurut Kerschner (2007), kriteria diagnosis otitis media akut harus memenuhi
tiga hal berikut, yaitu: 1

1. Penyakitnya muncul secara mendadak dan bersifat akut.


2. Ditemukan adanya tanda efusi. Efusi merupakan pengumpulan
cairan di telinga tengah. Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu di
antara tanda berikut, seperti menggembungnya membran timpani atau
bulging, terbatas atau tidak ada gerakan pada membran timpani, terdapat
bayangan cairan di belakang membran timpani, dan terdapat cairan yang
keluar dari telinga.
3. Terdapat tanda atau gejala peradangan telinga tengah, yang
dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut, seperti
kemerahan atau erythema pada membran timpani, nyeri telinga atau
otalgia yang mengganggu tidur dan aktivitas normal.

4HO!

Telinga menjadi salah satu indera yang memiliki peran penting dalam
kehidupan manusia, tanpa keberadaan organ tersebut akan menyebabkan kebisuan
pada seseorang. Tidak adil rasanya, kita mengabaikan kesehatan indera telinga
tersebut. Padahal, indera telinga menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam
kehidupan sehari-hari. Apabila kita mengabaikan kesehatan telinga maka akan
berdampak buruk bagi tubuh kita, misalya rentan terhadap penyakit otitis media
akut. Oleh karena itu, pentingnya dilakukan pencegahan bagi penyakit otitis
media akut. 4HO (Empat Cara Hindari Otitis Media Akut) sebagai upaya
pencegahan otitis media akut pada anak-anak dapat dilakukan dengan cara
berikut:
1. Hindari terjadinya ISPA pada bayi dan anak-anak.
Masyarakat mungkin sedikit banyak mengenal penyakit ISPA. ISPA atau
Infeksi Saluran Pernapasan Akut juga merupakan salah satu faktor
penyebab yang paling sering pada otitis media akut. Namun, hal ini sering
diabaikan oleh orang tua dan masyarakat pada umumnya. Padahal ISPA
dapat menyebabkan penyakit lain seperti otitis media akut. Hal ini
dikarenakan kuman penyebab otitis media akut adalah bakteri piogenik,
seperti Haemophilus Influenzae (16-52%).3 Pada anak-anak, makin sering
terserang ISPA, makin besar kemungkinan terjadinya otitis media akut
(OMA). Pada anak-anak saluran eustachius lebih lurus horizontal dan
lebih pendek sehingga ISPA mudah menyebar ke telinga bagian tengah.3
Oleh sebab itu, peran orang tua sangat penting pada anak-anak yang
memiliki ISPA agar penyakit tersebut tidak merambah menjadi penyakit
lain seperti otitis media akut.

2. Hindari pemberian susu botol pada saat bayi berbaring.


Penggunaan dot sudah banyak di masyarakat. Padahal penggunaan dot
tidak sepenuhnya bagus. Bila dot kurang baik, masalah muncul jika susu
tetap keluar walaupun anak tidak menyedot, misalnya karena tertidur. Di
sisi lain, saat anak tidur otot-ototnya menjadi rileks, termasuk otot yang
menyusun saluran eustachius sehingga saluran tersebut terbuka. Nah, susu
yang tetap keluar tadi bisa-bisa bukannya tertelan, namun masuk ke dalam
saluran eustachius dan memenuhi rongga pada telinga tengah. Hal ini
mungkin terjadi, apalagi pada anak yang menyusu botol dalam keadaan
berbaring. Cairan yang terkumpul di telinga tengah kemudian dapat
menjadi media infeksi bakteri. Selain itu, adanya cairan di belakang
gendang telinga akan mengganggu proses transmisi suara. Akibatnya, anak
menjadi sulit mendengar. Fungsi telinga dapat kembali normal apabila
cairan tersebut dibuang.Sebagai pencegahan, jangan biasakan anak untuk
minum susu botol sambil berbaring. Lebih baik lagi bila pemakaian dot
dihentikan sedini mungkin. Bila memang harus menggunakan botol,
gunakan dot yang bekerja menyerupai puting ibu di mana susu hanya akan
keluar bila anak menyedot. Selain itu, posisikan balita seperti saat ibu
memberikan ASI secara langsung.

3. Hindari pemberian ASI kurang dari enam bulan


Jumlah otitis media akut meningkat secara signifikan dengan menurunnya
durasi dan eksklusivitas menyusui. Bayi Amerika yang diberikan ASI
eksklusif selama empat bulan atau lebih mengalami penurunan 50 persen
dibandingkan dengan bayi yang tidak disusui. Penurunan sebesar 40
persen kejadian dilaporkan berasal dari bayi ASI yang diberikan tambahan
(makanan/susu formula) lain sebelum usia empat bulan.1

4. Hindari pajanan terhadap asap rokok.


Kebanyakan orang tidak menyadari hal ini. Rokok, sebagai salah satu resiko
timbulnya ISPA merupakan pembunuh nomor tiga setelah jantung koroner
dan kanker, satu batang rokok membuat umur memendek 12 menit, 10.000
perhari orang di dunia mati karena merokok, 57.000 orang pertahun mati di
Indonesia karena merokok, kenaikan konsumsi rokok Indonesia tertinggi di
dunia yaitu 44%. Sementara itu berdasarkan data Depkes RI, jumlah perokok
dalam suatu keluarga cukup tinggi. Rata rata dalam satu keluarga terdapat 1
-2 orang yang merokok dengan jumlah batang yang dihisap antara 1 2
bungkus / hari Padahal perokok pasif mempunyai risiko lebih tinggi untuk
menderita ISPA.4

Pencegahan terhadap otitis media akut sering diabaikan. Padahal ada


beberapa hal yang dapat dilakukan terutama bagi orang tua karena penyakit otitis
media akut sering terjadi pada anak-anak. Apabila didapati anak dengan nyeri
telinga atau riwayat lainnya pada bayi, kita harus mencurigai adanya otitis media
akut. Mengingat pentingnya telinga bagi manusia, maka kita harus menjaganya
dari gangguan sepeti penyakit otitis media akut yang banyak menyerang mulai
dari anak-anak sampai dewasa. Oleh sebab itu, pencegahan sangat diperlukan agar
anak terhidar dari penyakit ini. Ingin bebas dari OMA? 4HO solusinya!

DAFTAR PUSTAKA
1. Duncan B, Ey J, Holberg CJ, Wright AL, martines M, Taussig
LM. Exclusive Breastfeeding for at Least 4 Months Protects Againsts Otitis
Media. Pediatrics 91: 867-872, 1993
2. Hammim, Izzati Binti. 2013. Hubungan Antara Karakteristik
Demografi dengan Kejadian Gangguan Pendengaran dan Derajat
Gangguan Pendengaran di Rsup Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar
Periode Tahun 2007 2012. Makassar : Skripsi UNHAS
3. Ghanie, Abla. 2010. Penatalaksanaan Otitis Media Akut Pada
Anak. Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan
Leher Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Rumah Sakit Umum
Pendidikan Mohammad Hoesin Palembang.
4. Kusumawati, Ita. 2010. Hubungan Antara Status Merokok Anggota
Keluarga dengan Lama Pengobatan ISPA Balita di Kecamatan Jenawi.
Surakarta : Tesis UNS.
5. Munilson, Jacky, Yan Edward, Yolazenia. Penatalaksanaan Otitis
Media Akut. Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher
(THT-KL) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang : 2015.
6. Rosarianto, S. Krissattryo. Manajemen otitis media akut. 11-2014-
164
7. Umar, Sakina. Prevalensi dan Faktor Resiko Otitis Media Akut di
Kota Madya Jawa Timur. Departemen Ilmu penyakit telinga hidung
tenggorok Fakultas kedokteran Indonesia : 2013.