Anda di halaman 1dari 25

KONSEP DASAR MASA NIFAS DAN

PERUBAHAN FISIOLOGI PADA MASA NIFAS

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui

Dosen pembimbing : Farhati, SST, M.Keb

Disusun Oleh :

Dhiny Srijayanti

Fitriani Fauziah Yelandani

Kartika Mila Cahyaningsih

Nissa Aulia Farma Somarli

Nur Hazzi Pulungan

Salsabila Assyifa Hasanah

Kelas :

2B

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN BANDUNG

JURUSAN DIII KEBIDANAN BANDUNG

2017-2018

1
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji Syukur kami panjatkan kepada Allah Swt yang telah melimpahkan rahmat serta
karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan waktu yang telah
ditentukan.

Lembaran ini disusun menjadi sebuah makalah untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Keterampilan Dasar Kebidanan yang diberikan oleh Ibu Farhati, SST, M.Keb sebagai
dosen mata kuliah Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui mengenai Konsep Dasar Masa Nifas
dan Perubahan Fisiologis Masa Nifas . Makalah ini berisi mengenai definisi Masa Nifas,
tujuna Masa Nifas, Peran bidan dalam masa nifas, etika bidan dalam masa nifas, teori berkaitan
dengan masa nifas, kebijakan program masa nifas dan perubahan fisiologis pada masa nifas.
Akhir kata, kami selaku penyusun menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan di
dalam makalah ini. Maka dari itu kami mengharapkan kritik serta saran yang membangun demi
melengkapi makalah ini.

Wassalamualaikum wr.wb.

Bandung, 4 September 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................ i

DAFTAR ISI............................................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ...................................................................................................... 1


B. Rumusan Masalah ................................................................................................. 1
C. Tujuan ................................................................................................................... 2
D. Manfaat ................................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN

I. Konsep Dasar Masa Nifas ............................................................................................


A. Pengertian Masa Nifas ......................................................................................... 3
B. Tujuan Masa Nifas ............................................................................................... 3
C. Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas ......................................... 4
D. Etika dan Kewenangan Bidan dalam Masa Nifas ................................................ 6
E. Tahapan Masa Nifas ............................................................................................. 6
F. Teori Kebidanan berkaitan dengan Masa Nifas ................................................... 7
G. Kebijakan Program Nasional Masa Nifas ............................................................ 10
II. Perubahan Fisiologis pada Masa Nifas ........................................................................ 10

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ........................................................................................................... 21
B. Saran...................................................................................................................... 21

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 22

3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-
alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa ini berlangsung selama 6-
8 minggu (Saifuddin, 2002).
Semakin banyaknya jumlah Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi di
Indonesia harus dihentikan, melalui Asuhan Kebidanan pada masa nifas ini yang
bertujuan untuk, menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologik.
Mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun
bayinya. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi,
keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi
sehat. Memberikan pelayanan keluarga berencana.
Asuhan Kebidanan pada masa nifas ini juga memberikan peran dan tanggung
jawab tersendiri bagi bidan dalam melakukan asuhan ini, sebagaimana diketahui bersama
bahwa bidan memiliki 4 peran penting dalam setiap asuhan kebidanan termasuk dalam
asuhan kebidanan nifas. Dalam menjalankan perannya, bidan juga memiliki etika dan
kewenangan dalam asuhan yang diberikan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Dalam masa nifas, ibu juga mengalami perubahan-perubahan pada fisiologis yang
harus diperhatikan oleh klien, keluarga klien dan juga bidan agar klien mendapatkan
asuhan yang sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan serta Angka Kematian Ibu (AKI)
tidak terus meningkat.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Masa Nifas ?
2. Apa saja tujuan Masa nifas ?
3. Apa peran bidan dalam masa nifas ?
4. Apa Etika bidan dalam masa nifas ?
5. Bagaimana tahapan masa nifas ?
6. Apa saja teori berkaitan dengan masa nifas ?

4
7. Apa saja kebijakan program masa nifas ?
8. Apa saja perubahan sistem reproduksi dalam masa nifas ?
9. Apa saja perubahan sistem pencernaan dalam masa nifas ?
10. Apa saja perubahan sistem perkemihan dalam masa nifas ?
11. Apa saja perubahan sistem muskuluskeletal dalam masa nifas ?
12. Apa saja perubahan tanda tanda vital dalam masa nifas ?
13. Apa saja perubahan sistem endokrindalam masa nifas ?
14. Apa saja perubahan sistem kardiovaskuler dalam masa nifas ?
15. Apa saja perubahan sistem hematologi dalam masa nifas ?

C. Tujuan
Mahasiswa setelah mengikuti mata kuliah ini dapat :
1. Menjelaskan pengertian masa nifas
2. Menjelaskan tujuan asuhan masa nifas
3. Menjelaskan peran dan tanggungjawab bidan dalam masa nifas
4. Mengetahui kebijakan program nasional masa nifas
5. Memahami Teori Kebidanan yang berkaitan dengan Konsep Dasar Masa Nifas
6. Memahami perubahan fisiologis yang terjadi pada ibu post partum (masa nifas)

D. Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari pembuatan makalah ini kita dapat mengetahui isi
Konsep Dasar Masa Nifas dan Perubahan Fisiologis dalam Masa Nifas

5
BAB II
PEMBAHASAN

I. Konsep Dasar Masa Nifas


A. Pengertian Masa Nifas
Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6
minggu setelah melahirkan (Pusdiknakes, 2003).
Masa nifas adalah masa setelah keluarnya plasenta sampai alat-alat reproduksi
pulih seperti sebelum hamil dan secara normal masa nifas berlangsung selama 6
minggu atau 40 hari ( Ambarwati, 2008)
Masa nifas adalah waktu penyerahan dari selaput dan plasneta (menandai akhir
periode intrapartum ) menjadi kemabli ke saluran reproduktif wanita pada masa
sebelum hamil. ( Varney, 1997).
Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6
minggu. (Abdul Bari,2000).
Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah
kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi
kembali ke keadaan tidak hamil yang normal. (F.Gary Cunningham, 1995).
Masa nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang
dipergunakan untuk memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan
waktu 6- 12 minggu. ( Ibrahim C, 1998).
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika
alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa ini berlangsung
selama 6-8 minggu (Saifuddin, 2002).

B. Tujuan Masa Nifas


Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologik. Mendeteksi
masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga

6
berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.
Memberikan pelayanan keluarga berencana (Winkjosastro et al, 2002).
Tujuan dari pemberian asuhan pada masa nifas untuk :

1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis.


2. Melaksanakan skrinning secara komprehensif, deteksi dini, mengobati atau
merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi.
3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB,
cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta perawatan bayi sehari-hari.
4. Memberikan pelayanan keluarga berencana.
5. Mendapatkan kesehatan emosi.

C. Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas

Bidan memiliki peranan yang sangat penting dalam pemberian asuhan post
partum. Adapun peran dan tanggung jawab dalam masa nifas antara lain :

1. Peran Bidan sebagai Pelaksana

a. Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas sesuai


dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan psikologis selama
masa nifas.
b. Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara
mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik,
serta mempraktekkan kebersihan yang aman.
c. Memberikan asuhan secara professional
d. Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan.
e. Periksa fundus tiap 15 menit pada jam pertama, 20-30 menit pada jam kedua, jika
kontraksi tidak kuat. Massase Uterus sampai keras karena otot akan menjepit
pembuluh darah sehingga menghentikan perdarahan.
f. Periksa tekanan darah, kandung kemih, nadi, perdarahan tiap 15 menit pada jam
pertama dan tiap 30 menit pada jam kedua.

7
g. Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan
diagnosa dan rencana tindakan serta melaksanakannya untuk mempercepat proses
pemulihan, mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi
selama priode nifas.
h. Menentukan diagnose,prognosa, dan prioritas sesuai dengan faktor risiko dan
keadaan kegawatdaruratan serta kebutuhan asuhan kebidanan pada masa nifas
i. Menyusun rencana asuhan selama nifas berdasarkan prioritas masalah
j. Mengevaluasi asuhan kebidanan nifas yang telah diberikan
k. Membuat pencatatan dan pelaporan asuhan kebidanan nifas yang telah diberikan

2. Peran Bidan sebagai Pengelola

a. Membuat kebijakan, perencana program kesehatan yang berkaitan ibu dan anak
dan mampu melakukan kegiatan administrasi.

3. Peran Bidan sebagai Pendidik

a. Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga.


b. Memberikan edukasi pada ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan
rasa nyaman.
c. Anjurkan ibu minum untuk mencegah dehidrasi, bersihkan perineum, dan
kenakan pakaian bersih, biarkan ibu istirahat, beri posisi yang nyaman, dukung
program bounding attachman dan ASI eksklusif, ajarkan ibu dan keluarga untuk
memeriksa fundus dan perdarahan, beri konseling tentang gizi, perawatan
payudara, kebersihan diri.
d. Memberikan edukasi pada ibu dan keluarga mengenai tanda-tanda bahaya pada
masa nifas.
e. Mengajarkan pada ibu tentang cara mobilisasi
f. Mengajarkan pada ibu tentang perawatan bayi baru lahir
g. Mengajarkan pada ibu tentang menyendawakan bayi
h. Mengajarkan pada ibu dan keluarga tentang perawatan tali pusat
i. Mengajarkan pada ibu dan keluarga cara memandikan bayi

8
j. Mengajarkan pada ibu tentang personal hygiene
k. Mengajarkan pada ibu dan keluarga tentang KB pasca persalinan

4. Peran Bidan sebagai Peneliti

D. Etika dan Kewenangan Bidan dalam Masa Nifas


Undang-undang yang mengatur kode etik bidan dalam asuhan nifas Permenkes
nomor 1464 tahun 2010 pasal 10 ayat 1, 2, dan 3 menerangkan kewenangan bidan
yang berbunyi : pelayanan kesehatan ibu meliputi; pelayanan pada masa nifas.
pelayanan ibu nifas normal. bidan berwenang untuk melakukan sebagai berikut :
1. Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas,
2. Bimbingan IMD
3. Promosi ASI eksklusif,
4. Pemberian uterotonika pada MAK 3 dan post partum,
5. Penyuluhan dan konseling,
6. Pemberian MgSO4 pada ibu nifas pre-eklampsia.

E. Tahapan Masa Nifas


Tahapan yang terjadi pada masa nifas menurut Anggraeni (2010, 3) menyatakan
bahwa tahapan masa nifas di bagi menjadi 3 yaitu :
1. Puerpurium dini
Kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam
agama islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
2. Puerpurium intermedial
Kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.
3. Remote Puerpurium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama
hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna
bisa berminggu-minggu, bulanan, tahunan.

9
F. Teori Kebidanan berkaitan dengan Masa Nifas
1. Teori Ramona T Marcer
Teori Marcer lebih menekankan pada stress antepartum dan pencapaian peran ibu.
Efek Stress Antepartum
Tujuan : memberikan dukungan selama hamil untuk mengurangi lemahnya
lingkungan serta dukungan sosial serta kurangnya kepercayaan diri.
Enam faktor yang mempunyai hubungan dengan status kesehatan :
a. Hubungan interpersonal
b. Peran keluarga
c. Stress antepartum komplikasi dari resiko kehamilan dan pengalaman negatif
dalam hidup
d. Dukungan sosial
e. Rasa percaya diri
f. Penguasaan rasa takut, depresi dan keraguan.
Pencapaian Peran Ibu
Empat langkah dalam peran ibu (tahapan)
a. Anticipatory
Suatu masa sebelum menjaid ibu memulai penyesuaian sosial dan psikologi
terhadap peran barunya nanti dengan mempelajari apa saja yang dibutuhkan
untuk menjadi seorang ibu.
Contoh : Latihan masak, belajar tentang ASI, belajar perawatan anak, dll.
b. Formal
Dimulai dengan peran sesungguhnya seorang ibu, bimbingan peran secara
formal dan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh sistem wanita dan wanita.
c. Informal
Saat wanita telah mampu menemukan jalan yang unik dalam melaksanakan
peran barunya ini.
d. Personal
Pencapaian peran ibu dengan baik tergantung dari diri sendiri. Marcer melihat
bahwa peran aktif seorang wanita dalam pencapaian peran umumnya dimulai
setelah bayi lahir yaitu pada 3 bulan sampai 7 bulan postpartum.

10
2. Teori Ella Joy Lehrman
Dalam teori ini Lehrman menginginkan agar bidan dapat melihat semua aspek
praktik memberikan asuhan pada wanita hamil dan memberikan pertolongan pada
persalinan. Lehrman mengemukakan 8 konsep yang penting dalam pelayanan
antenatal:
a. Asuhan yang berkesinambungan
b. Keluarga sebagai pusat asuhan
c. Pendidikan dan konseling merupakan bagian dari asuhan
d. Tidak ada intervensi dalam asuhan
e. Fleksibilitas dalam asuhan
f. Keterlibatan dalam asuhan
g. Advokasi dari klien
h. Waktu
Dari delapan komponen yang dibuat oleh Lehrman tersebut kemudian diuji cobakan
oleh Morten pada pasien postpartum. Dari hasil penerapan tersebut Morten
menambahkan 3 komponen lagi ke dalam 8 komponen yang telah dibuat oleh
Lehrman, yaitu

a. Teknik terapeutik
Proses komunikasi sangat bermanfaat dalam proses perkembangan dan
penyembuhan, misalnya : mendengar aktif, mengkaji, mengklarifikasi, sikap
yang tidak menuduh, pengakuan, fasilitas, pemberian ijin.
b. Pemberdayaan
Suatu proses memberi kekuasaan dan kekuatan bidan melalui penampilan dan
pendekatan akan meningkatkan kemampuan pasien dalam mengoreksi,
memvalidasi, menilai dan memberi dukungan.
c. Hubungan sesama
Menjalin hubungan yang baik terhadap klien bersikap terbuka, sejalan dengan
klien, sehingga antara bidan dan kliennya nampak akrab, misalnya sikap
empati atau berbagi pengalaman

11
3. Teori Jean Ball
(Teori kursi goyang = keseimbangan emosiona ibu)
Tujuan Asuhan maternitas pada teori ini adalah agar ibu mampu melaksanakan
tugasnya sebagai ibu baik fisik maupun psikologis.
Psikologis dalam hal ini tidak hanya pengaruh emosional tetapi juga proses
emosional agar tujuan akhir memenuhi kebutuhan untuk menjadi orang tua
terpenuhi. Kehamilan, persalinan dan masa post partum adalah masa untuk
mengadopsi peran baru.
Hypotesa Ball :
Respon emosional wanita terhadap perubahan yang terjadi bersamaan dengan
kelahiran anak yang mempengaruhi personality seseorang dan dengan dukungan
yang berarti mereka mendapatkan system keluarga dan sosial.
Persiapan yang sudah diantisipasi oleh bidan dalam masa post natal akan
mempengaruhi respon emosional wanita dalam perubahan yang dialaminya pada
proses kelahiran anak.
Dalam teori kursi goyang dibentuk oleh tiga elemen :
a. Pelayanan maternitas
b. Pandangan masyarakat terhadap keluarga
c. Sisi penyanggah/support terhadap kepribadian wanita
Kesejahteraan seorang wanita sangat tergantung terhadap efektivitas ketiga elemen
tersebut :

a. Women : Ball memusatkan perhatiannya terhadap perkembangan emosional,


sosial dan spikologikal seorang wanita dalam proses melahirkan.
b. Health : Merupakan pusat dari model Ball.
Tujuan dari post natal care agar wanita mampu menjadi seorang ibu.
c. Environment : Lingkungan sosial dan organisasi wanita dalam sistem dukungan
post natal misalnya membutuhkan dukungan sangat penting untuk mencapai
kesejahteraan.
d. Midwifery : Berdasarkan penelitian asuhan post natal misalnya, dikhawatirkan
kurang efektif karena kurangnya pengetahuan tentang kebidanan.

12
e. Self : Secara jelas kita dapat melihat bahwa peran bidan dalam memberikan
dukungan dan membantu seorang wanita untuk menjadi yakin dengan perannya
sebagai seorang ibu

G. Kebijakan Program Nasional Masa Nifas


Kebijakan program nasional pada masa nifas yaitu paling sedikit empat kali
melakukan kunjungan pada masa nifas, dengan tujuan untuk :

1. Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi.


2. Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya gangguan
kesehatan ibu nifas dan bayinya.
3. Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi pada masa nifas.
4. Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan mengganggu kesehatan ibu
nifas maupun bayinya.

II. Perubahan Fisiologis pada Masa Nifas


A. Perubahan Sistem Reproduksi
1. Perubahan pada Uterus
a. Involusi Uterus
Involusi uteri adalah pengecilan yang normal dari suatu organ setelah
organ tersebut memenuhi fungsinya, misalnya pengecilan uterus setelah
melahirkan.
Involusi uteri adalah mengecilnya kembali rahim setelah persalinan
kembali kebentuk asal ( Ramali, 2003 )
Involusi uterus merupakan perubahan proses kembalinya alat kandungan
atau uterus dari jalan lahir setelah bayi dilahirkan sehingga mencapai keadaan
seperti sebelum hamil.
Proses involusi terjadi karena adanya :
1) Iskemia Miometrium Hal ini disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang
terus menerus dari uterus setelah pengeluaran plasenta sehingga membuat
uterus menjadi relatif anemi dan menyebabkan serat otot atrofi.

13
2) Atrofi jaringan Atrofi jaringan terjadi sebagai reaksi penghentian hormon
esterogen saat pelepasan plasenta.
3) Autolysis Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di
dalam otot uterus. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang
telah mengendur hingga panjangnya 10 kali panjang sebelum hamil dan
lebarnya 5 kali lebar sebelum hamil yang terjadi selama kehamilan. Hal ini
disebabkan karena penurunan hormon estrogen dan progesteron.
4) Efek Oksitosin Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi
otot uterus sehingga akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan
berkurangnya suplai darah ke uterus. Proses ini membantu untuk
mengurangi situs atau tempat implantasi plasenta serta mengurangi
perdarahan.

Ukuran uterus pada masa nifas akan mengecil seperti sebelum hamil. Perubahan-
perubahan normal pada uterus selama postpartum adalah sebagai berikut:

Gambar Ukuran uterus Masa Nifas

14
Involusi Tinggi fundus Palpasi cervik
Berat Uterus Diameter Uterus
Uteri Uteri uterus
Plasenta
Setinggi pusat 1000gr Lembut/lunak 12,5cm
lahir
Pertengahan
7 hari antara pusat 500gr 2 cm 7,5cm
dan simphisis
14 hari Tidak teraba 350gr 1 cm 5cm
6
Normal 60gr menyempit 2,5cm
minggu

b. Lochia
Pada masa awal nifas, peluruhan jaringan desidua menyebabkan keluarnya
cairan vagina dalam jumlah bervariasi. Secara mikroskopis, lochea terdiri atas
eritrosit, serpihan desidua, sel sel epitel, dan bakteri.

Lochia adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas dan mempunyai
reaksi basa/alkalis yang membuat organisme berkembang lebih cepat dari pada
kondisi asam yang ada pada vagina normal.

Lochia mempunyai bau yang amis meskipun tidak terlalu menyengat dan
volumenya berbeda-beda pada setiap wanita. Lokia mengalami perubahan
karena proses involusi. Pengeluaran lokia dapat dibagi menjadi lokia rubra,
sanguilenta, serosa dan alba. Perbedaan masing-masing lokia dapat dilihat
sebagai berikut:

15
Umumnya jumlah lochia lebih sedikit bila wanita postpartum dalam posisi
berbaring dari pada beridri. Hal ini terjadi akibat pembuangan bersatu di vagina
bagian atas saat wanita dalam posisi berbaring dan kemudian keluar saat berdiri.
Total jumlah rata-rata pengeluaran lochia sekitar 240 hingga 270 ml.

2. Perubahan Pada Vagina, Vulva dan Perineum

Selama proses persalinan vulva dan vagina mengalami penekanan serta


peregangan, setelah beberapa hari persalinan kedua organ ini kembali dalam keadaan
kendor. Rugae timbul kembali pada minggu ke tiga. Himen tampak sebagai tonjolan
kecil dan dalam proses pembentukan berubah menjadi karankulae mitiformis yang
khas bagi wanita multipara. Ukuran vagina akan selalu lebih besar dibandingkan
keadaan saat sebelum persalinan pertama.

Perubahan pada perineum pasca melahirkan terjadi pada saat perineum


mengalami robekan. Robekan jalan lahir dapat terjadi secara spontan ataupun
dilakukan episiotomi dengan indikasi tertentu. Meskipun demikian, latihan otot
perineum dapat mengembalikan tonus tersebut dan dapat mengencangkan vagina

16
hingga tingkat tertentu. Hal ini dapat dilakukan pada akhir puerperium dengan
latihan harian.

B. Perubahan Sistem Pencernaan

Sistem gastrointestinal selama kehamilan dipengaruhi oleh beberapa hal,


diantaranya tingginya kadar progesteron yang dapat mengganggu
keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolestrol darah, dan
melambatkan kontraksi otot-otot polos. Pasca melahirkan, kadar progesteron juga
mulai menurun. Namun demikian, faal usus memerlukan waktu 3-4 hari untuk
kembali normal. Beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan pada sistem
pencernaan, antara lain:
1. Nafsu makan.
Pasca melahirkan, biasanya ibu merasa lapar sehingga diperbolehkan untuk
mengkonsumsi makanan. Pemulihan nafsu makan diperlukan waktu 34 hari
sebelum faal usus kembali normal. Meskipun kadar progesteron menurun setelah
melahirkan, asupan makanan juga mengalami penurunan selama satu atau dua hari.
2. Motilitas.
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama
waktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesia bisa
memperlambat pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal.
3. Pengosongan usus.
Pasca melahirkan, ibu sering mengalami konstipasi. Hal ini disebabkan tonus
otot usus menurun selama proses persalinan dan awal masa
pascapartum, diare sebelum persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang
makan, dehidrasi, hemoroid ataupun laserasi jalan lahir. Sistem pencernaan pada
masa nifas membutuhkan waktu untuk kembali normal.
Setelah kelahiran plasenta terjadi pula penurunan produksi progesterone sehingga yang
menyebabkan nyeri ulu hati dan konstipasi terutama dalam beberapa hari pertama. Hal
itu terjadi karena in-aktivitas motilitas usus akibat kurangnya keseimbangan cairan
selama persalinan dan adanya reflex hambatan defekasi.

17
C. Perubahan Sistem Perkemihan
Diuresis dapat terjadi setelah 2-3 hari postpartum. Diuresis terjadi karena saluran
urinaria mengalami dilatasi. Kondisi ini akan kembali normal setelah 4 minggu
postpartum. Pada awal postpartum, kandung kemih mengalami edema, kongesti, dan
hipotonik. Hal ini disebabkan oleh adanya overdistensi pada saat kala II persalinan dan
pengeluaran urin yang tertahan selama proses persalinan. Sumbatan pada uretra
disebabkan oleh adanya trauma saat persalinan berlangsung dan trauma ini dapat
berkurang setalah 24 jam postpartum.

D. Perubahan Sistem Musculeskeletal/ Diastasis rectie abdominis

Perubahan sistem muskuloskeletal terjadi pada saat umur kehamilan semakin


bertambah. Adaptasimuskuloskelatal ini mencakup: peningkatan berat badan,
bergesernya pusat akibat pembesaran rahim, relaksasi dan mobilitas. Namun demikian,
pada saat post partum sistem muskuloskeletal akan berangsur-angsur pulih kembali.
Ambulasi dini dilakukan segera setelah melahirkan, untuk membantu
mencegah komplikasi dan mempercepat involusi uteri.
Adaptasi sistem muskuloskeletal pada masa nifas, meliputi:
1. Dinding perut dan peritoneum.
Dinding perut akan longgar pasca persalinan. Keadaan ini akan pulih kembali
dalam 6 minggu. Pada wanita yang asthenis terjadi diastasis dari otot-otot
rectus abdominis, sehingga sebagian dari dinding perut di garis tengah hanya
terdiri dari peritoneum, fasia tipis dan kulit dan akan mengalami diastasis rectie
sebagai berikut :

18
Diastasis rekti adalah hasil dari kelemahan peregangan otot perut dari
perubahan hormon ibu dan ketegangan yang meningkat dengan membesarnya
rahim selama kehamilan. Diastasis recti biasanya terlihat pada wanita dengan
multipara, karena otot-ototnya sudah diregang beberapa kali sehingga menjadi
semakin longgar.

2. Kulit abdomen.
Selama masa kehamilan, kulit abdomen akan melebar, melonggar dan
mengendur hingga berbulan-bulan. Otot-otot dari dinding abdomen dapat
kembali normal kembali dalam beberapa minggu pasca melahirkan dengan
latihan post natal.
3. Striae.
Striae adalah suatu perubahan warna seperti jaringan parut pada dinding
abdomen. Striae pada dinding abdomen tidak dapat menghilang sempurna
melainkan membentuk garis lurus yang samar. Tingkat
diastasis muskulus rektus abdominis pada ibu post partum dapat dikaji melalui
keadaan umum, aktivitas, paritas dan jarak kehamilan, sehingga dapat
membantu menentukan lama pengembalian tonus otot menjadi normal. Striae
akan muncul seperti gambar 1.1

Gambar 1.1
4. Perubahan ligamen.
Setelah janin lahir ligamen-ligamen, diafragma pelvis dan fasia yang meregang
sewaktu kehamilan dan partus berangsur-angsur menciut kembali seperti
sediakala. Tidak jarang ligamentum rotundum menjadi kendor yang
mengakibatkan letak uterus menjadi retrofleksi.

19
5. Simpisis pubis.
Pemisahan simpisis pubis jarang terjadi. Namun demikian, hal ini dapat
menyebabkan morbiditas maternal. Gejala dari pemisahan simpisis pubis antara
lain: nyeri tekan pada pubis disertai peningkatan nyeri saat bergerak di
tempat tidur ataupun waktu berjalan. Pemisahan simpisis dapat dipalpasi.
Gejala ini dapat menghilang setelah beberapa minggu atau bulan pasca
melahirkan, bahkan ada yang menetap.

E. Perubahan Sistem Endokrin

Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahanpada


sistem endokrin. Hormon-hormon yang berperan pada proses tersebut, antara lain:
1. Hormon plasenta.
Pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan hormon yang diproduksi oleh
plasenta. Hormon plasenta menurun dengan cepat pasca persalinan. Penurunan
hormon plasenta (human placental lactogen) menyebabkan kadar
gula darah menurun pada masa nifas. Human Chorionic Gonadotropin (HCG)
menurun dengan cepat dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke-7
post partum dan sebagai onset pemenuhan mamae pada hari ke-3 post partum

20
2. Hormon pituitary.
Hormon pituitary antara lain: hormon prolaktin, FSH dan LH. Hormon prolaktin
darah meningkat dengan cepat, pada wanita tidak menyusui menurun dalam waktu
2 minggu. Hormon prolaktin berperan dalam pembesaran payudara untuk
merangsang produksi susu. FSH dan LH meningkat pada fase konsentrasi
folikuler pada minggu ke-3, dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi.
3. Hipotalamik pituitary ovarium.
Hipotalamik pituitary ovarium akan mempengaruhi lamanya
mendapatkan menstruasi pada wanita yang menyusui maupun yang tidak
menyusui. Pada wanita manyusui mendapatkan menstruasi pada 6 minggu
pasca melahirkan berkisar 16% dan 45% setelah 12 minggu pasca melahirkan.
Sedangkan pada wanita yang tidak menyusui, akan mendapatkan menstruasi
berkisar 40% setelah 6 minggu pasca melahirkan dan 90% setelah 24 minggu.
4. Hormon oksitosin.
Hormon oksitosin disekresikan dari kelenjar otak bagian belakang, bekerja
terhadap otot uterusdan jaringan payudara. Selama tahap ketiga persalinan,
hormon oksitosin berperan dalam pelepasan plasenta dan
mempertahankan kontraksi, sehingga mencegah perdarahan. Isapan bayi dapat
merangsang produksi ASI dan sekresi oksitosin, sehingga dapat
membantu involusi uteri.
5. Hormon estrogen dan progesteron.
Volume darah normal selama kehamilan, akan meningkat. Hormon estrogen yang
tinggi memperbesar hormon anti diuretik yang dapat meningkatkan volume darah.
Sedangkan hormon progesteron mempengaruhi otot halus yang mengurangi
perangsangan dan peningkatan pembuluh darah. Hal ini mempengaruhi saluran
kemih, ginjal, usus, dinding vena, dasar panggul, perineumdan vulva serta vagina

F. Perubahan Tanda Vital


Tekanan darah harus dalam keadaan stabil. Suhu turun secara perlahan dan stabil
pada 24 jam postpartum. Nadi menjadi normal setelah persalinan.

21
Parameter Penemuan Normal Penemuan Abnormal
Tekanan darah < 140/90 Tekanan darah > 140/90
mmHg mmHg
Tanda
Suhu tubuh < 38C Suhu tubuh > 38 C
tanda vital
Denyut nadi:
Denyut nadi > 60-100x/menit
60-100x/ menit

G. Perubahan Sisten Kardiovaskuler


Volume darah normal yang diperlukan plasenta dan pembuluh darah uterin,
meningkat selama kehamilan. Diuresis terjadi akibat adanya
penurunan hormon estrogen, yang dengan cepat mengurangi volume plasma menjadi
normal kembali. Meskipun kadar estrogen menurun selama nifas, namun kadarnya
masih tetap tinggi daripada normal. Plasma darah tidak banyak
mengandung cairan sehingga daya koagulasi meningkat.
Aliran ini terjadi dalam 2-4 jam pertama setelah kelahiran bayi. Selama masa ini
ibu mengeluarkan banyak sekali jumlah urin. Hilangnya progesteron membantu
mengurangi retensi cairan yang melekat dengan meningkatnya vaskuler pada jaringan
tersebut selama kehamilan bersama-sama dengan trauma selama persalinan.
Kehilangan darah pada persalinan per vaginam sekitar 300-400 cc, sedangkan
kehilangan darah dengan persalinan seksio sesarea menjadi dua kali
lipat. Perubahan yang terjadi terdiri dari volume darah dan hemokonsentrasi. Pada
persalinan per vaginam, hemokonsentrasi akan naik dan pada persalinan seksio
sesarea, hemokonsentrasi cenderung stabil dan kembali normal setelah 4-6 minggu.
Pasca melahirkan, shunt akan hilang dengan tiba-tiba. Volume darah ibu relatif
akan bertambah. Keadaan ini akan menimbulkan dekompensasi kordis pada penderita
vitum cordia. Hal ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi dengan timbulnya
hemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti sediakala. Pada umumnya,
hal ini terjadi pada hari ketiga sampai kelima post patum.

22
Curah jantung meningkat selama persalinan dan berlangsung sampai kala III
ketika volume darah uterus dikeluarkan. Penurunan terjadi pada beberapa hari pertama
postpartum dan akan kembali normal pada minggu ke-3 postpartum

H. Perubahan Sistem Hemotologi


Leukositosis adalah meningkatnya jumlah sel-sel darah putih sebanyak 15.000
selama persalinan. Jumlah leukosit akan tetap tinggi selama beberapa hari pertama
masa post partum. Jumlah sel darah putih akan tetap bisa naik lagi sampai 25.000
hingga 30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami
persalinan lama.
Pada awal post partum, jumlah hemoglobin, hematokrit dan eritrosit sangat
bervariasi. Hal ini disebabkan volume darah, volume plasenta dan tingkat volume
darah yang berubah-ubah. Tingkatan ini dipengaruhi oleh status gizi dan hidarasi dari
wanita tersebut. Jika hematokrit pada hari pertama atau kedua lebih rendah dari titik 2
persen atau lebih tinggi daripada saat memasuki persalinan awal, maka pasien
dianggap telah kehilangan darah yang cukup banyak. Titik 2 persen kurang lebih sama
dengan kehilangan darah 500 ml darah.
Penurunan volume dan peningkatan sel darah pada kehamilan diasosiasikan
dengan peningkatan hematokrit dan hemoglobin pada hari ke 3-7 post partum dan
akan normal dalam 4-5 minggu post partum. Jumlah kehilangan darah selama masa
persalinan kurang lebih 200-500 ml, minggu pertama post partum berkisar 500-800 ml
dan selama sisa masa nifas berkisar 500 ml.

23
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa ini berlangsung selama 6-8
minggu
Tujuan Asuhan Kebidanan Masa Nifas adalah untuk menjaga kesehatan ibu dan
bayinya, baik fisik maupun psikologik. Mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila
terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. Memberikan pendidikan kesehatan tentang
perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi
kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. Memberikan pelayanan keluarga berencana
Terdapat 4 peran bidan dalam asuhan kebidanan masa nifas yaitu adalah bidan sebagai
pelaksana, pendidik, pengelola dan peneliti. Disamping peran juga bidan memiliki etika
dan wewenang dalam memberikan asuhan nifas pada klien,
Terdapat teori-teori yang berkaitan dengan asuhan kebidanan pada masa nifas yaitu
Teori Reva Rubin, Teori Ramonat T.Marcer, Teori Ela Joy Lehrman, Teori Jean Ball.
Pada masa nifas juga terdapat perubahan-perubahan yang dialami ibu nifas, perubahan
fisiologis pasti terjadi pada masa nifas ini. Perubahan tersebut diantaranya perubahan pada
sistem pencernaan, perkemihan, kardiovaskuler, endokrin, sistem reproduksi, dan
musculoskeletal.

B. Saran
Tenaga kesehatan khususnya bidan diharapkan dapat mengetahui dan memahami
mengenai asuhan kebidanan pada ibu nifas sehingga dapat memberikan pelayanan yang
optimal pada setiap ibu post partum (masa nifas) agar keadaan ibu tetap baik.

24
DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia

Bahiyatun. (2008). Buku ajar asuhan kenidanan nifas normal. Jakarta: Kedokteran EGC.

Pitriani, R. (2014). Asuhan kebidanan ibu nifas normal (Askeb II). Yogyakarta: Deepublish

Rochmawati, Lusa.(2013).Konsep dasar masa nifas. [Online] Diakses dari:


Www.Kebidanan.org. Diakses pada (4 September 2017).

Universitas Sumatera Utara. Kunjungan nifas pada ibu nifas. [Online] Diakses dari:
Www.Repository.usu.ac.id.Diakses pada (4 September 2017).

Varney, H. ( 1997 ). Varneys Midwifery. Jones and Bartlet Publishers, Sudbury,


Massachusetts, USA
Widyawati, Rina. (2015). Kewenangan Bidan. [Online] Diakses dari: Www.profesibidan.com.
Diakses pada (4 september 2017)

25