Anda di halaman 1dari 5

Nama : Putri Kartini

NPM : A1F015014
Tugas : Kapita Selekta Kimia

DETEKSI KOLORIMETRI ION MERKURI (II) PADA LARUTAN ENCER


MENGGUNAKAN NANOPARTIKEL PERAK

Nanoteknologi adalah bidang yang berkembang pesat untuk memproduksi alat-alat


menggunakan partikel dengan skala nanometer (10-9m). Nanoteknologi sangat bermanfaat dalam
ilmu kehidupan, kesehatan, dan teknologi industri contohnya sintesis nanopartikel logam dengan
proses yang ramah lingkungan. Pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan ekstrak buah apel
air (jambu air) untuk biosintesis AgNP sebagai pengganti zat kimia beracun dan aplikasinya
untuk deteksi kolorimetri Hg (II). Adapun bahan yang digunakan adalah Perak nitrat, sebagai
prekursor untuk AgNPs. Pada penelitian ini digunakan Sintesis kimia hijau dari perak
nanopartikel perak (AgNPs) karena diperkenalkan sebagai biaya rendah, cepat dan mudah
digunakan.
Spektrum penyerapan AgNPs disintesis diukur dengan menggunakan biospektrometer
UV-tampak. Adapun penelitian yang dilakukan yaitu :

1. Biosintesis Nanopartikel Perak


Larutan 1 mM AgNO3 disiapkan dalam botol Erlenmeyer dan ditambahkan ekstrak
buah untuk mereduksiion Ag (I) menjadi logam koloid nanopartikel Ag (0) di bawah radiasi
sinar matahari alami selama 30 menit. Selain itu, disimpan juga pada suhu kamar tanpa
radiasi sinar matahari. Volume rasio ekstrak buah dengan AgNO3adalah 1: 5, 1: 1, 2: 1, dan
5:1. Untuk memantau kemajuan biosintesis AgNP yaitu dengan menggunakan
spektrofotometri UV-vis..
Hasil yang didapat yaitu AgNPs mulai terbentuk dari rasio 1: 5 yaitu ekstrak buah
dan larutan AgNO3 setelah 1 hari inkubasi (tanpa radiasi sinar matahari). Setelah 7 hari
inkubasi, rasio ekstrak buah dan larutan AgNO3 yaitu 2: 1 (hari ke-2) dan 5: 1(hari ke-7),
larutan AgNPs tidak terbentuk Sebaliknya, dengan bantuan radiasi sinar matahari,
pembentukan AgNPs terjadi hanya 30 menit setelah inkubasi dan hasil rasioterbaik ekstrak
buah dengan AgNO3 saat terkena sinar matahari ditunjukkan dengan perbandingan 2: 1.
Kondisi inilah yang menunjukkan kemungkinan bahwa semua Ag (I) tereduksi menjadi Ag
(0). Larutan AgNP adalah coklat kekuningan dan transparan.Setelah jangka waktu
penyimpanan yang lebih, semua partikel dikumpulkan dan larutan menjadi lebih jelas
dengan endapan hitam. Spektrum serapan UV-tampak dari AgNPs menunjukkan puncak
serapan pada 420 nm karena eksitasi plasmon permukaan. Dari hasil penelitian ini, radiasi
sinar matahari menyediakan formasi yang sangat cepat dan efisien untuk pembentukan
AgNPs. Radiasi ultraviolet dari matahari akan menghasilkan radikal bebas yang memiliki
kecenderungan untuk bereaksi dengan senyawa lain, sehingga ketidakstabilan radikal bebas
tersebut akan mudah mereduksi Ag (I) ion ke Ag (0) sebagai titik awal dari AgNPs.
Berdasarkan hasil ini, AgNPs dimodifikasi dan diproduksi di bawah radiasi sinar matahari
yang digunakan untuk percobaan berikutnya.
Selanjutnya dilakukan FTIR dan SEM. Untuk analisis FTIR, sejumlah kecil larutan
yang mengandung ekstrak buah (atau AgNPs) dituangkan ke dalam petri-dish dan di oven
pada 250C selama 24 jam sampai semua pelarut menguap. Ekstrak buah kering (atau
AgNPs) dicampur dengan KBr dan diperas untuk pengukuran. Semua spektrum FTIR diukur
pada resolusi 4 cm-1 dengan 40 scan. Pengukuran FTIR dilakukan untuk mengidentifikasi
keberadaan biomolekul dalam ekstrak buah apel air yang digunakan untuk mereduksi Ag (I)
menjadi logam perak Ag (0) dan menstabilkan AgNPs. Perbandingan Spektrum FTIR dari
ekstrak buah dan AgNPs menunjukkan pergeseran gelombang ditambah dengan penurunan
dan hilangan ikatan di 3410 dan 1077 cm-1 setelah terjadi reduksi Ag (I) dan juga terdapat
Ikatan OH, C-H, cincin C = C, C-OH dan cincin C-C yang berasal dari senyawa yang larut
dalam air seperti asam askorbat serta flavonoid dan polifenol. Hasil ini sesuai dengan
penelitian sebelumnya yang menunjukkan tingginya kandungan asam askorbat dan
flavonoid dalam buah apel air.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa senyawa polar yang larut dalam air ini
berfungsi untuk mereduksi Ag (I) Ag (0) dan mestabilkan AgNPs. Bentuk bulat dari AgNPs
dikonfirmasi dengan analisis SEM dengan ukuran rata-rata 28,7 nm. Hasil ini sesuai dengan
hasil sebelumnya bahwa AgNPs memiliki absorbansi puncak pada panjang gelombang 420
nm.
2. Deteksi Kolorimetri Merkuri Dan Kinerja Analitik AgNPs
Kemampuan AgNPs untuk mendeteksi Hg (II) adalah ditunjukkan dengan
menambahkan konsentrasi yang berbeda dari Hg (II) ke AgNPs dan menghitung perubahan
intensitas SPR Pada larutan AgNP, setelah penambahan berbagai konsentrasi ion Hg (II)
maka terlihat spektrum UV yang sesuai dan terdapat perluasan bertahap serta penurunan
puncak absorbansi (SPR). Selain itu, berturut-turut ion Hg (II) dalam AgNPs mengalami
pergeseran dari 420 nm untuk AgNPs murni dan 380 nm pada penambahan 50 ppm ion Hg (
II). Fenomena ini dikenal sebagai pergeseran biru,di mana diameter partikel menurun dan
jarak antara nanopartikel menjadi lebih dekat selama Hg (II) tereduksi oleh AgNPs,
sehingga meningkatkan jumlah frekuensi dan pada saat yang sama memperpendek panjang
gelombang.
Hg (II) memiliki potensial reduksi lebih tinggi dari Ag (I), sehingga terjadi reaksi
redoks secara spontan. Oksidasi Ag (0) ke Ag (I) mengalami perubahan warna AgNPs dari
coklat kekuningan ke tidak berwarna. Reaksi redoks ini adalah prinsip deteksi merkuri
kolorimetri oleh AgNPs. Karena potensial reduksi lebih rendah dari Ag (I), sebagian besar
logam transisi, logam alkali, dan alkali tanah tidak dapat mengoksidasi Ag (0) dari AgNPs
ke Ag (I), sehingga dilakukan analisis yang sangat selektif untuk Hg (II).
Oleh karena itu, jelas bahwa deteksi kolorimetrik Hg (II) melalui perubahan warna
dari coklat kekuningan untuk tidak berwarna memiliki mekanisme yang berbeda dengan
agregasi AgNP. Namun, beberapa metode deteksi merkuri kolorimetri menggunakan agen
capping yang berbeda atau dengan AgNPs bisa menghasilkan campuran berwarna setelah
penambahan ion Hg sehingga menunjukkan mekanisme reaksi yang berbeda, juga seperti
deteksi kolorimetri merkuri menggunakan AuNPs.Dalam reaksi ini, bukan reaksi langsung
antara Hg (II) ion dengan Ag (0) dari AgNPs (atau dengan Au (0) dari AuNPs), tetapi
interaksi antara ion Hg dengan agen capping membentuk ukuran yang lebih besar dari
nanopartikel yang menyebabkan agregasi lebih dominan. Selain itu, Au (III) memiliki
potensi pengurangan yang sangat tinggi, dan dengan demikian Hg (II) tidak dapat
mengoksidasi Au (0) dari AuNPs ke Au (III) seperti yang terjadi pada sistem AgNP.
Apa saja contoh Oksidator dan Reduktor ?

Jawab :

1. Oksidator atau zat pengoksidasi merupakan zat yang mengalami reduksi. Zat ini
menyebabkan zat lain mengalami oksidasi. Oksidator biasanya adalah senyawa-senyawa
yang memiliki unsur-unsur dengan bilangan oksidasi yang tinggi seperti (H2O2, MnO4,
2-
CrO3, Cr2O7 ) atau senyawa-senyawa yang sangat elektronegatif, sehingga ia akan
mendapatkan satu atau dua elektron yang lebih dengan mengoksidasi sebuah senyawa
misalnya (Oksigen, Flourin, Clourin dan Bromin). Contoh zat pengoksidasi lainnya yaitu
ion permanganat (MnO4-), ion kromat (CrO42-), dan ion dikromat (Cr2O72-), serta asam
nitrat (HNO3), asam perklorat, asam sulfat (H2SO4), F2, O2,O3, dan Cl2.
2. Reduktor atau zat pereduksi merupakan zat yang mengalami oksidasi. Zat ini
menyebabkan zat lain mengalami reduksi, Senyawa-senyawa yang berupa reduksi sangat
bervariasi, unsur-unsur logam seperti Li, Na, Mg, Fe, Zn dan Al. Dapat digunakan
sebagai reduktor. Logam-logam ini akan memberikan elektron dengan mudah, contoh
zat pereduksi lainnya yaitu H2C2O4, NaBH4, Asam format, dan senyawa sulfat

Kenapa nanopartikel emas muncul di panjang gelombang 520 nm dan nanopartikel perak
muncul di panjang gelombang 420 nm?

Jawab :

Karena larutan nanopartikel Au (AuNPs) tampak berwarna merah. Sehingga pada spektra
absorpsi sinar tampak, SPR nanopartikel Au (AuNPs) secara spesifik muncul pada panjang
gelombang 520 nm. Namun absorpsi pada panjng gelombang tersebut dapat mengalami
pergeseran merah atau biru, tergantung pada bentuk, ukuran, orientasi nanopartikel, jarak antar
nanopartikel, dan juga kondisi dielektrik di sekitarnya. Perubahan warna koloid AuNPs dalam air
dari merah menjadi biru dapat diamati jika terjadi agresasiyang signifikan hingga terbentuk
klaster Au.