Anda di halaman 1dari 3

Hanya Sebuah Goresan Imajinasi

Jemari-jemari ku mulai berkreasi. Goresan demi goresan ku buat. Dengan ditemani alat
tulis dan pewarna ku berkreasi, mencocokkan mana yang cocok untuk ku gunakan. Ku
istirahatkan otak kiriku dan ku maksimalkan otak kanan ku. Yah, aku melakukan ini ketika aku
sedang merasa bosan, apalagi ketika sepi juga melanda kamar tercinta. Disaat ini aku mulai
berkreasi dengan berbagai imajinasi yang muncul di kepalaku. Keping demi keping imajinasi
puzzle di otakku ku pasang dan ku tumpahkan ke sebuah buku sketsa tercintaku. Tidak terasa
jumlah buku sketsa ku sudah 4 yang penuh akan goresan imajinasi otakku. Goresan apa?
Goresan sketsa model baju hasil pemikiran otakku. Teman-temanku terkagum-kagum melihat
hasil sketsa model bajuku, ketika itu aku terkekeh-kekeh senang membuat mereka kagum.
Hingga suatu saat aku pernah mengikuti lomba desain model baju santai pada musim dingin
tingkat Kota Blitar. Hasilnya? Aku mendapat juara 2. Ibu bangga padamu nak ucap Ibu sambil
membelai rambutku yang panjang dan lurus ketika aku memandangi piala berwarna emas yang
sekarang telah menjadi milikku, bukan milik sorang lain. Meski begitu aku agak kecewa dengan
hasilnya, karena targetku adalah juara 1 bukan juara 2, namun tak apa. Aku tidak akan patah
semangat. Ini baru awal pikirku.

Suatu hari ketika sahabat terbaikku,Yera datang ke rumahku dan melihat sketsa-sketsaku
yang terbaru ia berkata Wah, seperti biasa sketsamu selalu bagus Cha. Matanya berbinar ketika
melihatnya. Aku agak heran mengapa ia sampai kagum, padahal sketsa-sketsaku hanya
mengantarkanku pada juara 2 saja. Aku menjawab pujian Yera dengan senyum simpul.

Oh ya, denger-denger ada lomba membuat sketsa model baju loh di Universitas Brawijaya.
Lombanya sekitar bulan depan tanggal 2. Hadiahnya trophy, sertifikat dan sejumlah uang. Kalo
kamu sih pasti bisa menang dengan karya-karyamu ini.

Iya deh. Nanti aku mau daftar

Berita bagus. Kali ini aku harus bisa mendapatkan juara 1. Besoknya aku dan Ibu pergi ke
Universitas Brawijaya untuk mendaftar. Aku merasa senang dengan hal ini karena Ibu
mendukungku dengan penuh. Ketika dalam perjalanan menuju Universitas Brawijaya, Ibu
bertanya kepadaku tentang cita-cita, aku pun bingun harus menjawab apa karena hingga
sekarang aku belum menentukan cita-citaku. Bagaimana jika menjadi desainer baju? Nanti
ketika kamu sudah besar, kamu bisa membuka butik hasil desainmu sendiri Kata Ibu sambil
tersenyum kepadaku. Menjadi desainer? Sebenarnya itu hanyalah sekedar imaji yang terlintas
saja, yang menemaniku disaat jenuh dan bosan akan buku pelajaran melanda diriku. Aku belum
pernah berpikir menjadikan desainer sebuah cita-citaku. Emm.akan aku pikirkan, Bu
jawabku kepada Ibu sambil mengkerutkan wajahku. Selama perjalanan aku memikirkan
perjalanan aku memikirkan perkataan Ibu hingga akhirnya tak terasa aku sudah sampai di rumah.
Menjelang hari H aku berlatih membuat sketsa model baju dengan kesan baju lebih rumit.
Dan kali ini aku ingin meminta pendapat Yera tentang sketsa model baju buatanku. Wow, kamu
sangat berkembang pesat Cha. Model baju ini sangatlah bagus. Apalagi ini desain ini sangatlah
rumit, bagaimana kamu menggambarnya? Di lomba nanti aku akan mendukungmu ucapnya
sambil mengguncangkan tubuhku. Ucapannya sangat membuatku terkejut. Matanya tajam
menatap mataku. Sepintas matanya terlihat berbinar. Sepertinya ia sangat kagum dengan hasilku
kali ini. Baru pertama kali ini Yera seperti ini pada suatu karya kecuali pada lirik lagu Eros.
Yang liriknya sangat bermakna puitis. Aku hanya memainkan imajinasiku dengan cara
mengumpulkan semua puzzle dan kemudian menjadikannya satu kesatuan dengan paduan bentuk
objek yang lebih rumit kataku dengan tersenyum. Yera menatapku sekilas dengan tajam dan
kemudian kembali memandangi hasil karya sketsa modelku itu. Ah.Syukurlahsemoga kali
ini berhasil pikirku.

Hari H perlombaan pun datang, para peserta mulai dihimbau untuk memasuki tempat
yang sudah disediakan. Semoga berhasil nak ucap Ibu sebelum aku meninggalkannya untuk
menuju tempat lomba. Aku pun melihatnya sejenak, tersenyum kemudian melangkahkan kaki
menuju tempat lomba. Aku pun memasuki tempat tersebut, wowsungguh ramai. Apakah aku
mampu untuk melawan mereka semua? Ah, kalau belum dicoba mana bisa tahu. Aku pun duduk
di tempat yang sudah disediakan dengan meja kecil yang menyambung dengan kursinya. Sekitar
200 hingga 300 kursi tersedia di sini. Ini berarti aku harus lebih berusaha menjadi lebih baik lagi.
Ku lihat panitia mulai sibuk dengan kertas yang berisikan jenis tema model baju. Setiap peserta
diberi masing-masing satu kertas yang terdiri dari 10 tema. Para peserta boleh membalik
kertasnya ketika bel sudah berbunyi jika tidak akan didiskualifikasi. Yang bisa ku lakukan
sekarang hanyalah menunggu perlombaan ini dimulai.

Detik demi detik jam mulai berjalan. Aku jenuh sebenarnya, menunggu dan hanya
menunggu tidak tau harus apa. Sehingga aku hanya melakukan kegiatan plaur. TEEETTT! Bel
tanda lomba sudah dimulai pun berbunyi. Aku bersemangat membalikkan kertas tema model
baju. Mataku mulai berjalan menelusuri huruf demi huruf dari nomer satu hingga sepuluh.
Seketika aku pun tersenyum simpul, Ini semua sudah pernah ku coba. Aku hanya tinggal
menambahkannya hingga menjadi sempurna saja ucapku dalam hati. Dengan segera aku pun
mulai menggores kertas sketsa yang telah disediakan oleh panitia. Imajinasiku mulai bermain,
berkolaborasi dengan kelincahan tanganku dalam menggores sketsa model baju yang sedang ku
buat. Waktuku hanya 2,5 jam hanya sebentar. Bismillah..

Lagi-lagi jantungku berdegup kencang, malam yang seharusnya tenang dan sepi bersama
bintang-bintang di langit. Namun untuk hari ini tidak, jantungku berdegup kencang, tanganku
mulai dingin dan keringat bercucuran. Aku gugup. Genggaman Ibu yang menemaniku semakin
erat menggenggam, sepertinya Ibu juga gugup seperti diriku. Berharap memenangkan juara 1
untuk kali ini. Doa demi doa kami lantunkan agar harapan kami terwujud. Aku hanya bisa
berharap dengan penuh harap. Hingga akhirnya MC mulai membaca pemenang lomba sketsa
model baju. Mulai dari harapan 2 hingga kini masih juara 2. Dan kini tiba saatnya pembacaan
juara 1. Aku berharap bahwa itu adalah namaku. Jantung ini tak mau diam. Masih saja tergopoh-
gopoh ingin berdetak. Juara 1 diraih oleh ACHA KHOIRUNNISA ucap MC. Aku terkejut,
sekaligus bahagia tentunya. Aku pun maju ke panggung sebagai penerima hadiah. Trophy,
sertifikat dan sejumlah uang kini menjadi milikku. Dari panggung aku melihat Ibu menangis
bahagia. Sepertinya terharu. Kini setelah ku pikir-pikir aku akan menjadi desainer model baju
saja. Karena memang aku sangat menyukai kegiatan ini. Berawal dari hobby kemudian menjadi
cita-cita yang harus ku capai. Hahaha.seperti cinta saja TRESNA JALARAN KULINA