Anda di halaman 1dari 42

Inisiasi Menyusu dini dengan Kelancaran Asi

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bagi bayi ASI merupakan makanan yang paling sempurna, dimana kandungan gizi sesuai

kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. ASI juga mengandung zat untuk

perkembangan kecerdasan, zat kekebalan (mencegah dari berbagai penyakit) dan dapat menjalin

hubungan cinta kasih antar bayi dengan ibu. Manfaat menyusui/memberikan asi bagi ibu tidak

hanya menjalin kasih sayang, tetapi terlebih lagi dapat mengurangi perdarahan setelah

melahirkan, mempercepat pemulihan kesehatan ibu seperti involusi rahim, menunda kehamilan,

mengurangi resiko terkena kanker payudara, dan merupakan kebahagiaan tersendiri bagi ibu. Di

antara sekian banyak manfaat bagi bayi, sebuah penelitian terbaru di AS mengindikasikan bahwa

ASI dapat mempengaruhi pembentukan sistem metabolisme lemak dalam darah. Seperti

dipublikasikan The American Journal of Clinical Nutrition (2004), pemberian ASI semasa bayi

akan membuat seseorang tumbuh lebih sehat karena kadar kolesterolnya cenderung lebih baik

saat mencapai usia dewasa.

Suatu hasil penelitian di Ghana yang diterbitkan oleh jurnal pediatriks menunjukkan

bahwa 16% kematian bayi dapat dicegah melalui pemberian ASI pada bayi sejak hari pertama

kelahirannya. Angka ini naik menjadi 22% jika pemberian ASI dimulai dalam 1 jam pertama

setelah kelahirannya. ASI adalah asupan gizi yang terbaik untuk melindungi dari infeksi

pernafasan, diare, alergi, sakit kulit, asma, obesitas juga membentuk perkembangan intelegensia,

rohani, perkembangan emosional. Hasil telaah dari 42 negara menunjukkan bahwa ASI eksklusif
memiliki dampak terbesar terhadap penurunan angka kematian balita, yaitu 13% dibanding

intervensi kesehatan masyarakat lainnya (Roesli, 2008).

Penelitian menyatakan bahwa inisiasi menyusu dini dalam 1 jam pertama dapat mencegah

22% kematian bayi di bawah umur 1 bulan di negara berkembang (APN, 2007). Pencapaian 6

bulan ASI Eksklusif bergantung pada keberhasilan inisiasi dalam satu jam pertama. ASI

Eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan, bersamaan dengan pemberian makanan

pendamping ASI dan meneruskan ASI dari 6 bulan sampai 2 tahun, dapat mengurangi sedikitnya

20% kematian anak balita (Roesli, 2008).

Inisiasi Menyusu Dini yaitu memberikan ASI kepada bayi baru lahir, bayi tidak boleh

dibersihkan terlebih dahulu dan tidak dipisahkan dari ibu. Pada inisiasi menyusu dini ibu segera

mendekap dan membiarkan bayi menyusu dalam 1 jam pertama kelahirannya (Roesli, 2008).

Peran Millenium Devolepment Goals (MDGs) dalam pencapaian Inisiasi Menyusu Dini (IMD),

yaitu Inisiasi Menyusu Dini dapat meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif dan lama menyusui

maka akan membantu mengurangi kemiskinan, membantu mengurangi kelaparan karena ASI

dapat memenuhi kebutuhan makanan bayi sampai usia dua tahun, membantu mengurangi angka

kematian anak balita. Pemberian ASI dikenal sebagai salah satu hal yang berpengaruh paling

kuat terhadap kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pemberian ASI secara dini tidak terlepas dari peran tenaga kesehatan khususnya dokter dan

bidan. Namun, di Indonesia masih banyak tenaga kesehatan maupun pelayanan kesehatan

(termasuk Rumah Sakit) yang belum mendukung pemberian ASI secara dini dengan alasan

keadaan ibu masih lemah, masih banyak darah dan lendir yang harus dibersihkan, takut bayi

terkena hipotermi, bahkan ada yang mengatakan Inisiasi Menyusu Dini dengan membiarkan bayi

merangkak sendiri mencari puting susu ibu adalah hal primitife yang melecehkan bangsa
Indonesia (padahal IMD juga dilakukan di negara maju). Banyak rumah sakit dan bidan yang

langsung memberikan susu formula begitu bayi lahir jika ASI belum keluar (Soegiarto, 2008).

Menyusui bayi di Indonesia sudah menjadi budaya namun praktik pemberian ASI masih

jauh dari yang diharapkan. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2010 hanya 10%

bayi yang memperoleh ASI pada hari pertama, yang diberikan ASI kurang dari 2 bulan sebanyak

73%, yang diberikan ASI 2 sampai 3 bulan sebanyak 53% yang diberikan ASI 4 sampai 5 bulan

sebanyak 20% dan menyusui eksklusif sampai usia 6 bulan sebanyak 49% (WHO, 2010)

Kesulitan memberikan ASI memang kerap ditemui para ibu-ibu muda kita. Beberapa ibu

muda akhirnya banyak yang sulit untuk memberikan ASInya. Beberapa dari mereka akhirnya

sama sekali tidak dapat mengeluarkan ASI untuk buah hatinya. Hal ini dapat diatasi, terutama

bila dilakukan tindakan inisiasi dini menyusui sejak menit-menit pertama kelahiran anak tersebut

(hhttp://kuliahbidan.wordpress.com/2011/04/12/kunci-sukses-asi-eksklusif/).

Dr.Utami Roesli SpA MBA IBCLC pakar ASI dan Sentral Laktasi Indonesia (2000), juga

menguatkan perlunya inisiasi dengan mengatakan bahwa dalam 30 menit pertama, bayi istirahat

dalam keadaan siaga, sesekali melihat ibunya, beradaptasi, dan menyesuaikan diri dengan

lingkungan, 40 menit pertama bayi mulai mengeluarkan suara, membuat gerakan menghisap dan

memasukkan tangan ke mulut. Untuk itu Inisiasi menyusui dini dapat memberikan kesempatan

pada bayi untuk mulai menyusu segera setelah bayi dilahirkan. Maka perlu dipastikan bahwa

bayi mendapatkan kesempatan untuk melakukan proses inisiasi menyusui paling tidak satu jam

pertama setelah ia lahir. Hal ini akan menunjang proses lancarnya ASI di kemudian hari.

Wilayah Kabupaten Karangasem merupakan salah satu daerah tertinggal di Propinsi Bali

dari 199 Kabupaten Tertinggal di Indonesia, dengan luas wilayah 839, 54 Km. Oleh karena itu di

bidang kesehatan Kabupaten Karangasem semakin gencar melakukan perbaikan. Seperti


dikatakan Direktur RSUD Karangasem, dr. I Gede Parwatha Yasa, Sp.Og melaporkan, gerakan

Rumah Sakit Sayang Ibu dan bayi (GRSSI-B) khusus melaksanakan 10 langkah menuju

perlindungan ibu, bayi secara terpadu dan paripurna. Prgoram tersebut bertujuan untuk

mempercepat penurunan angka kematian Ibu (AKI) dan Angka kematian Bayi (AKB) yag masih

tinggi yakni 228/100.000 KH untuk AKI dan 34/1000KH untuk AKB.

RSUD Karangasem menginginkan pengembangan standar pelayanan perlindungan bayi

dan ibu secara terpadu dan paripurna, meningkatkan kepedulian dan kualitas pelayanan

kesehatan ibu dan bayi, menigkatkan kesiapan rumah sakit melaksanakan fungsi pelayanan

obstetric dan neonatal termasuk pelayanan kegawatdaruratan, meningkatkan fungsi rumah sakit

sbagai pusat rujukan, meningkatkan fungsi RS sebagai model dan pembina tehnis melaksanakan

inisiasi menyusui dini dan pemberian ASI eksklusif. Langkah lain yang konsisten dilakukan

selama ini meliputi penataan menejemen RS mendukung program pelayanan kesehatan Ibu dan

bayi, memberikan pelayanan antenatal, konseling kesehatan perinatal da neonatal, melaksanakan

persalinan bersih dan aman, inisiasi menyusuai dini, kontak kulit ibu dan bayi, melaksanakan

phonek 24 jam, melaksanakan pelayanan adekuat untuk nifas, rawat gabung dan pelayaan

neonatal sakit. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti hubungan

inisiasi menyusui dini terhadap kelancaran produksi ASI di wilayah kerja RSUD Karangasem.

B. Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan dari apa yang diuraikan di atas maka dapat ditarik masalah penelitian sebagai

berikut :

Adakah hubungan inisiasi menyusui dini terhadap kelancaran produksi ASI pada ibu post

partum di Ruang NIfas RSUD Karangasem Tahun 2011?


C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini meliputi tujuan umum dan tujuan khusus antara lain :

1. Tujuan Umum

Mengetahui hubungan inisiasi menyusui dini terhadap kelancaran produksi ASI pada ibu post

partum di Ruang Nifas RSUD Karangasem tahun 2011.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui karakteristik ibu post partum yang melakukan inisiasi menyusui dini

b. Mengetahui gambaran pelaksanaan inisiasi menyusui dini di RSUD Karangasem

c. Menganalisa pengaruh inisiasi menyusui dini dengan kelancaran ASI

D. Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian yang dilakukan akan didapatkan manfaat penelitian yang ditinjau

dari segi praktis dan teoritis.

1. Segi praktis

Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pengetahuan bagi pihak

institusi tempat diadakannya penelitian yaitu RSUD Karangasem. Dan mampu mengajak kaum

ibu untuk mengubah perilaku dan pola pikir ibu tentang ASI. Bahwa ASI saja cukup untuk

tumbuh kembang bayi dan dukungan keluarga dalam proes pemberian ASI sehingga ibu

memiliki motivasi yang kuat untuk memberi ASI kepada bayinya.

2. Segi teoritis
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat guna menambah pembendaharaan ilmu pengetahuan

khususnya di bidang keperawatan Maternitas dan sebagai perbandingan untuk peneliti

selanjutnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada Bab ini akan dibahas tentang konsep-konsep teori yang berhubungan dengan

penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut.

A. Inisiai Menyusui Dini

a. Definisi Inisiasi Menyusu Dini

Inisiasi Menyusu Dini ( early initiation) atau permulaan menyusu dini adalah mulai

menyusu sendiri segera setelah lahir. Asalkan dibiarkan kontak kulit bayi dengan kulit ibunya,

setidaknya selama satu jam segera setelah lahir. Cara bayi melakukan inisiasi menyusui dini ini

dinamakan the breast crawl atau merangkak mencari payudara ( Roesli, 2008, hal.3). Inisiasi

menyusu dini (early initation) atau permulaan menyusu dini adalah bayi mulai menyusu sendiri

segera setelah lahir. Cara bayi melakukan inisiasi menyusu dini dinamakan the best crawl atau

merangkak mencari payudara (Ambarwati dan Eny ,2009 hal. 36). Inisiasi menyusu dini (IMD)

adalah proses membiarkan bayi dengan nalurinya sendiri dapat menyusu segera dalam satu jam

pertama setelah lahir, bersamaan dengan kontak kulit antara bayi dengan kulit ibunya, bayi

dibiarkan setidaknya selama satu jam di dada ibu, sampai dia menyusui sendiri (Unicef, 2007;

Depkes RI, 2008)


Dalam istilah yang lain, Inisiasi Menyusui Dini disebut juga sebagai proses Breast Crawl:

Dalam sebuah publikasi oleh breastcrawl.org, yang berjudul Breast Crawl: A Scientific

Overview, ada beberapa hal yang menyebabkan bayi mampu menemukan sendiri puting Ibunya,

dan mulai menyusui, yaitu:

a. Sensory Inputs

Indera yang terdiri dari penciuman; terhadap bau khas Ibunya setelah melahirkan,

penglihatan; karena bayi baru dapat mengenal pola hitam putih, bayi akan mengenali puting dan

wilayah areola ibunya karena warna gelapnya. Berikutnya adalah indera pengecap; bayi mampu

merasakan cairan amniotic yang melekat pada jari-jari tangannya, sehingga bayi pada saat baru

lahir suka menjilati jarinya sendiri. Kemudian, dari indera pendengaran; sejak dari dalam

kandungan suara ibu adalah suara yang paling dikenalnya. Dan yang terakhir dari indera perasa

dengan sentuhan; sentuhan kulit-ke-kulit antara bayi dengan ibu adalah sensasi pertama yang

memberi kehangatan, dan rangsangan lainnya.

b. Central Component.

Otak bayi yang baru lahir sudah siap untuk segera mengeksplorasi lingkungannya, dan

lingkungan yang paling dikenalnya adalah tubuh ibunya. Rangsangan ini harus segera dilakukan,

karena jika terlalu lama dibiarkan, bayi akan kehilangan kemampuan ini. Inilah yang

menyebabkan bayi yang langsung dipisah dari ibunya, akan lebih sering menangis daripada bayi

yang langsung ditempelkan ke tubuh ibunya.

c. Motor Outputs.
Bayi yang merangkak di atas tubuh ibunya, merupakan gerak yang paling alamiah yang

dapat dilakukan bayi setelah lahir. Selain berusaha mencapai puting ibunya, gerakan ini juga

memberi banyak manfaat untuk sang Ibu, misalnya mendorong pelepasan

plasenta dan mengurangi pendarahan pada rahim Ibu.

Tidak semua ibu dapat melakukan inisiasi menyusui dini. Bayi dan ibu yang dapat

melakukan inisiai menyusui dini harus memenuhi syarat/kriteria sebagai berikut :

a. Lahir spontan, baik presentasi kepala maupun bokong.

b. Bila lahir dengan tindakan, maka inisiasi menyuui dini dilakukan setelah bayi cukup sehat,

refleks menghisap baik.

c. bayi yang lahir dengan sectio cesarea dengan anestesia umum, inisiasi menyusui dini

dilakukkan segera setelah kondisi ibu dan bayi stabil.

d. Bayi tidak asfiksia setelah lima menit pertama (nilai apgar minimal 7)

e. Umur 37 minggu atau lebih.

f. Berat lahir 2000-2500 gram atau lebih

g. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi intrapartum

h. Bayi dan ibu sehat

Jika tidak memenuhi kriteria diatas, maka inisiasi menyusui dini tidak bisa dilakukan

misalnya pada :

a. Bayi yang sangat prematur

b. Bayi berat lahir kurang dari 2000-2500 gram.


c. Bayi dengan sepsis

d. Bayi dengan gangguan nafas

e. Bayi dengan cacat bawaan berat, misalnya : hidrosefalus, meningokel, anensefali, atresiia ani,

labio, omfalokel)

f. Ibu dengan infeksi berat, misalnya KP terbuka, sepsis.

b. Manfaat Inisiasi Menyusu Dini

Adapun manfaat dari inisiasi menyusu dini secara umum menurut dr. Utami Roesly adalah

sebagai berikut:

1. Dada ibu menghangatkan bayi dengan tepat selama bayi merangkak mencari payudara. Ini akan

menurunkan kematian bayi karena kedinginan (Hypotermia).

2. Ibu dan bayi merasa lebih tenang. Pernapasan dan detak jantung bayi lebih stabil. Bayi akan

lebih jarang menanggis sehingga mengurangi pemakaian energi.

3. Saat merangkak mencari payudara, bayi memindahkan bakteri dari kulit ibunya dan ia akan

menjilat-jilat kulit Ibu, menelan bakteri baik dikulit Ibu. Bakteri baik ini akan berkembang biak

membentuk koloni di kulit dan usus bayi, menyaingi bakteri jahat dari lingkungan.

4. Bonding (Ikatan kasih sayang) antara Ibu-bayi akan lebih baik karena pada 1-2 jam pertama,

bayi dalam keadaan siaga. Setelah itu, biasanya bayi tidur dalam waktu yang lama.

5. Makna awal non-ASI mengandung zat putih telur yang bukan berasal dari susu manusia,

misalnya dari hewan. Hal ini dapat mengganggu pertumbuhan fungsi usus dan mencetuskan

alergi lebih awal.

6. Bayi yang diberi kesempatan menyusu dini lebih berhasil menyusui eksklusif dan akan lebih

lama disusui.
7. Hentakan kepala bayi ke dada Ibu, sentuhan tangan bayi di puting susu dan sekitarnya, emutan,

dan jilatan bayi pada puting Ibu merangsang pengeluaran hormon oksitosin.

8. Bayi mendapatkan ASI kolostrum- ASI yang pertama kali keluar. Cairan emas ini kadang juga,

dinamakan the gift of life. Bayi yang diberi kesempatan inisiasi menyusui dini lebih dulu

mendapatkan kolostrum daripada yang tidak diberi kesempatan.

c. Keuntungan Inisiasi Menyusu Dini Bagi Ibu dan Bayi

1. Keuntungan kontak kulit dengan kulit untuk bayi

Mengoptimalkan keadaan hormonal Ibu dan bayi. Kontak memastikan perilaku optimum

menyusu berdasarkan insting dan bisa diperkirakan : menstabilkan pernapasan, mengendalikan

temperatur tubuh bayi, memperbaiki/mempunyai pola tidur yang lebih baik, mendorong

ketrampilan bayi untuk menyusu yang lebih cepat dan efektif, meningkatkan kenaikan berat

badan (kembali ke berat lahirnya dengan lebih cepat), meningkatkan hubungan antara Ibu dan

bayi, tidak terlalu banyak menangis dalam satu jam pertama, menjaga kolonisasi kuman yang

aman dari ibu di dalam perut bayi sehingga memberikan perlindungan terhadap infeksi, bilirubin

akan lebih cepat normal dan mengeluarkan mekonium lebih cepat sehingga menurunkan

kejadian ikterus bayi baru lahir, kadar gula dan parameter biokimia lain yang lebih baik selama

beberapa jam pertama hidupnya.

2. Keuntungan kontak kulit dengan kulit untuk bayi

Mengoptimalkan keadaan hormonal Ibu dan bayi. Kontak memastikan perilaku optimum

menyusu berdasarkan insting dan bisa diperkirakan : menstabilkan pernapasan, mengendalikan

temperatur tubuh bayi, memperbaiki/mempunyai pola tidur yang lebih baik, mendorong
ketrampilan bayi untuk menyusu yang lebih cepat dan efektif, meningkatkan kenaikan berat

badan (kembali ke berat lahirnya dengan lebih cepat), meningkatkan hubungan antara Ibu dan

bayi, tidak terlalu banyak menangis dalam satu jam pertama, menjaga kolonisasi kuman yang

aman dari ibu di dalam perut bayi sehingga memberikan perlindungan terhadap infeksi, bilirubin

akan lebih cepat normal dan mengeluarkan mekonium lebih cepat sehingga menurunkan

kejadian ikterus bayi baru lahir, kadar gula dan parameter biokimia lain yang lebih baik selama

beberapa jam pertama hidupnya.

3. Keuntungan menyusu dini untuk bayi :

Makanan dengan kualitas dan kuantitas optimal agar kolostrum segera keluar yang

disesuaikan dengan kebutuhan bayi. Memberikan kesehatan bayi dengan kekebalan pasif yang

segera kepada bayi. Kolostrum adalah imunisasi pertama bagi bayi. Meningkatkan kecerdasan.

Membantu bayi mengkoordinasikan hisap, telan dan napas. Meningkatkan jalinan kasih sayang

Ibu-bayi. Mencegah kehilangan panas. Merangsang kolostrum segera keluar

4. Keuntungan menyusu dini untuk Ibu

Merangsang produksi oksitosin dan prolaktin. Meningkatkan keberhasilan produksi ASI.

Meningkatkan jalinan kasih sayang Ibu-bayi. Memulai menyusui dini akan Mengurangi 22%

kematian bayi berusia 28 hari ke bawah. Meningkatkan keberhasilan menyusui secara eksklusif

dan meningkatkan lamanya bayi disusui. Merangsang produksi susu. Memperkuat refleks

menghisap bayi. Refleks menghisap awal bayi pada bayi paling kuat dalam beberapa jam

pertama setelah lahir.

d. Langkah Inisiasi Menyusu Dini dalam Asuhan Bayi Baru Lahir

Menurut Roesli (2005), berikut ini 5 tahapan dalam proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD):
1. Dalam 30 menit pertama; Istirahat keadaan siaga, sesekali melihat ibunya dan menyesuaikan diri

dengan lingkungan

2. 30-40 menit; Mengeluarkan suara, memasukkan tangan ke mulut gerakan menghisap

3. Mengeluarkan air liur

4. Bergerak kearah payudara; kaki menekan perut ibu, areola menjadi sasaran, menjilati kulit ibu

sampai ujung sternum, kepala dihentak-hentakkan ke dada ibu, menoleh kekanan kekiri ,

menyentuh putting susu dengan tangan bayi

5. Menemukan putting; menjilat, mengulum putting, membuka mulut dengan lebar dan melekat

dengan baik dan menghisap puting susu.

Sedangkan berikut ini adalah 11 tatalaksana Inisiasi Menyusu Dini:

1. Dianjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu saat persalinan.

2. Dalam menolong ibu saat melahirkan, disarankan untuk tidak atau mengurangi penggunaan obat

kimiawai.

3. Dibersihkan dan dikeringkan, kecuali tangannya, tanpa menghilangkan vernik caseosanya.

4. Bayi ditengkurapkan di perut ibu dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu. Keduanya diselimuti,

bayi dapat diberi topi.

5. Anjurkan ibu menyentuh bayi untuk merangsang bayi mendekati puting susu.

6. Bayi dibiarkan mencari puting susu ibu sendiri.

7. Biarkan kulit bayi bersentuhan dengan kulit ibu selama paling tidak satu jam walaupun proses

menyusu awal sudah terjadi atau sampai selesai menyusu awal.

8. Tunda menimbang, mengukur, suntikan vitamin K, dan memberikan tetes mata bayi sampai

proses menyusu awal selesai.

9. Ibu bersalin dengan tindakan operasi , tetap berikan kesempatan kontak kulit.
10. Berikan ASI saja tanpa minuman atau makanan lain kecuali atas indikasi medis. Rawat Gabung;

ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar, dalam jangkauan ibu selama 24 jam.

11. Bila inisiasi dini belum terjadi di kamar bersalin; bayi tetap diletakkan didada ibu waktu

dipindahkan ke kamar perawatan dan usaha menyusu dini dilanjutkan didalam kamar perawatan.

e. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan IMD

Menurut UNICEF (2006), Banyak sekali masalah yang dapat menghambat pelaksanaan

Inisiasi Menyusu Dini antara lain:

1. Kurangnya kepedulian terhadap pentingnya Inisiasi Menyusu Dini.

2. Kurangnya konseling oleh tenaga kesehatan dan kurangnya praktek Inisiasi Menyusu Dini.

3. Adanya pendapat bahwa suntikan vitamin K dan tetes mata untuk mencegah penyakit gonorrhea

harus segera diberikan setelah lahir, padahal sebenarnya tindakan ini dapat ditunda setidaknya

selama satu jam sampai bayi menyusu sendiri.

4. Masih kuatnya kepercayaan keluarga bahwa ibu memerlukan istirahat yang cukup setelah

melahirkan dan menyusui sulit dilakukan.

5. Kepercayaan masyarakat yang menyatakan bahwa kolostrum yang keluar pada hari pertama

tidak baik untuk bayi.

6. Kepercayaan masyarakat yang tidak mengijinkan ibu untuk menyusui dini sebelum payudaranya

di bersihkan

Menurut Green (2000), terdapat tiga faktor utama yang dapat mempengaruhi perilaku

individu atau masyarakat, yaitu:

1) faktor dasar (predisposing factors) yang meliputi:

(a) pengetahuan individu


(b) sikap

(c) kepercayaan

(d) tradisi

(e) unsur-unsur yang terdapat dalam diri individu dan masyarakat dan

(f) faktor demografi

2) faktor pendukung (enabling factors) yang meliputi: sumber daya dan potensi masyarakat

seperti lingkungan fisik dan sarana yang tersedia dan

3) faktor pendorong (reinforcing factors) yang meliputi sikap dan perilaku orang lain seperti

teman, orang tua, dan petugas kesehatan.

Begitu pula dengan perilaku pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini dan pemberian ASI

Eksklusif baik oleh ibu maupun petugas kesehatan , semuanya sangat dipengaruhi oleh faktor

faktor tersebut diatas. Faktor yang berpengaruh terhadap pelaksanaan IMD dan pemberian ASI

Eksklusif terutama faktor sikap, motivasi, maupun pengetahuan, baik sikap, motivasi, dan

pengetahuan ibu, maupun petugas kesehatan. Kesemuanya ini berperan penting satu dengan yang

lain dan saling bergandengan untuk mendukung program pemberian ASI dini.

Berikut beberapa factor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini

antara lain:

1. Kebijakan Instansi pelayanan kesehatan tentang IMD dan ASI Eksklusif.

2. Pengetahuan, Motivasi dan Sikap tenaga penolong persalinan

3. Pengetahuan, Motivasi dan Sikap ibu.


4. Gencarnya promosi susu formula

5. Dukungan anggota keluarga

Dalam hal ini perlu kiranya dibentuk klinik laktasi yang berfungsi sebagai tempat ibu

berkonsultasi bila mengalami kesulitan dalam menyusui. Tidak kalah pentingnya ialah sikap dan

pengetahuan petugas kesehatan, karena walaupun tatalaksana rumah sakit sudah baik bila sikap

dan pengetahuan petugas masih belum optimal maka hasilnya tidak akan memuaskan.

B. Konsep Dasar Air Susu Ibu (ASI)

1. Pengertian

Asi adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam-garam organik

yang disekresikan oleh kedua belah kelnjar mamae ibu, yang berguna sebagai makanan bagi

bayinya (Soetjiningsih, 1997). Asi adalah nutrisi yang terbaik bagi bayi dengan kandungan gizi

paling sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan optimal bayi (Suradi, 2004).

2. Pembentukan dan pengeluaran ASI

Keadaan buah dada pada 2 hari pertama nifas sama dengan keadaan dalam kehamilan. Pada

waktu ini buah dada/payudara belum mengandung susu, melainkan colustrum yang dapat

dikeluarkan dengan memijat areola mammae. Dibandingkan dengan ASI, colostrum lebih

banyak mengandung protein dan garam, gulanya sama tetapi lemaknya kurang. Dalam colostrum
terdapat euglobulin yang mengandung antibody sehingga menambah kekebalan anak terhadap

penyakit. ASI dihasilkan oleh kerja gabungan hormon dan reflek. Selama kehamilan, terjadi

perubahan hormon untuk menyiapkan jaringan kelenjar untuk membuat ASI. Segera setelah

persalinan, perubahan hormon membuat payudara mulai menghasilkan ASI. Bila bayi mulai

menghisap, dua refleks memungkinkan ASI keluar pada saat dan jumlah yang tepat, yaitu refleks

prolaktin dan refleks let down (Suradi,2004).

a. Refleks Prolaktin

Isapan bayi pada puting susu akan merangsang ujung-ujung araf sensoris yang berfungsi

sebagai reseptor mekanik. Rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus melalui medula spinalis

dan mesencephalon. Hipotalamus akan menekan pengeluaran faktor-faktor yang menghambat

sekresi prolaktin dan sebaliknya merangsang pengeluaran faktor-faktor yang memicu sekresi

prolaktin. Faktor-faktor ini akan merangsang adenohipofise (hipofise anterior) sehingga keluar

prolaktin.

b. Refleks Let Down

Bersamaan dengan pembentukan prolaktin oleh adenohipofise, rangsangan yang berasal dari

isapan bayi ada yang dilanjutkan ke neurohipofise (hipofise posterior) yang kemudian

mengeluarkan oksitosin. Melalui aliran darah, oksitosin yang sampai pada alveoli akan

mempengaruhi sel mioepitetium. Kontraksi dari sel akan memeras air susu yang telah dibuat,

keluar dari alveoli dan masuk ke sistem duktulus yang selanjutnya mengalir melalui duktus

laktiferus ke mulut bayi (Soetjiningsih,1997).

3. Manfaat utama ASI bagi bayi

Manfaat utama ASI bagi bayi, antara lain :


a. Sebagai nutrisi terbaik

ASI merupakan makanan terbaik yang haru diberikan pada bayi, karena di dalamnya

terkandung hampir semua zat gizi yang dibutuhkan oleh bayi. Untuk perkembangan kecerdasan

ASI mengendung berbagai nutrii paling tepat untuk mendukung perkembangan kecerdasan bayi.

Belum ada yang dapat menggantikan ASI karena ASI didesain khusus untuk bayi. Dengan

menjalankan tata laksana menyusui yang tepat dan benar, produksi ASI akan cukup sebagai

makanan tunggal sampai bayi berumur enam bulan.

b. Meningkatkan daya tahan tubuh

Bayi yang mendapat ASI lebih jarang menderita penyakit infeksi, bakteri, virus, dan jamur

karena ASI mengandung zat kekebalan tubuh yang melindungi bayi.

c. Mempunyai efek psikologis yang menguntungkan

Waktu menyusui, kulit bayi akan menempel pada kulit ibu. Kontak kulit yang dini akan

sangat besar pengaruhnya pada perkembangan bayi berikutnya. Interaksi yang timbul waktu

menyusui antara ibu dan bayi akan menimbulkan rasa aman bagi bayi. Perasaan aman ini penting

untuk menimbulkan dasar kepercayaan pada bayi )basic sense of trust), yaitu dengan mulai dapat

mempercayai orang lain (ibu) maka akan timbul rasa percaya pada diri sendiri.

d. Menyebabkan pertumbuhan yang baik

Bayi yang mendapat ASI mempunyai kenaikan berat badan yang baik setelah lahir,

pertumbuhan setelah periode perinatal yang baik dengan menurangi kemungkinan obesitas.

Frekuensi menyusui yang sering (tidak dibatasi) juga dibuktikan bermanfaat, karena volume ASI

yang dihasilkan lebih banyak, sehhingga penurunan berat badan bayi hanya sedikit

(Suradi,2004).
4. Kelancaran Produksi ASI

Pada Hari pertama, bayi cukup di susukan selama 10-15 menit, untuk merangsang

produksi ASI dan membiasakan puting susu diisap oleh bayi. Untuk mengetahui banyaknya

produksi ASI, beberapa kriteria yang dipakai sebagai patokan untuk mengetahui jumahASI

lancar atau tidak adalah :

1. ASI yang banyak dapat merembes keluar melalui puting.

2. Sebelum disusukan payudara terasa tegang

3. Berat badan bayi naik dengan memuaskan sesuai umur :

a. 1-3 bulan ( kenaikan berat badan rata-rata 700 gr/bulan)

b. 4-6 bulan ( kenaikan berat badan rata-rata 600 gr/bulan)

c. 7-9 bulan ( kenaikan berat badan rata-rata 400 gr/bulan)

d. 10-12 bulan ( kenaikan berat badan rata-rata 300 gr/bulan)

4. Jika ASI cukup, setelah menyusu bayi akan tertidur /tenang selama 3-4 jam.

5. Bayi kencing lebih sering, sekitar 8 kali sehari.

Bayi yang mendapatkan ASI memadai umumnya lebih tenang, tidak rewel dan dapat tidur

pulas. Tanda pasti bahwa ASI memadai dapat terlihat pada penambahan berat badan bayi yang

baik. Dalam keadaan normal usia 0-5 hari biasanya berat badan bayi akan menurun. Setelah

usia 10 hari berat badan bayi akan kembali seperti lahir. Secara alamiah ASI diproduksi dalam

jumlah yang sesuai dengan kebutuhan bayi.

Ibu yang melahirkan dengan cara operasi caesar seringkali sulit menyusui banyinya segera

setelah lahir, terutama jika ibu diberikan anastesi umum, ibu relatif tidak sadar untuk dapat

mengurus bayi di jam pertama setelah bayi lahir, meskipun ibu mendapat efidural yang
membuatnya tetap sadar, kondisi luka operasi di bagian perut relatif membuat proes menyusui

sedikit terhambat. Sementara itu bayi mungkin mengantuk dan tidak responsif untuk menyusu

terutama jika ibu mendapat obat-obatan penghilang rasa sakit sebelum operasi. Beberapa jenis

anastesi mengurangi refleks bayi mencari payudara ibu dan menyusu pada ibunya, juga

meningkatkan temperatur tubuh bayi dan tangisan bayi (Ranjo-Arvidson et.al,2001).

5. Faktor-faktor yang mempengaruhuhi laktasi

a. Keadaan gizi ibu

Kebutuhan tambahan kalori dan nutrien diperlukan sejak hamil. Sebagian kalori ditimbun

untuk persiapan produksi ASI. Seorang ibu hamil dan menyusui perlu mengkonsumsi makanan

dalam jumlah yang cukup dan seimbang agar kuantitas dan kualitas ASI terpenuhi. Dengan

demikian diharapkan bayi dapat tumbuh kembang secara optimal selama 6 bulan pertama hanya

dengan ASI (menyusui secara eksklusif).

b. Pengalaman / sikap ibu terhadap menyusui

Ibu yang berhasil menyusui anak sebelumnya, dengan pengetahuan dan pengalaman cara

pemberian ASI secara baik dan benar akan menunjang laktasi berikutnya. Sebaliknya, kegagalan

menyusui di masa lalu akan mempengaruhi pula sikap seorang ibu terhadap penyusuan sekarang.

Dalam hal ini perlu ditumbuhkan motivasi dalam dirinya secara sukarela dan penuh rasa percaya

diri mampu menyusui bayinya. Pengalaman masa kanak-kanak, pengetahuan tentang ASI, naihat,

penyuluhan, bacaan, pandangan dan nilai yang berlaku di masyarakat akan membentuk sikap ibu

yang positif terhadap masalah menyusui.

c. Keadaan emosi
Gangguan emosional, kecemasan, stres fisik dan psikis akan mempengaruhi produksi ASI.

Seorang ibu yang masih harus menyelesaikan kuliah, ujian,dsb, tidak jarang mengalami ASInya

tidak dapat keluar. Sebaliknya, suasana rumah dan keluarga yang tenang, bahagia, penuh

dukungan dari anggota keluarga yang lain (terutama suami), akan membentu menunjang

keberhasilan menyusui. Demikian pula lingkungan kerja akan berpengaruh ke arah positif, atau

sebaliknya.

d. Keadaan payudara

Besar kecil dan bentuk payudara tidak mempebfaruhi produksi ASI. Tidak ada jaminan bahwa

payudara besar akan menghasilkan lebih banyak ASI atau payudara kecil menghasilkan lebih

sedikit. Produksi ASI lebih banyak ditentukan oleh faktor nutrisi, frekwensi penghisapan puting

dan faktor emosi. Sehubungan dengan payudara, yang penting mendapat perhatian adalah

keadaan puting. Puting harus disiapkan agar lentur dan menjulur, sehingga mudah ditangkap

oleh mulut bayi. Untuk puting susu yang terbenam atau masuk kedalam dapat diperbaiki dengan

melakukan gerakan menurut Hoffman atau dengan memakai spuit. Dengan puting yang baik,

puting tidak mudah lecet , refleks menghisap menjadi lebih baik, dan produksi ASI menjadi lebih

baik juga.

e. Peran masyarakat dan pemerintah

Keberhasilan laktasi merupakan proses belajar-mengajar. Diperlukan kelompok dalam

masyarakat di luar petugas kesehatan yang secara sukarela memberikan bimbingan untuk

peningkatan penggunaan ASI. Kelompok ini dapat diberi nama Kelompok Pendukung ASI (KP-

ASI), yang dapat memanfaatkan kegiatan posyandu dengan membuat semacam pojok ASI.

C. Inisiasi Menyusui Dini terhadap Produksi ASI


Dengan dilakukannya inisiasi menyusui dini kontak emosi ibu dan bayi lebih dini dan lebih

rapat. Begitu produksi ASI sudah terjadi dengan baik, pengosongan sakus alveolaris mammae

yang teratur akan mempertahankan produksi tersebut sehingga ASI menjadi lancar. Walaupun

prolaktin bertanggung jawab dalam memulai produksi air susu, penyampaian air susu ke bayi

dan pemeliharaan laktasi bergantung pada stimulasi mekanis pada puting susu oleh isapan bayi.

Menyusui dini yang efesien berkorelasi dengan penurunan kadar bilirubin darah. Kadar

protein yang tinggi di dalam kolostrum mempermudah ikatan bilirubin dan kerja laksatif

kolostrum, sehingga kolostrum secara bertahap berubah menjadi susu ibu. Dan apabila ibu

memilih untuk tidak menyusui, sekresi dan ekskresi kolostrum menetap selama beberapa hari

pertama setelah wanita melahirkan. Apabila bayi belum juga melakukan stimulasi (menghisap),

laktasi akan berhenti dalam beberapa hari sampai satu minggu

BAB III

KERANGKA KONSEP

A.
Kelancaran Produksi ASI dengan
kriteria :
Bayi lebih tenang, tidak rewel,
dan dapat tidur pulas setelah
menyusui.
Bayi kencing 8 kali sehari
ASI merembes keluar melalui
puting susu
Sebelum disusukan payudara
terasa tegang

Kerangka Konsep

Inisiasi Menyusui Dini


Keterangan :

: variabel yang diteliti

: variabel yang tidak diteliti

Gambar 1.
Kerangka Konsep Pengaruh Inisiasi Menyusui Dini terhadap
Produksi ASI Ibu Post Partum di RSUD Karangasem
Tahun 2011
B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

1. Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu inisiai menyusui dini dan kelancaran

produksi ASI. Raffi (Nursalam, 2001) menyatakan, variabel adalah suatu ciri yang dimiliki oleh

suatu kelompok (orang, benda, situasi) yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok

tersebut. Inisiasi menyusui dini merupakan variabel bebas sedangkan kelancaran produki ASI

merupakan variabel terikat.

2. Definisi Operasional

Variabel yang didefinisikan perlu didefinisikan secara operasional, sebab setiap istilah

(variabel) dapat diartikan secara berbeda-beda oleh orang yang berlainan ( Nursalam, 2001).

Definisi operasional adalah seperangkat instruksi yang lengkap untuk menetapkan apa yang akan

diukur dan bagaimana cara pengukurannya yang dibuat menurut pemikiran peneliti.

Definisi operasional yang merupakan penjelasan dari variabel perlu disusun untuk menghindari

perbedaan persepsi, adapun definisi operasional dalam dilihat dalam :


Tabel 1

Definisi Operasional pengaruh Inisiasi Menyuui Dini terhadap

Kelancaran Produksi ASI pada Ibu Post Partum di RSUD Karangasem

Tahun 2011

No Variabel Definisi Cara Ukur Hasil Ukur Skala

Operasional
1 Inisiasi Menyusui Nilai Observasi Dilakukan : 1 Nominal

Dini komulatif Tidak :0

berdasarkan

apa yang

dilihat

dilapangan
2 Kelancaran Nilai Observasi Dilakukan : 1 Nominal

Produksi Asi komulatif Tidak :0

berdasarkan

apa yang

dilihat

dilapangan

C. Hipotesa

Ada hubungan antara inisiasi menyusui dini terhadap kelancaran produksi ASI pada ibu post

partum di Ruang Nifas RSUD Karangasem.


BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan Observasional Analitik, yaitu peneliti mencoba

mencari hubungan antar variabel (Setiadi,2007). Penelitian ini perlu di lakukan analisis terhadap

data yang dikumpulkan, seberapa besar hubungan antar variabel yang ada.

Metode pendekatan yang dilakukan adalah crossectoinal, yaitu variabel sebab atau risiko dan

akibat atau kasus yang terjadi pada objek penelitian diukur dan dikumpulkan, seaat atau satu kali

saja dalam satu kali waktu (dalam waktu yang bersamaan).

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Ruang Nifas RSUD Karangasem. Penelitian dilaksanakan pada

tanggal 31 Mei 2011 s/d 30 juni 2011.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi Penelitian

Populasi adalah keseluruhan/himpunan objek dengan ciri yang sama (Ribek, dkk, 2005).

Pada penelitian ini populasinya adalah seluruh ibu pot partum yang ada di RSUD Karangasem.
2. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih untuk bisa mewakili populasi (Nursalam,

2003). Kriteria inklusi adalah karakteristik sampel yang dapat dimasukkan atau yang layak untuk

diteliti. Sedangkan kriteria eksklusi adalah karakteristik sampel yang tidak dimasukkan dalam

kriteria inklusi dari suatu penelitian (Nuralam, 2001).

Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:

a. Pasien post partum yang bersedia diteliti

b. Inisiasi menyusui dini dilakukan segera dalam satu jam pertama setelah lahir

c. Ibu dan bayi sehat

Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah:

a. Pasien post partum yang mengalami komplikai

b. Bayi yang tidak memenuhi kriteria inisiasi menyusui dini

c. Inisiasi menyusui dini tidak dilakukan segera setelah satu jam pertama kelahiran (>1jam).

3. Sampling

Penelitian ini, sampel dari ibu post partum yang melahirkan di RSUD Karangasem dengan

pemilihan sampel secara consecutive sampling (berurutan) adalah pemilihan sampel dengan

menetapkan subjek yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam penelitian sampai

kurun waktu tertentu sehingga jumlah pasien yang diinginkan terpenuhi (Sastroasmoro dan

Ismail dalam Nursalam, 2003).

Besar sampel ditentukan dengan rumus finit population. Dimana rata-rata per bulan dalam

satu tahun ibu post partum yang melahirkan di RSUD Karangasem diketahui sebesar 60 orang.

Jadi dapat dirumuskan sebagai berikut :


Rumus : n = N

1+N(d)2

Jumlah Populasi (N) = 60 orang

Perbedaan Sampel = 5% (tingkat presisi)

Maka besarnya sampel adlah :

n= 60
1+60(0,05)2
n= 60
1,15
n= 52,173
Jadi besar sampel yang digunakan adalah 52 orang.

Dari penelitian yang dilakukan dari tanggal 30 Mei 2011 s/d 31 Juni 2011 jumlah responden

yang dipergunakan 52 orang yang melakukan inisiasi menyusui dini selama perawatan di rumah

sakit.

D. Jenis Data dan Cara Pengumpulan Data

1. Jenis data yang dikumpulkan

Data yang dikumpulkan adalah data primer yang didapat dari sampel melalui observasi.

2. Cara pengumpulan data

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data yang diperlukan sesuai variabel yang

diteliti adalah dengan observasi oleh peneliti. Responden yang terpilih diminta mengisi form

menjadi responden. Setelah didapatkan sample sesuai dengan kriteria inklusi, maka sample

dilakukan observasi pada hari pertama. Langkah selanjutnya adalah menganjurkan setiap sample

yang terpilih untuk melakukan inisiasi menyusui dini selama di rawat di rumah sakit dan

observasi dilanjutkan pada hari ke tiga.


3. Instrumen Pengumpulan data

Pada penelitian ini menggunakan lembar observasi yang dirancang sendiri oleh peneliti sesuai

dengan definisi operasional dari variabel yang diteliti.

E. Pengolahan Data dan Analisa Data

Kegiatan pengolahan data yang merupakan suatu upaya memprediksi dan menyiapkan data

sedemikian rupa agar dianalisa lebih lanjut dan mendapatkan data yang siap disajikan.

1. Teknik pengolahan data dibagi menjadi 4 tahap yaitu :

a. Editing

Kegiatan pengecekan hasil observasi apakah sudah esuai dengan yang diharapkan peneliti.

b. Coding

Memberi kode angka pada kata yang diperoleh sesuai rencana

c. Processing atau Entry data

Suatu upaya untuk memasukkan data ke dalama media agar peneliti mudah mencari bila

diperlukan. Setelah data diedit akan dikoding, maka data dimasukkan ke dalam dissket atau

program database yang diolah mempergunakan komputer.

d. Clening

Membersihkan data/mencocokkan data dengan melihat variabel, apakah data sudah

benar/belum.

2. Analisa Data

Data yang telah diolah kemudian dilakukan analisa data dengan menggunakan uji non

parametrik (chi-square) yang dipakai untuk tingkatan pengukuran nominal. Uji ini digunakan
untuk menentukan apakah frekwensi kejadian yang diobservasi pada kategori tertentu masuk

kedalam rentang frekwensi yang diharapkan pada kategori tersebut.

Rumus :

X2= (fo-fh)2

fh

X2= nilai chi-square

fo = frekwensi observasi/nyata dari hasil penelitian

fh = frekweni yang diharapkan

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bagi bayi ASI merupakan makanan yang paling sempurna, dimana kandungan gizi sesuai

kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. ASI juga mengandung zat untuk

perkembangan kecerdasan, zat kekebalan (mencegah dari berbagai penyakit) dan dapat menjalin

hubungan cinta kasih antar bayi dengan ibu. Manfaat menyusui/memberikan asi bagi ibu tidak

hanya menjalin kasih sayang, tetapi terlebih lagi dapat mengurangi perdarahan setelah

melahirkan, mempercepat pemulihan kesehatan ibu seperti involusi rahim, menunda kehamilan,

mengurangi resiko terkena kanker payudara, dan merupakan kebahagiaan tersendiri bagi ibu. Di

antara sekian banyak manfaat bagi bayi, sebuah penelitian terbaru di AS mengindikasikan bahwa

ASI dapat mempengaruhi pembentukan sistem metabolisme lemak dalam darah. Seperti

dipublikasikan The American Journal of Clinical Nutrition (2004), pemberian ASI semasa bayi
akan membuat seseorang tumbuh lebih sehat karena kadar kolesterolnya cenderung lebih baik

saat mencapai usia dewasa.

Suatu hasil penelitian di Ghana yang diterbitkan oleh jurnal pediatriks menunjukkan

bahwa 16% kematian bayi dapat dicegah melalui pemberian ASI pada bayi sejak hari pertama

kelahirannya. Angka ini naik menjadi 22% jika pemberian ASI dimulai dalam 1 jam pertama

setelah kelahirannya. ASI adalah asupan gizi yang terbaik untuk melindungi dari infeksi

pernafasan, diare, alergi, sakit kulit, asma, obesitas juga membentuk perkembangan intelegensia,

rohani, perkembangan emosional. Hasil telaah dari 42 negara menunjukkan bahwa ASI eksklusif

memiliki dampak terbesar terhadap penurunan angka kematian balita, yaitu 13% dibanding

intervensi kesehatan masyarakat lainnya (Roesli, 2008).

Penelitian menyatakan bahwa inisiasi menyusu dini dalam 1 jam pertama dapat mencegah

22% kematian bayi di bawah umur 1 bulan di negara berkembang (APN, 2007). Pencapaian 6

bulan ASI Eksklusif bergantung pada keberhasilan inisiasi dalam satu jam pertama. ASI

Eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan, bersamaan dengan pemberian makanan

pendamping ASI dan meneruskan ASI dari 6 bulan sampai 2 tahun, dapat mengurangi sedikitnya

20% kematian anak balita (Roesli, 2008).

Inisiasi Menyusu Dini yaitu memberikan ASI kepada bayi baru lahir, bayi tidak boleh

dibersihkan terlebih dahulu dan tidak dipisahkan dari ibu. Pada inisiasi menyusu dini ibu segera

mendekap dan membiarkan bayi menyusu dalam 1 jam pertama kelahirannya (Roesli, 2008).

Peran Millenium Devolepment Goals (MDGs) dalam pencapaian Inisiasi Menyusu Dini (IMD),

yaitu Inisiasi Menyusu Dini dapat meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif dan lama menyusui

maka akan membantu mengurangi kemiskinan, membantu mengurangi kelaparan karena ASI

dapat memenuhi kebutuhan makanan bayi sampai usia dua tahun, membantu mengurangi angka
kematian anak balita. Pemberian ASI dikenal sebagai salah satu hal yang berpengaruh paling

kuat terhadap kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pemberian ASI secara dini tidak terlepas dari peran tenaga kesehatan khususnya dokter dan

bidan. Namun, di Indonesia masih banyak tenaga kesehatan maupun pelayanan kesehatan

(termasuk Rumah Sakit) yang belum mendukung pemberian ASI secara dini dengan alasan

keadaan ibu masih lemah, masih banyak darah dan lendir yang harus dibersihkan, takut bayi

terkena hipotermi, bahkan ada yang mengatakan Inisiasi Menyusu Dini dengan membiarkan bayi

merangkak sendiri mencari puting susu ibu adalah hal primitife yang melecehkan bangsa

Indonesia (padahal IMD juga dilakukan di negara maju). Banyak rumah sakit dan bidan yang

langsung memberikan susu formula begitu bayi lahir jika ASI belum keluar (Soegiarto, 2008).

Menyusui bayi di Indonesia sudah menjadi budaya namun praktik pemberian ASI masih

jauh dari yang diharapkan. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2010 hanya 10%

bayi yang memperoleh ASI pada hari pertama, yang diberikan ASI kurang dari 2 bulan sebanyak

73%, yang diberikan ASI 2 sampai 3 bulan sebanyak 53% yang diberikan ASI 4 sampai 5 bulan

sebanyak 20% dan menyusui eksklusif sampai usia 6 bulan sebanyak 49% (WHO, 2010)

Kesulitan memberikan ASI memang kerap ditemui para ibu-ibu muda kita. Beberapa ibu

muda akhirnya banyak yang sulit untuk memberikan ASInya. Beberapa dari mereka akhirnya

sama sekali tidak dapat mengeluarkan ASI untuk buah hatinya. Hal ini dapat diatasi, terutama

bila dilakukan tindakan inisiasi dini menyusui sejak menit-menit pertama kelahiran anak tersebut

(hhttp://kuliahbidan.wordpress.com/2011/04/12/kunci-sukses-asi-eksklusif/).

Dr.Utami Roesli SpA MBA IBCLC pakar ASI dan Sentral Laktasi Indonesia (2000), juga

menguatkan perlunya inisiasi dengan mengatakan bahwa dalam 30 menit pertama, bayi istirahat

dalam keadaan siaga, sesekali melihat ibunya, beradaptasi, dan menyesuaikan diri dengan
lingkungan, 40 menit pertama bayi mulai mengeluarkan suara, membuat gerakan menghisap dan

memasukkan tangan ke mulut. Untuk itu Inisiasi menyusui dini dapat memberikan kesempatan

pada bayi untuk mulai menyusu segera setelah bayi dilahirkan. Maka perlu dipastikan bahwa

bayi mendapatkan kesempatan untuk melakukan proses inisiasi menyusui paling tidak satu jam

pertama setelah ia lahir. Hal ini akan menunjang proses lancarnya ASI di kemudian hari.

Wilayah Kabupaten Karangasem merupakan salah satu daerah tertinggal di Propinsi Bali

dari 199 Kabupaten Tertinggal di Indonesia, dengan luas wilayah 839, 54 Km. Oleh karena itu di

bidang kesehatan Kabupaten Karangasem semakin gencar melakukan perbaikan. Seperti

dikatakan Direktur RSUD Karangasem, dr. I Gede Parwatha Yasa, Sp.Og melaporkan, gerakan

Rumah Sakit Sayang Ibu dan bayi (GRSSI-B) khusus melaksanakan 10 langkah menuju

perlindungan ibu, bayi secara terpadu dan paripurna. Prgoram tersebut bertujuan untuk

mempercepat penurunan angka kematian Ibu (AKI) dan Angka kematian Bayi (AKB) yag masih

tinggi yakni 228/100.000 KH untuk AKI dan 34/1000KH untuk AKB.

RSUD Karangasem menginginkan pengembangan standar pelayanan perlindungan bayi

dan ibu secara terpadu dan paripurna, meningkatkan kepedulian dan kualitas pelayanan

kesehatan ibu dan bayi, menigkatkan kesiapan rumah sakit melaksanakan fungsi pelayanan

obstetric dan neonatal termasuk pelayanan kegawatdaruratan, meningkatkan fungsi rumah sakit

sbagai pusat rujukan, meningkatkan fungsi RS sebagai model dan pembina tehnis melaksanakan

inisiasi menyusui dini dan pemberian ASI eksklusif. Langkah lain yang konsisten dilakukan

selama ini meliputi penataan menejemen RS mendukung program pelayanan kesehatan Ibu dan

bayi, memberikan pelayanan antenatal, konseling kesehatan perinatal da neonatal, melaksanakan

persalinan bersih dan aman, inisiasi menyusuai dini, kontak kulit ibu dan bayi, melaksanakan

phonek 24 jam, melaksanakan pelayanan adekuat untuk nifas, rawat gabung dan pelayaan
neonatal sakit. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti hubungan

inisiasi menyusui dini terhadap kelancaran produksi ASI di wilayah kerja RSUD Karangasem.

B. Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan dari apa yang diuraikan di atas maka dapat ditarik masalah penelitian sebagai

berikut :

Adakah hubungan inisiasi menyusui dini terhadap kelancaran produksi ASI pada ibu post

partum di Ruang NIfas RSUD Karangasem Tahun 2011?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini meliputi tujuan umum dan tujuan khusus antara lain :

1. Tujuan Umum

Mengetahui hubungan inisiasi menyusui dini terhadap kelancaran produksi ASI pada ibu post

partum di Ruang Nifas RSUD Karangasem tahun 2011.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui karakteristik ibu post partum yang melakukan inisiasi menyusui dini

b. Mengetahui gambaran pelaksanaan inisiasi menyusui dini di RSUD Karangasem

c. Menganalisa pengaruh inisiasi menyusui dini dengan kelancaran ASI

D. Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian yang dilakukan akan didapatkan manfaat penelitian yang ditinjau

dari segi praktis dan teoritis.


1. Segi praktis

Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pengetahuan bagi pihak

institusi tempat diadakannya penelitian yaitu RSUD Karangasem. Dan mampu mengajak kaum

ibu untuk mengubah perilaku dan pola pikir ibu tentang ASI. Bahwa ASI saja cukup untuk

tumbuh kembang bayi dan dukungan keluarga dalam proes pemberian ASI sehingga ibu

memiliki motivasi yang kuat untuk memberi ASI kepada bayinya.

2. Segi teoritis

Hasil penelitian ini dapat bermanfaat guna menambah pembendaharaan ilmu pengetahuan

khususnya di bidang keperawatan Maternitas dan sebagai perbandingan untuk peneliti

selanjutnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada Bab ini akan dibahas tentang konsep-konsep teori yang berhubungan dengan

penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut.

A. Inisiai Menyusui Dini

a. Definisi Inisiasi Menyusu Dini

Inisiasi Menyusu Dini ( early initiation) atau permulaan menyusu dini adalah mulai

menyusu sendiri segera setelah lahir. Asalkan dibiarkan kontak kulit bayi dengan kulit ibunya,

setidaknya selama satu jam segera setelah lahir. Cara bayi melakukan inisiasi menyusui dini ini

dinamakan the breast crawl atau merangkak mencari payudara ( Roesli, 2008, hal.3). Inisiasi
menyusu dini (early initation) atau permulaan menyusu dini adalah bayi mulai menyusu sendiri

segera setelah lahir. Cara bayi melakukan inisiasi menyusu dini dinamakan the best crawl atau

merangkak mencari payudara (Ambarwati dan Eny ,2009 hal. 36). Inisiasi menyusu dini (IMD)

adalah proses membiarkan bayi dengan nalurinya sendiri dapat menyusu segera dalam satu jam

pertama setelah lahir, bersamaan dengan kontak kulit antara bayi dengan kulit ibunya, bayi

dibiarkan setidaknya selama satu jam di dada ibu, sampai dia menyusui sendiri (Unicef, 2007;

Depkes RI, 2008)

Dalam istilah yang lain, Inisiasi Menyusui Dini disebut juga sebagai proses Breast Crawl:

Dalam sebuah publikasi oleh breastcrawl.org, yang berjudul Breast Crawl: A Scientific

Overview, ada beberapa hal yang menyebabkan bayi mampu menemukan sendiri puting Ibunya,

dan mulai menyusui, yaitu:

a. Sensory Inputs

Indera yang terdiri dari penciuman; terhadap bau khas Ibunya setelah melahirkan,

penglihatan; karena bayi baru dapat mengenal pola hitam putih, bayi akan mengenali puting dan

wilayah areola ibunya karena warna gelapnya. Berikutnya adalah indera pengecap; bayi mampu

merasakan cairan amniotic yang melekat pada jari-jari tangannya, sehingga bayi pada saat baru

lahir suka menjilati jarinya sendiri. Kemudian, dari indera pendengaran; sejak dari dalam

kandungan suara ibu adalah suara yang paling dikenalnya. Dan yang terakhir dari indera perasa

dengan sentuhan; sentuhan kulit-ke-kulit antara bayi dengan ibu adalah sensasi pertama yang

memberi kehangatan, dan rangsangan lainnya.

b. Central Component.
Otak bayi yang baru lahir sudah siap untuk segera mengeksplorasi lingkungannya, dan

lingkungan yang paling dikenalnya adalah tubuh ibunya. Rangsangan ini harus segera dilakukan,

karena jika terlalu lama dibiarkan, bayi akan kehilangan kemampuan ini. Inilah yang

menyebabkan bayi yang langsung dipisah dari ibunya, akan lebih sering menangis daripada bayi

yang langsung ditempelkan ke tubuh ibunya.

c. Motor Outputs.

Bayi yang merangkak di atas tubuh ibunya, merupakan gerak yang paling alamiah yang

dapat dilakukan bayi setelah lahir. Selain berusaha mencapai puting ibunya, gerakan ini juga

memberi banyak manfaat untuk sang Ibu, misalnya mendorong pelepasan

plasenta dan mengurangi pendarahan pada rahim Ibu.

Tidak semua ibu dapat melakukan inisiasi menyusui dini. Bayi dan ibu yang dapat

melakukan inisiai menyusui dini harus memenuhi syarat/kriteria sebagai berikut :

a. Lahir spontan, baik presentasi kepala maupun bokong.

b. Bila lahir dengan tindakan, maka inisiasi menyuui dini dilakukan setelah bayi cukup sehat,

refleks menghisap baik.

c. bayi yang lahir dengan sectio cesarea dengan anestesia umum, inisiasi menyusui dini

dilakukkan segera setelah kondisi ibu dan bayi stabil.

d. Bayi tidak asfiksia setelah lima menit pertama (nilai apgar minimal 7)

e. Umur 37 minggu atau lebih.

f. Berat lahir 2000-2500 gram atau lebih


g. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi intrapartum

h. Bayi dan ibu sehat

Jika tidak memenuhi kriteria diatas, maka inisiasi menyusui dini tidak bisa dilakukan

misalnya pada :

a. Bayi yang sangat prematur

b. Bayi berat lahir kurang dari 2000-2500 gram.

c. Bayi dengan sepsis

d. Bayi dengan gangguan nafas

e. Bayi dengan cacat bawaan berat, misalnya : hidrosefalus, meningokel, anensefali, atresiia ani,

labio, omfalokel)

f. Ibu dengan infeksi berat, misalnya KP terbuka, sepsis.

b. Manfaat Inisiasi Menyusu Dini

Adapun manfaat dari inisiasi menyusu dini secara umum menurut dr. Utami Roesly adalah

sebagai berikut:

1. Dada ibu menghangatkan bayi dengan tepat selama bayi merangkak mencari payudara. Ini akan

menurunkan kematian bayi karena kedinginan (Hypotermia).

2. Ibu dan bayi merasa lebih tenang. Pernapasan dan detak jantung bayi lebih stabil. Bayi akan

lebih jarang menanggis sehingga mengurangi pemakaian energi.

3. Saat merangkak mencari payudara, bayi memindahkan bakteri dari kulit ibunya dan ia akan

menjilat-jilat kulit Ibu, menelan bakteri baik dikulit Ibu. Bakteri baik ini akan berkembang biak

membentuk koloni di kulit dan usus bayi, menyaingi bakteri jahat dari lingkungan.
4. Bonding (Ikatan kasih sayang) antara Ibu-bayi akan lebih baik karena pada 1-2 jam pertama,

bayi dalam keadaan siaga. Setelah itu, biasanya bayi tidur dalam waktu yang lama.

5. Makna awal non-ASI mengandung zat putih telur yang bukan berasal dari susu manusia,

misalnya dari hewan. Hal ini dapat mengganggu pertumbuhan fungsi usus dan mencetuskan

alergi lebih awal.

6. Bayi yang diberi kesempatan menyusu dini lebih berhasil menyusui eksklusif dan akan lebih

lama disusui.

7. Hentakan kepala bayi ke dada Ibu, sentuhan tangan bayi di puting susu dan sekitarnya, emutan,

dan jilatan bayi pada puting Ibu merangsang pengeluaran hormon oksitosin.

8. Bayi mendapatkan ASI kolostrum- ASI yang pertama kali keluar. Cairan emas ini kadang juga,

dinamakan the gift of life. Bayi yang diberi kesempatan inisiasi menyusui dini lebih dulu

mendapatkan kolostrum daripada yang tidak diberi kesempatan.

c. Keuntungan Inisiasi Menyusu Dini Bagi Ibu dan Bayi

1. Keuntungan kontak kulit dengan kulit untuk bayi

Mengoptimalkan keadaan hormonal Ibu dan bayi. Kontak memastikan perilaku optimum

menyusu berdasarkan insting dan bisa diperkirakan : menstabilkan pernapasan, mengendalikan

temperatur tubuh bayi, memperbaiki/mempunyai pola tidur yang lebih baik, mendorong

ketrampilan bayi untuk menyusu yang lebih cepat dan efektif, meningkatkan kenaikan berat

badan (kembali ke berat lahirnya dengan lebih cepat), meningkatkan hubungan antara Ibu dan

bayi, tidak terlalu banyak menangis dalam satu jam pertama, menjaga kolonisasi kuman yang

aman dari ibu di dalam perut bayi sehingga memberikan perlindungan terhadap infeksi, bilirubin

akan lebih cepat normal dan mengeluarkan mekonium lebih cepat sehingga menurunkan
kejadian ikterus bayi baru lahir, kadar gula dan parameter biokimia lain yang lebih baik selama

beberapa jam pertama hidupnya.

2. Keuntungan kontak kulit dengan kulit untuk bayi

Mengoptimalkan keadaan hormonal Ibu dan bayi. Kontak memastikan perilaku optimum

menyusu berdasarkan insting dan bisa diperkirakan : menstabilkan pernapasan, mengendalikan

temperatur tubuh bayi, memperbaiki/mempunyai pola tidur yang lebih baik, mendorong

ketrampilan bayi untuk menyusu yang lebih cepat dan efektif, meningkatkan kenaikan berat

badan (kembali ke berat lahirnya dengan lebih cepat), meningkatkan hubungan antara Ibu dan

bayi, tidak terlalu banyak menangis dalam satu jam pertama, menjaga kolonisasi kuman yang

aman dari ibu di dalam perut bayi sehingga memberikan perlindungan terhadap infeksi, bilirubin

akan lebih cepat normal dan mengeluarkan mekonium lebih cepat sehingga menurunkan

kejadian ikterus bayi baru lahir, kadar gula dan parameter biokimia lain yang lebih baik selama

beberapa jam pertama hidupnya.

3. Keuntungan menyusu dini untuk bayi :

Makanan dengan kualitas dan kuantitas optimal agar kolostrum segera keluar yang

disesuaikan dengan kebutuhan bayi. Memberikan kesehatan bayi dengan kekebalan pasif yang

segera kepada bayi. Kolostrum adalah imunisasi pertama bagi bayi. Meningkatkan kecerdasan.

Membantu bayi mengkoordinasikan hisap, telan dan napas. Meningkatkan jalinan kasih sayang

Ibu-bayi. Mencegah kehilangan panas. Merangsang kolostrum segera keluar

4. Keuntungan menyusu dini untuk Ibu

Merangsang produksi oksitosin dan prolaktin. Meningkatkan keberhasilan produksi ASI.

Meningkatkan jalinan kasih sayang Ibu-bayi. Memulai menyusui dini akan Mengurangi 22%
kematian bayi berusia 28 hari ke bawah. Meningkatkan keberhasilan menyusui secara eksklusif

dan meningkatkan lamanya bayi disusui. Merangsang produksi susu. Memperkuat refleks

menghisap bayi. Refleks menghisap awal bayi pada bayi paling kuat dalam beberapa jam

pertama setelah lahir.

d. Langkah Inisiasi Menyusu Dini dalam Asuhan Bayi Baru Lahir

Menurut Roesli (2005), berikut ini 5 tahapan dalam proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD):

1. Dalam 30 menit pertama; Istirahat keadaan siaga, sesekali melihat ibunya dan menyesuaikan diri

dengan lingkungan

2. 30-40 menit; Mengeluarkan suara, memasukkan tangan ke mulut gerakan menghisap

3. Mengeluarkan air liur

4. Bergerak kearah payudara; kaki menekan perut ibu, areola menjadi sasaran, menjilati kulit ibu

sampai ujung sternum, kepala dihentak-hentakkan ke dada ibu, menoleh kekanan kekiri ,

menyentuh putting susu dengan tangan bayi

5. Menemukan putting; menjilat, mengulum putting, membuka mulut dengan lebar dan melekat

dengan baik dan menghisap puting susu.

Sedangkan berikut ini adalah 11 tatalaksana Inisiasi Menyusu Dini:

1. Dianjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu saat persalinan.

2. Dalam menolong ibu saat melahirkan, disarankan untuk tidak atau mengurangi penggunaan obat

kimiawai.

3. Dibersihkan dan dikeringkan, kecuali tangannya, tanpa menghilangkan vernik caseosanya.

4. Bayi ditengkurapkan di perut ibu dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu. Keduanya diselimuti,

bayi dapat diberi topi.


5. Anjurkan ibu menyentuh bayi untuk merangsang bayi mendekati puting susu.

Diposkan oleh DwityaWulant di 17.42


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Posting Lebih Baru Beranda


Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Mengenai Saya

DwityaWulant
Denpasar, Bali, Indonesia
STIKES WIRA MEDIKA PPNI BALI
Lihat profil lengkapku

Follow by Email

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Pengikut

Fish
Arsip Blog
2011 (2)

o November (2)

PEROKOK PASIF, ANCAMAN YANG TERLUPAKAN

Inisiasi Menyusu dini dengan Kelancaran Asi