Anda di halaman 1dari 7

Sebagai dasar ketetapan ini adalah firman Allah SWT dalam Al-Furqan ayat 72 yang berbunyi:

Dan orang-orang yang tidak menghadiri kepalsuan ( memberikan persaksian palsu), dan apabila
mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah,
mereka lalui saja dengan menjaga kehormatan dirinya.

Di dalam menginterpretasikan ayat ini terdapat beberapa riwayat dari Tabiin dan lain-lainnya.

Diriwayatkan dari ar-Rabi bin Annas, ia berkata, Yang dimaksud adalah hari-hari raya orang-orang
musyrik. Dan yang semakna dengan ini diriwayatkan dari Ikrimah, dia berkata, Yaitu permainan
yang mereka lakukan pada zaman jahiliyah.

Diriwayatkan dari Amr bin Murrah bahwa yang dimaksud dengan :

( Tidak memberikan persaksian palsu/tidak mendatangi kepalsuan) ialah tidak terlibat dan tidak turut
serta orang-orang musyrik dalam kemusyrikan mereka dan tidak bercampur-baur dengan mereka.

Diriwayatkan dari Atha bin Yasar, ia berkata: Umar RA telah berkata:

Jauhkanlah dirimu dari pembicaraan-pembicaraan orang non Muslim yang tidak dimengerti, dan
janganlah kamu masuk kepada orang-orang musyrik pada hari raya mereka di dalam gereja mereka.

Tetapi ada suatu kaum yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan : syahadatuz-zuur (
persaksian palsu) itu ialah berdusta. Namun pendapat ini perlu dianalisis, karena Allah berfirman :

( tanpa menggunakan huruf Ba) dan tidak mengatakan:



( dengan menggunakan huruf Ba

Orang-orang Arab mengatakan, Syahidtu kadzaa hadhartuhu ( Syahidtu kadzaa, dalam arti saya
menghadirinya), seperti perkataan Ibnu Abbas RA:

Saya menghadiri shalat Id bersama Rasulullah SAW.

Dan juga seperti perkataan Umar RA:

Ghanimah ( rampasan perang) itu bagi orang yang menghadiri ( ikut serta dalam) peperangan.

Redaksi seperti ini banyak didapati dalam pembicaraan mereka. Adapun perayaan-perayaan ( hari-
hari besar) kaum musyrikin itu berupa syubhat, kesaksian, dan kebatilan yang tidak ada manfaatnya
untuk agama dan tidak mendatangkan kelezatan dunia, maka hasilnya adalah kepedihan (
penderitaan), dan dengan demikian ia adalah kepalsuan/ kebohongan dan menghadirinya berarti
memberikan persaksian/kesaksian kepadanya.

Kalau Allah memuji orang yang tidak menghadirinya hanya semata-mata menghadiri dengan melihat
atau mendengar, maka bagaimana dengan orang yang menyetujui bahkan lebih dari itu terhadap
amalan yang merupakan amalan/perbuatan palsu yang bukan cuma sekedar menghadirinya?

Kemudian, pujian dan sanjungan dalam ayat ini kepada mereka itu saja sudah mengandung
pengertian sebagai anjuran kepada mereka untuk tidak menghadiri perayaan-perayaan mereka dan
kepalsuan-kepalsuan lainnya. Dan menghadirinya ini merupakan suatu tindakan yang dibenci Allah,
karena Dia menamakannya dengan Zuur ( kepalsuan)/ kebohongan).

Adapun alasan dari Sunnah ialah riwayat Anas bin Malik RA, ia berkata:
:
:




: :








Ketika Rasulullah SAW memasuki Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang
meriahkan dengan permainan-permainan. Melihat hal itu, Rasulullah SAW bertanya: Ada apa
dengan dua hari ini? Mereka menjawab: Kami biasa bermain-main pada kedua hari raya itu pada
zaman jahiliyah. Lalu Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah telah menggantinya dengan
hari raya yang lebih baik untuk kamu, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri. ( HR. Abu Duad, menurut syarat
Muslim).

Jalan pengambilan dalilnya; Ialah dua hari raya jahiliyah itu tidak diakui oleh Rasulullah SAW, dan
beliau tidak mmembiarkan penduduk Madinah memeriahkannya dengan permainan sebagaimana
biasanya. Bahkan beliau berkata, Sesungguhnya Allah telah menggantiya dengan dua hari raya yang
lain untuk kamu.Dan penggantiann terhadap sesuatu itu menuntut ditinggalkannya sesuatu yang
digantikan, karena tidak dapat dihimpun antara pengganti dan yang digantikan, seperti firman Allah
SWT:

Dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi ( pohon-pohon) yang
berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon sidr. ( Saba; 16). Dan juga seperti firmanNya;

:Lalu orang-orangg yang zhalim mengganti perintah dengan ( mengerjakan) yang tidak diperintahkan
kepada mereka. ( Al-Baqarah; 59).

Ketika beliau menanyakan kepada mereka tentang kedua hari itu, lalu mereka menjawab, Bahwa itu
adalah dua hari raya yang biasa mereka meriahkan dengan permainan pada zaman jahiliyah.
Menunjukkan bahwa beliau melarang mereka merayakan kedua hari raya itu dan menggantinya
dengan dua hari raya Islam.

Tidak boleh Melaksanakan Nadzar di tempat yang menjadi Tempat Perayaan Jahiliyah

Imam Abu Daud meriwayatkan ( katanya); Telah diceritakan kepada kami oleh Syuaib bin Ishaq dari
al-Auzai ( ia berkata); Telah diceritakan kepadaku Yahya bin Abi Katsir ( ia berkat); Telah diceritakan
kepadaku oleh Abu Qilabah ( ia berkata); Tsabit bin Dhahhak bercerita kepadaku, katanya, Seorang
laki-laki bernadzar pada Rasulullah SAW, hendak menyembelih unta disuatu tempat yang bernama
Buwanah, lalu Rasulullah SAW bertanya:

: . :
.
: .
:
:









Apakah di sana ada berhala jahiliyahh yang disembah? Ia menjawab, Tidak. Beliau bertanya lagi,
Apakah di sana ditempati untuk perayaan ( hari raya) mereka? Ia menjawab, Tidak. Lalu beliau
bersabda: Laksanakan nadzarmu. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya Tidak boleh
melaksanakan nadzar untuk bermaksiat kepada Allah, dan tidak ada nadzar pada sesuatu yang tidak
dimiliki anak Adam.

Kalau penyembelih binatang di tempat perayaan orang mmusyrik itu diperbolehkan, niscaya
Rasulullah SAW membenarkan orang bernadzar itu untuk melaksanakan nadzarnya di situ, bahkan
beliau akan mewajibkan melaksanakannya di situ, karena penyembelih binatang di tempat yang
dinadzarkan itu adalah wajib. Kalau menyembelih binatang untuk nadzar di tempat hari raya (
perayaan) mereka saja dilarang, maka bagaimana lagi dengan menyetujui hari raya mereka dengan
melakukan perbuatan-perbuatan yang hanya dilakukan berkaitan dengan upacara hari raya mereka?

Menjauhi Hari-Hari Raya Musuh-Musuh Allah

Imam Baihaqi meriiwayatkan dengan isnad shahih dari Abi Usamah ( ia berkata); Telah diceritakan
kepada kamii oleh Aun dari Abil Mughirah dari Abdullah bin Amr, ia berkata:

Barangsiapa berdomisili ( bertempat tinggl) di negeri orang Ajam ( orang kafir) dan terlibat dalam
parayaan naizura dan karnaval mereka, lantas meniru-niru mereka hingga meninggal dunia, sedang
dia masih tetap begitu ( belum bertaubat), maka dia akan dikumpulkan barsama mereka pada hari
kiamat.

Imam Baihaqi berkata, Dibencinya pengkhususan hari itu bukan berarti syara mengkhususkan
larangan pada hari itu saja. Bahkan Umar RA melarang menggunakan bahasa mereka dan melarang
masuk gereja mereka pada hari raya mereka itu, padahal hanya masuk saja. Nah, bagaimana lagi
kalau melakukan sebagian aktivitas mereka? Atau melakukan sesuatu yang merupakan tuntunan
agama mereka?
Abdullah bin Amr mengambil sikap tegas dengan mengatakan: Barangsiapa berdomisili / tinggal di
negeri orang Ajam / kafir, dan terlibat dalam perayaan nairuz dan karnaval mereka, lantas meniru-
niru / menyerupai mereka, hingga meninggal dunia ( belum bertaubat), maka ia akan dikumpulkan
bersama mereka pada hari Kiamat.

Perkataan Abdullah bin Amr ini mengandung pengertian bahwa beliau menganggap kafir terhadap
orang yang turut serta dalam semua urusan kaum kafir itu, atau menganggapnya sebagai dosa besar
yang menyebabkan pelakunya disiksa di neraka, meskipun pengertian yang pertama itu nampak dari
perkataan beliau itu.

Al-Khallal berkata di dalam al-Jami bab Fi Karahati Khurujil Muslimin Fi Ayaadil Musyrikin ( Bab tidak
disukainya Kaum Muslimin Keluar pada Hari Raya Kaum Musyrikin), dan beliau mengemukakan
riwayat dari Muhna, ia berkata : Saya pernah bertanya kepada Imam Ahmad tentang menyakksikan
hari raya ini yang terjadi di lingkungan kami di Syam, seperti Thur Yabur, Dair Ayub dan sebagainya
yang orang-orang Muslim menyaksikannya dan datang ke pasar-pasar yang diperjual-belikan
kambing, sapi, gandum dan lain-lainnya di sana. Mereka hanya masuk pasar untuk membeli sesuatu,
dan tidak masuk gereja mereka. Maka Imam Ahmad menjawab; Apabila tidak masuk gereja, dan
hanya masuk pasar, maka tidak mengapa. Imam Ahmad Rahimahullah hanya memberi dispensasi
untuk masuk pasar dengan syarat tidak memasuki gereja mereka.

Haramnya Makanan Ahli Kitab yang di sediakan untuk Upacara Hari Raya ( keagamaan Mereka

Sembelihan ahli kitab untuk hari-hari raya mereka dan yang mereka peruntukkan buat mendekatkan
diri kepada sesembahan selain Allah itu seperti orang-orang Muslim menyembelih kurban mereka
untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, seperti sembelihan mereka untuk al-Masih dan untuk
bintang kejora.

Mengenai masalah ini terdapat dua macam riwayat dari Imam Ahmad, tetapi yang lebih masyhur
dalam nash beliau adalah bahwa yang demikian itu tidak boleh dimakan, meskipun tidak disebut
nama selain Allah. Pelarangan itu juga diriwayatkan dari Aisyah dan Abdullah bin Umar. Al-Maimuni
berkata; Saya pernah bertanya kepada Abdullah ( Imam Ahmad) tentang sembelihan ahli kitab. Lalu
beliau menjawab, Jika mereka sembelih untuk gereja, maka tidak halal memakannya ( bagi orang
Muslim). mereka sengaja tidak menyebutnya, tetapi mereka menyembelihnya untuk al-Masih.

Imam Ahmad meriwayatkan dari al-Walid bin Muslim dari al-Auzai, Saya pernah bertanya kepada
Maimun tentang sembelihan orang Nashrani untuk hari raya dan gereja mereka, lalu beliau tidak
mau memakannya. Dan Imam Ahmad berkata, Saya mendengar Abu Abdillah berkata, Tidak
boleh di makan, karena ia disembelih untuk selain Allah, dan boleh dimakan yang selain itu.
Sesungguhnya Allah hanya menghalalkan sembelihan mereka yang disebut nama Allah pada waktu
menyembelihnya.

Firman Allah SWT:

Dan janganlah kamu makan sembelihan yang tidak disebut nama Allah atasnya( Al-Anam; 121).

Dan firman-Nya lagi

Dan ( diharamkan atas kamu memakan sesuatu) yang disembelih untuk berhala.. ( Al-Maidah; 3).

Maka semua binatang yang disembelih untuk selain Allah tidak boleh dimakan dagingnya.

Penutup

Firman Allah SWT

Katakanlah; Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu
juga tidak akan menyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak akan menyembah sebagaimana
caramu menyembah. Kamu juga tidak menyembah sebagaimana caraku menyembah. Bagi kamu
agamamu sendiri dan bagiku agamaku sendiri. ( Al-Kafirun; 1-6).

Diterangkan dalam sebab turunnya surat bahwa beberapa pemimpin terkemuka bangsa Quraisy, di
antaranyya Al Walid bin Al Mughirah, Al Aash bin Waaid. Mereka datang kepada Nabi SAW dan
berkata: Ya Muhammad marilah anda mengikuti agama kami dan menyembah tuhan kami setahun,
kemudian kami juga akan mengikuti agamamu dam menyembah Tuhanmu setahun, supaya jika
agamamu yang baik, kami pun telah mendapat bagian daripadanya, dan bila agama kami yang baik,
kau pun telah mendapat bagian daripadanya. Jawab Nabi SAW : Saya berlindung kepada Allah
jangan sampai mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun selain-Nya. Kemudian Allah
menurunkan surat ini, maka pergilah Rasulullah SAW ke Masjidil Haram tempat berkumpulnya
semua pemimpin bangsa Quraisy, dan berdiri di tengah-tengah mereka untuk membacakan surat ini
selengkapnya kepada mereka.

Dan dengan ayat ke-6 ini ( Lakum dinukum wali yadin) Imam Abu Abdullah Muhammad bin Idris Asy
Syafiy, menyatakan bahwa semua kekufuran itu satu, sebab semua agama dalam kepalsuannya
sama kecuali Islam yang semua amal perbuatannya, hukum ajarannya hanya dari tuntunan Allah,
wahyu dari Allah maka itulah yang bernama agama Allah, yang tidak dinodai oleh buatan dan
perkiraan manusia, karena itulah Rasulullah SAW bersabda; Tidak saling waris memawisi kedua
orangg yang berlainan agama. Dan di lain riwayat; Seorang Muslim tidak dapat mewarisi ( menerima
waris) dari seorang kafir meskipun ayah kandung dengan anak kandung. ( Lihat tafsier Ibnu Katsier IX,
hal, 141-143).