Anda di halaman 1dari 38

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Inisiasi menyusu dini adalah proses bayi menyusu segera setelah

dilahirkan, dimana bayi dibiarkan mencari puting susu ibunya sendiri

(tidak disodorkan ke puting susu). Inisiasi Menyusu Dini akan sangat

membantu dalam keberlangsungan pemberian ASI eksklusif dan lama

menyusui. Dengan demikian bayi akan terpenuhi kebutuhan hingga usia 2

tahun dan mencegah anak kurang gizi (Maryunani, 2012 : 58).

Menurut World Health Organozation (WHO) pada tahun 2013,

hampir semua (98%) dari 5 juta kematian bayi terjadi di Negara

berkembang sedangkan UNICEF menyatakan terdapat 30.000 kematian

bayi setiap tahun di Indonesia dan 10 juta kematian bayi di dunia setiap

tahunnya. Salah satu penyebabnya adalah karena tidak dilakukannya

inisiasi menyusu dini berlanjut dengan pemberian asi secara eksklusif

selama 6 bulan.

Angka kematian bayi (AKB) sebesar 23 per 1.000 kelahiran hidup

menjadi salah satu dari delapan target Millenium Development Goals

(MDGs) yang mesti dicapai hingga tahun 2015. AKB di Indonesia pada

tahun 2015 sebesar 35 per 1.000 kelahiran hidup, angka ini lebih tinggi

dibandng dengan negara-negara di Asia Tenggara, seperti Malaysia,

1
2

Filipina, dan Thailand. Malaysia memiliki AKB terendah di Asia Tenggara

(Ginanjar, 2010).

Di Indonesia pelaksanaan IMD masih sangat rendah.

Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, hanya

1 dari 3 bayi yang disusui secara eksklusif sampai 6 bulan (30,2%).

Proporsi praktek IMD 30 menit setelah persalinan 34,5%, sedangkan

untuk pemberian ASI 1- 6 jam kelahirannya sebesar 35,2%. Sedangkan

gambaran pola menyusu di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah hanya

22,1% bayi mulai menyusu kurang dari 1 jam, sebanyak 43,9% 1 6 jam

dan sebanyak 28,9% bayi memulai menyusu setelah 24 jam (Riskesdas

2013). Artinya sebagian besar bayi baru mulai menyusu setelah 1 jam

kelahirannya, yang menunjukkan kemungkinan tidak dilakukannya IMD

pada sebagian besar bayi-bayi tersebut.

Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)

2012 melaporkan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia mencapai

jumlah 32 per 1.000 kelahiran hidup sedangkan menurut data yang

diperoleh dari profil Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur pada

tahun 2015, jumlah kematian bayi mencapai 45 / 1000 kelahiran hidup,

sedangkan data yang diperoleh dari profil Dinas Kesehatan Kabupaten

Sikka terdapat 42 kematian neonatal dan salah satu penyebab kematian

adalah infeksi saat bayi lahir serta hipotermi.


3

Upaya pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut di atas

maka dikeluarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2012 pasal 9 tentang

tenaga kesehatan dan penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan wajib

melakukan inisiasi menyusu dini (IMD) terhadap bayi yang baru lahir

kepada ibunya paling singkat selama 1 jam. Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilakukan dengan cara meletakkan

bayi secara tengkurap di dada ibu atau di perut ibu sehingga kulit bayi

melekat di kulit ibu.

Berdasarkan uraian penjelasan di atas maka peneliti

memutuskan untuk melakukan penelitian dengan judul Gambaran Umum

Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini Terhadap Pengeluaran ASI Pada Ibu

Post Partum di Wilayah Kerja Puskesmas Wolomarang,kecamatan Alok

Barat Kabupaten Sikka Periode Juni 2016.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dirumuskan masalah

penelitian sebagai berikut :

Bagaimanakah Gambaran Penatalaksanaan Inisiasi Menyusu Dini

terhadap pengeluaran ASI pada ibu psot partum di Puskesmas

Wolomarang,Kecamatan Alok Barat Kabupaten Sikka periode juni 2016 ?


4

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui Gambaran Penatalaksanaan Inisiasi Menyusu Dini

terhadap pengeluaran ASI pada ibu psot partum di Puskesmas

Wolomarang Kabupaten Sikka periode juni 2016

2. Tujuan Khusus

Untuk mengetahui penatalaksanaan Inisiasi Menyusu Dini di

Puskesmas Wolomarang Kabupaten Sikka periode juni 2016.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Praktis

Sebagai salah satu sumber informasi bagi setiap penentu kebijakan

dan pelaksana program baik di Dinas Kesehatan maupun pemerintah

dalam mensukseskan penatalaksanaan Insiasi Menyusu Dini.

2. Manfaat Ilmiah

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi dalam

memperkaya wawasan ilmu pengetahuan dan sebagai bahan acuan

bagi peneliti selanjutnya.

3. Manfaat Institusi

Sebagai bahan acuan yang diharapkan dapat bermanfaat terutama

dalam pengembangan institusi. Diharapkan juga dapat berguna,

sebagai salah satu penemuan dan kajian serta bahan acuan atau
5

pedoman bagi institusi jurusan kebidanan untuk penulisan proposal

lainnya.

4. Manfaat Bagi Penulis

Sebagai salah satu pesyaratan menyelesaikan ujian akhir di jenjang

pendidikan Diploma III Kebidanan Universitas Indonesia Timur

Makassar.
6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Masa Nifas

1. Pengertian Masa Nifas

Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah

bayi dan plasenta lahir, mencakup enam minggu sampai delapan

minggu berikutnya yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat

kandungan seperti kondisi sebelum hamil (Dewi Maritalia, 2014).

Pelayanan masa nifas hendaknya diberikan secara

menyeluruh karena periode ini merupakan periode transisi kritis bagi

ibu, bayi, dan keluarganya sehingga rentan terjadi komplikasi apabila

tidak mendapatkan perhatian khusus. Oleh karena itu petugas

kesehatan khususnya bidan setelah menolong persalinan harus tetap

waspada sekurang-kurangnya 1 jam setelah melahirkan (Had

Saifuddin, 2012).

2. Tujuan Dan Sasaran Asuhan Masa Nifas

a. Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik fisik maupun psikologis

b. Melaksanakan skrining yang komprehensif,mendeteksi masalah,

mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun

bayi

6
7

c. Mendukung dan memperkuat keyakinan diri ibu dan

memungkinkan ia melaksanakan peran ibu dalam situasi keluarga

dan budaya yang khusus

d. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan

diri, nutrisi, keluarga berencana,menyusui,pemberian imunisasi

kepada bayinya dan perawatan bayi sehat

e. Memberikan pelayanan keluarga berencana

3. Peran Dan Tanggung Jawab Bidan Dalam Masa Nifas

Bidan sebagai tenaga kesehatan yang professional

memberikan asuhan pada klien atau pasiennya. Asuhan yang

dimaksud disebut asuhan kebidanan. Secara definitive asuhan

kebidanan dapat diartikan sebagai bantuan yang diberikan oleh bidan

pada individu atau anak balita.

Peran bidan adalah :

a. Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan

b. Memberikan dukungan yang baik selama masa nifas sesuai

dengan kebutuhan ibu agar pulih dari ketegangan fisik psikologis

selama persalinan dan menumbuhkan kepercayaan diri dalam

merawat bayi.

c. Sebagai promotor (memfasilitasi ikatan batin antara ibu dan

bayinya ) hubungan yang erat antara ibu dan bayi secara fisik dan
8

psikologis.misalnya : mengajarkan cara memangku bayi, mengajak

berbicara, memeluk / mendekap dan lain lain.

d. Memberikan konseling kepada ibu dan keluarga mengenai cara

mencegah perdarahan, mengenali tanda tanda bahaya, menjaga

gizi yang baik serta menjaga kebersihan diri.

e. Mengkondisikan ibu untuk menyusui bayinya dengan cara

meningkatkan rasa nyaman, ruangan privacy, mengurangi rasa

nyeri waktu menyusui dengan mengatur posisi yang enak dan

nyaman ( memulai dan mendorong pemberian ASI )

4. Tahapan Masa Nifas

Menurut Dewi maritalia tahun 2014 , masa nifas terbagi

menjadi tiga tahapan, yaitu :

a. Puerperium dini

Suatu masa kepulihan dimana ibu diperbolehkan untuk berdiri dan

berjalan-jalan. Kesempatan ini sangat baik untuk melakukan

pendekatan terhadap bayi yang di lahirkan sehingga membuat

jalinan kasih antara ibu dan bayi semakin kuat.


9

b. Puerperium intermedial

Suatu masa kepulihan menyeluruh dari organ-organ reproduksi

selama kurang lebih enam sampai delapan minggu.

c. Remote puerperium

Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dalam

keadaan sempurna terutama ibu apabila ibu selama hamil atau

waktu persalinan mengalami komplikasi. Waktu untuk sehat

sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan, atau tahunan.

Seorang ibu nifas juga akan mengalami periode nifas dilihat dari

waktu pemulihannya. Ada 3 periode yang akan di lewati oleh ibu

nifas yaitu :

1) Immediate post partum periode (0-24 jam)

Adalah masa segera setelah plasenta lahir sampai

dengan 24 jam ( 0-24 jam sesudah melahirkan).

Periode ini paling banyak terjadi masalah, misalnya

perdarahan karena atonia uteri dan masalah menyusui, oleh

karena itu bidan dengan teratur melakukan pemeriksaan

kontraksi uterus,pengeluaran lokia,tekanan darah ibu, suhu


10

badan dan melaksanakan IMD dan masih dalam pengawasan

bidan.

2) Early post partum (1-7 hari hari)

Adalah masa satu hari sesudah melahirkan sampai 7 hari

(1 minggu pertama).

Periode ini bidan memastikan involusi uterus berjalan

normal,tidak ada perdarahan abnormal dan berbau busuk,tidak

demam dan ibu mendapat cukup makanan dan cairan,ibu dapat

menyusui dengan baik dan bisa merawat dirinya dan bayinya

sehari - hari dengan baik.

3) Late post partum periode

Adalah masa satu minggu sesudah melahirkan sampai 6

minggu Pada tahap ini bidan akan menjelaskan tentang

konseling KB.

5. Kebijakan Nasional Masa Nifas

Kebijakan program nasional tentang masa nifas adalah :

a. Rooming in merupakan suatu sistem perawatan dimana ibu dan

bayi diasuh dalam satu unuit / kamar. Bayi selalu berada disamping

ibu sejak lahir. Hal ini dilaksanakan hanya pada ibu dan bayi yang

sehat.

b. Gerakan nasional ASI Eksklusif yang di canangkan presiden pada

tanggal 22 Desember 1990.


11

Berdasarkan program dan kebijakan teknik masa nifas,paling

sedikit dilakukan 4 kali kunjungan masa nifas,untuk menilai status

ibu dan bayi baru lahir untuk mencegah,mendeteksi dan

menangani masalah masalah yang terjadi yaitu :

1) 6- 8 jam setelah persalinan

a) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri

b) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan rujuk

jika perdarahan berlanjut.

c) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota

keluarga bagaimana menvegah perdarahan masa nifas

karena atonia uteri.

d) Pemberian ASI awal

e) Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir

f) Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi.

g) Jika petugas kesehatan menolong persalinan,ia harus

tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama

setelah kelahiran atau sampai ibu dan bayi dalam keadaan

normal

2) 6 hari setelah persalinan.

a) Memastikan involusi uterus berjalan normal yaitu uterus

berkontraksi,fundus di bawah umbilicus,tidak berbau.


12

b) Menilai adanya tanda tanda demam,infeksi atau

perdarahan abnormal.

c) Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan dan

istirahat.

d) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan

memperlihatkan tanda tanda penyulit.

e) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada

bayi,tali pusat,menjaga bayi tetap hangat dan merawat

bayi sehari hari.

3) 2 minggu setelah persalinan

a) Sama seperti diatas (6 hari setelah persalinan)

4) 6 minggu setelah persalinan

a) Menanyakan pada ibu tentang penyulit penyulit yang ia

atau bayi alami.

b) Memberikan konseling untuk KB secara dini.

6. Proses Laktasi

a. Pengertian Laktasi

Menurut Marmi tahun 2011, laktasi mempunyai dua

pengertian, yaitu : produksi dan pengeluaran Air Susu Ibu (ASI).

Setelah persalinan kadar estrogen dan progesterone menurun

dengan lepasnya plasenta, sedangkan prolaktin tetap tinggi

sehingga tidak ada lagi hambatan terhadap prolaktin dan estrogen.


13

Oleh karena itu, air susu ibu segera keluar. Biasanya, pengeluaran

air susu dimulai pada hari kedua atau ketiga setelah kelahiran.

Setelah persalinan, segera susukan bayi karena akan memacu

lepasnya prolaktin dari hipofise sehingga pengeluaran air susu

bertambah lancar. Ada beberapa refleks yang berpengaruh

terhadap kelancaran laktasi, yaitu refleks prolaktin, refleks aliran

(let down reflex), refleks menangkap (rooting reflex), refleks

mengisap (sucking reflex), refleks menelan (swallowing reflex)

sebagai berikut :

1) Refleks Prolaktin

Sewaktu bayi menyusu, ujung syaraf perabaan yang terdapat

pada puting susu terangsang. Rangsangan tersebut oleh

serabut afferent dibawa ke hipotalamus di dasar otak, lalu

dilanjutkan ke bagian depan kelenjar hipofise yang memacu

pengeluaran hormon prolaktin ke dalam darah. Melalui sirkulasi,

prolaktin memacu sel kelenjar memproduksi air susu. Jadi,

semakin sering bayi menyusu, semakin banyak prolaktin yang

dilepas oleh hipofise, sehingga semakin banyak air susu yang

diproduksi oleh sel kelenjar.

2) Refleks aliran

Rangsangan yang ditimbulkan bayi saat menyusu diantar

sampai bagian belakang kelenjar hipofise yang akan


14

melepaskan hormon masuk ke dalam darah. Oksitosin akan

memacu otot-otot polos yang mengeliling alveoli dan duktuli

berkontraksi sehingga memeras air susu dari alveoli, duktuli,

dan sinus menuju puting susu. Keluarnya air susu karena

kontraksi otot polos tersebut disebut refleks aliran. Dengan

seringnya menyusui, penciutan rahim akan semakin cepat dan

makin baik.

3) Refleks menangkap (rooting reflex)

Jika disentuh pipinya, bayi akan menoleh ke arah sentuhan.

Jika bibirnya dirangsang atau disentuh, bayi akan membuka

mulut dan berusaha mencari puting untuk menyusu. Keadaan

tersebut dikenal dengan istilah refleks menangkap.

4) Refleks mengisap (sucking reflex)

Refleks mengisap pada bayi akan timbul jika puting

merangsang langit-langit (palatum) dalam mulutnya. Oleh

karena itu, sebagian besar areola harus tertangkap oleh mulut

bayi. Dengan demikian, sinus laktiferus yang berada dibawah

areola akan tertekan oleh gusi, lidah, serta langit-langit

sehingga air susu diperas secara sempurna ke dalam mulut

bayi.
15

5) Refleks menelan (swallowing reflex)

Pada saat bayi menyusu, akan terjadi peregangan puting susu

dan areola untuk mengisi rongga mulut. Oleh karena itu,

sebagian besar areola harus ikut ke dalam mulut. Lidah bayi

akan menekan ASI keluar dari sinus laktiferus yang berada di

bawah areola.

7. Perkembangan Air Susu Ibu (ASI)

Air Susu Ibu (ASI) dibedakan dalam tiga stadium, yaitu :

a. Kolostrum

Kolostrum merupakan ekskresi cairan dengan viskositas kental,

lengket dan berwarna kekuninagn pada hari pertama sampai hari

keempat postpartum. Kolostrum mengandung tinggi protein,

mineral, garam, vitamin A, nitrogen, sel darah putih dan antibodi

yang tinggi daripada ASI matur.

b. ASI Transisi atau Peralihan

ASI yang keluar setelah kolostrum sampai sebelum ASI matang,

yaitu sejak hari keempat sampai hari kesepuluh. Selama dua

minggu, volume ASI bertambah banyak dan berubah warna serta

komposisinya. Kadar immunoglobin dan protein menurun

sedangkan lemak dan laktosa meningkat.


16

c. ASI Matur

ASI matur diskresi pada hari kesepuluh dan seterusnya, tampak

berwarna putih, kandungannya relatif konstan. Air susu yang

mengalir pertama kali disebut foremik. Foremik lebih encer dan

mempunyai kandungan rendah lemak dan tinggi laktosa, gula,

protein, mineral, dan air. Selanjutnya, air susu berubah menjadi

hindmilk, kaya akan lemak dan nutrisi.

8. Peran Bidan Dalam Mendukung pemberian ASI

Peran awal bidan:

Yakinkan bahwa bayi memperoleh makanan yang mencukupi

dari payudara ibu.

Bantu ibu sedemikian rupa sehingga ia mampu menyusui

bayinya sendiri.

Dukungan yang dapat diberikan bidan bagi pemberian ASI

a. Biarkan bayi bersama ibunya segera sesudah dilahirkan

selama beberapa jam pertama.

b. Lakukan inisiasi menyusu dini

c. Ajarkan ibu cara merawat payudara

d. Bantu ibu pada waktu pertama kali pemberian ASI

e. Menempatkan bayi dalam satu kamar dengan ibunya ( rawat

gabung )

f. Anjurkan ibu untuk memberikan ASI sesering mungkin


17

g. Anjurkan ibu hanya memberikan ASI saja

h. Hindari susu botol dan dot atau empeng.

B. Tinjauan tentang Inisiasi Menyusu Dini

1. Pengertian Inisiasi Menyusu Dini

Inisiasi Menyusu Dini (Early Initition) atau permulaan menyusu

dini adalah bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir. Cara bayi

melakukan Inisiasi Menyusu Dini dinamakan The Breast Crawl atau

merangkak mencari payudara (Dewi Maritalia, 2014).

Waktu keberhasilan Inisiasi Menyusu Dini adalah waktu yang

dibutuhkan mulai dari meletakkan bayi yang baru lahir di dekat

payudara ibunya, tanpa melalui proses mandi terlebih dahulu (hanya

sedikit dilap dan dipotong tali pusatnya) sampai bayi tersebut akan

memilih payudara mana yang akan dikenyot lebih dulu, proses ini

memakan waktu 15 45 menit (individual). Proses pencarian puting

susu sendiri oleh bayi memakan waktu bervariasi, yaitu sekitar 30 40

menit.

2. Manfaat Inisiasi Menyusu Dini

a. Bagi Bayi :

1) Mencegah hilangnya refleks menyusu

2) Menstabilkan suhu, pernapasan, dan tingkat gula darah bayi


18

3) Memberikan nutrisi lengkap

4) Membantu refleks berfikir bayi

5) Menunjang proses lancarnya ASI dikemudian hari

6) Memperlancar pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan

7) Stimulasi dini tumbuh kembang bayi

8) Terhindar dari kesulitan dalam menyusui atau meneteki

9) Sebagai laksative (obat pencuci perut) yang efektif,

membuang mekonium di usus dan memecahkan biliribin.

Saat merangkak mencari payudara, bayi memindahkan

bakteri dari kulit ibunya dan ia akan menjilat-jilati kulit ibu,

menelan bakteri baik di kulit ibu. Bakteri baik ini akan

berkembang biak membentuk koloni di kulit dan usus bayi,

menyaingi bakteri jahat dari lingkungan.

10) Menstimulasi hormon prolaktin dalam memproduksi ASI

11) Meningkatkan intelektual dan motorik

12) bonding (ikatan kasih sayang) atnara ibu-bayi akan lebih

baik pada 1-2 jam pertama, bayi dalam keadaan siaga.

Setelah itu, biasanya bayi tidur dalam waktu yang lama.

13) Makanan awal non-ASI mengandung zat putih telur yang

bukan berasal dari susu manusia, misalnya dari susu hewan.

Hal ini dapat mengganggu pertumbuhan fungsi usus dan

mencetuskan alergi lebih awal.


19

14) Bayi mendapatkan ASI kolostrum ASI yang pertama kali

keluar. Cairan emas ini kadang juga dinamakan the gift of life.

Bayi yang diberi kesempatan Inisiasi Menyusu Dini lebih dulu

mendapatkan kolostrum daripada yang tidak diberi

kesempatan. Kolostrum, ASI istimewa yang kaya akan daya

tahant ubuh, penting untuk pertumbuhan usus, bahkan

kelansungan hidup bayi. Kolostrum akan membuat lapisan

yang melindungi dinding usus bayi yang masih belum matang

sekaligus mematangkan dinding usus ini.

b. Bagi Ibu :

1) Mengurangi Perdarahan

Hentakan kepala bayi ke dada ibu, sentuhan tangan bayi di

puting susu dan sekitarnya, emutan, dan jilatan bayi pada

puting ibu merangsang pengeluaran hormon oksitosin yang

berguna juga untuk kontraksi dan penutupan pembuluh darah

sehingga perdarahan lebih cepat berhenti.

2) Bonding (ikatan kasih sayang) antara ibu-bayi akan lebih baik

pada 1 2 jam pertama, bayi dalam keadaan siaga. Setelah itu,

biasanya bayi tidur dalam waktu yang lama.

3) Ibu dan ayah akan merasa sangat bahagia bertemu dengan

bayinya untuk pertama kali dalam kondisi seperti ini. Bahkan,

ayah mendapat kesempatan mengazankan anaknya di dada


20

ibunya. Suatu pengalaman batin bagi ketiganya yang amat

indah.

3. Keuntungan Inisiasi Menyusu Dini bagi Ibu dan Bayi

a. Keuntungan kontak kulit dengan kulit untuk bayi

Mengoptimalkan keadaan hormonal ibu dan bayi. Kontak

memastikan perilaku optimum menyusu berdasarkan insting dan

bisa diperkirakan : menstabilkan pernapasan, mengendalikan

temperatur tubuh bayi, memperbaiki/mempunyai pola tidur yang

lebih baik, mendorong keterampilan bayi untuk menyusu yang lebih

cepat dan efektif, meningkatkan kenaikan berat badan (kembali ke

berat lahirnya dengan lebih cepat), meningkatkan hubungan antara

ibu dan bayi, tidak terlalu banyak menangis dalam satu jam

pertama, menjaga kolonisasi kuman yang aman dari ibu di dalam

perut bayi sehingga memberikan perlindungan terhadap infeksi,

bilirubin akan lebih cept normal dan mengeluarkan mekonium lebih

cepat sehingga menurunkan kejadian ikterus bayi baru lahir, kadar

gula dan parameter biokimia lain yang lebih baik selama beberapa

jam pertama hidupnya.

b. Keuntungan kontak kulit dengan kulit untuk bayi

Mengoptimalkan keadaan hormonal ibu dan bayi. Kontak

memastikan perilaku optimum menyusu berdasarkan insting dan

bisa diperkirakan : menstabilkan pernapasan, mengendalikan


21

temperatur tubuh bayi, memperbaiki/mempunyai pola tidur yang

lebih baik, mendorong keterampilan bayi untuk menyusu yang lebih

cepat dan efektif, meningkatkan kenaikan berat badan (kembali ke

berat lahirnya dengan lebih cepat), meningkatkan hubungan antara

ibu dan bayi, tidak terlalu banyak menangis dalam satu jam

pertama, menjaga kolonisasi kuman yang aman dari ibu di dalam

perut bayi sehingga memberikan perlindungan terhadap infeksi,

bilirubin akan lebih cepat normal dan mengeluarkan mekonium

lebih cepat sehingga menurunkan kejadian ikterus bayi baru lahir,

kadar gula dan parameter biokimia lain yang lebih baik selama

beberapa jam pertama hidupnya.

4. Langkah-Langkah dalam Inisiasi Menyusu Dini

Menurut Roesli (2011), ada beberapa tahapan dalam proses

Inisiasi Menyusu Dini (IMD) yaitu :

a. Dalam 30 menit pertama istirahat keadaan siaga, sesekali melihat

ibunya dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.

b. Mengeluarkan suara, memasukkan tangan ke mulut gerakan

menghisap.

c. Mengeluarkan air liur

d. Bergerak ke arah payudara; kaki menekan perut ibu, areola

menjadi sasaran, menjilati kulit ibu sampai ujung sternum, kepala


22

dihentak-hentakkan ke dada ibu, menokeh ke kanan ke kiri,

menyentuh puting susu dengan tangan bayi.

e. Menemukan puting; menjilat, mengulum putting, membuka mulut

dengan lebar dan melekat dengan baik dan menghisap puting

susu.

5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan IMD

Menurut UNICEF (2011), banyak sekali masalah yang dapat

menghambat pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini antara lain :

a. Kurangnya kepedulian terhadap pentingnya Inisiasi Menyusu Dini

b. Kurangnya konseling oleh tenaga kesehatan dan kurangnya

praktek Inisiasi Menyusu Dini.

c. Adanya pendapat bahwa suntikan Vitamin K dan tetes mata untuk

mencegah penyakit gonorrhea harus segera diberikan setelah lahir,

padahal sebenarnya selama satu jam sampai bayi menyusu

sendiri.

d. Masih kuatnya kepercayaan kelaurga bahwa ia memerlukan

istirahat yang cukup setelah melahirkan dan menyusui sulit

dilakukan.

e. Kepercayaan masyarakat yang menyatakan bahwa kolostrum yang

keluar pada hari pertama tidak baik untuk bayi.

f. Kepercayaan masyarakat yang tidak mengijinkan ibu untuk

menyusui dini sebelum payudara dibersihkan.


23

Menurut Green (2012), terdapat tiga faktor utama yang dapat

mempengaruhi perilaku individu atau masyarakat, yaitu :

1. Faktor dasar (predisposing factors) yang meliputi :

a. Pengetahuan individu

b. Sikap

c. Kepercayaan

d. Tradisi

e. Unsur-unsur yang terdapat dalam diri individu dan masyarakat

dan

f. Faktor demografi

2. Faktor pendukung (enabling factors) yang meliputi : sumber daya

dan potensi masyarakat seperti lingkungan fisik dan sarana yang

tersedia dan

3. Faktor pendorong (reinforcing factors) yang meliputi sikap dan

perilaku orang lain seperti teman, orang tua, dan petugas

kesehatan.

Begitu pula dengan perilaku pelaksanaan Inisiasi Menyusu

Dini dan pemberian ASI Eksklusif baik oleh ibu maupun petugas

kesehatan, semuanya sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut di

atas. Faktor yang berpengaruh terhadap pelaksanaan IMD dan

pemberian ASI eksklusif terutama faktor sikap, motivasi, maupun

pengetahuan, baik sikap, motivasi, dan pengetahuan ibu, maupun


24

petugas kesehatan. Kesemuanya ini berperan penting satu dengan

yang lain dan saling bergandengan untuk mendukung program

pemberian ASI dini.

Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan

pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini antara lain :

a. Kebijakan instansi pelayanan kesehatan tentang IMD dan ASI

Eksklusif.

b. Pengetahuan, motivsai, dan sikap tenaga penolong eprsalinan

c. Pengetahuan, motivasi dan sikap ibu.

d. Dukungan anggota keluarga

Dalam hal ini perlu kiranya dibentuk klinik laktasi yang

berfungsi sebagai temapt ibu berkonsultasi bila mengalami kesulitan

dalam menyusui. Tidak kalah pentingnya ialah sikap dan pengetahuan

petugas kesehatan, karena walaupun rumah sakit sudah baik bila

sikap dan pengetahuan masih belum optimal maka hasilnya tidak

memuaskan.

6. Tata Laksana Inisiasi Menyusu Dini

a. Dianjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu saat persalinan.

b. Disarankan untuk tidak atau mengurangi penggunaan obat kimiawi,

misalnya pijat, aromaterapi, gerakan, atau hypnobirthing.

c. Biarkan ibu menentukan cara melahirkan yang diinginkan, misalnya

melahirkan normal atau didalam air.


25

d. Seluruh badan dan kepala bayi dikeringkan secepatnya, kecuali

kedua tangannya. Lemak putih (vernix) yang menyamankan (Dewi

Maritalia, 2014).

e. Tali pusat dipotong, lalu diikat (Dewi Maritalia, 2014).

f. Bayi ditengkurapkan di dada atau perut ibu. Biarkan kulit bayi

melekat dengan kulit ibu. Posisi kontak kulit dengan kulit ini

dipertahankan minimum satu jam atau setelah menyusu awal

selesai. Keduanya diselimuti. Jika perlu, gunakan topi bayi.

g. Bayi dibiarkan mencari puting susu ibu. Ibu dapat merangsang bayi

dengan sentuhan lembut, tetapi tidak memaksakan bayi ke puting

susu.

h. Ayah didukung agar membantu ibu untuk mengenali tanda-tanda

atau perilaku bayi sebelum menyusu. Hal ini dapat berlangsung

beberapa menit atau satu jam, bahkan lebih. Dukungan ayah akan

meningkatkan rasa percaya diri ibu. Biarkan bayi dalam posisi kulit

bersentuhan dengan kulit ibunya setidaknya selama satu jam,

walaupun ia telah berhasil menyusu pertama sebelum satu jam.

Jika belum menemukan puting payudara ibunya dalam waktu satu

jam, biarkan kulit bayi tetap bersentuhan dengan kulit ibunya

sampai berhasil menyusu pertama.


26

i. Dianjurkan untuk memberikan kesempatan kontak kulit dengan

kulit pada ibu yang melahirkan dengan tindakan, misalnya Operasi

Caesar.

j. Bayi dipisahkan dari ibu untuk ditimbang, diukur, dan dicap setelah

satu jam atau menyusu awal selesai. Prosedur yang invasive,

misalnya suntikan vitamin K dan tetesan mata bayi dapat ditunda.

k. Rawat gabung ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar. Selama 24

jam ibu-bayi tetap tidak dipisahkan dan bayi selama dalam

jangkauan ibu. Pemberian minuman pre-laktal (cairan yang

diberikan sebelum ASI keluar (Dewi Maritalia, 2014).

C. Tinjauan tentang variabel yang diteliti

1. Pelaksanaan IMD

Inisiasi menyusu dini adalah proses membiarkan bayi menyusu

sendiri segera setelah lahir. Hal ini merupakan kodrat dan anugerah

dari Tuhan yang sydah di susun untuk kita. Melakukannya juga tidak

sulit hanya membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua jam. Proses

inisiasi menyusui dini :

a. Sesaat setelah lahir dan sehabis tali pusat dipotong,bayi

segera diletakan di dada si ibu tanpa membersihkan si

bayi kecuali tangannya,kulit bertemu kulit. Ternyata suhu

badan ibu yang habis melahirkan 1 derajat lebih

tinggi,namun jika si bayi kedinginan dengan sendirinya


27

suhu badan si ibu menjadi naik 2 derajat dan jika si bayi

kepanasan,suhu badan ibu akan turun 1 derajat. Jadi

Tuhan sudah mengatur bahwa si bayi akan beradaptasi

dengan kehidupan barunya. Setelah diletakan di dada si

ibu biasanya si bayi hanya akan diam selama 20-30

menit dan ternyata hal ini terjadi karena si bayi sedang

menetralisir keadaannya setelah trauma melahirkan.

b. Setelah si bayi merasa lebih tenang, maka secara

otomatis si bayi akan mulai bergerak seperti hendak

merangkak. Ternyata gerakan inipun bukanlah gerakan

tanpa makna karena ternyata si bayi itu pasti hanya

menginjak-injak perut ibunya gerakan ini bertujuan untuk

menghentikan perdarahan si ibu. Lama dari proses ini

tergantung dari si bayi.

c. Setelah melakukan gerakan kaki tersebut bayi akan

melanjutkan dengan mencium tangannya.ternyata bau

tangan si bayi sama dengan bau air ketuban dan juga

ternyata wilayah sekitar putting si ibu itu juga memiliki

bau yang sama,jadi dengan mencium bau tangannya, si

bayi mbantu untuk mengarahkan kemana dia akan

bergerak. Dia akan mulai bergerak mendekati putting ibu.

Ketika sudah mendekati putting si ibu,bayi akan menjilat-


28

jilat dada ibu,ternyata jilatan ini berfungsi untuk

membersihkan dada ibu dari bakteri- bakteri jahat dan

begitu masuk ke tubuh bayi akan berubah menjadi

bakteri baik. Lama kegiatan ini juga tergantung dari si

bayi karena hanya si bayi yang tahu seberapa lama dia

harus membersihkan dada si ibu.

d. Setelah itu si bayi akan mulai meremas-remas putting

susu si ibu.

e. Kemudian si bayi mulai menyusui

l. Proses inisias menyusu dini pada partus spontan adalah sebagai

berikut :

m. Dianjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu saat persalinan.

n. Disarankan untuk tidak atau mengurangi penggunaan obat kimiawi,

misalnya pijat, aromaterapi, gerakan, atau hypnobirthing.

o. Biarkan ibu menentukan cara melahirkan yang diinginkan, misalnya

melahirkan normal atau didalam air.

p. Seluruh badan dan kepala bayi dikeringkan secepatnya, kecuali

kedua tangannya. Lemak putih (vernix) yang menyamankan (Dewi

Maritalia, 2014).

q. Tali pusat dipotong, lalu diikat (Dewi Maritalia, 2014).

r. Bayi ditengkurapkan di dada atau perut ibu. Biarkan kulit bayi

melekat dengan kulit ibu. Posisi kontak kulit dengan kulit ini
29

dipertahankan minimum satu jam atau setelah menyusu awal

selesai. Keduanya diselimuti. Jika perlu, gunakan topi bayi.

s. Bayi dibiarkan mencari puting susu ibu. Ibu dapat merangsang bayi

dengan sentuhan lembut, tetapi tidak memaksakan bayi ke puting

susu.

t. Ayah didukung agar membantu ibu utnuk mengenali tanda-tanda

atau perilaku bayi sebelum menyusu. Hal ini dapat berlangsung

beberapa menit atau satu jam, bahkan lebih. Dukungan ayah akan

meningkatkan rasa percaya diri ibu. Biarkan bayi dalam posisi kulit

bersentuhan dengan kulit ibunya setidaknya selama satu jam,

walaupun ia telah berhasil menyusu pertama sebelum satu jam.

Jika belum menemukan puting payudara ibunya dalam waktu satu

jam, biarkan kulit bayi tetap bersentuhan dengan kulit ibunya

sampai berhasil menyusu pertama.

u. Dianjurkan untuk memberikan kesempatan kontak kulit dengan

kulit pada ibu yang melahirkan dengan tindakan, misalnya Operasi

Caesar.

v. Bayi dipisahkan dari ibu untuk ditimbang, diukur, dan dicap setelah

satu jam atau menyusu awal selesai. Prosedur yang invasive,

misalnya suntikan vitamin K dan tetesan mata bayi dapat ditunda.


30

w. Rawat gabung ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar. Selama 24

jam ibu-bayi tetap tidak dipisahkan dan bayi selama dalam

jangkauan ibu. Pemberian minuman pre-laktal (cairan yang

a.
31

BAB III

KERANGKA KONSEPTUAL

1. Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti

1. Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah bayi dan

plasenta lahir, mencakup enam minggu sampai delapan minggu

berikutnya yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan

seperti kondisi sebelum hamil (Dewi maritalia 2014). Masa nifas

merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran

yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran

reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal (Dewi

maritalia 2014)

2. Inisiasi Menyusui Dini

Yang dimaksudkan dengan Inisiasi Menyusu Dini (Early Initition) atau

permulaan menyusu dini adalah bayi mulai menyusu sendiri segera

setelah lahir. Cara bayi melakukan Inisiasi Menyusu Dini dinamakan

The Breast Crawl atau merangkak mencari payudara.

Variabel dalam penelitian ini adalah Gambaran Pelaksanaan

Inisiasi Menyusu Dini terhadap Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum.

27
32

2. Kerangka Konsep Penelitian

Varibel Tunggal

Ibu post partum


Pelaksanan IMD

Defenisi Operasional

1.Post partum atau nifas adalah masa sesudah persalinan yang

dimulai setelah kelahiran plasenta dan diperlukan untuk pulihnya alat-

alat reproduksi pada keadaan normalyang berlangsung selama 6

minggu (42 hari ).

Kriteria obyektif :

Ya : jika ibu yang baru selesai melahirkan bayinya 0- 42 hari

Tidak : jika ibu yang tidak sementara melahirkan.

2.Pelaksanaan IMD adalah suatu kondisi dimana diberi kesempatan

mulai menyusu sendiri segera setelah lahir selama 30 menit atau 1

jam pertama.

Kriteria Objektif :

Ya : Jika ibu memperoleh kesempatan IMD

Tidak : Jika ibu tidak memperoleh kesempatan IMD


33

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah survey dengan pendekatan

deskriptif yaitu peneliti mendeskripsikan variabel tertentu dalam suatu

penelitian tanpa mencari hubungan antar variabel.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi

Lokasi yang dipilih sebagai tempat penelitian adalah Puskesmas

Wolomarang, Kabupaten Sikka.

2. Waktu

Waktu penelitian direncanakan pada bulan juni 2016.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang

diteliti (Notoatmodjo, 2005).

Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu post partum di

Puskesmas Wolomarang, Kabupaten Sikka pada bulan juni 2016

sebanyak 40 orang.
34

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki

oleh populasi tersebut (Arikunto, 2006 : 131)

Sampel dalam penelitian ini adalah ibu post partum di bulan juni tahun

2016.

3. Teknik Pengambilan Sampel

Sampel yang diambil dari sebagian populasi dengan

menggunakan teknik purposive sampling, yaitu setiap anggota atau

unit dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dijadikan

sampel.

Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut :

a. Kriteria Inklusi

1) Semua ibu post partum pada bulan junil di Puskesmas

Wolomarang.

2) Pada ibu post partum yang melakukan IMD

3) Ibu post partum yang bisa membaca dan menulis

4) Bersedia menjadi responden.

b. Kriteria Eksklusi

1) Semua ibu post partum di luar wilayah Puskesmas Wolomarang

2) Pada ibu post partum yang tidak melakukan IMD

3) Ibu post partum yang tidak bisa membaca dan menulis


35

4) Tidak bersedia menjadi responden

D. Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan metode observasi dan dokumentasi

dengan mengambil data primer dan sekuner pada buku register bayi di

Puskesmas Wolomarang Kabupaten Sikka bulan juni tahun 2016.

E. Pengolahan dan Penyajian Data

Data yang telah terkumpul diolah secara manual menggunakan

kalkulator untuk diambil dan disajikan dalamb entuk tabel distribusi

frekuensi yang dilengkapi dengan penjelasan tabel.

F. Analisa Data

Berdasarkan jenis penelitian yang dipilih yaitu penelitian deskriptif

maka analisa data dapat dilakukan menggunakan formulasi untuk

distribusi frekuensi atau presentase yang secara matematika dapat ditulis

dengan :

f
P = n x 100%

Keterangan :

P = Persentasi yang dicari

F = Frekuensi (jumlah pengamatan)

N = Jumlah populasi
36

G. Etika Penulisan

Dalam melakukan penelitian ini, peneliti mendapat persetujuan dari

pembimbing dan rekomendasi dari kaprodi Kebidanan Universitas

Indonesia Timur Makassar untuk melakukan penelitian kemudian izin dari

KESBANGPOL serta kepala Puskesmas Wolomarang Kabupaten Sikka

setelah mendapat persetujuan maka peneliti dengan menekan masalah

etiak yang meliputi :

1. Informed Consen (lembar persetujuan)

Lembar persetujuan diberikan kepada subjek sebelum riset

dilaksanakan dengan menjelaskan maksud dan tujuan riset dilakukan.

2. Anonimitas (Tanpa Nama)

Untuk menjaga kerahasiaan subjek peneliti tidak akan mencantumkan

nama subyek pada lembar kuesioner.

3. Confidentiality (Kerahasiaan)

Peneliti menjamin kerahasiaan informasi yang diperoleh dari subjek.


37

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN

Penelitian Ini Dilaksanakan Pada bulan juni 2016,di puskesmas

wolomarang pada tanggal 13 20 juni 2016 dengan populasi semua bayi

baru lahir normal pada saat penelitian dilakukan sebanyak xx orang dan

sampel sebanyak xx orang, kemudian dianalisis secara

deskriptif,selanjutnya dimasukkan kedalam tabel distribusi frekuensi

sebagai berikut :

1.pelaksanan inisiasi menyusu dini pada ibu nifas

Distribusi Gambaran Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini Pada

Ibu Post Partum Di Puskesmas Wolomarang Kabupaten Sikka

Periode Juni 2016

Pelaksanaan Inisiasi menyusu dini


Frekuensi (f) Persentasi (%)
38

Ya
tidak
jumlah
Sumber: Data Primer

Tabel ini menunjukan bahwa dari xx bayi,bayi yang mendapatkan

pelaksananan inisiasi menyusu dini ( IMD ) sebanyak xx orang ( ) dan tidak

sebanyak xx orang.

B. PEMBAHASAN