Anda di halaman 1dari 7

UJI FITOKIMIA DAUN KEMBANG SEPATU

(Hibiscus rosa sinensi L.)

Edwin Andhika 405110105

Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Jakarta

ABSTRACT
Hibiscus rosa sinensis is a bushy, evergreen shrub or small growing tree that had been used for
medicine in China and Semenanjung Melayu. But the farmacological potential from Hibiscus
rosa sinensis is still controversial. Therefore study or further research is needed to know
phytochemistry content in Hibiscus rosa sinensiss leaves.
In this research fresh sample and dry sample that will be extract before evaporation and
photochemistry test are needed. The result show that fresh sample contain alkaloid, fenolic,
steroid, and triterpenoid. While the dry sample only contain of steroid because imperfect
extraction and observation factor. For it is proposed to conduct further research that
chromatographic test, clinical test, and experimental test.
Key words: leaves, sample, Hibiscus rosa sinensis, phytochemistry test

ABSTRAK
Kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis) merupakan tanaman semak dari pohon berserabut yang
bagian daunnya sering digunakan untuk pengobatan di China dan Semenanjung Melayu. Namun
manfaat dari daun kembang sepatu ini masih menjadi kontroversi. Oleh karena itu diperlukan
penelitian lebih lanjut untuk menentukan senyawa fitokimia yang terdapat di daun kembang
sepatu (Hibiscus rosa sinensis). Pada penelitian ini digunakan sampel segar dan sampel kering
yang kemudian diekstraksi dengan cara maserasi, evaporasi dan uji kandungan senyawa
metabolit sekunder. Hasil uji fitokimia sampel segar didapatkan senyawa alkaloid, fenolik,
steroid, dan triterpenoid. Sedangkan pada sampel kering hanya terdapat senyawa steroid karena
proses ekstraksi yang kurang sempurna dan adanya faktor pengamatan. Untuk itu disarankan
dilakukan penelitian lebih lanjut dengan uji kromatografi, uji klinik, dan uji eksperimental.
Kata kunci: daun, sampel, Hibiscus rosa sinensis, uji fitokimia
PENDAHULUAN senyawa yang terkandung dalam daun
Tanaman Kembang Sepatu (Hibiscus rosa kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis).
sinensis) adalah tanaman hias yang dapat Oleh karena itu penulis ingin meneliti
tumbuh di daerah tropis dan subtropis. senyawa apa saja yang terkandung dalam
Hibiscus rosa sinensis adalah sejenis daun kembang sepatu (Hibiscus rosa
tanaman semak yang berbentuk pohon sinensis)
berserabut. Tingginya bisa mencapai 10
meter pada daerah subtropik (biasanya 1-2,5 METODE PENELITIAN
meter). Daunnya agak lebar, tipis, bagian Penelitian dilakukan di laboratorium
pangkalnya agak meruncing, sedangkan tepi biokimia FK Untar. Dilakukan pengumpulan
daunnya bergerigi kasar. Selain itu daunnya sampel daun segar sebanyak 20 g dan
berwarna hijau bersinar dan bentuknya oval sampel kering sebanyak 100 g. Sampel segar
lebar. dilakukan uji fitokimia. Sedangkan sampel
Orang India, China dan kering akan dilakukan ekstraksi terlebih
Semenanjung Melayu memanfaatkan daun dahulu dengan metode maserasi, yaitu
kembang sepatu untuk menumbuhkan merendam sampel dalam cairan pelarut
rambut dan perawatan kesehatan kulit selama 12 hari sebelum dilakukan evaporasi,
kepala. Selain itu mereka juga percaya, daun baru kemudian dilakukan uji fitokimia. Uji
kembang sepatu dapat membantu fitokimia yang dilakukan antara lain :
menghitamkan rambut. Karena khasiatnya
itulah, maka secara tradisional masyarakat Uji Alkaloid
India menggunakan daun dari kembang Sampel segar sebanyak 4 g digerus di dalam
sepatu sebagai shampo yang bersifat ringan lumpang porselen hingga halus. Kemudian
bagi bayi. tambahkan 20 ml kloroform dan 1 ml
Ditinjau dari kandungannya, daun amoniak, gerus lagi sampai halus. Saring
kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis) dengan kapas. Selanjutnya pindahkan ke
memiliki banyak sekali manfaat tabung reaksi, tambahkan 10 tetes H2SO4
dibandingkan bagian tanaman yang lain. 2N. Kocok 30 detik dan diamkan sampai
Namun sebenarnya manfaat dari kembang terbentuk 2 lapisan. Ambil lapisan atas
sepatu ini masih menjadi kontroversi karena kemudian pindahkan ke 3 tabung reaksi.
kurangnya penelitian mengenai khasiat dari Tabung 1 tambahkan 1-2 tetes pereaksi
Mayer dan tabung 2 tambahkan 1-2 tetes erlenmeyer kemudian tambahkan eter.
pereaksi Dragendorf. Sedangkan tabung 3 Pindahkan ke tabung reaksi. Saring lalu
sebagai kontrol. pindahkan ke tabung reaksi lain kemudian
Sedangkan pada ekstrak sampel kering tambahkan 2 ml NaOH 10%. Kocok 1-2
tambahkan 2 ml kloroform dan 2 tetes amoniak menit, biarkan sampai terbentuk 2 lapisan.
pada ekstrak sampel kemudian kocok. Ambil Ambil lapisan bawah dan pindahkan ke
lapisan bawah (CHCl3), lalu tambahkan 1 ml
dalam tabung reaksi lain. Tambahkan 1-5
H2SO4 2N, kocok dan diamkan hingga terbentuk
tetes HCl 2N hingga warnanya hilang.
2 lapisan. Reaksikan lapisan bagian atas dengan
Tambahkan 2-3ml eter, kemudian kocok lagi
pereaksi Mayer/Dragendorf.
selama 1-2 menit, diamkan. Sedangkan
Jika terbentuk endapan putih pada
tabung 1 atau endapan jingga pada tabung 2
lapisan atas dipindahkan ke tabung reaksi

maka uji alkaloid +. lain kemudian tambahkan 2-3 etanol,


pindahkan kedalam 2 tabung reaksi lain
Uji Fenolik
sama rata. tabung 1 tambahkan logam
Gerus sampel segar 4 g di dalam lumpang
magnesium 0,1 g dan HCl pekat 1 ml.
porselen hingga halu, masukan ke tabung
Biarkan 2-3 menit. Jika endapan/larutan
erlenmeyer lalu tambahkan 10 ml metanol.
kuning menjadi merah maka sampel
Panaskan hingga mendidih. Diamkan hingga
mengandung flavonoid.
suhunya turun. Pindahkan ke dalam 2
Untuk uji pada ekstrak sampel
tabung reaksi sama rata. Pada tabung 1
kering, 1 ml ekstrak sampel dengan eter 1
tambahkan 1-3 tetes FeCl3 1%.
ml, kemudian kocok lalu diamkan.
Pada ekstrak sampel kering, ambil
Pindahkan lapisan atas (eter) ke tabung
sebanyak 1 ml. Tambahkan dengan etanol
reaksi lain. Tambahkan NaOH 1N, kocok
dan larutan FeCl3 1%.
dan tambahkan 1 ml HCl pekat hingga
Bila larutan/endapan hijau menjadi
warnanya hilang. Pindahkan lagi ke tabung
biru lalu menjadi ungu, maka sampel
lain dan tambahkan 1 ml amil alkohol,
mengandung fenolik.
kocok, lalu berikan sedikit bubuk
magnesium dan HCl pekat. Jika lapisan
Uji Flavonoid
berwarna merah atau jungga maka tes
Sampel segar, gerus 4 g dalam lumpang
flavonoid +.
porselen hingga halus. Masukkan ke tabung
Uji Saponin terbentuk warna merah-biru-ungu dengan
Sampel segar digerus 4 g hingga halus. terbentuk cincin ditengahnya.
Masukkan ke dalam tabung reaksi,
tambahkan 5 ml aquades. Kocok kencang HASIL DAN PEMBAHASAN
selama 1 menit. Jika berbusa, maka sampel Uji Sampel Ekstrak
mengandung saponin. Tidak dilakukan uji Golongan Segar Heksan

saponin pada sampel kering. Alkaloid + -


Fenolik + -
Flavonoid - -
Uji Steroid dan Triterpenoid
Saponin + Tidak diujikan
Sampel segar 4 g digerus hingga halus,
Steroid ++++ +++
tambahkan 10 ml kloroform. Saring dengan
Terpenoid ++++ +++
kapas dan ambil dengan pipet. Teteskan ke
dalam 3 lubang plat tetes, 2 lubang untuk
Pada hasil uji fitokimia sampel segar daun
direaksikan dan 1 lubang sebagai kontrol.
kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis)
Diamkan 3-5 menit sampai kering lalu
didapatkan hasil positif pada senyawa
tambahkan asam asetat anhidrat, kemudian
fenolik (+), alkaloid (+), saponin (+), steroid
aduk dengan batang pengaduk. Tambahkan
(++++), triterpenoid (++++), dan tidak
H2SO4 pekat ke lubang 1 dan 2 sebanyak 1-
ditemukan senyawa flavonoid. Sedangkan
2 tetes. Jika endapan/larutan hijau menjadi
pada hasil uji fitokimia ekstrak daun
biru maka uji steroid +. Jika endapan/larutan
kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis)
merah menjadi ungu maka uji triterpenoid +.
menggunakan pelarut non-polar didapatkan
Pada ekstrak sampel kering
hasil positif hanya pada senyawa steroid
tambahkan 1 ml kloroform, lalu kocok dan
(+++).
ambil lapisan bawah (CHCl3). Teteskan
Dari perbandingan hasil penelitian
pada plat tetes, lalu keringkan. Tambahkan
didapatkan adanya perbedaan hasil pada
2-3 tetes anhidrida asetat Terbentuknya
golongan fenolik yang semula + menjadi - ,
warna hijau-biru menunjukkan adanya
alkaloid yang semula + menjadi - dan
steroid, sedangkan triterpenoid ditunjukkan
steroid dan triterpenoid yang semula ++++
dengan terbentuknya warna merah-ungu.
menjadi + + +.
Bila terdapat keduanya, maka akan
Berkurangnya kadar fenolik dan
alkaloid kemungkinan dikarenakan proses
ekstraksi yang kurang sempurna. Sedangkan androgen di folikel rambut sehingga
berkurangnya kadar steroid disebabkan fitosterol dapat mencegah terhambatnya
karena adanya faktor pengamatan selama pertumbuhan rambut oleh
pengerjaan. dehidrotestosteron.23
Pada penelitian dengan pelarut Terpenoid berfungsi mencegah
heksan tidak dilakukan uji untuk mengetahui pembelahan sel ganas dan juga menginduksi
adanya kandungan saponin pada ekstrak. apoptosis. Senyawa ini juga telah digunakan
Hal ini dikarenakan saponin tidak tertarik untuk penyakit diabetes, gangguan
pada proses ekstraksi. mestruasi, antibakteri dan antivirus.
Menurut Margaret F.Roberts selama Berdasarkan penelitian-penelitian
ribuan tahun manusia telah menggunakan sebelumnya dan kandungan yang didapat
tanaman yang mengandung alkaloid sebagai dari hasil uji fitokimia daun kembang sepatu
bahan dasar kokain sebagai obat anestesi, (Hibiscus rosa sinensis) kemungkinan
dan masih banyak lagi tanaman yang berkhasiat sebagai anti kanker, anestesi, anti
mengandung alkaloid yang digunakan diabetik, sekaligus menjaga pertumbuhan
sebagai obat-obatan sampai sekarang ini.21 rambut.
Berdasarkan penelitian oleh Vargas
dan Lopez (2003) antosianin dari Hibiscus KESIMPULAN
sabdariffa telah digunakan secara efektif Berdasarkan hasil uji fitokimia didapatkan
untuk melawan hipertensi dan gangguan senyawa-senyawa metabolit sekunder pada
hati. Aktivitas biologis dari antosianin daun kembang sepatu (Hibiscus rosa
berhubungan aktivitas anti-oksidan, menjaga sinensis) segar yaitu alkaloid, fenolik,
oksidasi asam askorbat, dan membentengi saponin, steroid, dan triterpenoid.
tubuh dari radikal bebas sehingga Sedangkan pada ekstrak heksan daun
mengurangi risiko kanker dan penyakit kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis)
hati bila dikonsumsi dalam dosis yang sesuai hanya terdapat senyawa steroid karena
setiap harinya.22 proses ekstraksi yang kurang sempurna dan
Kemudia menurut penelitian faktor pengamatan.
Andersson (1977) tentang senyawa fitosterol
pada Curbicin menyebutkan bahwa
fitosterol juga berikatan pada reseptor
SARAN 5. Katno dan Pramono. S. 2006. Tingkat
Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat Manfaat dan Keamanan Tumbuhan
digunakan untuk melakukan penelitian lebih Obat dan Obat Tradisional. Jakarta: PT
lanjut yang membandingkan berbagai jenis Rineka Cipta 6. Harpert L. Population
daun kembang sepatu. Kemudian perlu Biology of Plants. London Academic
dilakukan uji kromatografi untuk pemisahan Press. 1997; 2006. p.3-15.
campuran beberapa senyawa yang diperoleh 7. Tax, S. An Appraisal of Anthropologi
dari isolasi tumbuhan, karena uji penelitian Today. Chicago: University of Chicago
ini merupakan uji kualitatif. Juga diperlukan Press; 1953.
uji eksperimental untuk menguji efek 8. Waluyo, E. Tanaman Obat-obatan.
kandungan yang terdapat pada daun Malang Suprapto, W. 2000. Toga
kembang sepatu. Setelah itu dapat dilakukan (Tanaman Obat Keluarga); Pengobatan
uji klinik untuk mengetahui efeknya pada Alternatif. Jakarta: pusat kajian
manusia. pembangunana masayarakat unika
Atmajaya; 1983.
DAFTAR PUSTAKA 9. Nwachukwu CU. Anatomy and
Histology of Spermatophytes, (A basic
1. Anggadiredja, D. Eksplorasi,
approach) 1st edition Beth Vin
Konservasi, dan Pengembangan
Publishers 55 Osuji Street Owerri, Imo
Tanaman Obat. Bogor: Pusat penelitian
State Nigeria; 2005.
dan Pengembangan Tanaman
10. Nwachukwu CU, Mbagwu FN.
Industri;1992.
Anatomical studies on the petiole of
2. Burkill HM. The Useful Plants of West
some species of Indigofera. Medwell,
Tropical Africa (2nd edition). Royal
Agricultural Journal 2006; 1 : 55 8.
Botanic Gardens Kew;1995. p.654-70.
11. Okoli BE. Anatomical studies in the
3. Eisai. Indeks Tumbuh-tumbuhan Obat
leaf and protract of Telfairia Hoker
Indonesia. Jakarta: PT Eisai Indonesia;
(Curcurbitaceae). Feddes Repertorium
1986.
1987; 98: 231 6.
4. Iqbal, dan Sulistyorini, Endang.
12. Schewell-Copper WE. Basic Book on
Kembang Sepatu (Hibiscus
Vegetable Growing (2nd edition). Barrie
Rosasinensis L.); 2010.
and Jenkin Ltd London. 1957. p.19 Jepara; 2013 [cited 2014 Jun 17].
26. Available from :
13. Stern KR. Introduction Plant Biology. http://eprints.undip.ac.id/42522/1/Bab_I
Macgraw-Hill company Inc. United III.pdf
States of America. 2000; 603. 20. N. Adhirajan, T. Ravi Kumar, N.
14. Tindale HO. Commercial Vegetable Shanmugasundaram, M. Babu.
Growing. University Press, London. J.Ethnopharmacology.,2003.p.88, 235-
1979. p.14 50. 239.
15. Vidyard RD, Tripathi SC. A Test Book 21. Cordell, G.A. Introduction to Alkaloids:
of Botany, Chand and Company, Ram A Biogenic Approach, Wiley, New
Nagar. New Delhi 2002. p.649 50. York; 1983.
16. Indriati Titin, Widi Restu Kartiko. 22. Vargas, FD, Lopez, OP. Natural
Penjaringan dan Identifikasi Senyawa Colorants for Food and Nutraceutical
Alkaloid dalam Batang Kayu Kuning Uses. CRC Press. USA; 2003
(Arcangelisia Flava Merr); 2007 [cited 23. Andersson, L. Ekman, P., Gustafsson, J.
2014 Jun 18]. Available from A. Steroid receptors in benign prostatic
:jurnal.unej.ac.id/index.php/JID/article/ hyperplasia and cancer of the prostatic
download/126/96 hyperplasia and cancer of the prostate.
17. Viranda P.M. 2009 [cited 2014 Jun 18]. (In Swedish with English abstract).
Available from : http://lontar.ui.ac.id/ Lkartidningen; 1977.p.74, 4673-4675.
file?file=digital/123734-S09115fk
Pengujian%20kandungan-
Pendahuluan.pdf
18. Anonim. Metode Ekstraksi; [cited 2014
Jun 17]. Available from :
http://ffarmasi.unand.ac.id/
RPKPS/Metoda_ekstraksi.pdf
19. Putranti Ristyana Ika. Skrining
Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan
Ekstrak Rumput Laut Sargassum
duplicatum dan Turbinaria ornata dari