Anda di halaman 1dari 9

Laporan Discovery Learning

Blok Circulation and Oxygenation (COB)


Semester IV

PACEMAKER

Kelompok 5
Sartika Octaviani Mustika Ningrum I1B015006
Hanifa Humanisa I1B015007
Mega Anggraeni I1B015012
Marchanah I1B015014
Silvia Salwa I1B015028
Slamet Turah I1B015035
Irma Septiani I1B015037
Anggi Riastuti I1B015047
Etika Pangudiana I1B015051
Qurrota Ayunina I1B015061
Frisca Susdi Ramadanti I1B015066
Iftiar Alif Nuraeni I1B015071
Winda Indriani I1B015079

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
PURWOKERTO
2017
BAB I. PENDAHULUAN

1.2 Latar Belakang


Seseorang dengan tingkat usia yang berbeda dapat berisiko mengalami masalah
kesehatan. Hal tersebut bias berupa masalah kesehatan yang mempengaruhi system
kardiovaskuler sehingga memerlukan asuhan keperawatan untuk menanganinya.
System kardiovaskuler sangat penting bagi tubuh karena merupakan suatu
pengaturan yang menyalurkan oksigen serta nutrisi keseluruh tubuh. Apabila salah
satu system kardiovaskuler terganggu maka akan berakibat pada terganggunya
semua sistem tubuh. Terdapat salah satu terapi dalam masalah system
kardiovaskuler yang dikenal dengan sebutan pace maker atau alat pacu jantung.
Pacemaker adalah alat listrik yang dapat mengontrol frekuensi jantung
dengan menghasilkan stimulus listrik berulang ke otot jantung. Ketika pacemaker
alamiah jantung tidak optimal maka alat ini akan memulai mempertahankan
frekuensi jantung. Biasanya saat seseorang dengan jantung yang bermasalah dalam
memacu detakan, dokter akan menyarankan pemasangan alat pacemaker ini. Pasien
dengan gangguan hantaran atau loncatan gangguan hantaran yang mengakibatkan
kegagalan curah jantung akan sangat membutuhkan alat ini. Terdapat dua sifat
pacemaker yaitu permanen dan temporer. Pada beberapa kasus, pacemaker dapat
juga digunakan untuk mengontrol takikardi disritmia yang tidak berespons terhadap
terapi pengobatan.

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan laporan ini yaitu agar mahasiswa memahami tentang
definisi, fungsi, klasifikasi, jenis-jenis, cara kerja, prosedur pemasangan,
manifestasi klinis, indikasi dan kontraindikasi, dan kompliksi dari pacemaker.
BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Definisi Pacemaker


Pacemaker adalah alat pacu jantung yang langsung mengontrol detak
jantung dan digunakan ketika jantung mengalami kerusakan pada sistem konduksi
intrinsik tubuh yang berfungsi menghasilkan impuls sintesis. Pacemaker dapat
dikatakan sebagai pemberi stimulus elektrik ke otot jantung yang tidak mampu
menghasilkan curah jantung secara adekuat sesuai dengan kebutuhan fisiologis
(Echols & Shadily, 2014).

2.2 Fungsi Pacemaker


Fungsi pacemaker terbagi menjadi dua jenis yaitu pacemaker alami dan
buatan. Fungsi pacemaker alami yaitu untuk meningkatkan kecepatan irama
jantung, mengontrol irama jantung, mengoordinasi impuls jantung antara ventrikel
dan atrium, dan mencegah aritmia (Udjianti, 2011). Sementara itu, pada fungsi
pacemaker buatan digunakan sebagai penghasil stimulus listrik untuk mengontrol
irama jantung, menyekat jantung komplek irreversibel, dan mengontrol aritmia
takikardi yang tidak berespon terhadap terapi pengobatan (Brunner & Suddarth,
2001).

2.3 Klasifikasi Pacemaker


a. Sistem pacemaker sementara
Jenis ini digunakan pada pasien yang mengalami infark miokard dengan
komplikasi penyekat jantung, pada pasien henti jantung dengan bradikardi dan
asistol, atau pada pasien pasca operasi pembedahan jantung tertentu. Prosedur ini
biasanya dilakukan dengan pendekatan endokardial (transvena) atau dengan
pendekatan transtorakal ke miokardium. Elektroda transvena dipasang dibawah
pengawasan fluoroskopi melalui berbagai vena perifer (antekubital, brachial,
jugularis, subklavia, femoral), dan ujung kateter diletakkan di apeks ventrikel
kanan.
b. Sisem pacemaker permanen
Prosedur ini biasanya dilakukan dengan anastesia lokal. Metode lain cetusan
permanen adalah memasang pembangkit impuls ke dinding abdomen. Elektroda
dimasukkan secara transtorakal ke miokardium, dan dijahit. Untuk metode ini yang
dinamakan epikardial atau implan miokardial, diperlukan torakotomi untuk
mencapai jantung.

2.4 Jenis Pacemaker


a. Single-chamber pacing
Pada tipe ini kawat pacing hanya ada satu yang akan ditempatkan di salah satu
ruang jantung yaitu atrium atau ventrikel. Hanya atrium atau ventrikel yang
dipacu. Parameter yang dapat diprogram yaitu frekuensi dan output.
b. Dual-chamber pacing
Kawat pacing yang akan ditempatkan ada dua tempat, satu di tempatkan di atrium
dan satu di ventrikel. Berfungsi untuk memacu atrium dan ventrikel. Tipe ini
lebih fisiologis atau lebih mirip dengan cara kerja pacu jantung orang yang sehat
dengan adanya koordinasi pemacuan antara atrium dan ventrikel.
c. Rate adaptive pacing
Pacemaker tipe ini mempunyai sensor yang bisa mendeteksi aktifitas fisik pasien
dan secara otomatis akan mengatur frekuensi kecepatan pemacuan sesuai dengan
kebutuhan metabolisme tubuh pasien. Pacemaker ini digunakan apabila jantung
tidak mampu meningkatkan denyutnya pada saat peningkatan kebutuhan curah
jantung.
d. Atrial overdrive pacing
Atrium dipacu dengan frekuensi 200-500 x/menit. Digunakan dalam usaha
menghentikan atrial takiaritmia.
e. Antytachycardial pacing
Pemberian satu atau beberapa impuls untuk menghentikan takikardi. (Urden dkk,
2002).
2.5 Cara Kerja Pacemaker
Terdapat dua cara kerja pacemaker yaitu menganalisa fungsi dari sistem
elektrik jantung dan mengirimkan sinyal elektrik yang berkekuatan rendah untuk
memperbaiki sistem elektrik jantung bila tidak berfungsi dengan normal.
Pemasangan pacemaker dilakukan dengan cara pembedahan kecil yang dapat
dilakukan dengan bius lokal maupun bius umum. Lead dimasukan kedalam
pembuluh vena di bawah tulang selangka dan di teruskan menuju jantung dengan
panduan x-ray, dan dihubungkan dengan generator yang ditanamkan di bawah kulit
daerah dada.
Setelah dilakukan pemasangan pacemaker pasien akan di rawat selama 1-2
hari setelah pemasangan pacemaker dan pacemaker diatur terlebih dahulu sebelum
pasien pulang ke rumah. Pemasangan pacemaker membuat pasien dapat melakukan
aktivitas dengan normal dan keadaannya akan jauh lebih baik dari sebelum dipasang
pacemaker. Untuk mengurangi rasa nyeri pada daerah yang di pasang pacemaker
pasien dianjurkan untuk tidak mengangkat tangan melebihi bahu atau mengangkat
barang-barang yang berat kurang lebih selama 1 bulan pertama atau dengan terapi
analgesik. Evaluasi pacemaker sebaiknya dilakukan selama 2-3 bulan sekali untuk
mengetahui fungsi dari pacemaker (Doenges dkk, 1993; Long, 1996).

2.6 Prosedur Pemasangan Pacemaker


Pacemaker dapat dipasang dengan beberapa metode yaitu transcutaneus,
epicardial, transvenous, dan transthoracic. Transcutaneus merupakan suatu alat
pacu jantung sementara dimana kawat atau elekrtoda ditempatkan pada dinding
dada anterior dan posterior kemudian disambungkan ke unit pacemaker.
Pemasangan pacemaker melalui epicardial dengan cara kawat atau elektroda pacu
jantung dijahitkan ke epikardium pada saat operasi jantung. Transvenous dipasang
sementara dimana kawat atau elektroda pacu jantung dimasukan melalui vena
(pembuluh darah balik) biasanya melalui vena femoralis atau vena jugularis dan
atau vena subklavia menuju atrium kanan atau ventrikel kanan. Sementara itu,
transthoracic atau elektroda pacu jantung dipasang dengan menusukan kawat
transthoracic menuju ventrikel kanan (Smeltzer & Bare, 2005).
2.7 Manifestasi Klinis Penggunaan Pacemaker
Manifestasi klinis pada penggunaan pacemaker, antara lain:
a. Adanya hipertensi atau hipotensi, nadi dan irama jantung tidak teratur, kulit
pucat, sianosis karena kurangnya oksigen dalam tubuh, timbul edema, dan urin
menurun karena penurunan curah jantung.
b. Terjadinya sinkop (kegawatdaruratan dimana pasien mengalami penurunan
kesadaran secara tiba-tiba yang bersifat sementara karena aliran darah ke otak
tidak tercukupi), rasa pusing, disorientasi, lemas, dan perubahan pupil.
c. Nyeri pada bagian dada dan merasa gelisah.
d. Dispnea terlihat saat berbicara, perubahan pola nafas meliputi kecepatan dan
kedalaman pernafasan, adanya bunyi nafas tambahan (crackels, ronki, mengi)
yang menunjukan adanya komplikasi pernafasan, seperti gagal jantung kiri
(edema paru) atau disebabkan karena tromboembolitik pulmonal, hemoptisis.
e. Terjadi peningkatan suhu tubuh, kemerahan pada kulit karena reaksi obat, adanya
eritema, serta otot yang melemah.
(Udjianti, 2011).

2.8 Indikasi dan Kontra Indikasi Pemasangan Pacemaker


Indikasi pemasangan pacemaker bergantung pada jenis pemasangan pacemaker baik
permanen maupun temporal. Indikasi pemasangan pacemaker permanen meliputi:
a. AV blok derajat II dan III yang disertai bradikardi atau disritmia
b. AV blok berkaitan dengan infark miokard akut
c. Disfungsi SA node
d. Sindrom hipersensitiv sinus carotis
e. Hipertropi dan dilatasi kardiomiopati
Sedangkan indikasi pemasangan pacemaker temporal meliputi:
a. Bradidisritmia
- Sinus Bradikardi dan arrest
- Blok jantung
b. Takidisritmia
- Supraventrikular
- Ventrikular
Alat pacu jantung Guidant berkontra indikasi untuk aplikasi seperti berikut:
a. Pasien dengan unipolar pacing lead (kabel) dan memiliki ICD (Implanted
Cardioverter-Defibrillator) karena dapat menyebabkan atau menghambat
penghantaran dari terapi ICD
b. Pemacuan jantung single chamber pada atrium/serambi kanan pada pasien
dengan AV nodal conduction yang tidak berfungsi
c. Mode atrial tracking pada pasien dengan refractory atrial tachyarrhythmia
kronis (atrial fibrillation/flutter) yang dapat mencetus pemacuan ventrikel/bilik
d. Pemacuan atrial/serambi dual chamber atau single chamber pada pasien dengan
refractory atrial tachyarrhythmia kronis
e. Pemacuan yang asynchronius (atau adanya kemungkinan) adanya kompetisi
antara irama alami jantung dan irama hasi pemacuan alat pacu jantung.
(Purnawan, 2016).

2.9 Komplikasi Penggunaan Pacemaker


Komplikasi penggunaan pacemaker terdiri dari akut dan subakut atau
kronik. Komplikasi akut meliputi pneumothoraks, hemothorak, emboli udara,
perforasi dan tamponade jantung, diseksus sinus koroner, kantung hematoma,
trrombosis vena, dislokasi lead, infeksi (sepsis), loose setcrews, dan stimulasi
diafragma. Sementara itu pada komplikasi subakut atau kronis meliputi oklusi vena,
infeksi, alergi pacemaker, sindrom twiddlers, sindrom pacemaker, aritmia yg
dimediasi pecemaker (takikardi yang dimediasi pacemaker, runaway pacemaker),
lead failure, malfungsi pacemaker, dan interferensi elektromagnetik (Vijayaraman,
2004 dalam Futhuri, 2011).
BAB III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pacemaker adalah alat pacu jantung yang langsung mengontrol detak jantung dan
digunakan ketika jantung mengalami kerusakan pada sistem konduksi intrinsik tubuh
yang berfungsi menghasilkan impuls sintesis. Fungsi pacemaker terbagi menjadi dua
jenis yaitu fungsi pacemaker alami dan buatan. Pacemaker diklasifikasikan sebagai
pacemaker sementara dan pacemaker permanen. Pacemaker memiliki beberapa jenis
yaitu single-chamber pacing, dual-chamber pacing, rate adaptive pacing, atrial
overdrive pacing, antytachycardial pacing. Terdapat dua cara kerja pacemaker yaitu
menganalisa fungsi dari sistem elektrik jantung dan mengirimkan sinyal elektrik yang
berkekuatan rendah untuk memperbaiki sistem elektrik jantung. Pacemaker dapat
dipasang dengan beberapa metode yaitu transcutaneus, epicardial, transvenous, dan
transthoracic. Adapun beberapa manifestasi klinis dari penggunaan pacemaker,
antara lain adanya hipertensi atau hipotensi, nadi dan irama jantung tidak teratur, kulit
pucat, sianosis karena kurangnya oksigen dalam tubuh, timbul edema, dan urin
menurun karena penurunan curah jantung.
Pacemaker memiliki indikasi dan kontraindikasi yaitu pada pemasangan
pacemaker permanen memiliki indikasi yaitu AV blok derajat II dan III yang disertai
bradikardi atau disritmia, AV blok berkaitan dengan infark miokard akut, disfungsi
SA node, sindrom hipersensitiv sinus carotid, hipertropi dan dilatasi kardiomiopati,
sedangkan indikasi pemasangan pacemaker temporal meliputi bradidisritmia,
takidisritmia. Pacemaker juga memiliki kontraindikasi untuk aplikasi seperti pasien
dengan unipolar pacing lead (kabel) dan memiliki ICD (Implanted Cardioverter-
Defibrillator) karena dapat menyebabkan atau menghambat penghantaran dari terapi
ICD, mode atrial tracking, pemacuan atrial, pemacuan yang asynchronius. Terdapat
beberapa komplikasi dari penggunaan pacemaker yang terdiri dari akut dan subakut
atau kronik. Komplikasi akut meliputi pneumothoraks, hemothorak, emboli udara,
perforasi dan tamponade jantung, sedangkan pada komplikasi subakut atau kronis
meliputi oklusi vena, infeksi, alergi pacemaker, sindrom twiddlers, sindrom
pacemaker, aritmia yg dimediasi pecemaker
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. (2001). Buku ajar keperawatan medikal bedah Ed 8. Jakarta: EGC.
Doenges, Marilynn, dkk. (1993). Rencana asuhan keperawatan, pedoman untuk
perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: EGC.
Echols, J. M., & Shadily, H. (2014). Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Futhuri, S. H. (2011). Gambaran penderita aritmia yang menggunakan pacemarker di
rumah sakit bina Waluya Cardiac center tahun 2008-2009.
Fuster, V., dkk. (2004). The hurts ed 11 halaman 918-921. McGraw-Hill.
http://biomed.brown.edu/Courses/BI108/BI108_2008_Groups/group10/pacemaker.html
Long, B. C. (1996). Perawatan medikal bedah (suatu pendekatan proses keperawatan).
Bandung: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatn Pajajaran Bandung.
Purnawan, I. (2016). Pacemaker. Purwokerto: Universitas Jenderal Soedirman.
Smeltzer, S. C., & Bare, B.G. (2005). Keperawatan medikal bedah, ed 8 Vol 2. Jakarta:
EGC.
Udjianti, W. J. (2011). Keperawatan kardiovaskular. Jakarta: Salemba Medika.
Urden, L. D., Stacy, K. M. & Lough, M. E. (2002). Thelans critical care nursing:
Diagnosis and management (4th ed.). Missouri: Mosby.