Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh negara-negara berkembang


diarahkan untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya.
Namun dalam mencapainya sering dihadapkan pada masalah-masalah pokok seperti
pengangguran, ketimpangan distribusi pendapatan, kemiskinan dan ketidakseimbangan
ekonomi antar daerah (Lestariningsih, 2006). Salah satu indikator untuk menilai
keberhasilan dari pembangunan ekonomi suatu negara adalah dilihat dari kesempatan
kerja yang diciptakan dari pembangunan ekonomi. Namun, upaya untuk mengentaskan
masalah pengangguran masih belum berhasil karena dihadapkan pada kenyataan
kesempatan kerja yang diciptakan kurang untuk menyerap seluruh angkatan kerja yang
ada. Apalagi jumlah penduduk semakin meningkat akan diikuti oleh jumlah angkatan
kerja yang meningkat pula. Secara yuridis formal diungkapkan oleh UURI No.10,
1992:105. Menurut undang undang tersebut definisi kependudukan sebagai berikut,
Kependudukan adalah hal ihwal yang berkaitan dengan jumlah, ciri utama,
pertumbuhan, persebaran, mobilitas, penyebaran, kualitas, kondisi, kesejahteraan yang
menyangkut politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, serta lingkungan penduduk
tersebut.
Didalam kependudukan ada istilah ketenagakerjaan. Menurut Badan Pusat
Statistik, Tenaga Kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun atau lebih) yang bekerja
atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja, dan yang sedang mencari
pekerjaan. Didalam ketenagakerjaan terdapat komposisi penduduk, yang artinya adalah
pengelompokan penduduk berdasarkan kriteria-kriteria tertentu sesuai dengan tujuan
pengelompokan tersebut. Kondisi seperti ini salah satunya dapat di lihat di Jawa Barat.
Di Jawa Barat, pembangunan ekonomi regional sebagaimana tertuang dalam
Rencana Strategi Pembangunan Propinsi dituntut untuk melakukan reorientasi
pembangunan dengan mengutamakan kekuatan inti (core business) perekonomian yang
mempunyai prospek dalam skala regional maupun nasional. Salah satu core business
Jawa Barat adalah bidang agribisnis dengan penetapan kawasan-kawasan yang berbasis

1
agribisnis. Salah satu upaya untuk mewujudkan pembangunan agribisnis di Jawa Barat,
yaitu dengan menetapkan fokus komoditas yang akan dikembangkan dengan
menetapkan komoditas unggulan serta kawasan sentra produksinya berdasarkan
keunggulan kompetitif dan komparatif yang dimiliki oleh setiap komoditas.

1.2.Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Seberapa banyak penduduk Jawa Barat?


2. Seberapa banyak penyerapan tenaga kerja di Jawa Barat?
3. Faktor apa saja yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja di Jawa Barat?

1.3.Tujuan Makalah

Adapun tujuan dari penulisan ini adalah:

1. Untuk mengetahui seberapa banyak penduduk Jawa Barat.


2. Untuk mengetahui seberapa banyak penyerapan tenaga kerja di Jawa Barat.
3. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja di Jawa
Barat.

1.4.Manfaat Makalah

Hasil dari penulisan makalah ini diharapkan memberikan manfaat kepada semua
pihak, khususnya kepada teman-teman semua untuk menambah pengetahuan dan
wawasan dalam analisis penyerapan tenaga kerja per regional di Provinsi Jawa Barat.
Manfaat lain dari penulisan makalah ini adalah dengan adanya penulisan makalah ini
diharapkan dapat dijadikan acuan didalam perkembangan ketenagakerjaan dimasa yang
akan datang.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1.Penduduk di Jawa Barat

Secara yuridis formal diungkapkan oleh UURI No.10, 1992:105. Menurut undang
undang tersebut definisi kependudukan sebagai berikut, Kependudukan adalah hal
ihwal yang berkaitan dengan jumlah, ciri utama, pertumbuhan, persebaran, mobilitas,
penyebaran, kualitas, kondisi, kesejahteraan yang menyangkut politik, ekonomi, sosial,
budaya, agama, serta lingkungan penduduk tersebut. Berdasarkan UURI No.10 tahun
1992 tersebut pengertian penduduk luas dan tegas yang menyangkut faktor demogafi
(jumlah, ciri utama, pertumbuhan, persebaran, mobilitas, penyebaran) dan faktor faktor
yang mengayangkut mutu kegiatan penduduk (politik, ekonomi, sosial, budaya, agama,
serta lingkungan).
Pada tahun 2008 penduduk di Kabupaten/Kota Jawa Barat yang terbanyak di
Kabupaten Bogor, yaitu sebesar 4,4 juta jiwa dan diikuti oleh Kabupaten Bandung 3,1
juta jiwa. Hal ini tidak berbeda dengan kondisi di tahun lalu. Sedangkan penduduk
terkecil berada di kota Banjar yaitu sebanyak 0,18 juta jiwa. Jumlah penduduk Jawa
Barat pada tahun 2008 mencapai 42,19 juta jiwa. Pada tahun 2005 baru mencapai 39,96
juta jiwa, meningkat lagi menjadi 40,74 juta jiwa di tahun 2006, sedangkan tahun 2007
menjadi 41,48 juta jiwa. Jumlah rumah tangga pada tahun 2008 di Jawa Barat mencapai
11.196.368 rumah tangga, dengan rata-rata per rumah tangga 3,81 anggota. Rata-rata
per rumah tangga tertinggi berada di wilayah Kota Depok, yaitu 1.022. 976 rumah
tangga, kabupaten Bandung sebesar 745.984 rumah tangga dan ketiga terbesar adalah
kota Bandung sebesar 686 400 rumah tangga. Di tahun 2008, kepadatan penduduk Jawa
Barat mencapai 1 441,24 orang per kilo meter persegi. Kota Bandung masih merupakan
daerah terpadat, yaitu sebesar 14 234,53 orang per kilometer persegi, sedangkan yang
terendah Kabupaten Ciamis hanya sebesar 709,64 orang per kilometer persegi.

3
Jumlah Penduduk di Jawa Barat
Number of Population in Jawa Barat
2005 2008
No Kabupaten/Kota 2005 2006 2007 2008
1 Bogor 4 100 934 4 216 186 4 316 236 4 402 026
2 Sukabumi 2 224 993 2 240 901 2 258 253 2 277 020
3 Cianjur 2 098 644 2 125 023 2 149 121 2 169 984
4 Bandung 4 263 934 4 399 128 3 038 038 3 116 056
5 Garut 2 321 070 2 375 725 2 429 167 2 481 471
6 Tasikmalaya 1 693 479 1 743 324 1 792 092 1 839 682
7 Ciamis 1 542 661 1 565 121 1 586 076 1 605 891
8 Kuningan 1 096 848 1 118 776 1 140 777 1 163 159
9 Cirebon 2 107 918 2 134 656 2 162 644 2 192 492
10 Majalengka 1 191 490 1 197 994 1 204 379 1 210 811
11 Sumedang 1 067 361 1 089 889 1 112 336 1 134 288
12 Indramayu 1 760 286 1 778 396 1 795 372 1 811 764
13 Subang 1 421 973 1 441 191 1 459 077 1 476 418
14 Purwakarta 770 660 784 797 798 272 809 962
15 Karawang 1 985 574 2 031 128 2 073 356 2 112 433
16 Bekasi 1 953 380 1 991 230 2 032 008 2 076 146
17 Bandung Barat - - 1 493 225 1 531 072
Kota/City
18 Bogor 844 778 855 846 866 034 876 292
19 Sukabumi 287 760 294 646 300 694 305 800
20 Bandung 2 315 895 2 340 624 2 364 312 2 390 120
21 Cirebon 281 089 285 363 290 450 298 995
22 Bekasi 1 994 850 2 040 258 2 084 831 2 128 384
23 Depok 1 373 860 1 393 568 1 412 772 1 430 829
24 Cimahi 493 698 506 250 518 985 532 114
25 Tasikmalaya 594 158 610 456 624 478 637 083
26 Banjar 173 576 177 118 180 744 184 577
42 94
39 960 869 40 737 594 41 483 729
Jawa Barat 869

2.2.Tenaga Kerja di Jawa Barat


Menurut Badan Pusat Statistik, Tenaga Kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun
atau lebih) yang bekerja atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja, dan yang
sedang mencari pekerjaan. Berdasarkan UU No. 13 Tahun 2003 tentang
ketenagakerjaan, yang disebut tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan
4
pekerjaan guna menghasilkan barang dan jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri
maupun untuk masyarakat. Didalam ketenagakerjaan terdapat komposisi penduduk,
yang artinya adalah pengelompokan penduduk berdasarkan kriteria-kriteria tertentu
sesuai dengan tujuan pengelompokan tersebut. Contoh pengelompokan penduduk,
antara lain adalah berdasarkan jenis kelamin, umur, agama, bahasa, mata pencaharian,
pendidikan, tempat tinggal, jenis pekerjaan, dan lain-lain. Komposisi penduduk
diperlukan dalam suatu negara karena dapat dijadikan dasar pengambilan kebijaksanaan
dalam pelaksanaan pembangunan. Komposisi penduduk menurut umur dan jenis
kelamin merupakan variabel yang sangat penting dalam demografi. Hal ini disebabkan
karena dalam setiap pembahasan tentang masalah penduduk melibatkan variabel umur
dan jenis kelamin. Komposisi penduduk menurut umur disebut juga struktur penduduk.
Struktur ini membagi umur dalam beberapa kelompok dengan interval tertentu. Struktur
penduduk antara wilayah satu dengan yang lain berbeda-beda. Negara maju mempunyai
struktur penduduk yang berbeda dengan negara yang sedang berkembang. Demikian
pula struktur wilayah perkotaan akan berbeda dengan struktur penduduk wilayah
pedesaan. Hal tersebut bisa terjadi karena dipengaruhi oleh tiga variabel demografi yaitu
kelahiran, kematian, dan migrasi. Ketiga variabel tersebut saling berpengaruh satu
dengan yang lain, jika salah satu berubah maka variabel yang lain juga ikut berubah.

a. Komposisi Penduduk Usia Kerja


Penduduk Usia Kerja didefinisikan sebagai penduduk yang berumur 15 tahun dan
lebih. Mereka terdiri dari "Angkatan Kerja" dan "Bukan Angkatan Kerja". Proporsi
penduduk yang tergolong "Angkatan Kerja" adalah mereka yang aktif dalam kegiatan
ekonomi. Keterlibatan penduduk dalam kegiatan ekonomi diukur dengan porsi
penduduk yang masuk dalam pasar kerja yakni yang bekerja atau mencari pekerjaan.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) merupakan ukuran yang menggambarkan
jumlah angkatan kerja untuk setiap 100 tenaga kerja. Kesempatan kerja memberikan
gambaran besarnya tingkat penyerapan pasar kerja yang tidak terserap di kategorikan
sebagai penganggur. Pada tahun 2008, jumlah angkatan kerja di seluruh provinsi Jawa
Barat sebanyak 18 743 979 orang. Yang aktif bekerja sebanyak 16 480 395 orang atau
sebesar 87,9 persen dan yang menganggur sebanyak 2 263 584 orang sebesar
12,1persen.

5
Penduduk Berumur 15*) Tahun Ke Atas Menurut Kabupaten/Kota
Population Aged 10 Years and Over by Regency/City
(Orang/Persons)
2008
Jenis Kegiatan/Type of Activity
Angkatan Kerja/Economically Active
No Kabupaten/Kota
Pengangguran
Bekerja Jumlah
Terbuka
1 Bogor 1 470 487 231 561 1 702 048
2 Sukabumi 900 258 88 400 988 658
3 Cianjur 847 542 112 659 960 201
4 Bandung 1 182 854 210 231 1 393 085
5 Garut 806 044 99 443 905 487
6 Tasikmalaya 763 367 66 563 829 930
7 Ciamis 757 136 48 321 805 457
8 Kuningan 465 539 49 332 514 871
9 Cirebon 811 856 125 242 937 098
10 Majalengka 516 818 39 703 556 521
11 Sumedang 494 095 48 613 542 708
12 Indramayu 661 242 73 869 735 111
13 Subang 649 879 66 430 716 309
14 Purwakarta 321 647 43 422 365 069
15 Karawang 795 700 142 967 938 667
16 Bekasi 854 404 130 930 985 334
17 Bandung Barat 527 311 102 203 629 514
Kota/City
18 Bogor 377 388 85 784 463 172
19 Sukabumi 118 349 20 922 139 271
20 Bandung 952 752 171 659 1 124 411
21 Cirebon 127 531 21 113 148 644
22 Bekasi 901 041 137 985 1 039 026
23 Depok 657 050 73 874 730 924
24 Cimahi 219 634 36 253 255 887
25 Tasikmalaya 234 054 28 531 262 585
26 Banjar 66 417 7 574 73 991
Jawa Barat 16 480 395 2 263 584 18 743 979

b. Komposisi Penduduk Yang Bekerja per Sektor


Proporsi pekerja menurut lapangan pekerjaan merupakan salah satu ukuran untuk
melihat potensi sektor perekonomian dalam menyerap tenaga kerja. Hal lain dapat pula
mencerminkan struktur perekonomian suatu wilayah. Sebagian besar penduduk Jawa
Barat yang bekerja pada tahun 2008, memiliki lapangan pekerjaan utama di sektor

6
Pertanian, Perdagangan, Industri dan Jasa-jasa. Persentase penduduk yang bekerja pada
sektor tersebut masing-masing 12,88; 13,94; 76,98; 13,41 persen.

Tenaga Kerja MenurutKabupaten/Kota dan


Lapangan Pekerjaan Utama per Sektor di Jawa Barat 2008
Output (Rp Juta) Tenaga Kerja (org)
No Sektor Output/Tenaga Kerja
Nilai % Jumlah %
1 Pertanian 62.688.857 13.66 4865547 29.69 12.88
a. Tanaman Pangan 48790496 10.63 1994874 12.17 24.46
b. Perkebunan 2891586 0.63 437899 2.67 6.60
c. Peternakan 5249110 1.14 1119076 6.83 4.69
d. Kehutanan 530555 0.12 632521 3.86 0.84
e. Perikanan 5227110 1.14 681177 4.16 7.67
2 Pertambangan dan Galian 26041536 5.68 95996 0.59 271.28
3 Industri 218251856 47.57 2835160 17.30 76.98
4 Listrik, Gas dan Air 11655630 2.54 51432 0.31 226.62
5 Bangunan/Konstruksi 20388004 4.44 788171 4.81 25.87
6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 57031416 12.43 4091388 24.96 13.94
7 Transportasi dan Komunikasi 20442510 4.46 1282488 7.82 15.94
8 Keuangan, usaha bangunan dan Jasa Perusahaan 11845869 2.58 107413 0.66 110.28
9 Jasa-jasa 30482576 6.64 2272831 13.87 13.41
Total 458828254 100.00 16390426 100.00 24.54
Sumber: BPS Tahun 2008
Di Jawa Barat subsektor peternakan menjadi sorotan utama pemerintah, karena
subsektor ini merupakan salah satu subsektor pertanian yang berhubungan penyediaan
kebutuhan akan konsumsi protein hewani. Selain itu, subsektor ini cukup berperan
dalam hal penyerapan tenaga kerja dan distribusi pendapatan bagi Jawa Barat. Untuk
melihat lebih jauh kontribusi subsektor ini, telah dilakukan pengolahan data terhadap
tabel I-O tahun 2008 Jawa Barat terhadap seluruh sektor perekonomian.

Produk Domestik Regional Bruto Jawa Barat, Tahun 2008

Jumlah (Rp Jumlah (Rp


Pengeluaran Pendapatan
Juta) Juta)
Konsumsi 38.149.952 Upah Gaji 33.339.540
Modal 36.355.304 Surplus Usaha 65.708.312
Stok 62.938.460 Penyusutan 17.934.516
Pajak tidak
14.290.460 21.091.012
Pengeluaran Pemerintah langsung
Jumlah Permintaan Akhir 259.259.920 Subsidi 30.127.400
Pengeluaran Kotor
410.994.096 145.162.160
Regional Nilai Tambah Bruto

7
Plus Ekspor 19.715.124
Less Impor -117.346.280
PDRB 313.362.940 PDRB 313.362.940
Sumber: BPS Tahun 2008 (Diolah dari I-O Jawa Barat Tahun 2008)

Berdasarkan hasil olahan data tersebut, nilai output untuk subsektor peternakan
adalah sebesar 5,2 triliun atau sebesar 1,14 persen dari seulruh output sektor
perekonomian Jawa Barat. Sedangkan nilai output subsektor peternakan terhadap sektor
pertanian mempunyai kontribusi sebesar 8,4 persen atau menempati urutan ke dua
setelah subsektor tanaman pangan. Selain itu, hasil olahan tersebut menunjukkan bahwa
tingkat penggunaan tenaga kerja untuk subsektor peternakan pada tahun 2008 adalah
sebanyak 1,12 juta orang atau 5,26 persen dari seluruh tenaga kerja yang digunakan
oleh seluruh sektor perekonomian Jawa Barat. Penyerapan tenaga kerja di subsektor
peternakan menempati urutan ke dua pada sektor pertanian dan menempati urutan ke
enam dari seluruh sektor perekonomian di Jawa Barat. Hal ini dapat menjelaskan bahwa
keberadaan subsektor peternakan dapat memberikan alternatif dalam penyerapan tenaga
kerja. Namun bila dilihat dari tingkat output per tenaga kerja, subsektor peternakan
hanya memberikan kontribusi sebesar 4,69 Juta Rupiah/Orang. Artinya bahwa setiap
tenaga kerja yang berada di sektor ini memberikan sumbangan sebesar Rp 4,69 juta
pada tahun 2000. Nilai output per tenaga kerja pada subsektor peternakan menempati
urutan ke tiga dari seluruh subsektor pertanian.
Namun berdasarkan analisis tersebut di atas, peran subsektor peternakan masih
relatif kecil dibandingkan dengan seluruh sektor perekonomian yang ada di Jawa Barat.
Walaupun demikian dari sisi penyerapan tenaga kerja, subsektor ini memberikan
peluang usaha bagi penduduk Jawa Barat. Di samping itu, subsektor ini masih dijadikan
sebagai usaha sampingan bagi petani kecuali komoditas-komoditas tertentu, seperti sapi
perah dan ayam ras pedaging telah menjadi sumber penghasilan utama bagi keluarga
peternak bukan sebagai usaha sampingan lagi.

2.3.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyerapan Tenaga Kerja di Jawa Barat


Faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja di jawa Barat adalah
sistem pemberian upah, modal tiap-tiap usaha, dan nilai produksi yang digunakan.
Namun faktor yang paling dominan adalah sistem pemberian upah. Sebab hal ini
dianggap penting demi keberlangsungan hidup masyarakat. Oleh karnanya pemerintah
dalam rangka mewujudkan penghasilan yang layak bagi pekerja, perlu menetapkan
8
upah minimum. Penetapan upah minimum itu antara lain dilakukan dengan
mempertimbangkan peningkatan kesejahteraan pekerja, tanpa mengabaikan peningkatan
produktivitas dan kemajuan perusahaan serta perkembangan perekonomian pada
umumnya.
Semula upah minimum ditetapkan secara regional, atau sering kita kenal sebagai
upah minimum regional (UMR). Sistem upah ini ditetapkan berdasarkan biaya hidup
pekerja disetiap daerah. Sebelum tahun 2000, Indonesia menganut sistem pengupahan
berdasarkan kawasan (regional). Artinya, untuk kawasan yang berbeda, upah minimum
yang harus diterima oleh pekerja juga berbeda. Ini berdasarkan pada perbedaan biaya
hidup pekerja di setiap daerah. Akan tetapi, penentuan upah berdasarkan kawasan ini
masih dirasakan belum cukup untuk mewakili angka biaya hidup di setiap daerah.
Untuk itu pemerintah melakukan perubahan peraturan tentang upah minimum.
Dengan adanya Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang kewenangan
pemerintah dan kewenangan provinsi sebagai daerah otonom, maka pemberlakuan Upah
Minimum Regional (UMR) berubah menjadi Upah Minimum Provinsi (UMP) atau
upah minimum kabupaten/kota. Dengan adanya peraturan baru ini, provinsi-provinsi di
Indonesia mulai menyeuaikan upah minimum regional di daerah mereka. Provinsi Jawa
Barat akhirnya juga telah menetapkan besaran Upah Minimum Kota/Kabupaten
berdasarkan keputusan Gubernur Jabar Nomor 561/Kep.1581-Bangsos/2014 tentang
UMK di Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Karawang menjadi wilayah dengan UMK
tertinggi dengan bedaran nyaris mencapai 3 juta Rupiah. Sebaliknya Kabupaten Ciamis
menjadi yang terendah dengan 1,131 juta Rupiah. Berikut Daftar Lengkap UMK 27
Kota/Kabupaten di Jawa Barat Tahun 2015:

1.Kota Bandung Rp 2.310.000


2.Kota Cimahi Rp 2.001.200
3.Kabupaten Bandung Rp 2.001.195
4.Kabupaten Bandung Barat Rp 2.004.637
5.Kabupaten Sumedang Rp 2.001.195
6.Kabupaten Subang Rp 1.900.000
7.Kabupaten Purwakarta Rp 2.600.000
8.Kabupaten Karawang Rp 2.957.450
9.Kabupaten Bekasi Rp 2.840.000
10.Kota Bekasi Rp 2.954.031

9
11.Kota Depok Rp 2.705.000
12.Kabupaten Bogor Rp 2.590.000
13.Kota Bogor Rp 2.658.155
14.Kab Sukabumi Rp 1.940.000
15.Kota Sukabumi Rp 1.572.000
16.Kab Cianjur Rp 1.600.000
17.Kab Garut Rp 1.250.000
18.Kab Tasikmalaya Rp 1.435.000
19.Kota Tasikmalaya Rp 1.450.000
20.Kab Ciamis Rp 1.131.862
21.Kota Banjar Rp 1.168.000
22.Kab Majalengka Rp 1.245.000
23.Kab Cirebon Rp 1.400.000
24.Kota Cirebon Rp 1.415.000
25.Kab Kuningan Rp 1.206.000
26.Kab Indramayu Rp 1.465.000
27 Kab Pangandaran Rp 1.165.000

Dengan demikian penyerapan tenaga kerja di Jawa Barat dipengaruhi olah faktor
pengupahan mengingat daftar upah diatas telah sesuai dengan kebutuhan masyarakat
setempat, sehingga dapat mendorong produktivitas serta penyerapan tenaga kerja.

10
BAB III
PENETUP

3.1.Kesimpulan

Pada tahun 2008 penduduk di Kabupaten/Kota Jawa Barat yang terbanyak di


Kabupaten Bogor, yaitu sebesar 4,4 juta jiwa dan diikuti oleh Kabupaten Bandung 3,1
juta jiwa. Hal ini tidak berbeda dengan kondisi di tahun lalu. Sedangkan penduduk
terkecil berada di kota Banjar yaitu sebanyak 0,18 juta jiwa. Jumlah penduduk Jawa
Barat pada tahun 2008 mencapai 42,19 juta jiwa. Pada tahun 2005 baru mencapai 39,96
juta jiwa, meningkat lagi menjadi 40,74 juta jiwa di tahun 2006, sedangkan tahun 2007
menjadi 41,48 juta jiwa.
Pada tahun 2008, jumlah angkatan kerja di seluruh provinsi Jawa Barat sebanyak 18
743 979 orang. Yang aktif bekerja sebanyak 16 480 395 orang atau sebesar 87,9 persen
dan yang menganggur sebanyak 2 263 584 orang sebesar 12,1persen.
Sebagian besar penduduk Jawa Barat yang bekerja pada tahun 2008, memiliki
lapangan pekerjaan utama di sektor Pertanian, Perdagangan, Industri dan Jasa-jasa.
Persentase penduduk yang bekerja pada sektor tersebut masing-masing 12,88; 13,94;
76,98; 13,41 persen.
Provinsi Jawa Barat akhirnya juga telah menetapkan besaran Upah Minimum
Kota/Kabupaten berdasarkan keputusan Gubernur Jabar Nomor 561/Kep.1581-
Bangsos/2014 tentang UMK di Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Karawang menjadi
wilayah dengan UMK tertinggi dengan bedaran nyaris mencapai 3 juta Rupiah.
Sebaliknya Kabupaten Ciamis menjadi yang terendah dengan 1,131 juta Rupiah.

3.2.Saran
Pemerintah harus memperhatikan kondisi tenaga kerja baik dari peningkatan
mutu tenaga kerja maupun dari sistem upah dan hukum ketenagakerjaan yang berlaku.
Untuk tenaga kerja harus mengasah keterampilan agar mudah mendapatkan pekerjaan
yang sesuai dengan bakat dan kemampuan.

11
Daftar Pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Tenaga_kerja

http://kompas.wageindicator.org/main/gaji/Gaji-Minimum/ump-2012/upah-minimum-

propinsi-2012

Badan Pusat Statistik Jawa Barat

http://twentytwopm.wordpress.com/2011/03/26/sistem-upah-di-indonesia/

http://hukumketenagakerjaanindonesia.blogspot.com/2012/03/sumber-hukum-

ketenagakerjaan-indonesia.html

http://hqsa.blogspot.com/2012/04/contoh-makalah-ketenagakerjaan.html

http://seshakri-ariezuya.blogspot.com/2012/06/ventor-12.html

12