Anda di halaman 1dari 21
TUGAS AKHIR RC 09.1380 PENGARUH SIKLUS PEMBASAHAN-PENGERINGAN BERULANG TERHADAP PROPERTI DINAMIK TANAH LEMPUNG
TUGAS AKHIR RC 09.1380 PENGARUH SIKLUS PEMBASAHAN-PENGERINGAN BERULANG TERHADAP PROPERTI DINAMIK TANAH LEMPUNG
TUGAS AKHIR
RC 09.1380
PENGARUH SIKLUS PEMBASAHAN-PENGERINGAN
BERULANG TERHADAP PROPERTI DINAMIK TANAH
LEMPUNG EKSPANSIF TIDAK JENUH YANG DISTABILISASI
DENGAN FLY ASH MENGGUNAKAN ALAT UJI ELEMEN
BENDER
Penyusun :
Tommy
NRP 3109 105 003
Rano Adex
NRP 3109 105 012
Dosen Pembimbing :

DR. Ir. Ria Asih Aryani Soemitro, M.Eng Ir. Sudjanarko S, M.Eng Tri Hanindyo Rendy, ST.MT

PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG Secara geografis Indonesia terletak di daerah tropis, dimana pada musim hujan akan terjadi
LATAR BELAKANG Secara geografis Indonesia terletak di daerah tropis, dimana pada musim hujan akan terjadi
LATAR BELAKANG
Secara geografis Indonesia terletak di daerah tropis, dimana pada
musim hujan akan terjadi curah hujan yang tinggi dan pada musim kemarau
akan terjadi cuaca yang panas. Perubahan cuaca mengakibatkan terjadinya
siklus pembasahan dan pengeringan secara berulang-ulang, sehingga tanah
akan mengalami perubahan volume tanah akibat perubahan kadar air. Hal
ini menyebabkan perubahan tekanan air pori dan perubahan kekuatan geser.
Pada tanah lempung ekspansif, siklus pembasahan dan pengeringan
mempunyai peranan besar dalam peristiwa pengembangan dan penyusutan,
yang menyebabkan terjadinya penurunan setempat.
PERUMUSAN MASALAH Bagaimana pengaruh siklus dan jumlah pengulangan siklus pembasahan- pengeringan terhadap nilai
PERUMUSAN MASALAH Bagaimana pengaruh siklus dan jumlah pengulangan siklus pembasahan- pengeringan terhadap nilai
PERUMUSAN MASALAH
Bagaimana pengaruh siklus dan jumlah pengulangan siklus pembasahan-
pengeringan terhadap nilai properti indeks dan properti dinamik (modulus
geser), tekanan air pori negatif pada tanah lempung ekspansif tidak jenuh
natural dan yang distabilisasi dengan fly ash pada kondisi awal tanah
dipadatkan (w i = w opt ).
BATASAN MASALAH 1. Tanah lempung ekspansif yang dipakai dalam penelitian ini adalah campuran tanah lempung
BATASAN MASALAH 1. Tanah lempung ekspansif yang dipakai dalam penelitian ini adalah campuran tanah lempung
BATASAN MASALAH
1.
Tanah lempung ekspansif yang dipakai dalam penelitian ini adalah
campuran tanah lempung Citra Raya (Perumahan Citra Raya Barat)
dengan Bentonit sehingga didapatkan nilai w L =
198% (Panjaitan,
2000).
2.
Benda uji dibuat dalam kondisi yang dipadatkan statik (disturbed)
sesuai dengan hasil pemadatan Proctor standar (w i = w opt ) dan
pengujian elemen bender dalam kondisi tidak jenuh.
3.
Kadar fly ash sebagai bahan stabilisasi adalah 15%, yaitu berdasarkan
hasil pengujian efektifitas pemakaian kadar fly ash yang dilakukan
oleh peneliti sebelumnya.
4.
Pengukuran tekanan air pori negatif (pF) menggunakan kertas filter
tipe Whatman no. 42 karena selain sederhana dan cukup akurat, juga
memliki kisaran nilai air pori negatif yang tinggi.
5.
Alat yang digunakan untuk menentukan properti dinamik tanah
adalah dengan alat uji elemen bender di laboratorium Mekanika
Tanah, Jurusan Teknik Sipil, ITS, Surabaya. Benda uji untuk elemen
bender berbentuk silinder, berdiameter ± 3,81 cm dan tinggi ± 3,0
cm.
TUJUAN PENELITIAN Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh siklus dan jumlah siklus
TUJUAN PENELITIAN Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh siklus dan jumlah siklus
TUJUAN PENELITIAN
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh siklus dan
jumlah siklus pembasahan-pengeringan terhadap nilai properti indeks,
properti dinamik (modulus geser), tekanan air pori negatif pada tanah
lempung ekspansif tidak jenuh natural dan yang distabilisasi dengan fly ash
untuk kondisi tanah yang dipadatkan (w i = w opt ).
MANFAAT PENELITIAN Jika dari hasil penelitian ini sesuai dengan yang diharapkan, maka akan memberikan manfaat
MANFAAT PENELITIAN Jika dari hasil penelitian ini sesuai dengan yang diharapkan, maka akan memberikan manfaat
MANFAAT PENELITIAN
Jika dari hasil penelitian ini sesuai dengan yang diharapkan, maka akan
memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Mengetahui pengaruh siklus pembasahan-pengeringan yang terjadi
secara alami pada tanah terhadap kekuatan tanah berdasarkan nilai
properti dinamiknya dengan alat uji elemen bender, sehingga dapat
diperkirakan kondisi kritis yang terjadi di lapangan.
2. Membuktikan bahwa penambahan fly ash dengan kadar tertentu pada
tanah ekspansif, dapat mempengaruhi sifat-sifat dinamiknya.
METODOLOGI PENELITIAN
METODOLOGI PENELITIAN
1. Persiapan benda uji Benda uji yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada penelitian yang
1.
Persiapan benda uji
Benda uji yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada
penelitian yang dilakukan oleh Runi Asmaranto (2001) dan Yus
Yudhyantoro (2001). Benda uji diambil dari lokasi di Perumahan Citra
Raya (Surabaya Barat).
2.
Pengujian sifat fisik tanah
- Indeks Konsistensi
a.
Kadar air (water content, w c )
b.
Batas cair (liquid limit, l L )
c.
Batas plastik (plastic limit, p L )
d.
Batas susut (shrinkage limit, s L )
- Distribusi ukuran butiran dan analisa hidrometer
- Pengujian berat jenis
3. Pengujian pemadatan (Proctor standar) Uji pemadatan dengan pengujian proctor standar dilakukan dengan memakai standar
3. Pengujian pemadatan (Proctor standar)
Uji pemadatan dengan pengujian proctor standar dilakukan dengan
memakai standar uji ASTM D 698-70. Data dari pengujian ini digunakan
untuk menggambarkan kurva hubungan antara kepadatan kering dengan
kadar air. Berdasarkan kurva pemadatan tersebut, harga kepadatan kering
maksimum (maximum dry density, MDD) dan kadar air optimum
(optimum moisture content, OMC) dapat ditentukan. Harga MDD dan
OMC tersebut merupakan kondisi inisial benda uji (w i = w opt dan γ di =
γ dmax ) yang akan digunakan dalam pengujian elemen bender dan tegangan
air pori negatif.

Tanah Lempung Citraland (TLC) +

Bentonite + Air (wl = 198%)

Uji sifat-sifat tanah dan batas-batas konsistensi TLC + Bentonit + Air + Fly Ash TLC
Uji sifat-sifat tanah dan batas-batas
konsistensi
TLC + Bentonit + Air + Fly Ash
TLC + Bentonit + Air + Fly Ash
kadar 0%
kadar 15%
Pemeraman Benda Uji 2 hari
Uji pemadatan dengan Standar
Proctor
Perhitungan nilai ϒ d maks dan w opt
Nilai ϒ d maks dan w opt
Nilai ϒ d maks dan w opt
untuk TLC + Bentonit +
untuk TLC + Bentonit +
Air + Fly Ash kadar
Air + Fly Ash kadar 0%
15%
Dengan
Tanpa kertas
kertas filter
filter
Pemeraman benda Uji (dicapai
kesetimbangan benda uji)
Proses Drying
Proses Wetting
dengan siklus 1x,
dengan siklus 1x,
2x, 4x, 6x
2x, 4x, 6x
Gambar A
Gambar B

Gambar . Diagram alir tahapan dan jenis pengujian yang dilakukan

4. Proses Pengeringan-Pembasahan Proses pengeringan dan pembasahan dilakukan secara bertahap berdasarkan persentase
4. Proses Pengeringan-Pembasahan
Proses pengeringan dan pembasahan dilakukan secara bertahap
berdasarkan persentase pengurangan kadar air. Persentase pengurangan
dan penambahan air ditentukan dari fungsi selisih antara kadar air (w f )
dengan kadar air awal (w i ) atau w f - w i . Pada proses pengeringan, benda
uji dengan kondisi awal (initial condition) dijenuhkan (inundation) hingga
mencapai kadar air 100%, kemudian dikeringkan dengan tahapan
pengurangan air yaitu 25%(w f – w i ), 50%(w f – w i ), 75%(w f – w i ) hingga
akhirnya sama atau mendekati kadar air awalnya. Sedangkan pada proses
pembasahan, benda uji dengan kondisi inisial dijenuhkan secara bertahap
dengan penambahan air 25%(w f – w i ), 50%(w f – w i ), 75%(w f – w i ),
hingga mencapai jenuh 100% (inundation). Penelitian ini menggunakan
siklus pengeringan-pembasahan 1x, 2x, 4x dan 6x. Perlakuan tersebut
diterapkan pada benda uji yang digunakan untuk pengujian elemen bender
dan pengukuran tegangan air pori negatif sehingga jumlah total benda uji
pada tahapan ini adalah 156 buah.
Gambar . Diagram alir proses pengeringan (A) dan proses pembasahan (B)

Gambar . Diagram alir proses pengeringan (A) dan proses pembasahan (B)

5. Pengukuran Tegangan Air Pori Negatif Nilai tegangan air pori negatif diperoleh dari grafik kolerasi
5. Pengukuran Tegangan Air Pori Negatif
Nilai tegangan air pori negatif diperoleh dari grafik kolerasi antara kadar
air kertas filter tipe whatman no. 42 dengan nilai suction setelah diberikan
kalibrasi yang diberikan pada gambar dibawah ini.
Gambar . Grafik kalibrasi kertas filter (dari : Fredlund dan Rahardjo, 1993 )
Setiap benda uji yang akan dilakukan pengukuran tekanan air pori negatif,
dipasang dengan 2 (dua) buah kertas filter, berukuran 1,5 x 1,5 cm2. Pada
masing-masing kertas filter tipe whatman tersebut dilapisi dengan kertas
filter biasa pada lapisan atas dan bawahnya dengan tujuan untuk
menghindari supaya tidak rusak atau kotor.
6. Pengujian Properti Dinamik Tanah Elemen bender menggunakan prinsip kecepatan gelombang geser (shear wave velocity)
6. Pengujian Properti Dinamik Tanah
Elemen bender menggunakan prinsip kecepatan gelombang geser (shear
wave velocity) untuk memperoleh modulus geser tanah (G). Penjelasan
tentang prosedur kerja dilaboratorium sejak dari cara penyiapan benda uji
sampai dengan pengolahan data hasil pengujian, akan disajikan sebagai
berikut:
‾ Instalasi Alat Uji dan Kalibrasi
Untuk memperoleh akurasi hasil pengujian dilakukan
dengan beberapa kalibrasi, yang pertama adalah kalibrasi
terhadap beberapa komponen elektronik, kalibrasi yang kedua
dilakukan dengan meng”nol”kan alat, sedangkan kalibrasi yang
ketiga dilakukan dengan eksperimen menggunakan media bentonite
hasil perumusan Marcuson & Wahls (1972). Hasil yang di peroleh di
perlihatkan dalam Gambar di bawah.
Gambar . Kalibrasi Alat dengan Meng”NOL”kan alat (tanpa benda uji)
Gambar .
Kalibrasi Alat dengan Meng”NOL”kan alat (tanpa benda uji)

Gambar . Pembacaan waktu delay “time delay” akibat adanya benda uji

‾ Alat uji elemen bender terdiri atas beberapa komponen utama, meliputi: sonic delay analyzer module,
‾ Alat uji elemen bender terdiri atas beberapa komponen utama,
meliputi: sonic delay analyzer module, transmit sensor, receive
sensor, dan oscilloscope. Gelombang geser di bangkitkan oleh sonic
delay analyzer module yang disalurkan melalui transmit sensor,
kemudian menjalar melalui benda uji yang akan di tangkap oleh
receive sensor di ujung yang lain. Sebuah oscilloscope di
hubungkan pada sonic delay analyzer module untuk membaca
waktu tempuh gelombang geser.
Adapun spesifikasi alat dan masing-masing komponennya adalah
sebagai berikut:
• Sensor:
Frekuensi natural
: 500 kHz
Mode transmisi
Desain elemen
Material casing
: Shear (X dan Y) dan Pressure (Z)
: Triaxial piezzo ceramic
: Diamagnetic stainless steel
• Transmitter:
HV Pulse
Pulse rate
: 10 – 250 V internal adjustable
: 25 – 150 Hz continue
• Receiver:
Charge amplifier gain
Coupling
: 0 – 75 dB
: RC
• Main:
Calibration delay
Trigger delay

Temperature range

: 0 – 20 µs : 0 – 100 µs : 15 – 55 0 C

: RC • Main: Calibration delay Trigger delay Temperature range : 0 – 20 µs :
‾ Prosedur Pengujian Elemen Bender Proses pengujian parameter dinamik di awali dengan instalasi alat elemen
‾ Prosedur Pengujian Elemen Bender
Proses pengujian parameter dinamik di awali dengan instalasi alat
elemen bender dan dilanjutkan dengan kalibrasi alat (pengenolan alat).
Skematik dari alat uji bender elemen seperti terlihat pada gambar 3.8.
Langkah berikutnya adalah penyiapan benda uji, secara lengkap proses
pengujian adalah sebagai berikut:
1. Periksa
system
alat-alat
elektronik,
komponen-komponen
sonic
delay analyzer
module,
transmit
sensor,
receive
sensor,
dan
oscilloscope dalam keadaan terpasang sempurna.
2. Hidupkan system alat-alat elektronik tersebut sampai terbaca
gelombang geser di layar oscilloscope. Lakukan setting konfigurasi
oscilloscope (penge”nol”an) sebelum pembacaan uji elemen bender
dimulai.
3. Benda uji yang telah dikondisikan kemudian diberi vaselin pada
kedua ujungnya. Oleskan vaseline setipis-tipisnya pada permukaan
tanah sampai permukaan tanah benar-benar rata (tebal ± 1 mm). Hal
ini dilakukan untuk menghindari adanya rongga antara alat dan
permukaan tanah. Dalam penelitian ini yang digunakan sebagai
vaselin adalah bentonite murni sesuai dengan penelitian Mourinho
(1995).
Gambar 3.6 Benda uji yang telah diberi Vaseline pada kedua ujungnya 4. Letakkan secara perlahan
Gambar 3.6 Benda uji yang telah diberi Vaseline pada kedua ujungnya
4. Letakkan secara perlahan tanah yang akan di uji pada sensor
pengirim gelombang geser. Kemudian pasang pada sisi tanah
yang lain sensor penerima gelombang. Proses pemasangan
dilakukan pada posisi vertikal, apabila benda uji telah berada
pada posisi yang benar, letakkan sensor dan benda uji pada meja
yang telah di sediakan.

Gambar 3.7 Posisi Benda uji dalam proses pengukuran

5. Setelah benda uji diletakkan pada posisi yang benar dan alat telah di setting dengan
5. Setelah benda uji diletakkan pada posisi yang benar dan alat
telah di setting dengan sempurna, lakukan pengukuran
perambatan gelombang geser. Waktu tempuh gelombang geser
akan terlihat di monitor pada layar oscilloscope. Dengan
mengetahui waktu tempuh (Δ t ), maka kecepatan rambat
gelombang pada benda uji dapat di tentukan, selanjutnya
modulus geser (G maks ) dapat dihitung.
Gambar . Proses pengukuran rambatan gelombang geser
SEKIAN DAN TERIMAKASIH
SEKIAN DAN TERIMAKASIH