Anda di halaman 1dari 3

A.

Definisi Hipoalbuminemia
Hipoalbuminemia adalah kadar albumin yang rendah/dibawah nilai normal
atau keadaan dimana kadar albumin serum < 3,5 g/dL Hipoalbuminemia
mencerminkan pasokan asam amino yang tidak memadai dari protein, sehingga
mengganggu sintesis albumin serta protein lain oleh hati .
Albumin merupakan protein serum dengan jumlah paling besar memiliki
beberapa fungsi penting. Albumin menjaga tekanan onkotik koloid plasma sebesar
75-80 % dan merupakan 50 % dari seluruh protein tubuh. Jika protein plasma
khususnya albumin tidak dapat lagi menjaga tekanan osmotic koloid akan terjadi
ketidakseimbangan tekanan hidrostatik yang akan menyebabkan terjadinya
edema.
Albumin berfungsi sebagai transport berbagai macam substasi termasuk
bilirubin, asam lemak, logam, ion, hormone, dan obat-obatan. Salah satu
konsekuensi dari hipoalbumin adalah obat yang seharusnya berikatan dengan
protein akan berkurang, di lain pihak obat yang tidak berikatan akan meningkat,
hal ini akan meningkatkan kadar obat dalam darah. Perubahan pada albumin akan
menyebabkan gangguan fungsi platelet.
B. Etiologi
Hipoalbuminemia dapat disebabkan oleh penurunan produksi albumin,
sintesis yag tidak efektif karena kerusakan sel hati, kekurangan intake protein,
peningkatan pengeluaran albumin karena penyakit lainnya, dan inflamasi akut
maupun kronis
- Malnutrisi protein, asam amino diperlukan dalam sintesa albumin, akibat
dari defesiensi intake protein terjadi kerusakan pada reticulum endoplasma
sel yang berpengaruh pada sintesis albumin dalan sel hati.
- Sintesis yang tidak efektif, pada pasien dengan sirosis hepatis terjadi
penurunan sintesis albumin karena berkurangnya jumlah sel hati. Selain itu
terjadi penuruanan aliran darah portal ke hati yang menyebabkan
maldistribusi nutrisi dan oksigen ke hati
- Kehilangan protein ekstravaskular, kehilangan protein masiv pada
penderita sindrom nefrotik. Darat terjadi kebocoran protein 3,5 gram
dalam 24 jam. Kehilanan albumin juga dapat terjadi pasien dengan luka
bakar yang luas.
- Hemodilusi, pada pasien ascites, terjadi peningkatan cairan tubuh
mengakibatkan penurunan kadar albumin walaupun sintesis albumin
normal atau meningkat. Bisanya terjadi pada pasien sirosis hepatis dengan
ascites.
- Inflamasi akut dan kronis, kadar albumin rendah karena inflamasi akut dan
akan menjadi normal dalam beberapa minggu setelah inflamasi hilang.
Pada inflamasi terjadi pelepasan cytokine (TBF, IL-6) sebagai akibat
resposn inflamasi pada stress fisiologis (infeksi, bedah, trauma)
mengakibatkan penurunan kadar albumin memlaui mekanisme:
(1) Peningkatan permeabilitas vascular (mengijinkan albumin untuk
berdifusi ke ruang ekstravaskular); (2) Peningkatan degradasi
albumin; (3) Penurunan sintesis albumin (TNF- yang berperan dalam
penuruanan trankripsi gen albumin)
C. Klasifikasi Hipoalbuminemia
Defisiensi albumin atau hipoalbuminemia dibedakan berdasarkan selisih atau
jarak dari nilai normal kadar albumin serum, yaitu 3,55 g/dl atau total kandungan
albumin dalam tubuh adalah 300-500 gram adalah sebagai berikut:
1. Hipoalbuminemia ringan : 3,53,9 g/dl
2. Hipoalbuminemia sedang : 2,53,5 g/dl
3. Hipoalbuminemia berat : < 2,5 g/dl
D. Tatalaksana
Terdapat berbagai indikasi untuk memberikan infus albumin bagi pasien sirosis
hati, seperti memperbaiki kondisi umum, mengatasi asites atau mengobati
sindroma hepatorenal. Dari sekian banyak alasan pemberian albumin ada empat
indikasi yang ditunjang oleh data uji klinis memadai, yaitu:
1. Peritonitis bakterialis spontan
2. Sindroma hepatorenal tipe 1
3. Sebagai pengembang plasma sesudah parasentesis volume
besar (>5 liter)
4. Meningkatkan respons terapi diuretika
Selain itu masih ada beberapa indikasi lain yang masih menjadi kontradiksi,
misalnya pada sirosis hati dengan hipoalbuminemia berat yang disertai penyulit
atau pasien sirosis hati yang akan menjalani operasi besar.
1. Kecepatan infus
a) Pada infus albumin 20% kecepatan maksimal adalah 1 ml/
menit
b) Pada infus albumin 5% kecepatan maksimal adalah 2-4 ml/
menit
2. Pada tindakan parasentesis volume besar (>5 liter)
a) Dosis albumin yang diberikan adalah 6-8 gram per 1 liter cairan asites yang
dikeluarkan.
b) Cara pemberian adalah 50% albumin diberikan dalam 1 jam pertama
(maksimum 170 ml/jam) dan sisanya diberikan dalam waktu 6 jam berikutnya.
3. Sindroma hepatorenal tipe 1
a) Pada keadaan ini albumin diberikan bersama-sama dengan obat-obat vasoaktif
seperti noradrenalin, oktreotid, terlipressin atau ornipressin.
b) Cara pemberiannya adalah:
Hari pertama: 1 gram albumin/kg BB.
Hari kedua dan seterusnya: 20-40 gram/hari kemudian dihentikan bila CVP
(Central Venous Pressure) >18 cm H2O.