Anda di halaman 1dari 121

GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN

NAMA MATA KULIAH : FARMAKOLOGI


KODE MK : Bd. 206
BEBAN STUDI : 3 SKS ( T = 2 ; P = 1 )
PENEMPATAN : SEMESTER III

A. DESKRIPSI MATA KULIAH


Mata kuliah ini memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk memberikan
obat yang berhubungan dengan praktek kebidanan sesuai dengan standar dan
wewenangnya , dengan pokok bahasan : konsep farmakologi yang meliputi
farmakodinamika, farmakokinetik dan kefarmasian , obat-obatan yang lazim
digunakan dalam pelayanan kebidanan , yang meliputi jenis , khasiat ,efek samping
obat dan faktor-faktor yang mempengaruhi obat dan tata cara pemberian dan
pengelolaan obat.

B. TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM


1. Menjelaskan konsep farmakologi
2. Menjelaskan obat-obat yang lazim digunakan dalam pelayanan kebidanan
3. Menjelaskan metabolisme obat
4. Menjelaskan khasiat masing-masing obat yang lazim digunakan dalam
pelayanan kebidanan
5. Mengelola dan memberikan obat sesuai dengan kebutuhan
6. Menjelaskan cara mengatasi efek samping obat
7. Menerapkan aspek legal dalam pemberian obat oleh bidan
8. Mendemonstrasikan pemberian obat

C. PROSES PEMBELAJARAN
T : Dilaksanakan di kelas, dengan menggunakan ceramah, diskusi ,
seminar dan penugasan.
P : Dilaksanakan di kelas, laboratorium ( baik di kampus maupun di
lahan praktek dengan menggunakan metoda simulasi,
demonstrasi, role play dan bed sid teaching.

D. EVALUASI
Teori :
1. Ujian tengah semester : 20 %
2. Ujian akhir semester : 20 %
3. Kuis : 10 %

Praktikum
1. Praktikum : 50 %

1
E. BUKU SUMBER
Buku Utama
1. Farmakologi Therapi Edisi 4, Universitas Indonesia, 1995 (BU 1 )
2. Anief.,Moh., 2000 , Prinsip Umum dan Dasar Farmakologi, Gadjah Mada
University Press,Yogyakarta.
3. The Midwifes Pharmacopia, Banister, 1997.

Buku Anjuran
1. Narkotika Psikotropika obat-obat berbahaya, Yayasan Mitra Bimtibimas
Jakarta.

2
No. Pokok Bahasan Waktu T/P
1. Konsep Farmakologi 2 jam
Farmakodinamika
Farmkokinetika

2. Uterotonika 2 jam/3jam

3. Obat Anti Perdarahan 1 jam/2 jam

4. Obat Analgetik 1 jam/2 jam

5. Obat Diuretika 1 jam/2 jam

6. Obat Anemia 1 jam/2 jam

7. Obat Anestesi 1 jam/1 jam

8. Obat Pre Eklampsia dan Eklampsia 2 jam/2 jam

9. Obat Antipiretika 2 jam/2 jam

10. Vitamin danMineral 2 jam/1 jam

11. Obat Anti Konvulsi 1 jam/2jam

12. Obat Antihipertensi 1 jam/2 jam

13. Faktor-faktor yan Mempengaruhi 1 jam


Khasiat Obat

14. Resep 1jam/2 jam

3
Tugas Tingkat II A,B,dan C Akademi Kebidanan Cianjur
Tahun 2012/2013
Pilih satu dari Topik di bawah ini !
Dikumpulkan : tanggal 6 Oktober 2012

Obat Pre Eklampsia dan Eklampsia

1. Pengertian
2. Macam-macam obat Pre Eklampsia dan Eklampsia
3. Cara kerja /khasiat obat Pre Eklampsia dan Eklampsia
4. Indikasi/Kontra Indikasi
5. Dosis yang digunakan
6. Efek Samping dan Cara mengatasinya

Vitamin dan Mineral

1. Pengertian Vitamin
2. Pengelolaan Vitamin
3. Fungsi Vitamin
4. Penyakit Akibat Defisiensi Vitamin
5. Contoh Obat

Sumber
Wajib
Prinsip Umum dan Dasar Farmakologi, Moh. Anief, Gadjah Mada University Press.
Farmakologi Untuk Keperawatan, Jan Tambayong, Widya Medika.

Tambahan
ISO Indonesia, Ikatan Apoteker Indonesia.
Internet

4
Tujuan Pembelajaran Khusus
Pada akhir perkuliahan mahasiwa dapat : Menjelaskan konsep farmakologi

BAB I
Konsep Farmakologi
Pengertian Farmakologi
Farmakologi berasal dari bahasa Latin ,pharmacon yang berarti obat dan logos yang
berarti suatu pembahasan yang rasional.

Farmakologi ,adalah ilmu yang mempelajari cara dalam mana fungsi sistem hidup
dipengaruhi obat.

Farmakologi ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang obat terutama mengenai
efeknya terhadap tubuh.

Farmakologi merupakan ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan interaksi antara


sebuah sistem dalam mahluk yang hidup dan zat-zat kimia dari luar yang masuk ke dalam
sistem tersebut.

Farmakologi medis,ilmu penggunaan bahan-bahan untuk mencegah ,mendiagnosis , dan


mengobati penyakit.

Pengertian Obat
Obat ialah suatu zat yang digunakan untuk diagnose, pengobatan , penyembuhan , atau
pencegahan penyakit pada manusia atau hewan.

Obat ,suatu substansi/bahan yang digunakan untuk mendiagnosa,menyembuhkan,


mengatasi, membebaskan ,atau mencegah penyakit.

5
Obat ,bahan yang digunakan untuk mengurangi, menghilangkan penyakit, atau
menyembuhkan seseorang dari penyakit, senyawa atau campuran senyawa senyawa yang
berkhasiat mengurangi ,menghilangkan gejala atau menyembuhkan penyakit.

Obat dapat diartikan sebagai setiap molekul kecil yang ketika masuk ke da lam tubuh,
akan mengubah fungsi tubuh melalui pelbagai interaksi di tingkat molekuler.

Obat
Adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk
mempengaruhi atau menyelediki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka
penetapan diagnosis , pencegahan ,penyembuhan ,pemulihan , peningkatan kesehatan dan
kontrasepsi , untuk manusia.
( UU No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan).

Obat Tradisional
Adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan
mineral , sedian sarian (galenik),atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun
temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma
yang berlaku di masyarakat.
( UU No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan).

Beberapa istilah penting dalam farmakologi


Beberapa istilah penting dalam farmakologi antara lain : Apotik, Apoteker, farmakologis,
farmakope, farmasi, farmasis,

Apotik
Adalah suatu tempat tertentu tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran
perbekalan farmasi kepada masyarakat.

Apoteker
Adalah mereka yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku berhak
melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai Apoteker.

Farmakologis ( Pharmacologist ), ahli farmakologi, ahli tentang khasiat obat.

Farmakope, buku resmi (di sesuatu negara) berdasarkan peraturan perundang-undangan


yang memuat tentang obat dan persyaratannya..

Farmasi, ilmu membuat ,mencampur dan menyediakan obat.

Farmasis ( Pharmacist ) : ahli obat, apoteker.

Ruang lingkup farmakologi


Farmakologi mencakup cabang-cabangnya yaitu : Farmakokinetik, farmakodinamik,
farmakognosi,farmakoterapi, farmakologi eksperimental, farmakologi klinik, dan
toksikologi.

6
Macam-macam obat
Macam- macam obat berdasarkan khasiat dan penggunaannya dapat digolongkan
menjadi :
1. Adstringen
Obat yang menciutkan selaput lendir
2. Adsorben
Zat inert yang secara kimia mampu menyerap gas,toksin, bakteri.
3. Analeptik
Obat yang menstimulasi terhadap susunan syaraf sentral, yang terdiri dari
sumsum tulang belakang.
4. Analgetik-Antipiretik
Analgetik : obat yang mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri tanpa
menghilangkan kesadaran
Antipiretik : obat yang menurunkan suhu tubuh yang tinggi.
5. Analgetik-Narkotik
6. Anestetik
Obat yang menyebabkan hilangnya perasaan.Anestesia, artinya hilangnya
perasaan.
7. Antasid
Obat yang menaikkan pH dari cairan lambung, atau disebut pula zat
pengikat asam, untuk mengikat asam lambung yang berlebihan.
8. Antelmintik
Obat yang membasmi atau membunuh cacing
9. Antiamuba
Obat yang digunakan untuk membunuh /membasmi amuba.
10. Antiasma
Obat yang digunakan untuk mengobati penyakit asma.
11. Antibakteri
Obat untuk membunuh bakteri.
12. Antibiotik
Obat yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang dapat menghambat
pertumbuhan atau dapat membunuh mikroorganisme lain.
13. Antidiabetik

7
Obat yang digunakan untuk menurunkan kadar gula darah, yaitu
pada penderita Diabetes melitus.
14. Antidot
Obat yang digunakan untuk menghilangkan adanya suatu keracunan
(penawar racun).
15. Antifungi
Obat yang digunakan untuk membunuh atau menghilangkan jamur

16. Anti-flatulen
17. Antiflogistik
18. Antifibrilan
19. Antihemoragik
20. Antihipertiroid
21. Antihipotiroid
22. Antihipertensi
23. Antihipotensi
24. Antihistaminik
25. Antiiritan
26. Antikoagulan
27. Antikonvulsan
28. Antiseroftalmia
29. Antilepra
30. Antimalaria
31. Antimuntah
32. Antipelagra
33. Antiparkinson
34. Antirachitis
35. Antirheumatik
36. Antiseptik
37. Antiskabies
38. Antisklerosis
39. Antiobesitas
40. Antiskorbut
41. Antispasmodik
42. Antitrachoma
43. Antituberkulosa
44. Antitusif
45. Diuretik
46. Hematinik
47. Hipnotik dan Sedative
48. Hormon
49. Kardiaka
50. Kardiotonik
51. Kontraseptik Oral
52. Laksatif
53. Pengendor Otot
54. Oksitosik
55. Parasimpatomimetik
56. Parasimpatolitik
57. Psikofarmaka

8
58. Sedative
59. Simpatomimetik
60. Simpatolitik
61. Sitostatika
62. Vasodilator
63. Vasodilator perifer dan aktivator cerebrum
64. Vasokonstriktor
65. Vitaminum
66. Virustatika
67. Wekamin
68. Obat yang digunakan karena aksi lokal pada kulit atau membran mukosa.

Perundang-undangan obat
Perundang-undangan obat di Indonesia antara lain:
1. Undang-Undang Obat Keras Tahun 1949
2. Undang-Undang Nomor 3 Tahujn1953 Tentang Pembukan Apotik
3. Undang-undang Farmasi Tahun 1963
4. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan
5. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 Tentang Psikotropika
6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang
Narkotika
7. Peraturan Pemerintah Tentang Pengamanan Sediaan Farmasi
8. Keputusan Menkes RI No.: 633/Ph/62/b Tentang Penetapan Daftar Obat
Keras
9. Keputusan Menkes RI No. : 809/Ph/64/b Tentang Ketentuan Penyerahan
Obat Keras Oleh Pedagang Besar
10. Keputusan Menkes RI no. : 6355/Dir.Djend/SK/69 Tentang Penetapan
Daftar Obat Bebas Terbatas Nomor 1
11. Keputusan Dir. Jend Farmasi Depkes RI no. : 2193/Dir. Djend/SK/67
Tentang Penetapan Daftar Obat Bebas Terbatas Nomor 2
12. Keputusan Menkes RI No. : 1761/A/SK/71 Tentang Penetapan Daftar
Obat Bebas Terbatas Nomor 3
13. Keputusan Menkes RI No. : 6739/Dir. Djend/SK/70 Tentang Penetapan
Daftar Obat Bebas Terbatas Nomor 4.
14. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. : 9548/A/SK/71 Tentang Penetapan
Daftar Obat Bebas Terbatas No.5
15. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. :6294/A/SK/74 Tentang Penetapan
Daftar Obat Bebas Terbatas Nomor 7
16. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 944/E/SK/
1977 Tentang Penetapan Daftar Obat Bebas Terbatas Nomor 10
17. Perarutan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :
085/MENKES/PER/I/1989 tentang Kewajiban Menuliskan Resep
dan/atau Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Pemerintah

9
18. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :
347/MenKes/SK/VII/1990 Tentang Obat Wajib Apotik
19. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 919/MEnKes/Per/X/1993 Tentang
Kriteria Obat Yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep
20. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 925/MenKes/Per/XV/1993 Daftar
Perubahan Golonggan Obat No.1
21. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :
069/Menkes/SK/II/2006 Tentang Pencatuman Harga Eceran Tertingi
(HET) Paba Label Obat.
22. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :
284/Menkes/Per/III/2007 Tentang Apotek Rakyat.

BAB II
Farmakodinamik
2.1. Pengertian
Farmakodinamik adalah bagian farmakologi yang mempelajari pengaruh obat sel
hidup
Farmakodinamik (Farmakodinamika, ( pharmacodynamic ), ilmu yang mempelajari
kegiatan obat-obatan.
Farmakodinamik ( Ilmu Farmakodinami), adalah ilmu yang mempelajari cara kerja
obat, efek obat, tehadap fungsi berbagai organ dan pengaruh obat terhadap reaksi
biokimia dan struktur organ.
Farmakodinamik merupakan ilmu yang mempelajari efek fisiologis, biokimia dan
mekanisme obat.
Pharmacodynamics can be defined as the study of biochemical and physiological
effects of drugs and their mechanisms of action.

2.2. Macam-macam resep obat


Golongan obat adalah penggolongan yang dimaksud untuk peningkatan keamanan
dan ketepatan penggunaan serta pengamanan distribusi yang terdiri dari obat bebas,
obat bebas terbatas, obat keras , psikotropika , narkotika dan Obat Wajib Apotik.
Untuk mengawasi penggunaan obat oleh rakyat serta untuk menjaga keamanan
pengunaannya, maka pemerintah menggolongkan obat menjadi 5 golongan yaitu :

1. Obat bebas
Contoh :
Tablet Vitamin C 100 mg, 50 mg, 250 mg
Tablet B Kompleks, Tablet B1 100 mg, 50 mg, 25 mg

2. Obat Bebas Terbatas (dulu disebut daftar W) , yaitu obat keras dengan batasan
jumlah dan kadar isi berkhasiat dan harus ada tanda peringatan (P) boleh
dijual bebas.

10
Contoh :
Antimo , Lisol, Tablet Santonin, Serbuk Sulfanilamid,
Tablet Chloroprophenpyridamin Maleas (CTM),
Tablet Bisacodylum = Dulcolax 10 mg, Tablet Dextromethorphani
Hydrobromidum

3. Obat Keras ( dulu disebut obat daftar G = gevaarlijk) = berbahaya) ,yaitu obat
berkhasiat keras yang untuk mendapatkannya harus dengan resep dokter.
Contoh :
Semua obat injeksi, Obat antibiotika, Digitoxin, Reserpinum, Isoniazidum = INH ,
Indometasin, nitroglycerinum

4. Obat Narkotik ( dulu disebut obat daftar O = opiate ) untuk memperolehnya


harus dengan resep dokter dan Apotik diwajibkan melaporkan jumlah dan
macamnya
Contoh :
Opium, Morfin, Kodein, Petidin.

5. Obat Wajib Apotik yaitu obat keras yang dapat diserahkan oleh Apoteker kepada
pasien di Apotik tanpa resep dokter.

Contoh :
Ibuprofen tablet 400 mg, 10 tablet ; Ibuprofen 200 mg, 10 tablet, Asam
Mefenamat , maksimum 20 tablet , sirup 1 botol.

Obat Palsu
Obar Palsu adalah obat yang diproduksi oleh pihak yang tidak berhak menurut
Undang-Undang.

Macam-macam Obat Palsu


1. Produk yang mengandung bahan berkhasiat dengan kadar
memenuhi syarat , diproduksi ,dikemas dan dilabel seperti produk
aslinya , tetapi bukan dibuat oleh pabrik aslinya.
2. Obat yang mengandung bahan berkhasiat dengan kadar yang
tidak memenuhi syarat
3. Produk dibuat dengan bentuk dan kemasan seperti produk asli,
tetapi tidak mengandung bahan yang berkhasiat.
4. Produk yang menyerupai produk asli , tetapi mengandung bahan
berkhasiat yang berbeda
5. Produk yang diproduksi tanpa izin

Perbedaan Jamu dan Obat Modern

11
No. Jenis Sifat Jamu Obat
Modern
1 Efeknya Kurang keras Lebih keras
2 Dosis Kurang tinggi Lebih tinggi
3 Keamanan Lebih aman Lebih berbahaya
4 Sasaran Mencegah, Menyembuh
Membantu kan,mengobati
5 Syarat2 Lebih longgar Lebih ketat
Produk
6 Bahan Natural/alami Kimia
7 Harga Lebih murah Lebih mahal

2.3. Proses yang dialami obat dalam tubuh sakit maupun seha

BAB III
Farmakokinetik

3.1. Pengertian
Farmakokinetik adalah ilmu yang mempelajari tentang absorpsi, distribusi,
metabolisme dan eksresi obat (ADME).

3.2. Absorpsi dan bioavailabilitas


Absorpsi merupakan transfer obat melintasi membran. Ada tiga tipe membran badan
yaitu :
a. Membran kulit
b. Membran epitel usus
c. Membran sel tunggal

Dalam melintasi sel membran obat melakukan dengan dua cara, yaitu :
transfer pasif dan transfer aktif khusus.

Absorpsi dipengaruhi oleh faktor-faktor :


a. kelarutan obat,
b. kemampuan difusi melintasi sel membran,
c. sirkulasi pada letak absorpsi,
d. konsentrasi obat,
e. luas permukaan kontak obat,
f. bentuk obat,
g. rute pemakaian obat.

12
Bioavailabilitas ( Boavailability)
Persen dosis yang masuk ke dalam sirkulasi sistem setelah pemberian bentuk dosis
tertentu.

3.3. Distribusi
Setelah obat diabsorpsi ke dalam aliran darah untuk mencapai tepat pada letak aksi
harus melalui membran sel. Distribusi obat dilakukan di dalam susunan saraf pusat
dan melalaui sawar darah-otak.
Akumulasi obat dapat terjadi pada tempat penyimpanan tertentu yaitu:
1. Ikatan pada protein plasma bersifat reversible di dalam darah dan jaringan lainnya
2. Penyimpanan dalam lemak merupakan penyimpanan kedua bagi obat.

Distribusi obat dipengaruhi oleh aliran darah, afinitas (kekuatan penggabungan)


terhadap jaringan, dan efek pengikatan dengan protein.
Ketika obat didistribusi di dalam plasma, kebanyakan berikatan dengan protein dalam
derajat (persentase) yang berbeda-beda.

Berikatan tinggi ( 80 90% )


Contoh :
Amitriptilin 87 %
Diazepam ( Valium ) 98 %
Digitoksin 90 %
Furosemid 95 %
Klorpromazin 95 %

Berikatan cukup tinggi ( 60 79 %),


Contoh:
Eritromisin 70 %
Quinidin 70 %
Teofilin 60 %
Trimetroprim 70 %

Berikatan sedang ( 40 60 %)
Contoh:
Aspirin 49 %
Digoksin 25 %
Lidokain 50 %
Meperidin 56 %

3.4. Biotransformasi (Metabolisme)


Hati merupakan tempat utama untuk metabolime. Tempat lainnya : ginjal. plasma dan
selaput lendir usus.
Fungsi Hati
13
1. Mempertahankan gula darah
2. Metabolisme lipid
3. Menyimpan vitamin A dan B dan heparin
4. Menghasilkan fibrinogen dan albumin plasma
5. Mensintesis kolesterol
6. Mendetoksifikasi bahan-bahan toksik
7. Menfagositosis benda-benda asing/partikel oleh fagosit pada sinaoid
8. Hemopoiesis pada fetus dan bayi baru lahir

Kebanyakan obat diinaktifkan oleh enzim-enzim hati dan kemudian diubah atau
ditransformasikan oleh enzim-enzim hati menjadi metabolit inaktif atau zat yang larut
dalam air untuk dieksresikan .

Tetapi beberapa obat ditransformasikan menjadi metabolit aktif, menyebabkan


peningkatan respons farmakologik.

Reaksi biotransformasi biasanya oksidasi, hidrolisis, dan konjugasi.

Penyakit hati, seperti sirosis dan hepatitis, mempengaruhi metabolisme obat.

3.5. Eksresi (Eliminasi)


Rute utama eliminsi obat adalah ginjal, rute-rute lainnya meliputi empedu, feses,
paru-paru, saliva, keringat, dan ASI.

Fungsi Ginjal
1. Membuang limbah dan substansi berlebihan dari darah
2. Membentuk kemih, melalui tiga proses
a. Filtrasi glomerular
b. Rebasorpsi tuber
c. Sekresi

WaktuParuh (T1/2)
Adalah waktu yang dibutuhkan oleh separuh konsentrasi obat untuk dieliminasi.

Tabel Waktu Paruh Obat

No. Nama Obat Waktu Paruh (t1/2)


(Jam)
1. Amitriptilin 40
2. Asam Valproat 15
3. Aspirin 0,25 2
4. Diazepam 30 -80
5. Digoksin 36
6. Digotoksin 8

14
7. Eritromisin 3
8 Fenitoin 10-40
9 Furosemid 3,5
10 Klorpromazin 30
11. Lidokain 2
12. Lorazepam 15
13. Meperidin 3
14. Nafsilin 2-20
15. Prapranolol 4
16. Quinidin 6
17. Rifampin 2
18. Teofilin 9
19. Trimetoprim 11
20. Warfarin 36

Contoh Soal:
Buatlah tabel Waktu paruh Aspirin 650 mg , bila Waktu paruhnya 3 jam.
Setelah berapa jam sampai tersisa 10 mg ?

Jawab:
Tabel waktu Paruh 650 mg Aspirin
t1/2 Waktu untuk Dosis yang Persentase yg
ke eliminasi (jam) tersisa mg) tersisa (%)
1 3 325 50
2 6 162 25
3 9 81 12,5
4 12 40 6,25
5 15 20 3,1
6 18 10 1,55
7 21 5 0,775
8 24 2,5 0,3875

Jadi setelah 18 jam , aspirin yang tersisa 10 mg

Soal:
1. Buatlah tabel Waktu paruh Diazepam 5 mg , bila Waktu paruhnya 30 jam.
Setelah 120 jam ,berapa diazepam yang tersisa ?

2. Buatlah tabel Waktu paruh Digoksin 0,25 mg , bila Waktu paruhnya 36 jam.

15
Setelah 144 jam ,berapa digoksin yang tersisa ?

3. Buatlah tabel Waktu paruh Amitriptilin 25 mg , bila Waktu paruhnya 40 jam.


Setelah 200 jam ,berapa Amitriptilin yang tersisa ?

4. Buatlah tabel Waktu paruh Furosemid 40 mg , bila Waktu paruhnya 1,5 jam.
Setelah 30 jam ,berapa Furosemid yang tersisa

5. Buatlah tabel Waktu paruh Fenitoin 100 mg , bila Waktu paruhnya 10 jam.
Setelah 90 jam ,berapa Feniotin yang tersisa ?

Dosis
Dosis ( Dose )
Takaran obat atau sinar Rontgen yang diberikan pada satu
pelayanan. (Ahmad Ramali)

Takaran obat untuk sekali pakai (dimakan,diminum , atau


disuntikkan dsb) dalam jangka waktu tertentu

Dosis (Takaran obat)


Adalah banyaknya suatu obat yang dapat dipergunakan atau diberikan kepada
Seorang penderita , baik untuk obat dalam maupun obat luar.

Ukuran pengobatan yang harus diberikan untuk jangka waktu


tertentu. (Ahmad A.K. Muda).

Macam-macam Dosis
1. Dosis Awal
2. Dosis Ambang
3. Dosis Lazim
4. Dosis Letal
5. Dosis Maksimal
6. Dosis Maut
7. Dosis Minimum
8. Dosis Rumat
9. Dosis Terapi

Dosis Awal ( Initial Dose)

16
Takaran obat/sinar yang diberikan pada permulaan pengobatan ,biasanya dalam jumlah
lebih besar untuk mendapatkan efek pengobatan

Dosis Ambang
Dosis minimum yang menimbulkan gangguan pada tubuh

Dosis Lazim
Dosis ini merupakan petunjuk umum yang tidak mengikat, tetapi digunakan sebagai
pedoman umum.

Dosis Letal (Lethal Dose )


Takaran obat yang menyebaban kematian

Dosis Maksimal (Maximal Dose )


Takaran obat keras terbesar menurut Farmakope yang dapat diberikan setiap kali atau
setiap 24 jam.

Takaran obat terbesar yang diberikan yang masih menyembuhkan dan tidak
menimbulkan keracunan pada penderita.

Dosis Minimum
Takaran obat terkecil yang diberikan yang masih dapat menyembuhkan dan tidak
menimbulkan resistensi pada manusia.

Dosis Rumat ( Maintanance Dose )


Takaran obat yang diberikan untuk mempertahankan efek obat yang telah dicapai biasanya
lebih sedikit dari dosis awal

Dosis Terapi
Takaran obat yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat menyembuhkan penderita.

Perhitungan Dosis Obat


Pemilihan dan penetapan dosis memang tidak mudah karena harus memperhatikan
beberapa faktor ,yaitu:
1. Faktor penderita,meliputi umur, bobot badan, jenis kelamin,luas permukaan tubuh,
toleransi, habituasi, adiksi dan sensitivitas ,serta kondisi penedrita.
2. Faktor obat; meliputi sifat kimia dan fisika obat,sifat farmakokinetik (ADME), dan
jenis obat.
3. Faktor penyakit; meliputi sifat dan jenis penyakit serta kasus penyakit

Oleh karena aturan pokok perhitungan dosis untuk anak tidak ada, para pakar mencoba
untuk membuat perhitungan berdasarkan umur, bobot badan, dan luas permukaan tubuh
(body surface area).
Berikut beberapa rumus perhitungan dosis.

1. Perhitungan Dosis berdasarkan umur :


a. Rumus Young (untuk anak di bawah 8 tahn)
n (tahun)
Dosis = ______ x dosis dewasa
n (tahun) +12

17
b. Rumus Fried
n (bulan)
Dosis = ______ x dosis dewasa
150

c. Rumus Dilling( untuk anak di atas 8 tahun )

n (tahun)
Dosis = ______ x dosis dewasa
20

d. Rumus Cowling
n (tahun)
Dosis = ______ x dosis dewasa
24
(n adalah umur dalam satuan tahun yang akan digenapkan ke atas)
Misalnya, umur penderita 1 tahun 1 bulan , maka n dihitung 2 tahun

e. Rumus Gaubius
Rumus ini berupa pecahan yang dikalikan dengan dosis dewasa.
Aturanya sebagai berikut :
0 - 1 tahun = 1/12 x dosis dewasa
1 2 tahun = 1/12 x dosis dewasa

2 3 tahun = 1/8 x dosis dewasa

3 4 tahun = 1/4 x dosis dewasa

4 7 tahun = 1/3 x dosis dewasa

7 - 14 tahun = 1/2 x dosis dewasa

14 20 tahun = 2/3 x dosis dewasa

21 60 tahun = dosis dewasa

f. Rumus Bastedo
n (tahun)
Dosis = ______ x dosis dewasa

30

2. Perhitungan Dosis berdasarkan bobot badan


a. Rumus Clark (Amerika)
bobot badan anak (pon)
Dosis = ___________________ x dosis dewasa
150

b. Rumus Themich Fier (Jerman)

18
bobot badan anak (kg)
Dosis = __________________ x dosis dewasa
70

c. Rumus Black ( Belanda)


Bobot badan anak (kg)
Dosis = ___________________ x dosis dewasa
62

d. Rumus Juncker & Glaubius ( paduan umur dan bobot badan)


Dosis = % x dosis dewasa

3. Perhitungan Dosis berdasarkan luas permukaan tubuh


a. Dari kumpuan kuliah Farmakologi UI tahun 1968
luas permukaan tubuh anak
Dosis = _______________________ x dosis dewasa
1,75

b. Rumus Catzel
luas permukaan tubuh anak
Dosis = _______________________ x 100 x dosis dewasa
luas permukaan tubuh dewasa

4. Perhitungan Dosis dengan pemakaian berdasarkan jam


a. Menurut FI ed III
Satu hari dihitung 24 jam sehingga untuk pemakaian sehari dihitung :
24
Dosis = ____ ; n = selang waktu pemberian.

n
Misalnya,
24
s.o.t.h( tiap 3 jam ) : _____ x =8 x sehari semalam.
3
b. Menurut Van Duin
Pemakaian sehari dihitung untuk 16 jam, kecuali antibiotik dihitung ehari
semalam 24jam. Untuk contoh yang sama ,pemakaian dihitung sebagai
berikut :
16

19
____ + 1x = 5,3 + 1 = 6,3 dibulatkan 7 x sehari semalam.
3

Berat Badan
Metode Berat Badan dalam perhitungan memberikan hasil yang individual dalam dosis
obat.
Dosis obat perberat badan dengan mengalikan :

Dosis obat x berat badan = Dosis Klien perhari

Contoh :
Berapa dosis Fluorourasil 12 mg/kg/hari intravena untuk pasien yang mempunyai berat
badan 60 kg ?

Jawab :
mg x kg = Dosis Klien
12 x 60 = 720 mg/kg/hari
= 720 mg

Perhitungan Dosis Obat Berdasarkan Bobot Badan dengan menggunakan Rumus Clark :

W
________ X D = Dosis Klien
68

W = Bobot Badan dalam kg


D = Dosis Dewasa

Umur
Untuk anak dengan usia antara 1- 12 tahun menggunakan Rumus Young :
n
______ x D = Dosis Anak
n + 12

n = Umur dalam tahun

Luas Permukaan Tubuh


Metode Luas Permukaan Tubuh dianggap sebagai yang paling tepat dalam menghitung
dosis obat untuk :

6. bayi
7. anak- anak
8. orang lanjut usia
9. dan klien yang menggunakan agen antineoplastik atau
20
10. mereka yang berat badannya rendah

Luas Permukaan Tubuh dalam meter persegi (m2) ditentukan oleh titik temu
(perpotongan ) pada skala nomogram antara tinggi badan dan berat badan.

Untuk menghitung dosis obat dengan metode Luas Permukaan Tubuh :

Kalikan dosis obat yang diminta dengan angka meter persegi = Dosis Klien.

Contoh :
Berapa Dosis Siklospamid 100 mg/m2/ hari untuk pasien dengan berat badan 60 kg dan
tinggi badan 170 cm ?

Jawab :
Dari Nomogram diperoleh Luas Permukaan Tubuh 1,77 m2

100 mg x 1,77 = 177 mg

Dosis Anak-anak dari Dosis Dewasa.


Untuk menghitung dosis anak-anak dari dosis dewasa, tentukan :
1. Tinggi badan
2. Berat badan dan

Di mana mereka berpotongan pada nomogram Maka didapatkan Luas Permukaan Tubuh
dalam meter persegi.

Rumusnya :

Luas Permukaan Tubuh


____________________ x Dosis Dewasa= Dosis Anak-anak
1,73 m2

Contoh :
Tentukan dosis Eritromisin 125 mg, PO q.i.d. Tinggi anak 42 inci ; beratnya 60 lb.

Jawab
Tinggi dan berat badan anak berpotongan pada 0,9 m2 pada nomogram .Dosis dewasa 1000
mg/hari.
0,9 m2
________________ x 1000 = 900/1,73
2
1,73 m
= 520 mg/hari

Dosis anak : 520 mg ; 4 kali sehari = 130 mg/dosis

21
Nama Lengkap :
NIM :
Umur : tahun bulan
Tinggi Badan : cm
Berat Badan : kg
LPT : m2

Kerjakanlah Tugas di bawah ini !

1. Hitung Dosis Maksimum untuk Anda dari obat :

No. Nama Obat Cara Dosis Maks Dosis Maks


Pemakaian Sekali Sehari
1 Aminofilin Oral 500 mg gram
2 Amitriptilin Oral 30 mg 300 mg
3 Morfin HCl Oral 20 mg 50 mg
4 Eritromisin Oral 500 mg 4 gram
5 HCT Oral 100 mg 200 mg

2. Hitung Dosis untuk Anda dari obat :

No. Nama Obat Cara Pemakaian Dosis/kg Keterangan


BB/hari
1 Fluorourasil Injeksi 12 mg
2 Sefaklor Oral 20 mg
22
3 Dilantin Oral 5 mg
4 Albuterol Oral 0,1 mg
5 Oksasilin Oral 40 mg

3. Hitung dosis Amoksisilin untuk anak berusia 9 tahun, bila dosis orang dewasa
500 mg sekali dan 1500 mg sehari.

4. Hitung dosis Sefotaksim untuk anak dengan berat badan 15 kg, bila dosis yang
diketahui 150 mg/kg/hari

5.

UJIAN TENGAH SEMESTER III


AKADEMI KEBIDANAN CIANJUR
TAHUN AKADEMIK 2007/2008

Mata Kuliah : Farmakologi


Hari/Tanggal : Rabu, 07 November 2007
Waktu : 08.00 10.30

I. Isilah titik-titik dengan jelas dan singkat !


1. Farmakologi berasal dari kata ..dan
2. Cabang Farmakologi yang mempelajari penggunaan obat untuk
menyembuhkan penyakit adalah.
3. Pada tahun dikeluarkan maklumat yang memisahkan farmasi dan
kedokteran oleh Kaisar.
4. Buku Prinsip Umum dan Dasar Farmakologi ditulis oleh. dan
diterbitkan oleh penerbit.
5. Obat yang telah mengalami metabolisme akan dieksresikan
melalui...
6. Undang-Undang yang mengatur tentang Psikotropika adalah Undang-
Undang Nomor ..tahun.
7. Obat untuk menyembuhkan batuk berdahak disebut ...
8. Obat yang diminum per oral akan melalui fase :
Farmakokinetik dan.
9. Obat digolongkan menjadi obat dan obat

23
10. Obat keras yang dapat diserahkan oleh Apoteker tanpa resep dokter
disebut.obat.

II. Essay
1. Sebutkan fase-fase dalam farmakokinetik !
2. Sebutkab cabang-cabang farmakologi !
3. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat !
4. Apa yang dimaksud dengan Waktu Paruh ?
5. Apa yang dimaksud dengan dosis obat ?
6. Jelaskan reaksi fase I dan fase II dalam metabolisme obat !

III. Kasus
1. Seorang pasien demam oleh dokter diberi tablet Aspirin 650 mg . Bila
waktu paruhnya 3 jam, setelah berapa jam obat yang tersisa dalam tubuh
tinggal 10 mg ?
2. Seorang pasien anak bermur 8 tahun berobat ke dokter Spesialis Anak
karena menderita sakit . Oleh dokter diberi obat Parasetamol dan
Amoksisilin.
a. Apa khasiat/kegunaan Parastamol dan Amoksisilin ?
b. Berapa dosis Parasetamol dan Amoksisilin untuk anak tersebut
bila dosis Parasetamol dan Amoksisilin untuk Dewasa masing-
masing 500 mg ?

Jawaban Ujian Tengah Semester


Akademi Kebidanan Cianjur
Tahun Akademik 2007/2008

Mata Kuliah : Farmakologi


Hari/Tanggal : Rabu, 07 November 2007
Waktu : 08.00 10.30

I. Isian
1. Pharmacon dan Logos
2. Farmakoterapi
3. Tahun 1240 ,Kaisar Frederick II
4. Prof. Drs. Moch. Anief, Apt, ; Gadjah Mada University Press
5. Ginjal
6. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997
7. Ekspektoran
8. Farmaseutik, farmakokinetik dan farmakodinamik.
9. Obat Kimia dan obat tradisional
10.Obat Wajib Apotik (OWA).

II.Essay
1. Absorpsi, distribusi, metabolisme dan eksresi
2. Farmakognosi, farmakokinetik ,farmakodinamik, farmakoterapi, farmakologi klinik

24
3. Kelarutan obat, kemampuan difusi melintasi sel membran, konsentrasi obat,
sirkulasi pada letak absorpsi,liuas permukaan kontak obat, bentuk obat, rute
pemakaian
4. Waktu paruh(masa paroh, half time ) adalah waktu yang diperlukan agar kadar
obat dalam darah menurun menjadi separuh dari kadar maksimalnya.
5. Dosis obat adalah takaran obat yang diberi pada satu pelayanan
6. Reaksi fase I adalah reaksi yang dialami obat pada saat metabolisme dan terjadi
penguraian obat . Reaksi fase I adalah :reaksi oksidasi, reduksi, hidrolisis.
Reaksi fase II adalah reaksi konyugasi (pembentukan) antara zat hasil
metabolisme dengan zat-zat endogen.

III.Kasus
Lihat
Tabel Waktu Paruh
Aspirin 650 mg

No. Waktu Paruh Jumlah Zat (mg) Prosen (%) Keterangan


1 3 jam 325 50
2 6 jam 162.5 25
3 9 jam 81.25 12,5
4 12 jam 40.625 6.25
5 15 jam 20.313 3.125
6 18 jam 10.156 1.563

Berdasarkan tabel tersebut aspirin yang tersisa sebanyak 10,156 mg


dalam tubuh setelah 18 jam.

3. a. Parasetamol khasiat/kegunaannya sebagai analgetik antipiretik


(penghilang nyeri dan penurun panas ).
b. Dosis parasetamol untuk anak 8 tahun

= 8 : 20 x 500 mg = 200 mg

Dosis amoksisilin untuk anak 8 tahun

= 8 : 20 x 500 mg = 200 mg

25
UJIAN TENGAH SEMESTER III
AKADEMI KEBIDANAN CIANJUR
TAHUN AKADEMIK 2008/2009

Mata Kuliah : Farmakologi


Hari/Tanggal : Rabu, 07 November 2008 ?
Waktu : 08.00 10.30

I. Isilah titik-titik dengan jelas dan singkat !


1. Farmakologi berasal dari kata ..dan
2. Cabang Farmakologi yang mempelajari penggunaan obat untuk menyembuhkan
penyakit adalah.
4. Pada tahun dikeluarkan maklumat yang memisahkan farmasi dan
kedokteran oleh Kaisar.
5. Buku Prinsip Umum dan Dasar Farmakologi ditulis oleh. dan
diterbitkan oleh penerbit.
6. Obat yang telah mengalami metabolisme akan dieksresikan
melalui...
7. Undang-Undang yang mengatur tentang Psikotropika adalah Undang-
Undang Nomor ..tahun.
8. Obat untuk menyembuhkan batuk berdahak disebut ...
9. Obat yang diminum per oral akan melalui fase :
Farmakokinetik dan.
10. Obat digolongkan menjadi obat dan obat
26
11. Obat keras yang dapat diserahkan oleh Apoteker tanpa resep dokter
disebut.obat.

II.Essay
12. Sebutkan fase-fase dalam farmakokinetik !
13. Sebutkab cabang-cabang farmakologi !
14. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat !
15. Apa yang dimaksud dengan Waktu Paruh ?
16. Apa yang dimaksud dengan dosis obat ?
17. Jelaskan reaksi fase I dan fase II dalam metabolisme obat !

III.Kasus
18. Seorang pasien demam oleh dokter diberi tablet Aspirin 650 mg . Bila
waktu paruhnya 3 jam, setelah berapa jam obat yang tersisa dalam tubuh
tinggal 10 mg ?
19. Seorang pasien anak bermur 8 tahun berobat ke dokter Spesialis Anak
karena menderita sakit . Oleh dokter diberi obat Parasetamol dan
Amoksisilin.
a. Apa khasiat/kegunaan Parastamol dan Amoksisilin ?
b. Berapa dosis Parasetamol dan Amoksisilin untuk anak tersebut
bila dosis Parasetamol dan Amoksisilin untuk Dewasa masing-
masing 500 mg ?

UJIAN ULANGAN SEMESTER III


AKADEMI KEBIDANAN CIANJUR
TAHUN AKADEMIK 2007/2008

Mata Kuliah : Farmakologi


Hari/Tanggal :
Waktu :

Kerjakan semua soal di bawah ini !

1. Apa yang dimaksud dengan Farmakologi ?

2. Sebutkan fase-fase dalam farmakokinetik !

3. Sebutkan cabang-cabang farmakologi !

4. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi bioavailabilitas obat oral !

5. Apa yang dimaksud dengan Waktu Paruh ?

6. Apa yang dimaksud dengan oksitosik dan uterotonika ?

27
7. Lengkapi tabel di bawah ini :

Nama Generik Nama Dagang Pabrik


Metilat Metiska
Oksitosina Piton-s
Amoksisilina Sanbe Farma
Promuba Meprofarm
Asam Traneksamat Kalbe Farma

8. Lengkapi singkatan resep berikut :

Singkatan Kepanjangan Artinya


ac ante coenam
bdd sehari dua kali
cohlear theae sendok teh,5 ml
R/ Recipe
Gtt Guttae

9. Vinkristin dan vinblastin merupakan alkaloid dari tanaman ?


Untuk mengobati penyakit apa Vinkristin dan vinblastin tersebut ?

10. Sebutkan minimal lima macam obat yang pernah dikonsumsi oleh Anda/keluarga
dan jelaskan informasi yang lengkap tentang obat-obat tersebut !

UJIAN TENGAH SEMESTER III


AKADEMI KEBIDANAN CIANJUR
TAHUN AKADEMIK 2009/2010

Mata Kuliah : Farmakologi


Hari/Tanggal : Kamis, 05 November 2009
Waktu : 08.00 10.30

I. Isilah titik-titik dengan jelas dan singkat !


1. Farmakologi berasal dari kata ..dan
2. Cabang Farmakologi yang mempelajari penggunaan obat untuk menyembuhkan
penyakit adalah.
3. Pada tahun dikeluarkan maklumat yang memisahkan farmasi dan
kedokteran oleh Kaisar.
4. Buku Prinsip Umum dan Dasar Farmakologi ditulis oleh. dan
diterbitkan oleh penerbit
5. Obat yang telah mengalami metabolisme akan dieksresikan
melalui..
6. Undang-Undang yang mengatur tentang Psikotropika adalah Undang-Undang
Nomor ..tahun
7. Obat untuk menyembuhkan batuk berdahak disebut ..
8. Obat yang diminum per oral akan melalui fase :
Farmakokinetik dan.

28
9. Obat digolongkan menjadi obat dan obat
10. Obat keras yang dapat diserahkan oleh Apoteker tanpa resep dokter
disebut.obat.

II.Essay
11. Sebutkan fase-fase dalam farmakokinetik !
12. Sebutkab cabang-cabang farmakologi !
13. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat !
14. Apa yang dimaksud dengan Waktu Paruh ?
15. Apa yang dimaksud dengan dosis obat ?
16. Jelaskan reaksi fase I dan fase II dalam metabolisme obat !

III.Kasus
17. Seorang pasien demam oleh dokter diberi tablet Aspirin 650 mg . Bila waktu
paruhnya 3
jam, setelah berapa jam obat yang tersisa dalam tubuh tinggal 10 mg ?
18. Seorang pasien anak bermur 8 tahun berobat ke dokter Spesialis Anak karena
menderita
sakit . Oleh dokter diberi obat Parasetamol dan Amoksisilin.
a. Apa khasiat/kegunaan Parastamol dan Amoksisilin ?
b. Berapa dosis Parasetamol dan Amoksisilin untuk anak tersebut
bila dosis Parasetamol dan Amoksisilin untuk Dewasa masing-
masing 500 mg ?

Jawaban Ujian Tengah Semester


Akademi Kebidanan Cianjur
Tahun Akademik 2009/2010

Mata Kuliah : Farmakologi


Hari/Tanggal : Rabu, 05 November 2009
Waktu : 08.00 10.30

I. Isian
1. Pharmacon dan Logos
2. Farmakoterapi
3. Tahun 1240 ,Kaisar Frederick II
4. Prof. Drs. Moch. Anief, Apt, ; Gadjah Mada University Press
5. Ginjal
6. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997
7. Ekspektoran
8. Farmaseutik, farmakokinetik dan farmakodinamik.
9. Obat Kimia dan obat tradisional
10.Obat Wajib Apotik (OWA).

II.Essay
11. Absorpsi, distribusi, metabolisme dan eksresi
12. Farmakognosi, farmakokinetik ,farmakodinamik, farmakoterapi, farmakologi klinik

29
13. Kelarutan obat, kemampuan difusi melintasi sel membran, konsentrasi obat,
sirkulasi pada letak absorpsi,liuas permukaan kontak obat, bentuk obat, rute
pemakaian
14. Waktu paruh(masa paroh, half time ) adalah waktu yang diperlukan agar kadar
obat dalam darah menurun menjadi separuh dari kadar maksimalnya.
15. Dosis obat adalah takaran obat yang diberi pada satu pelayanan
16. Reaksi fase I adalah reaksi yang dialami obat pada saat metabolisme dan terjadi
penguraian obat . Reaksi fase I adalah :reaksi oksidasi, reduksi, hidrolisis.
Reaksi fase II adalah reaksi konyugasi(pembentukan) antara zat hasil
metabolisme dengan zat-zat endogen.

III.Kasus
17. Lihat
Tabel Waktu Paruh
Aspirin 650 mg

No. Waktu Paruh Jumlah Zat (mg) Prosen (%) Keterangan


1 3 jam 325 50
2 6 jam 162.5 25
3 9 jam 81.25 12,5
4 12 jam 40.625 6.25
5 15 jam 20.313 3.125
6 18 jam 10.156 1.563

Berdasarkan tabel tersebut aspirin yang tersisa sebanyak 10,156 mg dalam tubuh
setelah 18
jam.

18.a. Parasetamol khasiat/kegunaannya sebagai analgetik antipiretik (penghilang nyeri


dan
penurun panas ).
b. Dosis parasetamol untuk anak 8 tahun

= 8 : 20 x 500 mg = 200 mg

Dosis amoksisilin untuk anak 8 tahun

= 8 : 20 x 500 mg = 200 mg

30
UJIAN TENGAH SEMESTER III
AKADEMI KEBIDANAN CIANJUR
TAHUN AKADEMIK 2010/2011

Mata Kuliah : Farmakologi


Hari/Tanggal : Kamis, 14 Oktober 2010
Waktu : 08.00- 10.00
Dosen : Drs.Makmun Ihsan,Apt.

I. Isilah titik-titik dengan jelas dan singkat !


1. Farmakologi berasal dari kata ..dan
2. Cabang Farmakologi yang mempelajari penggunaan obat untuk
menyembuhkan penyakit adalah.
3. Pada tahun dikeluarkan maklumat yang memisahkan farmasi dan
kedokteran oleh Kaisar.
4. Buku Prinsip Umum dan Dasar Farmakologi ditulis oleh. dan
diterbitkan oleh Penerbit
5. Obat yang telah mengalami metabolisme akan dieksresikan
melalui..
6. Undang-Undang yang mengatur tentang Narkotika adalah Undang-Undang
Nomor ..tahun
7. Obat untuk menyembuhkan batuk berdahak disebut ..
8. Obat yang diminum per oral akan melalui fase :
Farmakokinetik dan
9. Obat digolongkan menjadi obat dan obat
10. Obat keras yang dapat diserahkan oleh Apoteker tanpa resep dokter
disebut.obat.

II. Essay
11. Sebutkan fase-fase dalam farmakokinetik !
12. Sebutkan cabang-cabang farmakologi !
13. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat !
14. Apa yang dimaksud dengan Waktu Paruh ?
15. Apa yang dimaksud dengan dosis obat ?
16. Jelaskan reaksi fase I dan fase II dalam metabolisme obat !

III.Kasus
17. Seorang pasien demam oleh dokter diberi tablet Aspirin 500 mg . Bila
waktu paruhnya 3 jam setelah berapa jam obat yang tersisa dalam tubuh
tinggal 7,8125 mg ?
31
18. Seorang pasien anak berumur 8 tahun berobat ke dokter Spesialis Anak
karena menderita sakit . Oleh dokter diberi obat Parasetamol dan
Amoksisilin.
i. Apa khasiat/kegunaan Parasetamol dan Amoksisilin ?
ii. Berapa dosis Parasetamol dan Amoksisilin untuk anak tersebut
bila dosis Parasetamol dan Amoksisilin untuk Dewasa masing-
masing 500 mg ?

32
Jawaban Ujian Tengah Semester
Akademi Kebidanan Cianjur
Tahun Akademik 2010/2011

Mata Kuliah : Farmakologi


Hari/Tanggal : Kamis, 14 Oktober 2010
Waktu : 08.00 10.00
Dosen : Drs,Makmun Ihsan.Apt.

I. Isian
1. Pharmacon dan Logos
2. Farmakoterapi
3. Tahun 1240 ,Kaisar Frederick II
4. Prof. Drs. Moch. Anief, Apt, ; Gadjah Mada University Press
5. Ginjal
6. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997
7. Ekspektoran
8. Farmaseutik, farmakokinetik dan farmakodinamik.
9. Obat Kimia dan obat tradisional
10.Obat Wajib Apotik (OWA).

II.Essay
11. Absorpsi, distribusi, metabolisme dan eksresi
12. Farmakognosi, farmakokinetik ,farmakodinamik, farmakoterapi, farmakologi klinik
13. Kelarutan obat, kemampuan difusi melintasi sel membran, konsentrasi obat,
sirkulasi pada letak absorpsi,liuas permukaan kontak obat, bentuk obat, rute
pemakaian
14. Waktu paruh (masa paroh, half time ) adalah waktu yang diperlukan agar kadar
obat dalam darah menurun menjadi separuh dari kadar maksimalnya.
15. Dosis obat adalah takaran obat yang diberi pada satu pelayanan
16. Reaksi fase I adalah reaksi yang dialami obat pada saat metabolisme dan terjadi
penguraian obat . Reaksi fase I adalah :reaksi oksidasi, reduksi, hidrolisis.
Reaksi fase II adalah reaksi konyugasi (pembentukan) antara zat hasil
metabolisme dengan zat-zat endogen.

III.Kasus

33
17. Lihat
Tabel Waktu Paruh
Aspirin 500 mg

No. Waktu Paruh Jumlah Zat (mg) Prosen (%) Keterangan


1 3 jam 250 50
2 6 jam 125 25
3 9 jam 62,5 12,5
4 12 jam 31,25 6.25
5 15 jam 15,625 3.125
6 18 jam 7,8125 1.563

Berdasarkan tabel tersebut aspirin yang tersisa sebanyak 7,8125 mg dalam tubuh
setelah 18 jam.

18.a. Parasetamol khasiat/kegunaannya sebagai analgetik antipiretik


(penghilang nyeri dan penurun panas ).
- Dosis parasetamol untuk anak 8 tahun

= 8 : 20 x 500 mg = 200 mg

- Dosis amoksisilin untuk anak 8 tahun

= 8 : 20 x 500 mg = 200 mg

UJIAN TENGAH SEMESTER III


AKADEMI KEBIDANAN CIANJUR
TAHUN AKADEMIK 2011/2012

Mata Kuliah : Farmakologi


Hari/Tanggal : Kamis, 6 Oktober 2011
Waktu :
Dosen : Drs.Makmun Ihsan,Apt.

Jawablah soal 1- 6 dan pilih satu soal 7 atau 8 di bawah ini !

1. Sebutkan fase-fase dalam farmakokinetik !

2. Sebutkan cabang-cabang farmakologi !

3. Apa yang Anda ketahui tentang Parasetamol dan INH ?

4. Apa yang dimaksud dengan Waktu Paruh ?

5. Apa yang dimaksud dengan dosis obat ?

34
6. Jelaskan reaksi fase I dan fase II dalam metabolisme obat !

7. Seorang pasien demam oleh dokter diberi tablet Aspirin 500 mg . Bila
waktu paruhnya 3 jam setelah berapa jam obat yang tersisa dalam tubuh
tinggal 7,8125 mg ?

8. Seorang pasien anak berumur 8 tahun berobat ke dokter Spesialis Anak


karena menderita sakit . Oleh dokter diberi obat Parasetamol dan
Amoksisilin. Hitung dosis obat untuk anak tersebut ! Bila dosis
Parasetamol dan Amoksisilin untuk orang dewasa masing-masing 500 mg

Indikasi
Dalam menyatakan indikasi suatu obat perlu dinyatakan kondisi patologik spesifik di
mana obat itu digunakan

Contoh :
Aksi Alucol adalah mengurangi keasaman lambung, karena Alucol adalah antasid.

Kontra Indikasi
Yaitu keadaan berlawanan terhadap pengunaan obat.

Contoh
Penggunaan Kemicetine ( ada pasien sangat peka terhadap Kemicetine ,dan pada pasien
dengan gangguan faal hati yang berat).

Selektivitas da Keamanan
Substansi aktif biologik yang mempengaruhi sangat kuat terhadap sel tertentu tanpa
menimbulkan perubahan pada sel lainnya, meskipun kedua sel bertetangga langsung
disebut molekul selektif.

Substansi aktif biologik yang digunakan untuk mengobati penyakit disebut obat

Tiga Prinsip Kontrol Selektivitas


1. Selektivitas berdasarkan distribusi

35
Adalah agen beracun baik terhadap sel ekonomis maupun sel tak ekonomis dan
agen tadi hanya berkumpul pada sel yang ekonomis

Contoh :
Fenotiazin hanya berkumpul pada cacing di usus tidak pada sel lapisan usus
domba,tapi bila diinjeksikan ,Fenotiazin meracuni kedua macam sel.

2. Selektivitas berdasarkan perbandingan biokimia


Adalah dalam sintesis

Contoh :
Sulfonamida tergantung pada kenyataan bahwa bakteri patogen tidak dapat
menyerap Asam Folat /derivatnya ,tetapi mensintesis dari PABA (Para Amino
Benzoic Acid,Asam Para Amino Bernzoat) dan merupakan suatu proses yang
dirintangi Sulfonamida.

3. Selektivitas berdasarkan perbandingan sitologi


Disebabkan adanya perbedaan dalam struktur sel.

Keamanan
Keamanan suatu obat secara pendekatan dinyatakan dengan:

1. Indeks Terapi Obat (IT)


DL50
IT = -----------
DE50

IT = Indeks Terapi
DL50 = Median Dosis Letal
Suatu dosis yang memberi efek
letal pada 50 % hewan percobaan.
DE50 = Median Dosis yang memberi efek
khusus farmkologi bagi 50 %
hewan percobaan.

2. Margin Dosis Keamanan (MDK)


Dosis yang menimbulkan efek samping
MDK =------------------------------------------
Dosis yang memberi terapi efektif

36
MACAM-MACAM EFEK
Faktor formulasi dan cara penggunaan obat akan menentukan kecepatan dan banyaknya
obat dapat diabsorpsi dan efek yang diperoleh:

1. Efek Sistemik
Ialah obat beredar ke seluruh tubuh melalui aliran darah
Cara penggunaan yang memberi efek sistemik :
1. Oral, yaitu penggunaan obat melalui mulut dan masuk perut.
2. Sublingual,yaitu tablet diletakkan di bawah lidah
3. Bukal, yaitu tablet diletakkan di antara gusi dan pipi
4. Injeksi atau parenteral
5. Implantasi subkutan, yaitu tablet ( pellet) kecil steril dimasukkan di bawah
dengan alat trokar
6. Rektal, yaitu tablet khusus atau supositoria dimasukkan ke dalam dubur.

2. Efek Lokal
Ialah efek hanya setempat di mana obat digunakan.
Cara penggunaan yang memberi efek lokal :
1. Inhalasi, yaitu larutan obat disemprotkan ke dalam mulut atau hidung dengan
suatu alat
seperti : inhaler, vaporizer, nebulizer atau aerosol
2. Penggunaan pada mukosa seperti : mata , telinga , hidung, vagina, dan
sebagainya dengan obat tetes, busa .

37
3. Penggunaan pada kulit dengan : salep, krim, losion dan sebagainya.

Efek Obat
Umumnya obat mempunyai efek atau aksi lebih dari satu, maka efek obat dapat berupa :

1. Efek Terapi
Ialah efek atau aksi yang merupakan satu-satunya pada letak primer.
Ada tiga macam pengobatan terapi:
1.1. Terapi Kausal
Ialah obat yang meniadakan penyebab penyakit
1.2. Terapi Simtomatik
Ialah obat yang menghilangkan atau meringankan gejala penyakit
1.3. Terapi Substitusi
Ialah obat yang menggantikan zat yang lazim dibuat oleh orang yang sakit

2. Efek Samping
Ialah efek obat yang tidak diinginkan untuk tujuan efek terapi dan ikut pada
kegunaan terapi
Adalah efek fisiologis yang tidak berkaitan dengan efek obat yang diinginkan.

Efek yang merugikan adalah batas efek yang tidak diinginkan (yang tidak
diharapkan dan terjadi pada dosis normal) dari obatobat yang mengakibatkan
efek samping yang ringan sampai berat.

3. Efek Teratogen
Ialah efek obat yang pada dosis terapetik untuk ibu mengakibatkan cacat pada
janin, misalnya fokomelia (kaki dan tangan bayi sepert kepunyaan anjing laut).

4. Efek Toksis ( Toksisitas).


Ialah aksi tambahan dari obat yang lebih berat dibanding efek samping dan
mempunyai efek yang tidak diinginkan.
Tergantung besarnya dosis obat dapat diperoleh efek terapi atau efek toksis.

5. Idiosinkrasi
Ialah efek suatu obat yang secara kualitatif berlainan sekali dengan efek terapi
normalnya.

6. Fotosensitisasi
Ialah efek kepekaan yang berlebihan terhadap cahaya yang timbul akibat
penggunaan obat.

Efek Pengulangan atau Penggunaan Obat Yang Lama


1. Reaksi Hipersensitif
Suatu reaksi alergik merupkan respon abnormal terhadap obat atau
zat di mana pasien sebelumnya telah kontak dengan obat tersebut
hingga berkembang timbulnya antibodi

38
2. Kumulasi
Suatu fenomena pengumpulan obat dalam badan sebagai akibat
pengulangan penggunaana obat, di mana obat diekskresikan lebih
lambat dibanding kecepatan absorpsinya.

3. Toleransi
Suatu fenomena berkurangnya respon terhadap dosis obat yang
sama. Untuk memperoleh respon yang sama perlu dosisnya
diperbesar .
Ada tiga macam toleransi :
a. Toleransi primer
b. Toleransi sekunder
c. Toleransi silang

4. Takhifilaksis
Suatu fenomena berkurangnya kecepatan respon terhadap aksi obat
pada pengulangan penggunaan obat dalam dosis yang sama.
Respon mula-mula tidak terulang meskipun dengan dosis yang lebih
besar.

5. Habituasi
Suatu gejala ketergantungan psikologik terhadap suatu obat
(psychological dependence)
Menurut WHO :
a. Selalu ingin menggunakan obat
b. Tanpa atau sedikit kecenderungan untuk menaikan dosis
c. Timbul beberapa ketergantungan psikik
d. Memberi efek yang merugikan pada suatu individu

Habituasi terjadi melalui beberapa cara :


a. Induksi enzim, yaitu obat menstimulasi suatu enzim untjuk
menguraikan obat tersebut
b. Reseptor-resepyor sekunder, yang dibentuk khusus oleh
obat tertentu misalnya Morfin
c. Penghambatan resorpsi pada penggunaan obat per oral.

6. Adiksi
Suatu gejala ketergantungan psikologik dan fisis terhadap obat
Menurut WHO:
a. Ada dorongan untuk selalu menggunakan obat
b. Ada kecenderungan untuk menaikkan dosis
c. Timbul ketergantungan psikik dan biasanya diikuti
ketergantungan fisik

39
d. Merugikan terhadap individu maupun masyarakat.

7. Resistensi Terhadap Bakteri


Pada penggunaan antibiotik untuk penyakit infeksi dapat terjadi
obat tidak mampu bekerja lagi untuk membunuh, menghambat
perkembangan bakteri tertentu.

Efek Penggunaan Obat Campuran


1. Adisi
Campuran obat atau obat yang diberikan bersama-sama menimbulkan efek yang
merupakan jumlah dari efek masing-masing obat secara terpisah pada pasien.

2. Sinergis
Campuran obat atau obat diberikan bersama-sama dengan aksi proksimat yang
sama, menimbulkan efek yang lebih besar dari jumlah efek masing-masing obat
secara terpisah pada pasien.

3. Potensiasi
Campuran obat atau obat diberikan bersama-sama dengan aksi-aksi yang tidak
sama diberikan pada pasien , menimbulkan efek yang lebih besar dari jumlah efek
masing-masing obat secara terpisah pada pasien.

4. Antagonis
Campuran obat atau obat diberikan bersama-sama pada pasien yang menimbulkan
efek yang berlawanan aksi dari salah satu obat , mengurangi efek dari obat yang
lain .

5. Interaksi Obat
Fenomena yang terjadi bila efek suatu obat dimodifikasi oleh obat lain yang tidak
sama atau sama efeknya, dan diberikan sebelum atau bersama-sama.
Interaksi obat dapat berlangsung dengan beberapa cara :
a. Interaksi kimia
Contoh :
Fenitoin diikat oleh Kalsium, Tetrasiklin oleh
logam valensi dua

b. Kompetisi untuk protein plasma


Contoh :
Salisilat , Fenilbutazion dan Imdometazin
mendesak ikatan obat lain pada protein, hingga
memperkuat khasiat obat tersebut.

c. Induksi enzim
Obat menstimulasi pembetukan enzim hati,lalu
menimbulkan obat tersebut cepat dieliminasi dan
juga mempercepat perombakan obat lain.
Contoh :

40
Hipnotika memperlancar biotransformasi
antikoagulansia dan antidepresif trisiklik hingga
memperlemah obat tersebut.

d. Inhibisi enzim
Obat mengganggu fungsi hepar dan enzim-
enzimnya.
Contoh:
Alkohol dapat memperkuat obat lain

Faktor Yang Memodifikasi Aksi Obat


1. Berat Badan
Dosis orang yang kurang beratnya adalah lebih kecil atau ditentukan dalam mg/kg
berat badan.

2. Umur
Ada beberapa hal yang mempengaruhi ADME pada bayi yang baru lahir :
a. Beberapa
b. Fungsi ginjal belum sepenuhnya berkembang
c. Prosentase air badan total dari berat badan total lebih besar dibandingkan pada
anak yang lebih tua
d. Pada pasien geriatric perlu diperthatikan tentang umur bioogik pasien dan
akbahan aksi obataana jananannakan oleh:
- Kecepatan filtrasi gromeruli dan sekresi tuuh akan berkurang pada orang tua
dan juga kecepatan metabolisme obat
- Kemampuan mengakomodasi untuk penstabilan homeostntis.

3. Jenis Kelamin
Wanita lebih peka tehadap efek katartik tertentu daripada pria .
Respon terhadap Tolbutamid oleh wanita lebih baik dariada pia.

41
4. Kondisi Patologik Pasien
5. Idiosinkrasi

BAB IV
Uterotonika

Uterine
Berkenaan dengan uterus

Uterus cycle
Daur yang dialami oleh uterus dalam suatu daur biak atau daur birahi

Uterus (L.)
Rahim, kandungan ibu,peranakan

Cervix Uteri (L.)


Leher Rahim

Corpus Uteri (L.)


Badan Rahim

Ostium Uteri (L.)


Mulut Rahim

Tonic(um), Ing (L.)


Tonikum ,obat yang menguatkan badan dan merangsang selera makan.

OKSITOSIK

Oksitosik adalah obat yang merangsang kontraksi uterus yang berada dalam kehamilan
sehingga digunakan untuk memulai persalinan, baik pada kehamilan muda (aborsi)
maupun lanjut, dan mencegah/menghentikan perdarahan

Oksitosik terdiri dari :


1. Oksitosin
2. Alkaloid ergot
3. Prostaglandin

42
OKSITOSIN
Indikasi
Untuk mencegah perdarahan paskasalin

Kontra Indikasi
Induksi persalinan pada kasus dimana partus pervagina merupakan kontra indikasi seperti
tali pusat menumbung, plasenta previa totalis dan vasa previa, disproposi sefalopelvik,
posisi atau presentasi jainin tidak memungkinkan untuk melahirkan tanpa konversi,kasus
gawat darurat obstetrik yang memerlukan pesalinan melalui operasi, gawat janin,
penggunaan jangka panjang pada inersia uteri toksemia berat, uterus hipertonik .

Perhatian
Oksitosin hendaknya jangan diberikan jika persalinan spontan atau persalinan melalui
vagina membahayakan ibu maupun fetus, termasuk prematuritas, disproporsi sefalopelvik
perbatasan, operasi mayor pada servik atau uterus termasuk seksio caesar, disteni uterus,
grandemultipara, karsinoma servik invasif, kemungkinan intoksikasi air, terutama jika
diberikan via infus. Hati-hati pada openderita dengan kardiovskuler .Oksitosin harus
diinfuskan secara perlahan , dua rute pemberian secara bekesinambungan.

Interaksi
Anestesi inhalasi mungkin mengurangi efek oksitosik (juga menaikkan efek hipotensif dan
risiko aritmia)
Prostaglandin efek uterotonik dipotensiasi
Simpatomimetik terjadi peningkatan efek vaso
presor dari simpatomimetika vasokonstriktor

Efek Samping
Reaksi analfilaksis , perdarahan pasca partum,aritmia janin, afibrinogenemia fatal, mual,
muntah, kontraksi ventrikel prematur, hematoma pelvik, intoksikasi air pada dosis besar
atau pemakaian jangka panjang, kontraksi tetanik,ruptura uterus, sakit kuning, perdarahan
retina . Injeksi cepat melalui bolus i.v. dapat menyakibatkan hipotensi akut sementara yang
diikuti dengan flushing dan refleks takikardi.

Dosis yang Dianjurkan


Induksi atau Stimulasi Persalinan, 1 ml/1000 ml secara i.v. drip, awal kecepatan infus 1 4
milliunit/menit, bertahap ditingkatkan 1 2 miliunit/menit ( 2- 8 tetes/menit) pada interval
20 menit.

Stadium ke-3 persalinan , 5 10 UI injeksi i.m. atau 5 UI inj. i.v. lambat.


Abortus tidak sempurna, 10 UI /500 ml diberikan dengan kecepatan 20-40 tetes/menit.

Pencegahan Perdarahan Uterus Sesudah Melahirkan, dosis;lazim 5 UI secara i.v. perlahan-


lahan atau i.m. sesudah pelepasan plasenta.

43
Terapi Perdarahan Uterus Pasca Persalinan, 10 40 UI /1000 ml dengan infus i.v. drip atau
10 UI i.m. sesudah keluarnya plasenta.

Sectio Caesaria, 5 UI intramural atau i.v. lambat segera sesudah melahirkan.

Untuk Merangsang Keluarnya ASI, 2 UI inj. i.m.


METILERGOMTERIN MALEAT

Indikasi
Untuk mencegah perdarahan paskasalin

Kontra Indikasi
Hipersensitivitas , ibu menyusui, wanita hamil, kala satu dan kala dua pada persalinan
sebelum korona kepala terlihat, toksemia, penyakit obliteratif pembuluh darah, penyakit
hati atau ginjal yang parah.

Peringatan
Hipertensi, penyakit jantung, gangguan fungsi hati atau ginjal, kehamilan ganda, porfiria.

Interaksi
Bersama anestetik dapat menyebabkan vasokontriksi perifer,Metilergometrin dapat
menurunkan efek Nitrogliserin (atau antiangina). Vasokonstriktor alkaloid ergot dapat
menyebabkan ansietas . Meningkatnya tekanan darah jika digunakan dengan vasopresor
atau oksitosik lain.

Kontraindikasi
Kala 1 dan 2 persalinan, penyakit vascular,penyakit jantung berat,gangguian funs paru,
gangguan fungsi hati atau ginjal yang berat, sepsis, hipertensi berat eklamsia

Efek Samping
Mual, muntah , sakit kepala, pusing, tinitus, nyeri dada, nyeri perut, palpitasi, dispneu,
bradikardia, hipertensi selintas, vasokonstriksi, stroke, infark miokard ,udem paru

Dosis yang Dianjurkan


Oral:
Membantu involusi uterus, 3 x sehari 125 mcg, umumnya untuk 3 4 kali.
Subinvolusi : perdarahan dalam masa nifas dan lokiometra . 3x sehari 125 250 mcg.

Parenteral :
Penanganan aktif stadium ke-3 proses kelahiran , 0,1 0,2 mg inj.i.v. lambat
Atoni/perdarahan rahim , 0,2 mg inj. i.m. atau 0,1 0,2 mg inj. i.v., dapat diulangi dengan
jarak waktu 2 jam atau lebih.
Perdarahan dalam masa nifas, subinvolusi , lokiometra, 0,1 0,2 mg inj. s.k. atau i.m.
hingga 3 x sehari, pada ibu menyusui selama 3 hari atau kurang.

44
Tabel 4
Obat Oksitosik dan Nama Dagangnya

Nama Generik Nama Dagang Pabrik Golongan


Metilergometrin Bledstop Sanbe Farma K
Maleat Glomethyl Metiska Farma K
Methergin Novartis K
Metherinal Lansond K
Methovin Kimia Farma K
Metiagin Tunggal Idaman Abdi K
Metilat Metiska Farma K
Metvell Novell K
Myomergin Ethica K
Myotonic Meprofarm K
Pospargin Kalbe Farma K
Oksitosin Induxin Kalbe Farma K
Oxyla Novell K
Oxytocin-S Ethica K
Pitogin Ethica K
Piton-S Organon K
Santocyn Caprifarmindo Lab. K
Syntocinon Novartis K
Tiacinon Tunggal Idaman Abdi K

45
Bab V
Obat Anti Perdarahan
Pengertian
Antihemoragik (haemostatika,koagulansia) ialah obat yang digunakan untuk
mencegah dan menghentikan perdarahan.

Pembagian Antihemoragik
Antihemoragik dibagi 3 kelompok:
1. Haemostatika yang diserap, bahan ini memberikan jaring-jaring benang halus
yang dapat memacu pencendalan
Contoh:
Absorbable Gelatin Sponge (Gelatin foam)
Ca-alginat (Calgitex)
Oxidised celullose

2. Haemostatika yang dapat dipakai per-os atau injeksi


Contoh:
Acidum Tranexamicum
Adrenochromi monosemcarbasonum
Asam Amiocaproat
Carbazochromi Natrii Sulfonas
Hesperidin
Menadioni Natrii bisulfas

3. Haemostatika dengan preparat darah


Contoh :
Human fibrin foam
Human fibrinogen
Human Gama Globulin
Human Thrombin
Whole Human Blood

Absorbable Gelatin Sponge (Gelatin foam)

46
Acidum Tranexamicum
(Asam Traneksamat)

Farmakologi
Farmakodinamik
Aktivitas antiplasminik
Asam Traneksamat merupakan penhambat bersaing dari aktivator plasminogen dan
plasmin. Berbagai percobaan in vitro telah membuktikan aktivitas antiplasminik dari Asam
Traneksamat dan penentuan dari aktivitas plasmin dalam darah dan aktivitas setempat
,setelah diberikan pada tubuh manusia.

Aktivitas hemostatis
Asam Traneksamat mencegah terjadinya degradasi fibrin, pemecahan platelet ,peningkatan
kerapuhan vaskular dan pemecahan faktor koagulasi, telah dibuktikan secara klinis dengan
berkurangnya jumlah perdarahan, mengurangi waktu perdarahan dan periode perdarahan.

Aktivitas Antialergi dan Anti peradangan


Plasmin membentuk kinin dan peptida aktif lainnya yang merupakan penyebab dari alergi
serta radang. Asam Traneksamat memperbaiki gejala peradangan dengan menghambat
produksinya.

Farmakokinetik
Absorpsi
Penyerapan Asam Traneksamat setelah pemberian oral 30 % - 50 % , bioavailabilitas tidak
terpengauh oleh makanan. Puncak level plama setelah 3 jam pemberian 1 g secara oral 8
mg/L dan setelah 2 g secara oral adalah 15 mg/L. Konsentrasi antifibrinolitas obat
tergantung pada perbedaan jaringan selama 17 jam dan di dalam serum mencapai 7 -8 jam.

Distribusi
Asam Traneksamat tersebar cepat ke dalam cairan sendi dan membran sinovial.Dalam
cairan sendi dapat terjadi konsenrasi seperti dalam serum. T1/2 dalam cairan sendi 3 jam.
Konsentrasi Asam Traneksamat dalam jaringan lain lebih rendah daripada dalam darah.
Konsentrasi Asam Traneksamat dalam cairan serebrospinal 10 % dari konsentrasi
plasma.

Metabolisme/Eksresi
Setelah pemberian secara oral 10-15 mg/kg, kumulatif ekskresi urin dalam 24-48 jam
adalah 39 %- 41 % dari dosis yang didapat secara berturut-turut atau 78% - 82 % dari
jumlah yang diserap secara berturut-turut.
Setelah pemberian secara oral ,sejumkah 1 % asam dikarboksilik dan 05 % asetilad akan
diekskresi.

Sesudah pemberian dosis 1 g IV, kurva waktu konsentrasi plasma menunjukkan kehilangan
Trieksponensial dengan T1/2 2 jam untuk fase eliminasi akhir,

47
Penyebaran volume awal 9 12 L . Rute utama eliminasi adalah ekskresi urin melalui
saringan gromerular. Bersihan renal secara menyeluruh sama dengan bersihan plasma
secara menyeluruh (110-116 mg/menit) , dan > 95 % dari dosis diekskresikan melalui urin
dalam bentuk tetap.
Eksksresi Asam Traneksamat 90 % selama 24 jam setelah pemberian secara IV dengan
dosis 10 mg/kg

Indikasi
Fibrinolisis lokal, menoragia
Pemakaian jangka pendek untuk perdarahan atau resiko perdarahan pada peningkahtan
fibrinolisis atau fibrinogenolisis . Fibrinolisis lokal yang terjadi pada keadaan sebagai
berikut;
Prostatektomi
Konisasi rahim
Prosedur ekstraksi gigi pada hemofilia.

Kontra Indikasi
Penyakit tromboembolik

Efek Samping
Mual.muntah,diare (kurangi dosis), pusing pada injeksi intravena cepat.

Peringatan
Kurangi dosis pada gangguan ginjal; hematuria yang masif (hindari jika ada resiko
obstruksi ureter) ; pameriksaan mata reguler dan uji hati yang teratur pada pengobatan
jangka panjang angiodema turunan

Interaksi
Meningkatnya resiko penggumpalan dengan pemakaian kontrasepsi oral yang mengandung
estrogen
Jangan ditambahkan pada transfusi darah atau injeksi yang mengandung Penisilin.

Dosis
Oral: fibrinolis lkal, 15 25 mg/kg 2- 3 kali sehari
Menoragia (diawali bila perdarahan yang hebat telah mulai ) 1 -1,5 g 3 4 kali sehari
selama 3 4 hari.
Injeksi intravena lambat,fibrinolsis lokal 0,5 1 g 3 kali sehari.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu kamar ( 25-30)o C dan tempat kering,terlindung dari cahaya.

48
Adrenochromi monosemcarbasonum
Asam Amiocaproat
Ca-alginat (Calgitex)
Carbazochromi Natrii Sulfonas
Hesperidin
Human fibrin foam
Human fibrinogen
Human Gama Globulin
Human Thrombin
Menadioni Natrii bisulfas
(Vitamin K)

Sifat-sifat
Vitamin K merupakan sebagian dari sistem enzim yang turut serta dalam
pembentukan faktor-faktor koagulasi dalam hati ( a.l protrombin) dan karena itu
mempunyai arti terapeutik yang besar dalam mengatasi penyakit perdarahan
tertentu.

Vitamin K adalah antagonis yang spesifik untuk angtikoagulansia darikelompok


kumatin, tapi tidak untuk hepari,

Indikasi
Perdarahan yang sukar berhenti dan kekurangan vitamin K akibat sakit kuning,
gangguangangguan pada hati dan saluran cerna, pengobatan jangka panjang
dengan antibiotika , sulfonamida atau salisilat.

Kontra Indikasi
Penderita ulkus ventrikulus, penyakit hati dan ginjal, hipertensi, wanita yang haid,
hamil dan nifas.

Dosis

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu di bawah 30o C , serta terlindung dari cahaya.

Oxidised celullose
Whole Human Blood

Bab VI
49
Obat Analgetik

Pengertian
Analgetik
Obat yang mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.

Antipiretik
Obat yang menurunkan suhu tubuh yang tinggi.

Macam-macam Obat Analgetik


Macam-macam Analgetik dapat dibagi menjadi :
a. Analgetik Opioid
b. Analgetik non Opioid

Analgetik Opioid
Analgetik opioid merupakan kelompak obat-obat yang memiliki sifat-sifat mirip opium
atau morfin.
Yang termasuk Golongan obat opioid ialah :

c. Obat yang berasal dari opium -morfin


d. Senyawa semi sintetik morfin
e. Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin

Contoh :
Hydromorphini Hydrochloridum
Methadoni Hydrochloridum ( Metadon Hidroklorida)
Morphini Hydrochloridum ( Morfin Hidroklorida)
Pethidini Hydrochloridum (Petidin Hidroklorida,Meperidin Hidroklorida)

Analgetik non Opioid


Obat analgesik antipiretik dan obat anti-inflamasi nonsteroid (AINS) merupakan suatu
kelompok obat yang heterogen ,bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimia.

Obat analgesik anti inflamasi nonsteroid dibagi :


Asam Karboksilat dibagi :
Asam Asetat dibagi :
Derivat Asam Fenilasetat contohnya :
- Diklofenak
- Fenklofenak

Derivat Asam Asetat-inden/indol ,


contohnya :
- Indometasin
- Tyllindak
- Tolmetin

Derivat Asam Salisilat, contohnya :


50
- Aspirin
- Benorilat
- Diflusinal
- Salsala
Derivat Asam Propionat, contohnya :
- Asam tiaprofenat
- Fenbufen
- Fenoprofen
- Flurbiprofen
- Ibuprofen
- Ketoprofen
- Naproksen

Derivat Asam Fenamat :


- Asam Mefenamat
- Meklofenamat

Asam Enolat dibagi :


Derivat Pirazolon, contohnya:
Azapropazon
Fenilbutazon
Oksifenbutazon

Derivat Oksikam, contohnya :


Piroksikam
Tenoksikam

Antalgin
Asam Mefenamat
Asetosal
Diklofenak
Fenilbutazon
Ibuprofen
Ketoprofen
Parasetamol
Piroksikam

Antalgin

51
Indikasi
Terapi nyeri dan rasa sakit oleh karena berbagai sebab, terutama sakit kepala. Sakit gigi
dan nyeri otot dan juga untuk terapi demam.

Kontra Indikasi
Hipersensitivitas, granulositopenia, porfiria intermiten akut, defisiensi glukosa-6-fosfat
dehidrogenase ( g6pd) , payah jantung, bayi 3 bulan pertama /bb < 5 kg, wanita hamil 3
bulan pertama dan 6 minggu terakhir.

Efek Samping
Iritasi lambung , hiperhidrosis, retensi air dan natrium, reaksi alergi cukup sering, reaksi
kulit dan edema angioneurotik , gejala berat, agranulositosis, pansitopenia dan nefrosis
diduga juga berdasarkan reaksi imunologik, tapi frekuensi terjadinya belum jelas.

Cara Kerja

Dosis dan Cara Pemakaian


Dewasa : im, iv, oral 250 mg - 1 g tiap kali, maksimum 3g/hari.
Anak 6- 12 tahun : 250 500 mg/kali, maksimum 2 g/hari.

Peringatan
Berisiko agranulositosis fatal . Hati-hati pada penderita yang pernah mengalami kelainan
darah . Jangan digunakan untuk gangguan ringan bila ada obat yang lebih aman.

Interaksi Obat
Dengan klorpromazin : hipotermia berat, khusus injeksi jangan diberikan sekaligus lebih
dari 1 gram karena dapat menimbulkan syok.

Cara Penyimpanan

Asam Mefenamat
Indikasi
Meredakan nyeri ringan sampai sedang sehubungan dengan sakit kepala, sakit gigi,
dismenore primer, termasuk nyeri karena trauma ,nyeri otot, dan nyeri sesudah operasi.

Kontra Indikasi
Pasien yang hipersensitif terhadap asam mefenamat
Panderita yang dengan asetosal mengalami bronkospasme , alergi rhinitis dan urtikaria
Penderita dengan tukak lambung dan usus
Penderita dengan gangguan ginjal yang berat

Efek Samping
Sistem Pencernaan:
Mual, muntah, diare, dan rasa sakit pada abdominal.

Sistem Hematopoietik
Leucopnia, eosinophilia, thrombocytopenia, dan agranulocytopenia.

52
Sistem Saraf :
Rasa ngantuk, pusing, penglihatan kabur dan insomnia

Cara Kerja
Asam Mefenamat merupakan kelompok anti inflamasi non steroid, bekerja dengan cara
menghambat sintesis prostaglandin dalam jaringan tubuh dengan menghambat enzim
siklooksigenase sehingga mempunyai efek analgesik,antiinflamasi dan antipiretik.

Dosis dan Cara Pemakaian


Dewasa dan anak anak lebih dari 14 tahun, dosis awal 500 mg, selanjutnya 250 mg setiap
6 jam sesuai kebutuhan

Peringatan dan Perhatian


Sebaiknya diminum sesudah makan
Jangan digunakan lebih dari 7 hari atau melebihi dosis yang dianjurkan kecuali atas
petunjuk dokter.
Dapat timbul reaksi alergik terutama asma.
Hati-hati jika digunakan pada wanita hamil dan menyusui
Keamanan penggunaan pada anak-anak di bawah 14 tahun belum diketahui dengan
pasti.
Jangan diberikan pada penderita penyakit bronkospasme ,rhinitis alergi, urtikaria atau
pasien yang mnggunakan obat non steroid antiinflamasi karena mungkin menyebabkan
cros sensitvitas .

Interaksi Obat
Penggunaan bersamaan dengan antikoagulan oral dapat memperpanjang waktu
prothrombin.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu kamar ( 25 30 )oC dan tempat kering serta terhindar cahaya langsung.

53
Asetosal
Indikasi
Untuk menurunkan demam, meringankan sakit kepala, sakit gigi dan nyeri otot.

Kontra Indikasi
Penderita hipersensitif (termasuk asma), penderita tukak lambung (maag), pernah atau
sering mengalami perdarahan di bawah kulit (konsultasikan dengan dokter).
Penderita hemofilia dan trombositopenia, karena dapat meningkatkan resiko terjadinya
perdarahan.
Penderita yang sedang diterapi dengan antikoagulan (dikonsultasikan dengan dokter).

Efek Samping
Kadang-kadang dapat terjadi : Iritasi lambung, mual, muntah.
Pemakaian jangka panjang dapat terjadi : perdarahan lambung, tukak lambung.

Cara Kerja
Asam Asetilsalisilat dengan buffer, bekerja dengan mempengaruhi pusat suhu di
hipotalamus sehingga dapat menurunkan panas, dan menghambat pembentukkan
prostaglandin sehingga dapat meringankan sakit.

Dosis dan Cara Pemakaian


Diberikan 3 kali sehari :
Anak 2 6 tahun ................ - 1 tablet
Anak 6 12 tahun ................ 1 2 tabet.

Atau menurut petunjuk dokter


Peringatan dan Perhatian
Jauhkan dari jangkauan anak-anak guna mencegah salah penggunan obat ini. Bila setelah 2
hari demam tidak menurun atau setelah 5 hari nyeri tidak hilang , segera hubungi dokter
atau pelayanan kesehatan.
Hati-hati untuk penderita gangguan fungsi ginjal atau hati dan dehidrasi
Hati-hati penggunaan pada anak-anak dengan gejala demam terutama flu, varisela (cacar
air), sebelumnya konsultasikan dengan dokter karena dapat terjadi bahaya Reye Syndrome
Sebaiknya obat ini diminum setelah makan atau bersama dengan makanan.
Alkohol dapat menimbulkan perdarahan gastrointestinal bila diminum bersamaan dengan
obat ini.
Pemakaian jangka panjang dapat menyebabkan perdarahan pada lambung.

Interaksi Obat

Cara Penympanan
Simpan di tempat yang sejuk dan kering ( 15o 30o) C.

54
Natrium Diklofenak
Indikasi
Pengobatan jangka pendek untuk kondisi akut dan kronis pada gejala-gejala :
Rheumatoid artritis
Osteoartris
Ankilosing spondilitis

Kontra Indikasi
Tukak lambung dan perdarahan gastrointestinal
Hipersensititif terhadap diclofenac
Seperti pada anti-inflamasi non-steroid lainnya, diclofenac dikontraindikasikan
pada penderita dimana serangan asma, urtikaria dan rhinitis akut yang ditimbulkan
oleh asetosal atau NSAID lain mempunyai aktivitas menghambat prostaglandin
sintetase.

Efek Samping
Saluran Pencernaan
Susunan Saraf Pusat dan Perir
Kulit
Sistem Urogenital
Liver
Darah
Hipersensitivitss
Efek Lain

Cara Kerja
Natrium diklofenak merupakan obat anti-inflmasi nonsteroid (NSAID) dengan sifat
analgetik.
Mekanisme aksi diklofenak adalah menghambat aktifitas siklooksigenase dengan
pengurangn produksi prostaglandin.
Secara klinis diklofenak digunakan luas dalam pengobatan rheumatoid artritis dan
osteoartritis. Diklofenak juga efekif untuk pengobatan sesudah operasi.
Diklofenak secara cepat diabsotpsi dari saluran gastrointestinal.

Dalam bentuk tablet salut enterik diabsorpsi lebih lambat, terutama bila diberikan bersama-
sama dengan makanan.
Sebagian besar diklofenak yang diabsorpsi merupakan subyek terhadap first-pass
metabolism, kira-kira 50 % dari obat menjangkau sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh.

Pada konsentrasi terapetik lebih dari 99 % berikatan dengan protein plasma.


Diklofenak dapat dideteksi dalam Air Susu Ibu .Waktu paruh plasma sekitar 1 2 jam.
Diklofenak dimetabolsime menjadi 4-hydroxydiclofenac, 5-hydroxydiclofenac, 3-
hydroxydiclofenac dan 4,5-di hyroxydiclofenac.

Ekskresi dalam bentuk glukoronida dan konjugat sulfat, terutama dalam urin kira- kira
35%.

55
Dosis dan Cara Pemakaian

Peringatan dan Perhatian

Interaksi Obat

Cara Penyimpanan

Fenilbutazon
Indikasi

Kontra Indikasi

Efek Samping

Cara Kerja

Dosis dan Cara Pemakaian

Peringatan dan Perhatian

Interaksi Obat

Cara Penyimpanan

Ibuprofen
Indikasi
Terapi simptomatik kronik pada artritis reumatik dan osteoartritis.

Kontra Indikasi
Hipersensitif terhadap ibuprofen dan antiinflamasi non steroid lain ( gejala bronkospasmus,
polip hidung dan angioedema). Dengan riwayat peptik.

Efek Samping
Intoksikasi yang paling umum adalah mual dan muntah, gejala-gejala lain seperti : diare,
sembelit, nyeri dan rasa panas epigastrik.

Dosis dan Cara Pemakaian


Dewasa 1,2 3, 2 g perhari dalam dosis terbagi (maksimum 3,2 g ).
Dosis untuk anak-anak di bawah 14 tahun belum diketahui dengan pasti.

Peringatan dan Perhatian


Hati-hati jika digunakan pada pasien dengan riwayat penyakit saluran cerna bagian atas,
tukak peptik, kegagalan fungsi ginjal, kegagalan fungsi jantung,hipertensi dan keadaan lain
yang berhubungan dengan retensi cairan, dan gangguan koagulasi intrinsik, jangan
digunakan pada 3 bulan terakhir kehamilan dapat menumbulkan komplikasi dan
masalah pada fetus.

56
Interaksi Obat
Konsentrasi plasma ibuprofen menurun bila diberikan berulan-ulang bersama aspirin.

Catatan khusus:
Reaksi silang mungkin terjadi, oleh karena itu tidak boleh digunakan pada pasien yang
hipersensitif terhadap aspirin atau NSAID lainnya, juga pada penderita polip hidung,
angioedema dan yang memberikan isi bronkospastik terhadap aspirin.

Cara Penyimpanan

Ketoprofen
Indikasi

Kontra Indikasi

Efek Samping

Cara Kerja

Dosis dan Cara Pemakaian

Peringatan dan Perhatian

Interaksi Obat

Cara Penyimpanan

57
Parasetamol
Indikasi
Sebagai antipiretik/analgetik,termasuk bagi pasien yang tidak tahan asetosal
Sebagai analgesik, misalnya untuk mengurangi rasa nyeri pada sakit kepala, sakit gigi,
sakit waktu haid dan sakit pada otot.
Menurunkan demam pada influenza dan setelah vaksinasi.

Kontra Indikasi
Hipersensitif terhadap parasetamol dan defisiensi glucose -6-fosfat dehidrogenase.
Tidak boleh digunakan pada penderita dengan gangguan fungsi hati.

Efek Samping
Dosis besar menyebabkan kerusakan fungsi hati

Cara Kerja
Parasetamol adalah derivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik /analgetik.
Sifat antipiretik disebabkan oleh gugus aminobenzen dan mekanismenya diduga
berdasarkan efek sentral.
Sifat analgesik parasetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang. Sifat
antiinflamasinya sangat lemah sehingga tidak digunakan sebagai antireumatik
Pada penggunaan per oral parasetamol diserap dengan cepat melalui saluran cerna.
Kadar maksimum dalam plasma dicapai dalam waktu 30 menit sampai 60 menit setelah
pemberian.
Parasetamol dieksresi melalui ginjal , kurang dari 5 % tanpa perubahan dan sebagian
besar dalam bentuk konyugasi.

Dosis dan Cara Pemakaian


Melalui mulut (Per oral)
Di bawah 1 tahun :
- 1 sendok teh atau 60 120 mg tiap 4- 6jam

1 5 tahun :
1 2 sendok teh atau 12m 250 mg tiap 4- 6 jm

6 12 tahun :
2 4 sendok teh atau 250 500 mg tiap 4- 6 jam
Di atas 12 tahun :
g tiap 4 jam, maksimum 4 g per hari.

Peringatan dan Perhatian


Pemberian harus berhati-hati pada pasien dengan gangguan ginjal serta penggunaan
jangka lama pada pasien anemia.
Jangan melampaui dosis yang disarankan
Harap ke dokter bila gejala demam belum sembuh dalam waku 2 hari atau rasa sakit tidak
berkurang selama 5 hari.

58
Interaksi Obat
Parasetamol diduga dapat menaikkan aktivitas koagulan dari kumarin

Cara Penyimpanan
Dalam wadah tertutup rapat , terlindung dari cahaya.

Piroksikam
Indikasi

Kontra Indikasi

Efek Samping

Cara Kerja

Dosis dan Cara Pemakaian

Peringatan dan Perhatian

Interaksi Obat

Cara Pen333yimpanan

Tabel 6.1

59
Obat Analgetik dan Nama Dagangnya

Nama Generik Nama Dagang Pabrik Golongan


Antalgin Anacof Yekatria Farma K
(Metampiron) Betalgin Balatif K
Duralgin Durafarma Jaya K
Emmer Inti Jaya K
Etalgin Errita K
Foragin Mugi K
Fytogin Phyto Kemo Agung K
Ginifar Ifars K
Hufanal Gratia K
Infalgin Graha Farma K
Licogin Berlico K
Medizol Saka Farma K
Mepron Meprofarm K
Nelgin Nellco K
Neuphralgin Erela K
Novalgin Aventis K
Novaron Novapharin K
Panstop Armoxindo K
Pronto Zenith K
Pyronal Tanabe Indonesia K
Rapidon Mecosin K
Ronalgin Dexa Medica K
Saltalin Itrasal K
Tonagin Emba Megafarma K
Trovinal Tropica Mas K
Vardiksia Varia Sekata K
Asam Mefenamat Allogon Konmex K
Alpain Apex Pharma K
Altran Imfarmind K
Analspec Metiska Farma K
Anastan Gratia Husada farma K
Argesid Promed Rahardjo K
Asimat Mersi K
Benostan Bernofarm K
Bimastan Bima Mitra Farma K
Bonapons Aditama raya Farmindo K
Cargesic Sampharindo Pedana K
Cetalmic Soho K
Citostan Ciubros Farma K
Corstanal Corsa K
Costan Forte Samco Farma K
Datan Pyridam K
Dolfenal Medifarma K

60
Bab VII
Obat Anestesi
7.1. Pengertian
7.2. Macam-maam Obat Anestesi
7.3. Syarat Penggunaan Obat Anestesi
7.4. Cara Kerja/Khasiat Obat Anestesi
7.5. Indikasi /Kontra Indikasi
7.6. Dosis Yang Digunakan
7.7. Efek Samping dan Cara Mengatasinya

Bab VIII
61
Obat Diuretika
Pengertian
Diuretik
Adalah obat yang digunakan agar dapat memperbanyak pengeluaran air kemih (diuresis)
akibat pengaruhnya yang langsung terhadap ginjal.

Diuretik
Ialah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin.

Diuretika
Adalah senyawa yang dapat menyebabkan ekskresi urin yang lebih banyak.

Diuretika
Adalah zat-zat yang dapat memperbanyak pengeluaran kemih (diuresis ) melalui kerja
langsung terhadap ginjal.

Obat-obat Diuretika
Acetazolamidum ( Asetazolamida)
Chlortalidonum ( (Klortalidon)
Furosemidum (Furosemida)
Hydrochlorothiazidum ( Hidroklorotiazida)
Orthosiphonis Folium
Spironolactonum (Spironolakton)

Acetazolamidum ( Asetazolamida)

Indikasi

Kontra Indikasi

Efek Samping

Cara Kerja

Dosis dan Cara Pemakaian

Peringatan dan Perhatian

Interaksi Obat

Cara Penyimpanan

Chlortalidonum ( (Klortalidon)

62
Indikasi

Kontra Indikasi

Efek Samping

Cara Kerja

Dosis dan Cara Pemakaian

Peringatan dan Perhatian

Interaksi Obat

Cara Penyimpanan

Furosemidum (Furosemida)
Indikasi
Udem, udem paru, gagal ginjal akut.

Kontra Indikasi
Riwayat hipersensitivitas terhadap furosemid atau sulfonamida. Oliguria, anuria, keadaan
deplesi elektrolit dan cairan , koma hepar, wanita diduga hamil.

Efek Samping
Keseimbangan elektrolit dan cairan, hipovolemia, hipokloromia, alkalosis metabolik,
hipomagnesemia, hiperurikemia, terutama sesudah injeksi iv, hiper kalsiuria.

Kardivaskuler, hipertensi postural dengan diuresis berlebihan, episode hipotensi akut,


kolap sirkulasi, episode trombombolik.

Saluran Cerna, mual, muntah, diare, sakit perut ringan hingga sedang , nyeri kejang perut
(dilaporkan pada anak-anak sesudah injeksi i..v.)

Hematologi, anemia, leukopenia, anemia aplastik, trombositopenia purpura, agranulositosis


(jarang).

Dermatologi, pruritus,urtikartia, dermatitis eksfoliasi, eritema multiforma (jarang).

Ototoksisitas, tinitus, ketulian, reversible atau permanen.

Genito-urologi, nyeri panggul-pinggang, nefritis interstisial alergi, gagal ginjal reversibel,


spasmus atau tekanan kandung kemih , sering kencing.

Gejala lain, hiperglikemi, glikosuria, kejang (jarang), amonia darah meningkat, BUN
ditingkatkan , encok akut (jarang) , perspirasi meningkat ,parestesia. fotosensitasi ,
penglihatan kabur.

63
Dosis dan Cara Pemakaian
Udem, dewasa , peroral 20 80 mg, sebaiknya diberikan pagi hari, dosis dapat
ditingkatkan bertahap dengan interval 6 8 jam, dosis penunjang bervariasi ; frekuensi
pemberian harus ditentukan secara individu.

Peringatan dan Perhatian


Hati-hati pada pasien lanjut usia, sirosis hati, sindrom nefrotik , syok kardiogenik dikaitan
infark miokardium akut, riwayat encok, pasien terapi glikosa digitalis atau steroid deplesi
kalium. Hati-hati pada wanita hamil atau menyusui .
Furosemid merupakan diuretika kuat, efeknya menghambat reabsorpsi ion natrium di ansa
henle asendens; biotransformasi di hati, dieksresi dalam kemih (88%), dalam empedu
(12%).

Interaksi Obat
Barbiturat dapat memperparah hipotensi,aminoglikosida akan memperparah ototoksisitas,
kortikosteroid dapat memperparah hipokalemia,memudahkan intoksikasi digitalis.

Cara Penyimpanan

Hydrochlorothiazidum ( Hidroklorotiazida)

Indikasi

Kontra Indikasi
Anuria, dekompensasi ginjal, penyakit hati parah, penyakit Addison , penderita atau
dengan riwayat hiperkalsemia, terapi bersama Litium.

Efek Samping
Gangguan metabolik terutama pada dosis tinggi. Dapat menyebabkan hiperglikemi dan
glikosuria pada pasien yang rentan, ketidakseimbangan elektrolit (termasuk alkalosis
hipokloremik , hiponatremia, hipokalemia) dengan tanda mulut kering,haus,lemah,
letargi,mengantuk , tidak dapat istirahat , kram dan sakit otot, oligoria, hipotensi,
gangguan saluran cerna,sakit kepala, pusing, ruam kulit, demam, edema paru, pneumonitis,
pankreatitis , sakit kuning kolestatik, diskrasia darah.

Cara Kerja

Dosis dan Cara Pemakaian


Oral: Hipertensi , awal 12,5 mg ; dapat ditingkatkan jika perlu menjadi sehari 25 50 mg,
maksimum 100 mg/hari.
Edema, dosis lazim sehari 25 100 mg; diturunkan menjadi sehari 25 50 mg,
Diabetes insipidus nefrogenik , sehari hingga 100 mg.
Dianjurkan minum pagi hari agar tidak mengganggu tidur.

Peringatan dan Perhatian

64
Hati-hati dengan adanya ketidakseimbangan cairan tubuh dan elekrolit tubuh terutama
pada pasien usia lanjut. HCT dapat menyebabkan encok bagi pasien yang rentan. Pantau
kadar gula darah karena HCT dapat menyebabkan hiperglikemia. Hati-hati pada penderita
gangguan ginjal (HCT tidak efektif pada penderita gangguan ginjal dengan klirens
Creatinin kurang dari 30 ml/menit); pada wanit hamil, neonatus, ibu menyusui.
HCT dapat meningkatkan risiko pembentukan batu empedu.

Interaksi Obat
Banyak interaksi dari HCT berkaitan dengan efeknya terhadap keseimbangan cairan dan
elektrolit.Diuretik yang menginduksi hipokalemia dapat meningakan toksisitas glikosid
Digitalis. HCT meninbjkakan risiko aritmia dengan obat-obat yang memperpanjang QT
interval seperti Astemizole, Terfenadine, Halofantrine, Primozide dan Sotalol, memperkuat
kerja pemblokan neuromuskular oleh competitive neuromuscular blockers (seperti
Atracurium) : efek pengurangan Kalium diperkuat oleh kortikosteroid, Corticotropin
antagonis 2 ( seperti Salbutamol, Carbenoxolone, Amphothericin B atau Reboxetine) .
HCT dapat meningkakan efek antihipertnesi penghambat ACE dan - bloker terutama
pada dosis awal. Alkohol, Barbiturat , opioid memperkuat efek hipotensif ortostatik HCT.

Cara Penyimpanan

Spironolactonum (Spironolakton)

Spironolactone adalah diuretik hemat Kalium (Kalium sparing diuretic) dengan aktivitas
diuretik relatif lemah yang biasanya digunakan bersama diuretik Thiazide atau loop
diuretics. Spironolaktone merupakan suatu steroid dengan struktur mirip Aldosteron alami.

Kontra Indikasi
Anuria, insufisiensi ginjal, gangguan ginjal, hiperkalemia, penggunaan bersama diuretik
hemat kalium,suplemen K,hiponatremia, penyakit Addison, tukak petik, wanita hamil.

Efek Samping
Kram, diare, mengantuk, letargi, ruam kulit, sakit kepala, erupsi kulit eritematosus, erupsi
kulit, urtikaria, demam karena obat, impotensi atau gangguan ereksi, menstruasi tidak
teratur, ginekomastia, gangguan mental, ataksia,. Terkadang agranulositosis, perdarahan
posca-menopause.

Cara Kerja

Dosis dan Cara Pemakaian


Oral :
Edema jantung atau edema sehubungan dengan gagal jantung kongestif, dewasa , sehari
50- 100 mg sebagai dosis tunggal atau dalam dosis terbagi, dosis pemeliharaan lazimnya
25 -200mg/hari.

Anak , 3 x sehari 1 mg/kg BB .


Edema sehubungan dengan sirosis hati dengan atau tanpa asites pada orang dewasa ,
sehari 300 -600 mg.

Edema sehubungan dengan sindrom nefrotik pada orang dewasa , sehari 100 200 mg.

65
Edema idiopatik, sehari 100 mg/hari.
Edema pada anak , sehari 3.3 mg/kg BB dalam dosis terbagi atau dosis tunggal.

Diagnosis dan pengobatan aldosteronisme primer, sehari 400 mg selama 3- 4 minggu


untuk tes yang lama. Unuk tes singkat , sehari 400 mg selama 4 hari.

Hipertensi esensial , dewasa , awal sehari 25 mg lalu ditingkatkan hingga 100 mg/hari
sebagai dosis tunggal atau dalam dosis terbagi; anak , sehari 1 2 mg/kgBB dalamm 2 dois
terbagi.

Hipertensi berat, sehari 100 mg/hari, dapat ditingkatkan dengan jarak tiap 2 minggu
hingga sehari 400 mg.

Hirsutisme , sehari 100 200 mg dalam dosis terbagi secara terus menerus atau bersiklus.

Hirsutisme , sehari 25 100 mg. Diminum waktu makan.

Peringatan dan Perhatian


Hati-hati pada kerusakan fungsi ginal, gangguan fungsi hati, pasien dalam anestesi, pasien
yang menggunakan suplemen Kalium, wanita hamil, ibu menyusui, pasien usia lanjut.

Interaksi Obat
Berinteraksi dengan Carbenoxolone, suplemen K atau obat hemat K . Spironolakton dapat
mengurangi rsepon vascular Noradrenaline; menghambat klirens Digoxin. Bersama
menghambat ACE meningkatkan risiko hiperkalemia.

Cara Penyimpanan
Tabel 7
Obat Diuretika dan Nama Dagangnya

Nama Generik Nama Dagang Pabrik Golongan


Asetazolamida Diamox Phapros K
Furosemida Glaucon Cendo K
Afrosic Heroic K
Diurefo Pyridam K
Farsix Fahrenheit K
Furosic Landson K
Impugan Alpharma K
Uresix Sanbe Farma K
Hidroklorotiazida HCT Kimia Farma K
Klortalidon Hyanggroton Sandoz K
Spironolakton Aldactone Pharmacia K
Aldazide* Pharmacia K
Carpiaton Fahrenheit K
Idrolattone Rocella K
Letonal Otto K
Spirolacton Phapros K
Yekapiodebton Yekatria K

66
Bab IX
Obat Anemia
Pengertian
Anemia merupakan sekelompok gangguan yang dikarakterisasi dengan penurunan
hemoglobin atau Sel Darah Merah (SDM),berakibat pada penurunan kapasitas
pengangkutan oksigen oleh darah.

Klasifikasi
Anemia dapat diklasifikasikan berdasarkan morfologi, etiologi atau patofisiologi SDM.
1. Morfologi :
Anemia makrositik :
Anemia megaloblastik :
1. Defisiensi vitamin B12
2. Anemia defisiensi asam folat

Anemia mikrositik, hipokromik


Anemia defisiensi besi
Anomali genetik:
1. Sickle cell anemia
2. Thalasemia
3. Hemoglobinopati lainnya ( hemoglobin abnormal)

Anemia normositik
Kehilangan darah
Hemolisis
Kegagalan sumsum tulang
Anemia penyakit kronis
Gagal ginjal
Kelainan ebdokrin
Anemia mieloplastik

2. Etiologi
Defisiensi
Besi
Vitamn B12
Asam folat
Piridoksin

Pusat, disebabkan gangguan fungsi sumsum tulang :


Anemia penyakit kronis
Anemia pada lansia
Kanker sumsum tulang

Periferal
67
Perdarahan (hemorrhage)
Hemolisis (anemia hemolitik)

3. Patofisiologi :
Kehilangan darah berlebihan
Perdarahan kronis
Destruksi sel darah merah berlebihan
Faktor intra korpuskular
Produksi SD dewasa tidak cukup

Tujuan Terapi
Tujuan utama pengobatan terhadap pasien anemia adalah untuk :
- mengurangi tanda-tanda dan gejala,
- memperbaiki etiologi yang mendasarinya
- mencegah kambuhnya anemia

Terapi Farmakologi
1. Produk Yang Mengandung Besi
Mekanisme Kerja
Besi merupakan komponen hemoglobin, mioglobim, dan beberapa enzim.
Besi terutama disimpan ebagai hemosideriin atau ferritin teragergasi, diteakan pada
ssm retikuloendotelial dan hepatosit. Defisiensi besi dapat mempengaruhi
metabolisme otot, produksi panas ,metabolisme katekolamin, dan dikaitkan dengan
masalah perilaku anak.

Farmakokinetik
Absorpsi/Disribusi
Besi terutama diabsopsi dari duodenum dan jejunum. Garam ferro diabsorpsi 3kali
lebih cepat dibandingkan bentuk ferri.
Garam ferro yang umum (contoh sulfat, glukonat, fumarat) diabsorpsi hampir
dengan dasar milligam tetapi berbeba dalam kandungan besi elemental.
Makanan dapat menurunkan absorpsi besi setidaknya sebesar 50 %.
Bagaimanapun, intoleransi gastrik mengharuskan peberian obat bersamaan
dengan makanan.

Ekskresi
Besi ditransformasikan melalui darah dan terikat pada transferin. Kehilangan besi
dari urin,keringat, dan sel mukosa intestinal sekitar 0,5 hingga 1 mg pada pria
sehat.
Pada wanita yang menstruasi ,kehilangan normal harian sekitar 1 hingga 2 mg.

Indikasi
Defisiensi besi : untuk pencegahan dan pengobatan defisiensi besi dan anemia
defisiensi besi.
Suplemen besi : sebagai suplemen makanan besi
Penggunaan tidak berlabel : suplementasi besi dapat diperlukan oleh kebanyakan
pasien yang menerima terapi epoetin, kegagalan pemberian suplemen (oral atau
IV) selama terapi epoetin dapat mengganggu respon hematologi terhadap epoetn.
68
Kotra Indikasi
Hemokromatosis, hemosiderosis, anemia hemolitik, reaksi hipersensitivitas.

Peringatan
Individu dengan keseimbangan besi normal tidak boleh mengkonsumsi besi secara
kronis.
Overdosis produk yang mengandung besi menyebabkan keracunan fatal pada
anak-anak berumur kurang dari 6 tahun.

Efek samping
Cairan mengandung besi menodai gigi untuk sementara (email tidak
terpengaruhi) ,nyeri abodominal,konstipasi, diare, iritasi saluran pencernaan, mual-
mual, muntah, feces berwarna lebih gelap.

Interaksi Obat (Interaksi garam besi)


Asam asetohidroksamat (AHA) :
AHA mengkelat logam berat, temasuk besi.Absorpsi besi menurun.

Antasid :
Absorpsi besi dari saluran pencernaan menurun

Asam Askorbat :
Asam askorbat pada dosis 200 mg dapat meningkakan absorpsi besi 30 %

Garam kalsium
Kloramfenikol :
Kadar besi serum meningkat.

Enzim pencernaan
Antagonis H2
Inhibitor pomproton
Trientin
Kaptopril :
Penggunaan bersamaan dalam 2 jam dapat menyebabkan pembentukan dimer
disulfida kaptopril yang inaktif.

Sefalosporin

Fluorokuninolon
Lepodopa
Levotiroksin
Metildopa
Mikonolat mofetil
Penisilamin

Tetrasiklin :
Penggunaan bersamaan dalam 2 jam dapat saling menurunkan absorpsi masing-
masing obat.

69
Sedian beredar
Cari obat yang mengandung besi !

No. Nama Generik Nama Dagang Pabrik Golongan

2. Besi Dekstran
Mekanisme Kerja
Besi dekstran yang bersirkulai dibuang dari plasma oleh sistem retikuloendotelial
yang membagi kompleks menjadi komponen besi dan dekstran.
Besi segera terikat pada protein membentuk hemosiderin atau ferritin.Besi ini
mengisi hemoglobin dan penyimpanan besi yang kosong.

Farmakokinetik
Absorpsi/Disribusi
Setelah injeksi IM, besi dekstran diabsorpsi dari area injeksi menuju kapilari dan
sistem limfatik. Sebgian besar injeksi IM besi dekstran diabsorpsi dalam 72 jam ,
sisanya diaborspi dalam 3 4 minggu.

Metabolisme/ekskresi
Dekstran, suatu poliglukosa ,mengalami metabolisme dan juga ekskresi.
Besi dieksresi melalui urin dalam jumlah yang diabaikan.

Indikasi
Defisiensi besi :
injeksi besi dekstran secara intravena atau intramuskular diinikasikan untuk
pengobatan pasien defisiensi besi dengan sejarah pemberian oral yang tidak
memuaskan atau tidak memungkinkan

Penggunaan tidak berlabel :


Suplementasi besi dapat dibuhkan oleh kebanyakan pasien yang menerima epoetin.

Kontra Indikasi
Hipersensitif terhadap produk, semua anemia yang tidak berkaitan dengan defiensi
besi , fase akut penyakit infeksi ginjal.

Peringatan
Dosis maksimum harian tidak boleh melebihi 2 ml besi dekstran yang tidak
diencerkan.
Dosis IV yang besar ,seperti yang digunakan dalam Total Dose Infusion (TDI)
dikaitkan dengan peningkatan kejadian efek samping.
Anafilaksis dan reaksi hipersensitivitas lainnya telah dilaporkan setelah injeksi
besi dekstran pada dosis terapi.
Penggunaan sediaan ini harus dengan peringatan pada pasien dengan kelainan
fungsi hati yang serius.
Resiko karsingenesis dapat menyertai injeksi kompleks besi-karbohidrat secara IM.
Besi dekstran bersifat teratogenik dan embriosid pada mencit, tikus, kelinci, anjing
dan kera jika diberikan pada dosis 3 kali dosis maksimum pada manusia.

70
Tidak terdapat studi yang terkontrol baik pada wanita hamil .
Penggunaan pada wanita hamil hanya jika keuntungan melebihi resiko potensial
Ditimbulkan terhadap fetus.

Sisa-sisa besi dekstran yang tidak dimetabolisme dieksresikan pada


air susu.
Pemberian pada wanita menyusui harus dengan peringatan
Tidak direkomendasikan untuk digunakan pada bayi berusia kurang dari 4 bulan.

Efek Samping
Reaksi anafilaktik , athralgia, demam, sakit kepala, mialga, mual-mual, muntah,
aritmia, bradikardi, nyeri dada, hipertensi, hiponteni, shok, takikardi, konvulsi,
disorientasi, kejang, kebal, leukositosis,limfadenopati, hematuria.

Interaksi Obat
Kloramfenikol:
Tingkat besi serum menigkat

Interaksi obat/tes lab:


Dosis besar besi dekstran (5 mL atau lebih) memberikan warna coklat pada serum
dari sampel darah yang diambil 4 jam setelah pemberian.

Sedian beredar
Cari sendiri!

3. Besi Sukrosa
Mekanisme Kerja

Farmakokinetik
Absorpsi/Disribusi

Ekskresi

Indikasi

Kontra Indikasi

Peringatan

Efek samping

Interaksi Obat

Sedian beredar

4. Epoetin Alfa
Mekanisme Kerja

Farmakokinetik

71
Absorpsi/Disribusi

Ekskresi

Indikasi

Kontra Indikasi

Peringatan

Efek samping

Interaksi Obat

Sedian beredar

5. Vitamin B12
Mekanisme Kerja
Vitamin B12 penting untuk pertumbuhan , reproduksisel, hematopoiesis, dan
sintesis nukleoprotein dan mielin.
Vitamin B12 berperan dalam pembentukan sel darah merah melalui aktivasi
koenzim asam folat.

Farmakokinetik
Absorpsi vitamin B12 tergantung adanya faktor intrinsik dan kalsium yang cukup.
Secara umum ,absorpsi vitamin B12 tidak mencukupi pada keadaan malabsorpsi
dan pada anemia pernisiosa (kecuali faktor intrinsik diberikan secara bersamaan).

Indikasi
Defisiensi vitamin B12 karena sindrom malabsorpsi seperti yang terlihat pada
anemia pernisiosa .
Peningkatan kebutuhan vitamin B12 seperti pada saat kehamilan
,tirotoksikosis,anemia hemolitik, perdarahan dan penyakit hati dan ginjal.

Kontra Indikasi
Hipersensitivitas terhadap kobal, vitamin B12, atau komponen-komponen pada
produk.

Peringatan
Pemberian parenteral dipilih untuk anemia pernisiosa.Hindari rute pemberian IV.
Defisiensi vitamin B12 yang dibiarkan selama > 3 bulan dapat menyebabkan lesi
degenerative permanen pada tulang belakang.
Hipokalemia dan kematian mendadak dapat terjadi pada anemia megaloblastik
parah yang diobati secara intens.

Efek samping
Pemberian vitamin B12 secara parenteral dapat menyebabkan edema pulmonari,
gagal jantung kongestif ,trombosis vaskuler perifer, rasa gatal, shock
anafilaktik,perasaan bengkak pada seluruh tubuh,diare ringan, atropi saraf optik.

72
Interaksi Obat
Asam aminosalisilat :
Menurunkan kerja terapeutik dan biologi vitamin B12

Kloramfenikol :
Menurunkan efek hematologi vitamin B12 pada pasien anemia pernisiosa.

Kolkisin, alkohol:
Asupan kolkisin dan alkohol (> 2 minggu ) dapat menyebabkan malabsorpsi
vitamin B12.

Sedian Beredar
Cari sendiri

6. Asam Folat
Mekanisme Kerja
Folat eksogen dibutuhkan untuk sintesis nukleoprotein dan pemeliharaan
eritropiesis normal.
Asam folat menstimulasi produksi sel darah merah ,sel darah putih dan platelet
pada anemia megalobalstik

Data Farmakokinetik
Absorpsi/Distribusi
Asam folat yang berasal dari makanan harus mengalami hidrolsis , reduksi dan
metilasi pada saluran pencernaan sebelum diabsorpsi.
Perubahan Asam folat menjadi bentuk aktifnya , tetrahidrofolat , memerlukan
vitamn B12
Asam folat terdapat di dalam plasma sekitar 15 hingga 30 menit setelah pemberian
secara oral, kadar puncak biasanya dicapai dalam 1 jam . Setelah pemberian secara
iv , asam folat secara cepat dibersihkan dalam plasma.

Sebagian besar produk metabolitnya muncul di urin setalah 6 jam , eksresinya


lengkap dicapai dalam 24 jam.

Indikasi
Anemia megaloblastik yang disebabkan defisensi asam folat.

Kontra Indikasi
Pengobatan anemia pernisiosa dan anemia megalobastik lainnya dimana vitamin
B12 tidak cukup (tidak efetktif)

Peringatan
Jangan diberikan secara tunggal untuk anemia pernisiosa Addison dan penyakit
defisiensi vitamin B12 lainnya karena dapat menimbulkan degenerasi majemuk
dari medulla spinalis.
Jangan digunakan untuk penyakit ganas kecuali anemia megaloblastik karena
defisiensi folat merupakan komplikasi penting.

73
Efek samping
Asam folat relatif tidak toksik terhadap manusia . Efek samping yang umum terjadi
adalah perubahan pola tidur, sulit berkonsentfasi, iritabilita, aktivitas berlebih,
depresi mental, anoreksia.mual-mual distensi abdominal dan flatulensi.

Interaksi Obat
Asam aminosalisilat; penurunan kadar folat serum dapat terjadi selama penggunaan
konkuren.
Kontrasepsi oral: kontrasepsi oral dapat mempengaruhi metabolisme folat dan
menyebabkan kekurangan folat , tetapi efeknya ringan dan tidak menyebabkan
anemia atau perubahan megaloblastik.
Dihydrofolate reductase inhibitor : defisiensi dihydrofolate reductase yang
disebabkan pemberian antagonis asam folat dapat mempenbgaruhi penggunaan
asam folat.
Sulfasalazin : terjadi tanda-tanda defisiensi folat.
Feniton : menurunkan kadar folat serum

Sedian beredar
Folic Acid (Genertik ) Tablet 1 mg, 5 mg (B).

74
Anemia
Berkurangnya jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin.

Darah
Cairan yang beredar melalui jantung ,pembuluh pembuluh nadi, kapiler -kapiler dan
pembuluh-pembuluh balik

Terdiri atas:
Plasma darah, sel-sel darah dan keping-keping darah.

Hemoglobin
Zat warna dalam sel darah merah yang berguna untuk mengangkut oksigen dan karbon
dioksida.

Klorosis
Sejenis anemia yang terutama dijumpai pada gadis sekitar masa akil balig , ditandai
kepucatan sehingga kulit berwarna kehijau-hijauan.

Tabel
Antianemia yang Beredar
No. Nama Obat Pabrik Golongan
1 Adfer Fahrenheit B
2 Biosanbe Sanbe Farma B
3 Dasabion Kimia Farma B
4 Diabion Metiska Farma B
5 Emibion Guardian B
6 Ferobion Erlimpex B
7 Ferofort Kalbe Farma K
8 Folac Otto K
9 Folaplus Meprofarm B
10 Hemafort Phapros B
11 Hemobion Merck B
12 Inbion Interbat B
13 Nonemi Lapi B
14 Megabion Emba B
15 Opibion Otto
16 Sangobion Merck B
17 Sangofer Sandoz B
18 Vitonal F Tempo B

75
Antibakterial dan Antibiotik

9.1. Obat-obat antibakterial dan antimikroba


Adalah substansi yang menghambat pertumbuhan atau membunuh
bakteria atau mikroorganisme lain ( organisme mikroskopik
termasuk bakteri, virus, jamur, protozoa, dan riketsia).

Antibiotik
Zat kimia yang dihasilkan oleh satu macam mikroorganisme yang
menghambat atau membunuh mikroorganisme lain.

Obat-obat bakterisostatik
Menghambat pertumbuhan bakteri.

Bakterisidal
Membunuh bakteri

9.2. Obat-obat Antibakterial


Obat-obat antibaterial dikelompokkan ke dalam sembilan kelompok :
1. Penisilin
2. Sefalosforin
3. Makrolid
4. Tetrasiklin
5. Linkosamid
6. Aminoglikosida
7. Kloramfenikol
8. Peptida
9. Vankomisin

9.3. Mekanisme Kerja Antibakterial

76
Empat mekanisme kerja Antibakterial yang menghambat
pertumbuhan atau penghancuran mikroorganisme terdapat pada
tabel berikut :

99

Tabel
Mekanisme Kerja Antibakterial

No. Kerja Efek Obat


1. Penghambatan sintesis Efek bakterisidal: Penisilin
dinding sel a. Pemecahan Sefalosporin
enzim dinding sel Basitrasin
b. Penghambatan Vankomisin
enzim dalam
sintesis dinding
sel

2. Pengubahan Efek Amfoterisin B


permeabilitas membrane bakteriostatik Nistatin
atau bakterisidal Polimiksin
Meningkatkan Kolistin
permeabilitas
membran.
Hilangnya
substansi selular
menyebabkan sel
menjadi lisis

3. Penghambatan sintesis Efek bateriostatik Aminoglikosida


protein atau bakterisidal . Tetrasiklin
Mengganggu Eritromisin
sintesis protein Linkomisin
tanpa
memepengaruhi
sel-sel normal
Menghambat
tahap-tahap

77
sintesis protein

4. Mengganggu Efek Sulfonamid


metabolisme selular bakteriostatik . Trimetoprim
Mengganggu Isoniazid (INH)
tahap-tahap Asam
metabolisme di Nalidiksat
dalam sel Rifampin

9.4. Efek Merugikan obat-obat Antibakaterial

Tabel
Reaksi Merugikan Obat-obat Antibakterial

No. Jenis Pertimbangan


1. Efek Alergi atau Reaksi alergi terhadap obat dapat
hipersensitifitas ringan atau berat
Contoh-reaksi ringan :
Ruam kulit, pruritus, dan biduran
Contoh reaksi berat :
Syok anafilaktik
Anafilaksis menimbulkan kolaps
vaskular, edema laring,
bronkospasme dan henti jantung
Sesak nafas seringkali merupakan
gejala pertama anafilaksis.
Reaksi alergi berat umumnya
terjadi dalam waktu 20 menit
Reaksi alergi ringan diobati
dengan antihistamin, anafilaksis
membutuhkan pengobatan dengan
epinefrin, bronkodilator dan
antihistamin

2. Superinfeksi Superinfeksi merupakan infeksi


sekunder yang terjadi jika flora
mikroba normal dari tubuh
terganggu selama terapi
antibiotik.
Super infeksi dapat terjadi pada
kulit, saluran pernafasan, usus

78
halus, traktus genitourinarius, atau
kulit.
Infeksi jamur seringkali
menimbulkan super infeksi,
meskipun organisme bakateri,
seperti proteus, pseudomonas, dan
stafilokokus mungkin merupakan
mikroorganisme penyebabnya.
Superinfeksi jarang terjadi pada
pemberian obat yang kurang satu
minggu.
Superinfeksi lebih sering terjadi
pada pemakaian antibiotik
berspektrum luas.
Untuk infeksi jamur pada mulut,
seringkali dipakai nistatin.

3. Toksisitas Organ Organ-organ , seperti hati dan


ginjal, terlibat dalam metabolisme
dan ekskresi obat.
Antibakterial dapat
mengakibatkan kerusakan organ-
orgnaamasrsbity . Maanhnya

AMOKSISILIN

Nama Dagang
Abdimox (Tunggal), Amobiotic(Bernofarm), Amoxsan(Sanbe),Arcamox (Armoxindo),
Bellacid (Soho),Bintamox (Hexpharm),Decamox (Harsen),Kalmoxillin (Kalbe ),Lapimox
(Lapi)

Komposisi
Tiap sendok teh ( 5 ml ) suspensi mengandung amoksisilin trihidrat setara dengan
amoksisilina anhidrat 125 mg.
Tiap kapsul mengandung amoksisilin trihidrat setara dengan amoksisilina anhidrat 250
mg.
Tiap kapsul mengandung amoksisilin trihidrat setara dengan amoksisilina anhidrat 500
mg.

Cara Kerja Obat


Amoksisilin merupakan senyawa penisilina semi sintetik dengan aktivitas antibakteri
spektrum luas yang bersifat bakterisida.

79
Aktivitasnya mirip dengan ampisilin , efektif terhadap sebagian besar bakteri gram positip
dan beberapa gram negatif yang bersifat patogen.
Bakteri patogen yang sensitif terhadap amoksisilin adalah Staphylococci, Streptococi,
Enterococi,S. pneunoniaie,N. gonorrhoea, H. influenzae, E. coli dan P. mirabilis.

Indikasi
Amoksisilina efektif terhadap penyakit:
- Infeksi saluran pernafasan kronik dan akut : pneumonia, faringitis ( tidak untuk faringitis
gonore),bronkitis, laringitis .
- Infeksi saluran cerna : disentri basiler
- Infeksi saluran kemih : gonore tidak terkomplikasi, uretrutis, sistitis, pielonefritis.
- Infeksi lain : Septikemia, endokarditis.
Kontra Indikasi
Pasien dengan reaksi alergi terhadap penisilin

Efek Samping
Pada pasien yang hipersensitif dapat terjadi reaksi alergi seperti urtikaria, ruam kulit,
pruritus, angioedema dan gangguan saluran cerna seperti diare, mual.muntah .glositis dan
stomatis.

Peringatan dan Perhatian


Pasien yang alergi terhadap Sefalosporin mengakibatkan terjadinya Cross allergenicity
(alergi siang).
Penggunaan dosis tinggi atau jangka lama dapat menimbulkan superinfeksi ( biasanya
disebabkan Enterobacter, Pseudomonas, S. aureus , Candida), terutama pada saluran
gastrointestinal.
Hati-hati pemberian pada wanita hamil dan menyusui dapat menyebabkan sensitivitas
pada bayi.

Dosis
Dosis amoksisilina disesuaikan dengan jenis dan beratnya infeksi.
Anak dengan berat badan kurang dari 20 kg : 20 40 mg/kg berat badan sehari , terbagi
dalam tiga dosis.
Dewasa dan anak-anak dengan berat badan lebih dari 20 kg : 250 500 mg sehari sebelum
makan.
Gonore yang tidak terkomplikasi : amoksisilina 3 gram dengan probenesid 1 gram sebagai
dosis tunggal.

Cara Penyimpanan
Simpan dalam wadah tertutup rapat , di tempat sejuk dan kering.

AMPISILIN

Nama Dagang

Komposisi

Cara Kerja Obat


Indikasi

80
Kontra Indikasi
Efek Samping
Peringatan dan Perhatian
Dosis

Cara Penyimpanan

ASIKLOVIR

Nama Dagang
Komposisi
Cara Kerja Obat
Indikasi
Kontra Indikasi
Efek Samping
Peringatan dan Perhatian
Dosis

Cara Penyimpanan

DOKSISIKLIN
Nama Dagang
Komposisi
Cara Kerja Obat
Indikasi
Kontra Indikasi
Efek Samping
Peringatan dan Perhatian
Dosis

Cara Penyimpanan

KOTRIMOKSAZOL
Nama Dagang
Komposisi
Cara Kerja Obat
Indikasi
Kontra Indikasi

81
Efek Samping
Peringatan dan Perhatian
Dosis

Cara Penyimpanan

METRONIDAZOL
Nama Dagang
Komposisi
Cara Kerja Obat
Indikasi
Kontra Indikasi
Efek Samping
Peringatan dan Perhatian
Dosis

Cara Penyimpanan

NISTATIN
Nama Dagang
Komposisi
Cara Kerja Obat
Indikasi
Kontra Indikasi
Efek Samping
Peringatan dan Perhatian
Dosis

Cara Penyimpanan

SIPROFLOKSASIN
Nama Dagang
Komposisi
Tiap tablet salut selaput mengandung Siprofloksasin hidroklorida monohidrat setara
dengan siprofloksasin 250 mg.
Tiap tablet salut selaput mengandung Siprofloksasin hidroklorida monohidrat setara
dengan siprofloksasin 500 mg.

Cara Kerja Obat


Siproflksasin merupakan anti infeksi sintetik golongan kinolon yang menghambat DNA-
girase. Tidak menunjukkan resistensi paralel terhadap antibiotika lain ynag tidak termasuk

82
golongan karboksilat. Efektif terhadap bakteri yang resisten terhadap antibiotika lain
misalnya aminoglikosida, penisilin, sefalosforin , dan tetrasklin. Siprofloksasin efektif
terhadap bakteri gram-negatif dan gram postip.

Indikasi
Untuk pengobatan :
Infeksi yang disebabkan oleh kuman patogen yang peka terhadap Siprofloksasin pada
saluran kemih, kecuali prostatitis, uretritis, dan servitis gonore.
Infeksi saluran pernafasan kecuali pnemonia oleh streptokokus
Infeksi kulit jaringan lunak.
Infeksi tulang dan sendi.
Infeksi saluran pencernaan termasuk demam tifoid dan paratifoid.

Kontra Indikasi
Penderita yang hipersensitif terhadap siprofloksasin atau dengan derivat kinolon yang lain,
wanita hamil dan menhusui, anak-anak dan remaja yang masih dalam pertumbuhan.

Efek Samping
Terjadi keluhan pada saluran pencernaan seperti mual, diare, muntah, dispepsia, sakit
perut, kembung dan anoreksia.
Terjadi gangguan susunan saraf pusat seprti ; pusing, sakit kepala, rasa letih.
Jarang terjadi ganguan penglihatan.
Efek terhadap darah ; eosinoliia, leukositopenia, leukositosis, anemia.
Reaksi hipersensitif : ruam/reaksi kulit.
Pada gangguan fungsi hati , dapat meningkatkan serum transaminase. Bila terjadi efek
samping konsutasikan dengan dokter.

Peringatan dan Perhatian


Hati-hati bila diberikan pada usia lanjut, epilepsi, penderita SSP serta gangguan fungsi
ginjal. Untuk menghndari terjadinay kkalutuia maka haamkmim dengn air yang cukup.
Selama minum obat ini tidak boleh mengendarai kendaraan bermotor atau menjalankan
mesin terutamabila diminum dengan alkohol.

Interaksi Obat
Penyerapan siprofloksasin dipengaruhi oleh antasida yang mengandung aluminium
hidroksida atau magnesium hidroksida.
Bila sprofloksasin diberikan bersama teofilin akan terjadi peningkatan kadar teofilin dalam
plasma yang tidak diinginkan. Apabila pemberian teofilin tidak dapat dihndari, maka
konsentrasi teofilin dalam plasma harus dikmonitor, bila perlu dosis teofilin dikurangi.
Hindakan pemberian bersama dengan probenesid dan antikoagulan kumarin.

Dosis

Cara Penyimpanan

SPIRAMISIN
Nama Dagang
Komposisi

83
Cara Kerja Obat
Indikasi
Kontra Indikasi
Efek Samping
Peringatan dan Perhatian
Dosis

Cara Penyimpanan

VALAKSIKLOVIR
Nama Dagang
Komposisi
Cara Kerja Obat
Indikasi
Kontra Indikasi
Efek Samping
Peringatan dan Perhatian
Dosis

Cara Penyimpanan

Bab XI
Obat Pre dan eklampsia

Bab XII
Obat Anti Piretika
Indikasi
Kontra Indikasi
Efek Samping
Cara Kerja
Dosis dan Cara Pemakaian
Peringatan dan Perhatian
Interaksi Obat
Cara Penyimpanan

Bab XIII
Vitamin dan Mineral

Pengertian Vitamin

84
Pengelolaan Vitamin
Fungsi Vitamin
Penyakit Akibat Defisensi Vitamin
Contoh Obat

Bab XIV
Anti Konvulsi
14.1. Pengertian
Anti konvulsan (Anti epilepsi) adalah obat yang digunakan untuk mengurangi
penderitaan dan frekuensi epilepsi.
Epilepsi = ayan
Epilepsi disebabkan oleh timbulnya pelepasan muatan listrik yang berlebihan
secara cepat dan mendadak di pangkalnya dalam susunan syaraf sentral
(neuron-neuron tertentu).

Penyebab epilepsi ialah karena luka di otak seperti:


- abses,
- tumor atau arterioklerosis ,
- keracunan timah hitam atau petidin.

Jenis epilepsi
1. Grand mal, serangan 1 2 menit pingsan , beberapa menit setelah sadar
perasaan kacau dan kantuk.
Terjadi kejang otot, kaki tangan bergerak, tak sadar ,menjerit, dari mulut keluar
busa.

2. Petit mal,serangan hanya beberapa detik, gangguan keadaan ringan tanpa


kejang. Penderita sering termenung.

3. Psikhomotor , pada serangan kesadaran hanya sebagian terganggu dan ingatan


tidak hilang.
Penderita bebuat kelakuan otomatis dan sering.
uat

Penentuan jenis epilepsi dengan jalan E.E.G ( ElectroEncephaloGraf).

Contoh Obat Anti Konvulsi


Aetosuximidum
Beclamidum
Carbamazepinum
Chlorazepam
Luminal
Methylsuximidum
Metioninum
Phenytoinum
Primdidonum

85
Trimetadion
Valium

Aetosuximidum
Beclamidum
Carbamazepinum
(Karbamazepin)

Indikasi
Epilepsi, semua jenis , kecuali petit mal, neuralgia trigeminus, profilaksis pada
manik depresif.

Kontra Indikasi
Gangguan konduksi AV, riwayat depresi sumsum tulang, porfiria.

Peringatan
Gangguan hati atau gangguan ginjal, hamil,menstruasi ,hindari pemutusan obat
mendadak, riwayat penyakit jantug, glaukoma, riwayat reaksi hematologik terhadap
obat lain.

Interaksi
Karbamazepin dapat berinteraksi dengan cara mempengaruhi beberapa obat.
Asam valproat meningkatkan kadar metabolit 10,11 epoksi tanpa mempengaruhi
kadar karbamazepin.

Interaksi antara eritromisin dan klaritromisin dengan karbamazepin sangat


bermakna

Estrogen dan Progesteron


Karbamazepin mempercepat metabolisme kontrasepsi oral (menurunkan efek
kontrasepsi).
Karbamazepin mempercepat metabolisme (menurunkan kadar plasma ) gestrinon
dan tibolon.

Antiepileptik lain
Pemberian bersama 2 atau lebih obat antiepileptika dapat meningkatkan toksisitas
tanpa diiringi peningkatan dalam efek antiepilepsi,selain itu interaksi antara
masing-masing obat antiepilepsi mempersulit pemantauan pengobatan ;
interaksi termasuk peningkatan efek, peningkatan sedasi dan penurunan kladar
plasma.

Analgetik
Dekstropropoksifen menaikkan kadar karbamazepin; khasiat tramadol diturunkan
oleh kabamazepin.

Antipsikotik
Antagonisme efek anti konvulsan (ambang kejang menurun); metabolisme
aloperidol , olansapin, dan sertindol dipercepat (menurunkan kadar plasma)

86
Sediaan Beredar

Chlorazepam

Fenobarbital
(Luminal)

Farmakokinetik/Farmakodinamik
Mudah diserap sesudah semua route pemberian, dan tersebar luas dalam jaringan
dan cairan tubuh.
Dosis hipnotik menyebabkan tidur dalam 10 menit, lama keaktifan bervariasi dari 6
hingga10 jam.
Lebih kurang 40 60 % terikat protein plasma dan juga pada jaringan, termasuk
otak.

Waktu paro 2 5 hari (agak singkat dan lebih bervariasi pada aak-anak.
Sedikit dimetabolis di hati dan diekskresi dalam kemih,sebagian besar dalam
bentuk tak berbah.Alkalinasi kemih dan hidrasi memperbesar ekskresi.

Mudah melintasi placenta,masuk ASI , barbiturat mempengauhi keaktifan


kromosom hati , dapat mengurangi efek banyak obat.

Indikasi
Antikonvulsan dalam terapi epilepsi grand mal dan serangan fokal kortikal,status
epilepsi , eklamsia dan konvulasi febril pada anak-anak muda.
Demikian, jika diperlukan sedatif keaktifan-lama, seperti pada insomnia ,keadaan
tegang dan kecemasan ,menejemen pra dan pasacaoperasi juga, tetapi
hiperbilirubinemia neonatum.

Kontra Indikasi
Hipersensitivitas , porfiria nyata atau riwayat porfiria keluarga; penyakit ginjal,
jantung atau penyakit pernafasan, riwayat ketagihan sedatif hipnotik sebelumnya,
nyeri tak terkendalikan,wanita potensi hamil, kehamilan (trisemester pertama),
wanita menyusui.

Peringatan

Efek samping
Intoksikasi sesuai dengan dosis ; sedasi, nistagmus, ataksia, mudah marah dan
hiperaktif terutama pada anak , serta bingung pada usia lanjut.
Reaksi alergi : kulit memerah ( 2% penderita); bentuk lain reaksi kulit jarang.

Interaksi

Dosis
Dewasa , dosis awal 50 100 mg, 2-3 kali sehari, naikkan bertahap , tergantung

87
respon pasien , dosis maksimum 600 mg/hari dosis besar diberikan terbagi

Anak s/d 12 tahun : 90 375 mg atau 3 5 mg/kg sehari

Sediaan Beredar

Methylsuximidum
Metioninum
Phenytoinum
(Fenitoin)

Indikasi
Epilepsi, semua jenis, kecuali petit mal, status epilepytikus

Peringatan
Gangguan funsgi ginjal, hamil, menyusui, penghentian obat mendadak, hindari
pada porfiria

Interaksi
Analgetik
Antiepileptik lain
Diuretik
Estrogen
Progesteron

Sediaan Beredar

Trimetadion

Diazepam
(Valium)

Farmakokinetik/Farmakodinamik
Kadar plasma puncak 30 90 menit,sesudah pemakaian oral.

Indikasi
Terapi psikosomatis, status epilepsi.

Kontra Indikasi
Miastenia gravis, semester pertama kehamilan, glaukoma sudut sempit.

Peringatan
88
Pemberian lebih dari 30 mg, 15 jam atau kurang sebelum melahirkan
,menyebabkan nilai apgar yang rendah, apnea dan kesulitan minum pada bayi yang
dilahirkan.
Jangan diberikan pada pasien yang perlu tetap waspada: pengendara mobil, dan
pengendali mesin.

Pada pasien dengan gangguan nafas jangan diberikan,kecuali bila alat nafas buatan
tersedia, iv jangan melebihi kecepatan 5 mg/menit.
Jangan dicampurkan dengan obat/larutan i.v. lain

Efek Samping
Umumnya tidak membahayakan; kadang-kadang menyebabkan penglihatan kabur,
diplopia, hipotensi, amnesia, gangguan bicara, tremor inkontinensia urin dan
konstipasi.
Sesekali : agresi paradoksal dan perangsangan mental (excitement)
apnea dan henti jantung dapat teajadi pada pasien penyakit berat dan usia lanjut.
Nyeri lokal dan tromboflebitis pada suntikan intravena.
Ketergantungan : jangka panjang dengan dosis melewati dosis lazim .
Ketergantungan fisik terjadi setelah pemberian dosis besar (30 mg/hari) jangka
panjang.

Interaksi Obat
Alkohol meningkatkan efek sedatif
Analgetika : Analgetika opioid meningkatkan efek sedatif
Antihistamin meningkatkan efek sedatif
Antihipertensi meningkatkan efek hipotensif.
Obat-obat antiulkus:
Simetidin menghambat metabolisme benzodiazepin dan klormetiazol (menaikkan
kadar plasma) ,omeprazol menghambat metabolisme diazepam (menaikkan kadar
plasma).

Dosis
Oral, dewasa : 4 40 mg/hari,terbagi dalam 2 4 dosis atau 2,4 10 mg sebelum
tidur (juga untuk sukar tidur).

Pada usia lanjut : 2 2,5 mg , 1-2 kali sehari ,boleh ditambah bertahap bila perlu.

Anak ; 0,12- 0,8 mg/kg/bb/hari, terbagi dalam 3-4 dosis.

Suntikan (im,iv) ,dewasa : 5 10 mg , diulang 3 -4 kali sehari sesuai kebutuhan.


Anak-anak : 0,04 0,2 mg/kg/bb diulang tiap 3 4 jam sesuai kebutuhan,
maksimum 0,6 m/kg bb dalam 8 jam.

Status epileptikus :

Sediaan Beredar

89
Bab XV
Obat Anti Hipertensi (Tugas diskusi)

Pengertian
Hipertensi didefinisikan dengan meningkatnya tekanan darah arteri yang peristen.

Tabel
Klasifikasi Tekanan Darah Orang Dewasa
Klasifikasi Sistolk (mm Hg) Diastolik (mm Hg)
Normal < 120 dan < 80

Prehipertensi 120 139 atau 80 89

Tahap 1 hipertensi 140 159 atau 90 99

Tahap 2 hipertensi 160 atau 100

Penderita dengan Tekanan Darah Diastolik (TDD) kurang dari 90 mm Hg dan Tekanan
Darah Sistolik (TDS) lebih besar sama dengan 140 mm Hg mengalami hipertensi sistolik
terisolasi.

Krisis hipertensi (tekanan darah di atas 180/120 mm Hg) dapat dikatagorikan sebagai
hipertensi darurat (meningkatnya tekanan darah akut atau disertai kerusakan organ) atau
hipertensi gawat ( beberapa tekanan darah meningkat tidak akut)

Khasiat dan Penggunaan

Jenis-jenis Obat dan Penggolongannya


1. Diuretik
2. Inhibitor Angiotensin-Converting Enzyme (ACE)
3. Penghambat Reseptor Angiotensin II (ARB)
4. Bloker
5. Penghambat Saluran Kalsium (CCB)
6. Penghambat Reseptor 1
7. Antagonis 2
8. Reserpin
9. Vasodilator Arteri Langsung
10. Inhibitor Simpatetik Postganglion

Contoh Obat

Efek Samping Obat dan Cara Mengatasinya.

90
Indikasi

Kontra Indikasi

Efek Samping

Cara Kerja

Dosis dan Cara Pemakaian

Peringatan dan Perhatian

Interaksi Obat

Cara Penyimpanan

Bab XVI
Obat Immunologi

91
Bab XVII
Hormon
Androgen
Mesterolone
Testosteron

Mesterolone
Adalah hormon seks yang memiliki sifat androgenik

Indikasi
Defisiensi androgen, infertilitas pada pria.

Kontra Indikasi
Hipersensitivitas , karsinoma prostat, pasien yang pernah atau sedang menderita tumor
hati.

Efek Samping
Walaupun jarang tejadi adanya tumor hati ganas dapat menyebabkan perdarahan dalam
perut yang mengancam jiwa

Dosis dan Cara Pemakaian


Oral :
Defisiensi androgen , dosis awal 3 4 x sehari 25 mg selama beberapa bulan, dosis
pemeliharaan : 2- 3 x sehari 25 mg.
Infertilitas pada pria, 4 x sehari 25 mg selama beberapa bulan.

Peringatan dan Perhatian


Lakukan pemeriksaan prostat secara teratur , gunakan hanya untuk pasien pria saja, , jika
terdapat keluhan pada perut bagian atas yang parah, pembesaran hati atau tanda-tanda
terjadi perdarahan dalam perut, harus dipertimbangkan kemungkinan adanya tumor hati.
Jika sering terjadi ereksi yang bersifat menetap , kurangi dosis atau hentikan pengobatan.
Tidak digunakan untuk memperkuat otot atau kemampuan fisik pada pria sehat serta anak
laki-laki.

Testosteron
Testosteron dan turunannya adalah hormon seks yang memiliki sifat anabolik dan
androgenik .

Kontra Indikasi
Diketahui atau diduga adanya karsinoma prostat atau payu dara.

Efek Samping
Retensi cairan dan elektrolit, priapisme, tanda-tanda perangsangan seksual yang
berlebihan, oligsperma, penurunan volume ejakulasi, pertumbuhan seksual sebelum

92
waktunya pada anak laki-laki prapubertas, penutupan epifiseal dini, peningkatan frekuensi
ereksi, pembesaran zakar.

Dosis dan Cara Pemakaian


Oral :
Awal, sehari 120- 160 mg, selama 2 3 minggu, dosis pemeliharaan sehari 40 -120 mg.
Sedian bentuk kapsul harus diminum sesudah makan sesuai kebuhan dengan sedikit air dan
ditelan tanpa dikunyah.

Parenteral:
1 ampul inj. i.m., perlahan tiap 10 14 minggu. Inteval injeksi pertama dapat dikurangi
sampai 6 minggu ( kadar serum tinggi memperpanjang interval inj.)

Peringatan dan Perhatian


Hati-hati pada penderita gagal jantung, ganguan fungsi ginjal, hipertensi, epilepsi, migren,
prapubertas.

Kortikosteroid
Betametason
Budenoside
Deksametason
Metilprednisolon
Prednison
Triamsinolon

Betametason
Indikasi
Kontra Indikasi
Efek Samping
Cara Kerja
Dosis dan Cara Pemakaian
Peringatan dan Perhatian
Interaksi Obat
Cara Penyimpanan

Budenoside
Indikasi
Kontra Indikasi
Efek Samping
Cara Kerja
Dosis dan Cara Pemakaian
Peringatan dan Perhatian
Interaksi Obat
Cara Penyimpanan

93
Deksametason
Deksametason adalah kortikosteroid yang digunakan terutama berdasarkan aktivitas
glukokortikoid yang dimilikinya.

Kontra Indikasi
Tukak peptik, osteoporosis, psikosis atau psikoneurois berat, TBC aktif atau pasif, infeksi
akut, vaksin hidup, ibu menyusui.

Efek Samping
Gangguan penglihatan , peningkatan nafsu makan, amenorea, hiperhidrosis, kelemahan
otot, peningkatan tekanan intra okuler, atrofi lokal, retensi cairan dan elektrolit,
peningkatan kemungkinan terserang infeksi, hambatan pertumbuhan, keadaan cushingoid,
gangguan mental, hipertensi intraktranial, pankreatitis akut, osteonekrosis aseptik.

Dosis dan Cara Pemakaian


Dosis dihitung sebagai deksametason.
Oral :
Sehari 0,5 1,5 mg.

Parenteral :
Pencegahan dan pengobatan bentuk akut edema otak sesudah trauma kranioserebral dan
apopleksia, dosis awal 40 100 mg inj. i.v. dilanjutkan tiap 2- 4 jam 4 8 mg inj. i.m.
selama 8 hari.
Tumor otak , dosis awal 8 12 mg inj. v. dilanjutkan tiap 6 jam 4 mg inj. i.m.
Indikasi lainnya pada pengunaan sistemik , awal 20 40 mg i.nj. i.v. dapat diulangi.

Pengunaan lokal , 4- 8 mg .
Injeksi intra-artikular ke dalam sendi kecil dan pemberian sub-konjungtiva, 2 mg.
Syok 2-6 mg sebagai dosis tunggal i.v. atau i.m.
Dosis menurut umur:
Dewasa : 0,5 0,9 mg dalam dosis bagi.
Untuk anak diberikan 2 x sehari.
Anak usia < 1 tahun , 0,1- 0,25 mg; 1 5 tahun 0,25 1 mg;
6 12 tahun 0,25 2mg.

Peringatan dan Perhatian


Hati-hati pada penderita gagal jangtung kongestif, hipertensi, diabetes melitus, penyakit
menular, gagal ginjal kronis, uremia, penderita lanjut usia, anak-anak, wanita hamil.

Interaksi Obat
Efektivitas deksametason dapat berkurang oleh barbiturat, fenitoin, rifampisin, . Kortikoid
dapat mengurangi efek diuretik , hiopoglikemik, antikolinesterase, salisilat.

Cara Penyimpanan

94
Metilprednisolon
Indikasi
Kontra Indikasi
Efek Samping
Cara Kerja
Dosis dan Cara Pemakaian
Peringatan dan Perhatian
Interaksi Obat
Cara Penyimpanan

Prednison
Adalah kortikosteroid yang secara biologik bersifat inert. Dalam liver prednison diubah
menjadi prednisolon yang memiliki aktivitas glukokortikoid .

Kontra Indikasi
Tukak peptik, osteoporosis, psikosis atau psikoneurosis berat, TBC aktif, infeksi akut,
vaksin.

Efek Samping
Retensi cairan dan garam ,edema, hipertensi, amenorea, hiperhidrosis, kelainan mental,
pankreatitis akut, osteonekrosis aseptik, kelemahah otot, keadaan cushingoid,
meningkatnya tekanan intra okuler , gangguan penglihatan , atropi lokal.

Dosis dan Cara Pemakaian


Oral : Dewasa sehari 5 20 mg.

Peringatan dan Perhatian


Hati-hati pada penderita hipertensi ,gagal jantung kongetif, diabetes melitus, penyakit
menular, gagal ginjal kronis, uremia, usia lanjut, kehamilan.

Interaksi Obat
Vaksin. Penggunaan bersama aspirin , fenitoin, rifampisin, fenobarbital mempercepat
metabolisme prednison.

Triamsinolon

Indikasi
Kontra Indikasi
Efek Samping
Cara Kerja
Dosis dan Cara Pemakaian
Peringatan dan Perhatian
Interaksi Obat
Cara Penyimpanan

95
Tabel
Daftar Hormon yang beredar

Nama Generik Nama Dagang Pabrik Golongan


Betamethasone Benoson Bernofarm OK
Betason Kimia Farma OK
Celestone Schering Plough OK
Exabet Fahrenheit OK

Budenoside Budenofalk Darya Varia OK


Inflammide Boehringer Ingelheim OK
Pulmicort Astra Zeneca OK

Dexamethasone Camidexon Metiska Farma OK


Cetadexon Soho OK
Corsona Phapros OK
Cortidex Phapros OK
Danasone Hexpharm OK
Decilone Forte Westmont OK
Dellamethasone Darya Varia OK
Dexa-M Dexa Medica OK
Dexanel Nellco OK
Deobat On Cendo OK
Dexicorta Zenith OK
Etason Otto OK
Fortecortin Merck OK
Indexon Interbat OK
Inthesa-5 Fahrenheit OK
Kalmethason Kalbe Farma OK
Kemotason Phyto Kemo Agung OK
Lanadexon Landson OK
Licodexon Berlico OK
Molaort Molex Ayus OK
Nosked Varia Sekata OK
Novadex Novapharm OK
Nufadex-M 0,5/0,75 Nufarindo OK
Oradexon Organon OK
Prodexon Meprofarm OK
Pyradexon Pyridam OK
Pycameth Tropica Mas OK
Ramadexon Rama Farma OK
Scandexon Tempo San Pasific OK
Zecaxon First Medifarma OK

Mesterolone Androlon Meprofarm OK


Infelon Sanbe Farma OK

96
Proviron Schering OK

Methylprednisilone Comedrol Berlico Mulia Farma OK


Depo-Medrol Inmark OK
Flason Ikapharmindo OK
Hexilon Kalbe Farma OK
Indrol Indofarma OK
Intidrol Interbat OK
Lameson Lapi OK
Lexcomet MoLex Ayus OK
Medixon Ferron OK
Medrol Inmark OK
Meprilon Mugi Labs. OK
Meproson Meprofarm OK
Mesol Gracia Pharmindo OK
Methylon Bernofarm OK
Metidrol Medikon Prima OK
Metisol Hexpharm Jaya OK
Phadilan Phapros OK
Prednicort Otto OK
Prednox Pyridam OK
Pretilon Sandoz OK
Rhemafar Ifars OK
Sanexon Sanbe Farma OK
Solu Medrol Inmark OK
Somerol Soho OK
Sonicor Global Multi OK
Stenirol Pharmalab OK
Thimelon Guardian Pharmatama OK
Tisolon 4 Ethica OK
Tison Nufarindo OK
Toras Landson OK
Tropidrol Pharos OK
Urbason Tropica Mas OK
Yalone Yarindo OK

Testosterone Andriol Organon OK


Nebido Bayer Schering OK
Pharma OK
Sustanon 250 Organon OK

Triamcinolone Flamicort Dexa Medica OK


Kenacort Bristol-Myers Squibb OK
Kenacort-A Bristol-Myers Squibb OK
Omenacort Mutifa OK
Triamcort Interbat OK
Trilac Novell Pharma OK

97
Trinolon Kimia Farma OK

Bab XVIII
Hormon Pertumbuhan
Bab XIX
Hormon Prolaktin
Indikasi

Kontra Indikasi

Efek Samping

Cara Kerja

Dosis dan Cara Pemakaian

Peringatan dan Perhatian

Interaksi Obat

Cara Penyimpanan

Bab XX
Hormon Tiroid dan Anti Tiroid
Bab XXI
Hormon Estrogen, Progesteron dan Androgen
Bab XXII
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Khasiat Obat
Bab XXIII
Pengelolaan Obat
Bab XXIV
Resep
Bab XXV

98
ASPEK LEGAL

Kewenangan Bidan Dalam Pemberian Obat Selama Memberikan Pelayanan


Kebidanan Pada Masa :

1. Kehamilan
2. Persalinan
3. Nifas
4. Bayi Baru Lahir
5. Bayi dan Balita

Latar Belakang Sistem Legislasi Tenaga Bidan Indonesia

Upaya Pembangunan Nasional


Upaya Pembangunan Nasional yaitu pembangunan disegala bidang guna kep
,keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonedia secara terarah
,terpadu dan berkesinambungan. ( UUD 1945)

Tujuan Pembangunan Kesehatan


Tujuan Pembangunan Kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap warga Negara Indonesia melalui upaya :
- promotif,
- prevenif
- kuratif
- rehabilitatif
sebagai upaya peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas.

Penyiapan Sumber Daya Manusia


Bidan erat kaitannya dengan penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM).
Karena pelayanan bidan meliputi :
Kesehatan wanita selama kurun kesehatan reproduksi wanita, sejak remaja, masa calon
pengantin, masa hamil,masa persalinan , masa nifas, periode interval, masa klimakterium
dan menopause serta memantau tumbuh kembang balita serta anak pra sekolah

Visi Pembangunan Kesehatan Indonesia Sehat 2010


Adalah derajat kesehatan yang optimal dengan strategi :
- Paradigma sehat
- Profesionalisme
- JPKM dan
- Desentralisasi

99
Otonomi Bidan Dalam Pelayanan Kebidanan
Dasar Dalam Otonomi Pelayanan Kebidanan antara lain :
1. UU No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
2. UU No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi
Daerah
3. UU No.13 tahun 2003 tentang Ketenaga
Kerjaan

4. UU tentang aborsi, adopsi, bayi tabung,


dan transplantasi
5. PP No. 32 tahun 1996 tentang Tenaga
Kesehatan
6. Kepmenkes No : 900/Menkes/SK/
VII/2002 tentang Registrasi dan Praktik
Bidan
7. Kepmenkes Nomor : 1277/Menkes/SK/
XI/2001 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Departemen Kesehatan
8. Standar Pelayanan Kebidanan

Legislasi Pelayanan Kebidanan


1. Pengertian
Legislasi adalah proses pembuatan Undang-undang atau penyempurnaan
perangkat hukum yang sudah ada.
Melalui kegiatan :
- Sertifikasi
- Registrasi
- Lisensi

2. Tujuan
Tujuan Legislasi adalah memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap
pelayanan yang telah diberikan .

Bentuk perlindungan meliputi :


Mempertahankan kualitas pelayanan
Memberikan kewenangan
Menjamin perlindungan hokum
Meningkatkan profesionalisme

3. Peran Legislasi
Peran legislasi adalah:
1. Menjamin perlindungan pada masyarakat pengguna jasa profesi dan
profesi sendiri
2. Legislasi sangat berperan dalam pemberian pelayanan profesional

100
Sumber Ketidakpuasan Pasien
1. Pelayanan yang tidak aman
2. Sikap petugas kurang baik
3. Komunikasi yang kurang
4. Kesalahan prosedur
5. Sarana kurang baik
6. Tidak adanya penjelasan atau bimbingan atau informasi atau pendidikan
kesehatan

Tenaga Kesehatan

1. Pengertian
Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang
kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau ketrampilan melalui
pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan
kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. (UU No. 23 tahun 1992 dan
PP No. 32 tahun 1996 ).

2. Jenis Tenaga Kesehatan


2.1. Tenaga kesehatan terdiri dari :
a. tenaga medis
b. tenaga keperawatan
c. tenaga kefarmasian
d. tenaga kesehatan masyarakat
e. tenaga gizi
f. tenaga keterapian fisik
g. Tenaga keteknisan medis

Tenaga medis meliputi dokter dan dokter gigi


Tenaga keperawatan meliputi perawatan dan bidan
Tenaga kefarmasian meliputi apoteker, analisis farmasi dan
asisten apoteker.
Tenaga kesehatan masyarakat meliputi epidemiolog kesehatan,entomology
kesehatan,mikrobiolog kesehatan, penyuluh kesehatan,administrator
kesehatan, dan sanitarian.

Tenaga gizi meliputi nutrisionis dan dietisien

Tenaga keterapian fisik meliputi fisioterapis, okupasiterapis, dan terapi


Wicara

Tenaga keteknisan medis meliputi radiografer, radioterapis,teknisi


gigi,teknisi elektromedis,analis kesehatan,refraksionis optisien,
otorik prostetik,teknisi transfusi dan perekam medis.
( PP No. 32 tahun 1996 pasal 2 ).

101
B I DAN

1. Pengertian Bidan
Bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti dan menyelesaikan
pendidikan bidan yang telah diakui Pemerintah dan lulus ujian sesuai dengan
persyaratan yang berlaku.
(Permenkes No.: 572/Menkes/Per/V/1996).

Bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti program pendidikan bidan
dan lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku.
(Kepmenkes No.: 900/Menkes/SK/VII/2002 ).

Bidan (Midwife (Inggris ) , Vroed vrow(Belanda ), Accoucheuse(Perancis) )


adalah wanita yang dididik khusus untuk menolong dan merawat orang
melahirkan . (Kamus Kedokteran,Ahmad Ramali ).

Bidan adalah wanita yang mempunyai kepandaian menolong dan merawat


orang melahirkan dan bayinya. (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

2. Kewenangan Bidan
Bidan dalam menjalankan praktiknya berwenang untuk memberikan pelayanan
yang meliputi :
Pelayanan kebidanan kepada ibu dan anak
Pelayanan Keluarga Berencana
Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Pelayanan kepada ibu diberikan pada masa pranikah, prahamil,masa kehamilan,


masa persalinan ,masa nifas , menyusui dan masa antara (periode interval ) .

Pelayanan kebidanan kepada anak diberikan pada masa bayi baru lahir,masa
bayi, masa anak balita dan masa pra sekolah.

Pelayanan kebidanan kepada ibu meliputi :


1. Penyuluhan dan konseling
2. Pemeriksan fisik
3. Pelayanan antenatal pada kehamilan normal
4. Pertolongan pada kehamilan abnormal yang mencakup ibu hamil
dengan abortus iminens,hiperemisis gravidarum tingkat I, preeklamsi
ringan dan anemi ringan.
5. Pertolongan persalinan normal
6. Pertolongan persalinan abnormal yang mencakup letak sungsang, partus
macet kepala di dasar panggul, ketuban pecah dini (KPD) tanpa infeksi,
perdarahan post partum, laserasi jalan lahir, distonia karena inersia uteri
primer, post termasuk dan pre termasuk.
7. Pelayanan ibu nifas normal
8. Pelayanan ibu nifas abnormal yang mencakup retensio plasenta, renjatan
dan infeksi ringan
9. Pelayanan dan pengobatan pada kelainan ginekologi yang meliputi
keputihan , perdarahan tidak teratur dan penundaan haid.

102
Pelayanan kebidanan kepada anak meliputi :
1. Pemeriksaan bayi baru lahir
2. Perawatan tali pusat
3. Perawatan bayi
4. Resusitasi pada bayi baru lahir
5. Pemantauan tumbuh kemnbang bayi baru lahir
6. Pemberian imunisasi
7. Pemberian penyuluhan

Bidan dalam memberikan pelayanan berwenang untuk :


1. Memberikan imunisasi
2. Memberikan suntikan pada penyulit kehamilan, persalinan dan nifas
3. Mengeluarkan plasenta secara normal
4. Bimbingan senam hamil
5. Pengeluaran sisa jaringan konsepsi
6. Episiotomi
7. Penjahitan luka episiotomi dan luka jalan lahir sampai tingkat II
8. Amniotomi pada pembukaan servik lebih dari 4 cm
9. Pemberian Infus
10. Pemberian suntikan intramuskuler uterotonika, antibiotika, dan
sedative
11. Kompresi bimanual
12. Versi ekstraksi gemelli pada kelahiran bayi kedua dan seterusnya
13. Vacum ekstraksi dengan kepala bayi di dasar panggul
14. Pengendalian anemi
15. Meningkatkan pemeliharaan dan penggunaan air susu ibu
16. Resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia
17. Penanganan hipotermi
18. Pemberian minum dengan sonde/pipet
19. Pemberian obat-obat terbatas melalui lembar permintaan obat sesuai
dengan formulir VI terlampir
20. Pemberian surat keterangan kelahiran dan kematian

Bidan dalam memberikan pelayanan keluarga berencana berwenang untuk :

1. Memberikan obat dan alat kontrasepsi oral, suntikan, dan alat


kontrasepsi dalam rahim, alat kontrasepsi bawah kulit dan kondom
2. Memberikan penyuluhan/konseling pemakaian kontrasepsi
3. Melakukan pencabutan alat kontrasepsi dalam rahim
4. Melakukan pencabutan alat kontrasepsi bawah kulit tanpa penyulit
5. Memberikan konseling untuk pelayanan kebidanan, keluarga bencana
dan kesehatan masyarakat

Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan masyarakat


berwenang untuk :

1. Pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan ibu dan anak


2. Memantau tumbuh kembang anak
3. Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas

103
4. Melaksanakan deteksi ini , melaksanakan pertolongan pertama,
merujuk dan memberikan penyuluhan Infeksi Menular Seksual ( IMS),
5. Penyalahgunaan Narkotika,Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya
(NAPZA) serta penyakit lainnya.

JABATAN FUNGSIOAL
B I DAN

Bidan
Bidan adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas , tanggung jawab , wewenang dan
hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan kebidanan.

Pelayanan Kebidanan

104
Pelayanan kebidanan adalah pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan,yang diberikan kepada ibu dalam kurun waktu masa reproduksi,bayi
baru lahir , bayi dan balita.

Pelayanan Kebidanan meliputi :


1. Melaksanakan pengkajian kepada klien
2. Melakukan pengambilan bahan laboratorium
3. Melaksanakan pemeriksaan laboratorium
4. Menegakkan diagnosa kebidanan
5. Membuat perencanaan asuhan kebidanan
6. Melaksanakan persiapan alat dan obat
7. Melaksanakan asuhan kebidanan
8. Melaksanakan KIE
9. Melaksanakan kolaborasi
10. Melaksanakan rujukan
11. Melaksanakan evaluasi asuhan kebidanan
12. Melaksanakan dokumentasi
13. Melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat

Jenjang Jabatan dan Pangkat


Jenjang jabatan Bidan dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi yaitu :
1. Bidan Pelaksana
2. Bidan Pelaksana Lanjutan
3. Bidan Penyelia

Jenjang pangkat dan golongan ruang Bidan dari yang terendah sampai dengan yang
tertinggi yaitu :
1. Bidan Pelaksana, terdiri atas:
a. Pengatur Muda Tingkat I, golongan ruang II/b
b. Pengatur , golongan ruang II/c
c. Pengatur Tingkat I, golongan ruang II/d

2. Bidan Pelaksana Lanjutan terdiri atas:


a. Penata Muda, golongan ruang III/a
b. Penata Muda Tingkat I, golongan ruang III/b

3. Bidan Penyelia terdiri atas:


a. Penata, golongan ruang III/c
b. Penata Tingkat I, golongan ruang III/d

Rincian Kegiatan Bidan, sebagai berikut :

a. Bidan Pelaksana, yaitu :


1. Melakukan anamnesa pada ibu hamil normal
2. Melakukan anamnesa pada ibu bersalin normal

105
3. Melakukan anamnesa pada ibu nifas normal
4. Melakukan anamnesa pada ibu bayi dan balita
5. Melakukan anamnesa pada pelayanan KB/masa inteval
6. Melakukan pemeriksaan fisik pada ibu hamil normal
7. Melakukan pemeriksaan fisik pada ibu dengan persalinan nomal
8. Melakukan pemeriksaan fisik pada ibu nifas normal
9. Melakukan pemeriksaan fisik pada bayi dan balita
10. Melakukan pemeriksaan fisik pada pelayanan KB/masa interval
b. Bidan Pelaksana Lanjutan, yaitu :
c. Bidan Penyelia , yaitu :

Daftar Pustaka

Anief, Moh., Prinsip Umum dan Dasar Farmakologi, Cetakan ketiga, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta, 2004.
Anonim, Kumpulan Peraturan Tentang Tenaga Kesehatan, PT Mitra Info, Jakarta, 1998.
Donatus, Imono Argo, Efek Samping Obat Wajib Apotik, Bagian Farmakologi dan Farmasi
Klinik Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2004
Anonim, Farmasiana, Edisi I/Juli 2007, Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Farmasi
Indonesia (ISFI) Klaten.
Gilmans and Goodman, The Pharmacological Basis of Therapeutics, Eight
Edition,McGRaw-Hill, inc.,1992.

106
Ihsan,Makmun, Himpunan Peraturan Tentang Obat, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Kantor Dep.Kes. Kabupaten Hulu Sungai Utara, Amuntai, 1993.
Ihsan, Makmun, Diktat Farmakologi dan Terapeuitk, Edisi Kedua ,Akademi Keperawatan
Kabupaten Cianjur, 2003.
Jordan, Sue, Farmakologi Kebidanan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2003.
Kansil, CST., Pengantar Hukum Kesehatan Indonesia, PT Rineksa Cipta, Jakarta, 1991
Muda, Ahmad A.K., Kamus Lengkap Kedokteran, Cetakan ken 2,Gita Media Press,
Surabaya, 2003.
Priharjo, Robert, Teknik Dasar Pemberian Obat Bagi Perawat, Cetakan II,Penerbit Buku
Kedoketarn EGC,Jakarta, 1995.
Ramali, Ahmad, Pamoentjak, K.St., Kamus Kedokteran Arti dan Keterangan
Istilah,Cetakan 26 , Djambatan , Jakarta, 2005.
Sartono, Apa Yang Sebaiknya Anda Ketahui Tentang Obat-Obat Bebas & Bebas Terbatas,
Edisi Kedua, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1996.
Soekanto, Soerjono, Aspek Hukum Apotik dan Apoteker, Penerbit Mandar Maju, Bandung,
1990.
Wahyuningsih, Heni Puji ,2006, Etika Profesi Kebidanan Sebuah Pengantar, Penerbit
Fitramaya, Yogyakarta..

Standar Obat-obatan di Balai Pengobatan dan Rumah Bersalin


Obat-obatan harus dibedakan antara pelaksana harian dokter atau perawat masing-masing
jenis obat yang tersedia disesuaikan dengan kewenangannya yaitu :

No. Pe r a w at No. Dokter


I. Analgetik Antipiretik I. Analgetik Antipiretik
Antalgin Antalgin
Asetosal Asetosal
Parasetamol Parasetamol
Mefenamic Acid
II. Antibiotik
Ampisilin II. Antibiotik
Kloramfenikol Ampisilin
Kotrimoksazol Kloramfenikol

107
Terasiklin Kotrimoksazol
Trisulfa Terasiklin
Trisulfa
Amoksisilin
Eritromisin

III. Anti TBC III. Anti TBC


Etambutol Etambutol
INH INH
Rifampisin Rifampisin
Injeksi Kanamisin

IV. Antitusif IV. Antitusif


Dekstrometorfan Dekstrometorfan
GG GG
Obat batuk kombinasi tanpa Obat batuk kombinasi tanpa
Kodein , Efedrin dan Mukolitik Kodein , Efedrin dan
OBH/OBP Mukolitik
OBH/OBP
Efedrin
Kodein
Mukolitik

V. Antihipertensi V. Antihipertensi
Reserpin Reserpin
HCT HCT
Kaptopril

VI. Antihistamin VI. Antihistamin


CTM CTM
Avil, incidal

VII. Aniinflamasi VII. Aniinflamasi


Deksametason
Piroksikam
Prednison

VIII Antasida VIII Antasida


Antasid Antasid
Na Bikarbonat Na Bikarbonat
Antasid kombinasi
Simetikon

IX. Vitamin IX. Vitamin


B1, B6,B12, B Kompleks , B, C,A B1, B6,B12, B Kompleks , B,
Injeksi B1, B12 C,A
Injeksi B1, B12
Vitamin kombinasi, B1, B12
Obat Cacing
X. Piperazin X. Obat Cacing

108
Pirantel pamoat Piperazin
Pirantel pamoat
Antimalaria
XI Kinina Sulfat XI Antimalaria
Klorokuin fosfat Kinina Sulfat
Klorokuin fosfat
Antibisa + Vaksin
XII Anti Bisa Ular (ABU) XII Antibisa + Vaksin
Serum ATS, ADS Anti Bisa Ular (ABU)
Vaksin BCG, DPT,Polio, Campak, Serum ATS, ADS
Hepatitis bayi. Vaksin BCG, DPT,Polio,
Campak, Hepatitis bayi.
Varicella, MMR, Hepatitis
Lain-lain
XIII Anestesi lokal XIII Lain-lain
Obat Anafilaktik syok Anestesi lokal
Oralit, larutan infus, Obat Anafilaktik syok
P3K Oralit, larutan infus,
P3K
KB
Obat Asma
XIV Aminofilin XIV. Obat Asma
Aminofilin
Salbutamol

Balai Pengobatan Khusus : Disesuaikan dengan jenis pelayanan khusus yang diberikan.

Rumah Bersalin
Semua tersebut di atas kecuali antimalaria,antibisa, antibiotik tertentu ( tetra, sulfa, kloram)
tidak perlu disediakan.
Harus menyediakan Pytocin, Ergometrin, Vitamin K, cairan infus ( RL, Dekstrosa),
infuset , kassa steril, alkohol, sol betadin.
Ditambah obat kontrasepsi ( Pil/Suntikan).

109
Lampiran I
Keputusan Menteri Kesehatan RI
Nomor 900/Menkes/SK/VII/2002
Tanggal : 25 Juli 2002

No. Jenis Alat Jumlah


A. Peralatan Tidak Steril
1 Tensimeter 1
2 Stetoskop bioculer 1
3 Stetoskop momocular 1
4 Timbangan dewasa 1
5 Timbangan bayi 1
6 Pengukur panjang bayi 1
7 Termometer 1
8 Oksigen dengan regulator 1
9 Abu bag dengan masker resusitasi( ibu + bayi ) 1
10 Penghisap lendir 1
11 Lampu/sorot 1
12 Penghitung nadi 1
13 Sterilisator 1
14 Bak Instrumen dengan tutup 1

110
15 Roflek hamar 1
16 Alat pemeriksa Hb (Sahli) 1
17 Set pemeriksaan urine ( protein + reduksi) 1
18 Pita pengukur 1
19 Plastik penutup Instumen steril 1
20 Sarung tangan karet untuk mencuci alat 1
21 Apror/celemek 1
22 Masker 1
23 Pengaman mata 1
24 Sarung kaki plastik 1
25 Infus Set 1
26 Standar Infus 1
27 Semprit disposable 1
28 Tempat kotoran/sampah 1
29 Tempat kain kotor 1
30 Tempat placenta 1
31 Pot 1
32 Piala ginjal/bengkok 1
33 Sikat,sabun di tempatnya 1

No. Jenis Alat Jumlah


34 Kertas lakmus latan 1
35 Vacum ekstraktor 1
36 Semprit gliserin 1
37 Gunting ferband 1
38 Kan pengukur darah 1
39 Spatel lidah 1
40 IUD Kit 1
41 Implant Kit 1
42 Gergaji Obat 1
1
B Peralatan Steril 1
1 Abu bag dengan masker resusitasi( ibu + bayi ) 1
2 Penghisap lendir 1
3 Lampu/sorot 1
4 Penghitung nadi 1
5 Sterilisator 1
6 Bak Instrumen dengan tutup 1
7 Roflek hamar 1
8 Alat pemeriksa Hb (Sahli) 1
9 Set pemeriksaan urine ( protein + reduksi) 1
10 Pita pengukur 1
11 Plastik penutup Instumen steril 1

111
12 Sarung tangan karet untuk mencuci alat 1
13 Apror/celemek 1
14 Masker 1
15 Pengaman mata 1
16 Sarung kaki plastik 1
17 Infus Set 1
18 Standar Infus 1
19 Semprit disposable 1
20 Tempat kotoran/sampah 1
21 Tempat kain kotor 1
22 Tempat placenta 1
23 Pot 1
24 Piala ginjal/bengkok 1
25 Sikat,sabun di tempatnya
26 Kertas lakmus

No. Jenis Alat Jumlah


A. Peralatan Tidak Steril
1 Tensimeter 1
2 Stetoskop bioculer 1
3 Stetoskop momocular 1
4 Timbangan dewasa 1
5 Timbangan bayi 1
6 Pengukur panjang bayi 1
7 Termometer 1
8 Oksigen dengan regulator 1
9 Abu bag dengan masker resusitasi( ibu + bayi ) 1
10 Penghisap lendir 1
11 Lampu/sorot 1
12 Penghitung nadi 1
13 Sterilisator 1
14 Bak Instrumen dengan tutup 1
15 Roflek hamar 1
16 Alat pemeriksa Hb (Sahli) 1
17 Set pemeriksaan urine ( protein + reduksi) 1
18 Pita pengukur 1
19 Plastik penutup Instumen steril 1
20 Sarung tangan karet untuk mencuci alat 1
21 Apror/celemek 1
22 Masker 1

112
23 Pengaman mata 1
24 Sarung kaki plastik 1
25 Infus Set 1
26 Standar Infus 1
27 Semprit disposable 1
28 Tempat kotoran/sampah 1
29 Tempat kain kotor 1
30 Tempat placenta 1
31 Pot 1
32 Piala ginjal/bengkok 1
33 Sikat,sabun di tempatnya 1
34 Kertas lakmus 1

Menteri Kesehatan RI,

Dr. Achmad Sujudi

Lampiran II
Keputusan Menteri Kesehatan RI
Nomor : 900/Menkes/SK/VII/2002
Tanggal : 25 Juli 2002

No. Jenis Obat Jumlah


A. Obat-Obatan
1 Roborantia
2 Vaksin
3 Syock Anafilaktik :
- Adrenalin 1 : 1000 5 Ampul
- Antihistamin 2 Ampul
- Hidrokortison 5 Ampul
- Aminofilin 240 mg/10 ml 2 Ampul
- Dopamin 5 Ampul
4 Sedativa
5 Antibiotika
6 Uterotonika
7 Antipiretika
8 Koagulansia
9 Anti Kejang
10 Gliserin
11 Cairan infus
12 Obat luka
13 Cairan desinfektan (termasuk Chlorine)
14 Obat penanganan asphiksia pada bayi baru lahir

113
Menteri Kesehatan RI,

Dr. Achmad Sujudi

CONTOH
PERMOHONAN SURAT IJIN BIDAN (SIB)

Perihal : Permohonan Surat Ijin Bidan

Kepada Yth:
Kepala Dinas Kesehatan
Propinsi Jawa Barat

Dengan hormat,

Yang bertanda tangan di bawah ini ,


Nama Lengkap :.
Alamat :
Tempat,tanggal lahir :.....
Tahun Lulusan :.

Dengan ini mengajukan permohonan untuk mendapatkan Suat Ijin Bidan (SIB).
Sebagai bahan pertimbangan terlampir :
1. Fotokopi Ijazah Bidan
2. Fotokopi Transkrip Nilai Akademik
3. Surat Keterangan Sehat dari Dokter
4. Pas foto ukuran 4 x 6 cm sebanyak 2 lembar

Demikian atas perhatian bapak/ibu kami ucapkan terima kasih.

Cianjur, 19 Desember 2007


Yang memohon,

114
CONTOH
PERMOHONAN SURAT IJIN BIDAN (SIB)

Perihal : Permohonan Surat Ijin Praktik Bidan

Kepada Yth:
Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten Cianjur

Dengan hormat,

Yang bertanda tangan di bawah ini ,


Nama Lengkap :
Alamat :
Jenis Kelamin :..
Tempat,tanggal lahir :...
Tahun Lulusan :
Nomor SIB :..

Dengan ini mengajukan permohonan untuk mendapatkan Suat Ijin Praktik Bidan
(SIB).Sebagai bahan pertimbangan terlampir :
1. Fotokopi Ijazah Bidan
2. Fotokopi SIB yang masih berlaku
3. Surat persetujuan atasan, bila dalam pelaksanaan masa bakti atau sebagai pegawai
negeri atau pegawai pada sarana kesehatan
4. Surat Keterangan Sehat dari Dokter
5. Rekomendasi dari organisasi profesi
6. Pas foto ukuran 4 x 6 cm sebanyak 2 lembar

Demikian atas perhatian bapak/ibu kami ucapkan terima kasih.

115
Cianjur, 19 Desember 2007
Yang memohon,

Perihal : Lembaran Permintaan Obat

Bidan.. (Nama )
(Alamat )
... (Nama Kota )
SIB No. :
SIPB No.:..

Cianjur, 12 September 2008

Yang bertanda tangan di bawah ini Bidan...dalam rangka pemberian


pelayanan kebidanan mohon Apoteker dapat memberikan kepada
(Nama pasen). Umur : Berat badan : obat-obatan sebagai berikut :
1..
2..
3..
4..

Demikianlah atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.

(.)
Tanda tangan

116
Perihal : Lembaran Permintaan Obat

Bidan Hj. Yeyet Nurhayati, AM. Keb.


Kp.Margaluyu Cimenteng , Kelurahan Muka
Kecamatan Cianjur,Kabupaten Cianjur
SIB No. : 441.8/12953-SDK/2004
SIPB No : 446/0965/Binprog

Cianjur, 12 September 2008

Yang bertanda tangan di bawah ini Bidan Hj. Yeyet Nurhayatiu, AM Keb. dalam
rangka pemberian pelayanan kebidanan mohon Apoteker dapat memberikan kepada Ny.
Eli . Umur 28 tahun : Berat badan 45 kg obat-obatan sebagai berikut :
1 Tidifar 200 mg
2 Bidium 2 mg
3 Ragyl Forte

Demikianlah atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.

( Hj. Yeyet Nurhayati, AM Keb.)

117
Perihal : Lembaran Permintaan Obat

Bidan Hj. Yeyet Nurhayati, AM. Keb.


Kp.Margaluyu Cimenteng , Kelurahan Muka
Kecamatan Cianjur,Kabupaten Cianjur
SIB No. : 441.8/12953-SDK/2004
SIPB No : 446/0965/Binprog

Cianjur, 12 September 2008

Yang bertanda tangan di bawah ini Bidan Hj. Yeyet Nurhayatiu, AM Keb. dalam
rangka pemberian pelayanan kebidanan mohon Apoteker dapat memberikan kepada Ny.
Eli . Umur 28 tahun : Berat badan 45 kg obat-obatan sebagai berikut :
1 Tidifar 200 mg
2 Bidium 2 mg
3 Flagyl Forte

Demikianlah atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.

( Hj. Yeyet Nurhayati, AM Keb.)

118
Lampiran XIII
Peraturan Presiden Republik Indonesia
Nomor : 54 Tahun 2007
Tanggal : 28 Juni 2007

TUNJANGAN JABATAN FUNGSIONAL BIDAN

Jabatan Fungsional Jabatan Besarnya


Tunjangan

Bidan Bidan Penyelia Rp.500.000,00

Bidan Pelaksana Lanjutan Rp.265.000,00

Bidan Pelaksana Rp.240.000,00

Presiden Republik Indonesia,


ttd.

DR. H. Susilo Bambang Yudoyono

119
Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor : 347/MenKes/SK/VII/1990
Tentang Obat Wajib Apotik

Memutuskan
Menetapkan :
Pertama : Keputusan Menteri Kesehatan tentang Obat Apotik yaitu obat
keras yang dapat diserahkan oleh Apoteker kepada pasien di
Apotik tanpa resep dokter
Kedua : Obat yang termasuk dalam Obat Wajib Apotik ditetapkan oleh
Menteri Kesehatan
Ketiga : Obat yang tercantum dalam lampiran Surat Keputusan ini dapat
diserahkan oleh Apoteker di Apotik dan selanjutnya disebut
ObaWajib Apotik No.1
Obat Wajib Apotik ini dapat ditinjau kembali dan
disempurnakan setiap waktu sesuai dengan ketentuan
Perundang-undangan yang berlaku.
Keempat : Apoteker di Apotik dalam melayani pasien yang memerlukan
obat dimaksud dalam diktum kedua diwajibkan :
1. Memenuhi ketentuan dan batasan tiap jenis obat per pasien
yang disebutkan dalam Obat Wajib Apotik yang
bersangkutan
2. Membuat catatan pasien serta obat yang telah diserahkan
3. Memberikan informasi meliputi dosis dan aturan
pakainya ,kontraindikasi , efek samping dan lain-lain yang
perlu diperhatikan oleh pasien.
Kelima : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan

120
Lampiran Surat Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor : 347/MenKes/SK/VII/1990
Tangal : 16 Juli 1990
Obat Keras Yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep Dokter Oleh Apoteker di Apotik (Obat
Wajib Apotik No. 1 )

121