Anda di halaman 1dari 3

Latar belakang

Istilah ilmiah bekicot adalah Achatina fulica adalah siput darat yang tergolong dalam suku
Achatinidae, siput ini berasal dari afrika dan menyebar keseluruh penjuru dunia akibat terbawa
perdagangan, dikarena bekicot dapat berkembang biak dengan cepat.
Di indonesia hewan ini sering muncul di musim penghujan karena indonesia curah hujan cukup tinggi
dan cocok untuk pengembangbiakan hewan ini, hewan ini belum cukup populer hanya segelintir
orang yang mengetahui manfaat bekicot ini dan sisanya adalah beranggapan bahwa bekicot ini
adalah hewan yang beracun dan penampilan fisiknya yang membuat orang menjadi jijik dan enggan
untuk mengkonsumsinya ternyata banyak tersimpan sejuta manfaat dari hewan ini,

Kandungan yang terdapat pada lendir bekicot Kandungan penting yang terdapat dalam lendir
bekicot antara lain glycosaminoglycan (GAG) yang mengikat senyawa copper peptide di
dalamnya. Secara teori kedua senyawa ini memang sama-sama bermanfaat untuk menjaga
kesehatan dan kelembaban kulit, Glycosaminoglycan merupakan sejenis karbohidrat yang
memegang peran penting dalam menjaga jaringan penghubung antar sel sehingga kulit selalu
tampak lebih kencang.

Senyawa ini juga termasuk komponen penyusun hyalorunat, yakni senyawa yang menjaga
kelembaban kulit, Sementara copper peptide merupakan senyawa yang merangsang pembentukan
kolagen di kulit. Berbagai penelitian membuktikan, copper peptide memegang peran penting dalam
proses penyembuhan luka yakni merangsang pembentukan sel-sel baru untuk menggantikan sel
yang rusak.

Di jaman modern seperti sekarang ini banyak sekali orang menggunakan obat
antiseptik sebagai obat luka baru maupun luka bakar. Namun perlu diketahui bahwa obat
antiseptik juga memiliki kelemahan yaitu dapat menyebabkan iritasi pada daerah sekitar luka.
Antiseptik adalah zat yang biasa digunakan untuk menghambat pertumbuhan dan membunuh
mikroorganisme berbahaya (patogenik) yang terdapat pada permukaan tubuh luar mahluk
hidup seperti pada permukaan kulit dan membran mukosa. Secara umum, antiseptik berbeda
dengan obat-obatan maupun disinfektan. Misalnya obat-obatan seperti antibiotik dapat
membunuh mikroorganisme secara internal, sedangkan disinfektan berfungsi sebagai zat
untuk membunuh mikroorganisme yang terdapat pada benda yang tidak bernyawa
(Signaterddie, 2009).
Mekanisme kerja antiseptik terhadap mikroorganisme berbeda-beda, misalnya saja dengan
mendehidrasi (mengeringkan) bakteri, mengoksidasi sel bakteri, mengkoagulasi
(menggumpalkan) cairan di sekitar bakteri, atau meracuni sel bakteri. Beberapa contoh
antiseptik diantaranya adalah yodium (povidene iodine 10%), hydrogen peroksida, etakridin
laktat (rivanol), dan alkohol.
Negara yang beriklim tropis seperti Indonesia memiliki potensi alam yang sangat
besar untuk digali, salah satunya adalah pemanfaatan flora dan fauna dibidang kesehatan.
Masyarakat desa terpencil tidak tergantung sepenuhnya pada obat antiseptik modern, karene
faktor geografis yang tidak memungkinkan ketersediaan obat-obatan, mereka mewarisi
pengobatan tradisional secara turun temurun. Bahan alam yang dipercaya berkhasiat untuk
mengobati luka salah satunya adalah lendir bekicot. Secara tradisional penggunaannya adalah
lendir bekicot dioleskan pada luka sampai lendir menutupi seluruh bagian luka. Lendir yang
diproduksi kelenjar di dinding tubuh bekicot, maupun zat getah bening yang mengalir dalam
tubuh bekicot mempunyai aktivitas penggumpalan serta pembasmian bakteri dan benda
asing. Lendir bekicot (Achatina fulica) diketahui mengandung Acharan Sulfate yaitu suatu
glycosaminoglycan yang berfungsi untuk menyembuhkan luka (wound healing). Komponen
tersebut berfungsi dalam penutupan luka.

Saat musim hujan berlangsung, biasanya binatang ini banyak dijumpai merayap di pohon-
pohon pisang, di dinding-dinding rumah dan di kebun yang rindang dengan pepohonan.
Binatang ini berkembang biak dengan cepat, karena sekali bertelor jumlahnya sangat banyak.
Kesan pertama memang binatang ini kotor dan menjijikkan, namun ternyata di sebagian
daerah binatang ini banyak dimanfaatkan sebagai penutup luka baru bekas senjata tajam dan
sejenisnya, sebelum gel penutup luka dan cairan antiseptik dengan berbagai merek beredar di
pasaran.

Caranya, lendir bekicot dikeluarkan lalu dioleskan pada luka. Ternyata hanya perlu
menunggu beberapa saat, luka yang tadinya mengalirkan darah sudah menutup dan rapat
tidak berdarah lagi.

Penelitian tentang efektivitas lendir bekicot dalam penyembuhan luka pernah dilakukan oleh
Institut Pertanian Bogor, yang menyatakan bahwa luka pada punggung mencit yang diolesi
lendir bekicot ternyata dua lebih cepat menutup dari pada luka pada mencit yang tidak diolesi
dengan lendir bekicot. Pengamatan jaringan tubuh di bagian luka di bawah mikroskop
memperlihatkan penutupan luka dan penyatuan jaringan kulit berlangsung lebih cepat pada
mencit yang diobati.

Dalam suatu hasil penelitian dinyatakan bahwa lendir yang diproduksi kelenjar di dinding
tubuh bekicot, maupun zat getah bening yang mengalir dalam tubuh bekicot mempunyai
aktivitas penggumpalan serta pembasmian bakteri dan benda asing. Mungkin komponen itu
pula yang berfungsi dalam penutupan luka.

Metode Gel
Optimasi Proporsi Campuran Karbopol 940 Dan Gliserin Dalam Pembuatan Gel Lendir Bekicot
(Achatina Fulica Ferr.) Secara Simplex Lattice Design
lendir bekicot (Achatina fulica Ferr.) dapat digunakan sebagai obat penyembuh luka. Hal ini
mendorong untuk dilakukan penelitian terhadap lendir bekicot dibuat sediaan gel. sediaan bentuk
gel yang digunakan pada kulit, umumnya dapat berfungsi sebagai pembawa pada obat-obat topical,
sebagai pelunak kulit atau sebagai pelindung serta pelindung penyumbat. Penelitian ini bertujuan
untuk mendapatkan proporsi formula optimum gel lendir bekicot dari campuran karbopol 940 dan
gliserin dengan menggunakan metode simplex lattice design.
Formula gel optimum berdasarkan simplex lattice design dibuat dengan 2 komponen yaitu: karbopol
(K) dan gliserin (G), menggunakan 3 formula yaitu: formula I (100% K : 0% G), formula II (0% K : 100%
G) dan formula III (50% K : 50% G). Sifat fisik yang diamati adalah viskositas, daya lekat dan daya
sebar, yang selanjutnya digunakan untuk membuat persamaan SLD. Persamaan tersebut digunakan
untuk membuat gel formula optimum dari respon total sifat fisik gel yang paling besar. Hasil yang
diperoleh dari persamaan simplex lattice design dibandingkan dengan hasil pengujian sesungguhnya
dengan uji-t (T-test).
Hasil penelitian menunjukan bahwa formula optimum gel lendir bekicot didapat dari campuran 70%
karbopol 940 dan 30% gliserin. Hasil uji-t terhadap viskositas, daya sebar dan daya lekat menunjukan
tidak berbeda signifikan antara prediksi dan hasil percobaan sesungguhnya.
Lendir bekicot mengandung beberapa
komponen penting diantaranya achasin yang berfungsi sebagai antibakteri dan
glycossaminoglycans yang berperan dalam merangsang respon regeneratif kulit. Tujuan
dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui efektifitas gel lendir bekicot (Achatina fulica)
dalam penyembuhan luka bakar derajat 2 melalui pengamatan secara mikroskopis.
Penelitian ini menggunakan 30 ekor tikus putih jantan yang telah diinduksi luka
bakar derajat 2 (deep) pada punggungnya. Tikus uji dikelompokkan menjadi 6 kelompok
yang terdiri atas kontrol negatif, basis gel, kontrol positif (Bioplacenton), gel lendir bekicot
5%, gel lendir bekicot 10%, dan gel lendir bekicot 20%. Pengamatan secara mikroskopis
dilakukan pada dekapitasi hari ke-21.
Gambaran histologi kulit yang didekapitasi pada hari ke-21 menunjukan bahwa pada
kelompok gel lendir bekicot 20% memberikan gambaran lapisan epitel yang lebih tipis dan
jumlah sel fibroblas yang lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif dan
kontrol positif. Sedangkan pada indikator kepadatan serabut kolagen, kelompok gel lendir
bekicot 20% memiliki gambaran serabut kolagen yang lebih padat dibandingkan dengan
kelompok yang lain dan mempunyai perbedaan yang signifikan (P<0,05). Hal ini
menunjukkan bahwa gel lendir bekicot dengan kadar 20% lebih efektif dalam memberikan
gambaran histologis kesembuhan luka bakar.