Anda di halaman 1dari 12

PORTOFOLIO

Kasus Etik
Pelanggaran Etik Kasus Promosi Obat dan Hubungan Antara Teman
Sejawat

Disusun sebagai syarat kelengkapan program dokter internship


Oleh :

dr. Anisa Putri

Pendamping :

dr. Wiji Kusbiyah


dr. M. Kartikanuddin

RSUD dr. Soedomo Trenggalek


Trenggalek - Provinsi Jawa Timur
2017
Portofolio Kasus
No. ID dan Nama Peserta : dr. Anisa Putri
No. ID dan Nama Wahana : RSUD dr Soedomo Trenggalek
Topik : Etika Dokter terhadap TS dan pasien, etika promosi obat.
Tanggal (kasus):
Nama Pasien: Tn. R No RM: -
Tanggal Presentasi: Pendamping:
dr. Wiji Kusbiah
Obyektif Presentasi:
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi:
Tn.R datang berobat ke dr.T dengan keluhan sering gringgingan. Tn.R sudah cek gula sebelumnya
dan gulanya tinggi, oleh karena itu Tn.R berobat ke dr.T agar gulanya bisa turun. Setelah
dianamnesis, dan diperiksa, Tn.R tidak diberi penjelasan tentang penyakitnya, hanya diberi
selembar resep yang isinya 3 obat tapi tidak mengetahui obat apa saja. dr.R hanya berpesan untuk
minum obatnya 3 kali sehari kemudian menebusnya sebaiknya di apotek sebelah praktek
pribadinya. Tn.R juga tidak menanyakan obatnya apa saja, harus dibeli semua atau tidak, dan
harganya berapa. Kemudian Tn.R membeli obat di apotek sebelah praktek dr.T, membayar obat
habis 500 rb, karena kaget tn.R bertanya isi obatnya apa saja. Kemudian apotekernya hanya
menjawab itu obat khusus dari dokter dan diminum saja sesuai aturan. Sejak saat itu pasien
penasaran ingin mencari tau isi obat mahal itu, kemudian pasien membuka salah 1 kertas
pembungkus obat tersebut, ternyata tulisannya adalah supergreen food yang merupakan suplemen
makanan dari suatu produk MLM. Karena merasa ditipu oleh dr.T,kemudian tn.R pindah ke dr.R.
Sewaktu berbincang bincang dengan dr.R, dr.R membenarkan pernyataan Tn.R. dr. R
membicarakan dr.T kalau sering menjadi member obat MLM, dan suka meminta fee dari
perusahaan farmasi lebih besar karena persaingannya dengan produk MLM. dr.R juga
menceritakan dr.T suka memberikan obat yang mahal-mahal yang hanya isinya suplemen saja
kepada pasiennya.

Tujuan: Mengetahui bagaimana aspek etik dan medikolegal kasus promosi obat dan hubungan antara
teman sejawat
Bahan bahasan Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Cara membahas Diskusi Presentasi dan diskusi E-mail Pos
Data pasien Nama: Tn. R No RM:
Nama Klinik: Telp: (-) Terdaftar sejak
Data utama untuk bahan diskusi

1. Diagnosis/Gambaran Klinis:
Tn.R datang berobat ke dr.T dengan keluhan sering gringgingan. Tn.R sudah cek
gula sebelumnya dan gulanya tinggi, oleh karena itu Tn.R berobat ke dr.T agar gulanya
bisa turun. Setelah dianamnesis, dan diperiksa, Tn.R tidak diberi penjelasan tentang
penyakitnya, hanya diberi selembar resep yang isinya 3 obat tapi tidak mengetahui obat
apa saja. dr.R hanya berpesan untuk minum obatnya 3 kali sehari kemudian menebusnya
sebaiknya di apotek sebelah praktek pribadinya. Tn.R juga tidak menanyakan obatnya apa
saja, harus dibeli semua atau tidak, dan harganya berapa. Kemudian Tn.R membeli obat
di apotek sebelah praktek dr.T, membayar obat habis 500 rb, karena kaget tn.R bertanya
isi obatnya apa saja. Kemudian apotekernya hanya menjawab itu obat khusus dari dokter
dan diminum saja sesuai aturan. Sejak saat itu pasien penasaran ingin mencari tau isi obat
mahal itu, kemudian pasien membuka salah 1 kertas pembungkus obat tersebut, ternyata
tulisannya adalah supergreen food yang merupakan suplemen makanan dari suatu produk
MLM. Karena merasa ditipu oleh dr.T,kemudian tn.R pindah ke dr.R. Sewaktu
berbincang bincang dengan dr.R, dr.R membenarkan pernyataan Tn.R. dr.R
membicarakan dr.T kalau sering menjadi member obat MLM, dan suka meminta fee dari
perusahaan farmasi lebih besar karena persaingannya dengan produk MLM. dr.R juga
menceritakan dr.T suka memberikan obat yang mahal-mahal yang hanya isinya suplemen
saja kepada pasiennya.
2. Riwayat Pengobatan : -
3. Riwayat Kesehatan : -
4. Riwayat Keluarga : -
5. Riwayat Pekerjaan : -
6. Lain lain :
Hasil Pembelajaran
1. Definisi Pelanggaran Kode Etik Kedokteran
2. Hak dan kewajiban dokter serta hak pasien
3. Etika hubungan dokter dan sejawatnya
4. Etika promosi obat
Pembahasan

Etika kedokteran sebagai profesi luhur, bersama dengan etika lingkungan hidup dan
ilmu pengetahuan telah memberi andil terhadap kaidah dasar ini dengan
menyumbangkan 4 kaidah dasar bioetika yakni: sikap berbuat baik (beneficence), tidak
merugikan orang lain (non maleficence), berlaku adil (justice) dan menghormati
otonomi pasien (autonomy).

Beneficence

Beneficence adalah bahwa seorang dokter berbuat baik, menghormati martabat


manusia, dokter tersebut juga harus mengusahakan agar pasiennya dirawat dalam
keadaan kesehatan. Dalam suatu prinsip ini dikatakan bahwa perlunya perlakuan yang
terbaik bagi pasien. Beneficence membawa arti menyediakan kemudahan dan
kesenangan kepada pasien mengambil langkah positif untuk memaksimalisasi akibat
baik dari pada hal yang buruk.2
Ciri-ciri prinsip ini, yaitu :4
1. Mengutamakan Alturisme
2. Memandang pasien atau keluarga bukanlah suatu tindakan tidak hanya
menguntungkan seorang dokter
3. Mengusahakan agar kebaikan atau manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan
suatu keburukannya
4. Menjamin kehidupan baik-minimal manusia
5. Memaksimalisasi hak-hak pasien secara keseluruhan
6. Meenerapkan Golden Rule Principle, yaitu melakukan hal yang baik seperti yang
orang lain inginkan
7. Memberi suatu resep
8. Meminimalisasi akibat buruk
9. Paternalisme bertanggung jawab

Non-Maleficence
Non-malficence adalah suatu prinsip yang mana seorang dokter tidak
melakukan perbuatan yang memperburuk pasien dan memilih pengobatan yang paling
kecil resikonya bagi pasien sendiri.2
Non-maleficence mempunyai ciri-ciri:4
1. Menolong pasien emergensi
2. Mengobati pasien yang luka
3. Tidak membunuh pasien
4. Tidak memandang pasien sebagai objek
5. Melindungi pasien dari serangan
6. Manfaat pasien lebih banyak daripada kerugian dokter
7. Tidak membahayakan pasien karena kelalaian
8. Tidak melakukan White Collar Crime

Justice

Keadilan (Justice) adalah suatu prinsip dimana seorang dokter memperlakukan


sama rata dan adil terhadap untuk kebahagiaan dan kenyamanan pasien tersebut.
Perbedaan tingkat ekonomi, pandangan politik, agama, kebangsaan, perbedaan
kedudukan sosial, kebangsaan, dan kewarganegaraan tidak dapat mengubah sikap
dokter terhadap pasiennya.2
Justice mempunyai ciri-ciri :4
1. Memberlakukan segala sesuatu secara universal
2. Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan
3. Menghargai hak sehat pasien
4. Menghargai hak hukum pasien
5. Tidak menyalahgunakan wewenang
6. Bijak dalam makroalokasi
7. Menghormati hak populasi

Autonomy

Dalam prinsip ini seorang dokter menghormati martabat manusia. Setiap


individu harus diperlakukan sebagai manusia yang mempunyai hak menentukan nasib
diri sendiri. Dalam hal ini pasien diberi hak untuk berfikir secara logis dan membuat
keputusan sendiri. Autonomy bermaksud menghendaki, menyetujui, membenarkan,
membela, dan membiarkan pasien demi dirinya sendiri.2
Autonomy mempunyai ciri-ciri :4
1. Menghargai hak menentukan nasib sendiri
2. Berterus terang menghargai privasi
3. Menjaga rahasia pasien
4. Melaksanakan Informed Consent
5. Menjaga hubungan kontrak
6. Menghargai rasionalitas pasien
7. Mencegah pihak lain mengintervensi pasien dalam membuat keputusan
Kewajiban Umum
a. Pasal 1 (KODEKI,2002) Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan
mengamalkan sumpah dokter
b. Pasal 2 Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai
dengan standart profesi yang tertinggi
c. Pasal 3 Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh
dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian
profesi.

Penjelasan: Pelaksanaan profesi kedokteran tidak ditujukan untuk memperoleh


keuntungan pribadi, tetapi lebih didasari sikap perikemanusiaan dan mengutamakan
kepentingan pasien. Perbuatan berikut yang dipandang bertentangan dengan etik:
1) Secara sendiri atau bersama-sama menerapkan pengetahuan dan keterampilan
kedokteran dalam segala bentuk
2) Menerima imbalan selain daripada yang layak, sesuai dengan jasanya kecuali dengan
keihklasan dan pengetahuan dan atau kehendak pasien
3) Membuat ikatan atau menerima imbalan dari perusahaan farmasi/obat , perusahaan alat
kesehatan/kedokteran atau badan lain yang dapat mempengaruhi pekerjaan dokter
4) Melibatkan diri secara langsung atau tidak langsung untuk mempromosikan obat,alat
atau bahan lain guna kepentingan dan keuntungan pribadi dokter.
Hal-hal yang dilarang sesuai kasus berdasarkan KODEKI,2002 : 1) Menjual contoh obat (free
sample) yang diterima cuma-cuma dari perusahaan farmasi 2) Menjuruskan pasien untuk membeli
obat tertentu karena dokter yang bersangkutan telah menerima komisi dari perusahaan farmasi
tertentu.
Pasal 7a Seorang dokter harus dalam setiap praktek medisnya, memberikan pelayanan medis yang
kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang
(compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.
Pasal 7b Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya
dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam
karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan, dalam menangani
pasien.
Pasal 7c Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan
lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien

Pasal 1 (KODEKI, 2002) Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan
sumpah dokter : 1. Saya akan memperlakukan teman sejawat saya seperti saudara kandung 2.
Saya akan menaati dan mengamalkan Kode Etik .
Pasal 14 (KODEKI, 2002) Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri
ingin diperlakukan.
Seseorang yang telah kehilangan kepercayaan pada seorang dokter, tidak dapat dipaksa untuk
kembali mempercayainya. Sangat tercela, bila mengganti obat dari dokter pertama dan mencela
pengobatan dokter pertama dihadapan pasien. Penggantian atau penghentian obat dapat dilakukan
bila yakin bahwa pengobatan dari dokter pertama memang keliru, menimbulkan efek samping atau
tidak diperlakukan lagi dan bijaksana jika dasarnya dikemukakan.
Pasal 15 (KODEKI,2004) Setiap dokter tidak mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecuali
dengan persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis. Secara etik seharusnya bila seorang
dokter didatangi oleh seorang pasien yang diketahui telah ditangani oleh dokter lain, maka ia
segera memberitahu dokter yang sebelumnya terlebih dahulu melayani pasien tersebut.
Hubungan dokter pasien terputus bila pasien memutuskan hubungan tersebut. Dalam hal ini
dokter yang bersangkutan seyogyanya tetap memperhartikan kesehatan pasien yang bersangkutan
sampai dengan saat pasien telah ditangani oleh dokter lain.

Kewajiban Dokter dan Pasien : Pasal 1 (KODEKI, 2002) Setiap dokter harus menjunjung tinggi,
menghayati dan mengamalkan sumpah dokter.
Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien, dengan memperhatikan kepentingan
masyarakat. Dalam pengertian ini tidak berarti bahwa kepentingan individu pasien dikorbankan
demi kepentingan masyarakat tetapi harus ada keseimbangan pertimbangan antara keduanya.
Pasal 51a Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standart profesi dan standart prosedur
kebutuhan medis pasien.
Hak Pasien menurut UU RI Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan 1) Pasal 5, ayat 1 Setiap
orang berhak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau.
2) Pasal 8 Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data kesehatan termasuk tindakan
dan pengobatan yang telah maupun yang akan diterima dari tenaga kesehatan.
Hak Pasien menurut UU RI No.29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran 1)
Pasal 52
a. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud
pada ayat (3)
b. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain
c. Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan media
d. Menolak tindakan medis
e. Kendali Mutu dan Biaya
Pasal 1 Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran atau kedokteran
gigi wajib menyelenggarakan kendali mutu dan kendali biaya.
Kesepakatan Bersama Etika Promosi Obat GP Farmasi Indonesia dan IDI mewajibkan seluruh
elemen pelaku usaha farmasi indonesia yang bergabung dalam GP Farmasi Indonesia dan
kalangan profesi kedokteran yang bergabung dalam IDI menerapkan secara konsekuen
pelaksanaan Etika Promosi Obat dengan penuh tanggungjawab.
Poin etika promosi obat dan kesepahaman yang dimaksud adalah:
a. Seorang dokter dalam melakukan pekerjaan kedokterannya tidak dipengaruhi oleh
sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.
Kaitannya dengan promosi obat adalah dokter dilarang menjuruskan pasien untuk
membeli obat tertentu karena dokter tersebut telah menerima komisi dari
perusahaan farmasi tertentu.
b. Dalam hal pemberian donasi kepada profesi kedokteran, perusahaan farmasi tidak
boleh menawarkan hadiah/penghargaan ,insentif, donasi, financial dalam bentuk
lain sejenis, yang dikaitkan dengan penulisan resep atau anjuran penggunaan
obat/produk perusahaan tertentu
c. Pemberian donasi dan atau hadiah dari perusahaan farmasi hanya diperbolehkan
untuk organisasi profesi kedokteran dan tidak diberikan kepada dokter secara
individual
GP farmasi Indonesia dan IDI meminta kepada Pemerintah dan masyarakat untuk mengawasi dan
memberikan informasi kepada GP Farmasi dan IDI setiap ada penyimpangan dan pelanggaran atas
kesepakatan bersama ini. Untuk tindak lanjut terhadap informasi yang masuk, GP farmasi dan IDI
sepakat membentuk tim khusus.
GP Farmasi dan IDI meminta kepada DEPKES RI dan konsil kedokteran indonesia untuk
mengambil bagian dalam pembinaan dan pengawasan kepada para pelaku usaha farmasi maupun
anggota IDI yang mengabaikan kesepakatan ini 8. Pelanggaran Disiplin Kedokteran Majelis
Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (UU No.29 tahun 2004 tentang praktik Kedokteran)
Pasal 64 Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia bertugas: 1) Menerima pengaduan,
memeriksa, dan memutuskan kasus pelanggaran disiplin dokter dan dokter gigi yang diajukan dan
2) Menyusun pedoman dan tata cara penanganan kasus pelanggaran disiplin dokter atau dokter
gigi.
Pengaduan : Pasal 66 1) Setiap orang yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan atas
tindakan dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran dapat mengadukan secara
tertulis kepada Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia. 2) Pengaduan sekurang-
kurangnya harus memuat: a) identitas pengadu; b) nama dan alamat tempat praktik dokter atau
dokter gigi dan waktu tindakan dilakukan; dan c) alasan pengaduan. 3) Pengaduan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak menghilangkan hak setiap orang untuk melaporkan
adanya dugaan tindak pidana kepada pihak yang berwenang dan/atau menggugat kerugian perdata
ke pengadilan.
Pemeriksaan : Pasal 67 Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia memeriksa dan
memberikan keputusan terhadap pengaduan yang berkaitan dengan disiplin dokter dan dokter gigi.
Pasal 68 Apabila dalam pemeriksaan ditemukan pelanggaran etika, Majelis Kehormatan Disiplin
Kedokteran Indonesia meneruskan pengaduan pada organisasi profesi.
Keputusan : Pasal 69 1) Keputusan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia mengikat
dokter, dokter gigi, dan Konsil Kedokteran Indonesia. 2) Keputusan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat berupa dinyatakan tidak bersalah atau pemberian sanksi disiplin. 3) Sanksi disiplin
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa: a) pemberian peringatan tertulis; b)
rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat izin praktik; dan/atau c) kewajiban
mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi.
Pengaturan Lebih Lanjut : Pasal 70 Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan fungsi dan
tugas Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia, tata cara penanganan kasus, tata cara
pengaduan, dan tata cara pemrriksaan serta pemberian keputusan diatur dengan Peraturan Konsil
Kedokteran Indonesia.

Menurut peraturan pemerintah yang dikeluarkan oleh menteri kesehatan dalam PERMENKES NO
58 tahun 2016 tentang sponsorship bagi tenaga kesehatan:
Pasal 4
(1) Sponshorship yang diberikan kepada Tenaga Kesehatan harus memenuhi prinsip:
a. tidak mempengaruhi independensi dalam pemberian pelayanan kesehatan;
b. tidak dalam bentuk uang atau setara uang;
c. tidak diberikan secara langsung kepada individu;
d. sesuai dengan bidang keahlian;
e. diberikan secara terbuka; dan
f. dikelola secara akuntabel dan transparan.
(2) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c,
Sponsorship dapat diberikan berupa uang atau setara uang untuk honor bagi pembicara dan/atau
moderator.
(3) Setara uang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b antara lain cek, giro, atau billyet.

Pasal 8
(1) Sponsorship kepada Tenaga Kesehatan dapat diberikan sebagai peserta, narasumber atau
moderator.
(2) Sponsorship kepada Tenaga Kesehatan sebagai peserta sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diberikan dalam bentuk:
a. registrasi/pendaftaran;
b. tiket perjalanan; dan/atau
c. akomodasi.
(3) Sponsorship kepada Tenaga Kesehatan sebagai narasumber sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diberikan dalam bentuk:
a. registrasi/pendaftaran;
b. tiket perjalanan;
c. akomodasi; dan/atau
d. honor pembicara.
(4) Sponsorship kepada Tenaga Kesehatan sebagai moderator sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diberikan dalam bentuk:
a. registrasi/pendaftaran;
b. tiket perjalanan;
c. akomodasi; dan/atau
d. honor moderator.
(5) Besaran Sponsorship yang diterima oleh Tenaga Kesehatan sebagai peserta, narasumber atau
moderator sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan atau unit cost yang berlaku pada asosiasi/perusahaan pemberi
Sponsorship.

Pasal 9
(1) Sponsorship yang diterima oleh Institusi, organisasi fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau
Organisasi Profesi sebagai penyelenggara dapat digunakan untuk penyelenggaraan:
a. seminar dan/atau pertemuan ilmiah; atau
b. pendidikan dan/atau pelatihan.
(2) Besaran Sponsorship yang diterima oleh Institusi, organisasi fasilitas pelayanan kesehatan
dan/atau Organisasi Profesi sebagai penyelenggara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan atau unit cost yang berlaku pada asosiasi/perusahaan pemberi Sponsorship.
KESIMPULAN

Ditinjau dari pembahasan diatas, bahwa dokter tersebut telah melakukan pelanggaran kode etik
kedokteran, melanggar hak pasien dan melakukan pelanggaran etik terhadap sejawatnya. Solusi Seorang
dokter sebaiknya bisa memahami, mengkhayati dan mengamalkan konsep dasar bioetik serta
memahami kewajiban dan hak dokter terhadap pasien dan teman sejawat, serta non sejawat terkait
perusahaan farmasi (promosi obat).