Anda di halaman 1dari 11

TUGAS MASALAH ETIK DAN ADVOKASI

SISTEM ENDOKRIN
Dosen Fasilitator : Ns. Sukarni, M.Kep

Disusun Oleh :
Kelompok VI

Annissa Puspa Juwita I1031151006


Cindi Laruna Oktaviani I1031151009
Novara Qusnul Luvfianti I1031151013
Atika Mufliha I1031151029
Nada Eliza Nurlatifa I1031151030
Wahyu Nasrullah I1031151038
Aina Rahayu Dewi I1031151041
Yuni Agustia I1031151046
Uray Nurul Syifa Z.A I1031151048

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVESRITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat dan
hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas Paper yang berjudul Masalah Etik dan
Advokasi pada Sistem Endokrin. Paper ini ditulis untuk memenuhi tugas perkuliahan, yaitu
sebagai tugas terstruktur Mata Kuliah Sistem Endokrin Tahun Akademik 2017 di Fakultas
Kedokteran Universitas Tanjungpura.
Dalam penulisan paper ini, kami banyak mendapatkan bantuan dan dorongan dari
pihak-pihak luar, sehingga paper ini terselesaikan sesuai dengan yang diharapkan. Ucapan
terima kasih tidak lupa diucapkan kepada:
1. Ns. Sukarni, M.Kep selaku dosen Mata Kuliah Sistem Endokrin Fakultas Kedokteran
Universitas Tanjungpura.
2. Teman-teman Program Studi Ilmu Keperawatan Angkatan 2015 Fakultas Kedokteran
Universitas Tanjungpura.
Kami menyadari paper ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami
mengharapkan kepada pembaca dan teman-teman agar memberikan kritik dan saran yang
sifatnya membangun.

Pontianak, 26 April 2017

Penulis
KASUS MASALAH ETIK

Tn. A berumur 84 tahun menderita kanker tiroid Stadium 2 sejak 4 tahun yang lalu.
Kanker yang dideritanya menyebabkan kondisi fisik Tn.A menurun. Anak Tn.A telah lama
meninggal, kini Tn. A hanya tinggal dengan cucu nya yang berusia 25 tahun dan sudah
berkeluarga. Degan kondisi Tn.A yang terbilang sangat lemah dan kenker tiroid yang mulai
menyebar Dokter menyarankan untuk melakukan operasi pada Tn.A.

Merasa hidup berkecukupan, Cucu tn.A menyetujui tindakan operasi yang akan
dilakukan oleh dokter, namun masalah datang dari Tn. A. Tn. A menolak melakukan operasi
dengan alasan bahwa dirinya sudah tua dan merasa tidak berdaya, Tn.A Beranggapan bahwa
penyakitnya tidak dapat di sembuhkan, sehingga tn.A berkeyakinan bahwa dia akan segera
meninggal, Sehingga Tn. A berasumsi tindakan operasi hanya akan habiskan uang cucnya
saja, Tn.A berfikir jika dana yang digunakan untuk operasinya lebih baik digunakan untuk
masa depan cicitnya. Tn. A merupakan seorang yang sangat penyayang terhadap cicit nya.
Oleh karena itu Tn.A tetap bertahan dengan pendiriannya bahwa dia tetap tidak mau
melakukan tindakan operasi dan lebih memilih untuk tetap selalu mengkonsumsi obat.
LANDASAN TEORI

Etika berhubungan dengan bagaimana seseorang harus bertindak dan bagaimana


mereka melakukan hubungan dengan orang lain. Etik perawatan dihubungkan dengan
hubungan antar masyarakat dengan karakter serta sikap perawat terhadap orang lain. Perawat
telah mengembangkan kode etik yang menjelaskan tindakan profesional ideal. Kode tersebut
merefleksikan prinsip etik yang secara luas diterima oleh anggota profesi. Ketika mengambil
keputusan klinis, perawat seringkali mengandalkan pertimbangan mereka dengan
menggunakan kedua konsekuens dan prinsip serta kewajiban moral yang universal. Ada lima
prinsip dasar yang dapat perawat gunakan dalam mengambil keputusan klinis yaitu,

Prinsip-prinsip Etik
a. Otonomi (Autonomy)
Otonomi berasal dari bahasa latin, yaitu autos, yang berarti sendiri, dan nomos yang
berarti aturan. Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu
berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap kompeten
dan memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau
pilihan yang harus dihargai oleh orang lain. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek
terhadap seseorang, atau dipandang sebagai persetujuan tidak memaksa dan bertindak
secara rasional. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu yang
menuntut pembedaan diri. Praktek profesional merefleksikan anotonomi saat perawat
menghargai hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan dirinya. Contoh
tindakan yang tidak memperhatikan memperhatikan otonomi adalah:
1. Melakukan sesuatu bagi klien tanpa mereka diberi tahu sebelumnya
2. Melakukan sesuatu tanpa memberi informasi relevan yang penting diketahui klien
dalam membuat suatu pilihan
3. Memberitahukan klien bahwa keadaanya baik, padahal terdapat gangguanatau
penyimpangan
4. Tidak memberikan informasi yang lengakap walaupun klien menghendaki
informasi tersebut
5. Memaksa klien memberi informasi tentang halhal yang mereka sudah tidak
bersedia menjelaskannya.
b. Berbuat baik (Beneficience)
Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan, memerlukan
pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan
peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan
kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini dengan otonomi. Contoh perawat menasehati
klien tentang program latihan untuk memperbaiki kesehatan secara umum, tetapi tidak
seharusnya melakukannya apabila klien dalam keadaan risiko serangan jantung.

c. Keadilan (Justice)
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadaporang lain yang
menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan.Nilai ini direfleksikan dalam
prkatek profesional ketika perawat bekerja untukterapi yang benar sesuai hukum, standar
praktek dan keyakinan yang benaruntuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.
Contoh : seorang perawat sedang bertugas sendirian disuatu unit RS kemudian ada
seorang klien yang baru masuk bersamaan dengan klien yang memerlukan bantuan
perawat tersebut. Agar perawat tidak menghindar dari satu klien, kelian yang lainnya
maka perawat seharusnya dapat mempertimbangkan faktor-faktor dalam situasi tersebut,
kemudian bertindak berdasarkan pada prinsip keadilan.

d. Tidak merugikan (Nonmaleficience)


Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya atau cedera fisik dan psikologis pada
klien. Prinsip untuk tidak melukai orang lain berbeda dan lebih keras daripada prinsip
untuk melakukan yang baik. Contoh: seorang klien yang mempunyai kepercayaan bahwa
pemberian transfusida darah bertentangan dengan keyakinannya, mengalami perdarahan
hebat akibat penyakit hati yang kronis. Sebelum kondisi klien bertambah berat,
kliensudah memberikan pernyataan tertulis kepada dokter bahwa ia tak mau dilakukan
transfuse darah.Pada suatu saat, ketika kondisi klien bertambah buruk dan terjadilah
perdarahan hebat, dokter seharusnya menginstruksikan untuk memberikan transfuse
darah. Dalam hal ini, akhirnya transfuse darah tidak diberikan karena prinsip beneficience
walaupun sebenarnya pada saat berasamaan terjadi penyalah gunaaan prinsip autonomy
(Otonomi).
e. Kejujuran (Veracity)
Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilaiini diperlukan oleh pemberi
pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien dan untuk
meyakinkan bahwa klien sangat mengerti. Prinsip veracity berhubungan dengan
kemampuan seseorang untuk mengatakan kebenaran. Informasi harus ada agar menjadi
akurat, komprensensif, dan objektif untuk memfasilitasi pemahaman dan penerimaan
materi yang ada, dan mengatakan yang sebenarnya kepada klien tentang segala sesuatu
yang berhubungan dengan keadaan dirinya selama menjalani perawatan. Walaupun
demikian, terdapat beberapa argument mengatakan adanya batasan untuk kejujuran
seperti jika kebenaranakan kesalahan prognosis klien untuk pemulihan atau adanya
hubungan paternalistik bahwa doctors knows best sebab individu memiliki otonomi,
mereka memiliki hak untuk mendapatkan informasi penuh tentang kondisinya. Kebenaran
merupakan dasar dalam membangun hubungan saling percaya.
ADVOKASI

Otonomi (Autonomy)
Prinsip autonomy menegaskan bahwa seseorang mempunyai kemerdekaan untuk
menentukan keputusan dirinya menurut rencana pilihannya sendiri. Bagian dari apa yang
diperlukan dalam ide terhadap respect terhadap seseorang, menurut prinsip ini adalah
menerima pilihan individu tanpa memperhatikan apakah pilihan seperti itu adalah
kepentingannya.
Seperti telah banyak dijelaskan dalam teori bahwa otonomi merupakan bentuk hak
individu dalam mengatur keinginan melakukan kegiatan atau prilaku. Kebebasan dalam
memilih atau menerima suatu tanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
Pada kasus Tn. A bahwa pasien tidak ingin dioperasi karena Tn. A merasa dirinya
sudah berumur dan tidak ada gunanya melakukan operasi padanya. Penolakan Tn. A untuk
tidak dilakukan operasi merupakan hak pasien tetapi, hak dan kewajiban perawat juga untuk
dapat memberikan asuhan keperawatan yang optimal dengan membantu penyembuhan pasien
yaitu dengan jalan dilakukan operasi.
Advoaksi perawat yang dapat dilakukan pada kondisi kasus Tn. A, dapat berupa:
penjelasan yang jelas dan terinci tentang kondisi yang dialami Tn. A, melakukan konsultasi
dengan tim medis berkaitan dengan masalah tersebut. Bentuk-bentuk advokasi inilah yang
memungkinkan tim baik keperawatan dan medis akan bekerjasama dalam menjelaskan
persoalan dengan lengkap dan baik.

Kejujuran (Veracity)
Pada kasus Tn. A mengatakan bahwa perawat tidak boleh memberitahukan masalah
ini kepada keluarga nya. Tetapi sebagai seorang perawat harus melakukan suatu kebaikan
terhadap kondisi pasiennya sendiri serta berusaha dengan maksimal untuk menyelamatkan
setiap nyawa.
Advoaksi perawat yang dapat dilakukan pada kondisi kasus Tn. A, dapat berupa :
perawat harus menanamkan rasa keyakinan pada Tn.A bahwa lebih baik keluarga nya
mengetahui masalah ini agar kondisi Tn.A segera membaik. Karena dari status keluarga Tn. A
terbilang cukup mampu untuk melakukan operasi ini serta yakinkan kepada Tn.A bahwa
apabila iya melakukan operasi ini dan kemudian berhasil keluar dari penyakitnya maka Tn.A
dapat bermaain dengan cicitnya dan melihat mereka tumbuh.
Berbuat baik (Beneficience)
Pada kasus Tn. A mengatakan bahwa jangan memberitahukan masalah kepada
keluarga dan Tn. A tidak mau dioperasi. Dalam hal ini perawat memiliki hak untuk berbuat
baik untuk keselamatan serta kesembuhan klien dengan cara memberitahukan kepada
keluarga klien dan meyakinkan Tn.A agar Tn.A mau melakukan tindakan operasi.
Advoaksi perawat yang dapat dilakukan pada kondisi kasus Tn. A, dapat berupa:
mengatakan yang sejujurnya kepada keluarga Tn.A bahwa kondisi Tn.A masih bisa
diselamatkan dengan jalan operasi. Dan menyarankan kepada keluarga untuk terus
mendukung Tn.A agar mau dioperasi demi kebaikan dirinya sendiri. Meskipun Tn.A
memiliki hak agar perawat tidak memberitahu keluarga Tn.A tetapi di lain sudut pandang
perawat bahwa memberitahukan kepeda keluarga merupakan cara lebih baik agar kondisi
Tn.A segera membaik.
Tidak merugikan (Nonmaleficience)
Pada kasus, Tn. A menyatakan bahwa ia tidak mau dioperasi. Advokasi perawat yang
dapat dilakukan pada kondisi kasus Tn.A berdasarkan prinsip tidak merugikan
(Nonmalificience), dapat berupa : perawat melakukan pendekatan dengan prinsip berbuat
baik (Beneficience), dan kejujuran (Veracity) walaupun harus melanggar prinsip Autonomy
(Otonomi). Hal ini, perlu dilakukan kepada pasien agar tidak terjadi kerugian nantinya. Karna
apabila pasien bersikeras untuk tidak dioperasi maka penyakit yang dideritanya justru akan
semakin bertambah.
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

Potter, P. A., & Perry, A. G. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC.
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2005). Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik
Edisi 4. Jakarta: EGC.