Anda di halaman 1dari 12

Analisis Jurnal

Properti Dielektrik pada Jaringan Biologis


Untuk memenuhi tugas mata kuliah Biofisika

Dosen Pengampu:
Chomsin S. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D

Disusun Oleh
Yosia Mairin 166090300111001

PROGRAM PASCASARJANA
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2017
Daftar Isi

A. Pendahuluan .................................................................................................................... 1
B. Properti Dielektrik .......................................................................................................... 1
C. Sifat Gelombang di bahan lossy ..................................................................................... 2
D. Spektrum Dielektrik ........................................................................................................ 4
E. Studi Literatur dari Properti Dielektrik I oleh Gabriel et al (1996a) .................................. 5
F. Studi Literatur dari Properti Dielektrik II oleh Gabriel et al (1996b) ................................ 5
1. Teknik pengukuran ......................................................................................................... 6
2. Hasil Pengukuran ............................................................................................................ 8
Referensi .................................................................................................................................. 10
1

Deskripsi paper The Dielectric properties of biological tissue

A. Pendahuluan
Properti dieletrik dari bahan biologis pada frekuensi radio dan gelombang mikro
(microwave) telah menarik perhatian peneliti untuk dihubungkan dengan frekuensi tinggi,
pemanasan gelombang mikro elektrik, penyerapan energi elektromagnetik oleh makhluk
hidup, dan tingkat kelembaban pada suatu produk agrikultural. Dari aplikasi yang telah disebut
di atas, termasuk penyerapan energi yang berbahaya, disgnostik medis, dan pemanasan
elektromagnetik dari jaringan untuk keperluan medis telah telah memicu penelitian untuk
menentukan sifat dielektrik dari suatu bahan. Penelitian terkonsentrasi pada gelombang
elektromagnetik berfrekuensi rendah. Namun, kelakuan suatu bahan yang terkena medan
elektromagnetik berfrekuensi rendah mungkin akan dapat diaplikasikan di masa depan. Untuk
lebih memahami proses-proses fisika yang berhubungan dengan interaksi dari berbagai
frekuensi radio dan gelombang mikro, dibutuhkan pengetahuan tentang sifat dielektrik bahan
saat berinteraksi dengan gelombang elektromagnet.
Sejak tahun 1950an, penelitian tentang sifat dielektrik pada suatu jaringan hidup telah
dilakukan. Schwan (1957) telah meneliti tentang sifat elektrik pada jaringan dan suspensi sel,
di mana memiliki nilai yang besar pada frekuensi yang rendah. Pethig dan Kell (1984)
meninjau kembali konsep sifat dielektrik berdasarkan proses-proses molekular. Stuchly et.al
(1981) meneliti tentang sifat dielektrik dari beberapa jaringan hewan secara in vivo. Smith dan
Foster (1985) telah meneliti jaringan yang kadar airnya rendah seperti tulang sumsum dan
jaringan adipose, dengan frekuensi 1 kHz sampai 1 GHz. Qiao, Duan, C Chatwin, & Wang
(2011) menjelaskan tentang tahapan sel kanker kanker dapat diketahui dari konduktivitas tiap
sel.
Tujuan dari paper survei literatur dari Gabriel et al (1996) untuk menguji (assess) posisi
pengetahuan dari sifat dielektrik dari dari beberapa tahun sebelumnya, menunjukkan
kelemahan studi sebelumnya sehingga menjadi basis untuk evaluasi dan analisis data dari
pengukuran properti dielektrik yang sedang dilakukan.

B. Properti Dielektrik
Properti listrik dari suatu bahan yang terhubung oleh dua elektroda paralel dengan luas A
dan jarak d dapat dijelaskan dengan istilah kontansi G dan kapasitansi C, dengan
A A 0
persamaan: G dan C
d d
2

(1)
Konduktivitas faktor proporsionalitas antara arus listrik dan medan listrik, yang merupakan
ukuran kemudahan muatan yang terikat berpindah (delocalized) melalui suatu bahan di bawah
pengaruh medan listrik. Untuk bahan biologis, konduktivitas akan meningkat dengan adanya
mobilisasi dari ion hidrat. Faktor 0 disebut permitivitas dielektrik di ruang hampa dan adalah
permitivitas bahan relatif terhadap permitivitas ruang hampa, yang terkadang disebut juga
konstanta dielektrik. Permitivitas adalah faktor proporsionalitas antara muatan listrik dan
medan listrik, yang menyatakan distribusi muatan yang terlokalisasi dapat terganggu (distort)
atau terpolarisasi karena pengaruh suatu medan. Untuk bahan biologis, muatan yang
berperilaku tersebut diasosiasikan dengan dua lapisan elektrik pada permukaan membran atau
makromolekul yang terlarut, atau bahkan molekul polar yang memiliki momen dipol listrik.

C. Sifat Gelombang di bahan lossy


Gelombang elektromagnetik dapat merambat di ruang hampa seperti yang dijelaskan pada
makalah literature 1. Saat berinteraksi dengan gelombang elektromagnetik, bahan biologis
bersifat lossy, yang dimana akan mendeposisi energi gelombang elektromagnetik, sehingga
akan menyebabkan bahan akan cenderung lebih panas.
Agar lebih memahami bagaimana energi elektromagnetik terdeposisi pada suatu bahan
yang lossy, tidak lepas dari hukum Ampere ( = ( + /)) yang menjelaskan
mengenai medan listrik yang berubah terhadap waktu menghasilkan medan magnet. Jika
mengganti H = B/, diperoleh:
= C + jbound
(2)
Istilah C adalah arus konduksi, C = , dimana konduktivitas c mewakili mobilitas dari
elektron bebas dalam bahan. Permitivitas karena ikatan muatan pada bahan lossy memiliki
komponen rill dan imaginer:
bound = b,real jb,imag (3)
Sifat permitivitas ditentukan oleh interaksi antara medan listrik dan ikatan muatan dalam
bahan. Interaksi ini mengahsilkan gerak osilasi dari ikatan muatan. Out-of-phase dari catu
gerak dengan medan listrik 90o ditandai dengan bagian ril dari permitivitas, b, real. Namun, saat
ikatan muatan berosilasi, mereka juga akan mengalami pemanasan akibat gaya gesek dalam
molekul dan dari molekul tetangganya. Komponen gerak ini sefase dengan medan listrik dan
diwakili oleh bagian imaginer dari permitivitas, b, imag.
3

Pengaruh-pengaruh di atas menyebabkan persamaan 2 dapat ditulis


menjadi: = C + j(b,real

jb,imag ) (4)
Dengan memasangkan suku konduktivitas dan suku imaginer dari permitivitas (karena
keduanya sefase dengan medan listrik) menghasilkan:
= (C + b,imag ) + jb,real
(5)
Suku pertama sebelah kanan (C + b,imag ), mewakili arus yang menghasilkan panas di
dalam bahan karena pergerakan muatan bebas dan muatan terikat. Dengan menggabungkan
kedua komponen tersebut menghasilkan suatu definisi yang disebut konduktivitas efektif:
, = C + b,imag (6)
Suku terakhir pada persamaan 5, jb,real , disebut arus perpindahan (displacement
current), yang mewakili catu yang tidak hilang (lossless portion) dari ikatan muatan. Semakin
tinggi frekuensi , semakin cepat ikatan muatan berosilasi di dalam bahan dan semakin besar
arus perpindahan yang dihasilkan (juga semakin besar hilangnya, karena suku kedua
persamaan 6). Simbol j menunjukkan arus perpindahan yang tidak hilang (lossless
displacement current) berbeda fase (out of phase) 90o dengan suku arus yang hilang (lossy).
Istilah b, real sering disebut pada tabel properti dielektrik.
Lebih lanjut, suku sebelah kanan persamaan 5 dapat digabungkan sehingga diperoleh
persamaan:
= jcomplex
(7)
dimana permitivitas kompleks complex didefinisikan sebagai:
complex = = 0 ( ) (8)
Pada persamaan di atas, mewakili komponen yang hilang dari properti bahan dan
mewakili kombinasi komponen dari interaksi bahan (karena ikatan dan muatan bebas) yang
akan menyebabkan hilang tersebut. Dengan membandingkan persamaan 7 dan 8, diperoleh
hubungan sebagai berikut:
=b, real (9)
=c + b, imag = eff (10)
Rasio antara dan sangat berguna untuk memahami derajat kehilangan (degree of loss)
di dalam suatu bahan. Rasio ini disebut loss tangent (tan = /) atau faktor disipasi karena
menunjukkan sudut dari complex pada koordinat kompleks.
Ketika nilai tan besar, berarti bahan tersebut sangat lossy (cepat menyerap energi
elektromagnetik). Ini disebabkan oleh konduktivitas dar muatan bebas, atau muatan terikat.
4

Logam merupakan konduktor sempurna. Faktanya, dalam bidang bioelektromagnetik, logam


dapat dianggap sebagai konduktor sempurna, dengan eff . Dan saat nilai tan kecil, bahan
tersebut memiliki daya hilng yang rendah (very low loss). Bahan-bahan ini merupakan isolator
baik atau mendekati dielektrik sempurna, seperti kaca atau plastik. Berikut adalah tabel
permitivitas dan konduktivitas dari berbagai jaringan tubuh manusia.

D. Spektrum Dielektrik
Properti dielektrik pada jaringan biologis dihasilkan dari interaksi radiasi elektromagnetik
dengan konstituennya pada level sel dan molekular. Ciri utama spektrum dielektrik dari
jaringan biologis adalah:
Permitivitas relatif dari jaringan dapat bernilai hingga 106 sampai 107 pada frekuensi di
bawah 100 Hz.
Nilainya akan berkurang pada frekuensi yang lebih tinggi dapat tiga tahapan yang
dikenal sebagai disperse , , dan .
Dispersi , dalam daerah gigahertz, disebabkan oleh polarisasi dari molekul air.
Dispersi , dalam daerah ratusan kilohertz, disebabkan oleh polarisasi membran sel
yang bertindak sebagai penghalang aliran ion antara medium intra dan ekstra sel. Selain
itu dapat juga karena polarisasi protein dan makromolekul organik yang lain.
Dispersi berfrekuensi rendah berkaitan erat dengan proses difusi ionik pada membran
sel
Jaringan biologis memiliki konduktivitas ionik yang sebanding dengan kondisi
alamiahnya dan konten serta isi ionik jaringan tersebut.
5

E. Studi Literatur dari Properti Dielektrik I oleh Gabriel et al (1996a)


Dari penjelasan sebelumnya telah disebutkan bahwa penelitian tentang sifat dielektrik telah
lama dilakukan, dari tahun 1950an. Literatur dari tahun 1950-1960an didominasi oleh Schwan
dan rekan-rekannya, dan serta telah ditinjau dan ditabulasi ulang oleh Durney et al (1986).
Data yang diberikan adalah sangat dekat dengan jaringan manusia. Konsekuensinya,
jaringan manusia dan pengukuran in vivo dipilih dengan preferensi jaringan hewan dan in vitro.
Untuk pengukuran in vitro, data diperoleh pada suhu yang mendekati tubuh dan waktu yang
kematian yang singkat.
Data dipresentasikan dalam format grafik untuk menunjukkan informasi berdasarkan
jangkauan frekuensi dan penyebarannya dalam data.grafik yang ditambpilkan adalah jaringan
darah, tulang, lemak, otak, ginjal, limpa, jantung, lever, paru-paru, otot, dan kulit. Untuk
jaringan pada kepala, otak dapat dikaraterisasi dengan baik pada frekuensi diatas 100 kHz,
namun data untuk dura, cairan cerebrospinal, dan kartilago tidak dilaporkan. Untuk sebagian
besar jaringan, data dibawah 100 kHz sangat terbatas atau tidak ada. Ketidakadaan ini bukan
karena tidak dilakukan penelitian di bawah rentang 100 kHz, namun disebabkan karena
keterbatasan teknik pengukuran yang memang tidak didesain untuk menghilangkan kesalahan
sistematik pada frekunsi rendah. Data dari jaringan seperti otot terkaraterisasi dengan baik
dalam hal jumlah data, namun nilainya tersebar dan bahkan tumpang-tindih pada suatu
jangkauan frekuensi yang terbatas. Nilai rata-rata yang ada pada setiap frekuensi akan
mengubah kebergantungannya terhadap frekuensi, yang mungkin paling ditentukan dengan
pengukuran sampel dalam keseluruhan jangkauan. Permasalahan ini diselesaikan dengan
dengan paper yang kedua (Gabriel et al, 1996b).

F. Studi Literatur dari Properti Dielektrik II oleh Gabriel et al (1996b)


Dari paper pertama, telah dijelaskan mengenai properti dielektrik, dan dari hasil penelitian
yang dilakukan, menunjukkan adanya suatu konsep besar mengenai konsep sifat dielektrik.
Dengan memasukkan seluruh data yang tersedia, sifat dari spektrum dielektrik dapat terlihat
jelas. Namun, penelitian-penelitian tersebut menunjukkan keberagaman data setiap penelitian
dan mengakibatkan adanya celah pada pengetahuan kita terhadap suatu tipe jaringan tertentu,
dan untuk hampir semua jaringan dengan frekuensi tertentu.
6

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka dilakukan pengukuran dengan tiga teknik
eksperimen untuk mengukur properti dielektrik dari jaringan dengan rentang frekuensi 10 Hz
hingga 20 GHz. Denga menempatkan data dari pengukuran ini dengan data dari literature
sebelumnya, maka akan diperoleh spektrum eksperimen dan sama-sama menunjukkan
ketergantungan terhadap frekuensi serta menjembatai celah yang terdapat pada suatu rentang
frekuensi.
1. Teknik pengukuran
Pengukuran dielektrik sendiri dilakukan menggunakan jaringan swept-frequency dan
penganalisis impedansi, dengan jangkauan frekuensi dari 10 Hz hingga 10 Mhz. Impedansi
50 diadaptasi dari penelitian Gabriel dan Grant (1989) digunakan pada sampel dalam
pengukuran. Alat ini memiliki kapasitansi C dan konduktansi G pada susurannya sebagai
fungsi dari dimensi fisikal dan dapat diukur menggunakan penganalisis impedansi. Sebagai
tambahan, terdapat penyimpangan elemen kapasitif dan induktif yang harus dinormalisasi.
Parameter karakteristik dari alat, ekivalen dengan kapasitansinya pada udara K, dihitung
dari pengukuran komponen impedansi dari alat di udara dan pada standar sampel yang
digunakan (air atau larutan garam). Pada prinsipnya, properti dielektrik (permitivitas dan
konduktivitas ) dari sampel yang belum diketahui dapat ditentukan dari impedansi dari
alat terhadap sampel menggunakan hubungan berikut, dengan 0 adalah permitivitas dalam
ruang hampa:
C G 0
' (11)
K K
Pada prakteknya, pengukuran dari material konduktif dengan jangkauan frekuensi 10 Hz
hingga 10 MHz tidak mudah. Normalisasi dari kapasitansi dan konduktansi terhadap
parameter alat dalam udara tidak selalu cocok. Pengukuran dipengaruhi oleh dua sumber
kesalahan sistematik, polarisasi elektroda dan induktansi timah, yang akan berpengaruh
pada pengukuran pada frekuensi yang rendah atau tinggi.
7

Polarisasi elektroda adalah manifestasi dari susunan muatan yang terjadi pada sampel
elektroda akibat adanya molekul air dan ion hidrat. Fenomena ini ekivalen dengan kapasitor
yang bergantung pada frekuensi yang
tersusun seri dengan resistor. Kedua
komponen tersebut dapat
diaproksimasi dengan fungsi pangkat
negatif dari frekuensi , dan nilai
absolutnya akan menurun dengan
meningkatnya frekuensi. Efek ini
akan meningkat dengan
meningkatnya konduktivitas sampel
dan konsekuensinya berdampak lebih
terhadap kapasitansinya dibanding
konduktansi dari larutan ion ataupun
sampel biologis (Schwan, 1957).
Untuk kasus sampel biologis, sel
dengan konduktivitas rendah
Gambar 1. Permitivitas (a) dan konduktivitas (b) dari berbagai
macam larutan garam. melindungi bagian dari elektroda
terhadap arus ionik, sehingga
mereduksi efek polarisasi jika dibandingkan dengan larutan ionik yang ekuivalen dengan
konduktivitas pada fluida intraselular.
Induktansi dari alat dan kabel penghubung akan meningkatkan impedansi yang terukur.
Nilainya dapat ditentukan dari pengukuran pada larutan garam standar dan dianalisis
menggunakan rangkaian (circuit) yang ekuivalen. Nilai dari induktansi sasar L = 2 10-7
Henry dan persamaan inilah yang digunakan:
C m LG m 2 LC m2
C (12)
1 2
LC m LC
2
m
2

Gm
G (13)
1 2
LC m LC
2
m
2

dimana C dan G adalah koreksi terhadap kapasitansi dan konduktansi yang dinyatakan
dengan nilai pengukuran Cm dan Gm, induktansi timah L dan frekuensi angular . Efek dari
induktansi menyimpang meningkat bersama dengan kenaikan frekuensi dan konduktivitas
sampelnya. Gambar di samping berikut menunjukkan efek dari polarisasi elektroda dan
8

induktasi sasar dengan permitivitas dan konduktivitas yang belum dikoreksi pada berbagai
larutan garam.
Gambar 1(a) dan (b) menunjukkan efek dari polarisasi elektroda induktansi sasar
terhadap permitivitas dan konduktivitas yang belum dikoreksi pada larutan garam dari nol
molar hingga 0,09 molar. Nilai permitivitas yang tinggi pada frekuensi rendah adalah
manifestasi dari polarisasi elektroda dan permitivitas negatif pada frekuensi tinggi
menunjukkan pengaruh dari induktansi sasar. Pengamatan lanjutan mengindikasikan
bahwa kesalahan permitivitas dan konduktivitas dari sampel akan terlihat dibawah 1 kHz
dan secara signifikan di bawah 100 Hz sedangkan pengaruh induktansi akan berpengaruh
di atas beberapa megahertz.
Untuk mengoreksi kesalahan akibat polarisasi elektroda dan induksi, nilai kapasitansi
dan konduktansi dari jaringan harus dikoreksi dengan persamaan 12 dan 13, serta
dinormalisasi terhadap larutan garam yang memiliki konduktivitas yang berfrekuensi
rendah. Gambar 1(a) dan (b) telah dikoreksi dengan referensi larutan garam 0,005 molar;
properti dielektrik yang sudah dikoreksi juga ditampilkan untuk perbandingan. Pengukuran
menggunakan alat penganalisis impedansi untuk semua jaringan diperlakukan demikian.

2. Hasil Pengukuran
Contoh hasil pengukuran pada tiga susunan percobaan pada berbagai jangkauan
frekuensi, ditunjukkan pada gambar 2 pada jurnal. Hasil dari pengukuran pada tiga mesin
cukup baik ketika pengukuran dilakukan pada sampel yang sama.
Perbedaan properti dielektrik antara hewan dan manusia tidak sistematik. Variasi dari
penyusun jaringan pada spesies tertentu meningkatkan variasi nilai antar spesies tersebut.
Contoh komparasi pengukuran dapat dilihat pada gambar 4(a)-(d). Pada gambar 4(a) data
lidah manusia dengan pengukuran in vivo dibandingkan dengan pengukuran in vitro pada
sampel yang otopsi. Data dari sampel hewan tidak berbeda signifikan selain pada bagian
frekuensi terendah, dimana konduktivitasnya lebih tinggi untuk bagian longitudinal.
Gambar 4(b) menunjukkan penyebaran data dari jaringan adiposa manusia dan hewan.
Selain itu, terdapat dua batasan nilai yang berkorespondensi dengan jaringan lemak murni
dari kadar berair rendah dan filtrasi yang kecil dari darah, dimana kontras dengan data dari
kadar yang berair lebih tinggi filtrasi darah yang lebih rendah. Pengamatan yang sama
dilakukan untuk pengukuran terhadap kuning sumsum tulang dengan filtrasi darah yag
tinggi pada daerah dekat dengan tulang dibandingkan dengan pada bagian tengahnya.
9

Gambar 4(c) menunjukkan properti dielektrik dari kartilago merupakan jaringan dengan
kadar air tinggi. Gambar 4(d) untuk tulang kortikal, dengan kadar airnya 12-15%.
Properti dielektrik dari otot diketahui bersifat anisotropik, karena menunjukkan nilai
yang berbeda berdasarkan perbedaan arah pengukurannya (Epstein dan Foster, 1983).
Sampel diukur dua kali, dengan daerah transversal terhadap alat dan dipotong sepanjang
serat ototnya kemudian diukur ulang.
Perbandingan antara data eksperimen dengan data dari literatur menunjukkan
kesesuaian. Spektrum eksperimen menunjukkan kesamaan dalam kebergantungan
frekuensi dan menurun dalam range nilai yang dilaporkan pada literatur. Terlihat bahwa
nilai permitivitas akan cenderung menurun dengan kenaikan frekuensi. Sebaliknya,
konduktivitas akan cenderung meningkat dengan kenaikan frekuensi.
10

Referensi

C, G., & H, G. E. (1989). Dielectric sensors for industrial microwave measurement and
control. Microwellen HF Mag., 15, 643-545.
Furs, C., Christensen, D. A., & Durney, C. H. (2009). Basic Introduction to
BIOELECTROMAGNETICS. 6000 Broken Sound Parkway NW, Suite 300: CRC
Press, Taylor & Francis Group.
Gabriel, C., Gabriel, S., & Corthout, E. (1996). The dielectric properties of biological tissues:
I. Literature survey. Phys. Med. Biol., 41, 2231-2249.
Gabriel, S., Lau, R. W., & Gabriel, C. (1996). The dielectric properties of biological tissues:
II. Measurements in the frequency range 10 Hz to 20 GHz. Phys. Med. Biol., 41,
22512269.
H, D. C., H, M., & F, I. M. (1986). Radiofrequency Radiation Dosimetry Handbook. Brooks
Air Force Base USAFSAM-TR-85-73.
P, S. H. (1992). Linear and nonlinear electrode polarisation and biological materials. Ann.
Biomed. Eng, 20, 269-288.
Qiao, G., Duan, W., C Chatwin, A. S., & Wang, W. (2011). Electrical properties of breast
cancer cells from impedance measurement of cell suspensions. Journal of Physics:
Conference Series, 224(1).
R, E. B., & R, F. K. (1983). Anisotropy in the dielectric properties of skeletal muscle. Med.
Biol. Eng. Computing, 21, 51-55.
R, P., & B, K. D. (1984). The Passive electrical properties of biological systems: their
significance in physiology, biophysics, and biotechnology. Phys. Med. Biol., 32, 933-
970.
Schwan, H. P. (1957). Electrical properties of tissues and cell suspensions. Advanced Phys.
Med. Biol., 5, 147-209.
Smith, S. R., & Foster, K. R. (1985). Dielectric Peroperties of Low-Water-Content Tissue.
Phys. Med. Biol., 30, 965-973.
Stuchly, M. A., Athey, T. W., Stuchly, S. S., Samaras, G. M., & Taylor, G. (1981). Dielectric
Properties of Animal Tissues In Vivo at Frequencies 10 MHz - 1 GHz.
Bioelectromagnetics, 2, 93-103.