Anda di halaman 1dari 17

ASSIGNMENT OF ENGLISH

Past Tense
Lecture :
Supriyanto, S.Pd.,M.Pd

OLEH
Kelompok 3

Ahmad Ridho Ismail (PO 71 4 221 14 1 003)


Anugrah S (PO 71 4 221 14 1 007)
Besse Indrayanti (PO 71 4 221 14 1 011)
Febriyanti Ramadhani (PO 71 4 221 14 1 015)
Idris Sikki (PO 71 4 221 14 1 019)
Kuzaimah Nur Jatsmah (PO 71 4 221 14 1 025)
Muhammad Arifin Naim (PO 71 4 221 14 1 029)
Nurhajja Arminah (PO 71 4 221 14 1 034)
Rezky Raditya (PO 71 4 221 14 1 038)
Satmariana Hasma (PO 71 4 221 14 1 043)
Syahratul Annisa (PO 71 4 221 14 1 048)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
Tk . 1 PROGRAM D-IV
2015
ASSIGNMENT OF ENGLISH
Question Word
Lecture :
Supriyanto, S.Pd.,M.Pd

OLEH
Kelompok 3

Ahmad Ridho Ismail (PO 71 4 221 14 1 003)


Anugrah S (PO 71 4 221 14 1 007)
Besse Indrayanti (PO 71 4 221 14 1 011)
Febriyanti Ramadhani (PO 71 4 221 14 1 015)
Idris Sikki (PO 71 4 221 14 1 019)
Kuzaimah Nur Jatsmah (PO 71 4 221 14 1 025)
Muhammad Arifin Naim (PO 71 4 221 14 1 029)
Nurhajja Arminah (PO 71 4 221 14 1 034)
Rezky Raditya (PO 71 4 221 14 1 038)
Satmariana Hasma (PO 71 4 221 14 1 043)
Syahratul Annisa (PO 71 4 221 14 1 048)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
Tk . 1 PROGRAM D-IV
2015
ASSIGNMENT OF ENGLISH
Passive Voice
Lecture :
Supriyanto, S.Pd.,M.Pd

OLEH
Kelompok 3

Ahmad Ridho Ismail (PO 71 4 221 14 1 003)


Anugrah S (PO 71 4 221 14 1 007)
Besse Indrayanti (PO 71 4 221 14 1 011)
Febriyanti Ramadhani (PO 71 4 221 14 1 015)
Idris Sikki (PO 71 4 221 14 1 019)
Kuzaimah Nur Jatsmah (PO 71 4 221 14 1 025)
Muhammad Arifin Naim (PO 71 4 221 14 1 029)
Nurhajja Arminah (PO 71 4 221 14 1 034)
Rezky Raditya (PO 71 4 221 14 1 038)
Satmariana Hasma (PO 71 4 221 14 1 043)
Syahratul Annisa (PO 71 4 221 14 1 048)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
Tk . 1 PROGRAM D-IV
2015
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,
karena berkat rahmat dan karunia-Nya dapat menyelesaikan tugas makalah
ini. Kami juga bersyukur atas berkat rezeki dan kesehatan yang diberikan
kepada kami sehingga kami dapat mengumpulkan bahan-bahan materi
makalah ini dari sejumlah referensi. Kami telah berusaha semampu kami
untuk mengumpulkan berbagai macam bahan tentang mata kuliah
epidemologi yang berjudul Simpul pengamatan terhadap tempat
pembuangan akhir..

Kami sadar bahwa makalah yang dibuat ini masih jauh dari
kesempurnaan, karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang
membangun untuk menyempurnakan makalah ini menjadi lebih baik lagi.

Demikianlah makalah ini dibuat, apabila ada kesalahan dalam penulisan,


kami mohon maaf yang sebesarnya dan sebelumnya kami mengucap
kanterimakasih.

Makassar, 27
april 2015

Penyusun
Daftar isi

Kata Pengantar

Daftar Isi

Bab I Pendahuluan

A. Latar belakang
B. Rumusan Masalah

C. Tujuan

Bab II Isi

A. Pengertian

B. Simpul Pengamatan Informasi

Bab III Penutup

A. Kesimpulan

B. Saran

C. Daftar pustaka
Bab I Pendahuluan

A. Latar belakang
Segala macam organisme yang ada di alam ini selalu menghasilkan
limbah atau bahan buangan. Walaupun sudah disediakan tempat
pembuangan akhir untuk menimbun limbah yang dihasilkan oleh
warga/manusia, namun karena limbah yang dihasilkan terus bertambah
maka tempat pembuangan akhir (TPA) makin meluas. Mengingat akan hal
ini, maka perlu pemikiran lebih lanjut bagaimana mengurangi jumlah
limbah padat dengan memanfaatkan kembali limbah padat tersebut unntuk
kepentingan manusia melalui proses daur ulang, sekaligus sebagai usaha
untuk mengurangi pencemaran (Wardhana, 2000).

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud tempat pembuangan akhir?
2. Apa saja pembagian dari simpul pengamatan informasi?
3. Dampak kesehatan yang ditimbulkan dari simpul tersebut?

C. Tujuan
1. Dapat mengetahui penjabaran tempat pembuangan akhir
2. Dapat mengetahui pembagian dari simpul pengamatan informasi
3. Dapat mengetahui penjabaran simpul informasi kaitannya dengan
tempat pembuangan akhir
Bab II Pembahasan
A. Penjabaran tentang Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
1. Pengertian Sampah

Menurut Kusnoputranto, (2000), sampah adalah sesuatu


bahan/benda padat yang terjadi karena berhubungan dengan aktivitas
manusia yang tak dipakai lagi, tak disenangi dan dibuang dengan cara-
cara saniter kecuali buangan yang berasal dari tubuh manusia.

Sampah bisa didefinisikan sesuatu bahan atau benda padat yang


sudah tidak dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yang sudah
digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang. Para ahli
kesehatan masyarakat membuat batasan, sampah adalah (waste) adalah
sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau
sesuatu yang dibuang, yang berasal dari kegiatan dan tidak terjadi
dengan sendirinya Dengan demikian sampah mengandung prinsip-
prinsip sebagai berikut :
a. Adanya sesuatu benda atau bahan padat
b. Adanya hubungan langsung/tak langsung dengan kegiatan
manusia.
c. Benda atau bahan tersebut tidak dipakai lagi
(Notoatmodjo, 2000).

2. Pengertian tempat tpembuangan Akhir atau TPA


Tempat pemrosesan akhir (TPA) ialah tempat untuk menimbun
sampah dan merupakan bentuk tertua perlakuan sampah.

TPA dapat berbentuk tempat pembuangan dalam (di mana


pembuang sampah membawa sampah di tempat produksi) begitupun
tempat yang digunakan oleh produsen. Dahulu, TPA merupakan cara
paling umum untuk limbah buangan terorganisir dan tetap begitu di
sejumlah tempat di dunia.
Sejumlah dampak negatif dapat ditimbulkan dari keberadaan TPA. Dampak
tersebut bisa beragam: musibah fatal (mis., burung bangkai yang terkubur
di bawah timbunan sampah); kerusakan infrastruktur (mis., kerusakan ke
akses jalan oleh kendaraan berat); pencemaran lingkungan setempat
(seperti pencemaran air tanah oleh kebocoran dan pencemaran tanah sisa
selama pemakaian TPA, begitupun setelah penutupan TPA); pelepasan gas
metana yang disebabkan oleh pembusukan sampah organik (metana adalah
gas rumah kaca yang berkali-kali lebih potensial daripada karbon dioksida,
dan dapat membahayakan penduduk suatu tempat); melindungi pembawa
penyakit seperti tikus dan lalat, khususnya dari TPA yang dioperasikan
secara salah, yang umum di Dunia Ketiga; jejas pada margasatwa; dan
gangguan sederhana (mis., debu, bau busuk, kutu, atau polusi suara).

B.simpul pengamatan Informasi


Konsep ADKL mengacu pada Paradigma Kesehatan Lingkungan, yang
mencakup 4 simpul pengamatan dinamika perubahan komponen
lingkungan yang berpotensi timbulnya dampak kesehatan masyarakat, yaitu
(Ditjend PL, 2002:2-2) ;

A. Simpul 1 (sumbernya)

Pengamatan, pengukuran, dan pengendalian sumber pencemar :


emisi untuk pencemaran udara (mobil, industri, pembangkit listrik
dan lain-lain), sumber penyakit menular (penderita TB, pendrita
DBD, penderita malaria, dll). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
simpul 1 antara lain adalah :

1) Jenis dan volume kegiatan yang dilakukan di lokasi


2) Lamanya kegiatan di lokasi
3) Bahaya fisik yang ada di lokasi
4)Perubahan-perubahan yang dilakukan baik dalam ukuran maupun
bentuk
5)Kegiatan penanggulangan yang direncanakan dan yang telah
dikerjakan.
6) Laporan pelaksanaan pengendalian mutu

B. Simpul 2 (media lingkungan)


Pengamatan, pengukuran, dan pengendalian bila komponen lingkungan
tersebut sudah berada di sekitar manusia seperti konsentrasi parameter
pencemaran di udara, kadar kandungan residu pestisida dalam sayur
mayur, bakteri E coli dalam air minum, dll). Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam simpul 2 antara lain :

1) Riwayat latar belakang

a) Deskripsi lokasi

b) Rona geografik lokal

c) Situasi lokasi dalam kaitannya dengan masyarakat

d) Gambar visual ruang (RUTR, peta topografi, peta udara)

e) Lamanya pencemar telah ada di lokasi

f) Perubahan yang dilakukan, baik dalam ukuran maupun bentuk

g) Kegiatan pembersihan yang direncanakan dan yang telah dikerjakan

2) Kepedulian kesehatan masyarakat


a) Keluhan terhadap lingkungan yang kotor dan tercemar
b) Gangguan kesehatan ringan maupun berat dan tindakan yang
telah dilakukan untuk mengatasinya baik oleh masyarakat maupun
pemerintah
3) Penduduk
a) Demografi (jumlah & sifat penduduk)
b) Sosio-psikologi
4) Penggunaan lahan dan sumber daya alam

a) Akses terhadap lokasi dan akses terhadap media tercemar

b) Daerah industri

c) Daerah pemukiman

d) Daerah rekreasi

e) Daerah produksi makanan

f) Penggunaan air pemrukaan

g) Penggunaan air tanah

h) Sarana pemancingan

5) Pencemaran lingkungan

a) Konsentrasi bahan kimia

b) Inventarisasi B3 (bahan berbahaya & beracun) yang terlepaskan

6) Jalur penyebaran pencemar di lingkungan

a) Topografi

b) Jenis tanah dan lokasi

c) Permukaan tanah penutup

d) Curah hujan tahunan

e) Kondisi suhu
f) Faktor lain : kecepatan angin

g) Komposisi hidrogeologi dan struktur

h) Lokasi badan air permukaan dan penggunaan badan air

c. Simpul 3 (tubuh manusia)

Pengamatan dan pengukuran kadar parameter bahan pencemar di dalam


tubuh manusia (dalam darah, urine, rambut, lemak, jaringan, sputum). Hal-
hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah :

1) Fitrah pemajanan
Fitrah pemajanan perlu dicatat secara detil spesifik untuk menjamin
teramatinya adanya asosiasi dan memungkinkan untuk dilakukan inferensi
aetologik spesifik. Variabel harus spesifik sehingga dapat dipisah-pisahkan
ke dalam tingkat klasifikasi pemajanan.

2) Dosis
Dosis dapat diukur dalam dosis total atau dalam kecepatan pemajanan atau
pemajanan kumulatif. Dosis perlu dinyatakan sehubungan dengan
terjadinya pemajanan pada subyek, apakah dosis ambient dalam interval
waktu pendek atau lama.

3) Waktu
Setiap pemajanan perlu dijelaskan kapan pemajanan itu terjadi dan kama
akhirnya terhenti dan bagaimana pemajanan itu tersebar selama periode itu
(periodik, kontinyu, bervariasi).

4) Dosis representatif dan waktu pemajanan


Dosis representatif umumnya diwakili oleh tiga macam yaitu pemjanan
puncak, pemajanan kumulatif, dan pemajanan rata-rata.

d. Simpul 4 (dampak kesehatan)


Pengamatan, pengukuran, dan pengendalian prealensi penyakit menular dan
tidak menular yang ada pada kelompok masyarakat (keracunan, kanker
paru, kanker kulit, penderita penyakit menular, dll). Data terbaik dampak
kesehatan adalah community base, berdasarkan survai, dapat juga dengan
data sekunder dari Dinas Kesehatan, Rumah sakit ataupun Puskesmas. Data
tersebut berupa : rekam medis, data kesakitan & kematian, pencatatan
kanker dan penyakit lain, statistik kelahiran dan data surveilans.

Potensi bahaya yang ditimbulkan adalah sebagai berikut :

a) Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang
berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur
dengan air minum. Penyakit DBD dapat juga meningkat dengan cepat di
daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai.

Bakteri penyebab tifus (tipes), Salmonella typhi, masuk ke dalam


usus melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dan
kemudian berkembang biak dalam kelenjar getah bening dan
pembuluh darah.Bakteri ini berkaitan, tapi tidak sama dengan bakteri
salmonella yang menyebabkan seseorang keracunan makanan.

Sanitasi Buruk, Penyebab Utama Penularan


Tinja yang mengandung bakteri Salmonella typhi adalah sumber
utama penularan tifus. Tinja ini diproduksi oleh orang yang lebih
dulu telah terinfeksi. Di negara-negara seperti Indonesia, persebaran
bakteri Salmonella typhi sering terjadi melalui konsumsi air yang
terkontaminasi tinja terinfeksi tersebut.
Dampak yang sama terjadi pada makanan yang dicuci dengan air
yang terkontaminasi. Kondisi ini terutama disebabkan buruknya
sanitasi dan akses terhadap air bersih.
Bakteri ini juga dapat menyebar jika orang yang telah terinfeksi
bakteri tidak mencuci tangan sebelum menyentuh atau mengolah
makanan. Penyebaran bakteri terjadi ketika ada orang lain yang
menyantap makanan yang tersentuh si pengidap.

Diare Biasanya dipicu oleh beberapa faktor


Infeksi oleh bakteri, virus (sebagian besar diare pada bayi dan anak
disebabkan oleh infeksi rotavirus) atau parasit.
1. Alergi terhadap makanan atau obat tertentu terutama antibiotik.
2. Infeksi oleh bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain seperti:
Campak, Infeksi telinga, Infeksi tenggorokan, Malaria, dll.
3. Pemanis buatan.
4. Pada bayi saat dikenalkam MPASI seringkali memiliki efeksamping
diare karena perut kaget dengan makanan dan minuman yang baru
dikenal lambungnya.
Diare selain disebabkan oleh beberapa infeksi virus dan juga akibat
dari racun bakteria, juga bisa disebabkan oleh faktor kebersihan
lingkungan tempat tinggal. Lingkungan yang kumuh dan kotor
menjadi tempat berkembang bakteri (E.coli), virus dan parasit (jamur,
cacing, protozoa), dan juga lalat yang turut

Penyakit taun atau kolera (juga disebut Asiatic cholera) adalah penyakit
menular di saluran pencernaan yang disebabkan oleh bakteriumVibrio
cholerae. Bakteri ini biasanya masuk ke dalam tubuh melalui air minum
yang terkontaminasi oleh sanitasi yang tidak benar atau dengan memakan
ikan yang tidak dimasak benar, terutama kerang. Gejalanya termasuk diare,
perut keram, mual, muntah, dan dehidrasi. Kematian biasanya disebabkan
oleh dehidrasi. Kalau dibiarkan tak terawat, maka penderita berisiko
kematian tinggi. Perawatan dapat dilakukan dengan rehidrasi agresif
"regimen", biasanya diberikan secara intravena secara berkelanjutan sampai
diare berhenti.

b) .Penyakit jamur dapat juga menyebar ( misalnya jamur kulit ).

c). Sampah beracun ; Telah dilaporkan bahwa di Jepang kira kira 40.000
orang meninggal akibat mengkonsumsi ikan yang telah terkontaminasi oleh
raksa ( Hg ). Raksa ini berasal dari sampah yang dibuang ke laut oleh
pabrik yang memproduksi baterai dan akumulator.

Dampak bagi lingkungan .

Dampak Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Keberadaan TPA ini


tentunya sangat mempengaruhi lingkungan disekitar TPA tersebut.
Dampak tersebut ada yang negatif dan ada juga yang positif .
1. Sampah sebagai bahan pencemar lingkungan

Sampah yang tidak dikelola dengan baik akan menjadi penyebab


gangguan dan ketidak seimbangan lingkungan. Sampah padat yang
menumpuk ataupun yang berserakan menimbulkan kesan kotor dan
kumuh. Sehingga nilai estetika pemukiman dan kawasan di sekitar
sampah terlihat sangat rendah. Bila di musim hujan, sampah padat dapat
memicu banjir; maka di saat kemarau sampah akan mudah terbakar.
Kebakaran sampah, selain menyebabkan pencemaran udara juga menjadi
ancaman bagi pemukiman.

a. Pencemaran udara

Sampah (organik dan padat) yang membusuk umumnya


mengeluarkan gas seperti methan (CH4) dan karbon dioksida
(CO2) serta senyawa lainnya. Secara global, gas-gas ini merupakan
salah satu penyebab menurunnya kualitas lingkungan (udara)
karena mempunyai efek rumah kaca (green house effect) yang
menyebabkan peningkatan suhu, dan menyebabkan hujan asam.
Sedangkan secara lokal, senyawa-senyawa ini, selain berbau tidak
sedap / bau busuk, juga dapat mengganggu kesehatan manusia.
Sampah yang dibuang di TPA pun masih tetap berisiko; karena
bila TPA ditutup atau ditimbun terutama dengan bangunan akan
mengakibatkan gas methan tidak dapat keluar ke udara. Gas
methan yang terkurung, lama kelamaan akan semakin banyak
sehingga berpotensi menimbulkan ledakan. Hal seperti ini telah
terjadi di sebuah TPA di Bandung, sehingga menimbulkan korban
kematian.

b. Pencemaran air
Proses pencucian sampah padat oleh air terutama oleh air hujan
merupakan sumber timbulnya pencemaran air, baik air permukaan
maupun air tanah. Akibatnya, berbagai sumber air yang digunakan
untuk kebutuhan sehari-hari (sumur) di daerah pemukiman telah
terkontaminasi yang mengakibatkan terjadinya penurunan tingkat
kesehatan manusia / penduduk. Pencemaran air tidak hanya akibat
proses pencucian sampah padat, tetapi pencemar terbesar justru
berasal dari limbah cair yang masih mengandung zat-zat kimia dari
berbagai jenis pabrik dan jenis industri lainnya. Air yang tercemar
tidak hanya air permukaan saja, tetapi juga air tanah; sehingga
sangat mengganggu dan berbahaya bagi manusia.

c. Penyebab banjir
Fisik sampah (sampah padat), baik yang masih segar maupun yang
sudah membusuk; yang terbawa masuk ke got / selokan dan sungai
akan menghambat aliran air dan memperdangkal sungai.
Pendangkalan mengakibatkan kapasitas sungai akan berkurang,
sehingga air menjadi tergenang dan meluap menyebabkan banjir.
Banjir tentunya akan mengakibatkan kerugian secara fisik dan
mengancam kehidupan manusia (hanyut / tergenang air). Tetapi
yang paling meresahkan adalah akibat lanjutan dari banjir yang
selalu membawa penyakit ( Tobing, 2005).

2. Sampah sebagai sumber penyakit

Sampah merupakan sumber penyakit, baik secara langsung


maupun tak langsung. Secara langsung sampah merupakan tempat
berkembangnya berbagai parasit, bakteri dan patogen; sedangkan
secara tak langsung sampah merupakan sarang berbagai vektor
(pembawa penyakit) seperti tikus, kecoa, lalat dan nyamuk.
Sampah yang membusuk; maupun kaleng, botol, plastik;
merupakan sarang patogen dan vektor penyakit. Berbagai penyakit
yang dapat muncul karena sampah yang tidak dikelola antara lain
adalah, diare, disentri, cacingan, malaria, kaki gajah (elephantiasis)
dan demam berdarah. Penyakit penyakit ini merupakan ancaman
bagi manusia, yang dapat menimbulkan kematian. Warga Air
Sebakul lokasi TPA menyatakan resah dengan makin banyaknya
lalat didekat pemukiman warga akibat dekatnya lokasi dengan
pemukiman warga.
(http://www.bengkuluonline.com/j0/index.php/beritabengkulu/22
88-kota-bengkulu-hasilkan-sampah-875-kubik-per-
hari,diakses tanggal 19 Maret 2014).
Konsepsi Pengelolaan TPA sampah Kota Bengkulu yang
Berkelanjutan
Dalam rangka mengurangi terjadinya dampak potensial yang mungkin
terjadi selama kegiatan pembuangan akhir berlangsung diperlukan
pengamanan lingkungan TPA (dampak potensial dapat dilihat pada
tabel
1). Upaya tersebut meliputi :
Penentuan lokasi TPA yang memenuhi syarat (SNI No. 03-
3241-1997 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi TPA).
Pembangunan fasilitas TPA yang memadai, pengoperasian
TPA sesuai dengan persyaratan dan reklamasi lahan bekas
TPA sesuai dengan peruntukan lahan dan tata ruang .
Monitoring pasca operasi terhadap bekas lahan TPA.
Selain itu perlu juga dilakukan perbaikan manajemen
pengelolaan TPA secara lebih memadai terutama ketersediaan
SDM yang handal serta ketersediaan biaya operasi dan
pemeliharaan TPA. Menurut Tobing (2005) Pengelolaan
sampah, tidak harus dilakukan dengan memperbanyak tempat
pembuangan sampah, tetapi akan lebih efektif dengan
memanfaatkannya kembali. Sampah an-organik telah banyak
dimanfaatkan dengan mendaur ulang dan memanfaatkannya
kembali, dan sampah organik juga sangat potensial untuk
diolah dan dimanfaatkan kembali.

Bab III Penutup

A. Kesimpulan

B. Saran

Daftar pustaka
http://id.wikipedia.org/wiki/Tempat_pembuangan_akhir
http://id.wikipedia.org/wiki/Kolera
http://www.alodokter.com/tifus/penyebab
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3371/1/penydalam-
umar5.pdf