Anda di halaman 1dari 29

Case Report Session

NASKAH PSIKIATRI
SKIZOAFEKTIF TIPE DEPRESI

Oleh:

Okta Rahmanda P 2128 A

Annisa Apriliana P 2133 A

Pembimbing:

dr. Yaslinda Yaunin, Sp.KJ

BAGIAN PSIKIATRI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

RSUP DR. M. DJAMIL PADANG

2017

1
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Skizoafektif merupakan gangguan jiwa dimana penderita mempunyai gejala yang

merupakan kombinasi gejala skizofrenia dengan gangguan afektif. Istilah skizofrenia berasal

dari kata schizos yang artinya pecah belah dan pharen yang berarti jiwa. Skizofrenia

menjelaskan mengenai suatu gangguan jiwa dimana penderita mengalami perpecahan jiwa

adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir, perasaan, dan perbuatan. Sedangkan

gangguan afektif adalah gangguan dengan gejala utama adanya perubahan suasana perasaan

(mood) atau afek, biasanya ke arah depresi (Kaplan, 2010).

Penyebab gangguan skizoafektif tidak diketahui, tetapi empat model konseptual telah

dikembangkan. Gangguan dapat berupa tipe skizofrenia atau tipe gangguan mood. Gangguan

skizoafektif mungkin merupakan tipe psikosis ketiga yang berbeda, yang bukan merupakan

gangguan skizofrenia maupun gangguan mood. Keempat dan yang paling mungkin, bahwa

gangguan skizoafektif adalah kelompok heterogen gangguan yang menetap ketiga

kemungkinan pertama (Kaplan, 2010).

Pada gangguan skizoafektif gejala klinis berupa gangguan episodik gejala gangguan

mood maupun gejala skizofreniknya menonjol dalam episode penyakit yang sama, baik

secara simultan atau secara bergantian dalam beberapa hari. Bila gejala skizofrenik dan

manik menonjol pada episode penyakit yang sama, gangguan disebut gangguan skizoafektif

tipe manik. Sedangkan pada gangguan skizoafektif tipe depresif, gejala depresif yang

menonjol. Gejala yang khas pada pasien skizofrenik berupa waham, halusinasi, perubahan

dalam berpikir, perubahan dalam persepsi disertai dengan gejala gangguan suasana perasaan

baik itu manik maupun depresif (Kaplan, 2010).

1
Kriteria diagnostik gangguan skizoafektif berdasarkan DSM-IV-TR, merupakan suatu

produk beberapa revisi yang mencoba mengklarifikasi beberapa diagnosis, dan untuk

memastikan bahwa diagnosis memenuhi kriteria baik episode manik maupun depresif dan

menentukan lama setiap episode secara tepat (Kaplan, 2010). Pada setiap diagnosis banding

gangguan psikotik, pemeriksaan medis lengkap harus dilakukan untuk menyingkirkan

penyebab organik. semua kondisi yang dituliskan di dalam diagnosis banding skizofrenia dan

gangguan mood perlu dipertimbangkan. Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan

skizoafektif mempunyai prognosis di pertengahan antara prognosis pasien dengan skizofrenia

dan prognosis pasien dengan gangguan mood. Sebagai suatu kelompok, pasien dengan

gangguan skizoafektif memiliki prognosis yang lebih buruk daripada pasien dengan

gangguan depresif maupun gangguan bipolar, tetapi memiliki prognosis yang lebih baik

daripada pasien dengan skizofrenia (Kaplan, 2010).

2
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2. Gangguan Skizoafektif

2.1. Definisi

Gangguan Skizoafektif mempunyai gambaran baik skizofrenia maupun gangguan

afektif. Gangguan skizoafektif memiliki gejala khas skizofrenia yang jelas dan pada saat

bersamaan juga memiliki gejala gangguan afektif yang menonjol.

2.2 Epidemiologi

Prevalensi seumur hidup dari gangguan skizoafektif adalah kurang dari 1 persen,

kemungkinan dalam rentang 0,5 sampai 0,8 persen. Namun, angka tersebut adalah angka

perkiraan, karena di dalam praktik klinis diagnosis gangguan skizoafektif sering kali

digunakan jika klinisi tidak yakin akan diagnosis. Prevalensi gangguan telah dilaporkan lebih

rendah pada laki-laki dibandingkan para wanita; khususnya wanita yang menikah; usia onset

untuk wanita adalah lebih lanjut daripada usia untuk laki-laki seperti juga pada skizofrenia.

Laki-laki dengan gangguan skizoafektif kemungkinan menunjukkan perilaku antisosial dan

memiliki pendataran atau ketidaksesuaian afek yang nyata.

2.3 Etiologi

Sulit untuk menentukan penyebab penyakit yang telah berubah begitu banyak dari

waktu ke waktu. Dugaan saat ini bahwa penyebab gangguan skizoafektif mungkin mirip

dengan etiologi skizofrenia. Oleh karena itu teori etiologi mengenai gangguan skizoafektif

juga mencakup kausa genetik dan lingkungan.

Penyebab gangguan skizoafektif adalah tidak diketahui, tetapi empat model

konseptual telah diajukan.

3
1. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe skizofrenia atau suatu

tipe gangguan mood.

2. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan ekspresi bersama-sama dari

skizofrenia dan gangguan mood.

3. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe psikosis ketiga yang

berbeda, tipe yang tidak berhubungan dengan skizofrenia maupun suatu

gangguan mood.

4. Kemungkinan terbesar adalah bahwa gangguan skizoafektif adalah kelompok

gangguan yang heterogen yang meliputi semua tiga kemungkinan pertama.

Sebagian besar penelitian telah menganggap pasien dengan gangguan

skizoafektif sebagai suatu kelompok heterogen (Kaplan, 2010).

2.4 Manifestasi Klinis

Pada gangguan Skizoafektif gejala klinis berupa gangguan episodik gejala gangguan

mood maupun gejala skizofreniknya menonjol dalam episode penyakit yang sama, baik

secara simultan atau secara bergantian dalam beberapa hari. Bila gejala skizofrenik dan

manik menonjol pada episode penyakit yang sama, gangguan disebut gangguan skizoafektif

tipe manik. Pada gangguan skizoafektif tipe depresif, gejala depresif yang menonjol.

Gejala yang khas pada pasien skizofrenik berupa waham, halusinasi, perubahan dalam

berpikir, perubahan dalam persepsi disertai dengan gejala gangguan suasana perasaan baik itu

manik maupun depresif.

Gejala klinis berdasarkan pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa

(PPDGJ-III) harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua

gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):

a) thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam

kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun

4
kualitasnya berbeda ; atau thought insertion or withdrawal = isi yang asing

dan luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil

keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan thought

broadcasting= isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum

mengetahuinya;

b) delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu

kekuatan tertentu dari luar; atau delusion of passivitiy = waham tentang

dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang

dirinya = secara jelas merujuk kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke

pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus). delusional perception =

pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi

dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat.

c) Halusinasi Auditorik: Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus

terhadap perilaku pasien, atau mendiskusikan perihal pasien pasein di antara

mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau jenis suara

halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.

d) Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat

dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan

agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia

biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan

mahluk asing dan dunia lain).

e) Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh

waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan

afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas)

5
yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau

berbulan-bulan terus menerus.

f) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan

(interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak

relevan, atau neologisme.

g) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh

tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor.

h) Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan

respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang

mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja

sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh

depresi atau medikasi neuroleptika.

Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu

bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik (prodromal). Harus ada suatu

perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dan

beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat,

hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed

attitude) dan penarikan diri secara sosial.

2.5 Diagnosis

Konsep gangguan skizoafektif melibatkan konsep diagnostik baik skizofrenia maupun

gangguan mood, beberapa evolusi dalam kriteria diagnostik untuk gangguan skizoafektif

mencerminkan perubahan yang telah terjadi di dalam kriteria diagnostik untuk kedua kondisi

lain.

Kriteria diagnostik utama untuk gangguan skizoafektif (Tabel 1) adalah bahwa pasien

telah memenuhi kriteria diagnostik untuk episode depresif berat atau episode manik yang

6
bersama-sama dengan ditemukannya kriteria diagnostik untuk fase aktif dari skizofrenia.

Disamping itu, pasien harus memiliki waham atau halusinasi selama sekurangnya dua

minggu tanpa adanya gejala gangguan mood yang menonjol. Gejala gangguan mood juga

harus ditemukan untuk sebagian besar periode psikotik aktif dan residual. Pada intinya,

kriteria dituliskan untuk membantu klinisi menghindari mendiagnosis suatu gangguan mood

dengan ciri psikotik sebagai suatu gangguan skizoafektif.

Tabel 1. Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Skizoafektif (DSM-IV)

Kriteria Diagnostik Untuk Gangguan Skizoafektif

A. Suatu periode penyakit yang tidak terputus selama mana, pada suatu waktu.

Terdapat baik episode depresif berat, episode manik, atau suatu episode
campuran dengan

gejala yang memenuhi kriteria A untuk skizofrenia.

Catatan: Episode depresif berat harus termasuk kriteria A1: mood terdepresi.

B. Selama periode penyakit yang sama, terdapat waham atau halusinasi selama

sekurangnya 2 minggu tanpa adanya gejala mood yang menonjol.

C. Gejala yang memenuhi kriteria untuk episode mood ditemukan untuk sebagian

bermakna dari lama total periode aktif dan residual dari penyakit.

D. Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat

yang disalahgunakan, suatu medikasi) atau suatu kondisi medis umum.

Sebutkan tipe:

Tipe bipolar: jika gangguan termasuk suatu episode manik atau campuran (atau
suatu manik

suatu episode campuran dan episode depresif berat)

Tipe depresif: jika gangguan hanya termasuk episode depresif berat.

Tabel dari DSM-IV, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. Ed. 4.

7
DSM-IV juga membantu klinisi untuk menentukan apakah pasien menderita

gangguan skizoafektif, tipe bipolar, atau gangguan skizoafektif, tipe depresif. Seorang pasien

diklasifikasikan menderita tipe bipolar jika episode yang ada adalah dari tipe manik atau

suatu episode campuran dan episode depresif berat. Selain itu, pasien diklasifikasikan

menderita tipe depresif.

Pada PPDGJ-III, gangguan skizoafektif diberikan kategori yang terpisah karena cukup

sering dijumpai sehingga tidak dapat diabaikan begitu saja. Kondisi-kondisi lain dengan

gejala-gejala afektif saling bertumpang tindih dengan atau membentuk sebagian penyakit

skizofrenik yang sudah ada, atau di mana gejala-gejala itu berada bersama-sama atau secara

bergantian dengan gangguan-gangguan waham menetap jenis lain, diklasifikasikan dalam

kategori yang sesuai dalam F20-F29. Waham atau halusinasi yang tak serasi dengan suasana

perasaan (mood) pada gangguan afektif tidak dengan sendirinya menyokong diagnosis

gangguan skizoafektif.

Tabel 2. Pedoman Diagnostik Gangguan Skizoafektif berdasarkan PPDGJ-III

Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala


definitif adanya skizofrenia dan gangguan skizofrenia dan gangguan
afektif sama-sama menonjol pada saat yang bersamaan (simultaneously),
atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang lain, dalam satu episode
penyakit yang sama, dan bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode
penyakit tidak memenuhi kriteria baik skizofrenia maupun episode manik
atau depresif.
Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia
dan gangguan afektif tetapi dalam episode penyaki yang berbeda.
Bila seorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah
mengalami suatu episode psikotik, diberi kode diagnosis F20.4 (Depresi
Pasca-skizofrenia). Beberapa pasien dapat mengalami episode skizoafektif
berulang, baik berjenis manik (F25.0) maupun depresif (F25.1) atau
campuran dari keduanya (F25.2). Pasien lain mengalami satu atau dua

8
episode manik atau depresif (F30-F33)

2.6 Perjalanan Penyakit dan Prognosis

Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan skizoafektif mempunyai prognosis

di pertengahan antara prognosis pasien dengan skizofrenia dan prognosis pasien dengan

gangguan mood. Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan skizoafektif memiliki

prognosis yang jauh lebih buruk daripada pasien dengan gangguan depresif, memiliki

prognosis yang lebih buruk daripada pasien dengan gangguan bipolar, dan memiliki

prognosis yang lebih baik daripada pasien dengan skizofrenia. Generalitas tersebut telah

didukung oleh beberapa penelitian yang mengikuti pasien selama dua sampai lima tahun

setelah episode yang ditunjuk dan yang menilai fungsi sosial dan pekerjaan, dan juga

perjalanan gangguan itu sendiri.

Data menyatakan bahwa pasien dengan gangguan skizoafketif, tipe bipolar,

mempunyai prognosis yang mirip dengan prognosis pasien dengan gangguan bipolar I dan

bahwa pasien dengan premorbid yang buruk; onset yang perlahan-lahan; tidak ada faktor

pencetus; menonjolnya gejala pskotik, khususnya gejala defisit atau gejala negatif; onset yang

awal; perjalanan yang tidak mengalami remisi; dan riwayat keluarga adanya skizofrenia.

Lawan dari masing-masing karakeristik tersebut mengarah pada hasil akhir yang baik.

Adanya atau tidak adanya gejala urutan pertama dari Schneider tampaknya tidak meramalkan

perjalanan penyakit.

Walaupun tampaknya tidak terdapat perbedaan yang berhubungan dengan jenis

kelamin pada hasil akhir gangguan skizoafektif, beberapa data menyatakan bahwa perilaku

bunuh diri mungkin lebih sering pada wanita dengan gangguan skizoafektif daripada laki-laki

dengan gangguan tersebut. Insidensi bunuh diri di antara pasien dengan gangguan

skizoafektif diperkirakan sekurangnya 10 persen.

9
2.7 Terapi

Modalitas terapi yang utama untuk gangguan skizoafektif adalah perawatan di rumah

sakit, medikasi, dan intervensi psikososial. Prinsip dasar yang mendasari farmakoterapi untuk

gangguan skizoafektif adalah bahwa protokol antidepresan dan antimanik diikuti jika

semuanya diindikasikan dan bahwa antipsikotik digunakan hanya jika diperlukan untuk

pengendalian jangka pendek. Jika protokol thymoleptic tidak efektif di dalam mengendalikan

gejala atas dasar berkelanjutan, medikasi antipsikotik dapat diindikasikan. Pasien dengan

gangguan skizoafektif, tipe bipolar, harus mendapatkan percobaan lithium, carbamazepine

(Tegretol), valproate (Depakene), atau suatu kombinasi obat-obat tersebut jika satu obat saja

tidak efektif. Pasien dengan gangguan skizoafektif, tipe depresif, harus diberikan percobaan

antidepresan dan terapi elektrokonvulsif (ECT) sebelum mereka diputuskan tidak responsif

terhadap terapi antidepresan.

10
BAB 3

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN

Nama / Panggilan : Ny. FA / Febrianti


Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 35 tahun
Agama : Islam
Suku : Minang
Pendidikan Terakhir : SMA
Pekerjaan : ibu rumah tangga
Status Pernikahan : Sudah menikah
Alamat : Koto Panjang, Tanjung Harapan Kota Solok

II. RIWAYAT PSIKIATRI

Keterangan / anamnesis di bawah ini diperoleh dari (lingkari angka di bawah ini)

1. Autoanamnesis
2. Alloanamnesis dengan : Anak Pasien (Tn. A)

Pasien datang atas keinginan (lingkari pada huruf yang sesuai)


a. Sendiri
b. Keluarga
c. Polisi
d. Jaksa / Hakim
e. Dan lain-lain :

A. Sebab Utama
Pasien datang ke IGD RSJ HB Saanin Padang diantar oleh keluarga pasien karena
merusak peralatan rumah tangga pada tanggal 3 Juni 2017.

B. Keluhan Utama
Pasien gelisah sejak satu bulan yang lalu dan merusak peralatan rumah tangga.

11
C. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien dibawa oleh keluarga ke IGD RSJ HB Saanin Padang karena gelisah dan merusak
peralatan rumah tangga sejak dua minggu sebelumnya. Pada awalnya Pasien sering
mendengar suara-suara yang mengancam membunuh anaknya, dan menyuruh dirinya
untuk bunuh diri karena dirinya tidak berguna. Pasien juga melihat bayangan hitam tinggi
besar yang merupakan sumber suara tersebut. Pasien juga merasa ditarik dan dicengkram
oleh bayangan tersebut. Pasien sudah merasakan hal ini sejak satu tahun yang lalu
sepulang dari Bengkulu. Suara-suara tersebut semakin sering terdengar hingga pasien
sering marah dan mengamuk. Pasien juga merasa takut sehingga sering menangis dan
kurang tidur karena terganggu oleh suara-suara tersebut. Kemudian pasien dilarikan ke
IGD RSJ HB Saanin padang dan mendapat pertolongan pertama lalu sudah dirawat
selama dua minggu di bangsal melati RSJ HB Saanin Padang.
D. Riwayat Penyakit Dahulu
1. Riwayat Gangguan Psikiatri
Pasien sudah menikah dan memiliki 3 orang anak. Pasien memiliki banyak masalah di
rumah tangganya, lalu bercerai dengan suaminya. Kemudian anak sulungnya tinggal
bersamanya di rumah hingga sekarang sedangkan anaknya yang kedua dan ketiga
tinggal bersama suaminya di rumah mertuanya. Pasien merasa sedih karena anaknya
tidak mau tinggal bersamanya. Pasien merasa kurang diberi kasih sayang oleh
anaknya. Pasien jadi merasa tidak berguna dan sedih hingga mengurung diri kamar.
Tidak lama kemudian pasien mulai mengamuk dan ada ide untuk bunuh diri dengan
minum baygon. Lalu akhirnya pasien dibawa ke RS Puti Bungsu pada tahun 2009 dan
dirawat. Setelah itu pulang dan minum obat dengan rutin.
Pasien hanya tinggal berdua dengan anak sulungnya di rumah. Anak pasien
bersekolah dan tidak bisa menemani ibunya setiap saat di rumah. Karena itu pasien
merasa dirinya tidak disayangi dan tidak diperhatikan oleh anaknya. Pasien merasa
anaknya tidak mau mengakuinya sebagai ibunya karena anaknya merasa malu
mempunyai ibu yang memiliki gangguan jiwa. Pada tahun 2012 pasien mencoba
untuk membakar diri di rumahnya, kemudian dirawat di RS Puti Bungsu dan kembali
minum obat dan rawat jalan dengan teratur.
2. Riwayat Gangguan Medis
Pasien memiliki riwayat luka bakar dan intoksikasi organofosfat. Tidak ada riwayat
trauma kepala, DM, hipertensi, jantung.

12
3. Riwayat Penggunaan NAPZA
Pasien tidak memiliki riwayat penggunaan alkohol, rokok, zat psikotropika, dan zat
adiktif lainnya.
E. Riwayat Keluarga
a) Identitas Orang tua
Identitas Orang Tua / Pengganti Keterangan
Bapak Ibu
Kewarganegaraan Indonesia Indonesia
Suku Bangsa Minang Minang
Agama Islam Islam
Pendidikan
Pekerjaan
Umur
Alamat
Hubungan pasien* Akrab Akrab
Biasa Biasa
Kurang Kurang
Tak peduli Tak peduli
Dan lain-lain - -
Ket: * coret yang tidak perlu

b) Sifat / Perilaku Orang Tua Kandung


1. Bapak (Dijelaskan oleh pasien dapat dipercaya / diragukan)
**Pemalas (-), Pendiam (-), Pemarah (+), Mudah tersinggung (-), Tak suka
bergaul (-), Banyak teman (+), Pemalu (-), Perokok berat (+), Penjudi (-),
Peminum (-), Pencemas (-), Penyedih (-), Perfeksionis (-), Dramatisasi (-),
Pencuriga (-), Pencemburu (-), Egois (-), Penakut (-), Tidak bertanggung jawab (-
).
2. Ibu (Dijelaskan oleh pasien dapat dipercaya / diragukan)
**Pemalas (-), Pendiam (-), Pemarah (-), Mudah tersinggung (-), Tak suka bergaul
(-), Banyak teman (+), Pemalu (-), Perokok berat (-), Penjudi (-), Peminum (-),
Pencemas (-), Penyedih (-), Perfeksionis (-), Dramatisasi (-), Pencuriga (-),
Pencemburu (-), Egois (-), Penakut (-), Tidak bertanggung jawab (-).

Ket: ** diisi dengan tanda (+) atau (-)


c) Saudara
Jumlah bersaudara 6 orang dan pasien anak ke 3

13
d) Urutan bersaudara dan cantumkan usianya dalam tanda kurung untuk pasien sendiri
lingkari nomornya
e) Gambaran sikap / perilaku masing-masing saudara pasien dan hubungan pasien
dengan terhadap masing-masing saudara tersebut, hal yang dinyatakan serupa dengan
yang dinyatakan pada gambaran sikap/perilaku pada orang tua*
Saudara Gambaran sikap dan perilaku Kualitas hubungan dengan saudara
Ke- (akrab/biasa/kurang/tidak peduli)
1
3.

f) Orang lain yang tinggal di rumah pasien dengan gambaran sikap dan tingkah laku dan
bagaimana pasien dengan mereka.*
No. Hubungan dengan Gambaran sikap dan Kualitas hubungan
Pasien tingkah laku (akrab/biasa/kurang/tidak
(peduli)
1.
2.
3.
Ket:
Untuk e) dan f) hanya diisi bila informan benar-benar mengetahuinya.
g) Apakah ada riwayat penyakit jiwa, kebiasaan-kebiasaan dan penyakit fisik (yang ada
kaitannya dengan gangguan jiwa) pada anggota keluarga o.s:
Anggota Keluarga Penyakit Jiwa Kebiasaan- Penyakit Fisik
kebiasaan
Bapak - - -
Ibu - - -
Saudara 1 - - -
Saudara 3 - - -

Skema Pedigree

14
h) Riwayat tempat tinggal yang pernah didiami pasien
No Rumah Tempat Tinggal Keadaan Rumah
1. Rumah sendiri Nyaman
i) Dan lain-lain.

F. Gambaran seluruh faktor-faktor dan mental yang bersangkut paut dengan


perkembangan kejiwaan pasien selama masa sebelum sakit (premorbid) yang
meliputi:
a) Riwayat sewaktu dalam kandungan dan dilahirkan.
- Keadaan ibu sewaktu hamil (sebutkan penyakit-penyakit fisik dan atau kondisi-
kondisi mental yang diderita si ibu)
o Kesehatan fisik : baik
o Kesehatan mental : baik
- Keadaan melahirkan
o Aterm (+), Partus spontan (+)
o Pasien adalah anak yang direncanakan/diinginkan (Ya / Tidak)
b) Riwayat masa bayi dan kanak-kanak
- Pertumbuhan Fisik : baik, biasa, kurang*
- Minum ASI : (+) sampai usia 6 bulan
- Usia mulai bicara : 1 tahun
- Usia mulai jalan : 2 tahun
- **Sukar makan (-), anoreksia nervosa (-), bulimia (-), pika (-), gangguan
hubungan ibu-anak (-), pola tidur baik (+), cemas terhadap orang asing sesuai
umum (-), cemas perpisahan (-), dan lain-lain...
c) Simptom-simptom sehubungan dengan problem perilaku yang dijumpai pada masa
kanak-kanak, misalnya: **mengisap jari (-), ngompol (-), BAB di tempat tidur (-),
night terror (-), temper tantrum (-), gagap (-), tik (-), masturbasi (-), mutisme selektif
(-), dan lain.lain.
d) Toilet training
Umur : 3 tahun
Sikap orang tua* : memaksa / menghargai / membiarkan / memberikan arahan
Perasaan anak untuk toilet training ini : biasa
e) Kesehatan fisik masa kanak-kanak : **demam tinggi disertai mengigau (-), kejang-
kejang (-), demam berlangsung lama (-), trauma kapitis disertai hilangnya kesadaran
(-), dan lain-lain.
f) Tempramen sewaktu kanak-kanak : **pemalu (+), gelisah (-), overaktif (-), menarik
diri (-), suka bergaul (-), suka berolahraga (-), dan lain-lain.

15
g) Masa sekolah

Perihal SD SMP SMA PT


Umur 7-12 th 12-15 th 15-17 th -
Prestasi* Baik Baik Baik Baik
Sedang Sedang Sedang Sedang
Kurang Kurang Kurang Kurang
Aktifitas Sekolah* Baik Baik Baik Baik
Sedang Sedang Sedang Sedang
Kurang Kurang Kurang Kurang
Sikap Terhadap Teman * Baik Baik Baik Baik
Kurang Kurang Kurang Kurang
Sikap Terhadap Guru Baik Baik Baik Baik
Kurang Kurang Kurang Kurang
Kemampuan Khusus ( - ) ( - ( - ) ()
(Bakat) )
Tingkah Laku (baik ) (baik ) (baik ) ( baik )

h) Masa remaja: **Fobia (-), Masturbasi (-), ngompol (-), lari dari rumah (-), kenakalan
remaja (-), perokok berat (-), penggunaan obat terlarang (-), peminum minuman keras
(-), problem berat badan (-), anoreksia nervosa (-), bulimia (-), perasaan depresi (-),
rasa rendah diri (-), cemas (-), gangguan tidur (-), sering sakit kepala (-), dan lain-lain.
i) Riwayat pekerjaan
Usia mulai bekerja - , kepuasan kerja (-), pindah-pindah kerja (-) pekerjaan di kantor.
Konflik dalam pekerjaan (-), konfik dengan atasan (-), konflik dengan bawahan (-),
konflik dengan kelompok (-).
Keadaan ekonomi: *baik, sedang, kurang (menurut pasien)
j) Percintaan, perkawinan, kehidupan seksual dan rumah tangga
- Mimpi basah (sudah / belum)
- Awal pengetahuan tentang seks
- Hubungan seks sebelum menikah (-)
- Riwayat pelecehan seksual (-)
- Orientasi seksual (normal)
k) Situasi sosial saat ini:
- Tempat tinggal : Rumah sendiri (-), rumah kontrak (-), rumah susun (-), apartemen
(-), rumah orang tua (+), serumah dengan mertua (-), di asrama (-), dan lain-lain.
- Polusi lingkungan: Bising (-), kotor (-), bau (-), ramai (-), dan lain-lain.

l) Ciri kepribadian sebelumnya / gangguan kepribadian (untuk aksis II)


Keterangan : Beri tanda (+) atau (-)
Kepribadian Gambaran Klinis
Skizoid Emosi dingin (-), tidak acuh pada orang lain (+), perasaan
hangat atau lembut pada orang lain (-), peduli terhadap pujian
maupun kecaman (-), kurang teman (+), pemalu (-), sering
melamun (+), kurang tertarik untuk mengalami pengalaman
seksual (-), suka aktivitas yang dilakukan sendiri (+)

16
Paranoid Merasa akan ditipu atau dirugikan (+), kewaspadaan
berlebihan (+), sikap berjaga-jaga atau menutup-nutupi (-), tidak
mau menerima kritik (-), meragukan kesetiaan orang lain (+),
secara intensif mencari-cari kesalahan dan bukti tentang
prasangkanya (-), perhatian yang berlebihan terhadap motif-
motif yang tersembunyi (-), cemburu patologik (-),
hipersensitifitas (-), keterbatasan kehidupan afektif (-)
Skizotipial Pikiran gaib (-), ideas of reference (-). Isolasi sosial (-), ilusi
berulang (-), pembicaraan yang ganjil (+), bila bertatap muka
dengan orang lain tampak dingin atau tak acuh (-)
Siklotimik Ambisi berlebihan (-), optimis berlebihan (-), aktivitas seksual
berlebihan tanpa menghiraukan akibat yang merugikan (-),
melibatkan dirinya secara berlebihan dalam aktivitas yang
menyenangkan tanpa menghiraukan kemungkinan yang
merugikan dirinya (-), melucu berlebihan (-), kurangnya
kebutuhan tidur (-), pesimis (-), putus asa (+), insomnia (-),
hipersomnia (-), kurang bersemangat (+), rasa rendah diri (+),
penurunan aktivitas (+), mudah merasa sedih dan menangis
(+) dan lain-lain
Histrionik Dramatisasi (-), selalu berusaha menarik perhatian bagi dirinya(-),
mendambakan rangsangan aktivitas yang menggairahkan (-),
bereaksi berlebihan terhadap hal-hal yang sepele (-), egosentris (-
), suka menuntut (-), dependen (-), dan lain-lain
Narsisistik Merasa bangga berlebihan terhadap kehebatan dirinya (-),
preokupasi dengan fantasi tentang sukses, kekuasaan, dan
kecantikan (-), ekshibisionisme (-), membutuhkan perhatian dan
pujian yang terus menerus (-) hubungan interpersonal yang
eksploitatif (-), merasa marah, malu, terhina, dan rendah diri bila
dikritik (-), dan lain-lain
Dissosial Tidak peduli dengan perasaan orang lain (-), sikap yang amat
tidak bertanggung jawab dan berlangsung terus menerus (-), tidak
mampu mengalami rasa bersalah dan menarik manfaat dari
pengalaman (-), tidak peduli pada norma-norma, peraturan dan
kewajiban seseorang (-), tidak mampu memelihara suatu
hubungan agar berlangsung lama (-), iritabilitas (-), agresivitas (-),
impulsif (-), sering berbohong (-), sangat cenderung menyalahkan
orang lain atau menawarkan rasionalisasi yang masuk akal untuk
perlaku yang membuat pasien konfil dengan masyarakat (-)
Ambang Pola hubungan interpersonal yang mendalam dan tidak stabil (-),
kurangnya pengendalian terhadap kemarahan (-), gangguan
identitas (-), afek yang tidak mantap (-), tidak tahan untuk berada
sendirian (-), tindakan mencederai diri sendiri (-), rasa bosan
kronik (-), dan lain-lain
Menghindar Perasaan tegang dan takut yang pervasif (-), merasa dirinya tidak
mampu (-), tidak menarik atau lebih rendah dari orang lain (-),
keengganan untuk terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin
disukai (-), preokupasi yang berlebihan terhadap kritik dan
penolakan dalam situasi sosial (-), menghindari aktivitas sosial
atau pekerjaan yang banyak melibatkan kontak interpersonal
karena takut dikritik, tidak didukung, atau ditolak (-)

17
Anankastik Perasaan ragu-ragu yang hati-hati dan berlebihan (-), preokupasi
pada hal-hal yang rinci (details), peraturan daftar, urutan,
organisasi dan jadwal (-), perfeksionisme (-), ketelitian yang
berlebihan (-), kaku dan keras kepala (-), pengabdian yang
berlebihan terhadap pekerjaan sehingga menyampingkan
kesenangan dan nilai-nilai hubungan interpersonal (-), pemaksaan
yang berlebihan agar orang lain mengikuti persis caranya
melakukan sesuatu (-), keterpakuan yang berlebihan pada
kebiasaan sosial (-), dan lain-lain
Dependen Mengalami kesulitan untuk membuat keputusan sehari-hari tanpa
nasehat dan masukan dari orang lain (-), membutuhkan orang lain
untuk mengambil tanggung jawab pada banyak hal dalam
hidupnya (-), perasaan tidak enak atau tidak berdaya apabila
sendirian, karena ketakutan yang dibesar-besarkan tentang
ketidakmampuan mengurus diri sendiri (-), takut ditinggalkan
oleh orang yang dekat dengannya (-)

m) Stressor psikososial (Axis IV)


Persoalan dengan lingkungan kerja (-), keluarga (+), dan tetangga (+)
n) Pernah suicide (+) kemungkinan sebab suicide karena merasa tidak bisa mengurus
anak.
o) Riwayat pelanggaran hukum (-)
p) Riwayat agama
Pasien beragama Islam
q) Persepsi dan harapan keluarga
Tidak diketahui.
r) Persepsi dan harapan Pasien
Pasien berharap agar bisa pulang kerumah dan bertemu anak-anaknya.

18
G. Grafik Perjalanan Penyakit
Thn: Juli 2009 Thn: Juli 2012
Usia : 27 th Usia : 30 th

Pasien bercerai dan Pasien Pasien Sejak satu tahun


stabil dan Anak pasien stabil dan
beripisah dari anak yang lalu
minum bersekolah dan minum
kedua dan ketiga. sepulang dari
obat tidak ada yang obat
Pasien merasa sedih Bengkulu,
menemani ibunya
karena anaknya tidak
setiap saat dirumah. pasien sering
mau tinggal
Pasien merasa tidak mendengar
bersamanya dan
disayangi dan suara-suara dan
merasa kurang
diperhatikan oleh bayangan hitam
disayangi. asien
anaknya. Pasien tinggi besar dan
merasa kurang diberi
merasa anaknya
kasih sayang oleh merasa ditarik
tidak mau
anaknya. Pasien jadi dan dicengkram
mengakuinya
merasa tidak berguna oleh bayangan
sebagai ibunya
dan sedih hingga tersebut. Suara-
karena anaknya
mengurung diri kamar. suara tersebut
merasa malu
Tidak lama kemudian semakin sering
mempunyai ibu
pasien mulai
yang memiliki terdengar hingga
mengamuk dan ada
gangguan jiwa. pasien sering
ide untuk bunuh diri
pasien mencoba marah dan
dengan minum
untuk membakar mengamuk.
baygon. Pasien dibawa
diri di rumahnya, Pasien juga
ke RS Puti Bungsu
kemudian dirawat
pada tahun 2009 dan merasa takut
di RS Puti Bungsu.
dirawat. sehingga sering
menangis dan
kurang tidur
karena
terganggu oleh
suara-suara
tersebut.
Kemudian
pasien dilarikan
ke IGD RSJ HB
Saanin padang

19
III. STATUS INTERNUS

Keadaan umum : sakit sedang

Tekanan darah : 120/80 mmHg

Nadi : teraba kuat, teratur, frekuensi 76x/menit

Nafas : Abdominothorakal, teratur, simetris, frekuensi 22x/menit

Suhu : afebris

Tinggi badan : 158 cm

Berat badan : 75 kg

IV. STATUS NEUROLOGIKUS


I. Urat saraf (panca indra) : penciuman, pendengaran,
pengecapan, penglihatan, dan taktil
baik.
Gejala rangsangan selaput otak : kaku kuduk (-), tremor (-)
Gejala peningkatan tekanan intrakranial : muntah proyektil (-), sakit kepala
progresif ( -)
Mata
Gerakan : bebas ke segala arah
Persepsi : diplopia (-)
Pupil : isokor, bulat
Pemeriksaan oftalmoskop : tidak dilakukan
Reaksi konvergensi : +/+
Reaksi kornea : tidak dilakukan
Reaksi cahaya : +/+
II. Motorik
Tonus : Eutonus
Turgor : Baik
555 555
Kekuatan : 555 555

Kooardinasi : Baik
Reflex fisiologis : Reflex patella +/+
Reflex patologis : Babinsky -/-
III. Sensibilitas : Sensisbilitas halus dan kasar baik

20
IV. Susunan saraf vegetatif : Fungsi makan tidak terganggu, fungsi tidur terganggu,
V. Fungsi-fungsi luhur : Baik
VI. Kelainan khusus
Kaku : Tidak ada
Tremor : ada
Tortikolis : tidak ada
Bradikinesia : ada
Cara berjalan : Normogait
Keseimbangan : Tidak terganggu
Rigiditas : ada
Lain-lain : Tidak ada

V. STATUS MENTAL
A. Keadaan Umum
1. Kesadaran / sensorium : composmentis (+), somnolen (-), stupor (-),
kesadaran terkabut (-), koma (-), delirium (-), kesadaran berubah (-), dan lain-lain
2. Penampilan :
Sikap tubuh : biasa (+), diam (-), aneh (-), sikap tegang (-), kaku (-), gelisah
(-), kelihatan seperti tua (-), kelihatan seperti muda (-)
cara berpakaian : rapi (-), biasa (+), tak menentu (-), sesuai dengan situasi (+),
kotor (-), kesan (dapat/tidak dapat mengurus diri)
kesehatan fisik : sehat (-), pucat (-), lemas (+), apatis (-), telapak tangan basah
(-), dahi berkeringat (-), mata terbelalak (-)
3. Kontak psikis
Dapat dilakukan (+), tidak dapat dilakukan (-), wajar (+), kurang wajar (-), sebentar (-),
lama (+)
4. Sikap
Kooperatif (+), penuh perhatian (-), berterus terang (+), menggoda (-), bermusuhan (-),
suka main-main (-), berusaha supaya disayang (-), selalu menghindar (-), berhati-hati (-),
dependen (-), infantil (-), curiga (-), pasif (-), dan lain-lain
5. Tingkah laku dan aktifitas psikomotor
Cara berjalan : biasa (+), sempoyongan (-), kaku (-), dan lain-lain

21
Ekhopraksia (-), katalepsi (-), luapan katatonik (-), stupor katatonik (-), rigiditas
katatonik (-), posturing katatonik (-), cerea fleksibilitas (-), negativisme (-), katapleksi
(-), stereotipik (-), mannerisme (-), otomatisme (-), otomatisme perintah (-), mutisme
(-), agitasi psikomotor (-), hiperaktivitas/hiperkinesis (-), tik (-), somnabulisme (-),
akathisia (-), kompulsi (-), ataksia (-), hipoaktivitas (-), mimikri (-)
Agresi (-), acting out (-), abulia (-), tremor (-), ataksia (-), chorea (-), distonia (-),
bradikinesia (-), rigiditas otot (-), diskinesia (-), konvulsi (-), seizure (-), piomanisa (-),
vagabondage (-)
B. Verbalisasi dan cara berbicara
Arus pembicaraan* : biasa, cepat, lambat
Produktivitas pembicaraan* : biasa, sedikit, banyak
Perbendaharaan* : biasa, sedikit, banyak
Nada pembicaraan* : biasa, menurun, meninggi
Volume pembicaraan* : biasa, menurun, meninggi
Isi pembicaraan* : sesuai/ tidak sesuai
Penekanan pada pembicaraan* : Ada/ tidak
Spontanitas pembicaraan * : spontan/ tidak
Logorrhea (- ), poverty of speech (-), diprosodi (-), disatria (-), gagap (-), afasia (-),
bicara kacau (-).

C. Emosi
Hidup emosi*: stabilitas (stabil/ tidak), pengendalian (adekuat/tidak adekuat),
echt/unecht, dalam/dangkal, skala diffrensiasi (sempit/luas), arus emosi
(biasa/lambat/cepat).

1. Afek
Afek appropriate/ serasi (+), afek inappropriate/ tidak serasi (-), afek tumpul (-),
afek yang terbatas (-), afek datar (-), afek yang labil (-).

2. Mood
mood eutimik (-), mood disforik (-), mood yang meluap-luap (expansive mood) (-),
mood yang iritabel (-), mood yang labil (swing mood) (-), mood meninggi (elevated
mood/ hipertim) (-), euforia (-), ectasy (-), mood depresi (hipotim) (+), anhedonia (-),
dukacita (-), aleksitimia (-), elasi (-), hipomania (-), mania(-), melankolia(-), La belle
indifference (-), tidak ada harapan (-).

3. Emosi lainnya
Ansietas (-), free floating anxiety (-), ketakutan (-), agitasi (-), tension (ketegangan) (-
), panic (-), apati (-), ambivalensi (-), abreaksional (-), rasa malu (-), rasa berdosa/
bersalah(-), kontrol impuls (-).

22
4. Gangguan fisiologis yang berhubungan dengan mood
Anoreksia (-), hiperfagia (-), insomnia (-), hipersomnia (-), variasi diurnal (-),
penurunan libido (-), konstispasi (-), fatigue (-), pica (-), pseudocyesis (-), bulimia (-).

Keterangan : *)Coret yang tidak perlu,


( ) diisi (+) atau (-)
D. Pikiran/ Proses Pikir (Thinking)
Kecepatan proses pikir (biasa/cepat/lambat)
Mutu proses pikir (jelas/tajam)

1. Gangguan Umum dalam Bentuk Pikiran


Gangguan mental (-), psikosis (-), tes realitas ( terganggu/ tidak ), gangguan pikiran
formal (-), berpikir tidak logis (-), pikiran autistik (-), dereisme (-), berpikir magis (-),
proses berpikir primer (-).

2. Gangguan Spesifik dalam Bentuk Pikiran


Neologisme (-), word salad (-), sirkumstansialitas (-), tangensialitas (-), inkohenrensia
(-), perseverasi (-), verbigerasi (-), ekolalia (-), kondensasi (-), jawaban yang tidak
relevan (-), pengenduran asosiasi (-), derailment (-), flight of ideas (-), clang
association (-), blocking (-), glossolalia (-).

3. Gangguan Spesifik dalam Isi Pikiran


Kemiskinan isi pikiran (-), Gagasan yang berlebihan (-)
Delusi/ waham
waham bizarre (-), waham tersistematisasi (-), waham yang sejalan dengan mood (-),
waham yang tidak sejalan dengan mood (-), waham nihilistik (-), waham kemiskinan (
), waham somatik (-), waham persekutorik (-), waham kebesaran (-), waham referensi
(-), thought of withdrawal (-), thought of broadcasting (-), thought of insertion (-),
thought of control (-), Waham cemburu/ waham ketidaksetiaan (-), waham
menyalahkan diri sendiri (-), erotomania (-), pseudologia fantastika (-), waham
agama.
Idea of reference.....
Preokupasi pikiran (-), egomania (-), hipokondria (-), obsesi (-), kompulsi (-),
koprolalia (-), hipokondria (-), obsesi (-), koprolalia (-), fobia (-)..,
noesis (-), unio mystica (-).

E. Persepsi
Halusinasi
Non patologis: Halusinasi hipnagogik (-), halusinasi hipnopompik (-),
Halusinasi auditorik (+), halusinasi visual (+), halusinasi olfaktorik (-), halusinasi
gustatorik (-), halusinasi taktil (+), halusinasi somatik (-), halusinasi liliput (-),

23
halusinasi sejalan dengan mood (-), halusinasi yang tidak sejalan dengan mood (-),
halusinosis (-), sinestesia (-), halusinasi perintah (command halusination), trailing
phenomenon (-).
Ilusi (-)
Depersonalisasi (-), derealisasi (-)

F. Mimpi dan Fantasi


Mimpi : -
Fantasi :-

Keterangan : *)Coret yang tidak perlu, ( ) diisi (+) atau (-)


G. Fungsi kognitif dan fungsi intelektual
1. Orientasi waktu (baik/ terganggu), orientasi tempat (baik / terganggu), orientasi
personal (baik / terganggua), orientasi situasi (baik / terganggu).
2. Atensi (perhatian) (+), distractibilty (-), inatensi selektif (-), hipervigilance (-), dan
lain-lain
3. Konsentrasi (baik/terganggu), kalkulasi ( baik/ terganggu )
4. Memori (daya ingat) : gangguan memori jangka lama/ remote (-), gangguan memori
jangka menengah/ recent past (-), gangguan memori jangka pendek/ baru saja/ recent
(-), gangguan memori segera/ immediate (-).
Amnesia (-), konfabulasi (-), paramnesia (-).
5. Luas pengetahuan umum: baik/ terganggu
6. Pikiran konkrit : baik/ terganggu
7. Pikiran abstrak : baik/ terganggu
8. Kemunduran intelek : (Ada/ tidak), Retardasi mental (-), demensia (-),
pseudodemensia (-).

H. Dicriminative Insight*
Derajat I (penyangkalan)
Derajat II (ambigu)
Derajat III (sadar, melemparkan kesalahan kepada orang/ hal lain):
Derajat IV ( sadar, tidak mengetahui penyebab)
Derajat V (tilikan intelektual)
Derajat VI (tilikan emosional sesungguhnya)

I. Discriminative Judgement :
Judgment tes : tidak terganggu
Judgment sosial : tidak terganggu
VI. Pemeriksaan Laboratorium dan diagnostik khusus lainnya
Rutin
Anjuran:

24
VII. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

Telah diperiksa pasien Ny. F umur 35 tahun, agama islam, suku minang dan telah
menikah. Pasien pertama kali dibawa ke IGD RSJ HB SAANIN pada bulan Juni 2017 dan
dirawat sejak saat itu. Pasien sering merasa sedih karena bermasalah dengan keluarganya.
Pasien sering merasa sedih dan termenung. Pasien pernah memiliki keinginan untuk bunuh
diri. Pasien pernah mengamuk dan melempar alat rumah tangga. Pasien mendengar bisikan-
bisikan dan melihat bayangan hitam besar yang menyuruhnya untuk bunuh diri dan
membunuh anaknya.

Dari pemeriksaan status mental didapatkan pasien perempuan dengan penampilan


kurang rapi sesuai usia, kontak psikis dapat dilakukan, sikap kooperatif terhadap pemeriksa,
psikomotor hipoaktif, mood hipotim, afek appropriate, verbalisasi jelas, halusinasi tidak ada,
waham tidak ada, proses pikir koheren, orientasi tidak terganggu, dan daya ingat tidak
terganggu. Dari pemeriksaan status internus tidak ditemukan kelainan. Pemeriksaan
neurologis ditemukan tremor, rigiditas, dan bradikinesia.

VIII. Diagnosis Multiaksial


Aksis I : F 25 Skizoafektif tipe depresi
Aksis II : Tidak ada diagnosis
Aksis III : Tidak ada diagnosis
Aksis IV : Masalah keluarga
Aksis V : GAF 70-61

IX. Diagnosis Banding Axis I


- Depresi berat dengan gejala psikotik
- Depresi pasca skizofrenia

X. DAFTAR MASALAH
A. Organobiologik : tidak ada
B. Psikologis
Mood : hipotim
Afek : appropriate
Halusinasi : auditorik (-), visual (-)
Waham : tidak ada

25
Kecurigaan : tidak ada
Vagabondage : tidak ada
C. Lingkungan dan psikososial : masalah keluarga
XI. PENATALAKSANAAN
A. Farmakoterapi
Risperidon 2x2 mg po
Fluoxetin 1x20 mg po
THP 2x2 mg po
B. Psikoterapi
Kepada pasien
Psikoterapi suportif
Berempati pada pasien, memahami keadaan pasien, mengidentifikasi
faktor pencetus dan memecahkan masalah secara terarah.
Kepada keluarga
Psikoedukasi pada keluarga mengenai penyakit yang diderita pasien
Dukungan sosial dan perhatian keluarga terhadap pasien
Terapi kepatuhan minum obat pada pasien.

IX. PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad fungsionam : dubia ad bonam
Quo ad sanactionam : dubia ad bonam

26
BAB 4
DISKUSI

Telah datang seorang pasien perempuan berusia 35 tahun ke IGD RSJ HB. Saanin
Padang pada tanggal 3 Juni 2017 dengan diagnosis skizoafektif tipe depresi. Diagnosis dibuat
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan psikiatri.

Berdasarkan anamnesis riwayat perjalanan penyakit, pada pasien ini ditemukan


adanya gejala psikotik berupa halusinasi auditorik menetap dan gejala utama depresi.
Halusinasi yang ada pada pasien yaitu halusinasi auditorik, taktil, dan visual. Pasien juga
melempar alat rumah tangga yang berpotensi membahayakan orang lain. Pasien juga pernah
melakukan percobaan bunuh diri. Pada pasien tidak didapatkan riwayat penggunaan alkohol
atau zat psikoaktif lainnya yang menyebabkan perubahan fisiologis otak. Sehingga
kemungkinan adanya gangguan mental dan prilaku dan perasaan akibat penggunaan zat
psikoaktif dapat disingkirkan (F10 F19). Pasien mengalami gejala skizofrenia fase aktif
selama hampir satu tahun dan mengalami dua gejala utama depresi yang menonjol yaitu afek
depresif, menurunnya harga diri, tidur terganggu, dan perasaan tidak berguna.

Pada pasien ini tidak ditemukan ciri kepribadian yang menonjol sehingga diagnosis
aksis II tidak ditemukan. Pada pasien ini tidak ditemukan suatu kondisi medis umum yang
cukup bermakna sehingga diagnosis aksis III tidak ditemukan. Pasien ini terdapat riwayat
hubungan yang tidak harmonis dalam keluarga sehingga untuk diagnosis untuk aksis IV
adalah masalah keluarga.

Diagnosis aksis V pada pasien ditemukan terdapat disabilitas ringan sehingga


berdasarkan penilaian GAF (Global Assessment of Functional Scale), saat ini pasien berada
pada nilai 70-61 karena pasien berpotensi membahayakan teman lingkungan sekitarnya.

Tatalaksana yang diberikan pada pasien ini adalah risperidon 2x2 mg dan merupakan
obat antipsikotik golongan atipikal yang terpilih sebagai terapi karena efek sampingnya yang
minimal dan daya kerja obatnya yang lebih baik dibandingkan golongan tipikal. Fluoxetin
merupakan obat golongan SSRI. Diberikan juga THP karena pasien telah menunjukkan gejala
sindroma ekstrapiramidal yaitu tremor, rigiditas dan bradikinesia.

27
DAFTAR PUSTAKA

Elvira, Sylvia D dan Hadisukanto, Gitayanti. 2010. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta:Badan
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Kaplan, Sadock, Grebb. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Prilaku Psikiatri Klinis Jilid
Dua. Jakarta: Binarupa Aksara, 2010
Maramis, Willy dan Maramis, Albert A. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 2.
Jakarta: Airlangga University.
Maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa: Ringkasan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta: PT.
Nuh Jaya, 2003

28