Anda di halaman 1dari 22

CLINICAL SCIENCE SESSION

NASKAH PSIKIATRI

F60.4 Gangguan Kepribadian Histrionik

Oleh:

Imadie Yaqzhan P.1986.B

Widya Winda Sari P.1992.B

Pembimbing:

dr. H. Heryezi Tahir, Sp.KJ

BAGIAN PSIKIATRI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

RS PROF DR. HB SAANIN PADANG

TAHUN 2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seseorang sejak dini memiliki kecenderungan ataupun kebiasaan untuk

menggunakan suatu pola yang relatif serupa dalam menyikapi suatu masalah yang

sedang dihadapinya yang apabila diperhatikan lebih lanjut, cara ataupun metode

penyelesaian itu tampak sebagai sesuatu yang memiliki pola khusus dan dapat

ditengarai sebagai ciri atau tanda dalam mengenali seseorang tersebut. Fenomena

inilah yang dikenal sebagai karakter atau kepribadian.1

Gangguan kepribadian harus dibedakan dengan ciri kepribadian. Ciri

kepribadian adalah pola perilaku yang berlangsung lama, berhubungan dengan

lingkungan dan diri sendiri, dan keluar dalam bentuk konteks sosial dan pribadi.

Ciri kepribadian juga masih bersifat fleksibel dan gambaran klinisnya tidak

memenuhi kriteria atau pedoman diagnostik, dan bersifat lebih ringan dari

gangguan kepribadian. Ketika pola perilaku ini secara bermakna menjadi

maladaptif dan menyebabkan hendaya yang serius dalam fungsi pribadi dan

sosial, hal ini dinamakan gangguan kepribadian.1,2

Salah satu gangguan kepribadian yang ada ialah gangguan kepribadian

histrionik. Berdasarkan DSM-IV-TR, data terbatas dari studi pada populasi umum

menunjukkan prevalensi sekitar 2 hingga 3%. Penanda utama dari gangguan

kepribadian histrionik adalah dramatisasi diri yang menyebar dan berlebihan,

emosionalitas yang berlebihan, dan mencari perhatian.3


1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan naskah ini adalah untuk mengetahui dan memahami

tentang diagnosis dan penatalaksanaan gangguan kepribadian histrionik.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Gangguan kepribadian histrionik didefinisikan sebagai pola perilaku

berupa emosionalitas berlebih dan menarik perhatian. Gangguan ini bersifat

pervasif dan berawal sejak usia dewasa muda.1

2.2 Epidemiologi dan Komorbiditas

Berdasarkan DSM-IV-TR, data terbatas dari studi pada populasi umum

menunjukkan prevalensi sekitar 2 hingga 3%. Tingkat sekitar 10 hingga 15%

telah dilaporkan pada pasien yang mendapatkan terapi kesehatan mental.

Gangguan kepribadian ini lebih sering dijumpai pada perempuan daripada pada

laki-laki. Beberapa studi menemukan adanya hubungan gangguan kepribadian ini

dengan gangguan somatisasi dan gangguan penggunaan alkohol. Gangguan yang

paling sering menyertainya ialah gangguan kepribadian narsistik, ambang, anti-

sosial dan dependen. Suatu studi menyebutkan bahwa gangguan kepribadian ini

berhubungan kuat dengan perilaku merokok yang tergantung nikotin, baik

sekarang ataupun dulu. Pasien histrionik mungkin memiliki disfungsi

psikoseksual; wanita mungkin anorgasmik dan pria cenderung mengalami

impoten.1,3,4,5
2.3 Etiologi

Millon dkk. (2004) menyebutkan dinamika etiologi yang dialami

oleh seseorang sehingga ia memiliki gangguan kepribadian histrionik:10

1. Genetik

2. Jenis kelamin wanita. Pria identik dengan antisocial personality disorders.

3. Trauma masa kanak-kanak, dibentuk melalui relasi antara jenis kelamin orang

tua yang berlawanan, pengalaman masa kanak-kanak, dan konsekuensi

perkembangan terhadap perkembangan psikoseksual dan pembentukan

karakter yang ada sekarang.

4. Rendahnya fungsi mental yang berada pada tahap oral dan tingginya fungsi

mental pada tahap perkembangan oedipal, dimana pertumbuhan rasa

keinginan seksual merupakan suatu ketidaksadaran terhadap orang tua yang

berlawanan jenis.

5. Bermasalah pada objek relasi.

6. Tidak terbentuknya super ego yang kuat.

7. Terkadang perilaku yang sama diberi hadiah, terkadang pula tidak (tidak

konsisten sehingga anak mendapatkan pengalaman frustrasi guna

mendapatkan perhatian orang tua mereka dan melebih-lebihkan perilaku untuk

memperoleh perlindungan, pujian, dan afeksi).

8. Hambatan dalam perkembangan identitas.

9. Kognisi dan sistem pertahanan digabungkan untuk melindungi diri.

10. Menolak situasi yang seharusnya dapat memberikan pengetahuan bagi dirinya

sehingga membatasi kesempatan mereka untuk menghadapi tantangan

intelektualitas.
Teori psikoanalisa berpendapat bahwa emosionalitas dan

ketidaksenonohan perilaku secara seksual didorong oleh ketidaksenonohan

orangtua, terutama ayah kepada anak perempuannya. Sedangkan ekspresi emosi

yang berlebihan dipandang sebagai simtom-simtom konflik tersembunyi tersebut

dan kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian dipandang sebagai cara untuk

mempertahankan diri dari perasaan yang sebenarnya yaitu harga diri yang

rendah.6

2.4 Karakteristik Kepribadian Histrionik

a. Dramatisasi diri

Gaya berbicara, tampilan fisik, dan tingkah umum pasien ini adalah

dramatik dan eksibisionistik. Pola berbahasanya condong pada penggunaan

kata-kata superlatif. Pasien sering melebih-lebihkan supaya mendramatisasi

suatu hal dan tidak peduli tentang kebenaran jika suatu distorsi lebih baik

dalam menyertai dramanya. Pasien ini sering kali atraktif dan terlihat lebih

muda daripada usia mereka. Pada kedua jenis kelamin, tedapat ketertarikan

gaya dan fashion yang kuat. Wanita sering mendramatisir femininitas

sedangkan pria mendramatisir maskulinitas.7

b. Emosionalitas

Pasien histrionik kesulitan merasakan perasaan cinta dan keintiman

yang mendalam, tampilan luarnya cukup bertolak belakang. Pasien ini sangat

menarik dan berhubungan dengan orang lain dengan penuh kehangatan,

meskipun emosinya labil dan mudah berubah-ubah. Ia menganggap remeh

hubungan, meskipun sebenarnya ia merasa nyaman. Pada suatu hubungan

dimana pasien tidak mendapatkan kontak emosi, dia merasakan penolakan


dan kegagalan, serta sering menyalahkan individu lain. Ia menunjukkan

kekecewaan yang nyata yang dapat berlanjut menjadi depresi atau kemarahan

yang diekspresikan sebagai temper tantrum. Hubungan dengan pasien ini

dapat berubah dnegan cepat, dari mencintai orang menjadi membencinya

sebagaimana pada anak-anak yang dapat berpindah dari menangis menjadi

tertawa dalam jangka waktu yang singkat.7

c. Merangsang

Pasien ini menciptakan kesan dengan menggunakan tubuh sebagai

ekspresi cinta, tapi ini hanyalah capaian hasrat untuk dianggap diterima,

dikagumi, dan dilindungi daripada untuk merasakan keintiman ataupun hasrat

seksual. Pasien akan berespon secara antagonis kompetitif apabila terdapat

orang lain yang memakai peralatan yang sama untuk mendapatkan perhatian.7

d. Dependen

Pasien pria lebih sering menunjukkan perilaku pseudo-independen,

yang mana dapat dikenali sebagai suatu pertahanan karena respon emosional

akan ketakutan atau kemarahan yang berlebihan. Sedangkan pasien wanita

menunjukkan dirinya sebagai orang yang sangat bergantung dan tidak

berdaya, yang mengharapkan dokter akan memandunya pada tiap

tindakannya. Ia juga posesif dalam berhubungan. Pasien ini membutuhkan

perhatian yang besar dari sekelilingnya dan tidak mampu menghibur dirinya

sendiri. Kebosanan merupakan masalah konstan bagi pasien ini karena

mereka menganggap diri mereka membosankan.7


Tabel 2. Kepribadian Histrionik: Domain Fungsional dan Struktural6

e. Sugestibel

Meskipun sugestibel, pasien kadang hanya sugestibel terhadap

sugesti-sugesti yang ia anggap benar.7

f. Masalah pernikahan dan seksual

Pada pasien wanita ia mungkin dapat mengalami anorgasmik dan pria

cenderung mengalami impoten.7


g. Gangguan somatik

Keluhan somatik melibatkan sistem organ multipel biasanya dimulai

pada saat kehidupan remaja dan berlanjut sepanjang hidup. Simtom secara

dramatis digambarkan dan meliputi sakit kepala, nyeri punggung, gejala

konversi, dan pada wanita sering dengan nyeri panggul dan gangguan

menstruasi.7

2.5 Variasi Kepribadian Histrionik

2.5.1 Theatrical Histrionic

Sangat dramatis, romantis, dan mencari perhatian. Theatrical histrionic

merupakan ringkasan dari pola histrionik dasar. Berdasarkan "orientasi

pemasaran" Fromm, individu seperti ini pada dasarnya hidup sebagai

komoditi, memasarkan dirinya sebagai bunglon pada tuntutan sosial, dan

mengubah karakteristik yang ditampilkannva agar sesuai dengan penonton dan

keadaan. Bagi mereka, tidak ada yang intrinsik. Sebaliknya, diri berada di

bawah persyaratan ekonomi sosial yang diubah, disintesis, dibuat, dan

dikemas untuk mengoptimalkan daya tarik mereka dalam segmen pasar yang

diberikan. Sebagai hasilnya, histrionik teatrikal sebagian besar tanpa

kedalaman, karena dengan memiliki identitas dalam diri akan membatasi

manuver potensial. Malah, membaca motif orang lain dan merefleksikannya

kembali pada dirinya apa yang menarik, menyenangkan, dan menggoda

merupakan usaha mereka yang paling penting.11


2.5.2 Infantile Histrionic .

Infantile histrionic (histrionik yang kekanak-kanakan), mewakili

sebuah campuran antara kepribadian histrionik dan borderline. Seperti

yang dinyatakan sebelumnya, banyak individu histrionik yang memiliki

masalah ketergantungan yang kuat. Dengan menseksualisasi hubungan secara

prematur dan menarik orang lain yang kuat ke dalam orbit mereka, individu

histrionik mengalami pemanjaan yang lebih banyak dan frustasi yang lebih

sedikit. Oleh karena itu, mereka tidak butuh untuk mengembangkan rasa

identitas yang utuh yang bentuknya dimulai dengan apa yang disebut oleh

analis sebagai prinsip kenyataan, kesadaran bahwa hidup secara intrinsik

sangat membuat frustasi sehingga beberapa piranti fisik umum, yaitu ego,

akan dibutuhkan untuk menghadapinya. Dengan demikian, kehidupan

individu histrionik terus menerus didominasi oleh kebutuhan untuk menjadi

pusat perhatian, pencarian sensasi yang terus menerus, dan regresi primitif ke

dalam fantasi, yang kesemuanya sesuai dengan prinsip kesenangan.11

Pada histrionik infantil yang terorganisasi secara lebih primitif,

ekspresi dari karakteristik tersebut bahkan lebih parah. Karena kurangnya

pembentukan identitas keterikatan mereka pada significant other sangatlah

bergantung dan menuntut. Sebagian besar secara konstan mencari jaminan

untuk mempertahankan stabilitasnya dan bimbang antara terlalu menurut

dengan depresi yang mendalam ketika persetujuan tidak didapatkan. Tanpa

kesadaran diri untuk menahan atau mengatur dorongan mereka yang paling

dasar, emosi mereka berubah dengan cepat, mudah, dan tidak dapat diprediksi,

berubah drastis dari sangat cinta ke sangat marah hingga sangat bersalah,
semuanya mungkin diekspresikan secara simultan. Pada situasi yang lebih

menyenangkan, mereka mungkin bertingkah laku menyenangkan atau

menawan yang kekanak-kanakan tapi menjadi pemurung atau cemberut di

saat berikutnya. Banyak yang mengeluh bahwa mereka entah tidak dicintai

atau diperlakukan dengan tidak adil, sikap yang dengan cepat meningkat

menjadi tantrum ketika siapapun tidak setuju dengan mereka.11

2.5.3 Vivacious Histrionic

Vivacious histrionic (histrionik yang riang) mensintesis daya pikat

histrionik dengan tingkat energi tipe hipomania. Hasilnya memancarkan daya

tarik, pesona, kejenakaan, semangat tinggi, dan intensitas. Lebih dari sekedar

ramah dan penuh semangat, vivacious histrionic secara interpersonal periang,

optimistis, spontan, dan secara impulsif berekspresi, serta tanpa pertimbangan

akan konsekuensinya di masa depan. Didorong oleh suatu kebutuhan untuk

merasakan kegembiraan dan ketergugahan, banyak yang dengan mudah

tergila-gila mengikatkan diri mereka pada seseorang dan kemudian berpindah

pada orang lain dalam rangkaian yang singkat. Secara tingkah laku,

pergerakan mereka cepat dan hidup. Datang dan pergi dengan menarik

perhatian. Meskipun mereka hanyalah pemikir yang superfisial, ide-ide

mereka sering kali mengalir dengan sangat cepat dan mudah sehingga orang

lain menjadi terpengaruh oleh kegembiraan mereka. Mereka yang lebih

normal sering berkeliling, menyelesaikan masalah, memulai proyek, dan

membujuk orang lain untuk bergabung dengan energi dan keramahan seperti

yang dimiliki oleh penjual alamiah. Namun sebagian yang lain mengejar

keinginan sementara tanpa menyelesaikan apapun, meninggalkan janji yang


tidak ditepati, dompet yang kosong, dan rekan yang kecewa. Tidak

mengherankan, banyak vivacious histrionic yang juga memiliki sifat

narsistik.11

2.5.4 Appeasing Histrionic

Subtipe appeasing (memuaskan) mengkombinasikan ciri histrionik,

dependen, dan kompulsif. Persetujuan merupakan misi utama mereka dalam

hidup: Kau harus menyukai mereka; kau harus menjadi teman mereka. Untuk

mencapai tujuan ini, mereka secara terus menerus memuji, menyanjung,

menyenangkan, menyetujui, dan membuat orang lain merasa bahwa mereka

akan melakukan apapun demi dirimu: "Kau sangat cerdik! Kau telah

melakukan pekerjaan yang sempurna! Kau terlihat sangat cantik! Apa yang

bisa ku bantu?" Kapanpun mereka merasakan ketidakacuhan, mereka dengan

cepat menambah tindakannya, memposisikan penilaian mereka kembali ke

arah yang positif. Sebagai akibatnya, mereka menampilkan gambaran akan

niat baik yang absolut, seseorang yang menganggap penghargaan adalah

kepentingan moral. Ketika ketidakcocokan terjadi, mereka dengan cepat mulai

melancarkan masalah kembali, bahkan ketika mereka harus berkorban,

mengkompromikan keinginan mereka sendiri, atau menyetujui poin yang

penting. Daripada menyerang mereka yang tidak bisa didamaikan, mereka

memilih untuk merasakan luka, menggambarkan diri mereka sebagai korban

yang tidak bersalah yang terjebak di dunia yang kejam, martir yang menderita

tombak dan panah nasib yang keterlaluan, selalu merasa layak untuk

mendapatkan simpati dan rasa iba.


Implikasi dari gaya hidup mendamaikan seperti ini merupakan

kompensasi bagi kekosongan yang substansial. Di balik senyuman mereka

yang ramah terdapat kekosongan dari histrionik, rasa bersalah dari kompulsif,

dan inferioritas dan ketidakberdayaan dari dependen. Sebagian besar merasa

bahwa mereka merupakan individu yang bermasalah yang tidak dicintai dan

tidak mampu. Oleh karena itu, mereka menjadi sangat ingin menyenangkan

orang lain, selalu waspada terhadap gejala yang paling halus sekalipun kapan

dan dimana penghargaan dan persetujuan mungkin didapatkan. Secara

perkembangan lebih maju daripada histrionik dasar, individu-individu ini telah

menginternalisasi suara orang tua yang menghukum yang jatuh dengan

kritikan dan teguran. Seperti compulsives hyperconform (secara kompulsif

selalu berusaha patuh), individu ini memuaskan penyiksanya, secara sadar

mengantisipasi kebutuhan mereka, dan menawarkan hanya niat dan isyarat

baik sebagai balasan dari kemarahan dan permusuhan. Intinya, mereka

menjadi sangat baik dan manis sehingga mereka bisa membuat bahkan

superego dari orang yang sadis merasa bersalah.

2.5.5 Tempestuous Histrionic

Varian tempestuous (bergolak) mengkombinasikan ciri

kepribadian histrionik negativistik. Individu semacam ini paling tepat

digambarkan sebagai sangat mood secara emosional berubah-ubah. Selama

periode yang lebih baik, mereka memerankan hanya ciri histrionik,

menampilkan muka menarik, secara superfisial menjadi ramah suka bergaul,

mengajak bicara orang lain, dan sebagai balasannya menambahkan ekspresi

emosi bebas mereka sendiri. Seperti teatrikal histrionik, mereka dengan cepat
merasa bosan, dramatis berlebihan, hipereaktif terhadap rangsangan dari luar,

dan pencari sensasi yang impulsif. Ketika dikombinasikan dengan ciri

borderline, hasilnya adalah emosional overdrive (aktivitas emosional yang

berlebihan). Seperti individu borderline, tempestuous histrionic hipersensitif

terhadap kritikan, tidak toleran terhadap frustasi, dan secara sosial tidak

dewasa -karakteristik yang hampir memastikan bahwa saat yang

menyenangkan akan berlangsung lama. Sebagian besar bergantian antara

periode kesenangan emosi yang ekstrim dan bertindak impulsif, diikuti oleh

serangan kemarahan yang berubah menjadi simptom kelelahan seperti depresif

dan perubahan pola makan dan tidur.11

Jika individu normal mengembangkan rasa identitas-diri yang

kuat yang membungkus dan menyembunyikan dorongan dasar dan mengatur

emosi, tempestuous histrionic tidak hanya terlapis dengan lebih tipis daripada

pola histrionik dasar tapi entah bagaimana terpecah seperti borderline.

Akibatnya, mereka lebih rentan terhadap pertunjukkan yang tidak diatur dari

emosi yang mentah dan dengan cepat berubah. Ketika tersinggung, mereka

lepas kendaili, bereaksi seperti badai dan rusuh bahkan terhadap provokasi

kecil. Kekurangan perhatian, mereka mungkin mencari persetujuan dengan

kalut menjadi senang berdebat, murung, atau putus asa ketika persetujuan

tidak segera datang. Seiring dengan berjalannya waktu, individu-individu ini

sedikit demi sedikit mungkin menjadi kurang histrionik dan menjadi lebih

marah dan mengkritik orang lain, merasa terhadap keberuntungan orang lain.

Mereka juga mungkin mengembangkan preokupasi terhadap fungsi tubuh dan

kesehatan, dan secara dramatis mempertunjukkan penyakit mereka atau


mengeluh tanpa akhir mengenai penyakit untuk mendapatkan kembali

perhatian dan dukungan yang hilang.11

2.5.6 Disingenuous Histrionic

Subtipe disingenuous (tidak tulus) mensintesiskan ciri histrionik dan

antisosial. Gambar yang agak berbeda diciptakan, bergantung pada pengaruh

relatif dari sifat histrionik dan antisosial. Pada awalnya, mereka membuat

kesan pertama yang baik dan tampak mudah bergaul dan tulus, menampilkan

kespontanan dan pesona sehingga orang lain dengan cepat memperlemah

pertahanannya. Namun kombinasi ciri histrionik dan antisosial membui

subtipe disingenuous lebih manipulatif daripada pola histrionik dasar dan

untuk tujuan selain perhatian dan persetujuan. Bagi beberapa, sifat histrionik

mereka hanya berfungsi sebagai suatu metode yang berguna untuk berkenalan

dan membuka pintu tapi melapisi dan secara sementara menyembunyikan

karakteristik dasar dari antisosial, termasuk kemauan untuk melanggar

konvensi sosial, mengingkari janji dan menghancurkan kesetiaan, bertindak

secara tidak bertanggung jawab, dan terkadang meledak dengan kemarahan

dan konfrontasi fisik. Bagi beberapa, pengaruh antisosial berhenti di sini

dengan sifat yang dianggap sebagai akibat dari kenakalan biasa.11

Namun beberapa yang lain mengkombinasikan histrionik dan

karakteristik yang lebih psikopatik. Individu ini mensinergikan keahlian,

pesona, dan kemampuan sosial histrionik yang lebih adaptif untuk membaca

motif dan keinginan orang lain dengan maksud jahat yang telah

diperhitungkan. Jelas, varian ini lebih egosentris, sengaja tidak tulus, dan

mungkin lebih sadar akan manipulasi mereka daripada pola histrionik dasar.
Mereka sering tampak menikmati konflik, mendapatkan suatu tingkat

kepuasan atau kessnangan dari ketegangan dan tekanan yang dihasilkan.

Karena individu antisosial biasanya mengartikan kebaikan sebagai kelemahan,

sifat histrionik mereka yang ramah kadang-kadang membuat mereka takut

kalau orang lain akan datang untuk melihat mereka dengan cara yang persis

sama. Jika mereka merasa hal tersebut benar, mereka mungkin akan membalas

impresi yang salah tersebut dengan menjadi predator (orang yang

mengeksploitasi orang lain).11

2.6 Pedoman Diagnostik

Kriteria diagnostik untuk gangguan kepribadian histrionik menurut DSM-

IV-TR ditampilkan pada tabel berikut ini:3

Tabel 3. Kriteria Diagnostik DSM-IV-TR Untuk Gangguan Kepribadian

Histrionik3

Suatu pola pervasif dalam mencari perhatian dan emosionalitas yang berlebihan,

yang dimulai pada saat awal usia dewasa dan hadir dalam berbagai konteks seperti

yang ditunjukkan dari lima (atau lebih) konteks berikut:

1. Tidak merasa nyaman pada situasi dimana ia bukanlah pusat perhatian

2. Interaksi dengan yang lain sering ditandai dengan perilaku seduktif dan

provokatif secara seksual yang tidak sesuai

3. Menunjukkan pergantian emosi yang sangat cepat dan ekspresi emosi

yang dangkal

4. Secara konsisten menggunakan penampilan fisik untuk menggambarkan

perhatian terhadap dirinya


5. Memiliki gaya berbicara yang sangat impresionistik dan kurang detail

6. Menunjukkan dramatisasi diri, teatrikal, dan ekspresi emosi yang

berlebihan

7. Sugestibel, sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain

8. Menganggap hubungan lebih intim daripada yang sebenarnya

Dari American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of

Mental Disorders. 4th ed. Text rev. Washington, DC: American Psychiatric

Association; 2000.

Adapun berdasarkan PPDGJ-III, diagnosis gangguan kepribadian

histrionik dapat mengikuti pedoman berikut:

Gangguan kepribadian dengan ciri-ciri:

a) Ekspresi emosi yang dibuat-buat (self dramatization) seperti


bersandiwara (theariticality) yang dibesar-besarkan (exaggerated)
b) Bersifat sugestif, mudah dipengaruhi oleh orang lain atau oleh keadaan
c) Keadaan afektif yang dangkal dan labil
d) Terus-menerus mencari kegairahan (excitement). Penghargaan
(appreation) dari orang lain, dan aktivitas dimana pasien menjadi pusat
perhatian
e) Penampilan atau perilaku merangsang (seductive) yang tidak
memadai
f) Terlalu peduli dengan daya tarik fisik

Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari di atas.

Gambar 1. Pedoman diagnosis gangguan kepribadian histrionik.8

2.7 Diagnosis Banding

Gangguan kepribadian histrionik dan gangguan kepribadian ambang sulit

dibedakan. Pada gangguan kepribadian ambang percobaan bunuh diri, gangguan

identitas, dan episode-episode psikotik lebih terlihat. Meskipun keduanya dapat

didiagnosis pada pasien yang sama, dokter tetap harus menegakkan keduanya.
Gangguan somatisasi sering dihubungkan dengan gangguan kepribadian

histrionik. Pasien dengan gangguan psikotik ringan dan gangguan disosiatif dapat

menyertai diagnosis gangguan kepribadian histrionik.1,3

2.8 Prognosis

Sejalan dengan usia, orang dengan gangguan kepribadian histrionik

menunjukkan gejala yang lebih sedikit, karena mereka kekurangan energi pada

tahun-tahun awal, perbedaan jumlah gejala lebih tampak daripada kenyataannya.

Pasien umumnya mencari sensasi, dan mereka mungkin dapat bermasalah dengan

hukum, penyalahgunaan zat, dan bertingkah kacau.

2.9 Terapi

2.9.1 Psikoterapi

Pasien dengan gangguan kepribadian ini sering tidak menyadari tentang

perasaannya yang sesungguhnya. Oleh karena itu, mereka perlu dibantu untuk

mengenali dan mengklarifikasi perasaan mereka yang sesungguhnya. Psikoterapi

yang berorientasi dengan psikoanalitik, baik secara kelompok ataupun individu,

mungkin merupakan pilihan terapi yang cocok untuk pasien dengan gangguan

kepribadian histrionik.1,3
2.9.2 Farmakoterapi

Farmakoterapi dapat diberikan sebagai tambahan ketika simtom-simtom

yang ada dijadikan sebagai target pengobatan (misalkan: penggunaan antidepresan

untuk depresi dan keluhan somatik, obat antiansietas untuk kecemasan, dan obat

antipsikotik untuk derealisasi dan ilusi).1,3


BAB III

KESIMPULAN

Sekitar setengah pasien psikiatrik yang mendapatkan terapi kesehatan

mental menderita gangguan kepribadian, yang seringnya berkomorbiditas dengan

kondisi Aksis I.4,9 Berbagai survei mendokumentasikan bahwa gangguan

kepribadian mempengaruhi sejumlah persentase populasi umum yang signifikan,

dengan prevalensi diperkirakan sekitar 10%-13%.9

Gangguan kepribadian mewakili suatu beban yang menyusahkan bagi

masyarakat. Pada seorang individu dengan gangguan kepribadian, terjadi

disfungsi dalam hubungan keluarga, pekerjaan, dan fungsi sosial. Orang dengan

gangguan kepribadian menunjukkan pola relasi dan persepsi terhadap lingkungan

dan diri sendiri yang bersifat berakar mendalam tidak fleksibel dan bersifat

maladaptif. Lebih lanjut lagi, gangguan kepribadian dapat pula berkaitan dengan

tindakan kriminal, penyalahgunaan zat, pembunuhan, bunuh diri, kecelakaan,

perceraian, problem pemeliharaan anak, dan sering datang ke klinik gawat

darurat. Gangguan kepribadian juga merupakan salah satu faktor yang dapat

mempengaruhi berbagai kelainan psikiatrik, termasuk gangguan mood, gangguan

pengendalian rangsang, gangguan makan, dan juga gangguan kecemasan.1,4,9

Beberapa studi menemukan adanya hubungan gangguan kepribadian ini

dengan gangguan somatisasi dan gangguan penggunaan alkohol. Pasien histrionik

mungkin memiliki disfungsi psikoseksual; wanita mungkin anorgasmik dan pria

cenderung mengalami impotent.1,3,4

Pasien dengan gangguan kepribadian ini sering tidak menyadari tentang

perasaannya yang sesungguhnya; oleh sebab itu mereka perlu dibantu untuk
mengenali dan mengklarifikasi persaan mereka yang sesungguhnya. Psikoterapi

yang berorientasi dengan psikoanalitik, baik secara kelompok ataupun individu,

mungkin merupakan pilihan terapi yang cocok untuk pasien dengan gangguan

kepribadian histrionik.1,3
DAFTAR PUSTAKA

1. Puri, BK., Laking PJ, dan Treasaden IH, 2011. Buku Ajar Psikiatri Edisi 2.
Jakarta: EGC.
2. Andri AAAA, Kusumawardhani. Neurobiologi Gangguan Kepribadian
Ambang: Pendekatan Biologis Perilaku Impulsif dan Agresif. Majalah
Kedokteran Indonesia, 2007; 57(4).
3. Sadock BJ, Sadock VA, 2007. Kaplan and Sadock's Synopsis of Psychiatry:
Behavioral Sciences/ Clinical Psychiatry, 10th ed. Philadelphia: Lippincott
Williams and Wilkins.
4. Sadock BJ, Sadock VA, 2000. Kaplan and Sadocks Comprehensive Textbook
of Psychiatry, 7th ed. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins.
5. Zvolensky MJ, Jenkins EF, Johnson KA, Goodwin RD. Personality Disorders
and Cigarette Smoking among Adults in the United States. J Psychiatr Res.
2011 June ; 45(6): 835841.
6. Millon T, Grossman S, Millon C, Meagher S, dan Ramnath R, 2004.
Personality Disorders in Modern Life Second Edition. New Jersey: John
Wiley & Sons, Inc.
7. MacKinnon RA, MMichels R, dan Buckley PJ, 2009. The Psychiatric
Interview in Clinical Practice. Virginia: American Psychiatric Publishing.
8. Maslim R, 2003. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa: Rujukan Ringkas dari
PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya.
9. Martin A, Volkmar FR, 2007. Lewis's Child and Adolescent Psychiatry: A
Comprehensive Textbook, 4th Edition .Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins.
10. Millon, T., Grossman, S., Millon, C., Meagher, S., & Ramnath, R. 2004.
Personality Disorders in Modern Life Second Edition. New Jersey: John
Wiley & Sons, Inc.
11. Durand, V. M., & Barlow, D. H. 2007. Intisari Psikologi Abnormal. Edisi
keempat Jilid 1. Alih Bahasa: Helly Prajitno Soetjipto & Sri Mulyantini
Soetjipto. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.