Anda di halaman 1dari 40

PENJELASAN GEJALA & PENDEKATAN DIAGNOSIS

ANAMNESIS
Pada scenario dinyatakan bahwa pasien memiliki riwayat batuk pilek setelah mandi di
pantai. Air pantai dapat menjadi suatu sumber infeksi karena bukan merupakan suatu cairan
yang steril. Segala sesuatunya akan terbuang ke laut. Air laut juga dapat menimbulkan
kelembapan pada telinga sehinggga dapat meningkatkan kejadian infeksi, karena suasana
lembab mendukung pertumbuhan bakteri. Apabila berenang di pantai dibarengi dengan
menyelam, akan mengakibatkan perubahan tekanan antara dunia luar dengan atmosfer.
Apabila terjadi perubahan mendadak, dapat menimbulkan suatu trauma pada telinga akibat
perubahan tekanan ini. dihubungkan dengan air laut sebagai sumber infeksi ada kemungkinan
kuman masuk ke liang telinga dan saluran pernapasan. Sehingga pasien mengeluhkan batuk
pilek, atau mungkin batuk pileknya juga disebabkan oleh hal yang lain.
Infeksi dari saluran pernapasan dapat menyebar ke telinga. Karena ada suatu kanal yang
menghubungkan, yaitu Tuba Eustachius. Pada anak-anak di bawah 2 tahun posisi tuba
eustachiusnya masih datar dengan rongga mulut. Namun sesuai perkembangan akan semakin
meninggi. Agak datarnya tuba juga memudahkan penyebaran infeksi dari rongga mulut ke
telinga. Kebiasaan pasien mengorek telinga dengan cotton bud dapat juga berdampak buruk.
Karena terlalu sering mengorek telinga juga dapat mendorong serumen lebih kedalam dari
liang telinga. Secara fisiologis terjadi pengelupasan dari epitel liang telinga. Apabila terjadi
ruangan antara serumen yang menumpuk karena terdorong karena sering dikorek dengan
membran timpani maka akan mengakibatkan penumpukan sel-sel epitel yang baik bagi media
pertumbuhan bakteri. Sehingga memudahkan terjadinya infeksi.
Pada scenario juga disampaikan dari liang telinga pasien keluar cairan. Secret yang
keluar dari liang telinga disebut dengan otorea. Perlu diketahui apakah secret ini keluar dari
satu atau dua teiinga. Apakah disertai rasa nyeri atau tidak dan kapan onset terjadinya
pengeluaran dari secret tersebut. Apabila secret yang keluar sedikit biasanya berasal dari
infeksi telinga luar dan secret yang banyak dan bersifat mucoid umumnya berasal dari telinga
tengah. Apabila dari baunya busuk, menunjukkan adanya kolesteatom. Apabila bercampur
darah harus dicurigai adanya infeksi akut yang berat atau tumor. Bila cairan yang keluar
sperti air jernih, harus waspada adanya cairan liquor serebrospinal.
Dari beberapa kemungkinan yang terjadi pada pasien, terdapat 3 kemungkinan terbesar
penyakit yang mendasarinya yaitu:
1. Otitis media

1
2. Otitis eksterna
3. Barotrauma

Dari data yang sudah ada perlu ditanyakan kembali:


Apakah disertai gatal atau nyeri
Apakah secret berdarah atau purulen
Apakah sekretnya berbau
Sudah berapa lama terjadi
Apakah sebelumnya pernah keluar secret
Apakah didahului oelh infeksi saluran napas bagian atas atau suatu keadaan dimana
telinga menjadi basah

Perlu juga dilakukan pemeriksaan fisik pada telinga dan pemeriksaan penunjang lainnya
seperti kultur bakteri dari cairan yang keluar

PEMERIKSAAN FISIK PADA TELINGA

Telinga luar diperiksa dengan inspeksi dan palpasi langsung sementara membrana
timpani diinspeksi, seperti telinga tengah dengan otoskop dan palpasi tak langsung dengan
menggunakan otoskop pneumatic

Pengkajian Fisik

Inspeksi telinga luar merupakan prosedur yang paling sederhana tapi sering terlewat.
Aurikulus dan jaringan sekitarnya diinspeksi adanya

deformitas, lesi,
cairan begitu pula ukuran,
simetris dan sudut penempelan ke kepala.

Gerakan aurikulus normalnya tak menimbulkan nyeri. Bila manuver ini terasa nyeri,
harus dicurigai adanya otitis eksterna akut. Nyeri tekan pada saat palpasi di daerah mastoid
dapat menunjukkan mastoiditis akut atau inflamasi nodus auri-kula posterior. Terkadang,
kista sebaseus dan tofus (de-posit mineral subkutan) terdapat pada pinna. Kulit bersisik pada
atau di belakang aurikulus biasanya menunjukkan adanya dermatitis sebore dan dapat
terdapat pula di kulit kepala dan struktur wajah.

2
Untuk memeriksa kanalis auditorius eksternus dan membrana timpani, kepala pasien
sedikit dijauhkan dari pemeriksa.

Otoskop dipegang dengan satu tangan sementara aurikulus dipegang dengan tangan
lainnya dengan mantap dan ditarik ke atas, ke belakang dan sedikit ke luar Cara ini akan
membuat lurus kanal pada orang dewasa, sehingga memungkinkan pemeriksa melihat lebih
jelas membrana timpani. Spekulum dimasukkan dengan lembut dan perlahan ke kanalis
telinga, dan mata didekatkan ke lensa pembesar otoskop untuk melihat kanalis dan membrana
timpani. Spekulum terbesar yang dapat dimasukkan ke telinga (biasanya 5 mm pada orang
dewasa) dipandu dengan lembut ke bawah ke kanal dan agak ke depan. Karena bagian distal
kanalis adalah tulang dan ditutupi selapis epitel yang sensitif, maka tekanan harus benar-
benar ringan agar tidak menimbulkan nyeri.

Teknik untuk menggunakan otoskop

Setiap adanya cairan, inflamasi, atau benda asing; dalam kanalis auditorius eksternus
dicatat.
Membrana, timpani sehat berwarna mutiara keabuan pada dasar kanalis. Penanda
harus dttihat mungkin pars tensa dan kerucut cahaya.umbo, manubrium mallei, dan
prosesus brevis.
Gerakan memutar lambat spekulum memungkinkan penglihat lebih jauh pada Hpatan
malleus dan daerah perifer. dan warna membran begitu juga tanda yang tak biasa at!

3
deviasi kerucut cahaya dicatat. Adanya cairan, gele bung udara, atau masa di telinga
tengah harus dicatat.
Pemeriksaan otoskop kanalis auditorius eksternus membrana timpani yang baik hanya
dapat dilakukan bi kanalis tidak terisi serumen yang besar. Serumen not nya terdapat
di kanalis eksternus, dan bila jumla sedikit tidak akan mengganggu pemeriksaan
otoskop.
Bila serumen sangat lengket maka sedikit minyak mineral atau pelunak serumen dapat
diteteskan dalam kanalis telinga dan pasien diinstruksikan kembali lagi.

PERBANDINGAN ANATOMI TUBA EUSTACHIUS DAN LARING PADA ANAK


DAN DEWASA

Tuba Eustachius
Tuba eutachius adalah saluran yang menghubungkan rongga telinga tengah (kavum
timpani) dengan nasofaring, berbentuk terompet, panjang 37 mm. Tuba eustachius dari
kavum timpani menuju nasofaring terletak dengan posisi infero-antero-medial sehingga ada
perbedaan ketinggian antara muara pada kavum timpani dengan muara pada nasofaring
sekitar 15 mm.
Lumennya gepeng, dengan dinding medial dan lateral bagian tulang rawan biasanya
saling berhadapan menutup lumen. Epitelnya bervariasi dari epitel bertingkat, selapis
silindris bersilia dengan sel goblet dekat farings. Dengan menelan, dinding tuba saling
terpisah sehingga lumen terbuka dan udara dapat masuk ke rongga telinga tengah. Dengan
demikian tekanan udara pada kedua sisi membran timpani menjadi seimbang.
Tuba biasanya dalam keadaan tertutup dan baru terbuka apabila oksigen diperlukan
masuk ke telinga tengah atau pada saat mengunyah, menelan dan menguap.gangguann fungsi
tuba dapat terjadi oleh beberapa hal, seperti tuba terbuka abnormal yang memungkinkan
infeksius bisa masuk.
Pada anak tuba lebih pendek, lebih lebar dan kedudukannya lebih horizotal dari tuba
orang dewasa. Panjang tuba orang dewasa 37,5 mm dan pada anak di bawah 9 bulan adalah
17,5 mm. Perbedaan inilah yang memungkinkan lebih cepat terjadinya infeksi pada anak
dibawah 9 bulan karena secret lebih cepat masuk ke tuba eutachius dari hidung sehingga
kemungkinan anak untuk terkena infeksi telinga lebih besar seperti otitis media.

4
Fungsi Tuba Eustachius dalam Sistem Pertahanan Telinga
Fungsi tuba ini adalah untuk ventilasi, drenase secret dan menghalangi masuknya
secret dari nasofaring ke telinga tengah. Bila tuba terbuka maka terasa udara masuk ke dalam
rongga telinga tengah yang menekan membran timpani ke arah lateral.
Telinga tengah adalah organ yang memiliki penghalang yang biasanya dalam keadaan
steril. Tetapi pada suatu keadaan jika terdapat infeksi bakteri pada nasofariong dan faring,
secara alamiah teradapat mekanisme pencegahan penjalaran bakteri memasuki telinga tengah
oleh enzim pelindung dan bulu-bulu halus yang dimiliki oleh tuba eustachii. Gabungan aksi
fisiologis silia, enzim penghasil mukus (misalnya muramidase) dan antibodi yang berfungsi
sebagai mekanisme pertahanan bila telinga terpapar dengan kontaminan saat menelan atau
saat tuba eustachius terbuka dan pertahan lainnya adalah pertahanan permukaan yaitu suatu
anyaman kapiler subepitel menyediakan faktor-faktor humoral seperti leukosit, leikosit
polimorfonuklear dan sel fagosit lain.

Laring
Ukuran laring bayi sama pada laki-laki dan perempuan. Akan tetapi lebih kecil
perbandingannya dengan ukuran tubuh daripada laring dewasa. Pada bayi, kerangka tulang
rawang laring lebih lunak, dan ligamen yang menyangganya lebih longgar, membuat laring
lebih mudah mengempis jika mendapat tekanan negatif di bagian dalam.

Bagian laring Anak Pubertas Dewasa


Pria Wanita
Pita suara
Panjang 6-8 mm 12-15 mm 17-23 mm 12,5-17 mm
Bag. Membran 3-4 mm 7-8 mm 11,5-16 mm 8-11,5 mm
Bag. Kartilago 3-4 mm 5-7 mm 5,5-7 mm 4,5-5,5 mm
Glotis
Lebar istirahat 3 mm 5 mm 8 mm 6 mm

Maksimum 6 mm 12 mm 19 13 mm

Infraglotis
Sagital 5-7 mm 15 mm 25 mm 18 mm
5-7 mm 15 mm 24 mm 17 mm
Transversal

5
Jaringan epithel kurang padat, lebih banyak dan lebih bervaskuler pada bayi, yang
cendrung mengakumulasi cairan jaringan. Hal ini merupakan faktor penting
penyebabterjadinya obstruksi daerah infraglotik dan supraglotik akibat edem inflamasi pada
anak kecil.
Beberapa struktur laring mempunyai perbedaan bentuk pada bayi. Epiglotis cendrung
berbentuk huruf omega, maka akan cendrung lebih besar untuk menutup vestibulum bila
terjadi edema. Tepi epiglotis yang berbentuk huruf omega kurang menopang plika
ariepiglotik dibandingkan tepi epiglotis yang rata pada orang dewasa yang dapat
membantumenahan plikaariepiglotik tersebut pada posisi lateral.

OTITIS EKSTERNA

DEFINISI

Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun kronis disebabkan oleh bakteri
dapat terlogalisir atau difus, telinga rasa sakit. Faktor ini penyebab timbulnya otitis eksterna
ini, kelembaban, penyumbatan liang telinga, trauma local dan alergi. Faktor ini menyebabkan
berkurangnya lapisan protektif yang menyebabkan edema dari epitel skuamosa. Keadaan ini
menimbulkan trauma local yang mengakibatkan bakteri masuk melalui kulit, inflasi dan
menimbulkan eksudat. Bakteri patogen pada otitis eksterna akut adalah pseudomonas (41 %),
strepokokus (22%), stafilokokus aureus (15%) dan bakteroides (11%).1 Istilah otitis eksterna
akut meliputi adanya kondisi inflasi kulit dari liang telinga bagian luar.
Otitis eksterna ini merupakan suatu infeksi liang telinga bagian luar yang dapat
menyebar ke pina, periaurikular, atau ke tulang temporal. Biasanya seluruh liang telinga
terlibat, tetapi pada furunkel liang telinga luar dapat dianggap pembentukan lokal otitis
eksterna. Otitis eksterna difusa merupakan tipe infeksi bakteri patogen yang paling umum
disebabkan oleh pseudomonas, stafilokokus dan proteus, atau jamur.
Penyakit ini sering diumpai pada daerah-daerah yang panas dan lembab dan jarang
pada iklim-iklim sejuk dan kering. Patogenesis dari otitis eksterna sangat komplek dan sejak
tahun 1844 banyak peneliti mengemukakan faktor pencetus dari penyakit ini seperti Branca
(1953) mengatakan bahwa berenang merupakan penyebab dan menimbulkan kekambuhan.
Senturia dkk (1984) menganggap bahwa keadaan panas, lembab dan trauma terhadap epitel
dari liang telinga luar merupakan faktor penting untuk terjadinya otitis eksterna. Howke dkk

6
(1984) mengemukakan pemaparan terhadap air dan penggunaan lidi kapas dapat
menyebabkan terjadi otitis eksterna baik yang akut maupun kronik.
ETIOLOGI

Swimmers ear (otitis eksterna) sering dijumpai, didapati 4 dari 1000 orang,
kebanyakan pada usia remaja dan dewasa muda. Terdiri dari inflamasi, iritasi atau infeksi
pada telinga bagian luar. Dijumpai riwayat pemaparan terhadap air, trauma mekanik dan
goresan atau benda asing dalam liang telinga. Berenang dalam air yang tercemar merupakan
salah satu cara terjadinya otitis eksterna (swimmers ear).3 Bentuk yang paling umum adalah
bentuk boil (Furunkulosis) salah satu dari satu kelenjar sebasea 1/3 liang telinga luar. Pada
otitis eksterna difusa disini proses patologis membatasi kulit sebagian kartilago dari otitis
liang telinga luar, konka daun telinga penyebabnya idiopatik, trauma, iritan, bakteri atau
fungal, alergi dan lingkungan. Kebanyakan disebabkan alergi pemakaian topikal obat tetes
telinga. Alergen yang paling sering adalah antibiotik, contohnya: neomycin, framycetyn,
gentamicin, polimixin, anti bakteri (clioquinol, Holmes dkk, 1982) dan anti histamin.
Sensitifitas poten lainnya adalah metal dan khususnya nikel yang sering muncul pada kertas
dan klip rambut yang mungkin digunakan untuk mengorek telinga. Infeksi merupakan
penyakit yang paling umum dari liang telinga luar seperti otitis eksterna difusa akut pada
lingkungan yang lembab.
PATOFISIOLOGI

Saluran telinga bisa membersihkan dirinya sendiri dengan cara membuang sel-sel kulit
yang mati dari gendang telinga melalui saluran telinga. Membersihkan saluran telinga dengan
cotton bud (kapas pembersih) bisa mengganggu mekanisme pembersihan ini dan bisa
mendorong sel-sel kulit yang mati ke arah gendang telinga sehingga kotoran menumpuk
disana.
Penimbunan sel-sel kulit yang mati dan serumen akan menyebabkan penimbunan air
yang masuk ke dalam saluran ketika mandi atau berenang. Kulit yang basah dan lembut pada
saluran telinga lebih mudah terinfeksi oleh bakteri atau jamur.

GEJALA KLINIS

Rasa sakit di dalam telinga bisa bervariasi dari yang hanya berupa rasa tidak enak
sedikit, perasaan penuh didalam telinga, perasaan seperti terbakar hingga rasa sakit yang

7
hebat, serta berdenyut. Meskipun rasa sakit sering merupakan gejala yang dominan, keluhan
ini juga sering merupakan gejala sering mengelirukan. Kehebatan rasa sakit bisa agaknya
tidak sebanding dengan derajat peradangan yang ada. Ini diterangkan dengan kenyataan
bahwa kulit dari liang telinga luar langsung berhubungan dengan periosteum dan
perikondrium, sehingga edema dermis menekan serabut saraf yang mengakibatkan rasa sakit
yang hebat. Lagi pula, kulit dan tulang rawan 1/3 luar liang telinga bersambung dengan kulit
dan tulang rawan daun telinga sehingga gerakan yang sedikit saja dari daun telinga akan
dihantarkan kekulit dan tulang rawan dari liang telinga luar dan mengkibatkan rasa sakit yang
hebat dirasakan oleh penderita otitis eksterna.
Rasa penuh pada telinga merupakan keluhan yang umum pada tahap awal dari otitis
eksterna difusa dan sering mendahului terjadinya rasa sakit dan nyeri tekan daun telinga.
Gatal merupakan gejala klinik yang sangat sering dan merupakan pendahulu rasa sakit
yang berkaitan dengan otitis eksterna akut. Pada kebanyakan penderita rasa gatal disertai rasa
penuh dan rasa tidak enak merupakan tanda permulaan peradangan suatu otitis eksterna
akuta. Pada otitis eksterna kronik merupakan keluhan utama.
Kurang pendengaran mungkin terjadi pada akut dan kronik dari otitis eksterna akut.
Edema kulit liang telinga, sekret yang sorous atau purulen, penebalan kulit yang progresif
pada otitis eksterna yang lama, sering menyumbat lumen kanalis dan menyebabkan
timbulnya tuli konduktif. Keratin yang deskuamasi, rambut, serumen, debris, dan obat-obatan
yang digunakan kedalam telinga bisa menutup lumen yang mengakibatkan peredaman
hantaran suara.

TANDA-TANDA KLINIS

Menurut MM. Carr secara klinik otitis eksterna terbagi :


1. Otitis Eksterna Ringan : kulit liang telinga hiperemis dan eksudat, liang telinga
menyempit.

2. Otitis Eksterna Sedang : liang telinga sempit, bengkak, kulit hiperemis dan eksudat
positif

3. Otitis Eksterna Komplikas : Pina/Periaurikuler eritema dan bengkak

4. Otitis Eksterna Kronik : kulit liang telinga/pina menebal, keriput, eritema positif.

8
OTITIS EKSTERNA SIRKUMKRIPTA (FURUNKEL/BISUL)

Otitis eksterna sirkumskripta adalah infeksi bermula dari folikel rambut di liang telinga
yang disebabkan oleh bakteri stafilokokus dan menimbulkan furunkel di liang telinga di 1/3
luar. Sering timbul pada seseorang yang menderita diabetes.
Gejala klinis otitis eksterna sirkumskripta berupa rasa sakit (biasanya dari ringan
sampai berat, dapat sangat mengganggu, rasa nyeri makin hebat bila mengunyah makanan).
Keluhan kurang pendengaran, bila furunkel menutup liang telinga. Rasa sakit bila daun
telinga ketarik atau ditekan. Terdapat tanda infiltrat atau abses pada 1/3 luar liang telinga.

Penatalaksanaan otitis eksterna sirkumskripta :


Lokal : pada stadium infiltrat diberikan tampon yang dibasahi dengan 10% ichthamol
dalam glycerine, diganti setiap hari. Pada stadium abses dilakukan insisi pada abses
dan tampon larutan rivanol 0,1%.

Sistemik : Antibiotika diberikan dengan pertimbangan infeksi yang cukup berat.


Diberikan pada orang dewasa ampisillin 250 mg qid, eritromisin 250 qid. Anak-anak
diberikan dosis 40-50 mg per kg BB.

Analgetik : Parasetamol 500 mg qid (dewasa). Antalgin 500 mg qid (dewasa).

Pada kasus-kasus berulang tidak lupa untuk mencari faktor sistemik yaitu adanya penyakit
diabetes melitus.

OTITIS EKSTERNA DIFUS

Otitis eksterna difus adalah infeksi pada 2/3 dalam liang telinga akibat infeksi bakteri.
Umumnya bakteri penyebab yaitu Pseudomonas. Bakteri penyebab lainnya yaitu
Staphylococcus albus, Escheria coli, dan sebagainya. Kulit liang telinga terlihat hiperemis
dan udem yang batasnya tidak jelas. Tidak terdapat furunkel (bisul). Gejalanya hamper sama
dengan gejala otitis eksterna sirkumskripta (furunkel = bisul). Beberapa gejala yang mungkin
ditemukan adalah :
a. Nyeri tekan tragus

b. Nyeri hebat

9
c. Pembengkakan sebagian besar dinding kanalis

d. Secret yang sedikit

e. Pendengaran normal atau sedikit berkurang.

f. Tidak adanya partikel jamur

g. Mungkin ada adenopati regional yang nyeri tekan.

Kadang-kadang kita temukan sekret yang berbau namun tidak bercampur lendir
(musin). Lendir (musin) merupakan sekret yang berasal dari kavum timpani dan kita temukan
pada kasus otitis media.
Pengobatan otitis eksterna difus ialah dengan memasukkan tampon yang mengandung
antibiotik ke liang telinga supaya terdapat kontak yang baik antara obat dengan kulit yang
meradang. Kadang-kadang diperlukan obat antibiotika sistemik.
Terdapat beberapa pilihan obat telinga untuk terapi otitis eksterna difusa. Tetes telinga
yang sering digunakan adalah cortisporin (polimiksin B, neomisisn, hidrokortison), Coli-
Mycin S (kolistin, neomisin, hidrokortison), Pyocidin (polimiksin B, hidrokortison), VoSol
HC (asam asetat-nonakueus 2 %, hidrokortison), dan Chloromycetin (kloramfenikol).
Terapi sistemik hanya dipertimbangkan pada kasus-kasus berat; dianjurkan untuk
melakukan pemeriksaan kepekaan bakteri. Antibiotic sistemik khususnya diperlukan jika
dicurigai adanya perikondritis atau kondritis pada tulang rawan telinga. Otitis eksterna difusa
dapat pula timbul sekunder dari otitis media akut atau kronik. Pada kasus demikian,
pengobatan terutama ditujukan pada penyakit telinga tengah.

OTITIS MEDIA SUPURATIF AKUT


(OMA)

Djafaar dkk dalam Buku Ajar THT-KL menyebutkan otitis media ialah peradangan
sebagian atau seluruh mukosa telinga, tuba Eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid.

Epidemiologi
Faktor-faktor yang mempenfaruhi angka kejadian otitis media yaitu usia, jenis
kelamin, ras, latar belakang genetik, status sosioekonomi, jenis susu saat bayi, derajat

10
paparan terhadap rokok, ada tidaknya alergi pada sistem respirasi, musim, dan status
vaksinasi pneumokokus.

Patogenesis

Sembuh/normal

Gangguan tuba Tekanan negative


Etiologi: telinga tengah Efusi Fungsi tuba
Perubahan tekanan udara tetap
terganggu
tiba-tiba Infeksi (-)
Alergi

Infeksi OME (otitis


Fungsi tuba media efusi)
Sumbatan: sekret, tampon, tetap
tumor terganggu
Infeksi (+)

OMA (otitis media akut)

Sembuh OME OMSK (otitis media


supuratif kronik)

Otitis Media Akut

a. Factor pencetus terjadinya otitis media akut menurut Djafaar dkk.:

Terganggunya factor pertahanan tubuh, yaitu terganggunya silia pada mukosa tuba
Eustachius
Sumbatan tuba Eustachius
Infeksi saluran napas atas, semakin sering terkena ISPA maka makin besar
kemungkinan anak mengalami OMA.
Pada anak anatomi tuba Eustachius juga terlibat mempermudah terjadinya OMA.

11
Bakteri piogenik merupakan penyebab utama OMA (otitis media akut), seperti
Streptococcus haemolyticus, Stafilococcus aureus, pneumakokus. Kadang- kadang
Haemophylus influenza ditemukan juga.

b. Djafaar dkk. Membagi OMA dalam beberapa 5 stadium :

Stadium - Retraksi membran timpani karena adanya tekanan negatif di


Oklusi Tuba telinga tengah akibat absorpsi udara.
Eustachius - kadang membran timpani tampak normal atau berwarna keruh pucat
- efusi tidak dapat dideteksi
- stadium ini sukar dibedakan dengan otitis media serosa karena virus
atau alergi
stadium - Pelebaran pembuluh darah di membran timpani tampak
hiperemis (pre- hiperemis dan edem
supurasi) - Terbentuk sekret yang mungkin bersifat eksudat serosa sukar
terlihat
stadium - Edema hebat pada mukosa telinga tengah, sel epitel superfisialis
supurasi hancur, terbentuk eksudat purulen di kavum timpani membran
timpani menonjol ke arah telinga luar
- Pasien terlihat sangat sakit, peningkatan nadi dan suhu, pertambahan
nyeri telinga
- Jika tekanan di kavum tidak berkurang karena tekanan nanah
iskemik, tromboflebitis pada vena-vena kecil, nekrosis mukosa dan
submukosa daerah ini tampak kekuningan dan lebih lembek
akan terjadi ruptur
stadium - Ruptur membran timpani sekret mengalir ke liang telinga luar
perforasi Anak menjadi tenang dan dapat tidur nyenyak

stadium - Bila membran timpani tetap utuh akan kembali normal secara
resolusi perlahan-lahan
- Dapat terjadi tanpa pengobatan bila daya tahan tubuh baik atau
virulensi kuman rendah
- Bila peeforasi menetap dan sekret keluar terus-menerus atau hilang
timbul OMSK

12
- Bila skret menetap dalam kavum timpani dan tidak terjadi perforasi
OM serosa

c. Gejala Klinik OMA

Tergantung pada stadium penyakit dan usia pasien


Pada bayi: suhu tinggi mencapai 39,5C (pada stadium supurasi), gelisah, sukar tidur
Pada anak yang sudah dapat berbicara: nyeri di dalam telinga dan demam, biasanya
terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya
Pada anak yang lebih besar atau dewasa: nyeri di dalam telinga, rasa penuh di telinga,
rasa kurang dengar
Tiba-tiba anak menjerit waktu tidur, diare, kejang-kejang, dan kadang memegang
telinga yang sakit

d. Diagnosis

Kerschner mengatakan diagnosis OMA membutuhkan:


a. Penggalian anamnesis mengenai tanda dan gejala
b. Adanya efusi telinga tengah (MEE)
c. Tanda dan gejala inflamasi telinga tengah

Kerschner juga mendefinisikan OMA sebagai:


a. Onset yang tiba-tiba dan baru dari tanda dan gejala inflamasi telinga tengah dan MEE
b. Adanya MEE diindikasikan oleh
Tonjolan membran timpani
Keterbatasan atau tidak adanya mobilisasi membran timpani
Air-fluid level dibelakang membran timpani
Otorrhea
c. Inflamasi telinga tengah diindikasikan oleh
Erythema membran timpani yang nyata
Otalgia yang nyata

e. Terapi

Tergantung pada stadium penyakitnya

13
Stadium o Tujuan: membuka tuba tekanan negatif telinga tengah hilang
oklusi o Diberi obat tetes hidung : HCl efedrin 0,5% dalam larutan
fisiologik (<12 tahun), atau HCl efedrin 1% dalam larutan
fisiologik (>12 tahun, dan dewasa)
o Obati sumber infeksi

Stadium o Antibiotik (minimal selama 7 hari) : golongan penicilin (lini


presupurasi pertama) (awalnya diberikan secara IM sehingga didapat
konsentrasi yang adekuat dalam darah tidak terjadi
mastoiditis terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala
sisa, maupun kekambuhan).
Jika alergi pensilin, beri eritromisin.
Dosis ampisilin anak: 50-100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4
dosis
Atau amoksisilin (anak) 40 mg/kgBB/hari daibagi dalam 3
dosis
Atau eritromisin (anak) 40 mg/kgBB/hari
o Obat tetes hidung
o Analgetika

Stadium o Antibiotika
supurasi o Miringotomi (bila membran timpani masih utuh): dapat
menghindari ruptur, gejala klinis lebih cepat hilang
o Miringotomi ialah tindakan incisi pada pars tensa membran
itmpani agar terjadi drenase sekret dari telinga tengah ke
telinga luar
o Miringotomi memiliki banyak komplikasi (ex. Perdarahan,
trauma pada n. Facialis) tidak perlu dilakukan bila terapi
antibiotik yang adekuat dapat diberikan

Stadium o Obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik
perforasi yang adekuat
o Biasanya Dalam 7-10 hari sekret akan hilang dan perforasi

14
dapat menutup kembali

Jika tidak o Lanjutkan antibiotik hingga 3 minggu jika sekret masih


terjadi tetap banyak mungkin terjadi mastoiditis
resolusi
Jika sekret terus keluar >3 minggu otitis media supuratif subakut
Jika perforasi menetap dan sekret terus keluar >1,5-2 bulan otitis
media supuratif kronik (OMSK)

15
Subcommittee on Management of Acute Otitis Media menggambarkan alur terapi OMA
sebagai berikut:
Anak (2 bl 12 tahun) dengan Diagnosis OMA:
OMA tanpa komplikasi - Tanda dan gejala dengan onset akut
- Efusi telinga tengah (+)
- Tanda dan gejala inflamasi telinga tengah (+)

Menilai nyeri pada pasien

Nyeri (-)
Nyeri (+)

Rekomendasikan pengobatan untuk


mengurangi nyeri pada pasien

Apakah observasi merupakan Apakah anak memiliki


pilihan tepat terapi awal? * Tidak demam 39,5C dan/atau
otalgia berat atau sedang? Tidak

Iya
Amoxicillin dosis 80-90
Iya mg/kg/hari sebagai terapi
awal antibiotik pada
Anak diobservasi selama 48-72 jam dg sebagian besar anak
jaminan follow-up yang tepat Anak ditatalaksana dengan
terapi antibiotik yang tepat

Apakah pasien berespon terhadap intervensi tatalaksana awal (baik terapi antibiotik maupun observasi)?

Iya Tidak

Diagnosis OMA tidak dapat


Follow-up pasien dg tepat Penaksiran ulang dan konfirmasi lagi dipastikan
diagnosis OMA

Diagnosis OMA telah dikonfirmasi (dipastikan) Menilai kemungkinan penyebab


lain dari keluhan pasien dan
tangani dg tepat

Pasien dg terapi awal observasi: segera mulai terapi antibiotik


Pasien dg terapi awal antibiotik: ubah antibiotik dengan yang lain

16
d. Komplikasi

Abses sub-periosteal hingga meningitis dan abses otak merupakan komplikasi OMA
sebelum ada terapi antibiotik.

Setelah ada antibiotik, semua jenis komplikasi didapat sebagai komplikasi OMSK.

OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK


(OMSK)

DEFINISI
OMSK adalah stadium dari penyakit telinga tengah dimana terjadi peradangan kronis
dari telinga tengah dan mastoid dan membran timpani tidak intak (perforasi) dan ditemukan
sekret (otorea), purulen yang hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau
berupa nanah dan berlangsung lebih dari 2 bulan. Perforasi sentral adalah pada pars tensa dan
sekitar dari sisa membran timpani atau sekurang-kurangnya pada annulus. Defek dapat
ditemukan seperti pada anterior, posterior, inferior atau subtotal. Menurut Ramalingam
bahwa OMSK adalah peradangan kronis lapisan mukoperiosteum dari middle ear cleft
sehingga menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan patologis yang ireversibel.

17
KLASIFIKASI OMSK
OMSK dapat dibagi atas 2 tipe yaitu :
A. Tipe tubotimpani = tipe jinak = tipe aman = tipe rhinogen.

Penyakit tubotimpani ditandai oleh adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala
klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit.
Secara klinis penyakit tubotimpani terbagi atas:
1. Penyakit aktif
Pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan tuli. Biasanya didahului oleh perluasan
infeksi saluran nafas atas melalui tuba eutachius, atau setelah berenang dimana kuman masuk
melalui liang telinga luar. Sekret bervariasi dari mukoid sampai mukopurulen.
1. Penyakit tidak aktif
` Pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering dengan mukosa telinga
tengah yang pucat. Gejala yang dijumpai berupa tuli konduktif ringan. Gejala lain yang
dijumpai seperti vertigo, tinitus,atau suatu rasa penuh dalam telinga.

B. Tipe atikoantral = tipe ganas = tipe tidak aman = tipe tulang


Pada tipe ini ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya. Penyakit atikoantral lebih
sering mengenai pars flasida dan khasnya dengan terbentuknya kantong retraksi yang mana
bertumpuknya keratin sampai menghasilkan kolesteatom. Kolesteatom dapat dibagi atas 2
tipe yaitu:
a. Kongenital
b. Didapat.
Pada umumnya kolesteatom terdapat pada otitis media kronik dengan perforasi
marginal. teori itu adalah :
Epitel dari liang telinga masuk melalui perforasi kedalam kavum timpani dan disini ia
membentuk kolesteatom (migration teori menurut Hartmann); epitel yang masuk
menjadi nekrotis, terangkat keatas.
Embrional sudah ada pulau-pulau kecil dan ini yang akan menjadi kolesteatom.
Mukosa dari kavum timpani mengadakan metaplasia oleh karena infeksi (metaplasia
teori menurut Wendt).
Ada pula kolesteatom yang letaknya pada pars plasida (attic retraction cholesteatom).

Berdasarkan letak perforasi, OMSK dapat terjadi pada :

18
1. Perforasi sentral
Lokasi pada pars tensa, bisa antero-inferior, postero-inferior dan postero-superior,
kadang-kadang sub total.

2. Perforasi marginal
Terdapat pada pinggir membran timpani dengan adanya erosi dari anulus fibrosus.
Perforasi marginal yang sangat besar digambarkan sebagai perforasi total. Perforasi pada
pinggir postero-superior berhubungan dengan kolesteatom.

3. Perforasi atik
Terjadi pada pars flasida, berhubungan dengan primary acquired cholesteatoma.

EPIDEMIOLOGI
Prevalensi OMSK pada beberapa negara antara lain dipengaruhi, kondisi sosial,
ekonomi, suku, tempat tinggal yang padat, hygiene dan nutrisi yang jelek. Kebanyakan
melaporkan prevalensi OMSK pada anak termasuk anak yang mempunyai kolesteatom, tetapi
tidak mempunyai data yang tepat, apalagi insiden OMSK saja, tidak ada data yang tersedia.

ETIOLOGI
Terjadi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada anak, jarang
dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal dari nasofaring (adenoiditis,
tonsilitis, rinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Fungsi tuba
Eustachius yang abnormal merupakan faktor predisposisi yang dijumpai pada anak dengan
cleft palate dan Downs syndrom. Adanya tuba patulous, menyebabkan refluk isi nasofaring
yang merupakan faktor insiden OMSK yang tinggi di Amerika Serikat. Kelainan humoral
(seperti hipogammaglobulinemia) dan cell-mediated (seperti infeksi HIV, sindrom kemalasan
leukosit) dapat manifest sebagai sekresi telinga kronis.
Penyebab OMSK antara lain:
1. Lingkungan
2. Genetik
3. Otitis media sebelumnya.
4. Infeksi
5. Infeksi saluran nafas atas
6. Autoimun

19
7. Alergi
8. Gangguan fungsi tuba eustachius.
Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani menetap pada
OMSK:
Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi
sekret telinga purulen berlanjut.
Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada
perforasi.
Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme
migrasi epitel.
Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat
diatas sisi medial dari membran timpani. Proses ini juga mencegah penutupan spontan
dari perforasi.
Faktor-faktor yang menyebabkan penyakit infeksi telinga tengah supuratif menjadi
kronis majemuk, antara lain:
1. Gangguan fungsi tuba eustachius yang kronis atau berulang.
a. Infeksi hidung dan tenggorok yang kronis atau berulang.
b. Obstruksi anatomik tuba Eustachius parsial atau total
2. Perforasi membran timpani yang menetap.
3. Terjadinya metaplasia skumosa atau perubahan patologik menetap lainya pada telinga
tengah.
4. Obstruksi menetap terhadap aerasi telinga atau rongga mastoid.
5. Terdapat daerah-daerah dengan sekuester atau osteomielitis persisten di mastoid.
6. Faktor-faktor konstitusi dasar seperti alergi, kelemahan umum atau perubahan
mekanisme pertahanan tubuh.

PATOGENESIS
Patogenesis OMSK belum diketahui secara lengkap, tetapi dalam hal ini merupakan
stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi yang sudah terbentuk diikuti
dengan keluarnya sekret yang terus menerus. Perforasi sekunder pada OMA dapat terjadi
kronis tanpa kejadian infeksi pada telinga tengah misal perforasi kering. Beberapa penulis
menyatakan keadaan ini sebagai keadaan inaktif dari otitis media kronis.

20
PATOLOGI
OMSK lebih sering merupakan penyakit kambuhan dari pada menetap. Keadaan
kronis ini lebih berdasarkan keseragaman waktu dan stadium dari pada keseragaman
gambaran patologi. Secara umum gambaran yang ditemukan adalah:
1. Terdapat perforasi membrana timpani di bagian sentral.
2. Mukosa bervariasi sesuai stadium penyakit
3. Tulang-tulang pendengaran dapat rusak atau tidak, tergantung pada beratnya infeksi
sebelumnya.
4. Pneumatisasi mastoid
OMSK paling sering pada masa anak-anak. Pneumatisasi mastoid paling akhir terjadi
antara 5-10 tahun. Proses pneumatisasi ini sering terhenti atau mundur oleh otitis media yang
terjadi pada usia tersebut atau lebih muda. Bila infeksi kronik terus berlanjut, mastoid
mengalami proses sklerotik, sehingga ukuran prosesus mastoid berkurang.

GEJALA KLINIS
1. Telinga Berair (Otorrhoe)
Sekret bersifat purulen atau mukoid tergantung stadium peradangan. Pada OMSK tipe
jinak, cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi
iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi. Keluarnya sekret
biasanya hilang timbul. Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adannya sekret telinga.
Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena
rusaknya lapisan mukosa secara luas. Sekret yang bercampur darah berhubungan dengan
adanya jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang
mendasarinya. Suatu sekret yang encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan
tuberkulosis.
2. Gangguan Pendengaran
Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Beratnya
ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan
mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. Pada OMSK tipe maligna biasanya
didapat tuli konduktif berat.
3. Otalgia (Nyeri Telinga)
Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus. Nyeri dapat
berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya
durameter atau dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak. Nyeri

21
merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis, subperiosteal abses atau
trombosis sinus lateralis.
4. Vertigo
Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi
dinding labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan
udara yang mendadak atau pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya
karena perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah
terangsang oleh perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan
keluhan vertigo. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum.
TANDA KLINIS
Tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna :
1. Adanya Abses atau fistel retroaurikular
2. Jaringan granulasi atau polip diliang telinga yang berasal dari kavum timpani.
3. Pus yang selalu aktif atau berbau busuk (aroma kolesteatom)
4. Foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom.

PEMERIKSAAN KLINIK
Untuk melengkapi pemeriksaan, dapat dilakukan pemeriksaan klinik sebagai berikut :
Pemeriksaan Audiometri
Pada pemeriksaan audiometri penderita OMSK biasanya didapati tuli konduktif. Tapi
dapat pula dijumpai adanya tuli sensotineural, beratnya ketulian tergantung besar dan letak
perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas
Derajat ketulian nilai ambang pendengaran
Normal : -10 dB sampai 26 dB
Tuli ringan : 27 dB sampai 40 dB
Tuli sedang : 41 dB sampai 55 dB
Tuli sedang berat : 56 dB sampai 70 dB
Tuli berat : 71 dB sampai 90 dB
Tuli total : lebih dari 90 dB.
Untuk melakukan evaluasi ini, observasi berikut bisa membantu :
1. Perforasi biasa umumnya menyebabkan tuli konduktif tidak lebih dari 15-20 dB
2. Kerusakan rangkaian tulang-tulang pendengaran menyebabkan tuli konduktif 30-
50 dB apabila disertai perforasi.

22
3. Diskontinuitas rangkaian tulang pendengaran dibelakang membran yang masih
utuh menyebabkan tuli konduktif 55-65 dB.
4. Kelemahan diskriminasi tutur yang rendah, tidak peduli bagaimanapun keadaan
hantaran tulang, menunjukan kerusakan kohlea parah.
Pemeriksaan Radiologi.
1. Proyeksi Schuller
Memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dari arah lateral dan atas. Foto ini
berguna untuk pembedahan karena memperlihatkan posisi sinus lateral dan tegmen.
2. Proyeksi Mayer atau Owen,
Diambil dari arah dan anterior telinga tengah. Akan tampak gambaran tulang-tulang
pendengaran dan atik sehingga dapat diketahui apakah kerusakan tulang telah mengenai
struktur-struktur.
3. Proyeksi Stenver
Memperlihatkan gambaran sepanjang piramid petrosus dan yang lebih jelas
memperlihatkan kanalis auditorius interna, vestibulum dan kanalis semisirkularis.
4. Proyeksi Chause III
Memberi gambaran atik secara longitudinal sehingga dapat memperlihatkan
kerusakan dini dinding lateral atik. Politomografi dan atau CT scan dapat menggambarkan
kerusakan tulang oleh karena kolesteatom.

Bakteriologi
Bakteri yang sering dijumpai pada OMSK adalah Pseudomonas aeruginosa,
Stafilokokus aureus dan Proteus. Sedangkan bakteri pada OMSA Streptokokus pneumonie,
H. influensa, dan Morexella kataralis. Bakteri lain yang dijumpai pada OMSK E. Coli,
Difteroid, Klebsiella, dan bakteri anaerob adalah Bacteriodes sp.
1. Bakteri spesifik
Misalnya Tuberkulosis. Dimana Otitis tuberkulosa sangat jarang ( kurang dari 1%
menurut Shambaugh). Pada orang dewasa biasanya disebabkan oleh infeksi paru yang lanjut.
Infeksi ini masuk ke telinga tengah melalui tuba. Otitis media tuberkulosa dapat terjadi pada
anak yang relatif sehat sebagai akibat minum susu yang tidak dipateurisasi.
2. Bakteri non spesifik baik aerob dan anaerob.
Bakteri aerob yang sering dijumpai adalah Pseudomonas aeruginosa, stafilokokus
aureus dan Proteus sp. Antibiotik yang sensitif untuk Pseudomonas aeruginosa adalah
ceftazidime dan ciprofloksasin, dan resisten pada penisilin, sefalosporin dan makrolid.

23
Sedangkan Proteus mirabilis sensitif untuk antibiotik kecuali makrolid. Stafilokokus aureus
resisten terhadap sulfonamid dan trimethoprim dan sensitif untuk sefalosforin generasi I dan
gentamisin.

PENATALAKSANAAN
Prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi, dimana
pengobatan dapat dibagi atas :
1. Konservatif
2. Operasi

OMSK BENIGNA TENANG


Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan, dan dinasehatkan untuk jangan mengorek
telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi, dilarang berenang dan segera berobat
bila menderita infeksi saluran nafas atas. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan
operasi rekonstruksi (miringoplasti, timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta
gangguan pendengaran.

OMSK BENIGNA AKTIF


Prinsip pengobatan OMSK adalah :
1.Membersihkan liang telinga dan kavum timpani.
2.Pemberian antibiotika :
- topikal antibiotik ( antimikroba)
- sistemik.
Pemberian antibiotik topikal
Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang banyak tanpa
dibersihkan dulu, adalah tidak efektif. Bila sekret berkurang/tidak progresif lagi diberikan
obat tetes yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid.Mengingat pemberian obat topikal
dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah, maka tidak dianjurkan antibiotik yang
ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1 minggu. Cara pemilihan
antibiotik yang paling baik dengan berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistesni.
Bubuk telinga yang digunakan seperti :
a. Acidum boricum dengan atau tanpa iodine
b. Terramycin.
c. Asidum borikum 2,5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg

24
Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMSK aktif yang
dikombinasi dengan pembersihan telinga.
Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada otitis media kronik adalah:
1. Polimiksin B atau polimiksin E
Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif, Pseudomonas, E. Koli
Klebeilla, Enterobakter, tetapi resisten terhadap gram positif, Proteus, B. fragilis Toksik
terhadap ginjal dan susunan saraf.
2. Neomisin
Obat bakterisid pada kuma gram positif dan negatif, misalnya : Stafilokokus
aureus, Proteus sp. Resisten pada semua anaerob dan Pseudomonas. Toksik terhadap
ginjal dan telinga.
3. Kloramfenikol
Obat ini bersifat bakterisid
Pemberian antibiotik sistemik
Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret
profus. Bila terjadi kegagalan pengobatan, perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan
yang ada pada penderita tersebut. Antimikroba dapat dibagi menjadi 2 golongan. Golongan
pertama daya bunuhnya tergantung kadarnya. Makin tinggi kadar obat, makin banyak kuman
terbunuh, misalnya golongan aminoglikosida dengan kuinolon. Golongan kedua adalah
antimikroba yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik. Peninggian dosis
tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan ini, misalnya golongan beta laktam.
Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis media kronik adalah.
Pseudomonas : Aminoglikosida karbenisilin
P. mirabilis : Ampisilin atau sefalosforin
P. morganii, P. vulgaris : Aminoglikosida Karbenisilin
Klebsiella : Sefalosforin atau aminoglikosida
E. coli : Ampisilin atau sefalosforin
S. Aureus Anti-stafilikokus : penisilin, sefalosforin, eritromisin, aminoglikosida
Streptokokus : Penisilin, sefalosforin, eritromisin, aminoglikosida
B. fragilis : Klindamisin
Antibiotika golongan kuinolon (siprofloksasin, dan ofloksasin) yaitu dapat derivat
asam nalidiksat yang mempunyai aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan peroral.
Tetapi tidak dianjurkan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun. Golongan sefalosforin
generasi III ( sefotaksim, seftazidinm dan seftriakson) juga aktif terhadap pseudomonas,

25
tetapi harus diberikan secara parenteral. Terapi ini sangat baik untuk OMA sedangkan untuk
OMSK belum pasti cukup, meskipun dapat mengatasi OMSK. Metronidazol mempunyai efek
bakterisid untuk kuman anaerob. Menurut Browsing dkk metronidazol dapat diberikan
dengan dan tanpa antibiotik (sefaleksin dan kotrimoksasol) pada OMSK aktif, dosis 400 mg
per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 2-4 minggu.

OMSK MALIGNA
Pengobatan untuk OMSK maligna adalah operasi. Pengobatan konservatif dengan
medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila
terdapat abses subperiosteal, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum
kemudian dilakukan mastoidektomi.
Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada
OMSK dengan mastoiditis kronis, baik tipe benigna atau maligna, antara lain:
1.Mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy)
2.Mastoidektomi radikal
3.Mastoidektomi radikal dengan modifikasi
4.Miringoplasti
5.Timpanoplasti
6.Pendekatan ganda timpanoplasti (Combined approach tympanoplasty)
Tujuan operasi adalah menghentikan infeksi secara permanen, memperbaiki membran
timpani yang perforasi, mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang
lebih berat, serta memperbaiki pendengaran.

KOMPLIKASI
Tendensi otitis media mendapat komplikasi tergantung pada kelainan patologik yang
menyebabkan otore. Walaupun demikian organisme yang resisten dan kurang efektifnya
pengobatan, akan menimbulkan komplikasi. biasanya komplikasi didapatkan pada pasien
OMSK tipe maligna, tetapi suatu otitis media akut atau suatu eksaserbasi akut oleh kuman
yang virulen pada OMSK tipe benigna pun dapat menyebabkan komplikasi.
Komplikasi intra kranial yang serius lebih sering terlihat pada eksaserbasi akut dari
OMSK berhubungan dengan kolesteatom.
A. Komplikasi ditelinga tengah :
1. Perforasi persisten membrane timpani

26
2. Erosi tulang pendengaran
3. Paralisis nervus fasial
B. Komplikasi telinga dalam
1. Fistel labirin
2. Labirinitis supuratif
3. Tuli saraf ( sensorineural)
C. Komplikasi ekstradural
1. Abses ekstradural
2. Trombosis sinus lateralis
3. Petrositis
D. Komplikasi ke susunan saraf pusat
1. Meningitis
2. Abses otak
3. Hindrosefalus otitis
Perjalanan komplikasi infeksi telinga tengah ke intra kranial harus melewati 3 macam
lintasan:
1. Dari rongga telinga tengah ke selaput otak
2. Menembus selaput otak.
3. Masuk kejaringan otak.

OTITIS MEDIA NON-SUPURATIF

DEFINISI
Otitis media non supuratif disebut juga dengan nama otitis media serosa, otitis media
musinosa, otitis media efusi, otitis media sekretoria, otitis media mucoid (glue ear).
Otitis media non supuratif adalah suatu keadaan pada telinga tengah yang ditandai
dengan terdapatnya sekret yang nonpurulen dan membran timpani utuh tanpa tanda-tanda
radang. Adanya cairan di telinga tengah dengan membran timpani utuh tanpa tanda-tanda
infeksi disebut juga otitis media dengan efusi.

Jenis efusi :
Encer otitis media serosa

Kental seperti lem otitis media mukoid (glue ear)

27
ETIOLOGI
Otitis Media Serosa akibat adanya transudat atau plasma yang mengalir dari
pembuluh darah ke telinga tengah yang sebagian besar terjadi akibat adanya
perbedaan tekanan hidrostatik.

Otitis Media Mukoid cairan yang ada di telinga tengah timbul akibat sekresi aktif
dari kelenjar dan kista yang terdapat di dalam mukosa telinga tengah, tuba Eustachius
dan rongga mastoid.

OTITIS MEDIA SEROSA AKUT

Definisi
Keadaan terdapatnya sekret di telinga tengah secara tiba-tiba yang disebabkan oleh
gangguan fungsi tuba.

Etiologi
Keadaan akut pada otitis tipe ini dapat disebabkan oleh :
Sumbatan tuba, pada keadaan tersebut terbentuk cairan di telinga tengah disebabkan
oleh tersumbatnya tuba secara tiba-tiba seperti pada barotrauma

Virus, terbentuknya cairan di telinga tengah yang berhubungan dengan infeksi virus
pada jalan napas atas

Alergi, terbentuknya cairan di telinga tengah yang berhubungan dengan keadaan


alergi pada jalan napas atas

Idiopatik

Gejala
Gejala yang menonjol biasanya pendengaran berkurang

Pasien dapat mengeluh rasa tersumbat pada telinga atau suara sendiri terdengar lebih
nyaring atau berbeda pada telinga yang sakit (diplacusis binauralis)

Kadang terasa seperti ada cairan yang bergerak dalam telinga pada saat posisi kepala
berubah

28
Rasa sedikit nyeri dalam telinga dapat terjadi pada saat awal tuba terganggu, yang
menyebabkan timbul tekanan negatif pada telinga tengah, tetapi setelah sekret
terbentuk tekanan negatif ini pelan-pelan hilang

Tinitus, vertigo atau pusing kadang-kadang ada dalam bentuk yang ringan

Tanda
Otoskopi terlihat membran timpani retraksi

Kadang-kadang tampak gelembung udara atau permukaan cairan dalam kavum


timpani.

Tuli konduktif dibuktikan dengan tes garpu tala

Tata Laksana
Pengobatan dapat secara medikamentosa dan pembedahan. Pada pengobatan medikal
diberikan obat vasokonstriktor lokal (tetes hidung), anti histamin serta perasat Valsava bila
tidak ada tanda-tanda infeksi di jalan napas atas.
Setelah satu atau dua minggu, bila gejala-gejala masih menetap, dilakukan miringotomi
dan bila masih belum sembuh maka dilakukan miringotomi serta pemasangan pipa ventilasi
(grommet tube).

OTITIS MEDIA SEROSA KRONIK (GLUE EAR)

Definisi
Batasan antara kondisi otitis media serosa akut dengan otitis media kronik hanya pada
cara terbentuknya sekret. Pada otitis media serosa akut sekret terjadi secara tiba-tiba di
telinga tengah dengan disertai rasa nyeri pada telinga, sedangkan pada keadaan kronis sekret
terbentuk secara bertahap tanpa rasa nyeri dengan gejala-gejala pada telinga yang
berlangsung lama.

Epidemiologi
Otitis media serosa kronik lebih sering terjadi pada anak-anak, sedangkan otitis media
serosa akut lebih sering terjadi pada orang dewasa. Otitis media serosa unilateral pada orang
dewasa tanpa penyebab yang jelas harus selalu dipikirkan kemungkinan adanya karsinoma
nasofaring.

29
Etiologi
Otitis media serosa kronik dapat terjadi sebagai gejala sisa dari otitis media akut yang
tidak sembuh sempurna. Penyebab lain diperkirakan adanya hubungan dengan infeksi virus,
keadaan alergi atau gangguan mekanis pada tuba.

Gejala dan Tanda


- Sekret pada otitis media serosa kronik dapat kental seperti lem (glue ear)

- Perasaan tuli lebih menonjol (40 50 dB) akibat sekret kental

- Otoskopi terlihat membran timpani utuh, retraksi, suram, kuning kemerahan atau
keabu-abuan

Tata Laksana
Pengobatan yang harus dilakukan adalah mengeluarkan sekret dengan miringitomi dan
memasang pipa ventilasi (Grommet).
Pada kasus yang masih baru, pemberian dekongestan tetes hidung serta kombinasi anti
histamin dekongesan per oral kadang-kadang bisa berhasil.
Pengobatan medikamentosa dianjurkan selama 3 bulan, bila tidak berhasil baru
dilakukan tindakan operasi. Disamping itu harus pula dinilai serta diobati faktor-faktor
penyebab seperti alergi, pembesaran adenoid atau tonsil, infeksi hidung dan sinus.

KOMPLIKASI OTITIS MEDIA

PENYEBARAN PENYAKIT
Komplikasi otitis media terjadi bila sawar pertahanan telinga tengah, yang terdiri dari
mukosa kavum timpani, dinding tulang rawan kavum timpani dan sel mastoid, serta lapisan
pertahanan yang ketiga adalah jaringan granulasi yang normal dilewati.
a. Penyebaran hematogen

Dapat diketahui melalui :


- Komplikasi terjadi pada aawal suatu infeksi atau ekstraserbasi akut, dapat
terjadi pada hari pertama atau kedua sanpai hari kesepuluh

- Gejala prodromal tidak jelas seperti didaptkan pada gejala meningitis local

30
- Pada oprasi, didapatkan dinding tulang telinga tengah utuh, dan tulang serta
lapisan mukoperiosteal meradang dan mudah berdarah, sehingga disebut jaga
mastoiditis hemoragika.

b. Penyebaran malalui erosi tulang

Dapat diketahui melalui :


- Komplikasi terjadi setelah beberapa minggu atau lebih setelah awal penyakit

- Gejala prodromal infeksi laokal biasanya mendahului gejala infeksi yang lebih
luas, misalnya paresis nervus fasialis yang ringan yang hilang timbul sebelum
terjadinya paresis nervus fasialis yang total.

- Pada oprasi dapat ditemukan lapisan tulang yang rusak di antara focus supurasi
dnenga struktur sekitarnya.

c. Penyebaran malalui jalur yang sudah ada

Penyebaran ini dapt diketahui malalui :


- Kompliksi terjadi pada awal penyakit

- Ada serangan labirinitis atau meningitis berulang, mungkin dapat ditemukan


fraktur tengkorak, riwayat oprasi tulang atau riwayat otitis media yang sudah
sembuh.

- Pada oprasi dapat ditemukan jalan perjalaran malalui sawar tulang yang bukan
oleh karena erosi.

Komplikasi di Telinga Tengah


Akibat infeksi telinga tengah hampir selalu berupa tuli konduktif. Pada membrane
timpani yang masih utuh, tetapi rangkaian tulang pendengaran terputus, akan menyebabkan
tuli konduktif yang berat. Derajat tuli konduktif tidak selalu berhubungan dengan
penyakitnya, ssebab jarigan patologis yang terdapat pada kavum timpani pun, misalnya
kolesteatoma dapat menghantar suata ke telinga dalam.
Paresis nervus fasialis

31
Dapat terjadi akibat penyebaran secara langsung melalui kanalis fasialis pada otitis
media akut. Pada otitis media kronis, kerusakan terjadi oleh erosi tulang oleh kolestoma
atau oleh jaringan granulasi, disusul oleh infeksi ke dalam kanalis fasialis tersebut.
Pada otitis media akut oprasi dekkompresi kanalis fasialis tidak diperlukan. Perlu
diberikan antibiotic dosis tinggi dan terapi penunjang lainnya, serta menghilangkan tekanan
di dalam kavum timvani dengan drainase. Bila dalam jangka waktu tertentu ternyata tidak
ada perbaikan setelah diukur dengan elektrodiagnostik, barulah dipikirkan untuk melakukan
dekompresi.
Pada otitis media supuratif kronis, tindakan dekompresi harus segera dilakukan tanpa
harus menunggu pemeriksaan elektrodiagnostik.

Komplikasi di Telinga Dalam


Apabila terjadi infeksi di telinga tengah ada kemungkinan untuk menjalar ketelinga
dalam malalui tingkap bulat. Selama keruskan hanya sampai bagian basalnya saja tidak akan
ada keluhan dari pasien. Apabila telah menyebar ke koklea akan menjadi masalah. Hal ini
sering digunakan sebagai indikasi miringotomi segera pada pasien otitis media kaut yang
tidak membaik dalam empat puluh delapan jam dengan pengobatan medikamentosa saja.
Penyebaran melalui proses destruksi, seperti oleh kolesteatoma atau infeksi langsung
ke labirin akan menyebabkan gangguan keseimbangan dan pendengaran, misalnya vertigo,
mual dan muntah, serta tuli saraf.

Fistula labirin dan labirinitis


Otitis media supuratif kronis terutama yang dengna kolesteatoma, dapat menyebabkan
terjadinya kerusakan pada bagian vestibuler labirin, sehingga terbentuk fistula. Pada
keadaan ini infeksi dapat masuk, sehingga terjadi labirinitis dan akhirnya akan terjadi
komplikasi tuli total dan meningitis.
Fistula di labirin dapat diketahui dengan tes fistula, yaitu dnegan memberikan tekanan
udara positif aau negative keliang telinga melalui otoskop dengna corong telinga yang kedap
atau balon karet dengna bentuk elips pada unjungnya yang dimasukkan ke dalam liang
telinga. Bila karet dipencet dan udara yang didalamnya akan menyebabkan perubahan
tekanan udara di dalamnya akan menyebabkan perubahan tekana udara di liang telinga. Bila
fistula yang terjadi masih paten maka akan terjadi kompresi dan ekspansi labirin
membrane. Tes fistula positif akan menimbulkan nistagmus atau vertigo. Tes fistula

32
negative, bila fistulanya sudah tertutup oleh jaringan granulasi atau bila labirin sudah mati/
paresis kanal.
Pada fistula labirin, oprsi segera dilakukan untuk menghilangkan infeksi dan menutup
fistula, sehingga fungsi telinga dalam dapat pulih kembali. Tindakan bedah harus adekuat,
untuk penyakit primer. Matriks kolesteatoma dan jaringan granulasi harus diangkat dari
fistula sampai bersih dan daerah tersebut harus segera ditutup dengna jaringan ikat atau
sekeping tulang/ tulang rawan.

Labirinitis
Labirinitis terjadi karena penyebaran infeksi ke ruang perilimfe. Terdapat dua bentuk
labirinitis yaitu labirinitis serosa dan labirinitis supuratif. Labirinitis serosa dapat berbentuk
labirinitis serosa difusa dan serkumsripta, sednagkan labirinitis supuratif dibagi dalam
bentuk labirinitis supuratif akut difusa dan labirinitis supuratif kronik difusa.
Pada labirinitis serosa toksin menyebabkan disfungsi labirin tanpa inversi sel
radang. Sedangkan pada labirinitis supuratif , sel radang menginvasi labirin, sehingga terjadi
kerusakan yang ireversibel, seperti fibrosa dan osifikasi.
Pada kedua bentuk labirinitis itu oprasi harus segera dilakukan untuk menghlangkan
infeksi dari telinga tengah. Kadang kadang diperlukan drainase nanah dari labirin untuk
mencegah terjadinya meningitis. Serta perlu juga diberikan antibiotika yang adekuat.

KOMPLIKASI KE EKSTRADURAL
Petrositis
Penyebaran ke os petrosum melalui penyebaran langsung ke sel-sel udara yang ada
pada tulang temporal yang tersebar hingga os petrosum. Dicurigai jika pasien otitis media
disertai gejala diplopia, karena kelemahan nervus VI. Seringkali disertai dengan rasa nyeri
di daerah parietal , temporal atau oksipital, oleh karena terkenanya nV ditambah dengan
terdapatnya otore yang persisten.
Kecurigaan terhadap petrosis terutama bila terdapat nanah yang keluar terus menrus
dan rasa nyeri yang menetap pasca mastoidektomi. Pengobatannya sendiri dengan oprasi
serta pemberian antibiotika protokol komplikasi intracranial.

Tromboflebitis Sinus Lateralis


Invasi infeksi ke sinus sigmoid keika melewati tulang mastoid akan menyebabkan
terjadinya thrombosis sinus lateralis. Komplikasi ini sering dijumpai sebelum era antibiotic,

33
namun kini telah jarang. Demam yang tidak dapat diterangkan penyebabnya merupakan
tanda pertama dari infeksi pembuluh darah. Pada mulanya suhu tubuh turun naik, tetapi
setelah penyakit menjadi berat didaptkan kurve suhu yang baik turun dengan sangat curam
disetai dengan menggigil. Kurve suhu demikian menandakan adanya sepsis.
Rasa nyeri biasanya tidak jelas, keculai bila sudah terdapat abses perisinus. Kultur
darah biasnaya positif, terutama bila darah diambil ketika demam. Pengobatan harus dengna
bedah yakni dengan melakukan pembuangan pada sumber infeksi di sel-sel mastoid,
membuang tulang yang berbatasan dengan sinus yang nekrotik.

Abses Ekstradural
Merupakan terkumpulnya nanah di antara duramater dan tulang. Pada otitis media
supuratif kronis keadaan ini berhubungna dengna jaringan granulasi dan kolesteatomi yang
menyebabkan erosi tegmen timpani atau mastoid.
Gejalanya berupa nyeri telinga hebat dan nyeri kepala. Dengan foto ronsen mastoid
yang baik, terutama posisi schuller, dapat dilihat kerusakan di lempeng tegmen.

Abses Subdural
Biasanya terjadi akibat perluasan tromboflebitis melalui pembuluh vena. Gejalanya
dapat berupa demam, nyeri kepala dan penurunan kesadaran sampai koma pada pasien
OMSK. Gejala SSSP dapat berupa kejang, hemiplegia dan pada pemeriksaan terdapat
tanda kernig positif.
Pungsi lumbal diperlukan untuk membedakan abses subdural dengan meningitis. Pada
abses subdural pada pemeriksaan likior serebrospinal kadar protein biasanya normal dan
tidak ditemukan bakteri. Kalau pada abses ekstradural nanah keluar pada waktu oprasi
mastoidektomi, pada abses subdural nanah harus dikeluarkan secara bedah saraf.

KOMPLIKASI ke SSP
Meningitis
Kompikasi otitis media ke SSP yang tersering adalah meningitis. Baik otitis media akut
mapun kronik serta dapat terlokalisasi dan umum. Gejala klinik meningitis biasanya berupa
kaku kuduk, kenaikan suhu tubuh, mual muntah yang kadang-kadang muntahnya muncrat,
serta nyeri kepala hebat. Pada kasus yang berat biasanya kesadaran menurun(sampai koma).
Terdapat tanda kernig (+). Pengobatan meningitis otogenik ialah dengan mengobati

34
meningitisnya dulu dnegna antibiotic yang sesuai,, kemudian infeksi di telinganya
ditanggulangi dengan oprasi mastoidektomi.

Abses Otak
Abses otak biasanya ditemui di serebelum, fosa kranial posterior atu di lobus
temporal dan di fosa kranial media. Sering akibat tromboflebitis sinus lateralis, petrositis
atau meningitis. Gejala abses serebelum biasnaya lebih jelas daripada abses temporal.
Abses serebelum dapat ditandai dengan ataksia, disdiadokokinetis, tremor intensif dna tidak
tepat menunjuk suatu objek.
Afasia dapat terjadi pada abses lobus temporal. Gejala lain toksisitas berupa nyeri
kepala, demam, muntah, serta keadaan latargik. Selain itu sebgai tanda yang nyata sutau
abses otak ialah nadi yang lambat serta serangan kejang. Pemeriksaan liqior serebrospinal
memperlihatkan kadar protein yang meninggi seta kenaikan tekanan liqior. Mungkin
terdapat juga edema papil. Lokasi abses dapat diketahui melalui pemeriksaan angigrafi,
ventrikulografi atau dengan tomografi computer.
Pengobatan abses otak ialah dengan antibiotika parenteral dosis tinggi, dengan atau
tanpa oprasi untuk melakukan draenase dari lesi. Pengobatan dengan antibiotic harus
intensef. Mastoidektomi dilakuikan guna membuang sumber infeksi.

Hidrosefalus Otitis
Ditandai dengan peninggian tekanan lokuor serebrospinal yang hebat tanpa adanya
kealinan kimiawi dari likuor itu. Pada pemeriksaan terdat edema papil. Keadaan ini dapat
menyertai otitis media akut atau kronis.
Gejala berupa nyeri kepala yang menetap, diplopia, pandanganyang kabur, mual
muntah. Keadaan ini desebabkan oleh tertekannnya sinus lateralis yang mengakibatkan
kegagalan absorbsi likuor serebrospinal oleh lapisan araknoid.

MIRINGOTOMI
Miringotomi adalah tindakan inisisi pada pars tensa membran timpani, agar terjadi
drenase sekret dari teling tengah ke liang telinga luar. Istilah miringotomi sering dikacaukan
dengan parasentesis. Timpanosintesis sebenarnya berarti pungdi pada membran timpani
untuk mendapatkan sekret guna pemeriksaan mikrobiologik (dengan semprit dan jarum
khusus).

35
Miringotomi merupakan tindakan pembedahan kecil yang dilakukan dengan syarat
tindakan ini harus dilakukan secara a-vue (dilihat langsung), anak harus tenang dan dapat
dikuasai, (sehingga membran timpani dapat dilihat dengan baik).

Lokasi miringotomi adalah di kuadran posterior-anterior. Untuk tindakan ini haruslah


memakai lampu kepala yang mempunyai sinar cukup terang, memakai corong telinga yang
sesuai dengan besar liang telinga, dan pisau khusus (miringotom) yang digunakan berukuran
kecil dan steril.
Komplikasi miringotomi:
Komplikasi miringotomi yang mungkin terjadi adalah perdarahan akibat trauma pada
liang telinga tengah luar, dislokasi tulang pendengaran, trauma pada fenestra rotundum,
trauma pada n.fasialis, trauma pada bulbus jugulare (bila ada anatomi letak).
Mengingat kemungkinan komplikasi itu, maka dianjurkan untuk melakukan
miringotomi dengan narkosis umum dan memakai mikroskop. Tindakan miringotomi dengan
memakai mikroskop, selain aman, dapat juga untuk mengisap sekret dari teling tengah
sebanyak-banyaknya. Namun, dengan cara ini, biayanya lebih mahal.
Bila terapi yang diberikan sudah adekuat, sebetulnya miringotomi tidak perlu
dilakukan, kecuali bila jelas tampak adanya nanah di telinga tengah. Namun saat ini sebagian
ahli berpendapat bahwa miringotomi tidak perlu dilakuakan apabila terapi yang adekuat
sudah dpat diberikan (antibiotik yang tepat dan dosis cukup). Komplikasi timpanosintesis
kurang lebih sama dengan komplikasi miringotomi.

PEMBEDAHAN PADA OMSK

Ada beberapa jenis pembedahan atau teknik operasi yang dapat dilakukan pada OMSK
dengan mastoiditis kronis, baik tipe aman ataupun bahaya, antara lain:
1. Mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy),
2. Mastoidektomi radikal,
3. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi,
4. Miringoplasti,
5. Timpanoplasti,
6. Pendekatan ganda timpanoplasti (combined approach tympanoplasty).

Jenis operasi mastoid yang dilakukan tergantung pada luasnya infeksi atau kolesteatom,
sarana yang tersedia serta pengalaman operator. Sesuai denagn luasnya infeksi atau luas

36
kerusakan yang sudah terjadi, kadang-kadang dilakukan kombinasi dari jenis operasi itu atau
modifikasinya.

Mastoidektomi sederhana:
Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe aman yang dengan pengobatan konservatif tidak
sembuh. Dengan tindakan operasi ini dilakuakan pembersihan ruang mastoid dari jaringan
patologik. Tujuannya adalah supaya infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. Pada operasi
ini fungsi pendengaran tidak diperbaiki.

Mastoidektomi radikal:
Operasi ini dilakukan pada OMSK bahaya denagn infeksi atau kolesteatoma yang
sudah meluas. Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan dari semua
jaringan patologik. Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga tengah dengan rongga
mastoid diruntuhkan, sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu ruangan.
Tujuan operasi ini adalah untuk membuang semua jaringan patologik dan mencegah
komplikasi ke intrakranial. Fungsi pendengaran tidak diperbaiki.
Kerugian operasi ini adalah pasien tidak diperbolehkan berenang seumur hidupnya.
Pasien harus datang dengan teratur untuk kontrol, supaya tidak terjadi infeksi kembali.
Pendengaran berkurang sekali, sehingga dapat menghambat pendidikan atau karier pasien.
Modifikasi operasi ini adalah denagn memasang tandur (graft) pada rongga operasi
serta membuat meatoplasti yang lebar, sehingga rongga operasi kering permanen, tetapi
terdapat cacad anatomi, yaitu meatus liang telinga luar menjadi lebar.

Mastoidektomi radikal dengan modifikasi:


Operasi ini dilakukan pada OMSK dengan kolesteatoma di daerah atik, tetapi belum
merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding posterior liang
telinga direndahkan. Tujuan operasi ini adalah untuk membuang semua jaringan patologik
dari rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran yang masih ada.

Miringoplasti:
Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan, dikenal juga denagn
nama timpanoplasti tipe I. Rekonstruksi hanya dilakukan peda membran impani. Tujuan
operasi ini adalah mencegah berulangnya infeksi telinga tengah pada OMSK tipe aman

37
denagn perforasi yang menetap. Operasi ini dilakuakn pada OMSK tipe aman yang sudah
tenang dengan ketulian ringan yang hanya dosebabkan oleh perforasi membran timpani.

Timpanoplasti:
Operasi ini dikerjakan pada OMSK tipe aman dengan kerusakan yang lebih berat atau
OMSK tipe aman yang tidak bisa ditenangkan dengan pengobatan medikamentosa. Tujuan
operasi ini adalah untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran.
Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani sering kali harus dilakukan juga
rekonstruksi tulang pemndengaran. Berdasarkan bentuk rekonstruksi tulang pendengaran
yang dilakukan maka dikenal istilah timpanoplasti tipe II, III, IV dan V.
Sebelum rekonstruksi dikerjakan lebih dahulu dilakukan eksplorasi kavum timpani
dengan atau tanpa mastoidektomi, untuk membersihkan jaringan patologik. Tidak jaranga
juga operasi ini terpaksa dilakukan dua tahap dengan jarak waktu 6 s/d 12 bulan.

Timpanoplasti dengan pendekatan ganda (Combined Approach Tympanoplasty):


Operasi ini merupakan teknik operasi timpanoplasti yang dikerjakan pada kasus OMSK
tipe bahaya atau OMSK tipe aman dengan jaringan granulasi yang luas. Tujuan operasi ini
adalah untuk menyembuhkan penyakit derta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan
teknik mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior liang telinga).

Membersihkan kolesteatoma dan jaringan granulasi di kavum timpani, dikerjakan


melalui dua jalan (combined approach) yaitu melalui liang telinga dan rongga mastoid
dengan melakukan timpanotomi posterior. Teknik operasi ini pada OMSK tipe bahaya belum
disepakati oleh para ahli, oleh karena sering terjadi kambuhnya kolesteatoma kembali.

BAROTRAUMA
DEFINISI
Barotrauma adalah kerusakan jaringan dan sekuelenya yang terjadi akibat perbedaan
antara tekanan udara (tekan barometrik) di dalam rongga udara fisiologis dalam tubuh dengan
tekanan di sekitarnya. Barotrauma paling sering terjadi pada penerbangan dan penyelaman
dengan scuba.

38
ETIOLOGI
Barotrauma paling sering terjadi pada perubahan tekanan yang besar seperti pada
penerbangan, penyelaman misalkan pada penyakit dekompresi yang dapat menyebabkan
kelainan pada telinga, paru-paru, sinus paranasalis serta emboli udara pada arteri yang
dimana diakibatkan oleh perubahan tekanan yang secara tiba-tiba, misalkan pada telinga
tengah sewaktu dipesawat yang menyebabkan tuba eustakius gagal untuk membuka. Tuba
eustakius adalah penghubung antara telinga tengah dan bagian belakang dari hidung dan
bagian atas tenggorokan. Untuk memelihara tekanan yang sama pada kedua sisi dari gendang
telinga yang intak, diperlukan fungsi tuba yang normal. Jika tuba eustakius tersumbat,
tekanan udara di dalam telinga tengah berbeda dari tekanan di luar gendang telinga,
menyebabkan barotrauma.

PATOFISIOLOGI
Udara tersebut mempunyai massa, dan berat lapisan udara ini akan menimbulkan suatu
tekanan yang disebut tekanan udara. Makin tinggi lokasi semakin renggang udaranya, berarti
semakin kecil tekanan udaranya. Sehingga pinggiran Atmosfer Bumi tersebut akan berakhir
dengan suatu keadaan hampa udara.
Trauma akibat perubahan tekanan, secara umum dijelaskan melalui Hukum Boyle.
Hukum boyle menyatakan bahwa volume gas berbanding terbalik dengan tekanan atau
P1xV1 = P2xV2.(2,5)
Ada bagian-bagian tubuh yang berbentuk seperti rongga, misalnya : cavum tympani, sinus
paranasalis, gigi yang rusak, traktus digestivus dan traktus respiratorius. Pada penerbangan,
sesuai dengan Hukum Boyle yang mengatakan bahwa volume gas berbanding terbalik
dengan tekanannya, maka pada saat tekanan udara di sekitar tubuh menurun/meninggi, terjadi
perbedaan tekanan udara antara di rongga tubuh dengan di luar, sehingga terjadi
penekanan/penghisapan terhadap mukosa dinding rongga dengan segala akibatnya.
Berdasarkan Hukum Boyle diatas dapat dijelaskan bahwa suatu penurunan atau
peningkatan pada tekanan lingkungan akan memperbesar atau menekan (secara berurutan)
suatu volume gas dalam ruang tertutup. Bila gas terdapat dalam struktur yang lentur, maka
struktur tersebut dapat rusak karena ekspansi ataupun kompresi. Barotrauma dapat terjadi
bilamana ruang-ruang berisi gas dalam tubuh (telinga tengah, paru-paru) menjadi ruang
tertutup dengan menjadi buntunya jaras-jaras ventilasi normal.
Untuk Barotrauma yang terjadi pada tubuh, 5 kondisi di bawah ini harus ditemukan :

39
1. Harus ada udara
2. Tempatnya harus dipisahkan oleh dinding yang keras
3. Tempatnya harus tertutup
4. Tempatnya harus memiliki pembuluh darah
5. Terjadi perubahan tekanan dari lingkungan sekitar

TANDA DAN GEJALA


Keluhan pasien berupa kirang dengar, rasa nyeri dalam telinga, autofoni, perasaan ada
air dalam telinga dan kadang-kadang tinnitus dan vertigo.

TERAPI
Pengobatan biasanya cukup dengan cara konservativ saja yaitu dengan memberikan
dekongestan lokal atau dengan melakukan perasat valsalva selama tidak terdapat infeksi di
jalan napas atas. apabila cairan atau cairan bercampur darah menetap di telinga tengah samapi
beberapa minggu, maka dianjurkan untuk tindakan miringoromi dan bila perlu memasang
pipa vantilasi (grommet).
Usaha preventive terhadap baraotruma dapat dilakukan dengan selalu mengunyah
permen karaer atau melakukan perasat valsalva, terutama sewakti persawat terbang mulai
turun untuk mendarat.

40