Anda di halaman 1dari 28

Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

ANALISIS KECEPATAN DISOLUSI OBAT MENGGUNAKAN DD SOLVER

Farannisa Asad, Hexes Wianchi, Novilia Megi Annisa, Ummi Heryana, Yuni Fitriani

Program Studi Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam


Universitas Sriwijaya Indralaya
email: farmasiunsri2014@gmail.com

ABSTRAK

Uji disolus sangat penting untuk memastikan kualitas suatu produk obat dengan
cara melihat profil pelepasan obat dalam medium pembawanya dan untuk memperkirakan
profil disolusi obat yang terjadi didalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk
membandingkan profil disolusi tablet Asetosal dalam medium SGF/Simulated Gastric Fluid
dan cairan usus buatan SIF/Simulated Intestinal Fluid. Cairan lambung buatan memiliki pH
1,2 sedangkan cairan usus buatan memiliki pH 6,8. Dengan pengujian pada kedua jenis
larutan ini, akan diketahui apakah tablet salut asetosal 100mg lebih baik terdisolusi di
lambung atau di usus. Uji disolusi suhu dijaga pada 370,5C, dengan kecepatan perputaran
50 rpm. Sampel diambil (5 ml) pada menit ke 5, 10, 20, 30 dan 45 dan volume yang diambil
akan digantikan dengan medium yang baru untuk menjaga kondisi SINK. Sampel kemudian
dibaca serapannya dengan spektrofotometer pada maksimum. Hasil uji disolusi
menunjukkan bahwa konsentrasi obat tablet salut asetosal memiliki disolusi yang lebih baik
di usus daripada lambung. Hasil ini jelas berbeda dengan yang seharusnya. Seharusnya tablet
asetosal terdisolusi lebih baik di lambung. Asetosal bersifat asam. Sedangkan cairan lambung
juga bersifat asam. Pengaruh pH terhadap kelarutan memiliki prinsip like disoolve like, jadi
obat yang bersifat asam akan lebih mudah larut di dalam lambung. Setelah mengetahui tablet
asetosal lebih baik terdisolusi dimana, maka dapat dilakukan juga analisis mengenai model
pelepasan obatnya, baik itu secara manual atau secara DDSolver Dari hasil analisis model
pelepasan obat yang dilakukan, dapat diketahui bahwa obat tersebut mengikuti model
pelepasan obat orde 0. Penentuan model pelepasan obat ini dapat ditentukan dari nilai R 2
(nilai Rqsr pada DDSolver) pada grafik masing-masing model pelepasan obat. Nilai yang
paling mendekati 1 adalah yang paling baik dan merupakan model pelepasan obatnya.

Kata kunci : Asetosal, Simulated Gastric Fluid , Simulated Intestinal Fluid, sink, DD Solver

1 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

BAB I
PENDAHULUAN

Disolusi obat adalah suatu proses Cs : Kelarutan zat padat


pelarutan senyawa aktif dari bentuk C : Konsentrasi zat dalam
sediaan padat ke dalam media pelarut. larutan pada waktu
Pelarut suatu zat aktif sangat penting h : Tebal lapisan difusi
artinya bagi ketersediaan suatu obat sangat
tergantung dari kemampuan zat tersebut Faktor-faktor yang mempengaruhi
melarut ke dalam media pelarut sebelum kecepatan disolusi yaitu (Martin, 1993):
diserap ke dalam tubuh. Sediaan obat yang Suhu
harus diuji disolusinya adalah bentuk Meningginya suhu umumnya
padat atau semi padat, seperti kapsul, memperbesar kelarutan (Cs) suatu zat yang
tablet atau salep (Ansel, 1985). bersifat endotermik serta memperbesar
Agar suatu obat diabsorbsi, mula- harga koefisien difusi zat. Menurut
mula obat tersebut harus larutan dalam Einstein,koefisien difusi dapat dinyatakan
cairan pada tempat absorbsi. Sebagai melalui persamaan berikut (Martin, 1993):
contoh, suatu obat yang diberikan secara D : koefisien difusi
oral dalam bentuk tablet atau kapsul tidak r : jari-jari molekul
dapat diabsorbsi sampai partikel-partikel k : konstanta Boltzman
obat larut dalam cairan pada suatu tempat : viskositas pelarut
dalam saluran lambung-usus. Dalam hal T : suhu
dimana kelarutan suatu obat tergantung Viskositas
dari apakah medium asam atau medium Turunnya viskositas pelarut akan
basa, obat tersebut akan dilarutkan memperbesar kecepatan disolusi suatu zat
berturut-turut dalam lambung dan dalam sesuai dengan persamaan Einstein.
usus halus. Proses melarutnya suatu obat Meningginya suhu juga menurunkan
disebut disolusi (Ansel, 1985). viskositas dan memperbesar kecepatan
Bila suatu tablet atau sediaan obat disolusi.
lainnya dimasukkan dalam saluran cerna, pH pelarut
obat tersebut mulai masuk ke dalam pH pelarut sangat berpengaruh terhadap
larutan dari bentuk padatnya. Kalau tablet kelarutan zat-zat yang bersifat asam atau
tersebut tidak dilapisi polimer, matriks basa lemah.
padat juga mengalami disintegrasi menjadi Untuk asam lemah: Jika (H+) kecil atau
granul-granul, dan granul-granul ini pH besar maka kelarutan zat akan
mengalami pemecahan menjadi partikel- meningkat. Dengan demikian, kecepatan
partikel halus. Disintegrasi, deagregasi dan disolusi zat juga meningkat.
disolusi bisa berlangsung secara serentak Untuk basa lemah:
dengan melepasnya suatu obat dari bentuk
dimana obat tersebut diberikan (Martin, Jika (H+) besar atau pH kecil maka
1993). kelarutan zat akan meningkat. Dengan
Kecepatan disolusi adalah suatu demikian, kecepatan disolusi juga
ukuran yang menyatakan banyaknya suatu meningkat.
zat terlarut dalam pelarut tertentu setiap Pengadukan
satuan waktu. Persamaan kecepatan Kecepatan pengadukan akan
menurut Noyes dan Whitney sebagai mempengaruhi tebal lapisan difusi (h). jika
berikut (Ansel, 1993): pengadukan berlangsung cepat, maka tebal
lapisan difusi akan cepat berkurang.
dM.dt-1 : Kecepatan disolusi Ukuran Partikel
D : Koefisien difusi

2 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

Jika partikel zat berukuran kecil maka luas vertikel wadah dan berputar dengan halus
permukaan efektif menjadi besar sehingga tanpa goyangan yang berarti.
kecepatan disolusi meningkat.
Polimorfisme Program DDSolver dikembangkan
Kelarutan suatu zat dipengaruhi pula oleh untuk memfasilitasi pemodelan dan
adanya polimorfisme. Struktur internal zat perbandingan data pembubaran obat.
yang berlainan dapat memberikan tingkat Program ini dapat muat Data pelepasan
kelarutan yang berbeda juga. Kristal meta obat menggunakan teknik optimasi
stabil umumnya lebih mudah larut nonlinier dalam lingkungan spreadsheet
daripada bentuk stabilnya, sehingga yang mudah digunakan. Ini adalah
kecepatan disolusinya besar. program pertama yang dilaporkan yang
Sifat Permukaan Zat khusus dirancang untuk menilai kesamaan
Pada umumnya zat-zat yang digunakan antara profil disolusi. Program ini mampu
sebagai bahan obat bersifat hidrofob. melakukan teknik yang paling yang ada
Dengan adanya surfaktan di dalam pelarut, untuk membandingkan data pelepasan
tegangan permukaan antar partikel zat obat, termasuk analisis eksplorasi data,
dengan pelarut akan menurun sehingga zat univariate ANOVA, prosedur pengujian
mudah terbasahi dan kecepatan disolusinya rasio, perbedaan faktor f1, faktor
bertambah. kesamaan f2, indeks Rescigno, CI 90%
Ada 2 metode penentuan dari metode beda, yang metode jarak
kecepatan disolusi yaitu (Martin, 1993): statistik multivariat, metode model yang
1. Metode Suspensi tergantung, metode f2 bootstrap, dan
Serbuk zat padat ditambahkan ke Chow dan Ki metode time series. Selain
dalam pelarut tanpa pengontrolan terhadap itu, beberapa fungsi yang ditetapkan
luas permukaan partikelnya. Sampel pengguna untuk karakteristik kurva obat-
diambil pada waktu-waktu tertentu dan release dan untuk menilai kesamaan antara
jumlah zat yang larut ditentukan dengan profil disolusi juga diimplementasikan
cara yang sesuai. dalam program(Lu DR,1996)
2. Metode Permukaan Konstan Fungsi-fungsi tambahan dapat
Zat ditempatkan dalam suatu dengan mudah digunakan dalam cara yang
wadah yang diketahui luasnya sehingga sama seperti built-in fungsi dalam
variable perbedaan luas permukaan efektif Microsoft Excel. berjalan sampel dari
dapat diabaikan. Umumnya zat diubah program menunjukkan bahwa DDSolver
menjadi tablet terlebih dahulu, kemudian dapat dianggap sebagai program handal
ditentukan seperti pada metode suspensi. untuk analisis data pembubaran. Program
Prinsip kerja alat disolusi dapat DDSolver tersedia secara bebas. Pembaca
dilakukan dengan 2 cara yaitu (Dirjen yang tertarik dapat memperoleh program
POM, 1995) : dari bahan tambahan untuk artikel ini.
1. Alat terdiri dari sebuah wadah tertutup Program ini dikembangkan dan diuji di
yang terbuat dari kaca atau bahan Microsoft Excel 2003 (bahasa Inggris dan
transparan yang inert, suatu batang logam versi Cina Sederhana) di lingkungan
yang digerakkan oleh motor dan keranjang Windows XP SP2 dan kompatibel dengan
yang berbentuk silinder dan Microsoft Excel 2007 dan 2010 pada
dipanaskan dengan tangas air pada suhu platform Windows(Lu DR,1996)
370C.
2. Alat yang digunakan adalah dayung yang
terdiri dari daun dan batang sebagai
pengaduk. Batang berada pada posisi
sedemikian sehingga sumbunya tidak lebih
dari 2 mm pada setiap titik dari sumbu

3 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

BAB II. Ditentukan model pelepasan obat dan


METODOLOGI PENELITIAN bandingkan data dengan menggunakan
aplikasi statistika.
Waktu dan Tempat
Uji disolusi
Percobaan kecepatan disolusi obat
dan DD Solver ini dilaksanakan di Ditimbang bobot dan diukur diameter
Laboratorium Farmakologi, Fakultas tablet asetosal. Dimasukkan 200 mL
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, media disolusi (SIF dan SGF) dalam gelas
Universitas Sriwijaya Inderalaya. Adapun beker. Diletakkan gelas beker didalam
waktu pelaksanaannya pada Hari Jumat, waterbath dengan suhu 37C 1C lalu
21 Oktober 2016. dimasukkan tablet asetosal yang telah
ditimbang ke dalam beker aduk manual
Alat dan Bahan
konstan selama 60 menit sambil menekan
Alat-alat yang digunakan adalah stopwatch. Diambil sampling sebanyak 5
gelas beker, batang pengaduk, stopwatch, mL setiap menit ke 5, 10, 15, 20, 25, 30,
pipet tetes, waterbath, gelas ukur, 35, 40, 45, 50, 55, dan 60. Kembalikan
spektrofotometer UV-Vis, kuvet, sebanyak 5 mL cairan media disolusi (SIF
erlenmeyer, labu ukur, dan laptop serta alat atau SGF) kedalam beker. Diamati
tulis. Bahan-bahan yang digunakan serapan hasil tiap sampling dengan
antara lain sebagai sampel digunakan spektrofotometer pada panjang
tablet asetosal, akuadest, media disolusi gelombang maksimal yang telah
SIF dan SGF, dan zat aktif asetosal murni, diperoleh. Dihitung kadar obat yang
serta reagen FeCl3. terdisolusi dengan menggunakan
persamaan garis linier yang diperoleh dari
2.3 Prosedur kerja penetapan kurva baku.
Penetapan kurva baku 2.4 Perhitungan
Dibuat seri konsentrasi baku murni 1. Kurva baku
(1,2,3,4,5 mg%) dalam pelarut yang
sesuai. Dibaca pada spektrofotometer dan 0,0005 mg/ml = 0,0005 mg/ml x 100 ml =
dilakukan scanning panjang gelombang. 10 ml larutan induk + 90 ml media
Kemudian ditentukan panjang gelombang disolusi (SIF/SGF)
maksimal dan persamaan garis liniernya.
0,005 mg/ml = 0,005 mg/ml x 100 ml =
Uji DD solver 10 ml larutan induk + 90 ml media
disolusi (SIF/SGF)
Buka Ms-Excel dan instal program
DD Solver klik add-ins pilih DD Solver, 0,05 mg/ml = 0,05 mg/ml x 100 ml = 10
klik metode analisis yang digunakan lalu ml larutan induk + 90 ml media disolusi
dimasukkan data sesuai format kemudian (SIF/SGF)
input kolom waktu dan konsentrasi dan
0,5 mg/ml = 0,5 mg/ml x 100 ml = 10 ml
atur sesuai data disolusi kemudian klik
larutan induk + 90 ml media disolusi
run. Buka sheet DD result dicatat hasil
(SIF/SGF)
invitro disolution basic data processing.

4 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

2. Kadar dalam larutan SGF 0,0536x = 0,133

Dengan persamaan y = 0,221 + 0,536x x = 0,2481

Replikasi 1 t (40) y = 0,221 + 0,536x


0,092 = 0,221 + 0,536x
t (5) y = 0,221 + 0,536x
0,0536x = 0,129
0,040 = 0,221 + 0,536x
x = 0,2406
0,536x = 0,181
t (45) y = 0,221 + 0,536x
x = 0,337
0,164 = 0,221 + 0,536x
t (10) y = 0,221 + 0,536x
0,0536x = 0,057
0,074 = 0,221 + 0,536x
x = 0,1063
0,536 x = 0,147
t (50) y = 0,221 + 0,536x
x = 0,2742
0,179 = 0,221 + 0,536x
t (15) y = 0,221 + 0,536x
0,0536x = 0,042
0,079 = 0,221 + 0,536x
x = 0,0733
0,0536x = 0,142
t (55) y = 0,221 + 0,536x
x = 0,264
0,183 = 0,221 + 0,536x
t (20) y = 0,221 + 0,536x
0,0536x = 0,038
0,081 = 0,221 + 0,536x
x = 0,0708
0,0536x = 0,14
t (60) y = 0,221 + 0,536x
x = 0,2611
0,201 = 0,221 + 0,536x
t (25) y = 0,221 + 0,536x
0,0536x = 0,02
0,081 = 0,221 + 0,536x
x = 0,0373
0,0536x = 0,14
Replikasi 2
x = 0,2611
t (5) y = 0,221 + 0,536x
t (30) y = 0,221 + 0,536x
0,055 = 0,221 + 0,536x
0,083 = 0,221 + 0,536x
0,0536x = 0,166
0,0536x = 0,138
x = 0,3097
x = 0,2574
t (10) y = 0,221 + 0,536x
t (35) y = 0,221 + 0,536x
0,085 = 0,221 + 0,536x
0,088 = 0,221 + 0,536x

5 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

0,0536x = 0,136 x = 0,0503


x = 0,2537 t (50) y = 0,221 + 0,536x
t (15) y = 0,221 + 0,536x 0,175 = 0,221 + 0,536x
0,087 = 0,221 + 0,536x 0,0536x = 0,046
0,0536x = 0,134 x = 0,0858
x = 0,1250 t (55) y = 0,221 + 0,536x
t (20) y = 0,221 + 0,536x 0,205 = 0,221 + 0,536x
0,089 = 0,221 + 0,536x 0,0536x = 0,016
0,0536x = 0,132 x = 0,0298
x = 0,2462 t (60) y = 0,221 + 0,536x
t (25) y = 0,221 + 0,536x 0,268 = 0,221 + 0,536x
0,092 = 0,221 + 0,536x 0,0536x = 0,047
0,0536x = 0,129 x = 0,0876
x = 0,2406 Replikasi 3
t (30) y = 0,221 + 0,536x t (5) y = 0,221 + 0,536x
0,097 = 0,221 + 0,536x 0,060 = 0,221 + 0,536x
0,0536x = 0,124 0,0536x = 0,161
x = 0,2313 x = 0,3003
t (35) y = 0,221 + 0,536x t (10) y = 0,221 + 0,536x
0,102 = 0,221 + 0,536x 0,071 = 0,221 + 0,536x
0,0536x = 0,119 0,0536x = 0,15
x = 0,2220 x = 0,2798
t (40) y = 0,221 + 0,536x t (15) y = 0,221 + 0,536x
0,181 = 0,221 + 0,536x 0,091 = 0,221 + 0,536x
0,0536x = 0,04 0,0536x = 0,13
x = 0,0746 x = 0,2425
t (45) y = 0,221 + 0,536x t (20) y = 0,221 + 0,536x
0,194 = 0,221 + 0,536x 0,162 = 0,221 + 0,536x
0,0536x = 0,027 0,0536x = 0,05

6 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

x = 0,1100 t (60) y = 0,221 + 0,536x


t (25) y = 0,221 + 0,536x 0,414 = 0,221 + 0,536x
0,196 = 0,221 + 0,536x 0,0536x = 0,193
0,0536x = 0,025 x = 0,3600
x = 0,0466 1. Kadar dalam larutan SIF
t (30) y = 0,221 + 0,536x Dengan persamaan y = 0,277 + 0,845x
0,198 = 0,221 + 0,536x Replikasi 1
0,0536x = 0,023 t (5) y = 0,277 + 0,845x
x = 0,0429 0,200 = 0,277 + 0,845x
t (35) y = 0,221 + 0,536x 0,845x = 0,077
0,201 = 0,221 + 0,536x x = 0,0911
0,0536x = 0,02 t (10) y = 0,277 + 0,845x
x = 0,0373 0,202 = 0,277 + 0,845x
t (40) y = 0,221 + 0,536x 0,845x = 0,075
0,225 = 0,221 + 0,536x x = 0,0887
0,0536x = 0,004 t (15) y = 0,277 + 0,845x
x = 0,007 0,208 = 0,277 + 0,845x
t (45) y = 0,221 + 0,536x 0,845x = 0,069
0,265 = 0,221 + 0,536x x = 0,0816
0,0536x = 0,035 t (20) y = 0,277 + 0,845x
x = 0,0652 0,138 = 0,277 + 0,845x
t (50) y = 0,221 + 0,536x 0,845x = 0,139
0,273 = 0,221 + 0,536x x = 0,1644
0,0536x = 0,052 t (25) y = 0,277 + 0,845x
x = 0,0970 0,202 = 0,277 + 0,845x
t (55) y = 0,221 + 0,536x 0,845x = 0,075
0,364 = 0,221 + 0,536x x = 0,0887
0,0536x = 0,143 t (30) y = 0,277 + 0,845x
x = 0,2667 0,208 = 0,277 + 0,845x

7 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

0,845x = 0,069 0,845x = 0,073


x = 0,0816 x = 0,0863
t (35) y = 0,277 + 0,845x t (10) y = 0,277 + 0,845x
0,233 = 0,277 + 0,845x 0,209 = 0,277 + 0,845x
0,845x = 0,044 0,845x = 0,068
x = 0,0520 x = 0,0804
t (40) y = 0,277 + 0,845x t (15) y = 0,277 + 0,845x
0,269 = 0,277 + 0,845x 0,268 = 0,277 + 0,845x
0,845x = 0,008 0,845x = 0,009
x = 0,009 x = 0,0106
t (45) y = 0,277 + 0,845x t (20) y = 0,277 + 0,845x
0,260 = 0,277 + 0,845x 0,293 = 0,277 + 0,845x
0,845x = 0,017 0,845x = 0,016
x = 0,0201 x = 0,018
t (50) y = 0,277 + 0,845x t (25) y = 0,277 + 0,845x
0,418 = 0,277 + 0,845x 0,356 = 0,277 + 0,845x
0,845x = 0,141 0,845x = 0,079
x = 0,1668 x = 0,0934
t (55) y = 0,277 + 0,845x t (30) y = 0,277 + 0,845x
0,424 = 0,277 + 0,845x 0,441 = 0,277 + 0,845x
0,845x = 0,147 0,845x = 0,164
x = 0,1739 x = 0,1940
t (60) y = 0,277 + 0,845x t (35) y = 0,277 + 0,845x
0,463 = 0,277 + 0,845x 0,443 = 0,277 + 0,845x
0,845x = 0,186 0,845x = 0,166
x = 0,2201 x = 0,1964

Replikasi 2 t (40) y = 0,277 + 0,845x

t (5) y = 0,277 + 0,845x 0,533 = 0,277 + 0,845x

0,204 = 0,277 + 0,845x 0,845x = 0,256

8 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

x = 0,3029 x = 0,1171
t (45) y = 0,277 + 0,845x t (20) y = 0,277 + 0,845x
0,594 = 0,277 + 0,845x 0,380 = 0,277 + 0,845x
0,845x = 0,317 0,845x = 0,103
x = 0,3751 x = 0,1218
t (50) y = 0,277 + 0,845x t (25) y = 0,277 + 0,845x
0,595 = 0,277 + 0,845x 0,393 = 0,277 + 0,845x
0,845x = 0,318 0,845x = 0,116
x = 0,3763 x = 0,1372
t (55) y = 0,277 + 0,845x t (30) y = 0,277 + 0,845x
0,707 = 0,277 + 0,845x 0,448 = 0,277 + 0,845x
0,845x = 0,43 0,845x = 0,171
x = 0,5088 x = 0,2023
t (60) y = 0,277 + 0,845x t (35) y = 0,277 + 0,845x
0,892 = 0,277 + 0,845x 0,477 = 0,277 + 0,845x
0,845x = 0,615 0,845x = 0,2
x = 0,7278 x = 0,2366

Replikasi 3 t (40) y = 0,277 + 0,845x

t (5) y = 0,277 + 0,845x 0,533 = 0,277 + 0,845x

0,327 = 0,277 + 0,845x 0,845x = 0,256

0,845x = 0,05 x = 0,3029

x = 0,0591 t (45) y = 0,277 + 0,845x

t (10) y = 0,277 + 0,845x 0,735 = 0,277 + 0,845x

0,324 = 0,277 + 0,845x 0,845x = 0,458

0,845x = 0,047 x = 0,5420

x = 0,0556 t (50) y = 0,277 + 0,845x

t (15) y = 0,277 + 0,845x 0,804 = 0,277 + 0,845x

0,376 = 0,277 + 0,845x 0,845x = 0,527

0,845x = 0,099 x = 0,6236

9 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

t (55) y = 0,277 + 0,845x


0,890 = 0,277 + 0,845x
0,845x = 0,613
x = 0,725
t (60) y = 0,277 + 0,845x
0,907 = 0,277 + 0,845x
0,845x = 0,63
x = 0,7455

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Perhitungan

DATA HASIL PENGEMATAN KECEPATAN DISOLUSI OBAT

REPLIKASI 1 DALAM LARUTAN SIF

jumlah jumlah total


t(menit Abs terdisolus Faktor yang %pelepasa
) 1 kadar 1 i terkoreksi terdisolusi n obat AUC
0,002277 18,222277 45,5556937
5 0,2 0,0911 18,22 5 18,2222775 5 5
0,20 0,002217 17,742217
10 2 0,0887 17,74 5 17,7422175 5 89,9112375
0,20 0,0081 48,4360537
15 8 6 1,632 0,000204 1,632204 1,632204 5
0,13
20 8 0,1644 32,88 0,00411 32,88411 32,88411 86,290785
0,20 0,002217 17,742217 126,565818
25 2 0,0887 17,74 5 17,7422175 5 8
0,20 85,1606437
30 8 0,0816 16,32 0,00204 16,32204 16,32204 5
0,23
35 3 0,052 10,4 0,0013 10,4013 10,4013 66,80835
0,26
40 9 0,009 1,8 0,000225 1,800225 1,800225 30,5038125
0,000502 14,5518187
45 0,26 0,0201 4,02 5 4,0205025 4,0205025 5
0,41 93,4616812
50 8 0,1668 33,36 0,00417 33,36417 33,36417 5
55 0,42 0,1739 34,78 0,004347 34,7843475 34,784347 170,371293
10 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

4 5 5 8
0,46 0,005502 44,025502
60 3 0,2201 44,02 5 44,0255025 5 197,024625
1054,64181
TOTAL 4

jumlah
kumulatif log
SQUARE ROOT OF %pelepasan %pelepasan SQUARE ROOT OF HIXSON
DE60 TIME obat obat TIME CROWEL
17,5773 1,96473508
6 2,236067977 18,2222775 1,260602656 2,236067977 8
1,98759520
3,16227766 35,964495 1,249007899 3,16227766 4
3,872983346 19,3744215 0,212774438 3,872983346 3,39540103
1,40419291
4,472135955 34,516314 1,516986092 4,472135955 8
1,98759520
5 50,6263275 1,249007899 5 4
2,05774836
5,477225575 34,0642575 1,212774438 5,477225575 6
2,40497933
5,916079783 26,72334 1,017087623 5,916079783 2
3,35677244
6,32455532 12,201525 0,255326789 6,32455532 4
2,98813120
6,708203932 5,8207275 0,604280337 6,708203932 8
1,38901134
7,071067812 37,3846725 1,523280325 7,071067812 3
7,416198487 68,1485175 1,541383861 7,416198487 1,34493901
1,08411891
7,745966692 1,643704322 7,745966692 7

REPLIKASI 2

t(menit Replikas jumlah Faktor jumlah total


) Abs 2 i2 terdisolusi terkoreksi yang terdisolusi
0,007742
5 0,204 0,3097 0,0015485 5 0,009291
0,006342
10 0,209 0,2537 0,0012685 5 0,007611
15 0,268 0,25 0,00125 0,00625 0,0075
20 0,293 0,2462 0,001231 0,006155 0,007386
25 0,356 0,2406 0,001203 0,006015 0,007218
0,005782
30 0,441 0,2313 0,0011565 5 0,006939
35 0,443 0,222 0,00111 0,00555 0,00666

11 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

40 0,533 0,0746 0,000373 0,001865 0,002238


0,001257
45 0,594 0,0503 0,0002515 5 0,001509
50 0,595 0,0858 0,000429 0,002145 0,002574
55 0,707 0,0298 0,000149 0,000745 0,000894
60 0,892 0,0876 0,000438 0,00219 0,002628

%pelepasa jumlah kumulatif log %pelepasan


n obat AUC DE60 %pelepasan obat obat
0,02322
0,009291 8 0,012479 0,009291 -2,03193754
0,03805
0,007611 5 0,016902 -2,118558278
0,0075 0,05625 0,015111 -2,124938737
0,007386 0,07386 0,014886 -2,131590697
0,09022
0,007218 5 0,014604 -2,141583122
0,10408
0,006939 5 0,014157 -2,158703113
0,00666 0,11655 0,013599 -2,176525771
0,002238 0,04476 0,008898 -2,650139918
0,03395
0,001509 3 0,003747 -2,82131076
0,002574 0,06435 0,004083 -2,589391457
0,02458
0,000894 5 0,003468 -3,048662481
0,002628 0,07884 0,003522 -2,580374639

TOTAL 0,74874

REPLIKASI 3

jumlah
t(menit Kadar terdisolus Faktor jumlah total yang
) Abs 3 3 i terkoreksi terdisolusi
5 0,327 0,3003 60,06 0,0075075 60,0675075
10 0,324 0,2798 55,96 0,006995 55,966995
15 0,376 0,2425 48,5 0,0060625 48,5060625
20 0,38 0,11 22 0,00275 22,00275
25 0,393 0,0466 9,32 0,001165 9,321165
30 0,478 0,0429 8,58 0,0010725 8,5810725
35 0,477 0,0373 7,46 0,0009325 7,4609325
40 0,533 0,007 1,4 0,000175 1,400175
45 0,735 0,0652 13,04 0,00163 13,04163
50 0,804 0,097 19,4 0,002425 19,402425
55 0,89 0,2667 53,34 0,0066675 53,3466675

12 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

60 0,907 0,36 72 0,009 72,009

jumlah
kumulatif
%pelepasa %pelepasan
n obat AUC DE60 obat log %pelepasan obat
150,168 27,9251
60,0675075 8 6 60,0675075 1,778639611
290,086
55,966995 3 116,0345025 1,747931989
261,182
48,5060625 6 104,4730575 1,685796022
22,00275 176,272 70,5088125 1,342476964
78,3097
9,321165 9 31,323915 0,969470196
44,7555
8,5810725 9 17,9022375 0,933541571
40,1050
7,4609325 1 16,042005 0,872793111
22,1527
1,400175 7 8,8611075 0,146182319
36,1045
13,04163 1 14,441805 1,115331875
81,1101
19,402425 4 32,444055 1,287856013
181,872
53,3466675 7 72,7490925 1,727107295
313,389
72,009 2 125,3556675 1,85738678
TOTAL 1675,509

REPLIKASI 4

t(menit Replikas jumlah Faktor jumlah total


) Abs 4 i4 terdisolusi terkoreksi yang terdisolusi
5 0,0612 0,2547 0,0012735 0,0063675 0,007641
10 0,089 0,2224 0,001112 0,00556 0,006672
15 0,0082 0,3181 0,0015905 0,0079525 0,009543
20 0,1647 0,1328 0,000664 0,00332 0,003984
25 0,0889 0,2226 0,001113 0,005565 0,006678
30 0,0821 0,2306 0,001153 0,005765 0,006918
35 0,055 0,328 0,00164 0,0082 0,00984
40 0,008 0,3183 0,0015915 0,0079575 0,009549
45 0,212 0,3027 0,0015135 0,0075675 0,009081
50 0,1671 0,1364 0,000682 0,00341 0,004092
55 0,1741 0,1217 0,0006085 0,0030425 0,003651
60 0,221 0,0662 0,000331 0,001655 0,001986

13 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

%pelepasan jumlah kumulatif


obat AUC DE60 %pelepasan obat log %pelepasan obat
0,00655
0,007641 0,019103 4 0,007641 -2,1168498
0,006672 0,035783 0,014313 -2,175743962
0,009543 0,040538 0,016215 -2,020315076
0,003984 0,033818 0,013527 -2,39968067
0,006678 0,026655 0,010662 -2,175353585
0,006918 0,03399 0,013596 -2,160019442
0,00984 0,041895 0,016758 -2,007004902
0,009549 0,048473 0,019389 -2,020042107
0,009081 0,046575 0,01863 -2,041866324
0,004092 0,032933 0,013173 -2,388064375
0,003651 0,019358 0,007743 -2,437588167
0,001986 0,014093 0,005637 -2,702020756
TOTAL 0,39321

REPLIKASI 5

jumlah total
t(menit Kadar jumlah Faktor yang
) Abs 5 5 terdisolusi terkoreksi terdisolusi
5 0,0915 0,2195 0,0010975 0,0054875 0,006585
10 0,081 0,2319 0,0011595 0,0057975 0,006957
15 0,0105 0,3153 0,0015765 0,0078825 0,009459
20 0,0109 0,3149 0,0015745 0,0078725 0,009447
25 0,094 0,2165 0,0010825 0,0054125 0,006495
30 0,195 0,097 0,000485 0,002425 0,00291
35 0,1967 0,095 0,000475 0,002375 0,00285
40 0,3031 0,0308 0,000154 0,00077 0,000924
45 0,3755 0,1165 0,0005825 0,0029125 0,003495
50 0,3765 0,1177 0,0005885 0,0029425 0,003531
55 0,5089 0,1217 0,0006085 0,0030425 0,003651
60 0,7281 0,0662 0,000331 0,001655 0,001986

jumlah kumulatif log %pelepasan


%pelepasan obat AUC %pelepasan obat obat
0,01646
0,006585 3 0,006585 -2,181444221
0,03385
0,006957 5 0,013542 -2,157577997
0,009459 0,04104 0,016416 -2,024154775
0,04726
0,009447 5 0,018906 -2,024706085

14 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

0,03985
0,006495 5 0,015942 -2,187420845
0,02351
0,00291 3 0,009405 -2,536107011
0,00285 0,0144 0,00576 -2,54515514
0,00943
0,000924 5 0,003774 -3,034328029
0,01104
0,003495 8 0,004419 -2,45655282
0,01756
0,003531 5 0,007026 -2,452102282
0,01795
0,003651 5 0,007182 -2,437588167
0,01409
0,001986 3 0,005637 -2,702020756
TOTAL 0,286485
REPLIKASI 6

jumlah total
Faktor yang
t(menit) Abs 6 Kadar 6 terkoreksi terdisolusi
5 0,0872 0,2246 0,005615 0,006738
10 0,0571 0,2602 0,006505 0,007806
15 0,1173 0,1889 0,0047225 0,005667
20 0,1225 0,1828 0,00457 0,005484
25 0,1375 0,165 0,004125 0,00495
30 0,2024 0,0882 0,002205 0,002646
35 0,2025 0,3973 0,0099325 0,011919
40 0,315 0,0449 0,0011225 0,001347
45 0,551 0,3242 0,008105 0,009726
50 0,6239 0,4105 0,0102625 0,012315
55 0,731 0,5372 0,01343 0,016116
60 0,7457 0,5546 0,013865 0,016638
jumlah
kumulatif log
%pelepasa %pelepasan %pelepasan
n obat AUC DE60 obat obat
0,01684 0,00775 -
0,006738 5 3 0,006738 2,171468993
-
0,007806 0,03636 0,014544 2,107571453
0,03368 -
0,005667 3 0,013473 2,246646787
0,02787 -
0,005484 8 0,011151 2,260902554
0,02608 -
0,00495 5 0,010434 2,305394801
0,002646 0,01899 0,007596 -2,57741016

15 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

0,03641
0,011919 3 0,014565 -1,92376018
0,03316 -
0,001347 5 0,013266 2,870632404
0,02768 -
0,009726 3 0,011073 2,012065735
0,05510 -
0,012315 3 0,022041 1,909565584
0,07107 -
0,016116 8 0,028431 1,792742741
0,08188
0,016638 5 0,032754 -1,77889888
TOTAL 0,465165

REPLIKASI 1 DALAM LARUTAN SGF

t(menit jumlah Faktor jumlah total yang


) abs 1 kadar 1 terdisolusi terkoreksi terdisolusi
5 0,04 0,337 0,001685 0,008425 0,01011
10 0,074 0,2742 0,001371 0,006855 0,008226
15 0,079 0,264 0,00132 0,0066 0,00792
20 0,081 0,2611 0,0013055 0,0065275 0,007833
25 0,081 0,2611 0,0013055 0,0065275 0,007833
30 0,083 0,2574 0,001287 0,006435 0,007722
35 0,088 0,2481 0,0012405 0,0062025 0,007443
40 0,092 0,2406 0,001203 0,006015 0,007218
45 0,164 0,1063 0,0005315 0,0026575 0,003189
50 0,179 0,0733 0,0003665 0,0018325 0,002199
55 0,183 0,0708 0,000354 0,00177 0,002124
60 0,201 0,0373 0,0001865 0,0009325 0,001119

%pelepasan jumlah kumulatif


obat AUC DE60 %pelepasan obat log %pelepasan obat
0,00603
0,01011 0,025275 1 0,01011 -1,995248844
0,008226 0,04584 0,018336 -2,084811295
0,00792 0,040365 0,016146 -2,101274818
0,007833 0,039383 0,015753 -2,106071873
0,007833 0,039165 0,015666 -2,106071873
0,007722 0,038888 0,015555 -2,112270203
0,007443 0,037913 0,015165 -2,128251981
0,007218 0,036653 0,014661 -2,141583122
0,003189 0,026018 0,010407 -2,496345481
0,002199 0,01347 0,005388 -2,657774771
0,002124 0,010808 0,004323 -2,672845488
0,001119 0,008108 0,003243 -2,951169913

16 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

0,361883

REPLIKASI 2

t(menit Replikas jumlah Faktor jumlah total yang


) Abs 2 i2 terdisolusi terkoreksi terdisolusi
5 0,055 0,3097 0,0015485 0,0077425 0,009291
10 0,085 0,2537 0,0012685 0,0063425 0,007611
15 0,087 0,25 0,00125 0,00625 0,0075
20 0,089 0,2462 0,001231 0,006155 0,007386
25 0,092 0,2406 0,001203 0,006015 0,007218
30 0,097 0,2313 0,0011565 0,0057825 0,006939
35 0,102 0,222 0,00111 0,00555 0,00666
40 0,181 0,0746 0,000373 0,001865 0,002238
45 0,194 0,0503 0,0002515 0,0012575 0,001509
50 0,175 0,0858 0,000429 0,002145 0,002574
55 0,205 0,0298 0,000149 0,000745 0,000894
60 0,268 0,0876 0,000438 0,00219 0,002628

jumlah kumulatif log %pelepasan


%pelepasan obat AUC DE60 %pelepasan obat obat
0,01761
0,009291 0,77425 2 0,009291 -2,03193754
0,04225
0,007611 5 0,016902 -2,118558278
0,03777
0,0075 8 0,015111 -2,124938737
0,03721
0,007386 5 0,014886 -2,131590697
0,007218 0,03651 0,014604 -2,141583122
0,03539
0,006939 3 0,014157 -2,158703113
0,03399
0,00666 8 0,013599 -2,176525771
0,02224
0,002238 5 0,008898 -2,650139918
0,00936
0,001509 8 0,003747 -2,82131076
0,01020
0,002574 8 0,004083 -2,589391457
0,000894 0,00867 0,003468 -3,048662481
0,00880
0,002628 5 0,003522 -2,580374639
TOTAL 1,056693

REPLIKASI 3

17 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

Replikas jumlah Faktor jumlah total %pelepasan


i3 terdisolusi terkoreksi yang terdisolusi obat
0,3003 0,0015015 0,0075075 0,009009 0,009009
0,2798 0,001399 0,006995 0,008394 0,008394
0,2425 0,0012125 0,0060625 0,007275 0,007275
0,11 0,00055 0,00275 0,0033 0,0033
0,0466 0,000233 0,001165 0,001398 0,001398
0,0429 0,0002145 0,0010725 0,001287 0,001287
0,0373 0,0001865 0,0009325 0,001119 0,001119
0,007 0,000035 0,000175 0,00021 0,00021
0,0652 0,000326 0,00163 0,001956 0,001956
0,097 0,000485 0,002425 0,00291 0,00291
0,2667 0,0013335 0,0066675 0,008001 0,008001
0,36 0,0018 0,009 0,0108 0,0108

jumlah kumulatif log %pelepasan


AUC DE60 %pelepasan obat obat
0,02252 0,00418
3 8 0,009009 -2,045323413
0,04350
8 0,017403 -2,076031035
0,03917
3 0,015669 -2,138167002
0,02643
8 0,010575 -2,48148606
0,01174
5 0,004698 -2,854492829
0,00671
3 0,002685 -2,890421453
0,00601
5 0,002406 -2,951169913
0,00332
3 0,001329 -3,677780705
0,00541
5 0,002166 -2,70863115
0,01216
5 0,004866 -2,536107011
0,02727
8 0,010911 -2,09685573
0,04700
3 0,018801 -1,966576245
0,251295

REPLIKASI 4

t(menit Kadar jumlah Faktor jumlah total %pelepasan


) Abs 4 4 terdisolusi terkoreksi yang terdisolusi obat

18 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

5 0,335 0,2126 0,001063 0,005315 0,006378 0,006378


10 0,275 0,1007 0,0005035 0,0025175 0,003021 0,003021
15 0,2641 0,084 0,00042 0,0021 0,00252 0,00252
20 0,2615 0,0755 0,0003775 0,0018875 0,002265 0,002265
25 0,2612 0,075 0,000375 0,001875 0,00225 0,00225
30 0,2575 0,068 0,00034 0,0017 0,00204 0,00204
35 0,2483 0,0509 0,0002545 0,0012725 0,001527 0,001527
40 0,2412 0,0376 0,000188 0,00094 0,001128 0,001128
45 0,1065 0,2136 0,001068 0,00534 0,006408 0,006408
50 0,0735 0,2751 0,0013755 0,0068775 0,008253 0,008253
55 0,071 0,2798 0,001399 0,006995 0,008394 0,008394
60 0,0376 0,3421 0,0017105 0,0085525 0,010263 0,010263

log
jumlah kumulatif %pelepasan
AUC DE60 %pelepasan obat obat
0,01594 0,0041
5 1 0,006378 -2,195315485
0,02349
8 0,009399 -2,519849275
0,01385
3 0,005541 -2,598599459
0,01196
3 0,004785 -2,644931794
0,01128
8 0,004515 -2,647817482
0,01072
5 0,00429 -2,690369833
0,00891
8 0,003567 -2,816160963
0,00663
8 0,002655 -2,9476909
0,01884 0,007536 -2,193277497
0,03665
3 0,014661 -2,083388155
0,04161
8 0,016647 -2,076031035
0,04664
3 0,018657 -1,988725671
0,246578

REPLIKASI 5

t(menit Replikas jumlah Faktor jumlah total yang %pelepasan


) Abs 5 i5 terdisolusi terkoreksi terdisolusi obat

19 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

5 0,3098 0,1656 0,000828 0,00414 0,004968 0,004968


10 0,2541 0,0617 0,0003085 0,0015425 0,001851 0,001851
15 0,253 0,0597 0,0002985 0,0014925 0,001791 0,001791
20 0,2463 0,0472 0,000236 0,00118 0,001416 0,001416
25 0,241 0,0373 0,0001865 0,0009325 0,001119 0,001119
30 0,2315 0,0195 0,0000975 0,0004875 0,000585 0,000585
35 0,225 0,0074 0,000037 0,000185 0,000222 0,000222
40 0,0743 0,2736 0,001368 0,00684 0,008208 0,008208
45 0,051 0,3171 0,0015855 0,0079275 0,009513 0,009513
50 0,0861 0,2516 0,001258 0,00629 0,007548 0,007548
55 0,0231 0,3692 0,001846 0,00923 0,011076 0,011076
60 0,0875 0,249 0,001245 0,006225 0,00747 0,00747

jumlah kumulatif HIXSON


AUC DE60 %pelepasan obat log %pelepasan obat CROWEL
0,00433
0,01242 6 0,004968 -2,303818413 4,39720585
0,01704
8 0,006819 -2,732593581 4,445497319
0,00910
5 0,003642 -2,746904414 4,446853381
0,00801
8 0,003207 -2,848936747 4,456105952
0,00633
8 0,002535 -2,951169913 4,464684485

0,00426 0,001704 -3,232844134 4,485146248


0,00201
8 0,000807 -3,653647026 4,50860937
0,02107
5 0,00843 -2,085762652 4,365908109
0,04430
3 0,017721 -2,021682503 4,355680654
0,04265
3 0,017061 -2,122168109 4,37150055

0,04656 0,018624 -1,955617053 4,344601791


0,04636
5 0,018546 -2,126679398 4,372182843

0,26016

REPLIKASI 6

t(menit Replikas jumlah Faktor jumlah total yang


) Abs 6 i6 terdisolusi terkoreksi terdisolusi
5 0,3005 0,1483 0,0007415 0,0037075 0,004449

20 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

10 0,2799 0,1098 0,000549 0,002745 0,003294


15 0,243 0,041 0,000205 0,001025 0,00123
20 0,112 0,2033 0,0010165 0,0050825 0,006099
25 0,0467 0,3251 0,0016255 0,0081275 0,009753
30 0,043 0,332 0,00166 0,0083 0,00996
35 0,0375 0,1835 0,0009175 0,0045875 0,005505
40 0,008 0,3973 0,0019865 0,0099325 0,011919
45 0,0653 0,2904 0,001452 0,00726 0,008712
50 0,0971 0,2311 0,0011555 0,0057775 0,006933
55 0,2665 0,0848 0,000424 0,00212 0,002544
60 0,365 0,3442 0,001721 0,008605 0,010326

%pelepasan jumlah kumulatif log %pelepasan


obat AUC DE60 %pelepasan obat obat
0,00629
0,004449 0,011123 7 0,004449 -2,351737594
0,01935
0,003294 8 0,007743 -2,482276405
0,00123 0,01131 0,004524 -2,910094889
0,01832
0,006099 3 0,007329 -2,214741367
0,009753 0,03963 0,015852 -2,010861776
0,04928
0,00996 3 0,019713 -2,001740662
0,03866
0,005505 3 0,015465 -2,259242677
0,011919 0,04356 0,017424 -1,92376018
0,05157
0,008712 8 0,020631 -2,059882133
0,03911
0,006933 3 0,015645 -2,1590788
0,02369
0,002544 3 0,009477 -2,594482893
0,03217
0,010326 5 0,01287 -1,986067879
TOTAL 0,377805
DATA HASIL PENGEMATAN DDSOLVER

Data Disolusi
Time Cp1 Cp2 Cp3 Cp4 Cp5 Cp6
(min) (mg/mL) (mg/mL) (mg/mL) (mg/mL) (mg/mL) (mg/mL)
5 8,24 7,78 8,44 8,5 8,06 8,56
10 19,46 21,28 19,42 20,64 20,34 18,34
15 48,88 50,7 48,58 45,48 51,08 48,44
20 72,52 76,32 73,32 69,56 76,7 71,94
30 130,66 128,3 138,02 122,18 122,66 122,44
45 172,94 165,72 171,5 177,36 180,48 172,94

21 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

60 197,18 188,12 200,58 186,16 186,32 184,52

% Fraksi Disolusi
Time (min) % FD1 %FD2 %FD3 %FD4 %FD5 %FD6
5 20,6 19,45 21,1 21,25 20,15 21,4
10 48,65 53,2 48,55 51,6 50,85 45,85
15 122,2 126,75 121,45 113,7 127,7 121,1
20 181,3 190,8 183,3 173,9 191,75 179,85
30 326,65 320,75 345,05 305,45 306,65 306,1
45 432,35 414,3 428,75 443,4 451,2 432,35
60 492,95 470,3 501,45 465,4 465,8 461,3

DATA HASIL SPSS

22 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

3.2 pembahasan

Disolusi obat tergolong salah satu Obat yang diminum secara oral
parameter yang menentukan bioavaibilitas akan menuju ke saluran gastrointestinal
obat didalam tubuh. Untuk dapat (lambung dan usus). Kondisi cairan
diabsorpsi, suatu tablet harus lambung dan usus berbeda, terutama dari
terdisintegrasi dan terdisolusi terlebih faktor pH dan komposisi cairannya. Oleh
dahulu agar meningkatkan bioavaibilitas sebab itu pada penelitian ini dilakukan uji
obat didalam tubuh. Semakin baik disolusi terhadap cairan lambung buatan
disolusinya maka semakin tinggi pula (SGF/Simulated Gastric Fluid) dan cairan
bioavaibilitasnya sehingga obat dapat usus buatan (SIF/Simulated Intestinal
memberika efek yang lebih optimal. Fluid). Cairan lambung buatan memiliki
pH 1,2 sedangkan cairan usus buatan

23 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

memiliki pH 6,8. Dengan pengujian pada Berdasarkan percobaan diperoleh hasil


kedua jenis larutan ini, akan diketahui persen pelepasan obat replikasi 1 sebesar
apakah tablet salut asetosal 100mg lebih 0,01% sampaii 0,002%. Pada replikasi 2
baik terdisolusi di lambung atau di usus. sebesar 0,009% sampai 0,003%. Pada
replikasi 3 sebesar 0,009% sampai
Untuk mengetahui seberapa besar
0,011%. Pada replikasi 4 sebesar 0,006%
obat dapat terdisolusi maka dilakukan
sampai 0,01%. Pada replikasi 5 sebesar
perhitungan persen pelepasan obat. Persen
0,004% sampai 0,007%. Lalu pada
pelepasan obat dihitung pada setiap
replikasi 6 sebesar 0,004% sampai 0,01%.
sampling dengan interval waktu setiap 5
menit dimulai dari menit ke-5 sampai Dari hasil pengujian disolusi
menit ke-60. Semakin tinggi persen hingga diperoleh persen pelepasan obat,
pelepasan obat maka sebakin banyak obat dapat disimpulkan bahwa tablet salut
tersebut terdisolusi kedalam medium asetosal memiliki disolusi yang lebih baik
pembawa. Dari perhitungan persen di usus daripada lambung. Kesimpulan ini
pelepasan obat replikasi 1 pada larutan dapat dilihat dari jumlah persen pelepasan
SIF, diperoleh nilai pelepasan obat dari obat pada larutan SIF daripada SGF. Hasil
18,22% sampai 44,02%. Persen pelepasan ini jelas berbeda dengan yang seharusnya.
obat pada replikasi 2 sebesar 0,009% Seharusnya tablet asetosal terdisolusi lebih
sampai 0,002%. Persen pelepasan obat baik di lambung. Asetosal bersifat asam.
pada replikasi 3 sebesar 60% sampai 72%. Sedangkan cairan lambung juga bersifat
Pada replikasi 4 sebesar 0,007% sampai asam. Pengaruh pH terhadap kelarutan
0,002%. Pada replikasi 5 sebesar 0,006% memiliki prinsip like disoolve like, jadi
sampai 0,002%. Lalu pada replikasi 6 obat yang bersifat asam akan lebih mudah
sebesar 0,006% sampai 0,017%. larut di dalam lambung. Semakin mudah
Perbedaan yang sangat fluktuatif pada data larut obat tersebut maka semakin baik
persen pelepasan obat yang diperoleh disolusinya. Perbedaan hasil dari yang
mungkin disebabkan karena perbedaan seharusnya ini mungkin disebabkan oleh
perlakuan masing-masing replikasi perbedaan perlakuan pada masing-masing
misalnya dari faktor kecepatan replikasi. Seharusnya untuk menghasilkan
pengadukan atau dari faktor suhu hasil yang lebih akurat, semua perlakuan
percobaan. pada masing-masing replikasi harus
disamakan, baik itu dari segi pH, suhu, dan
Setelah diuji terhadap larutan SIF,
kecepatan pengadukan.
disolusi juga diuji pada larutan SGF.

24 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

Setelah mengetahui tablet asetosal model hixson-crowell paling kecil yakni


lebih baik terdisolusi dimana, maka dapat 0,210, sedangkan pada model orde 0
dilakukan juga analisis mengenai model memiliki nilai signifikansi paling besar
pelepasan obatnya, baik itu secara manual yakni 0,815. Namun dari semua model
atau secara DDSolver. DDSolver atau drug pelepasan yang diujikan memberikan hasil
dissolution solver merupakan salah satu yang sama yakni semua data terlalu
aplikasi yang dapat digunakan untuk signifikan dan memiliki distribusi data
menentukan model pelepasan obat yang yang tidak normal. Pada uji korelasi, nilai
dianalisis. Uji model pelepasan obat korelasi tertinggi dihasilkan pada orde 0
diujikan terhadap 7 model pelepasan obat, sedangkan pada uji t-T-Test nilai terendah
yakni orde 0, orde 1, higuchi, hixson- dihasilkan pada orde 0.
crowell, korsmeyer peppas, hopfenberg,
Selain diuji terhadap tablet
dan weibull.
asetosal, dilakukan juga analisis DDSolver
Dari hasil analisis model pelepasan kepada obat O. Dari hasil analisis yang
obat yang dilakukan, dapat diketahui dilakukan dapat disimpulkan bahwa obat
bahwa obat tersebut mengikuti model O memiliki model pelepasan obat orde 0
pelepasan obat orde 0. Penentuan model dan lebih baik terdisolusi pada usus. Hal
pelepasan obat ini dapat ditentukan dari ini dapat dilihat dari nilai Rqsr pada orde 0
nilai R2 (nilai Rqsr pada DDSolver) pada adalah yang paling mendekati 1 dibanding
grafik masing-masing model pelepasan model pelepasan obat yang lainnya.
obat. Nilai yang paling mendekati 1 adalah Sedangkan dari hasil pelepasan obatnya,
yang paling baik dan merupakan model nilai pelepasan obat pada SIF lebih tinggi
pelepasan obatnya. Odel pelepasan obat daripada SGF sehingga dapat dikatakan
pada kali ini diuji secara manual bahwa obat O terdisolusi lebih baik di
menggunakan Microsoft Excel. lambung. Setelah mengetahui model
pelepasan obatnya, dapat diketahui nilai
Setelah pengujian model pelepasan
konstanta laju disolusinya dari nilai Ko
obat, dilakukan analisis statistika
pada parameter best-fit values yaitu
meggunakan aplikasi SPSS. Uji yang
sebesar 18,1489/jam. Selain itu juga
dilakukan yaitu uji normalitas, uji korelasi,
diperoleh nilai waktu paruh dari secondary
dan uji T-Test. Dari hasil uji normalitas
parameter T50 yaitu sebesar 170 jam.
dapat dilihat bahwa nilai signifikansi pada

25 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan lambung dari pada usus, karena


dilambung lebih asam.
Untuk dapat diserap tubuh, obat
harus melalui proses desintegrasi Analisis kecepatan disolusi
dan disolusi terlebih obat dapat dilakukan dengan
dahulu.Disolusi merupakan proses software DD solver sehingga dapat
pelepasan zat aktif dari bentuk menentukan model pelepasan obat
sediaan padat ke dalam medium uji. Model pelepasan obat dipilih
disolusi. Kecepatan disolusi berdasarkan nilai R pada hasil
dipengaruhi oleh suhu dan persamaan regresi linier masing
kecepatan pengadukan. Semakin masing model pelepasan obat yang
cepat pengadukan, maka proses paling mendekati 1. Dari hasil
disolusi akan semakin cepat. tersebut, dapat ditentukan model
Semakin tinggi suhu, semakin pelepasan obat asetosal uji
cepat obat melarut dan terdisolusi. mengikuti model pelepasan obat
Waktu pengadukan juga orde nol. Orde nol sering
mempengaruhi kecepatan disolusi digunakan pada tablet Data sediaan
obat. Seharusnya % pelepasan obat yang memiliki pelepasan
akan meningkat seiring termodifikasi, seperti tablet salut.
pertambahan waktu pengadukan,
4.2 Saran
namun hasil yang di peroleh dari 1. untuk menghasilkan hasil disolusi
percobaan tidak menunjukkan obat yang lebih akurat, semua
peningkatan % pelepasan obat. perlakuan pada masing-masing
Pada medium SGF, nilai konstanta replikasi harus disamakan, baik itu
disolusi lebih besar dari pada dari segi pH, suhu, dan kecepatan
medium SIF. Obat tablet asetosal pengadukan.
lebih cepat terdisolusi pada 2. Akan didapatkan distribusi data
yang normal jika data yang
didapatkan tidak signifikan.

DAFTAR PUSTAKA

26 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i
Jurnal Biofarmasetika dan Farmakokinetika Universitas Sriwijaya 2016

Ansel, Howard C. 1985. PENGANTAR Martin. A, 1993, Farmasi Fisika, Edisi III,
Departemen
BENTUKKesehatan
SEDIAANRepublik
FARMASIIndonesia,
EDISI Jilid II, Indonesia University Press.
IV. UI press.
1995, Farmakope
Jakarta. Indonesia, IV, Lu DR, Abu-Izza K, Mao F. 1996 Nonlinear
Departemen Kesehatan Republik data fitting for controlled release devices:
Indonesia, Jakarta. an integrated computer program. Int J
Pharm

27 | J u r n a l B i o f a r m a s e ti k a d a n f a r m a k o k i n e ti k a F a r m a s i