Anda di halaman 1dari 10

Lex Privatum, Vol.I/No.

3/Juli/2013

TANGGUNG JAWAB PERUSAHAAN YANG seperti peraturan perundang-undangan dan


DINYATAKAN PAILIT TERHADAP PIHAK bahan hukum sekunder yaitu literatur-
KETIGA1 literatur dan karya ilmiah hukum yang
Oleh : Ardy Billy Lumowa 2 membahas tentang tanggung jawab dan
akibat hukum bagi perusahaan yang
ABSTRAK dinyatakan pailit atas tuntutan ganti rugi
Kegiatan usaha perusahaan merupakan dari pihak lain serta bahan hukum tersier
kegiatan yang sah menurut hukum, bukan untuk menjelaskan pengertian-pengertian
kegiatan yang melanggar hukum atau yang relevan dengan pembahasan. Secara
bertentangan dengan undang-undang, garis besar menurut hasil penelitian ini,
ketertiban umum dan kesusilaan. tanggung jawab suatu perusahaan yang
Perusahaan telah menjadi salah satu objek dinyatakan pailit terhadap pihak ketiga
pengaturan hukum di Indonesia. terwujud dalam kewajiban perusahaan
Perusahaan sebagi pelaku ekonomi, dalam untuk melakukan keterbukaan (disclosure)
menjalankan kegiatannya dengan pihak terhadap pihak ketiga atas setiap kegiatan
ketiga, melahirkan sejumlah hak dan perusahaan yang dianggap dapat
kewajiban yaitu berupa piutang dan utang. mempengaruhi kekayaan perusahaan.
Sebuah perusahaan dinyatakan pailit atau Sedangkan Kepailitan mengakibatkan
bangkrut harus melalui putusan pengadilan. debitor yang dinyatakan pailit kehilangan
Dengan pailitnya perusahaan itu, berarti segala hak perdata untuk menguasai dan
perusahaan menghentikan segala mengurus harta kekayaan yang telah
aktivitasnya dan dengan demikian tidak lagi dimasukkan ke dalam harta pailit.
dapat mengadakan transaksi dengan pihak Pembekuan hak perdata ini diberlakukan
lain, kecuali untuk likuidasi. Dengan oleh Pasal 22 Undang-Undang Nomor 37
demikian persoalan kepailitan adalah Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
persoalan ketidakmampuan untuk Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
membayar utang-utangnya. Dalam artian terhitung sejak saat keputusan pernyataan
hukum, yang dimaksud dengan kepailitan pailit diucapkan.
adalah segala sesuatu yang berhubungan Kata kunci: pailit
dengan keadaan dimana siberutang
mempunyai sedikitnya dua utang dan A. PENDAHULUAN
sudah jatuh tempo, dan dia tidak dapat Perusahaan telah menjadi salah satu
membayar lunas salah satu dari utang itu. objek pengaturan hukum di Indonesia,
Yang menjadi permasalahannya yakni, sejak zaman kolonial. Dalam Pasal 1 huruf b
bagaimana tanggung jawab perusahaan UU Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib
yang dinyatakan pailit terhadap pihak Daftar Perusahaan, pengertian perusahaan
ketiga, serta bagaimana akibat hukum bagi adalah setiap badan usaha yang
perusahaan yang dinyatakan pailit terhadap menjalankan setiap jenis usaha yang
pihak ketiga. Berdasarkan permasalahan bersifat tetap dan terus menerus, didirikan
yang timbul, maka dalam penelitian ini bekerja dan berkedudukan di Wilayah
penulis menggunakan metode penelitian Negara Republik Indonesia untuk tujuan
yuridis normatif, melalui penelitian mencari keuntungan dan atau laba. Dilihat
kepustakaan (library research) untuk dari segi aktivitasnya, perusahaan itu
mengumpulkan bahan hukum primer menjalankan suatu kegiatan usaha di
bidang ekonomi (bedriif, business) yang
1
bertujuan untuk mencari keuntungan atau
Artikel Skripsi laba, misalnya menjalankan kegiatan
2
NIM 090711594

18
Lex Privatum, Vol.I/No.3/Juli/2013

pabrik, kegiatan distribusi, dan sebagainya, hukum primer seperti peraturan


yang menunjuk pada kesatuan aktivitas perundang-undangan dan bahan hukum
perusahaan. sekunder yaitu literatur-literatur dan karya
Sebuah perusahaan dinyatakan pailit ilmiah hukum yang membahas tentang
atau bangkrut harus melalui putusan tanggung jawab dan akibat hukum bagi
pengadilan. Dengan pailitnya perusahaan perusahaan yang dinyatakan pailit atas
itu, berarti perusahaan menghentikan tuntutan ganti rugi dari pihak lain serta
segala aktivitasnya dan dengan demikian bahan hukum tersier untuk menjelaskan
tidak lagi dapat mengadakan transaksi pengertian-pengertian yang relevan dengan
dengan pihak lain, kecuali untuk likuidasi. pembahasan.
Satu-satunya kegiatan perusahaan adalah Bahan hukum primer dan bahan hukum
melakukan likuidasi atau pemberesan yaitu sekunder yang terkumpul kemudian diolah
menagih piutang, menghitung seluruh asset dengan suatu teknik pengolahan data
perusahaan, kemudian menjualnya untuk secara deduksi dan induksi, sebagai berikut:
seterusnya dijadikan pembayaran utang- 1. Secara deduksi, yaitu pembahasan yang
utang perusahaan. bertitik tolak dari hal-hal yang bersifat
Suatu perusahaan yang dinyatakan pailit umum, kemudian dibahas suatu
pada saat ini akan mempunyai imbas dan kesimpulan yang bersifat khusus;
pengaruh buruk bukan hanya kepada 2. Secara induksi, yaitu pembahasan yang
perusahaan itu saja melainkan berakibat bertitik tolak dari hal-hal yang bersifat
global.3 Salah satunya, perusahaan bahkan khusus, kemudian dibahas menjadi
mengalami kesulitan serius untuk suatu kesimpulan yang bersifat umum.
memenuhi kewajiban pembayaran utang Setelah pengolahan data, maka
sehingga kreditor dirugikan secara dilanjutkan dengan menganalisis data baik
ekonomis. Dalam kondisi seperti ini, hukum dari bahan hukum primer maupun bahan
kepailitan diperlukan guna mengatur hukum sekunder secara kualitatif dan
penyelesaian sengketa utang piutang disusun secara sistematis guna
antara debitor dan para kreditornya4 memperoleh kesimpulan yang sesuai
dengan pembahasan.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah tanggung jawab D. PEMBAHASAN
perusahaan yang dinyatakan pailit 1. Tanggung Jawab Perusahaan Yang
terhadap pihak ketiga ? Dinyatakan Pailit Terhadap Pihak Ketiga
2. Bagaimanakah akibat hukum bagi Tanggung jawab suatu perusahaan yang
perusahaan yang dinyatakan pailit dinyatakan pailit terhadap pihak ketiga
terhadap pihak ketiga? terwujud dalam kewajiban perusahaan
untuk melakukan keterbukaan (disclosure)
C. METODE PENELITIAN terhadap pihak ketiga atas setiap kegiatan
Metode yang digunakan dalam perusahaan yang dianggap dapat
penelitian ini adalah yuridis normatif, mempengaruhi kekayaan perusahaan.
melalui penelitian kepustakaan (library Sebuah perusahaan yang dinyatakan
research) untuk mengumpulkan bahan pailit atau bangkrut harus melalui putusan
pengadilan. Dengan pailitnya perusahaan
3
Rahayu Hartini, Hukum Kepailitan, Cetakan itu, berarti perusahaan menghentikan
Pertama, Bayu Media, Semarang, 2003, hal. 3. segala aktivitasnya dan dengan demikian
4
tidak lagi dapat mengadakan transaksi
http://eprints.undip.ac.id/16835/1/Bravika_Bunga_ dengan pihak lain, kecuali untuk likuidasi
Ramadhani.pdf

19
Lex Privatum, Vol.I/No.3/Juli/2013

atau pemberesan, yaitu menagih utang, 2) Dalam hal melaksanakan tugasnya,


menghitung seluruh asset perusahaan, Kurator tidak diharuskan memperoleh
kemudian menjualnya untuk seterusnya persetujuan dari atau menyampaikan
dijadikan pembayaran utang-utang pemberitahuan terlebih dahulu kepada
perusahaan. Debitor atau salah satu Debitor,
Di dalam operasionalnya, perusahaan meskipun dalam keadaan diluar
tidak selalu menunjukkan perkembangan kepailitan persetujuan atau
dan peningkatan laba (profit), ada banyak pemberitahuan demikian
resiko dari bisnis baik itu resiko investasi, dipersyaratkan (Pasal 69 ayat 2 huruf
resiko pembiayaan dan resiko operasi. a).
Dimana semua hal itu bisa mengancam 3) Pada saat melaksanakan tugasnya
kesinambungan dari keuangan perusahaan kurator dapat melakukan pinjaman dari
tersebut dan yang paling fatal perusahaan pihak ketiga, hanya dalam
bisa mengalami bangkrut (pailit) karena meningkatkan nilai harta pailit dengan
tidak bisa membayar semua kewajiban persetujuan lebih dahulu Hakim
utang perusahaannya.5 Pengawas (Pasal 69 ayat 3 dan 4).
Berdasarkan Undang-Undang Republik 4) Dalam hal melaksanakan
Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang tugas pengurusan dan/atau
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban pemberesan atas harta pailit
Pembayaran Utang Pasal 22, harta debitur diucapkan, tetap berwenang meskipun
pailit yang sudah ada pada saat Debitur terhadap putusan tersebut diajukan
dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga kasasi dan atau peninjauan kembali
maupun yang akan diperoleh selama (Pasal 16 ayat 1).
kepailitan berlangsung digunakan untuk 5) Jika dalam putusan pernyataan pailit
membayar semua krediturnya secara adil dibatalkan sebagai akibat adanya kasasi
dan merata yang dilakukan seorang Kurator atau peninjauan kembali, segala
di bawah pengawasan Hakim Pengawas. perbuatan yang dilakukan oleh kurator
Untuk lebih memahami wewenang dan sebelum atau pada tanggal Kurator
tanggung jawab kurator dalam rangka menerima pemberitahuan tentang
pengurusan harta boedel pailit sesuai putusan pembatalan sebagaimana
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor dimaksud Pasal 17 tetap sah
37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan dan mengikat Debitur (Uit voor baar bij
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, voor raad Pasal 16 ayat 2).
yaitu : 6) Dalam melaksanakan tugasnya Kurator
1) Pada pengertian secara umum tugas bertanggung jawab terhadap kesalhan
dari Kurator dalam Hal pernyataan atau kelalaiannya dalam melaksanakan
Pailit Debitor adalah mengurus dan tugas pengurusan dan/atau
membereskan harta Debitor Pailit pemberesan yang menyebabkan
dibawah pengawasan Hakim Pengawas kerugian terhadap harta pailit (Pasal
sesuai dengan Pasal 1 angka 5 dan 72).
Pasal 69 ayat 1 UU Kepailitan dan 7) Sejak mulai pengangkatannya, Kurator
PKPU. harus melaksanakan semua upaya
untuk mengamankan harta pailit dan
menyimpan semua surat, dokumen,
5
uang perhiasan, efek, dan surat
http://hukum.kompasiana.com/2012/05/13/perlind berharga lainnnya dengan memberikan
ungan-hak-normatif-pekerjaburuh-pada- tanda terima (Pasal 98).
perusahaan-pailit-457042.html

20
Lex Privatum, Vol.I/No.3/Juli/2013

lebih dahulu daripada utang-utang lainnya.


Merujuk kepada Undang- Dalam pasal 39 ayat (2) Undang-Undang
Undang Republik Indonesia Nomor 13 No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan Pasal Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
95 ayat (4) dinyatakan Dalam hal telah ditentukan bahwa upah buruh untuk
perusahaan dinyatakan pailit atau waktu sebelum dan sesudah pailit termasuk
dilikuidasi berdasarkan peraturan utang harta pailit artinya upah buruh harus
Perundang-undangan yang berlaku , maka dibayar lebih dahulu daripada utang-utang
upah dan hak-hak lainnya dari lainnya.
pekerja/buruh merupakan utang yang Melihat kenyataan ini, antara
didahulukan pembayarannya. perlindungan hak pekerja dalam Undang-
Dalam ketentuan Pasal 165 UU No. 13 Undang Kepailitan dan UU Ketenagakerjaan
Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan terdapat perbedaan yang signifikan, di
mengatur bahwa Pengusaha dapat dalam Undang-Undang Kepailitan upah
melakukan pemutusan hubungan kerja buruh untuk waktu sebelum dan sesudah
terhadap pekerja/buruh karena perusahaan pailit termasuk utang harta pailit artinya
pailit, dengan ketentuan pekerja/buruh upah buruh harus dibayar lebih dahulu
berhak atas uang pesangon sebesar 1 kali daripada utang-utang lainnya tetapi tidak
ketentuan Pasal 156 ayat 3, dan uang jelas diatur utang yang lainnya ini utang
penggantian hak sesuai ketentuan Pasal yang mana dan bagaimana proses
156 ayat 4. Ketentuan didalam pasal penyelesaiannya. Sementara dalam UU
tersebut juga dinyatakan dalam Pasal 39 Ketenagakerjaan juga menyatakan hal yang
ayat 1 Undang-undang No. 37 Tahun 2004 sama yaitu Pasal 95 ayat (4) , secara jelas
tentang Kepailitan dan Penundaan dan gamblang menekankan bahwa upah
Kewajiban Pembayaran Utang: Pekerja dan hak-hak lainnya dari pekerja/buruh
yang bekerja pada Debitor dapat merupakan utang yang didahulukan
memutuskan hubungan kerja, dan pembayarannya untuk melindungi dan
sebaliknya Kurator dapat menjamin keberlangsungan hidup dan
memberhentikannya dengan keluarganya.
mengindahkan jangka waktu menurut Dalam hal ini upah buruh
persetujuan atau ketentuan perundang- menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan
undangan yang berlaku, dengan pengertian menjadi prioritas pertama yang harus
bahwa hubungan kerja tersebut dapat dibayarkan tanpa syarat apapun karena hal
diputuskan dengan pemberitahuan paling ini langsung berhubungan dengan nasib
singkat 45 (empat puluh lima) hari dan hidup dari pekerja/buruh dan keluarga,
sebelumnya. sedangkan menurut Undang-Undang
Ketika terjadi Pailit pembayaran upah Kepailitan hal ini tidak berlaku mutlak
pekerja/buruh dilakukan oleh Kurator yang dikarenakan adanya penggolongan kreditor
dalam hal ini menggantikan posisi berdasarkan Pasal 1131 sampai dengan
Perusahaan. Sehingga hak buruh dalam hal Pasal 1138 Kitab Undang-Undang Hukum
ini upah dan tunjangan lainnya menurut Perdata jo. Undang-Undang No. 20 Tahun
Undang-Undang Ketenagakerjaan 2007 tentang Perubahan Ketiga atas
akan berubah menjadi utang yang Undang-Undang No.6 Tahun 1983 tentang
didahulukan pembayarannya dan Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
penjelasannya menyebutkan yang (UU KUP); dan Undang-Undang No. 37
dimaksud didahulukan pembayarannya Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU ,
adalah upah pekerja/buruh harus dibayar yang membagi golongan kreditur menjadi :

21
Lex Privatum, Vol.I/No.3/Juli/2013

1. Kreditor yang kedudukannya di atas pailit dipakai untuk membayar pajak,


kreditur saham jaminan kebendaan kreditur pemegang jaminan kebendaan
(contohnya utang pajak) dimana dasar (Kreditur separatis), biaya kepailitan dan
hukum mengenai kreditur ini terdapat fee Kurator. Sehingga dengan posisi seperti
dalam Pasal 21 UU KUP jo Pasal 1137 ini, seringkali harta boedel pailit tidak
KUH Perdata; cukup untuk membayar hak atau upah
2. Kreditur pemegang jaminan kebendaan buruh.
yang dianut sebagai Kreditur Separatis Disinilah letak permasalahannya ketika
(dasar hukumnya adalah Pasal 1134 suatu perusahaan mengalami pailit dan
ayat 2 KUHPer). Hingga hari ini jaminan Kurator bertugas melakukan pemberesan
kebendaan yang diatur di Indonesia harta pailit lebih menekankan pembagian
meliputi : boedel pailit setelah pembayaran pajak
a. Gadai; kepada kreditur separatis, biaya kepailitan
b. Fidusia; dan fee untuk dirinya sendiri. Sehingga jika
c. Hak Tanggungan; harta boedel pailit dalam jumlah yang
d. Hipotik Kapal. terbatas seringkali hak-hak buruh tidak bisa
3. Utang harta pailit, yang termasuk diakomodir oleh si Kurator itu sendiri.
utang harta pailit antara lain sebagai Dalam kondisi seperti ini, Kurator
berikut : seringkali mengenyampingkan hak-
a. Biaya kepailitan dan fee Kurator; hak/utang gaji pekerja/buruh tersebut
b. Upah buruh, baik untuk waktu dikarenakan Kurator hanya bertindak
sebelum Debitur pailit maupun menurut aturan dalam Undang-Undang
sesudah Debitur pailit (Pasal 39 (2) Kepailitan tanpa memperhatikan aturan
Undang-Undang Kepailitan, dan yang ada pada Undang-Undang
c. Sewa gedung sesudah Debitur pailit Ketenagakerjaan. Padahal posisi Kurator
dan seterusnya (Pasal 38 ayat (4) tesebut sebenarnya hanya sementara
Undang-Undang Kepailitan. untuk menggatikan posisi Perusahan
4. Kreditur preferen khusus, sebagaimana karena dalam keadaan pailit. Artinya
terdapat di dalam Pasal 1139 KUHPer, Kurator juga harus bertindak sebagai
dan Kreditur preferen umum, Perusahaan yang wajib melindungi dan
sebagaimana terdapat di dalam Pasal mengakomodir hak-hak Pekerja/buruh
1149 KUHPer; dan seperti yang diamanatkan Undang-Undang
5. Kreditur konkuren. Kreditur golongan Ketenagakerjaan.
ini adalah semua kreditur yang tidak Permasalahan seperti ini seringkali
termasuk Kreditur separatis dan tidak menimpa buruh-buruh yang notabene
termasuk Kreditur preferan khusus hanya mengandalkan hidupnya dari upah
maupun umum (Pasal 1131 jo Pasal yang diterimanya dari pekerjaan tersebut.
1132 KUHPer) Sehingga hal ini harus menjadi perhatian
Dari lima golongan kreditur yang telah Pemerintah bagaimana caranya menyikapi
disebutkan diatas, berdasarkan Pasal 1134 perlindungan hak-hak buruh pasca putusan
ayat 2 jo.Pasal 1137 KUHPer dan Pasal 21 pailit dan memastikan kepentingan dan
UU KUP, kreditur piutang pajak mempunyai hak-hakpekerja/buruh tetap terlindungi.
kedudukan di atas kreditur separatis. Untuk itulah Undang-Undang Kepailitan
Sehingga posisi upah buruh berada dan Penundaan Kewajiban Pembayaran
dibawah biaya kepailitan dan fee kurator, Utang dipandang sebagai salah satu solusi
yang berarti buruh harus lebih sabar dna bagi perusahaan yang berkedudukan
berada dibelakang setelah harta boedel sebagai debitor dari berbagai permasalahan

22
Lex Privatum, Vol.I/No.3/Juli/2013

yang mungkin timbul sebagai akibat pengaturan kepailitan itu sendiri yaitu
ketidakmampuan membayar utang- memberi keadilan kepada semua pihak
utangnya itu. Dalam pemahaman ini yang terkait serta menjamin iklim usaha
sebuah perusahaan yang secara keuangan yang sehat.9
dan manajemen dinilai tidak mampu lagi
melanjutkan kegiatannya, kepailitan adalah 2. Akibat Hukum Bagi Perusahaan Yang
jalan terbaik sehingga perusahaan tidak Dinyatakan Pailit Terhadap Pihak Ketiga
menimbulkan kerugian yang lebih luas lagi, Kepailitan mengakibatkan debitor yang
termasuk kepada iklim berusaha dan dinyatakan pailit kehilangan segala hak
kondisi perekonomian nasional secara perdata untuk menguasai dan mengurus
umum. Apabila masih ada harapan, harta kekayaan yang telah dimasukkan ke
penundaan kewajiban pembayaran utang dalam harta pailit. Pembekuan hak
dapat menjadi solusi. 6 perdata ini diberlakukan oleh Pasal 22
Penetapan syarat kepailitan yaitu jika Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004
perusahaan sebagai debitor mempunyai tentang Kepailitan dan Penundaan
sedikitnya dua utang yang sudah jatuh Kewajiban Pembayaran Utang terhitung
tempo dan sekurang-kurangnya satu di sejak saat keputusan pernyataan pailit
antaranya tidak terbayar, dengan diucapkan. Sebagai konsekuensi dari
ketentuan cukup dibuktikan dengan ketentuan Pasal 22 Undang-Undang Nomor
pembuktian yang sederhana saja, dapat 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang,
ketentuan ini dapat dimanfaatkan oleh maka semua perikatan antara debitor yang
mitra pesaing untuk mengeliminir dinyatakan pailit dengan pihak ketiga yang
perusahaan bersangkutan dari pasar, sebab dilakukan sesudah pernyataan pailit, tidak
dengan dinyatakan pailit perusahaan itu akan dan tidak dapat dibayar dari harta
pasti akan tutup atau berhenti melakukan pailit, kecuali bila perikatan-perikatan
kegiatan usahanya.7 tersebut mendatangkan keuntungan bagi
Di sisi lain ketentuan itu dapat juga harta pailit.
dimanfaatkan oleh perusahaan debitor Tanggal putusan tersebut dihitung sejak
yang nakal yang tidak ingin membayar pukul 00.00 waktu setempat. Sejak tanggal
utang-utangnya dan lebih beruntung jika putusan pernyataan pailit tersebut
membuka perusahaan baru. Dalam kedua diucapkan, debiitur pailit demi hukum tidak
hal itu, selain menimbulkan kerugian mempunyai kewenangan lagi untuk
kepada kedua belah pihak, pihak ketiga menguasai dan mengurus harta
yaitu buruh atau tenaga kerja menjadi kekayaannya. Namun harus diperhatikan
korban yang paling menderita sebab bahwa debitur pailit tetap cakap dan
mereka kehilangan pekerjaan dan dengan berwenang untuk melakukan perbuatan
demikian otomatis kehilangan mata hukum sepanjang perbuatan hukum
pencaharian.8 tersebut tidak berkaitan baik langsung
Karena itu penetapan perusahaan ataupun tidak langsung dengan harta
debitor pailit harus ditempuh dengan hati- kekayaannya.10
hati untuk tidak menimbulkan dampak Dalam arti, debitur hanya kehilangan
besar. Pegangan pokok dalam memutuskan haknya dalam lapangan hukum harta
perusahaan pailit atau tidak adalah tujuan kekayaan. Seperti debitur pailit masih
6 9
Janus Sidabalok, Op.Cit., hal. 246. Ibid.
7 10
Ibid. Jono, Hukum Kepailitan, Sinar Grafika, Jakarta,
8
Ibid, hal.246-247. 2010, hal. 107-108.

23
Lex Privatum, Vol.I/No.3/Juli/2013

cakap untuk melakukan pernikahan. Berbeda, apabila perbuatan hukum yang


Pokoknya cakap untuk melakukan dilakukan debitur dengan pihak ketiga
perbuatan hukum lain sepanjang tidak dalam jangka waktu lebih dari 1 tahun
menyentuh harta kekayaannya, karena sebelum putusan pernyataan pailit, dimana
harta kekayaan sudah berada di bawah kurator menilai bahwa perbuatan hukum
sitaan umum.11 tersebut merugikan kepentingan kreditor
Semua perikatan debitur yang terbit atau harta pailit, maka yang wajib
sesudah putusan pernyataan pailit, tidak membuktikan adalah kurator.
lagi dapat dibayar dari harta pailit, kecuali Ini berarti pada prinsipnya Undang-
perikatan tersebut menguntungkan harta Undang Kepailitan memberikan hak secara
pailit. Tuntutan mengenai hak atau adil, baik kepada kurator maupun kreditor
kewajiban yang menyangkut harta pailit untuk membatalkan perjanjian dan atau
harus diajukan oleh atau terhadap perbuatan hukum debitor pailit yang
kurator. 12 dilakukan sebelum pernyataan pailit
Dalam hal tuntutan tersebut diajukan diputuskan, namun belum sepenuhnya
atau diteruskan oleh atau terhadap debitur diselesaikan pada saat pernyataan pailit
pailit maka apabila tuntutan tersebut dikeluarkan. 14
mengakibatkan suatu penghukuman Selain itu, dalam hal-hal tertentu, baik
terhadap debitur pailit, penghukuman kurator maupun tiap-tiap kreditor yang
tersebut tidak mempunyai akibat hukum berkepentingan berhak meminta
terhadap harta pailit. 13 pembatalan atas suatu perbuatan hukum
Dari ketentuan Pasal 41 dan 42 UU yang telah selesai dilakukan sebelum
Kepailitan, dapat diketahui bahwa sistem pernyataan pailit diucapkan. Ketentuan
pembuktian yang dapat dipakai adalah tersebut sangat berarti dalam melindungi
sistem pembuktian terbalik, artinya beban kepentingan kreditor secara keseluruhan
pembuktian terhadap perbuatan hukum dan terutama untuk menghindari akal-
debitur (sebelum putusan pernyataan akalan debitor yang nakal dengan pihak-
pailit) tersebut adalah berada pada pundak pihak tertentu yang bertujuan untuk
debitur pailit dan pihak ketiga yang merugikan kepentingan dari satu atau lebih
melakukan perbuatan hukum dengan kreditor yang beritikad baik, maupun
debitur apabila perbuatan hukum debitur kepentingan harta pailit secara
15
tersebut dilakukan dalam jangka waktu 1 keseluruhan.
tahun sebelum putusan pernyataan pailit Untuk dapat membatalkan suatu
yang membawa kerugian bagi kepentingan perbuatan hukum yang telah dilakukan oleh
kreditor. Jadi, apabila kurator menilai debitor pailit dengan pihak ketiga sebelum
bahwa ada perbuatan hukum tertentu dari pernyataan pailit diucapkan yang
debitur dengan pihak ketiga dalam jangka merugikan harta pailit, Undang-Undang
waktu 1 tahun (sebelum putusan Kepailitan mensyaratkan bahwa
pernyataan pailit) merugikan kepentingan pembatalan terhadap perbuatan hukum
kreditor, maka debitur dan pihak ketiga tersebut hanya dimungkinkan jika dapat
wajib membuktikan bahwa perbuatan dibuktikan pada saat perbuatan hukum
hukum tersebut wajib dilakukan oleh (yang merugikan) tersebut dilakukan
mereka dan perbuatan hukum tersebut debitor dan pihak dengan siapa perbuatan
tidak merugikan harta pailit.
14
Gunawan Widjaja, Tanggung Jawab Direksi atas
11
Ibid, hal.108. Kepailitan Perseroan, PT.Raja Grafindo Persada,
12
Ibid. Jakarta, 2004, hal. 90.
13 15
Ibid. Ibid.

24
Lex Privatum, Vol.I/No.3/Juli/2013

hukum itu dilakukan mengetahui bahwa akan menimbulkan akibat-akibat sebagai


perbuatan hukum tersebut akan berikut:19
mengakibatkan kerugian bagi kreditor, 1. Debitor kehilangan segala haknya
kecuali perbuatan tersebut merupakan untuk menguasai dan mengurus atas
suatu perbuatan hukum yang wajib kekayaan harta bendanya ( asetnya ),
dilakukannya berdasarkan perjanjian baik menjual, menggadai, dan lain
dan/atau undang-undang.16 sebagainya, serta segala sesuatu yang
Ini berarti bahwa hanya perbuatan diperoleh selama kepailitan sejak
hukum yang tidak wajib atau yang secara tanggal putusan pernyataan pailit
finansial merugikan kepentingan keuangan diucapkan;
debitor yang dinyatakan pailit yang dapat 2. Utang-utang baru tidak lagi dijamin
dibatalkan. Selanjutnya, untuk menciptakan oleh kekayaannya;
juga kepastian hukum bagi pihak-pihak 3. Untuk melindungi kepentingan
yang berkepentingan tidak hanya kreditor, kreditor, selama putusan atas
melainkan juga pihak penerima kebendaan permohonan pernyataan pailit belum
yang diberikan oleh debitor, Undang- diucapkan, kreditor dapat mengajukan
Undang Kepailitan menegaskan bahwa permohonan kepada pengadilan untuk:
selama perbuatan hukum yang merugikan a) Meletakkan sita jaminan terhadap
para kreditor tersebut dilakukan dalam sebagian atau seluruh kekayaan
jangka waktu satu tahun sebelum putusan debitor;
pernyataan pailit ditetapkan dan perbuatan b) Menunjuk kurator sementara untuk
tersebut tidak wajib dilakukan debitor atau mengawasi pengelolaan usaha
yang secara finansial merugikan debitor, menerima pembayaran
kepentingan keuangan debitor yang kepada kreditor, pengalihan atau
dinyatakan pailit, maka kecuali dapat penggunaan kekayaan debitor (pasal
dibuktikan sebaliknya, debitor dan pihak 10)
dengan siapa perbuatan tersebut dilakukan 4. Harus diumumkan di 2 ( dua ) surat
dianggap mengetahui atau sepatutnya kabar ( pasal 15 ayat ( 4 ).
mengetahui perbuatan tersebut akan Dengan demikian jelaslah, bahwa akibat
mengakibatkan kerugian bagi kreditor.17 hukum bagi debitur setelah dinyatakan
Dengan demikian, berarti menjadi tugas pailit adalah bahwa ia tidak boleh lagi
pihak ketiga dan debitor pailit tersebut mengurus harta kekayaannya yang
untuk membuktikan bahwa perbuatan dinyatakan pailit, dan selanjutnya yang
hukum yang dilakukan olehnya tersebut akan mengurus harta kekayaan atau
dengan debitor pailit (sebelum ia perusahaan debitur pailit tersebut adalah
dinyatakan pailit) merupakan perbuatan Kurator. Untuk menjaga dan mengawasi
hukum yang wajib dilakukan oleh debitor tugas seorang kurator, pengadilan
pailit (sebelum dinyatakan pailit) dan menunjuk seorang Hakim Pengawas, yang
bahwa perbuatan hukum tersebut secara mengawasi perjalan proses kepailitan
finansial tidak merugikan harta pailit (pengurusan dan pemberesan harta pailit).
(kreditor).18
Apabila seorang debitor telah secara E. PENUTUP
resmi dinyatakan pailit maka secara yuridis 1. Kesimpulan

16 19
Ibid, hal.90-91.
17
Ibid. http://asma1981.blogspot.com/2011/12/tanggung-
18
Ibid. jawab-direksi-dalam-perseroan.html

25
Lex Privatum, Vol.I/No.3/Juli/2013

a) Tanggung jawab suatu perusahaan yang disebabkan karena Undang-undang


dinyatakan pailit terhadap pihak ketiga Nomor 37 Tahun 2004 tentang
terwujud dalam kewajiban perusahaan Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
untuk melakukan keterbukaan Pembayaran Utang tidak mengatur
(disclosure) terhadap pihak ketiga atas secara tegas tentang kewajiban dan
setiap kegiatan perusahaan yang tanggung jawab perusahaan yang
dianggap dapat mempengaruhi dinyatakan pailit terhadap pihak ketiga.
kekayaan perusahaan. Sebuah Untuk itu perlu adanya revisi Undang-
perusahaan yang dinyatakan pailit atau undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang
bangkrut harus melalui putusan Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
pengadilan. Dengan pailitnya Pembayaran Utang yang mengatur
perusahaan itu, berarti perusahaan secara khusus tentang kewajiban dan
menghentikan segala aktivitasnya dan tanggung jawab perusahaan yang
dengan demikian tidak lagi dapat dinyatakan pailit terhadap pihak ketiga.
mengadakan transaksi dengan pihak b) Kepailitan mengakibatkan seluruh
lain, kecuali untuk likuidasi atau kekayaan perusahaan serta segala
pemberesan, yaitu menagih utang, sesuatu yang diperoleh selama
menghitung seluruh asset perusahaan, kepailitan berada dalam sitaan umum
kemudian menjualnya untuk seterusnya sejak saat putusan pernyataan pailit
dijadikan pembayaran utang-utang diucapkan. Penetapan syarat kepailitan
perusahaan. yaitu jika perusahaan sebagai debitor
b) Akibat hukum bagi perusahaan yang mempunyai sedikitnya dua utang yang
dinyatakan pailit mengakibatkan sudah jatuh tempo dan sekurang-
perusahaan yang dinyatakan pailit kurangnya satu diantaranya tidak
tersebut kehilangan segala hak perdata terbayar, dengan ketentuan cukup
untuk menguasai dan mengurus harta dibuktikan dengan pembuktian yang
kekayaan yang telah dimasukkan ke sederhana saja. Ketentuan ini dapat
dalam harta pailit. Pembekuan hak dimanfaatkan oleh perusahaan debitor
perdata ini diberlakukan oleh Pasal 22 yang nakal yang tidak ingin membayar
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 utang-utangnya dan lebih beruntung jika
tentang Kepailitan dan Penundaan membuka perusahaan baru. Hal ini akan
Kewajiban Pembayaran Utang terhitung menimbulkan kerugian bagi pihak ketiga
sejak saat keputusan pernyataan pailit yaitu buruh atau tenaga kerja menjadi
diucapkan. korban yang paling menderita sebab
mereka kehilangan pekerjaan dan
2. Saran dengan demikian otomatis kehilangan
a) Tanggung jawab suatu perusahaan yang mata pencaharian. Karena itu penetapan
dinyatakan pailit terhadap pihak ketiga perusahaan debitor pailit harus
terwujud dalam kewajiban perusahaan ditempuh dengan hati-hati untuk tidak
untuk melakukan keterbukaan menimbulkan dampak besar khususnya
(disclosure) terhadap pihak ketiga atas bagi pihak ketiga.
setiap kegiatan perusahaan yang
dianggap dapat mempengaruhi DAFTAR PUSTAKA
kekayaan perusahaan. Namun seringkali Fuady Munir, hukum Pailit 1998 Dalam
banyak perusahaan yang telah Teori dan Praktek, Cetakan 1, PT. Citra
dinyatakan pailit tidak bertanggung Aditya Bakti, Bandung, 1999.
jawab terhadap pihak ketiga. Hal ini

26
Lex Privatum, Vol.I/No.3/Juli/2013

Hartini Rahayu, Hukum Kepailitan, Cetakan


Pertama, Bayu Media, Semarang, 2003.
Huizink J.B., Insolventie, Cetakan 1, (Jakarta
: Pusat Studi Hukum dan Ekonomi
Fakultas Hukum Universitas Indonesia,
2004.
Kansil C.S.T. dan Christine S.T. Kansil, Seluk
Beluk Perseroan Terbatas Menurut
Undang-Undang No.40 Tahun 2007,
Rineka Cipta, Jakarta, 2009.
Kartono, Kepailitan dan Pengunduran
Pembayaran, Cetakan Ketiga, Jakarta,
Pradnya Paramita, 1985.
Marwan, M. SH, Drs,. & Jimmy p. SH.,
Kamus Hukum, Cetakan 1, Reality
Publisher, Surabaya, 2009
Nating Imran, Edisi Revisi : Peranan dan
Tanggung Jawab Kurator dalam
Pengurusan dan Pemberesan Harta
Pailit, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Sutantya R., P. Hadikusuma dan Sumantoro,
Pengertian Pokok Hukum Perusahaan,
Rajawali Pers, Jakarta,1995.
Widjaya I.G. Ray, Berbagai Peraturan dan
Pelaksanaan Undang-undang di Bidang
Hukum Perusahaan, Pemakaian Nama
PT, Tata Cara Mendirikan PT, Tata Cara
Pendaftaran Perusahaan, TDUP & SIUP,
Cetakan ke 3, Jakarta, 2003.
Widjaja Gunawan, Tanggung Jawab Direksi
atas Kepailitan Perseroan, PT.Raja
Grafindo Persada, Jakarta, 2004.

27