Anda di halaman 1dari 155

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Sektor Pertambangan merupakan salah satu sektor penunjang
perekonomian negara secara keseluruhan baik dari sisi nilai tambah terhadap
produk domestik bruto maupun dari segi ekspor nasional. Sektor pertambangan
menyerap ratusan hingga ribuan tenaga kerja yang akan bergerak di berbagai
bidang. Selain itu, industri pertambangan mampu menarik berbagai pihak, karena
dengan berbagai hasil tambang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat
banyak serta kualitas sumber daya manusia dalam suatu negara.
Seiring dengan hal tersebut, sebagai calon ahli tambang diharapkan
mempunyai wawasan tentang industri pertambangan, sehingga dengan wawasan
luas yang telah didapatkan mampu menjadi dasar dalam manajemen waktu dan
pemecahan masalah yang akan didapatkan ketika telah memasuki dunia kerja
khususnya dibidang pertambangan kedepannya.
Ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang sangat mahal, bermanfaat, dan
merupakan modal berharga bagi seluruh umat manusia untuk mencapai masa
depan yang bermanfaat. Maka sudah sepatutnya manusia mencari ilmu
pengetahuan dari semenjak lahir sampai akhir hayat.
Seiring berjalannya waktu, ilmu-ilmu pengetahuan terus mengalami
perkembangan dan pembaharuan dari ilmu yang sebelumnya. Persaingan juga
semakin ketat, baik antarkampus maupun antarmahsiswa. Mahasiswa sebagai
kaum intelektual dituntut untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan,
khususnya pada ilmu cabang pertambangan.
Oleh karena itu, dengan adanya kunjungan industri tambang, dapat
menjadi sebuah pemicu semangat mahasiswa/I dalam menuntut ilmu serta
mengkorelasikan apa yang diserap pada bangku perkuliahan secara teoritis dengan
aktual di lapangan. Karena ruang lingkup pembelajaran mahasiswa tidak hanya
sebatas di lingkup kampus-kampus saja, perusahaan juga sebagai sarana tempat

1
pembelajaran. Selain sebagai untuk menambah ilmu, perusahaan juga sebagai
tempat pengaplikasian ilmu-ilmu yang diperoleh pada bangku perkuliahan.
Ilmu Teknik Pertambangan erat kaitannya dengan ilmu praktek lapangan,
mahasiswa saat ini dituntut agar tidak hanya terfokus pada teorirtisnya saja, tetapi
bagaimana mahasiswa/i tersebut mengaplikasikan ilmunya dengan baik dengan
fasililtas/fasilitator yang tersedia. Hal ini berguna untuk menunjang skill maupun
kompetensi mahasiswa itu sendiri yang nantinya dapat dipergunakan pada dunia
kerja setelah keluar dari perkuliahan.

I.2. Maksud dan Tujuan


Perkuliahan kunjungan industri tambang bermaksud untuk mempelajari
dan mengetahui proses kegiatan pertambangan pada perusahaan khususnya
pertambangan batubara.
Adapun tujuannnya yakni :
1. Untuk mengetahui kegiatan eksplorasi batubara
2. Untuk mengetahui metode dan sistem penambangan yang
dipergunakan
3. Untuk mengetahui proses pemboran peledakan pada tambang
4. Untuk mengetahui proses Pemindahan Tanah Mekanis
5. Untuk mengetahui sistem manajemen pengolahan batubara/port
management
6. Untuk mengetahui proses analisa kualitas batubara
7. Untuk mengetahui kegiatan reklamasi dan revegetasi pada lahan
bekas tambang
8. Untuk mengetahui proses dan penerapan sistem K3

I.3. Lokasi Kunjungan


Kunjungan Industri Tambang ini dilaksanakan di PT. Mahakam Sumber
Jaya yang secara administratif terletak pada Desa Separi Kecamatan Tenggarong
Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

I.4. Waktu Kunjungan


Adapun kegiatan Kunjungan ekskursi industri tambang 2017 dari kuliah
materi sampai ke lapangan.

2
Tabel 1.1. Waktu pelaksanaan kegiatan ekskursi
Waktu Pelaksanaan
Mei Juni
No Kegiatan
Tgl Tgl Tgl Tgl Tgl
3 4 5 6 10
1. Kuliah tentang K3 Tambang
(induksi)
2 Kuliah tentang Reklamasi dan Paska
Tambang
3 Kuliah tentang PTM
4 Kuliah tentang Sistem dan Metode
Penambangan
5 Kuliah tentang Pengeboran dan
Peledakan
6 Kuliah Tentang Teknik Eksplorasi
7 Kuliah Tentang Port Management
8 Kunjungan ke PT. MSJ

BAB II
TINJAUAN UMUM

II.1. Sejarah Singkat PT. Mahakam Sumber Jaya

3
PT. Mahakam Sumber Jaya adalah salah satu perusahaan yang bergerak
dibidang pertambangan batubara dan merupakan salah satu anak perusahaan dari
Tanito Group. PT. Mahakam Sumber Jaya berdiri pada tahun 2000.
PT. Mahakam Sumber Jaya memegang hak eksploitasi dan pemilik daerah
Perjanjian Karya Pengusaha Pertambangan Batubara (PKP2B) dengan kode
wilayah : 00OTBOO1 pada tanggal 29 Desember 2000.
PT. Mahakam Sumber Jaya melakukan penambangan batubara dengan
luasan 20.380 Ha. Areal konsesi ini terletak dalam wilayah administrasi
Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Pada
bulan Juli 2004, PT. Mahakam Sumber Jaya mulai beroperasi di Desa Separi,
Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi
Kalimantan Timur.

II.2. Lokasi dan Kesampaian Dearah

Daerah penambangan batubara PT. Mahakam Sumber Jaya secara


administrative berada dalam Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai
Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Secara Geografis terletak oada
koordinat 1170934,09 BT 1170111,84 dan 0018,27,46 LS 00196,45 LS.
Lokasi penambangan berada di sebelah utara Kota Samarinda yaitu dari
Samarinda 20 km (Santan Selatan) dan 65 km (Santan Utara). Lokasi
pelabuhan berada 5 km dari daerah Embalut dan pelabuhan dari Samarinda
dapat dijangkau selama 1 jam dengan menggunakan transportasi kendaraan roda
empat atau roda dua.
Bentuk daerah penyelidikan memanjang dari Utara Selatan dan di bagian
Selatan berbelok ke arah Barat. PT. Mahakam Sumber Jaya membagi daerah
penyelidikan menjadi 5 blok yaitu :

1. Blok A terletak di daerah sebelah barat, yaitu daerah Desa Kertabuana.


2. Blok B terletak di daerah sebelah selatan, meliputi daerah Desa Bayur-
Berambai.
3. Blok C terletak di tengah daerah meliputi Desa Berambai.

4
4. Blok D terletak ditengah utara daerah meliputi daerah Desa Perangat.
5. Blok D terletak di sebelah utara daerah meliputi daerah Desa Sambutan.

II.3. Keadaan Geologi Daerah Penelitian

II.3.1 Morfologi

Kondisi topografi daerah penambangan PT. Mahakam Sumber Jaya adalah


daerah perbukitan bergelombang rendah dengan elevasi antara 40-5 meter dari
permukaan air laut. Dari Topografi yang menunjukkan bahwa daerah tersebut
telah mengalami proses morfologi yang cukup lanjut yang membentuk garis
kontur, perbukitan memanjang dengan elevasi kecil membentuk gully erosi
berkelanjutan, sehingga membentuk aliran sungai dan rawa-rawa disekitarnya.
Sungai-sungai ini tergolong sungai berumur muda dan mempunyai pola
aliran subdenritik, disamping adanya sungai-sungai tersebut juga mengalir
beberapa alur-alur diantara sela perbukitan yang hanya mengalir pada waktu
musim hujan.

II.3.2. Stratigrafi Regional

Secara regional daerah penambangan PT. Mahakam Sumber Jaya masuk


dalam cekungan kutai, cekungan yang paling produktif di kalimantan ini
menampang pengendapan selama zaman tersier hingga zaman kwarter.
Cekungan kutai dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
a. Cekungan Kutai Barat, merupakan daerah rendah sebagian besar tertutup
oleh rawa, danau dan alluvial, menandakan daerah masih banyak bergerak
turun.
b. Antiklonorium Samarinda merupakan antiklin sempit, memanjang daerah
Timur Laut Utara-Barat Daya Selatan kemngkinan karena adanya shale
diapire dan juga karena pergerakan sesar mendatar dibasement
c. Cekungan Kutai Bagian Timur, terdapat liptan berarah Timur Laut- Utara
penghubung Barat Daya-Selatan yang sempit dan memanjang. Beberapa
antiklin dibagian ini terpotong sungai mahakam.

5
Pada cekungan kutai terendapkan berbagai macam sedimen yang dibagi
menjadi formasi dengan ketebalan bervariasi. Adapun pembagian formasi batuan
munurut Supriyanto, dkk (1978) dari formasi yang terletak paling atas hingga
formasi paling bawah, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Formasi Pamaluan
Tersususun dari batu pasir kuarsa, batulempung, batugamping dan
batulanau. Formasi ini erupakan formasi tertua pada Cekunggan Kutai
dengan ketebalan 2000 m. formasi ini berhubungan menjari dengan
Formasi Bebuluh
2. Formasi Bebuluh (Miosen Awal-Miosen Tengah)
Terdiri dari batugamping terumbu dan batugamping pasiran, lingkungan
pengendapan laut dangkal dengan ketebalan 300 m. formasi tertindih
selaras oleh Formasi Pulau Balang.
3. Formasi Pulau Balang (Miosen Tengah)
Tersusun oleh batugamping, napal, tuff dan batupasir. Lingkungan
pengendapan laut dangkal.
4. Formasi Balikpapan (Miosen Tengah-Miosen Akhir)
Terdiri dari perselingan batupasir, lempung, sisipan lanau, batugamping
dan batupasir kuarsa, dengan jangkauan pengendapan perengan paras
delta-dataran delta. Formasi ini mempunyai ketebalan 1000-1500 m.
5. Formasi Kampung Baru (Miosen Akhir- Pliosen)
Litologinya terdiri dari batupasir kuarsa dengan sisipan lempung, serpih,
lanau dan lignit. Dengan lingkungan pengendapan delta laut dangkal.
Mempunyai ketebalan lebih dari 500 m, menindis selaras dan sebagian
tidak selaras terhadap Formasi Balikpapan.
6. Kwarter Alluvium
Litologinya terdiri dari batu kerikil, pasir dan lumpur. Lapisan ini
merupakan material limpahan sungai yang terletak tidak selaras diatas
Formasi Kampung Baru.

Formasi pembawa batubara yang cukup besar dari lima formasi tersebut
diatas adalah Formasi Balikpapan. Dari hasil stratigrafi daerah penelitian pada
PT. Mahakam Sumber Jaya termasuk Formasi Balikpapan dengan ditandainya
terdapat satuan batupasir, batulanau dengan sisipn lanau, serpih dan batubara.

6
Gambar 2.1.
Stratigrafi Cekungan
Kutai

Berdasarkan hasil pengamatan dari peniliti terdahulu, daerah


penambangan PT. Mahakam Sumber Jaya dan sekitarnya memiliki dua satuan
batuan yaitu satuan batupasir dengan litologi yang terdiri dari perselingan antara
batupasir kuarsa dengan sisipan lanau, serpih dan batubara dan yang kedua satuan
batulempung.

II.3.2.1. Satuan Batupasir

Satuan batupasir ini secara umum memperlihatkan warna putih


kekuningan, putih kecoklatan dan abu-abu kehijauan. Dengan mineral penyusun
terdiri dari matrik kuarsa, plagioklas, orthoklas, biotit dan hornblende, semen,
oksida besi, silika feldspar. Strukturnya perlapisan dan masif dengan ukuran butir
halus sampai sedang dan bentuk butir membulat hingga membulat tanggung.

II.3.2.2. Satuan Batulempung

7
Satuan batulempung ini secara umum memperihatkan warna cokelat abu-
abu dan abu-abu hijau, material penyusun terdiri dari material palgioklas,
orthoklas, biotit, hornblende, semen, oksida besi, silika, feldspar. Mempunyai
struktur perlapisan, masif dengan bentuk butir membulat hingga membulat
tanggung.
Jika dilihat dari data-data yang telah dijelaskan diatas baik dari ciri-ciri
litologi maupun berdasrkan peta geologi regional maka dapat disimpulkan bahwa
daerah penambangan PT. Mahakam Sumber Jaya dan sekitarnya termasuk dalam
cekungan kutai dan formasi Balikpapanyang berumur miosen atas

BAB III
DASAR TEORI

III.1. Bahan Galian Batubara

III.1.1. Pengertian Batubara


Berikut ini berbagai definisi batubara dari beberapa penulis, yaitu :
Thiessen (1947) : Batubara adalah suatu benda padat yang kompleks,
terdiri dari bermacam-macam unsur mewakili banyak komponen kimia, dimana
hanya sedikit dari komponen kimia tersebut yang dapat diketahui. Pada umumnya
homogen, tetapi hampir semua berasal dari sisa-sisa tumbuhan yang sangat
kompleks, terdiri dari bermacam-macam serat dimana setiap serat terdiri dari
beberapa sel. Dengan sendirinya bahan-bahan tersebut akan berkomposisi
sejumlah komponen kimia dalam perbandingan yang sangat bervariasi.

8
Achmad Prijono, dkk (1992) : Batubara adalah bahan bakar hidrokarbon
padat yang terbentuk dari tetumbuhan dalam lingkungan bebas oksigen dan
terkena pengaruh panas serta tekanan yang berlangsung lama sekali

III.1.2. Proses Pembentukan Batubara


Proses pembentukan batubara dari tumbuhan mengalami dua tahap, yaitu :
tahap pembentukan gambut (peatification) dan tahap pembatubaraan
(coalification).

a. Tahap Pembentukan Gambut (Peatification)


Jika tumbuhan tumbang di suatu rawa, maka dapat terjadi proses biokimia
yang secara vertikal dapat dibagi menjadi dua zona, yaitu zona permukaan yang
umumnya perubahan berlangsung dengan bantuan oksigen dan zona tengah
sampai kedalaman 0,5 m yang disebut dengan peatigenic layer (Teichmuller,
1982). Pada zona peatigenic terdapat bakteri aerob, lumut, dan actinomyces yang
aktif. Bakteri aerob akan menyebabkan oksidasi biologi pada komponen-
komponen tumbuhan yang material utamanya adalah cellulose. Senyawa-senyawa
protein dan gula cenderung terhidrolisa. Cellulose akan diubah menjadi glikose
dengan cara hidrolisis :

C6H10O5 + H2O C6H12O6


(cellulose) (glikose)

Jika suplai oksigen berlangsung terus maka proses ini akan menuju pada
penguraian lengkap dari senyawa organik, yaitu:

C6H10O5 + 6 O2 6 CO2 + 5 H2O


Bagian-bagian dari material tumbuhan tersebut cenderung membentuk koloid dan
umumnya disebut dengan asam humus (humic acid). Lemak dan material resin
umumnya hanya mengalami perubahan sedikit.
Apabila kandungan oksigen air rawa sangat rendah dan dengan
bertambahnya kedalaman, sehingga tidak memungkinkan bakteri-bakteri aerob
hidup, maka sisa tumbuhan tersebut tidak mengalami proses pembusukan dan
penghancuran yang sempurna, dengan kata lain tidak terjadi proses oksidasi yang

9
sempurna. Pada kondisi tersebut hanya bakteri-bakteri anaerob saja yang
berfungsi melakukan proses pembusukan yang kemudian membentuk gambut
(peat).
Prosesnya adalah dengan bertambahnya kedalaman, maka bakteri aerob
akan berkurang (mati) dan diganti dengan bakteri anaerob sampai kedalaman 10
m, dimana kehidupan bakteri makin berkurang dan hanya terjadi perubahan kimia,
terutama kondensasi primer, polymerisasi, dan reaksi reduksi. Pada bakteri
anaerob akan mengkonsumsi oksigen dari substansi organik dan mengubahnya
menjadi produk bituminous yang kaya hidrogen, selanjutnya dengan tidak
tersedianya oksigen, maka hidrogen dan karbon akan menjadi H2O, CH4, CO, dan
CO2.
Apabila ditinjau secara vertikal, maka lapisan gambut paling atas
mempunyai pertambahan kandungan karbon relatif cepat sesuai kedalamannya
sampai peatigenic layer, yakni 45-50% sampai 55-60%. Lebih dalam lagi,
pertambahan kandungan karbon mencapai 64%. Kandungan karbon yang tinggi
pada peatigenic layer disebabkan karena pada lapisan tersebut kaya substansi
yang mengandung oksigen, terutama cellulose dan humicellulose yang diubah
secara mikrobiologi.
Dari keseluruhan proses, maka pembentukan substansi humus merupakan
proses penting yang tidak tergantung pada fasies dan tidak semata-mata pada
kedalaman. Oleh karena itu, faktor yang mempengaruhi proses humifikasi dimana
bakteri dapat beraktivitas dengan baik adalah kondisi lingkungan berikut ini :
1. Keasaman air, yaitu pada pH 7,0-7,5.
2. Kedalaman, yaitu pada kedalaman sekitar 0,5 m untuk bakteri aerob,
sedangkan untuk bakteri anaerob bisa sampai kedalaman 10 m.
3. Suplai oksigen, akan menurun mengikuti kedalaman.
4. Temperatur lingkungan, pada suhu yang hangat akan mendukung kehidupan
bakteri.

Ciri umum gambut adalah sebagai berikut:


1. Berwarna kecoklatan sampai hitam.
2. Kandungan air > 75% (pada brown coal < 75%)

10
3. Kandungan karbon umumnya < 60% (pada brown coal > 60%).
4. Masih memperlihatkan struktur tumbuhan asal, terdapat cellulose (pada
brown coal, cellulose tidak hadir).
5. Dapat dipotong dengan pisau (pada brown coal tidak dapat dipotong).
6. Bersifat porous, bila diperas dengan tangan, keluar airnya.
Berdasarkan ciri di atas adalah tidak mudah secara pasti membedakan antara
peat dan brown coal, apalagi proses perubahannya berlangsung secara
bertahap.

b. Tahap Pembentukan Batubara (Coalification)


Menurut Stach (1972) tahap geokimia atau tahap pembatubaraan disebut
sebagai tahap fisika-kimia (physicochemical stage), yaitu tahap perubahan dari
gambut menjadi batubara secara bertingkat (brown coal, sub-bituminous coal,
bituminous coal, semi anthracite, anthracite, meta-anthracite) yang disebabkan
oleh peningkatan temperatur dan tekanan.
Pada tahap ini terjadi perubahan rombakan tumbuhan dari kondisi reduksi
ke suatu seri menerus dengan prosentase karbon makin meningkat dan prosentase
oksigen serta hidrogen makin berkurang. Juga sifat fisik maseral mulai terbentuk,
seperti kenaikan reflektansi maseral batubara seiring dengan naiknya derajat
proses kimia-fisika.

Perubahan-perubahan fisika-kimia berlangsung secara bertahap yaitu :


1. Tahap pertama adalah pembentukan peat, proses berlangsung terus
sampai membentuk endapan, di bawah kondisi asam menguapnya H 2O,
CH4, dan sedikit CO2 membentuk C65H4O30 yang dalam kondisi dry
basis besarnya analisa pada ultimate adalah karbon 61,7%, hidrogen
0,3%, dan oksigen 38,0%.
2. Tahap kedua adalah tahap lignit kemudian meningkat ke bituminus
tingkat rendah dengan susunan C79H55O141 yang pada kondisi dry basis
adalah karbon 80,4%, hidrogen 0,3%, dan oksigen 19,1%.
3. Tahap ketiga adalah peningkatan dari batubara bituminus tingkat rendah
sampai tingkat medium dan kemudian sampai batubara bituminus

11
tingkat tinggi. Pada tahap ini kandungan hidrogen tetap dan oksigen
berkurang sampai satu atom oksigen tertinggal di molekul.
4. Tahap keempat, kandungan hidrogen berkurang, sedangkan kandungan
oksigen menurun lebih lambat dari tahapan sebelumnya. Hasil
sampingan tahap tiga dan empat adalah CH4, CO2, dan sedikit H2O.
5. Tahap kelima adalah proses pembentukan antrasit dimana kandungan
oksigen tetap dan kandungan hidrogen menurun lebih cepat dari tahap-
tahap sebelumnya.
Derajat batubara tergantung pada temperatur, yaitu dapat akibat terobosan batuan
beku, gradien geotermal, dan konduktifitas panas batuan. Contoh pada sedimen
Tersier di Upper Rhein Graben dengan gradien hidrotermal 7-8 0C/100 m,
menghasilkan batubara bituminous pada kedalaman 1500 m, sedangkan di daerah
dingin yang gradien hidrotermalnya 40C/100m dapat mencapai derajat yang sama
pada kedalaman 2600m.

Faktor waktu menurut hasil penelitian pada gambut lepas setebal 10-12 ft
akan menghasilkan 1 ft gambut padat memmerlukan waktu sekitar 100 tahun.
Dalam proses dari gambut menjadi batubara terjadi pemampatan dan jika diambil
contoh kayu sebagai basis (100%) pembentukan gambut dan batubara, maka
perbandingan volume dalam % adalah :

1. Gambut = 28 - 45%
2. Lignite = 17 - 28%
3. Bituminous coal = 10 - 17%
4. Anthracite = 5 - 10%

Jika diasumsikan bahwa waktu yang diperlukan untuk menghasilkan 1 ft gambut


termampatkan adalah 100 tahun, maka dengan menggunakan persentasi di atas
dapat diasumsikan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk akumulasi gambut hingga
diperoleh ketebalan batubara 1 ft yaitu :

1. Lignite = 160 tahun


2. Bituminous = 260 tahun

12
3. Anthracite = 490 tahun
Selanjutnya, tercapainya derajat batubara juga dapat tergantung pada gabungan
temperatur dan waktu. Sebagai contoh, pada batubara dengan kandungan zat
terbang 19% dapat terbentuk pada kondisi :

1. 2000C selama lebih dari 10 juta tahun


2. 1500C selama lebih dari 50 juta tahun
3. 1000C selama lebih dari 200 juta tahun
4. 50-600C tidak pernah terbentuk batubara
Berdasarkan penjelasan di atas, maka pada prinsipnya derajat batubara
ditentukan oleh faktor temperatur, tekanan, dan waktu, sehingga bisa disimpulkan
bahwa faktor-faktor yang mengendalikan adalah :

1. Derajat batubara sebelum terganggu kegiatan intrusi atau struktur


geologi.
2. Ukuran dan bentuk kegiatan intrusi atau struktur geologi.
3. Jumlah dan asal tekanan.
4. Jarak batubara dari gangguan.
5. Suhu batubara dari gangguan
6. Lama gangguan berlangsung.

Teori Pembentukan Batubara Berdasarkan Asal Mula Tempat


Ada dua teori yang menjelaskan tentang terbentuknya batubara dilihat dari
asal mula tempat pembentukannya. Teori ini adalah teori INSITU dan teori
DRIFT.
1. Teori Insitu
Teori ini mengatakan bahwa batubara terbentuknya ditempat dimana
tumbuh-tumbuhan asal itu berada. Jenis batubara yang terbentuk dengan cara ini
mempunyai penyebaran luas dan merata, kualitasnya lebih baik karena kadar
abunya relatif kecil.

Karakteristik batubara insitu (Autochthonous coals) adalah sebagai berikut :

13
1. Hadirnya seat earths.
2. Ada struktur akar tumbuhan yang tegak terhadap bidang perlapisan.
3. Ada pokok (tunggul) pohon yang tumbuh di tempat itu.
4. Batubaranya relatif bersih, kadar abunya relatif kecil, baik pada lapisan
batubara maupun lapisan antar seam.
5. Umumnya berasosiasi dengan lingkungan rawa dengan drainase buruk.
6. Sebarannya luas dan merata di seluruh lapangan batubara.
7. Ketebalannya seragam (kurang bervariasi) cenderung tipis dan
berbentuk lentikuler.
8. Hadirnya batupasir kuarsa halus atau ganister.
9. Kontaknya tegas (tiba-tiba) antara batubara dengan lapisan sedimen
diatasnya.
10. Berasosiasi dengan lingkungan floating swamps, low-lying swamps, dan
raised swamps.
11. Maceral terawetkan secara baik dan hadir litotipe vitrain, clarain,
durain, dan fusain.

2. Teori Drift
Teori ini menyebutkan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara
terjadinya ditempat yang berbeda dengan tempat tumbuhan semula hidup dan
berkembang. Tumbuhan yang telah mati diangkut oleh media air dan
berakumulasi di suatu tempat, tertutup oleh batuan sedimen dan mengalami proses
coalification. Jenis batubara yang terbentuk dengan cara ini mempunyai
penyebaran tidak luas, tetapi dijumpai di beberapa tempat, kualitas kurang baik
karena banyak mengandung material pengotor yang terangkut bersama selama
proses pengangkutan dari tempat asal tanaman ke tempat sedimentasi.
Karakteristik batubara Drift (Allochthonous coals) adalah sebagai berikut :

1. Tidak adanya seat earths.


2. Tidak dijumpainya struktur akar tumbuhan atau pokok pohon yang
tegak terhadap bidang perlapisan.

14
3. Ketebalan dan kualitas lebih bervariasi.
4. Berasosiasi dengan endapan delta.
5. Batubara yang berasosiasi dengan lingkungan marin.
6. Hadirnya coal balls pada batupasir lapisan penutup.
7. Sebarannya tidak luas dan tersebar pada beberapa tempat.
8. Kadar abunya relatif lebih tinggi, banyak pengotornya.
9. Mengandung maceral yang resisten seperti liptinites dan inertinites
dengan mineral matter yang melimpah.

Faktor - faktor Pembentukan Batubara


Schlatters (1973) menyebutkan bahwa pembentukan batubara merupakan
proses yang kompleks yang harus dipelajari dari banyak segi, karena ada
bermacam-macam proses yang berbeda satu dengan lainnya yang mempengaruhi
pembentukan batubara, baik derajat maupun jenis batubaranya pada suatu
cekungan.

a. Posisi Geotektonik (Geotectonic Position)


Di dalam genesa cekungan batubara, posisi geotektonik merupakan faktor
yang umum. Posisi geotektonik mempengaruhi iklim, morfologi cekungan,
kecepatan sedimentasi, kecepatan penurunan dasar cekungan, jenis flora, dan pada
akhirnya akan berpengaruh terhadap jenis batubara (coal type), derajat batubara
(coal rank), dan geometri lapisan batubara yang terbentuk .
Pada daerah bertektonik kuat, penurunan cekungan akan berjalan cepat
selama pengendapan berlangsung. Akibatnya akan berpengaruh terhadap
perbedaan petrografi dan geometri lapisan batubara serta menambah kontaminasi
mineral, seperti sulfida, klorit, dan karbonat.

b. Topografi Purba (Paleotopografi)


Morfologi cekungan mempunyai arti penting di dalam menentukan
penyebaran rawa-rawa tempat batubara terbentuk. Pada daerah pantai datar dan
tidak berbukit merupakan lingkungan yang baik untuk pembentukan batubara,
demikian juga di daerah cekungan benua, tetapi jumlahnya terbatas. Pada dataran

15
stabil, erosi akan mempengaruhi ukuran dan bentuk lakustrin, asal dan luas
pengaliran, aliran air, dan permukaan airtanah.

c. Posisi geografi (Geographical Position)


Posisi geografi berpengaruh terhadap iklim, khususnya temperatur. Pada
daerah tropik dan subtropik, tumbuhan dapat tumbuh subur dibanding di daerah
sedang, di daerah kutub tidak baik bagi pertumbuhan tumbuhan. Pembentukan
batubara akan baik pada rawa-rawa paralik yang tingginya sama dengan
permukaan air laut.
d. Iklim (Climate)
Gambut berasal dari tumbuhan, sedangkan perkembangan tumbuhan
dipengaruhi oleh iklim, lebih khusus lagi adalah kelembaban. Pada daerah
beriklim tropik dan subtropik yang bertemperatur tinggi, umumnya sesuai untuk
pertumbuhan tumbuhan dibandingkan daerah beriklim dingin. Di samping itu,
suhu yang lebih panas tidak hanya mempercepat pertumbuhan tumbuhan, tetapi
juga mempercepat pembusukan.

Hasil penelitian menyebutkan bahwa hutan rawa tropis mempunyai siklus


pertumbuhan setiap 7-9 tahun dan tumbuhan mencapai tinggi sekitar 30 m,
sementara di iklim dingin atau sedang untuk waktu yang sama pertumbuhannya
hanya mencapai ketinggian 5-6 m. Daerah iklim sedang miskin bahan makanan,
sehingga didominasi oleh lumut, sedangkan daerah tropik didominasi pohon.

e. Tumbuhan (Flora)
Tumbuhan merupakan unsur utama pembentuk batubara. Protoplasma
adalah sel pengisi tumbuhan hidup yang merupakan zat koloidal yang sebagian
besar terdiri dari air dan albumin kompleks atau campuran unsur C, H, O, N, S,
dan P. Albumin hampir tidak memiliki daya tahan terhadap pembusukan,
fungsinya sebagai zat makan atau nutrient bagi bakteri penyebab pembusukan.

Selaput sel terutama terdiri dari selulosa (cellulose) yang merupakan karbohidrat
yang tahan terhadap perubahan kimiawi, tetapi dapat dengan mudah ditelan oleh
mikro-organisme. Di alam, selulosa bersama-sama dengan sederet unsur lain
seperti hemiselulosa, pectin, lemak, dan lignin. Tiga yang pertama tidak memiliki

16
daya tahan terhadap pembusukan, sehingga kurang penting dalam pembentukan
batubara. Lignin diperlukan dalam perubahan bentuk tumbuhan, selalu terjalin
secara submikroskopis dengan selulosa dan merupakan bahan dasar jaringan kayu,
walau terdapat pula dalam daun. Resin dan lilin juga dihasilkan oleh tumbuhan,
biasanya termasuk hidrokarbon polimer tinggi dengan oksigen dan belerang
dalam jumlah kecil. Keduanya sangat tahan terhadap pembusukan.

f. Pembusukan (Decomposition)
Pembusukan tumbuhan adalah proses peruraian unsur yang merupakan
bagian transformasi biokimia dari bahan organik tumbuhan. Setelah tumbuhan
mati, maka yang berperan adalah proses degradasi biokimia. Prosesnya adalah
pembusukan oleh kerja bakteri dan jamur, terutama di daerah yang bertemperatur
hangat dan lembab daripada di daerah kering dan bertemperatur dingin. Bakteri
bekerja pada lingkungan tanpa oksigen, mula-mula menghancurkan bagian yang
lunak dari tumbuhan seperti selulosa, protoplasma, dan pati. Dalam suasana
kekurangan oksigen akan berakibat keluarnya air dan sebagian unsur karbon
dalam bentuk karbondioksida, karbonmonoksida, dan metan. Akibat pelepasan
unsur atau senyawa tersebut, maka jumlah relatif unsur karbon akan bertambah.
Dari proses ini akan terjadi perubahan dari kayu menjadi gambut.

g. Penurunan dasar cekungan (subsidence)


Penurunan cekungan merupakan hal penting, yaitu jika penurunan dan
akumulasi tumbuhan berjalan seimbang, maka akan menghasilkan endapan
batubara tebal.
Kecepatan penurunan yang lebih cepat dari kecepatan akumulasi tumbuhan
akan mengakibatkan air menggenangi rawa-rawa dan hutan sekelilingnya,
sehingga kehidupan tumbuhan terganggu. Jika penurunan lebih lambat dari
kecepatan akumulasi tumbuhan, maka akan menyebabkan akumulasi tumbuhan di
permukaan. Akibatnya permukaan airtanah akan turun dan tumbuhan membusuk
oleh udara.

h. Waktu geologi (Geological Age)

17
Waktu geologi menentukan berkembangnya beragam tumbuhan, misal
pada jaman Karbon dijumpai endapan batubara yang melimpah karena pada
jaman tersebut perkembangan tumbuhan mencapai puncaknya.

Waktu geologi juga dapat meningkatkan derajat batubara, karena makin tua umur
endapan batubara, maka besar kemungkinannya tertimbun lebih dalam dan lebih
tebal oleh endapan sedimen dibandingkan yang berumur muda. Meskipun
demikian, pada batubara yang lebih tua selalu ada risiko mengalami deformasi
tektonik dan pengaruh erosi, sehingga dapat mengganggu atau mengurangi
endapan batubara yang ada.

i. Sejarah setelah pengendapan (post-depositional history)


Sejarah cekungan batubara sangat tergantung pada posisi geotektoniknya,
karena posisi geotektonik mempengaruhi perkembangan cekungan batubara dan
berpengaruh pada tebalnya lapisan penutup yang pada akhirnya menentukan
proses kecepatan metamorfose organik dan bertanggungjawab terhadap struktur
cekungan batubara, lipatan, sesar, atau terobosan batuan beku. Secara singkat
dapat berpengaruh terhadap aspek geometri lapisan batubara dan kualitas
batubara.

j. Metamorfosa Organik (Organic Metamorphism)


Perubahan fisik dan kimia dari organisme secara berangsur menjadi bentuk
lain yang susunannya lebih kompleks, umumnya pada kondisi tanpa oksigen.
Prosesnya dibagi menjadi dua tahap, yaitu perubahan biokimia dan perubahan
geokimia.

Proses biokimia yaitu perubahan dari tumbuhan mati menjadi gambut dan
proses geokimia yaitu perubahan dari gambut menjadi batubara. Pada proses
geokimia, kenaikan suhu memegang peranan penting, yaitu berkurangnya unsur
hidrogen dan oksigen yang diikuti oleh meningkatnya unsur karbon, sehingga
derajat batubara makin meningkat. Kenaikan suhu ini terutama disebabkan oleh
tebalnya batuan yang menindihnya atau adanya terobosan magma batuan beku.
Metamorfosa organik dipengaruhi oleh proses yang bekerja setelah pengendapan,

18
secara tidak langsung juga dipengaruhi oleh posisi geotektonik, kecepatan
penurunan cekungan, dan waktu geologi.

III.1.3. Lingkungan Pengendapan Batubara

Menurut Horne dkk., (1978), lingkungan pengendapan batubara


merupakan salah satu kendali utama yang mempengaruhi pola sebaran, ketebalan,
kemenerusan, kondisi roof, dan kandungan sulfur pada lapisan batubara. Oleh
karena itu, studi lingkungan pengendapan dapat dimanfaatkan untuk
memprediksikan penyebaran lapisan batubara, variasi ketebalan dan kualitas
batubara tersebut, dan sifat overburdennya.
Tempat pembentukan batubara berlangsung umumnya adalah lingkungan
pantai, mulai dari lingkungan barrier, back barrier, lower delta plain, transitional
lower delta plain serta upper delta plain-fluvial. Pemahaman akan lingkungan
pengendapan lapisan batubara digunakan untuk standart perencanaan dan program
eksplorasi. Lingkungan pengendapan sedimen pembawa batubara dapat diketahui
dengan mengintegrasikan beberapa data utama, yaitu :

- Data singkapan yang berupa profil stratigrafi rinci


- Data bawah permukaan yang diperoleh dari pemboran dan metode
geofisika.
- Data kesebandingan grafik kadar abu dan sulfur

Kipas Alluvial
Vegetasi yang terakumulasi pada lingkungan kipas alluvial biasanya cepat
mengalami proses degradasi oksidatif. Meskipun begitu, pada beberapa kipas
alluvial dan kipas delta merupakan tempat akumulasi peat yang tebal. Peat
terakumulasi pada bagian pinggir dan proksimal dari kipas alluvial pada
permukaan kipas (gambar 3.1).

19
Gambar 3.1 Model kipas alluvial untuk pengendapan batubara dan sedimen-
sedimen yang lain (Heward, 1978)

Namun pada umumnya, seam batubara yang terbentuk di rawa fluvial


lebih tipis dan sedikit kurang menerus dengan frekuensi melensa yang cepat.
Delta
Lingkungan pengendapan delta terdiri dari akumulasi endapan sungai
(fluvial) yang bermuara di pantai dengan mekanisme pengendapan progradasi
(Allen, 1981; Allen, dkk., 1998) (gambar 3.2a). Komponen dasar suatu
lingkungan pengendapan delta dibagi menjadi 3 sub-environment berdasarkan ciri
sedimen dan mekanisme pengendapannya, yaitu delta plain, delta front, dan
prodelta (gambar 3.3).
Delta plain terletak di atas permukaan laut (gambar 3.2b) dimana endapannya
berasal dari endapan alluvial,

20
Gambar 3.2 Delta plain
(atas : lingkungan pengendapan delta, bawah : endapan pada delta plain)

Gambar 3.3 Komponen dasar lingkungan pengendapan delta (Allen, et. Al.,
1998)

Pembagian jenis endapan ini digunakan untuk menjelaskan runtutan secara


vertikal dari urutan unit stratigrafi mulai dari bawah sampai atas, baik kolom
stratigrafi dari singkapan maupun dari data pemboran. Dengan demikian,

21
perubahan facies baik secara vertikal dan lateral dapat diketahui dari sedimen
pembawa batubara.
Lower Delta Plain
Lower delta plain merupakan lingkungan dengan energi rendah, kecuali
sedimen yang diendapkan ketika terjadi flood dan storm. Sedimen yang
tertransport didominasi oleh material dengan ukuran butir serpihan, lanau, dan
pasir halus. Pada sedimen serpihan dicirikan dengan warna abu-abu gelap hingga
hitam yang mengandung fosil molussca dan fosil jejak yang mencirikan
lingkungan air laut atau payau. Burrow dijumpai pada bagian dasar sekuen ini
bersama dengan batugamping sporadik dan mudstone sideritik. Sedangkan pada
batupasir dikarakterkan dengan struktur sedimen ripple mark, dan cross
lamination yang terbentuk di bagian atas, mengandung burrow maupun zona
rootlet, dan cenderung berpola coarsening upward (gambar 3.4.a) dan crevasse
splay (gambar 3.4.b)

(a) (b)

Gambar 3.4 Sekuen vertikal endapan lower delta plain (Horne at al 1978)
a. tipikal sekuen coarsening upwards
b. tipikal sekuen yang terinterupsi endapan splay

Back Barrier
Karakteristik sekuen back barrier terdiri dari batupasir orthoquarzitic,
didominasi oleh endapan batupasir tidal delta dan tidal channel, berstruktur

22
sedimen coarsening upwards yang mengapit batubara tipis (gambar 3.5). Endapan
lagoonal pada lingkungan back barrier terdiri dari serpih dan lanau berwarna abu-
abu gelap serta kaya organik.
Batubara yang terbentuk pada lingkungan pengendapan ini cenderung tipis
(Horne, 1978). Pola sebaran dan kemenerusan lapisan batubaranya berbentuk
memanjang, berorientasi sejajar arah sistem barrier dan seringkali sejajar dengan
jurus perlapisan. Secara lateral, batubara ini tidak menerus dan dijumpai burrow
zona-zona sideritik. Bentuk perlapisan batubara mungkin berubah sebagian oleh
aktivitas tidal channel pada post depositional atau bersamaan dengan proses
sedimentasi.

Gambar 3.5 Sekuen vertikal endapan back barrier (Horne at al 1978)

Transitional Lower Delta Plain

23
Lingkungan pengendapan ini ditandai oleh perkembangan rawa yang
ekstensif. Lapisan batubara relatif tebal, tersebar meluas dengan kecenderungan
agak memanjang sejajar dengan jurus pengendapan. Batubara yang terbentuk di
lingkungan ini merupakan lapisan batubara yang paling tebal dan luas karena
akumulasi permukaan batuan (lithofacies) nya berubah secara vertikal dan
horizontal (gambar 3.6).

Gambar 3.6 Sekuen vertikal endapan transitional lower delta plain


(Horne at al 1978)
Upper Delta Plain - Fluvial
Fasies upper delta plain-fluvial terdiri dari sedimen-sedimen dengan
karakteristik sekuen finning upwards (gambar 3.7) dari batupasir kasar endapan
channel linear dan lentikular, erositional base didasar, endapan levee lanau hingga
lanau dan lumpur pada dataran limpah banjir dan sering berakhir di lingkungan
rawa (gambar 3.7 dan gambar 3.8). Pada bagian dasar batupasir terdapat pebble
dan fragmen batubara yang melimpah, sedangkan pada bagian atas dilingkupi oleh
akar tumbuhan. Fosil tumbuhan biasa dijumpai (termasuk tumbuhan yang
terendapkan dalam posisi tumbuh ke atas) namun jarang dijumpai bioturbasi.

24
Gambar 3.7 Sekuen vertikal endapan upper delta plain - fluvial
(Horne at al 1978)

Gambar 3.8 Pohon dalam posisi tumbuh (kiri), pohon sederitik dengan diameter
0.5 m (tengah), fosil daun (kanan)

25
Rawa batubara terletak pada dataran limpah banjir dan menghasilkan seam
batubara tebal tetapi sedikit yang menerus dengan jarak sebaran yang relatif
pendek. Lapisan batubara terbentuk sebagai belt pada bagian bawah dari dataran
limpah banjir yang berbatasan dengan channel sungai bermeander. Lapisan
batubaranya cenderung sejajar dengan arah kemiringan cekungan pengendapan.
Ketebalan lapisan batubara pada sikuen ini tidak konsisten ke arah horizontal.
Ketebalan seam batubara pada fasies upper delta plain mencapai 10 meter, namun
tidak menerus secara lateral dan terkadang membaji 150 meter. Sedangkan seam
batubara pada endapan alluvial plain cenderung menipis dibandingkan dengan
upper delta plain.
Pada sub-environtment delta front dan prodelta dapat diabaikan sebagai
daerah yang prospek batubara mengingat kuatnya pengaruh kondisi marin
terhadap endapan batubara yang dapat meningkatkan prosentase kandungan
klorida, karbonat dan sulfur dalam batubara.

c. Danau
Distribusi ukuran butir sedimen pada lingkungan danau bersifat konsentris
dengan ukuran butir menghalus kedalam. Distribusi ukuran butir tersebut
mengontrol struktur sedimen secara langsung.
Danau dengan pengendapan klastik memiliki pola sedimen bergradasi
dengan ukuran butir halus, sedimen basin plain tertutup oleh sedimen delta yang
lebih kasar. Pada saat danau memproduksi organik, sedimen klastik akan tertutup
oleh peat. Danau terisi dengan pengendapan lanau dan lempung dalam central
basin sebagai hasil dari pembentukan delta oleh satu atau lebih sungai melalui
danau (Wagner 1950; Visher 1965 a dalam Reineck-Singh 1980 pg 242).

26
III.2. Eksplorasi

III.2.1. Pengertian Eksplorasi


Eksplorasi adalah suatu aktivitas untuk mencari tahu keadaan suatu
daerah, ruang ataupun suatu areal yang sebelumnya tidak diketahui
keberadaannya. Istilah eksplorasi geologi adalah mencari tahu keberadaan suatu
objek geologi, yang pada umumnya berupa cebakan mineral. Namun objek
geologi itu tidak terbatas pada cebakan mineral, batubara maupun akumulasi
minyak dan gasbumi, tetapi juga gejala geologi yang bermanfaat bagi
kesejahteraan manusia maupun mempunyai dampak negatif, seperti adanya sesar,
jenis batuan tertentu yang keberadaannya perlu diketahui secara mendetail untuk
penempatan bangunan konstruksi seperti suatu bendungan, terowongan dsb.
Adapun tujuan dari eksplorasi adalah untuk menemukan serta
mendapatkan sejumlah maksimum dari cebakan mineral ekonomis baru dengan
biaya seminimal mungkin dan dalam waktu seminimal mungkin.

III.2.2. Metoda Ekplorasi


Metoda Eksplorasi adalah cara yang secara fisik menentukan langsung
ataupun tidak langsung keberadaan suatu gejala geologi yang berupa suatu
endapan mineral ataupun satu atau lebih petunjuk geologi.
Metoda dalam eksplorasi dapat digolongkan dalam dua kelompok besar yaitu :
1. Metoda Langsung
a. Metoda Langsung Permukaan
Metoda ini dapat dilakukan dengan beberapa langkah, yaitu :
1). Penyelidikan singkapan (out crop)
Singkapan segar umumnya dijumpai pada :

a. Lembah-lembah sungai, hal ini dapat terjadi karena pada lembah


sungai terjadi pengikisan oleh air sungai sehingga lapisan yang
menutupi tubuh batuan tertransportasi yang menyebabkan tubuh
batuan nampak sebagai singkapan segar.
b. Bentuk-bentuk menonjol pada permukaan bumi, hal ini terjadi secara
alami yang umumnya disebabkan oleh pengaruh gaya yang berasal

27
dari dalam bumi yang disebut gaya endogen misalnya adanya letusan
gunung berapi yang memuntahkan material ke permukaan bumi dan
dapat juga dilihat dari adanya gempa bumi akibat adanya gesekan
antara kerak bumi yang dapat mengakibatkan terjadinya patahan atau
timbulnya singkapan ke permukaan bumi yang dapat dijadikan
petunjuk letak tubuh batuan.
2) Tracing Float (penjejakan)
Float adalah fragmen-fragmen atau potongan-potongan biji yang
berasal dari penghancuran singkapan yang umumnya disebabkan oleh
erosi, kemudian tertransportasi yang biasanya dilakukan oleh air, dan
dalam melakukan tracing kita harus berjalan berlawanan arah dengan arah
aliran sungai sampai float dari bijih yang kita cari tidak ditemukan lagi,
kemudian kita mulai melakukan pengecekan pada daerah antara float yang
terakhir dengan float yang sebelumnya dengan cara membuat parit yang
arahnya tegak lurus dengan arah aliran sungai, tetapi jika pada pembuatan
parit ini dirasa kurang dapat memberikan data yang diinginkan maka kita
dapat membuat sumur uji sepanjang parit untuk mendata tubuh batuan
yang terletak jauh dibawah over burden.

28
Gambar 3.9. Penyelidikan singkapan (out crop) yang dilakukan para geologist
umumnya pada lembah-lembah sungai (EKSPLORASI PT.MSJ
DOC, 2005).

3) Tracing dengan Panning (mendulang)


Caranya sama seperti tracing float, tetapi bedanya terdapat pada
ukuran butiran mineral yang dicara biasanya cara ini digunakan untuk
mencari jejak mineral yang ukurannya halus dan memiliki masa jenis yang
relatif besar. Persamaan dari cara tracing yaitu pada kegiatan lanjutan yaitu
trencing atau test pitting.
Cara-cara tracing, baik tracing float maupun tracing dengan panning akan
dilanjutkan dengan cara trenching atau test pitting.
a. Trenching (pembuatan parit)
1. Pembuatan parit memiliki keterbatasan yaitu hanya bisa dilakukan
pada overburden yang tipis, kedalaman yang efektif dan ekonomis
sedalam 2 2,5 meter, selebih dari itu tidak efektif dan ekonomis.
Pembuatan parit ini dilakukan dengan arah tegak lurus ore body dan

29
jika pembuatan parit ini dilakukan di tepi sungai maka pembuatan
parit harus tegak lurus dengan arah arus sungai. Paritan dibangun
dengan tujuan untuk mengetahui tebal lapisan permukaan,
kemiringan perlapisan, struktur tanah dan lain-lain.
b. Test Pitting (pembuatan sumur uji)
1. Jika dengan trenching tidak dapat memberikan data yang akurat
maka sebaiknya dilakukan test pitting untuk menyelidiki tubuh
batuan yang letaknya relatif dalam serta daerah yang terbebas dari
bongkahan-bongkahan maka hal ini akan menyulitkan kita pada
waktu pembuatan sumur uji. Daerah yang hendak kita buat sumur uji
juga harus bebas dari air, karena dengan adanya air dapat
menyulitkan kita pada waktu melakukan penyelidikan struktur
batuan yang terdapat pada sumur uji yang kita buat. Kedalaman
sumur uji yang kita buat bisa mencapai kedalaman sampai 30
meter.Hal-hal yang perlu diperhatikan dari penggalian sumur adalah
gejala longsoran, keluarnya gas beracun, bahaya akan banjir dan
lain-lain.

b.Metoda Langsung Bawah Permukaan


Eksplorasi langsung bawah permukaan dilakukan bila tidak ada singkapan
di permukaan atau pada eksplorasi permukaan tidak dapat memberikan
informasi yang baik karena pada eksplorasi langsung permukaan, kedalaman
maksimum yang dapat dicapai + 30 meter. Eksplorasi langsung bawah
permukaan juga dapat dilakukan apabila keadaan permukaan memungkinkan
untuk diadakan eksplorasi bawah permukaan, sebab apabila permukaan tidak
memungkinkan, misalnya permukaan itu tergenang air atau tertutup bongkah
batu yang tidak stabil, maka hal ini akan memberikan resiko yang besar jika
dilakukan eksplorasi bawah permukaan. Eksplorasi bawah permukaan dapat
dilakukan dengan membuat Tunel, Shaft, Drift, Winse dan lain-lain.
o Tunnel : suatu lubang bukaan mendatar atau hampir mendatar yang
menembus kedua kaki bukit.

30
o Shaft : suatu lubang bukaan yang menghubungkan tambang bawah tanah
dengan permukaan bumi dan berfungsi sebagai jalan pengangkutan
karyawan serta alat-alat kebutuhan tambang, ventilasi dan penirisan.
o Drift : suatu bukaan mendatar yang dibuat dekat atau pada en- dapan bijih
yang arahnya sejajar dengan jurus atau dimensi terpanjang dari endapan
bijihnya (dalam pemboran).
o Winze : lubang bukaan vertikal atau arah miring yang dari level ke arah
level yang dibawahnya.
Pemboran yang dilakukan pada eksplorasi bertujuan untuk
mengambil contoh (sampling) untuk diamati, pemboran juga bisa
bertujuan untuk produksi atau konstruksi (misalnya air tanah, minyak
bumi). Pemboran juga memudahkan proses peledakan (pada kegiatan
penambangan material keras).
Dari data pemboran dan sampling kita dapat membuat peta
stratigrafi daerah pemboran. Dari peta ini kita dapat mengetahui susunan
batuan dan ketebalan cadangan dan akhirnya kita dapat memperkirakan
besar cadangan secara keseluruhan.

2. Metoda Tidak Langsung


a. Metoda tidak langsung cara geofisika
Geofisika merupakan disiplin ilmu atau metoda untuk memperkirakan lokasi
akumulasi bahan/tambang dengan cara pengukuran besaran-besaran fisik
batuan bawah permukaan bumi. Metoda yang dapat dilakukan eksplorasi
geofisika adalah :
1). Metoda Gravitasi
Metoda ini berdasarkan hukum gaya tarik antara dua benda di
alam. Bumi sebagai salah satu benda di alam juga menarik benda-benda
lain di sekitarnya. Kalau sebuah bandul digantung dengan sebuah pegas,
maka pegas tersebut akan merenggang akibat bandulnya mengalami
gravitasi, di tempat yang gravitasinya rendah maka regangan tadi kecil dan
di tempat yang gravitasinya besar maka regangan tadi juga lebih besar.

31
2). Metoda Magnetik
Bumi adalah suatu planet yang bersifat magnetik, dimana seolah-
olah ada suatu barang magnet raksasa yang membujur sejajar dengan
poros bumi. Teori modern saat ini mengatakan bahwa medan magnet tadi
disebabkan oleh arus listrik yang mengalir pada inti bumi.
Medan magnet bumi secara normal memiliki intensitas 35.000
sampai 70.000 gamma jika diukur pada permukaan bumi. Bijih yang
mengandung mineral magnetik akan menimbulkan efek langsung pada
peralatan, sehingga dengan segera dapat diketahui.
Eksplorasi dengan metoda magnetik sangat berguna dalam
pencarian sasaran eksplorasi sebagai berikut :
a. Mencari endapan placer magnetik pada endapan sungai.
b. Mencari deposit bijih besi magnetik di bawah permukaan.
c. Mencari bijih sulfida yang kebetulan mengandung mineral magnetit
sebagai mineral ikutan.
d. Intrusi batuan basa dapat diketahui kalau kebetulan mengandung
magnetit dalam jumlah cukup.
e. Untuk dapat mengetahui ketebalan lapisan penutup pada suatu batuan
beku yang mengandung mineral magnetit.
3). Metoda Seismik
Metoda ini jarang dipergunakan dalam penyelidikan pertambangan
bijih tetapi banyak dipergunakan dalam penyelidikan minyak bumi. Suatu
gempa atau getaran buatan dibuat dengan cara meledakan dinamit pada
kedalaman sekitar 3 meter dari permukaan bumi dan kecepatan
merambatnya getaran yang terjadi diukur. Untuk mengetahui kecepatan
rambatan getaran tersebut pada perlapisan-perlapisan batuan, disekitar titik
ledakan dipasang alat penerima getaran yang disebut geofon
(seismometer). Geofon-geofon yang dipasang secara teratur di sekitar
lobang ledakan tadi akan terbias atau refraksi. Dengan mengetahui waktu
ledakan dan waktu kedatangan gelombang-gelombang tadi, maka dapat
diketahui kecepatan rambatan waktu getaran melalui perlapisan-perlapisan

32
batuan. Dengan demikian konfigurasi struktur bahwa permukaan dapat
diketahui. Gelombang akan merambat dengan kecepatan yang berbeda
pada batuan yang berbeda-beda. Geophone merupakan alat penerima
gelombang yang dipantulkan kepermukaan, hidrophone untuk gelombang
di dasar laut.
Cepat rambat gelombang seismik pada batuan tergantung pada:
a. Jenis batuan.
b. Derajat pelapukan.
c. Derajat pergerakan.
d. Tekanan .
e. Porositas (kadar air) .
f. Umur (diagenesa, konsolidasi, dll)

Gambar 3.10.Gambar diatas menunjukkan Kegiatan Eksplorasi Seismik yang


dilakukan pada sebuah lahan. Kegiatan pertama yang dilakukan adalah
menyiapkan suatu lubang bor yang memiliki kedalaman + 50 m, kemudian
pada lubang tersebut diisi bahan peledak, lalu akan diledakkan yang dikontrol
dari truk perekam. Gelombang suara ledakkan bergerak kedalam lapisan
lapisan batuan seperti yang ditunjukkan pada gambar dan akan ditangkap
kembali oleh truk perekam melalui geofon geofon yang terhubung dengan
kabel. Pergerakan gelombang tersebut akan mencerminkan suatu bentuk
lapisan-lapisan pada kedalaman tertentu. Selanjutnya komputer akan
memproses rekaman seismik tersebut dan akan menghasilkan suatu diagram
melintang (geological cross section) dari lapisan-lapisan batuan

33
4) Metoda Geolistrik
Dalam metoda ini yang diukur adalah tahanan jenis (resistivity) dari batuan.
Yang dimaksud dengan tahanan jenis batuan adalah tahanan yang diberikan
oleh masa batuan sepanjang satu meter dengan luas penampang satu meter
persegi kalau dialiri listrik dari ujung ke ujung, satuannya adalah Ohm-m2/m
atau disingkat Ohm-meter.

Gambar 3.11. Gambaran proses kegiatan eksplorasi geofisika yang


dilakukan di wilayah PT.Mahakam Sumber Jaya. (EKSPLORASI PT.
MSJ. Doc, 2005 ).

b. Metoda tidak langsung cara geokimia


Pengukuran sistimatika terhadap satu atau lebih unsur jejak (trace elements)
pada batuan, tanah, stream, air atau gas.

34
Tujuannya untuk mencari anomali geokimia berupa konsentrasi unsur-unsur
yang kontras terhadap lingkungannya atau background geokimia.
Anomali dihasilkan dari mobilitas dan dispresi unsur-unsur yang
terkonsentrasi pada zona mineralisasi. Anomali merupakan perbedaan-
perbedaan yang mencolok antara satu titik atau batuan dengan titik lainnya.
III.2.3. Tahapan Umum Eksplorasi

1. Tahap Penyelidikan Umum


Penyelidikan umum diawali dengan studi pustaka. Hal ini dapat dilakukan
dengan cara melakukan pengkajian pustaka dari lembaga-lembaga, seperti :

1) Direktorat Geologi dan Sumberdaya Mineral (PPPG dan SDM).


2) Direktorat Batubara
3) Pusat Pengembangan Teknologi Mineral, dll.
Data-data yang dikaji dapat berupa hasil pemetaan geologi regional termasuk
hasil analisa laboratorium yang pernah dilakukan, seperti nilai kalori, kelembaban,
kandungan abu, dan belerang.

Maksud penyelidikan umum adalah untuk memperoleh informasi seperti :

1) Formasi batuan pembawa batubara


2) Umur formasi batuan
3) Geometri endapan batubara
4) Kualitas
5) Infrastruktur
dan menentukan batas luas daerah. Setelah itu dilakukan penelitian lapangan
dengan tujuan pengecekan hasil studi pustaka. Dalam penelitian lapangan
diusahakan pula mecari kemungkinan adanya singkapan batubara, mengambil
sample (conto) batuan dan batubaranya.

2. Tahap Penyelidikan Pendahuluan


Pelaksanaan eksplorasi pendahuluan dilakukan dengan memetakan daerah
penyelidikan, baik dengan pemetaan topografi maupun dengan foto udara

35
dengan tujuan mendapatkan peta yang baik dan benar sebagai dasar
penyelidikan selanjutnya.
Tahap berikutnya melakukan pemetaan geologi dengan menggunakan peta
permukaan dan foto udara dimaksudkan untuk melakukan interpretasi keadaan
singkapan, struktur dan kedudukan stratigrafi dari batubara. Skala peta yang
dipakai umumnya bersifat regional, yaitu antara 1 : 25000 atau 1 : 50000.
Untuk mengetahui kedudukan stratigrafi lapisan-lapisan batubara dilakukan
pemboran dangkal ataupun pemboran dalam di beberapa tempat. Tujuannya
untuk mendapatkan data tentang ketebalan dan kedudukan formasi batubara,
dengan melakukan terlebih dahulu dari titik-titik pemboran dapat diketahui arah
dan bentuk lapisan batubara, disamping itu diperoleh pula data pendahuluan
tentang kualitas batubara.
Pada akhir program ini, apabila sekitar daerah tersebut mempunyai nilai
ekonomis yang potensial, maka akan diperoleh data sebagai berikut :
1) Hasil perhitungan cadangan sampai tingkat indikatif.
2) Perkiraan tentang kualitas.
3) Laporan tentang sumber cadangan secara lengkap untuk studi
pemasaran dan finansial.
Disamping itu sudah dapat ditentukan pula :

1) Keadaan geologi endapan batubara dan perkiraan struktur bawah


permukaan.
2) Alternatif cara penambangan baik secara tambang terbuka maupun
tembang dalam.
3. Tahap Penyelidikan Detil
Pada tingkat ini kegiatan eksplorasi lebih terpusat pada kegiatan pemboran
yang bertujuan untuk lebih mengetahui bentuk geometri endapan batubara,
kualitas dari lapisan batubara dan kemungkinan adanya anomali geologi yang
akan menimbulkan kesulitan dalam proses penambangan yang akan
dilaksanakan, apabila diperlukan dapat pula dilakukan penyelidikan geofisika
dengan tujuan untuk mengetahui secara rinci keadaan geologi bawah permukaan

36
yang meliputi keadaan stratigrafi dan struktur yang tidak terekam dari kegiatan
pemboran, pengumpulan dan pendokumentasian semua data yang telah
diperoleh berikut peta-peta yang telah dibuat serta rencana kegiatan aktifitas
penambangan yang akan datang pada akhirnya kegiatan program ini akan
dihasilan hal-hal sebagai berikut :

1) Perhitungan cadangan sampai tingkat yang dapat diambil


recoverable reserve, sedang ketepatan perkiraan perhitungan batubara yang
dapat dijual sudah mendekati 20%.
2) Data lengkap mengenai kualitas, baik secara statik dan variasi yang
terdapat secara regional, data yang menyangkut batuan ikutan.
3) Data tentang penggunaan batubara dan laporan tentang hasil test
pembakaran baik dalam skala laboratorium maupun dalam skala komersial
di sektor industri.
4) Data yang menyangkut tentang pencucian batubara (washability
test).
Tingkat selanjutnya akan dilakukan pengumpulan data mengenai
penambangan dan masalah yang menyangkut bidang-bidang yang bersifat
teknis seperti masalah geoteknik, hidrologi dan perencanaan proses pencucian,
serta hal yang menyangkut pengangkutan dan penimbunan batubara.
Semua data tersebut dikompilasi dan dijadikan bahan untuk membuat studi
kelayakan pengembangan endapan batubara tersebut ke arah pembukaan
tambang. Pekerjaan eksplorasi akan tetap dilakukan terus selama masa umur
tambang tersebut berjalan. Pekerjaan eksplorasi ini dikenal sebagai commersial
exploration programe, menyangkut pula pekerjaaan pemboran produksi
(production drilling) yang bertujuan untuk lebih meningkatkan ketelitian
cadangan yang dapat diambil (recoverable reserve) sampai tingkat 5%.

III.3. Tambang Terbuka (Batubara)


Pengelompokan jenis-jenis tambang terbuka batubara didasarkan pada letak
endapan, dan alat-alat mekanis yang dipergunakan. Teknik penambangan pada

37
umumnya dipengaruhi oleh kondisi geologi dan topografi daerah yang akan
ditambang.

Jenis-jenis tambang terbuka batubara dibagi menjadi :


1. Contour mining.
Penambangan kontur ( contour mining ) salah satu sistem tambang terbuka
untuk menambang batu bara di sekeliling lereng bukit dengan mengikuti
singkapan pada garis konturnya.

Contour mining cocok diterapkan untuk endapan batubara yang tersingkap


di lereng pegunungan atau bukit. Cara penambangannya diawali dengan
pengupasan tanah penutup (overburden) di daerah singkapan di sepanjang lereng
mengikuti garis ketinggian (kontur), kemudian diikuti dengan penambangan
endapan batubaranya. Penambangan dilanjutkan ke arah tebing sampai dicapai
batas endapan yang masih ekonomis bila ditambang.
Contour mining dibagi menjadi beberapa metode, antara lain :
a. Conventional contour mining
Pada metode ini, penggalian awal dibuat sepanjang sisi bukit pada
daerah dimana batubara tersingkap. Pengupasan dengan contour stripping
akan menghasilkan jalur operasi yang bergelombang, memanjang dan
menerus mengelilingi seluruh sisi bukit.

Gambar 3.12. Conventional Contour Mining (Anon, 1979)


b. Block-cut contour mining
Pada cara ini daerah penambangan dibagi menjadi blok-blok
penambangan yang bertujuan untuk mengurangi timbunan tanah buangan
pada saat pengupasan tanah penutup di sekitar lereng. Penggalian berurutan

38
ini akan mengurangi jumlah lapisan tanah penutup yang harus diangkut
untuk menutup final pit.

Gambar 3.13 Block-Cut Contour Mining (Anon, 1979)


c. Haulback contour mining
Metode haulback ini (Gambar 2.3 dan 2.4) merupakan modifikasi
dari konsep block-cut, yang memerlukan suatu jenis angkutan overburden,
bukannya langsung menimbunnya. Jadi metode ini membutuhkan
perencanaan dan operasi yang teliti untuk bisa menangani batubara dan
overburden secara efektif.
Ada tiga jenis perlatan yang sering digunakan, yaitu :
- Truk atau front-end loader
- Scrapers
- Kombinasi dari scrapers dan truk

Gambar 3.14 Teknik Haulback Truck


dengan menggunakan Front-End Loader (Anon, 1979)

39
Gambar 3.15 Haulback dengan menggunakan
kombinasi scraper dan truk (Chioronis, 1987)
d. Box-cut contour mining
Pada metode box-cut contour mining ini (Gambar 3.16) lapisan tanah
penutup yang sudah digali, ditimbun pada daerah yang sudah rata di
sepanjang garis singkapan hingga membentuk suatu tanggul-tanggul yang
rendah yang akan membantu menyangga porsi terbesar dari tanah timbunan.

Gambar 3.16 Metode Box-Cut Contour Mining (Chioronis, 1987)

2. Mountaintop removal method


Metode mountaintop removal method ini (Gambar 2.6) dikenal dan
berkembang cepat, khususnya di Kentucky Timur (Amerika Serikat). Dengan
metode ini lapisan tanah penutup dapat terkupas seluruhnya, sehingga
memungkinkan perolehan batubara 100%.

40
Gambar 3.17 Mountaintop Removal Method (Chioronis, 1987)
3. Area mining method

Metode ini diterapkan untuk menambang endapan batubara yang dekat


permukaan pada daerah mendatar sampai agak landai. Penambangannya dimulai
dari singkapan batubara yang mempunyai lapisan dan tanah penutup dangkal
dilanjutkan ke yang lebih tebal sampai batas pit.
Terdapat 3 (tiga) cara penambangan area mining method, yaitu :

a. Conventional area mining method


Pada cara ini, penggalian dimulai pada daerah penambangan awal
sehingga penggalian lapisan tanah penutup dan penimbunannya tidak terlalu
mengganggu lingkungan. Kemudian lapisan tanah penutup ini ditimbun di
belakang daerah yang sudah ditambang (Gambar 3.18).

Gambar 3.18 Conventional Area Mining Method (Chioronis, 1987)

b. Area mining with stripping shovel


Cara ini digunakan untuk batubara yang terletak 1015 m di bawah
permukaan tanah. Penambangan dimulai dengan membuat bukaan

41
berbentuk segi empat. Lapisan tanah penutup ditimbun sejajar dengan arah
penggalian, pada daerah yang sedang ditambang. Penggalian sejajar ini
dilakukan sampai seluruh endapan tergali (Gambar 3.19).

Gambar 3.19 Area Mining With Stripping Shovel (Chioronis, 1987)

4. Block area mining


Cara ini hampir sama dengan conventional area mining method, tetapi
daerah penambangan dibagi menjadi beberapa blok penambangan. Cara ini
terbatas untuk endapan batubara dengan tebal lapisan tanah penutup maksimum
12 m. Blok penggalian awal dibuat dengan bulldozer. Tanah hasil penggalian
kemudian didorong pada daerah yang berdekatan dengan daerah penggalian
(Gambar 3.20).

Gambar 3.20 Block Area Mining (Chioronis, 1987)


5. Open pit Method

42
Metode ini digunakan untuk endapan batubara yang memiliki kemiringan
(dip) yang besar dan curam. Endapan batubara harus tebal bila lapisan tanah
penutupnya cukup tebal.
a. Lapisan miring
Cara ini dapat diterapkan pada lapisan batubara yang terdiri dari satu
lapisan (single seam) atau lebih (multiple seam). Pada cara ini lapisan tanah
penutup yang telah dapat ditimbun di kedua sisi pada masing-masing
pengupasan (Gambar 3.21).

Gambar 3.21 Open Pit Method pada lapisan miring (Hartman, 1987)
b. Lapisan tebal
Pada cara ini penambangan dimulai dengan melakukan pengupasan
tanah penutup dan penimbunan dilakukan pada daerah yang sudah
ditambang. Pada cara ini, baik pada pengupasan tanah penutup maupun
penggalian batubaranya, digunakan sistem jenjang (benching system).

43
Gambar 3.22 Open Pit Method pada lapisan tebal.
6. Auger Mining
Auger mining adalah sebuah metode penambangan untuk permukaan
dengan dinding yang tinggi atau penemuan singkapan (outcrop recovery) dari
batubara dengan pemboran ataupun penggalian bukaan ke dalam lapisan di antara
lapisan penutup.
Penambangan batubara dengan auger bekerja dengan prinsip skala besar
drag bit rotary drill. Tanpa merusak batubara, auger mengekstraksi dan
menaikkan batubara dari lubang dengan memiringkan konveyor atau pemuatan
dengan menggunakan loader ke dalam truk.
Kondisi endapan yang dapat menggunakan metode ini berdasarkan Pfleider
(1973) dan Anon (1979) adalah endapan yang memiliki penyebaran yang baik dan
kemiringannya mendekati horisontal, serta kedalamannya dangkal (terbatas
sampai ketinggian dinding dimana auger ditempatkan,

Gambar 3.23 Auger Mining pada lapisan batubara


dengan kemiringan lapisan rendah (Salem Tool Inc.,1996)

44
Gambar 3.24 Auger Mining pada lapisan batubara
dengan kemiringan lapisan curam (Salem Tool Inc.,1996)

45
III.4. Proses Penambangan

Tabel. 3.1. Bagan Proses Penambangan.

Berdasarkan bagan di atas maka urut-urutan kegiatan yang dilakukan di tambang


terbuka dari mulai awal kegiatan sampai penambangan batubara adalah :

1. Persiapan daerah penambangan , pembersihan lahan (land clearing)


Kegiatan awal dari proses penambangan batubara, berupa pembersihan
lahan dari pohon-pohon maupun semak belukar yang akan dapat
mengganggu proses penambangan berikutnya di lokasi yang akan
ditambang.

2. Pengupasan dan penimbunan tanah humus (soil removal)


Untuk kepentingan reklamasi paska tambang maka soil akan dipisahkan
dengan material yang bukan soil, dapat dilakukan penumpukan sementara
atau dihampar di daerah yang membutuhkan soil. Kegiatan yang dilakukan

45
dalam proses ini adalah mulai dari penggalian soil pengangkutan soil
sampai dengan penumpukan soil di tempat yang sudah ditentukan.

3. Pengupasan tanah penutup (Overburden removal)


Setelah soil dipindahkan maka batuan penutup batubara juga dipindahkan
sehingga batubara tersingkap. Batuan penutup batubara bersifat lunak
sampai keras, sehingga sering sebelum batuan digali harus dipecahkan
dahulu dengan dozer ripping (digaru) atau dengan bantuan peledakan.

4. Pemuatan dan pengangkutan batubara


Batu bara setelah tersingkap dibersihkan dari pengotor (cleaning) yang
berupa batuan di sekitarnya atau dari batubara dengan kadar abu tinggi
(shaly coal coaly shale), setelah bersih baru digali dan diangkut ke lokasi
pemecahan batubara.

5. Pemprosesan Batubara
Setelah diangkut ke Pelabuhan batubara mengalami pemrosesan untuk
mendapatkan batubara yang sesuai spesifikasi pasaran.

6. Reklamasi
Reklamasi merupakan proses pengembalian lahan bekas tambang setelah
proses penambangan disuatu blik penambangan selesai.

III.4.1. Pembersihan lahan (land clearing)

Alat yang umum digunakan untuk pembersihan lahan adalah dozer kecil
untuk lahan yang tidak bertopografi terjal, tanaman berdiameter besar biasanya
susah untuk dirobohkan dengan menggunakan dozer sehingga tak jarang dibantu
dengan alat potong (gergaji, chain shaw). Untuk kondisi dengan topografi sulit /
terjal dibantu dengan menggunakan excavator kecil.

46
Gambar 3.25 Dozer kecil sedang melakukan kegiatan pembersihan lahan

III.4.2. Pengupasan dan penimbunan tanah humus (soil removal)

Pengupasan soil dilakukan terpisah dengan pengupasan batuan non soil,


karena soil sangat dibutuhkan untuk reklamasi paska tambang, sehingga soil akan
distok di suatu tempat jika belum ada lahan yang siap untuk ditutup soil.

III.4.3. Pengupasan tanah penutup (Overburden removal)

Pengupasan tanah penutup dilakukan dengan tiga cara : material lunak


langsung digali dan diangkut dengan excavator, material yang keras harus
dipecahkan dulu dengan di-ripping atau diledakkan. Untuk gali dan angkut
material biasanya menggunakan dump truck dan excavator (truck shovel).

III.4.4. Pemuatan dan pengangkutan batubara

Batubara yang tersingkap, dibersihkan dari material pengotor baik berupa


batuan di sekitarnya (dilusi) maupun material yang lain yang bukan berasal dari
batuan (kontaminasi). Ketika pemuatan batubara, bongkahan batubara diharapkan
tidak terlalu besar karena keterbatasan dari alat peremuk batubara (crusher),
diameter bongkah batubara < 1m. Truk yang digunakan untuk mengangkut

47
batubara umumnya lebih kecil daripada truk yang digunakan untuk mengangkut
overburden.

III.4.5. Prosesing Batubara


Sebelum dijual, batubara dikecilkan ukurannya dengan ukuran 0.2mm
50mm atau sesuai dengan permintaan pembeli. Pada perusahaan batubara tertentu
menggunakan washing plant untuk memisahkan batubara dari pengotor (batubara
dengan kadar abu tinggi)

III.4.6. Reklamasi

Pengembalian lahan bekas tambang ke kondisi yang berdaya guna,


reklamasi tambang tergantung dari tujuan bentukan akhir yang daharapkan bisa
sekedar dilakukan penanaman kembali (ke bentuk asal) atau ke fungsi lahan yang
lain (perkebunan, persawahan, kegunaan lahan yang lain).

III.5. Pemboran dan Peledakan

Peledakan mempunyai tujuan membongkar, melepas, memecah,


memindahkan serta membuat rekahan pada massa batuan. Teknik peledakan yang
dipakai tergantung pada tujuan dan proses lanjutan setelah peledakan. Dalam
mendesain peledakkan perlu mempertimbangkan faktor-faktor antara lain :

1. Diameter lubang bor

2. Ketinggian jenjang

3. Burden dan spacing

4. Struktur batuan/jenis batuan

5. Fragmentasi

48
6. Kestabilan jenjang

7. Pengaruh terhadap lingkungan

8. Tipe bahan peledak yang digunakan.

Suatu operasi peledakan dinyatakan berhasil dengan baik pada kegiatan


penambangan apabila (Koesnaryo, 2001) :
1. Target produksi terpenuhi (dinyatakan dalam ton/hari atau ton/bulan).
2. Penggunaan bahan peledak efisien yang dinyatakan dalam jumlah batuan
yang berhasil dibongkar per kilogram bahan peledak (disebut powder factor).
3. Diperoleh fragmentasi batuan berukuran merata dengan sedikit bongkah
(kurang dari 15 % dari jumlah batuan yang terbongkar per peledakan).
4. Diperoleh dinding batuan yang stabil dan rata (tidak ada overbreak,
overhang, retaka-retakan).
5. Aman
6. Dampak terhadap lingkungan (flyrock, getaran, kebisingan, gas beracun,
debu) minimal.
7. Untuk memenuhi kriteria-kriteria diatas, diperlukan kontrol dan
pengawasan terhadap faktor yang dapat mempengaruhi suatu operasi
peledakan.

III.5.1. Rancangan Pemboran


Dalam suatu operasi peledakan batuan, kegiatan pemboran merupakan
pekerjaan yang pertama kali dilakukan dengan tujuan untuk membuat sejumlah
lubang ledak dengan geometri dan pola yang sudah tertentu pada massa batuan,
yang selanjutnya akan diisi dengan sejumlah bahan peledak untuk diledakkan.

III.5.1.1. Waktu Edar Pemboran

49
Merupakan waktu yang diperlukan untuk membuat satu lubang ledak
dengan kedalaman tertentu, termasuk adanya hambatanhambatan yang terjadi
selama kegiatan pemboran berlangsung.

Persamaan waktu edar pemboran untuk batang bor tunggal :

Ct = Pt + Bt + St + Dt

Keterangan :

Ct = Waktu edar pemboran (menit)

Pt = Waktu untuk mengambil posisi mesin bor ke titik pemboran (menit)

Bt = Waktu untuk member (menit)

St = Waktu untuk meniup cutting, mengangkat, melepas dan


menyambung batang bor (menit)

Dt = Waktu untuk mengatasi hambatan (komponen waktu dinyatakan


dalam menit)
Pengamatan siklus pemboran dilakukan berkalikali sampai diperoleh data
yang cukup. Semakin banyak jumlah pengamatan (n) hasilnya akan memberikan
gambaran kondisi nyata dilapangan.

Persamaan siklus pemboran ratarata :

Ctr = Ct / n

Kedalaman ratarata lubang bor :

Hr = H/n

50
III.5.1.2. Kecepatan pemboran ratarata (average drilling rate atau gross
drillingrate)
Dari pengamatan akan diperoleh kecepatan pemboran ratarata yaitu
kecepatan pemboran yang dicapai per satuan waktu dengan telah
memperhitungkan seluruh elemen waktu yang diperlukan untuk operasi pemboran
dalam satu putaran peledakan, dinyatakan dalam m/menit.

Persamaan kecepatan pemboran rata-rata :

Hr
Drr = C tr

Keterangan :

Drr = Kecepatan pemboran rata-rata, meter/menit

Hr = Kedalaman lubang bor rata-rata, meter

Ctr = Waktu siklus pemboran rata-rata

III.5.1.3. Efisiensi kerja


Efisiensi kerja pemboran dinyatakan dalam persen waktu produktif
terhadap waktu kerja terjadwal. Waktu produktif adalah waktu yang digunakan
untuk kerja pemboran.

Persamaan efisiensi kerja dinyatakan :

WP
EK = WT x 100%

Keterangan :

Ek = Efisiensi waktu pemboran, %

WP = Waktu yang digunakan untuk kerja pemboran, menit

51
WT = Jumlah waktu kerja terjadwal, menit

III.5.1.4. Volume Setara

Volume setara (equivalent volume, Veq) menyatakan volume batuan yang


diharapkan terbongkar untuk setiap meter kedalaman lubang ledak yang
dinyatakan dalam m3/m

Persamaannya :

V
Veq = H
Keterangan :

Veq = Volume setara, m3/m

V = Volume batuan yang diharapkan terbongkar, m3

H = Kedalaman lubang ledak, m

Berat batuan dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

W = A x L x dr V = AxL

Keterangan :

W = Berat batuan yang akan diledakkan, ton

A = Luas daerah yang akan diledakkan,m2

L = Tinggi jenjang, m

dr = Bobot isi batuan, ton/m3

52
III.5.1.5. Produksi Mesin Bor
Produksi mesin bor tergantung pada kecepatan pemboran mesin bor, volume
setara dan penggunaan efektif mesin bor. Produksi mesin bor dinyatakan dalam
satuan m3/jam.

Persamaan produksi mesin bor adalah :

P = Drr x Veq x Ek x 60

Keterangan :

P = Produksi mesin bor, m3/jam

Drr = Kecepatan pemboran rata-rata, m/menit

Veq = Volume setara, m3/m

Ek = Efisiensi kerja pemboran, %


lubang ledak
Kedalaman

60 = 1 jam dinyatakan dalam menit


(H)
Bidang bebas /free face

Lebar, l
Panjang, p
X

Jenjang yang akan diledakkan tampak atas :


crest

Tinggi jenjang (L)

53
Row 1 o o o o o o o o o o

2 o o o o o o o o o o

3 o o o o o o o o o o lebar

4 o o o o o o o o o o

5 o o o o o o o o o o

luas jenjang yang diharapkan terbongkar (A) = p . l

potongan X Y :

Gambar 3.26 Penentuan volume setara

III.5.2. Rancangan Peledakan


Tujuan utama peledakan adalah untuk melepaskan batuan dari batuan
induknya. Untuk hasil peledakan yang optimal perlu dipertimbangan faktor-faktor
yang mempengaruhi operasi peledakan.

54
III.5.2.1. Mekanisme Pecahnya Batuan
Konsep yang dipakai adalah konsep pemecahan dan reaksireaksi mekanik
dalam batuan homogen. Sifat mekanis dalam batuan yang homogen akan berbeda
dari batuan yang mempunyai rekahanrekahan dan heterogen seperti yang
dijumpai dalam pekerjaan peledakan.

Proses pecahnya batuan akibat dari peledakan dibagi dalam tiga tingkatan
yaitu dynamic loading, quasi-static loading, dan release of loading.

1) Proses pemecahan tingkat I (dynamic loading)

Pada saat bahan peledak meledak, tekanan tinggi menghancurkan batuan


di daerah sekitar lubang ledak. Gelombang kejut yang meninggalkan lubang
ledak merambat dengan kecepatan 3000 5000 m/det, akan mengakibatkan
tegangan tangensial yang menimbulkan rekahan yang menjalar dari daerah
lubang ledak. Rekah pertama menjalar terjadi dalam waktu 1 2 ms.

2) Proses pemecahan tingkat II (quasi-static loading)


Tekanan sehubungan dengan gelombang kejut yang meningkatkan lubang
ledak pada proses pemecahan tingkat I adalah positif. Apabila mencapai bidang
bebas akan dipantulkan, tekanan akan turun dengan cepat, kemudian berubah
menjadi negatif dan timbul gelombang tarik. Gelombang tarik ini merambat
kembali di dalam batuan. Oleh karena batuan lebih kecil ketahanannya
terhadap tarikan daripada tekanan, maka akan terjadi rekahan rekahan primer
disebabkan karena tegangan tarik dari gelombang yang dipantulkan. Apabila
tengangan regang cukup kuat akan menyebabkan slambing atau spalling pada
bidang bebas. Secara teoritis energi gelombang kejut jumlahnya antara 5 15
% dari energi total bahan peledak. Jadi gelombang kejut menyediakan kesiapan
dasar untuk proses pemecahan tingkat akhir.

3) Proses pemecahan tingkat III (release of loading)


Dibawah pengaruh tekanan yang sangat tinggi dari gasgas hasil
peledakan maka rekahan radial primer (tingkat II) akan diperlebar secara cepat
55
oleh kombinasi efek dari tegangan tarik disebabkan kompresi radial dan
pembajian (pneumatic wedging). Apabila massa batuan di depan lubang ledak
gagal dalam mempertahankan posisinya bergerak ke depan maka tegangan
tekan tinggi yang berada dalam batuan akan dilepaskan. Efek dari terlepasnya
batuan adalah menyebabkan tegangan tarik tinggi dalam massa batuan yang
akan melanjutkan pemecahan hasil yang telah terjadi pada proses pemecahan
tingkat II. Rekahan hasil dalam pemecahan tingkat II menyebabkan bidang
bidang lemah untuk memulai reaksi reaksi fragmentasi utama pada proses
peledakan.

Pada tahap pertama terjadi


Bidang Bebas penghancuran batuan disekitar lubang
ledak dan diteruskannya energi
ledakan kesegala arah.

Retakan disekitar lubang ledak


Energi ledakan menghancurkan batuan
disekitar lubang tembak
Energi ledakan diteruskan ke segala arah

Bidang Bebas
Pada tahap kedua energi
ledakan yang bergerak
sampai bidang bebas
menghancurkan
Pecahnya batuan
batuan pada dinding
jenjang
padadiakibatkan
dindingtegangan
jenjangtarik

tersebut

Pada tahap terakhir, energi ledakan


Bidang Bebas yang dipantulkan oleh bidang bebas
pada tahap sebelumnya,dan ekspansi
gas akan menghancurkan batuan
dengan lebih sempurna

Lubang tembak

Gambar 3.27 Proses pecahnya batuan akibat peledakan

III.5.2.2. Faktor Rancangan Yang Tidak Dapat Dikontrol

56
Adalah faktor - faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh kemampuan
manusia, Hal ini disebabkan karena prosesnya terjadi secara alamiah. Yang
termasuk faktor faktor ini adalah:

1. Karakteristik Massa Batuan

Dalam kegiatan pemboran dan peledakan, karakteristik massa batuan yang


perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan fragmentasi batuan yaitu kekerasan
batuan, kekuatan batuan, elastisitas batuan, abrasivitas batuan, dan kecepatan
perambatan gelombang pada batuan, serta kuat tekan dan kuat tarik batuan yang
akan diledakkan.
Semakin tinggi tingkat kekerasan batuan, maka akan semakin sukar batuan
tersebut untuk dihancurkan (Tabel 1.1), demikian juga dengan batuan yang
memiliki kerapatan tinggi. Hal ini disebabkan karena semakin berat massa suatu
batuan, maka bahan peledak yang dibutuhkan untuk membongkar atau
menghancurkan batuan tersebut akan lebih banyak.

Tabel 3.2. Kekerasan batuan dan kuat tekan uniaksial

Hardness Kekerasan (skala Mohs) Kuat Tekan Uniaksial (MPa)

Sangat keras >7 > 200

Keras 67 120 200

Agak keras 4,5 6 60 120

Agak lunak 3 4,5 30 60

Lunak 23 10 30

Sangat lunak 12 < 10

Elastisitas batuan adalah sifat yang dimiliki batuan untuk kembali ke


bentuk atau keadaan semula setelah gaya yang diberikan kepada batuan tersebut
dihilangkan. Secara umum batuan memiliki sifat Elastis Fragile yaitu batuan

57
dapat dihancurkan apabila mengalami regangan yang melewati batas
elastisitasnya.

Abrasivitas batuan merupakan suatu parameter batuan yang


mempengaruhi keausan (umur) dari mata bor yang digunakan untuk melakukan
pemboran pada batuan tersebut. Abrasivitas batuan tergantung kepada mineral
penyusun batuan tersebut. Semakin keras mineral penyusun batuan tersebut maka
tingkat abrasivitasnya akan semakin tinggi pula.

2. Struktur Geologi
Struktur geologi yang berpengaruh pada kegiatan peledakan adalah
struktur rekahan (kekar) dan struktur perlapisan batuan. Kekar merupakan rekahan
rekahan dalam batuan yang terjadi karena tekanan atau tarikan yang disebabkan
oleh gaya gaya yang bekerja dalam kerak bumi atau pengurangan bahkan
kehilangan tekanan dimana pergeseran dianggap sama sekali tidak ada.
Dengan adanya struktur rekahan ini maka energi gelombang tekan dari
bahan peledak akan mengalami penurunan yang disebabkan adanya gas-gas hasil
reaksi peledakan yang menerobos melalui rekahan, sehingga mengakibatkan
penurunan daya tekan terhadap batuan yang akan diledakkan. Penurunan daya
tekan ini akan berdampak terhadap batuan yang diledakkan sehingga bisa
mengakibatkan terjadinya bongkah pada batuan hasil peledakan bahkan batuan
hanya mengalami keretakan. Berkaitan dengan struktur kekar ini penentuan arah
peledakan menurut R.L.Ash (1963) adalah:

a). Pada batuan sedimen bidang kekar berpotongan satu dengan yang lain,
sudut horizontal yang dibentuk oleh bidang kekar vertikal biasanya
membentuk sudut tumpul (mendekati 105) dan pada bagian lain akan
membentuk sudut lancip (mendekati 75)

58
1. Fragmentasi yang dihasilkan umumnya mengikuti bentuk perpotongan
bidang kekar. Apabila peledakan diarahkan pada sudut runcing akan
menghasilkan pecahan melebihi batas (over break) dan retakan-retakan pada
jenjang. Peledakan selanjutnya menghasilkan bongkah, getaran tangan,
suara peledakan (air blast) dan batu terbang. Untuk menghindari hal
tersebut peledakan diarahkan keluar dari sudut tumpul.

b). Jika dijumpai kemiringan kekar horizontal atau miring maka lubang
ledak miring akan memberikan keuntungan karena energi peledakan
berfungsi secara efisien. Jika kemiringan vertikal fragmentasi lebih seragam
dapat dicapai bila peledakan dilakukan sejajar dengan kemiringan kekar.
Struktur perlapisan batuan juga mempengaruhi hasil peledakan. Apabila
lubang tembak yang dibuat berlawanan dengan arah perlapisan, maka akan
menghasilkan fragmentasi yang lebih seragam dan kestabilan lereng yang lebih
baik bila dibandingkan dengan lubang tembak yang dibuat searah dengan bidang
perlapisan. Secara teoritis, bila lubang tembak arahnya berlawanan dengan arah
kemiringan bidang pelapisan, maka pada posisi demikian kemungkinan terjadinya
backbreak akan sedikit, lantai jenjang tidak rata, tetapi fragmentasi hasil
peledakan akan seragam dan arah lemparan batuan tidak terlalu jauh. Sedangkan
jika arah lubang tembak searah dengan arah kemiringan bidang perlapisan, maka
kemungkinan yang terjadi adalah timbul backbreak lebih besar, lantai jenjang rata,
fragmentasi batuan tidak seragam dan batu akan terlempar jauh serta
kemungkinan terhadap terjadinya longsoran akan lebih besar (Gambar.3.28).

Benc Benc
h h

Floor Floor

59

Pemboran berlawanan arah Pemboran searah dengan


perlapisan batuan perlapisan batuan
Gambar 3.28 Arah pemboran pada bidang perlapisan

3. Pengaruh Air
Kandungan air dalam jumlah yang cukup banyak dapat mempengaruhi
stabilitas kimia bahan peledak yang sudah diisikan kedalam lubang ledak
(khususnya ANFO). Kerusakan sebagian isian bahan peledak dapat mengurangi
kecepatan reaksi bahan peledak sehingga akan mengurangi energi peledakan, atau
bahkan isian akan gagal meledak (misfire). Misalnya ANFO yang dapat larut
dalam air , tidak dapat digunakan untuk zona peledakan yang banyak mengandung
air. Untuk mengatasi pengaruh air, maka isian menggunakan powergel yang
dikhususkan untuk lubang ledak basah, karena powergel mempunyai berat jenis
yang lebih besar daripada air yaitu sekitar 1,15 ton/m3 - 1,2 ton/m3, jadi pengaruh
air dalam lokasi peledakan bukan menjadi masalah lagi.

III.5.2.3. Faktor Rancangan yang Dapat Dikontrol


Adalah faktor-faktor yang dapat dikendalikan oleh kemampuan manusia
dalam merancang suatu peledakan untuk memperoleh hasil peledakan yang
diharapkan. Adapun faktor-faktor tersebut adalah :

1. Arah dan kemiringan


lubang tembak
Arah pemboran secara teoritis ada dua, yaitu arah pemboran tegak dan
arah pemboran miring

60
Daerah bongkar besar
Lantai Atas
Daerah backbreak
o
45
Stemming

Gel. Tekan diteruskan

o Lantai Bawah Gel. Tekan dipantulkan


45

Lubang Tembak

Lantai Atas Daerah bongkar besar

Daerah backbreak

o Stemming
45
Gel. Tekan diteruskan
o
45 Lantai Bawah
Gel. Tekan dipantulkan

Lubang Tembak

Gambar 3.29 Pemboran dengan Lubang Tembak Tegak dan Lubang Tembak
Miring

Pada peledakan jenjang posisi dari suatu lubang ledak dapat memberikan
keuntungan maupun kerugian dalam memperoleh hasil peledakan yang baik.
Biasanya perusahaan tambang yang menggunakan alat bor dengan jenis putar-
tumbuk (rotary percussive) akan menerapkan sistem pemboran miring, tetapi pada
perusahaan tambang terbuka yang mempunyai daerah operasi penambangan yang
besar mempunyai kecenderungan menggunakan system tegak, adapun kerugian
dan keuntungan dari penggunaan kedua sistem tersebut adalah sebagai berikut:

61
Keuntungan dari penggunaan sistem pemboran miring adalah:

Fragmentasi dari tumpukan hasil peledakan yang dihasilkan lebih baik,


ukuran burden sepanjang lubang yang dihasilkan relatif seragam

Dinding jenjang yang dihasilkan relatife rata

Powder factor yang digunakan untuk menghantarkan gelombang kejut


pada lantai jenjang lebih efesien

Mengurangi terjadinya pecah berlebihan (backbreak) dan menjadikan


lantai jenjang lebih rata

Memperkecil bahaya longsor pada jenjang, sehingga keamanan untuk


para pekerja dan alat lebih terjamin

Kerugian lubang ledak miring adalah sebagai berikut:

Panjang lubang ledak dan waktu yang dibutuhkan menjadi lebih


panjang

Pada pemboran lubang ledak dalam, sudut yang dibentuk akan semakin
besar

Mengalami kesulitan pada penempatan alat bor

Dibutuhkan pengawasan yang lebih ketat

Mengalami kesulitan dalam pengisian handak


Menurut Mc. Gregor bahwa arah kemiringan lubang ledak antara 100-200
terhadap bidang vertikal yang biasanya digunakan pada tambang terbuka telah
memberikan hasil yang baik.

Keuntungan lubang ledak tegak adalah sebagai berikut:

62
Pemboran dapat dilakukan dengan lebih akurat

Jarak atau rute yang ditempuh lebih dekat (cycle time lebih kecil)

Dapat melakukan pemboran lebih dekat dengan dinding jenjang

Kerugian lubang ledak tegak, sebagai berikut:

Kemungkinan timbulnya pecah belakang (backbreak) lebih besar

Jenjang yang diperoleh kurang stabil

Kemungkinan timbulnya tonjolan pada lantai jenjang lebih besar.

Pada peledakan yang menerapkan lubang tembak tegak, maka gelombang


tekan yang dipantulkan oleh bidang bebas lebih sempit, sehingga kehilangan
gelombang tekan akan cukup besar pada lantai jenjang bagian bawah, hal ini dapat
menyebabkan timbulnya tonjolan (toe) pada lantai jenjang. Sedangkan pada
peledakan dengan lubang tembak miring akan membentuk bidang bebas yang
lebih luas, sehingga akan mempermudah proses pecahnya batuan dan kehilangan
gelombang tekan pada lantai jenjang menjadi lebih kecil.

Pada kegiatan pemboran, waktu pemboran untuk membuat lubang tembak


tegak lebih cepat dan penanganannya lebih mudah bila dibandingkan dengan
lubang tembak miring. Hal ini disebabkan pada lubang tembak miring, alat bor
kesulitan untuk meletakkan posisi kemiringan yang sama setiap lubangnya,
sehingga sering terjadi kemiringan yang tidak sama antara lubang lubang
tembaknya.
Untuk fragmentasi batuan hasil peledakan, lubang tembak miring lebih
menghasilkan fragmentasi yang seragam bila dibandingkan dengan lubang tembak
tegak. Hal ini disebabkan pada lubang tembak miring, bidang bebas yang
terbentuk lebih luas dan hilangnya energi peledakan pada lantai jenjang lebih
sedikit.

63
2. Pola pemboran

Pola pemboran merupakan suatu pola pada kegiatan pemboran dengan


menempatkan lubang lubang tembak secara sistematis. Berdasarkan letak letak
lubang bor maka pola pemboran pada umumnya dibedakan menjadi dua macam,
yaitu :

1. Pola pemboran sejajar (paralel pattern)

2. Pola pemboran selang-seling (staggered pattern)

Pola pemboran sejajar adalah pola dengan penempatan lubang-lubang


tembak yang saling sejajar pada setiap kolomnya. Sedangkan pola pemboran
selang-seling adalah pola dengan penempatan lubang-lubang tembak secara
selang seling pada setiap kolomnya. (Gambar 3.29).
Menurut hasil penelitian di lapangan pada jenis batuan kompak,
menunjukan bahwa hasil produktivitas dan fragmentasi peledakan dengan
menggunakan pola pemboran selang-seling lebih baik dari pada pola pemboran
sejajar, hal ini disebabkan energi yang dihasilkan pada pemboran selang-seling
lebih optimal dalam mendistribusikan energi peledakan yang bekerja dalam
batuan (Gambar 3.30).

S Pola pemboran
sejajar (paralel).
S = Spasi
B = Burden

Free Face

S Pola pemboran
selang-seling
(staggered).

S = Spasi
B B = Burden 64
450 Free Face

Gambar 3.30 Pola Pemboran


BidangBebas PARALLEL

Lubangledak
Areatidakterkenaenergi peledakan
Areapengaruhenergi peledakan

BidangBebas STAGGERED

Lubangledak
Areatidakterkenaenergi peledakan
Areapengaruhenergi peledakan

Gambar 3.31 Pengaruh energi ledakan pada pola pemboran

3. Diameter lubang tembak

Ukuran diameter lubang tembak merupakan faktor yang penting dalam


merancang suatu peledakan, karena akan mempengaruhi dalam penentuan jarak
burden dan jumlah bahan peledak yang digunakan pada setiap lubangnya.

Untuk diameter lubang tembak yang kecil, maka energi yang dihasilkan
akan kecil. Sehingga jarak antar lubang bor dan jarak ke bidang bebas haruslah
kecil juga, dengan maksud agar energi ledakan cukup kuat untuk menghancurkan
batuan. Begitu pula sebaliknya.

Diameter lubang tembak juga mempengaruhi terhadap panjang stemming.


Untuk menghindari getaran (vibrasi) maupun batuan terbang (flyrock), apabila

65
lubang tembak berdiameter besar maka stemming harus panjang sedangkan jika
lubang tembak berdiameter kecil maka stemming menjadi pendek (Gambar 3.32).
Namun dalam hal ini panjang stemming juga dapat mempengaruhi
fragmentasi batuan hasil peledakan. Dimana stemming yang terlalu panjang dapat
mengakibatkan terbentuknya bongkah apabila energi ledakan tidak mampu untuk
menghancurkan batuan di sekitar stemming tersebut, dan stemming yang terlalu
pendek bisa mengakibatkan terjadinya batuan terbang dan pecahnya batuan
menjadi lebih kecil

kecil
besar

Gambar 3.32 Pengaruh diameter lubang tembak


bagi tinggi stemming 3)

4. Geometri Peledakan

R.L. Ash (1967) membuat suatu pedoman perhitungan geometri peledakan


jenjang berdasarkan pengalaman empirik yang diperoleh diberbagai tampat
dengan jenis pekerjaan dan batuan yang berbeda-beda. Sehingga R.L. Ash berhasil
mengajukan rumusan-rumusan empirik yang dapat digunakan sebagai pedoman
dalam rancangan awal suatu peledakan batuan.

Dalam pelaksanaannya nanti hasil perhitungan dengan cara R.L Ash


ternyata harus selalu dicoba di lapangan untuk memperoleh gambaran dan
66
perubahan ke arah geometri peledakan yang lebih mendekati kondisi
sesungguhnya. Percobaan di lapangan dilakukan dengan cara trial and error
sampai diperoleh geometri peledakan yang optimum.

LL B
H

PC

Keterangan :
B=Burden
S= Spacing
H=Kedalaman Lubang Ledak
L=Tinggi Jenjang
T=Stemming
PC=Panjang Isian Bahan Peledak
J=Subdrilling

Gambar 3.33 Geometri Peledakan menurut teori R.L. Ash (1967)

1) Penentuan Burden (B)

Dimensi yang pertama kali ditentukan ialah burden (B), yang diturunkan
berdasarkan diameter lubang ledak atau diameter mata. Untuk menentukan
burden, R.L. Ash (1967) mendasarkan pada acuan yang dibuat secara empirik,
yaitu adanya batuan standart dan bahan peledak standart. Batuan standart

67
memiliki bobot isi 160 lb/cuft, dan bahan peledak standart memiliki berat jenis 1,2
ton/m3 dan kecepatan detonasi 12.000 fps.
Apabila batuan yang akan diledakkan sama dengan batuan standart dan
bahan peledak yang dipakai ialah bahan peledak standart, maka digunakan burden
ratio (Kb) yaitu 30. Tetapi bila batuan yang akan diledakkan tidak sama dengan
batuan standart dan bahan peledak yang digunakan bukan pula bahan peledak
standart, maka harga Kb-standart itu harus dikoreksi menggunakan faktor
penyesuaian (adjustment factor).

Jika :

De = Diameter lubang ledak

B = Burden

Kb = Burden ratio
Maka :
Kb x De
B = 12 ft
Atau
Kb x De
B = 39,3
Bahan peledak :

Bobot isi batuan standart (Dst)= 160 lb/cuft

SG std = 1.2 ton/m3

Vestd (VODstd) = 12000 fps

Kb standart = 30
Maka :
Kb terkoreksi = 30 x Af1 x Af2
1/3

Af1 =
{ }
Dstd
D

68
1/ 3

Af2 =
{SG x Ve 2
SG std x Ve
2
std }
Keterangan :

Af1 = Adjusment factor untuk batuan yang diledakkan

Af2 = Adjusment factor untuk bahan peledak yang dipakai

D = Bobot isi batuan yang diledakkan

SG = Berat jenis bahan peledak yang dipakai

Ve = VOD bahan peledak yang dipakai


Jadi:
Kb terkoreksi x De
B = 39 ,3 m
Jarak burden yang baik adalah jarak dimana energi ledakan bisa menekan
batuan secara maksimal sehingga pecahnya batuan sesuai dengan fragmentasi
yang direncanakan dengan mengupayakan sekecil mungkin terjadinya batuan
terbang, bongkah, dan retaknya batuan pada batas akhir jenjang (Gambar 3.34).

Flyrock
kkk kkk
Flyrock

Burden terlalu besar Burden terlalu kecil Burden yang baik/cukup


B > 40 lubang bor B < 40 lubang bor B = 40 lubang bor

Gambar 3.34 Pengaruh burden bagi hasil peledakan

69
2) Spacing (S)
Spacing merupakan jarak antara lubang-lubang tembak yang dirangkai
dalam satu baris dan diukur sejajar terhadap dinding jenjang.

S = Ks. B
Keterangan :
Ks = Spacing ratio (1,0 2,0)
B = Burden (m)
Spacing yang lebih kecil dari ketentuan akan menyebabkan ukuran batuan
hasil peledakan terlalu hancur. Tetapi jika spacing lebih besar dari ketentuan akan
menyebabkan banyak terjadi bongkah (boulder) dan tonjolan (stump) diantara dua
lubang ledak setelah peledakan. Berdasarkan cara urutan peledakannya, pedoman
penulisan spacing adalah sebagai berikut :

Peledakan serentak, S = 2 B

Peledakan beruntun dengan delay interval lama (second delay), S = B

Peledakan dengan millisecond delay, S antara 1 B hingga 2 B

Jika terdapat kekar yang saling tidak tegak lurus, S antara 1,2 - 1,8 B

Peledakan dengan pola equilateral dan beruntun tiap lubang ledak


dalam baris yang sama, S = 1,15 B

3) Stemming (T)
Stemming merupakan panjang isian lubang tembak yang tidak diisi bahan
peledak, tetapi diisi material seperti tanah liat atau material hasil pemboran
(cutting).

Persamaan :
T = Kt . B

Keterangan :

70
T = Stemming (m)

Kt = Stemming ratio (0,7 1,0)

B = Burden (m)
Fungsi stemming :

Meningkatkan confinning pressure dari akumulasi gas hasil


peledakan.

Menyeimbangkan tekanan di daerah stemming.

4) Subdrilling (J)
Subdrilling merupakan kelebihan panjang lubang tembak pada bagian
bawah lantai jenjang. Dimaksudkan agar jenjang terbongkar tepat pada batas
lantai jenjang sehingga didapat lantai jenjang yang rata setelah peledakan. Panjang
subdrilling dipengaruhi oleh struktur geologi, tinggi jenjang dan kemiringan
lubang ledak.

Persamaan :
J = Kj . B

Keterangan :

J = Subdilling (m)

Kj = Subdilling ratio (0,2 0,4)

B = Burden (m)

5) Kedalaman lubang tembak (H)


Kedalaman lubang tembak merupakan penjumlahan dari besarnya
stemming dan panjang kolom isian bahan peledak. Kedalaman lubang ledak

71
biasanya disesuaikan dengan tingkat produksi (kapasitas alat muat) dan
pertimbangan geoteknik.

Persamaan :
H = Kh . B

Keterangan :

H = Kedalaman lubang tembak (m)

Kh = Hole dept ratio (1,5 4)

B = Burden (m)

6) Charge length (PC)

Charge length merupakan panjang kolom isian bahan peledak.

Persamaan :

PC = HT
Keterangan :

PC = Panjang kolom isian (m)

H = Kedalaman lubang tembak (m)

T = Stemming (m)

5. Pola Peledakan

Pola peledakan merupakan urutan waktu peledakan antara lubang lubang


bor dalam satu baris dengan lubang bor pada baris berikutnya ataupun antara
lubang bor yang satu dengan lubang bor yang lainnya.

Pola peledakan ini ditentukan berdasarkan urutan waktu peledakan serta


arah runtuhan material yang diharapkan.

72
Berdasarkan arah runtuhan batuan, pola peledakan diklasifikasikan sebagai
berikut (Gambar 3.10) :

a. Box Cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya ke depan
dan membentuk kotak

b. Corner cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya ke


salah satu sudut dari bidang bebasnya.

c. V cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya kedepan


dan membentuk huruf V.

Berdasarkan urutan waktu peledakan, maka pola peledakan


diklasifikasikan sebagai berikut :

a. Pola peledakan serentak, yaitu suatu pola yang menerapkan peledakan


secara serentak untuk semua lubang tembak.

b. Pola peledakan beruntun, yaitu suatu pola yang menerapkan peledakan


dengan waktu tunda antara baris yang satu dengan baris lainnya

Bidang Bebas
BOX CUT
2 1 1 1 1 2
1 1
3 2 2 2 2 3
Bidang Bebas
2 1 0 1 2 Keterangan :
1, 2, = Nomor urutan peledakan
3 2 1 2 3 = Arah runtuhan batuan

4 3 2 3 4

Bidang Bebas CORNER CUT


5 4 3 2 1
Keterangan :
1, 2, = Nomor urutan
6 5 4 3 2 peledakan
7 6 5 4 3 = Arah runtuhan
batuan 73

Gambar 3.35 Pola peledakan berdasarkan arah runtuhan batuan


Setiap lubang tembak yang akan diledakkan harus memiliki ruang yang
cukup kearah bidang bebas terdekat agar energi terkonsentrasi secara maksimal
sehingga lubang tembak akan terdesak, mengembang, dan pecah.

Secara teoritis, dengan adanya tiga bidang bebas (free face) maka kuat
tarik batuan akan berkurang sehingga meningkatkan energi ledakan untuk
pemecahan batuan dengan syarat lokasi dua bidang bebasnya memiliki jarak yang
sama terhadap lubang tembak.

6. Arah Peledakan

Arah peledakan merupakan suatu penunjukan arah dimana terjadi


pemindahan (displacement) batuan ataupun runtuhan batuan hasil peledakan yang
kemudian membentuk tumpukan.

Dalam kegiatan peledakan, arah peledakan dipengaruhi oleh struktur


batuan, posisi alat alat dan jalan tambang serta posisi bangunan bangunan
maupun lingkungan di sekitarnya.

Berdasarkan posisi alat alat mekanis yang bekerja dan jalan jalan
tambang serta posisi unit pengolahan, maka arah peledakan diusahakan sedemikan
rupa sehingga tidak mengganggu kerjanya alat mekanis dan memudahkan
pengangkutan ke unit pengolahan.

Dari segi kekar batuan, maka arah peledakan yang baik untuk
menghasilkan fragmentasi batuan yang seragam yaitu arah peledakan yang
menuju sudut tumpul perpotongan antara arah umum kedua kekar utama. Apabila
arah peledakan menuju sudut runcing, maka akan terjadi penerobosan energi
peledakan melalui rekahan yang ada. Hal ini mengakibatkan terjadinya

74
pengurangan energi ledakan untuk menghancurkan batuan dan akhirnya terbentuk
fragmentasi yang tidak seragam bahkan terjadinya bongkah.
Sedangkan dari segi perlapisan batuan, untuk mendapatkan fragmentasi
batuan yang baik maka diterapkan arah lubang tembak yang berlawanan arah
dengan perlapisan batuan karena energi yang digunakan untuk menghancurkan
batuan akan menekan batuan secara maksimal .

7. Sifat Bahan Peledak


Karakteristik bahan peledak yang sangat mempengaruhi operasi peledakan
pada tambang terbuka adalah kekuatan, kecepatan detonasi, kepekaan, bobot isi,
tekanan detonasi, sifat gas beracun dan ketahanan bahan peledak terhadap air.

a. Kekuatan
Kekuatan (strength) suatu bahan peledak adalah ukuran yang
dipergunakan untuk mengukur energi yang terkandung pada bahan peledak dan
kerja yang dapat dilakukan oleh bahan peledak

Kekuatan dinyatakan dalam persen (%) dengan Straight Nitroglycerin


Dynamite sebagai bahan peledak standar yang mempunyai bobot isi (spesific
grafity) sebesar 1,6 dan kecepatan detonasi (VOD) sebesar 7.700 m/det. Pada
umumnya semakin besar bobot isi dan kecepatan detonasi suatu bahan peledak
maka kekuatannya juga akan semakin besar.

b. Kecepatan Detonasi

Kecepatan detonasi adalah kecepatan gelombang detonasi yang melalui


bahan peledak yang dinyatakan dalam meter per detik atau feet per detik.
Kecepatan detonasi suatu bahan peledak tergantung dari beberapa factor, yaitu
bobot isi bahan peledak, diameter bahan peledak, derajat pengurungan, ukuran
partikel dari bahan penyusunnya dan bahan-bahan yang terdapat dalam bahan
peledak.

75
Kecepatan detonasi dapat dinyatakan dalam kondisi terkurung dan kondisi
tidak terkurung. Kecepatan detonasi terkurung adalah ukuran kecepatan detonasi
dimana gelombang merambat melalui kolom bahan peledak didalam lubang ledak
atau ruang terkurung lainnnya, sedangkan kecepatan detonasi tidak terkurung
adalah suatu kecepatan yang menunjukan kecepatan detonasi bahan peledak
apabila bahan peledak diledakkan dalam keadaan terbuka atau tidak terkurung.

Untuk peledakan pada batuan keras dipakai bahan peledak yang


mempunyai kecepatan detonasi tinggi sedangkan pada batuan yang lunak dipakai
bahan peledak dengan kecepatan detonasi rendah. Ukuran butir yang semakin
kecil memungkinkan terjadinya kontak permukaan antar partikel semakin besar
sehingga dapat meningkatkan kecepatan reaksi. Pada umumnya, kecepatan
detonasi meningkat apabila diameter semakin besar besar meskipun tidak secara
linear.

c. Kepekaan (Sensitivity)
Kepekaan adalah ukuran besarnya sifat peka bahan peledak untuk mulai
bereaksi menyebarkan reaksi peledakan ke seluruh kolom isian. Penyerapan air
dan terlapisinya kristal-kristal oleh zat lilin cenderung mengurangi kepekaan,
sedangkan peningkatan temperatur dapat menyebabkan kepekaan. Jika diameter
bahan peledak cukup besar, maka perambatan reaksinya akan lebih mudah karena
permukaan bahan peledak lebih luas, sedangkan tingkat pengurungan cenderung
memusatkan tenaga reaksinya mengarah sepanjang isian dan menghindari
penyebaran tenaga reaksi.

d. Bobot Isi Bahan Peledak

Bobot isi bahan peledak merupakan salah satu sifat terpenting bahan
peledak yang dinyatakan dalam satuan gr/cm3. Bobot isi dapat dinyatakan dalam
beberapa cara, yaitu:

1. Berat Jenis (SG), tanpa satuan.

76
2. Loading Density (de), yaitu berat bahan peledak per meter panjang
isian yang dinyatakan dalam kg/m.

de = 0,000785 x Diameter lubang ledak(mm) x Berat jenis ANFO


Pada umunya bahan peledak yang mempunyai bobot isi tinggi akan
menghasilkan kecepatan detonasi dan tekanan yang tinggi.

e. Tekanan Detonasi

Tekanan detonasi adalah penyebaran tekanan gelombang ledakan dalam


kolom isian bahan peledak yang dinyatakan dalam kilobar (kb). Tekanan detonasi
bahan peledak komersial antara 5-150 kb.

Tekanan akibat ledakan akan terjadi di sekitar dinding lubang ledak


kemudian tersebar ke segala arah. Intensitasnya dipengaruhi oleh:

1) Jenis bahan peledak (kekuatan, bobot isi, VOD)

2) Tingkat / derajat pengurungan.

3) Jumlah dan temperatur gas hasil ledakan.

Secara emperis, Konya (1990) merumuskannya sebagai berikut:

-6 2
4,5 x 10 x SGe x Ve
P= (1 +(0,8 x SGe))

Dimana:

P = Tekanan detonasi (kilobar)

1 kilobar = 14.504 psi

SGe = Berat jenis bahan peledak

77
Ve = Kecepatan detonasi bahan peledak (ft/detik)

1 ft = 0.3048 meter

f. Sifat Gas Beracun


Bahan peledak yang meledak dapat menghasilkan dua jenis gas yang
saling berbeda sifatnya yaitu smoke dan fumes. Smoke terjadi apabila di dalam
bahan peledak terdapat jumlah oksigen yang tepat sehingga selama reaksi seluruh
hydrogen akan membentuk uap air (H2O), karbon bereaksi membentuk karbon
dioksida (CO2) dan nitrogen menjadi N2 bebas, dengan kata lain terjadi
keseimbangan antaroksigen dengan bahan-bahan penyusun lainnya.

g. Ketahanan Terhadap Air (Resistivity)


Ketahanan terhadap air suatu bahan peledak adalah kemampuan bahan
peledak tersebut untuk menahan rembesan air dalam waktu tertentu dan masih
dapat diledakkan dengan baik. Ketahanan ini dinyatakan dalam satuan jam. Sifat
ini sangat penting terutama sebagai parameter dalam pemilihan bahan peledak,
dalam hubungannya dengan kondisi tempat kerja. Untuk sebagian besar jenis
bahan peledak, adanya air di dalam lubang ledak dapat mengakibatkan
panambahan unsure H dan O sehingga memerlukan panas yang lebih banyak
untuk menguapkan menjadi uap air. Disamping itu air dapat melarutkan sebagian
kandungan bahan peledak sehingga menyebabkan bahan peledak rusak.

h. Pengisian Bahan Peledak

Jumlah pemakaian bahan peledak sangat mempengaruhi terhadap


fragmentasi batuan hasil peledakan. Powder factor atau spesific charge
merupakan suatu bilangan untuk menyatakan berat bahan peledak yang
dibutuhkan untuk menghancurkan batuan (kg/m).

Dalam menentukan powder factor ada empat macam satuan yang dapat
digunakan, yaitu:

78
1) Berat bahan peledak per volume batuan yang diledakkan
(kg/m3).

2) Berat bahan peledak per berat batuan yang diledakkan


(kg/ton).

3) Volume batuan yang diledakkan per berat bahan peledak


(m3/kg).

4) Berat batuan yang diledakkan per berat bahan peledak


(ton/kg).
Secara umum, powder factor dapat dihubungkan dengan unit produksi
pada operasi peledakan. Dengan powder factor dapat diketahui konsumsi bahan
peledak yang digunakan.

Nilai powder factor dipengaruhi oleh jumlah bidang bebas, geometri


peledakan, pola peledakan, struktur geologi batuan dan karakteristik massa batuan
itu sendiri.

Bila pengisian bahan peledak terlalu banyak maka akan mengakibatkan


jarak stemming akan kecil sehingga mengakibatkan terjadinya batuan terbang
(flyrock) dan ledakan tekanan udara (airblast). Sedangkan bila pengisian terlalu
sedikit maka jarak stemming akan besar sehingga menimbulkan bongkah dan
backbreak disekitar dinding jenjang.

i. Waktu Tunda

Waktu tunda merupakan penundaan waktu peledakan antara lubang


ledak dengan lubang ledak lainnya. Penerapan waktu tunda dalam
peledakan dengan menggunakan delay detonator.

79
Keuntungan melakukan peledakan dengan waktu tunda atau peledakan
secara beruntun adalah :

Fragmentasi batuan hasil peledakan akan lebih seragam dan baik.

Mengurangi timbulnya getaran.

Menyediakan bidang bebas yang cukup untuk peledakan pada lubang


ledak berikutnya.

Batuan tidak menumpuk terlalu tinggi.

Pada peledakan yang menerapkan waktu tunda antar lubang ledak terlalu
pendek, maka batuan di lubang ledak depan akan menghalangi pergeseran batuan
pada baris berikutnya dan mengakibatkan pecahan material pada lubang ledak
selanjutnya akan tersembur keatas dan menumpuk diatas batuan dari lubang
sebelumnya. Tetapi bila waktu tundanya terlalu lama maka hasil peledakan akan
terlempar jauh kedepan serta kemungkinan akan dapat mengakibatkan cut off
misfire karena flyrock memutus surface delay pada rangkaian belakang. hal ini
disebabkan karena tidak adanya dinding batuan yang berfungsi sebagai penahan
lemparan batuan didepannya.

j. Produksi Peledakan

1) Target Produksi
Target produksi merupakan jumlah batuan yang diledakkan yang dihitung
dari luas area dan kedalaman lubang ledaknya. Persamaan umum yang digunakan
untuk menentukan target produksi peledakan adalah :

W = A x L x dr

Keterangan :

W = Jumlah batuan yang diledakkan, ton

80
A = Luas daerah yang diledakkan, m2

L = Tinggi jenjang, m

dr = Bobot isi batuan, ton/m3

2) Tingkat Fragmentasi Batuan


Fragmentasi batuan hasil peledakan sangat dipengaruhi oleh faktor batuan
dan bahan peledak yang digunakan. Untuk memperkirakan fragmentasi batuan
hasil peledakan dapat digunakan rumusan yang dikemukakan oleh Kuznetson
(Roger H., Agne R, 1983).

X = A x (V/ Q)0,8 x Q0,17 x (E / 115)-0,63

Keterangan :

X = Ukuran rata-rata fragmentasi batuan (cm)

A = Faktor batuan

V = Volume batuan yang terbongkar, (m3)

Q = Berat bahan peledak tiap lubang ledak (kg)

E = Relatif weight strength (ANFO = 100)

Factor batuan ditentukan dengan terlebih dahulu menentukan Blastability


Index, BI yang diketemukan oleh Lilly (1986)

A = BI x 0,12

BI = 0,5 (RMD + JPS + JPO + SGI + HD)

Untuk menentukan parameter BI (lihat table 3.3)

81
Tabel 3.3 Pembobotan untuk parameter-parameter BI

Parameter BI Pembobotan

1. Rock mass Description (RMD)

1.1 Powderly/friable 10

1.2 Blocky 20

1.3 otally massive 50

2. Joint Plane Spacing (JPS)

2.1 Close (<0,1 m) 10

2.2 Intermediate (0,1 to 1 m) 20

2.3 Wide (>1 m) 50

3. Joint Plane Orientation (JPO)

3.1 Horizontal 10

3.2 Dip out of face 20

3.3 Strike normal to face 30

3.4 Dip into face 40

4. Specific Gravity Influence (SGI)

SGI = 25 SG 50

5. Hardness (HD) 1 10
82
Untuk mengetahui distribusi ukuran fragmentasi digunakan persamaan
Cunningham yang digabungkan dengan persamaan Kuznetsov (Roger H., Agne R,
1983), yaitu :

R = e-(x/Xc)n

N = (2,2 14 B/d) (1 W/B) (1 + ((S/b) 1) / 2) L/H

Keterangan :

R = Perbandingan dari material yang tertinggal pada ayakan

X = Ukuran ayakan

Xc = x / (0,693)1/n

n = Indeks keseragaman

d = Diameter isian (mm)

B = Burden (m)

W = Standart deviasi pemboran (m)

S = Spacing (m)

L = Panjang isian (m)

H = Tinggi jenjang (m)


Untuk tingkat fragmentasi di lapangan dapat diketahui dengan
membandingkan berat batuan yang diumpankan ke unit peremuk batuan (jaw
cusher) dengan berat total batuan yang terbongkar untuk setiap peledakan.
Menurut Mc Gregor , tingkat fragmentasi batuan hasil peledakan dengan ukuran
batuan yang diinginkan secara ekonomis diatas 85 % dari berat batuan yang
terbongkar untuk setiap peledakan

83
3) Bentuk Tumpukan Material
Parameter bentuk tumpukan material yang perlu diperhitungkan adalah
besarnya sudut lereng serta tinggi tumpukan material hasil peledakan. Apabila
tinggi tumpukan terlalu rendah, maka akan mempengaruhi kegiatan pemuatan
yang dilakukan oleh alat muat. Berdasarkan Carlos L. Jimeno,1995 bentuk
tumpukan material dapat dibagi menjadi tiga, yaitu bentuk tumpukan apabila
menggunakan Rope Shovel daya produksi rendah tetapi apabila menggunakan
Wheel Loader daya produksinya tinggi dan sangat aman untuk operator alat,
bentuk tumpukan apabila menggunakan Wheel Loader daya produksi rendah
tetapi apabila menggunakan Rope Shovel daya produksinya tinggi dan berbahaya
untuk operator alat, serta bentuk tumpukan material apabila menggunakan kedua
alat daya produksinya mencukupi dan aman bagi operator alat (lihat gambar 3.36).

Ketinggian Tumpukan terlalu Tumpukan terlalu


tumpukan yang tinggi rendah
baik Produktivitas alat Produktivitas alat
Produktivitas alat muat akan tinggi muat akan rendah
muat akan baik Berbahaya untuk Aman untuk alat
Aman untuk alat alat muat dan muat dan
muat dan operatornya operatornya
operatornyaGambar 3.36 Bentuk tumpukan batuan hasil peledakan

III.6. Peralatan Tambang Terbuka

III.6.1. Peralatan Tambang

Tabel di bawah ini adalah daftar alat yang sering dipergunakan dalam
jenis kegiatan atau pekerjaan di tambang mulai dari kegiatan pembersihan lahan
sampai ke pengapalan.

84
Tabel 3.4 Jenis Alat dan Penggunaan alat dalam proses penambangan
Tabel 3.4. Peralatan sesuai dengan pekerjaannya

Contoh penjelasan dari bagan di atas adalah :

- Untuk kegiatan clearing/pembersihan lahan, alat yang sering digunakan


adalah bulldozer yang berukuran kecil tanpa menggunakan alat penggaru
(ripper), juga sering menggunakan tambahan excavator kecil.

- Bintang dua (* *) berarti alat lazim digunakan dalam kegiatan tersebut,


sedangkan bintang satu (*) alat dapat digunakan hanya tidak begitu lazim /
kurang pas aplikasinya.
Contoh lain pemanfaatan peralatan tambang sesuai dengan kegiatannya adalah
sebagai berikut

85
Gambar 3.37. Skema Pemanfaatan Peralatan Tambang sesuai Kegiatannya

III.6.1.1 Alat Pendorong dan Penggaruk (Push and Ripping)


Kegiatan mendorong (push) dan menggaruk (ripping) pada umumnya
menggunakan peralatan yang sama yang selanjutnya alat ini disebut sebagai dozer
atau bulldozer.

Gambar. 3.38 Jenis Alat Pendorong dan Penggaruk.

Fungsi alat ini adalah :

- Mengupas atau memotong (soil, timbunan material)

- Mendorong material / push (batu, soil, kayu dsb.)

- Menarik barang (kayu, material, peralatan)

- Perataan (spreading)

86
- Menggaru / ripping
Bagian-bagian dozer :

Gambar. 3.39 Bagian-bagian Alat Pendorong/ dozer.

III.6.1.2. Alat Gali / Muat

Untuk tambang terbuka di Indonesia untuk penggalian dan pengangkutan


biasanya menggunakan pasangan alat gali dengan truck (truck-shovel). Alat gali
yang biasa digunakan adalah :

- Hydraulic Excavator

Gambar. 3.40 Bagian-bagian Hydraulic Excavator.

- Front Shovel

- Wheel Loader

- Track Loader / Dozer shovel (loader yang rodanya berupa track)


87
Gambar. 3.41 Contoh alat gali/muat.

Beberapa alat gali yang jarang atau tidak ditemui di Indonesia diantaranya :

- Bucket wheel excavator

- Drag line

- Clam shell

Penggunaan excavator dalam proses penambangan adalah :

- Alat gali dan alat muat ke alat angkut, sebagai fungsi utama

- Pembersihan lahan dalam kondisi tertentu, kondisi topografi terjal

- Pembentukan slope

- Pembuatan parit dan bund wall, khususnya excavator kecil

- Alat bantu untuk mengangkat dan menarik alat lain

III.6.1.3. Alat Angkut

88
Alat angkut yang umum digunakan diproyek pertambangan adalah truck
yang bisa mengeluarkan material dengan menjungkitkan bak atau sering disebut
dump truck atau truk jungkit. Berdasarkan cara mengeluarkan material dari
baknya, truk dapat dibagi menjadi dua :

- Rear-dump truck (end dump), pengeluaran material dari bak dengan cara
mengangkat bagian depan bak, material akan keluar ke arah belakang truk.

- Side-dump truck, pengeluaran material dari bak dengan cara mengangkat


bagian salah satu sisi bak.

III.6.1.4. Alat Untuk Perawatan jalan


Dalam kegiatan penambangan ada kegiatan yang bersifat untuk
memperlancar jalur produksi yaitu perawatan jalan. Alat yang biasa digunakan
untuk perawatan jalan adalah :

- Motor grader, berfungsi untuk meratakan jalan yang bergelombang, atau


meratakan material timbunan dalam perbaikan jalan. Biasanya alat ini
dilengkapi dengan alat penggaru di bagian belakangnya.

Gambar. 3.42 Motor Grader.

89
- Compactor, berfungsi untuk memadatkan material pembentuk jalan
sehingga air tidak mudah merusak jalan dan alat angkut bisa bekerja lebih
produktif (traksi kecil).

Gambar. 3.43 Compactor.

III.7. Pengolahan Bahan Galian

III.7.1. Kominusi

Kominusi merupakan proses mereduksi ukuran butir agar menjadi lebih


kecil dan dapat digunakan dalam proses selanjutnya. Kominusi adalah salah satu
tahapan dari preparasi. Dalam pengertian lain kominusi juga diartikan sebagai
proses reduksi ukuran bijih mineral menjadi ukuran yang lebih kecil. Kegiatan
Kominusi dilakukan dalam dua tahapan yaitu crushing dan grinding. Alat yang
digunakan berupa Crusher Dan Juga Grinding Mill.

1. Kriteria Kominusi

Kominusi adalah istilah umum yang sering digunakan untuk operasi


penghancuran, contohnya adalah mesin pemecah (crusher) atau mesin penggiling
(grinder). Adapun syarat dari pemecah atau penggiling yang ideal yaitu :

90
a. Memiliki kapasitas besar
b. Memerlukan masukan daya kecil persatuan hasil
c. Menghasilkan hasil dengan satu ukuran tertentu atau dengan distribusi
ukuran tertentu sesuai yang dikehendaki.

2. Karakteristik Hasil-hasil Kominusi

Tujuan dari pemecahan dan penggilingan adalah untuk menghasilkan


partikel-partikel yang lebih kecil. Partikel-partikel yang lebih kecil diperlukan
baik oleh karena permukaannya yang besar atau oleh karena bentuk ukuran dan
jumlahnya. Salah satu ukuran effisiensi operasi didasarkan atas energi yang
diperlukan untuk membuat permukaan tambahan, luas permukaan satu-satuan
massa partikel meningkat sangat besar dengan diperkecilnya ukuran partikel.
Ratio diameter partikel terkecil dan terbesar didalam hasil kominusi adalah
sekitar 104. Oleh karena besarnya variasi dalam ukuran masing-masing partikel,
hubungan yang mungkin memadai untuk partikel berukuran seragam harus
dimodifikasi bila kita terapkan untuk campuran seperti itu.

3. Efisiensi Pemecahan

Ratio energi permukaan yang baru terbentuk terhadap energi yang diserap
oleh zat padat disebut efisiensi pemecahan. Energi permukaan yang terbentuk
pada waktu pemecahan adalah kecil saja dibandingkan dengan total energi
mekanik yang tersimpan dalam bahan pada waktu rengkahnya dan kebanyakan
dari energi mekanik itu diubah menjadi kalor.

4. Analisis Ayakan

Analisis ayakan bertujuan dalam proses pemisahan ukuran. Analisis ayakan


pada material terdapat dua tempat pengamatan yaitu yang terdapat atau tertahan
diatas ayakan (screen) dan material yang lolos dari ayakan. Ayakan atau screen
standar yang digunakan untuk mengukur besarnya partikel dalam jangkauan
ukuran antara 3 sampai 0,0015 inci.
91
Dalam melakukan analisis, seperangkat alat ayak standar disusun secara
deret dalam suatu tumpukan, dimana ayak yang anyaman paling rapat
ditempatkan paling bawah dan anyaman paling besar ditempatkan paling atas.
Contoh yang dianalisis lalu dimasukkan kedalam ayakan paling atas dan pengayak
diguncang secara mekanis selama beberapa waktu tertentu. Partikel yang tertahan
pada setiap ayakan dikonversikan menjadi fraksi massa atau persen massa dari
contoh keseluruhannya (persen kumulatif).

5. Proses Pencampuran

Pencampuran adalah operasi yang sangat penting. Pencampuran zat padat


(mixing) dalam beberapa hal sangat serupa dengan pencampuran zat cair yang
berviskositas rendah. Dalam kedua proses itu terjadi saling campur antara kedua
komponen terpisah atau lebih, sehingga membentuk hasil yang agak seragam.

Salah satu jenis pencampuran adalah blender tromol kembar (twin-shell


blender), terbuat dari dua silinder yang dihubungkan sehingga membentuk V dan
berputar pada sumbu horizontal. Blender trombol kembar ini lebih efektif untuk
beberapa operasi pencampuran.

III.7.2. Peralatan Dalam Proses Kominusi

1. Crusher

a. Pengertian Crusher

Crusher adalah mesin yang dirancang untuk mengurangi besar batu-batu ke


batu-batu kecil, kerikil, atau debu batu. Crushers dapat digunakan untuk
mengurangi ukuran, atau mengubah bentuk, bahan limbah sehingga mereka dapat
lebih mudah dibuang atau didaur-ulang, atau untuk mengurangi ukuran yang solid
campuran bahan baku (seperti di batu bijih), sehingga potongan-potongan
komposisi yang berbeda dapat dibedakan. Crusher/penghancur dapat dibuat sesuai
dengan kebutuhan material yang akan digiling/dihancurkan.

92
b. Klasifikasi Crusher

Berikut ini adalah klasifikasi crusher :

1. Primary Crusher ( Primary Breaking)

1.1 Jaw Crusher

Jaw crusher digunakan untuk menghancurkan berbagai material, terutama


batuan jenis pertambangan seperti batu granit, kokas, batu bara, bijih mangan,
bijih besi, ampelas, melebur aluminium, oksida, kalsium karbida menyatu, batu
kapur, kuarsit, paduan, dll. Kompresi terbesar perlawanan dari material yang akan
hancur adalah 320MPa. Jaw Crusher banyak digunakan di pertambangan, metall-
urgical industri, bahan bangunan, jalan raya, kereta api dan industri kimia.

Gambar 3.44 Spesifikasi Jaw Crusher

2. Secondary Crusher

2.1 Cone Crusher


Cone Crusher cocok untuk menghancurkan berbagai macam bijih dan batu
dengan kekerasan menengah. Hal ini merupakan keunggulan yang dapat
diandalkan konstruksi, produktivitas yang tinggi, penyesuaian yang mudah dan
kurang biaya operasi.

93
Gambar 3.45 Cone Crusher

2.2 Roll Crusher


Roll crushers memiliki maksimum teoritis pengurangan rasio 4:1. Jika 2 inci
partikel diumpankan ke crusher roll mutlak ukuran terkecil yang bisa diharapkan
dari crusher adalah 1 / 2 inci. Roll crushers hanya akan menghancurkan materi ke
ukuran partikel minimum sekitar 10 Mesh (2 mm). Rolls crushers secara efektif
digunakan dalam menghancurkan mineral bijih di mana tidak terlalu kasar dan
mereka juga digunakan dalam produksi skala yang lebih kecil lebih abrasive
pertambangan bijih logam, seperti emas. Batubara mungkin adalah pengguna
terbesar roll crushers, saat ini.

Gambar 3.46 Roll Crusher

c. Jenis Alat Crusher

1. Dodge Crusher

94
Mesin Dodge memiliki nilai-nilai kesederhanaan, biaya rendah, dan
kemudahan penyesuaian dan pemeliharaan, tetapi, karena kapasitas yang rendah,
bidang dibatasi untuk agak sempit batas.
Crusher Dodge cocok dengan sejumlah aplikasi berkapasitas rendah, seperti
operasi pertambangan kecil, pengambilan sampel tanaman, laboratorium, dan
berbagai aplikasi khusus di mana produk tersebut dibutuhkan kecil, tetapi di mana
terlibat tonase tidak membenarkan operasi dua tahap. Mesin ini mampu membuat
perbandingan yang sangat besar-dari pengurangan, yang merupakan fitur penting
bagi jenis aplikasi yang diuraikan.

Gambar 3.47 Dodge Crusher

2. VSI Crusher

Gambar 3. 48 VSI Crusher

95
VSI SBM crusher crushing menggabungkan tiga jenis dan dapat
dioperasikan 720 jam terus-menerus. Saat ini, telah mengganti VSI palu crusher
crusher rol crusher, bola roller mill, dll dan menjadi mainstream manking pasir
equipmentin bisnis.
Digunakan dalam menghancurkan baik dari ming industri seperti bahan
bangunan, metalurgi, insinyur kimia, ming, anti-api bahan, semen dll. Tergantung
pada tujuan penggunaannya.

3. Hammer Mill

Hammer mill merupakan sebuah alat yang digunakan untuk menghancurkan


material menjadi partikel-partikel yang halus.

Hammer mill pada dasarnya merupakan sebuah wadah terbuat dari besi
yang berisi poros, baik secara vertical maupun horizontal, yang berputar. Pada
poros tersebut terdapat hammer. Hammer adalah bagian yang berfungsi untuk
menghancurkan material-material. Biasanya crusher ini mempunyai 84 buah
hammer yang terdapat pada 12 rangkaian hammer axle pada hammer axle ini
terdapat hammer-hammernya.
Poros akan berputar dengan kecepatan tinggi, sementara material akan
masuk dari mulut hammer mill ( feed hopper). Material akan terkena hammer dan
akan hancur, kemudian dikeluarkan berdasarkan ukuran akhir material tersebut.

96
Gambar 3.49 Hammer Mill

2. Grinding

Merupakan tahap pengurangan ukuran dalam batas ukuran halus yang


diinginkan.

Tujuan Grinding :

- Mengadakan liberalisasi mineral berharga

- Mendapatkan ukuran yang memenuhi persyaratan industri

- Mendapatkan ukuran yang memenuhi persyaratan proses selanjutnya


Alat yang digunakan :

a. Ball Mill

Gambar 3.50 Ball Mill

Mill ini merupakan sebuah silinder horizontal dengan diameter sama dengan
panjangnya, yang dilapisi dengan suatu plat. Alat ini memiliki suatu silinder yang
terisi dengan bola baja.cara kerjanya yaitu dengan diputar,sehingga material yang
dimasukkan hancur oleh bola-bola baja.

b. Rod Mill
Media grinding ini alat ini berupa batang-batang besi/baja yang
panjangnyya sama dengan panjang mill. Cara kerjanya dengan diputar.sehingga
batang baja terangkat llu jatuh dan menjatuhi material yang ada dalam rod mill
sehingga hancur.

97
c. Hammer Mill
Penggiling ini memiliki sebuah rotor yang berputar dengan kecepatan
tinggi dalam sebuah casing berbentuk silinder. Umpan masuk dari bagian puncak
casing dan dihancurkan, selanjutnya dikeluarkan melalui bukaan pada dasar
casing. Umpan dipecahkan oleh seperangkat palu ayun yang berada pada piring
rotor.Kemudian pecahan ini terlempar pada anvil plate di dalam sebuah casing
sehingga dipecahkan lagi menjadi bagian yang lebih kecil.Lalu digosok menjadi
serbuk. Akhirnya didorong oleh palu ke luar bukaan.

d. Impactor
Impactor menyerupai hammer mill tetapi tidak dilengkapi dengan ayakan.
Impactor merupakan mesin pemecah primer untuk batuan dan biji, dengan
kemampuan mengolah sampai 600 ton/jam. Partikel yang dihasilkan hampir
seragam menyerupai kubus. Pada impactor hanya terjadi aksi pukulan.

Gambar 3.51 Impactor

e. High Medium Speed Grinder

Tekanan Tinggi Medium Speed Grinder (High Pressure Suspension Mill),


desain baru, dari VIPEAK digunakan untuk menggiling Barite, kapur,
kaolin, dan keramik dan terak, yang Moh's kekerasan adalah di bawah 9,3
skala, tidak mudah terbakar dan non-bahan peledak.
98
Kelebihan produk High Pressure Medium Speed Grinder:

(1) produk paten kami

(2) Produk ukuran dapat disesuaikan dalam kisaran 80-425 jerat


(3) Lebih baik desain, biaya rendah

Gambar 3.52 High Medium Speed Grinder


3. Screening

Salah satu pemisahan berdasarkan ukuran adalah proses pengayakan


(screening).

Alat alat yang digunakan dalam proses screening adalah :

a. Grizzly Screen
Grizzly merupakan suatu kisi-kisi yang terbuat dari batangan logam yang
sejajar dan dipasang pada rangka stasioner yang miring. Kemiringan dan lintasan
itu sejajar dengan arah panjang batangan.

99
.

Gambar 3.53 Grizzly Screen

b. Revolving Screen

Revolving screen sering disebut Trommel, bentuknya dapat berupa silinder


atau kerucut yang miring terhadap horizontal. Kemiringan ayakan dimaksudkan
untuk memudahkan pengeluaran partikel kasar.
Berdasarkan prinsip kerjanya trommel dibagi atas tiga jenis :

1. Trommel dengan silinder tunggal

Ayakan jenis ini terdiri dari satu silinder yang memiliki lubang pada kedua
keujungnya. Silinder tersebut diputar pada porosnya secara horizontal. Silinder
dibuat dari anyaman kawat atau pelat-pelat belubang.
Trommel merupakan ayakan yang diameter lubangnya makin ke kanan makin
besar atau makin ke kanan ukuran mesh nya makin kecil. Material yang tidak
dapat melewati lubang ayakan yang terletak di ujung kanan dikeluarkan melalui
lubang silinder yang terletak di ujung kanan yang disebut lubang pengeluaran.

Gambar 3. 54 Trommel Dengan Silinder Tunggal

100
2. Trommel Bertingkat
Trommel bertingkat ini lebih dikenal dengan Conical Trommel memiliki
bentuk potongan kerucut. Kemiringan pada ayakan jenis ini berkisar antara 0,75
in sampai 3 in setiap panjang 1 feet. Hal ini tergantung pada sifat material yang
akan diayak. Trommel jenis ini sangat cocok untuk mengayak partikel yang kasar.
Conical trommel mempunyai ayakan yang tersusun secara bertingkat.

Gambar 3.55 Trommel Bertingkat

3. Trommel Silinder Gabungan


Trommel silinder gabungan merupakan trommel yang terdiri dari dua
permukaan ayakan atau lebih yang konsentris pada poros yang sama.Semua
permukaan ayakan berbentuk silinder.Permukaan ayakan dengan lubang paling
kasar terletak di silinder bagian dalam dan semakin ke luar lubang ayakan makin
halus. Material yang kasar keluar dari silinder ke dua ke penampung IV. Material
yang agak kasar dan halus menjadi umpan diayakan ketiga pada silinder terluar.
Material halus dari ayakan ketiga langsung melewati lubang ayakan ke
penampung IV, sedangkan material yang agak kasar keluar dari silinder terluar ke
penampung V.

101
Gambar 3.56 Trommel Silinder Gabungan

c. Shaking Screen
Ayakan ini mempunyai bingkai berbentuk segi empat, yang digerakkan
maju mundur. Keuntungan dari ayakan ini adalah hemat tempat dan kebutuhan
tenaganya rendah. Kerugian ayakan jenis ini ialah biaya perawatan yang tinggi
dan kapasitas ayakan rendah.

Gambar 3.57 Shaking Screen

III.8. Analisa Kualitas Batubara


Berikut adalah analisa-analisa yang dilakukan untuk mengetahui kualitas
batubara:

III.8.1. Proximate Analysis


Proximate analysis adalah rangkaian analisis yang terdiri dari inherent
moisture, total moisture, ash, volatile matter dan fixed carbon.

a. Inherent Moisture

Inherent moisture disebut juga bed moisture atau in-situ moisture adalah
moisture yang terkandung dalam batubara (dalam molekul batubara) di lapisan
bawah tanah. Untuk mensimulasi kondisi bawah tanah, yang mempunyai
kelembaban relatif 100%, sulit untuk dilakukan, sehingga untuk mengetahui
kandungan inherent moisture dilakukan pendekatan

102
Moisture holding capacity (ISO, BS dan AS) atau equilibrium moisture
(ASTM) adalah analisis untuk menentukan kandungan moisture tersebut. Hasil
pemeriksaan analisis ini, dari laboratorium ke laboratorium diharapkan konstan,
karena contoh sebelum dianalisis dikondisikan terhadap kondisi standar (suhu
30oC;kelembaban 96-97%). Kondisi contoh yang dianalisis sangat menentukan
hasil analisis, oleh karena itu contoh harus sesegar mungkin (tidak boleh
teroksidasi).

b. Total Moisture

Total moisture (TM) adalah moisture yang terkandung dalam contoh


batubara yang diterima di laboratorium, yang menggambarkan kandungan
moisture sumber batubara yang diambil contohnya tersebut.

Salah satu penetapannya adalah dengan metode two-stage determination.


Dalam metode ini penetapan dilakukan dengan dua analisis yang berkaitan.
Pertama dilakukan dengan analisis free moisture kemudian dilanjutkan dengan
analisis residual moisture.

Dalam ISO, BS, dan AS : Free moisture adalah istilah yang digunakan untuk
menggambarkan persen jumlah air yang menguap dari contoh batubara yang
dikeringkan pada kondisi ruangan (suhu dan kelembaban ruangan) yang kadang-
kadang dibantu dengan hembusan kipas angin. Pengeringan dilakukan sampai
mendapat berat konstan. Residual moisture adalah jumlah persen moisture yang
terkandung pada contoh batubara yang sebelumnya telah dikeringkan (air dried),
baik itu contoh yang telah dihaluskan sampai ukuran partikel 212/250 micron
(untuk general analysis), maupun contoh yang telah digiling sampai ukuran yang
lebih kasar, seperti 0.250, 0.850, 2.36, dan 3.00mm.
Hasil analisis free moisture dan residual moisture kemudian dihitung untuk
mendapatkan total moisturenya dengan rumus TM = FM + RM*(1-FM/100).

c. Ash

103
Ash (A) adalah residu anorganik hasil pembakaran batubara, terdiri dari
oksida logam seperti Fe2O3, MgO, Na2O, K2O, dsb, dan oksida non-logam seperti
SiO2, P2O5, dsb.
Nilai kandungan ash suatu batubara selalu lebih kecil daripada nilai kandungan
mineralnya. Hal ini terjadi karena selama pembakaran telah terjadi perubahan
kimiawi pada batubara tersebut, seperti menguapnya air kristal, karbondioksida
dan oksida sulfur.

d. Volatile Matter

Apabila 1 gram contoh contoh batubara dipanaskan pada kondisi standar


tertentu (suhu 900oC, selama 7 menit dalam furnace khusus) maka akan ada
bagian yang terbakar dan menguap. Bagian yang terbakar dan menguap tersebut
ialah volatile matter (VM) dan moisture. Untuk mendapatkan nilai %VM, persen
bagian yang terbakar dan menguap tersebut dikurangi %moisture. Analisis ini
merupakan bagian dari penetapan proximate.

e. Fixed Carbon
Fixed carbon adalah nilai total kandungan unsur carbon dalam suatu
contoh batubara. Fixed carbon (FC) merupakan bagian dari analisis proximate.
Nilai FC tidak didapat melalui analisis tetapi melalui perhitungan (FC = 100 M
A VM)

104
III.9. Perencanaan Reklamasi

Hal-hal yang harus diperhatikan di


dalam perencanaan reklamasi adalah
sebagai berikut:

a. Mempersiapkan rencana reklamasi


sebelum pelaksanaan
penambangan

b. Luas areal yang direklamasi sama dengan luar areal penambangan

c. Memindahkan dan menempatkan tanah pucuk pada tempat tertentu dan


mengatur sedemikian rupa untuk keperluan vegetasi

d. Mengembalikan/memperbaiki kandungan (kadar) bahan beracun sampai


tingkat yang aman sebelum dapat dibuang ke suatu tempat pembuangan.

e. Mengembalikan lahan seperti keadaan semula dan/atau sesuai dengan


tujuan penggunaannya (peruntukkannya)

f. Memperkecil erosi selama dan setelah proses reklamasi

g. Memindahkan semua peralatan yang tidak digunakan lagi dalam aktivitas


penambangan

h. Permukaan yang padat harus digemburkan, namun bila tidak dimungkinkan


agar ditanami dengan tanaman pionir yang akarnya mampu menembus
tanah yang keras
i. Setelah penambangan maka lahan bekas tambang yang diperuntukkan bagi
vegetasi, segera dilakukan penanaman kembali dengan jenis tanaman yang
sesuai.

j. Mencegah masuknya hama dan gulma berbahaya, dan

k. Memantau dan mengelola areal reklamasi sesuai dengan kondisi yang


diharapkan. Perencanaan reklamasi harus mengacu kepada Rencana
Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan
(RPL), atau Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan
Lingkungan (UPL).

III.9.1. Pemerian Lahan

Pemerian lahan pertambangan merupakan hal yang penting untuk


merencanakan jenis perlakuan dalam kegiatan reklamasi. Jenis perlakuan
reklamasi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu;

1. Kondisi iklim

2. Geologi

3. Jenis tanah

4. Bentuk alam/topografi

5. Air permukaan dan air tanah


6. Flora dan fauna

7. Penggunaan lahan

8. Tata ruang dan lain-lain

III.9.2. Pemetaan

Rencana tapak reklamasi tersebut dilengkapi dengan peta-peta skala 1 : 1.000


atau skala lainnya yang disetujui, disertai gambar-gambar teknis bangunan
reklamasi. Selanjutnya peta tersebut dilengkapi dengan peta indeks dengan skala
yang memadai.

Di dalam peta digambarkan situasi pertambangan dan lingkungan misalnya


kemajuan penambangan, timbunan tanah penutup, timbunan tegak penyimpanan
sementara tanah pucuk, kolam pengendap, kolam tersediaan air, pemukiman,
sungai, jembatan, jalan, revegetasi dan sebagainya serta mencantumkan tanggal
situasi/pembuatannya.

III.9.3. Pelaksanaan Reklamasi dan Revegetasi


Kegiatan pelaksanaan reklamasi harus segera dimulai sesuai dengan rencana
tahunan pengelolaan lingkungan (RTKL) yang telah disetujui dan harus sudah
selesai pada waktu yang telah ditetapkan.

Pelaksanaan reklamasi lahan meliputi kegiatan sebagai berikut:

a) Persiapan lahan yang berupa pengamanan lahan bekas tambang, pengaturan


bentuk lahan (landscaping), pengaturan/penempatan bahan tambang kadar
rendah (low grade) yang belum dimanfaatkan

b) Pengendalian erosi dan sedimentasi


c) Pengelolaan tanah pucuk (top soil)

d) Revegetasi (penanaman kembali) dan/atau pemanfaatan lahan bekas


tambang untuk tujuan lain
a. Persiapan Lahan

1) Pengamanan Lahan Bekas Tambang Kegiatan ini meliputi.

a. Pemindahan/pembersihan seluruh peralatan dan prasarana yang tidak


digunakan di lahan yang akan direklamasi

b. Perencanaan secara tepat lokasi pembuangan sampah/limbah beracun dan


berbahaya (B-3) dengan perlakuan khusus agar tidak mencemari
lingkungan.

c. Pembuangan atau penguburan potongan beton dan scrap pada tempat


khusus

d. Penutupan lubang bukaan tambang dalam secara aman dan permanen

e. Melarang atau menutup jalan masuk ke lahan bekas tambang yang akan
direklamasi

2) Pengaturan Bentuk Lahan

Pengaturan bentuk lahan disesuaikan dengan kondisi topografi dan


hidrologi setempat. Kegiatan ini meliputi:

a. Pengaturan bentuk lereng

1. Pengaturan bentuk lereng dimaksudkan untuk mengurangi kecepatan


air limpasan (run off); erosi dan sedimentasi serta longsoran
2. Lereng jangan terlalu tinggi atau terjal dan dibentuk berteras-teras

b. Pengaturan saluran pembuangan air (SPA)

1. Pengaturan saluran pembuangan air (SPA) dimaksud untuk pengatur


air agar mengalir pada tempat tertentu dan dapat mengurangi
kerusakan lahan akibat erosi.

2. Jumlah/kerapatan dan bentuk SPA tergantung dari bentuk lahan


(topografi) dan luas areal yang direklamasi.

3. Pengaturan/Penempatan Low Grade

Maksud pengaturan dan penempatan low grade (bahan tambang kadar rendah)
adalah agar bahan tambang tersebut tidak tererosi/hilang apabila ditimbun dalam
waktu yang lama karena belum dapat dimanfaatkan.
b. Pengendalian Erosi Dan Sedimentasi
Pengendalian erosi merupakan hal yang mutlak dilakukan selama kegiatan
penambangan dan setelah penambangan. Erosi dapat mengakibatkan
berkurangnya kesuburan tanah, terjadinya endapan lumpur dan sedimentasi di alur
sungai.
Beberapa cara untuk mengendalikan erosi dan air limpasan adalah sebagaia
berikut:
1. Meminimasikan areal terganggu dengan:
a. membuat rencana detail kegiatan penambangan dan reklamasi
b. membuat batas-batas yang jelas areal tahapan penambangan
c. penebangan pohon sebatas areal yang akan dilakukan penambangan
d. pengawasan yang ketat pada pelaksanaan penebangan pepohonan
2. Membatasi/mengurangi kecepatan air limpasan dengan:
a. pembuatan teras-teras
b. pembuatan saluran diversi (pengelak)
c. pembuatan SPA
d. dam pengendali
e chek dam
3. Meningkatkan infiltrasi (persesapan air tanah)
a. dengan pengaturan tanah searah kontur
b. akibat penggaruan, tanah menjadi gembur dan volume tanah meningkat
sebagai media perakaran tanah
c. pembuatan lubang-lubang tanaman, pendangiran, dll

4. Pengelolaan air yang keluar dari lokasi pertambangan


a. penyaluran air dari lokasi tambang ke perairan umum harus sesuai
dengan peraturan yang berlaku dan harus didalam wilayah Kuasa
Pertambangan, Izin Usaha Pertambangan (IUP)
b. membuat bendungan sedimen untuk menampung air yang banyak
mengandung sedimen
c. bila curah hujan tinggi perlu dibuat bendungan yang kuat dan permanen
yang dilengkapi dengan saluran pengelak
d. letak bendungan ditempatkan sedemikian sehingga aliran air mudah
ditampung dan dibelokan serta kemiringan saluran air (SPA) jangan
terlalu curam
e. bila endapan sedimen telah mencapai setengah dari badan bendungan
sebaiknya sedimen di keruk dan dapat dipakai sebagai lapisan tanah
atas.
f. dalam membuat bendungan permanen harus dilengkapi dengan saluran
pelimpah (spilways) untuk menangani keadaan darurat dan saluran
pembuangan (decant, syphon), dan lain yang dianggap perlu
g. kurangi kecepatan aliran permukaan dengan membuat teras, sheck dam
dari beton,
batu, kayu atau dalam bentuk lain.
Pengendalian erosi selengkapnya supaya mengacu kepada pedoman teknis
yang telah ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pertambangan Umum melalui Surat
Keputusan No. 693.K/008/DDJP/1996 tentang pedoman Teknis Pengendalian
Erosi Pada Kegiatan Pertambangan Umum.

c. Pengelolaan Tanah Pucuk


Maksud dari pengelolaan ini untuk mengatur dan memisahkan tanah pucuk
dengan lapisan tanah lain. Hal ini karena tanah pucuk merupakan media tumbuh
bagi tanaman dan merupakan salah satu faktor penting untuk keberhasilan
pertumbuhan tanaman pada kegiatan reklamasi.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan tanah pucuk adalah:
a. Pengamatan profil tanah dan identifikasi perlapisan tanah tersebut
sampai dengan bahan galian
b. Pengupasan tanah berdasarkan atas lapisan-lapisan tanah dan
ditempatkan pada tempat tertentu sesuai tingkat lapisannya dan timbunan
tanah pucuk tidak melebihi dari 2 meter
c. Pembentukan lahan sesuai dengan susunan lapisan tanah semula dengan
tanah pucuk ditempatkan paling atas dengan ketebalan minimum 0,15 m
d. Ketebalan timbunan tanah pucuk pada tanah yang mengandung racun
dianjurkan lebih tebal dari yang tidak beracun atau dilakukan perlakuan
khusus dengan cara mengisolasi dan meisahkannya
e. Pengupasan tanah sebaiknya jangan dilakukan dalam keadaan basah
untuk menghindari pemadatan dan rusaknya struktur tanah
1. Bila lapisan tanah pucuk tipis (terbatas/sedikit)
perlu dipertimbangkan:
a. penentuan daerah prioritas yaitu daerah yang
sangat peka terhadap erosi sehingga perlu penanganan konservasi tanah
dan pertumbuhan tanaman dengan segera
b. penempatan tanah pucuk pada jalur
penanaman (jenis tanah yang peka terhadap erosi)
c. jumlah tanah pucuk yang terbatas (sangat
tipis) dapat dicampur dengan tanah bawah (sub soil)
d. dilakukan penanaman langsung dengan
tanaman penutup (cover crop) yang cepat tumbuh dan menutup
permukaan tanah
2. Yang perlu dihindari dalam memanfaatkan tanah pucuk adalah apabila:
a. sangat berpasir (70% pasir atau kerikil)

b. sangat berlempung (60% lempung)

c. mempunyai pH < 5.00 atau > 8.00

d. mengandung khlorida > 3% dan

e. mempunyai electrical conductivity (ec) > 400 milisimens/meter

d. Revegetasi

Revegetasi dilakukan melalui tahapan kegiatan penyusunan rancangan teknis


tanaman, persiapan lapangan, pengadaan bibit/persemaian, pelaksanaan
penanaman dan pemeliharaan tanaman.

1. Penyusunan Rancangan
Teknis Tanaman
Rancangan teknis tanaman adalah rencana detail kegiatan revegetasi yang
menggambarkan kondisi lokal, jenis tanaman yang akan ditanam, uraian jenis
pekerjaan, kebutuhan bahan dan alat, kebutuhan tenaga kerja, kebutuhan biaya
dan tata waktu pelaksanaan kegiatan.
Rancangan tersebut disusun berdasarkan hasil analisis kondisi biofisik dan
sosial ekonomi setempat. Kondisi biofisik meliputi topografi atau bentuk lahan,
iklim, hidrologi, kondisi vegetasi awal dan vegetasi asli. Sedangkan data sosial
ekonomi yang perlu mendapat perhatian antara lain demografi, sarana, prasarana
dan aksesibilitas yang ada.

2. Persiapan Lapangan
Pada umunya persiapan lapangan meliputi pekerjaan pembersihan lahan,
pengolahan tanah dan kegiatan perbaikan tanah. pembersihan lahan.
Kegiatan pembersihan lahan merupakan salah satu penentuan dalam
persiapan lapangan. Kegiatan ini antara lain : pembersihan lahan dari tanaman
penganggu (alang-alang, liliana, dll) dengan tujuan agar tanaman pokok dapat
tumbuh baik tanpa ada persaingan dengan tanaman penganggu dalam hal
mendapatkan unsur hara, sinar matahari, dll.
a. Pengolahan tanah
Tanah diolah supaya gembur agar perakaran tanaman dapat dengan mudah
menembus tanah dan mendapat unsur hara yang diperlukan dengan baik,
diharapkan pertumbuhan tanaman sesuai dengan yang diinginkan

b. perbaikan tanah
Kualitas tanah yang kurang bagus bagi pertumbuhan tanaman perlu
mendapat perhatian khusus melalui perbaikan tanah seperti penggunaan
gypsum, kapur, mulsa, pupuk (organik maupun an-organik). Dengan
perlakuan tersebut diharapkan dapat memperbaiki persyaratan tumbuh
tanaman.

1) Penggunaan Gypsum
a. Gypsum digunakan untuk memperbaiki kondisi tanah yang
mengandung banyak lempung dan untuk mengurangi
pembentukan kerak tanah (crushing) pada tanah padat (hard-
setting soil).
b. Bila lapisan tanah bagian bawah (sub soil) yang diperbaiki, maka
perlu dibuat alur garukan yang dalam agar gypsum dapat diserap.
Jika tanah kerak yang diperbaiki sebarkan gypsum pada lapisan
permukaan saja.
c. Penggunaan gypsum sebanyak 5 ton/ha biasanya cukup untuk
memperbaiki tanah kerak. Penggunaan 110 ton/ha diperlukan
untuk mengolah lapisan tanah bagian bawah yang bersifat
lempung
Pengolahan biasanya dilakukan sekali saja. Pengaruh pengolahan
tanah dengan gypsum akan tahan selama beberapa tahun, pada
saat mana tumbuh-tumbuhan sudah mempu menghasilkan bahan-
bahan organik yang membetikan dampak positif bagi
pertumbuhannya.

2. Penggunaan kapur
a. Kapur digunakan khususnya untuk mengatyur pH akan tetapi
dapat juga memperbaiki struktur tanah
b. Pengaturan pH dapat merangsang tersedianya zat hara untuk
tanaman dan mengurangi zat-zat racun
c. Kapur biasanya digunakan dalam bentuk tepung batu hamping,
kapur dolomit, Kapur tohor (hydrated lime) jarang digunakan
d. Kapur atau batu gamping giling kasar (coarsely crushed) dan
kapu dolomit mempunyai daya kerja yang lebih lambat akan
tetapi pengaruhnya dalam menetralisir pH lebih lama
dibandingkan dengan kapur tohor
e. Penggunaan gamping secara bertahap mungkin diperlukan jika
kesinambungan kenaikan pH dibutuhkan
f. Kapur tohor akan berpengaruh menurunkan kemampuan jenis
pupuk yang mengsndung nitrogen. Karena itu penggunaannya
harus terpisah
g. Tingkat penyesuaian pH akan bergantung dari tingkat keasaman,
jenis tanah dan kualitas batu gamping. Sebagai contoh,
penggunaan kapur sebanyak 2,5 3,5 ton/ha per tahun yang
memiliki pH > 5,0 akan menaikkan pH lebih dari 0,5.
3. Penggunaan Mulsa, Jerami dan Bahan Organik lainnya
a. Mulsa adalah bahan yang disebarkan dipermukaan tanah sebagai
upaya perbaikan kondisi tanah. Tanaman penutup berumur pendek
dapat juga digunakan sebagai mulsa
b. Mulsa berfungsi mengendalikan erosi, mempertahankan
kelembaban tanah dan mengatur suhu permukaan tanah
c. Pada umumnya penggunaan mulsa hanya terbatas pada lokasi
yang memerlukan revegetasi cepat dan memerlukan perlindungan
pada tempat-tempat tertentu (seperti tanggul) atau jika akan
diperlukan perbaikan tanah atau media
d. Jerami jenis batang padi umumnya digunakan sebagai mulsa
untuk lokasi yang luas. Tingkat penggunaan bervariasi antara 2,5
5,0 ton/ha

e. Berbagai jenis bahan-bahan organik atau limbah pertanian dapat


digunakan sebagai mulsa yang penggunaannya tergantung dari
ketersediaan dan harganya. Bahan-bahan yang baik digunakan
sebagai mulsa, antara lain tumbuh-tumbuhan yang tergusur pada
waktu pengupasan tanah, potongan-potongan kayu dan serbuk
gergaji limbah pabrik pengolahan dan penggergajian kyu, ampas
pabrik gula tebu dan berbagai kulit jenis kacang-kacangan
f. Nitrogen mungkin perlu ditambahkan untuk memenuhi
kekurangan nitrogen yang terjadi pada saat mulsa segar mulai
membusuk/terurai
g. Penyebaran mulsa secara mekanis dapat menggunakan alat
pertanian biasa (misalnya penyebaran pupuk kandang) atau
dengan alat khusus. Alat khusus penyebar mulsa digunakan untuk
penyebaran bahan mulsa (biasanya jerami atau batang padi) yang
dicampur dengan biji tumbuhan

4. Pupuk
a. Persyaratan penggunaan pupuk akan sangat bervariasi sesuai
dengan kondisi dan maksud peruntukan lahan sesudah selesai
penambangannya.
b. Meskipun jenis tumbuhan asli beradaptasi dengan tingkat nutrisi
yang rendah namun dengan pemberian pupuk yang cukup dapat
meningkatkan pertumbuhannya
c. Reaksi dari tiap tumbuhan bervaeriasi, anggota dari rumpun
proteaseae sensitif terhadap peningkatan kandungan fosfor dan
kemungkinan menimbulkan efek yang kurang baik
d. Pupuk organik (lumpur kotoran, pupuk alami atau kompos, darah
dan tulang dan sebagainya) umumnya bermanfaat sebagai
pengubah siofat tanah
e. Jenis, dosis dan waktu pemberian pupuk anorganik sebaiknya
dilakukan sesuai dengan hasil analisis tanah
f. Pupuk anorganik komersial selalu mengandung satu atau lebih
nutrisi makro (yaitu nitrogen, fosfor, kalium). Selain itu juga
mengandung belerang, kalsium dan magnesium

g. Apabila terdapat tanda-tanda tumbuhan kekurangan unsur atau


keracunan, harus meminta saran dari ahli tanah
h. Waspada terhadap kemungkinan penggunaan pupuk yang
berlebihan yang dapat mengakibatkan pencemaran air khususnya
pada daerah tanah pasiran
i. Pemberian pupuk dalam bentuk butir atau tablet dapat dilakukan
pada jarak 1015 di bawah atau disebelah tiap lubang semaian
pada waktu penanaman. Harus dicegah kontak langsung antara
pupuk dengan akar semaian.
3. Pengadaan Bibit/Persemaian
Apabila melalui pengadaan bibit harus mengikuti ketentuan sebagai berikut:
a. Pengadaan benih
Benih adalah tanaman atau bagian yang digunakan untuk memperbanyak
atau mengembangkan tanaman. Benih yang akan dipergunakan untuk keperluan
revegetasi diperoleh dengan cara mengumpulkan dari sumber benih yang ada atau
membeli dari perusahaan pengada/pengedar yang telah ditunjuk secara resmi.
Hal yang dipertimbangkan dalam mengumpulkan benih/biji antara lain:
1. Menentukan daerah pengumpulan dan spesies yang diinginkan sebelum
bijih tersebut matang
2. Menghindarkan buah yang menunjukkan adanya tanda serangan serangga
atau gangguan jamur
3. Mengumpulkan biji yang sudah matang saja, antara lain:
a. Kelompok biji yang berkulit keras (contoh casurinas, eucaliptus dan
lain-lain) menunjukkan kematangan bila warnanya sudah berubah hijau
kecoklatan
b. Kelpompok buah yang berdaging seperti mangga menjadi lebih lunak
dan berubah warna bila sudah matang
c. Polong (akasia dan tumbuhan polong lainnya) berubah warna dari hijau
ke coklat, jadi rapuh dan biji (khususnya akasia) akan menjadi hitam
dan mengkilat.

4. Hindarkan penempatan biji atau kelompok biji di dalam kantong plastik,


gunakan kantong kain atau kertas

Apabila membeli biji perlu diperhatikan:


1. Penjual biji yang mempunyai reputasi baik/penyalur resmi

2. Biji komersial dan yang dibeli harus terbungkus dalam kemasan berlabel
sehingga terjamin tingkat perkembangannya dan jelas asal serta tanggal
pengambilan biji.
Penyimpanan bijih dilakukan dengan cara:
1. Memberikan tanda pengenal secara jelas dengan mencantumkan jenis biji,
tanggal pengumpulan, lokasi dan sebagainya
2. Simpan biji di dalam wadah kering, bebas serangga dan kutu serta bubuhi
dengan serbuk anti jamur dan serangga
3. Bijih disimpan temperatus di bawah 200C dengan kelembaban yang
rendah. Biji tumbuhan tropis mungkin mati pada temperatus di bawah 100C
a. Pembuatan persemaian
1. Pemilihan lokasi persemaian
Lokasi persemaian yang dipilih harus memenuhi persyaratan yaitu
ada/dekat dengan sumber air, tanahnya datar dan mudah dicapai serta
cukup mendapat cahaya matahari. Kondisi ekologisnya mendekati
calon areal penanaman.

2. Tahap dan Kegiatan Pembuatan persemaian


a. Perlakuan pendahuluan
Untuk benih yang mempunyai umur panjang (benih ortodok)
perlu diberi perlakuabn khusus sebelum disemaikan
b. Penaburan benih
Benih yang berukuran harus sebelum ditabur terlebih dicampur
dengan pasir halus, tanah halus atau gambut yang telah
dihancurkan sedangkan benih yang berukuran lebih besar dapat
ditabur langsung di bedeng tabur atau dalam kantong semai.

c. Penyapihan
Penyapihan dilakukan untuk memindahkan bibit siap sapih dari
bak perkecambahan ke dalam pot yang telah diisi media sapih dan
dilaksanakan di rumah pertumbuhan

d. Pemeliharaan bibit
Untuk memperoleh bibit yang baik perlu dilakukan penyiraman,
pemupukan, penyulaman, penyiangan rumput, pemotongan akar
serta pemberantasan hama dan penyakit.
e. Pemanenan dan Pengangkutan Bibit
Bibit yang dipanen adalah bibit yang telah memenuhi persyaratan:
- pertumbuhan normal (batang lurus, daun lebar/hijau dan telah
mencapai tinggi minimum 20 cm)
- Kaya perakaran dan telah membentuk gumpalan dengan media
pertumbuhannya.
- Tidak terserang hama dan penyakit
Pengangkutan bibit dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
Dengan mengangkut beserta potnya ke lapangan

Bibit berikut gumpalan medianya di lepas dari pot lalu


dimasukkan ke dalam kantong plastik.

4. Pelaksanaan penanaman

Tahapan pelaksanaan penanaman meliputi pengaturan arah larikan tanaman,


pemasangan ajir, distribusi bibit, pembuatan lubang tanam dan penananam.
a. Pengaturan arah larikan
Arah larikan tanaman biasanya sejajar kontur atau pada daerah relatif
datar mengikuti arah timur-Barat
b. Pemasangan ajir
Pemasangan ajir mengikuti arah larikan tanaman. Pemasangan ajir
tanaman mengikuti jarak tanam yang telah ditetapkan pada rancangan
tanaman, dan biasanya jarak tanaman yang digunakan (2 x 3) m.
c. Distribusi bibit
Distribusi bibit dilakukan setelah kegiatan pembuatan lubang tanam
atau dilakukan setelah pemasangan ajir
d. Pembuatan lubang dan penanaman tanaman
Lubang tanaman dibuat dengan ukuran 30 cm x 30 cm x 30 cm,
sedangkan teknik penanamannya dengan terlebih dahulu melepas plastik
(pot/pollybag) pada bibit yang tersedia.
Penanaman harus dilakukan dan selesai pada sore hari. Tanaman bibit
secara tegak lurus dan cukup padat, untuk memastikan tekan dengan
kaki pada sekitar tanaman.
5. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman pada tahun pertama yang dilakukan yaitu kegiatan :
penyulaman, pengendalian gulma, penyiangan, pendangiran dan
pemupukan. Sedangkan pada tahun kedua dilakukan penyiangan,
pengendalian gulma, pendangiran dan pemupukan.
a. Penyulaman
Penyulaman dilakukan pada tanaman yang mati atau rusak, tidak
sehat/merana untuk memperoleh prosentase tumbuh tanaman > 95% dan
harus dilakukan 15 30 hari sesudah penanaman.
b. Pengendalian gulma
pengendalian gulma bertujuan untuk mengurangi/memperkecil
persaingan akar antara tanaman pokok dengan tanaman penganggu.
c. Pemupukan
Pemupukan dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan tanaman dan
peningkatan riap. Dalam menentukan jenis, dosis dan waktu
pemupukan perlu dipertimbangkan jenis tanaman dan kesuburan
tanahnya serta terlebih dahulu dilakukan analisa tanah.
d. Pengendalian hama dan penyakit
1. pengendalian hama dan penyakit tanaman secara kimiawi hanya
dapat dilakukan pada keadaan yang sangat mendesak yang
cenderung menggagalkan rehabilitasi hutan secara keseluruhan.
2. pengendalian tersebut dilakukan dengan mengikuti petunjuk
penggunaan/perlakuan secara tepat dan benar
3. pengendalian hama dan penyakit secara kimiawi tidak dibenarkan
pada kawasan pelestarian alam dan suaka alam.
4. pencegahan terhadap kebakaran dan pengembalaan liar.
a. Kebakaran hutan dapat menjadi ancaman serius bagi
pertumbuhan tegakan, produktivitas dan kualitas tanaman.
b. Keberapa usaha pencegahan terhadap kebakaran yang dapat
dilakukan antara lain: pembersihan lahan dari bahan yang mudah
terbakar, memilih jenis tanaman yang tahan kebakaran dan
memberikan penerangan/penyuluhan

III.10. Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3)

III.10.1. Pengertian Dasar K3


Secara garis besar Pengertian dan Tujuan dari Keselamatan & Kesehatan
Kerja adalah Suatu Ilmu Pengetahuan dan Penerapannya dalam upaya mencegah
terjadinya Kecelakaan, Kebakaran, Peledakan, Pencemaran, Penyakit akibat kerja
dll yang dapat mengakibatkan kerugian yang lebih besar, misal berhentinya proses
produksi ataupun rusaknya alat-alat produksi.
III.10.2. Prinsip dasar, Tujuan & Pentingnya K3
1. Setiap pekerjaan dapat dilakukan dengan selamat tanpa harus ada korban.
2. Setiap kecelakaan terjadi karena ada penyebabnya, antara lain yaitu
Manusia dan Kelayakan dari peralatan yang digunakan.
3. Setiap penyebab kecelakaan dapat ditiadakan/dihindari.

III.10.3. Tujuan dari Keselamatan & Kesehatan Kerja


1. Mencegah terjadinya kecelakaan kerja pada karyawan / pekerja
2. Mencegah terjadinya kerusakan , kerugian pada alat/material/produksi
3. Memberikan lingkungan kerja yang aman dan nyaman sehingga tidak
terjadi kecelakaan kerja, caranya dengan melakukan pengawasan terhadap
4M

Manusi tida ad
Pengawasa a
Mesin k
cider a
LINGKUNGAN
n 4M
Thd Materia a
lMeod KERJA AMAN
tida ad
e k a /
kerusaka
n
kerugian

Gambar 3. 58. Bagan alur pengawasan terhadap 4 M

III.10.4. Arti Pentingnya K 3 bagi pekerja / karyawan / perusahaan

1. Menyelamatkan karyawan dari sakit, kesedihan, kehilangan masa depan, gaji /


nafkah.
2. Menyelamatkan keluarga dari kesedihan, masa depan yang tidak menentu,
kehilangan pendapatan.
3. Menyelamatkan perusahaan dari kehilangan tenaga kerja, pengeluaran biaya
akibat kecelakaan, kehilangan waktu karena terhenti kegiatan, mencari
karyawan pengganti akibat kecelakaan dan terhentinya produksi.
a. Kesehatan Kerja
Hal yang harus dilakukan & diwaspadai dalam melakukan Kesehatan Kerja :
1. Pemeriksaan Kesehatan Karyawan

a. Pekerja baru (kondisi awal kesehatan)

b. Pekerja lama (memantau kesehatan)


- 1 th sekali tambang di permukaan
- 6 bulan sekali tambang underground

2. Lingkungan Tempat Kerja


a. Debu : mengganggu saluran pernafasan (sikosis, asbetosis, antracosis)
b. Bising : mengganggu fungsi pendengaran
c. Pencahayaan : mengganggu daya penglihatan
d. Getaran : mengganggu fungsi persendian
e. Gas-gas beracun/berbahaya yang bisa langsung mematikan manusia
3. Ergonomi :
a. tempat duduk
b. alat kerja
c. dimensi tempat kerja

b. Faktor yang mempengaruhi Kesehatan Kerja :

1. Beban kerja
Fisik
Mental
Ergonomi

2. Lingkungan Kerja
Fisik
Biologi
Psikologi

3. Kapasitas Kerja
Ketrampilan
Kesegaran Jasmani & Rohani
Usia
Jenis Kelamin
Ukuran Tubuh

III.10.5. Program Pembinaan K-3

Untuk mencegah terjadinya Kecelakaan, maka perlu dilakukan Program


Pembinaan K3 terhadap seluruh karyawan, adapun usaha yang dapat dilakukan
dalam pembinaan K3 tersebut adalah :

a. Perayaan bulan K3, dimana isi perayaan


dapat berupa :
ceramah-ceramah K3
pemasangan poster-poster K3 & pemutaran slide / film K3

b. Safety Talk (Toolbox Meeting)


Dilakukan setiap awal gilir kerja/shift, tujuannya untuk mengingatkan K3
kepada karyawan sebelum melakukan pekerjaan

c. Safety Training ( Pendidikan & Pelatihan )


Pelatihan penggunaan peralatan kesl. Kerja
Pelatihan pemadam kebakaran
Pelatihan pengendalian keadaan darurat
Pelatihan P3K dll sesuai dengan Kep Men No. 555.K/26/M.PE/1995
pasal 28 dimana Kepala Teknik Tambang berkewajiban untuk
mengadakan Pendidikan & Pelatihan baik secara Inhouse maupun
kerjasama dengan instansi lain yang berkompeten dalam hal K3.
d. Safety Inspektion

Inspeksi rutin
Inspeksi berkala
Inspeksi K3 bersama, dll
e. Safety Investigasi
Investigasi terhadap kejadian berbahaya/hampir kecelakaan
f. Safety Meeting
Suatu pertemuan yang membahas hal-hal yg berkaitan dgn permasalahan
K3
g. Safety audit
h. Pemantauan Lingkungan Kondisi Kerja
i. Penyedian Alat-Alat Perlengkapan K3
Alat Pelindung Diri
Alat Perlengkapan K3

III.10.6. Kecelakaaan
Adalah suatu kejadian yang antara lain :

Tidak direncanakan
Tidak diinginkan
Tidak diduga
Terjadi kapan saja
Dimana saja
Menimpa siapa saja
Dalam hal ini akan dibahas mengenai Kecelakaan Tambang, yaitu kecelakaan
yang harus memenuhi 5 aspek./kriteria sesuai dengan Keputusan Menteri
Pertambangan dan Energi No.555.K/26/M.PE/1995.

a. Kriteria Kecelakaan Tambang


Ada 5 kriteria yang harus dipenuhi adalah :
Kecelakaan benar terjadi.
Artinya tidak ada unsur kesengajaan dari pihak lain ataupun dari si korban
sendiri.
Menimpa Karyawan Perusahaan.
Yang mengalami kecelakaan adalah benar-benar karyawan yang bekerja pada
perusahaan tambang tersebut, baik dari owner maupun kontraktor/subkon atau
orang yang diberi ijin u/ bekerja diwilayah tambang tersebut.

Akibat dari suatu kegiatan yang berhubungan dengan pertambangan


Bahwa kecelakaan tersebut benar-benar akibat adanya suatu aktifitas dari
perusahaan tambang.
Terjadi pada jam kerja
Kecelakaan tersebut terjadi dalam waktu antara mulai kerja sampai akhir kerja.
Terjadi didalam wilayah kegiatan usaha pertambangan / proyek
Kecelakaan terjadi masih didalam wilayah yang dimaksud.

Bila salah satu kriteria diatas tidak terpenuhi maka kecelakaan yang terjadi
dapat dikategorikan sebagai BUKAN Kecelakaan Tambang.

Kecelakaan dapat terjadi karena beberapa hal, adapun jenis-jenis dari


Kecelakaan tersebut antara lain meliputi :
Terjatuh/tergelincir
Terpukul
Terbentur
Terjepit
Terkena aliran listrik
Kemasukan benda
dll

b. Klasifikasi Kecelakaan Tambang


Sesuai KEP.MEN No.555.K/26/M.PE/1995 Kecelakaan Tambang dibagi
menjadi 3 :

1. Luka Ringan,
Apabila si Korban lebih dari 24 jam tetapi kurang dari 3 minggu sudah
dapat bekerja kembali.
2. Luka Berat,
Apabila si Korban lebih dari 3 minggu baru dapat bekerja kembali, atau si
korban mengalami luka sebagai berikut :
- Fracture ( Patah terbuka, Patah tertutup )
- Dislokasi Tulang
- Luka bagian dalam
- Cacat seumur hidup / tetap, sehingga tidak dapat bekerja seperti semula
- Pendarahan didalam atau pingsan karena kekurangan oksigen.
3. Mati,
Apabila si korban dalam waktu tidak lebih dari 24 jam setelah kecelakaan
meninggal dunia dan dibuktikan dengan hasil visum. Status meninggal
tidak harus dilokasi kejadian tapi dapat pula setelah mengalami tindakan
pertolongan.

Bila terjadi kecelakaan tambang yang berakibat cidera berat atau mati
maka Kepala Teknik Tambang (KTT) harus segera memberitahukan kepada
Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang (KAPIT) dan KTT segera membentuk tim
investigasi untuk mengetahui penyebab dan dilaporkan ke KAPIT.
c. Penyebab Kecelakaan
Suatu kecelakaan tidak timbul dengan sendirinya, selalu ada penyebabnya,
menurut Teori H.W. Heinrich selalu ada penyebab dari terjadinya suatu
kecelakaan, adapun penyebab tersebut antara lain sebagai berikut :
1. Tindakan karyawan yang Tidak Aman / Unsafe Act ( 88% )
Dapat disebabkan oleh :
a. Tanggung jawab pengawas masih kurang
- Instruksi tidak diberikan
- Instruksi yang tidak lengkap
- Alat Pelindung diri tidak disediakan
- Pengawas tidak memberikan petunjuk / diam saja melihat sesuatu
yang tidak benar.
b. Tindakan / Kelakuan Karyawan
- Tergesa-gesa / ingin cepat selesai
- Bekerja sambil bergurau
- Alat pelindung diri yang tersedia tidak dipakai
- Tidak mengerti Instruksi dan tidak ingin bertanya
- Kurang Pengalaman
- Tidak mengindahkan Peraturan dan Instruksi.

2. Kondisi Kerja yang Tidak Aman ( 10% )


Penyebabnya dapat dikarenakan beberapa hal :
a. Alat-alat / perlengkapan atau benda-benda yang tidak aman.
- Mesin atau perlengkapan yang tidak dilindungi.
- Alat-alat yang sudah rusak
- Barang-barany yang sudah rusak dan letaknya tidak teratur.
b. Kondisi kerja yang tidak aman ( Keadaan Kerja Tidak Aman )
- Lantai / tempat kerja licin
- Ruang kerja sempit dan berantakan dengan barang-barang
- Tidak ada ventilasi udara / ruangan pengab kurang udara
- Kurangnya penerangan di lokasi kerja
- Daerah kerja berkabut / tidak terlihat.

3. Diluar Kemampuan Manusia / Act of God ( 2 % )


Penyebabnya diluar dari 2 kondisi diatas, lebih banyak karena factor yang
tidak bias diprediksikan, seperti :
- Tanah Longsor
- Banjir
- Kebakaran Hutan
d. Pendorong Kecelakaan
Adalah hal-hal yang menyebabkan atau memberikan kontribusi terhadap
timbulnya Tindakan Tidak Aman ( TTA ) & Kondisi Tidak Aman (KTA),
sering disebut juga dengan istilah Penyebab Dasar)
Sedangkan penyebab langsung dari kecelakaan, adalah karena :
- Tindakan Tidak Aman (TTA)
- Kondisi Tidak Aman (KTA)

Melakukan Tindakan tidak aman sendiri dapat disimpulkan menjadi 3 faktor


penyebab yaitu :

1. Karena Tidak Tahu


Yang bersangkutan menjalankan mesin dengan benar dan tidak tahu
bahaya-bahaya sehingga terjadi kecelakaan / yang bersangkutan tidak
mengetahui bagaimana melakukan pekerjaan.

2. Karena Tidak mampu


Yang bersangkutan sebenarnya telah mengetahui cara yang aman akan
tetapi karena belum atau kirang terampil, akhirnya melakukan kesalahan
sehingga menyebabkan kecelakaan.
3. Karena Tidak Mau

Walaupun yang bersangkutan telah mengetahui dengan jelas cara


kerja atau peraturan dan yang bersangkutan dapat melaksanakan, tetapi karena
tidak punya kemauan akhirnya melakukan kesalahan yang mengakibatkan
kecelakaan.
Sesuai dengan Pasal 32 didalam Kepmen No 555.K/26M.PE/1995
dijelaskan bahwa Pekerja Tambang harus mematuhi dan wajib melaksanakan
pekerjaan sesuai dengan tata cara kerja yang aman, serta wajib untuk menjaga
keselamatan dirinya sendiri serta orang lain yang mungkin terkena
akibat/dampak dari perbuatannya.

Apabila terjadi kejadian berbahaya yang dapat membahayakan jiwa atau


terhalangnya produksi maka KTT wajib memberitahukan kepada KAPIT, dan
KTT harus melakukan tindakan pengamanan terhadap kejadian berbahaya
dimaksud.

III.10.7. Alat Pelindung Diri untuk K3


Peralatan pelindung untuk keselamatan kerja dapat terdiri dari ;

Alat Pelindung Diri, yaitu alat yang dibuat standart yang berfungsi untuk
memprotek / melindungi diri dan bagian tertentu. Alat Pelindung ini wajib
digunakan apabila kita bekerja dan memasuki area wajib alat pelindung diri
(APD). Penggunaan Alat Pelindung Diri harus disesuaikan dengan jenis dan
macam pekerjaannya
Alat / sarana yang dibuat sebagai pembantu untuk melindungi diri pada
saat bekerja. Alat ini dibuat dan digunakan sesuai kebutuhan kerja, biasanya
setiap perusahaan mempunyai design tersendiri dalam pembuatannya, tetapi tetap
mempunyai maksud yang sama, yaitu berfungsi sebagai tanda peringatan /
pengaman.
Tabel 3.5. Macam-macam Contoh Alat Pelindung Diri :
Macam & Jenis dari Alat Pelindung Diri banyak terdapat di pasaran dan
mengikuti perkembangan dari industri pertambangan. Alat Pelindung Diri ini
harus disesuaikan dengan Jenis Pekerjaannya sesuai ketetapan dalam Kep Men
No.555.K/26/M.PE/1995 Pasal 24, 32, 83 dan 89. Sebagai contoh untuk Alat
Pelindung Diri seperti Safety Shoes ( sepatu safety ) banyak corak dan ragamnya
sesuai peruntukannya, ada yang diperuntukkan untuk tempat kering, basah
maupun daerah berminyak / olie.

III.10.8. Alat Bantu Keselamatan


Disamping Alat Pelindung Diri seperti diatas juga dikenal Alat
Pembantu untuk Keselamatan Kerja. Alat ini berfungsi mulai dari memberi
peringatan / tanda sampai dengan mengatasi suatu kondisi tertentu.
Adapun contoh dari alat pembantu untuk keselamatan kerja adalah :

1. Tagging

Secara garis besar alat ini berfungsi sebagai Isolasi dengan cara
memberitahu kepada orang-orang yang berada disekitar lokasi tersebut bahwa
dilokasi tersebut / alat tersebut sedang dilakukan perbaikan atau sedang ada
kerusakan, sehingga diharapkan Tidak ada seorangpun yang berani untuk masuk /
menjalankan alat tersebut selain orang yang berkepentingan.
Alat Tagging dapat dibagi berdasarkan penggunaannya dalam 3 golongan,
yaitu :
- Personal Danger Tag
- Out of Service Tag
- Information Tag
Sedangkan bahan-bahan atau Alat yang biasa diisolasi adalah :
Contoh-contoh dan penggunaan Tagging :

a. Personal Danger Tag

M M
S S
M M
S S

TANDA BAHAYA PERSONAL


PRIBADI DANGER TAG

BAHAYA DANGER

TANDA BAHAYA INI THIS DANGER TAG


TIDAK BOLEH DILEPAS MUST NOT BE REMOVED
KECUALI OLEH ORANG YANG EXCEPT BY THE PERSON
NAMANYA TERCANTUM DIBAWAH INI WHOSE NAME APPEARS BELOW

Nama : .No. Pengenal : ... Nama : .No. Pengenal : ...


Pekerjaan : . Perusahaan : Pekerjaan : . Perusahaan :
Tanggal : Waktu : Tanggal : Waktu :

Gambar 3. 59. Contoh Papan Peringatan untuk karyawan

Tujuannya :
Untuk memberi informasi kepada personil bahwa orang yang tertulis
namanya pada Danger Tag sedang melakukan pekerjaan dimana lokasi
tersebut harus diisolasi (tidak boleh digunakan).

Siapa yang menggunakan Personil danger Tag :


Semua personil yang bermaksud melakukan pekerjaan yang bersifat
isolasi.

Dimana Personal danger Tag dipasang :


Dipasang ditempat pengontrolan isolasi, misalnya Lockout Station.

Bagaimana Personal Danger Tag tersebut digunakan :


Tag tersebut digunakan bersamaan dengan Personal Lock dan ditempatkan
pada titik isolasi.

b. Out of Service Tag

M M
S S
M M
S S

AWAS CAUTION

LABEL PERINGATAN INI HANYA


BOLEH DILEPAS OLEH : THIS CAUTION TAG SHALL ONLY
- SUPERVISOR AREA, BE REMOVED BY :
- ATAU SUPERVISOR YANG - AREA SUPERVISOR OR
BERTANGGUNG JAWAB - SUPERVISOR RESPONSIBLE
TERHADAP PERBAIKAN ATAU FOR REPAIR, OR
- ORANG YANG MENEMPELKAN - PERSON PLACING TAG
LABEL
Nama : ..................... Name : .....................
No. Pengenal : .......................... ID. No : .....................................
Waktu : Tanggal :.................... Time: Date :...........................
Perusahaan : ........... Employer : ...............
Peralatan : . Equip :
Alasan : ..... Reason :.....

Gambar 3. 60. Contoh Papan Peringatan terhadap alat yang rusak

APA Tujuannya :
Memberitahu semua personil bahwa instalasi atau alat tidak boleh
dioperasikan karena dapat mengakibatkan kecelakaan atau kerusakan lebih
lanjut pada instalasi atau unit tersebut.
SIAPA yang menggunakan :
Siapa saja yang menganggap bahwa instalasi atau alat rusak tersebut bila
digunakan dapat menimbulkan terjadinya kecelakaan atau kerusakan lebih
lanjut pada alat tersebut.
DIMANA alat Tag ini digunakan :
Digunakan / diletakkan ditempat yang mudah dilihat oleh setiap orang
yang mungkin mencoba menghidupkan, mengoperasikan atau mengakses
alat tersebut.

BAGAIMANA Tag tersebut digunakan :


Tag tersebut digunakan bila instalasi atau alat tersebut jika dioperasikan
dapat menimbulkan kecelakaan atau kerusakan lebih lanjut. Sebelum
Tagging ini dipasang harus dipastikan bahwa semua sumber arus / aliran
energi sudah diputus.
c. Information Tag

M
S
M
S

INFORMATION
TAG
TAG INI HANYA DIGUNAKAN
UNTUK PEMINDAHAN
ALAT BERGERAK

Nama : .
No. Pengenal : ...........
Pekerjaan :
Perusahaan :
Tanggal :
Waktu :

PESAN :
.
..

Gambar 3. 61. Contoh Papan Peringatan untuk pemindahan alat bergerak

APA Tujuan dari Tagging ini :


Untuk memberi informasi bahwa peralatan yang bergerak boleh
dipindahkan dengan mesin hidup untuk diperbaiki lebih lanjut di
workshop atau tempat yang aman.
KAPAN Informasi ini digunakan :
Digunakan ketika peralatan bergerak yang rusak akan dipindahkan dengan
mesin hidup.
SIAPA yang menggunakan :
Hanya boleh digunakan atau diisi oleh Supervisor / Personil Maintenance
yang ditunjuk.
BAGAIMANA Penggunaannya :
Supervisor / Personil maintenance tersebut harus mengkomunikasikannya
kepada Personil yang akan memindahkan alat tersebut.
Disamping Tagging masih terdapat jenis-jenis isolasi yang lain seperti
Personal Lock, Master seri Lock, Permite Lock maupun Visitor Lock.

d. Rambu Peringatan
Rambu ini berfungsi untuk memberi tahu siapa saja yang berada dilokasi
tersebut tentang kemungkinan adanya bahaya dan bagaimana seharusnya kita
mengambil sikap. Beberapa contoh dari rambu ini adalah pembatasan areal kerja /
lokasi, jarak aman seseorang terhadap alat yang sedang bekerja, kondisi daerah
tersebut seperti licin, berawa dan lain sebagainya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1. Eksplorasi

IV.1.1. Tahap Penyelidikan Umum

PT. MSJ melakukan penyelidikan umum untuk memperoleh informasi


seperti : Formasi batuan pembawa batubara, Umur formasi batuan, Geometri
endapan batubara, Kualitas, Infrastruktur (lihat gambar 4.1)

KORELASI SATUAN BATUAN


CORRELATION OF ROCKS UNITS

MASA ZAM AN KALA UMUR (J uta th.) ENDAPAN PERM UKAAN BATUAN SEDIM EN
ERA PERIOD EPOCH AGE (m.y ) SURFICIAL DEPOSITS SEDIM ENTARY ROCKS
RESEN
RECENT

QARTERNARY
QUARTER
HOLOSEN Qa
HOLOCENE
(0.01)
PE TA GEOLOGI BE RSI ST EM, I NDONE SI A
PUSAT PENEL I TI AN DAN PENGE MBANGAN GEOLOGI PLISTOSEN
SYSTE M ATI C GEOLOGI CA L M A P, I NDONESI A PLEISTOCENE
GE OL OGI CAL RE SEARCH AND DE VE LOPMENT CE NTRE 1.6
Lembar (Sheet) : SAMARI NDA 1815, 1915 PLIOSEN

R Y
KEPALA (DI RECTOR) : I RWAN B AHAR

R
PLIOCENE Tpkb

K U M
Sekala (Scale) : 1 : 250.000

O I C

E
5.3 (4,8)

A
MUARA ANCAL ONG
o B T (E) 45' 117 o00' 30' 45' 118 o00' BT (E)

I
116 30' 15' AKHIR

I
LATE

S
0 o00' LU (N) 0 o0' LU (N)

O I
C E N O Z

T
35 60
11 (11.3) Tmbp

M I O CE NE
R
100

M I OS E N
20

00

K E N O Z
55 Tmpb

E
Tmpb S.S

E
Tm bp 60 an TENGAH Tmpb

mU ( N)
tan

T
000
Tpk b MIDDLE

T
Tom p Tomp 60

Rantaus untang
Rantaupendam aran

ab
an
tulu
g

S.S Sebantulung
40
45
Santan
AWAL
EARLY
16.2

Qa 45
Tmb
Qa 23 (23.7)
Siran Tomp
Tomp
25 Tm bp 99


90 OLIGOSEN
Sepanggi l Tom p Tm pb 65
S.S OLIGOCENE
ira
n
70 36.5

M uarak am an
Tom p
25

65 80 15
15

Qa
ALUVIUM : Kerikil, pas ir dan lumpur terendapkan dalam lingkunga n s ungai, rawa delta FOR M ASI PAM ALUAN : B atupas ir kuars a dengan s is ipan batulempung, s erpih
60 Qa
Qa Tomp
Tomp
dan pantai. Tomp
To mp batugamping dan batulanau berlapis s angat baik. B atupas ir kuars a me rupakan batuan
50
utama, kelabu kehitaman- kecoklatan, berbutir halus s edang, terpilah baik, butiran


Sepabai S.MAH AKAM ALLUVIUM : Gr avel s and and mud depos ited in fluviatile paludal deltaic and c oas tal
10 1 membulat-membulat tanggung, padat, karbonan dan gampingan. Setempa t dijumpai s truktur
15 99 envir onment.
60 s edimen s ilang-s iur dan perlapis an s ejajar. Tebal lapis an antara 1-2 m. B atulempung tebal
Sebatu 60 80
S. BELA FOR M ASI KAM PUNGBARU : B atupas ir kuars a dengan s is ipa n lempung, s erpih, lanau
YAN A Tpkb
Tpkb rata-rata 45 cm, s erpih, kelabu kecoklatan-kelabu tua, padat, tebal s isipan a ntara 10-20 cm.
dan lignit pada umumnya lunak, mudah hancur. Batupas ir kuars a, putih, s etempat
Qa Tmpb Batugamping, kelabu, pejal, berbutir s edang- kas ar, s etempat berlapis da n mengandung
Mahuran 6 kemerahan atau kekuningan, tidak berlapis , mudah hancur, s etempa t mengandung lapis an
Kampungngem pang foraminifera bes ar. B atulanau kelabu tua- kehitaman. Formas i Pemalua n me rupakan batuan
tipis oks ida bes i atau kongkres i, tufan atau lanauan dan s is ipan batupas ir konglomeratan
35 paling bawah yang ters ingkap di lembar ini dan bagian atas forma si ini berhubungan
atau konglomerat dengan komponen kuars a, kals edon, s erpih merah dan lempung, diameter
45 menjemari dengan Formas i B ebuluh .Tebal Formas i lebih kurang 2000 m.
30 0,5-1 cm, mudah lepas . Lempung, kelabu kehitaman mengandung s isa tumbuhan, kepin gan PAMALUAN FORMATION : Quar tz s ands tone inter calation with clays tone s hale
C batubara, koral. Lanau, kelabu tua, menyerpih, laminas i. Lignit, tebal 1-2 m. Diduga
Koy ubungo 50 limes tone and s ilis tone well beddeb Quar tz s ands tone is the major c ons tituent of r ock
15' C C berumur M ios en Akhir-Plio Plis tos en, lingkungan pengendapan delta-laut dangkal, tebal
20 15'
Kotabangun blackis h gr ey to br ow nis h fine to medium gr ained w ell s or ted s ub r ounded-r ounded
Tom p C lebih dari 500 m. Formas i ini menindih s elaras dan s etempat tidak s ela ras terhadap Formas i compact car bonaceous or calcar eous . Locally contains cr os s beddeb and par allel
C Ttmpb Balikpapan.
25 99 laminated thicknes s of layer s t betw een 1-2 m clays tone thicknes s 45 cm in aver age
Benuapul uh K AMPUNGBARU FORMATION: Quar ts Sands tone inter calation with clay s ilt and
B. TINJ AWANG 70 Shale br ow nis h gr ey to dar k gr ey compact thicknes s of layer s about 10-20 c m. Gr ey
l is

Tm pb lignite commonly s oft and eas ly br oken Quar ts Sands tone white locally r eddis h or
me

limes tone mas ive medium to coar s e gr ained locally beddeb c ontains of lar ge
Se

yellow is h unbeddeb eas ily br oken, locally contains thin lay er s of iron axide or
10 for aminifer a s ilts tone blackis h to dar k gr ey. Pamaluan For mations is the Low er mos t
S.

Tpk b concr etionar y tuffaceous or s ilty and inter calation of conglomer atic s ands tone or
Tmbp expos ed unit and its upper par t inter finger s w ith Bebuluh For mation. Thick ne s s es timated
Bangs als em bera
AKAM 25 conglomer ate containing fr agments of quar tz calcedony r e d s hale and clay diameter 0,5- about 2000 m.
Qa S.MAH


Tomp Sel erong 21 1 cm, commonly loos e. Clay dar k gr ey to blackis h, contains of plan r emains coal
Pul au J upa Ambal ut 50
50
35 fr agments cor als s ilt dar k gr ey s laty lamination lignite 1-2 m thick . Suppos ed to be of STR UKTUR DAN TEKTONIKA
Tmbp 20 40 50 30 Kualabaddak
Tm pb 5 Late Miocene to Plio-Pleis tocene age, deltaic to s hallow mar ine depos itional e nvir onment


Struktur yang dapat diamati di Lembar Samarinda berupa lipa tan a ntiklinorium dan s es ar lipatan umumnya
S.K

S.Mangkor aw ang G. BATUBIRU 25 20


S.kualabadak thicknes s es timated at mor e than 500 m. This for mation over lies and locally unconfor mably berarah timurlaut baratdaya dengan s ayap lebih curam di bagia n tenggara. Formas i Pamaluan, B ebuluh
ed

B. SERDANG Loatebu 15
an

over lies the Balikpapan For mation. dan Balikpapan s ebagian terlipat kuat dengan kemiringan anta ra 40-75 . Ba tuan yang lebih muda s eperti
g
da

20 G. TEYUS 99 Formas i Kampungbaru pada umumnya terlipat lemah. Didae rah ini terdapat tiga jenis s es ar, yaitu s es ar
l am

40 Qa Qa
Tmbp Tmpb 60


Tm pb FOR M ASI B ALIKPAPAN : Pers elingan batupas ir dan lempung denga n s is ipan lanau naik, s es ar turun dan s es ar mendatar. Ses ar naik diduga terjadi pada M ios en Akhir yang kemudian
Tmbp
Tmbp
Tmbp
M angk urawang s erpih batugamping dan batubara. Batupas ir kuars a, putih kekuningan, te ba l lapis an 1-3 m terpotong oleh s es ar mendatar yang terjadi kemudian. Ses ar turun te rja di pada kala Plios en.
Si dulang Polongbengk ok
40 Bangs al s epuluh dis is ipi lapis an batubara, tebal 5-10 cm. Batupas ir gampingan, coklat, be rs truktur s edimen STRUCTURE AN D TECTONICS
70 S.Saka kanan Tmbp M uang lapis an bers us un dan s ilang s iur, tebal lapis an 20-40 cm, mengandung foraminifera kecil The s tr uctur al featur e w hich identiable in the Samar inda Sheat ar e anticlynor ium folas and faults fold
Kedangi pil 60 25 70 60 dis is ipi lapis an tipis karbon. Lempung ,kelabu kehitaman, s etempat mengandung s is a
Tm
Tmbp Tmbp axes gener ally tr ending nor theas t s outhwes t s how ing s tee pe r dips at their s outheas ter n flanks . Par tly of


20 bp
U TENGGARONG tumbuhan, oks ida bes i yang mengis i rekahan-rekahan s etempat mengandung lens a-lens a
60 65 older s edimentar i units s uch us Pamaluan Bebuluh and Balikpapan ar e atr ongly folded with dips of about
25 60
pil

40 Bel im au M orongk arang B batupas ir gampingan. Lanau gampingan, berlapis tipis , s erpih kecokla tan, berlapis tipis .
10 D 40-75 . Younger unit, the K ampungbar u For mation is gently folded. In this ar ea thr ee types of fault
ngi

30
em 60 B atugamping pas iran, mengandung foraminifera bes ar, moluska me nunjukkan umur ar e thr us t nor mal and s tr ike s lip faults . Thr us tfaults ar e s uppos ed to have been activated in Late Miocene


edo

Lebak halong Tmpb 60


as
20 ng Lampak e M ios en Akhir bagian bawah- M ios en Tengah bagian atas . Lingkunga n pengendapan time, s ubs equently cut by s tr ike s lip faults . N or mal faults are pr es umably oc cur r ed dur ing Pliocene time
S.K

20 Tom p ara 45 Qa
S.K 99 Perengah "paras delta- dataran delta" tebal 1000 - 1500 m.
Tanjungl utung J ongk ang 35 Tm pb
Tmbp 28 50 BALIKPAPAN FORMATION : Alter nation of s ands tone and clay inter calations w ith s ilt
5 SUM BER DAYA M INERAL DAN ENERGI


17 Tm bp
s hale limes tone and coal Quar ts Sands tone white to yellow is h bedding thic knes s is about
A

Muaray oy ek 50 20 25
C Qa Sumberdaya M ineral dan Energi yang potens i di Lembar Samarinda be rupa minyak dan gas bumi s erta
M

Sunganil am
LA


45 Tpk b 1-3 m contains of coal layer s (5-10 cm). C alcar eous s ands tone, br ow n s hows gr aded batubara terdapat di Sangas anga, M uarabadak dan Tanjung Se latan, s edangka n batubara terdapat di
AI

50 bedding and cr os s bedding, thicknes s of bed 20-40 cm, contains s mall foraminifer a
UT

45 30 Loahaur, Loabukit dan Sebuluh. Semuanya di tepi S. M ahakam.


S.K

G. BUKITBARU C 50 Kam pung baru inter calated by thin layer of car bonaceous mater ial. C lay gr ey blackis h locally contins
Tm bp 50 15 MIN ERAL AN D ENERGY RESOURC ES
S.
k

30' 40 30' plant r emains ir on oxide w hich have filled up the cr acks of laye rs , locally contains of
oa

Ke S AMARINDA A I LU
ka
S.L

MUAR Potential Miner al and Ener gy Res our ces in the Samar inda Sheet ar e oil gas and coal. Oil and gas ar e
ri Tmbp Karangas em Sam butan dalam 6 calcar eous s ands tone lens es . C alcar eous s ilt, thinly beddeb br ow nis h shale, thinlu beddeb
41 65 found af Sangas anga Muar abadak and Tanjung Selatan whe re as coal is found at Loahaur , Loabukit and
ma

37 Bugi s hi li r Sal obulu Sandy limes tone contains lar ge for aminifer a mollus cs , which point to lower Late Miocene


ila

Samarinda Sebrang Sebuluh. They ar e located along the Mahakam r iver .


7 40 C Tpk b 15 to delta plain. Thicknes s between 1000-1500 m.
uta

Tomp
Tom p Batuberhal a
S.K

25 C G.MALAYANG
99 FOR M ASI PULAU B ALANG : Pers elingan antara grewake dan batupas ir kuars a dengan
10


Tmpb
Tmpb
Qa Qa 40 s is ipan batugamping, batulempung, batubara dan tuf das it. Batupas ir grewa ke, kelabu
Sungaik i hong P. TERENTANG
C kehijauan, padat, tebal lapis an antara 50-100 cm. B atupas ir kuars a, ke labu kemerahan,
Tm bp
20 35 s etempat tufan dan gampingan, tebal lapis an antara 15-60 cm. Ba tugamping, coklat muda
20 25 Loak anan
G. ASAM kekuningan mengandung foraminifera bes ar, batugamping ini terdapat s ebagai s is ipan atau
20 45 C 70
Tomp lens a dalam batupas ir kuars a, tebal lapis an 10-40 cm. Di S. Loa Haur me ngandung
Tm pb Lampak e 2
2 S.P 10 foraminfera bes ar antara lain Aus trotrilina howchini, B orelis Sp. Lepidocylina Sp,
erj S.J 10
ano em
n

C 20 20 S.T P. GENTING M iogyps ina s p, menunjukkan umur M ios en Tengah dengan lingkunga n pengendapan laut
bay
ya

20 Loadur C s angas anga muara


ang Qa AM
ba

10 GA BO MUARA dangkal. B atulempung, kelabu kehitaman, tebal lapis an 1-2 cm. Setempa t bers elingan
em

41 40


30 50 N PANTU
D kan R


35 SA AN
S.J

an 22 GA A dengan batubara tebal ada yang mencapai 4 m. Tufa das it, putih merupakan s is ipan dalam
25 AN
C
S.S batupas ir kuars a.
U 24 30 17 P. PERANGATAN
Tm bp 70
99 99 PULAU BALAN G FORMATION: Altenating gr eywacke and Quar ts Sands tone


45 60 Tmbp 80
30 Qa Qa 30
20 inter calations with limes tone clays tone coal and dacitic tuff. Gr e yw acke gr eenis h gr ey
10
Sangas anga dalam compact beds 50-100 cm thick Quar ts Sands tone r eddis h gr ey locally tuffaceous and


15
15 calcar eous thicknes s of layer s between 15-60 cm. Limes tone ye llowish to light br ow n,
G. MELARANG
Tpk b S.B
contains lar ge for aminifer a either s as inter calations or as lens es in Quar ts Sands tone


22 50 AB Qa


AR
S.Gitan D 52 UN P. KAYUMAJ ARANG thicknes s of beds betw een 10-40 cm. Limes tone expos s ed in Loa Hour Riv er contains


G
Tm pb 40 abondant lar ge for aminifer a s uch as Aus tr otr ilina howchini, Bor elis s p, Lepidocyclina s p,
Tomp U 60 Tm bp


45
Miogyps ina s p, which indicates a Middle Miocene age and ter r es te rial to s hallow mar ine


60 10 Qa depos itional envir onment clays tone blackis h gr ey thicknes s of beds between 1-2 cm,
C
Tmpb MU locally inter calating with coal, s ome of them to 4 m thick. Dacitic tuff, white as thin
Tm bp 20 Qa Qa P. LALUKENAN AR
35 25 60 Tmpb A
BA inter calations in the Quar ts Sands tone.
99


99 YO 20


20 10 25 Tpk b P.Di nar R


10
20 20 FOR M ASI B EBULUH : B atugamping terumbu dengan s is ipan batuga mping pas iran dan
k
edo


C
S.B

Tmb


60 25 10 C Qa s erpih. Warna kelabu, padat, mengandung foraminifera bes ar, berbutir s edang. Setempat
45'
S.K

an

45'
gk

P. PENTI P. PEM ANKARAN batugamping menghablur terkekar tak beraturan. Serpih, kelabu ke coklata n bers elingan
a

P. Nibung dengan batupas ir halus kelabu tua kehitaman. Foraminifera bes ar ya ng dijumpai antara lain:
Qa
C MU


Tm bp 10 10 Lepidocyclina Sumatraens is B RADY, M iogyps ina s p, M iogyps inoides sp, Operculina s p,
P.Kerbau AR Qa
44 50 A
20 70 BU menunjukkan umur M ios en Awal- M ios en Tengah. Lingkungan penge ndapan laut dangkal
JI T
dengan ketebalan s ekitar 300 m. Formas i Bebuluh bertindih s elaras oleh Formas i Pulau
40 S.DON Balang.
10 DANG Qa
20 20 S.K amboja N P. Cerorok Qa
G.LOBANGPARUNG GA BEBULUH FORMATION : Reef limes tone w ith inter calations of s andy limes tone and
15
S.Loahaur

12 BAN P. DATU
99 AM
99 s hale, gr ey compact contains of lar ge for aminifer a medium gr aine d cr ys talline
25 Qa 10
MUARA

10 P. LAYANGAN


S.B
25 Qa limes tone ir r egular ly jointed s hale br ow nis h gr ey w ith inter calations of blackis h dar k
30 Qa Qa P. TIMBANGBURUKANG


Teluk i adang gr ey fine gr ained s ands tone. Lar ge for aminifer a wer e found ar ea: Lepidocyclina
go

Tmbp
JAWA

Tomp
ian

P. BUKUAN Sumatr aens is BRADY, Miogyps ina s p, Miogyps inoides s p, Oper c ulina s p, w hich point to
50
S.M

Tpk b Qa Qa ear lyMiocene to Middle Mocene, depos itional envir onment is s hallow mar ine and
25 75 Tm bp
Tm pb Qa thicknes s es timated about 300 m. Bebuluh For mation is confor mably over lain Pulau Balang
Qa
Tomp G.ULUSAKAKAMAN Tpk b S.R For mation.
45 P. M UARAULU
Tpk b ad
en
50
Sungai s embi lang
00 mU (N)

Sepak u
25 60
25
000

99

15 40
00

30 L AMB ANG GE OL OGI DAN GEOGRAFI


n

GEOLOGI CA L A ND GEOGR APHI CA L SYSM B OLS


ga

mU ( N)
000

25
99

25 Tom p
ban

15
u

Sem oi Seni pah


pak

Tpk b
am

25
25
S.Se

S.B

10
G.PAGAT Tm bp
G. PATINJ AU Ttm bp 10
46
D


Qa Bekas tambang terbuka atau
25 Kontak geologi
25 s .Saka kanan penggalian
40 Sepinggang
30 Geological boundar y


40 D Abondoned quar y or open pit mine
8 35 25 1 o00' LU (N)
25 20 U Antiklin dan s inklin; panah menunjukkan arah penunjaman


1 o00' LU (N) 35 Lubang kering
4 000 4 4 4 117 o00' 5 5 5 5 30' 5 5 5 5 6 000 118 o00' B T (E) Anticline and s incline;ar r ow s how ing dir ection of plange
15' 80 45'
4 60 70 45' 80 BALI KPAPAN 20 30 70 90 00 mT (E) Dr y hole
116 o30' BT (E) 50 mT (E ) 90 40 50 60
5 00 000
mT (E ) U Ses ar (U bagian yang naik, D bagian turun) Undak pantai
PENAM PANG M ELINTANG Geologi dipetakan dalam bulan M ei 1978 s ampai dengan J uli 1978, D Fault (U ,D, indicated r elative movement up down) Ter r aces
Peta d asar d ib u at o leh Sek si Karto g rafi d an Pu b lik asi, Pu sat Pen eli- oleh S. Supriatna, E. R us tandi, D. Sudana, S. Azis , C h. Amri, K.
GROSS SECTION Ses ar naik
tian d an Pen g emb an g an Geo lo g i (PPPG) 1 9 9 4 d ari Peta Has an, E. Titers ole, Sunartono, dan bulan Oktober s ampai J alan as pal
Thr us t fault
V =1 Des ember 1978 oleh S. Supriatna, E. Rus tandi, D. Sudana, K. Sealed r oad
Topografi US Army M ap Service Seri T-503, Edis i, Lembar SEKALA (SC ALE) Ses ar mendatar
H Has an, E. Titers ole, Sunartono. Str ike s lip fault J alan tak beras pal
SA50-3-1960
Bas e map compiled by Car togr aphy & Publication Section, Geologi- Geology mapped in M ay 1978 until J uly 1978 by S. Supriatna, E. B ila letak kontak, lipatan atau s es ar diper- Uns ealde r oad
1500 m
cal Res ear ch and Developmen Centr e (GRDC) 1994 fr om Topo- R us tandi, D. Sudana, S. Aziz, C h. Amri, K. Has an, E. Titers ole, kirakan, garis nya putus -putus J alan s etapak
1000 m 1500 m Sunartono and from October 1978 to December 1978 by S.
gr aphic Map US Ar my Map Ser vice Ser ies T-503 Edition, Wher e location of boundar ies , folds or Foot path
Supriatna, E. R us tandi, D. Sudana, K. Has an, E. Titers ole and
Sheets SA50-3 1960 500 m 1000 m faults is appoximate, line is br oken
Sunartono Sungai
0m Qa 500 m J urus dan kemiringan lapis an
Tmpb Tm bp 21 River
Tomp Tom p Tmbp Tmb Tm bp Str ike and dip of s tr ata
Tm pb Tpk b Qa 0 m


-500 m Tm pb Tm bp Tm bp Lapangan terbang
Tmpb Tm pb Tmbp
Ketidaks elaras an Air por t
-1000 m -500 m
Unconfor mity
-1000 m Ibukota Propins i
-1500 m
A Lokas i mikrofos il Pr ovince C apital
-1500 m
EI Micr ofos s il locality
UN
B Kota Kabuoaten


BR
Lokas i makrofos il Dis tr ict C ity
Macr ofos s il locality
IA Kecamatan
YS 1500 m 1500 m
B atubara Subdis tr ict
ALA 1000 m


M 1000 m C oal Titik ketinggian dalam meter


500 m 500 m 275
Tmpb Tambang terbuka atau penggalian Elevation in metr es
0 m Tm pb 0 m Open pit mine or quar y
Tomp Tmpb Tpk b Tpk b Tpk b
KALIM ANTAN Tmpb Tomp Tmpb
-500 m Tmbp Tmpb Tmbp
-500 m
-1000 m -1000 m

-1500 m -1500 m INDE KS LINGKUPA N SLA R


SLA R COVE RA GE INDEK S
C D

116o 30' 118o 30'


LOKASI LEM B AR
SEKALA (SC ALE) 1 : 250.000 DA FTAR ISTILAH
SHEET LOC ATION GLOS SA RY

5 0 5 10 15 20 30 Km 115o 30' 117o 00' 118o 30' 120o 00' B T Gunung (G) ............................................ Mountain
Bukit (B t)......................................................... Hill
UG UM = Utara M agnetik (M agnetic North). 1 o00 LU SAM ARINDA
Tanjung (Tg)....................................... Cape, P oint
US UM US = Utara Sebenarnya (True North)
MUARA ANCALONG SANGATA Sungai (S), Kedang .........................River, Stream
Ditelaah dan dis unting oleh : N.Ratman PR OYEKSI TR ANVER SE M ERC ATOR 1816 1915
Pulau (P) .................................................... .Island
UG = Utara Grid (Grid North). TRANSVERSE MERC ATOR PROJEC TION
Reviewed and edited by : Laut (L) ....................................................... .S ea
o T dengan perubahan
Digambar oleh / dm = deklinas i magnetik s ebes ar 1 08' 0o
dg=0' ANGKA GR ID UNIVER SE TR ANSVER SE M ER CATOR (UTM ) PADA ZONA 50 M SFEROID NASIONAL INDONESIA Selat (S el) .................................................... S trait
tiap tahun 1'B untuk perioda tahun 1990-1995
- Nas kah/ manus cr ip : DENGAN SELANG J AR AK 20.000 M ETER SAMARINDA
o LONGIRAM Muara.............................................. .River mouth
- Grafika/ gr aphics : Apet Somantri dm=1o08' (magnetic declination is 1 08'E with changing 1915
1815 Kenohan....................................................... Lake
THE UN IVERSE TRANSVERSE MERC ATOR (UTM) GRID ZONE 50 M INDONESIAN NATION AL SPHEROID
Supervis or kartografi : S.Oetomo Poetro 1'W annualy in the period of 1990-1995).
INDIC ATED BY 20.000METRE IN TERVAL 1
C ar togr aphy s uper vis or : dg = deklinas i grid (grid declination) 1o
Lingkupan SLA R
DIAGR AM DEKLINASI DI PUSAT LEM B AR PETA PETA GEOLOGI LEMBAR SAMARINDA, KALIMANTAN 1914
SLA R Coverage

Pus at Penelitian dan Pengembangan Geologi 1995


Geological Res ear ch and Development C entr e 1995
DEC LIN ATION DIAGRAM ON THE CEN TRE OF THE SHEET
GEOLOGICAL MAP OF THE SAMARINDA SHEET, KALIMANTAN 2 o00' LS

INDEKS LOKASI NAM A DAN NOM OR LEM B AR M ENUR UT :


Oleh (By) B ADAN KOORDINASI SURVEY DAN PEM ETAAN NASIONAL (B AKOSURTANAL), 1975
S. SUPRI ATNA, SUKARDI DAN (AND) E . RUSTANDI IN DEX SHOWING QUADRANGLE N AMES AND N UMBERS AC CORDING TO :
19 95 N ATIONAL COORDIN ATION AGEN CY FOR SURVEY AND MAPPING (NC ASM), 1975

Gambar 4.1. Peta Geologi Lembar Samarinda dengan skala 1: 250.000


(Sumber : pusat penelitian dan pengembangan geologi, 1995)

IV.1.2. Penyelidikan Pendahuluan


Pemboran ekplorasi tahap pendahuluan dilakukan berskala regional
dengan jarak 1000 2000 m. Yang selanjutnya dapat dibor secara detail dengan
jarak 50 200 m. Metode Pemboran Ekplorasi PT MSJ adalah Touch Coring
Gambar 4.2. Kegiatan Pemboran Eksplorasi pada PT. MSJ tahun 2005

IV.1.3. Tahap Penyelidikan Detail


a. Pemboran Eksplorasi
Proses pengangkatan stang bor, biasanya dilakukan apabila akan melakukan
proses corring dan Proses pemasangan core barel pada tahap persiapan proses
corring.

Gambar 4.3. Kegiatan Pemboran Yang Dilakukan di Area PT. MSJ


Mesin bor Spindle (TONE-1) dari jenis mesin Hydraulic Rotary yang digunakan
PT. MSJ

Gambar 4.4. Mesin Hydraulic Rotary


b. Penyelidikan Geofisika
Proses Penyelidikan geofisika yang dilakukan di wilayah PT.Mahakam
Sumber Jaya.

Gambar 4.5. Proses Penyelidikan dengan Metode Geofisika

Gambar hasil penyelidikan geofisika yang selanjutnya digunakan sebagai dasar


korelasi antar lapisan batubara termasuk batubara.

Gambar 4.6. Hasil Grafik setelah Logging Geofisika

IV.2. Metode dan Sistem Penambangan

PT. Mahakam Sumber Jaya dalam konsesi area penambangannya terdapat


lima blok yakni : Blok A, B, C, D dan E. Pada kunjungan ekskursi, pengamatan
hanya dilakukan di blok E atau dianamakan PIT C 01 E LCI yang memiliki luasan
area sekitar 20.000 Ha dengan kontrak/ Ijin Usaha Pertambangan (IUP) berakhir
pada tahun 2025.
Metode penambangan yang dipergunakan adalah Tambang Terbuka
(surface minning). Metode tersebut dipergunakan karena endapan batubara yang
terdapat pada area tersebut tertutupi oleh material/ batulempung yang rata-rata
resistensi batuan tersebut yang sudah lapuk, baik dari lapisan tanah pentup
(overburden) maupun sebagian tanah pucuknya (top soil). Pemilihan metode
bawah tanah merupakan keputusan yang sangat tidak memungkinkan karena dapat
menimbulkan resiko yang sangat tinggi, baik dari segi ekonomi, lingkungan
maupun tingkat keamanan. Sistem penambangan yang dipergunakan yakni Strip
Mine

Gambar 4.7. Bentuk dan Kondisi Lapangan di blok E PT. MSJ

IV.3. Peledakan
IV.3.1. Fasilitas dan Pengolahan Bahan Peledak

Pada PT. Mahakam Sumber Jaya dalam melakukan peledakan di area


tambang, terdapat area penyimpanan bahan-bahan peledakan dan ini merupakan
proses awal peledakan. Adapun fasilitas infastruktur terdiri dari enam bangunan,
yakni dua bangunan untuk penyimpanan detonator dinamit, empat gudang untuk
penyimpanan literat

a) b)

Gambar 4.8. a). Area mixing plan, b). Tempat Penyimpanan Emulsi dan AN

Bahan-bahan peledakan yang telah mengalami proses pencampuran


diangkut menggunakan mobil MMU (Mixer/Manufacturing Unit). MMU adalah
alat yang digunakan untuk pengisian lubang ledak secara mekanis (Gambar 4.9).
MMU umumnya terdiri dari tiga kompartemen yang bermuatan butiran
Ammonium Nitrate (AN), bahan bakar (solar), dan emulsi.
Gambar 4.9. Pencampuran bahan peledak di MMU
IV.3.2. Pola Pemboran dan Peledakan
PT. Mahakam Sumber Jaya pada kegiatan peledakan 10 Juni 2017, pola
pemborannya berbentuk sejajar dengan pola peledakan berupa Box Cut. PT. MSJ
menggunakan Pola box cut karena arah runtuhan batuannya kearah depan
membentuk kotak. Hal tersebut merupakan target dari Kontraktor LCI yang
memusatkan penumpukan hasil ledakan di tengah- tengah, sehingga excavator
akan menggali di tenggah untuk OB Removel. Pada kegiatan peledakan tersebut,
untuk pengambilan batubara yang tertutup OB, terdapat 100 lubang tembak yang
memanjang dari Barat ke Timur. Urutan waktu peledakan terjadi secara serentak.

Adapun bahan peledakan yang digunakan adalah Sinergi S 1350


Emulsion yang merupakan kedap air. Jika dalam kondisi basah/hujan, emulsion ini
tetap bisa digunakan. Serta menggunakan Detonator Nonel yang dikombinasikan
dengan Surface Delayed 17,42, 100. Berikut beberapa handak yang dipergunakan
oleh PT. Mahakam Sumber Jaya :
a. Emulsion / ANFO
b. Detonator cord
c. Safety fuse
d. Plain detonator
e. TNT/ Dinamit
f. Nonel
Trunk line delay
Down To Hole
Detonator Nonel Surface Delayed MS-17

Surface Delayed MS-42

Plain Detonator Detonating Cord

Safety Fuse Booster

Gambar 4.10. Macam-Macam Handak yang digunakan di PT. MSJ

IV.4. Proses Pemindahan Tanah Mekanis

PT. Mahakam Sumber Jaya pada proses produksinya berawal dari kegiatan
pembersihan lahan (Land Clearing), pengupasan tanah penutup (overburden
removel) dan pengambilan batubara (coal getting). Pada bulan Juni 2017 PT.
Mahakam Sumber Jaya terkhusus pada kegiatan OB Removel, target produksinya
dengan Skala Rationya yakni 9.5 yakni sekitar 3.200 juta BCM, sedangkan target
komulatif tahunannya untuk sementara, target produksi dengan Skala Rationya 8.5
yakni sekitar 34 juta BCM.
Pada kegiatan pengambilan batubara, produksi untuk bulan Juni 2017
dengan skala ratio 9.5 yakni sekitar 332.000 juta m3/ton, sedangkan untuk
komulatif tahunan, target produksi dengan skala ratio 8.5 yakni sekitar 4.1 juta
m3/ton.
Pada proses pemuatan OB dan Batubara menggunakan alat gali muat
Liebherr 9350 sebanyak dua unit dan Liebherr 9250 sebanyak dua unit dan proses
pengangkutan menggunakan HD sebanyak 39 unit. Pada pemuatan tanah pucuk
dengan SR 9.5 menggunakan Liebherr 9250 sebanyak dua unit dengan patokan
sebesar 1100 BCM/Jam, sedangkan untuk pemuatan OB menggunakan Liebherr
9350 sebanyak dua unit dengan patokan sebesar 1450 BCM/Jam.

Gambar 4.11. Alat Gali Muat, Liebherr 9350

IV.5. Manajemen Pengolahan Batubara/Port Management


PT. Mahakam Sumber Jaya, untuk memenuhi target produksinya baik
dalam harian, bulanan maupun tahunannya dibutuhkan suatu manajemen/tata
kelola yang baik.
Batubara yang diangkut dari lokasi tambang, ada 2 jenis perlakuan yang
terapkan berdasarkan kualitas. Jika kualitas batubara yang diangkut dari tambang
sesuai dengan permintaan, maka batubara tersebut akan langsung di crushing,
sedangkan yang tidak sesuai, batubara tersebut akan disimpan di room.
PT. Mahakam Sumber Jaya pada tahun ini dalam produksi batubara telah
mengalami penurunan. Hal itu deskripsikan adanya pengurangan jumlah/volume
dari beberapa unit maupun dalam pengolahan, khususnya pada Stockpile. Tahun
2016 yang lalu, jumlah Stockpile yang digunakan sebanyak dua, akan tetapi pada
tahun 2017 ini hanya menggunakan satu Stockpile saja. Kapasitas satu Stockpile
sebesar 250 m3/ton.

Gambar 4.12. Proses Burch Loading Conveiyor


Pada area conveiyor, terdapat empat lubang disepanjang pinggiran satu
sisi. Pada proses burch loading conveiyor (BLC) yakni dari Stockpile melalui
lubang-lubang tersebut loading menuju ke ponton, proses tersebut menggunakan
alat berat Buldozer sebanyak dua unit. Pada tahap BLC ini, volume batubara yang
terangkut sebesar 2000 ton/jam menuju ke ponton. Kapasitas muat batubara dalam
satu ponton yakni 7700-8000 ton, sehingga waktu yang dibutuhkan dalam
pengisian ponton tersebut rata-rata 4-5 jam. Ponton yang digunakan di PT.
Mahakam Sumber Jaya berjumlah 7 Ponton, 5 ponton untuk batubara yang
kandungan sulfurnya tinggi dan 2 ponton batubara yang kandungan sulfurnya
rendah.

IV.6. Kualitas Batubara

PT. Mahakam Sumber Jaya memproduksi dua macam batubara


berdasarkan kualitas sulfurnya, yakni batubara high sulphur dan batubara low
sulphur. Kualitas batubara tersebut berdasarakan permintaan dari konsumen.
Dalam pengujian kualitas batubara proses pengambilan sampel merupakan
tahap awal sebelum proses uji analisa di Lab Preparasi.
a) b)

Gambar 4.13. a) Sampel sebelum dipreparasi, b) Sampel setelah dipreparasi

Proses pengambilan sampel dilakukan dua kali yaitu pada saat di


timbangan dan pada saat di conveiyor. Pada analisa ini, sampel yang dibutuhkan
sebanyak 10-15 karung berasal dari conveiyor. Sampel-sampel tersebut
dihamparkan beserta diaduk sebanyak 3 kali, kemudian diambil secara acak lalu
dimasukan ke Roll Crusher. Roll Crusher berfungsi untuk pengecilan ukuran
material. Setelah melalui roll crusher dimasukkan ke Rotary Sample Devider
kemudian 2 jenis sampel untuk peruntukan yang berbed yaknu sampel untuk
analisa GA dan TM. PT. Mahakam Sumber Jaya dalam analisa kualitasnya,
standar prosedur yang digunakan adalah Standar ISO.

a) b)

Gambar 4.14. a) Mesin Rotary Sample Devider, b) Mesin Roll Crusher.


Analisa GA meliputi sulfur, ash, moisture dan kalori. Dalam analisa
tersebut, berdasarkan standar ISO membutuhkan waktu 3 jam untuk proses
pengeringan, lalu digiling untuk pengecilan ukuran (0.121 mikro). Analisa ash dan
moisture di lakukan di Furnance room. Dalam analisa tersebut membutuhkan suhu
sekitar 850 derajat celcius dalam proses tersebut, sedangkan analisa sulfur
menggunakan suhu 1350 derajat celcius. Setelah melakukan beberapa tahap
pengujian analisa, maka didapatkan kualitas batubara sebagai berikut : High
Sulphur 1.70 %, Low Sulphur 1 %, Kalori rata-rata 5700 - 5800, Total Moisture
15.7-15.9 %, Ash minimal 4 dan max 5 %

IV. 7. Reklamasi dan Revegetasi

Dalam pembibitan tanaman untuk revegetasi, pembuatan polybag untuk


bibit tersebut mempunyai perbandingan antara tanah dengan pupuk kompos dalam
proses pencampurannya, yakni perbandingannya : 2 karung tanah : 1 karung
pupuk kompos.

Gambar 4.15. Proses Pembuatan Polybag

Pembibitan terbagi menjadi dua tahap : yaitu bibit pada area tertutup
(shaded area) dan bibit yang di area terbuka (open area).
Pembibitan pada area tertutup dilakukan karena setiap macam bibit
berdasarkan umurnya memiliki sifat yang berbeda dan memerlukan perlakuan
khusus dalam proses pertumbuhannya. Misalnya tanaman sengon buto dalam
pertumbuhan pada area tertutup hanya memerlukan waktu sekitar 2 minggu yang
kemudian akan diletakan di area terbuka, sedangkan sengon laut sebelum
diletakkan di area terbuka, tanaman tersebut dalam waktu 1 bulan 15 hari harus
berada pada area tertutup tersebut.

Gambar 4.16. Pembibitan pada Shaded Area

Pembibitan pada area terbuka merupakan proses pembibitan yang terakhir


sebelum dibawa ke lapangan reklamasi. Pembibitan pada area ini rata-rata
membutuhkan waktu 3 bulan perawatanya untuk setiap tanaman sebelum
dilakukan penanaman.

Gambar 4.17. Pembibitan pada Open Area

IV.8. Proses dan Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

PT. Mahakam Sumber Jaya sistem penerapan keamanan untuk karyawan,


di fasilitasi dengan berbagai sistem keamanan untuk menjaga keselamatan dan
kesehatan kerja, antara lain : alat pelindung diri dan keamanan area kerja.
Alat Pelindung Diri, antara lain :helm, kacamata, masker, rompi, sepatu
safety, kaos tangan, penutup telinga dan lain-lain.
Rambu Pengaman Kegiatan Blasting di Lokasi Peledakan

Helm
Kacamata
Masker

Pagar Pembatas Rompi

Sepatu Safety

Gambar 4.18. Deskripsi Alat Pelindung Diri pada Area Tambang

Keamanan Area Kerja

a. Pada area tambang


Rambu Pengamanan pada kegiatan peledakan

Gambar 4.19. Tanda Rambu pada Kegiatan Peledakan

b. Pada area pergudangan


Pemberian pagar pada area-area rawan berbahaya serta rambu peringatan
Gambar 4.20. Sistem Isolasi/pengamanan pada Gudang Handak

Sistem keamanan di PT. Mahakam Sumber Jaya masih banyak lagi, seperti
rambu-rambu di jalan hauling, rambu di area-area tertentu, dan lain-lain.
BAB V
PENUTUP

V. 1. Kesimpulan
1. Pada PT. Mahakam Sumber Jaya, kegiatan eksplorasi dilakukan pada
tahun 2005 yang lalu khususnya pada kegiatan pengeboran. Kegiatan ini
merupakan tahap penyelidikan bahan galian batubara sebelum kegiatan
penambangan dilakukan. Setelah kegiatan eksplorasi selesai, kemudian
dilakukan pemetaan, hal ini bertujuan untuk melakukan mengetahui
keadaan lahan sebelum ditambang, seperti : jenis tanaman yang tumbuh
pada kawasan tersebut, umur tanaman, kondisi lithologi, jenis fauna yang
hidup pada kawasan tersebut dan lain-lain. Data-data tersebut dibutuhkan
untuk pembuatan perencanaan tambang.
2. Kegiatan Penambangan PT. Mahakam Sumber Jaya, menggunakan
metode penambangan tambang terbuka dengan sistem Strip Mine.
3. Untuk mempermudah proses penggalian, khususnya material yang keras,
maka perlu dilakukan kegiatan peledakan. Proses peledakan
menggunakan pola pemboran sejajar dan pola peledakan berupa Box Cut
dengan waktu peledakan terjadi secara serentak.
4. PT. Mahakam Sumber Jaya dalam OB Removel mempunyai target
tahunan sebesar 34 juta BCM dengan SR 9.5, sedangkan pengambilan
batubara target tahunan sebesar 4.1 juta m3/ton dengan SR 8.5. Alat gali
muat yang digunakan yakni Excavator jenis Liebherr 9350 sebanyak
empat unit dan alat angkut menggunakan HD sebanyak 39 unit.
5. Kualitas batubara yang dihasilkan adalah : High Sulphur 1.70 %, Low
Sulphur 1 %, Kalori rata-rata 5700 - 5800, Total Moisture 15.7-15.9 %,
Ash minimal 4 % dan maksimal 5 %.
6. Pada manajemen pengolahan batubara, PT. Mahakam Sumber Jaya hanya
menggunakan 1 stockpile. Proses penjualan, perusahaan menggunakan 7
ponton pada pelabuhan, yakni 5 untuk kualitas batubara bersulfur tinggi
dan 2 untuk kualitas bersulfur rendah.
7. Kegiatan reklamasi dan revegetasi, diawali dengan proses pembibitan
tanaman. Pembibitan dilakukan dua tahap yaitu pembibitan di area
tertutup (shaded area) dan area terbuka (open area), yang masing-
masing tahap tersebut memilii jangka waktu yang berbeda, tergantung
dari jenis tanaman tersebut.
8. Sistem K3 pada PT. Mahakam Sumber Jaya sangat safety, hal itu dilihat
dari proses safety induksi pada karyawan maupun area tempat kerja.
Seperti pada alat pelindung diri dan pemasangan rambu-rambu pada area
kerja, hal-hal tersebut merupakan priotas utama dan hal wajib yang selalu
di tekankan oleh perusahaan tersebut.

V. 2. Saran
Pada kuliah Ekskursi Industri Tambang yang setiap tahun dilakukan prodi
Teknik Pertambangan pada mata kuliah semester empat. Kegiatan tersebut berupa
kunjungan ke perusahaan tambang, baik pada tambang batubara, biji maupun
tambang bahan galian lainnya. Kunjungan ke perusahaan ini merupakan
momentum yang sangat baik untuk mendalami serta mengetahui peranan dari
teori-teori setiap mata kuliah yang dipelajari dan aplikasi ilmu tersebut pada
lapangan bagaimana dan di bidang apa. Akan tetapi momentum tersebut tidak
begitu dimanfaatkan. Hal ini karena adanya pembatasan waktu yang sebelumnya
ditetapkan antara pihak kampus dengan perusahaan. Hal ini sangat tidak
sebanding dengan jumlah pengorbanan yang dikeluarkan oleh Mahasiswa, baik
korban waktu, tenaga maupun materi dan proporsi waktu yang disediakan terus
berulang-ulang dari tahun ke tahun yakni hanya 1 hari saja. Kunjungan
perusahaan ini rata-rata waktu banyak dihabiskan hanya di perjalanan saja,
terutama yang melakukan kunjungan perusahaan sampai keluar daerah atau
provinsi.
Hal ini sebaiknya harus menjadi bahan evaluasi oleh pihak kampus
terutama pada pihak fakultas, agar tidak ada lagi keluhan dari berbagai
mahasiswa. Harapannya pada kunjungan perusahaan selanjutnya dapat lebih
dimaksimalkan, baik pada proporsi waktu, pemilihan lokasi kunjungan dan serta
pada keilmuaannya. Dengan begitu, jika mempertimbangkan 3 hal ini mind set
Mahasiswa kedepannya tidak akan sama dengan Mahasiswa tahun sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA

Febiyanto andy, dkk., Geologi Eksplorasi. Kurikulum Implementasi Bidang


Keahlian Geologi Pertambangan. Divisi Comdev PT. Mahakam Sumber
Jaya, Samarinda. 2007

Sulistiawan Edhy., Buku Pelajaran Tambang Terbuka. Kurikulum Implementasi


Bidang Keahlian Geologi Pertambangan. Divisi Comdev PT. Mahakam
Sumber Jaya, Samarinda. 2007

Sulistiawan Edhy., Bahan Galian Batubara. Kurikulum Implementasi Bidang


Keahlian Geologi Pertambangan. Divisi Comdev PT. Mahakam Sumber
Jaya, Samarinda. 2007

Sulistiawan Edhy., Buku K-3 Pertambangan. Kurikulum Implementasi


Bidang Keahlian Geologi Pertambangan. Divisi Comdev PT. Mahakam
Sumber Jaya, Samarinda. 2007

Scribd.com,. Makalah tentang Komunisi amp Alat Pengolahan.doc