Anda di halaman 1dari 6

BAB IV

ANALISIS KASUS

IV.1 Analisis Klinis


Pasien mengalami keluhan pada bulan Desember 2016 dengan keluhan
gatal-gatal terutama di sela-sela jari tangannya. Keluhan gatal dirasakan semakin
memberat terutama pada malam hari yang menyebabkan pasien sering terbangun
hampir setiap malam karena rasa gatal yang hebat. Rasa gatal yang dirasakan
membuat pasien menggaruk kulit hingga timbul luka akibat garukan.
Pada bulan April ini pasien mengalami keluhan yang sama. keluhan ini
sudah dirasakan sejak 1 bulan sebelum pasien berobat ke Puskesmas. Keluhan
gatal dirasakan semakin memberat terutama pada malam hari dan jika berkeringat
yang menyebabkan pasien sering terbangun hampir setiap malam karena rasa
gatal yang hebat. Rasa gatal yang dirasakan membuat pasien menggaruk kulit
hingga timbul luka akibat garukan. Pada awal muncul keluhan, pasien
menyangkal telah digigit serangga atau sejenisnya dan tidak kontak dengan zat
iritan serta tidak ada riwayat alergi. Pasien merupakan siswa SD di Pesantren
Darusallam. Pasien sehari hari tinggal di pesantren dari hari senin sampai jumat
dan pulang kerumah setiap hari sabtu dan minggu. Di pesantren pasien tinggal
bersama 9 temannya didalam satu kamar. Pasien mengaku, teman sekamarnya
menderita keluhan yang sama dengan pasien.
Pada pemeriksaan fisik, status generalis dalam batas normal, sedangkan
pada status dermatologis ditemkan Papul eritema multipel, bentuk bulat berbatas
tegas, penyebaran diskrit, vesikel miliar sampai lentikular, bentuk bulat berbatas
tegas, penyebaran diskrit, pustul bentuk bulat berbatasa tegas, ditemuka pada sela
jari kedua tangan, kedua telapak tangan, siku, sela jari-jari kaki.
Berdasarkan hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik mengarahkan pada
diagnosis skabies karena memenuhi 2 dari empat tanda cardinal untuk penegakan
diagnosis skabies. Terdapat beberapa hal yang menyebabkan timbulnya keluhan
pasien menurut teori H.Bloom, yaitu dari segi perilaku, pasien tinggal bersama
dengan teman sekamarnya dimana masing masing dari mereka tidak menjaga

51
kebersihan kamar di pesantren. Perlengkapan tidur di pesantren jarang sekali di
bersihkan dan diganti oleh petugas disana. Kamar tidur pasien di rumah juga
kurang terjaga kebersihannya. Dari segi lingkungan dikamar pesantren dan rumah
tidak ada jendela yang harusnya dibuka sebagai ventilasi, pencahayaan kurang dan
kebersihan sanitasi kurang.

IV.2 Analisis Home Visit


Pada hasil home visit yang telah dilakukan, pasien tinggal di Pesantren dekat
dengan rumanya dan pulang seminggu sekali. Dari hasil penilaian family
assestment tools, pasien tinggal bersama kedua orang tuanya. Bentuk keluarga
nuclar family serta dengan siklus keluarga family with school childern dimana
dimulai ketika anak berumur 6 13 tahun, tujuan keluarga ini meningkatkan
prestasi belajar anak, mempertahankan hubungan perkawinan yang bahagia,
memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yg semakin meningkat termasuk biaya
kesehatan. Di dalam perangkat genogram, tidak ada keluarga yang memiliki
riwayat keluhan yang sama, sedangkan teman pasien ada yang memiliki keluhan
serupa dengan pasien. Hubungan pasien dengan keluarga dan teman-teman cukup
baik. Fungsi keluarga pasien dinilai dengan perangkat APGAR dan keluarga
pasien termasuk dalam keluarga yang memiliki fungsi keluarga sehat dengan skor
8, berikut adalah uraian penjelasannya:

Tabel 4.1 Komponen APGAR


Komponen Kondisi Pasien
Adaptation Pasien merasa hampir selalu puas dapat kembali pada keluarga
untuk membantunya pada waktu mendapat kesusahan
Partnership Pasien merasa kadang-kadang puas dengan cara keluarga, untuk
membicarakan sesuatu dengan pasien dan mengungkapkan
masalah dengan pasien
Growth Pasien merasa hampir selalu puas bahwa keluarga, menerima dan
mendukung keinginannya untuk melakukan aktifitas
Affection Pasien hampir selalu puas dengan cara keluarga mengekpresikan
afek dan berespon terhadap emosi-emosi pasien seperti marah
sedih atau mencintai
Resolve Pasien kadang-kadang puas dengan cara keluarga dalam
menyediakan waktu bersama-sama

52
IV.3 Prinsip Kedokteran Keluarga
1. Holistic Care
Pada pasien ini telah dilakukan anamnesis disease (berkaitan dengan
klinis pasien) dan anamnesis illness (berkaitan dengan perasaan pasien
terhadap penyakitnya), serta telah dilakukan anamnesis psikososial dan
tergali permasalahan klinis dan psikisnya yang saling berkaitan.
2. Comprehensive Care
Pasien ini telah mendapatkan aspek promotif berupa edukasi tentang
penyakit Skabies serta PHBS. Upaya preventif dilakukan dengan
menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah dan menerapkan prinsip
rumah tangga sehat yang memperhatikan syarat rumah sehat yang
merupakan faktor resiko penularan Skabies serta menjaga kondisi fisik
pribadi, self hygene, makan makanan yang bergizi seimbang. Upaya
kuratif telah dilakukan dengan pemberian obat yang sesuai dengan
permethrin salep 5% dan antihistamin. Upaya rehabilitatif dan paliatif
belum dilakukan.
3. Personal Care
Pasien telah diberikan kesempatan untuk bertanya, mendapat informasi
tentang penyakit yang dialaminya, serta dapat menyalurkan ide, perasaan,
harapan, dan masalah psikososial yang dihadapi.
4. Continuing Care
Pasien belum pernah mendapatkan kunjungan rumah untuk mengontrol
perkembangan penyakit dan kesehatan pasien terkait faktor risiko
kebiasaan dan perilaku yang dapat memperburuk maupun memperingan
penyakitnya.
5. Patient centered, family focused, and community oriented
Pasien telah melibatkan orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya
yaitu kedua orang tuanya terhadap penyakit yang diderita pasien.
6. Emphasis of preventive medicine
Pencegahan agar tidak terjadi kekambuhan dan komplikasi dengan terapi
obat telah diberikan dari puskesmas, faktor pencetus dari perilaku pasien

53
dapat dirubah dengan mudah karena pasien memiliki keinginan kuat
untuk sembuh dari penyakitnya.

IV.4 Prioritas Masalah dan Pelaksanaan Program


Tabel 4.2 Prioritas Masalah dan Pelaksanaan Program
No Permasalahan Target Sasaran Perencanaan kolaborasi
1 Skabies Mencegah Keluarga Memberikan edukasi Dokter
penularan mengenai penyakit skabies
dan meliputi faktor resiko,
kekambuhan tanda dan gejala, tanda
bahaya, pencegahan serta
cara penanggulangannya.
2 Kurangnya perilaku Poin PHBS Keluarga Konseling mengenai Dokter
hidup bersih dan tercapai PHBS kepada keluarga
sehat
3 Pencahayaan rumah, Indikator Keluarga Membuka jendela, Dokter , bidan
jendela tidak di buka, rumah sehat mengganti genteng dengan desa, kader
sanitasi kurang tercapai genteng transparan,
menjaga kebersihan rumah
4 Jarang Mencegah keluarga Menjemur perlengkapan kader
membersihkan dan penularan tidur ( kasur,bantal,guling)
mengganti dan
perlengkapan tidur kekambuhan
(sprei, bantal, guling)
5 Perlengkapan tidur di Kekambuhan Petugas Menjemur perlengkapan Petugas
pesantren jarang Pesantren tidur ( kasur,bantal,guling) pesantren
sekali di bersihkan Gotong royong antar
dan diganti oleh petugas pesantren
petugas disana

IV.5 Pembinaan dan Hasil Kegiatan


Tabel 4.3 Pembinaan dan Hasil Kegiatan
Keluarga
Tanggal Kegiatan yang dilakukan yang Hasil kegiatan
terlibat
27 April Edukasi mengenai penyakit Ibu pasien Ibu pasien memahami
2017 skabies yang meliputi faktor penjelasan yang
risiko, penularan rencana diberikan
pengobatan dan pencegahan
skabies
27 April Edukasi mengenai perilaku Ibu pasien Ibu pasien memahami
2017 hidup bersih dan sehat bagaimana cara mencuci
diantaranya mengenai tangan dengan benar dan
mencuci tangan, sanitasi perilaku hidup bersih
rumah dan jamban sehat, dan sehat untuk

54
penggunaan air bersih, mencegah kekambuhan
penimbangan,gizi seimbang
Edukasi kepada pihak Pengelola Pengelola pesantren dan
pengelola pesantren serta pesantren teman pasien memahami
teman sekamar pasien dan teman skabies dan cara
tentang skabies dan perilaku pasien pencegahannya sehingga
mencegah skabies seperti dapat mencegah angka
menjemur bantal, guling dan kekambuhan maupun
kasur serta menjaga kesakitan skabies
kebersihan tubuh

IV.6 Komprehensive Pengelolaan Pasien dan Keluarga


1. Promotif
Penjelasan mengenai perilaku hidup bersih dan sehat. Orang tua pasien
juga perlu diberikan edukasi mengenai PHBS dan pencegahan skabies.
2. Preventif
Edukasi dan konseling mengenai skabies kepada orang tua pasien, pasien,
pengelola pesantren dan teman pasien mulai dari apa yang dimaksud
dengan skabies, penyebab, faktor risiko, pencegahan dan cara mengobati..
Selain itu, mengajari agar rutin mencuci tangan pada saat sebelum
makan, sesudah makan, sesudah dari toilet, sebelum memasak, sesudah
memasak. Dianjurkan untuk menjemur perlengkapan tidur dan bila ada
keluhan kembali seperti gatal-gatal segera berobat ke puskesmas
3. Kuratif
a. Permethrin cream 5 % dioleskan ke seluruh tubuh selama 8-14 jam
(setelah mandi sore) diulangi selama 7 hari
b. Cetrizine syr 5 mg 1x1 cth
4. Rehabilitatif
Belum perlu dilakukan.

55
IV.7 Kesimpulan Pembinaan Keluarga
Hasil pembinaan keluarga dilakukan pada tanggal 27 April 2017 pada
pukul 14.30 WIB. Dari pembinaan keluarga tersebut didapatkan hasil sebagai
berikut:
1. Tingkat pemahaman : pemahaman terhadap penyuluhan yang dilakukan
cukup baik.
2. Hasil pemeriksaan :
Keadaan umum : Baik
Keluhan : gatal-gatal berkurang
TTV : dalam batas normal
3. Faktor pendukung :
a. Orangtua pasien dapat memahami dan menangkap penjelasan yang
diberikan.
b. Pemahaman keluarga pasien untuk hidup sehat, sehingga cukup
kooperatif untuk mengubah perilaku yang tidak baik bagi kesehatan.
c. Pemahaman pihak pengelola pesantren aka pentingnya menjaga
kebersihan ruang kamar di pesantren serta prilaku apasaja yang dapat
dilakukan untuk menanggulanginya
4. Faktor penyulit :
a. Biaya yang masih kurang untuk memperbaiki kondisi dapur yang
cenderung terlihat kotor dan tidak terawat, serta aplikasi perilaku
hidup bersih dan sehat yang masih kurang.
b. Kurangnya biaya untuk mencukupi kebutuhan gizi seimbang, sehingga
dapat mengganggu pertumbuhan anak dan rentan infeksi.
5. Indikator keberhasilan :
a. Pengetahuan meningkat mengenai penyakits skabies sehingga tidak
kambuh
b. Kesadaran orang tua pasien untuk hidup sehat dengan menerapkan
indikator PHBS.
c. Kesadaran pasien untuk mengatur pola makan dengan gizi seimbang
tanpa harus mahal.

56