Anda di halaman 1dari 45

Rencana Tata Ruang Wilayah ((R

RTRW)
Kabupaten Konawe
2011 2031

Bab 7_Araha
ann Pengendalian Pemanfaatan Ruang

Sidebar Heading

Ketentuan Umum Peraturan Zonasi, Ketentuan Pemberian Izin, Ketentuan Insentif dan Disinsentif, dan Ketentuan Sanksi.
LAPORAN AKHIR

Bab 7_Arahan Pengendalian dan


Pemanfaatan Ruang

Sidebar Heading :
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi, Ketentuan Pemberian Izin, Ketentuan Insentif dan Disinsentif, dan Ketentuan Sanksi.

7.1. KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI

7.1.1. Ketentuan Pemanfaatan Ruang Sektoral


Ketentuan pemanfaatan ruang sektoral yang dimaksud disini adalah aturan
pemanfaatan ruang yang didasarkan pada peraturan perundang-undangan
perundang undangan sektoral,
seperti fungsi atau pemanfaatan ruang pada kawasan hutan, kawasan pesisir,
kawasan pertambangan dan lain-lain.
lain lain. Berikut akan disampaikan beberapa
ketentuan pemanfaatan ruang secara sektoral.
1. UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
a. Pemanfaatan kawasan an hutan dapat dilakukan pada semua kawasan
hutan kecuali pada hutan cagar alam serta zona inti dan zona rimba
pada taman nasional.
nasional
a. Pemanfaatan hutan lindung dilaksanakan melalui pemberian izin usaha
pemanfaatan kawasan, izin usaha pemanfaatan jasa lingkun
lingkungan, dan izin
pemungutan hasil hutan bukan kayu.
kayu
b. Pemanfaatan hutan produksi dapat berupa pemanfaatan kawasan,
pemanfaatan jasa lingkungan, pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan
kayu, serta pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu
kayu.
c. Pemanfaatan hutan hak yang berfungsi lindung dan konservasi dapat
dilakukan sepanjang tidak mengganggu fungsinya.
fungsinya
d. Pemanfaatan hutan adat yang berfungsi lindung dan konservasi dapat
dilakukan sepanjang tidak mengganggu fungsinya.
fungsinya
e. Penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pembanpembangunan di luar
kegiatan kehutanan hanya dapat dilakukan di dalam kawasan hutan
produksi dan kawasan hutan lindung.
lindung
f. Pada kawasan hutan lindung dilarang melakukan penambangan dengan
pola pertambangan terbuka.
terbuka
g. Kegiatan rehabilitasi dilakukan di semua hutan dan kawasan hutan
kecuali cagar alam dan zona inti taman nasional.
nasional
h. Setiap orang dilarang melakukan penebangan pohon dalam kawasan
hutan dengan radius atau jarak sampai dengan :
a) 500 (lima ratus) meter dari tepi waduk atau danau;
b) 200 (dua ratus) meter dari tepi mata air dan kiri kanan sungai
di daerah rawa;
c) 100 (seratus) meter dari kiri kanan tepi sungai;

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 138
LAPORAN AKHIR

d) 50 (lima puluh) meter dari kiri kanan tepi anak sungai;


e) 2 (dua) kali kedalaman jurang dari tepi jurang;
f) 130 (seratus tiga puluh) kali selisih pasang tertinggi dan pasang
terendah dari tepi pantai.
2. UU No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi SDA Hayati &
Ekosistemnya
a. Di dalam cagar alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan
penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan dan
kegiatan lainnya yang menunjang budidaya.
b. Di dalam suaka margasatwa dapat dilakukan kegiatan untuk
kepentingan penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan,
pendidikan, wisata terbatas, dan kegiatan lainnya yang menunjang
budidaya.
c. Di dalam taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam
dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian, ilmu
pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, dan wisata
alam.
d. Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan
perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam.
e. Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan
perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional
f. Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan
fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional, taman
hutan raya, dan taman wisata alam.
g. Di dalam zona pemanfaatan taman nasional, taman hutan raya, dan
taman wisata alam dapat dibangun sarana kepariwisataan berdasarkan
rencana pengelolaan.
3. UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan
Kawasan strategis pariwisata sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan bagian integral dari rencana tata ruang wilayah nasional,
rencana tata ruang wilayah provinsi, dan rencana tata ruang wilayah
kabupaten/kota.
4. UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
Penetapan zona pemanfaatan sumber daya air dilakukan dengan:
a. Mengalokasikan zona untuk fungsi lindung dan budi daya;
b. Menggunakan dasar hasil penelitian dan pengukuran secara teknis
hidrologis;
c. Memperhatikan ruang sumber air yang dibatasi oleh garis sempadan
sumber air;
d. Memperhatikan kepentingan berbagai jenis pemanfaatan;
e. Melibatkan peran masyarakat sekitar dan pihak lain yang
berkepentingan; dan
f. Memperhatikan fungsi kawasan.

139 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031
LAPORAN AKHIR

5. UU No. 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan


a. Wilayah geografis
geografis yang menghasilkan produk perkebunan yang bersifat
spesifik lokasi dilindungi kelestariannya dengan indikasi geografis
b. Wilayah geografis yang sudah ditetapkan untuk dilindungi
kelestariannya dengan indikasi geografis dilarang dialihfungsikan.
6. UU No. 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan
BatuBara
a. Kriteria untuk menetapkan 1 (satu) atau beberapa WIUP dalam
1 (satu) WUP adalah sebagai berikut:
1) letak geografis;
2) kaidah konservasi;
3) daya dukung lingkungan;
4) optimalisasi sumber daya mineral dan/atau
dan/atau batubara; dan
5) tingkat kepadatan penduduk.
b. Kegiatan usaha pertambangan tidak dapat dilaksanakan pada tempat
yang dilarang untuk melakukan kegiatan usaha pertambangan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
perundang
7. UU No. 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan
Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan PPK
Dalam pemanfaatan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Pulau Pulau Kecil, setiap Orang
secara langsung atau tidak langsung dilarang (diantaranya) :
a. Melakukan konversi Ekosistem mangrove di Kawasan atau Zona
budidaya yang tidak memperhitungkan keberlanjutan fungsi ekologis
Pesisir dan Pulau-Pulau
Pulau Kecil;
b. Menebang mangrove di Kawasan konservasi untuk kegiatan industri,
pemukiman, dan/atau kegiatan lain;
c. Menggunakan cara dan metode yang merusak padang lamun;
d. Melakukan penambangan pasir sir pada wilayah yang apabila secara teknis,
ekologis, sosial, dan/atau budaya menimbulkan kerusakan lingkungan
dan/atau pencemaran lingkungan dan/atau merugikan masyarakat
sekitarnya;
e. Melakukan penambangan minyak dan gas pada wilayah yang apabila
secara teknis,
eknis, ekologis, sosial dan/atau budaya menimbulkan kerusakan
lingkungan dan/atau pencemaran lingkungan dan/atau merugikan
masyarakat sekitarnya;
f. Melakukan penambangan mineral pada wilayah yang apabila secara
teknis dan/atau ekologis dan/atau sosial dan/atau
dan/atau budaya menimbulkan
kerusakan lingkungan dan/atau pencemaran lingkungan dan/atau
merugikan masyarakat sekitarnya; serta
g. Melakukan pembangunan fisik yang menimbulkan kerusakan sakan lingkungan
dan/atau merugikan
merug masyarakat sekitarnya.

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 140
LAPORAN AKHIR

7.1.2. Kriteria Ketentuan Umum


Ketentuan umum peraturan zonasi merupakan ketentuan yang mengatur secara
umum penggunaan lahan boleh tidaknya sebuah sistem kegiatan dikembangkan
dalam sebuah zona. Ketentuan yang dimaksud adalah :
1. Pemanfaatan diizinkan (simbol I). karena sesuai dengan peruntukkan
tanahnya, yang berarti tidak akan ada peninjauan atau pembahasan atau
tindakan lain dari pemerintah setempat.
2. Pemanfaatan diizinkan secara terbatas atau dibatasi (simbol T).
Pembatasan dapat dengan standar pembangunan minimum, pembatasan
pengoperasian, atau peraturan tambahan lainnya baik yang tercakup dalam
ketentuan undang-undang maupun ketentuan yang kemudian ditetapkan
oleh pemerinah setempat.
3. Pemanfaatan memerlukan izin penggunaan bersyarat
(simbol B). Izin ini diperlukan untuk penggunaan-penggunaan yang
memiliki potensi dampak penting pembangunan di sekitarnya pada area
yang luas. Izin penggunaan bersyarat ini berupa AMDAL, RKL, dan RPL
4. Pemanfaatan yang tidak diizinkan atau dilarang (simbol X).
a) Pemanfaatan Terbatas
Jika sebuah pemanfaatan ruang memiliki tanda T atau merupakan
pemanfaatan yang terbatas, berarti penggunaan tersebut mendapatkan
ijin dengan diberlakukan pembatasan-pembatasan, seperti :
1) Pembatasan pengoperasian. Baik dalam bentuk pembatasan waktu
beroperasinya sebuah pemanfaatan ataupun pembatasan jangka
waktu pemanfaatan ruang tersebut untuk kegiatan yang diusulkan.
2) Pembatasan intensitas ruang. Baik KDB, KLB, KDH, jarak bebas,
ataupun ketinggian bangunan pembatasan ini dilakukan oleh
pemerintah daerah dengan menurunkan nilai maksimum atau
meninggikan nilai minimum dari intensitas ruang.
3) Pembatasan jumlah pemanfaatan. Jika pemanfaatan yang diusulkan
telah ada, masih mampu melayani, dan belum memerlukan
tambahan (contoh, dalam sebuah kawasan perumahan yang telah
cukup jumlah Mesjid nya, tidak diperkenankan membangun masjid
baru), maka pemanfaatan tersebut tidak boleh diijinkan, atau
diijinkan dengan pertimbangan-pertimbangan khusus.
4) Pengenaan aturan-aturan tambahan seperti disintetif, keharusan
menyediakan analisis dampak lalulintas, dan sebagainya
b) Pemanfaatan Bersyarat
Jika sebuah pemanfaatan ruang memiliki tanda B atau merupakan
pemanfaatan bersyarat, berarti untuk mendapatkan ijin, diperlukan
persyaratan-persyaratan tertentu. Persyaratan ini diperlukan
mengingat pemanfaatan tersebut memiliki dampak yang besar bagi
lingkungan sekitarnya.

141 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031
LAPORAN AKHIR

Persyaratan ini antara lain :


1) Penyusunan dokumen AMDAL;
AMDAL
2) Penyusunan Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan
(UKL/UPL)
(UKL/UPL);
3) Penyusunan Analisis Dampak Lalu Lintas (ANDALIN)
(ANDALIN);
4) Mengenakan biaya dampak pembangunan (development
development impact fee
fee),
dan atau aturan disinsentif lainnya.
Berdasarkan pembagian arahan ketentuan umum, zonasi, jenis kegiatan dan
kriteria ketentuan umum di atas, dapat dirumuskan ketentuan umum pemanfaatan
lahan di Kabupaten Konawe sebagaimana yang terlihat pada matriks Tabel 7.1.

7.2. KETENTUAN PEMBERIAN IZIN

7.2.1. Dasar Ketentuan Perizinan


Perizinan terkait dengan izin prinsip, izin pemanfaatan lahan dan pendirian
bangunan diterbitkan dengan mengacu pada :
1. Undang-Undang
Undang Penataan Ruang No. 26 Tahun 2007;
2. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2008 tentang RTWN RTWN;
3. Peraturan Daerah tentang RTRW Kabupaten Konawe;
4. Peraturan
ran Daerah lain terkait;
terkait
5. Peraturan perundang-undangan
perundang undangan yang berlaku sesuai dengan jenis izin yang
diperlukan;; dan
6. Pemberian izin harus melalui advice planning dari instansi berwenang
berwenang.

7.2.2. Ketentuan Perizinan Dalam Penataan Ruang


Secara lebih rinci berkenaan dengan ketentuan perizinan ini, pada Undang
Undang-Undang
Penataan Ruang No. 26 Tahun 2007 ditetapkan bahwa ;
1. Ketentuan perizinan
perizinan sebagaimana dimaksud dalam Undang Undang-Undang
Penataan Ruang diatur oleh Pemerintah dan pemerintah daerah menurut
kewenangan masing-masing
masing masing sesuai dengan ketentuketentuan peraturan
perundang-undangan.
undangan.
2. Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang
wilayah dibatalkan oleh pemerintah dan pemerintah daerah menurut
kewenangan masing-masing
masing masing sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
undangan.
3. Izin pemanfaatan ruang yang dikeluarkan dan/atau diperoleh dengan tidak
melalui prosedur yang benar, batal
bat demi hukum.
4. Izin pemanfaatan ruang yang diperoleh melalui prosedur yang benar tetapi
kemudian terbukti tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah,
dibatalkan oleh pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan
kewenangannya.

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 142
LAPORAN AKHIR

5. Terhadap kerugian yang ditimbulkan akibat pembatalan izin dapat


dimintakan penggantian yang layak kepada instansi pemberi izin.
6. Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai lagi akibat adanya perubahan
rencana tata ruang wilayah dapat dibatalkan oleh Pemerintah dan
pemerintah daerah dengan memberikan ganti kerugian yang layak.
7. Setiap pejabat pemerintah yang berwenang menerbitkan izin pemanfaatan
ruang dilarang menerbitkan izin yang tidak sesuai dengan rencana tata
ruang.

7.2.3. Jenis Perizinan yang terkait dengan Penataan Ruang


Selanjutnya akan diuraikan jenis-jenis perizinan yang menjadi kewenangan
pemerintah kabupaten/kota yang berkaitan dengan penataan ruang beserta
persyaratan yang diperlukan:
1. Izin Lokasi
Izin lokasi adalah izin peruntukan penggunaan tanah yang diperlukan dalam
rangka penanaman modal. Izin ini berlaku pula sebagai izin pemindahan
hak dan untuk menggunakan tanah guna keperluan usaha penanaman
modal. Atas tanah yang dimohonkan izinnya itu dikenakan batasan luas
tertentu yang dibedakan antara yang diperuntukan bagi usaha pertanian
dan usaha non pertanian.
Penanganan izin lokasi pada umumnya dilakukan oleh Kantor Pertanahan,
tetapi ada pula yang dilakukan dinas pertahanan atau dengan sebutan lain,
kantor penggendalian pertanahan daerah (KPPD), misalnya, yang dibentuk
oleh kabupaten/kota yang bersangkutan sesuai dengan mekanisme
otonomi daerah.
Tidak semua perusahaan yang memperoleh tanah dalam rangka
penanaman modal diwajibkan memiliki izin lokasi. Izin lokasi tidak
diperlukan dan dianggap sudah dimiliki dalam hal:
a. Tanah yang akan diperoleh merupakan pemasukan (inbreng) dari para
pemegang saham;
b. Tanah yang akan diperoleh merupakan tanah yang sudah dikuasai oleh
perusahaan lain dalam rangka melanjutkan pelaksanaan sebagian atau
seluruh rencana penanaman modal perusahaan lain tersebut sepanjang
jenis peruntukannya sama, dan untuk itu telah diperoleh persetujuan
dari instansi yang berwenang;
c. Tanah yang akan diperoleh diperlukan dalam rangka melaksanakan
usaha industri dalam suatu kawasan industri;
d. Tanah yang akan diperoleh berasal dari otorita atau badan
penyelenggara pengembangan suatu kawasan pengembangan tersebut;
e. Tanah yang diperoleh diperuntukan untuk perluasan usaha yang sudah
berjalan dan untuk perluasan itu telah diperoleh izin perluasan usaha
sesuai ketentuan yang terlalu, dan letak tanah itu berbatasan dengan
lokasi usaha yang bersangkutan.

143 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031
LAPORAN AKHIR

Izin lokasi mempunyai masa berlaku berbeda-beda,


berbeda beda, tergantung luas tanah
yang dimohonkan izinnya. Izin lokasi berlaku satu tahun untuk tanah yang
luasnya sampai dengan 25 hektar. Izin lokasilokasi berlaku dua tahun untuk
tanah yang luasnya lebih dari 25 hektar sampai 40 hektar. Untuk tanah
yang luasnya diatas 50 hektar, Izin lokasi berlaku selama tiga tahun.
Bila jangka waktu izin habis, izin dapat diperpanjang satu kali untuk jangka
waktu selamaa satu tahun dengan ketentuan tanah yang sudah diperoleh
mencapai lebih dari 50% dari luas tanah yang ditunjuk dalam izin lokasi.
Untuk memperoleh izin lokasi, pihak yang mengajukan permohonan harus
memenuhi persyaratan tertentu, yaitu:
a. fotocopy KTP pemohon
pemoho yang masih berlaku;
b. fotocopy akta pendirian perusahaan dan pengesahannya;
c. sketsa letak tanah;
d. bagan/rencana tampak bangun/ site plan sementara;
e. surat pernyataan bermaterai cukup tentang kesanggupan ganti
kerugian dan/atau menyediakan tempat penampungan bagi pemilik
tanah/yang berhak atas tanah;
f. surat pernyataan kerelaan dari pemilik tanah bermaterai cukup;
g. proposal ditangani pemohon dan cap perusahaan;
h. fotocopy nomor pokok wajib pajak (NPWP);
i. surat persetujuan dari presiden/BKPM/BKPMD bagi perusahaan
PMA/PMDN;
j. surat pernyataan bermaterai cukup tentang tanah-tanah
tanah tanah yang sudah
dimiliki oleh perusahaan;
k. surat keterangan terdaftar sebagai anggota REI;
l. surat kuasa bermaterai cukup bila diurus orang lain.
Dalam penerbitan izin lokasi, instansi yang berwenang dapat
mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya aspek rencana tata ruang,
aspek penguasaan tanah yang meliputi perolehan hak, pemindahan hak,
dan penggunaan tanah, serta aspek ekonomi, sosial budaya, dan
lingkungan.
2. Izin Pemanfaatan Tanah
Izin pemanfaatan tanah yang merupakan izin peruntukan penggunaan tanah
yang wajib dimiliki orang pribadi dan/atau badan yang akan melaksanakan
kegiatan dan/atau kegiatan yang mengakibatkan perubahan peruntukan
tanah pada bangunan/usaha
banguna /usaha yang dilakukan. Seperti halnya izin lokasi, izin
pemanfaatan tanah dibedakan antara yang digunakan untuk usaha
pertanian, usaha non pertanian, dan kegiatan sosial dan keagamaan. Untuk
usaha pertanian, luas tanah yang dimohonkan izin paling sedikit 25 hektar,
untuk usaha nonpertanian paling sedikit
sedikit 1 hektar, sedangkan untuk
kegiatan sosial dan keagamaan tanpa batasan luas.
Penanganan izin pemanfaatan tanah pada umumnya dilakukan oleh kantor
pertanahan, tetapi ada pula yang dilakukan oleh kantor pengendalian

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 144
LAPORAN AKHIR

pertanahan daerah (KPPD), yang dibentuk olah kabupaten/kota yang


bersangkutan sesuai dengan otomoni daerah.
Izin pemanfaatan tanah tidak dikenakan untuk pembangunan rumah
tempat tinggal pribadi/perseorangan. Izin pemanfaatan tanah wajib dimiliki
apabila rumah tempat tinggal pribadi/perseorangan itu diubah
peruntukannya/pemanfaatannya untuk kepentingan usaha.
Izin pemanfaatan tanah mempunyai jangka waktu yang berlaku satu tahun.
Bila jangka waktu izin dapat diperpanjang satu kali untuk diperoleh
mencapai lebih dari 50% dari luas tanah yang ditunjuk dalam izin lokasi.
Untuk memperoleh izin pemanfaatan tanah, pihak yang mengajukan
permohonan harus memenuhi persyaratan tertentu, yaitu:
a. fotocopy KTP pemohon yang masih berlaku;
b. fotocopy akta pendirian perusahaan dan pengesahannya;
c. uraian rencana proyek yang akan dibangun (proposal);
d. surat pernyataan bermaterai cukup tanah-tanah yang sudah dimiliki
oleh perusahaan pemohon dan perusahaan perusahaan lain yang
merupakan grup pemohon;
e. gambar kasar letak tanah/denah lokasi letak tanah yang dimohonkan
izinnya;
f. bagan/rencana tampak bangun/ site plan sementara;
g. surat pernyataan kerelaan dari pemilik tanah bermaterai cukup;
h. proposal ditangani pemohon dan cap perusahaan;
i. fotocopy nomor pokok wajib pajak (NPWP);
j. fotocopy kepemilikan tanah;
k. surat persetujuan dari presiden/BKPM/BKPMD bagi perusahaan
PMA/PMDN;
l. surat pernyataan bermaterai cukup tentang kerelaan dari pemilik hak
atas tanah;
m. fotocopy SPPT dan tanda lunas PBB tahun terakhir;
n. notulen rapat pelaksanaan sosialisasi (setelah rapat koordinasi
dilaksanakan);
o. surat pernyataan bermaterai cukup tentang penyediaan fasilitas;
p. surat kuasa bematerai cukup bila diurus orang lain.

3. Izin Perubahan Pengguna Tanah


Izin perubahan penggunaan tanah (IPPT) adalah izin peruntukan
penggunaan tanah yang wajib dimiliki orang pribadi yang akan mengubah
peruntukan tanah pertanian menjadi non pertanian guna pembangunan
rumah tempat tinggal pribadi/perseorangan dengan ukuran seluas-luasnya
5.000 meter persegi. IPPT merupakan jenis izin yang sering juga
disebutkan izin pengeringan, tetapi istilah pengeringan tidak selalu tetap
sebab pengeringan dilakukan apabila yang diubah fungsi penggunaannya
adakah tanah sawah (basah) menjadi lahan pekarangan untuk permukiman
(kering).

145 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031
LAPORAN AKHIR

IPPT tidak hanya digunakan untuk menjadi dasar perubahan peng penggunaan
dari sawah ke pekarangan, tetapi bisa juga dari lahan pertanian yang sudah
kering, seperti kebun dan tegalan menjadi tanah pekarangan yang
digunakan untuk permukiman/tempat tinggal. Kedudukan IPPTsering kali
digunakan sebagai prasyarat bagi izin-izin
izin n yang lain, seperti IMB sehingga
yang mesti dilakukan oleh pemohon izin adalah memenuhi IPPT terlebih
dahulu sebelum mengurus perizinan lain.
Penanganan
anganan IPPT pada umumnya dilakukan oleh kantor pertanahan, tetapi
ada pula yang dilakukan oleh dinas pertanahan
pertanahan atau dengan sebutan lain,
kantor pengendali pertanahan daerah (KPPD), yang dibentuk oleh
kabupaten/kota yang bersangkutan sesuai dengan otonomi daerah. Apabila
IPPT telah diperoleh, pemohon diwajibkan mengurus pencatatan di kantor
pertanahan agar peralihan
peralihan penggunaan tanah itu juga tercantum pada
sertifikat hak atas tanah yang bersangkutan.
Hal-hal
hal yang dipersyaratkan bagi pemohon IPPT, antara lain:
a. fotocopy KTP pemohon;
b. fotocopy sertifikat tanah;
c. fotocopy surat pemberitahuan pajak terutang (SPPT) dan pe
pelunasan
pajak bumi dan bangunan (PBB);
d. sketsa letak/lokasi tanah yang dimohonkan izinnya;
e. surat kuasa bermaterai cukup bagi pemohon yang mewakilkan kepada
orang lain;
Dalam penerbitan IPPT, instansi yang berwenang dapat
mempertimbangkan beberapa hal, seperti:
a. aspek rencana tata ruang;
b. letak tanah termasuk dalam wilayah ibu kota kecamatan yang
bersangkutan;
c. letak tanah berbatasan langsung dengan permukiman yang telah ada
dan termasuk daerah pertumbuhan permukiman;
d. letak tanah dilokasi yang mempunyai aksesibiltas
aksesibiltas umum jalan dan
fasilitas umum lainnya, antara lain fasilitas listrik, PAM dan telepon;
e. luas tanah yang diberi izin sebanyak-banyaknya
sebanyak banyaknya dua kali luas rencana
bangunan yang akan dibangun, ditambah luas untuk sempadan jalan
sesuai dengan peraturan perundang-udangan
pe udangan yang berlaku;
f. tanah sudah bersertifikat;
g. tanah yang dimohonkan izinnya tidak termasuk tanah pertanian
subur/sawah irigasi teknis;
h. aspek penguasaan tanah yang meliputi perolehan hak, pemondahan
hak, dan penggunaan tanah;
i. setiap perubahan penggunaan
penggunaan tanah harus selalu memperhatikan fungsi
tanah dan daya dukung lingkungan disekitarnya.

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 146
LAPORAN AKHIR

4. Izin Konsolidasi Tanah


Izin konsilidasi tanah adalah peruntukan penggunaan tanah yang wajib
dimiliki kumpulan orang pribadi dan atau badan yang akan melaksanakan
penataan kembali penguasaan tanah, penggunaan tanah, dan usaha
pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan guna meningkatkan
kualitas lingkungan dan pemeliharaan sumber daya alam dengan melibatkan
partisipasi aktif masyarakat/pemilik tanah dilokasi tersebut untuk
kepentingan umum sesuai dengan tata ruang. Izin konsolidasi tanah
mempunyai jangka waktu berlaku satu tahun.
Untuk mendapatkan izin konsolidasi tanah, pemohon diwajibkan
memenuhi persyaratanpersyaratan tertentu, yaitu:
a. fotocopy KTP pemohon yang masih berlaku;
b. fotocopy akta pendirian perusahaan dan pengesahannya bila pemohon
berbadan hukum;
c. sketsa dan luas rencana lokasi sebelum dan sesudah penataan;
d. surat permohonan konsliadasi tanah;
e. sita plan sementara;
f. daftar nominatif calon peserta;
g. surat pernyataan kesediaan;
1) peserta konsolidasi dari tanah swadaya;
2) peserta memberi sumbangan tanah untuk pembangunan;
3) peserta membayar biaya pelaksanaan konsolidasi tanah;
bukti penguasaan tanah/pemilikan tanah tiap-tiap calon peserta
(sertifikat/letter C/D/E);
h. bila pemohonnya koperasi, dilengkapi surat keterangan bahwa
pemohon adalah anggota koperasi;
i. denah lokasi;
j. surat kuasa bermaterai cukup bila diurus orang lain.
Izin konsoliadasi tanah dapat diberikan kepada pemohon oleh instansi yang
berwenang dengan mempertimbangkan:
a. aspek rencana tata ruang
b. apabila sekurag-kurangnya 85% dari pemilik tanah yang luas tanahnya,
meliputi sekurang-kurangnya 85% dari luas seluruh areal tanah yang
akan dikonsolidasikan menyatakan persetujuannya dalam surat
pernyataan persetujuan;
c. status tanah sudah dikuasi oleh peserta konsolidasi tanah;
d. letak tanah tidak beraturan/tidak ada jalan penghubung antar penghuni;
e. adanya kesediaan dari para peserta konsolidasi tanah untuk merelakan
sebagian tanahnya untuk sumbangan pembangunan/fasilitas umum;
f. letak tanah di daerah perkotaan dan merupakan tanah non pertanian
atau letak tanah di daerah pedesaan dan merupakan tanah pertanian.

147 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031
LAPORAN AKHIR

5. Izin Penetapan Lokasi Pembangunan untuk Kepentingan Umum


Izin penetapan lokasi pembangunan untuk kepentingan umum adalah izin
peruntukan penggunaan tanah yang diperlukan oleh instansi pemerintah
yang akan melaksanakan pengadaan tanah guna pelaksanaan pembangunan
untuk kepentingan umum. Dengan demikian pemohon izin adalah instansi
pemerintah sendiri.
sendiri. Dalam penerbitan izin ini, instansi yang berwenang
dapat mempertimbangkan beberapa hal, seperti:
a. aspek rencana tata ruang;
ruang
b. aspek penguasaan tanah yang meliputi perolehan hak, pemindahan hak,
dan pengunaan tanah;
c. aspek ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan;
lingk
d. tanah yang diperoleh akan dimiliki pemerintah dan digunakan untuk
kepentingan umum.

6. Izin Mendirikan Bangunan atau Izin Mendirikan Bangun


Bangunan
Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) atau izin mendirikan bangunbangun-
bangunan (IMBB) diterbitkan oleh instansi
instansi yang berwenang. IMB/IMBB
wajib dimiliki oleh orang yang hendak mendirikan bangunan. Instansi yang
diberi wewenang untuk menerbitkan IMB/IMBB memang beragam, dinas
tata kota dan tata bangunan, unit pelayanan terpadu satu atap, dinas
Kimpraswil, subdinas
subdinas cipta karya, dan sebagainya. IMB/IMBB diberikan
dengan tujuan penataan bangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang
kota.
Pengertian mendirikan bangunan adalah pekerjaan mengadakan bangunan
seluruhnya atau sebagian termasuk menggali, menimbun, merat
meratakan tanah
yang berhubungan dengan pekerjaan menggadakan bangunan,
memperbaiki/merenovasi dan menambah bangunan, bahkan juga
membongkar bangunan. IMB/IMBB dibuat berdasarkan rencana
kabupaten/kota dan pada umumnya memuat penjelasan mengenai:
a. bentuk dan ukuran persil;
b. alamat persil;
c. jalan dan rencana jalan disekeliling persil;
d. penggunaan bangunan dan jumlah lantai;
e. peruntukan tanah diatas persil;
f. garis-garis
garis sempadan;
g. arah mata angin;
h. skala gambar;
i. tanah yang dikosongkan untuk rencana jalan dan sarana utilitas umum
lain, dan sebagainya.
Penting untuk dicermati bahwa IMB/IMBB dimaksudkan sebagai perangkat
yuridis untuk mewujudkan tatanan tertentu sehingga tercipta ketertiban,
keamanan, keselamatan, kenyamanan, sekaligus kepastian.

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 148
LAPORAN AKHIR

Dengan adanyan IMB atau IMBB, pemegang izin mendapatkan pegangan


ketika melakukan kegiatan yang berhubungan dengan bangunan, misalnya
bangunan didirikan sesuai dengan perencanaan penataan ruang, sehingga
tidak mungkin ada penggusuran karena dinilai tidak sesuai dengan rencana
kawasan. Di samping itu, IMB/IMBB juga digunakan dalam rangka mengatur
bangunan sehingga bahan sesuai dengan standar, juga pendiriaannya akan
diupayakan agar tidak menganggu lingkungan sekitar, misalnya lalu lintas
jalan, tidak merusak benda cagar budaya, konstruksi dan bahannya
memenuhi standar keselamatan dan sebagainya. Untuk itu persyaratan-
persyaratan yang ditetapkan mengarah kepada berbagai kebutuhan
tersebut. Untuk mendapatkan IMB/IMBB harus dipenuhi persyaratan dan
ketentuan berikut.
a. Persyaratan Administrasi
1) mengisi blangko permohonan yang disediakan Dinas Perizinan dan
disetujui tetangga serta dilegalisir/diketahui ketua RT, ketua RW,
lurah, dan camat setempat;
2) salinan surat bukti hak tanah/sertifikat tanah (rangkap dua);
3) surat kerelaan pemilik tanah jika tanah itu bukan milik pemilik
bangunan dengan materai Rp. 6.000,00;
4) melampirkan surat pernyataan menanggung risiko konstruksi
bangunan bermaterai Rp. 6.000,00;
5) fotocopy KTP pemohon (rangkap dua);
6) Izin Peruntukan Lahan (IPL);
7) sketsa letak/lokasi bangunan akan didirikan;
8) rencana kerja dan syarat-syarat/rencana anggaran belanja;
9) rekomendasi dari instansi teknis terkait;
10) surat kuasa bermaterai Rp. 6.000,00 apabila yang mengurus atau
mengambil izin bukan pemohon;
11) rekomendasi dari BP3 apabila itu bangunan cagar budaya.
b. Persyaratan Teknis
1) Bangunan bertingkat, syarat umum bangunan bertingkat:
a) site plan/gambar situasi dan tata letak bangunan;
b) gambar rencana denah, rencana fondasi, rencana atap, rencana
titik lampu, sanitasi dan detail sanitasi, potongan melintang dan
potongan memanjang, tampak depan, tampak samping, gambar
pagar, gambar kontruksi (kolom/kolom praktis, sloof, ring
balok, balok lintel, kuda-kuda beton, detail, plat lantai, tangga
dan lain-lain)
c) tanda tangan tetangga pada gambar rencana;
d) hitungan konstruksi (rangkap dua);
e) penyelidikan tanah rangkap;
f) tanda tangan penanggung jawab gambar;
g) surat pernyataan sanggup menanggung risiko konstruksi
bermaterai Rp. 6.000,00.

149 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031
LAPORAN AKHIR

2) Bangunan tidak bertingkat, syarat umum bangunan tidak bertingkat


a) Gambar rencana bangun-bangunan;
bangun
b) gambar rencana denah, rencana fondasi, rencana atap, rencana
titik lampu, sanitasi dan detail sanitasi, potongan melintang dan
potongan memanjang, tampak depan, tampak samping, gambar
pagar, gambar kontruksi (kolom/kolom praktis, sloof, ring
balok, balok lintel,
l kuda-kuda
kuda beton, detail, plat lantai, tangga
dan lain-lain);
lain
c) gambar rencana konstruksi (beserta detailnya);
d) gambar rencana instalasi (titik lampu, sakelar, stop kontak, dan
lain
lain-lain);
e) gambar rencana dan detail sanitasi (SPAH, Sp, septic tank,
inst
instalasi pemadam kebakaran).
3) Penertiban bangunan, syarat umum penertiban bangunan
bangunan:
a) gambar situasi/gambar situasi dan tata letak bangunan
(existing), bila diperlukan;
b) denah, tampak depan dan tampak samping, potongan, gambar
pagar, bila ada gambar titik lampu, sanitasi dan detail sanitasi;
c) foto bangunan (depan dan samping) rangkap dua, diusahakan
keseluruhan bangunan);
d) tanda tangan penanggung jawab gambar dan hitungan
konstruksi
konstruksi;
e) surat pernyataan sanggup menanggung risiko konstruksi
bermaterai Rp. 6.000,00.
4) Bangunan
unan Komersial, syarat umum bangunan
bangunan komersial:
a) Amdal;
b) UKL dan UPL;
c) surat pernyataan pengelolaan lingkungan hidup;
d) surat pernyataan kesanggupan menyediakan tempat parkir
bermaterai Rp. 6.000,00 (untuk usaha);
usaha)
e) rekomendasi kebakaran dari Kantor Perlindungan Masyarakat
dan Penanggulangan Kebakaran;
f) rekomendasi dari subdinas pengairan/kimpraswil provinsi bila
bangunan terletak dipinggir kali atau saluran pengairan;
g) IPL, untuk mendirikan menara/tower/antena, rencana anggaran
biaya;
h) IPL, untuk mendirikan SPBU, dan rekomendasi dari Pertamina
atau pemasok resmi;
i) site plan yang menjadi satu kesatuan dengan IPL harus disetujui
oleh Bappeda dan dinas kimpraswil kabupaten/kota.
5) Legalisasi:
Legalisasi
a) mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Perizinan/
Instansi lain yang berwenang;
berwen
b) melampirkan surat keterangan kehilangan dari kepolisian RI;
c) melampirkan fotocopy KTP pemohon;
d) melampirkan sketsa/dengan lokasi.
lokasi

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 150
LAPORAN AKHIR

7. Izin Mendirikan Bangunan Rumah Ibadat


IMB untuk rumah ibadat diatur dalam Peraturan Bersama Menteri Agama
dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2006 dan Nomor 8 Tahun
2006. Persyaratan yang diperlukan guna mendapatkan IMB rumah ibadat
sama seperti untuk memperoleh IMB untuk bangunan gedung biasa
disertai dengan syarat lain, yaitu:
a. daftar nama dan KTP pengguna rumah ibadat paling sedikit 90 orang
yang disahkan oleh pejabat setempat sesuai dengan tingkat batas
wilayah;
b. dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 orang yang disahkan
oleh lurah/kepala desa;
c. rekomendasi tertulis kepala kantor departemen agama kabupaten/
kota; dan
d. rekomendasi tertulis forum kerukunan umat beraga kabupaten/kota.
8. Izin Gangguan HO (Hinder Ordonantie)
Izin bangunan merupakan izin yang diberikan untuk tempat usaha kepada
orang pribadi atau badan dilokasi tertentu yang bisa menimbulkan bahaya,
kerugian, dan gangguan. Persyaratan yang diperlukan, antara lain sebagai
berikut:
a. Syarat Umum
1) fotocopy KTP;
2) fotocopy sertifikat tanah;
3) fotocopy IMBB atau surat mengurus/balik nama/alih fungsi IMB;
4) denah tempat usaha dan gambar situasi (site plan) tempat usaha
yang jelas;
5) surat pernyataan tanah dan bangunan tidak dalam sengketa;
6) surat persetujuan dari tetangga sekitar tempat usaha dengan
diketahui oleh pejabat wilayah setempat (ketua RT, ketua RW,
lurah, dan camat);
7) stopmap snelhekter.
b. Syarat badan hukum gangguan besar. Syarat umum dan syarat badan
hukum
1) dokumen untuk pengelola lingkungan hidup;
2) fotocopy akta pendirian perusahaan/cabang perusahaan.
c. Syarat perorangan gangguan besar
1) Syarat umum dan syarat perorangan;
2) Dokumen untuk mengelola lingkungan hidup.
d. Syarat gangguan kecil
1) Syarat umum.
e. Syarat perpanjangan
Syarat umum dan syarat perpanjangan
1) dokumen untuk mengelola lingkungan hidup;
2) fotocopy SK HO dilampiri SK HO asli;
3) situasi gambar (GS) IMB.

151 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031
LAPORAN AKHIR

f. Syarat pencabutan dan badan hukum


Syarat umum dan pencabutan badan hukum
1) surat permohonan;
permohonan
2) fotocopy SK HO dilampiri SK HO asli atau surat kehilangan dari
Kepolisian RI;
3) akta pencabutan.
pencabutan
g. Syarat pencabutan perorangan
Syarat umum dan syarat pencabutan perorangan
a) syarat permohonan;
b) fotocopy SK HO dilampiri SK HO asli atau surat kehilangan dari
Kepolisian
Kepolisian.
h. Syarat duplikat
1) surat permohonan;
permohonan
2) surat keterangan
keteranga kehilangan dari Kepolisian RI.
i. Syarat sewa
Syarat umum dan syarat sewa
1) Surat pernyataan tidak keberatan dari pemilik tempat atau bukti
sewa-menyewa.
menyewa.

9. Izin Pembangunan Menara Telekomunikasi Seluler


Jenis izin ini masih tergolong relatif baru, yang muncul sering dengan
berkembangnya teknologi komunikasi yang memerlukan sarana dan
prasarana, di antaranya berupa menara. Izin pembangunan menara
telekomunikasi seluler dimaksudkan untuk mengendalikan aktivitas
masyarakat dan mencegah dibangunnya menara telekomunikasi seluler
yang tidak terkendali. Untuk itu, diperlukan kaidah tata ruang, lingkungan,
dan estetika.
Seperti kita ketahui, untuk mendukung sarana telekomunikas
telekomunikasi, terutama
yang berjenis nirkabel, sangat diperlukan sarana berupa menara. Menara
telekomunikasi tersebut ada yang berfungsi sebagai base transceiver station
station,
yakni pusat transmisi dan penerima terdiri atas seperangkat alat
komunikasi data dan komunikasi suara dengan teknologi tertentu melalui
spektrum frekuensi radio yang dioperasikan oleh operator. Bahkan, dalam
perkembangannya tidak jarang satu menara dimanfaatkan secara bersama
bersama-
sama oleh lebih dari satu operatoruntuk kepentingan-kepentingan
kepentingan kepentingan mereka
yang bersifat paralel, misalnya sama-sama sama untuk fungsi repeater
telekomunikasi GSM, maupun untuk kepentingan yang berbeda satu sama
lain. Oleh karena itu para operator perlu mendapatkan penataan melalui
stelsel perizinan.
Dalam hal ini pembangunan menara perlu diperhatikan berbagai hal,
seperti penetapan lokasi, pembagian zona, dan bentuk menara
telekomunikasi. Ketika menentukan lokasi pembangunan menara, misalnya
diperhatikan ketentuan mengenai penataan ruang, keamanan dan
ketertiban lingkungan, estetika, serta
serta kebutuhan telekomunikasi yang lain.

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 152
LAPORAN AKHIR

Untuk penetapan lokasi menara telekomunikasi ditentukan zona


berdasarkan berbagai hal, seperti kepadatan penduduk, jumlah sarana dan
prasarana yang disediakan oleh pemerintah untuk kepentingan
perdagangan dan jasa serta infrastruktur lain, dan letak wilayah yang
bersangkutan.
Izin pembangunan menara telekomunikasi seluler dapat diberikan kepada
semua orang atau badan hukum yang menyelenggarakan kegiatan
pemanfaatan dan/atau pembangunan menara telekomunikasi seluler. Izin
tersebut dapat diberikan oleh bupati/walikota dan dipandang perlu ada
pembatasan masa berlaku, misalnya dua tahun dan dapat diperpanjang.
Untuk dapat memperoleh izin pemohon harus memenuhi berbagai
persyaratan, di antaranya:
a. rekomendasi ketinggian dari Komandan Pangkalan AU terdekat;
b. surat kuasa yang sah dari perusahaan apabila diurus oleh pihak lain;
c. bukti kepemilikan tanah apabila milik sendiri;
d. surat kerelaan atau perjanjian penggunaan/pemanfaatan tanah;
e. surat pernyataan persetujuan warga sekitar dalam radius 1,5 kali tinggi
menara;
f. surat pernyataan sanggup mengganti kerugian kepada warga
masyarakat apabila terjadi kerugian/kerusakan yang diakibatkan oleh
keberadaan menara telekomunikasi seluler tersebut;
g. gambar teknis yang meliputi gambar situasi, denah bangunan dengan
skala 1:100, gambar potongan, rencana fondasi 1:100, dan perhitungan
struktur;
h. persyaratan lain yang disesuaikan dengan situasi daerah.
Kepada pemegang izin pembangunan menara telekomunikasi seluler, baik
itu perorangan maupun badan dibebani kewajiban-kewajiban tertentu,
misalnya:
a. bertanggung jawab atas segala akibat yang ditimbulkan oleh
pelaksanaan izin yang telah diberikan;
b. melaksanakan ketentuan teknik, kualitas, standar keamanan dan
keselamatan, dan kelestarian fungsi lingkungan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku;
c. membantu pelaksanaan pengawasan yang telah dilakukan oleh petugas.
10. Izin In Gang
Izin in gang ini diperlukan bagi kagiatan tertentu yang memerlukan adanya
jalan masuk secara khusus ke lokasi kegiatan usaha.
Dalam hal ini kegiatan tersbut memerlukan akses jalan untuk
memungkinkan pemakai jalan memasuki tempat kegiatan tersebut. Untuk
mendapatkan izin in gang diperlukan berbagai persyaratan, diantaranya:
a. mengisi formulir yang telah disediakan, diketahui ketua RT sampai
dengan camat;

153 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031
LAPORAN AKHIR

b. fotocopy KTP pemohon;


pemohon
c. fotocopy sertifikat tanah atau surat ukur yang dikeluarkan kantor
pertanahan;
d. gambar sketsa lokasi;
e. gambar
bar rencana jalan masuk (in
( gang);
f. surat pernyataan (bilamana diperlukan).
11. Izin Saluran Air Hujan
Izin saluran air hujan diperlukan bagi mereka yang akan melakukan
kegiatan pembangunan saluran air hujan tertentu. Untuk mendapatkan izin
ini diperlukan berbagai persyaratan, diantaranya:
a. mengisi formulir yang telah disediakan, diketahui ketua RT sam sampai
camat;
b. fotocopy KTP pemohon;
c. fotocopy sertifikat tanah atau surat ukur yang dikeluarkan oleh kantor
pertanahan;
d. gambar
bar sketsa lokasi;
e. gambar rencana jalan masuk (in
( gang)) atau saluran air hujan;
f. surat pernyataan tidak bermaterai.
12. Izin Saluran Air Limbah/Saluran
Limbah/Sa Air Kotor
Izin saluran air limbah diperlukan bagi mereka yang akan melakukan
kegiatan pembagunan saluran air limbah/air kotor tertentu. Untuk
mendapatkan izin ini diperlukan berbagai persyaratan, diantarannya:
a. fotocopy IMBB/IMB;
b. denah situasi;
c. bagi bangunan
angunan yang belum memiliki IMBB, agar melampirkan fotocopy
sertifikat tanah;
d. fotocopy KTP pemohon.
pemohon

7.2.4. Mekanisme dan Prosedur Perizinan


Diantara jenis perizinan yang berhubungan erat dengan pemanfaatan ruang adalah
Izin Mendirikan Bangunan dan Izin Mendirikan Bangunan-Bangunan.
Bangunan. Pada bagan
alir dan tabel dibawah ini disampaikan mekanisme dan prosedur pengurusan
IMB/IMBB.

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 154
LAPORAN AKHIR

Gambar 7.1. Mekanisime Penerbitan Izin Lokasi/Persetujuan Prinsip

155 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031
LAPORAN AKHIR

Gambar 7.2. Mekanisime Penerbitan Izin Mendirikan Bangunan

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 156
LAPORAN AKHIR

Tabel 7.1. Prosedur Dan Tahapan Pengurusan Izin


No Proses kegiatan Hasil Waktu

1 Petugas Pelayanan/loket menerima berkas Berkas permohonan sudah lengkap, 10 Menit


permohonan dan meneliti kelengkapan siap untuk diproses (Hari I)
persayaratan
2 Petugas pelayanan/loket menuangkan Kelengkapan berkas permohonan 5 Menit
kelengkapan persayaratan tersebut pada kartu dipertanggung jawabkan (Hari I)
kendali (atau sebutan lain) dan membubuhkan
paraf disertai tanggal, bulan dan tahun
3 Petugas Pelayanan / loket membuatkan tanda 10
Pemohon mempunyai tanda terima
penerimaan berkas permohonan dan waktu Menit
berkas permohonan yang diajukan
penyelesaian serta menyerahkan tanda terima (Hari I)
kepada pemohon. Tanda terima ini dipakai Waktu sudah ditetapkan
untuk mengambil surat izin jika sudah selesai
nanti
4 Petugas Pelayanan/loket meregister berkas Berkas permohonan sudah tercatat 5 Menit
permohonan dimaksud pada buku agenda (Hari I)
pendaftaran dan dientri pada computer
berdasarkan nomor urut pendaftaran
5 Petugas Verifikasi/Notulen menerima berkas Berkas permohonan siap dirapat 10 Menit
yang sudah lengkap dari petugas koordinasikan dengan Tim Teknis (Hari I)
Pelayanan/loket dan dicatat pada buku register
rapat koordinasi
6 Rapat koordinasi Tim Teknis, Notulen 60 Menit
Barita acara verifikasi/Rakor
mencatat jalannya rapat dan hasilnya (Hari II)
permohonan ijin
dituangkan dalam berita acara rapat koordinasi
yang ditandatangani Koordinator dan Anggota Berkas siap di tinjau lokasi/cek
Tim Teknis kebenaran di lapangan
7 Tinjauan lokasi dan hasilnya dituangkan dalam Menit
Berita acara tinjauan lokasi tim
berita acara tinjauan lokasi yang ditandatangani (Hari II)
teknis
coordinator dan anggota tim teknis
Konsep rekomendasi
8 Barita acara Tinjauan Lokasi di kirim ke SKPD Rekomendasi teknis dari SKPD Menit
yang berkompeten untuk dibuatkan yang berkompeten (Hari III)
rekomendasi teknis
9 Petugas memproses izin memasukkan data- 20 Menit
Data pemohon sudah masuk
data pemohon untuk surat izin yang telah (Hari IV)
computer
direkomendasi sesuai ketentuan dan
kebutuhan, dicetak rangkap 3 (tiga) Naskah surat izin sudah tercetak
selanjutnya dilekatkan pada berkas-berkas
permohonan
10 Kepala bidang meneliti kelengkapan dan Diperoleh persetujuan dari kepala 15 Menit
keabsahan berkas permohonan serta bidang (Hari IV)
membubuhkan paraf pada lembar kendali dan
arsip surat izin disertai tanggal, bulan dan tahun
11 Kepala bagian Tata Usaha meneliti kelengkapan Diperoleh persetujuan dari kepala 15 Menit
dank e absahan berkas permohonan serta bagian tata usaha dan pengantar (Hari IV)
membubuhkan paraf pada nota pengajuan konsep izin untuk ditandatangani
konsep naskah dinas (NPKND) dan arsip surat pimpinan SKPD pelayanan terpadu
izin disertai tanggal, bulan dan tahun
12 Pimpinan SKPD pelayanan Terpadu Perizinan 30 Menit
Diperoleh persetujuan dari
meneliti kembali naskah surat izin untuk (Hari IV)
pimpinan SKPD Pelayanan Terpadu
kemudian menandatangani atau mengajukan
Surat izin siap diterbitkan

157 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031
LAPORAN AKHIR

penandatanganan surat izin kepada bupati


13 Petugas agenda/agendaris memberikan nomor Surat izin siap diterbitkan sudah 15 Menit
surat izin dan meregister dalam buku agenda tercatat dan lengkap. (Hari IV)
dan computer, membubuhkan stempeldan
stempel Surat izin asli untuk Pemohon
melakukan pemilihan berkas : Arsip berkas pemohon
Surat izin asli yang akan diserahkan kepada
pemohon dalam
map khusus disiapkan di bagian penyerahan
izin.
Lembar kedua dan arsip surat izin serta
berkas-berkas
berkas permohonan untuk
pengarsipan/penyimpanan sebagai bahan
rekapitulasi dan laporan
14 Petugas kasir membuat dan menandatangani Biaya surat izin sudah diterima 10 Menit
kuitansi (atau sebutan lain) hasil print out Pemohon sudah menerima bukti (Hari V)
computer (nomor urut, tanggal, bulan dan pembayaran
tahun) dan menerima pembayaran dari Data keuangan sudah terekam di
pemohon . computer
Asli kuitansi diserahkan kepada pemohon
Arsip kuitansi dilekatkan pada berkas
permohonan
15 Petugas penyerahan surat izin memberikan 10 Menit
Surat izin diterima pemohon
surat izin kepada pemohon aetelah pemohon (Hari V)
menunjukan bukti pelunasan pembayaran Bukti penerimaan surat izin sudah
sesuai ketentuan dan tanda terima berkas tercatat
permohonan
16 Petugas arsip menyimpan arsip surat izin Arsip surat izin tersusun rapi sesuai 10 Menit
beserta berkas permohonan terhimpun metode dan klasifikasi penyimpanan (Hari V)
menjadi satu, sesuai dengan metode dan arsip
klaisfikasi penyimpanan arsip, digunakan untuk
penyusunan rekapitulasi dan bahan
pandataan/statistic, laporan bulanan,
tribulan/semester/tahunan
Sumber : Hasil Analisis Tim, Tahun 2011

7.3. KETENTUAN INSENTIF DAN DISINSENTIF

Ketentuan insentif dan disintensif menjadi alat yang paling efektif dalam rangka
mencapai tujuan perencanaan tata ruang yang telah ditetapkan serta dalam
mewujudkan struktur dan pola ruang yang telah direncanakan. Insentif diberikan
kepada pihak calon pemanfaat lahan
lahan yang bersesuaian dengan rencana tata ruang
yang telah ditetapkan dan disinsentif diberikan pada pemanfaat lahan yang tidak
bersesuaian dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan, selama tidak
membawa
bawa dampak penting terhadap lingkungan fisik dan sosial.
sosi
Insentif yang merupakan perangkat atau upaya untuk memberikan imbalan
terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan rencana tata ruang, dapat
berupa:

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 158
LAPORAN AKHIR

1. Keringanan pajak, pemberian kompensasi, subsidi silang, imbalan, sewa


ruang, dan urun saham;
2. Pembangunan serta pengadaan infrastruktur;
3. Kemudahan prosedur perizinan; dan/atau
4. Pemberian penghargaan kepada masyarakat, swasta dan/atau pemerintah
daerah.
Disinsentif adalah perangkat untuk mencegah, membatasi pertumbuhan, atau
mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang, yang dapat
berupa :
1. Pengenaan pajak yang tinggi yang disesuaikan dengan besarnya biaya yang
dibutuhkan untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan akibat pemanfaatan
ruang; dan/atau.
2. Pembatasan penyediaan infrastruktur, pengenaan kompensasi, dan penalti.
Dalam pemberian insentif dan disinsentif seyogyanya dengan tetap menghormati
hak masyarakat. Sedangkan Insentif dan disinsentif dapat diberikan oleh:
1. Pemerintah kepada pemerintah daerah;
2. pemerintah daerah kepada pemerintah daerah lainnya; dan
3. Pemerintah kepada masyarakat.
Ketentuan insentif berlaku untuk kawasan yang didorong pertumbuhannya,
seperti :
1. Kawasan Perkotaan; secara faktual hampir seluruh ibukota kecamatan
di Kabupaten Konawe sudah mempunyai ciri perkotaan. Berkenaan
dengan rencana struktur ruang yang telah ditetapkan, diperlukan upaya-
upaya perwujudan peran dan fungsi pusat kegiatan/pelayanan sesuai
hirarkinya diperlukan insentif, seperti pembangunan prasarana dan sarana
perkotaan secara memadai.

2. Kawasan Pertanian; salah satu misi pembangunan pertanian Kabupaten


Konawe adalah agar terbangunnya swasembada pangan. Namun pada sisi
lain terlihat adanya kecenderungan penurunan luas pertanian (padi-sawah).
Oleh karena itu penting untuk memberikan insentif bagi petani yang tetap
dan bahkan didorong untuk meningkatkan produksi padi-sawah. Insentif
dapat berupa pembangunan irigasi teknis/desa yang dibutuhkan,
pembangunan jalan produksi, perbaikan perumahan petani, dan lain-lain.
Sedangkan pada kawasan sentra pertanian penting untuk dibangun
berbagai fasilitas penunjang agar sentra tersebut dapat berfungsi optimal.

3. Kawasan Perkebunan; Kakao yang menjadi primadona hasil


perkebunan Kabupaten Konawe perlu didorong tingkat produksinya
dengan memberikan berbagai insentif bagi pelaku budidaya Kakao dan
pengolahan. Bentuk insentif dapat berupa pembangunan dan peningkatan
jalan produksi, penyediaan lahan penjemuran, gudang penyimpanan,
fasilitas pengeolahan (pabrik), pengemasan dan lain-lain.

159 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031
LAPORAN AKHIR

4. Kawasan Pesisir;
Pesisir salah satu potensi
nsi ekonomi masa depan Kabupaten
Konawe yang saat ini belum terkelola secara optimal adalah potensi laut,
baik dari sisi ikan tangkap, budidaya perikanan, rumput laut, transportasi,
wisata bahari, potensi angin laut dan gelombang dan sebagainya. Oleh
karenaa itu pengembangan kawasan pesisir dengan segala potensinya perlu
didorong dan ditumbuhkan
ditum hkan secara lebih progresif. Insentif yang dapat
dilakukan untuk itu diantaranya adalah menetapkan rencana detil kawasan
pesisir (rencana zonasi), sehingga terdapat arahan
arahan dan kepastian hukum
dalam berinvestasi, memberikan kemudahan untuk berinvestasi,
membangun fasilitas penunjang pelabuhan seperti dermaga, tempat
pelelangan ikan, bantuan alat tangkap, industri pengolahan dan lain
lain-lain.

5. Kawasan Wisata;
Wisata Selain potensi kelautan
autan dan perikanan, terdapat
berbagai jenis ODTW yang juga dapat diandalkan sebagai penggerak
pertumbuhan ekonomi Kabupaten Konawe.. Untuk itu diperlukan berbagai
insentif agar sektor ini dapat tumbuh serta berembang dan menjadi
lokomotif pertumbuhan ekonomi,
ekonomi, diantara insentif yang dapat diterapkan
adalah pembangunan prasarana dan sarana perhubungan, penataan
lingkungan dan bangunan, penyediaan berbagai fasilitas penunjang
pariwisata, promosi dan pemasaran.

6. Kawasan Stategis;
Stategis kawasan strategis Kabupaten Konawe yang telah
ditetapkan adalah Kawasan Kota Unaaha, Pertanian Wawotobi, Pulau
Wawonii,, Laika Mbuu, Bendungan Wawotobi, Pulau Pulau-Pulau Kecil,
Geothermal di Lambuya dan PLTU Nii Tanasa. Kedelapan kawasan ini
penting untuk didorong pertumbuhannya dengan berbagai insentif seperti
pembangunan prasarana dan sarana pehubungan, kemudahan dalam
investasi, sarana produksi hasil panen dan lain-lain.
lain
Kawasan yang perlu dikendalikan dan dibatasi perkembangnnya dan sekaligus
disinsentif yang mungkin diterapkan
diterapka pada kawasan tersebut
ersebut adalah sebagai berikut
1. Kawasan Rawan Bencana;
Bencana Kabupaten Konawe mempunyai kawasan
rawan bencana yang beragam dan tersebar secara luas. Seluruh kawasan
rawan bencana, baik rawan gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir,
abrasi, maupun
pun angin puting beliung harus diantisipasi sejak dini dengan
berbagai pendekatan mitigasi yang dapat menghindari atau mengurangi
dampak bencana. Perlu adanya pembatasan dan syarat syarat-syarat tertentu
dalam pembangunan permukiman pada kawasan rawan bencana, ha hal ini
dilakukan terkait dengan keamanan permukiman dan masyarakat,
disinsentif dapat dikenakan kepada masyarakat yang melakukan
pembangunan pada kawasan rawan bencana.

2. Kawasan Pertanian dan Perkebunan;


Perkebunan; pengendalian pada kawasan ini
terkait dengan okupansi kegiatan pertanian dan perkebunan pada kawasan
lindung. Hal ini sudah berlangsung lama dan momentum penyusunan
RTRW ini adalah awal untuk menetapkan kawasan perkebunan ((kakao,

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 160
LAPORAN AKHIR

jambu mete, kelapa dalam) yang sesuai dengan peruntukkannya dan tidak
berada pada kawasan lindung. Agar hal ini dapat berjalan, diperlukan
adanya disinsentif pada pekerja kebun seperti tidak dilakukannya
pembinaan pada petani kebun yang mempunyai kegiatan perkebunan pada
kawasan lindung.

3. Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai dan Taman Hutan


Raya (Tahura) Murhum; merupakan kawasan konservasi yang
keberadaanya perlu mendapat pengendalian karena selain kawasan lindung
nasional juga sudah ditetapkan menjadi warisan dunia. Fakta lapangan,
kawasan ini mengalami kerusakan berarti dan oleh karena itu segala
bentuk perusakan termasuk kegiatan pertanian atau perkebunan
seyogyanya harus dihentikan. Secara gradual pendekatan disinsentif perlu
segera diterapkan pada pihak yang melakukan kagiatan yang bertentangan
dengan tujuan konservasi, seperti perkebunan dan pertanian.

4. Kawasan Pertambangan; mengingat visi penataan ruang Kabupaten


Konawe sebagai kabupaten lumbung beras, dan umumnya kegiatan
pertambangan bertentangan dengan konservasi lahan pertanian namun
pada sisi lain kegiatan pertambangan berkontribusi secara signifikan bagi
peningkatan pendapatan masyarakat dan daerah. Oleh karena itu kegiatan
pertambangan dapat dikembangkan namun perlu dikendalikan atau
dikembangkan secara terbatas, dimana batasan dalam pengembangan
kegiatan pertambangan adalah selama kegiatan penambangan tersebut
tidak menimbulkan dampak lingkungan yang penting dan dalam
plekasanaan kegiatan pertambangan tersebut harus mengikuti peraturan
dan perundang-undangan yang berlaku.
Tabel 7.2. Ketentuan Insentif dan Disinsentif Pemanfaatan Ruang
di Kabupaten Konawe 2011-2031
Klasifikasi
Pemanfaatan Insentif Disinsentif
Ruang

Kawasan Lindung Pemberian penghargaan kepada pihak Pembatasan dukungan


Taman Nasional yang melakukan rehabilitasi fungsi infrastruktur Tidak
Rawa Aopa Kawasan Lindung. mengeluarkan IMB
Watumohai dan Memberikan bantuan kredit kepada Pembatasan bantuan sosial-
Taman Hutan Raya masyarakat lokal yang melakukan ekonomi bagi masyarakat yang
(Tahura) Murhum reboisasi dengan pola HKm, HTR masih bermukim pada
ataupun HTD. kawasan lindung.
Memberikan kompensasi permukiman
dan atau imbalan kepada penduduk
yang bersedia direlokasi dari Kawasan
Lindung.

161 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031
LAPORAN AKHIR

Kawasan Lindung Pemberian penghargaan kepada pihak Pembatasan dukungan


Setempat/ Hutan yang melakukan rehabilitasi fungsi infrastruktur
Lindung kawasan lindung Tidak diterbitkannya sertifikat
Memberikan kompensasi permukiman Tanah dan Bangunan
dan atau imbalan kepada penduduk Tidak mengeluarkan IMB
yang bersedia direlokasi dari kawasan ataupun izin usaha lain
lindung Tidak menyalurkan bantuan
sosial- ekonomi bagi
penduduk yang masih
bermukim pada kawasan
lindung/hutan lindung

Hutan Produksi Memberikan penghargaan/imbalan Penambahan syarat


(kawasan HPT) kepada pihak pengelola hutan yang pengusahaan hutan produksi
mengusahakan hutan sesuai peraturan terkait peningkatan kualitas
perundang
perundang-undangan yang berlaku lingkungan
Memberikan bantuan, fasilitasi, Meningkatkan nilai retribusi
dukungan, perlindungan hukum dan dan atau pajak hasil hutan bila
subsidi kepada masyarakat yang pengelola hutan tidak
mengembangkan HKm, HTR & HTD mengikuti aturan pengusahaan
pada kawasan HPT hutan yang be
berlaku
Memberikan pinalti bagi
pengusaha hutan yang tidak
mematuhi aturan perundang
perundang-
undangan yang berlaku

Kawasan Memberikan imbalan, penghargaan, Pengenaan pajak progresif pada


Pertanian dukungan infrastruktur dan bantuan tanah subur yang tidak
(subsidi) bagi petani yang memperluas berfungsi lindung dan berada
lahan pertanian padi sawah pada kawasan pertanian namun
Memberikan kemudahan berbagai tidak diolah (produktif)
perizinan bagi petani yang Pengenaan retribusi dan pajak
memperluas lahan atau tetap yang tinggi bagi bangunan yang
mempertahankan luas lahan pertanian didirikan pada areal pertan
pertanian
padi sawah padi sawah
Memberikan bantuan-bantuan
bantuan khusus Pengenaan retribusi yang tinggi
kepada petani padi sawah (saprotan, bagi penduduk yang
beasiswa sekolah anak petani, dll) memanfaatkan air irigasi bukan
Menjamin harga
harg gabah tetap tinggi untuk pertanian, kecuali tidak
(subsidi) mengurangi debit dan volume
air irigasi

Perkebunan Memberikan penghargaan, imbalan, Pengenaan


aan retribusi/ kenaikan
penyertaan saham, kemudahan pajak/kompensasi bagi
perizinan, kepada pihak yang pengusaha yang dalam
mengelola perkebunan dengan pengelolaan kegiatannya
memprioritaskan penyerapan tenaga mengabaikan kerusakan
kerja lokal lingkungan dan atau tidak sesuai
Memberikan penghargaan, imbalan, dengan aturan perundang
perundang-
penyertaan saham, kemudahan undangan yang berlaku
perizinan, kepada pihak yang Pencabutan izin usaha dan
mengelola perkebunan dengan HGU pada perusahaan yang
merehabilitasi kawasan lindung terbukti mela
melanggar aturan
setempat Tidak memberikan bantuan
penyuluhan, pembangunan
infrastruktur, subsidi dan

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 162
LAPORAN AKHIR

bantuan lainnya kepada pelaku


perkebunan yang berlokasi pada
kawasan lindung.

Kawasan Penyiapan lahan pusat perdagangan Kenaikan retribusi/pajak (PBB)


Perkotaan Pembangunan infrastruktur pusat kota pada lahan stratgis pusat kota
Kemudahan izin pembangunan fasilitas Mengenakan retribusi yang
sosial, jasa dan perdagangan. tinggi pada bangunan yang
Memberikan imbalan, penghargaan, dibangun diluar ketentuan
kompensasi dan kemudahan usaha penataan ruang yang sudah
bagi penduduk (swasta) yang ditetapkan
melakukan investasi pada kawasan Tidak memberikan izin
perkotaan pembangunan bangunan yang
Menyediakan kavling strategis yang mempunyai fungsi komersial
murah atau pinjam pakai sampai 25 pada skala pelayanan tingkat
tahun) bagi pengusaha yang akan kecamatan/kabupaten diluar
bergiat pada kawasan ini pusat kegiatan/pelayanan yang
Memberikan keringanan pajak kepada sudah ditetapkan
pengusaha yang berminat berusaha/
menanamkan modalnya
Menyiapkan lahan matang
(kasiba/lisiba) untuk perumahan dan
bangunan komersial
Kawasan Menyiapkan dukungan administratif Mengenakan retribusi yang
Pertambangan sehingga terdapat kepastian hukum tinggi bagi perusahaan yang
berusaha mempunyai dampak cukup
Memberikan kemudahan dalam penting terhadap pelestarian
perizinan lingkungan
Dukungan pembangunan infrastruktur Mengenakan retribusi khusus
Memfasilitasi urusan birokrasi dengan bagi perusahaan
pemerintah provinsi dan pusat pertambangan yang tidak
Mendukung pelatihan tenaga lokal melibatkan tenaga kerja lokal
sesuai kebutuhan perusahaan lebih dari 40%
pertambangan
Pemberian izin harus disertai kontrak
reklamasi yang terukur
Kawasan Memberikan kemudahan perizinan Tidak membangun prasarana
Permukiman pembangunan rumah/ perumahan permukiman, fasilitas sosial
yang sesuai peruntukan dan umum bagi rumah
Membangun prasarana permukiman (kelompok rumah) yang
Membangun fasilitas umum dan sosial berada pada kawasan rawan
Memberikan kepastian hukum dan bencana
nasehat teknis untuk bangunan tahan
gempa yang dibangun pada kawasan
bebas bencana
Menyiapkan lahan yang aman bagi
permukiman (kasiba/lisiba)
Kawasan Pesisir Penyediaan fasilitas nelayan (dermaga Pembatasan izin bangunan
kapal/perahu, TPI, Depot Es, dll.) pada kawasan rawan tsunami
Bantuan peralatan tangkap dan abrasi
Pelatihan keterampilan untuk nelayan Retribusi/pajak bangunan lebih
Pembangunan pabrik pengolahan ikan tinggi yang berada pada
dan non ikan sempadan pantai
Penelitian dan pemasaran hasil laut
Kemudahan izin usaha perikanan

163 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031
LAPORAN AKHIR

(sesuai aturan berlaku)


Escape Road & Building
Pemberian subsidi bagi pelaku
pembangun pelndung terhadap
tsunami/abrasi
Kemudahan dan bantuan
pembangunan cotttage/homestay bagi
pengembang lokal
Kawasan Wisata Penyiapan lahan untuk kawasan wisata Syarat yang berat bagi
Kemudahan izin pembangunan fasiltias penggiat wisata yang
pendukung pariwisata betentangan dengan norma
Pembangunan infrastruktur dan tata krama setempat
Kemudahan memperoleh sambungan Retribusi/pajak bangunan lebih
listrik, PDAM, telekomunikasi tinggi yang berada pada
Fasilitasi Promosi ODTW sempadan pantai

Kawasan Rawan Nasehat (advice


( planning) Sanski yang berat, tegas dan
Bencana (gempa, pembangunan bangunan yang ramah jelas sesuai UU pada pelaku
tsunami, longsor, bencana penyebab bencana (perambah
banjir, abrasi, angin Penyiapan lahan beresiko rendah kawasan lindung)
putting beliung). Pelatihan mitigasi
Pembatasan duungan infrastruktur
bagi bangunan yang berada pada
kawasan rawan bencana tinggi
Sumber : Hasil Analisis Tim, Tahun 2011

7.4. KETENTUAN SANKSI

7.4.1. Ketentuan Sanksi Administratif


Pada beberapa UU terdapat kesamaan tentang sanksi administratif dalam
pelanggaran hukum yang terkait dengan penataan ruang. Sanksi diberikan kepada
pejabat berwenang dan masyarakat
masyar (pemegang izin, hak). Adapun
un bentuk sanksi
administrasi adalah ;
1. Peringatan tertulis dilakukan apabila :
a. Pelaksanaan pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan izin yang
diberikan.
b. Pelaksanaan pemanfaatan ruang telah dilakukan sementara izinnya
belum diberikan oleh pihak yang berwenang.

2. Penghentian sementara kegiatan


Sanksi ini dikenakan apabila peringatan tertulis yang telah diberikan
berturut-turut
turut sebanyak 3 (tiga) kali tidak diindahkan oleh pemohon/
pelaku
elaku pemanfaatan ruang.

3. Penghentian sementara pelayanan umum


Pemberhentian sementara pelayanan umum seperti penyediaan listrik,
telepon, air bersih dan sejenisya apabila sanksi penghentian sementara
kegiatan tidak diindahkan.

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 164
LAPORAN AKHIR

4. Penutupan lokasi
Pengenaan sanksi penutupan lokasi apabila terkait hal-hal sebagai berikut :
a. Pembangunan tidak disertai izin mendirikan bangunan.
b. Penggunaan lahan tidak sesuai dengan izin yang diberikan.
c. Pembanguan menimbulkan masalah lingkungan.
d. Sanksi ini dilakukan atau berlaku setelah penerapan sanksi tertulis,
sanksi penghentian kegiatan dan sanksi pemberhentian sementara tidak
dilakukan tindak lanjut oleh pemilik atau pelaku pembangunan.

5. Pencabutan izin
Sanksi pencabutan izin dilakukan apabila terkait dengan hal-hal :
a. Rencana dan pelaksaaan pembangunan tidak sesuai dengan rencana
serta sudah diselesaikannya pembangunannya.
b. Pelangaran ketentuan teknis dan penggunaan lahan yang telah
ditetapkan dalam perizinan yang telah diterbitkan.
c. Terjadi ketidaksesuaian kepemilikan lahan.
d. Terjadi permasalahan dalam proses pelaksanaan pembangunan seperti
terjadinya permasalahan bangunan menimbulkan kecelakaan pada
masyarakat sekitarnya.
e. Penggunaan lahan tidak sesuai dengan izin dan menimbulkan masalah
seperti : masalah sosial dan kerusakan lingkungan.

6. Pembatalan izin dan pembongkaran


Sanksi pembatalan Izin dan Sanksi pembongkaran dilakukan hampir secara
bersamaan, setelah pengenaan sanksi tertulis, sanksi pemberhentian
sementara kegiatan dan pelayanan umum serta penutupan lokasi dilakukan
dalam batas waktu yang telah ditentukan untuk melakukan perbaikan tidak
dilaksanakan, maka sanksi pembatalan izin diterapkan dengan lampiran
pemberitahuan jangka waktu pelaksanaan pembongkaran

7. Sanksi pemulihan fungsi ruang


Sanksi pemulihan fungsi ruang dilakukan apabila :
a. Kegiatan pembangunan merusak fungsi lindung dan kelestarian alam
yang ada missal pembangunan di daerah sempadan sungai, sempadan
pantai, kawasan konservasi, Kawasan Rencana Tata Hijau dan
Pencemaran pada saluran drainase maupun sungai.
b. Kegiatan menimbulkan permasalahan limbah bagi masyarakat sekitar.
c. Maka pelaksana pembangunan harus memperbaikinya.

8. Sanksi Denda Administrasi


Sanksi denda administrasi dilakukan apabila kondisi izin pembangunan
maupun yang tidak memiliki izin melakukan kesalahan penggunaan lahan
dikenakan denda administrasi berupa pembayaran uang administrasi
pelanggaran.

165 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031
LAPORAN AKHIR

7.4.2. Sanksi Pidana


Konsistensi dan tegaknya aturan yang telah disahkan secara hukum dapat berjalan
sebagaimana yang diharapkan bila terdapat sanksi yang tegas
tegas dan jelas. Berkenaan
dengan penataan ruang Kabupaten Konawe yang mempunyai beberapa fungsi
kawasan, seperti pesisir, hutan, konservasi, permukiman, berkenaan dengan
kegiatan seperti pariwisata, pertambangan, perkebunan, pertanian, ataupun
yang berhubungan dengan infrastruktur dan lain-lain,lain lain, maka ketentuan
sanksi seyogyanya mengacu pada peraturan perudang-undangan
undangan yang ada. Berikut
akan dirinci ketentuan sanksi berdasarkan peraturan
turan perundang
perundang-undangan yang
terkait
erkait dengan penataan ruang Kabupaten Konawe.
1. Ketentuan Sanksi tentang Kehutanan
Ketentuan yang terkait erat dengan penataan ruang dalam UU No. 41
tahun 1999 tentang Kehutanan adalah perlindungan hutan dan konservasi
(pasal 50 ayat 3), dimana setiap orang dilarang:
[1] Mengerjakan dan atau menggunakan dan atau menduduki kawasan
hutan secara tidak sah;
[2] Merambah kawasan hutan;
[3] Melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan dengan radius
atau jarak sampai dengan:
a. 500 (lima ratus) meter dari tepi waduk atau danau;
b. 200 (dua ratus) meter dari tepi mata air dan kiri kanan sungai
di daerah rawa;
c. 100 (seratus) meter dari kiri kanan tepi sungai;
d. 50 (lima puluh) meter dari kiri kanan tepi anak sungai;
e. 2 (dua) kali kedalaman jurang dari tepi jurang;
f. 130 (seratus
(seratus tiga puluh) kali selisih pasang tertinggi dan pasang
terendah dari tepi pantai.
[4] Membakar hutan;
[5] Menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan di dalam
hutan tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang;
[6] Menerima, membeli atau menjual,
menjual, menerima tukar, menerima titipan,
menyimpan, atau memiliki hasil hutan yang diketahui atau patut diduga
berasal dari kawasan hutan yang diambil atau dipungut secara tidak
sah;
[7] Melakukan kegiatan penyelidikan umum atau eksplorasi atau
eksploitasi bahan tambang di dalam kawasan hutan, tanpa izin Menteri;
[8] Mengangkut, menguasai, atau memiliki hasil hutan yang tidak dilengkapi
bersama-sama
sama dengan surat keterangan sahnya hasil hutan;
[9] Menggembalakan ternak di dalam kawasan hutan yang tidak ditunjuk
secara khusus
khusus untuk maksud tersebut oleh pejabat yang berwenang;
[10] Membawa alat-alat
alat berat dan atau alat-alat
alat lainnya yang lazim atau
patut diduga akan digunakan untuk mengangkut hasil hutan di dalam
kawasan hutan, tanpa izin pejabat yang berwenang;

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 166
LAPORAN AKHIR

[11] Membawa alat-alat yang lazim digunakan untuk menebang, memotong,


atau membelah pohon di dalam kawasan hutan tanpa izin pejabat yang
berwenang;
[12] Membuang benda-benda yang dapat menyebabkan kebakaran dan
kerusakan serta membahayakan keberadaan atau kelangsungan fungsi
hutan ke dalam kawasan hutan;
[13] Mengeluarkan, membawa, dan mengangkut tumbuh-tumbuhan dan
satwa liar yang tidak dilindungi undang-undang yang berasal dari
kawasan hutan tanpa izin dari pejabat yang berwenang.
Ketentuan Pidana;
[1] Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) atau Pasal 50 ayat (2), diancam
dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling
banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
[2] Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf a, huruf b, atau huruf c,
diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan
denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
[3] Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf d, diancam dengan pidana
penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak
Rp. 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
[4] Barang siapa karena kelalaiannya melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf d, diancam dengan pidana
penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak
Rp. 1.500.000.000,00 (satu milyar lima ratus juta rupiah).
[5] Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf e atau huruf f, diancam dengan
pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak
Rp. 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
[6] Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 38 ayat (4) atau Pasal 50 ayat (3) huruf g,
diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan
denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).

2. Ketentuan Sanksi tentang Konservasi SDA Hayati &


Ekosistemnya.
Ketentuan sanksi tentang penataan ruang yang terkait dengan UU No. 5
Tahun 1990 Tentang Konservasi SDA Hayati & Ekosistemnya pasal 19 dan
33 adalah :
Pasal 19
[1] Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan
perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam.

167 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031
LAPORAN AKHIR

[2] Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak termasuk


kegiatan pembinaan habitat untuk kepentingan satwa di dalam suaka
margasatwa.
[3] Perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) meliputi mengurangi,
mengurangi, menghilangkan fungsi
dan luas kawasan suaka alam, serta menambah jenis tumbuhan dan
satwa lain yang tidak asli.
Pasal 33
[1] Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan
perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional.
[2] Perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) meliputi mengurangi, menghilangkan fungsi
dan luas zona inti taman nasional, serta menambah jenis tumbuhan dan
satwa lain yang tidak asli.
[3] Setiap orang dilarang melakukan kegiatan
kegiatan yang tidak sesuai dengan
fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional, taman
hutan raya, dan taman wisata alam.
Ketentuan Pidana, Pasal 40
[1] Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 33
ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun
dan denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
[2] Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2)
serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama
5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus
juta rupiah).
[3] Barang siapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran tterhadap
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 33
ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun
dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
[4] Barang siapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran
pelanggaran terhadap
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2)
serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1
(satu) tahun dan denda paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah).
[5] Tindak pidana sebagaimana
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) adalah
kejahatan dan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan
ayat (4) adalah pelanggaran.
3. Ketentuan Sanksi tentang Pariwisata
Ketentuan sanksi tentang penataan ruang yang terkait dengan UU No. 10
Tahun
un 2009 Tentang Kepariwisataan pasal 27 adalah :

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 168
LAPORAN AKHIR

[1] Setiap orang dilarang merusak sebagian atau seluruh fisik daya tarik
wisata.
[2] Merusak fisik daya tarik wisata sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
adalah melakukan perbuatan mengubah warna, mengubah bentuk,
menghilangkan spesies tertentu, mencemarkan lingkungan,
memindahkan, mengambil, menghancurkan, atau memusnahkan daya
tarik wisata sehingga berakibat berkurang atau hilangnya keunikan,
keindahan, dan nilai autentik suatu daya tarik wisata yang telah
ditetapkan oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah.
Ketentuan Pidana
[1] Setiap orang yang dengan sengaja dan melawan hukum merusak fisik
daya tarik wisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 dipidana
dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan denda paling
banyak Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
[2] Setiap orang yang karena kelalaiannya dan melawan hukum, merusak
fisik, atau mengurangi nilai daya tarik wisata sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 27 dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar
rupiah).
4. Ketentuan Sanksi tentang Sumber Daya Air
Ketentuan sanksi tentang penataan ruang yang terkait dengan UU No. 7
Tahun 2004 Sumber Daya Air pasal 94, 95, 96 adalah :
Pasal 94
[1] Dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun dan
denda paling banyak Rp. 1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta
rupiah):
a. setiap orang yang dengan sengaja melakukan kegiatan yang
mengakibatkan rusaknya sumber air dan prasarananya, mengganggu
upaya pengawetan air, dan/atau mengakibatkan pencemaran air
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24; atau
b. setiap orang yang dengan sengaja melakukan kegiatan yang dapat
mengakibatkan terjadinya daya rusak air sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 52.
[2] Dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda
paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah):
a. setiap orang yang dengan sengaja melakukan kegiatan penggunaan
air yang mengakibatkan kerugian terhadap orang atau pihak lain
dan kerusakan fungsi sumber air sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 32 ayat (3); atau
b. setiap orang yang dengan sengaja melakukan kegiatan yang
mengakibatkan rusaknya prasarana sumber daya air sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 64 ayat (7).

169 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031
LAPORAN AKHIR

[3] Dipidana dengan pidana penjara


penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda
paling banyak Rp.
Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah):
a. setiap orang yang dengan sengaja menyewakan atau
memindahtangankan sebagian atau seluruhnya hak guna air
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2);
b. setiap orang yang dengan sengaja melakukan pengusahaan sumber
daya air tanpa izin dari pihak yang berwenang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3); atau
c. setiap orang yang dengan sengaja melakukan kegiatan pelaksanaan
konstruksi prasarana sumber daya air yang
yang tidak didasarkan pada
norma, standar, pedoman, dan manual sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 63 ayat (2);
d. setiap orang yang dengan sengaja melakukan kegiatan pelaksanaan
konstruksi pada sumber air tanpa memperoleh izin dari
Pemerintah atau pemerintah daerah
daerah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 63 ayat (3).
Pasal 95
[1] Dipidana dengan pidana penjara paling lama 18 (delapan belas) bulan
dan denda paling banyak Rp.
Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah):
a. setiap orang yang karena kelalaiannya mengakibatkan kerusakan
sumber daya air dan prasarananya, mengganggu upaya pengawetan
air, dan/atau mengakibatkan pencermaran air sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 24; atau
b. setiap orang yang karena kelalaiannya melakukan kegiatan yang
dapat mengakibatkan terjadinya daya rusak air sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 52.
[2] Dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda
paling banyak Rp.
Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah):
a. setiap orang yang karena kelalaiannya melakukan kegiatan
penggunaan air yang mengakibatkan kerugian
kerugian terhadap orang atau
pihak lain dan kerusakan fungsi sumber air sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 32 ayat (3); atau;
b. setiap orang yang karena kelalaiannya melakukan kegiatan yang
mengakibatkan kerusakan prasarana sumber daya air sebagaimana
dimaksud dalam
d Pasal 64 ayat (7).
[3] Dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan dan denda
paling banyak Rp.
Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah):
a. setiap orang yang karena kelalaiannya melakukan pengusahaan
sumber daya air tanpa izin dari pihak yang berwenang
berwenang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3);
b. setiap orang yang karena kelalaiannya melakukan kegiatan
pelaksanaan konstruksi prasarana sumber daya air yang tidak
didasarkan pada norma, standar, pedoman, dan manual
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (2);

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 170
LAPORAN AKHIR

c. setiap orang yang karena kelalaiannya melakukan kegiatan


pelaksanaan konstruksi pada sumber air tanpa izin sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 63 ayat (3).
Pasal 96
[1] Dalam hal tindak pidana sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 94 dan Pasal 95 dilakukan oleh badan usaha, pidana dikenakan
terhadap badan usaha yang bersangkutan.
[2] Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dikenakan terhadap badan usaha, pidana yang dijatuhkan adalah pidana
denda ditambah sepertiga denda yang dijatuhkan.
5. Ketentuan Sanksi tentang Perkebunan
Ketentuan sanksi tentang penataan ruang yang terkait dengan UU No. 18
Tahun 2004 tentang Perkebunan pada pasal 46 sampai pasal 53 adalah :
Pasal 46
[1] Setiap orang yang dengan sengaja melakukan usaha budi daya tanaman
perkebunan dengan luasan tanah tertentu dan/atau usaha industri
pengolahan hasil perkebunan dengan kapasitas tertentu tidak memiliki
izin usaha perkebunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1)
diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda
paling banyak Rp. 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).
[2] Setiap orang yang karena kelalaiannya melakukan usaha budidaya
tanaman perkebunan dengan luasan tanah tertentu dan/atau usaha
industri pengolahan hasil perkebunan dengan kapasitas tertentu tidak
memiliki izin usaha perkebunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17
ayat (1) diancam dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun 6
(enam) bulan dan denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00
(satu miliar rupiah).
Pasal 47
[1] Setiap orang yang dengan sengaja melanggar larangan melakukan
tindakan yang berakibat pada kerusakan kebun dan/atau aset lainnya,
penggunaan lahan perkebunan tanpa izin dan/atau tindakan lainnya
yang mengakibatkanterganggunya usaha perkebunan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 21, diancam dengan pidana penjara paling lama
5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima
miliar rupiah).
[2] Setiap orang yang karena kelalaiannya melakukan tindakan yang
berakibat pada kerusakan kebun dan/atau aset lainnya, penggunaan
lahan perkebunan tanpa izin dan/atau tindakan lainnya yang
mengakibatkan terganggunya usaha perkebunan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 21, diancam dengan pidana penjara paling lama 2 (dua)
tahun 6 (enam) bulan dan denda paling banyak Rp. 2.500.000.000,00
(dua miliar lima ratus juta rupiah).

171 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031
LAPORAN AKHIR

Pasal 48
[1] Setiap orang yang dengan sengaja membuka dan/atau mengolah lahan
dengan cara pembakaran yang berakibat terjadinya pencemaran dan
kerusakan fungsi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pas Pasal
26, diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan
denda paling banyak Rp.10.000.000.000,00
Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
[2] Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan
orang mati atau luka berat, pelaku diancam dengan pidana penjara
paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak
Rp.15.000.000.000,00
15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).
Pasal 49
[1] Setiap orang yang karena kelalaiannya membuka dan/atau mengolah
lahan dengan cara pembakaran yang berakibat terjadinya pencemaran
dan kerusakan fungsi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 26, diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan
denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).
[2] Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat
ayat (1) mengakibatkan
orang mati atau luka berat, pelaku diancam dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak
Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)
Pasal 50
[1] Setiap orang yang melakukan pengolahan,
pengolahan, peredaran, dan/atau
pemasaran hasil perkebunan dengan sengaja melanggar larangan:
a. memalsukan mutu dan/atau kemasan hasil perkebunan;
b. menggunakan bahan penolong untuk usaha industri pengolahan
hasil perkebunan; dan atau
c. mencampur hasil perkebunan dengan benda atau bahan lain; yang
dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan manusia,
merusak fungsi lingkungan hidup, dan/atau menimbulkan persaingan
usaha tidak sehat, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 diancam
dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun
tahun dan denda paling
banyak Rp.
Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).
[2] Setiap orang yang melakukan pengolahan, peredaran, dan/atau
pemasaran hasil perkebunan karena kelalaiannya melanggar larangan:
a. memalsukan mutu dan/atau kemasan hasil perkebunan;
b. menggunakan
menggunakan bahan penolong untuk usaha industri pengolahan
hasil perkebunan; dan/atau
c. mencampur hasil perkebunan dengan benda atau bahan lain; yang
dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan manusia,
merusak fungsi lingkungan hidup dan/atau menimbulkan persainga
persaingan
usaha tidak sehat, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 diancam
dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun
tahun dan denda paling
banyak Rp. 1.000.000.000,00
1 (satu miliar rupiah).

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 172
LAPORAN AKHIR

Pasal 51
[1] Setiap orang yang dengan sengaja melanggar larangan mengiklankan
hasil usaha perkebunan yang menyesatkan konsumen sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 32 diancam dengan pidana penjara paling lama
5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 2.000.000.000,00
(dua miliar rupiah).
[2] Setiap orang yang karena kelalaiannya melanggar larangan
mengiklankan hasil usaha perkebunan yang menyesatkan konsumen
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 diancam dengan pidana penjara
paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak
Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Pasal 52
[1] Setiap orang yang dengan sengaja melanggar larangan menadah hasil
usaha perkebunan yang diperoleh dari penjarahan dan/atau pencurian
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 diancam dengan pidana penjara
paling lama 7 (tujuh) tahun dan denda paling banyak
Rp. 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).
Pasal 53
[1] Semua benda sebagai hasil tindak pidana dan/atau alat-alat termasuk
alat angkutnya yang dipergunakan untuk melakukan tindak pidana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46, Pasal 47, Pasal 48, Pasal 49,
Pasal 50, Pasal 51 dan Pasal 52 dapat dirampas dan/atau dimusnahkan
oleh negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
6. Ketentuan Sanksi tentang Pertambangan
Ketentuan sanksi tentang penataan ruang yang terkait dengan UU No. 4
Tahun 2009 Tentang Pertambangan adalah sanksi administratif dan pidana.
Sanksi administratif yaitu:
Pasal 151
[1] Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
berhak memberikan sanksi administratif kepada pemegang IUP, IPR
atau IUPK atas pelanggaran ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 40 ayat (3), Pasal 40 ayat (5), Pasal 41, Pasal 43, Pasal 70, Pasal
71 ayat (1), Pasal 74 ayat (4), Pasal 74 ayat (6), Pasal 81 ayat (1), Pasal
93 ayat (3), Pasal 95, Pasal 96, Pasal 97 Pasal 98, Pasal 99, Pasal 100,
Pasal 102, Pasal 103, Pasal 105 ayat (3), Pasal 105 ayat (4), Pasal 107,
Pasal 108 ayat (1), Pasal 110, Pasal 111 ayat (1), Pasal 112 ayat (1),
Pasal 114 ayat (2), Pasal 115 ayat (2), Pasal 125 ayat (3), Pasal 126 ayat
(1), Pasal 128 ayat (1), Pasal 129 ayat (1), atau Pasal 130 ayat (2).
[2] Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara sebagian atau seluruh kegiatan eksplorasi
atau operasi produksi; dan/atau pencabutan IUP, IPR, atau IUPK.

173 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031
LAPORAN AKHIR

Pasal 152
[1] Dalam hal pemerintah daerah tidak melaksanakan ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 151 dan hasil evaluasi yang
dilakukan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1)
huruf j, Menteri dapat menghentikan sementara dan/atau mencabut
IUP atau IPR sesuai dengan ketentuan peraturan perundang
perundang-undangan.
Pasal 153
[1] Dalam hal pemerintah daerah berkeberatan terhadap penghentian
sementara dan/atau pencabutan IUP dan IPR oleh Menteri
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 152, pemerintah daerah dapat
mengajukan keberatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang
perundang-
undangan.
Pasal 154
[1] Setiap sengketa yang muncul dalam pelaksanaan IUP, IPR
IPR, atau IUPK
diselesaikan melalui pengadilan dan arbitrase dalam negeri sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
perundang
Pasal 155
[1] Segala akibat hukum yang timbul karena penghentian sementara
dan/atau pencabutan IUP, IPR atau IUPK sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 151 ayat huruf b dan huruf c diselesaikan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 156
[1] Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan sanksi
administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 151 dan Pasal 152
diatur dengan
denga peraturan pemerintah.
Pasal 157
[1] Pemerintah daerah yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 ayat (4) dikenai sanksi administratif berupa
penarikan sementara kewenangan atas hak pengelolaan usaha
pertambangan mineral dan batubara.
Adapun
dapun ketentuan pidananya adalah :
Pasal 158
[1] Setiap orang yang melakukan usaha penambangan tanpa IUP, IPR atau
IUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37, Pasal 40 ayat (3), Pasal
48, Pasal 67 ayat (1), Pasal 74 ayat (1) atau ayat (5) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak
Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 174
LAPORAN AKHIR

Pasal 159
[1] Pemegang IUP, IPR atau IUPK yang dengan sengaja menyampaikan
laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (1), Pasal 70 huruf
e, Pasal 81 ayat (1), Pasal 105 ayat (4), Pasal 110, atau Pasal 111 ayat
(1) dengan tidak benar atau menyampaikan keterangan palsu dipidana
dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling
banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
Pasal 160
[1] Setiap orang yang melakukan eksplorasi tanpa memiliki IUP atau IUPK
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 atau Pasal 74 ayat (1) dipidana
dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling
banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
[2] Setiap orang yang mempunyai IUP Eksplorasi tetapi melakukan
kegiatan operasi produksi dipidana dengan pidana penjara paling lama
5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp.10.000.000.000,00
(sepuluh miliar rupiah).
Pasal 161
[1] Setiap orang atau pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi
Produksi yang menampung, memanfaatkan, melakukan pengolahan
dan pemurnian, pengangkutan, penjualan mineral dan batubara yang
bukan dari pemegang IUP, IUPK, atau izin sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 37, Pasal 40 ayat (3), Pasal 43 ayat (2), Pasal 48, Pasal 67
ayat (1), Pasal 74 ayat (1), Pasal 81 ayat (2), Pasal 103 ayat (2), Pasal
104 ayat (3), atau Pasal 105 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara
paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak
Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
Pasal 162
[1] Setiap orang yang merintangi atau mengganggu kegiatan usaha
pertambangan dari pemegang IUP atau IUPK yang telah memenuhi
syarat-syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 136 ayat (2) dipidana
dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling
banyak Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
Pasal 163
[1] Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam bab ini dilakukan
oleh suatu badan hukum, selain pidana penjara dan denda terhadap
pengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan terhadap badan hukum
tersebut berupa pidana denda dengan pemberatan ditambah 1/3 (satu
per tiga) kali dari ketentuan maksimum pidana denda yang dijatuhkan.
[2] Selain pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum
dapat dijatuhi pidana tambahan berupa:
a. pencabutan izin usaha; dan/atau pencabutan status badan hukum.

175 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031
LAPORAN AKHIR

Pasal 164
[1] Selain ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158, Pasal 159,
Pasal 160, Pasal 161 dan Pasal 162 kepada pelaku tindak pidana dapat
dikenai pidana tambahan berupa:
a. perampasan barang yang digunakan dalam melakukan tindak
pidana;
b. perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana;
dan/atau kewajiban membayar biaya yang timbul akibat tindak
pidana.
Pasal 165
[1] Setiap orang yang mengeluarkan IUP, IPR atau IUPK yang bertentangan
dengan Undang-Undang
Undang Undang ini dan menyalahgunakan kewenangannya
diberi sanksi pidana paling lama 2 (dua) tahun penjara dan denda paling
banyak Rp.
Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
7. Ketentuan Sanksi tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PPK
Ketentuan sanksi tentang penataan ruang yang terkait dengan UU No. 27
Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PPK adalah sanksi
administratif dan pidana. Sanksi administratif yaitu :
Pasal 71
[1] Pelanggaran
an terhadap persyaratan sebagaimana tercantum di dalam
HP-33 dikenakan sanksi administratif.
[2] Sanksi administratif sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) berupa
peringatan, pembekuan sementara, denda administratif, dan/atau
pencabutan HP-3.
HP
[3] Ketentuan lebih lanjut mengenai denda administratif sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 72
[1] Dalam hal program Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau
Pulau-Pulau Kecil
tidak dilaksanakan sesuai dengan dokumen perencanaan, Pemerintah
dapat menghentikan
menghentikan dan/atau menarik kembali insentif yang telah
diberikan kepada Pemerintah Daerah, pengusaha, dan Masyarakat yang
telah memperoleh Akreditasi.
[2] Pemerintah Daerah, pengusaha, dan Masyarakat wajib memperbaiki
ketidaksesuaian antara program pengelolaan dan dokumen
perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
[3] Dalam hal Pemerintah Daerah, pengusaha, dan Masyarakat tidak
melakukan perbaikan terhadap ketidaksesuaian pada ayat (2),
Pemerintah dapat melakukan tindakan:
a. pembekuan sementara bantuan melalui Akreditasi;
Akreditasi; dan/atau
b. pencabutan tetap Akreditasi program.

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 176
LAPORAN AKHIR

Adapun ketentuan pidananya adalah sebagai berikut :


Pasal 73
[1] Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling
lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling sedikit
Rp.2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan paling banyak
Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) setiap Orang yang
dengan sengaja:
a. melakukan kegiatan menambang terumbu karang, mengambil
terumbu karang di Kawasan konservasi, menggunakan bahan
peledak dan bahan beracun, dan/atau cara lain yang mengakibatkan
rusaknya ekosistem terumbu karang sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 35 huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d;
b. menggunakan cara dan metode yang merusak Ekosistem
mangrove, melakukan konversi Ekosistem mangrove, menebang
mangrove untuk kegiatan industri dan permukiman, dan/atau
kegiatan lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf e, huruf f,
dan huruf g;
c. menggunakan cara dan metode yang merusak padang lamun
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf h;
d. melakukan penambangan pasir sebagaimana dimaksud dalam Pasal
35 huruf i.
e. melakukan penambangan minyak dan gas sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 35 huruf j.
f. melakukan penambangan mineral sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 35 huruf k.
g. melakukan pembangunan fisik yang menimbulkan kerusakan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf l.
h. tidak melaksanakan mitigasi bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-
Pulau Kecil yang diakibatkan oleh alam dan/atau Orang sehingga
mengakibatkan timbulnya bencana atau dengan sengaja melakukan
kegiatan yang dapat mengakibatkan terjadinya kerentanan bencana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1).
[2] Dalam hal terjadi kerusakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
karena kelalaian, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima)
tahun dan denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah).
Pasal 74
[1] Dipidana dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau
denda paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) setiap
Orang yang karena kelalaiannya:
a. tidak melaksanakan kewajiban rehabilitasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 32 ayat (1); dan/atau
b. tidak melaksanakan kewajiban reklamasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 34 ayat (2).

177 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031
LAPORAN AKHIR

Pasal 75
[1] Dipidana dengan pidana
pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau
denda paling banyak Rp.
Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) setiap
Orang yang karena kelalaiannya:
a. melakukan kegiatan usaha di Wilayah Pesisir tanpa hak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21ayat (1); dan/atau
b. tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal
21 ayat (4).
8. Ketentuan Sanksi tentang Jalan
Ketentuan sanksi tentang penataan ruang yang terkait dengan UU. No. 38
Tahun 2004 Tentang Jalan adalah :
Pasal 63
[1] Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kegiatan yang
mengakibatkan terganggunya fungsi jalan di dalam ruang manfaat jalan,
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1), dipidana dengan pidana
penjara paling lama 18 (delapan belas) bulan atau denda paling banyak
Rp.1.500.000.000,00
1.500.000.000,00 (satu
(satu miliar lima ratus juta rupiah).
[2] Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kegiatan yang
mengakibatkan terganggunya fungsi jalan di dalam ruang milik jalan,
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2), dipidana dengan pidana
penjara paling lama 9 (sembilan)
(sembilan) bulan atau denda paling banyak
Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
[3] Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kegiatan yang
mengakibatkan terganggunya fungsi jalan di dalam ruang pengawasan
jalan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3), dipidana dengan
pidana penjara paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak
Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
[4] Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kegiatan penyelenggaraan
jalan sebagaimana dimaksud pada Pasal 42, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak
Rp. 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah). sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 54, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lim(lima belas)
tahun atau denda paling banyak Rp. Rp 15.000.000.000,00 (lima belas
miliar rupiah).
[5] Setiap orang selain pengguna jalan tol dan petugas jalan tol yang
dengan sengaja memasuki jalan tol sebagaimana dimaksud dalam Pasal
56, dipidana dengan pidana kurungan
kurungan paling lama 14 (empat belas) hari
atau denda paling banyak Rp.
Rp 3.000.000,00 (tiga juta rupiah).
Pasal 64
[1] Setiap orang yang karena kelalaiannya mengakibatkan terganggunya
fungsi jalan di dalam ruang manfaat jalan, sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 12 ayat (1), dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga)

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 178
LAPORAN AKHIR

bulan atau denda paling banyak Rp. 300.000.000,00 tiga ratus juta
rupiah).
[2] Setiap orang yang karena kelalaiannya mengakibatkan terganggunya
fungsi jalan di dalam ruang milik jalan, sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 12 ayat (2), dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua)
bulan atau denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta
rupiah).
[3] Setiap orang yang karena kelalaiannya mengakibatkan terganggunya
fungsi jalan di dalam ruang pengawasan jalan, sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 12 ayat (3), dipidana dengan pidana kurungan paling lama
12 (dua belas) hari atau denda paling banyak Rp. 120.000.000,00
(seratus dua puluh juta rupiah).
[4] Setiap orang selain pengguna jalan tol dan petugas jalan tol yang karena
kelalaiannya memasuki jalan tol, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56,
dipidana dengan pidana kurungan paling lama 7 (tujuh) hari atau denda
paling banyak Rp.1.500.000,00 (satu juta lima ratus ribu rupiah).
Pasal 65
[1] Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12, Pasal
42, dan Pasal 54 dilakukan badan usaha, pidana dikenakan terhadap
badan usaha yang bersangkutan.
[2] Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dikenakan terhadap badan usaha, pidana yang dijatuhkan adalah pidana
denda ditambah sepertiga denda yang dijatuhkan.
9. Ketentuan Sanksi tentang Penanggulangan Bencana
Ketentuan sanksi tentang penataan ruang yang terkait dengan UU No. 24
Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana adalah :
Pasal 75
[1] Setiap orang yang karena kelalaiannya melakukan pembangunan
berisiko tinggi, yang tidak dilengkapi dengan analisis risiko bencana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (3) yang mengakibatkan
terjadinya bencana, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3
(tiga) tahun atau paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit
Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) atau denda paling banyak
Rp. 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).
[2] Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mengakibatkan timbulnya kerugian harta benda atau barang, pelaku
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) tahun atau
paling lama 8 (delapan) tahun dan denda paling sedikit
Rp. 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah) atau denda paling banyak
Rp. 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).
[3] Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mengakibatkan matinya orang, pelaku dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 8 (delapan) tahun atau paling lama 10 (sepuluh) tahun

179 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031
LAPORAN AKHIR

dan denda paling sedikit


sedikit Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) atau
denda paling banyak Rp6.000.000.000,00 (enam miliar rupiah).
Pasal 76
[1] Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 75 ayat (1)
dilakukan karena kesengajaan, pelaku dipidana dengan pidana penjara
paling
aling singkat 5 (lima) tahun atau paling lama 8 (delapan) tahun dan
denda paling sedikit Rp.Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) atau
denda paling banyak Rp.
Rp 4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).
[2] Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2)
dilakukan karena kesengajaan, pelaku dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 8 (delapan).
(delapan)
[3] tahun atau paling lama 12 (dua belas) tahun dan denda paling sedikit
Rp. 3.000.000.000,00 (tigamiliar
(tiga rupiah) atau denda paling banyak
Rp. 6.000.000.000,00 (enam miliar rupiah).
[4] Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (3)
dilakukan karena kesengajaan, pelaku dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 12 (dua belas) tahun atau paling lama 15 (lima belas)
tahun
hun dan denda paling sedikit Rp. 6.000.000.000,00 (enam miliar
rupiah) atau denda paling banyak Rp. 12.000.000.000,00 (dua belas
miliar rupiah).
Pasal 77
[1] Setiap orang yang dengan sengaja menghambat kemudahan akses
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 3 (tiga) tahun atau paling lama 6 (enam) tahun
dan denda paling sedikit Rp. 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) atau
denda paling banyak Rp. 4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).
[2] Setiap orang yang dengan sengaja menyalahgunakan pengelolaan
sumber daya bantuan bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65,
dipidana dengan pidana penjara dengan penjara seumur hidup atau
pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun atau paling lama 20 (dua
puluh) tahun dan denda
de paling sedikit Rp. 6.000.000.000,00 (enam
miliar rupiah) atau denda paling banyak Rp.12.000.000.000,00
Rp 12.000.000.000,00 (dua
belas miliar rupiah).
Pasal 79
[1] Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 sampai
dengan Pasal 78 dilakukan oleh korporasi, selain
selain pidana penjara dan
denda terhadap pengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan terhadap
korporasi berupa pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari
pidana denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 sampai dengan
Pasal 78.
[2] Selain pidana denda sebagaimana
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), korporasi
dapat dijatuhi pidana tambahan berupa:

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031 180
LAPORAN AKHIR

a. pencabutan izin usaha; atau


b. b. pencabutan status badan hukum.
Ketentuan sanksi lain, baik administratif maupun pidana mengacu pada peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

181 RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGAH 2011-2031