Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan faktor yang menentukan kualitas suatu bangsa.

Pendidikan adalah suatu hal yang bersifat dinamis, sehingga selalu menuntut

perbaikan yang terus menerus. Menurut UU No 20 pasal 1 tahun 2003 tentang

sistem pendidikan nasional, menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar

dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar

peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki

kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak

mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan

negara.

Usaha sadar dan terencana seperti yang disebutkan dalam UU No 20 pasal 1

tahun 2003 dilakukan oleh seluruh pihak yang ada di lingkungan pendidikan,

termasuk sekolah. Sekolah berperan sebagai instansi yang menyelenggarakan suasana

belajar dan proses pembelajaran bagi siswa. Penyelenggaraan pendidikan di sekolah

lebih dikenal dengan pembelajaran yang melibatkan banyak faktor, baik faktor

guru, pelajar, bahan atau materi, fasilitas dan lingkungan sekolah. Keberhasilan

suatu proses pembelajaran sangat bergantung pada situasi kegiatan pembelajaran

di kelas dan bagaimana siswa dalam mengikuti pembelajaran.

Salah satu peningkatan kualitas kegiatan pembelajaran di sekolah dapat diukur

dari aktivitas siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran dan hasil belajar siswa.

Dalam upaya meningkatkan kualitas kegiatan pembelajaran tentu tidak terlepas dari

peran seorang guru. Dimyati dan Mudjiono (2009: 3) menyatakan bahwa Guru

1
bertindak mengajar di kelas dengan maksud membelajarkan siswa. Dalam

tindakan tersebut guru menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar.

Proses pembelajaran yang baik bukanlah berceramah didepan kelas, namun

pembelajaran yang baik adalah proses dimana belajar itu menyenangkan, siswa

aktif, kreatif, berpikir kritis dan mampu menyelesaikan masalah yang diberikan.

Pembelajaran fisika pada kurikulum 2013 menggunakan pendekatan

saintifik. Pada pendekatan ini, pembelajaran fisika mengutamakan keterampilan

proses, keaktifan dan kreatifitas siswa. Guru berperan sebagai fasilitator siswa

selama proses pembelajaran. Dengan mengutamakan proses selama pembelajaran,

diharapkan siswa mendapatkan hasil pembelajaran yang lebih baik.

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di SMAN 3 Kota

Bengkulu Kelas XA diperoleh beberapa permasalahan seperti guru masih lebih

banyak terlibat aktif dalam proses pembelajaran fisika di kelas, guru memberi

informasi searah terhadap siswa dalam melakukan proses pembelajaran. Siswa

lebih banyak mendengar, menulis apa yang dicatat oleh guru di papan tulis dan

mengerjakan latihan soal berdasarkan contoh soal yang diberikan guru. Keaktifan

siswa dalam proses pembelajaran masih kurang, ketika proses tanya jawab yang

dilakukan oleh guru dan siswa berlangsung, siswa cenderung pasif untuk memberi

pertanyaan pada guru, siswa belum berani bertanya dan mengungkapkan pendapat

di depan kelas. Selain itu, pelaksanaan praktikum yang dilakukan siswa masih

belum optimal. Pada saat proses praktikum hanya satu atau dua siswa di dalam

kelompok yang terlibat aktif. Permasalahan-permasalahan tersebut berpengaruh

pada hasil belajar fisika yang diperoleh siswa. Nilai rata-rata ulangan harian fisika

pada materi fluida statis di kelas XA adalah 64. Jika dibandingkan dengan kriteria

2
ketuntasan minimal yang ditetapkan di SMAN 3 Kota Bengkulu yaitu 70, maka

nilai ini belum mencapai target yang diharapkan. Hal ini menunjukkan bahwa

pembelajaran fisika di kelas XA SMAN 3 Kota Bengkulu belum optimal.

Berdasarkan fakta-fakta yang ada di kelas XA SMAN 3 Kota Bengkulu

diperlukan perbaikan proses pembelajaran fisika, agar aktivitas dan hasil belajar

fisika siswa meningkat. Untuk memecahkan permasalahan pembelajaran yang

demikian perlu dilakukan upaya antara lain mengubah model pembelajaran yang

dapat memfasilitasi terjadinya komunikasi antara siswa dengan siswa dan guru

dengan siswa, sehingga mampu menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif

siswa. Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada

siswa bahwa informasi yang mereka peroleh bisa berasal darimana saja, tidak

bergantung pada informasi searah dari guru. Dalam menerapkan pendekatan

saintifik, diperlukan model pembelajaran yang sejalan dengan pendekatan

saintifik, salah satunya yaitu model pembelajaran discovery.

Pembelajaran dengan menggunakan model discovery learning memberikan

kesempatan kepada siswa untuk lebih berperan aktif dalam proses pembelajaran,

baik belajar secara individu maupun berkelompok melalui aktifitas penemuan.

Menurut Munandar (1999: 85) bahwa mengajar dengan discovery selain berkaitan

dengan penemuan juga bisa meningkatkan kemampuan berpikir kreatif. Model

pembelajaran discovery merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan

secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menemukan

sesuatu (benda, manusia, atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis

sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya

diri. Ciri khas model discovery learning adalah siswa dibimbing singkat untuk

3
menemukan jawaban permasalahan pembelajaran, sehingga hasil belajar siswa

meningkat (Suyitno, Amin, 2004). Model pembelajaran discovery learning

diharapkan dapat mampu membantu guru dalam melakukan proses pembelajaran

yang akan menekankan pada peningkatan aktivitas belajar fisika siswa, sehingga

siswa terlibat aktif selama proses pembelajaran dan hasil belajar fisika siswa

meningkat.

Pokok bahasan fluida statis dianggap sesuai untuk model pembelajaran

discovery learning karena konsep materi ini mencakup tekanan hidrostatis, hukum

Pascal, dan hukum Archimedes yang sangat dekat dan mudah dijumpai siswa

dalam kehidupan sehari-hari. Materi ini tergolong mudah diterapkan dalam

kehidupan nyata. Namun sulit untuk dipahami oleh siswa jika hanya dengan

menggunakan model pembelajaran konvensional, terutama dalam menguasai

konsep fluida statis itu sendiri.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dilaksanakan penelitian yang

berjudul Penerapan Model Discovery Learning dalam Upaya Meningkatkan

Hasil Belajar Fisika Konsep Fluida Statis di Kelas XA SMAN 3 Kota

Bengkulu

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Bagaimana penerapan model discovery learning dalam upaya meningkatkan

hasil belajar siswa pada konsep Fluida Statis di kelas XA SMAN 3 kota

Bengkulu?

4
2. Apakah penerapan model discovery learning dapat meningkatkan hasil

belajar siswa pada konsep Fluida Statis di kelas XA SMAN 3 kota

Bengkulu?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, dapat ditentukan tujuan dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran fisika dengan menggunakan

model discovery learning dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa

pada konsep Fluida Statis di kelas XA SMAN 3 Kota Bengkulu.

2. Menjelaskan peningkatan hasil belajar siswa pada konsep fluida statis

dengan penerapan model pembelajaran discovery learning di kelas XA

SMAN 3 Kota Bengkulu.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Bagi siswa, dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang

pembelajaran siswa dan meningkatkan hasil belajar fisika siswa.

2. Bagi guru, dapat memberikan masukan dalam rangka implementasi model

pembelajaran fisika yang sesuai untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan

memberikan gambaran kepada guru tentang hubungan model pembelajaran

yang digunakan dengan hasil belajar fisika siswa.

3. Bagi sekolah, dapat memberikan manfaat bagi sekolah untuk meningkatkan

mutu dan kualitas hasil belajar, serta memberikan konstribusi yang baik

dalam peningkatan proses pembelajaran.

5
4. Bagi penelitian lanjutan, diharapkan dapat menjadi bekal pengetahuan dan

pengalaman yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran di lapangan.

E. Batasan Penelitian

Agar penelitian ini terarah dan menghindari terlampau luasnya

permasalahan pada penelitian ini maka penelitian ini memiliki batasan penelitian:

1. Penelitian ini adalah jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action

Research).

2. Penelitian ini menggunakan model pembelajaran discovery learning.

3. Penelitian ini hanya membahas materi pelajaran Fisika untuk SMA kelas X

semester I tentang pokok bahasan fluida statis pada sub konsep tekanan

hidrostatis, hukum Pascal, dan hukum Archimedes.

4. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XA SMAN 3 Kota Bengkulu tahun

ajaran 2015/2016.

6
BAB II

KERANGKA TEORITIS

A. Tinjauan Pustaka

1. Belajar dan Pembelajaran

Gagne (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2006) menyatakan Belajar

merupakan kegiatan yang kompleks. Hal ini berarti, belajar melibatkan semua

aspek kepribadian manusia, pikiran, perasaan, dan bahasa tubuh disamping

pengetahuan, sikap, dan keyakinan sebelumnya serta persepsi masa mendatang.

Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai.

Menurut Slameto (2010) Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan

seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara

keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan

lingkungannya. Dari proses usaha yang dilakukan, seseorang akan mengalami

sebuah perubahan berupa tingkah laku yang akan menjadi pengalaman dalam

menjalankan interaksi terhadap lingkungannya.

Kegiatan pembelajaran di kelas tidak terlepas dari kegiatan interaksi antara

siswa dan guru, dimana selama pembelajaran berlangsung siswa mengalami proses

belajar. Trianto (2009: 17) menyatakan Pembelajaran hakikatnya adalah usaha sadar

dari seorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarahkan interaksi siswa

dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan.

Dengan peran guru sebagai mediator dan fasilitator diharapkan siswa dapat aktif

berusaha sendiri dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Hamalik (2005: 29) menyatakan Belajar bukan suatu tujuan tetapi merupakan

suatu proses untuk mencapai tujuan. Proses pembelajaran tidak hanya menuntut

siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran tetapi siswa juga di tuntut untuk dapat

7
meningkatkan hasil belajar. Selain itu, dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa

juga harus di tunjang oleh persiapan guru dalam menyiapkan proses pembelajaran

dengan memilih model pembelajaran yang tepat agar kegiatan pembelajaran mampu

berjalan efektif. Dalam hal ini belajar yang efektif menuntut siswa untuk terus aktif

dalam mengikuti proses pembelajaran fisika dan meningkatkan hasil belajarnya.

2. Model Discovery Learning

Penemuan (discovery) merupakan suatu model pembelajaran yang

dikembangkan berdasarkan pandangan kontruktivisme. Model ini menekankan

pentingnya pemahaman struktur atau ide-ide penting terhadap suatu disiplin ilmu,

melalui keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran. Pengertian discovery

learning menurut Jeromea Bruner adalah metode belajar yang mendorong siswa

untuk mengajukan pertanyaan dan menarik kesimpulan dari prinsip-prinsip umum

praktis contoh pengalaman.

Model pembelajaran discovery learning merupakan kegiatan pembelajaran

yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan

menemukan sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sitematis, kritis, logis

analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh

percaya diri (Purwanto, dkk, 2012). Menurut Agus (2013) Discovery Learning

melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, diskusi,

membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.

Berdasarkan uraian tersebut model pembelajaran Discovery Learning merupakan

salah satu model pembelajaran yang mampu mengkondisikan siswa untuk terbiasa

menemukan, mencari, dan mendiskusikan sesuatu yang berkaitan dengan

pembelajaran serta diharapkan mampu mengkonstruksi sendiri apa yang telah

dipelajari dengan bantuan guru.

8
Okere (dalam Uside, 2013) discussed that teachers should maximize the degree

to which learners expand their knowledge by developing and testing hypothesis rather

than merely reading or listening to verbal presentations of information. Emphasis is to

be put on activities that encourage students to search, explore analyze or actively

process input rather than merely respond to it. Dalam uraikan tersebut diartikan

bahwa guru harus memaksimalkan sejauh mana peserta didik memperluas

pengetahuan mereka dengan mengembangkan dan pengujian hipotesis bukan

hanya membaca atau mendengarkan informasi. Penekanan harus diletakkan pada

kegiatan yang mendorong siswa untuk mencari, mengeksplorasi, menganalisis

atau aktif memproses masukan bukan hanya menanggapi saja.

Pembelajaran dengan menggunakan model discovery learning memberikan

kesempatan kepada siswa untuk lebih berperan aktif dalam proses pembelajaran,

baik belajar secara individu maupun berkelompok melalui aktifitas penemuan.

Kegiatan belajar mengajar menggunakan metode penemuan (discovery) adalah

menemukan konsep melalui serangkaian data atau informasi yang diperoleh

melalui proses pengamatan atau percobaan.

Menurut Sani (2014: 98) menyatakan Pembelajaran discovery merupakan

metode pembelajaran kognitif yang menuntut guru lebih kreatif membuat peserta

didik belajar aktif menemukan pengetahuan sendiri. Siska dan Eidi (2014)

menyatakan model pembelajaran Guided Discovery merupakan suatu model

pengajaran yang menitikberatkan pada aktivitas siswa dalam belajar. Dalam

proses pembelajaran dengan model ini, guru hanya bertindak sebagai pembimbing

dan fasilitator yang mengarahkan siswa untuk menemukan konsep. Penggunaan

teknik discovery ini guru berusaha meningkatkan aktivitas siswa dalam proses

pembelajaran.

9
Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai

pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara

aktif, sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan

kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan. Kondisi seperti ini ingin merubah

kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented. Dalam

Discovery Learning, hendaknya guru harus memberikan kesempatan muridnya

untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientis, historin, atau ahli

matematika. Bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, tetapi siswa dituntut

untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan,

mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta

membuat kesimpulan-kesimpulan (Kemendikbud, 2013).

a. Langkah-langkah model discovery learning

Menurut Syah (2004) dalam Abidin (2014: 177) dalam mengaplikasikan

discovery learningi di proses pembelajaran, ada beberapa tahapan yang harus

dilaksanakan. Tahapan atau langkah-langkah tersebut secara umum dapat diperinci

sebagai berikut.

1) Stimulasi (Stimulation)

Pada tahap ini siswa dihadapkan pada sesuatu membingungkan dan

dirangsang untuk melakukan kegiatan penyelidikan guna menjawab

kebingungan tersebut. Kebingungan dalam diri siswa ini sejalan dengan

adanya informasi yang belum disajikan guru.

2) Menyatakan masalah (Problem Statement)

10
Pada tahap ini siswa diarahkan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin

masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya

dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis.

3) Pengumpulan Data (Data Colection)

Pada tahap ini siswa ditugaskan untuk melakukan kegiatan eksplorasi,

pencarian, dan penelusuran dalam rangka mengumpulkan informasi

sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar hipotesis yang

telah diajukannnya. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui aktivitas

wawancara, kunjungan lapangan, dan atau kunjungan pustaka.

4) Pengolahan data

Pada tahap ini sswa mengolah data dan informasi yang telah diperolehnya

baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan.

5) Pembuktian

Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk

membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan

temuan alternatis, dihubungkan dengan hasil pengolahan data.

6) Menarik kesimpulan

Pada tahap ini siswa menarik kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum

dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan

memperhatikan hasil verifikasi.

b. Kelebihan dan kekurangan Penerapan Discovery Learning

Kelebihan dari model Discovery Learning, yaitu sebagai berikut (1) siswa

aktif dalam pembelajaran (2) menumbuhkan dan menanamkan sikap inquiry

(mencari-temukan) (3) mendukung kemampuan problem solving siswa (4)

11
wahana interaksi siswa dengan siswa dan guru (5) Materi lebih lama membekas

karena siswa dilibatkan dalam proses penemuan (6) Siswa belajar bagaimana

belajar (7) menghargai diri sendiri (8) memotivasi dan menstransfer (9)

pengetahuan bertahan lama dan mudah diingat (10) hasil belajar discovery

mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada haasil lainnya (11)

meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir bebas (12) melatih

keterampilan kognitif untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa

pertolongan orang lain (Hosnan, 2014 : 288).

Kekurangan discovery learning yaitu (1) guru merasa gagal mendeteksi

masalah dan adanya kesalahpahaman antara guru dengan siswa (2) menyita

banyak waktu (3) menyita pekerjaan guru (4) tidak semua siswa melakukan

penemuan (5) tidak berlaku untuk semua topik (Hosnan, 2014: 288-289).

3. Pengertian Hasil Belajar

Purwanto (2005:147) menyatakan Hasil belajar merupakan perubahan

perilaku siswa akibat belajar. Perubahan ini diupayakan dalam proses belajar

mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan. Perubahan perilaku individu akibat

proses belajar tidaklah tunggal. Setiap proses belajar mempengaruhi perubahan

perilaku pada domain tertentu pada diri siswa, tergantung perubahan yang

diinginkan terjadi sesuai dengan tujuan pendidikan.

Dilihat dari segi aspek hasil belajar yang dievaluasi, ada 3 ranah yang

dievaluasi berhubungan dengan hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotorik.

Menurut Bloom dan Krathwohl (1964) dalam Sudaryono (2012: 43 49) memilah

taksonomi pembelajaran dalam tiga ranah, yakni ranah (1) kognitif, (2) afektif, (3)

psikomotor. Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan otak. Artinya,

12
segala upaya yang menyangkut aktivitas otak termasuk ke dalam ranah kognitif.

RanaH kognitif ini terdiri atas 6 (enam) tingkatan yaitu tingkat pengetahuan

(knowledge), tingkat pemahaman (comprehension), tingkat penerapan

(application), tingkat analisis (analysis), tingkat sintesis (synthesis), dan tingkat

evaluasi (evaluation).

Hasil belajar adalah bagian yang sangat penting dan tidak terpisahkan dalam

proses pembelajaran. Hasil belajar diketahui setelah adanya evaluasi atau

penilaian hasil belajar. Hasil belajar digunakan untuk mengetahui sejauh mana

siswa berhasil mencapai tujuan pembelajaran dan memperoleh perubahan perilaku

setelah proses pembelajaran sehingga dapat diperoleh gambaran tentang

pencapaian program pendidikan. Hasil belajar juga penting bagi guru sebagai

umpan balik untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan gurudalam mengajar

sehingga dapat memperbaiki proses pembelajaran selanjutnya.

4. Fluida Statis

Suatu fluida adalah zat yang dapat mengalir dan memberikan sedikit

hambatan terhadap perubahan bentuk ketika mengalami tekanan. Oleh karena itu,

dari ketiga jenis zat tersebut, yang termasuk fluida adalah gas dan cair. Selain itu

mekanika fluida membatasi gerak fluida dengan mengggap fluida tidak

mengalami perubahan volume sewaktu diberi tekanan. Fluida dibagi menjadi 2

yaitu fluida statis dan fluida dinamis. Pembahasan fluida statis meliputi Tekanan

Hidrostatis, Hukum Pascal, dan Hukum Arrchimedes.

a. Tekanan Hidrostatik

Dalam fluida, konsep tekanan memegang peranan penting. Gaya ke atas

yang timbul pada benda yang tercelup disebabkan adanya tekanan dalam fluida

13
tersebut. Mengapa orang membuat paku atau pasak dengan bentuk ujung yang

relative kecil? karena diharapkan, dengan gaya yang relative kecil, paku , pasak

dapat menembus permukaan benda lain. Sama halnya dengan kita memotong

benda, kita akan menggunakan pisau yang tajam bukan? Agar benda tersebut

dengan cepat terpotong. Dari pernyataan ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa

semakin kecil luas permukaan benda dimana gaya bekerja, akan menyebabkan

tekanan yang semakin besar. Jika dirumuskan secara matematis :

p=
F
A
Dimana :

P = tekanan (N/m2)

F = Gaya (N)m

A = Luas permukaan ( m2)

Tiap titik di dalam fluida tidak memiliki tekanan yang sama besar, tetapi

berbeda-beda sesuai dengan ketinggian titik tersebut dari suatu titik acuan.

Dasar bejana akan mendapat tekanan sebesar :

P = tekanan udara luar + tekanan oleh gaya berat zat cair (T.Hidrostatik)

Gaya berat fluida


p = po +
Luas penampang dasar bejana

. V . g .g.A.h h
p = po + = po +
A A

p = po + . g . h

Jadi Tekanan Hidrostatik (Ph) didefinisikan :


ph = . g . h

14
h

h h

Untuk konversi satuan tekanan adalah :

1 atm = 76 cm Hg dan 1 atm = 105 N/m2 = 106 dyne/cm2

Untuk bidang miring dalam mencari h maka dicari lebih dahulu titik

tengahnya (disebut : titik massa). Tiap titik yang memiliki kedalaman sama diukur

dari permukaan zat cair akan memiliki tekanan hidrostatik sama.

Tekanan didalam zat cair disebabkan oleh adanya gaya gravitasi yang bekerja

pada tiap bagian zat cair; besar tekanan itu bergantung pada kedalamannya;

makin dalam letak suatu zat cair, makin besar tekanan pada bagian itu.( tekanan

hidrostatistika ) .

b. Hukum pascal

Bunyi hukum pascal :

tekanan yang diadakan dari luar kepada zat cair yang ada didalam ruangan

tertutup akan diteruskan oleh zat cair itu kesegala arah dengan sama rata.

Beberapa contoh alat berdasarkan hukum pascal adalah pompa hidrolik, alat

pengangkat mobil dll.

Seperti gambar bejana berikut :

15
Permukaan fluida kedua kaki bejana berhubungan sama tinggi. Bila kaki I yang

luas penampang A1 mendapat gaya F1 dan kaki II yang luas penampangnya A2

mendapat gaya F2 maka menurut Hukum Pascal harus berlaku:

p1 = p2

F1 F 2
atau F1 : F2 = A1 : A2
A1 A2

Pada alat pengangkat mobil dengan luas permukaan yang kecil dapat

menghasilkan gaya angkat yang besar sehingga mampu mengangkat mobil

Gambar 2.1 Alat hidrolik pengangkat mobil

Hukum Archimedes

Berbunyi :

sebuah benda yang tercelup sebagian atau seluruhnya kedalam zat cair akan

mengalami gaya keatas yang besarnya sama dengan berat zat cair yang

dipindahkan.

Ada tiga keadaan benda yang tercelup dalam fluida yaitu terapung, tenggelam,

melayang.

16
Terapung

Hanya sebagian volum benda yang tercelup dalam fluida sehingga volum fluida

yang dipindahkan lebih kecil dari volum total benda yang mengapung. Syarat

benda mengapung adalah masa jenis benda harus lebih kecil dari masa jenus

fluida.

< Vu

Vc
Sehingga ;

Dimana :

Vt = Volume benda tercelup (m3)

Vb = volume benda (m3)

Melayang

Besar volume fluida yang dipindahkan (volum benda yang tercelup) sama dengan

volume total benda yang melayang. Syarat benda melayang adalah mesa jenis

benda harus sama besar dengan masa jenis fluida.

Sehingga ; FA

Fa = mb g

f . Vt . g = b . Vb . g

Tenggelam

Volume benda yang tercelup didalam fluida sama dengan volume total yang

mengapung, namun benda bertumpu pada dasar bejana sehingga ada gaya normal

17
dasar bejana pada benda sebesar N. syarat benda tenggelam adalah massa jenis

benda harus lebih besar daripada mesa jenis fluida.

>

Sehingga ;

Fa + N = b . Vb . g

N = b . Vb . g - f . Vt . g

B. Penelitian yang Relevan

Beberapa hasil penelitian yang berhubungan dengan Pembelajaran Berbasis

Masalah adalah sebagai berikut:

1) Widiadnyana, dkk (2014) dalam penelitiannya berjudul Pengaruh Model

Discovery Learning Terhadap Pemahaman Konsep IPA dan Sikap Ilmiah

Siswa SMP. Mengemukakan terdapat perbedaan sikap ilmiah dan hasil

belajar siswa dengan discovery learning terhadap model pengajaran

langsung.

2) M. Reza Dwi Saputra (2014) dalam penelitiannya berjudul Penerapan

Pendekatan Saintifik Melalui Model Dicovery Learning Untuk

Meningkatkan Sikap Ilmiah Dan Hasil Belajar Siswa Materi Suhu Dan

Kalor Kelas X Mipa5 Sma Negeri 5 Kota Bengkulu. Mengungkapkan

penerapan model discovery learning berbasis pendekatan saintifik yang

dapat meningkatkan hasil belajar dan sikap ilmiah siswa.

C. Kerangka Pemikiran

Berdasarkan permasalahan yang ditemui pada saat observasi di SMAN 3

Kota Bengkulu yaitu: (1) guru masih lebih banyak terlibat aktif dalam proses

18
pembelajaran fisika di kelas, guru memberi informasi searah terhadap siswa

dalam melakukan proses pembelajaran (2) siswa lebih banyak mendengar,

menulis apa yang dicatat oleh guru di papan tulis dan mengerjakan latihan soal

berdasarkan contoh soal yang diberikan guru (3) kleaktifan siswa dalam proses

pembelajaran masih kurang, ketika proses tanya jawab yang dilakukan oleh guru

dan siswa berlangsung, siswa cenderung pasif untuk memberi pertanyaan pada

guru (4) pelaksanaan praktikum yang dilakukan siswa masih belum optimal.

Berdasarkan permasalahan diatas maka perlu adanya suatu inovasi dan

treatment dalam pembelajaran, dimana guru mengemas pembelajaran menjadi

lebih menarik dan kreatif sejalan dengan implementasian kurikulum 2013.

Pembelajaran yang inovatif, kreatif dapat melibatkan siswa secara aktif, baik

secara fisik, sikap ilmiah, intelektual dan emosional sehingga siswa akan

termotivasi untuk belajar. Salah satu solusi yang dapat diambil guru adalah

memilih model berbasis pendekatan saintifik yaitu model pembelajaran discovery

learning berbasis pendekatan saintifik.

Pendekatan saintifik sangat tepat untuk meningkatkan kemampuan

intelektual atau sikap ilmiah siswa khususnya kemampuan berpikir tinggi siswa.

Salah satu model pembelajaran berbasis pendekatan saintifik yang dapat

diterapkan dalam pembelajaran adalah model discovery learning.

Model pembelajaran discovery learning memiliki sintaks pembelajaran

yaitu (1) Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan), (2) Problem statement

(pernyataan/ identifikasi masalah), (3) Data collection (Pengumpulan Data), (4)

Data Processing (Pengolahan Data), (5) Verification (Pembuktian), (6)

Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi). Sintaks model discovery

19
learning ini sangat cocok dengan langkah-langkah pendekatan saintifik. Adapun

langkah-langkah dalam pendekatan saintifik ini yakni:

1. Langkah 1, mengamati (observing) yaitu siswa akan melakukan kegiatan

membaca, mendengar, menyimak, melihat suatu objek (tanpa atau dengan

alat). Pada kegiatan ini kompetensi yang dikembangkan yaitu melatih

kesungguhan, ketelitian, mencari informasi (Kemendikbud, 2014 : 19).

2. Langkah 2, menanya (questioning) yaitu siswa mengajukan pertanyaan

tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau

pertanyaan untuuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang

diamati. Pertanyaan ini dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke

pertanyaan yang bersifat hipotetik aktif dalam mengajukan pertanyaan

tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau

pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang

diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang

bersifat hipotetik) kompetensi yang dikembangkan pada aktifitas ini

adalah mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan

merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk

hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.

3. Langkah 3, mencoba (experimenting) / mengumpulkan informasi adapun

kegiatan belajarnya yaitu melakukan eksperimen, membaca sumber lain

selain buku teks, mengamati objek / kejadian / aktifitas, wawancara

dengan narasumber. Kompetensi yang dikembangkan adalah melatih

kesungguhan, ketelitian dan mencari informasi, (langkah ketiga metode

eksperimen), mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai

20
pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan

mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari,

mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.

4. Langkah 4, yaitu menalar (associating) yaitu siswa mengolah informasi

yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan

mengumpulkan/eksperimen mau pun hasil dari kegiatan mengamati dan

kegiatan mengumpulkan informasi. Pengolahan informasi yang

dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman

sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari

berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada

yang bertentangan,dan menggunakan langkah kempat metode eksperimen

yaitu Menganalisis dan menyajikan data. Kompetensi yang ingin

dikembangkan Mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan,

kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir

induktif serta deduktif dalam menyimpulkan.

5. Langkah 5 jejaring (networking) yaitu siswa aktif menyampaikan hasil

pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis,

atau media lainnya dan menggunkan langkah kelima metode eksperimen

yaitu menyimpulkan hasil percobaan. Kompetensi yang ingin

dikembangkan Mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan

berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas,

dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.

Kerangka pemikiran dalam penelitian ini berdasarkan penjelasan diatas

dapat dilihat pada bagan 1.1

21
Gambar 2.2 Bagan kerangka pemikiran pendekatan saintifik
menggunakan metode eksperimen

PROSES

Langkah Pendekatan Sintaks Model Discovery


Saintifik Learning

1)Observing(Mengamati) (1) Stimulation


(stimulasi/pemberian
rangsangan)

2)Quistioning (Menanya) (2) Problem statement


(pernyataan/identifikasi
masalah)

3) Experimenting (3) Data collection


(Mencoba) (Pengumpulan Data)
Output
Input (4) Data Processing
4) Associating (Menalar)
(Pengolahan Data) Peningkatan
(siswa) hasil belajar
(5) Verification
(Pembuktian)

5) Networking (Jejaring) (6) Generalization


(menarik kesimpulan/
generalisasi)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (Classroom

Action Research). Menurut Kunandar (2010: 44) Penelitian Tindakan Kelas

adalah suatu penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru yang sekaligus

sebagai peneliti di kelasnya atau bersama-sama dengan lain (kolaborasi) dengan

jalan merancang, melaksanakan, merefleksikan tindakan secara kolaboratif

dan partisipasi yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan

22
(kualitas) proses pembelajaran di kelasnya melalui tindakan tertentu dalam

suatu siklus. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari

guru yang dilakukan oleh siswa.

B. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XA SMAN 3 Kota Bengkulu

Semester 2 Tahun 2015/2016 yang jumlahnya 31 siswa, terdiri dari 11 siswa

laki-laki dan 20 siswa perempuan. Siswa dikelas ini bersifat heterogen atau

memiliki kemampuan yang berbeda-beda.

C. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di kelas XA SMAN 3 Kota Bengkulu tahun ajaran

2015/2016. Penelitian direncanakan selama 2 bulan pada bulan Februari 2015.

D. Prosedur Penelitian

Menyadari bahwa dalam pelaksanaan tindakan belum dapat mencapai hasil

yang optimal dalam satu kali kegiatan, maka dalam penelitian ini menggunakan

tiga siklus kegiatan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Prosedur

penelitian tindakan kelas yang akan dilaksanakan berupa proses pengkajian

berdaur yang terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) Perencanaan Tindakan, (2)

Pelaksanaan Tindakan, (3) Observasi, dan (4) Analisa dan Refleksi.

Alur pelaksanaan tindakan dalam penelitian tindakan kelas menurut

Arikunto (2010: 137) dapat digambarkan sebagai berikut:

Perencanaan

Refleksi SIKLUS I Pelaksanaan

23
Pengamatan

Perencanaan Lanjutan

Refleksi SIKLUS II Pelaksanaan

Pengamatan

Perencanaan Lanjutan

Refleksi SIKLUS III Pelaksanaan

Pengamatan

Gambar 3.1 Bagan Alur Penelitian Tindakan Kelas

1. Refleksi Awal

Sebelum melaksanakan pelaksanaan tindakan, pelaksana penelitian

terlebih dahulu mengadakan observasi awal dikelas XA SMAN 3 Kota Bengkulu

dengan mengamati cara mengajar guru Fisika didalam kelas pada saat

berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Pengamatan dan wawancara

dilaksanakan pada saat pelaksana penelitian menjalani kegiatan Praktek

Pengalaman Lapangan (PPL) di SMAN 3 Kota Bengkulu tersebut. Hal ini

dimaksudkan agar pelaksana penelitian mengetahui tindakan yang tepat untuk

24
dapat menerapkan Model Discovery Learning dalam proses belajar mengajar di

kelas sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

2. Persiapan Tindakan

Pada tahap ini perbaikan pembelajaran dilakukan dalam tiga siklus

tindakan (siklus I, siklus II, dan siklus III). Dari refleksi awal tersebut, dapat

ditentukan tindakan-tindakan yang akan dilakukan dalam proses penelitian adalah

sebagai berikut:

a. Membuat silabus untuk konsep Fluida Statis.

b. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk konsep Fluida

Statis.

c. Membuat skenario pembelajaran untuk tiap siklus.

d. Membuat lembar observasi guru. Lembar observasi ini digunakan untuk

mengamati aktivitas guru selama proses belajar mengajar berlangsung yang

kemudian dijadikan pedoman untuk memperbaiki proses belajar mengajar

pada siklus berikutnya.

e. Membuat lembar observasi siswa. Lembar ini digunakan untuk

mengamati aktivitas siswa selama proses belajar mengajar dengan Model

Discovery Learning.

f. Membuat alat evaluasi (tes) untuk setiap siklus.

SIKLUS I

Langkah-langkah yang akan dilakukan untuk melaksanakan tindakan

pada siklus I, adalah:

a. Rencana Tindakan

25
1. Mempersiapkan perangkat pelaksanaan tindakan, yang terdiri dari:

a) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk sub konsep

Tekanan Hidrostatis.

b) Merancang skenario pembelajaran berdasarkan rencana pelaksanan

pembelajaran dan rancangan pengajaran model Discovery Learning.

c) Membuat lembar observasi guru dan siswa.

d) Membuat soal tes hasil belajar siklus I.

2. Menentukan indikator keberhasilan pada siklus I.

b. Pelaksanaan Tindakan

Melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan model Discovery Learning

sesuai dengan RPP.

c. Observasi

Observasi dilakukan terhadap semua kegiatan yang dilakukan guru

dan siswa selama proses/kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan

menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. Observasi ini dilakukan

oleh dua orang pengamat, yaitu seorang guru Fisika sekolah tersebut dan

seorang pendamping pelaksana penelitian

d. Refleksi

Hasil yang didapat pada siklus I dalam tahap observasi dikumpulkan dan

dianalisis pada tahap ini. Dengan hasil tersebut pelaksana penelitian

dapat menjadikannya sebagai pedoman untuk melakukan perbaikan pada

siklus II.

SIKLUS II

26
Pada siklus II, tahap-tahap yang akan dilakukan untuk melaksanakan

tindakan adalah:

a. Rencana Tindakan

1. Mempersiapkan perangkat pelaksanaan tindakan, yang terdiri dari:

a) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran untuk sub konsep

Hukum Pascal.

b) Merancang skenario pembelajaran berdasarkan rencana pelaksanan

pembelajaran dan rancangan pengajaran model Discovery Learning.

c) Membuat lembar observasi guru dan siswa.

d) Membuat soal tes hasil belajar siklus II.

2. Menentukan indikator keberhasilan pada siklus II.

b. Pelaksanaan Tindakan

Melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan model Discovery Learning

sesuai dengan RPP.

c. Observasi

Pada siklus II ini, observasi akan dilakukan terhadap semua

kegiatan yang dilakukan oleh guru dan siswa selama proses belajar

mengajar berlangsung dengan menggunakan lembar observasi yang

telah dibuat, lembar observasi ini sama dengan observasi yang dilakukan

pada siklus I.

d. Refleksi

Pada tahap ini, hal yang dilakukan adalah merancang rencana dan

skenario pembelajaran untuk siklus III sebagai kelanjutan pada siklus

27
II, dengan mengacu pada kendala yang dihadapi. Dengan menggunakan

hasil dari observasi.

SIKLUS III

Siklus III akan dilaksanakan sebagai penyempurnaan dari siklus II.

Adapun hal-hal yang harus dipersiapkan pada pelaksanaan siklus ini adalah:

a. Rencana Tindakan

1. Mempersiapkan perangkat pelaksanaan tindakan, yang terdiri dari:

a) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran untuk sub konsep

Hukum Archimedes.

b) Merancang skenario pembelajaran berdasarkan rencana pelaksanan

pembelajaran dan rancangan pengajaran model Discovery Learning.

c) Membuat lembar observasi guru dan siswa.

d) Membuat soal tes hasil belajar siklus III.

2. Menentukan indikator keberhasilan pada siklus III.

b. Pelaksanaan Tindakan

Melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan model Discovery Learning

sesuai dengan RPP.

c. Observasi

Pada siklus III, Observasi akan dilakukan terhadap semua kegiatan

yang dilakukan oleh guru dan siswa selama proses belajar mengajar

berlangsung dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat.

d. Refleksi

28
Pada siklus III akan dilakukan perbaikan sesuai dengan refleksi pada

siklus II. Siklus II mengalami perbaikan sehingga diperoleh refleksi dari

tindakan ketiga, yang akan bermanfaat sebagai rekomnedasi untuk

melaksanakan penelitian lebih lanjut.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen tes yang akan digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini

adalah alat tes dan non tes.

1. Instrumen tes

Instrumen tes berupa tes hasil belajar. Tes akan digunakan untuk

mengukur sejauh mana tingkat penguasaan konsep siswa terhadap materi

pelajaran yang telah diajarkan nantinya. Tes dalam penelitian ini

dilaksanakan secara tertulis dengan bentuk esay.

Tes akan diambil dari soal-soal yang terdapat dalam buku Fisika kelas X

SMA, buku pegangan guru dan berbagai sumber bank soal yang relevan.

Penyusunan alat evaluasi akan diawali dengan pembuatan kisi-kisi

soal tes yang akan digunakan untuk soal tes awal maupun tes akhir dan

soal tiap siklus yang disusun dalam bentuk esay. Kisi-kisi soal

tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1 Kisi-Kisi Soal Tes

Nomor Butir Soal


Konsep Sub Konsep Indikator Tes Jumlah
C2 C3 C4

Fluida Tekanan Menjelaskan konsep


1 2 - 2
Statis Hidrostatis tekanan hidrostatis

Menerapkan hukum 3, 5 4 3
utama hidrostatika

29
dalam kehidupan
sehari-hari

Jumlah 1 3 1 5

Hukum Menjelaskan konsep


1 - - 1
Pascal Hukum Pascal

Menerapkan hukum
Pascal dalam
pemecahan masalah - 2,3,4 5 4
dalam kehidupan
sehari-hari

Jumlah 1 3 1 5

Hukum Menjelaskan Hukum


1 - - 1
Archimedes Archimedes

Menerapkan Hukum
Archimedes dalam
- 2,3,4 5 4
kehidupan sehari-
hari

Jumlah 1 3 1 5

2. Instrumen nontes

Instrumen nontes yang akan digunakan untuk mengumpulkan data

kualitatif adalah sebagai berikut:

a. Silabus

Silabus akan digunakan untuk memudahkan dalam pembuatan

rencana pembelajaran pada setiap siklus. Silabus akan dibuat

sesuai dengan Kompetensi Inti dimana penekanannya pada

penerapan Discovery Learning sebagai model pembelajaran dalam

meningkatkan hasil belajar siswa.

b. Rencana Pembelajaran

30
Rencana pembelajaran akan digunakan sebagai acuan guru dalam

kegiatan belajar mengajar pada setiap siklus. Rencana

pembelajaran akan dibuat sesuai dengan silabus yang telah dibuat.

c. Lembar Observasi

Lembar observasi akan digunakan untuk mengamati aktivitas

siswa maupun guru pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung

dengan menerapkan Discovery Learning sebagai model pembelajaran.

F. Teknik Pengumpulan Data

1. Sumber data

Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas XA SMAN 3 Kota

Bengkulu.

2. Jenis Data

Jenis data penelitian adalah :

a. Data sekunder yaitu data siswa, dan identitas siswa yang meliputi jumlah

dan nilai siswa, informasi tentang proses pembelajaran yang telah

dilakukan.

b. Data Primer yaitu aktifitas belajar siswa selama pembelajaran yang

diperoleh dari angket aktifitas, dan hasil belajar siswa yang diperoleh dari

posttest hasil belajar.

3. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

dengan metode dokumentasi, metode tes, dan metode kuesioner (angket) :

a. Metode dokumentasi

31
Metode ini digunakan untuk mendapatkan informasi tentang keadaan awal

siswa yang meliputi daftar nama, jumlah dan nilai siswa.

b. Metode tes

Metode ini digunakan untuk mendapatkan data hasil belajar fisika siswa.

Bentuk Tes yang digunakan adalah tes bentuk essay.

Arikunto (2008: 53) menyatakan tes adalah alat atau prosedur yang

digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan

cara dan aturan-aturan dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang

sudah ditentukan. Dalam penelitian dilaksanakan satu kali tes dalam satu kali

pertemuan yaitu posttest.

Menurut Mulyasa (2006: 257) Pada umumnya pelaksanaan proses

pembelajaran diakhiri dengan posttest. Adapun fungsi dari posttest antara lain:

(1) untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi

yang telah ditentukan, baik secara individu maupun kelompok, (2) untuk

mengetahui kompetensi dan tujuan-tujuan yang dapat dikuasai oleh peserta

didik, (3) untuk mengetahui peserta didik yang perlu mengikuti kegiatan

remedial dan yang perlu mengikuti kegiatan pengayaan, (4) sebagai acuan

untuk melakukan perbaikan terhadap kegiatan pembelajaran.

Dalam penelitian ini, posttest dilaksanakan untuk mengetahui seberapa

besar peningkatan hasil belajar siswa. Soal posttest dengan bentuk soal essay

berjumlah 5 butir soal.

c. Lembar Angket

Angket digunakan untuk mengetahui aktifitas belajar fisika siswa. Skala yang

digunakan adalah skala Likert. Menurut Sugiyono (2011: 93) Dengan skala

32
Likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel.

Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun

item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan.

G. Uji Coba/Kalibrasi Instrumen Penelitian

Data penelitian diperoleh dengan menggunakan instrumen utama yaitu soal

tes hasil belajar dan angket aktifitas.

1. Menyusun Instrumen Penelitian

a. Instrumen angket aktifitas belajar siswa

Angket digunakan untuk mengetahui aktifitas belajar fisika siswa. Skala

yang digunakan adalah skala Likert. Menurut Sugiyono (2011: 93) Dengan skala

Likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel.

Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-

item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan.

b. Instrumen Tes Hasil Fisika

Tes hasil belajar fisika siswa disusun atas tes hitungan (TH). Tes hitungan

fisika ini dibuat dalam bentuk tes essay. TH dimaksudkan untuk mengukur

kemampuan siswa mengerjakan soal-soal hitungan. Dari hasil ini dapat diketahui

apakah siswa yang mampu mengerjakan soal hitungan juga memahami konsep

dengan benar.

Berdasarkan kegunaan TH, maka dikembangkan kisi-kisi tes dan

selanjutnya menyusun butir-butir soal. Butir-butir TH disusun berdasarkan materi/

33
konsep pembelajaran. Masing-masing soal TH memerlukan kemampuan

matematis dan pemahaman konsep Fluida Statis untuk menjawabnya. Langkah-

langkah penyusunan instrumen tes hasil belajar fisika siswa adalah sebagai

berikut:

a) Menyusun kisi-kisi soal instrumen tes hasil belajar fisika siswa berdasarkan

indikator pembelajaran.

b) Membuat soal berdasarkan kisi-kisi.

c) Uji validitas isi oleh ahli terhadap perangkat soal yang telah dibuat.

d) Mengujicobakan soal-soal hasil perbaikan dari uji validitas isi diluar sampel

penelitian.

e) Menganalisis hasil uji coba intrumen tes meliputi analisis validitas,

reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda.

f) Menyusun kembali/merevisi soal berdasarkan hasil uji coba menjadi

instrumen tes hasil belajar final yang akan digunakan dalam penelitian

Instrumen Tes hasil belajar dilakukan sebanyak 3 kali yaitu, pada setiap

subkonsep pada konsep Fluida Statis. Tes diberikan dalam bentuk soal-soal essay

sebanyak 5 butir soal yang terdiri dari soal yang bersifat konsep materi Fluida

Statis (aplikasi kehidupan sehari- hari) dan hitungan. Kisi-kisi soal tes dapat

dilihat pada tabel 3.1.

2. Teknik pengolahan kalibrasi instrumen

Penyusunan instrumen di dalam penelitian mempunyai kedudukan yang

paling tinggi, karena data merupakan penggambaran variabel yang diteliti, dan

berfungsi sebagai alat pembuktian hipotesis. Oleh karena itu, benar tidanya data

sangat menentukan bermutu tidaknya hasil penelitian. Sedangkan benar tidaknya

34
data, tergantung dari baik tidaknya instrumen pengumpulan data (Arikunto, 2006:

168).

Sebelum digunakan instrumen harus diuji coba terlebih dahulu untuk

kemudian dianalisis sehingga menghasilkan instrumen yang memenuhi

persyaratan. Ada pun pengolahan hasil uji coba instrumen penelitian ( tes hasil

belajar) adalah sebagai berikut:

a. Tes Hasil Belajar

1) Uji Validitas

Menurut Sugiyono (2011:121) valid berarti instrumen tersebut dapat

digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Untuk menentukkan

validitas perangkat tes dilakukan uji validitas pada setiap item. Perhitungan dapat

dilakukan dengan rumus korelasi poin biserial karena soal memiliki dua jawaban

(true-false). Validitas angket perlu ditentukan untuk mengetahui kualitas angket

dalam mengukur hal yang seharusnya diukur. Validitas angket dapat diketahui

dengan menggunakan rumus korelasi product moment. Arikunto (2011:72)

menyatakan rumus korelasi product moment adalah sebagai berikut:

(3.1)

Keterangan:

: koefisien korelasi product moment

N : jumlah subjek

X : jumlah skor butir

Y : jumlah skor variabel

35
Interpretasi mengenai besarnya koefisien korelasi disajikan dalam Tabel 3.2

berikut:

Tabel 3.2 Makna Korelasi Product Moment

Angka korelasi Makna


0,800 1,00 Sangat tinggi
0,600 0,800 Tinggi
0,400 0,600 Cukup
0,200 0,400 Rendah
0,00 0,200 Sangat rendah

2) Uji Reliabilitas

Menurut Arikunto (2011:86) Reliabilitas berhubungan dengan masalah

kepercayaan. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf signifikan yang tinggi

jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Maka pengertian reliabilitas

tes berhubungan dengan masalah ketetapan hasil tes, atau seandaianya hasilnya

berubah-ubah, perubahan yang terjadi dapat dikatakan tidak berarti.

Arikunto (2011:109) menyatakan bahwa untuk menguji reliabilitas

instrumen tes dalam penelitian ini digunakan rumus rumus Alpha Cronbach

berikut:

(3.2)

Keterangan:

11 : koefisien reliabilitas

n : banyaknya butit item yang dikeluarkan dalam angket

2 : jumlah varian skor dari tiap-tiap butir item

2 : varian total

36
Sudijono (2011: 209) menyatakan bahwa dalam pemberian interpretasi

terhadap koefisien reliabilitas digunakan patokan sebagai berikut:

a) Apabila r11 sama dengan atau lebih besar daripada 0,70 berarti angket yang

sedang diuji reliabilitasnya dinyatakan telah memiliki reliabilitas yang tinggi

(reliabel).

b) Apabila r11 lebih kecil daripada 0,70 berarti bahwa angket yang sedang diuji

reliabilitasnya dinyatakan belum memiliki reliabilitas yang tinggi (tidak

reliabel).

3) Taraf kesukaran

Bilangan yang menunjukkan sukar atau mudahnya sesuatu soal disebut

indeks kesukaran. Besarnya indeks kesukaran antara 0,0 sampai dengan 1,0.

Indeks kesukaran ini menunjukkan taraf kesukaran soal. Soal dengan indeks

kesukaran 0,0 menunjukkan bahwa soal itu terlalu susah, sebaliknya indeks 1,0

menunjukkan soal itu terlalu mudah (Arikunto, 2011: 208). Untuk menhitung taraf

kesukaran pada setiap butir soal digunakan rumus:

(3.3)

Keterangan:

P : indeks kesukaran.

B : banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan benar.

JS : jumlah seluruh siswa peserta tes.

Tabel 3.3. Interpretasi Indeks Kesukaran

Indeks kesukaran Interpretasi


1,00 0,30 Sukar
0,30 0,70 Sedang

37
0,70 1,00 Mudah

4) Daya Pembeda

Arikunto (2011: 211) menyatakan Daya pembeda soal adalah kemampuan

soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa

yang berkemampuan rendah. Angka untuk menunjukkan besarnya daya pembeda

disebut indeks diskriminasi. Seperti halnya indeks kesukaran, indeks diskriminasi

berkisar antara 1,00 sampai 1,00. Hanya bedanya, pada indeks diskriminasi ada

tanda negarif. Dengan demikian ada tiga titik pada daya pembeda yaitu: - 1,00

(daya pembeda negatif); 0,00 (daya pembeda rendah); dan 1,00 (daya pembeda

tinggi/positif). Untuk menentukan indeks diskriminasi digunakan rumus:

(3.4)

Keterangan:

J : jumlah peserta tes

JA : banyaknya peserta kelompok atas

JB : banyaknya peserta kelompok bawah

BA : banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu

dengan benar

BB : banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu

dengan benar

= : proporsi peserta kelompok atas yang menjawa benar (P, sebagai

indeks kesukaran).

38

= : proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar (P,

sebagai indeks kesukaran).

Arikonto (2011: 218) menyatakan bahwa butit-butir soal yang baik adalah

butir-butir soal yang mempunyai indeks diskriminasi 0,4 sampai 0,7.

Tabel 3.4. Klasifikasi Daya Pembeda

Klasifikasi daya pembeda Makna


0,00 0,20 Jelek
0,20 0,40 Cukup
0,40 0,70 Baik
0,70 1,00 Baik sekali
Negatif Semuanya tidak baik

H. Teknik Analisis Data

Data hasil belajar fisika siswa berupa tes adalah data kuantitatif dan

dianalisis dengan menggunakan analisis data dengan analisis deskriptif, analisis

inferensial dan pengujian hipotesis.

1. Analisis Deskriptif

Teknik analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui hasil belajar fisika

siswa sehubungan dengan penguasaan konsep materi, yaitu dengan melihat hasil

dari tes di setiap konsep. Melalui analisis deskriptif dapat diperoleh hasil belajar

fisika siswa melalui range, nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata- rata

(mean), varians, standar deviasi dan ketuntasan belajar.

a. Perhitungan Mean

Nilai rata-rata (Mx) diformulasikan seperti dibawah ini:

39

= (3.5)

dimana:

adalah jumlah dari hasil perkalian antara fi pada tiap-tiap interval data

dengan tanda kelas (xi) dan dan jumlah data/ sampel.

b. Perhitungan Standar Deviasi

Simpangan baku (2 ) dapat dihitung dengan rumus:

2 ( )2
2 = (3.6)
(1)

Keterangan :

n adalah banyak sampel

adalah jumlah dari hasil perkalian fi pada tiap-tiap interval data

dengan tanda kelas (xi).

c. Perhitungan Ketuntasan Belajar

Seorang peserta didik dipandang tuntas belajar jika ia mampu

menyelesaikan, menguasai kompetensi pembelajaran minimal 85% dari seluruh

tujuan pembelajaran secara klasikal. Mata pelajaran fisika di SMAN 3 Kota

Bengkulu memiliki kriteria ketuntasan minimal yakni 70, sehingga secara

individu siswa yang mendapatkan nilai kurang dari 70 dinyatakan belum

mencapai ketuntasan belajar.

Hipotesis yang akan diuji:

Ho : 70 (Belum mencapai ketuntasan belajar)

Ha : 70 (sudah mencapai ketuntasan belajar)

Rumus yang digunakan adalah:


= (3.7)

40
Keterangan:

= rata-rata hasil belajar

S = simpangan baku

n = banyaknya siswa

Kriteria pengujian adalah tolak H0 jika thitung>ttabel dan terima Ha dalam hal

lainnya. Dengan taraf nyata = 5%, dk = (n-1) (Sudjana, 1996).

Jika Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dinyatakan dalam bentuk

persentase maka dihitung dengan menggunakan persamaan:



= 100% .................. (3.8)

Keterangan :

KB = persentase ketuntasan belajar

Ns = jumlah siswa yang mendapat nilai > 71

N = jumlah seluruh siswa

d. Signifikansi peningkatan hasil belajar (N-Gain)

Untuk mengetahui signifikansi peningkatan hasil belajar siswa, maka

diperlukan sebuah analisis kuantitatif yang disebut dengan uji normal gain. Gain

adalah selisih nilai pretest dan posttest. Disamping itu, gain juga menunjukkan

peningkatan pemahaman atau penguasaan konsep siswa setelah pembelajaran

dilakukan. Uji normal gain dilakukan dengan menggunakan rumus N-gain yang

dinyatakan sebagai berikut:


() = (3.9)

dengan kategori perolehan berikut ini.

Tabel 3.5. Klasifikasi N-gain

41
Kategori Perolehan N-gain Keterangan

0,70 > N-gain Tinggi

0,30 < N-gain< 0,70 Sedang

N-gain< 0,30 Rendah

42
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Yunus. 2014. Desain Pembelajaran Dalam Konteks Kurikulum 2013.


Bandung: PT. Refika Aditama

Agus N. Cahyo. 2013. Panduan aplikasi Teori-teori Belajar Mengajar. DIVA


Press. Jogjakarta.

Arikunto, S. 2006.Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Arikunto, S. 2008. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Arikunto, Suharsimi., dkk. 2010. Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktik.


Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, S. 2011. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka


Cipta.

Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Hamalik, Oemar. 2005. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Hosnan. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad


21. Bogor: Ghalia Indonesia.

Kemendikbud. 2013. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik


Indonesia Nomor 81A Tahun 2013 Tentang Implementasi Kurikulum 2013.
Jakarta: Kemendikbud.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2014). Konsep Pendekatan Saintifik.


Materi Diklat Guru dalam Rangka Implementasi Kurikulum 2013.

Munandar, U. 1999. Mengembangkat Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah.


Jakarta: PT. Gramedia.

Purwanto. 2005. Tujuan Pendidikan dan Hasil Belajar: Domain Taksonomi.


Jakarta: Jurnal Teknodik No.16/IX/Teknodik/Juni/2005.

43
Sani, Ridwan Abdullah. 2014. Pembelajaran Saintifik Untuk Implementasi
Kurikulum 2013. Jakarta: Bumi Aksara.

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka


Cipta.

Sudaryono. 2012. Dasar Dasar Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Graha


Ilmu.

Sudijono, A. 2011. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo


Persada.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sunardi, Zaenab. 2014. Buku Buru Fisika Untuk SMA/MA Kelas X. Bandung:
Yrama Widya.

Suyitno, Amin. 2004. Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran. Semarang: FMIPA


Universitas Negeri Semarang.

Syah, Muhibbin. 2004. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung:


Remaja Rosdakarya.

Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta:


Kencana Prenada Media Group.

44