Anda di halaman 1dari 13

Rancang Bangun Sistem...

(Yuliani) 1

RANCANG BANGUN SISTEM KONTROL SUHU PADA PENETAS


TELUR AYAM BERBAHAN DASAR KERAMIK

DESIGN OF TEMPERATURE CONTROL SYSTEM ON THE CHICKENS EGG


INCUBATOR MADE FROM CERAMIC

Oleh: Yuliani1, Agus Purwanto M, Sc2


1
Mahasiswa Program Studi Fisika FMIPA UNY
2
Dosen Program Studi Fisika FMIPA UNY
yulianiuny@gmail.com

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membuat kontrol suhu untuk penetas
telur ayam berbahan dasar keramik sesuai dengan set point yang diinginkan dan menganalisis
sistem kontrol suhu pada penetas telur ayam dengan menggunakan rangkaian sistem kontrol
aksi ON-OFF. Suhu di dalam ruang inkubator dikontrol menggunakan rangkaian kontrol
suhu dengan menggunakan dua masukan pada penguat selisih (IC LM 358) yaitu output dari
rangkaian pembagi tegangan sebagai tegangan referensi ( ) dan sinyal feedback dari
sensor suhu LM 35DZ sebagai tegangan input ( ). Dengan adanya dua masukan pada
penguat selisih, maka penguat akan merespon dua masukan tersebut dan melakukan proses
pembandingan dengan hasil berupa sinyal error. Output LM 358 dengan polaritas positif (+)
lebih dari 0,77 V akan membuat transistor yang difungsikan sebagai switching mencapai titik
saturasi/ON. Akibatnya dari saturasi tersebut relay yang difungsikan sebagai saklar akan aktif
sehingga arus yang mengalir ke elemen pemanas (kawat Nikelin) akan menghasilkan panas,
dan begitu sebaliknya. Alat ini mampu mengendalikan suhu sesuai dengan yang diperlukan
telur ayam agar dapat menetas dengan baik yaitu antara ( ) . Perbaikan sistem
telah dilakukan dengan membuat sistem isolasi dari styrofoam, sehingga inkubator keramik
dapat bekerja lebih hemat energi listrik yang ditunjukkan dengan jumlah penggunaan energi
listrik selama penetasan adalah sebesar . Alat ini memiliki kapasitas 25 butir telur
dan telah diuji coba untuk menetaskan telur dengan baik. Tahap pertama jumlah telur yang
ditetaskan sebanyak 20 butir dengan tingkat keberhasilan penetasan telur pertama adalah
65%. Untuk tahap kedua jumlah telur yang ditetaskan adalah 25 butir dengan tingkat
keberhasilan penetasan telur kedua sebesar 68%.

Kata kunci : suhu, LM 35, penetas telur, sistem kontrol, keramik

ABSTRACT
This research aims to design and make temperature control for the chickens egg
incubator made from ceramic in accordance with the desired set point and to analyse the
temperature control system on the chickens egg incubator by using an ONOFF control
system circuit. The temperature in the chickens egg incubator was controlled by a circuit
Rancang Bangun Sistem... (Yuliani) 2

of temperature transducer using two inputs into differential amplifier (IC LM 358). These
were the output of the voltage divider circuit as the reference voltage ( ) and signal
feedback from the temperature sensor LM 35DZ as the input voltage( ). Two inputs on the
differential amplifier caused the amplifier to respond by comparing the two inputs and
producing to an error signal. Then, if the output of the LM 358 with positive (+) polarity was
greater than 0,77 V, it made a switching transistor reached saturation. The saturation caused
the switch to be active so that the heating elements (Nikelin wire) would be ON and produced
heat. If the output of the LM 358 was lower than 0,77 V, it made the switching transistor
reached cut-off and caused the switch not active; so that the heating elements (Nikelin wire)
would be OFF and didnt produce heat. This unit was able to control the temperature
required in order to hatch eggs properly which was between (38,5-40,5) .
System improvement had been done by creating a system of isolation made from Styrofoam,
so ceramic incubator worked more efficiently. The capacity of this unit was 25 eggs and this
had been tested properly to incubate the eggs. During the first trial the number of eggs
hatched were 20 with a success percentage of hatching was 65%. For the second trial the
number of eggs hatched were 25 with a success percentage of hatching was 68%.

Key words: temperature, LM 35, chickens egg incubator, control system, ceramic

PENDAHULUAN Berikut ini beberapa hal yang harus


diperhatikan dalam penetas telur buatan
Dalam dunia industri, pekerjaan
(Jutawan, 2005 :2).
dengan waktu yang sedikit diharapkan
a. Suhu dalam mesin tetas harus stabil,
mengeluarkan biaya produksi yang kecil
yaitu kisaran sampai dengan
namun menghasilkan keuntungan yang
40,5 .
besar atau memperkecil peluang kegagalan
b. Kelembaban udara dalam ruang mesin
dalam proses produksi. Suatu
tetas berkisar antara 60% sampai
penyederhanaan proses merupakan suatu
dengan 70%.
langkah yang dapat diambil untuk
Hermawan (2014 :63) menyatakan
mengefektifkan dan mengefisienkan waktu
bahwa salah satu analisis usaha penetasan
serta energi dalam proses produksi pada
telur adalah memperhatikan beberapa
suatu industri kecil, industri menengah
aspek antara lain bibit yang baik dan mesin
maupun industri besar. Salah satu industri
tetas yang baik. Mesin tetas yang baik
yang membutuhkan penyederhanaan
adalah yang mampu memiliki prosentase
proses ini adalah industri penetasan telur
penetasan tinggi, efisien daya dan mudah
dengan menggunakan mesin penetas telur.
dioperasikan.
Rancang Bangun Sistem... (Yuliani) 3

Ruang penetasan bisa dibuat dari dasar keramik dengan menggunakan


berbagai jenis bahan, baik dari bahan rangkaian sistem kontrol ON-OFF.
logam, kayu, atau bahan-bahan yang ada Ada beberapa hal yang bisa diperoleh
di sekitar kita yang dapat dimodifikasi dari penelitian ini yaitu alat ini diharapkan
sebagai ruang penetasan, misalnya mampu meningkatkan efisiensi dan
keramik. Ruang penetas telur yang efektivitas kerja peternak ayam, sistem
menggunakan logam seperti aluminium kontrol suhu untuk penetas telur ayam
pastinya akan memerlukan jumlah dana berbahan dasar keramik ini dapat
yang lebih besar dibandingkan yang diaplikasikan pada peternakan ayam, serta
menggunakan keramik. Jumlah dana perancangan dan pembuatan alat ini
menjadi perhitungan yang penting jika diharapkan dapat berfungsi sebagai
diterapkan dalam industri. Alat penetas penetas telur berbahan dasar keramik
telur konvensional biasanya menggunakan dengan kontrol suhu otomatis yang
sumber pemanas dari lampu pijar atau dikendalikan secara elektronik dan dapat
lilitan kawat Nikelin yang diletakkan pada dikembangkan untuk penelitian
ruang penetas telur dan dikendalikan selanjutnya sesuai dengan kebutuhan.
manusia. Hal ini menyebabkan
METODE PENELITIAN
pengontrolan suhu yang tidak efektif
karena secara manual harus mematikan Jenis Penelitian

lampu atau memutuskan aliran arus listrik Penelitian ini merupakan jenis
pada lilitan kawat Nikelin jika suhu dalam penelitian eksperimen. Eksperimen
ruang terlalu panas dan harus dilakukan untuk membuat alat kontrol
menghidupkan lampu atau mengalirkan suhu untuk penetas telur ayam berbahan
arus listrik pada lilitan kawat Nikelin jika dasar keramik sesuai set point yang
suhu dalam ruang penetas dingin. Hal ini diinginkan dan menganalisis sistem
kurang menguntungkan jika diterapkan kontrol suhu pada penetas telur ayam
dalam industri. berbahan dasar keramik dengan
Oleh karena itu, dibuatlah alat kontrol menggunakan rangkaian sistem kontrol
suhu untuk penetas telur ayam berbahan ON-OFF.
dasar keramik sesuai set point yang
Waktu dan Tempat penelitian
diinginkan yaitu antara ,
serta dilakukan analisis sistem kontrol Penelitian ini dilaksanakan mulai
suhu pada penetas telur ayam berbahan bulan September 2014 sampai dengan
bulan April 2015, dan bertempat di
Rancang Bangun Sistem... (Yuliani) 4

Laboratorium Elektronika dan suhu adalah perancangan rangkaian


Instrumentasi Jurusan Pendidikan Fisika, pembagi tegangan sebagai tegangan
Fakultas Matematika dan Ilmu referensi ( ), perancangan rangkaian
Pengetahuan Alam, Universitas Negeri sensor suhu sebagai tegangan input ( ),
Yogyakarta. perancangan rangkaian penguat selisih,
perancangan rangkaian saklar transistor,
Instrumen dan Teknik Pengumpulan
dan perancangan rangkaian driver relay.
Data
Pengujian alat dilakukan dalam
Tahap rancang bangun alat terdiri dari beberapa tahap yaitu, menguji linearits
dua bagian yaitu perancangan konstruksi sensor LM35DZ, mengukur konduktivitas
inkubator telur ayam dan perancangan termal keramik, mengukur besarnya
sistem kontrol suhu. Perancangan tegangan keluaran sumber tegangan AC
konstruksi inkubator yang pertama adalah PLN, menguji distribusi suhu ruangan
membuat kotak keramik dengan ukuran yang menggunakan rangkaian sistem
(28x27x27) . Perancangan kedua kontrol suhu, dan menguji kestabilan
adalah konstruksi pemanas ruang rangkaian sistem kontrol suhu.
inkubator menggunakan lilitan kawat
Teknik Analisis Data
Nikelin sepanjang 5 m dengan hambatan
totalnya 375,6 yang dililitkan pada Langkahlangkah analisis data
bagian luar inkubator dan dihubungkan dalam penelitian ini dapat diuraikan
dengan tegangan sumber AC PLN 220 V. sebagai berikut.
1) Mengkalibrasi rangkaian sistem
kontrol suhu, kemudian
membandingkan suhu yang terukur
pada termometer dengan suhu
berdasarkan pembacaan tegangan
output pada voltmeter.
2) Menganalisis data hasil percobaan
konduktivitas termal keramik dan
Gambar 1. Inkubator telur ayam
Sistem kontrol suhu inkubator telur kaca dengan teknik interpolasi data.
ayam dirancang secara closed loop dengan 3) Menganalisis fungsi alih rangkaian
membuat saklar ON-OFF. Tahapan sistem kontrol suhu yang terdiri dari
perancangan dan pembuatan alat kontrol sensor LM 35DZ, rangkaian penguat,
Rancang Bangun Sistem... (Yuliani) 5

rangkaian pembagi tegangan, dan


rangkaian pensaklaran sesuai dengan
fungsi transfer masing-masing blok
rangkaian.
4) Menganalisis data hasil pengukuran
kestabilan suhu inkubator dan
melakukan perhitungan matematis Gambar 2. Rangkaian keseluruhan kontrol
suhu (http://www.escol.com.my)
daya listrik yang digunakan dalam
penetasan telur ayam. Sensor suhu LM 35DZ berfungsi
untuk mengubah suhu menjadi tegangan
HASIL PENELITIAN DAN listrik.
PEMBAHASAN

A. Analisis Rancang Bangun Alat

Alat penetas telur ayam dirancang


menggunakan beberapa komponen
berdasarkan karakteristiknya yang
dirangkai untuk menunjang sistem kontrol
suhu dengan rentang suhu (
) . Dilakukan analisis fungsi alih
(a)
pada setiap blok komponen yang
digunakan pada rangkaian kontrol suhu.
Fungsi alih masing-masing blok rangkaian
diperoleh dengan cara membandingkan
transformasi Laplace output dengan
transformasi Laplace input rangkaian.
Gambar 2 adalah blok rangkaian
keseluruhan kontrol suhu yang digunakan.
(b)
Gambar 3. (a) Grafik linearitas perubahan
tegangan terhadap suhu sensor
LM 35DZ; (b) Grafik liniearitas
perubahan suhu terhadap waktu
sensor LM 35DZ
Rancang Bangun Sistem... (Yuliani) 6

Berdasarkan analisis Gambar 3(a), menyebabkan transistor bersaturasi (ON).


diketahui bahwa sensor suhu tersebut Selain itu transisitor bersaturasi saat
menghasilkan kenaikan tegangan ( ( ) V, ( ) V dan
) mV untuk setiap kenaikan suhu hambatan basis maka ( )
1 . Gambar 3(b) menunjukkan bahwa A. Sedangkan transistor akan dalam
semakin lama proses pemanasan, maka keadaan cut off apabila bernilai
suhu juga semakin tinggi. Namun kurang dari 0,77 V, yaitu ketika tegangan
linearitas suhu terhadap perubahan waktu keluaran komparator adalah V.
ini hanya berlangsung sampai menit ke 18. Rangkaian sistem kontrol suhu
Setelah mencapai suhu 39 waktu yang pada alat penetas telur ayam ini
dibutuhkan untuk menaikkan suhu menjadi menggunakan relay sebagai aktuator.
lebih lama. Berdasarkan Gambar 2, untuk
Berdasarkan Gambar 2 diketahui menggerakkan relay arus listrik akan
bahwa tegangan input referensi IC TL431 mengalir dari emitor ke kolektor, sehingga
( ) adalah 2,5 V. sebesar 5 k arus relay sama dengan arus kolektor
diatur pada nilai 225 , nilai k ( ). Kondisi V adalah
dan k. Menggunakan persamaan menyatakan transistor dalam keadaan
pembagi tegangan, maka nilai tegangan saturasi dan membuat relay ON.
referensi diatur pada nilai Sedangkan keadaan relay OFF diperoleh
( ) dengan mengatur , maka .
Tegangan output pada rangkaian Besarnya tegangan antara kolektor dan
penguat selisih (LM 358) yang berfungsi emitor pada kondisi ini adalah ,
untuk menggerakkan saklar transistor yang menyatakan bahwa mencapai
adalah nilai error dari nilai tegangan tegangan maksimum yaitu senilai tegangan
terminal non pembalik = dan sumber Jadi, arus pada relay terputus
nilai tegangan pembalik . dan relay dalam kondisi OFF.

Agar transistor dapat Sumber panas ruang inkubator

menghantarkan arus listrik, maka basis berasal dari arus listrik yang mengalir pada

harus diberikan tegangan, yaitu berupa kawat Nikelin dan dikendalikan oleh relay.

tegangan keluaran penguat selisih Pada saat sama dengan nol maka

. Berdasarkan analisis rangkaian kawat Nikelin teraliri arus (ON) dan pada

penguat selisih, tegangan keluarannya saat sama dengan nilai yaitu 12 V,

bernilai positif , dan dapat maka kawat Nikelin tidak akan teraliri arus
Rancang Bangun Sistem... (Yuliani) 7

(OFF). Kawat dengan panjang 5 m Fungsi transfer dari rangkaian


dililitkan pada bagian luar inkubator. keseluruhan adalah sebagai berikut :
Berdasarkan pengukuran, besar hambatan ( )
( )
total (R) kawat Nikelin adalah .
( ) ( ) ( ) ( ) ( )
( )( )( )( )( )
( ) ( )
Nilai tegangan Root Mean Square ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
( )( )( )( )( )( )
( ) ( )
(RMS) adalah nilai efektif dari tegangan
AC yang menimbulkan efek panas yang Secara umum pengujian alat
setara dengan tegangan DC stabil bertujuan untuk mengetahui apakah alat
(konstan). Menggunakan konstanta penetas telur ayam yang dibuat dapat
pembanding antara tegangan AC PLN bekerja sesuai spesifikasi perencanaan
hasil pengamatan menggunakan CRO dan yang telah ditentukan dan mengetahui
Spectra Plus, diperoleh tegangan RMS AC kerja sistem pada rangkaian kontrol suhu
PLN yang digunakan adalah sebesar 220 secara keseluruhan. Berikut hasil
volt. Tegangan RMS AC PLN ( ) pengujian alat yang telah dilakukan:
digunakan untuk menghitung daya listrik 1. Pengukuran konduktivitas termal
ketika arus AC PLN melalui kawat keramik dan kaca
Nikelin. Besarnya daya listrik yang Pengujian konduktivitas termal
digunakan untuk memanaskan inkubator keramik bertujuan untuk mengetahui
adalah sebesar 273 watt. bagaimanakah sifat bahan keramik dan
Ketika proses pemanasan, energi kaca, dan menunjukkan jumlah panas
panas yang dihasilkan oleh pemanas akan yang mengalir melintasi bahan jika
digunakan untuk memanaskan ruangan terjadi gradien suhu.
pada penetas telur ayam. Dianggap bahwa
jika daya yang digunakan semakin besar
maka jumlah arus yang melalui kawat
Nikelin akan semakin besar, sehingga suhu
dalam inkubator akan semakin panas.

Gambar 4. Diagram blok keseluruhan (a)


rangkaian kontrol suhu
Rancang Bangun Sistem... (Yuliani) 8

Bagian depan inkubator


keramik menggunakan kaca yang
transparan. Tujuannya adalah agar
mempermudah ketika mengamati
kondisi telur dan mempermudah dibuka
dan ditutup ketika proses pembalikan
telur. Diperoleh nilai konduktivitas
termal kaca adalah
. Konduktivitas
(b)
kaca ternyata nilainya lebih besar
Gambar 5. (a) Grafik hubungan antara
perubahan suhu keramik terhadap dibandingkan dengan konduktivitas
waktu keramik (b) Grafik antara termal keramik. Ini berarti kaca
gradien suhu keramik dan waktu
keramik menghantarkan panas lebih baik dari
pada keramik. Namun kaca ini tetap
Gambar 5(a) menunjukkan bahwa suhu
digunakan karena sistem inkubator
merambat dari titik A ke titik J, dengan
diisolasi menggunakan styrofoam,
suhu paling tinggi adalah di titik A dan
sehingga tidak akan banyak panas yang
suhu paling rendah adalah di titik J,
keluar dari kaca tersebut.
sedangkan Gambar 5(b) menunjukkan
2. Menguji rangkaian sistem kontrol suhu
bahwa perubahan suhu paling besar
terjadi pada titik A hingga C.
Sedangkan dari titik C-J perubahan
suhu nilainya lebih rendah dari pada
titik A-C. Hal tersebut berarti bahwa
panas mengalir hanya sampai di titik-
titik yang posisinya dekat dengan
sumber pemanas, atau panas tidak
mengalir sampai pada titik yang jauh
dari sumber pemanas. Perhitungan Gambar 6. Pemetaan suhu dalam
menghasilkan nilai konduktivitas termal inkubator (suhu dalam )
keramik adalah Berdasarkan Gambar 6 dapat
. dilihat bahwa distribusi suhu hampir
merata pada semua titik penempatan
telur. Suhu merata artinya suhu tetap
Rancang Bangun Sistem... (Yuliani) 9

berada pada rentang suhu yang


diinginkan di setiap titik penempatan
telur. Namun dari 25 titik penempatan
telur, dipilih titik R sebagai tempat
peletakan sensor suhu LM 35DZ. Pada
titik R suhu ruangan paling stabil
dibandingkan titik lainnya; hal tersebut (b)
dapat dilihat dari besarnya suhu dan Gambar 7.(a) Grafik kestabilan suhu
inkubator dengan kontrol
ketidakpastiannya. Sensor yang kelembaban dan tanpa styrofoam;
diletakkan pada titik yang stabil (b) Grafik kestabilan suhu
inkubator tanpa adanya kontrol
suhunya akan mengoptimalkan kinerja kelembaban dan tanpa styrofoam.
tranduser suhu. Ketika suhu yang
dideteksi oleh sensor ( ) stabil, maka Gambar 7 menunjukkan bahwa
diharapkan saklar akan berada pada dalam waktu satu jam sistem kontrol
keadaan ON/OFF sesuai kebutuhan suhu mengalami ON-OFF sebanyak 4
suhu inkubator. kali. Perbedaan dari dua keadaan
3. Menguji kestabilan rangkaian sistem inkubator adalah pada lamanya waktu
kontrol suhu yang digunakan untuk menaikkan suhu
Dilakukan pengukuran perubahan inkubator. Ketika ada sumber pemanas
suhu ketika proses pemanasan (ON) dan dari kontrol kelembaban, keadaan OFF
perubahan suhu ketika tidak terjadi sistem lebih lama sampai pada keadaan
pemanasan (OFF) setiap satu menit ON berikutnya, dibandingkan dengan
dalam rentang waktu satu jam. hanya sumber pemanas kawat Nikelin
saja. Hal ini berarti inkubator keramik
dapat menyimpan panas dengan baik
ketika menggunakan kontrol
kelembaban dan kontrol suhu, sehingga
suhu dan kelembaban tetap terjaga
pada rentang nilai yang dibutuhkan.
Proses pemanasan (ON) inkubator

(a) menggunakan sumber tegangan AC


PLN 220 volt yang dihubungkan
dengan kawat Nikelin. Semakin banyak
frekuensi ON-OFF sistem kontrol suhu,
Rancang Bangun Sistem... (Yuliani) 10

maka jumlah energi listrik yang inkubator dengan sistem terisolasi


digunakan semakin besar pula. Oleh menggunakan styrofoam terjadi
karena itu, dibuatlah sistem isolasi dari penghematan energi listrik
styrofoam sebagai kotak yang dibandingkan dengan sistem-sistem
membatasi inkubator dengan sebelumnya, dilihat dari frekuensi ON-
lingkungan luar. Dengan adanya OFF sistem kontrol suhu. Pada sistem
styrofoam ini diharapkan energi panas terisolasi ini untuk memenuhi range
tidak begitu banyak terbuang sia-sia, suhu dan kelembaban yang diinginkan,
atau energi panas benar-benar maka set point tranduser suhu perlu
digunakan untuk menjaga suhu diturunkan dari ( )
inkubator tetap berada pada rentang menjadi ( ). Dengan set
nilai yang dibutuhkan. Sistem dengan point tersebut panas mampu bertahan
styrofoam yang digunakan dapat dilihat lebih lama di dalam inkubator.
pada Gambar 8.

Gambar 8. Sistem terisolasi dengan


styrofoam pada inkubator penetas Gambar 9. Grafik kestabilan suhu
telur ayam (a) Tampak dalam, (b) inkubator dengan kontrol
Tampak luar kelembaban dan dengan
styrofoam
Styrofoam ini berhasil menjaga
Berdasarkan perhitungan nilai daya
panas inkubator dalam waktu yang
listrik tersebut dapat dihitung besarnya
lebih lama dibandingkan dengan
energi listrik yang digunakan selama
pengkondisian sistem sebelumnya. Hal
proses penetasan telur ayam. Pada
ini ditunjukkan dengan sistem kontrol
inkubator yang menggunakan styrofoam
suhu yang berada dalam keadaan OFF
serta dikontrol kelembabannya, energi
lebih lama dibandingkan dengan proses
listrik yang digunakan untuk memanaskan
pemanasan (ON). Dalam waktu satu
inkubator sangat kecil dibandingkan
jam hanya terjadi satu kali proses
sistem lainnya. Energi listrik yang
pemanasan saja, seperti ditunjukkan
pada Gambar 9. Pada pengkondisian
Rancang Bangun Sistem... (Yuliani) 11

digunakan selama proses penetasan telur pada 3 hari terakhir juga dilakukan
adalah penambahan kelembaban dalam inkubator
yaitu sebesar (65-70)%. Penambahan
( )( )( )
kelembaban dilakukan dengan cara
mengubah tegangan referensi pada
(1)
keluaran rangkaian pembagi tegangan
Hasil perhitungan pada persamaan
sistem kontrol kelembaban menjadi 2,5 V
(1) adalah energi listrik keseluruhan
agar anak ayam lebih mudah untuk
yang dibutuhkan ketika penetasan telur
memecahkan cangkangnya.
ayam. Dianggap telur menetas pada
hari ke 21.

B. Pembahasan

Ketika alat dinyalakan, secara


otomatis pemanas (kawat Nikelin) juga Gambar 10. Pemetaan hasil penetasan telur
ayam tahap pertama
menyala. Suhu ruangan inkubator yang
semula 28 perlahan naik mencapai suhu
yang sesuai dengan keperluan penetasan
telur ayam yaitu sekitar ( ) .
Apabila suhu yang diterima oleh LM
35DZ lebih tinggi dari yang diharapkan,
maka secara otomatis relay OFF.
Sebaliknya jika suhu dibawah yang Gambar 11. Pemetaan hasil penetasan telur
ayam tahap kedua
dikehendaki maka secara otomatis relay
ON. Penetasan telur dilakukan sebanyak

Penetasan telur ayam dilakukan dua kali. Gambar 10 menunjukkan hasil

selama 21 hari. Untuk 3 hari pertama tidak penetasan telur ayam tahap pertama.

dilakukan pemutaran telur. Setelah hari ke- Penetasan pertama dengan jumlah telur

3 dilakukan pemutaran telur sebanyak 3 sebanyak 20 butir, jumlah telur yang

kali yaitu setiap 8 jam. Namun, untuk 3 menetas adalah 13 butir. Dengan demikian

hari terakhir tidak dilakukan pemutaran keberhasilan penetasan telur pertama

telur. Hal ini dikarenakan ayam sudah adalah 65%. Gambar 11 menunjukkan

terbentuk dan siap menetas. Selain itu, pemetaan hasil penetasan telur ayam tahap
kedua. Pada penetasan telur tahap kedua
Rancang Bangun Sistem... (Yuliani) 12

jumlah telur adalah 25 butir. pada pengembangan dan perbaikan agar


penetasan tahap kedua keberhasilan nantinya alat penetas telur ayam dapat
penetasan telur ayam adalah 68%. bekerja lebih optimal, baik secara teoritis
dan praktis. Perbaikan dan pengembangan
yang perlu dilakukan adalah:
SIMPULAN DAN SARAN
1. Alat pembacaan suhu dan kelembaban
Simpulan digital yang ditempatkan di luar
inkubator, agar mempermudah
Berdasarkan hasil penelitian dan
pengontrolan setiap saat.
pembahasan tentang kontrol suhu penetas
2. Sistem kontrol otomatis untuk
telur ayam berbahan dasar keramik yang
pemutaran telur.
telah dilakukan dapat diperoleh
kesimpulan sebagai berikut: DAFTAR PUSTAKA
1. Alat kontrol suhu mampu mengontrol Hartomo, Anton J. 1994. Mengenal
suhu ruang inkubator sesuai yang Keramik Modern. Yogyakarta :
Andi.
diinginkan yaitu pada rentang suhu
Hermawan, Rudi. 2014. Rahasia Membuat
( ) . Mesin Tetas Berkualitas.
2. Alat penetas telur dapat bekerja sesuai Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
dengan aksi kontrol ON-OFF, yaitu Jutawan, Amat. 2005. Mesin Tetas Listrik
ketika sinyal input lebih besar dari set dan Buatan.. Yogyakarta :
Kanisius.
point maka aktuator (relay) akan OFF,
Malvino, Albert Paul.1985. Prinsip-
begitu pula sebaliknya jika sinyal input Prinsip Elektronika. (Alih bahasa
lebih kecil dari pada set point maka M. Barmawi dan M.O Tjia).
Jakarta: Erlangga.
aktuator akan ON.
3. Sistem inkubator keramik dengan Ogata, Kaitsuhiko. 1996. Modern Control
Engineering (Teknik Kontrol
pemanas kawat Nikelin dan sistem Automatik). (Alih bahasa: Edi
isolasi menggunakan styrofoam mampu Laksono). Jakarta: Erlangga.

mengurangi penggunaan energi listrik. Project # 03 0 ~ 100oC Electronic


Temperature-Controlled Relay
Besarnya energi listrik yang digunakan using LM35 and TL431.
selama penetasan adalah . (http://www.escol.com.my/Project
s/Project-03(Thermostat-1)/Proj-
03.html) diakses pada 26
Saran
September 2014 jam 19.50 WIB.
Alat yang telah dibuat masih
banyak kekurangan serta perlu
Rancang Bangun Sistem... (Yuliani) 13

Reviewer, Yogyakarta, Juli 2015

Penguji Utama Menyetujui


Pembimbing TAS

Sumarna, M.Si. M.Eng Agus Purwanto, M.Sc.


NIP.19610308 199101 1 001 NIP. 19650813 199512 1 001