Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KERJA PRAKTEK

UNIT RADIOTERAPI RS KEN SARAS

Disusun oleh:
Arisa Dwi Sakti 24040115420011
Chusnus Shalicah 24040115420010
Sheila Amalia 24040115420012
Tyas Nisa F. 24040115420008
Yuliani 24040115420007

Jurusan Magister Ilmu Fisika


UNIVERSITAS DIPONEGORO
MARET 2017

1
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN KERJA PRAKTIK

LAPORAN KERJA PRAKTIK UNIT RADIOTERAPI RS KEN SARAS

Disusun Oleh :
Arisa Dwi Sakti 24040115420011
Chusnus Shalicah 24040115420010
Sheila Amalia 24040115420012
Tyas Nisa F. 24040115420008
Yuliani 24040115420007

Semarang, 30 Maret 2017


Mengetahui,
Pembimbing Akademik Pembimbing Lapangan,

Dr. Eng. Eko Hidayanto, M.Si Galih Puspa Saraswati, S.Si


NIP. 197301031998021001

Kepala Instalasi DIKLAT

dr. I Ketut Cakra, Msi. Med,Sp.S


0130304001

2
DAFTAR ISI

Halaman pengesahan...................................................................................................... 2
Profil Rumah Sakit .......................................................................................................... 4
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar belakang......................................................................................... 6
1.2 Tujuan...................................................................................................... 7
1.3 Manfaat ................................................................................................... 8
BAB II Dasar teori
2.1 Tinjauan pustaka..................................................................................... 9
2.2 Linear Acceleration................................................................................. 10
2.3 IMRT ...................................................................................................... 10
2.4 EPID.................................... .................................................................. 11
2.5 Detektor 2D array.................................................................................... 12
BAB III Hasil Praktik
3.1 Pelayanan Radioterapi RS Ken Saras...................................................... 14
3.2 Kalibrasi Konsistensi Output..................................................................... 16
3.3 Kalibrasi Bulanan....................................................................................... 20
BAB IV Penutup
4.1 Kesimpulan...................................................................................................... 24
4.2 Saran ................................................................................................................ 24

3
PROFIL RUMAH SAKIT

Rumah Sakit Ken Saras dibangun pada tahun 2007 dengan izin Bupati
Semarang dengan nomor 648/049761/2009. Rumah sakit yang terletak di Jl.
Raya Soekarno-Hatta km 29 Kecamatan Bergas, Ungaran, Kab.Semarang,
Provinsi Jawa Tengah. Rumah sakit ini memiliki luas 50.000m dan luas
bangunan 16.000m yang terdiri dari lima lantai. Kapasitas jumlah tempat tidur
yang tersedia di ruang rawat inap Ken Saras 100 TT yang ke depannya akan
dikembnagkan menjadi 200 TT dan terdapat lima belas ruang praktek untuk
para dokter spesialis / dokter umum.
RS Ken Saras berdiri karena dorongan kemanusiaan, belas kasih, dan
empati yang mendalam atas penderitaan sesama yang memerlukan penanganan
segera dan juga sebagai wujud pengabdian terhadap masyarakat luas, melalui
penggunaan ataupun penerapan teknologi modern, serta pelayanan sesuai
tuntutan masyarakat yang terus menerus meningkat sehingga dapat
meningkatkan kualitas yang prima
Ken Saras sebagai rumah sakit yang modern dilengkapi peralatan yang
canggih, sehingga mampu menjawab tantangan zaman dan tuntutan
masyarakat yang semakin tinggi seiring dengan ilmu dan teknologi Rumah Sakit
ini.
Rumah Sakit Ken Saras memiliki beberapa Visi dan Misi yaitu :
1. Visi
Menjadi Rumah Sakit rujukan kelas B pendidikan di Jawa Tengah yang peduli
pada masyarakat, terakreditasi paripurna dan unggul dalam pelayanan kanker, trauma,
intensif, jantung san estetika dan kecantikan pada tahun 2020.
2. Misi
a. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang komprehensif
b. Menyelenggarakan Pengembangan SDM secara berkesinambungan
melalui pelatihan maupun pendidikan sehingga SDM memiliki

4
motvasi pelayanan yang PRIMA, profesional,komitmen dan
berkompetensi tinggi di bidangnya, terampil ,namun penuh kasih sayang
pada sesama.
c. Menyediakan Sarana dan Prasarana untuk pelayanan kesehatan yang
PRIMA, dan terus menerus mengikuti perkembangan Ilmu Pengetahuan
dan Teknologi (IPTEK), sehingga rumah sakit memiliki potensi,
kompetitif di tingkat LOKAL maupun GLOBAL.
d. Mengembangkan JENIS JENIS PELAYANAN KESEHATAN
TERTENTU secara PRIMA sesuai kebutuhan masyarakat dan
tuntutan zaman, sehingga masyarakat merasa aman dan nyaman dalam
asuhan medis dn perawatan di RS Ken Saras.
e. Menciptakan Lingkungan Rumah Sakit yang bersih, sehat dan tertata rapi
sehingga masyarakat memperoleh manfaat yang positif karena
kehadiran RS Ken Saras yang BERWAWASAN LINGKUNGAN.
Pusat Unggulan RS Ken Saras
1. Pusat Traumatologi (Ken Saras Trauma Center/KSTC)
RS Ken Saras mulai berfungsi sebagai Puast Traumatologi, dengan dokter
spesialis ortopedi dan traumatologi, dokter spesialis bedah dan juga semua
dokter IGD dan perawat yang terampil serta ambulans C khusus yang siap
khusus 24 jam.
2. Pusat Penanggulangan Kanker (Ken Saras Comprehensif Cancer
Center/KSCCC)
RS Ken Saras menyediakan pelayanan unggul dalam bidang penanganan
penyakit kanker dimana pelayanan tersebut dilakukan secara paripurna.
Dalam hal ini selain ditopang dnegan teknologi canggih, pada saat ini RS
Ken Saras bekerja sama dengan Rumah Sakit Nanyang Tumor Hospital
Guangzhou ,China yang memadukan pengobatan modern dengan
tradisional China dalam penangana penyakit kanker tersebut.

5
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Radioterapi adalah terapi kanker dengan menggunakan radiasi pengion yang
bertujuan untuk mengecilkan dan atau membunuh sel-sel kanker sebanyak mungkin
melalui pemberian dosis radiasi terukur pada volume target yang dituju dengan
meminimalkan efek radiasi pada jaringan sehat di sekitar tumor. Kanker merupakan
suatu penyakit yang ditimbulkan oleh adanya kelainan perkembangbiakan sel dalam
tubuh. Sel kanker memiliki sifat yang berbeda dari sel-sel normal yang dalam tubuh.
Bila tidak dihentikan, sel kanker ini akan terus berkembangbiak dan bermetastasis
sampai ke jaringan sehat di dalam tubuh. Pemberian sejumlah paparan radiasi
terhadap sel kanker tersebut dapat menghambat laju perkembangbiakan sel-sel kanker
tersebut.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, pada proses radioterapi dosis yang
digunakan untuk mengahmabat laju pertumbuhan sel kanker merupakan dosis
yang terukur dan memperhatikan aspek kesehatan jaringan non-kanker di sekitarnya.
Apabila dosis radiasi yang diberikan tidak sesuai dengan ukuran, maupun
geometri sel kanker yang terjadi justru kerusakan jaringan sehat di sekitar sel tersebut.
Oleh karena itu diperlukan perhitungan yang tepat agar diperoleh dosis penyinaran
yang sesuai terhadap sel kanker dengan meminimalisasi terhadap jaringan sehat di
sekitarnya. Salah satu peran dan tanggung jawab seorang fisikawan medis adalah
mengukur besar dan arah penyinaran radiasi dalam radioterapi.
Selain bertanggung jawab terhadap penyinaran, terdapat beberapa peran dan
tanggung jawab lain seorang fisikawan medis dalam proses radioterapi yang
meliputi dosimetri radiasi, treatm ent planning, proteksi radiasi, perencanaan serta
commisioning peralatan radioterapi baru dan jaminan kualitas peralatan tersebut
(Nasukha ,1998)

6
Untuk mewujudkan tenaga fisikawan medis yang profesional dibutuhkan
pembelajaran baik secara teori maupun secara praktek. Hal ini bertujuan terbentuk
tenaga fisikawan medis yang berkompeten dalam melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya di lapangan kelak. Sejalan dengan upaya untuk melahirkan fisikawan
fisikawan medis yang handal di Indonesia, Jurusan Fisika membuka bidang
peminatan Fisika Medis bagi para mahasiswa. Fisika Medis merupaka ilmu aplikatif
sehingga para mahasiswa diharapkan dapat menerapkan teori yang diperoleh di
perkuliahan dalam pratek kerja nyata di instansi instansi terkait.
Salah satu rangkaian kegiatan kerja pratek telah dilaksanakan di instalasi
radiologi unit radioterapi Rumah Sakit Ken Saras. Di Rumah Sakit ini terdapat
pesawat radioterapi jenis Linac (Linear A ccelerator). Pesawat Linear A ccelerator
merupakan jenis pesawat multi energi yang dapat menghasilkan berkas foton
radiasi sinar X maupun berkas energi elektron. Energi Elektron yang dihasilkan oleh
pesawat Linear A ccelerator bervariasi dari tingkatan energi yang paling rendah
sampai energi foton yang paling tinggi. Energi yang tersedia tersebut nantinya
akan digunakan sesuai dengan tingkat kedalaman dari kanker tersebut.

1.2 Tujuan

Tujuan dari pelaksanaan Kuliah Kerja Lapang ini adalah sebagai berikut:

1. Mahasiswa dapat mengerti dan membandingkan disiplin ilmu yang


didapat di dalam kelas ke arah aplikasi di lapangan. Kerja Praktek ini
merupakan fasilitas untuk memperluas dan merealisasikan ilmu yang didapat
secara praktis dan eksperimental.
2. Mengembangkan pengetahuan dan kemampuan profesi dan kerja

mahasiswa dengan melakukan praktek kerja di Instansi yang diminatinya


sesuai dengan bidangnya untuk mempersiapkan diri terjun ke masyarakat
melalui instansi atau lembaga penelitian sebagai salah satu bakti
perguruan tinggi dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.

7
3. Memenuhi beban satuan kredit semester (SKS) yang harus ditempuh
sebagai persyaratan akademis di jurusan Fisika Fakultas MIPA Universitas
Diponegoro khususnya dalam bidang minat Fisika Radiasi.

1.3 Manfaat
Manfaat yang didapat dari Praktek Kerja Lapang ini adalah:

1. Bagi Perguruan Tinggi


Sebagai tambahan referensi khususnya mengenai perkembangan
industri di Indonesia maupun proses dan teknologi yang mutakhir, dan
dapat digunakan oleh pihak-pihak yang memerlukan.
2. Bagi Instansi Tempat Kerja Praktek
o Sebagai sarana penghubung antara instansi dengan lembaga perguruan
tinggi.
o Hasil analisa dan penelitian yang dilakukan selama kerja praktek dapat
menjadi bahan masukan bagi perusahaan untuk menentukan kebijaksanaan
perusahaan di masa yang akan datang.
o Sebagai sarana untuk memberikan penilaian kriteria tenaga kerja yang

dibutuhkan oleh instansi tersebut.


3. Bagi mahasiswa
o Mahasiswa dapat mengetahui tentang kenyataan yang ada dalam dunia
kerja sehingga nantinya diharapkan mampu menerapkan ilmu yang
telah didapat dalam dunia kerja.
o Dapat mempersiapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk
menyesuaikan diri di lingkungan kerja di masa mendatang.
o Dapat mengenal lebih jauh realita ilmu yang telah diterima dibangku
kuliah melalui kenyataan yang ada di lapangan.
o Menambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman selaku generasi
yang terdidik untuk siap terjun langsung di masyarakat khususnya di
lingkungan kerjanya.

8
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 Tinjauan Pustaka
Teknik irradiasi modern, seperti Intesity Modulated Radiation Therapy (IMRT) atau
Volumetric Modulated Arc Therapy (VMAT) menawarkan kesesuaian yang unggul dari dosis
hingga ke target dengan tetap menjaga organ sehat atau organ at risk (OAR) mendapatkan
dosis seminimal mungkin (Camilleri, 2016). Namun teknik dengan kualitas tinggi ini
membuatnya harus mendapatkan sistem Quality Assurance (QA) yang selalu memastikan
dosis yang diterima pasien sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Teknik IMRT yang komplek membutuhkan verifikasi sebelum treatment yang hati-
hati meliputi geometrinya dan dosimetrinya untuk menjaga keluaran yang akan diterima oleh
pasien. Teknik perhitungan QA yang berdasarkan pada teknik IMRT tidak begitu efisien dan
jarang dilakukan oleh pasien dengan jumlah sedikit atau instalasi yang memiliki kesibukan
treatment yang tinggi. Verifikasi dosis pada IMRT biasanya menggunakan detektor ionisasi
chamber, film dan detektor 2D array atau dioda. Namun, peralatan tersebut mempunyai
kekurangan. Film, yang mempunyai resolusi tinggi tidak bisa memberilkan gambaran yang
real time, dan detektor 2D array mempunyai resolusi spasial yang rendah. Elektronik Portal
Imaging Device (EPID) mengkombinasikan resolusi spasial yang tinggi dan deteksi luas yang
besar untuk verifikasi sebelum treatment pada lapangan IMRT (Herwiningsih, 2014).
Patient Specifik Quality Assurance (PSQA) adalah tahapan untuk garansi treatment
pasien yang akurat pada terapi radiasi. Prosedur verifikasinya ditunjukan dari levelnya
dimulai dengan QA untuk parameter mesinnya contoh pada keseragaman berkas dan
stabilitasnya, akurasi posisi Multi Leaf Colimator (MLC) dan keakuratan model dari Linnear
Acceleretor (LINAC) pada bagian treatmen planning sistem (TPS). Verifikasi prosedur untuk
teknik 3D conformal radiation terapy (3DCRT) dan Intensity Modulated Radiation Terapi
(IMRT) dilakukan untuk setiap pasien (Van Elmpt, 2008).
Citra dari EPID dapat digunakan untuk ferifikasi IMRT (Quino, 2014). LINAC
modern sudah dilengkapi dengan EPID yang dapat menghasilkan gambar untuk mode
integrasi dan mode lanjut. Sehingga memungkinkan untuk menggunakan EPID pada
lapangan terbuka dan lapangan dengan teknik IMRT atau VMAT untuk merekonstruksi dosis
pada anatomi pasien atau menggunakan phantom (Quino, 2014)

9
2.2 Linear Accelerator
Linear acceleration (linac) merupakan seperangkat peralatan pemercepat yang dapat
mempercepat elektron hingga memiliki energi kinetik 4 sampai dengan 25 MeV mengunakan
medan megnet non konservaatif dari radio frekuensi gelombang mikro dengan rentang
frekuensi dari 1000 Mhz (L band) hingga 10000 Mhz (X band) dengan mayoritas berada
pada 2856 MHz (S band). Pada pesawat linac elektron dipercepat mengikuti sebuah lintasan
lurus pada sebuah acceleratingwaveguide. Medan radio frekuensi digunakan untuk
mempercepat elektron di dalam accelerator tube yang biasanya berasal dari magnetron atau
klystron. Komponen pesawat linac beserta susunanya diasajikan pada gambar 2.1 (Khan,
2003).

Gambar 2.1 Komponen Dasar Linac (Khan, 2003)

2.3 Intensity Modulated Radioation Theraphy (IMRT)


IMRT merupakan salah satu teknik radioterapi yang modern dengan menggunakan
pesawat linnear accelerator yang dikendalikan komputer untuk memberikan dosis maksimal
pada organ target kanker dan memberikan dosis seminimal mungkin pada organ sehat. pada
penyinaran menggnakan IMRT menggunakan banyak lapangan radiasi yang mempunyai
intensitas radiasi berbeda beda, untuk menghasilkan distribusi dosis yang optimal pada organ
target kanker. Untuk mendapat intesitas radiasi yang berbeda pada pesawat LINAC,
digunakan MLC (Multi Leaf Collimator) yang membentuk lapangan penyinaran sesuai organ
target (Podgorsak, 2005).

10
Pada teknik 3D Conformal juga menggunakan MLC yang digunakan untuk
mengkolimasi radiasi yang keluar sesuai bentuk target tumor, membutuhkan filter wedge
untuk mengatenuasi radiasi pada daerah yang dibutuhkan. Di IMRT MLC digunakan untuk
mengkolimasi dan mengatenuasi radiasi yang keluar dari pesawat linnear accelerator sesuai
distribusi dosis yang dibutuhkan.
Dibutuhkan komputer TPS yang dapat melakukan perhitungan untuk beberapa
lapangan radiasi yang tidak seragam intensitasnya dari masing masing arah penyinaran,
pesawat radasi yang dapat memberikan radiasi dengan intensitas yang tidak seragam sesuai
dengan apa yang direncanakan komputer.
Pergerakan MLC pada teknik IMRT ada dua macam : dynamic MLC (Sliding window)
dan static MLC (step and shoot). Dynamic MLC merupakan teknik dimana MLC bergerak
kontinue selama radiasi berlangsung pada setiap arah sudut agantry, mempunyai waktu yang
lebih singkat dibandingkan dengan static MLC. Metode static MLC merupakan metode
dimana MLC bergerak membentuk segmen ketika radiasi berhenti dan MLC berhenti radiasi
berlangsug untuk masing-masing sudut gantry dan MLC berhenti selama radiasi berlangsung
begitu seterusnya untuk masing masing sudut gantri (Metcalfe, 2007)

2.4 Elektronic Portal Imaging Device (EPID)


EPID merupakan salah satu peralatan yang berperan penting pada proses verifikasi
medan IMRT. Sebagian besar klinik radioterapi telah memanfaatkan EPID sebagai pengganti
film radiografi untuk verifikasi posisi pasien. Karena citra EPID juga mengandung informasi
distribusi dosis, alat ini telah direkomendasikan sebagai pengganti detektor dua dimensi
untuk verifikasi dosis, baik sebelum terapi maupun ketika proses terapi dilakukan. Ada
banyak tipe portal imaging, diantaranya:
1. Fluorescent screen, kaca, dan CCD kamera yang berdasarkan pencitraan
2. Pencitraan liquid ion chamber
3. Amorphous-silicon portal imagers
4. Fluoroscopic portal imaging
5. Kodak CR reader, dan
6. Tipe lain portal imaging

11
Era modern dari electronic portal imaging dimulai tahun 1980an dengan di
demonstrasikan oleh Norman Baily dengan menggunakan sistem fluoroskopik untuk meng-
akuisisi transmisi citra megavoltage. Pengenalan dari scanning sistem liquid ionisation
chamber di tahun 1990 dengan cepat di ikuti dengan memeperkenalkan camera-based
fluoroscopic EPID dari pabrik yang lain. Selanjutnya EPIDs dikomersialkan dan dapat
digunakan di US dari setidaknya 5 vendor. Perangkat tersebut memberikan ekspektasi yang
baik oleh komunitas radioterapi (Herman, 2001).
Fluoroskopi TheraView EPID dilengkapi dengan kamera CCD yang menghasilkan citra
digital kualitas tinggi dengan noise yang rendah. Kamera CCD dapat mendeteksi sinyal optik,
yang langsung diterima dari layar fosfor dan direfleksikan oleh kaca dengan kemiringan 45 0.
Detektornya terdiri dari piringan tembaga dengan ketebalan 2,2 mm diikat dalam terbium 400
mg/cm2 yang di dopping gadolinium Oxy Sulphide (Gd202s: Tb) phosphor screen (Anvari,
2016).
Ketika kamera CCD terkena radiasi, elektron ber energi tinggi ter generalisasi di
piringan logam dan phospore screen mengubahnya menjadi cahaya. Pada phospore screen,
cahaya membentuk sinyal video yang tergeneralisasi oleh kamera. Sinyal video dari kamera
dapat di digitalkan dan kemudian gambar digitalnya dapat dilihat di monitor yang berada
pada wilayah kontrol LINAC. Sistem videonya berbeda untuk setiap jenisnya dan operasi
kameranya. Variasi teknik pembacaan di desain untuk mengurangi noise dari serangkaian
proses pencitraan.

2.5 Detektor OCTAVIUS 729


Detektor OCTAVIUS 729 terdiri dari 27 cm x 27 cm matriks 729 air vented cubic
plane parallel ionization chamber. Ionsasi chamber tersebut mempunyai ukuran 0,5 cm x 0,5
cm x 0,5 cm, jarak antara titik tengahnya 1,0 cm (Mohamadi, 2006). Volume sensitif setiap
satu ionisasi chamber adalah 0,125 cm3. Pannah nya mempunyai ketebalan 2,2 cm, yang
terdiri dari material polymethylmethacrylate (PMMA) dan berat 3,2 kg. Teknik
penggunakaan PTW masih manual, sehingga detektornya harus diletakan di antara kurang
lebih 3 cm hamburan balik material dan 5cm dari build up material. Caranya adalah dengan
meletakan material atau phantom dengan menyesuaikan kedalaman maksimum, sehingga
detektor dapat menangkap dosis maksimum (Anvari, 2016). Ketika menggunakan detektor

12
untuk verifikasi, detektor diletakan pada kedalaman maksimum dengan diberi phantom di
atasnya. Phanom yang digunakan adalah solid water phantom yanng mempunyai densitas
sama dengan air. Detektor dan phantom air diletakan di meja pasien dengan SSD 100. Luas
lapangan yang digunakan untuk kalibrasi umumnya 10x10 cm

13
BAB III
HASIL KERJA PRAKTEK

3.1 Pelayanan Radioterapi RS Ken Saras

Pelayanan radioterapi RS Ken Saras dibuka setiap hari Senin sampai dengan
Jumat. Untuk hasi Senin sampai Jumat, pelayanan dimulai sekitar pukul 09.00
WIB sampai 19.00 WIB. Dan pada hari Sabtu dilakukan kalibrasi bulanan yang
dimulai pukul 09.00 WIB sampai 14.00WIB. Pelayanan dimulai setelah dilakukan
kalibrasi harian oleh fisikawan medis setiap pagi. Kalibrasi harian mencakup
kalibrasi konsistensi output dan pemanasan pesawat radioterapi. Jenis pesawat
radioterapi yang digunakan di Kes Saras ialah pesawat teleterapi eksternal
LINAC 3DCRT dengan output berkas foton sebesar 6MV dan berkas eklektron
bervariasi mulai dari 5MeV, 7Mev, 8MeV, 10MeV, 12MeV dan 14MeV. Akan
tetapi untuk elektron 12 MeV dan 14 MeV sedang mengalami kerusakan sehingga
tidak dikalibrasi. Selain itu juga terdapat pesawat teleterapi eksternal LINAC
IMRT dengan output berkas foton 6MV.

Beberapa prosedur tahapan pelayanan radioterapi di RS Ken Saras dapat


digambarkan dalam alur pelayanan radioterapi sebagai berikut

14
1. Pasien melakukan registrasi di bagian administrasi untuk melengkapi data
administratif
2. Pasien melakukan konsultasi dengan dokter spesialis onkologi untuk
menentukan rencana penyinaran. Kemudian pasien harus diperiksa di
Laboratorium PA untuk menentukan kondisi dan kesiapan umum pasien
sebelum melakukan kegiatan radioterapi.
3. Setelah semua pemeriksaan awal dilakukan dan pasien dinyatakan siap

untuk melaksanakan radioterapi maka pasien akan dibawa ke ruang moulding


untuk membuat kelengkapan alat bantu penyinaran. Alat bantu dapat berupa
termoplast mask untuk pasien Ca head and neck, breast bord, position pillow ,
block, dll.
4. Setelah itu pasien akan melakukan kegiatan CT Simulator untuk
menentukan lokasi tumor. Hasil CT kemudian di transfer ke komputer TPS
di Instalasi Radioterapi. Di TPS ini dibuat simulasi penyinaran secara
3D Conform al.

5. Di TPS dokter melakukan deliniasi CTV, PTV, serta organ at risk sesuai CT
Simulator. Kemudian fisikawan medis akan melakukan planning secara
3D, mengukur waktu penyinaran, membuat kurva distribusi dosis dan DVH
(Dose Volume Histogram) untuk menyatakan dosis tumor dan dosis pada
organ at risk. Kemudian radiografer akan membuat blok individual pada
ruang Mould Room sesuai Treatment Planning S ystem. Kemudian pada
ruang Linac, positioning dan verifikasi lapangan radiasi oleh fisikawan medis
dan radiografer. Hasil verifikasi akan di cek oleh dokter spesialis onkologi.
Setelah semua siap, maka penyinaran baru dapat dimulai.
6. Terapi radiasi akan dilakukan kepada pasien, dalam jangka waktu terapi
dokter dapat pula menyarankan agar dilaksanakan evaluasi untuk mengamati
perkembangan sel kanker.

15
7. Setelah rangkaian terapi dilaksanakan pasien akan kembali berkonsultasi
dengan dokter untuk mengamati kondisi sel kanker apakah masih
memerlukan terapi atau sudah cukup.

3.2 Kalibrasi Konsistensi Output

Kegiatan Kalibrasi konsistensi output dilakukan secara berkala yaitu setiap hari
,setiap minggu dan setiap bulan. Kegiatan ini penting dilakukan dengan tujuan
menjaga kinerja pesawat radioterapi yang digunakan.
Kalibrasi konsistensi output dilakukan setiap pagi hari sebelum penyinaran
kepada pasien dimulai. Dengan tujuan memastikan kinerja pesawat untuk
menghasilkan output berkas sinar radiasi yang sesuai.
1. Alat dan Bahan :

1.1 Pesawat Linac Siemens / Primus M Class 5633

Spesifikasi pesawat Linac

1. Merk atau Type: Siemens / Primus M Class M5633

2. Treatment Head: Standart Dual Leaf Jaw ( X dan Y)

3. Energy Output: Foton 6 MV, elektron 5, 7, 8, 10, 12, 14 MeV

4. Standart Output Foton: 200 MU = 200 cGy/menit. 10 x 10 cm field size


5. Standard Output Elektron: 300 MU = 300cGy 10 x 10 cm field size

6. Accesoris: Virtial Wedge ( 150, 300 dan 450 ), elektron aplikator 5 x


5 diameter cone, 10 x 10 cm, 15cm x 15 cm, 20 cm x 20 cm, 25 cm x
25 cm.

1.2 Water Solid Phantom

1.3 Detektor Farmer Tipe Ion Chamber

1.4 Alat ukur tekanan dan temperatur

1.5 Elektrometer

1.6 Alat Ukur Kelembaban

1.7 Aplikator

16
2. Cara Kerja :

2.1 Menyalakan pesawat Linac kemudian mencatat nilai HV Hours,


Filamen Hours serta temperatur pada ruangan Linac.
2.2 Meletakkan Water Solid Phantom diatas couch / table dengan
ketebalan 7,5 cm dengan SSD 100 cm.
2.3 Meletakkan alat ukur temperatus dan tekanan ke dalam lubang Water
Solid Phantom pada kedalaman 1,5 cm, kemudian mencatat temperatur
pada phantom tersebut.
2.4 Memasang detektor farmer tipe ion chamber pada kedalaman 1.5
cm di dalam phantom.
2.5 Menghubungkan kabel koaksial detektor dengan elektrometer.
2.6 Melakukan uji konsistensi output elektron, dengan memasang
aplikator pada kolimator Linac dengan luas lapangan 10 x 10 cm.
2.7 Memasukkan nilai temperatur dan tekanan linac pada elektrometer.
2.8 Melakukan penyinaran dengan beberapa variasi energy elektron
sebesar 5 MeV, 7 MeV, 8 MeV,10 MeV ,12 MeV ,14 MeV dengan
nilai Measurements Unit (MU) sebesar 300 cGy.
2.9 Mencatat dosis yang terbaca untuk setiap energi pada elektrometer.
2.10 Melakukan pengukuran terhadap output foton 6 MV,maka aplikator
dilepaskan dari kolimator. Kemudian mengubah nilai MU menjadi 200
cGy.
2.11 Mencatat dosis yang terbaca pada elektrometer.
2.12 Memasukkan semua data yang diperoleh dari pengukuran kedalam
lembar kerja komputer.

17
3. Pengolahan Data

3.1 Data Protokol

3.1.1 Kondisi Ruangan Teleterapi

1. Luas Ruangan : 132,19 m2


2. Panjang : 12,65 m
3. Lebar : 10,45 m
4. Jenis Dinding : Concrete (Beton Bertulang)
5. Tebal Dinding : 2,2 meter
6. Tasmbahan Timbal : Pintu 8 mm
7. Beban kerja maksimum: 40 pasien per hari

3.1.2 Kondisi Lingkungan Sekitar

1. Kanan : Jalan

2. Kiri : Ruang operator dan ruang TPS

3. Muka : Ruang Tunggu

4. Belakang : Taman

5. Atas : Tidak Ada

6. Bawah : tidak ada

18
3.1.3 Kondisi Operasional

No Parameter Kondisi Harian Keterangan


1 Linac Supply Referensi kondiri temperatur
a. Temperatur Supply 15- 19 0C berada pada level 15-20
b. Pressure Supply 64 Ps i untuk supply maupun return
0
c. Temperatur Return 16-20 C sedangkan untuk pressure
32 Ps i
d. Pressure Return supply berada pada level diatas
60 Psi, dengan selisih antara
pressure Suppy dan Return
mendekati 35 Psi

2 Linac Condition LED Panel merupakan


Menyala Tercatar penanda komponen dalam
a. LED Panel
Tercatat 104 C with Linac dapat bekerja dengan
b. Fill Hours Normal Conductivity baik, setiap LED merupakan
bagian indikator bagian
c. HV Hours On desire Level 75 26
Psi tertentu dalam suatu
d. Di Water Temperatur and sekuen, salah satu LED
mati maka sekuen setelahnya
conductivity secara otomatis akan mati.
e. Di Water Volume Kondisi Di water menunjukkan
f. Di Water Pressure kondisi wave guide, dengan
reverensi nilai temperatur
g. SF6 Pressure
1040 C, normal conductivity
dengai indicator lampu
berwarna hijau, tekanan 75
Psi dan volume air berada
antara nilai maksimal dan
minimal. SF6 pressure
digunakan menjaga wave
guade dalam keadaan vacum
dengan nilai
referensi 24-28Psi

19
333 Enviromental Referensi untuk suhu
a. Ambient temperatur 17-250C operasional yang di
b. Relative Humadity 50-67% berikan adalah 20-26 C
c. Atmospheric Pressure 956-959 hPa dengan
kelembaban yang
diizinkan 65%. Tekanan
ruangan tempat pesawat
Linac terinstal berada
pada level 7
x 104 11 x104 Pa

3.3 Kalibrasi Bulanan

1. Alat dan Bahan


1.1 Water phantom
Fungsi : sebagai objek yang akan dikenai sinar x da sebagai tempat detektor.
1.2 Pesawat Linac Siemens / Primus M Class 5633
Fungsi : sebagai objek yang dilakukan kalibrasi sekaligus penghasil berkas
sinar-x.
Spesifikasi pesawat Linac :
o Merk atau Type: Siemens / Primus M Class M5633

o Treatment Head: Standart Dual Leaf Jaw ( X dan Y)

o Energy Output: Foton 6 MV, elektron 5, 7, 8, 10, 12, 14 MeV

o Standart Output Foton: 200 MU = 200 cGy/menit. 10 x 10 cm


field size

o Standard Output Elektron: 300 MU = 300cGy 10 x 10 cm field size

20
o Accesoris: Virtial Wedge ( 150, 300 dan 450 ),
elektron aplikator 5 x 5 diameter cone, 10 x 10 cm,
15cm x 15 cm, 20 cm x 20 cm, 25 cm x 25 cm.

1.3 CCU
Fungsi : sebagai kontrol untuk menggerakkan motor, sebagai pencacah, dan sebagai
penyuplai bias.
1.4 Termometer
Fungsi : sebagai alat ukur temperatur.
1.5 Barometer
Fungsi : sebagai alat ukur tekanan.
1.6 Waterpass
Fungsi : sebagai detektor kerataan permukaan air
1.7 Film
Fungsi : untuk memastikan SSD dan isocenter berada pada posisi yang tepat.
1.8 Detektor condensor chamber SN-9970
Fungsi : sebagai reference detektor yang diletakkan di udara.
1.9 Detektor condensor chamber SN-9976
Fungsi : sebagai field detektor yang diletakkan di dalam water phantom.
1.10 Holder detektor
Fungsi : sebagai alat bantu untuk meletakkan detektor condensor chamber
SN-9976 tepat di permukaan water phantom.
1.11 Kabel Koaksial
Fungsi : untuk menghubungkan water detektor condensor chamber dengan
CCU.
1.12 Software Omnipro
Fungsi : sebagai program pengolahan data yang menghasilkan kurva sebagai output.

2. Cara Kerja

2.1 Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam kalibrasi
bulanan yaitu penentuan PDD dan Dose Profile.
2.2 Menyalakan pesawat Linac dan mengatur posisi tabung water phantom
tepat pada isocenter gantry atau center phantom.

21
2.3 Mengisi tabung water phantom dengan aqua DM sesuai dengan SSD 100
cm.
2.4 Memastikan SSD tepat 100 cm dengan menggunakan film.
2.5 Memasang termometer dan barometer pada water phantom untuk
mengetahui temperatur dan tekanan.
2.6 Memasang detektor condensor chamber SN-9976 tepat padapermukaan
air dan isocenter sedangkan detektor condensor chamber SN-
9970 diletakkan di udara dan dipastikan tidak menutupi detektor
condensor chamber SN-9976.
2.7 Menghubungkan kabel koaksial dengan CCU dan detektor
2.8 Melakukan pengaturan terhadap program Omnipro dengan menginput data
percobaan yang diinginkan.
2.9 Melakukan pengamatan terhadap kurva yang dihasilkan.

3. Data Hasil Pengamatan


3.1 Kurva PDD

22
3.3 Kurva Profile Dose Inline

3.3 Kurva Profile Dose Crossline

23
BAB IV
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Secara garis besar peran dan tanggung jawab fisikawan medis dalam
radioterapi adalah dalam persiapan proses penyinaran meliputi moulding
room, CT Simulator dan treatm ent planning system , serta kontrol
kualitas peralatan, sistem dan mekanisme yang digunakan dalam
terapi.
2. Proses persiapan penyinaran terhadap pasien dilakukan oleh
fisikawan medis bersama dengan dokter spesialis onkologi radiasi
untuk mengetahui secara tepat apa, bagaimana dan seperti apa sinar
akan diberikan kepada pasien.
3. Kegiatan quality control yang harus dilakukan oleh fisikawan medis
meliputi kalibrasi harian maupun kalibrasi bulanan dimana hasil
kalibrasi tersebut di-input dalam log sheets komputer untuk
dievaluasi
4. Dalam proses radioterapi banyak pihak yang terlibat, antara lain:

dokter spesialis ongkologi radiasi, fisikawan medis, radiografer,


perawat maupun admin.

5.2 Saran

1. Kelengkapan peralatan kalibrasi guna menunjang kegiatan quality


control perlu diperhatikan, karena masih ada beberapa peralatan
yang terpaksa diganti dengan alat bantu yang dibuat secara manual
sehingga hasil QA tentu saja kurang akurat.
2. Perlunya sosialisasi alur pelayanan radioterapi kepada pasien baru
agar pasien tidak bingung ketika harus menjalani serangkaian proses
menuju penyinaran.
3. Perlu adanya peningkatan mutu dari masing masing tenaga kerja di
Instalasi Radioterapi. Peningkatan tersebut dapat berupa ikut serta

24
dalam pelatihan pelatihan, kegiatan kegiatan w orkshop terkait
bidang radioterapi maupun mengikuti pendidikan lebih lanjut di bangku
kuliah. Hal ini bertujuan untuk semakin menambah wawasan dan
keterampilan para tenaga kesehatan di bidang radioterapi yang selalu
berkembang.
4. Optimalisasi penggunaan peralatan radioterapi agar peralatan- peralatan
yang digunakan tidak cepat rusak
5. Perlunya tenaga fisikawan medis di unit radiodiagnostik agar penjaminan
mutu dan kualitas dapat dipertanggungjawabkan.

25