Anda di halaman 1dari 11

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
D. Manfaat

BAB II ISI

A. Metode Penampang
B. Kelebihan dan Kekurangan Metode Cross Section

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR
BAB I

Pendahuluan

A. Latar Belakang
Batubara merupakan sumberdaya mineral yang bernilai ekonomis tinggi.
Kebutuhan akan batubara semakin meningkat dari tahun ke tahun terutama untuk
mencukupi kebutuhan energi. Untuk mencukupi kebutuhan batubara, diperlukan
inventarisasi sumber daya dan cadangan batubara supaya seimbang antara kebutuhan dan
cadangannya. Perhitungan cadangan merupakan hal yang paling vital dalam kegiatan
inventarisasi kegiatan eksplorasi batubara. Perhitungan yang dimaksud disini adalah
perhitungan cadangan dimana data-data seperti data singkapan, data topografi dan data
pemboran digunakan sebagai parameter dalam penentuan geometri jenjang penambangan
yang diperlukan dalam perhitungan cadangan terukur.
Penggunaan metode dalam mengestimasi cadangan batubara pun ada bermacam-
macam, penggunaannya disesuaikan dengan kemampuan para pengguna. Pemilihan cara
estimasi menyesuaikan representatif dengan jumlah cadangan sebenarnya. Diantara
metode-metode terdapat metode penampang (Cross section) .
Penggunaan cross section di maksudkan untuk mempermudah dalam
menginterpretaskan suatu cadangan. Dalam cross section data-data bisa di lihat dalam
bentuk penampang, sehingga kalau terjadi kesalahan bisa di bandingkan bentuk
penampang dengan penampang sebelahnya dengan cara estimasinya dengan
menjumlahkan block-blocknya. Atas dasar hal tersebut, maka penulis tertarik membahas
tentang Perhitungan Cadangan Dengan Metode Penampang, untuk mengetahui
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
D. Manfaat
BAB II
Pembahasan

Perhitungan Cadangan Dengan Metode Penampang


A. Metode Penampang
Pada prinsipnya, perhitungan cadangan dengan menggunakan metoda penampang
ini adalah mengkuantifikasikan cadangan pada suatu areal dengan membuat penampang-
penampang yang representatif dan dapat mewakili model endapan pada daerah tersebut.
Pada masing-masing penampang akan diperoleh (diketahui) luas batubara dan luas
overburden. Volume batubara & overburden dapat diketahui dengan mengalikan luas
terhadap jarak pengaruh penampang tersebut. Perhitungan volume tersebut dapat
dilakukan dengan menggunakan 1 (satu) penampang, atau 2 (dua) penampang, atau 3
(tiga) penampang, atau juga dengan rangkaian banyak penampang dimana perhitungan
luas masing-masing elemen tersebut dilakukan pada masing-masing penampang
Perhitungan tonase dan volume dilakukan dengan rumus-rumus yang sesuai
dimana mengkuantifikasikan dengan membuat penampang-penampang yang
respresentatif. Metode penampang vertikal dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Membuat irisan-irisan penampang melintang yang memotong endapan batubara yang
akan dihitung,
2. Menghitung luas batubara dan overburden tiap penampang,
3. Setelah luasan dihitung, maka volume dan tonase dihitung dengan rumusan
perhitungan.
Perhitungan volume dengan menggunakan satu penampang digunakan jika
diasumsikan bahwa satu penampang mempunyai daerah pengaruh hanya terhadap
penampang yang dihitung saja. Volume yang dihitung merupakan volume pada areal
pengaruh penampang tersebut.
Metode penampang ini terdiri dari beberapa langkah yang harus dilakukan,
meliputi: membuat penampang yang mewakili cadangan batukapur dengan software
AutoCad Land Desktop, menghitung luas tiap penampang dengan menggunakan
gabungan rumus perhitungan luas metode simpson 1/3 dan simpson 3/8, menggunakan
rumus mean area untuk menghitung volume antar penampang, sehingga didapatkan
volume cadangan terukur batukapur dan selanjutnya menghitung tonase cadangan
batukapur. Metode penampang masih sering dilakukan pada tahap-tahap paling awal dari
perhitungan. Hasil perhitungan secara manual ini dapat dipakai sebagai alat pembanding
untuk mengecek hasil perhitungan yang lebih canggih dengan menggunakan komputer.
Untuk menghitung suatu cadangan batubara di perlukan 3 data utama diantaranya
topografi, singkapan dan pengeboran. Data-data tersebut sebagai komponen dari
perhitungan untuk mengetahui elevasi, strike dan dip batubara, tebal tanah penutup, data
geologi dan lain-lain
Pada masing-masing penampang akan diperoleh (diketahui) luas batubara dan luas
overburden. Volume batubara & overburden dapat diketahui dengan mengalikan luas
terhadap jarak pengaruh penampang tersebut. Perhitungan volume tersebut dapat
dilakukan dengan menggunakan 1 (satu) penampang, atau 2 (dua) penampang, atau 3
(tiga) penampang, atau juga dengan rangkaian banyak penampang. Pembuatan sayatan
penampang pada Surpac Vision dibutuhkan desain tambang yang telah kita buat terlebiih
dahulu. Dimana desain tambang tersebut membutuhkan data surpace topography, surface
roof batubara dan surface floor batubara. Kemudian kita tentukan arah dari sayatan yang
hasilnya tegak lurus dari garis tersebut

a. Dengan menggunakan 1 (satu) penampang

Gambar 1. Perhitungan Volume Menggunakan Satu Penampang


Gambar 1. Perhitungan volume menggunakan satu penampang
Volume yang dihitung merupakan volume pada areal pengaruh penampang
tersebut. Jika penampang tunggal tersebut merupakan penampang korelasi lubang
bor, maka akan merefleksikan suatu bentuk poligon dengan jarak pengaruh
penampang sesuai dengan daerah pengaruh titik bor (poligon) tersebut

Rumus perhitungan volume dengan menggunakan satu penampang adalah :


Volume = (A x d1) + (A x d2)

b. Dengan menggunakan 2 (dua) penampang.

Gambar 2. Perhitungan volume menggunakan dua penampang

Perhitungan volume dengan menggunakan dua penampang jika diasumsikan


bahwa volume dihitung pada areal di antara 2 penampang tersebut. Yang perlu
diperhatikan adalah variasi (perbedaan) dimensi antar kedua penampang tersebut. Jika
tidak terlalu berbeda, maka dapat digunakan rumus mean area dan kerucut
terpancung, tetapi jika perbedaannya cukup besar maka digunakan rumus obelisk
Adapun rumus yang digunakan sebagai berikut :
Rumus mean area

V = volume ( BCM)
V = JS (1 + 2)/2 Js = panjang antar penampang (M)
L = luas area penampang (M2)
L1 dan L2 = luasan penampang 1 & 2
JS adalah jarak antar penampang.

Rumus Kerucut Terpancung

Rumus obelisk

c. Dengan menggunakan 3 (tiga) penampang

Perhitungan volume dengan menggunakan tiga penampang digunakan jika


diketahui adanya variasi (kontras) pada areal di antara 2 penampang, maka perlu
ditambahkan penampang antara untuk mereduksi kesalahan. Perhitungannya
menggunakan rumus prismoida.
Perhitungan volme menggunakan tiga penampang

Untuk menghitung luas penampang digunakan penggabungan metode


simpson 1/3 dan simpson3/8.
Lsimp1/3 = h/3 (f0+fn) + h/3 (4f1+4f3+4f5+...+4fn-1) + h/3 (2f2+2f4+2f6+...+2fn-2)

= h/3 (f0+fn) + 4h/3 (f1+f3+f5+...+fn-1) + 2h/3 (f2+f4+f6+...+fn-2)

Lsimp1/3 = h/3 ( f0 + 4 f ganjil + 2 f genap + fn )

Lsimp3/8 = h/8 (f0+fn) + h/8 (3f1+3f3+3f5+...+3fn-1) + h/8 (3f2+3f4+3f6+...+3fn-2)

= h/8 (f0+fn) + 3h/8 (f1+f3+f5+...+fn-1) + 3h/8 (f2+f4+f6+...+fn-2)


Lsimp3/8 = h/8 ( f0 + 3 f ganjil + 3 f genap + fn )

Sedangkan, untuk menghitung tonase

digunakan rumus :

T = V x Bj

Keterangan :

T = Tonase (Ton)

V = Volume (m3 )

Bj = Berat Jenis (Ton/m3)

B. Kelebihan dan Kekurangan Metode Cross Section


Metode cross section menafsirkan kontur topograpi dan kontur struktur batubara
menerus dan mengikuti sayatan yang ada. Adapun kekurangan dari metode cross section
adalah tidak memperhitungkan perubahan topografi yang berada diantara penampang
yang satu dengan penampang yang lain dan sedangkan kelebihan dari metode cross
section berada pada perhitungan areanya. Dengan
menggunakan metode simpson 1/3 dan 3/8, yang berdasarkan jarak antar segmen,
sehingga jarak antar section dan spasi segmen berbading lurus, semakin kecil jarak
spasimaka akan lebih detail perhitungan luasan area
BAB III

Penutup

A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

Sujiaman. 2015. Kajian Perhitungan Cadangan Batubara Menggunakan Metode Block Model 2
Dimensi dan Cross Section di Software Surpac Pada PT Tanito Harum Kalimantan
Timur. Jurnal Geologi Penambangan Vol. I No. 17, Februari 2015..

Pratama Arno Edwin Gilang , Samanlangi Andi Ilham, dkk. Estimasi Cadangan Batukapur
Dengan Metode Cross Section Dibandingkan Dengan Metode Kontur. Geosain Vol. VI
No. 2, 2010.