Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM SURVEI HIDROGRAFI I

Pembuatan Peta Batimetri


Pelabuhan Tanjung Adikarto, Kulon Progo, DIY

KELOMPOK 7 KELAS A
1. ANNISA WULANDARI (15/384977/TK/43639)
2. BAYU WISNU PUTRA (15/378877/TK/42819)
3. DIDI ILHAM (15/384989/TK/43651)
4. IFFATI IFADATI (15/385003/TK/43665)
5. MUHAMMAD BINTANG A (15/379924/TK/43189)

DEPARTEMEN TEKNIK GEODESI


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang
kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-
Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga saya dapat menyelesaikan Laporan Akhir Survei
Hidrografi ini.
Dalam penyusunannya, saya mengucapkan terimakasih kepada Dosen dan Asisten
Praktikum kami yaitu Bapak Abdul Basith, Bapak Istarno, Mas Steffan Rico dan Mas Akbar Dwi
Kusuma yang telah memberikan dukungan, dan bimbingan selama penyusunan laporan ini.
Kami menyadari, laporan yang kami susun ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun bagi Laporan Akhir Survei Hidrografi ini
dapat lebih baik lagi pada kesempatan selanjutnya.
Akhir kata semoga Laporan Akhir Survei Hidrografi ini bermanfaat.

Yogyakarta, 13 Juni 2017

Kelompok 7 Kelas A
MK Survei Hidrografi 2016/2017

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................. 0


DAFTAR ISI ................................................................................................................................. 2
BAB I ............................................................................................................................................ 3
PENDAHULUAN ........................................................................................................................ 3
I.1 Latar Belakang ............................................................................................................... 3
I.2 Manfaat........................................................................................................................... 3
I.3 Tujuan Praktikum ........................................................................................................... 4
BAB II ........................................................................................................................................... 5
LANDASAN TEORI .................................................................................................................... 5
II.1 Pemetaan Batimetri ........................................................................................................ 5
II.2 Pemeruman (Sounding) .................................................................................................. 6
II.3 Echosounder ................................................................................................................... 7
II.4 Konsep Pengukuran Topografi....................................................................................... 9
BAB III ....................................................................................................................................... 10
PELAKSANAAN ....................................................................................................................... 10
III.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan .................................................................................. 10
III.2 Alat dan Bahan ............................................................................................................. 10
III.3 Persiapan Survei ........................................................................................................... 11
III.4 Pelaksanaan Survei ....................................................................................................... 12
III.5 Pengolahan Data Hasil Survei ...................................................................................... 14
BAB IV ....................................................................................................................................... 35
HASIL DAN PEMBAHASAN................................................................................................... 35
IV.1 Hasil Pengukuran ......................................................................................................... 35
IV.2 Perhitungan dan Pengolahan Data................................................................................ 36
IV.3 Penyajian ...................................................................................................................... 37
BAB V ........................................................................................................................................ 39
KESIMPULAN DAN SARAN................................................................................................... 39
V.1 Kesimpulan................................................................................................................... 39
V.2 Saran ............................................................................................................................. 39
LAMPIRAN ................................................................................................................................ 40
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................. 41

2
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Survey hidrografi adalah kegiatan pemetaan laut, pengumpulan data, kondisi dan
sumberdaya suatu wilayah laut yang kemudian diolah, dievaluasi dan disajikan dalam
bentuk
buku, peta laut serta informasi mengenai kelautan lainnya, yang selanjutnya digunakan
untuk kepentingan pembangunan dan pertahanan keamanan suatu negara.
Data mengenai fenomena dasar perairan dan dinamika badan air didapat
melalui pengukuran yang kegiatannya disebut sebagai survei hidrografi. Data yang
diperoleh dari survei hidrografi kemudian diolah dan disajikan sebagai informasi
geospasial atau informasi yang terkait dengan posisi di muka bumi. Sehubungan dengan
itu maka seluruh informasi yang disajikan harus memiliki data posisi dalam ruang yang
mengacu pada suatu sistemreferensi tertentu. Aktifitas utama survei hidrografi meliputi:.
1. Penentuan posisi di laut.
2. Pengukuran kedalaman (pemeruman)
3. Pengamatan pasut.
4. Pengukuran detil situasi dan garis pantai (untuk pemetaan pesisir).
5. Penggunaan sistem referensi
Data yang diperoleh dari aktifitas-aktifitas tersebut diatas dapat disajikan sebagai
informasi dalam bentuk peta dan non-peta. Untuk menunjang pengetahuan hidrografi,
maka perlu dilakukan praktikum survey hidrografi. Oleh sebab itu kami melakukan
kegiatan praktikum survey hidrografi yang dilakukan di Pelabuhan Tanjung Adikarto
Kulon Progo.
I.2 Manfaat
Pelaksanaan kegiatan praktikum survei hidrografi di Pelabuhan Tanjung Adikarto
Kulon Progo diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan wawasan bagi mahasiswa
dalam melaksanakan suatu pekerjaan hidrografi. Selain itu praktikum ini dapat menjadi
ajang mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di perkuliahan untuk mengerjakan suatu
pekerjaan sesungguhnya.Hasil akhir praktikum ini adalah peta bathymetri yang didapat
dari survei bathymetri tersebut .
Selanjutnya peta bathymetri ini dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan
kedalamanlaut dan mendapatkan informasi mengenai bahaya-bahaya pelayaran bagi
keperluan navigasi pada daerah survei
3
I.3 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan diadakan praktikum survei hidrografi ini antara lain sebagai berikut :
1. Mahasiswa dapat mengaplikasikan materi yang didapat selama perkuliahan
matakuliah Survey Hidrografi yaitu teori tentang pasang surut air laut,
penentuan posisi, pemeruman, serta pembuatan topografi di daerah Pelabuhan
Tanjung Adikarto Kulon Progo.
2. Mahasiswa dapat merencanakan dan melaksanakan manajemen pekerjaan
dilapangan
3. Mahasiswa dapat mengetahui secara langsung permasalahan dan kendala-kendala
yang terjadi di lapangan selama praktikum berlangsung.
4. Mahasiswa diharapkan dapat memahami, merencanakan, dan mengolah data yang di
peroleh di lapangan hingga pada hasil akhir.

4
BAB II
LANDASAN TEORI

II.1 Pemetaan Batimetri


Batimetri adalah suatu ilmu yang mempelajari kedalaman dibawah air dan studi
tentang tiga dimensi dasar laut atau danau. Dalam survei batimetri ini ada tiga kegiatan
utama yang harus dilakukan, yaitu penentuan posisi, kedalaman, dan pasang surut untuk
koreksi kedalaman. Di bawah ini akan dijelaskan masing-masing kegiatan yang harus
dilakukan dalam survei batimetri.
Pertama, Penentuan posisi digunakan untuk mengetahui posisi titik yang diketahui
kedalamannya. Biasanya penentuan posisi di laut ini menggunakan GPS. GPS itu sendiri
adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika
Serikat. GPS didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan 3 dimensi serta informasi
mengenai waktu, secara kontinyu diseluruh dunia tanpa tergantung waktu dan cuaca,
kepada banyak orag secara simultan.
Prinsip atau konsep dasar penentuan posisi dengan GPS adalah pengukuran jarak
(reseksi/ pengikatan kebelakang) ke beberapa satelit yang telah diketahui koordinatnya
sekaligus secara simultan. GPS terdiri dari beberapa segmen utama, yaitu; segmen angkasa
(space segement) yang terdiri dari satelit-satelit GPS, segmen sistem kontrol yang terdiri
dari stasiun-stasiun pemonitor dan pengontrol satelit, dan segmen pemakai berupa alat-alat
menerima sinyal GPS.
Kedua, Pengukuran kedalaman, pengukuran kedalaman dalam survei batimetri
dilakukan pada titik-titik yang dipilih untuk mewakili keseluruhan daerah yang dipetakan.
Pada titik-titik ini juga dilakukan penentuan posisi, titik-titik ini disebut titik fiks perum.
Pada titik fiks ini juga dilakukan pencatatan waktu saat pengukuran kedalaman untuk
koreksi pasut pada hasil pengukuran. Ada beberapa metoda yang dapat digunakan dalam
pengukuran kedalaman, yaitu; metoda mekanik, optik, atau akustik.
Ketiga, Pengamatan Pasut, pengamatan pasut digunakan untuk mengkoreksi hasil
dari pengukuran kedalaman dan untuk prediksi pasang surut di masa mendatang di saat dan
tempat tertentu. Pengamatan pasut dilakukan dengan mencatat atau merekam data tinggi
muka air laut pada setiap interval waktu tertentu, biasanya setiap 15, 30 atau 60 menit.
Rentang waktu pengamatan pasut yang lazim dilakukan adalah 15 atau 30 hari.
Dalam pengamatan pasut, perlu dilakukan pengikatan stasiun pengamat pasut untuk
mengetahui kedudukan nol palem relatif terhadap suatu titik permanen (Bench Mark) di
5
pantai agar mudah diketahui kembali. Pengikatan stasiun pasut ini dilakukan dengan
metoda pengukuran sipat datar untuk menentukan beda tinggi nol palem relatif terhadap
BM.
II.2 Pemeruman (Sounding)
Pemeruman adalah proses dan aktivitas yang ditujukan untuk memperoleh gambaran
(model) bentuk permukaan (topografi) dasar perairan (seabed surface). Proses
penggambaran dasar perairan tersebut (sejak pengukuran, pengolahan hingga visualisasi)
disebut dengan survei batimetri. Model batimetri (kontur kedalaman) diperoleh dengan
menginterpolasikan titi-titik pengukuran kedalaman bergantung pada skala model yang
hendak dibuat.
Titik-titik pengukuran kedalaman berada pada lajur-lajur pengukuran kedalaman
yang disebut sebagai lajur perum (sounding line). Jarak antar titik-titik fiks perum pada
suatu lajur pemeruman setidak-tidaknya sama dengan atau lebih rapat dari interval lajur
perum.
Pengukuran kedalaman dilakukan pada titik-titik yang dipilih untuk mewakili
keseluruhan daerah yang akan dipetakan. Pada titik-titik tersebut juga dilakukan
pengukuran untuk penentuan posisi. Titik-titik tempat dilakukannya pengukuran untuk
penentuan posisi dan kedalaman disebut sebagai titik fiks perum. Pada setiap titik fiks
perum harus juga dilakukan pencatatan waktu (saat) pengukuran untuk reduksi hasil
pengukuran karena pasut.
Desain Lajur Perum
Pemeruman dilakukan dengan membuat profil (potongan) pengukuran kedalaman.
Lajur perum dapat berbentuk garis-garis lurus, lingkaran-lingkaran konsentrik, atau lainnya
sesuai metode yang digunakan untuk penentuan posisi titik-titik fiks perumnya. Lajur-lajur
perum didesain sedemikian rupa sehingga memungkinkan pendeteksian perubahan
kedalaman yang lebih ekstrem. Untuk itu, desain lajur-lajur perum harus memperhatikan

Gambar II. 1 Lajur Perum dan Titik Fix Perum


6
kecenderungan bentuk dan topografi pantai sekitar perairan yang akan disurvei. Agar
mampu mendeteksi perubahan kedalaman yang lebih ekstrem lajur perum dipilih dengan
arah yang tegak lurus terhadap kecenderungan arah garis pantai.
Dalam merencanakan kerapatan pemeruman, kondisi alam dasar laut dan persyaratan
dari pengguna harus diperhitungkan, dengan maksud untuk menjamin kecukupan
penelitian.
Lajur perum utama sedapat mungkin harus tegak lurus garis pantai dengan interval
maksimal 1 cm pada sekala survei. Jarak yang memadai antara lajur perum dari berbagai
orde survei sudah diisyaratkan pada SP-44. Berdasarkan prosedur tersebut harus ditentukan
apakah perlu dilakukan suatu penelitian dasar laut ataukah dengan memperapat atau
memperlebar lajur perum.
Lajur silang diperlukan untuk memastikan ketelitian posisi pemeruman dan reduksi
pasut. Jarak antar lajur silang adalah 10 kali lebar lajur utama dan membentuk sudut antara
60o sampai 90o terhadap lajur utama. Lajur silang tambahan bisa ditambahkan pada daerag
yang direkomendasikan atau terdapat keragu-raguan. Jika terdapat perbedaan yang
melebihi toleransi yang ditetapkan (sesuai dengan ordenya) harus dilakukan uji lanjutan
dalam suatu analisis yang sistematik terhadap sumber-sumber kesalahan penyebabnya.
Setiap ketidak cocokan harus ditindaklanjuti dengan cara analisis atau survei ulang selama
kegiatan survei berlangsung.
II.3 Echosounder
Echo sounder atau Gema Duga atau Echoloading adalah alat untuk mengukur
kedalaman air dengan mengirimkan tekanan gelombang dari permukaan ke dasar air dan
dicatat waktunya sampai echo kembali dari dasar air (Parkinson, B.W., 1996).
Prinsip kerjanya yaitu: pada transmiter terdapat tranduser yang berfungsi untuk
merubah energi listrik menjadi suara. Kemudian suara yang dihasilkan dipancarkan dengan
frekuensi tertentu. Suara ini dipancarkan melalui medium air yang mempunyai kecepatan
rambat sebesar, v=1500 m/s. Ketika suara ini mengenai objek, misalnya ikan maka suara
ini akan dipantulkan. Sesuai dengan sifat gelombang yaitu gelombang ketika mengenai
suatu penghalang dapat dipantulkan, diserap dan dibiaskan, maka hal yang sama pun terjadi
pada gelombang ini.
Ketika gelombang mengenai objek maka sebagian enarginya ada yang dipantulkan,
dibiaskan ataupun diserap. Untuk gelombang yang dipantulkan energinya akan diterima
oleh receiver. Hasil yang diterima berasal dari pengolahan data yang diperoleh dari

7
penentuan selang waktu antara pulsa yang dipancarkan dan pulsa yang diterima. Dari hasil
ini dapat diketahui jarak dari suatu objek yang deteksi.
Echosounder berdasar sinyal yg dipancarkan terdiri dari 2 macam yaitu :
a. Single-Beam Echosounder
Single-beam echosounder merupakan alat ukur kedalaman air yang
menggunakan pancaran tunggal sebagai pengirim dan pengiriman sinyal
gelombang suara. Komponen dari single-beam terdiri dari transciever
(transducer atau receiver) terpasang pada lambung kapal. Sistem ini mengukur
kedalaman air secara langsung dari kapal penyelidikan. Transciever
mengirimkan pulsa akustik dengan frekuensi tinggi yang terkandung dalam
beam (gelombang suara) menyusuri bagian bawah kolom air. Energi akustik
memantulkan sampai dasar laut dari kapal dan diterima kembali oleh
tranciever. Transmiter menerima secara berulang-ulang dalam kecepatan yang
tinggi sampai pada orde kecepatan milisekon. Range frekuensi single-beam
echosounder relatif mudah untuk digunakan, tetapi hanya menyediakan
informasi kedalam sepanjang garis trak yang dilalui oleh kapal (Urick , 1983).
b. Multi-Beam Echosounder
Multi-Beam Echosounder merupakan alat untuk menentukan kedalaman
air dengan cakupan area dasar laut yang luas. Prinsip operasi alat ini secara
umum adalah berdasar pada pancaran pulsa yang dipancarkan secara langsung
ke arah dasar laut dan setelah itu energi akustik dipantulkan kembali dari dasar
laut (sea bad), beberapa pancaran suara (beam) secara elektronis terbentuk
menggunakan teknik pemrosesan sinyal sehingga diketahui sudut beam. Multi
beam echosounder dapat menghasilkan data batimetri dengan resolusi tinggi
(0,1 m akurasi vertikal dan krang dari 1 m akurasi horizontalnya) (Urick, 1983).
Bagian-bagian Echosounder
a. Time Base : Time base berfungsi sebagai penanda pulsa listrik untuk mengaktifkan
pemancaran pulsa yang akan dipancarkan oleh transmitter melalui transducer.
b. Transmiter : Transmitter berfungsi menghasilkan pulsa yang akan dipancarkan.
c. Transducer : Fungsi utama dari transducer adalah mengubah energi listrik menjadi
energi suara ketika suara akan dipancarkan ke medium dan mengubah energi suara
menjadi energi listrik ketika echo diterima dari suatu target
d. Reciever : Receiver berfungsi menerima pulsa dari objek dan display atau recorder
sebagai pencatat hasil echo
8
e. Recorder : Recorder berfungsi untuk merekam atau menampilkan sinyal echo
II.4 Konsep Pengukuran Topografi
Peta topografi adalah jenis peta yang ditandai dengan skala besar dan detail, biasanya
menggunakan garis kontur dalam pemetaan modern. Sebuah peta topografi biasanya terdiri
dari dua atau lebih peta yang tergabung untuk membentuk keseluruhan peta. Sebuah garis
kontur merupakan kombinasi dari dua segmen garis yang berhubungan namun tidak
berpotongan, ini merupakan titik elevasi pada peta topografi.
Pusat Informasi Peta Topografi Kanada memberikan definisi untuk peta topografi
sebagai berikut:
Sebuah peta topografi adalah representasi grafis secara rinci dan akurat mengenai
keadaan alam di suatu daratan.
Penulis lain mendefinisikan peta topografi dengan membandingkan mereka dengan
jenis lain dari peta, mereka dibedakan dari skala kecil "peta sorografi" yang mencakup
daerah besar, "peta planimetric" yang tidak menunjukkan elevasi, dan "peta tematik" yang
terfokus pada topik tertentu
Karakteristik unik yang membedakan peta topografi dari jenis peta lainnya adalah
peta ini menunjukkan kontur topografi atau bentuk tanah di samping fitur lainnya seperti
jalan, sungai, danau, dan lain-lain. Karena peta topografi menunjukkan kontur bentuk
tanah, maka peta jenis ini merupakan jenis peta yang paling cocok untuk kegiatan outdoor
dari peta kebanyakan

9
BAB III
PELAKSANAAN
III.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari/tanggal : Selasa, 23 Mei 2017
Pukul : 07.00 18.00
Tempat : Tanjung Adikarto, Kulon Progo, DIY
III.2 Alat dan Bahan
i. Pengukuran Batimetri
Alat :
1. Fish Finder (transduser, monitor, GPS Receiver)
2. GPS RTK
3. ACCU
4. Barcheck
5. Router
6. Laptop
7. Bola plastik
Bahan : Data perencanaan pemeruman
ii. Pengukuran Pasang Surut Alat :
1. Sipat Datar
2. Rambu Ukur
3. Palem
4. 1 set Valeport Tidemaster
5. Formulir Ukur
Bahan : Titik BM pengikatan pasang surut dan koordinatnya
iii. Pengukuran Arus
1. 1 set Valeport Currentmeter 106
2. Alat penanda waktu (jam)
3. Formulir ukur
iv. Pengukuran Topografi Alat :
1. Satu set Total Station (Totalstation, Statif, Prisma)
2. Formulir ukur
3. 2 set GPS Geodetik ComNav T300
Bahan : Dua Titik BM pengikatan dan koordinatnya

10
v. Pengolahan Data
1. Laptop
2. Software Pengolah Angka
3. Software ArcGIS
4. Software SURPAC
5. Software MatLab
6. Data pasut stasiun cilacap selama 30 hari
III.3 Persiapan Survei
Adapun tahap persiapan pada pelaksanaan Kuliah Lapangan Survei Hidrografi 1
adalah sebagai berikut :
1. Pembuatan peta rencana jalur pemeruman
- Mencari citra Tanjung Adikarto menggunakan Google Earth atau dari sumber
lain sebagai dasar dalam perencanaan lajur pemeruman
- Menandai dan menyalin titik-titik yang akan dijadikan sebagai koordinat titik
GCP untuk rektifikasi.
- Melakukan rektifikasi menggunakan software AutoCAD
- Membuat lajur utama dengan interval tertentu misalnya 1 cm x faktor skala
- Membuat lajur silang dengan ketentuan jarak antar lajur maksimal 10 kali lajur
utama.
- Menyimpan file tersebut dalam format *.txt.
- Mentranformasikan nilai koordinat ke dalam Koordinat Geografis.
- Selanjutnya melakukan upload data pada Echosounder atau Echologger
dengan menggunakan kabel ke komputer
- Lakukan percobaan pemeruman dengan mengaktifkan Log On.
2. Pemasangan dan Instalasi Alat Untuk Pemeruman
- Menyiapkan perahu (vessel) yang akan digunakan untuk survei batimetri
menggunakan Echologger atau Echosounder.
- Memasang tranducer dan GPS alat pada perahu.
- Kemudian mengukur panjang draft tranducer berdasarkan hasil pemasangan
alat pada perahu.
- Menyambungkan kabel yang ada pada alat ke laptop.
- Kemudian memasukkan data rencana lajur pemeruman yang telah dibuat, dan
pengumpulan data siap dilakukan.
3. Pemasangan dan Instalasi Alat Ukur Pasang Surut.

11
- Memilih lokasi yang akan dijadikan sebagai station pengamat pasang surut,
misalnya tepat di tepi perairan atau pelabuhan
- Memasang rambu ukur yang akan digunakan sebagai rambu pengamat pasut
dengan cara menambatkannya pada tepi perairan dan titik nol rambu
menyentuh dasar perairan .
- Kemudian menyambungkan sensor tide master dengan monitor alat
menggunakan kabel dan port yang ada.
- Melakukan instalasi alat tide master di dekat rambu pasut dimana sensor
diikatkan atau dilekatkan pada bambu atau sejenisnya, kemudian mengukur
offset dari dasar ujung bambu bagian bawah ke sensor, kemudian meletakkan
dan menambatkan bambu tersebut kebagian tepi perairan di dekat rambu pasut
dengan ujung bambu menyentuh dasar perairan.
- Kemudian melakukan pengukuran beda tinggi antara titik pengamatan pasang
surut dan benchmark aatau titik kontrol terdekat untuk integrasi sistem tinggi.
- Kemudian pengumpulan data siap dilakukan.
4. Pemasangan dan Instalasi Alat Ukur Arus
- Memilih lokasi yang akan dijadikan sebagai station pengamatan arus, misalnya
tepat di tepi perairan atau pelabuhan
- Kemudian melakukan instalasi alat current meter dengan menyambungkan
monitor alat dan propeler (baling-baling) dengan menggunakan kabel dan port
yang ada.
- Kemudian menambatkan kabel alat current meter pada ujung bambu atau
sejenis dengan menggunakan alat perekat atau sejenisnya sebagai alat bantu
agar penggunaan propeler untuk pengamatan arus dapatlebih mudah.
- Kemudian memasukkan alat propeler kedalam perairan dengan bantuan
bambu.
- Kemudian melakukan pengamatan arus permukaan pada station pengamat
arus.
III.4 Pelaksanaan Survei
Adapun tahap pelaksanaan pada pelaksanaan Kuliah Lapangan Survei Hidrografi 1
adalah sebagai berikut :
1. Pelaksanaan Survei Pengukuran Kedalaman (Pemeruman)
- Menyiapkan perahu yang telah terinstalasi alat untuk pemeruman.
- Menggunakan alat untuk keselamatan seperti pelampung.

12
- Kemudian naik ke perahu dan mengarahkan perahu ke daerah sekitar tengah
perairan.
- Mengaktifkan mode pengukuran pada alat pemeruman
- Kemudian melakukan pengukuran barcheck dengan titik kedalaman tertentu.
- Melepaskan pelampung pada dasar perairan kemudian mencatat koordinat dan
waktu saat pelampung dilepaskan.
- Kemudian melakukan proses pemeruman dengan mengarahkan kapal sesuai
dengan lajur pemeruman yang telah dibuat.
- Setelaha proses pemeruman selesai, langkah selanjutnya yaitu kembali ke
lokasi dimana pelampung berada, kemudian mengambil pelampung dan
mencatat koordinat dan waktu saat pelampung dilepaskan.
- Kemudian kembali ke tepi perairan dan data hasil pemeruman dapat
didownloada dan diolah.
2. Pelaksanaan Pengukuran Pasang Surut
- Melakukan persiapan pengumpulan data di station pengamat pasut dengan
menyiapkan alat tulis dan sebagainya.
- Kemudian mencatat bacaan pada rambu ukur sesuai dengan ukuran yang
ditunjukkan oleh permukaan air.
- Mencatat data pasut yang ditunjukkan oleh monitor alat tide master, kemudian
menjumlahkan data tersebut dengan nilai offset alat yang diukur saat persiapan.
- Kemudian melakukan pengamatan data pasut dengan interval waktu tiap 5
menit dimana data pada alat rambu ukur dan tide master diamati pada waktu
yang bersamaan.
3. Pelaksanaan Pengukuran Arus
- Melakukan persiapan pengumpulan data di station pengamat pasut seperti
menyiapkan alat tulis dan sebagainya.
- Meletakkan sensor propeler pada perairan kemudian melakukan pengukuran
arus permukaan.
- Mencatat data hasil pengamatan arus yang ditunjukka pada monitor alat current
meter dengan inerval waktu tiap 6 menit.
4. Survei Terestris
- Melakukan pengukuran kerangka kontrol pemetaan untuk pengukuran terestris
dengan menggukana GPS metode RTK NTRIP.
- Melakukan pengukuran detil dengan menggunakan Total Station menggukan
titik dan koordinat yang diperoleh dari pengukuran GPS sebelumnya.
13
- Untuk meyingkat waktu pengukuran detil juga dilakukan dengan
menggunakan GPS metode RTK NTRIP yang diikatkan pada CORS BPN
Kulonprogo.

III.5 Pengolahan Data Hasil Survei


A. Pengolahan Data Hasil Survei Batimetri
Adapun langkah pengolahan data hasil survei batimetri pada pelaksanaan Kuliah
Lapangan Survei Hidrografi 1 adalah sebagai berikut :
1. Membuka data(.xls) hasil survei batimetri pada pelaksanaan kuliah lapangan.
Adapun data praktikum tersebut terdiri atas waktu pengumpulan data (Time
koordinat (Easting, Northing), dan kedalaman (Depth).

2. Langkah selanjutnya yaitu mencari data-data kosong (bernilai nol) pada kolom
Depth. Kemudian melakukan proses interpolasi pada data tersebut dengan acuan
nilai kedalaman sebelum dan sesudah kolom-kolom tersebut.

14
3. Langkah selanjutnya yaitu melakukan koreksi draft tranducer (D+Dt) dengan
mengitung penjumlahan data Kedalaman (Depth) dengan nilai Draft Tranducer
(Dt). Adapun nilai draft tranducer pada pelaksanaan kuliah lapangan yaitu 0.3
meter.

4. Kemudian membuat tabel untuk koreksi Barcheck yang berisi nilai Barcheck,
kedalaman barcheck (d), dan penjumlahan kedalaman barcheck dengan draft
tranducer (d+Dt).

5. Kemudian menghitung nilai Koreksi Barcheck (Y) dengan menggunakan prinsip


Hitung Kuadrat Terkecil. Adapun persamaan pendekatan yang digunakan dalam
tahap ini yaitu :
Y = ax + b

15
Dimana x merupakan penjumlahan data pada kolom Tranducer dengan Draft
Tranducer (d + Dt) dan a,b merupakan parameter yang akan dicari. Adapun langkah
dalam Hitung Kuadrat Terkecil terhadap data tersebut adalah sebagai berikut :
- Menyusun matriks A (4x2) yang merupakan turunan persamaan (ax + b) terhadap
parameter a dan b, dan menyusun matriks L (4x1) yang merupakan data pada
kolom Barcheck.

- Kemudian menyusun matriks A transpose ( )

- Kemudian menghitung matriks

- Kemudian menghitung inverse matriks ( )1

16
- Menghitung matriks

- Menghitung nilai ( )1

Dari hasil operasi matriks terakhir tersebut kemudian didapat nilai parameter yang
dicari yaitu a = 1.01228 dan b = -0.04882.

6. Kemudian menghitung nilai Koreksi Barcheck (Y) untuk tiap data kedalaman dengan
rumus Y = ax + b, dimana x = data hasil koreksi draft tranducer (D+Dt).

17
7. Langkah selanjutnya yaitu melakukan pengolahan terhadap data pasang surut yang
akan digunakan untuk acuan koreksi pasut. Adapun data pasut acuan yang digunakan
untuk koreksi pasut yaitu data hasil pengamatan bacaan rambu ukur terhadap naik
turunnya permukaan air. Adapun datanya adalah sebagai berikut :

Adapun data yang terdapat dalam tabel tersebut yaitu data Jam(H), Menit(M), Jam
dalam desimal(H_des), tinggi permukaan air yang terbaca pada rambu (Rambu), dan
tinggi permukaan air yang terbaca pada alat Pressure gauge. Dalam pelaksanaa kuliah

18
lapangan, data pengamatan pasut dicatat tiap interval 5 menit. Langkah selanjutnya
yang harus dilakukan antara lain :
- Melakukan interpolasi terhadap data pasut untuk menghasilkan data pasut dengan
interval 30 menit.

- Kemudian memilih salah satu data pada tabel nilai pasut sebagai data pasut acuan
dan menghitung selisih tiap data ketinggian pasut terhadap tinggi acuan tersebut.
Misalkan tinggi pasut acuan yang digunakan yaitu data pada jam 10.00 dengan
tinggi pasut 1.54 m.

19
Kemudian menghitung besar selang kenaikan tinggi air dengan menghitung
selisih antara suatu data tinggi pasut dengan tinggi pasut setelahnya.

8. Langkah selanjutnya yaitu menghitung nilai koreksi pasut dengan formula :


Kor_Pasut = (Kor_BC) (Acuan) + ((T2-T1)/0.5) * Selang
Keterangan
- Kor_Pasut = Koreksi Pasut
- Kor_BC = Koreksi Barcheck
- Acuan = Beda tinggi data pasut terhadap tinggi acuan
- T2 = Waktu pengukuran dalam desimal (H_des)
- T1 = Waktu data pasut tiap checkpoint (Time_des)
- Selang = selisih tinggi pasut dengan tinggi pasut setelahnya
Adapun proses koreksi pasut ini dilakukan untuk tiap checkpoint. Misalnya akan
dilakukan koreksi terhadap data pada jam 10.33, maka koreksi dilakukan terhadap
checkpoint data pasut pada jam 10.30.

20
Kemudian lakukan langkah yang sama untuk data pada tiap checkpoint berikutnya.
9. Langkah selanjutnya yaitu membawa data kedalam yang telah dilakukan koreksi
pasut ke bidang acuan yaitu MSL (Mean Sea Level). Adapun nilai MSL didapat
dari pengolahana data pasut dari station pengamat pasut terdekat dengan lokasi
kuliah lapangan yaitu Station Cilacap. Pengolahan dilakukan menggunakan matlab.
Adapun langkah-langkahnya untuk mendapatkan nilai MSL adalah sebagai berikut
:
- Menyalin data sensor rad (yang dipakai sebagai acuan pasut) pada Stasiun
Cilacap ke dalam Notepad kemudian menyimpan dalam format .txt

21
- Kemudian membuka program MATLAB dan membuat script untuk perhitungan
MSL sebagai berikut :
a. Menuliskan data input (.txt) yang sudah dibuat sebelumnya
b. Mendefinisikan waktu awal dan akhir pengamatan
c. Mendefinisikan interval pengamatan
d. Menyimpan program (format .m)

- Klik icon Run ( ) untuk menjalankan program (file .txt dan file .m harus berada
di folder yang sama). Kemudian setelah program berhasil dijalankan, akan muncul
nilai x0. Nilai x0 merupakan MSL yang akan digunakan sebagai acuan yaitu 3.31.

10. Langkah selanjutnya yaitu mencari nilai beda elevasi antara tinggi pasut acuan pada
tanggal 23 Mei 2017 (10:00) dan nilai rata-rata elevasi tinggi satu bulan (MSL).
Karena data pasut masih menggunakan waktu UTC sedangkan pengukuran batimetri
pada waktu UTC+7, maka data pada jam 10:00 akan tercatat pada jam 03:00.
22
Beda Elevasi = pasut UTC 03:00 MSL

Adapun nilai beda elevasi antara tinggi pasut pada tanggal 23 Mei 2017 (09:07) dan
nilai rata-rata elevasi tinggi satu bulan yaitu -0.182 m MSL
11. Langkah selanjutnya yaitu menghitung nilai kedalaman terkoreksi (DEPTH) dengan
mengurangi data hasil koreksi pasut dengan nilai beda elevasi terhadap MSL pada
tanggal 23 Mei 2018 (10.00).
DEPTH = Koreksi Pasut Beda Elevasi

23
12. Langkah selanjutnya yaitu menyeleksi data koordinat (X,Y) dan kedalaman fix ke
file(.xls) yang baru dengan format X, Y, dan Z. Dimana Z dirubah ke nilai minus
untuk menujukkan data kedalaman. Kemudian data koordinat (X, Y, Z) tersebut
disimpan dalam format CSV

B. Pengolahan Data Hasil Survei Terestris


Adapun langkah pengolahan data hasil survei batimetri pada pelaksanaan Kuliah
Lapangan Survei Hidrografi 1 adalah sebagai berikut :
1. Mengumpulan semu data hasil pengukuran menggunakan GPS dan Total Station
pengamatan Terestris.
2. Kemudian mencari beda tinggi antara titik BM dengan dasar perairan dari
pengolahan hasil pengukuran beda tinggi. Kemudian didapat beda tinggi antara
titik BM dengan dasar pelabuhan adalah 4,936. Adapun sketsa pengukuran beda
tinggi pada pelaksanaan kuliah lapangan adalah sebagai berikut :

Keterangan :
- BM = Titik BM (Benchmark)
- 1 = Titik berdiri rambu
- 2 = Titik pada dasar perairan yang tersentuh rambu pasut.
- HBM,1 = Beda tinggi antara titik BM dan titik 1
- H1,2 = Beda tinggi antara titik 1 dan titik 2
- HBM,dasar = Beda tinggi antara titik BM dan dasar perairan

24
HBM,dasar = HBM,1 + H1,2
3. Kemudian menghitung nilai beda tinggi titik BM terhadap MSL dengan cara
mengurangi nilai HBM,dasar dengan nilai tinggi pasut acuan pada jam 10:00 (muka
air laut sesaat). Hasilnya kemudian dijumlahkan dengan nilai beda elevasi pasut pada
jam 10:00 (UTC 03:00) dengan MSL. Adapun sketsa penghitungan beda tingginya
adalah sebagai berikut :

Keterangan :
- BM = Titik BM (Benchmark)
- Hpasut UTC 03:00 = Tinggi muka air hasil pengamatan rambu pasut pada jam
10:00
- Hpasut = Beda elevasi pasut acuan pada jam 10:00 (UTC 03:00)
dengan MSL
- HBM,dasar = Beda tinggi antara titik BM dan dasar perairan
- HBM,MSL = Beda tinggi antara titik BM dengan MSL

HBM,MSL = HBM,dasar - Hpasut UTC 03:00 + Hpasut


4. Langkah selanjutnya yaitu merubah acuan tinggi semua detil hasil survei terestris ke
bidang MSL dengan menjumlahkan semua data ketinggian pada detil dengan nilai
HBM,MSL .
5. Langkah selanjunya yaitu menggabungan semua data detil hasil pengukurann GPS
dan Total Station, kemudian merapikan distribusi datanya dengan urutan kolom X,
Y, Z, ID, dan String. Kemudian simpan dalam format CSV.

25
X Y Z ID String

6. Kemudian membuka software SURPAC, lalu memilih menu File Import Data
from Many String. Kemudian kotak dialog Import coordinates from text file.
Kemudian pada kolom Location, pilih file data CSV yang telah dibuat sebelumnya.
kemduain klik Apply. Kemudian pada tampilan berikutnya, masukkan angka sesuai
dengan urutan kolom pada file CSV, kemudian klik Apply. Pada tampilan berikutnya,
masukkan angka sesuai dengan urutan lokasi kolom point ID, kemudian klik Apply.
Kemudian akan muncul notifikasi bahwa koordinat telah berhasil diimpor dan file
dengan format .str akan ditampilkan pada bagian Navigator.

7. Langkah selanjutnya yaitu melakukan pengolahan terhadap data .str detil hasil survei
terestris dengan menggunakan fitur-fitur yang ada pada SURPAC sehingga tampak
gambaran kenampakan detil yang sesuai dengan kondisi lapangan.

26
8. Membuat garis kontur dari titik spot height yang telah diukur dengan cara klik drop
down menu Surfaces DTM file functions Create DTM from string file pada
jendela Create a DTM from a string file memilih file yang akan dibuat konturnya
uncheck pada pilihan String to act like breaklines Apply

27
9. Untuk menampilkan dan melakukan edit pada garis kontur, klik drop down menu
Surfaces Contouring Contour DTM file akan muncul kotak dialog Extract
contour from a DTM memilih file DTM sebelumnya dan menentukan interval
kontur Apply edit kontur

10. Meng-convert data topografi dan data kontur (.str) ke dalam format .dwg
11. Membuka data dalam format .dwg dalam software ArcGIS
12. Melakukan export data sehingga data menjadi berformat .shp (shapefile)

C. Pengolahan Data Hasil pengamatan Arus


1. Menghitung nilai rata-rata kecepatan aru dari hasil pengamatan arus.
2. Menentukan arah arus dengan menggunakan acuan koordinat bola pelampung
saat dilepaskan dan diambil pada permukaan air saat proses pemeruman.
Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut :
- Menyiapkan data koordinat dan waktu saat bola pelampung dilepaskan(start)
dan diambil(end) pada permukaan air.

28
- Menghitung kecepatan arus menggunakan rumus sebagai berikut :
Menghitung perpindahan bola :

D12 = ((X2-X1)2+(Y2-Y1) 2)1/2

Menghitung kecepatan arus :


V = D12/t12

D. Plotting Data Hasil Sounding Menggunakan ArcGIS ArcMap


1. Membuka aplikasi ArcGIS ArcMap
2. Kemudian memasukkan data hasil sounding dengan memilih menu File Add
Data Add XY Data. Lalu kotak dialog Add XY Data akan ditampilkan.

3. Kemudian klik ikon Browse . Kemudian pada kotak dialog Add, pilih data
hasil sounding yang akan digunakan, kemudian klik Add.

4. Kemudian pada bagian Specify the fields for the X, Y, and Z coordinates, pilih x
pada kolom X Field, y pada kolom Y Field, dan z pada kolom Z Field. Kemudian
tentukan pula sistem koordinat yang digunakan dengan memilih Edit pada bagian

29
Coordinate System of Input Coordinates. Kemudian klik OK. Maka data hasil
sounding akan ditampilkan pada lembar kerja.

5. Langkah selanjutnya yaitu menampilkan ArcToolBox. Kemudian memilih 3D


Analyst Tools Raster Interpolation IDW. Maka kotak dialog IDW akan
ditampilkan.
6. Kemudian pada kotak dialog IDW, yang dilakukan yaitu :
- Mengisikan data hasil pemeruman yang digunakan pada kolom Input point
features
- Memilih z (Kedalaman) pada kolom Z value field
- Menentukan lokasi penyimpanan dan nama file hasil proses IDW pada kolom
Output raster.
- Kemudian klik OK.

30
Kemudian tampilan data hasil proses IDW akan ditampilkan pada lembar kerja.

7. Langkah selanjutnya yaitu melakukan proses pemotongan hasil proses IDW


menggunakan data batas area perairan dengan memilih Spatial Analyst Tools
Extraction Extract by Mask. Kemudian kotak dialog Extract by Mask akan
ditampilkan.
8. Kemudian pada kotak dialog Extract by Mask, yang dilakukan yaitu :
- Memilih file hasil proses IDW pada kolom Input Raster.
- Memilih file (.shp) yang akan digunakan untuk melakukan pemotongan batas
perairan pada kolom Input raster of feature mask data.
- Menentukan lokasi penyimpanan dan nama file hasil proses Extract by Mask
pada kolom Output raster.
- Kemudian klik OK.
- Kemudian tampilan data hasil proses Extract by Mask akan ditampilkan pada
lembar kerja.

31
9. Langkah selanjutnya yaitu membuat kontur dari file hasil proses Extract by Mask
dengan memilih Spatial Analyst Tools Raster Surface Contour. Kemudian
kotak dialog Contour akan ditampilkan.
10. Kemudian pada kotak dialog Contour, yang dilakukan yaitu :
- Memilih file hasil proses Extract by Mask pada kolom Input raster.
- Menentukan lokasi penyimpanan dan nama file hasil proses Contour pada
kolom Output polyline features
- Menentukan nilai interval kontur pada kolom Contour interval.
- Kemudian klik OK.

32
- Kemudian tampilan garis kontur hasil proses Contour akan ditampilkan pada
lembar kerja.

11. Kemudian membuat titik kedalaman pada area pelabuhan dengan menggunakan
data hasil pemeruman dengan langkah-langkah sebagai berikut :
- Klik kanan pada layer data hasil pemeruman kemudian pilah Opan Atribute
Table. Kemudian tabel atribut data akan ditampilkan. Kemudian pilih semua
data pada tabel tersebut.

- Kemudian klik kanan pada layer data hasil pemeruman. Pilih Data Export
Data. Kotak dialog Export Data akan ditampilkan.
- Kemudian tentukan nama dan lokasi penyimpanan data hasil ekspor.
Kemudian klik OK, maka file hasil export akan dibuat.
- Kemudian memasukkan data titik kedalaman kedalam lembar kerja ArcGIS,
kemudian menyeleksi titik-titik kedalaman yang akan ditampilkan hingga
tampilannya tampak proporsional dengan tampilan kontur.

33
12. Langkah selanjunya yaitu memasukkan data(.shp) detil planimetris ke lembar
kerja ArcGIS dengan menggunakan tools Add Data .

13. Langkah selanjutnya yaitu melakukan layouting terhadap data hasil Survei
Batimetri dan Survei Terestris untuk membuat peta Batimetri.

34
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Pengukuran
a. Hasil Pengukuran Arus
Kecepatan Kecepatan
Temperatur(oC) Cuaca
Arus(m/s) Maksimum(m/s)
29.1 0,0 0,1 Cerah
29,4 0,1 0,1 Cerah
29,4 0,0 0,1 Cerah
29,6 0,0 0,1 Cerah
29,8 0,0 0,1 Cerah
Tabel IV.1 Hasil Pengukuran Arus
Pengukuran Arus dilakukan pada pagi hari dan sedang dalam kecepatan angin
rendah sehingga ketinggian air masih rendah. Interval pengamatan yakni 6 menit
dengan durasi 30 menit dan dilaksanakan di dekat stasiun pasut Pelabuhan Adikarto.
Dan berdampak pada kecepatan arus yang sangat kecil, yakni 0,1 m/s dengan rata-
rata 0,02 m/s. Kecepatan maksimum arus yaitu 0,1 m/s. Temperatur cenderung naik
dari waktu ke waktu mulai dari 29,1 sampai 29,8 oC, dan bercuaca cerah.
b. Pengukuran Pasang Surut
Waktu Tide Master Rambu
14:09 0,63 0,79
14:14 0,65 0,8
14:19 0,62 0,78
14:24 0,64 0,8
14:29 0,64 0,805
14:34 0,64 0,81
14:39 0,66 0,83
14:44 0,67 0,84
Tabel IV.2 Hasil Pengukuran Pasang Surut
Durasi pengukuran pasang surut adalah 35 menit sesuai dengan lama
pengukuran batimetri menggunakan kapal. Dan memiliki interval pengukuran
selama 5 menit. Pengukuran dimulai pada pukul 14:09 sampai 14:44 WIB.
Pembacaan tide master memiliki variasi kecil dengan rentang mulai dari 0,62-0,67.

35
Sedangkan pembacaan rambu yakni 0,79-0,84. Data pasang surut ini kemudian
digunakan sebagai koreksi data pengukuran.
Data pasang surut diperhitungkan sebagai koreksi karena posisi kapal naik
turun sesuai dengan tinggi permukaan air laut. Maksimal perbedaan tinggi
permukaan air laut yang dapat ditoleransi dan tidak dijadikan koreksi pasang surut
adalah 40 cm. Namun karena pasang surut yang terjadi biasanya lebih dari angka
tersebut. Maka, pasang surut dalam praktikum ini masih tetap diperhitungkan
sebagai koreksi.
c. Data Pengukuran Batimetri
Data pengukuran batimetri didapatkan dari penyiaman menggunakan kapal
dengan alat single beam echosounder yang dipasang di kapal. Data ini diambil
sesuai dengan lajur yang dibuat pada pra-pengukuran. Kapal digerakkan sesuai
dengan arah lajur yang dibuat. Kemudian data ini dikoreksikan terhadap data pasang
surut.
IV.2 Perhitungan dan Pengolahan Data
Data yang didapatkan dari praktikum ini adalah data batimetri dan data topografi.
Data batimetri diakuisisi dari peralatan echosounder sedangkan data topografi dari data
GPS dan Total Station. Dari pengukuran tersebut pasti mengandung kesalahan
sehingga perlu dilakukan koreksi kesalahan diantaranya koreksi barcheck dan koreksi
draft transducer. Koreksi barcheck dilakukan karena pada saat pengukuran terdapat
pengaruh sifat fisis air dan cepat rambat gelombang dalam air. Hasil koreksi barcheck
diperoleh dengan mencari parameter perubahan nilai kedalaman yang dikoreksi
menjadi nilai kedalaman sebenarnya(dari rantai bar) dari dari alat pengukuran.
Sedangkan dilakukan koreksi terhadap kedalaman dari draft transducer karena
kedalaman yang diperoleh tidak tepat dari permukaan air. Melainkan dari ujung draft
transducer.
Setelah itu, kedalaman yang diperoleh dikoreksi terhadap tinggi muka air sesaat
yang telah diukur sebelumnya pada pengamatan pasut karena pengaruh pasut yang
terjadi akibat gaya tarik bulan maupun matahari. . Kemudian, membawa nilai
kedalaman terhadap acuan (MSL) yang sebelumnya telah diolah terlebih dahulu
menggunakan matlab. Terkadang pada saat pengukuran terdapat perbedaan waktu
antara GPS dan Fishfinder. Oleh karena itu perlu dilakukan sinkronisasi waktu antara
GPS dan Fishfinder untuk mencari data yang benar. Setelah didapatkan data
kedalaman terkoreksi dan sinkron terhadap GPS maka data untuk membuat peta
bathimetri telah tersedia. Nilai data kedalaman dibuat minus karena nantinya data peta
36
bathimetri akan digabungkan dengan peta topografi supaya data bisa match. Hasil
tinggi pengukuran GPS dan Total station yang dihasilkan merupakan tinggi dari
Elipsoid. Pada pengolahan peta topografi tinggi yang digunakan adalah tinggi
orthometrik karena akan digabungkan data topografi dan data bathimetri untuk
disajikan dalam bentuk peta. Oleh karena itu sebelum melakukan pengolahan data
topografi sebelumnya harus merubah terlebih tinggi ellipsoid ke tinggi orthometrik
dengan mencari nilai undulasinya.
Data yang diperlukan dalam praktikum ini adalah data pasang surut, data arus, dan
data pengukuran batimetri. Data pasang surut yang dipakai adalah data yang diambil
dari Pelabuhan Cilacap karena jaraknya paling dekat dengan Pelabuhan Adikarto. Dari
data pasang surut tersebut, diambil angka rata-rata untuk dicari data mean sea level-
nya. Mean sea level ini kemudian digunakan sebagai acuan koreksi pasang surut.
Sementara data arus tidak dipertimbangkan sebagai koreksi data pasang surut.
Pengolahan data arus:

Rerata kecepatan arus:

IV.3 Penyajian
Penyajian data dibuat dalam bentuk peta 2 dimensi berupa gabungan peta batimetri
dan peta topografi menggunakan aplikasi perangkat lunak ArcGIS. Informasi tepi yang
dibuat mencakup judul peta, skala numeris dan bentuk bar, orientasi arah utara, legenda,
pembuat peta, pembimbing, dan departemen. Gabungan dari peta batimetri dan peta
topografi ini memerlukan acuan yang sama yakni tinggi orthometrik. Oleh karena itu
ketinggian dari data Z GPS dan Total Station perlu disamakan dari acuan tinggi
sebelumnya(ellipsoid).

37
Baik data topografi maupun batimetri memiliki interval kontur sebesar 0.5 m.
Menurut U.S. Chart No.1, interval kontur untuk data batimetri adalah 0 m, 2 m, 5 m,
dst. Akan tetapi karena area yang dipetakan dalam praktikum ini merupakan area
perairan dangkal, maka ditentukan interval kontur 0.5 m agar garis kontur dapat
mewakili kedalaman perairan di Pelabuhan Tanjung Adikarto ini secara menyeluruh.

38
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan
Setelah pelaksanaan ssurvei bathimetri yang dilaksanan pada Selasa, 24 Mei 2017
di Pelabuhan Adikarto, Kulonprogo, D.I Yogyakarta dapat disimpulkan beberapa hal
sebagai berikut :
1. Pelaksanaan pengukuran Bathimetri memerlukan persiapan dan perencanaan
yang baik untuk hasil yang baik pula.
2. Pada saat pelaksanaan survei bathimetri diperlukan seorang navigator yang
handal untuk mengarahkan kapal tetap pada jalur pemetaan.
3. Untuk membuat peta gabungan bathimetri dan topografi dibutuhkan data
koordinat planimetris (X,Y) dan koordinat ketinggian (Z). Pada data koordinat
ketinggian diperlukan penyamaan referensi ketinggian dengan membawa
ketinggian data Total Station dan GPS (referensi ellipsoid) ke tinggi orthometrik.
V.2 Saran
1. Mahasiswa melakukan perencanaan awal yang lebih matang dan melakukan
download data hasil pengukuran.
2. Mahasiswa diharapkan lebih banyak kontak langsung dengan software yang akan
digunakan untuk pengolahan data hasil pengukuran.

39
LAMPIRAN
Data Lapangan

Dokumentasi Pelaksanaan Praktikum

Pengukuran Arus dengan Current Meter

Pengukuran Batimetri
40
DAFTAR PUSTAKA

Poerbandono dan E. Djunarsjah. 2005. Survei Hidrografi. Refika Aditama. Bandung.


Standar Nasional Indonesia. 2010. Survei hidrografi menggunakan singlebeam echosounder.
Badan Standardisasi Nasional. Jakarta
Ismail, M. Ricy. 2013. Survei Batimetri. http://mricyismail.blogspot.co.id/2013/02/survei-
batimetri.html. diakses pada 11 Juni 2017 Pukul 21:59 WIB
Muhajir, Ahmad. 2012. Pemeruman (Sounding).
https://belajargeomatika.wordpress.com/2012/06/14/pemeruman-sounding/. diakses
pada 11 Juni 2017 Pukul 22:07 WIB
Prasetyo, Sono. Alat Survey Batimetri; Penjelasan Echo Sounder. http://pengukuran-
topografi.blogspot.co.id/p/alat-pengukuran-survey-pengukuran_1780.html. diakses pada
11 Juni 2017 Pukul 22:36 WIB
Wikipedia. 2017. Peta topografi. https://id.wikipedia.org/wiki/Peta_topografi. Diakses pada 13
Juni 2017 pukul 16:07 WIB

41