Anda di halaman 1dari 30

STUDI KASUS

ANALISIS PERKEMBANGAN ANAK USIA SD


(ANAK KESULITAN BELAJAR)
MAKALAH

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Individu pada Mata Kuliah
psikologi perkembangan anak usia Sekolah Dasar

oleh
Dr. ASEP SUPENA, M.PSi.

Di buat oleh:

Basuki 7526168068

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2017
Daftar Isi ......................................................................................... i
BAB I PENDAHULUAN ................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah ....................................................... 1
B. Permasalahan ...................................................................... 2
C. Tujuan ........................................................................... 2
D. Manfaat ........................................................................... 2
BAB II KAJIAN TEORI .................................................................... 3
A. Hakikat perkembangan ......................................................... 3
B. Prinsip perkembangan ......................................................... 3
C. Teori perkembangan ............................................................ 7
D. Faktor yang mempengaruhi perkembangan ......................... 9
E. Perkembangan fisik dan motorik anak usia SD .................... 10
F. Perkembangan kognitif anak usia SD .................................. 12
G. Perkembangan bahasa anak usia SD ................................... 13
H. Perkembangan sosio-emosional anak usia SD .................... 17
BAB III DESKRIPSI PERKEMBANGAN SUBJEK ........................... 20
A. Profil anak ............................................................................. 20
B. Sejarah perkembangan ........................................................ 20
C. Perkembangan fisik dan motorik ......................................... 21
D. Perkembangan kognitif ........................................................ 21
E. Perkembangan bahasa ........................................................ 21
F. Perkembangan sosio-emosional ........................................... 21
BAB IV ANALISI PERKEMBANGAN SUBJEK ................................ 22
A. Analisis perkembangan (menilai, membedakan,
membandingkan, menghubungkan ....................................... 22
1. Fisik-motorik ................................................................... 22
2. Kognitif ............................................................................ 22
B. Prediksi ................................................................................ 23
C. Modifikasi ............................................................................ 24
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................... 26

DAFTAR PUSTAKA

i
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fungsi sekolah untuk membantu keluarga dalam pendidikan anak-
anaknya yang telah diberikan wewenang untuk memberikan pengetahuan,
keterampilan, nilai serta sikap kepada anak didik, agar mereka mampu
mengembangkan segala potensi yang dimiliki sesuai dengan
perkembangannya masing-masing untuk menuju kedewasaan.
Permasalahan yang ada di sekolah merupakan masalah yang sering
kita jumpai seperti kesulitan merangkai sebuah kata-kata, kesulitan
berhitung, dan bahkan banyak peserta didik yang lebih memilih bermain
dibandingkan belajar. Peserta didik yang seperti ini merupakan tantangan
bagi para pendidik khususnya guru untuk memberikan layanan bimbingan
belajar yang tepat dan sesuai untuk anak-anak. Tujuannya agar kegiatan
belajar dapat diikuti dengan nyaman, senang dan mengasikkan bagi anak.
Kegiatan belajar tersebut dapat diberikan dengan berbagai macam
metode. Kesulitan belajar merupakan suatu hal yang dialami oleh sebagian
peserta didik di sekolah dasar bahkan dialami oleh peserta didik yang
belajar di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kesulitan belajar secara
secara operasional dapat dilihat dari kenyataan empirik yaitu adanya
peserta didik yang tinggal kelas, atau peserta didik yang memperoleh nilai
kurang baik dalam beberapa mata ajaran yang diikutinya.
Peserta didik yang tinggal kelas merupakan peserta didik yang
mengalami kesulitan belajar, karena peserta didik tersebut tidak mampu
dalam menyelesaikan tugas-tugas belajar yang harus diselesaikan sesuai
denganperiode yang telah ditetapkan oleh sistem pendidikan yang berlaku
di setiap jenjang pendidikan.
Mengatasi kesulitan belajar yang dialami peserta didik ini bukan
hanya tugas guru kelas saja melainkan juga tugas konselor dan orang tua
peserta

1
didik. Melihat kenyataan tersebut, maka kesulitan belajar harus cepat
diatasi supaya tercapai tujuan pendidikan yang ideal dan tidak ada lagi
peserta didik yang tinggal kelas karena mengalami kesulitan belajar.
B. Permasalahan
Setiap kali kesulitan belajar anak didik yang satu dapat diatasi, tetapi
pada waktu yang lain muncul lagi masalah kasus kesulitan belajar anak
didik yang lain. Dalam setiap bulan atau bahkan dalam setiap minggu tidak
jarang ditemukan anak didik yang berkesulitan belajar. Walaupun
sebenarnya masalah yang mengganggu keberhasilan belajar peserta didik
ini sangat tidak disenangi oleh guru dan bahkan peserta didik itu sendiri.
Namun, begitu usaha demi usaha harus diupayakan dengan berbagai
strategi dan pendekatan agar peserta didik dapat dibantu keluar dari
kesulitan belajar. Sebab bila tidak, gagallah peserta didik meraih prestasi
belajar yang memuaskan.
C. Tujuan
Untuk mengetahui penyebab terjadinya permaslahan kesulitan belajar
pada anak yang belom dapat membaca dan mengenal huruf pada siswa
kelas 3 sekolah dasar.
D. Manfaat
Dapat memberikan pengetahuan baru bagaiamana langkah yang
harus dilakukan dalam menangani permasalahan anak kesulitan belajar
bagi guru maupun bagi sekolah.

2
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Hakikat Perkembangan
Dalam proses seluruh pertumbuhan dan perkembangannya, individu
menunjukkan adanya variasi atau keragaman perilakunya. Misalnya
perilaku anak-anak berbeda dengan perilaku anak remaja, dan berbeda
dengan perilaku orang dewasa dengan pola-pola tertentu yang menjadi ciri
masa perkembangannya. Keunikan itu terjadi karena proses pertumbuhan
dan perkembangan memberikan pengaruh tertentu sehingga membentuk
pola-pola perilaku yang khas.
Pertumbuhan dan perkembangan mengandung dan
mengimplikasikan pengertian adanya perubahan pada perilaku manusia.
Eksistensi manusia sesungguhnya terjadi dalam rangka perubahan secara
berkesinambungan dalam seluruh rentang kehidupan sejak masa konsepsi
sampai akhir hayat. Menurut Surya perkembangan merupakan peruahan
secara progresif (maju) dalam diri manusia sebagai organisme dalam pola-
pola yang memungkinkan terjadi fungsi-fungsi baru, perkembangan terjadi
penyempurnaan fungsi, menyangkut aspek-aspek psikis, dan
perkembangan berjalan terus sampai akhir hayat.
Menurut Neil J Salkind perkembangan (development) adalah
rangkaian perubahan yang bergerak maju dalam pola yang terukur sebagai
hasil interaksi antara faktor biologis dan lingkungan.
B. Prinsip Perkembangan
1) Perkembangan melibatkan perubahan
Banyak orang menggunakan istilah pertumbuhan dan perkembangan
secara bergantian. Dalam kenyataan istilah itu berbeda walapun dapat
dipisahkan namun keduanya tidak dapat berdiri sendiri. pertumbuhan
berkaitan dengan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan ukuran dan
struktur. Tidak saja anak itu lebih besar secara fisik tetapi ukuran dan
struktur organ dalam dan otak meningkat. Akibat adanya pertumbuhan

3
otak, anak itu mempunyai kemampuan lebih besar untuk belajar,
mengingat, dan berpikir. Anak tumbuh baiksecara mental maupun fisik.
Sebaliknya perkembangan berkaitan dengan perubahan kualitatif dan
kuantitatif. Ia dapat didefinisikan sebagai deretan progresif dari
perubahan yang teratur dan koheran. Progresif menandai bahwa
perubahannya terarah, membimbing mereka maju dan bukan mundur.
Teratur dan koheran menunjukkan adanya hubungan nyata antara
perubahan yang terjadi dan yang telah menhadului atau yang akan
mengikutinya.
2) Perkembangan awal lebih kritis daripada perkembangan selanjutnya
Hal ini seperti yang diperibahasakan guru kencing berdiri, murid kencing
berlari. Dengan cara yang lebih puitis, Milton menyatakan fakta yang
sama saat ia menulis , masa kanak-kanak meramalkan masa dewasa,
sebagaimana pagi hari meramalkan hari baru.
Petunjuk ilmiah pertama yang penting dari tahun-tahun awal berawal dari
penelitian Freud tentang kesulitan penyesuaian kepribadian. Kesulitan
seperti itu dikatakan Freud dapat dilacak sampai ke suatu pengalaman
yang tidak menyenangkan di masa kanak-kanak.
Erikson menerangkan apa yang akan dipelajari seorang anak tergantung
bagaimana orang tua memenuhi kebutuhan anak akan makanan,
perhatian, dan cinta kasih.
3) Perkembangan merupakan proses hasil proses kematangan dan belajar
Proses kematangan instrinstik adalah terbukanya karakteristik yang
potensial ada pada individu yang berasal dari varian genetik individu.
Belajar adalah perkembangan yang berasal dari latihan dan berusaha.
Melalui belajar anak memperoleh kemampuan menggunakan sumber
yang diwariskan.
4) Pola perkembangan dapat diramalkan
Dari banyak bukti perkembangan fisik yang teratur dan dapat diramalkan
semasa kehidupan pra dan pascalahir, terdapat dua hukum rangkaian
pengarahan perkembangan; hukum cepbalocauda dan hukum

4
proximodistal. Menurut hukum chepalochoudal oerkembangan
menyebar ke seluruh tubuh dari kepala ke kaki. Ini berarti bahwa
kemajuan dalam struktu dan fungsi pratama-tama terjadi dibagian
kepala, kemudian badan, dan teakhir bagian kaki. Menurut hukum
proximodital perkembangan bergerak dari yang terdekat ke yang jauh
keluar dari sumbu pusat tubuh menuju ke ujung-ujungnya.
5) Pola perkembangan mempunyai karakteristik yang dapat diramalkan
Studi perkembangan tekah menunjukkan bahwa terdapat sejumlah
karakteristik yang dapat diramalkan. Berikut ini eterangan lima diantara
beserta penjelasan pentingnya;
a) Ukuran kematangan
Pada usia yang agak awal kita dapat meramalkan bagaimana
keadaan fisik seseorang ketika ia dewasa nantinya.
b) Perencanaan pendidikan
Perencanaan pendidikan dapat didasarkan attas bakat keterampilan
kecerdasan awal anak.
c) Persiapan untuk tahapan berikutnya
Pada setiap tahapan perkembangan anak dapat disiapkan untuk
tahap berikutnya.
d) Prencanaan pekerjaan
Perkambangan fisik, pekerjaan, dan kepribadian awal memberi
petunjuk tentang apa saja yang dapat dikerjakan anak ketika ia
dewasa.
e) Adopsi
Karena pola awal perkembangan fisik dan mental dapat meramalkan
perkembagan dumasa datang, hal itu dapat digunakan sebagai
pedoman memilih bayi untuk diadopsi.
6) Terdapat perbedaan individu dalam perkembangan
Walaupun pola perkembangan sama bagi semua anak, setiap anak
mengikuti pola yang dapat diramalakn dengan cara dan kecepatannya
sendiri. beberapa anak berkembang dengan lancar, berapa tahap, dan

5
langkah demi langka sedangka yang lain bergerak dengan kecepatan
melonjak. Beberapa diantaranya menunjukkan sedikit penyimpangan
sedangkan yang lain banyak terjadi penyimpangan. Oleh karena itu
setiap anak tidak mencapai titik perkembangan yang sama pada usia
yang sama.
7) Periode pola perkembangan
Terdapat bukti bahwa pada berbagai usia ciri bawaan teretentu lebih
menonjol daripada yang lain karena perkembangannya terjadi lebih
cepat. Oleh karena itu dimungkinkan untuk menandai periode utama
yang ditunjukkan oleh jenis perkembangan tertentu yang membayangi
lainnya.
Lima periode perkembangan utama di masa kanak-kanan dimulai
dengan saat pembuahan dan berakhir ketia anak itu matang secara
seksual.
8) Pola setiap periode perkembangan terdapat harapan sosial
Dalam setiap kelompk budaya pengalaman telah menunjukkan bahwa
pengalaman dapat mempelajari pola perilaku dan keterampilan tertentu
dengan lebih mudah dan berhasil pada usia-usia tertentu ketimbang saat
lainnya.
Harapan sosial dikenal sebagai tugas perkembangan. Harvighust telah
mendefinisikan tugas perkembangan sebagai tugas yang timbul pada
atau sekitar periode kehidupan individu tertentu, keberhasilan
melakukaannya menimbulkan kebahagiaan dan keberhasilan tugas
lainnya kelak sedangkan kegagalan menimbulkan ketidak bahagiaan,
ketidak setujuan masyarakat dan kesulitan dalam pelaksanaan tugas
lainnya kelak.
9) Setiap bidang perkembangan mengandung bahaya yang potensial
Walaupun pola perkembangan bergerak normal kadang-kadang pada
setiap usia terdapat bahaya di bebrapa bidang perkembangan yang
menggaunggu pola normal ini. Seperti diterangkan Erikson, perjuangan
yang tidak teralakan yang menandai seluruh pertumbuhan dapat

6
menimbulkan sejumlah bakat yang benar-benar diandalkan atau
masalah yang tidak dapat dijajaki.
10) Kebahagiaan bervarasi pada beragai periode perkembangan
Sesuai dengan tradisi masa kanak-kanak merupakan periode
perkembangan yang paling membahagiakan. Tradisi ini telah dipertegas
dengan hal lain, bahwa masa kanak-kanak seharusnya bahagia waktu
yang bebas dan aman untuk menjamin penyesuaian yang baik dalam
hidup kedewasaan.
C. Teori Perkembangan
1. Psikodinamik
a) Sigmund Freud
Kepribadian tersusun dari tiga komponen, yaitu: id, ego, dan
superego. Id ada sejak lahir dan terdiri dari instink dan dorongan
mendasar yang mencari kepuasan langsung, tanpa menghiraukan
konsekuensinya. Unsur kedua dari struktur kepribadian adalah ego,
yang mulaiberkembang selama tahun pertama kehidupan. Ego
terdiri dari proses mental, daya penalaran,dan pikiran sehat. Unsure
ketiga adalah superego, yang berkembang dari puncak
kedewasaan,identifikasi, masyarakat, dan model orangtua.
b) Erik Erikson
Perkembangan persamaan ego. Persamaan ego adalah perasaan
sadar yang kita kembangkan melalui interaksi sosial. Perkembangan
ego selalu berubah berdasarkan pengalaman dan informasi baru
yang kita dapatkan dalam berinteraksi dengan orang lain. Dalam
setiap tingkat dipercaya setiap orang akan mengalami konflik/ krisis
yang merupakan titik balik dalam perkembangan.
2. Behaviorisme Ivan Pavlop
Dalam membentuk tingkah laku tertentu harus dilakukan secara
berulang-ulang dengan melakukan pengkondinsian tertentu.
3. Belajar Sosial Bandura

7
Faktor sosial dan kognitif serta factor pelaku memainkan peran
penting dalam pembelajaran. Faktor kognitif berupa ekspektasi/
penerimaan siswa untuk meraih keberhasilan, factor social
mencakup pengamatan siswa terhadap perilaku orangtuanya.
4. Kognitivisme Piaget
Hasil dari hubungan perkembangan otak dan system nervous dan
pengalaman-pengalaman yang membantu individu untuk
beradaptasi dengan lingkungannya.
5. Sosio kultural Vigotsky
Perkembangan kognitif seseorang disamping ditentukan oleh
individu sendiri secara aktif, juga ditentukan oleh lingkungan social
secara aktif.
6. Ekologi Bronfenbrenner
Perkembangan manusia dipengaruhi oleh konteks lingkungan.
Hubungan timbal balik antara individu dengan lingkungan yang akan
membentuk tingkah laku individu tersebut.
Informasi lingkungan tempat tinggal anak untuk menggambarkan,
mengorganisasi dan mengklarifikasi efek dari lingkungan yang
bervariasi.
7. Humanisme Maslwo
Manusia akan berusaha keras untuk mendapatkan aktualisasi diri
mereka, atau realisasi dari potensi diri manusia seutuhnya, ketika
mereka telah meraih kepuasan dari kebutuhan yang lebih
mendasarnya.
Humanisme Carl Rogers
Seseorang yang sehat secara psikologis adalah mereka yang
memiliki konsep diri yang luas, yaitu mampu memahami dan
menerima berbagai perasaan dan pengalaman. Control diri yang
berasal dari dalam diri seseorang adalah lebih baik dari pada control
yang dipakasakan dan berasal dari luar.
8. Moral Piaget

8
seorang manusia dalam kehidupannya akan melalui rentangan
perkembangan moral perkembangan moral heteronomous dan
autonomous
Moral Kohlberg
Perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral
dan berkembang secara bertahap
9. Bahasa Noam Chomsky
Manusia mempunyai susunan saraf dan otak untuk belajar Bahasa
pada waktu tertentu dan dalam cara tertentu.
D. Faktor yang mempengaruhi perkembangan
1. Faktor Turunan (Warisan)
a) Bentuk tubuh dan warna kulit. Gen dari orang tua akan
memepengaruhi jasmani anaknya dan tidak bisa di ubah oleh
teknologi secanggih apapun.
b) Sifat sifat. Warisan dari orang tua sama halnya dengan bentuk
tubuh dan warna kulit tidak dapat diubah. Tipe manusia berdasarkan
sifatnya menurut Edward Sparanger adalah manusia ekonomi, teori,
politik, sosial, seni dan agama.
c) Inteligensi. Yaitu kemampuan umum untuk penyesuaian terhadap
situasi atau masalah. Tes Inteligensi yang standar antara lain tes
binet-simon, tes Wechsler, tes Army Alpha dan Beta, tes Progressive
Matrices
d) Bakat. Yaitu kemampuan khusus yang menonjol diantara berbagai
jenis kemampuan yang dimiliki seseorang. Bakat dapat diketahui dari
tingkah laku anak atau dengan tes bakat. Bila seorang anak tidak
diberi kesempatan untuk melatih bakatnya, maka bakatnya tersebut
tidak akan berkembang.
e) Penyakit atau cacat tubuh.
2. Faktor Lingkungan
a) Keluarga.

9
Berpengaruh terhadap perkembangan rohaniah anak terutama
keribadian dan kemajuan pendidikannya.
b) Sekolah.
Menentukan pola pikir serta kepribadian anak
c) Masyarakat.
Turut mempengaruhi perkembangan jiwanya
d) Keadaan alam sekitar.
Keadaan alam yang berbeda akan berpengaruh terhadap
perkembangan pola pikir atau kejiwaan anak dan tingkah laku anak.
E. Perkembangan fisik-motorik
1) Pertumbuhan fisik pada masa ini lambat dan relatif seimbang.
Peningkatan berat badan anak lebih banyak daripada panjang
badannya. Peningkatan berat badan anak terjadi terutama karena
bertambahnya ukuran system rangka, otot dan ukuran beberapa organ
tubuh lainnya.
a) Parameter umum
Rata rata tinggi badan anak usia 7 12 tahun 113 cm dan rata
rata berat badan anak usia 6 12 tahun mencapai 21 kg.
b) Nutrisi
Kebutuhan kalori harian anak usia 7 12 tahun menurun
sehubungan dengan ukuran tubuh, dan rata rata membutuhkan
2400 kalori perhari. Banyaknya anak yang tidak menyukai sayuran,
biasanya hanya satu jenis makanan, yang disukai orang tua memiliki
peranan penting dalam mempengaruhi pilihan anak.
c) Pola tidur
Kebutuhan tidur setiap anak bervariasi, biasanya 8 sampai 9,5 jam
setiap malam.
d) Kesehatan gigi
Mulai sekitar 6 tahun gigi permanen tumbuh dan anak secara
bertahap kehilangan gigi desi dua.
e) Eliminas

10
Pada usia 6 tahun, 85% anak memiliki kendala penuh terhadap
kandung kemih dan defekasi, enurisis, nocturnal ( mengompol )
terjadi pada 15% anak berusia 6 tahun.
2) Perkembangan motorik anak usia sekolah dasar
Perkembangan motorik pada usia ini menjadi lebih halus dan lebih
terkoordinasi dibandingkan dengan masa bayi. Anak anak terlihat
lebih cepat dalam berlari dan pandai meloncat serta mampu menjaga
keseimbangan badannya. Untuk memperhalus keterampilan
keterampilan motorik, anak anak terus melakukan berbagai
aktivitas fisk yang terkadang bersifat informal dalam bentuk
permainan. Disamping itu, anak anak juga melibatkan diri dalam
aktivitas permainan olahraga yang bersifat formal, seperti senam,
berenang, dll.
Beberapa perkembangan motorik ( kasar maupun halus ) selama
periode ini, antara lain:
a) Anak Usia 7 Tahun
(1) Mulai membaca dengan lancar
(2) Cemas terhadap kegagalan
(3) Peningkatan minat pada bidang spiritual
(4) Kadang malu atau sedih
b) Anak Usia 8 9 Tahun
(1) Kecepatan dan kehalusan aktivitas motorik meningkat
(2) Mampu menggunakan peralatan rumah tangga
(3) Keterampilan lebih individual
(4) Ingin terlibat dalam sesuatu
(5) Menyukai kelompok dan mode
(6) Mencari teman secara aktif
c) Anak Usia 10 -12 Tahun
(1) Perubahan sifat berkaitan dengan berubahnya postur tubuh yang
berhubungan dengan pubertas mulai tampak.

11
(2) Mampu melakukan aktivitas rumah tangga, seperti mencuci,
menjemur pakaian sendiri, dll
(3) Adanya keinginan anak untuk menyenangkan dan membantu
orang lain
(4) Mulai tertarik dengan lawan jenis.
F. Perkembangan kognitif
1) Tahapan Perkembangan Kognitif Menurut Piaget
a) Tahap sensori motor terjadi pada umur sekitar 0-2 tahun. Tahap
ini, mulai pada masa bayi ketika ia menggunakan pengindraan
dan aktivitas motorik dalam mengenal lingkungannya. Pada masa
ini biasanya bayi keberadaannya masih terikat kepada orang lain
bahkan tidak berdaya, akan tetapi alat-alat inderanya sudah dapat
berfungsi. Tindakannya berawal dari respon refleks, kemudian
berkembang membentuk representasi mental. Anak dapat
menirukan tindakan masa lalu orang lain, dan merancang
kesadaran baru untuk memecahkan masalah dengan
menggabungkan secara mental skema dan pengetahuan yang
diperoleh sebelumnya. Dalam periode singkat antara 18 bulan
atau 2 tahun, anak telah mengubah dirinya dari suatu organisme
yang bergantung hampir sepenuhnya kepada refleks dan
perlengkapan heriditer lainnya menjadi pribadi yang cakap dalam
berfikir simbolik. Menurut Piaget, perkembangan kognitif selama
stadium sensorimotor, intelegensi anak baru nampak dalam
bentuk aktivitas motorik sebagai reaksi stimulus sensorik. Dalam
stadium ini yang penting adalah tindakan-tindakan konkrit dan
bukan tindakan-tindakan yang imaginer atau hanya dibayangkan
saja, tetapi secara perlahanlahan melalui pengulangan dan
pengalaman konsep obyek permanen lama-lama terbentuk. Anak
mampu menemukan kembali obyek yang disembunyikan.
b) Pada tahap pra-operasional yang terjadi pada umur 2-7 tahun,
anak mulai menggunakan simbol dan bahasa. Dengan

12
menggunakan bahasa anak mulai dapat memikirkan yang tidak
terjadi sekarang tetapi yang sudah lalu. Dengan adanya bahasa
maka ia dapat mengungkapkan sesuatu hal lebih luas daripada
yang dapat dijamah, yang sekarang dilihatnya. Dalam hal sikap
pribadi, anak pada tahap ini masih egosentris, berpikir pada diri
sendiri. Penanaman nilai mulai dapat menggunakan bahasa,
dengan bicara dan sedikit penjelasan. Riyanto (2012:123)
menjelaskan sebagai berikut
c) Pada tahap operasional konkret, umur 7-11 tahun, anak sudah
mulai berpikir transformasi reversible (dapat dipertukarkan) dan
kekekalan. Dia dapat mengerti adanya perpindahan benda, mulai
dapat membuat klasifikasi, namun dasarnya masih pada hal yang
konkret. Anak sudah mengetahui persoalan sebab akibat. Maka
dalam penanaman nilai pun sudah dapat dikenalkan suatu
tindakan dengan akibatnya yang baik dan tidak baik.
d) Adapun pada tahap operasional formal, umur 11 tahun ke atas,
anak sudah dapat berpikir formal, abstrak. Dia dapat berpikir
secara deduktif, induktif dan hipotesis sehingga disebut tahap
hipotetik-deduktif yang merupakan tahap tertinggi dari
perkembangan intelektual. Ia tidak membatasi berpikir pada yang
sekarang tetapi dapat berpikir tentang yang akan datang, sesuatu
yang diandaikan. Anak sudah dapat diajak menyadari apa yang
dibuatnya dengan alasannya. Segi rasionalitas tindakan sudah
dapat diajarkan.
G. Perkembangan bahasa anak usia sekolah dasar (6-12 tahun)
Dengan meluasnya cakrawala sosial anak-anak, anak menemukan
bahwa berbicara merupakan sarana penting untuk memperoleh tempat di
dalam kelompok. Hal ini membuat dorongan yang kuat untuk berbicara
dengan baik. Anak juga mendapatkan bahwa bentuk-bentuk komunikasi
yang sederhana seperti menangis dan gerak isyarat, secara sosial tidak
diterima. Hal ini menambah dorongan untuk memperbaiki kemampuannya

13
berbicara. Yang paling penting, anak mengetahui bahwa inti komunikasi
adalah bahwa ia mampu mengerti apa yang dikatakan orang lain. Kalau
anak tidak mengerti apa yang dikatakan orang lain, tidak saja bahwa ia tidak
dapat berkomunikasi, tetapi juga lebih parah lagi ia cenderung mengatakan
sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang dibicarakan
oleh teman-teman sehingga ia tidak diterima dalam kelompok.
Belajar bahasa yang sebenarnya baru dilakukan oleh anak berusia
6-7 tahun, disaat anak mulai bersekolah. Jadi, perkembangan bahasa
adalah meningkatnya kemampuan penguasaan alat berkomunikasi, baik
alat komunikasi dengan cara lisan, tertulis, maupun menggunakan tanda-
tanda isyarat. Mampu dan menguasai alat komunikasi disini diartikan
sebagai upaya seseorang untuk dapat memahami dan dipahami oleh orang
lain.
Periode prasekolah merupakan waktu untuk mempelajari aturan tata
bahasa transformasional (transformational grammar) yang memungkinkan
mereka mengubah kalimat deklaratif menjadi kalimat dengan jenis lain
seperti kalimat tanya, negasi,imperative, anak kalimat atau kalimat
majemuk. Ketika memasuki sekolah, anak mempelajari banyak aturan
sintaksis dari bahasa mereka dan dapat menghasilkan berbagai variasi
pesaan seperti layaknya orang dewasa. Bahasa anak pada usia ini juga
bertambah majemuk karena mereka lebih tertarik dengan makna dan
hubungan kontras atau lawan kata. Anak prasekolah juga mulai memahami
berbagai pelajaran pragmatic seperti menyesuaikan pesan mereka dengan
kemampuan pendengar dalam memahami sesuatu jika mereka ingin
dimengerti. Kemampuan untuk menghasilkan pesan verbal, mengenali
pesan yang tidak jelas tersebut (referential communication skill) telah
berkembang baik, meskipun mereka masih baru dapat mendeteksi pesan
yang tidak informative dan baru belajar untuk menanyakan klarifikasi.
Usia sekolah dasar merupakan masa berkembang pesatnya
kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata (vocabulary).
Pada awal masa ini, anak sudah menguasai sekitar 25.000 kata, dan pada

14
masa akhir (usia 11-12 tahun) telah dapat menguasai sekitar 50.000 kata.
Dengan dikuasainya keterampilan membaca dan berkomunikasi dengan
orang lain, anak sudah gemar membaca atau mendengarkan cerita yang
bersifat kritis (tentang perjalanan/petualangan, riwayat para pahlawan,
dsb). Pada masa ini tingkat berpikir anak sudah lebih maju, dia banyak
menanyakan soal waktu dan sebab akibat. Oleh sebab itu, kata tanya yang
dipergunakannya pun semula hanya apa, sekarang sudah diikuti dengan
pertanyaan: dimana, dari mana, ke mana, mengapa, dan
bagaimana.
Di sekolah diberikan pelajaran bahasa yang dengan sengaja
menambah perbendaharaan katanya, mengajar menyusun struktur kalimat,
pribahasa, kesusastraan dan keterampilan mengarang. Dengan dibekali
pelajaran bahasa ini, diharapkan peserta didik dapat menguasai dan
mempergunakannya sebagai alat untuk:
a) Berkomunikasi dengan orang lain,
b) Menyatakan isi hatinya (perasaannya),
c) Memahami keterampilan mengolah informasi yang diterimanya,
d) Berpikir (menyatakan gagasan atau pendapat),
e) Mengembangkan kepribadiannya, seperti menyatakan sikap dan
keyakinannya. (perasaannya).
Masa kanak-kanak sampai awal masa remaja merupakan
periode untuk memperhalus bahasa (linguistic refinement). Anak
mempelajari pengecualian khusus dalam aturan tata bahasa dan mulai
memahami struktur sintatikal yang paling majemuk. Perbendaharaan
bahasa menjadi lebih meningkat. Anak memiliki pengetahuan tentang
morfem yang menyusun kata-kata (morphological knowledge). Selain
itu, anak juga mengembangkan kemampuan untuk berpikir tentang
bahasa dan memberikan komentar dengan kata sebutan yang
merupakan predictor yang baik dalam prestasi membaca. Keterampilan
komunikasi referensial meningkat sejalan dengan semakin berhati-
hatinya mereka untuk mengklarifikasi pesan yang tidak informative

15
yang mereka keluarkan atau mereka terima. Kesempatan untuk
berkomunikasi dengan saudara yang lebih muda atau teman sebaya
memiliki kontribusi terhadap perkembangan keterampilan
berkomunikasi.
Pengucapan
Kesalahan dalam pengucapan kata-kata lebih sedikit pada
usia ini daripada sebelumnya. Sebuah kata baru mungkin ketika
pertama kali digunakan, diucapkan dengan tidak tepat, tetapi setelah
beberapa kali mendengar pengucapan yang benar, anak sudah mampu
mengucapkannya secara benar. Namun tidak sedemikian halnya pada
anak dari kelompok sosial yang lebih rendah yang di rumah lebih
banyak mendengar kata-kata salah ucap daripada anak dari lingkungan
rumah yang lebih baik , apalagi anak dari lingkungan rumah yang
berbahasa dua.
Pembentukan kalimat
Anak usia enam tahun harus sudah menguasai hampir
semua jenis struktur kalimat. Dari 6 sampai 9 atau 10 tahun, panjang
kalimat akan bertambah. Kalimat panjang biasanya tidak teratur dan
terpotong-potong. Berangsur-angsur setelah usia 9 anak mulai
menggunakan kalimat yang lebih singkat dan lebih padat.
Kemajuan dalam pengertian
Dengan meningkatnya minat dalam keanggotaan kelompok maka
meningkat pula minat untuk berkomunikasi dengan anggota-anggota
kelompok. Anak segera mengetahui bahwa komunikasi yang bermakna
tidak dapat dicapai kecuali ia mengerti arti dari apa yang dikatakan oleh
orang orang lain kepadanya. Ini menimbulkan dorongan untuk
meningkatkan pengertiannya.
Isi pembicaraan
Saat anak mengalihkan pembicaraan egosentris kepada
pembicaraan yang bersifat sosial tidak sepenuhnya bergantung pada
usia tetapi juga bergantung pada kepribadian, banyaknya kontak sosial,

16
kepuasan yang diperoleh dari kontak sosial dan besarnya kelompok
kepada siapa ia berbicara. Semakin besar kelompok, dengan kondisi-
kondisi lain yang sama, semakin sosiallah sifat pembicaraan. Juga,
kalau anak bersama teman-temannya, pembicaraan umumnya tidak
terlampau egosentris dibandingkan bila ia berada bersama orang-orang
dewasa. Banyak orang dewasa mendorong pembicaraan egosentris
pada anak-anak, sedangkan teman-temannya selain tidak mendorong
juga tidak menghiraukan anak yang tetap berbicara tentang dirinya
sendiri.
Banyak bicara
Tahap mengobrol, yang merupakan ciri dari awal masa
kanak-kanak, berangsur-angsur digantikan oleh pembicaraan yang
lebih terkendali dan lebih terseleksi. Anak tidak lagi berbicara sekedar
untuk bicara tanpa memperdulikan apakah ada yang memperhatikan.
Sekarang anak menggunakan pembicaraan sebagai bentuk
komunikasi, bukan sebagai bentuk latihan verbal.
H. Perkembangan kepribadian (moral, sosio-emosional) anak usia sd (6-12
tahun)
Menurut Piaget, pada umur antara 5 12 tahun konsep anak
mengenai keadilan sudah tumbuh. Pengertian yang kaku tentang benar dan
salah yang dipelajari dari orang tua menjadi berubah dan anak mulai
memperhitungkan keadaan khusus di sekitar pelanggaran moral.
Menurut Kohlberg, menamakan tingkat kedua dari perkembangan
moral pada usia sekolah sebagai tingkat moralitas konvensional. Pada
tingkat ini yang disebut juga sebagai moralitas anak baik, anak mengikuti
peraturan untuk mengambil hati orang lain dan untuk mempertahankan
hubungan-hubungan yang baik.
Menurut Hurlock ( 1978 ) bahwa dalam perkembangan perilaku
moral itu ada empat elemen, sebagai berikut:
1) Peran hukum, kebiasaan/tata krama, dan aturan

17
Pada elemen ini, hal yang penting dalam belajar adalah menjadi
individu yang bermoral sesuai yang diharapkan oleh kelompoknya.
Antara kelompok yang satu dengan lainnya memiliki tolok ukur yang
berbeda dalam menentukan apakah sesuatu itu benar atau salah,
karena berkaitan dengan kesejahteraan kelompoknya masing-masing.
Pada masa kanak-kanak, anak tidak terlalu dituntut untuk tunduk/patuh
pada hukum dan kebiasaan sebagaimana kepauhan yang diharapkan
pada anak yang lebih besar. Setelah memasuki usia sekolah, anak
mulai dididik sedikit demi sedikit tentang hukum yang berlaku dalam
lingkungannya. Di keluarga, anak dididik untuk patuh kepada orang tua
dan mengasihi sesama anggota keluarga. Di, lingkungan, anak
diajarkan/dididik untuk saling menghargai sesama teman sebayanya.
Di sekolah, anak diajarkan tentang bagaimana mematuhi aturan
sekolah.
2) Peran kata hati
Kata hati merupakan kontrol internal terhadap tingkah laku
seseorang. Hal ini merupakan salah satu tugas perkembangan yang
penting di masa anak usia sekolah. Kata hati merupakan sesuatu yang
kompleks bagi nak-anak. Oleh karena itu pada awalnya tingkah laku
mereka dikontrol oleh lingkungan. Terjadi pergantian yang perlahan-
lahan dari lingkungan ke kontrol yang sudah terinternalisasi, pada saat
itulah transisi sudah lebih lengkap.
3) Peran rasa bersalah dan malu
Setelah anak mengontrol tingkah lakunya dengan kata hati, maka kata
hati dijadikan pedoman bagi tingkah laku mereka. Jika tingkah lakunya
tidak sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh kata hatinya, maka
mereka akan merasa bersalah, malu, atau bahkan merasa bersalah
dan malu.
4) Peran interaksi sosial
Interaksi sosial dapat memberikan dasar-dasar dari tingkah laku yang
diterima oleh masyarakat, memberikan motivasi melalui apa yang

18
diterima dan tidak diterima kelompok. Jika anak tidak berinteraksi
sosial, maka anak tidak akan tahu tenatang tingkah laku apa yang
kiranya diterima oleh masyarakat/lingkungannya.
Melalui interaksi sosial, anak tidak hanya belajar mengenai kode-kode
moral, tetapi merekea juga mempunyai kesempatan untuk belajar
mengevaluasi tingkah laku mereka. Jika evaluasi menyenangkan maka
anak akan termotivasi untuk taat pada standar moral yang telah
ditetapkan lingkungan. Jika evaluasi tidak menyenangkan maka anak
akan mengubah standar moral mereka dan menerima apa yang
diharapkan lingkungan padanya.

19
BAB III
DESKRIPSI PERKEMBANGAN SUBJEK
A. Profil anak
Nama : Nofal Setianto
Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 02 -10-2008
Kelas : III (tiga)
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pendidikan sebelumnya : PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)
Alamat Siswa :-
B. Sejarah perkembangan
Setelah menyimpulkan masalah yang dialami klien. Timbulnya
masalah yang dihadapi NS disebabkan oleh faktor yaitu :
Setelah melihat data-data sendiri dan mendapat hasil home visit
home, dapat dilihat bahwa latar belakang keluarga yang berasal dari buruh
pabrik dan ibunya sebagai seorang Wiraswasta yang mempunyai usaha
warung makan didepan rumahnya. Ketika di rumah MN ini jarang
diperhatikan belajarnya. Dan perhatian khusus kedua orang tuanya
terhadap perkembangan belajarnyapun jarang. Ibunya sendiri hanya di
rumah sibuk mengurusi usaha warung makannya. Walaupun sebenarnya
masih ada waktu untuk meluangkan waktu untuk memperhatikan belajar
MN, namun itupun susah dilakukan atau bahkan tidak diwujudkan oleh
kedua orang tuanya.
Namun NS ini memang memiliki keterlambatan menangkap
pelajaran. Hal ini disebabkan kurang perhatiannya orang tuanya tetang
kebutuhan gizi dan vitamin bagi anak. Itu terbukti ketika melihat menu
makanan sehari-hari ketika home visit sangatlah jauh dari 4 sehat lima
sempurna.Meskipun ibunya memiliki usaha warung makan, akan tetapi
kebutuhan untuk anaknya sendiri tidak terpenuhi. Ditambah lagi orang
tuanya dirumah acuh-tak acuh terhadap proses belajarnya maupun kondisi
MN di sekolah.

20
C. Perkembangan fisik-motorik
Perkembangan fisik dan motorik pada anak kesulitan belajar atas nama NS
normal seperti perkembangan pada umumnya baik dari bentuk fisik dan
motoriknya dan masih bisa bergaul dengan teman sebaya dalam pelajaran
di kelas.
D. Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif anak atas nama NS sangat lemah sekali, hal ini
ditandai ketika sedang dalam pelajaran tidak dapat menerima materi yang
diberikan oleh guru. Pada saat kelas 3 masih belom mengenal huruf dari A
sampa Z, dan konsentrasi anak sering hilang kemudian ketika sudah jenuh
anak ini akan bermain dan menganggun dengan teman yang lain.\
E. Perkembangan bahasa
Dalam pembelajaran anak tersebut sudah mampu berbahasa namu tidak
begitu lancar seperti yang lain, dimana dalam penguasaan kosakata dalam
bahasa pelajaran masih kurang akan tetapi ketika berbicara dengan teman
sebaya anak tersebut mampu untuk berkomunikasi dengan baik seperti
teman yang lain tanpa ada rasa kesulitan berbahasa.
F. Perkembangan sosio-emosional
Anak tersebut dalam perkembangan sosio emosionalnya sering mengalami
gangguan seperti mudah marah terhadap guru dan tidak dapat dikendalikan
pada saat belajar, namun dalam berteman anak tersebut sudah mampu
untuk berkomunikasi. Dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar anak
tersebut tidak sabar dan sering merasa capek ketika dalam perlajaran
berlangsung.

21
BAB IV
ANALISIS PERKEMBANGAN SUBJEK

A. Analisi perkembangan subjek


1. Fisik motorik
Anak tersebut mampun membedakan barang-barang yang
ditunjukkan pada saat diteliti keadaannya. Anak tersebut dapat
membedakan benda-benda baik kasar maupun halus dalam sebuah
pengamatannya.
2. Kognitif dan bahasa
Pada anak usia 10 tahun dikemukakan oleh Piaget bahwa anak
berua 7-11 tahun berapa pada fase operasional konkret, dimana
anak sudah dapat membentuk operasi mental atas pengetahuannya
sendiri serta dapat memecahkan masalah secara logis. Dari hasil
observasi dan wawancara kepada beberapa guru yang pernah
mengajar dikatakan bahwa Kiara anak yang cerdas dalam beberapa
mata pelajaran. Diketahui bahwa Kiara mendapatkan nilai tertinggi
pada ulangan akhir semester dibandingkan dengan teman-
temannya. Dikatakan oleh guru yang pernah mengajarpun, jika
diakumulasikan Kiara mendapatkan ranking 10 besar dikelasnya.
Anak tersebut masih lemah dalam kognitifnya hal ini ketika diberikan
pengetahuan atau materi sehingga sulit untuk dicerna olehnya.
3. Sosio-emosional
Pergaulan dengan teman sebaya merupakan kunci khusus dalam
sebuah pertemanan. Seseorang akan diterima dikelompoknya jika
dia mudah bergaul dan dapat berbaur dengan teman sebayanya.
Tidak untuk Kiara. Dari hasil observasi, Kiara hanya berbicara jika
diajak berbicara terlebih dahulu atau jika dia butuh. Kiara tidak
bermain bersama teman sebayanya, mudah tersinggung, tidak
menunjukkan bahwa dia mempunyai teman dikelas.

22
Ketika berhadapan dengan teman sebaya anak ini sering emosi dan
mudah putus asa dalam berteman. Anak tersebut terkadang
mengangis dan mudah untuk kembali tidak menangis kembali.
Dapat disimpulkan perkembangan sosio-emosi Kiara perlu
diperhatikan, karena pentingnya pergaulan saat dini untuk dia dapat
berbaur dengan teman-teman sebayanya. Tidak hanya itu, Kiara pun
perlu bimbingan agar tidak mencelakakan temannya jika dia diejek
oleh teman yang lain.
B. Prediksi
Prediksi anak tersebut selain mengalami kesulitan belajar juga mengalami
gangguan yang lain, hal ini terlihat dari sosio emosional anak yang suka
untuk menganggun teman yang lain sehingga anak tersebut temasuk
seperti golongan inklusi sehingga perlu untuk penanganan khusus.
Dalam beberapa aspek perkembangan akan diprediksi adanya
keterlambatan dibandingkan dengan teman-temanya.
Perkembangan fisik-motorik jika tetap dibiarkan Kiara akan menjadi
anak yang tidak mandiri dikarenakan perkembangannya yang belum
sesuai dengan kriteria dan teman seusianya. Kiara akan sulit dalam
menggunakan gerakan-gerakan halus seperti makan dengan baik,
mengikat tali sepatu, menggunakan ikat pinggang dan hal yang
menyangkut ketelitian dan kejelian. Adapun dalam hal olahraga,
Kiara belum dapat melempar bola dengan kuat dan akurat sehingga
lemparan tersebut selalu melenceng.
Perkembangan kognitif-bahasa akan semakin baik jika terus belajar,
hanya saja akan terjadi keterlambatan pada bahasa, dimana Kiara
belum dapat berbicara dengan baik kepada lawan bicaranya
sehingga apa yang dikatakan Kiara tidak jelas dan cenderung
menggerutu. Hal positif lainnya Kiara akan menjadi anak yang
cerdas dibandingkan teman lainnya jika Kiara terus belajar untuk
mengasah kemampuan kognitifnya.

23
Prediksi perkembangan sosio-emosi yang menjadi acuan utama. Kiara
akan mengalami keterlambatan dalam bergaul dan berbaur dengan
temannya, dikarenakan Kiara tidak mempunyai selera humor yang baik,
tidak suka diejek, bahkan Kiara suka mengamuk (teriak, menangis) jika ada
temannya yang mengejeknya. Kiara akan mendorong siapapun yang ada
didekatnya. Mungkin faktor bahasa (cara berkomunikasi) Kiara yang kurang
baik pun dapat mempengaruhi cara bergaul Kiara. Hal positifnya Kiara akan
selalu memperhatikan guru mengajar dan dia sangat aktif dan kritis
terhadap beberapa mata pelajaran.
C. Modifikasi
Dari analisis tersebut di atas dapat dimodifikasi mengenai tahapan-
tahapan yang seharusnya dilakukan se[erti modifikasi perkembangan
kognitifnya yaitu dengan mendatangkan pendampingkhusus sehingga
perkembangan kognitif dan sosio-emosional anak tersebut dapat
dikendalikan dan dpat mengikuti kegiatan belajar dan emngajar seperti
anak pada umumnya.
Modifikasi yang dimaksud adalah proses yang bertujuan untuk
memperbaiki atau mempercepat kekurangan terhadap anak yang dijadikan
subjek studi kasus. Modifikasi perkembangan fisik-motorik yang sebaiknya
dibantu oleh guru serta orang tua dirumah secara berkelanjutan konsisten.
Pemberian motivasi dibutuhkan untuk menumbuhkan minat belajar Kiara
dalam mengembangkan fisik-motoriknya sendiri. Pemberian latihan dalam
kemandirian dirumah sangat diperlukan dikarenakan jika tidak dilatih sejak
dini maka Kiara akan menjadi anak yang kurang mandiri sehingga
berdampak pada aspek sosio-emosinya.
Modifikasi kognitif-bahasanya sudah cukup baik, hanya saja perlu
ada perhatian khusus terutama dalam berkomunikasi secara langsung. Hal
ini dapat dilatih secara konsisten dlam berbicara diharuskan dengan suara
lantang dan jelas serta tidak terburu-buru. Orang tua dapat membimbingnya
dirumah serta dapat mengarahkan Kiara dalam kegiatan positif mengingat
Kiara cenderung cerdas di kelas.

24
Modifikasi perkembangan sosio-emosinya orang tua dapat bekerja
sama dengan sekolah cara megatasi subjek studi kasus ini seperti apa dan
diberi pengertian bahwa pergaulan dan pertemanan itu sangat perlu.
Sehingga Kiara dapat mempunyai teman yang sangat peduli dan tidak
mengejeknya kembali. Hal positif dari sosio-emosinya adalah Kiara menjadi
anak yang penurut, anak yang memerhatikan guru jika mengajar dibanding
teman yang lainnya.
Modifikasi diatas untuk anak yang masih ada keterlambatan dalam
aspek fisik-motorik, kognitif-bahasa, dan sosio-emosi yang seharusnya
orang tua mempunyai cara khusus dan sadar bahwa adanya keterlambatan
terhadap anaknya. Dalam hal ini orang tua harus sangat cepat sadar akan
keterlambatan anaknya dan menerima kondisi anaknya terlebih dahulu,
bahwasannya setiap anak mempunyai karakteristik yang berbeda-beda dan
hal itu pula yang menjadikan anak itu unik. Maka dari itu diharapkan orang
tua sangat peduli terhadap perkembangannya sejak dini.

25
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Kesimpulan pada analisis perkembangan anak tersebut yaitu anak
mempunyai gangguan belajar pada kognitif dan sosio-emosionalnya
sehingga perlu adanya pendamping dalam kegiatan belajar mengajar.
Karena anak tersebut mudah sekali dengan putus asa dan tidak mau
menerima kegiatan belajar kembali, sehingga anak tersebut tidak
ketinggalan pelajaran atau materi yang sedang diajakarkan.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara terhadap beberapa guru yang
pernah mengajar dan telah dipaparkan pada BAB III tentang perkembangan
fisik-motorik, kognitif-bahasa, dan perkembangan sosio-emosi peserta
didik, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Perkembangan fisik-motorik peserta didik yang menjadi subjek
penelitian mengalami keterlambatan dan kurang sesuai dengan
teori yang sudah dipaparkan di atas. Perkembangan yang paling
tidak sesuai adalah pada perkembangan motorik anak.
2. Perkembangan kognitif-bahasa sudah sangat baik, hanya saja ada
beberapa kendala pada saat anak berkomunikasi yang dinilai terlalu
cepat berbicara dengan nada yang lemah.
3. Perkembangan sosio-emosi peserta didik memiliki keterlambatan,
dimana peserta didik tidak dapat bersosialisasi bersama teman
sebayanya yang mengakibatkan selalu ada ejekkan yang dilakukan
oleh teman sebayannya.

B. Saran
Sebaiknya sebagai orang tua mengetahui persis kondisi anak dan sebagai
sekolah sebaiknya menyediakan guru pendamping khusus mengenai
perkembangan anak dan sering memeriksakan kondisi anak pada psikolog
sehingga dapa diketahui pasti dan dapat dilakukan penanggungannya.

26
1. Orang Tua
Memperdalam pengetahuan orang tua untuk mengetahui perkembangan
fisik-motorik, kognitif-bahasa, dan sosio-emosi dan cepat tanggap
apabila ada sesuatu yang tidak sesuai dengan masa perkembangannya.
2. Pendidik
Guru seharusnya paham terhadap tahap perkembangan anak agar
dapat membantu proses pencapaian perkembangan peserta didik yang
baik. Guru juga harus memiliki metode, model dan pendekatan khusus
untuk membantu anak dalam belajar di sekolah.
3. Mahasiswa
Melakukan analisis kembali pada perkembangan peserta didik usia
sekolah dasar.

27
DAFTAR PUSTAKA

Darkusno, Toto. Aspek-Aspek Perkembangan, Jurnal Penddikan Luar


Sekolah. Universitas Pendidikan Indonesia, 2012
Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2009
Martini, Jamaris. Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan. Jakarta:
Ghalia Indonesia, 2012
Nurihasan, Achamad dan Agustin. Dinamika Perkembangan Anak dan
Remaja. Universitas Pendidikan Indonesia, 2013
Papalia, Diene. Perkembangan Manusia. Jakarta: Salemba Humanika,
2014
Santrock, John W, Life-Span Development (Perkembangan Masa Hidup).
Jakarta: Erlangga, 2011
Slavin, Robert E. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Indeks, 2011
Surya, Mohamad. Psikologi Guru Konsep dan Aplikasi dari Guru untuk
Guru. Bandung: Kencana, 2013
Sutjihati, Somantri, Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: Riefka Aditama,
2006
Zulkifli L, Psikologi Perkembangan. BandungL Riefka Aditama, 2006

28

Anda mungkin juga menyukai