Anda di halaman 1dari 22

REFERAT

GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING


(NOISE INDUCED HEARING LOSS)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN-


KEPALA LEHER

RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO

JAKARTA

Periode 17 April 20 Mei 2017

1
BAB 1

PENDAHULUAN

Berdasarkan survei "Multi Center Study" di Asia Tenggara, Indonesia termasuk 4 negara

dengan prevalensi ketulian yang cukup tinggi yaitu 4,6%, sedangkan 3 negara lainnya yakni Sri

Lanka (8,8%), Myanmar (8,4%) dan India 6,3%). Angka prevalensi sebesar 4,6% tergolong

cukup tinggi, sehingga dapat menimbulkan masalah sosial di tengah masyarakat. Menurut

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diperkirakan pada tahun 2000 terdapat 250 juta penduduk

dunia menderita gangguan pendengaran dan 75 juta - 140 juta diantaranya terdapat di Asia

Tenggara.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indera Tahun 1993 - 1996 yang dilaksanakan di 8 Provinsi

Indonesia menunjukkan prevalensi morbiditas telinga, hidung dan tenggorokan (THT). Angka

prevalensi tersebut sebesar 38,6%, morbiditas telinga 18,5%, gangguan pendengaran 16,8% dan

ketulian 0,4%. (1)

Kemajuan peradaban telah menggeser perkembangan industri ke arah penggunaan mesin-

mesin, alat-alat transportasi berat, dan lain sebagainya. Akibatnya kebisingan makin dirasakan

mengganggu dan dapat memberikan dampak pada kesehatan. Biaya yang harus ditanggung

akibat kebisingan ini sangat besar. Misalnya, bila terjadi di tempat-tempat bisnis dan pendidikan,

maka bising dapat mengganggu komunikasi yang berakibat menurunnya kualitas bisnis dan

pendidikan. Sama halnya dengan akibat yang ditimbulkan pada masyarakat yang lokasi tempat

tinggalnya berdekatan dengan sumber bising. Trauma akustik ataupun gangguan pendengaran

lain yang timbul akibat bising, gangguan sistemik yang timbul akibat kebisingan, penurunan

kemampuan kerja, bila dihitung kerugiannya secara nominal dapat mencapai milyaran rupiah.

2
Industri yang terutama membawa risiko kehilangan pendengaran antara lain pertambangan,

pembuatan terowongan, penggalian (peledakan, pengeboran), mesin-mesin berat ( pencetakan

besi, proses penempaan, dll), pekerjaan mengemudikan mesin dengan mesin pembakaran yang

kuat (pesawat terbang, truk, bajaj, kenderaan konstruksi, dll), pekerjaan mesin tekstil dan uji

coba mesin-mesin jet. Pada umumnya gangguan pendengaran yang disebabkan bising timbul

setelah bertahun-tahun pajanan. Kecepatan kemunduran tergantung pada tingkat bising,

komponen impulsif dan lamanya pajanan, serta juga pada kepekaan individual yang sifat-sifatnya

tetap tidak diketahui. (3)

Salah satu bising industri yang dianggap perlu untuk diteliti adalah bising pesawat terbang.

Penelitian mengenai pengaruh bising pesawat terbang terhadap kemampuan pendengaran pekerja

telah banyak dilakukan. Diantarannya yaitu penelitian yang dilakukan di London Inggris dimana

peneliti membandingkan antara subjek dengan tingkat kebisingan pesawat terbang yang tinggi

dengan tingkat kebisingan pesawat terbang yang rendah. Hasilnya adalah didapat kejadian

gangguan pendengaran lebih tinggi pada subjek dengan tingkat kebisingan pesawat terbang yang

tinggi. (4) Penelitian lainnya juga menunjukkan hal yang sama, dimana pada pekerja bandara laki-

laki di Korea menunjukkan perbedaan yang significant pada kejadian hilangnya pendengaran

(lebih dari 25 dB) antara subjek yang terpapar bising dengan yang tidak terpapar bising pesawat

terbang (p< 0.5). Hampir 60,8 % dari pekerja yang terpapar bising tersebut tercatat sebagai

pengguna HPDs (Hearing Protective Devices). (5)

Mengingat besarnya masalah tersebut dan pentingnya kesehatan indera pendengaran

sebagai salah satu faktor penting dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia, maka

diperlukan adanya perhatian yang lebih terhadap masalah kesehatan indera pendengaran

khususnya tuli akibat pemajanan bising (TAB/NIHL).

3
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Pendengaran

2.1.1. Telinga Luar

Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani. Daun

telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan

rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya

terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5 3 cm.

Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen (modifikasi

kelenjar keringat) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada
(6)
duapertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen.

Gambar 2.1 Anatomi Telinga

4
Sendi temporomandibularis dan kelenjar parotis terletak di depan terhadap liang telinga

sementara procesus mastoideus terletak dibelakangnya. Saraf fasialis meninggalkan foramen

stilomastoideus dan berjalam ke lateral menuju prosesus stilodeus di posteroinferior liang

telinga, dan berjalan dibawah liang telinga untuk memasuki kelenjar parotis. (8)

2.1.2. Telinga Tengah

0 Telinga tengah adalah rongga berisi udara didalam tulang temporalis yang terbuka melalui

tuba auditorius (eustachius) ke nasofaring dan melalui nasofaring keluar. Tuba biasanya tertutup,

tetapi selama mengunyah, menelan, dan menguap saluran ini terbuka, sehingga tekanan dikedua

sisi gendang telinga seimbang. (9)

Gambar 2.2. Membran timpani

Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas luar yaitu membran timpani, batas depan

yaitu tuba eustachius, batas bawah yaitu vena jugularis (bulbus jugularis), batas belakang yaitu

aditus ad antrum, kanalis facialis pars vertikalis. Batas atas yaitu tegmen timpani (meningen/

otak), dan batas dalam berturut-turut dari atas kebawah yaitu kanalis semisirkularis horizontal,

5
kanalis facialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar (round window) dan

promomtorium.

Di dalam telinga tengah terdapat tulang-tulang pendengaran yang tersusun dari luar ke

dalam, yaitu maleus, inkus dan stapes. Tulang pendengaran di dalam telinga saling berhubungan.

Prosesus longus maleus melekat pada inkus, dan inkus melekat pada stapes. Stapes terletak pada

tingkap lonjong yang berhubungan dengan koklea. Hubungan antar tulang-tulang pendengaran

merupakan persendian. Pada pars flaksida terdapat daerah yang disebut atik. Di tempat ini

terdapat aditus ad antrum, yaitu lubang yang menghubungkan telinga tengah dengan antrum

mastoid. (7)

Tuba eustahius termasuk dalam telinga tengah yang menghubungkan daerah nasofaring

dengan telinga tengah. (8)

2.1.3. Telinga Dalam

Labirin ( telinga dalam ) mengandung organ pendengaran dan keseimbangan, terletak pada

pars petrosa os temporal. Labirin terdiri dari labirin bagian tulang dan labirin bagian membran.

Labirin bagian tulang terdiri dari kanalis semisirkularis, vestibulum dan koklea. Labirin bagian

membran terletak didalam labirin bagian tulang, dan terdiri dari kanalis semisirkularis, utrikulus,

sakulus, sakus dan duktus endolimfatikus serta koklea. (10)

Bagian vestibulum telinga dalam dibentuk oleh sakulus, utrikulus dan kanalis

semisirkularis. Utrikulus dan sakulus mengandung makula yang diliputi oleh sel-sel rambut.

Menutupi sel-sel rambut ini adalah suatu lapisan gelatinosa yang ditembus oleh silia, dan pada

lapisan ini terdapat pula otolit yang mengandung kalsium dan dengan berat jenis yang lebih besar

daripada endolimfe. Karena pengaruh gravitasi, maka gaya dari otolit akan membengkokkan silia

sel-sel rambut dan menimbulkan rangsangan pada reseptor.

6
Gambar 2.3 Vestibulum

Sakulus berhubungan dengan utrikulus melalui suatu duktus sempit yang juga merupakan

saluran menuju sakus endolimfatikus. Makula utrikulus terletak pada bidang yang tegak lurus

terhadap makula sakulus. Ketiga kanalis semisirkularis bermuara pada utrikulus. Masing-masing

kanalis mempunyai suatu ujung yang melebar membentuk ampula dan mengandung sel-sel

rambut krista. Sel-sel rambut menonjol pada suatu kupula gelatinosa. Gerakan endolimfe dalam

kanalis semisirkularis akan menggerakkan kupula yang selanjutnya akan membengkokkan silia

sel-sel rambut krista dan merangsang sel rambut reseptor.

Gambar 2.4 Anatomi Telinga Dalam

7
Koklea melingkar seperti rumah siput dengan dua dan satu-setengah putaran. Aksis dari

spiral tersebut dikenal sebagai modiolus, berisi berkas saraf dan suplai arteri dari arteri

vertebralis. Serabut saraf kemudian berjalan menerobos suatu lamina tulang yaitu lamina spiralis

oseus untuk mencapai sel-sel sensorik organ corti. Rongga koklea bertulang dibagi menjadi tiga

bagian oleh duktus koklearis yang panjangnya 35 mm dan berisi endolimfe. Bagian atas adalah

skala vestibuli, berisi perilimfe dan dipisahkan dari duktus koklearis oleh membrana Reissner

yang tipis. Bagian bawah adalah skala timpani juga mengandung perilimfe dan dipisahkan dari

duktus koklearis oleh lamina spiralis oseus dan membrana basilaris. Perilimfe pada kedua skala

berhubungan pada apeks koklea spiralis tepat setelah ujung buntu duktus koklearis melalui suatu

celah yang dkenal sebagai helikotrema. Membrana basilaris sempit pada basisnya (nada tinggi)

dan melebar pada apeks (nada rendah). (8)

Organ corti adalah organ reseptor yang membangkitkan impuls saraf sebagai respon

terhadap getaran membrana basiler. Organ corti terletak pada permukaan serat basilar dan

membrana basilar. Terdapat dua tipe sel rambut yang merupakan reseptor sensorik yang

sebenarnya dalam organ corti yaitu baris tunggal sel rambut interna, berjumlah sekitar 3500 dan

dengan diameter berukuran sekitar 12 mikrometer, dan tiga sampai empat baris rambut eksterna,

berjumlah 12.000 dan mempunyai diameter hanya sekitar 8 mikrometer. Basis dan samping sel

rambut bersinaps dengan jaringan akhir saraf koklearis. Sekitar 90 sampai 95 persen ujung-

ujung ini berakhir di sel-sel rambut bagian dalam, yang memperkuat peran khusus sel ini untuk

mendeteksi suara. Serat-serat saraf dari ujung-ujung ini mengarah ke ganglion spiralis corti yang

terletak didalam modiolus (pusat) koklea. (11)

8
2.2. Fisiologi Pendengaran

Gelombang suara yang memasuki telinga melalui kanalis auditorius eksterna

menggetarkan membran timpani. Getaran ini akan diteruskan oleh tulang-tulang pendengaran

(maleus, incus, dan stapes) di rongga telinga tengah. Selanjutnya akan diterima oleh "oval

window" dan diteruskan ke rongga koklea serta dikeluarkan lagi melalui "round window".

Rongga koklea terbagi oleh dua sera menjadi tiga ruangan, yaitu skala vestibuli, skala tympani

dan skala perilimfe dan endolimfe. Antara skala tympani dan skala medial terdapat membran

basilaris, sel-sel rambut dan serabut afferen dan efferen nervus cochlearis. Getaran suara tadi

akan menggerakkan membrana basilaris, dimana nada tinggi diterima di bagian basal dan nada

rendah diterima di bagian apeks. Akibat gerakan membrana basilaris maka akan menggerakkan

sel-sel rambut sensitif di dalam organ corti. (12)

Organ corti kemudian merubah getaran mekanis di dalam telinga dalam menjadi impuls

saraf. Impuls ini kemudian dihantar melalui akson atau cabang saraf sel-sel ganglion pada

ganglion spiralis telinga dalam. Akson dari ganglion spiralis menyatu, membentuk nervus

auditorius atau koklearis yang membawa impuls dari sel-sel di dalam organ corti telinga dalam

ke otak untuk diinterpretasi. (13)

2.2.1. Pola Getaran Membran Basiler Untuk Frekuensi Suara Yang Berbeda

9
Gambar 2.5 Pola Getaran Membran Basiler Untuk Frekuensi Suara Yang Berbeda

Terdapat perbedaan pola tranmisi untuk gelombang suara dengan frekuensi suara yang

berbeda. Setiap gelombang relatif lemah pada permulaan tetapi menjadi kuat ketika mencapai

bagian membran basilar yang mempunyai keseimbangan resonansi frekuensi alami terhadap

masing-masing frekuensi suara. Pada titik ini, membran basilar dapat bergetar ke belakang dan

ke depan dengan mudahnya sehingga energi dalam gelombang dihamburkan. Akibatnya,

gelombang berhenti pada titik ini dan gagal berjalan sepanjang membran basilar yang tersisa.

Jadi gelombang suara frekuensi tinggi hanya berjalan singkat sepanjang membran basilar

sebelum gelombang mencapai titik resonansinya dan menghilang. Gelombang suara frekuensi

sedang berjalan sekitar setengah perjalanan dan kemudian menghilang. Dan akhirnya,

gelombang suara frekuensi sangat rendah menjalani seluruh jarak sepanjang membran basilar. (11)

2.3. Mekanisme Pendengaran Sentral

2.3.1. Jalur Pendengaran

10
Gambar 2.5 menggambarkan jaras pendengaran utama. Jaras ini menunjukkan bahwa

serabut dari ganglion spiralis corti memasuki nukleus koklearis dorsalis dan ventralis yang

terletak pada bagian atas medula. Pada titik ini, semua sinaps serabut dan neuron berjalan

terutama ke sisi yang berlawanan dari batang otak dan berakhir di nukleus olivarius superior.

Beberapa serat juga berjalan secara ipsilateral ke nukleus olivarius superior, jaras pendengaran

kemudian berjalan ke atas melalui lemniskus lateral. Beberapa serat berakhir di nukleus

lemniskus lateralis. Banyak yang memintas nukleus ini dan berjalan ke kolikulus inferior, tempat

semua atau hampir semua serat ini berakhir. Dari sini, jaras berjalan ke nukleus medial thalamus,

tempat semua serabut bersinaps. Dan akhirnya, jaras berlanjut melalui radiasio auditorius ke

korteks auditorius, yang terutama terletak pada girus superior lobus temporalis.(11)

2.3.2 Aspek Klinis Jalur Pendengaran

Kerusakan pada duktus koklearis atau nervus koklearis dapat mengakibatkan menurunya

kemampuan atau hilangnya pendengaran pada telinga pada sisi yang sama. Suatu lesi yang

mengenai satu lemniskus lateralis dapat menimbulkan penurunan kemampuan pendengaran (tuli

parsial) secara bilateral, yang lebih berat akibatnya pada telinga kontralateral. (14)

11
Gambar 2.6 Jalur Pendengaran

12
2.4. Bising

2.4.1. Definisi

Kebisingan diartikan sebagai suara yang tidak dikehendaki, misalnya yang merintangi

terdengarnya suara-suara, musik dan sebagainya atau yang menyebabkan rasa sakit atau yang

menghalangi gaya hidup. Kebisingan yaitu bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan

dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan

kenyamanan lingkungan atau semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat

proses produksi dan atau alat-alat kerja pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan

pendengaran.(13)

2.4.2. Baku Tingkat Kebisingan

Baku tingkat kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang

diperbolehkan dibuang ke lingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak

menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Baku tingkat

kebisingan (Nilai Ambang Batas, NAB) peruntukan kawasan/lingkungan dapat dilihat

pada tabel dibawah ini. (16) :

Peruntukan kawasan / lingkungan kegiatan Tingkat kebisingan (dB)


Peruntukan Kawasan
1. Perumahan dan pemukiman 55
2. Perdagangan dan jasa 70
3. Perkantoran dan perdagangan 65
4. Ruang terbuka hijau 50
5. Industri 70
6. Pemerintahan dan fasilitas umum 60
7. Rekreasi 70
8. Khusus :- Bandar udara- Stasiun Kereta Api
- Pelabuhan Laut- Cagar Budaya 70
Lingkungan Kegiatan
1. Rumah Sakit atau sejenisnya 55
2. Sekolah dan sejenisnya 55
3. Tempat ibadah dan sejenisnya 55

Tabel 2.1 Baku tingkat kebisingan (Nilai Ambang Batas, NAB)


peruntukan kawasan/lingkungan 13
2.5. Tuli Akibat Bising

2.5.1. Definisi

Tuli akibat bising (TAB) adalah tuli sensorineural yang terjadi akibat terpapar oleh bising

yang cukup keras dan dalam jangka waktu yang cukup lama. (4)

2.5.2. Faktor yang Mempengaruhi

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemaparan kebisingan yaitu intensitas kebisingan,

frekuensi kebisingan, lamanya waktu pemaparan bising, kerentanan individu, jenis kelamin, usia

dan kelainan di telinga tengah.(10,18) Tuli sensorineural dapat disebabkan oleh toksin (seperti arsen

dan quinine) dan antibiotika seperti streptomisin yang dapat merusak koklea. (12)

2.5.3. Patogenesis

Tuli akibat bising mempengaruhi organ Corti di koklea terutama sel-sel rambut. Daerah

yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar yang menunjukkan adanya degenerasi yang

meningkat sesuai dengan intensitas dan lama paparan. Stereosilia pada sel-sel rambut luar

menjadi kurang kaku sehingga mengurangi respon terhadap stimulasi. Dengan bertambahnya

intensitas dan durasi paparan akan dijumpai lebih banyak kerusakan seperti hilangnya stereosilia.

Daerah yang pertama kali terkena adalah daerah basal. Dengan hilangnya stereosilia, sel-sel

rambut mati dan digantikan oleh jaringan parut. Semakin tinggi intensitas paparan bunyi, sel-sel

rambut dalam dan sel-sel penunjang juga rusak. Dengan semakin luasnya kerusakan pada sel-sel

rambut, dapat timbul degenerasi pada saraf yang juga dapat dijumpai di nukleus pendengaran

pada batang otak. (10)

14
2.5.4. Gambaran Klinis

Tuli akibat bising dapat mempengaruhi diskriminasi dalam berbicara ( speech

discrimination ) dan fungsi sosial. Gangguan pada frekuensi tinggi dapat menyebabkan kesulitan

dalam menerima dan membedakan bunyi konsonan. Bunyi dengan nada tinggi, seperti suara bayi

menangis atau deringan telepon dapat tidak didengar sama sekali. Ketulian biasanya bilateral.

Selain itu tinitus merupakan gejala yang sering dikeluhkan dan akhirnya dapat mengganggu

ketajaman pendengaran dan konsentrasi. (5, 10)

Secara umum gambaran ketulian pada tuli akibat bising ( noise induced hearing loss )

adalah bersifat sensorineural, hampir selalu bilateral, jarang menyebabkan tuli derajat sangat

berat ( profound hearing loss ). (10, 15)

Secara klinis pajanan bising pada organ pendengaran dapat menimbulkan reaksi adaptasi,

peningkatan ambang dengar sementara (temporary threshold shift) dan peningkatan ambang

dengar menetap ( permanent threshold shift). Reaksi adaptasi merupakan respons kelelahan

akibat rangsangan oleh bunyi dengan intensitas 70 dB SPL atau kurang, keadaan ini merupakan

fenomena fisiologis pada saraf telinga yang terpajan bising. Peningkatan ambang dengar

sementara, merupakan keadaan terdapatnya peningkatan ambang dengar akibat pajanan bising

dengan intensitas yang cukup tinggi. Pemulihan dapat terjadi dalam beberapa menit atau jam.

Jarang terjadi pemulihan dalam satuan hari. Peningkatan ambang dengar menetap, merupakan

keadaan dimana terjadi peningkatan ambang dengar menetap akibat pajanan bising dengan

intensitas sangat tinggi (explosif) atau berlangsung lama yang menyebabkan kerusakan pada

berbagai struktur koklea, antara lain kerusakan organ Corti, sel-sel rambut, stria vaskularis, dan

lainnya.(7,8)

15
Derajat ketulian berkisar antara 40 s/d 75 dB. Apabila paparan bising dihentikan, tidak

dijumpai lagi penurunan pendengaran yang signifikan, kerusakan telinga dalam mula-mula

terjadi pada frekwensi 3000, 4000 dan 6000 Hz, dimana kerusakan yang paling berat terjadi pada

frekwensi 4000 Hz, dengan paparan bising yang konstan, ketulian pada frekwensi 3000, 4000

dan 6000 Hz akan mencapai tingkat yang maksimal dalam 10 15 tahun.

Selain pengaruh terhadap pendengaran ( auditory ), bising yang berlebihan juga

mempunyai pengaruh non auditory seperti pengaruh terhadap komunikasi wicara, gangguan

konsentrasi, gangguan tidur sampai memicu stress akibat gangguan pendengaran yang terjadi. (10)

2.5.5. Diagnosis

Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising ini berupa tuli saraf koklea dan biasanya

mengenai kedua telinga. Pada anamnesis biasanya mula-mula pekerja mengalami kesulitan

berbicara di lingkungan yang bising, jika berbicara biasanya mendekatkan telinga ke orang yang

berbicara, berbicara dengan suara menggumam, biasanya marah atau merasa keberatan jika

orang berbicara tidak jelas, dan sering timbul tinitus. Biasanya pada proses yang berlangsung

perlahan-lahan ini, kesulitan komunikasi kurang dirasakan oleh pekerja bersangkutan; untuk itu

informasi mengenai kendala komunikasi perlu juga ditanyakan pada pekerja lain atau pada pihak

keluarga. (2, 5, 10)

Pada pemeriksaan fisik, tidak tampak kelainan anatomis telinga luar sampai gendang

telinga. Pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorokan perlu dilakukan secara lengkap dan

seksama untuk menyingkirkan penyebab kelainan organik yang menimbulkan gangguan

pendengaran seperti infeksi telinga, trauma telinga karena agen fisik lainnya, gangguan telinga

karena agen toksik dan alergi. Selain itu pemeriksaan saraf pusat perlu dilakukan untuk

16
menyingkirkan adanya masalah di susunan saraf pusat yang (dapat) menggangggu pendengaran.
(3)

2.5.6. Prognosis

Tuli akibat terpapar bising adalah tuli sensorineural koklea yang sifatnya menetap tidak
(6)
dapat diobati dengan obat maupun pembedahan. Penggunaan alat bantu dengar hanya sedikit

manfaatnya bagi pasien, bahkan alat tersebut hanya memberikan rangsangan vibrotaktil dan

bukannya perbaikan diskriminasi bicara pada pasien tersebut. Untuk sebagian pasien dianjurkan

pemakaian implan koklearis. Implan koklearis dirancang untuk pasien-pasien dengan tuli

sensorineural. (7)

2.5.7. Penatalaksanaan

Sesuai dengan penyebab ketulian, penderita sebaiknya dipindahkan kerjanya dari

lingkungan bising. Bila tidak mungkin dipindahkan dapt dipergunakan alat pelindung telinga

terhadap bising, seperti sumbat telinga (ear plug), tutup telinga (ear muff) dan pelindung kepala

(helmet).

Oleh karena itu akibat bising adalah tuli sensorineural yang bersifat menetap, bila

gangguan pendengaran sudah mengakibatkan kesulitan berkomunikasi dengan volume

percakapan biasa, dapat dicoba pemsangan alat bantu dengar/ ABD (hearing aid). Apabila

pendengaran sudah sedemikian buruk, sehingga dengan memakai ABD pun tidak dapat

berkomunikasi denga adekuat perlu dilakukan psikoterapi agar dapat menerima keadaannya.

Latihan pendengaran (auditory training) agar dapat menggunakan sisa pendengaran dengan ABD

secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir (lip reading), mimik dan gerakan anggota

badan, serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Di samping itu, oleh karena pasien

mendengar suaranya sendiri sangat lemah, rehabilitasi suara juga diperlukan agar dapat

17
mengendalikan volume, tinggi rendah dan irama percakapan. Pada pasien yang telah mengalami

tuli total bilateral dapat dipertimbangkan untuk pemasangan implan koklea (cochlear implant).(7)

2.6. Sound Level Meter ( SLM )

SLM adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur tingkat kebisingan, yang terdiri

dari mikrofon, amplifier, sirkuit attenuator dan beberapa alat lainnya. Alat ini mengukur

kebisingan antara 30 130 dB dan dari frekwensi 20 20.000 Hz. SLM dibuat berdasarkan

standar ANSI ( American National Standard Institute ) tahun 1977 dan dilengkapi dengan alat

pengukur 3 macam frekuensi yaitu A, B dan C yang menentukan secara kasar frekuensi bising

tersebut.

Jaringan frekuensi A mendekati frekuensi karakteristik respon telinga untuk suara rendah

yang kira-kira dibawah 55 dB. Jaringan frekuensi B dimaksudkan mendekati reaksi telinga untuk

batas antara 55 85 dB. Sedangkan jaringan frekuensi C berhubungan dengan reaksi telinga

untuk batas diatas 85 dB. (13)

2.7. Audiometri

Audiometri adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengetahui level pendengaran

seseorang. Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometer, maka derajat ketajaman

pendengaran seseorang dapat dinilai. (15)

Alat yang dikenal sebagai audiometer, dikembangkan pada awal 1920-an, mencontoh

rangkaian oktaf dari skala C seperti pada garputala. Intensitas nada dapat dipertahankan pada

tingkat tertentu, tidak seperti garputala dimana intensitas nada segera berkurang setelah

dibunyikan. Nada dapat pula diinterupsi sesuai kehendak, atau intensitas dapat dilemahkan pada

interval tertentu dengan hambatan elektris, dengan demikian intensitas bunyi dapat dihitung.

18
Hanya tinggal menambahkan satuan intensitas, suatu notasi decibel dan kontunuitas intensitas,

dan lahirlah suatu era modern audiometri nada murni. (18)

Simbol audiometer

Normal

Tuli konduksi Tuli akibat bising

Gambar 2.7 Audiogram

19
Pemeriksaan ini menghasilkan grafik nilai ambang pendengaran pasien pada stimulus

nada murni. Nilai ambang diukur dengan frekuensi yang berbeda-beda. Secara kasar bahwa

pendengaran yang normal grafik berada di atas. Grafiknya terdiri atas skala desibel. Suara

dipresentasikan dengan earphone (air conduction) dan skull vibrator (Bone conduction). Bila

terjadi air bone gap maka diindikasikan adanya CHL (Conduction hearing Loss). Turunnya nilai

ambang pendengaran oleh bone conduction menggambarkan SNHL (Sensorineural Hearing

Loss). (17)

Pada pemeriksaan audiometri, pasien menggunakan headphone sesuai dengan telinga

yang diperiksa (warna merah untuk telinga kanan dan biru untuk telinga kiri). Pemeriksaan

dimulai pada frekwensi 1000 Hz, selanjutnya 2000 Hz, 4000 Hz & 8000 Hz. Kemudian

dilanjutkan pemeriksaan pada 1000Hz dan menurun (500 Hz, 250 Hz, 125 Hz). Pada masing-

masing frekuensi pemeriksaan ambang dengar dimulai dengan intensitas diatas perkiraan

ambang dengarnya, selanjutnya diturunkan sampai pasien tidak mendengar stimulus bunyinya

(tidak menunjuk jari). Ambang dengar pasien adalah intensitas terkecil yang dapat didengar oleh

pasien. Pemeriksaan audiometri dilakukan pada ruangan kedap suara atau jika tidak ada dapat

digunakan ruangan yang sunyi. (18)

20
Daftar Pustaka

1. Departemen Kesehatan Republk Indonesia. 2004. Indonesia Termasuk 4 Negara Di Asia


Tenggara Dengan Prevalensi Ketulian 4,6%. Available from:
http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=700&Itemid=.
2. Novianto. Ronny. 2007. Audiometri di JIH. Available from: http://www.rs-
jih.com/jatel/index.php?option=com_content&task=view&id=94&Itemid=85.
3. Sari. Halinda. 2002. Program Perlindungan Pendengaran Pekerja Terhadap Kebisingan.
Fakultas Kesehatan Masyarakat Program Studi Keselamatan Dan Kesehatan Kerja
Universitas Sumatera Utara.
4. Soetirto, I.,Hendarmin, H., Bashiruddin, J., 2007. Gangguan Pendengaran dan Kelainan
Telinga dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher
Edisi VI. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
5. Bashiruddin, J., Soetirto, I., 2006. Gangguan Pendengaran Akibat Bising (Noise Induced
Hearing Loss) dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan, editor Soepardi,
E, et al. Edisi VI. Balai Penerbitan FKUI, Jakarta.
6. Adams L, Goerge dkk. 1997. Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta: EGC
7. Ganong WF. 1983. Fisiologi Kedokteran (Review of Medical Physiology) Edisi 10. Jakarta:
EGC
8. Yunita Andrina. 2003. Gangguan Pendengaran Akibat Bising. Bagian Bedah Fakultas
Kedokteran Umum Universitas Sumatera Utara.
9. Guyton. dkk. 19. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC
10. Japardi Iskandar. 2003. Nervus Vestibulocochlearis . Bagian Bedah Fakultas Kedokteran
Umum Universitas Sumatera Utara.
11. Eroschenko. P. 2003. Atlas Histologi di Fiore Edisi 9. Jakarta: EGC
12. Sukardi. Elias. 1985. Neuroanatomi Medika. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia
13. Susanto, Arif. 2006. Kebisingan Serta Pengaruhnya Terhadap Kesehatan Dan Lingkungan.
Available from: http://hseclubindonesia.wordpress.com/2006/10/13/kebisingan-serta-
pengaruhnya-terhadap-kesehatan-dan-lingkungan/.
14. Soetjipto Damayanti. 2007. Gangguan Pendengaran Akibat Bising /GPAB. Available from:
http://www.utmb.edu/otoref/Grnds/Hear-Loss-Noise-000110/Hear-Loss-Noise.htm.

21
15. Harger MR, Barbosa-Branco A. 2004. Effects on hearing due to the occupational noise
exposure of marble industry workers in the Federal District, Brazil. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/sites/entrez.
16. Arifiani, Novi. 2004. Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Tenaga Kerja.
Subdepartemen Kedokteran Okupasi, Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
17. Henny Kartika. 2007. Audiometri Dasar. Available from:
http://hennykartika.wordpress.com/2007/03/11/audiometri-dasar/.
18. Sub. Dep.THT Komunitas. 2008. Cara Pengukuran dengan Audiometri. Available from:
http://www.thtkomunitas.org.

22