Anda di halaman 1dari 50

BAB III

PEMBAHASAN
PATIENT MONITOR MEREK INFINIUM OMNI III

III.1 Pendahuluan
Patient monitor merupakan alat yang digunakan untuk memantau kondisi
psikologis pasien. Dengan mengukur tanda-tanda vital pasien dapat dijadikan
sebagai dasar untuk melakukan intervensi/tindakan medis demi kebaikan
pasien. Selain itu alat ini dapat membantu menangani kasus hukum seperti
kasus malpratik.. Tanda-tanda vital tersebut antara lain detak jantung, tekanan
darah, suhu tubuh dan kadar oksigen dalam darah. Unit patient monitor
personal dapat dipantau langsung melalui monitor sentral bersama patient
monitor yang lain melalui koneksi wireless maupun sambungan kabel. Patient
monitor biasanya ditempatkan pada tempat yang diperlukan untuk melihat
tanda-tanda vital pasien misalnya ruang ICU ataupun ruang operasi. Beberapa
fungsi lain patient monitor juga terdapat pada alat Cardiorespiratory Monitors,
Apnea Alarm dan Respiration Monitor.
Jenis patient monitor terdiri atas patient monitor vital sign yaitu monitor
standar yang terdiri atas pemeriksaan tanda-tanda vital yaitu ECG
(Electrocardiograph), respirasi, tekanan darah, NIBP (Non Invasive Blood
Pressure) dan SpO2 atau kadar oksigen dalam darah. Patient monitor 5
parameter merupakan patient monitor vital sign yang mempunyai sensor suhu
tubuh. Sedangkan patient monitor 7 parameter merupakan bedside vital sign
dengan penambahan parameter temperatur, IBP (Invasive Blood Pressure)
yaitu pengukuran tekanan darah melalui pembuluh darah langsung, serta
EtCO2(End Tidal CO2) yang merupakan pengukuran kadar karbondioksida
dari sistem pernafasan pasien.

III.2 Teori Dasar


III.2.1 Electrocardiograph (ECG)

22
Electrocardiograph merupakan prosedur diagnostik untuk memeriksa
ada tidaknya komplikasi atau kelainan pada aktifitas jantung. Alat ECG akan
menghasilkan suatu grafik dari aktifitas kelistrikan jantung untuk dibaca oleh
dokter apakah ada aritmia pada jantung seseorang. Aritmia sendiri merupakan
tanda dari gangguan detak jantung. Hal ini bisa dirasakan ketika jantung
berdetak lebih cepat dari normal (80 bpm) yang biasa disebut takikardia.
Sedangkan detak jantung lebih lambat dari normal (80 bpm) disebut
bradikardia. Aritmia terkadang juga tidak disadari oleh seseorang.
Metode dasar penyadapan sinyal jantung kini dikenal sebagai segitiga
Einthoven. Segitiga Einthoven ini merupakan sadapan ekstremitas. Yang
merupakan sadapan ekstrimitas antara lain lead I, lead II dan lead III.
Sadapan ekstremitas merupakan sadapan dipol antara lain :
1. Sadapan I adalah dipol dengan elektroda negatif (putih) di lengan kanan
dan elektroda positif (hitam) di lengan kiri.
2. Sadapan II adalah dipol dengan elektroda negatif (putih) di lengan kanan
dan elektroda positif (merah) di kaki kiri.
3. Sadapan III adalah dipol dengan elektroda negatif (hitam) di lengan kiri
dan elektroda positif (merah) di kaki kiri.
Selain itu terdapat sadapan ekstremitas tambahan, yang diperoleh dari
elektroda yang sama yaitu RA, LA, dan LL. Sadapan tersebut antara lain :
1. Sadapan aVR atau "vektor tambahan kanan" memiliki elektroda positif
(putih) di lengan kanan. Elektroda negatif merupakan gabungan elektroda
lengan kiri (hitam) dan elektroda kaki kiri (merah), yang "menambah"
kekuatan sinyal elektroda positif di lengan kanan.
1
= ( + )
2
2. Sadapan aVL atau "vektor tambahan kiri" mempunyai elektroda positif
(hitam) di lengan kiri. Elektroda negatif adalah gabungan elektroda
lengan kanan (putih) dan elektroda kaki kiri (merah), yang "menambah"
kekuatan sinyal elektroda positif di lengan kiri.
1
= ( + )
2

23
3. Sadapan aVF atau "vektor tambahan kaki" mempunyai elektroda positif
(merah) di kaki kiri. Elektroda negatif adalah gabungan elektroda lengan
kanan (putih) dan elektroda lengan kiri (hitam), yang "menambah" sinyal
elektroda positif di kaki kiri.
1
= ( + )
2

Gambar 3.1 Sadapan Ekstrimitas

Selanjutnya terdapat sadapan prekordial yang terdiri atas V1, V2, V3,
V4, V5, dan V6 ditempatkan secara langsung di dada. Karena terletak dekat
jantung, 6 sadapan itu tak memerlukan augmentasi. Sadapan V1, V2, dan V3
disebut sebagai sadapan prekordial kanan sedangkan V4, V5, dan V6 disebut
sebagai sadapan prekordial kiri. Kompleks QRS negatif di sadapan V1 dan
positif di sadapan V6. Kompleks QRS harus menunjukkan peralihan bertahap
dari negatif ke positif antara sadapan V2 dan V4. Sadapan ekuifasik itu
disebut sebagai sadapan transisi. Saat terjadi lebih awal daripada sadapan V3,
peralihan ini disebut sebagai peralihan awal. Saat terjadi setelah sadapan V3,
peralihan ini disebut sebagai peralihan akhir. Harus ada pertambahan
bertahap pada amplitudo gelombang R antara sadapan V1 dan V4. Ini dikenal
sebagai progresi gelombang R. Progresi gelombang R yang kecil bukanlah

24
penemuan yang spesifik, karena dapat disebabkan oleh sejumlah abnormalitas
dan keadaan patologis lainnya.
Sadapan V1 ditempatkan di ruang intercostal IV di kanan sternum.
Sadapan V2 ditempatkan di ruang intercostal IV di kiri sternum.
Sadapan V3 ditempatkan di antara sadapan V2 dan V4.
Sadapan V4 ditempatkan di ruang intercostal V di linea (sekalipun detak
apeks berpindah).
Sadapan V5 ditempatkan secara mendatar dengan V4 di linea axillaris
anterior.
Sadapan V6 ditempatkan secara mendatar dengan V4 dan V5 di linea
midaxillaris.

Gambar 3.2 Letak Sadapan Prekordial

III.2.2 Non Invasive Blood Pressure (NIBP)


Pengukuran auskultasi dan osilasi tekanan darah secara Non invasive
lebih sederhana dan lebih cepat daripada pengukuran invasive, hanya
memerlukan sedikit keahlian, dan tidak menyakitkan pasien. Namun, metode
Non-invasive dapat menghasilkan akurasi yang agak rendah. Metode
pengukuran Non-invasive lebih umum digunakan untuk pemeriksaan rutin
dan pemantauan
Metode osilometri pertama kali ditunjukkan pada tahun 1876 dan
melibatkan pengamatan osilasi pada tekanan manset sphygmomanometer
25
yang disebabkan oleh osilasi aliran darah , yaitu denyut nadi . Versi
elektronik dari metode ini kadang-kadang digunakan dalam pengukuran
jangka panjang dan praktik umum. Metode ini menggunakan manset
sphygmomanometer, seperti metode auskultasi, namun dengan sensor
tekanan elektronik ( transduser ) untuk mengamati osilasi tekanan, rangkaian
elektronik untuk menafsirkannya secara otomatis, dan pemompaan
otomatis. Sensor tekanan harus dikalibrasi secara berkala untuk menjaga
akurasi.
Pengukuran osilometrik membutuhkan keterampilan yang lebih sedikit
daripada teknik auskultasi dan mungkin cocok untuk digunakan oleh staf
yang tidak terlatih dan pemantauan di rumah pasien secara. Sedangkan untuk
teknik auskultasi sangat penting agar ukuran manset sesuai untuk lengan. Ada
beberapa perangkat manset tunggal yang bisa digunakan untuk lengan dengan
ukuran yang berbeda.
Manset digelembungkan ke tekanan yang pada awalnya lebih dari
tekanan arteri sistolik dan kemudian dikurangi sampai di bawah tekanan
diastolik selama 30 detik. Bila aliran darah nihil (tekanan manset melebihi
tekanan sistolik) atau tanpa hambatan (tekanan bekam di bawah tekanan
diastolik), tekanan manset pada dasarnya konstan. Ketika aliran darah hadir,
tekanan yang dipantau oleh sensor tekanan, akan bervariasi secara berkala
seiring dengan ekspansi siklik dan kontraksi arteri brakialis, yaitu
akan berosilasi .
Selama periode pengempisan, gelombang tekanan yang direkam
membentuk sinyal yang dikenal sebagai kurva deflusi manset. Filter
bandpass digunakan untuk mengekstrak pulsa osometrik dari kurva deflusi
manset. Selama periode deflasi, pulsa osilasi yang diekstrak membentuk
sinyal yang dikenal sebagai bentuk gelombang osometri. Amplitudo pulsa
osometri meningkat secara maksimal dan kemudian berkurang dengan deflasi
lebih lanjut. Berbagai algoritma analisis dapat digunakan untuk
memperkirakan tekanan arteri sistolik, diastolik, dan rata-rata.
Tekanan sistol merupakan tekanan yang terjadi akibat dipompanya darah
keseluruh tubuh termasuk ke paru-paru. Bagian jantung yang memompa dara
26
keseluruh tubuh adalah bilik jantung. Sedangkan diastol merupakan keadaan
dimana bilik jantung mengalami relaksasi dan serambi akan mengalirkan
darah menuju bilik.

Tabel 3.1 Kategori Tekanan Darah


Kategori Sistolik, mmHg Diastolik, mmHg
Hipotensi <90 <60
90-119 60-79
Normal
90-129 60-84
Pra Hipertensi (tinggi 120-139 80-89
normal) 130-139 85-89
Hipertensi Stadium 1 140-159 90-99
Hipertensi Stadium 2 160-179 100-109
Urgensi Hipertensif 180 110
Hipertensi Sistolik
160 <90
Terisolasi

Tabel 3.2 Tekanan Darah Normal Berdasarkan Umur

Tahap Perkiraan usia Sistolik Diastolik

Bayi 1 sampai 12 bulan 75-100 50-70

Balita dan anak prasekolah 1 sampai 5 tahun 80-110 50-80

Usia sekolah 6 sampai 12 tahun 85-120 50-80

Remaja 13 sampai 18 tahun 95-140 60-90

27
III.2.3 Invasive Blood Pressure (IBP)
Tekanan darah arterial paling akurat diukur secara invasive melalui
jalur arteri . Pengukuran tekanan arteri invasive dengan kanula intravaskular
melibatkan pengukuran langsung tekanan arteri dengan menempatkan jarum
cannula di arteri (biasanya radial , femoralis , dorsalis pedis atau brakialis ).
Kanal harus dihubungkan ke sistem steril dan berisi cairan, yang
dihubungkan ke transduser tekanan elektronik. Keuntungan dari sistem ini
adalah tekanan terus dipantau beat-by-beat, dan bentuk gelombang (grafik
tekanan terhadap waktu) dapat ditampilkan. Teknik invasive ini secara teratur
digunakan dalam pengobatan perawatan intensif manusia dan kedokteran
hewan, anestesiologi , dan untuk tujuan penelitian.
Perumusan untuk pemantauan tekanan vaskular invasive jarang dikaitkan
dengan komplikasi seperti trombosis , infeksi , dan pendarahan . Pasien
dengan pemantauan arteri invasive memerlukan pengawasan yang sangat
ketat, karena ada bahaya pendarahan hebat jika salurannya terputus.
Monitor tekanan vaskular invasive adalah sistem pemantauan tekanan
yang dirancang untuk memperoleh informasi tekanan untuk tampilan dan
pemrosesan. Ada berbagai monitor tekanan vaskular invasive untuk
perawatan trauma, perawatan kritis, dan ruang operasi . Ini termasuk tekanan
tunggal, tekanan ganda, dan multi parameter (yaitu tekanan / suhu). Monitor
dapat digunakan untuk pengukuran dan tindak lanjut arteri, arteri sentral,
arteri pulmonalis, atrial kiri, atrium kanan, arteri femoralis, vena umbilikalis,
arteri umbilikalis, dan tekanan intrakranial.

III.2.4 Saturasi Oksigen Dalam Darah (IBP)


Pengertian Saturasi oksigen adalah presentasi hemoglobin yang
berikatan dengan oksigen dalam arteri, saturasi oksigen normal adalah antara
95 100 %. Dalam kedokteran , saturasi oksigen (SO2), sering disebut
sebagai "SATS", untuk mengukur persentase oksigen yang diikat oleh
hemoglobin di dalam aliran darah. Pada tekanan parsial oksigen yang rendah,
sebagian besar hemoglobin terdeoksigenasi, maksudnya adalah proses
pendistribusian darah beroksigen dari arteri ke jaringan tubuh ( Hidayat,
28
2007). Pada sekitar 90% (nilai bervariasi sesuai dengan konteks klinis)
saturasi oksigen meningkat menurut kurva disosiasi hemoglobin-oksigen dan
pendekatan 100% pada tekanan parsial oksigen> 10 kPa. Saturasi oksigen
atau oksigen terlarut (DO) adalah ukuran relatif dari jumlah oksigen yang
terlarut atau dibawa dalam media tertentu. Hal ini dapat diukur dengan probe
oksigen terlarut seperti sensor oksigen dalam media cair.
Pengukuran Saturasi Oksigen Pengukuran saturasi oksigen dapat
dilakukan dengan beberapa teknik. Penggunaan oksimetri nadi merupakan
tehnik yang efektif untuk memantau pasien terhadap perubahan saturasi
oksigen yang kecil atau mendadak (Tarwoto, 2006). Adapun cara pengukuran
saturasi oksigen antara lain :
a. Saturasi oksigen arteri (Sa O2) nilai di bawah 90% menunjukan keadaan
hipoksemia (yang juga dapat disebabkan oleh anemia ). Hipoksemia
karena SaO2 rendah ditandai dengan sianosis . Oksimetri nadi adalah
metode pemantauan Non invasive secara kontinyu terhadap saturasi
oksigen hemoglobin (SaO2). Meski oksimetri oksigen tidak bisa
menggantikan gas-gas darah arteri, oksimetri oksigen merupakan salah
satu cara efektif untuk memantau pasien terhadap perubahan saturasi
oksigen yang kecil dan mendadak. Oksimetri nadi digunakan dalam
banyak lingkungan, termasuk unit perawatan kritis, unit keperawatan
umum, dan pada area diagnostik dan pengobatan ketika diperlukan
pemantauan saturasi oksigen selama prosedur.
b. Saturasi oksigen vena (Sv O2) diukur untuk melihat berapa banyak
mengkonsumsi oksigen tubuh. Dalam perawatan klinis, Sv O2 di bawah
60%, menunjukkan bahwa tubuh adalah dalam kekurangan oksigen.
Pengukuran ini sering digunakan pengobatan dengan mesin jantung-paru
(Extracorporeal Sirkulasi), dan dapat memberikan gambaran tentang
berapa banyak aliran darah pasien yang diperlukan agar tetap sehat.
c. Tissue oksigen saturasi (St O2) dapat diukur dengan spektroskopi
inframerah dekat . Tissue oksigen saturasi memberikan gambaran tentang
oksigenasi jaringan dalam berbagai kondisi.

29
d. Saturasi oksigen perifer (Sp O2) adalah estimasi dari tingkat kejenuhan
oksigen yang biasanya diukur dengan oksimeter pulsa.
Pemantauan saturasi O2 yang sering adalah dengan menggunakan
oksimetri nadi yang secara luas dinilai sebagai salah satu kemajuan terbesar
dalam pemantauan klinis (Giuliano & Higgins, 2005). Alat ini merupakan
metode langsung yang dapat dilakukan di sisi tempat tidur, bersifat sederhana
dan Non Invasive untuk mengukur saturasi O2 arterial (Astowo, 2005 ).
Alat yang digunakan dan tempat pengukuran Alat yang digunakan adalah
oksimetri nadi yang terdiri dari dua diode pengemisi cahaya (satu cahaya
merah dan satu cahaya inframerah) pada satu sisi probe, kedua diode ini
mentransmisikan cahaya merah dan inframerah melewati pembuluh darah,
biasanya pada ujung jari atau daun telinga, menuju fotodetektor pada sisi lain
dari probe (Welch, 2005).
Pulse oximetri memiliki 2 jenis, yaitu transmittance dan reflectance.
Transmittance pulse oximeter lebih banyak digunakan dibandingkan
reflectance. Keduanya memiliki cara kerja yang sama, yaitu sama-sama
memancarkan sinar pada gelombang tertentu oleh LED yang kemudian akan
dipantulkan dalam panjang gelombang tertentu oleh darah, dan mendeteksi
gelombang pantulan tersebut. Yang berbeda dari 2jenis ini adalah letak
detektor gelombang sinar pantul.
Pada jenis transmittance, detektor berada di seberang dari sinar LED
sehingga gelombang yang dikeluarkan LED akan menembus darah lalu
baru memantul ke detektor, sementara pada pulse oximeter reflectance, sinar
LED berada pada sisi yang sama dengan detektor sehingga gelombang yang
dikeluarkan LED akan diserap darah dan dipantulkan ke detektor. Agar
mudah dipahami di bawah ini gambar ilustrasinya.

30
Gambar 3.3 Ilustrasi Perbedaan Transimittance dan Reflectance
Karena letak detektor yang berbeda, maka aplikasi oximeter
transmittance dan reflectance pasti berbeda. Misalnya, jenis transmittance
biasa diselipkan pada jari atau ujung telinga, sementara jenis reflectan
digunakan di area yang lebih tebal seperti dada atau dahi.
Faktor yang mempengaruhi bacaan saturasi disebabkan beberapa faktor
antara lain :
a. Hemoglobin (Hb) Jika Hb tersaturasi penuh dengan O2 walaupun nilai
Hb rendah maka akan menunjukkan nilai normalnya. Misalnya pada
klien dengan anemia memungkinkan nilai SpO2 dalam batas normal.
b. Sirkulasi Oksimetri tidak akan memberikan bacaan yang akurat jika area
yang di bawah sensor mengalami gangguan sirkulasi.
c. Aktivitas Menggigil atau pergerakan yang berlebihan pada area sensor
dapat menggangu pembacaan SpO2 yang akurat

III.2.5 End-tidal Carbon Dioxide (EtCO2)


ETCO2 adalah tekanan parsial atau konsentrasi maksimal karbon
dioksida (CO2) pada akhir nafas yang dikeluarkan, yang dinyatakan sebagai
persentase CO2 atau mmHg. Nilai normalnya adalah 5% sampai 6% CO2,
yang setara dengan 35-45 mmHg. CO2 mencerminkan curah jantung (CO)
dan aliran darah pulmonal saat gas diangkut oleh sistem vena ke sisi kanan
jantung dan kemudian dipompa ke paru-paru oleh ventrikel kanan. Ketika
CO2 berdifusi keluar dari paru-paru ke udara yang dihembuskan, sebuah alat
yang disebut capnometer mengukur tekanan parsial atau konsentrasi CO2

31
maksimal pada akhir penghembusan. Selama CPR, jum atau usaha untuk
mengembalikan pernafasan, CO2 yang diekskresikan oleh paru-paru
sebanding dengan jumlah aliran darah pulmonal atau peredaran darah kecil.

III.3 Data Alat dan Blok Diagram


III.3.1 Spesifikasi Alat
Tabel 3.3 Spesifikasi Alat Patient Monitor OMNI III
Aplikasi Neonatal, Pediatric dan Pasien Dewasa
15 inci colour touch
Display
screen
Trace 8 bentuk gelombang
Indikator alarm
Indikator power
Indicator
QRS beep dan suara
alarm
Spesifikasi Dasar Trend Time 1 72 jam
Built-in, thermal array,
3 saluran
Lebar Perekaman :
Recorder 48mm
Kertas Perekam : 50mm
Kecepatan Perekaman :
25mm/s, 50mm/s
5-lead kabel ECG dan
Input
jalur standard AAMI
I, II, III, aVR, aVF,
Pemilihan Lead
aVL, V, V1-V6, TEST
ECG
Pemilihan Penguatan x0.5, x1, x2, x4
Karakteristik Frekuensi 0.05 ~ 35 HZ (+3dB)
Bentuk Gelombang
7 channels
ECG

32
Tegangan Penetrasi 4000VAC 50/60Hz
12.5, 25, 50 and 100
Sweep Speed mm/sec (Dari kanan ke
kiri dan sebaliknya)
HR Display Range 30 ~ 300 bpm
Akurasi 1bpm atau 1%,
upper limit 100 ~
Alarm Limit Range 200bpm,
Setting lower limit 30 ~
100bpm
Metode Perhitungan Impedasi RA-LL
Range 0 ~ 120 rpm
Akurasi 3 rpm
upper limit 6 ~ 120 rpm,
RESP Alarm Limit Setting
lower limit 3 ~ 120 rpm
12.5, 25, 50 and 100
Sweep Speed mm/sec (Dari kanan ke
kiri dan sebaliknya)
automatic oscillating
Teknologi Pengukuran
measurement
<30s (0 ~ 300 mmHg,
Cuff Inflating
standard adult cuff)
Measuring Periode AVE<40s
Mode Manual dan Auto
NIBP Measuring Interval in
2 menit 4 jam
AUTO Mode
Pulse Rate Range 30 250 (bpm)
Range Pengukuran pada
SYS: 40 ~ 250 (mmHg)
mode dewasa dan
DIA :15 ~ 200 (mmHg)
pediatric
Range Pengukuran pada SYS: 40 ~ 135 (mmHg)

33
mode neonatal DIA : 15 ~ 100 (mmHg)
Rata-rata error
5mmHg
mkasimum
Standar deviasi
8mmHg
maksimum
Resolution 1mmHg
Adult Mode: 300
OverPressure Protection (mmHg) Neonatal
Mode: 160 (mmHg)
SYS: 50 ~ 240 mmHg
Alarm Limit Setting
DIA: 15 ~ 180 mmHg
Range 25 ~ 50 (C)
0.2C (25.0 ~ 34.9C)
0.1C (35.0 ~ 39.9C)
Akurasi
0.2C (40.0 ~ 44.9C)
TEMP 0.3C (45.0 ~ 50.0C)
Display resolution 0.1C
upper limit 0 ~ 50C,
Alarm Limit Setting
lower limit 0 ~ 50C
Saluran 2 channels
Measurement Range -50 ~ 300mmHg
Saluran 2 channels
sensitivity,
Pressure Transducer
5V/V/mmHg
Impedance Range 300 ~ 3000
IBP ART, PA,CVP, RAP,
Transducer Sites
LAP, ICP
Unit mmHg/kPa selectable
Resolution 1mmHg
Akurasi 1mmHg or 2%
Alarm Range -10 ~ 300mmHg

34
CO2 Measurement
0 ~ 99mmHg
Range
2mmHg (0 ~
38mmHg) 39-
99mmHg 5% of
Akurasi
reading +0.08% for
every 1mmHg (above
EtCO2 38mmHg)
Sampling Rate 50ml/min
30 seconds (typical),
reaches 5% steady-
Initialization Time
state accuracy within 3
minutes
Respiration Rate 0 ~ 150 breaths/min
Mode Dewasa dan Neonatal
Measurement Method Thermodilution Method
C.O. 0.1 to 20 L/min
Measurement Range TB 23 to 43
TI 0 to 27
C.O. 0.1 L/min
Resolution
C.O. (Cardiac Output) TB, TI 0.1
C.O. 5% or 0.1 L/min
Akurasi TB, TI 0.1 (without
sensor)
Alarm Range TB 23 to 43
Repeatability C.O. 2% or 0.1 L/min
Method Infrared Absorption
Halothane, Isoflurane,
Anesthetic Agents Enflurane,
Gas Sorts
Sevoflurane,
Desflurane, CO2, N2O,

35
O2 (optional Automatic
Agent ID)
Halothane, Isoflurane: 0
~ 8.5%
Enflurane, Sevoflurane:
0 ~ 10%
Meausurement Range
Desflurane: 0 ~ 20%
CO2: 0 ~ 10%
N2O: 0 ~ 100%
O2: 0 ~ 100%
Halothane, Isoflurane,
Enflurane, Sevoflurane,
Desflurane: (0.15
Vol% + 15% rel.)
Bias CO2: (0.5 Vol% +
12% rel.)
N2O: (2 Vol% + 8%
rel.)
O2: 3 Vol%
Networking Industry standard 802.11b/g wireless network
External AC power or
Source
internal battery
100 ~ 240VAC,
AC Power
Power 50/60Hz, 150VA
Built-in & rechargeable
Battery
lithium ion
Operating Time 3+ hours
Operating: 5 ~ 40 C
Temperature
Storage: -20 ~ 65 C
Spesifikasi Lingkungan
Operating: 80 %
Humidity range
Storage: 80 %

36
OxyCRG, drug dose calculation, cascading ECG,
Fitur Standar Lainnya On screen NIPB trends (up to 250 readings), user
set defaults, Arrhythmia detection, ST segment

III.3.2 Bagian-Bagian Bedside OMNI III

Gambar 3.4 Bagian-Bagian Patient Monitor OMNI III

1. Alarm Indicator-lamp Cover


2. Front Case Assembly
3. Silicon Standby Button
4. Touchscreen
5. Keyboard
6. Fix Board for TFT Screen
7. Mainboard
8. Fix Chassis for Modules
9. AC/DC Module

37
10. DC/DC Module
11. NIBP Module
12. Thermal Recorder
13. Recorder Cover
14. Rear Case
15. ETCO2 Module
16. ETCO2 Socket
17. ETCO2 Cover
18. Shield for Side Panel
19. Side Panel Bracket
20. Speaker
21. Fan

III.3.2.1 Panel Depan OMNI

Gambar 3.5 Sisi Depan Patient Monitor OMNI III

1. Alarm Indicator
Pada mode normal tidak ada indikator nyala sedangkan pada mode
alarm lampu akan menyala berkedip.
2. Power Switch
Tombol ini digunakan untuk menyalakan monitor juga berfungsi untuk
mematikan monitor. Monitor akan melakukan charge saat kabel AC

38
terhubung dengan monitor dan juga tetap charge meskipun monitor
tidak dalam keadaan menyala.
3. DC ON
Indikator ini menandakan monitor menggunakan daya dari baterai.
4. AC ON
Indikator ini menandakan monitor menggunakan daya dari tegangan
AC.
III.3.2.2 Sisi Kiri OMNI

Gambar 3.6 Sisi Kiri Patient Monitor OMNI III

1. Soket sensor AG/EtCO2 (optional)


2. Soket sensor SPO2
3. Saluran 1 tekanan darah Invasive (optional)
4. Saluran 2 tekanan darah Invasive (optional)
5. Soket tekanan darah Non Invasive
6. Soket probe suhu saluran 1
7. Soket probe suhu saluran 2
8. Konektor ECG tipe AAMI

39
III.3.2.3 Sisi Kanan OMNI

Gambar 3.7 Sisi Kanan Patient Monitor OMNI III


Pada sisi kanan Patient monitor OMNI hanya terdapat printer yang bersifat
optional.
III.3.2.4 Panel Belakang OMNI

Gambar 3.8 Sisi Belakang Patient Monitor OMNI III

1. AC Input
Koneksi tegangan AC digunakan ketika kabel listrik AC tersambung
dengan konektor. Fuse yang digunakan harus sesuai spesifikasi atau
sama dengan fuse rating.
2. Equipotentiality Ground
Memperbaiki loop grounding dan beberapa masalah
3. Perangkat konektor VGA
4. Ethernet Interface
Koneksi RJ45 digunakan untuk menghubungkan patient monitor dan
sentral monitor. Koneksi ini juga dapat digunakan untuk mengupgrade
sistem.
5. RS-232 I/O

40
Konektor interface digital menyediakan rerial data perangkat RS-232,
serta dapat digunakan untuk komunikasi interface atau upgrade sistem.
III.3.2.5 Display OMNI

Gambar 3.9 Display Patient Monitor OMNI III

III.3.3 Blok Diagram Sistem

Gambar 3.10 Blok Diagram Sistem Patient Monitor OMNI III

41
III.3.3.1 Blok Diagram Power

Gambar 3.11 Blok Diagram Power Patient Monitor OMNI III

Pada bagian blok sistem power terdapat power supply yang mampu
mengoperasikan monitor dan pengisian baterai yang keduanya
membutuhkan tegangan AC dari 100 sampai 240 volt pada frekuensi 50-
60Hz atau dengan tegangan DC sebesar 16.7 Volt. Pada bagian ini terdapat
baterai, sirkuit baterai patient monitor dan circuit pengisian baterai.
Baterai ini akan menyediakan daya untuk patient monitor. Output dari
sistem power ini antara lain 5 Volt DC, 8.3 Volt DC dan 12 Volt DC.

42
III.3.3.2 Blok Diagram Mainboard

Gambar 3.12 Blok Diagram Mainboard Patient Monitor OMNI III

Kontrol utama dari patient monitor OMNI ini mengadopsi 32-bit 96


Mhz ARM9E sebagai MCU mikrokontroler dasar dan FPGA (Field
Programmable Gate Array). Didesain dengan berbagai modul yang
komunikasinya menggunakan serial UART(Universal Asincronus
Receiver/Trasmitter)
Sebuah mikrokontroler mempunyai fungsi lengkap untuk
memanajemen modul-modul dalam bedside OMNI seperti mengatur
fungsi User Interface, data input output, sistem aplikasi software serta
port-port.

43
III.3.3.3 Blok ECG Processing

Gambar 3.13 Blok Diagram ECG Patient Monitor OMNI III

Modul ERT(ECG, RESP, TEMP, SPO2) pada OMNI terdiri dari 8 blok
besar yaitu interface circuit, ECG, respirasi, temperature, kontrol, isolasi
dan A/D koverter pada sisi yang tidak terisolasi. Instrument pada alat ini
menggabungkan standar ECG 3 lead atau 5 lead (I, II, III). Instrumen ini
menyediakan 2 level filter noise frekuensi rendah, T-wave filter, deteksi R-
wave, dan deteksi pacer. Singkatan dari RA, LA, dan LL yaitu right arm,
left arm dan left leg sedangkan I, II, III adalah perbedaan potensial yang
diciptakan oleh masing-masing limb (RA, LA dan LL).
Teknik yang digunakan untuk menyadap ECG dengan mengukur
perbedaan potensial antara dua buah titik pada permukaan kulit yang
merespon dari aktivitas kimia suatu otot dari jantung. 3 elektroda terkait
pada pasien yaitu right arm (RA), left arm (LA) dan left leg (LL).
Perbedaan potensial pada lokasi tersebut tersambung dengan kabel ke
input sirkuit ECG yang mana ketiganya terkondisikan dan perbedaan
44
potensial antara kedua lead telah didigitalisai sebelum transmisi melewati
opto-isolator pada suatu prosesor. Prosesor tersebut telah terpasang suatu
algoritma untuk mengembangkan driver sinyal sebuah display grafik dan
dapat dihitung nilai beat per minutes(bpm).

III.3.3.4 Blok Respiration Processing

Gambar 3.14 Blok Diagram Respirasi ECG Patient Monitor OMNI III

Respirasi pasien pada respirasi prosesing diketahui dengan adanya nilai


RA dan LL dari 3 lead yang ada pada Elektroda ECG. Rangsangan sinyal
yang rendah tercipta pada lead tersebut dan variasi pada impedansi di dada
menyebabkan tarikan nafas teraba dan kemudian diproses untuk di
tampilkan serta diukur.

III.3.3.5 Blok Temperature Processing

Gambar 3.15 Blok Diagram Suhu ECG Patient Monitor OMNI III

Pengukuran suhu pasien dilakukan dengan cara memproses sinyal dari


probe yang mengandung resistor yang impedansinya tergantung suhu.
Komponen tersebut biasanya disebut sebagai thermistor. Patient monitor
merek OMNI ini didesain untuk menerima sinyal dari listrik yang
terisolasi probe seri YSI pabrikan Yellow Spring Incorporated. Probe yang
dapat dipertukarkan pada seri ini dapat digunakan untuk esophagus, dubur,
permukaan kulit atau pengukuran suhu pernafasan. Sinyal yang berasal

45
dari probe akan dikondisikan oleh sirkuit input monitor, diproses dan
digunakan untuk driver tampilan angka pada monitor.

III.3.3.6 Blok NIBP Processing

. Gambar 3.16 Blok Diagram NIBP ECG Patient Monitor OMNI III

Tekanan sistol ditetapkan sebagai titik yang mana pompaan menambah


secara tajam. Saat manset mengempis, amplitudo gelombang akan
meningkat maksimum dan kemudian berkurang. Titik puncak gelombang
menandakan tekanan arteri sedangkan titik yang mana gelombang berhenti
menandakan tekan diastol.

Gambar 3.17 Grafik Pengambilan Nilai Sistol Dan Diastol

46
III.3.3.7 Blok SPO2 Processing

Gambar 3.18 Blok Diagram SPO2 ECG Patient Monitor OMNI III

Bedside OMNI ini mempunyai modul pengukuran saturasi oksigen


dalam darah menggunakan teknik Non Invasive pulse oximetry. Bagian
SpO2 ini merupakan mini sistem yang terpisah dan mempunyai bagian
data analog sendiri, A/D converter dan mikroprosesor.
Oximeter ini menyatakan pengukuran dalam bentuk %SpO2 dan jumlah
pulse dengen melewatkan dua panjang gelombang cahaya. Cahaya merah
(660nm, 2.0mW) dan cahaya inframerah (905nm, 2.0-2.4mW), melewati
jaringan tisue tubuh dan masuk menuju photo detector.
Saat pengukuran, kekuatan sinyal merupakan hasil dari kedua sumber
cahaya tergantung warna dan ketebalan dari jaringan tisue, peletakan
sensor, intensitas dari sumber cahaya, dan penyerapan pembuluh darah
arteri dan vena (termasuk waktu akan memberikan efek pada pulsa) pada
jaringa tisue tubuh. Oximeter memproses sinyal tersebut , memisahkan
dari parameter yang tidak berubah dari waktu kewaktu (ketebalan jaringan
tisue, warna kulit, intensitas cahaya dan pembuluh darah vena) dari
parameter yang berubah dari waktu kewaktu (volume arteri dan kadar
SpO2) untuk mengidentifikasi jumlah pulsa dan mengkalkulasi saturasi
oksigen. Kalkulasi saturasi oksigen dapat dilakukan karena saturasi
oksigen dalam darah dapat diprediksi menyerap cahaya merah lebih sedikit
daripada oxigen pada darah.

47
III.3.3.8 Display
Pada alat ini display menggunakan modul color active LCD yang
diproduksi oleh amorphous silicon berjenis TFT (Thin Film Transistor).
LCD ini terdiri dari IC TFL-LCD panel color, control circuit, power
supply circuit dan backlight atau lampu latar. Grafik dan teks dapat
ditampilkan pada display berukuran 800 x 480 dots panel dengan 262,144
ragam warna yang menggunakan teknologi LVDS (Low Voltage
Differential Signaling) untuk interface dan disupply tegangan 3.3 volt dc.
Sedangkan tegangan 5 volt dc digunakan untuk driver TFT-LCD panel dan
juga untuk LCD backlight. TFT-LCD panel yang digunakan pada
perangkat OMNI III menggunakan tipe refleksi rendah dan saturasi tinggi.
Modul ini juga menggunakan tipe display dengan sudup pandang yang
lebar dan brightness yang tinggi (370cd/m2).

III.3.3.9 Keyboard (Switch)


Pada sirkuit keyboard terdapat panel kontrol sentuhan dan dua LEDs
(idikator tegangan AC adan DC). Kedua led tersebut di driver oleh sistem
power supply. Saklar power terhubung langsung ke rangkaian power
supply. Tuas power berada diantara Standby dan mode ON. Saat pada
mode standby display akan blank dan blok rangkaian manapun pada
bedside tidak akan bekerja. Dan juga, baterai akan terisi jika tegangan AC
terhubung ke panel belakang.

III.3.3.10 Touch Panel


Panel sentuh ini memiliki 4 kabel analog panel sentuhan resistif. Untuk
pengoperasian normal 1.000.000 ~ 2.000.000 kali sentuhan. Panel
sentuhan ini transparan lebih dari 76% dan panel ini sedikit lebih jelas
meskipun dengan monitor yang mempunyai kemampuan brightness
rendah. Pengoperasian dapat menggunakan stylus plastik atau
menggunakan jari. Benda tajam atau benda keras sebaiknya dihindari.
Adanya embun di dalam panel mungkin akan terjadi bersama perubahan
48
suhu secara mendadak dan perubahan kelembapan. Oleh sebab itu
disarankan menggunakan kondisi ruangan yang stabil.
Panel sentuh ini memiliki lapisan belakang yang konduktif (ITO glass
atau film) dan lapisan depan konduktif (ITO film). Kedua lapisan tersebut
dipisahkan dengan jarak yang kecil. Ketika titik tertentu tersentuh, lapisan
depan akan kontak dengan lapisan belakang dan tegangan berubah oleh
kontrol yang diterapkan di elektroda lapisan belakang.

III.3.3.11 Speaker
Speaker ini mampu menyediakan volume 73 dBA pada jarak 1 meter.
Prosesor mengendalikan speaker dalam berbagai pola sesuai kondisi dan
prioritas alarm.

III.3.3.12 Recorder

Gambar 3.19 Blok Diagram Recorder ECG Patient Monitor OMNI III

Modul recorder pada alat ini bersifat optional dan dapat dipasang di sisi
kanan monitor. Alat ini menyediakan user dengan kemampuan untuk
memperoleh hard copy dari tanda vital yang dipilih. Kontrol umum dari
recorder diimplementasikan oleh dua push button di panel depan recorder.
Salah satunya digunakan untuk mendapatkan perekaman kontinyu dari
bentuk gelombang real time tertampil dalam dua frame grafik. Recorder
akan mencetak nilai yang akan tampil sebagai tanda vital pada display.

49
Perekaman menggunakan lebar kertas 50mm dan kecepatan mencapai
50mm/s.

III.4 Pengoperasian
III.4.1 Pengoperasian ECG
Pemasangan Elektroda ECG :
1. Cek elektroda dan kabel pastikan semua telah ada.
2. Pasang elektroda pada kabel dan hubungkan pada setiap lead.
3. Pasang elektroda pada pasien pastikan aman saat menyentuh kulit.
4. Perhatikan kulit tempat setiap elektroda terpasang setiap 24 jam. Jika
kulit menjadi sudah kotor, lepas elektroda dan pindahkan pada bagian
kulit yang lain.

Berikut pemasangan elektroda 5 lead

Gambar 3.20 Pemasangan Elektroda 5 Lead Patient Monitor OMNI III

Putih (RA), terletak dekat bahu kanan. Tepat dibawah tulang klavikula.
Hitam (LA), terletak dekat bahu kiri. Tepat dibawah tulang klavikula.
Hijau (Referensi), terletak di kanan hipogastria.
Merah (LL), terletak di kiri hipogastria.
Cokelat(Chest), terletak pada dada.

ECG 12 lead menggunakan 10 elektroda, yang mana 4 elektroda diletakkan


pada anggota gerak atau limb sedangkan 6 elektroda lainnya diletakkan di
dada. Untuk elektroda yang ada di anggota gerak ditempatkan pada daerah
ekstrimitas dan elektroda pada dada ditempatkan pada sesuai referensi fisik.

50
Gambar 3.21 Pemasangan Elektroda 12 Lead ECG Patient Monitor OMNI III
Menu yang bisa dipilih pada ECG seperti gambar dibawah ini

Gambar 3.22 Menu ECG Setup

51
1. Alarm Switch
Pemilihan ON atau OFF. Setelan pabrik ON. Jika nilai HR diatas atau
dibawah batas alarm HR, ketika dipilih ON, alar akan aktif. Jika dipilih
OFF maka indikator alarm tidak akan menyala.
2. HR Alarm High
Batas atas nilai HR ada pada rentang 80 ~ 400 bpm. Pada setelan pabrik
sebesar 130 bpm. Satu kali klik pada kontrol mengakibatkan kenaikan
atau penurunan 5 bpm.
3. HR Alarm Low
Batas bawah nilai HR ada pada rentang 20 ~ 150 bpm. Pada setelan
pabrik sebesar 50 bpm. Satu kali klik pada kontrol mengakibatkan
kenaikan atau penurunan 5 bpm.
pabrik adalah x1.0.
4. ECG Lead
Ketika menggunakan 5 lead dan 12 lead , tidak akan ada pilihan.
Namun saat menggunakan 3 lead akan ada pilihan Lead I, II dan III.
5. ECG Gain
Operator bisa memilih nilai dari penguatan x0.25, x0.5, x1.0 dan x2.0.
Nilai gain akan mempengaruhi nilai penguatan bentuk sinyal. Setelan
pabrik adalah x1.0. Ketika mode 10 bentuk sinyal ditampilkan maka
pilahn penguatan x2.0 tidak ada.
6. ECG Filter
ECG filter dapat diatur sesuai dalam mode yang ditentukan. Yaitu mode
surgery, monitor atau diagnose. Setelan pabrik adalah monitor
Monitor : Digunakan saat pengukuran kondisi normal
Diagnose : Digunakan ketika kualitas diagnosa diperlukan. Sinyal
ECG yang tidak terfilter akan mempunai gelombang R yang
terpotong atau kelainan ST segment bisa terlalu rendah ataupun
tinggi akan terlihat.
Surgery : Digunakan ketika sinyal mengalami distorsi oleh
frekuensi tinggi atau rendah yang dapat menginterferensi.

52
Frekuensi tinggi akan menginterferensi biasanya menghasilkan
amplitudo yang besar serta membuat sinyal ECG terlihat tidak
beraturan. Frekuensi rendah juga akan menginterferensi setiap lead
pada baseline yang buruk. Pada kamar operasi, surgery filter
melemahkan artifacts dan interferensi dari Electrosurgical unit.
Pada kondisi yang normal pemilihan surgery filter akan menekan
menekan QRS complexes dan kemudian interferensi dengan ECG.
7. ECG Notch
Notch filter akan menghilangkan interferensi frekuensi dari jala-jala
listrik. Ketika mode surgery filter dan monitor filter diaktifkan maka
fitur notch filter akan selalu menyala. Hanya pada mode diagnose filter
kita dapat mengatur nocth filter sebesar 50 Hz atau 60 Hz. Tergantung
frekuensi jala-jala listrik. Setelan pabrik adalah 50 Hz.
8. Lead Type
Tipe lead terdapa 3 pilihan yaitu 3 lead, 5 lead dan 12 lead. Pabrikan
mempunyai setelan 5 lead.
9. ECG Cascade
Pada menu ini bila berada pada keadaan ON maka sinyal ECG akan
mengambil 2 channel. Ketika channel pertama telah selesai maka
selanjutnya channel kedua. Pada mode cascade gelombang akan
berjalan dari kiri ke kanan. Setelah umum adalah OFF.
10. Sweep Speed
Pilahan dimulai dari 12.5mm/s, 25.0mm/s, 50mm/s sampai 100mm/s.
Sedangkan setelan pabrik adalah 25.0mm/s.
11. Sweep Color
Warna gelombang terdapat berbagai pilihan dari putih, abu-abu, kuning,
cyan, biru dan magenta. Warna setelan pabrik adalah hijau.
12. Pacemaker Detection
Ketika pacemaker detection diaktifkan, maka akan dibuat pulse maker.
13. ECG Test
Digunakan hanya oleh teknisi
14. ECG Verify
53
Digunakan hanya oleh teknisi
15. ST-Segment Analyses
ST-segment analyses menghitung nilai elevation atau depression
segmen gelombang ST untuk setiap lead dan kemudian
menampilkannya dengan angka pada area parameter ECG. Nilai positif
mengindikasikan segmen gelombang ST mengalami elevasi. Sedangkan
bernilai negatif mengindikasikan segment gelombang ST mengalami
depresiasi. Hal ini tidak dimaksudkan untuk pasien neonatal.
16. ST Alarm Switch
Setelan pabrik adalah OFF. Alarm akan terpicu ketika pengukuran
segmen ST melebihi batas alarm. Jika alarm segmen ST ini menyala,
maka nilai segmen ST akan berkedip, suara alarm akan terdengar,
lampu alarm akan menyala dan tabel informasi akan memberitahu
bahwa telah ada ST Higher atau ST Lower.
17. ST Alarm Limit
Tetapkan batas atas dan batas bawah alarm segmen ST secara terpisah.
Rangenya adalah -2 ~ 2 mV. Setelan awal pada batas atas adalah +0.30
mV dan setelan awal pada batas bawah adalah -0.30 mV. Setiap
perintah pada kontrol memberikan perubahan 0.02 mV.
18. ST Analysis Switch
Setelan dasar yang digunakan adalah OFF. Hanya dengan posisi ON
kita dapat mengoperasikan ST Segment monitoring. Sementara itu,
grafik tren atau tabel tren dapat dibuka dengan menekan tombol tren
pada layar.
19. ST Adjust (ISO Base Point & ST Measurement)
ISO Base Point
Atur nilai base point dengan rentang -508ms ~ -4ms, setelan dasar
adalah -80ms. Ini akan menampilkan titik acuan berada 80ms sebelum
puncak pulsa R.
ST Measurement

54
Atur nilai titik pengukuran dalam rangan antara +8ms ~ +508ms.
Setelan dasar adalah +108ms. Ini akan menampilkan posisi titik acuan
108ms setelah puncak pulsa R.
20. Arrhytmia Analysis
Terdiri dari Arr analysis, source, pvc monitor pvc alarm count, arr
relearn dan arr alarm setup.

III.4.2 Pengoperasian Respirasi


Pengaplikasian elektroda untuk monitoring respirasi diukur dari
impedansi toraks antara 2 elektroda ECG. Perubahan dari impedansi antara
2 buah elektroda (disebabkan pergerakan toraks), akan menghasilkan bentuk
gelombang pada display.Untuk monitoring respirasi tidak diperlukan
tambahan elektroda. Penempatan elektroda yang baik sangat penting.
Beberapa pasien, karena kondisi kesehatan, mereka melebarkan dada secara
lateral, disebabkan tekanan negatif pada intrathoracic. Pada kondisi ini
lebih baik bila elektroda ditempatkan secara lateral pada ketiak kanan dan
rusuk atau lateral kiri untuk perubahan titik maksimum tarikan nafas untuk
mengoptimalkan bentuk gelombang respirasi. Untuk peletakan sensor untuk
respirasi sama dengan peletakan dan instalasi pada ECG.

Gambar 3.23 Elekroda Respirasi

55
Gambar 3.24 Menu Respirasi Setup ECG Patient Monitor OMNI III

1. Alarm Switch
Pemilihan ON atau OFF. Setelan pabrik ON. Jika nilai RESP diatas atau
dibawah batas alarm RESP, ketika dipilih ON, alar akan aktif. Jika dipilih
OFF maka indikator alarm tidak akan menyala.
2. Resp Alarm High
Batas atas nilai RESP ada pada rentang 8 ~ 120 bpm. Pada setelan pabrik
sebesar 30 bpm. Satu kali klik pada kontrol mengakibatkan kenaikan atau
penurunan 1 bpm.
3. Resp Alarm Low
Batas bawah nilai RESP ada pada rentang 6 ~ 100 bpm. Pada setelan pabrik
sebesar 8 bpm. Satu kali klik pada kontrol mengakibatkan kenaikan atau
penurunan 1 bpm.
4. Resp Gain
Operator bisa memilih nilai dari penguatan x0.25, x0.5, x1.0 dan x2.0. Nilai
gain akan mempengaruhi nilai penguatan bentuk sinyal. Setelan pabrik
adalah x1.0.
5. Sweep Speed
Pilahan dimulai dari 6.25mm/s, 12.5mm/s, sampai 25.0mm/s. Sedangkan
setelan pabrik adalah 6.25mm/s.
6. Sweep Color
Warna gelombang terdapat berbagai pilihan dari putih, abu-abu, kuning,
cyan, biru dan magenta. Warna setelan pabrik adalah cyan.

56
7. Display
Pilih ON untuk menampilkan monitoring respirasi pada display. Sedangkan
OFF akan menghilangkan monitoring respirasi dari display.

III.4.3 Pengoperasian SPO2


Pengoperasian SPO2 sebagai berikut :
1. Pasang konektor SPO2 pada soket OMNI yang terletak di sisi kiri.
Pastikan bagian yang menonjol mengarah pada cekukan dari soket, jika
tdak pengukuran tidak akan benar dan konektor sensor akan rusak.
2. Gunakan finger-probe pada jari, pastikan kuku jari menghadap sesuai
dengan probe.

Gambar 3.25 Menu SPO2 Setup ECG Patient Monitor OMNI III

Berikut adalah pilihan menu yang tersedia untuk parameter SPO2 :


1. Alarm Switch
Pemilihan ON atau OFF. Setelan pabrik ON. Jika nilai RESP diatas
atau dibawah batas alarm RESP, ketika dipilih ON, alar akan aktif.
Jika dipilih OFF maka indikator alarm tidak akan menyala.
2. SPO2 Alarm High
Batas atas nilai SPO2 ada pada rentang 50 ~ 99 %. Pada setelan pabrik
sebesar 99%. Satu kali klik pada kontrol mengakibatkan kenaikan atau
penurunan 1 %.
3. SPO2 Alarm Low

57
Batas bawah nilai RESP ada pada rentang 50 ~ 99 %.. Pada setelan
pabrik sebesar 85%. Satu kali klik pada kontrol mengakibatkan
kenaikan atau penurunan 1 %.
pabrik adalah x1.0.
4. Sweep Speed
Pilahan dimulai dari 12.5mm/s sampai 25.0mm/s. Sedangkan setelan
pabrik adalah 12.5mm/s.
5. Sweep Color
Warna gelombang terdapat berbagai pilihan dari putih, abu-abu,
kuning, cyan, biru dan magenta. Warna setelan pabrik adalah biru.
6. SpO2 Factory Setup
Untuk mengembalikan pada setelan pabrik pilih menu ini dan
masukkan password .

III.4.4 Pengoperasian NIBP


Untuk pengoperasian NIBP maka langkah-langkahnya sebagai berikut :
1. Lebar manset direkomendasikan oleh AMERICA HEART SOCIETY
adalah 40% lingkar lengan atas atau 2/3 dari lebar lengan atas.
2. Memasang manset pengukuran tekanan darah pada lengan pasien :
Pastikan manset telah benar-benar mengempis.
Gunakan manset yang sesuai pada pasien, dan pastikan letak
simbol tepat pada arteri.
3. Pastikan manset tidak terlipat.
4. Pasang lubang udara ke soket NIBP pada sisi kiri paneldari monito.
Tekan spring lock ketika memasang atau melepas untuk menghindari
ketidak akuratan pengukuran dan merusak konektor.
Berikut adalah pilihan menu pada NIBP :

58
Gambar 3.26 Menu NIBP Setup ECG Patient Monitor OMNI III
1. Alarm Switch
Pemilihan ON atau OFF. Setelan pabrik ON. Jika nilai NIBP diatas
atau dibawah batas alarm NIBP, ketika dipilih ON, alar akan aktif.
Jika dipilih OFF maka indikator alarm tidak akan menyala.
2. Pressure Unit
Pemilihan satuan tekanan yaitu mmHg dan kPa. Setelan awal adalah
mmHg.
3. Patient Type (Adult, Pediatric & Neonatal)
Adult
Untuk inisialisasi pengukuran, beri tekanan pada manset sampai 180
mmHg. Jika nilai NIBP tidak dapat diukur, kemudian tambah tekanan
sebesar 50 mmHg. Nilai maksimum tekan manset tidak dapat melebihi
280 mmHg. Tekanan konstan mempunyai rentang antara 50 280
mmHg.
Pediatric & Neonatal
Untuk inisialisasi pengukuran, beri tekanan pada manset sampai 60
mmHg. Jika nilai NIBP tidak dapat diukur, kemudian tambah tekanan
sebesar 30 mmHg. Nilai maksimum tekan manset tidak dapat melebihi
150 mmHg. Tekanan konstan mempunyai rentang antara 50 1500
mmHg.
4. Inflation Type
Terdapad pilihan Manual, Auto dan Stat.
5. Manual Mode

59
Tekan START/STOP untuk mulai memompa. Display area akan
memberikan informasi manual measuring . . .. Ketika pengukuran
NIBP selesai nilai dari parameter akan ditampilkan dan display area
akan memberikan informasi Manual Measuring end! ketika proses
pengukuran selesai.
Jika nilai NIBP tidak dapat diukur, display area NIBP akan
memberikan pesan eror dan otomatis memulai pengukuran lagi. Jika
nilai tetap tidak terukur, alat akan memberikan pesan pada display
RETRY OVER.
6. Automatical Mode
Area display NIBP akan menampilkan waktu hitung mundur Auto
measuring...(TIME INTERVAL). Ketika mencapai nilai 0, alat akan
otomatis memompa ulang sampai mode telah diganti. Dengan
menggunakan mode otomatis alat akan memompa ulang pengukuran
NIBP sesuai waktu interval yang diatur. Ketika pengukuran selesai
hasilnya akan ditampilkan pada display Auto measuring end,
pengukuran yang lain akan dimulai sampai mode dirubah. Jika nilai
NIBP tidak terukur maka setelah 3 kali pengukuran tersebut masih
tetap gagal maka akan tampil pesan RETRY OVER dan akan
melakukan pengukuran berikutnya setelah mode diganti.
7. Stat Mode
Pada mode ini alat akan mengukur sebanyak 3 kali setelah itu alat
akan selesai memompa manset. Tombol START/STOP dapat
digunakan untuk menghentikan pengukuran secara manual. Teakn
START/STOP untuk memulai pemompaan. Area display akan
menampilkan STAT measuring... Ketika pengukuran selesai, pada
display area akan ditampilkan nilai NIBP dan memberikan pesan
STAT measuring end.
8. Time Interval
Fitur ini digunakan untuk penggunaan mode otomatis pada
pemompaan. Interval waktu yang dapat dipilih adalah dari 1 menit
sampai 4 jam.
60
9. Alarm Limit Setting
Tabel 3.4 Alarm Limit Setting Patient Monitor OMNI III

10. Factory Setup


Hanya teknisi yang diperbolehkan menggunakan fitur ini.

III.5 Pereawatan Rutin


III.5.1 Cleaning

PERINGATAN : Jangan mencelupkan OMNI atau aksesorinya dalam cairan


atau pembersih keras atau dengan pembersih yang kasar. Jangan semprot
atau menaburkan suatu cairan pada monitor atau aksesorisnya.

Untuk membersihkan OMNI, basahi kain dengan cairan pembersih yang


tidak mengakibatkan abrasi dan usap bagian eksterior dengan lembut. Jangan
biarkan cairan lain mengenai konektor power ataupun switch. Jangan biarkan
cairan apapun memasuki celah koneknor ataupun rangkaian didalamnya.Untuk
kabel, sensor dan cuff, ikuti instruksi pembersihan yang ada pada setiap
aksesoris tersebut.
Untuk panel sentuh :
1. Bersihkan dengan kain lembut yang sebelumnya diberi deterjen netral dan
dengan isopropilena alkohol.
2. Jangan gunakan pelarut kimia, asam atau larutan alkali
3. Panel di desain dengan alur udara. Penyekat dan bantalan telah di desain
untuk melingkupi setiap sudut panel agar tidak ada air dan debu yang
masuk.

61
III.5.2 Pengecekan Fungsi dan Keamanan Berkala
OMNI memerlukan perawatan rutin atau kalibrasi yang berbeda dengan
pembersihan atau perawatan baterai. Verifivation test sebaiknya dilakukan
mengikuti petunjuk perbaikan atau perawatan rutin.
1. Inspeksi pada bagian eksterior OMNI apakah ada yang membahayakan.
2. Pastikan unit bekerja dengan baik.
3. Lakukan electrical safety test. Jika unit gagal melakukan safety test, jangan
menunggu untuk diperbaiki. Segera hubungi vendor.

III.5.3 Baterai
Jika OMNI tidak digunakan dalam jangka waktu yang lama, baterai akan
membutuhkan pengisian ulang. Untuk mengisi ulang baterai, hubungkan
OMNI dengan tegangan AC. Menyimpan perangkan OMNI untuk selang
waktu yang lama tanpa pengisian ulang bateri akan mengurangi kapasitas
baterai. Pengisian penuh baterai membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Baterai
memerlukan pengisian penuh dan pengosongan penuh untuk mengembalikan
kapasitas baterai. Vendor menyarankan untuk pengagantian baterai dengan
interval 2 tahun.

III.5.4 Keamanan Lingkungan


Mengikuti peraturan dari pemerintah dan perencanan daur ulang serta daur
ulang baterai dan komponen-komponen lainnya.

III.6 Perbaikan
III.6.1 Pengenalan Troubleshooting
Bagian ini akan menjelaskan bagaimana cara throubelshoot masalah yang
muncul pada bedside OMNI. Dalam tabel telah disediakan daftar permasalahan
yang mungkin terjadi, dengan penyebab dan tindakan yang direkomendasikan
untuk menyelesaikan masalah.

62
III.6.2 Bagaimana Menggunakan Bagian Troubleshooting
Troubleshooting ini akan berhubungan dengan verifikasi alat dan spare part.
Untuk melepas dan menggantikannya bagian yang mungkin terjadi kerusakan,
ikuti intruksi disassamble atau pembongkaran. Penganalisaan sirkuit pada
Technical Supplement menyediakan informasi bagaimana setiap bagian
monitor berfungsi..

III.6.3 Orang Yang Berhak Melakukan Reapir


Hanya seseorang yang mempunyai kualifikasi yang diizin kan mebuka
monitor, mengganti komponen atau melakukan ajustment. Jika instansi medis
tidak memiliki seseorang yang memiliki qualifikasi hubungi vendor.

III.6.4 Panduan Troubleshooting


Tabel 3.5 Troubelshoot Patient Monitor OMNI III
Problem Area Condition Recommended Action
Power OMNI gagal 1. Pastikan steker telah
1. Tidak ada power. untuk untu menancap pada
2. Power gagal saat self test. dinyalakan ketika stopkontak tegangan AC
3. Power down tanpa sebab menggunakan dengan tegangan dan
yang jelas. tombol frekuensi yang sesuai.
On/Standby. Pastikan indikator led
warna hijau sumber
tegangan AC menyala.
Jika indikator tidak
meyala, perbaiki blok
power supply.
2. Cek fuse yang terletak
dekat EMI filter di atas
input AC. Ganti fuse
dengan yang sesuai.
3. Di bagian dalam

63
Problem Area Condition Recommended Action
monitor, cek kabel
utama dan pastikan itu
tersambung pada PCB
dan power supply.
4. Pastikan keyboard
tersambung dengan
dengan PCB power
supply. Jika sambungan
dalam keadaan baik,
perbaiki keyboard.
5. Jika masih terjadi
masalah ganti PCB
power supply.
1. Pastikan kabel tegangan
AC terhubung dan
indikator sumber AC
menyala hijau atau
pastikan indikator
pengisian baterai
OMNI menyala
menyala. Jika monitor
kemudian mati
berhasil dioperasikan ,
dan tidak
biarkan baterai ter
meninggalkan
discharge.
code error
2. Isi ulang baterai. Jika
apapun.
baterai gagal mengisi,
ganti baterai atau rumah
baterai.
3. Jika masalah masih tetap
ada, cek PCB power
supply

64
Problem Area Condition Recommended Action
4. Jika masalah masih juga
ada, cek mainboard.
Switches OMNI gagal 1. Lihat kembali langkah-
1. Monitor tidak merespon menyala ketika langkat pada catatan
apapun dari tombol atau tombol power diatas.
switch On/Standby 2. Jika masalah belum
ditekan. terselesaikan, cek
dimanakah terjadi
masalah pada PCB
power supply
OMNI dapat 1. Pastikan konektor
menyala tapi keyboard dan panel
beberapa atau touch screen tersambung
tidak ada respon pada mainboard. Jika
sama sekali pada sambungannya bagus,
touch screen cek keyboard dan touch
panel screen panel.
2. Jika masalah tetap
terjadi cek mainboard.
Display/Audible Tones Layar TFT tidak 1. Pastikan status dari LED
1. Tampilan tidak merespon mengiluminasi indikator, terletak di
sama sekali. atau tidak ada mainboard dan menyala.
2. Suara tidak terdengar tampilan. Jika tidak ganti
dengan baik. FPGA(UF1) chip
mikroprosesor atau
mainboard.
2. Pastikan kabel TFT
tersambung pada
mainboard.
3. Jika masalah masih ada

65
Problem Area Condition Recommended Action
cek mainboard.
4. Jika masalah masih ada
cek blok TFT
OMNI merespon 1. Pastikan kabel speaker
click touch, terhubung dengan power
namun click tone supply dan keyboard.
tidak terdengar. 2. Jika masalah masih ada
cek blok speaker.
3. Jika masalah masih ada
cek mainboard.
Suara alarm tidak 1. Periksa setting volume
ada. alarm pada menu
Alarm/Limits
2. Pastikan kabel speaker
terhubung dengan blok
power supply.
3. Jika masalah masih ada
ganti blok speaker.
4. Jika masalah masih ada
cek mainboard.
Kinerja Operasional Monitor 1. Pastikan kabel ECG,
1. Display nampaknya dapat beroperasi dengan temperature dan SPO2
beroperasi, namun baik tapi nilai terhubung pada
monitor tidak membaca sikologi mainboard. Pastikan
sensor untu di tampilkan. mencurigakan dan selang sistem pneumatik
2. Module bermasalah. tidak mungkin. telah terhubung dan
3. Hasil yang mencurigakan. motor pompa NIBP
4. Perekaman tidak telah terhubung pada
merespon. PCB power supply.
2. Jika masalah masih ada

66
Problem Area Condition Recommended Action
cek mainboard.
3. Jika maslah masih ada
cek layar TFT.
Sinyal ECG 1. Cek tentang pemilihan
terukur dan lead HR CALCULATE
tertampil pada SOURCE pada menu
display tapi tidak ECG setup
ada nilai herat 2. Cek apakah bentuk
rate. gelombang QRS jelas
dan mulus.
Modul NIBP 1. Cek apakah pemompa
tidak dapat tidak bagus.
memompa. 2. Cek tegangan pada
modul NIBP .
Tekanan 1. Tekanan pempompa
pempompa tidak tidak dapat melebihi
dapat mencapai 150mmHg (20kPa)
level yang 2. Cek apakah pemompa
normal. sudah jelek.
3. Cek apakah ada masalah
kebocoran udara. Jika
ada, cek apakah valve,
manset dan konektornya
bekerja dengan normal.
Kebocoran udara Kebocoran udara pada cuff
atau selang NIBP, cek
semua sambungan dan tes
keketatan maksimal pada
manset dengan venous
statis.

67
Problem Area Condition Recommended Action
Sinyal NIBP NIBP lemah atau sinyal
lemah osilasi tidak stabil
disebabkan oleh :
1. Posisi manset tidak tepat
atau bocor halus.
2. Sirkulasi darah yang
lemah atau tidak normal.
3. Heart rate lambat terkait
dengan artifacts
4. Pasien berpindah atau
terganggu saat
pengukuran.
Kertas perekaman 1. Buka pintu printer dan
tidak mau keluar. cek apakah ada kertas.
Tekan modul recorder
ke monitor dengan kuat
agar konektor benar-
benar terhubung ke
mainboard.
2. Jika masalah masih ada,
pastikan kabel utama
terhubung ke PCB
recorder, power supply
dan mainboard.
3. Jika masalah masih ada,
cek recorder.
4. Jika masalah masih ada
cek PCB recorder.
5. Jika masalah masih ada
cek mainboard.

68
Problem Area Condition Recommended Action
Kertas perekaman 1. Buka pintu recorder dan
keluar, tapi kertas cek kertas apakah sudah
kosong sedangkan terpasang dengan benar.
dilakukan Kertas harus sedikit
perekaman. keluar dari penggulung.
2. Jika masalah masih ada,
ganti modul recorder.

III.3.5.5 Error Messages


Tabel 3.5 Pesan Error Patient Monitor OMNI III
Pesan Disarankan
ECG Com Error Komunikasi ECG bermasalah
1. Pastikan modul ECG telah terhubung dengan
baik dengan perangkat modul terkait.
2. Cek power supply pada PCB ECG.
3. Cek bagian modul ECG.
4. Jika masalah masih ada, ganti PCB ARM-
FPGA.
ECG Lead Off 1. Kabel yang berhubungan terputus atau
ECG Lead RA Off terlepas dari pasien.
ECG Lead LA Off 2. Jika lead I adalah lead yang bermasalah, maka
ECG Lead RA LA Off cek apakah pemasangan sudah benar pada
ECG Lead LL Off elektroda RA dan LA.
ECG Lead RA LL Off 3. Jika semua lead bermasalah, cek lead RL
ECG Lead LA LL Off pakah terpasang dengan benar. Atau ganti
ECG Lead RA LA LL Off mainboard.
ECG Lead V Off
ECG Lead RA V Off
ECG Lead LA V Off
ECG Lead RA LA V Off

69
Pesan Disarankan
ECG Lead LL V Off
ECG Lead RA LL V Off
ECG Lead LA LL V Off
SpO2 Com Error Komunikasi SPO2 bermaslah.
1. Pastikan modul SPO2 telah terhubung dengan
mainboard dengan benar.
2. Cek power supply pada PCB SPO2.
3. Ganti sirkuit SPO2.
4. Jika masalah masih ada ganti mainboard.
Searching For Pulse . . . Monitor sedang mencari sinyal pulsa oximetry
Search Too Long Monitor telah mencari sinyal pulsa oximetry
untuk waktu yang lama.
1. Cek apakah LED sensor SPO2 menyala, saat
sensor dijepitkan pada jari, normalnya LED
ini seharusnya menyala.
2. Pasang ulang sensor SPO2.
3. Ganti transduser SPO2.
Cuff Error Pastikan tipe maset telah sesuai.
Reset error 1. Ganti module NIBP
2. Jika masalah masih ada, ganti mainboard.
Zero reset error 1. Ganti modul NIBP.
2. Jika maslah masih ada, ganti mainboard.
Serial error 1. Ganti modul NIBP.
2. Jika maslah masih ada, ganti mainboard.
NIBP seftcheck error Ganti modul NIBP.
NIBP inter error Ganti modul NIBP.
Patient type error Pastikan tipe manset telah benar.
Temp1 Probe Off Probe suhu 1 terputus atau terlepas dari pasien.
Temp2 Probe Off Probe suhu 2 terputus atau terlepas dari pasien.
Resp Com Error Probe respirasi terputus atau terlepas dari pasien.

70
Pesan Disarankan
IBP1 Sensor Off Transduser IBP1 terputus atau terlepas dari
pasien.
IBP2 Sensor Off Transduser IBP2 terputus atau terlepas dari
pasien.
EtCO2 Sensor Off Transduser ETCO2 terputus atau terlepas dari
pasien.
GAS Sensor Off Sensor gas terputus atau terlepas dari pasien.
Multi-Gas Module Error 1. Pastikan modul multi-gas telah terhubung
dengan mainboard.
2. Cek power supply pada multi-gas.
3. Ganti sirkuit multi-gas.
4. Jika masalah masih terjadi ganti mainboard.
ERAM error! Err_bits = Kesalahan sirkuit ERAM pada mainboard.
0xFFFF Hubungi vendor.
Low Battery Kapasitas baterai rendah.
Recorder UnLink ! 1. Printer tidar terhubung atau dalam kondisi
mati.
2. Kabel printer longgar atau rusak.
Recorder No Paper Tidak ada ketas perekaman.

71