Anda di halaman 1dari 3

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jembatan adalah infrastruktur jalan yang merupakan bagian dari alat


peningkatan berbagai aktifitas manusia, khususnya dari segi perekonomian.
Pembangunan jembatan sangat membutuhkan pertimbangan segi teknis dengan
metode konstruksinya. Disisi lain, kebutuhan dalam pembangunan infrastruktur
jembatan terus meningkat dengan meningkatnya perkembangan dari segi
perekonomian. Maka dari itu, sangat perlu pertimbangan dalam pembangunan
infrastruktur jembatan.
Variasi model infrastruktur jembatan sangat luas, baik ditinjau dari fungsi,
material, bentang maupun tipe strukturnya. Dengan kompleksitas tersebut
pembangunan infrastruktur jembatan harus dapat mengetahui dan memahami secara
komprehensif proses dan komponennya agar jembatan yang dirancang dan dibangun
dapat berfungsi optimal serta dapat relatif mudah dikerjakan sampai pada tahap
perawatannya nanti.
Baja canai dingin yang ringan menjadi salah satu alternatif material penyusun
jembatan terutama untuk daerah dengan akses transportasi yang sulit. Namun, profil
baja canai dingin yang tipis membuat bahan tersebut rawan terhadap tekuk (buckling)
karena memiliki nilai kelangsingan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan baja
konvensional. Kegagalan akibat tekuk (buckling) dapat diatasi antara lain dengan
memperkecil panjang tekuk dengan pengurangan panjang batang tekan
menggunakan elemen breising.
Jembatan rangka baja canai dingin hanya diperuntukkan untuk pejalan kaki.
Jembatan rangka merupakan sebuah jembatan yang terdiri dari batang-batang yang
dihubungkan dengan sambungan sendi hingga membentuk rangka segitiga yang akan
mengalami tegangan akibat gaya tarik, gaya tekan, ataupun keduanya jika terkena
beban-beban dinamis. Material baja canai dingin (cold formed) adalah suatu
komponen struktur yang terbuat dari lembaran-lembaran baja yang diproses dengan
bentuk-bentuk profil tertentu menggunakan proses press-braking atau roll forming.
BAB 2

DESAIN JEMBATAN UKURAN SEBENARNYA

A. Dasar Teori Perancangan


Dasar teori perancangan pada jembatan rangka baja canai dingin pejalan kaki
ini berdasarkan SNI (Standar Nasional Indonesia) No 7971 Tahun 2013 mengenai
Struktur Baja Canai Dingin. Dalam kompetisi ini akan dilakukan sebuah analisis
jembatan rangka dengan material baja ringan canai dingin dengan bentang jembatan
4 meter, lebar jembatan 0,9 meter dan tinggi jembatan 0,6 meter. Analisis yang akan
dilakukan pada kompetisi ini yaitu dengan menggunakan bantuan software SAP
2000 dengan gambar 2 Dimensi untuk perhitungan lendutan akibat dari pembebanan
yang dilakukan dan menggunakan bantuan software SketchUp untuk penggambaran
3 Dimensi bentuk struktur jembatan.

B. Kriteria perancangan (material, alat sambung, beban, peraturan yang digunakan dan
metodologi perancangan)
1. Material
Material utama yang digunakan dalam perancangan jembatan rangka baja
canai dingin pejalan kaki adalah profil baja canai dingin berbentuk C terbuat dari
plat baja alloy dengan ketebalan 0,75 mm dan mutu material G 550 (fy = 0,9 x
550 MPa). Material yang disediakan panitia adalah bahan baja canai dingin profil
C-75 sebanyak 17 batang dengan panjang 6 meter, multiplek ketebalan 10 mm
dan sambungan antar batang dengan menggunakan self driving screw tipe 12-14
x 20.

2. Alat Sambung

3. Beban
Pengujian beban pada jembatan rangka baja canai dingin pejalan kaki ini
dilaksanakan dalam 1 (satu) tahap. Beban diaplikasikan pada rangka batang yang
ditempatkan di bentang. Pembebanan dilakukan secara statik bertahap dengan
beban maksimum sebesar 400 kg dengan berat beban 10 kg per lempeng. Pada
beban maksimum, lendutan yang terjadi di tengah bentang tidak melebihi
lendutan izin maksimum sebesar 15 mm. Pengukuran lendutan menggunakan 2
dial gauge/ transducer yang diletakkan di kedua sisi rangka batang (kiri-kanan)
jembatan dan kemudian nilai lendutan dirata-ratakan.

4. Peraturan yang digunakan

5. Metologi Perancanangan

C. Sistem struktur
D. Modelisasi struktur
E. Analisa struktur
F. Desain komponen dan sambungan