Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Menstruasi

2.1.1. Definisi Menstruasi


Menstruasi adalah gejala periodik pelepasan darah dan mukosa jaringan
dari lapisan dalam rahim melalui vagina. Menstruasi diperkirakan terjadi setiap
bulan selama masa reproduksi, dimulai saat pubertas (menarche) dan berakhir saat
menopause, kecuali selama masa kehamilan. Berdasarkan pengertian klinik,
menstruasi dinilai berdasarkan 3 hal : Siklus menstruasi, lama menstruasi, dan
jumlah darah yang keluar. (Sarwono, 2011)

1. Siklus Menstruasi
Siklus menstruasi merupakan daur menstruasi yang tiap bulannya dialami
wanita dihitung mulai dari hari pertama menstruasi atau datang bulan, sampai hari
pertama menstruasi di bulan berikutnya. Menstruasi dikatakan normal bila
didapati siklus mentruasi tidak kurang dari 24 hari, tetapi tidak melebihi 35 hari,
kira-kira 24 35 hari dikatakan siklus menstruasi yang normal (Sarwono, 2011).

2. Lama Menstruasi
Lama menstruasi adalah durasi atau lamanya darah yang muncul saat
menstruasi pada wanita (MedScape), atau jarak dari hari pertama menstruasi
(darah keluar dari vagina) sampai perdarahan menstruasi berhenti. Biasanya lama
menstruasi yang dapat dikatakan normal berkisar antara 4 8 hari. (Sarwono,
2011)

Universitas Sumatera Utara


6

3. Volume Menstruasi
Volume menstruasi merupakan jumlah darah yang keluar selama masa
menstruasi. Dikatakan volume yang normal jika jumlah darah yang keluar selama
menstruasi berlangsung tidak lebih dari 80 ml, atau dalam satu harinya ganti
pembalut sebanyak 2 6 kali. (Sarwono, 2011)

2.1.2. Fisiologi Siklus dan Fase Menstruasi


Siklus menstruasi dibedakan atas siklus ovarium dan siklus uterus. Siklus
ovarium menjelaskan perubahan yang terjadi pada folikel ovarium sedangkan
siklus uterus menggambarkan perubahan dalam lapisan endometrium rahim.
Kedua siklus tersebut dapat dibagi menjadi tiga tahap. Siklus ovarium terdiri dari
fase folikuler, ovulasi, dan fase luteal, sedangkan siklus uterus terdiri dari
menstruasi, fase proliferasi, dan fase sekretori. (Sherwood, 2007)

1. Siklus Ovarium
Pada siklus ovarium, terjadi dua fase yang bergantian secara terus
menerus antara fase folikular, yang ditandai dengan keberadaan folikel matang,
dan fase luteal yang ditandai dengan keberadaan korpus luteum. Dalam keadaan
Normal siklus ini dapat diinterupsi jika terjadi kehamilan dan akhirnya berakhir
dengan masa menopause. (Sarwono, 2011)

Pada waktu tertentu sepanjang siklus, sebagian dari folikel primer mulai
berkembang. Namun, hanya beberapa yang melakukan perkembangan selama fase
folikular, ketika lingkungan hormonal yang tepat untuk mempromosikan
pematangan mereka, berlanjut setelah tahap awal pengembangan. Pertama, lapisan
sel granulosa dalam folikel primer berproliferasi untuk membentuk beberapa
lapisan yang mengelilingi oosit. Sel granulosa ini mengeluarkan sesuatu seperti
gel "kulit" tebal, yang mencakup oosit dan memisahkannya dari granulosa di
sekitar sel. Membran intervensi ini dikenal sebagai zona pelusida. (Sherwood,
2007)

Universitas Sumatera Utara


7

Fase folikuler adalah bagian pertama dari siklus ovarium. Selama fase ini,
folikel ovarium matang dan siap untuk melepaskan sel telur. Bagian akhir dari
fase ini tumpang tindih dengan fase proliferasi dari siklus uterus.

Pengaruh kenaikan folikel merangsang Folicle Stimulating Hormone


(FSH) pada hari-hari pertama dari siklus, beberapa folikel ovarium dirangsang
oleh FSH. Folikel ini, yang sudah ada pada saat lahir dan telah berkembang
menjadi yang lebih baik selama bertahun-tahun dalam proses yang dikenal
sebagai folikulogenesis, bersaing satu sama lain untuk mendominasi. Di bawah
pengaruh beberapa hormon, satu dari folikel ini akan berhenti tumbuh, sementara
satu folikel dominan di ovarium akan terus tumbuh sampai matang. Folikel yang
mencapai kematangan disebut folikel tersier, atau folikel de Graaf dan
mengandung sel telur. (Sherwood, 2007)

Ovulasi adalah fase kedua dari siklus ovarium di mana telur yang matang
dilepaskan dari folikel ovarium ke dalam saluran telur. Selama fase folikuler,
estradiol menekan produksi Leutinizing Hormone (LH) dari kelenjar hipofisis
anterior. Ketika telur sudah hampir matang, kadar estradiol mencapai ambang
batas, efek ini akan berbalik dan merangsang produksi sejumlah besar LH. Proses
ini, dikenal sebagai lonjakan LH, dimulai sekitar 12 hari dari siklus rata-rata dan
bisa berlangsung selama 48 jam.

Mekanisme yang tepat dari respon yang berlawanan dari tingkat LH


estradiol belum dipahami dengan baik. Pada hewan, Gonadotropin Releasing
Hormone (GnRH) menunjukkan gelombangnya telah mendahului lonjakan LH,
menunjukkan bahwa efek utama estrogen berada pada hipotalamus. Sekresi
GnRH ini dapat diaktifkan oleh kehadiran dua reseptor estrogen di hipotalamus
yang berbeda : alpha reseptor estrogen, yang bertanggung jawab untuk umpan
balik negatif estradiol - LH, dan beta reseptor estrogen, yang bertanggung jawab
untuk hubungan positif estradiol LH. Namun pada manusia telah menunjukkan
bahwa tingkat tinggi estradiol dapat memicu peningkatan mendadak dalam LH,

Universitas Sumatera Utara


8

meskipun tingkat dan frekuensi GnRH tetap konstan, menunjukkan estrogen yang
bekerja langsung pada hipofisis untuk memprovokasi lonjakan LH. (Rigon F,
2012)

Pelepasan LH membuat matangnya telur dan melemahkan dinding folikel


dalam ovarium, sehingga folikel menonjol dan dinding tempat menonjol itu
melemah untuk melepaskan oosit sekunder. Oosit sekunder segera matang
menjadi ootid dan kemudian menjadi sel telur matang. Ovum matang memiliki
diameter sekitar 0.2 mm. Dua indung telur kiri dan kanan berovulasi secara acak,
tidak ada koordinasi kiri dan kanan. Kedua ovarium akan melepaskan telur, dan
jika kedua telurnya dibuahi, hasilnya adalah kembar fraternal. (Rigon F, 2012)

Setelah dilepaskan dari ovarium, sel telur akan dibawa ke tuba falopi
dengan fimbria, yang merupakan lapisan paling pinggir dari jaringan tuba fallopi.
Setelah sekitar satu hari, telur yang tidak dibuahi akan hancur atau larut dalam
tuba fallopi.

Fase luteal adalah tahap akhir dari siklus ovarium dan kejadian ini
bersamaan dengan fase sekresi dari siklus uterus. Selama fase luteal, hormon FSH
dan LH menyebabkan bagian-bagian yang tersisa dari folikel dominan untuk
berubah menjadi korpus luteum, yang memproduksi progesteron. Peningkatan
progesteron akan menginduksi produksi estrogen. Hormon yang diproduksi oleh
korpus luteum juga menekan produksi FSH dan LH agar korpus luteum dapat
mempertahankan dirinya. Akibatnya, tingkat FSH dan LH jatuh dengan cepat dari
waktu ke waktu, dan korpus luteum kemudian mengalami atropi. Jatuhnya
progesteron memicu menstruasi dan awal dari siklus berikutnya. Dari waktu
ovulasi sampai hilangnya progesteron menyebabkan mulainya menstruasi, proses
ini biasanya memakan waktu sekitar dua minggu, dengan 14 hari dianggap
normal. Untuk seorang wanita individu, fase folikuler sering bervariasi panjang
dari siklus ke siklus. Sebaliknya, panjang fase luteal nya akan cukup konsisten
dari siklus ke siklus. (Sherwood, 2007)

Universitas Sumatera Utara


9

Korpus luteum pada kehamilan adalah jika pembuahan dan implantasi


terjadi, korpus luteum terus tumbuh dan menghasilkan peningkatan jumlah
progesteron dan estrogen bukannya merosot. Hal ini disebut korpus luteum
kehamilan, struktur ovarium ini berlanjut sampai kehamilan berakhir. Korpus ini
menyediakan hormon penting untuk menjaga kehamilan sampai plasenta
berkembang dan dapat mengambil alih fungsi penting ini. (Sherwood, 2007)

Gambar 2.1. Siklus folikel pada ovarium

2. Siklus Uterus
Menstruasi adalah tahap pertama dari siklus uterus. Aliran menstruasi
biasanya berfungsi sebagai tanda bahwa seorang wanita tidak hamil. Namun, ini

Universitas Sumatera Utara


10

tidak dapat diambil sebagai kepastian, karena sejumlah faktor bisa menyebabkan
perdarahan selama kehamilan, beberapa faktor yang khusus untuk awal
kehamilan, dan beberapa dapat menyebabkan aliran deras. (Sarwono, 2011)

Eumenorrhea adalah menstruasi yang normal, menstruasi reguler yang


berlangsung selama beberapa hari (biasanya 3 sampai 5 hari, tetapi dari 2 sampai
7 hari juga dianggap normal). Hilangnya darah rata-rata selama menstruasi adalah
35 mililiter dengan 10-80 ml dianggap normal. Wanita yang mengalami
Menorrhagia lebih rentan terhadap kekurangan zat besi daripada rata-rata orang.
Sebuah enzim yang disebut plasmin menghambat pembekuan dalam cairan
menstruasi. (Sarwono, 2011)

Kram yang menyakitkan di perut, punggung, atau paha atas merupakan hal
yang umum selama beberapa hari pertama menstruasi. Nyeri rahim yang parah
selama menstruasi dikenal sebagai dismenore, dan itu adalah yang paling umum
di kalangan remaja (sekitar 67.2 % mempengaruhi wanita remaja). Hal ini
disebabkan oleh karena prostaglandin ( PGF2 ), suatu stimulan miometrium yang
kuat dan vasokonstriktor, di endometrium sekretori. Respon terhadap inhibitor
prostaglandin pada pasien dengan dismenorea mendukung pernyataan bahwa
dismenorea dimediasi oleh prostaglandin. Bukti substansial prostaglandin
mempengaruhi dismenore adalah dengan kontraksi uterus yang berkepanjangan
dan penurunan aliran darah ke miometrium. (Warner P, 2011)

Fase proliferasi endometrium dikaitkan dengan fase folikuler, proses


folikulogenesis di ovarium. Pada fase folikuler, folikulogenesis menghasilkan
estrogen. Kemudian estrogen memicu pertumbuhan endometrium untuk menebal
kembali, sembuh dari perlukaan yang disebabkan menstruasi yang sebelumnya.
Ketiga komponen endometrium, kelenjar, stroma, dan endotel pembuluh darah
mengalami poliferasi dan mencapai puncaknya pada hari ke-8 sampai 10 siklus,
sesuai dengan puncak kadar estrogen (estradiol) serum dan kadar reseptor
estrogen di endometrium. (Sherwood, 2007)

Universitas Sumatera Utara


11

Pada fase proliferasi peran estrogen sangat menonjol. Estrogen memacu


terbentuknya komponen jaringan, ion, air dan asam amino. Stroma endometrium
yang kolaps/kempis pada saat menstruasi, mengembang kembali, dan merupakan
komponen pokok pertumbuhan/penebalan kembali endometrium. Pada awal fase
ini, tebal endometrium hanya sekitar 0.5 mm kemudian tumbuh menjadi 3.5 5
mm. Di dalam stroma endometrium juga banyak tersebar sel derivat sumsum
tulang, termasuk limfosit dan makrofag, yang dapat dijuampai setiap saat
sepanjang siklus menstruasi. (Sherwood, 2007)

Seperti halnya fase folikuler di ovarium, fase proliferasi endometrium


mempunyai lama/durasi yang cukup lebar. Pada perempuan normal yang subur,
fase folikuler ovarium atau fase proliferasi endometrium dapat berlangsung hanya
sebentar 5 7 hari, atau cukup lama sekitar 21 30 hari. (Sarwono, 2011)

Pascaovulasi ovarium memasuki fase luteal dan korpus luteum yang


terbentuk menghasilkan steroid seks yaitu estrogen dan progesteron. Kemudian,
estrogen dan progesteron korpus luteum tersebut mempengaruhi pertumbuhan
endometrium dari fase proliferasi menjadi fase sekresi. Proliferasi epitel berhenti
3 hari pascaovulasi, akibat dampak antiestrogen dan progesterone. Puncak sekresi
endometrium terjadi 7 hari pasca lonjakan gonadotropin bertepatan dengan saat
implantasi blastosis bila terjadi kehamilan.

Fase sekresi endometrium yang selaras dengan fase luteal ovarium


mempunyai durasi dengan variasi sempit. Durasi fase ini kurang lebih tetap
berkisar antara 12 - 14 hari.

Universitas Sumatera Utara


12

Gambar 2.2. Level hormon pada siklus menstruasi

Universitas Sumatera Utara


13

2.1.3. Perubahan hormonal dalam siklus menstruasi normal

Pada siklus ovulasi, GnRH yang merangsang hipofisis untuk melepaskan


FSH. Hal ini, pada gilirannya, menyebabkan folikel ovarium untuk tumbuh dan
matang. Pada pertengahan siklus, lonjakan hormon luteinizing (LH) terjadi
dengan lonjakan FSH, sehingga terjadi ovulasi. Perkembangan folikel
menghasilkan estrogen, yang merangsang endometrium untuk berkembang biak.
Setelah sel telur dilepaskan, tingkat FSH dan LH jatuh, korpus luteum
berkembang di lokasi folikel pecah, dan progesteron dilepaskan dari ovarium.
Progesteron menyebabkan endometrium berkembang biak untuk berkembang dan
stabil. Empat belas hari setelah ovulasi, menstruasi terjadi dari pelepasan
endometrium sekunder terhadap penurunan cepat dalam tingkat estrogen dan
progesteron dari korpus luteum yang berinvolusi. (Guyton, 2006)

Perubahan hormon selama siklus anovulasi


Siklus anovulasi yang umum terjadi dalam 2 tahun pertama setelah
menarche karena ketidakmatangan sumbu HPO. Hal ini juga dapat terjadi dalam
berbagai kondisi patologis .

Dalam siklus anovulasi, pertumbuhan folikel terjadi dengan rangsangan


dari FSH, namun, karena kurangnya lonjakan LH, ovulasi gagal terjadi.
Akibatnya, tidak ada korpus luteum terbentuk dan tidak ada progesteron
disekresikan. Endometrium terus berada dalam fase proliferasi yang berlebihan.
Ketika involusi folikel, kadar estrogen menurun dan terjadi pendarahan. Sebagian
besar siklus anovulasi teratur dan perdarahannya normal, namun, proliferasi dari
endometrium yang tidak stabil dapat meluruh secara tidak teratur, mengakibatkan
pendarahan hebat berkepanjangan. (Sherwood, 2007)

Universitas Sumatera Utara


14

Gambar 2.3.Fisiologi Hormon pada Wanita

2.2. Masa Remaja

Masa remaja adalah masa peralihan dari pubertas ke dewasa, yaitu pada
umur 11 20 tahun. Pada masa ini mulai terbentuk perasaan identitas individu,
pencapaian emansipasi dalam keluarga, dan usahanya untuk mendapatkan
kepercayaan dari ayah dan ibu. Pada masa peralihan tersebut, individu matang
secara fisiologik dan kadang-kadang psikologik. (Sarwono, 2011)

Dalam tumbuh kembangnya menuju dewasa, berdasarkan kematangan


psikososial dan seksual, semua remaja akan melewati tahapan berikut :

Masa remaja awal (early adolescence) : umur 11 13 tahun


Masa remaja pertengahan (middle adolescence) : umur 14 16 tahun
Masa remaja lanjut (Late adolescence) : umur 17 20 tahun

Menarche
Menstruasi pertama disebut menarche biasanya dimulai kira-kira antara
umur 11 dan 14. Tapi hal ini bisa terjadi sejak umur 9 atau akhir 15. Menarche
adalah tanda anak perempuan tumbuh dewasa dan menjadi seorang wanita.

Universitas Sumatera Utara


15

Seiring dengan mulai menstruasi, tubuh akan berubah. Tubuh sudah mulai
mengembangkan payudara, rambut kemaluan rambut ketiak dan pinggul mulai
melebar. Menarche juga berarti bahwa jika wanita berhubungan seks, bisa terjadi
kehamilan. Bahkan bisa hamil dalam satu bulan sebelum periode pertama dimulai.
(Sarwono, 2011)

Tidak ada sinyal hormonal spesifik untuk mengetahui datangnya


menarche. Menarche merupakan kejadian yang dianggap relatif yang mungkin
adalah penebalan bertahap dari endometrium yang disebabkan oleh meningkatnya
estrogen berfluktuasi saat pubertas.

Cairan atau aliran, terdiri dari kombinasi dari darah segar dan beku dari
jaringan endometrium. Aliran awal menarche biasanya lebih terang dari aliran
menstruasi matang. Hal ini sering minim dalam jumlah dan mungkin sangat
singkat, bahkan satu contoh biasanya hanya sebuah bercak. Sama seperti
menstruasi lainnya, menarche dapat disertai dengan kram perut. (Morris, 2011)

Beberapa pengaruh lingkungan pada waktu pubertas bersifat sosial dan


psikologis. Hampir semua penelitian tentang efek ini ada pada gadis-gadis yang
bersangkutan, sebagian karena pubertas perempuan membutuhkan sumber daya
yang lebih besar dan sebagian karena melibatkan suatu peristiwa yang unik
(menarche) yang membuat penelitian survei ke pubertas perempuan lebih
sederhana daripada laki-laki. Dalam sebagian besar penelitian, menarche secara
khusus diperiksa dengan asumsi sebuah proses yang umum pada pubertas.
Dibandingkan dengan efek genetika, gizi dan kesehatan umum, pengaruh sosial
yang kecil, waktu bergeser oleh beberapa bulan bukan tahun. Bagian paling
penting dari lingkungan psikososial anak adalah keluarga. (Morris D, 2010)

Universitas Sumatera Utara


16

Beberapa aspek struktur dan factor yang terkait dengan menarche, antara
lain (Morris D, 2010) :

Obesitas di masa anak anak


Tingginya konflik pada keluarga
Berat lahir rendah
RAS
Ada riwayat pre-eklampsi saat dikandungan
Terkena rokok
Tidak diberi ASI
Tidak olahraga saat masa anak-anak

2.3. Gangguan menstruasi

Gangguan menstruasi adalah masalah yang umum selama masa remaja.


Gangguan ini dapat menyebabkan kecemasan yang signifikan bagi pasien dan
keluarga mereka. Faktor fisik dan psikologis berkontribusi pada masalah ini.
Dalam rangka untuk mengobati gangguan menstruasi, mengetahui apa itu siklus
menstruasi yang normal itu penting. (Sarwono, 2011)

Gangguan menstruasi merupakan keluhan yang sering menyebabkan


seorang wanita datang berobat ke dokter atau ke tempat pertolongan pertama.
Keluhan gangguan menstruasi bervariasi dari ringan sampai berat dan tidak jarang
menyebabkan rasa frustasi baik bagi penderita, keluarganya bahkan dokter yang
merawatnya. Selain menyebabkan gangguan kesehatan, gangguan menstruasi
ternyata berpengaruh pada aktivitas sehari-hari dan mengganggu emosional si
penderita. (Sarwono, 2011)

Universitas Sumatera Utara


17

Klasifikasi gangguan menstruasi.

Klasifikasi luas yang ada adalah sebagai berikut (MedScape) :

1. Kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan pada


menstruasi.
2. Kelainan siklus.
3. Perdarahan di luar menstruasi (Metroragia).
4. Dismenorea (Nyeri Menstruasi).
5. Syndroma Pramenstruasi (Premenstual Syndrome).

2.3.1. Kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan pada


menstruasi

1. Hipermenorea (menoragia)
Perdarahan menstruasi yang berlangsung lebih dari 8-10 hari dengan
kehilangan darah lebih dari 80 ml dianggap berlebihan. Pada bentuk gangguan
seperti ini siklus menstruasi tetap teratur akan tetap jumlah darah yang
dikeluarkan cukup banyak. Penyebab terjadinya kemungkinan terdapat mioma
uteri (pembesaran rahim), polip endometrium, atau hiperplasia endometrium
(perubahan dinding rahim). Diagnosis kelainan dapat ditetapkan pemeriksaan
dalam, ultrasonografi (USG) dan pemeriksaan terhadap kerokan. (Sarwono, 2011)

Menurut peneletian Sianipar pada siswi SMA di Kecamatan Pulo Gadung


tahun 2009, dari seluruh responden yang berjumlah 57 siwi, terdapat 9 (15.8%)
siswi yang mengalami hipermenorea.

2. Hipomenorea
perdarahan menstruasi yang lebih pendek atau lebih kurang dari biasanya.
Pada kelainan ini siklus menstruasi tetap teratur sesuai dengan jadwal menstruasi

Universitas Sumatera Utara


18

akan tetapi jumlah darah yang dikeluarkan relative sedikit. Penyebabnya


kemungkinan gangguan hormonal, kondisi wanita kekurangan gizi, atau wanita
dengan penyakit tertentu. Pada peneletian sebelumnya sangat jarang terjadi
hipomenorea, bahkan tidak ada sama sekali siswi yang mengalami hal ini.
(Sianipar, 2009). Pada penelitian yang dilakukan di Gujarat hanya 2.8% yang
mengalami hipomenore. (Verma, Pandya, Ramanuj, Singh, 2011)

2.3.2. Kelainan siklus

1. Polimenorea
Siklus menstruasi yang lebih pendek dari biasa (kurang dari 21 hari).
Polimenorea dapat disebabkan oleh gangguan hormonal yang mengakibatkan
gangguan ovulasi, atau menjadi pendeknya masa luteal. Sebab lain adalah
kongesti ovarium karena peradangan, endometriosis, dan sebagainya. Pada
penelitian sebelumnya didapati nol persen kasus polimenore. (Sianipar, 2009)

2. Oligomenorea
Siklus menstruasi lebih panjang (lebih dari 35 hari). Perdarahannya
biasanya berkurang. Pada kebanyakan kasus oligomenorea kesehatan wanita tidak
terganggu, dan fertilitas cukup baik. Siklus menstruasi biasanya juga ovulator
dengan masa proliferasi lebih panjang dari biasa.

Terdapat 3.5 persen siswi pada penelitian yang dilakukan sebelumnya.


(Sianipar, 2009). Pada penelitian di Gujarat, terdapat 8.8 persen siswi yang
mengalami oligomenore. (Verma, Pandya, Ramanuj, Singh, 2011)

3. Amenorea
Amenore dapat bersifat primer (yaitu, tidak pernah menstruasi) atau
sekunder (yaitu, menarche, tetapi tidak ada periode selama 3 bulan berturut-turut).
Amenore primer adalah tidak adanya menstruasi pada umur 16 tahun dengan
adanya perkembangan pubertas normal atau pada umur 14 tahun dengan tidak

Universitas Sumatera Utara


19

adanya perkembangan pubertas normal. Mengevaluasi payudara dan


perkembangan rahim pada pasien dengan gangguan menstruasi adalah hal yang
penting. Amenorea sekunder lebih sering daripada amenorea primer. Etiologi
yang paling umum adalah disfungsi dari aksis hipotalamus hipofisis ovarium
(HPO).

2.3.3. Perdarahan di luar menstruasi (Metroragia)

Perdarahan yang terjadi dalam masa antara 2 menstruasi (metroragia).


Pendarahan ini disebabkan oleh keadaan yang bersifat hormonal dan kelainan
anatomis. Pada kelainan hormonal terjadi gangguan poros hipotalamus hipofisis,
ovarium (indung telur) dan rangsangan estrogen dan progesteron dengan bentuk
pendarahan yang terjadi di luar menstruasi, bentuknya bercak dan terus menerus,
dan pendarahan menstruasi berkepanjangan. Keadaan ini dipengaruhi oleh
ketidak-seimbangan hormon tubuh, yaitu kadar hormon progesteron yang rendah
atau hormon estrogen yang tinggi. Penderita hiposteroid (kadar hormon steroid
yang rendah) atau hipersteroid (kadar hormon steroid yang tinggi) dan fungsi
adrenal yang rendah juga bisa menyebabkan gangguan ini. Beberapa gangguan
organ reproduksi juga dapat menyebabkan metroragia seperti infeksi vagina atau
Rahim endometriosis, kista ovarium, fibroid, kanker endometrium atau indung
telur, hiperplasia endometriosis, penggunaan kontrasepsi spiral yang mengalami
infeksi juga dapat menyebabkannya. Terdapat 36.4% siswi yang mengalami hal
ini pada penelitian yg dilakukan sebelumnya. (Sianipar, 2009)

2.3.4. Dismenorea

Dismenore adalah keluhan yang sangat umum dan ada yang primer atau
sekunder, meskipun dismenore primer yang lebih menonjol. Gejala termasuk
kram perut bagian bawah dan nyeri panggul yang menjalar ke paha dan kembali
tanpa terkait patologi pelvis. Dismenore disebabkan oleh prostaglandin dan
leukotrien selama siklus ovulasi. Kadar prostaglandin endometrium meningkat

Universitas Sumatera Utara


20

selama fase luteal dan siklus menstruasi, menyebabkan uterus berkontraksi.


Dismenorea sekunder jarang terjadi, dan rasa sakit yang berhubungan dengan
patologi pelvis (misalnya, bikornuata rahim, endometriosis, penyakit radang
panggul, fibroid rahim). Sebuah patologi pelvis yang mendasari (misalnya,
endometriosis) atau anomali uterus (misalnya fibroid) mungkin ada dalam sekitar
10 % kasus dismenore parah. (MedScape)

Derajat nyeri menstruasi (dismenorea) :

Derajat 0 : Tanpa rasa nyeri dan aktivitas sehari-hari tak terpengaruhi.


Derajat 1 : Nyeri ringan dan memerlukan obat rasa nyeri, namun
aktivitas jarang terpengaruhi.
Derajat 2 : Nyeri sedang dan tertolong dengan obat penghilang nyeri,
tetapi mengganggu aktivitas sehari-hari.
Derajat 3 : Nyeri sangat hebat dan tak berkurang walaupun telah
menggunakan obat dan tak mampu bekerja. Kasus ini harus
segera ditangani oleh dokter.

2.3.5. Syndroma Pramenstruasi (Premenstrual Syndrome)

Kadar sindroma pramenstruasi (PMS) dan waktunya pada setiap wanita


tidak selalu sama. Ada wanita yang merasa sangat sakit sampai menderita kram
dan tidak dapat beraktifitas. Beberapa ahli mengatakan bahwa gejala tersebut
berhubungan kadar hormon estrogen dan progesteron pada siklus menstruasi.
Menurut ahli lain memperkirakan gangguan menjelang menstruasi berhubugan
dengan masalah psikis, misalnya wanita menganggap masa menstruasi sebagai
beban sehingga tanpa sadar ia menolaknya. Gangguan ini bisa juga merupakan
tanda dari penyakit yang serius seperti endometriosis, kista atau angioma uteri dan
adanya infeksi Rahim. Gejala yang muncul akan terjadi pada separuh ahkir dari
siklus menstruasi, yang menghilang saat mulainya menstruasi. Manifestasi klinis

Universitas Sumatera Utara


21

dapat berupa penuhnya payudara dan terasa nyeri, bengkak, kelelahan, sakit
kepala, peningkatan nafsu makan, iritabilitas dan ketidakstabilan perasaan dan
depresi, kesulitan dalam kosentrasi, keluar air mata dan kecenderungan untuk
melakukan kejahatan. Hampir sepertiga wanita produktif menghidap PMS. Gejala
yang muncul selain diatas juga ada. (MedScape)

Gangguan menstruasi yang terbanyak dialami oleh responden dalam


penelitian sebelumnya adalah gangguan lain yang berhubungan dengan
menstruasi yang meliputi sindrom pramenstruasi (75.8%), dismenorea (54.5%),
dan perdarahan di luar menstruasi (36.4%). Hasil ini lebih rendah dari yang
ditemukan Vegas et al. Namun hampir sama dengan literatur, bahwa prevalensi
dismenorea bervariasi antara 15.8 89.5%. Penelitian Cakir et al. Pada mahasiswi
di Turki memperlihatkan dismenorea merupakan gangguan menstruasi dengan
prevalensi terbesar yaitu 89.5%. (Sianipar, 2009)

Universitas Sumatera Utara

Anda mungkin juga menyukai