Anda di halaman 1dari 26

Laporan Kasus

ERYTHEMA NODOSUM LEPROSUM

Oleh:
Muhammad Fadli
Darwinsyah Putra

Pembimbing :
Wahyu Lestari

BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
RUMAH SAKIT dr. ZAINOEL ABIDIN
BANDA ACEH
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahuwataala yang


telah memberikan kesempatan dan kesehatan bagi penulis sehingga dapat
menyelesaikan tugas laporan kasus ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa
tercurahkan kepada Rasulullah Shallahu alaihi wassalam yang telah menerangi
alam semesta dengan ilmu pengetahuan.

Tugas laporan kasus ini membahas mengenai Morbus Hansen Reaksi


Tipe II (Erythema Nodosum Leprosum) dan merupakan salah satu tugas dalam
menjalani Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan
Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/Rumah Sakit Umum
Daerah dr.Zainoel Abidin Banda Aceh.

Penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya


kepada dr. Wahyu Lestari, Sp.KK selaku pembimbing. Penulis menyadari
penuh bahwa pada laporan kasus ini masih terdapat banyak kekurangan baik
dalam hal penyajian, penulisan maupun materi. Oleh karena itu, penulis sangat
mengharapakan saran dan kritik yang membangun demi evaluasi dan
pengembangan dalam bidang penulisan dan ilmu pengetahuan.

Banda Aceh, Agustus


2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i


KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iii
DAFTAR TABEL ......................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... v
PENDAHULUAN ............................................................................................. 1
LAPORAN KASUS .......................................................................................... 3
2.1 Identitas Pasien .......................................................................... 3
2.2 Anamnesis ................................................................................ 3
2.3 Pemeriksaan Fisik Kulit ........................................................... 4
2.4 Pemeriksaan Penunjang ............................................................ 6
2.6 Resume ...................................................................................... 6
2.7 Diagnosis Banding .................................................................... 6
2.8 Diagnosis Klinis ........................................................................ 6
2.9 Tatalaksana ................................................................................ 7
2.10 Edukasi ................................................................................... 7
2.11 Prognosis ................................................................................. 8

ANALISA KASUS ........................................................................................... 9


DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 15

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Pemeriksaan Pembesaran Saraf ............................................................ 5


Tabel 2. Pemeriksaan Fungsi Saraf ..................................................................... 6
Tabel 3. Perbedaan Reaksi Lepra menurut Tipe ................................................. 10
Tabel 4. Tatalaksana Reaksi Lepra ..................................................................... 12
Tabel 5. Diagnosis Banding ................................................................................ 13

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Gambara klinis pasien...................................................................... 4


Gambar 2. Gambaran klinis pasien.................................................................... 5

v
BAB I

PENDAHULUAN

Morbus Hansen (kusta/lepra) adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh


infeksi Mycobacterium Leprae yang bersifat intraseluler obligat. Mycobacterium
Leprae menyerang saraf perifer, kulit, dan jaringan tubuh lainnya, kecuali susunan
saraf pusat. Kusta masih terdapat didaerah tropis dan subtropis. Berdasarkan
tujuan pengobatan dan jumlah lesi, kusta dapat diklasifikasikan menjadi dua
bentuk yaitu paucibacillary (PB) bila lesi berjumlah kurang dari atau sama dengan
lima dengan BTA negatif dan multibacillary (MB) bila lesi lebih dari lima dengan
BTA positif. (1,2)
Diseluruh dunia 249.007 kasus baru terdaftar pada tahun 2008 dengan
India mendaftarkan 134.184 kasus. Di Indonesia sendiri tercatat 33.739 orang
penderita kusta. Indonesia merupakan negara ketiga terbanyak penderitanya
setelah India dan Brasil dengan prevalensi 1,7 per 10.000 penduduk. Dari provinsi
Aceh juga dilaporkan bahwa angka kejadian kusta mencapai 592 kasus baru pada
tahun 2011, 565 kasus baru tahun 2012 dan 575 kasus baru pada tahun 2013. Cara
penularan penyakit ini belum diketahui secara pasti, namun hanya berdasarkan
anggapan klasik yaitu kontak langsung antar kulit yang lama dan secara
inhalasi.(3,4)
Penderita penyakit kusta dapat mengalami reaksi kusta, yang merupakan
suatu reaksi kekebalan yang abnormal (respon imun seluler atau respon imun
humoral), dengan akibat yang merugikan penderita. Reaksi kusta dapat terjadi
sebelum, selama atau sesudah pengobatan dengan obat kusta. Reaksi kusta
dibagi menjadi 2 yaitu reaksi kusta tipe I dan reaksi kusta tipe II. Reaksi tipe II
merupakan reaksi humoral, yang ditandai dengan timbulnya nodul kemerahan,
neuritis, gangguan fungsi saraf tepi, gangguan konstitusi dan adanya komplikasi
pada organ tubuh lainnya. (5)
Pasien dengan reaksi Tipe 2 pada kusta mengakibatkan nodul
subkutaneus lunak yang dinamakan sebagai Erythema Nodosum Leprosum
(ENL). ENL dapat terjadi pada pasien dengan penyakit lepra jenis multibasiler
(LL dan BL). Mungkin terjadi sebelum, selama atau setelah perawatan. ENL

1
paling sering terjadi pada LL, hingga 75% kasus namun tidak jarang juga terjadi
pada pasien BL. Ada juga referensi lain yang menyatakan sampai 50% LL dan
15% pasien BL dapat mengalami reaksi ENL.(6)
ENL biasanya mempengaruhi banyak organ dan mengakibatkan uveitis,
neuralitis, artritis, dactylitis, limfadenitis dan orchitis. ENL merupakan
kombinasi aktivasi seluler dan respons imunologis humoral terhadap M.leprae,
yang ditandai dengan pengendapan kompleks imun ekstra-vaskular yang
menyebabkan infiltrasi neutrofil dan aktivasi komplemen pada banyak organ. (6)
Tatalaksana pada ENL terdiri dari beberapa pilihan. Salah satunya,
pengobatan dengan kortikosteroid. Pengobatan dengan prednisolon merupakan
terapi pilihan untuk ENL jika thalomid tidak tersedia. Namun demikian, risko efek
samping kortikosteroid jangka panjang juga harus diperhatikan.(5)

2
LAPORAN KASUS POLIKLINIK

2.1 Identitas Pasien


Nama : Tn. IS
Umur : 28 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Berat badan : 45 kg
Tinggi badan : 163 cm
Status gizi : Gizi kurang
Agama : Islam
Suku : Aceh
Pekerjaan : Wiraswasta
Status Pernikahan : Belum Kawin
Alamat : Sigli
Tanggal Pemeriksaan : 31 Juli 2017
Nomor RM : 1-13-53-54

2.2 Anamnesis
2.2.1 Keluhan Utama
Pasien datang dengan keluhan muncul bengkak merah kedua tangan dan
kaki.

2.2.2 Keluhan Tambahan


Nyeri dan gatal di daerah bengkak, nyeri sendi, demam, cepat lelah.

2.2.3 Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang dengan keluhan muncul bengkak merah di kedua tangan dan
kaki yang dialami sejak sekitar 2 bulan yang lalu. Awalnya bengkak muncul
dengan jumlah lebih dari satu dengan bentuk kecil secara tiba-tiba di daerah
kedua tangan dan kaki, kondisi ini semakin memberat saat pasien merasa cepat
lelah dan banyak pikiran, dan berkurang ketika minum obat dari Rumah Sakit
di Sigli. Pada daerah bengkak terasa nyeri dan juga rasa gatal. Nyeri seperti
rasa panas yang hilang timbul. Pasien juga mengeluhkan nyeri pada sendi

3
4

tangan dan kaki, demam juga dirasakan yang hilang timbul dan rasa cepat
lelah.

2.2.4 Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien sebelumnya didiagnosis dengan morbus hansen pada tahun 2015 di
Rumah Sakit Malaysia dan telah mendapat pengobatan disana tapi pasien tidak
mengetahui secara detail.

2.2.5 Riwayat Penggunaan Obat


Selama 1 tahun ini pasien sudah mengkonsumsi MDT Dewasa dari RS
Tgk. Chik Di Tiro secara teratur dan dinyatakan tuntas. Selain itu pasien juga
mengkonsumsi parasetamol 500 mg dan metil prednisolon 8 mg selama kurang
lebih 1 bulan dan keluhan masih dirasakan hilang timbul.

2.2.6 Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga mengalami keluhan yang sama.

2.2.7 Riwayat Kebiasaan Sosial


Pasien sehari-hari bekerja sebagai petugas kebersihan.

2.3 Pemeriksaan Fisik Kulit

2.3.1 Status Dermatologis


Tanggal 28 Agustus 2017

Gambar 1. Gambaran klinis pasien


5

Gambar 2. Gambaran klinis pasien


Deskripsi Lesi :
Tampak nodul eritematus, berbatas tidak tegas, tepi reguler, ukuran gutata, jumlah
multiple, dan distribusi regional bilateral.

2.3.2 Pemeriksaan Saraf

Tabel 1. Pemeriksaan Pembesaran Saraf


Pembesaran/
No. Pemeriksaan Nervus Penebalan Nyeri Keterangan
(kanan/kiri)

N. auricularis magnus
1. Tidak ada/Menebal Nyeri Menebal
(dextra/sinistra)

N. ulnaris
2. (dextra/sinistra) Menebal/Tidak ada Nyeri Menebal

N. proneus comunis/
Poplitea lateralis
3. Tidak ada/Tidak ada Nyeri Tidak menebal
(dextra/sinistra)

N. tibialis posterior
4. Tidak ada/ Tidak ada Nyeri Tidak menebal
(dextra/sinistra)
6

Tabel. 2 Pemeriksaan Fungsi Saraf


Fungsi
Saraf
Motorik Sensorik Otonom
Fasialis Lagoftalmus (-)
Ulnaris Tidak ada Hipoestesi pada
kelumpuhan digiti digiti 4 dan 5 pada
4 dan 5 kedua tangan
Medianus Tidak ada Hipoestesi pada Tidak ada kulit
kelumpuhan digiti digiti 1, 2 dan 3 kering maupun
1,2, dan 3 pada kedua tangan kulit retak
Radialis Drop hand (-)
Peroneus Drop foot (-)
Tibialis posterior Claw toes (-) Hipoetesi pada
kedua kaki

2.4 Pemeriksaan Penunjang


2.4.1 Pemeriksaan Darah Rutin (19 Juli 2017)
Leukosit : 14.900 gr/dl

2.4.2 Pemeriksaan Ziehl Neelsen (21 Agustus 2017)


Hasil : BI: +1 dan MI: 80%

2.6 Resume
Telah dilakukan pemeriksaan pada pasien laki-laki usia 28 tahun di
Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUDZA dengan keluhan bengkak merah di kedua
tangan dan kaki disertai nyeri, gatal muncul secara tiba-tiba. Pada regio antebrakii
tampak nodul eritematus, berbatas tidak tegas, tepi reguler, ukuran gutata, jumlah
multiple, dan distribusi regional bilateral. Tampak perbesaran N. aurikularis
magnus sinistra dan N. Ulnaris dekstra. Pemeriksaan Ziehl Neelsen BI: +1 dan
MI: 80%.
7

2.7 Diagnosis Banding


1. Eritema Nodosum Leprosum
2. Eritema Induratum
3. Sarkoidosis

2.8 Diagnosis Klinis


Eritema Nodusum Leprosum

2.9 Tatalaksana

2.9.1 Sistemik:
- MDT pengobatan bulanan: hari pertama
- Rifampisin 600 mg
- Lampren 300 mg
- Dapson/DDS 100 mg
- MDT pengobatan harian: Hari ke-2 sampai 28
- Lampren 50 mg
- Dapson/DDS 100 mg
- Metil prednisolon 8 mg tab 3x1
- Natrium diklofenak 50 mg tab 2x1
- Mecobalamin 500 mg tab 1x1
- Ranitidin 150 mg tab 2x1

2.10 Edukasi
1. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga mengenai penyakit pasien,
terutama cara penularan dan pengobatannya
2. Menjelaskan kepada keluarga pasien untuk membantu mengawasi pasien
minum obat sehingga pengobatan yang diberikan tuntas sesuai waktu
pengobatan
3. Menjelaskan kepada pasien dan keluaga mengenai pentingnya asupan
nutrisi dan istirahat yang cukup.
4. Menjelaskan kepada pasien upaya pencegahan kecacatan
8

2.11 Prognosis
- Quo ad vitam : Dubia ad bonam
- Quo ad fungtionam : Dubia ad bonam
- Quo ad sanactionam : Dubia ad malam
ANALISA KASUS
Telah dilakukan pemeriksaan pada pasien laki-laki usia 28 tahun di
Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUDZA dengan keluhan bengkak merah di kedua
tangan dan kaki disertai nyeri, gatal muncul secara tiba-tiba. Pada regio antebrakii
tampak nodul eritematus, berbatas tidak tegas, tepi reguler, ukuran gutata, jumlah
multiple, dan distribusi regional bilateral. Tampak perbesaran N. aurikularis
magnus sinistra dan N. Ulnaris dekstra.
Diagnosis Morbus Hansen didasarkan pada penemuan 3 tanda kardinal,
dimana jika salah satunya terdapat pada pasien, sudah cukup untuk menegakkan
diagnosis dari penyakit kusta. Tiga tanda kardinal tersebut, yaitu lesi kulit yang
anestesi, penebalan saraf perifer, dan ditemukannya M. lepra sebagai
bakteriologis positif. Pada kasus ini, dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, serta
pemeriksaan penunjang pada pasien ditemukan dua dari ketiga tanda kardinal
tersebut, yaitu penebalan syaraf perifer dan bakteriologis positif. Pasien
sebelumnya juga sudah didiagnosis morbus hansen dan mendapat pengobatan
MDT dan dinyatakan selesai. (6,7)
Reaksi lepra adalah gambaran dari episode akut hipersensitivitas terhadap
M. leprae yang menyebabkan gangguan dalam keseimbangan sistem imunologi.
Penderita penyakit kusta dapat mengalami reaksi kusta, yang merupakan suatu
reaksi kekebalan yang abnormal (respon imun seluler atau respon imun humoral),
dengan akibat yang merugikan penderita. Reaksi lepra dapat terjadi sebelum,
selama, atau sesudah pengobatan dengan obat kusta. Reaksi kusta dibagi menjadi
2 (dua) yaitu reaksi kusta tipe I dan reaksi kusta tipe II. (8)

9
10

Tabel 3. Perbedaan Reaksi Lepra menurut Tipe (8)


Gejala Tipe I Tipe 2
Hipersensitivitas Type IV Hipersensitifitas Tipe III
Tipe Reaksi (Cell mediated Delayed (Reaksi Antigen-Antibodi
Hypersensitivity) atau Immune Complex)
Lesi kulit yang tiba-tiba Merah, nyeri, muncul nodul
memerah, membengkak, kutaneus/subkutaneus.
Peradangan pada
hangat, nyeri namun pada Biasanya terjadi pada wajah
kulit
bagian kulit lainnya normal dan sisi ekstensor lengan
dan tungkai
Neuritis dengan hilangnya Keterlibatan syaraf
fungsi syaraf (hilangnya mungkin dapat
Keterlibatan Syaraf
sensasi dan kelemahan otot) terjadi
dan terjadi dengan tiba-tiba
Baik, dengan demam ringan Buruk, dengan demam
Kondisi Umum atau tidak demam sama menetap dan malaise
sekali
Kelemahan otot kelopak Penyakit mata dapat terjadi
mata menyebabkan tidak (iritis, iridosiklitis),
Keterlibatan Mata
sempurnanya penutupan ditemukan nodul
mata lepromatosa
Organ/ Jaringan lain Tidak terlibat Dapat terlibat

Reaksi tipe 2 (ENL) dapat terjadi pada pasien dengan penyakit lepra jenis
multibasiler (LL dan BL). Mungkin terjadi sebelum, selama atau setelah
perawatan. Sampai 50% LL dan 15% pasien BL dapat mengalami reaksi ENL.
Serangan pada awalnya sering akut, namun mungkin akan berlangsung lama atau
berulang selama beberapa tahun dan akhirnya tenang namun berbahaya, terutama
di mata. ENL bermanifestasi paling umum sebagai nodul merah yang
menyakitkan pada wajah dan permukaan ekstensor anggota badan. Lesi mungkin
dangkal atau dalam, dengan supurasi, ulserasi atau indurasi ganas saat kronis.
ENL adalah gangguan sistemik yang menghasilkan demam dan malaise dan dapat
disertai dengan uveitis, dactylitis, artritis, neuritis, limfadenitis, myositis dan
orchitis. Neuritis syaraf perifer dan uveitis dengan komplikasi synechiae, katarak
dan glaukoma adalah komplikasi ENL yang paling serius. (9)
Pada kasus ini, sesuai dengan teori bahwa pasien muncul bengkak merah di
kedua tangan dan kaki disertai nyeri dan juga rasa gatal yang dialami sejak sekitar
2 bulan yang lalu yang muncul secara tiba-tiba, saat pasien merasa cepat lelah dan
11

banyak pikiran, dan berkurang ketika minum obat. Pasien juga mengeluhkan nyeri
pada sendi tangan dan kaki, demam yang hilang timbul dan cepat lelah..
Sebelumnya didiagnosis dengan morbus hansen. Selama 1 tahun ini pasien sudah
mengkonsumsi MDT Dewasa dan dinyatakan release from treatment. ENL adalah
respons spesifik lepra, yang memiliki beberapa ciri klinis dan histologis yang
sama dengan eritema nodosum. Mungkin terjadi sebelum, selama, atau setelah
pengobatan. (5)
Waktu rata-rata onset ENL mendekati 1 tahun setelah onset pengobatan.
Secara klinis, reaksi ini ditandai oleh nodul nyeri dan lunak, pink cerah, dermal
dan subkutan pada kulit normal, disertai dengan demam, anoreksia, dan malaise.
Arthralgias dan artritis lebih sering terjadi pada ENL daripada neuritis, adenitis,
orchitis / epididimitis, atau iritis, namun masing-masing jarang menjadi presentasi
awal. Keterlibatan ekstremitas atas dan bawah adalah tanda khas dan lesi di wajah
dapat terjadi pada separuh pasien. Lesi mungkin bersifat targetoid, vesikular,
pustular, ulseratif, atau nekrotik. (9)
Dari hasil pemeriksaan laboratorium darah rutin ditemukan peningkatan
leukosit (14.900 gr/dl). Pada pemeriksaan BTA ditemukan BI: +1 dan MI: 80%.
Pada ENL sering terjadi leukositosis neutrofilik. Hasil bakterial index leprae
adalah 1+ jika setidaknya 1 bacillus di setiap 100 bidang, 2+ jika setidaknya 1
bacillus di setiap 10 bidang, 3+ jika setidaknya 1 bacillus di setiap bidang, 4+ jika
setidaknya 10 bacilli di setiap bidang, 5+ jika edikitnya 100 bacilli di setiap
bidang, dan 6+ jika seetidaknya 1000 bacilli di setiap bidang. Morphological
index dihitung dengan menghitung jumlah BTA yang solid. Hanya basil solid
yang layak. Bukan hal yang aneh jika pewarnaan solid M. leprae muncul kembali
dalam waktu singkat pada pasien yang berhasil diobati dengan obat. Penting untuk
diketahui bahwa pengukuran MI bergantung pada variasi pengamat sehingga tidak
selalu dapat diandalkan. (5,8)
Tatalaksana pada ENL terdiri dari beberapa pilihan. Salah satunya,
pengobatan dengan kortikosteroid. Pengobatan dengan prednisolon merupakan
terapi pilihan untuk ENL. Pemberian prednisolon biasanya dimulai dengan dosis
30 mg hingga 60 mg per hari, dan ENL biasanya terkendali dalam waktu 24
hingga 72 jam. Dosis diturunkan 10 mg setiap minggunya hingga mencapai dosis
12

20 mg, lalu diturunkan 5 mg setiap minggu setelahnya. Sebelum memberhentikan


pemberian kortiko-steroid secara total, dosis rumatan 0,5-1 mg per kgBB/hari
harus dipertahankan dalam beberapa hari hingga minggu untuk menghindari
rekurensi ENL. Resiko efek samping penggunaan kortikosteroid jangka panjang
juga tidak boleh lupakan. (10,11)
Tabel 4. Tatalaksana Reaksi Lepra
Tipe Durasi
Jenis Obat
Reaksi terapi
Prednison/
Thalomid Obat lain
Prednisolon

0,5-1,0 mg/kg.
Rifampisin
Biasanya
dapat
dibutuhkan
meningkatkan
selama 6
katabolisme.
bulan-2
Tipe I - Taper NSAID tahun.
perlahan.
Mungkin
Pengobatan
lebih lama
alternatif
atau
mungkin bisa
singkat
ditolerir
dengan baik.

Obat palingmanjur
jika tersedia dan tidak Median
dikontraindikasikan. durasi
Awalnya 1 dosis Jika thalidomide pengobatan
Tipe II 100-200 mg tidak tersedia, sekitar 5
perhari. Dosis 0,5-1,0 mg/kg/ tahun. Bisa
maintenance hari. bertahan
kisaran 50 mg selama 10
setiap hari sampai tahun
500 mg setiap hari
Penomena Mungkin
- Plasmap -
Lucio bermanfaat resis

Pemberian Multi Drug Treatment (MDT) pada pasien dengan


ENL harus tetap berlanjut. Pemberian MDT pada kusta multibasiler terdiri
dari rifampicin 600 mg/bulan, klofazimine 300 mg/bulan, keduanya
13

diminum hari pertama pengobatan. Dilanjutkan dengan pengobatan


dengan dapsone 100 mg/hari dan klofazimine 50 mg/hari. Pengobatan ini
tetap dilanjutkan pada pasien hingga 1 tahun. Dengan terapi yang adekuat,
diharapkan reaksi ENL dapat dikendalikan dalam waktu singkat. Biasanya
reaksi ENL akan berkurang dan menghilang dalam waktu 2 sampai 4
minggu. (10,1112)

Tabel 5. Diagnosis Banding(5)


Alasan Deskripsi
No Diagnosis Definisi Gambar
Diagnosis Lesi
1. Eritema Tampak lesi ENL dapat Tampak
Nodosum bengkak terjadi pada nodul
Leprosum merah, nyeri pasien eritematu
disertai nyeri dengan s,
sendi dan
penyakit berbatas
demam,
lepra jenis tidak
adanya
penebalan
multibasiler tegas,
saraf lebih sebelum, tepi
dari satu. selama atau reguler,
setelah ukuran
pengobatan gutata,
.ENL jumlah
bermanifest multiple,
asi paling dan
umum distribusi
sebagai regional
nodul bilateral.
merah yang
menyakitka
n pada
wajah dan
permukaan
ekstensor
anggota
badan.
14

2. Erythema Tampak lesi Merupakan Tampak


Induratum eritema inflamasi nodul atau
dengan panniculitis plak
penebalan yang eritematus
yang sering berkaitan dan sering
terjadi pada dengan ditemukan
kaki bagian Mycobacteri ulkus
belakang dan um distribusi
jarang tuberculosis regional.
ditemukan
pada bagian
tangan

3. Erythema Gejala kulit Sarkoidosis Tampak


Nodosum bervariasi, adalah nodul
ec. dan berkisar penyakit eritemato
Sarkoidosi dari ruam yang ous
s multipel
dan nodula melibatkan
dengan
(benjolan kumpulan
distribusi
kecil) untuk sel regional
eritema inflamasi
nodosum. abnormal
yang
membentuk
benjolan
yang
dikenal
sebagai
granuloma.
Penyakit ini
biasanya
dimulai di
paru-paru,
kulit, atau
kelenjar
getah
bening.
DAFTAR PUSTAKA
1. Eichelmann K, Salas-Alanis JC and Ocompo-Candiani J. 2013. Review:
Leprosy. An Update: Definition, Pathogenesis, Classification, Diagnosis and
Treatment. Elsevier DOYMA: 104 (7). p.555-63

2. World Health Organization. Weekly Epidemiological Report. Geneva : World


Health Organization; 2014

3. Listiyawati IT, Listiawan MY. Studi Molekuler pada Penyakit Kusta. In


Cholis M, Hidayat T, Tantari SHW, Basuki S, Widasmara D, editors.
Dermato-venerology update 2015 towards better quality of dermato-
venerology service. Malang, Indonesia : Universitas Brawijaya Press; 2014.
P1-13.

4. Depkes RI. 2015. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta : Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI.

5. Thomas, R, Robert, L. Leprosy. Fitzpatricks Dermatology in General


Medicine. Eighth Edition, Vol.2, Chapter 189; 2012. hlm. 1786-1796.

6. Lambert, SM, et al. Comparison of Efficacy and Safety of Ciclosporin to


Prednisolone in the Treatment of Erythema Nodosum Leprosum: Two
Randomised, Double Blind, Controlled Pilot Studies in Ethiopia. PLOS
Neglected Tropical Diseases | DOI:10.1371. 2016. p.2

7. World Health Organization. Leprosy: The Disease; 2017


8. Kosasih, A., Wisnu, I. M., Daili, E. S., Menaldi, S. L. Kusta. Ilmu penyakit
kulit dan kelamin. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2011. hlm. 73-88.

9. Tony Burns and Stephen Breathnach. Rook's textbook of Dermatology 9th


edition volume 2. UK: Wiley-Blackwell; 2010.

10. Van Brakel, W. H., Saunderson, P., Shetty, V., Brandsma, J. W., Post, E.,
Jellema, R., McKnight, J. International workshop on neuropathology in
leprosyconsensus report. Leprosy review. 2007; 78(4):416.

11. Natasja HJ, Van Veen, Diana NJ, Lockwood, Wim H, Van Brakel, et al.
Interventions for erythema nodosum leprosum. Lepr Rev. 2009; 80(1):355-
372.

12. Williams, D. L., Gillis, T. P. Drug-resistant leprosy: monitoring and current


status. Lepr Rev. 2012; 83(3):2

15
RESUME JURNAL

Perbandingan Efektivitas dan Keamanan Ciclosporin dan


Prednisolon dalam Terapi pada Erythema Nodosum
Leprosum : Dua Studi Randomized, Double Blind, Controlled
Pilot di Ethiopa
Saba M. Lambert1, Shimelis D. Nigusse2, Digafe T. Alembo2, Stephen L. Walker1, Peter
G. Nicholls3, Munir H. Idriss2, Lawrence K. Yamuah4, Diana N. J. Lockwood1

1 Department of Clinical Research, Faculty of Infectious and Tropical Diseases, London School of Hygiene and Tropical
Medicine, London, United Kingdom, 2 All Africa Leprosy Rehabilitation and Training (ALERT) Center, Addis Ababa,
Ethiopia, 3 School of Health Sciences, University of Southampton, Southampton, United Kingdom, 4 Data Management,
Armauer Hansen Research Institute (AHRI), Addis Ababa, Ethiopia

Kusta adalah penyakit granulomatosa kronik yang secara prinsip


mempengaruhi kulit dan saraf perifer yang disebabkan Mycobacterium Leprae.
Pasien dengan reaksi Tipe 2 pada kusta mengakibatkan nodul subkutaneus lunak
yang dinamakan sebagai Erythema Nodosum Leprosum (ENL), biasanya
mempengaruhi banyak organ dan mengakibatkan uveitis, neuralitis, artritis,
dactylitis, limfadenitis dan orchitis. ENL merupakan kombinasi aktivasi seluler
dan respons imunologis humoral terhadap M.leprae, yang ditandai dengan
pengendapan kompleks imun ekstra-vaskular yang menyebabkan infiltrasi
neutrofil dan aktivasi komplemen pada banyak organ. Ciclosporin merupakan
immuno-supresan kuat yang digunakan dalam menangani psoriasis, Behcets
disease, rheumatoid arthritis, penyakit radang usus dan transplantasi organ padat.

Penelitian ini dilakukan pada 13 orang pasien ENL akut dan 20 pasien
ENL kronik atau berulang yang dilakukan antara 12 Agustus 2011 hingga 10 Mei
2012 dari klinik kusta di Rumah Sakit ALERT, Addis Ababa, Ethiopia. Penelitian
ini menggunakan metode double-blinded randomized controlled trials. Penelitian
ini bertujuan untuk membandingkan efikasi dan efek samping ciclosporin dan
prednisolon terhadap prednisolon saja dalam pengobatan pasien ENL akut atau
ENL kronis dan rekuren. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah pasien yang
telah didiagnosa ENL dengan keadaan hemodinamik terpantau terpisah, termasuk
demam (temperatur >38oC), neuritis, nyeri sendi, nyeri tulang, orkitis, iritis,
edema, malaise, anoreksia dan limfadenopati yang berumur 18-65 tahun dengan

16
17

berat badan lebih dari 30 kg. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah mereka
yang tidak bersedia memberikan persetujuan atau pengembalian untuk tindak
lanjut; mereka yang memiliki infeksi aktif berat seperti tuberkulosis atau penyakit
berat, seperti diabetes, penyakit jantung, hipertensi berat dan penyakit ginjal;
Orang HIV positif; wanita hamil atau menyusui. Wanita usia subur yang tidak
mau menggunakan kontrasepsi selama masa studi juga tidak diikutsertakan.

Tiga belas pasien dengan ENL baru dan dua puluh pasien dengan ENL
berulang atau kronis terdaftar antara 12 Agustus 2011 dan 10 Mei 2012. Penilaian
akhir diselesaikan pada 21 Desember 2012. Peserta di setiap kelompok perlakuan
di kedua penelitian disamakan terhadap jenis kelamin, usia, klasifikasi Ridley-
Jopling, atau penanganan dengan MDT. Karakteristik umum pasien ENL baru dan
ENL kronik ditunjukkan pada Tabel 1, sebagai berikut:

Table 1 Karakteristik umum pasien ENL baru dan ENL kronik


18

Hasil dari penelitian ini didapatkan sepuluh pasien dengan ENL baru
mengalami satu atau lebih episode kekambuhan ENL. Rata-rata jumlah
kekambuhan ENL untuk dua kelompok perlakuan adalah 1,29 kekambuhan per
pasien di lengan ciclosporin dan 2,4 rekurensi per pasien untuk kelompok
prednisolone. Tujuh belas pasien dengan ENL kronis mengalami satu atau lebih
episode kekambuhan ENL. Rata-rata jumlah kekambuhan ENL untuk dua
kelompok perlakuan adalah 2,3 kekambuhan per pasien di lengan ciclosporin dan
2,0 kambuhan per pasien untuk kelompok prednisolon. Jumlah rata-rata rekurensi
ENL per pasien tidak berbeda secara signifikan antara kedua kelompok pasien
(Mann-Whitney U Test, p = 0,684). Hal ini ditunjukkan pada Tabel 2:

Table 2 Temuan terkait ENL pada rekrutmen pada peserta dengan ENL akut dan kronis.
19

Semua pasien yang menyelesaikan kedua penelitian tersebut mengalami


setidaknya satu kejadian buruk. Efek samping dianalisis dengan tingkat keparahan
dan hubungan sebab akibat. Efek samping kecil dan utama yang secara langsung
terkait dengan prednisolon jauh lebih sering daripada yang disebabkan oleh
ciclosporin. Hal ini disebutkan pada Tabel 3:

Table 3 Jumlah pasien dengan efek samping, baik dalam studi ENL, berhubungan dengan
Prednisolon atau Ciclosporin

Secara ringkas, penelitian ini membahas tentang pengobatan yang


dilakukan pada penderita ENL menggunakan ciclosporin dan prednisolon. ENL
adalah fenomena yang rumit dan tidak dapat diprediksi perkembangan ENL,
seberapa parah dan berapa lama mereka akan memerlukan perawatan. Meskipun
obat imunosupresan yang paling banyak tersedia dapat bekerja sama untuk
mengendalikan gejala akut ENL, pencegahan rekurensi jauh lebih sulit.
Ciclosporin menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam pengelolaan ENL akut
dalam studi ini. Dan tidak tampak perbedaan signifikan efek steroid pada pasien
dengan ENL kronis yang mungkin karena penggunaan steroid yang
berkepanjangan pada pasien-pasien ini dalam kombinasi dengan penurunan
steroid yang terlalu cepat pada pasien yang diberi ciclosporin. Sebuah temuan
yang berharga dari penelitian ini adalah bahwa mereka menunjukkan pentingnya
memisahkan pasien dengan episode ENL pertama dari mereka dengan ENL
kronis. Dalam studi selanjutnya, pasien dengan ENL akut, dapat mengambil
manfaat dari pengurangan prednisolon yang lebih cepat, sedangkan pasien dengan
20

ENL kronis memerlukan pengurangan prednisolon lebih lambat dan immuno-


suppresan yang lebih berkelanjutan.
KRITISI JURNAL
Perbandingan Efektivitas dan Keamanan Ciclosporin dan
Prednisolon dalam Terapi pada Erythema Nodosum
Leprosum : Dua Studi Randomized, Double Blind, Controlled
Pilot di Ethiopa
Saba M. Lambert1, Shimelis D. Nigusse2, Digafe T. Alembo2, Stephen L. Walker1, Peter
G. Nicholls3, Munir H. Idriss2, Lawrence K. Yamuah4, Diana N. J. Lockwood1

1 Department of Clinical Research, Faculty of Infectious and Tropical Diseases, London School of Hygiene and Tropical
Medicine, London, United Kingdom, 2 All Africa Leprosy Rehabilitation and Training (ALERT) Center, Addis Ababa,
Ethiopia, 3 School of Health Sciences, University of Southampton, Southampton, United Kingdom, 4 Data Management,
Armauer Hansen Research Institute (AHRI), Addis Ababa, Ethiopia

No PETUNJUK KOMENTAR

1. Apakah metode penelitian suatu Jenis penelitian ini adalah double-blinded


rendomized trial ? randomized controlled trials.
Ya
2. Apakah semua hasil (outcome) Dilaporkan 13 orang pasien ENL akut
dilaporkan ? dan 20 pasien ENL kronik atau
Ya berulang yang dilakukan antara 12
Agustus 2011 hingga 10 Mei 2012.
Dilaporkan juga karakteristik umum
pasien ENL baru dan ENL kronik
Dilaporkan juga jumlah pasien yang
mengalami efek samping ciclosporin dan
prednisolon
3. Apakah lokasi studi menyerupai lokasi Lokasi penelitian adalah rumah sakit di
anda bekerja atau tidak ? wilayah Ethiopia di Afrika dan salah satu
Ya pusat rehabilitasi utama pasien kusta di
Afrika
4. Apakah kemaknaan statistik maupun Pada penelitian ini dilaporkan kemaknaan
klinis dipertimbangkan atau statistik dengan menggunakan uji Mann-
dilaporkan? Whitney U Test
Ya

5. Apakah tindakan terapi yang dilakukan Dapat dilakukan karena RSUDZA berada
dapat dilakukan ditempat anda bekerja di daerah endemis kusta (Indonesia) yang
atau tidak ? menyumbang angka penderita kusta
Ya tertinggi ke 3 di dunia.
6. Apakah semua subyek penelitian Dalam penelitian ini subyek penelitian
diperhitungkan dalam kesimpulan ? diperhitungkan dan dijelaskan secara
Ya terperinci di dalam kesimpulan
Kesimpulan Layak Baca

22