Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA KOTA

SEMARANG BERDASARKAN PENDEKATAN SAINTIFIK


DAN PENILAIANNYA

Artikel
disajikan sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Fisika

oleh
Rima Chandra Hardyanti
4201412112

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2017

1
PENGESAHAN

Artikel yang berjudul:

Analisis Pembelajaran Fisika berdasarkan Pendekatan Saintifik dan Penilaiannya

disusun oleh:

Rima Chandra Hardyanti

4201412112

telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi FMIPA UNNES pada tanggal

April 2017.

Mengetahui,

Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping

Prof. Dr. Hartono, M.Pd. Fianti, S.Si. M.Sc., Ph.D.

NIP. 196108101986011001 NIP. 197901212005012002

2
ANALISIS PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA KOTA SEMARANG
BERDASARKAN PENDEKATAN SAINTIFIK DAN
PENILAIANNYA

R. Chandra hardyanti*, Hartono1, Fianti2


Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Semarang (UNNES)
Semarang, Indonesia
e-mail: rimachandra11@gmail.com

Abstrak
Pembelajaran Fisika Kurikulum 2013 erat kaitannya dengan pelaksanaan pendekatan saintifik
dan penilaian autentik dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterlaksanaan
pendekatan saintifik dan penilaian autentik dalam pembelajaran fisika,serta menganalisis kendala
pelaksanaan pendekatan saintifik dan penilaian autentik dalam pembelajaran fisika. Teknik pengumpulan
data menggunakan angket, observasi, wawancara, dokumentasi. Perhitungan hasil menggunakan teknik
persentase dan dianalisis dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian
dan pembahasan dinyatakan bahwa keterlaksanaan pembelajaran fisika berdasarkan pendekatan saintifik
baik dengan persentase 84,60%. Keterlaksanaan pembelajaran fisika berdasarkan penilaian autentik baik
dengan persentase 88%. Hasil dari persentase keterlaksanaan pendekatan saintifik dan penilaian autentik
100 menunjukkan bahwa terdapat kendala pelaksanaan pendekatan saintifik, dan kendala pelaksanaan
penilaian autentik. Kendala pelaksanaan pendekatan saintifik diantaranya waktu, beban materi yang padat,
input atau kemampuan peserta didik, kemauan peserta didik dalam menanya, dukungan laboratorium,dan
kemampuan siswa mengolah data. Sedangkan kendala pelaksanaan penilaian autentik diantaranya
keterbatasan waktu menilai, banyaknya komponen atau kriteria penilaian autentik, kesiapan guru, sulitnya
merubah kebiasaan menilai dari penilaian tradisional menjadi penilaian autentik, dan proses mengolah nilai
sesuai dengan format Kurikulum 2013.

Kata kunci: pembelajaran fisika, pendekatan saintifik, penilaian autentik.

Abstract

Physics Education Curriculum in 2013 related to scientific approach and authentic


assessment of learning. This study aimed to analyze the scientific approach and authentic assessment of
learning physics, and analyze obstacle of scientific approach and authentic assessment of learning physics.
Data collection technique used questionnaires, observation, interviews, documentation. Calculation results
using percentage technique and analyzed using qualitative descriptive approach. Based on the results of
research and discussion stated that the enforceability of learning physics based scientific approach has been
good with the percentage of 84.60%. Implementation learning physics based authentic assessment is good
with a percentage of 88%. The results of implementation scientific approach and authentic assessment 100
percentage indicates that there are many obstacle of implementing scientific approach and authentic
assessment. Obstacle of implementing scientific approach such as time, the burden of solid material, input
or the ability of learners, a willingness to ask learners, laboratory support, and the student's ability to process
data. While the implementation constraints such as limited time authentic assessment rate, the number of
components or criteria for authentic assessment, teacher preparedness, assess the difficulty of changing
habits of traditional assessment be authentic assessment, and the process of taking a value in accordance with
the format of Curriculum 2013.

Keyword: learning physics, scientific approach, autenthic asessment

3
PENDAHULUAN Pelaksanaan Kurikulum 2013 untuk
semua jenjang mulai dari tingkat Sekolah
Pendidikan pada hakikatnya Dasar, Sekolah Menengah Pertama, hingga
merupakan usaha sadar dan terencana untuk tingkat Sekolah Menengah Atas menggunakan
mewujudkan suasana belajar dan proses Pendekatan Saintifik. Istilah Pendekatan
pembelajaran agar peserta didik secara aktif Saintifik dalam pelaksanaan Kurikulum 2013
mengembangkan potensi dirinya untuk menjadi pembahasan yang menarik khususnya
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, di kalangan para pendidik, sebab dalam proses
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, pembelajarannya tidak hanya menekankan
akhlak mulia serta keterampilan yang pada pembentukan kompetensi siswa, namun
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan juga menekankan pada pembentukan karakter
negara (Munib et al., 2012: 143). para peserta didik yang nantinya menjadi suatu
Berkembangnya kesadaran semua perpaduan antara pengetahuan, keterampilan,
pihak tentang pendidikan di Indonesia, tentu dan sikap yang dapat didemonstrasikan peserta
melahirkan banyak hal positif, termasuk didik sebagai wujud pemahamannya terhadap
dengan berlakunya kembali kurikulum 2013 konsep yang dipelajarinya secara kontekstual
secara nasional atau seluruh Indonesia mulai (Mulyasa, 2013).
tahun ajaran 2016/2017. Adapun kurikulum Pendekatan Saintifik memiliki
2013 yang diberlakukan secara nasional pada langkah-langkah pembelajaran yang meliputi
tahun ajaran atau TA 2016/2017 bukanlah tindakan mengamati, menanya, mengumpulkan
kurikulum 2013 lalu. Akan tetapi kurikulum informasi, mengasosiasi, dan
2013 yang telah direvisi oleh Kemendikbud. mengkomunikasikan (5M). Dalam
Kurikulum 2013 yang dinilai memberatkan melaksanakan proses tersebut guru dituntut
pada waktu yang lalu kini telah direvisi oleh memiliki profesionalisme pendidik sehingga
Kemendikbud sehingga diharapkan tidak lagi harus bisa mengkondisikan proses
memberatkan dan setiap sekolah dapat pembelajaran tetap menerapkan sifat-sifat
menerapkan atau menggunakannya pada TA ilmiah dan menghindari sifat-sifat yang non
2016/2017. ilmiah. Tugas guru dalam Pendekatan Saintifik
Adapun perubahan atau revisi yaitu mengarahkan proses belajar yang
kurikulum 2013 diantaranya; (1) nama dilakukan siswa dan memberikan koreksi
kurikulum tidak berubah menjadi Kurikulum terhadap konsep dan prinsip yang didapatkan
Nasional tetapi menggunakan nama Kurikulum siswa (Sari, 2015).
2013 Edisi Revisi yang berlaku Nasional; (2) Penekanan Kurikulum 2013
penyederhanaan aspek penilaian siswa oleh selanjutnya adalah penilaian autentik.
guru; (3) tidak adanya pembatasan pada proses Kunandar (2014: 35) mengungkapkan bahwa
siswa; (4) penerapan teori jenjang 5M; (5) melalui kurikulum 2013, penilaian autentik
struktur mata pelajaran dan lama belajar di menjadi penekanan yang serius dimana guru
sekolah tidak diubah; (6) menggunakan metode harus menerapkan penilaian autentik dalam
pembelajaran aktif; (7) meningkatkan setiap proses pembelajaran. Kunandar (2014:
hubungan Kompetensi Inti (KI) dan 10) juga mengungkapkan bahwa penilaian
Kompetensi Dasar (KD); (8) penilaian sikap KI bertujuan untuk mengukur keberhasilan
1 & KI 2 sudah ditiadakan di setiap mata pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan
pelajaran hanya agama dan ppkn namun sekaligus mengukur keberhasilan siswa dalam
Kompetensi Inti (KI) tetap dicantumkan dalam penguasaan kompetensi yang telah ditentukan.
penulisan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Guru dapat melakukan refleksi dan evaluasi
(RPP); (9) skala penilaian menjadi 1-100 dan terhadap kualitas pembelajaran yang telah
dalam penilaian sikap diberikan bentuk dilakukan melalui kegiatan penilaian.
predikat dan deskripsi; (10) remedial diberikan Penilaian autentik dalam pembelajaran
untuk yang kurang, namun sebelumnya siswa Fisika kurikulum 2013 merupakan penilaian
diberikan pembelajaran ulang, kemudian nilai yang dilakukan secara komprehensif untuk
remedial inilah yang dicantumkan dalam hasil menilai mulai dari masukan (input), proses, dan
(Imas & Berlin, 2016: 7-9). keluaran (output) pembelajaran, yang meliputi
ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

4
Penilaian autentik menilai kesiapan peserta yang lampau. Penelitian ini tidak mengadakan
didik, serta proses dan hasil belajar secara utuh. manipulasi data melainkan sesuai dengan
Keterpaduan penilaian ketiga komponen (input fenomena yang dialami oleh subjek penelitian.
prosesoutput) tersebut akan menggambarkan Peneliti juga memposisikan diri sebagai
kapasitas, gaya, dan hasil belajar peserta didik, instrumen utama untuk memperoleh hasil
bahkan mampu menghasilkan dampak penelitian, melakukan analisis deskriptif, dan
instruksional (instructional effect) dan dampak keabsahan data (Moleleong,2013).
pengiring (nurturant effect) dari pembelajaran Penelitian dilaksanakan di SMA
(Direktorat Pembinaan SMA, 2014). Negeri dan Swasta Kota Semarang. Populasi
Salah satu jenis penilaian hasil belajar dalam penelitian ini dianggap homogen
yang diselenggarakan pemerintah untuk menurut Sugiyono (2012: 117-118) adalah
mengukur keberhasilan peserta didik yang telah seluruh guru fisika yang mengajar kelas X dan
menyelesaikan jenjang pendidikan pada jalur XI di 57 SMA Kota Semarang. Sampel
sekolah yang diselenggarakan melalui Ujian penelitian dalam penelitian diambil melalui
Nasional (Prasetyadi et.al 2012). Berdasarkan beberapa tahap pengambilan sampel. Tahap
data dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa pertama pengambilan sampel sekolah dengan
Tengah, diketahui bahwa hasil Ujian Nasional purposive sampling yaitu teknik pengambilan
tiap sekolah memiliki perbedaan. Perbedaan sampel dengan pertimbangan tertentu sehingga
tersebut salah satunya disebabkan oleh mendapatkan 4 sekolah penelitian yaitu SMA
perbedaan pelaksanaan kegiatan belajar Negeri 1 Semarang, SMA negeri 6 Semarang,
mengajar sebagai hasil implementasi SMA Ksatrian 2 Semarang, dan SMA Nasima
Kurikulum 2013 dan kendala pelaksanaan Semarang. Tahap pengambilan sampel kedua
implementasi Kurikulum 2013. tahap pengambilan sampel guru fisika dari tiap
Beberapa SMA di Kota Semarang sekolah dengan purposive sampling sehingga
diantaranya SMA Negeri 1 Semarang, SMA didapatkan 7 guru dari keempat sekolah
Negeri 6 Semarang, SMA Ksatrian 2 penelitian.
Semarang, dan SMA Nasima merupakan SMA Prosedur yang dilakukan yaitu tahap
yang megimplementasikan kurikulum 2013 persiapan penelitian, tahap pelaksanaan
dalam pembelajaran fisika. Hasil Ujian penelitian, tahap pengolahan data, dan tahap
nasional dari keempat sekolah tersebut juga pembuatan kesimpulan. Pengambilan data
bervariasi bergantung pada kegiatan dilakukan dengan menggunakan angket
pembelajaran dan pengimplementasian keterlaksanaan pendekatan saintifik dan
kurikulum 2013 di sekolah tersebut. penilaian autentik yang diberikan kepada
Berdasarkan masalah di atas, maka guru,lembar observasi keterlaksanaan
peneliti melakukan penelitian yang berjudul pendekatan saintifik dan penilaian autentik
Analisis Pembelajaran berdasarkan yang diberikan kepada observer, wawancara
Pendekatan Saintifik dan Penilaiannya. kepada guru, dan analisis dokumentasi untuk
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini melihat keterlaksanaan pendekatan saintifik
adalah menganalisis bagaimana keterlaksanaan dan penilaian autentik dari segi perencanaan,
pendekatan saintifik dan penilaian autentik serta data kecenderungan UN fisika untuk
dalam pembelajaran fisika di SMA Kota mendukung keterlaksanaan pembelajaran fisika
Semarang serta menganalisis kendala berdasarkan pendekatan saintifik dan penilaian
pelaksanaan pendekatan saintifik dan penilaian autentik.
autentik pembelajaran fisika di SMA Kota Langkah-langkah analisis data dimulai
Semarang. dengan analisis sesuai yang diuangkapkan
Miles Huberman yaitu reduksi data, penyajian
METODE PENELITIAN data dengan menyajikan persentase
Jenis penelitian ini adalah penelitian keterlaksanaan lalu dilakukan analisis
kualitatif deskriptif untuk mengetahui deskriptif kualitatif, dan menarik kesimpulan
keterlaksanaan pendekatan saintifik dan dari penelitian yang dilakukan.
penilaian autentik di SMA Kota Semarang.
Penelitian deskriptif adalah suatu metode HASIL DAN PEMBAHASAN
penelitian yang ditujukan untuk Data keterlaksanaan pendekatan
menggambarkan fenomena-fenomena yang saintifik dalam pembelajaran fisika , data
ada, yang berlangsung pada saat ini atau saat keterlaksanaan penilaian autentik dalam

5
pembelajaran fisika, data kendala pelaksanaan Secara keseluruhan, keterlaksanaan pendekatan
pendekatan saintifik dalam pembelajaran saintifik dalam pembelajaran fisika sudah
fisika, data kendala pelaksanaan penilaian terlaksana dengan baik sesuai dengan tujuan
autentik dalam pembelajaran fisika dianalisis Kurikulum 2013, tujuan dan prinsip
menggunakan angket, observasi, wawancara, pembelajaran dengan pendekatan saintifik.
dan dokumentasi serta didukung data Keterlaksanaan pendekatan saintifik dianalisis
kecenderungan hasil UN fisika tahun ajaran menggunakan metode angket, observasi,
2013/2014 sampai tahun ajaran 2015/2016 wawancara, dan dokumentasi didukung
disajikan sebagai berikut. dengan kecenderungan hasil UN fisika yang
Keterlaksanaan Pendekatan Saintifik dalam disajikan pada Gambar 1 dan Gambar 2.
Pembelajaran Fisika

Keterlaksanaan Pendekatan Saintifik dalam


Pembelajaran Fisika
100.00% 86.21% 86.52%
90.00% 83.90% 81.78%
80.00%
70.00%
60.00%
50.00%
40.00%
30.00%
20.00%
10.00%
0.00%
SMA Negeri 1 SMA Negeri 6 SMA Ksatrian 2 SMA Nasima
Semaang Semarang semarang Semarang

angket observasi wawancara dokumentasi rata-rata keterlaksanaan

Gambar 1. Grafik Keterlaksanaan Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Fisika

Kecenderungan Hasil UN Fisika SMA Kota Semarang


tahun ajaran 2013/2014 sampai tahun ajaran 2015/2016
90
80
SMA A
Rata-rata nilai UN Fisika

70
SMA B
60
50 SMA C
40 SMA D
30 UN NASIONAL
20
UN PROVINSI
10
0 UN KOTA
Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016

Gambar 2. Grafik Kecenderungan hasil UN fisika di SMA Kota Semarang


Bila dilihat secara keseluruhan dengan kategori sangat baik. Data tersebut
keterlaksanaan pendekatan saintifik dalam didukung dengan angket guru yang
pembelajaran fisika di SMA Kota Semarang menunjukkan bahwa guru telah melaksanakan
sudah sangat baik dengan presentase 84,60%, pembelajaran fisika dengan langkah
sehingga dapat disimpulkan bahwa bahwa pendekatan saintifik. Observasi pembelajaran
SMA Kota Semarang telah melaksanakan di kelas juga menunjukkan bahwa guru telah
pendekatan saintifik dalam pembelajaran fisika melakukan pembelajaran aktif dengan langkah

6
pendekatan saintifik sehingga siswa antusias Bantul memiliki persentase antara 70,83%
dalam menerima pembelajaran guru. hingga 100% dan tergolong baik.
Wawancara dengan guru menunjukkan bahwa Hasil wawancara dengan ketujuh guru
guru fisika dapat menjelaskan dan telah SMA Kota Semarang juga mengungkapkan
melaksanakan semua langkah pembelajaran kendala melaksanakan pendekatan saintifik
saintifik dalam pembelajaran fisika. diantaranya terbatasnya waktu untuk mengajar
Dokumentasi RPP juga menunjukkan bahwa dengan pendekatan saintifik 5M, beban materi
guru fisika telah melaksanakan pembelajaran yang terlalu padat, input atau kempuan belajar
fisika dengan pendekatan saintifik ditunjukkan peserta didik, kesiapan belajar peserta didik,
dengan RPP guru telah sesuai dengan format kemauan peserta didik untuk menanya,
RPP Kurikulum 2013. Berdasarkan hasil dukungan laboratorium, kemampuan siswa
penelitian yang telah peneliti lakukan, maka mengolah data. Berdasarkan penelitian kendala
guru fisika di SMA Kota Semarang dapat keterlaksanaan pendekatan saintifik dalam
dijadikan role model pembelajaran fisika pembelajaran fisika maka, Pemerintah
dengan pendekatan saintifik untuk sekolah diharapkan dapat mengatur ulang bobot jam
SMA lainnya. pelajaran fisika yang disesuaikan dengan beban
Keterlaksanaan pendekatan saintifik materi, selain itu sekolah bekerja sama dengan
100 % menunjukkan bahwa pendekatan Pemerintah untuk memberikan sarana dan
saintifik sudah terlaksana tetapi belum optimal prasarana yang mendukung pembelajaran fisika
karena adanya kendala pelaksanaan pendekatan dengan pendekatan saintifik.
saintifik. Bambang Subali dalam Keterlaksanaan Penilaian Autentik dalam
Sulistyaningsih, et.al (2016) menyatakan Pembelajaran Fisika
bahwa kualitas program tidak lepas dari Setelah mengetahui keterlaksanaan
kualitas pendidik. Jadi kualitas program pendekatan saintifik dalam pembelajaran fisika
penilaian dalam proses pembelajaran sangat maka dilakukan analisis keterlaksanaan
tergantung kepada kualitas seorang guru. penilaian autentik dalam pembelajaran fisika.
Sejauh mana seorang guru biologi Secara keseluruhan keterlaksaan penilaian
melaksanakan penilaian sesuai amanat autentik dalam pembelajaran fisika sudah
kurikulum tergantung pada sejauh mana terlaksana dengan baik sesuai dengan tujuan
seorang guru tersebut memahami aturan yang Kurikulum 2013, tujuan dan prinsip
berlaku dalam Kurikulum 2013. pembelajaran dengan penilaian autentik.
Penelitian tentang keterlaksanaan Keterlaksanaan penilaian autentik dianalisis
pembelajaran Fisika berdasarkan Pendekatan menggunakan meode angket, observasi ,
saintifik sesuai dengan penelitian sebelumnya wawancara, dan dokumentasi didukung dengan
pernah dilakukan oleh Saksono (2014) yang kecenderungan hasil UN fisika yang disajikan
menyatakan bahwa keterlaksanaan pendekatan pada Gambar 2 dan Gambar 3.
saintifik di SMA Negeri 1 Kasihan Kabupaten
Keterlaksanaan Penilaian Autentik dalam
Pembelajaran Fisika
100% 93%
86% 89%
90% 84%
80%
Persenatse Skor

70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
SMA negeri 1 SMA Negeri 6 SMA Ksatrian 2 SMA Nasima
Semarang Semarang Semarang Semarang

angket observasi wawancara dokumentasi rata-rata keterlaksanaan

Gambar 3. Grafik Keterlaksanaan Penilaian Autentik dalam Pembelajaran Fisika.

7
Bila dilihat secara keseluruhan penilaian tradisional menjadi penilaian
keterlaksanaan penilaian autentik dalam autentik, masih ditemukan kendala mengolah
pembelajaran fisika di SMA Kota Semarang nilai karena format penilaian KTSP dan
sudah sangat baik dengan presentase 88%, penilaian autentik Kurikulum 2013 berbeda.
sehingga dapat disimpulkan bahwa SMA Kota Kendala pelaksanaan penilaian
Semarang telah melaksanakan penilaian autentik yang terjadi dalam penelitian sejalan
autentik dalam pembelajaran fisika dengan dengan kendala keterlaksanaan penilaian
kategori sangat baik. Data tersebut didukung autentik yang terjadi pada penelitian Puspitasari
dengan angket guru yang menunjukan bahwa (2016) yang menyatakan bahwa kendala
guru telah melaksanakan pembelajaran fisika pelaksanaan penilaian autentik dalam mata
dengan langkah penilaian autentik. Observasi pelajaran Biologi kelas X di SMA Negeri di
pembelajaran di kelas juga menunjukkan Kabupaten Sleman karena terlalu banyak
bahwa guru telah melaksanakan pembelajaran instrument dan teknik penilaian yang harus
fisika dengan pendekatan saintifik dan diterapkan, banyaknya komponen penilaian
penilaiannya menggunakan penilaian autentik. terutama kesulitan dalam menilai aspek sikap,
Wawancara dengan guru juga menunjukkan jenis materi, kemampuan guru, input peserta
bahwa guru fisika dapat menjelaskan dan telah didik, sarana dan prasarana. Berdasarkan hasil
melaksanakan semua langkah penilaian penelitian kendala keterlaksanaan penilaian
autentik dalam pembelajaran fisika. autentik dalam pembelajaran fisika maka,
Dokumentasi RPP juga menunjukkan bahwa Pemerintah diharapkan dapat melakukan
guru telah melaksanakan pembelajaran fisika pelatihan secara nasional kepada guru-guru
dengan penilaian autentik ditunjukkan dengan fisika bagaimana cara mengisi nilai sesuai
RPP guru telah sesuai dengan format RPP format Kurikulum 2013. Selain itu diharapkan
Kurikulum 2013 dan dilengkapi rubrik guru juga mengubah pola pemikiran dalam
penilaian autentik. melakukan penilaian KTSP menjadi penilaian
Berdasarkan hasil penelitian autentik.
keterlaksanaan penilaian autentik maka, format
penilaian autentik yang dilakukan oleh guru PENUTUP
fisika SMA Kota Semarang dapat dijadikan Berdasarkan hasil penelitian dan
format penilaian autentik secara nasional. pembahasan dapat diambil beberapa simpulan
Keterlaksanaan penilaian autentik bahwa keterlaksanaan pendekatan saintifik di
100 % menunjukkan bahwa pendekatan SMA Kota Semarang diperoleh rata-rata
saintifik sudah terlaksana tetapi belum optimal 84,60% sehingga dapat disimpulkan bahwa
karena adanya kendala pelaksanaan pendekatan SMA Kota Semarang telah melaksanakan
saintifik. Bambang Subali dalam pendekatan saintifik dalam pembelajaran fisika
Sulistyaningsih, et.al (2016) menyatakan dengan kategori sangat baik.
bahwa kualitas program tidak lepas dari Keterlaksanaan penilaian autentik di
kualitas pendidik. Jadi kualitas program SMA Kota Semarang diperoleh rata-rata 88%
penilaian dalam proses pembelajaran sangat sehingga dapat disimpulkan bahwa SMA Kota
tergantung kepada kualitas seorang guru. Semarang telah melaksanakan penilaian
Sejauh mana seorang guru biologi autentik dalam pembelajaran fisika dengan
melaksanakan penilaian sesuai amanat kategori sangat baik..
kurikulum tergantung pada sejauh mana Kendala pelaksanaan pendekatan
seorang guru tersebut memahami aturan yang saintifik dalam pembelajaran Fisika adalah
berlaku dalam Kurikulum 2013. waktu untuk mengajar dengan pendekatan
Hasil wawancara dengan ketujuh guru saintifik 5M, beban materi yang terlalu padat,
SMA Kota Semarang juga mengungkapkan input atau kemampuan belajar peserta didik,
kendala melaksanaan penilaian autentik kesiapan belajar peserta didik, kemauan peserta
diantaranya terbatasnya melaksanakan didik untuk menanya, dukungan laboratorium,
penilaian autentik, banyaknya komponen dan kemampuan siswa mengolah data.
kriteria dalam melaksanakan penilaian Kendala pelaksanaan penilaian
autentik, kendala kurang tertibnya guru autentik dalam pembelajaran Fisika adalah
melaksanakan administrasi, sulitnya merubah
kebiasaan melaksanakan penilaian dari

8
kendala waktu melaksanakan penilaian _________. 2014a.Peraturan Menteri
autentik, banyaknya komponen/kriteria dalam Pendidikan dan Kebudayaan Republik
penilaian autentik, kendala kurang tertibnya Indonesia Nomer 104 Tahun 2014,
guru dalam administrasi, sulitnya merubah tentang Pedoman Penilaian Hasil
kebiasaan dengan penilaian yang tradisional Belajar oleh Pendidik.
menjadi autentik, proses mengolah nilai karena
formatnya penilaian KTSP dan Kurikulum _________. 2014b. Peraturan Menteri
2013. Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia Nomor 160 Tahun 2014,
DAFTAR PUSTAKA tentang Pemberlakuan Kurikum Tahun
2006 dan Kurikulum 2013.
Bambang Subali. (2012). Prinsip Assesmen dan
Evaluasi Pembelajaran. Mulyasa. 2013. Pengembangan dan
Yogyakarta:UNY Press. Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta:
PT.Remaja
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013.
Implementasi Kurikulum 2013 Konsep Rosdakarya.
Pendekatan Scientific. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Munib, A., Budiyono & S. Suryana. 2012.
Kebudayaan. Pengantar Ilmu Pendidikan.
Semarang: UNNES Press.
_________. 2013. Materi Pelatihan Guru Pantiwati, Y. (2013). Penelitian autentik untuk
Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: meningkatkan keterampilan kognitif
Badan Pengembangan Sumber Daya berpikir kritis, kreatif, dan
Manusia Pendidikan dan Kebudayaan metakognitif. Journal pendidikan dan
dan Penjaminan Mutu Pendidikan Pelatihan, 4 (14), 1-9.
Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan. Puspitasari, Etika Dyah.2015.Analisis
Keterlaksanaan Penilaian Autentik
Khofidzoh.2016. Implementasi Penilaian dan Korelasinya dengan Hasil belajar
Autentik dalam Pembelajaran Peserta Didik dalam Implementasi
Ekonomi di MA se-Kabupaten Sleman Kurikulum 2013 pada Mata Pelajaran
Yogyakarta. Skripsi: Universitas Biologi kelas X SMA Negeri di
Negeri Yogyakarta. Kabupaten Sleman.Tesis. Program
Pascasarjana Universitas Negeri
Kunandar (2014). Penilaian Autentik (Penilaian Yogyakarta.
Hasil Belajar Peserta Didik
Berdasarkan Kurikulum 2013) (Edisi _________. 2016. Keterlaksanaan Penilaian
revisi). Jakarta: PT Rajagrafindo Autentik dan Korelasinya terhadap
Persada. Hasil Belajar Biologi SMA.
Kurniasih, Imas & Berlin Sani. 2016. Revisi Procidding Biology Education
Kurikulum 2013[Implementasi Konsep Conference.13 (1): 196-202.
dan Penerapan]. Jakarta: Kata Pena.
Melkinus Suluh. 2015. Studi Keterlaksanaan Putrayasa, I. M., S. P. Syahruddin, & I. G.
Pembelajaran Fisika Berbasis Margunayasa. 2014. Pengaruh Model
Scientific Approach di SMA Negeri Pembelajaran Discovery Learning dan
Kota Yogyakarta.Tesis. Program Minat Belajar Terhadap Hasil Belajar
Pascasarjana Universitas Negeri IPA Siswa. Jurnal Mimbar PGSD
Yogyakarta. Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD, 2(1).
Mendikbud. 2013a. Peraturan Menteri Sari, Jenitta Vaulina Puspita. 2015. Penerapan
Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Pendekatan Saintifik dalam
Indonesia Nomor 66 Tahun 2013 Pembelajaran Ekonomi SMA Kelas XI
Tentang Standar Penilaian Pendidikan Materi Ketenagakerjaan. Prosiding
Dasar dan Menengah. Seminar Nasional (1): 259-268.

9
Siskandar. 2008. Kesiapan Daerah dalam Sutarto. 2005. Buku Ajar Fisika (BAAF) dengan
Melaksanakan Ujian Nasional. Jurnal Tugas Analisis Foto Kejadian Fisika
Ekonomi & Pendidikan, Volume 5 (AFKA) sebagai Alat Buntu
Nomor 1, April 2008. Penguasaan Konsep Fisika. Jurnal
Suparno, P.(2013).Metodelogi Pembelajaran Pendidikan dan Kebudayaan, 11(54):
Fisika Konstruktivistik & 326-340.
Menyenangkan.Yogyakarta:
Universitas Sanata Dharma. Zhulfi Prasetyadi, Sri Astutik, Supeno. 2012.
Analisis Ketercapaian Kompetensi
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan (Standar Kompetensi dan Kompetensi
(Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan Dasar) Mata Pelajaran Fisika Pada
R&D). Bandung : Alfabeta. Hasil Ujian Nasional Tingkat SMA di
Kota Pasuruan, Kabupaten Pasuruan,
Sukmadinata, N. S. 2009. Metode Penelitian dan Kabupaten Probolinggo. Jurnal
Pendidikan. Bandung : PT Remaja Pembelajaran Fisika 1 (2): 172-17
Rosdakarya.

10
11