Anda di halaman 1dari 59

Pelayanan

KEFARMASIAN
Azizah Nasution - Juanita Tanuwijaya - Poppy Anjelisa Z. Hsb. - Khairunnisa - Aminah

Dalimunthe - Hari Ronaldo Tanjung - Marianne - Dadang Irfan Husori - Embun Suci Nasution -

Lia Laila.

LABORATORIUM FARMASI KOMUNITAS


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LEMBAR IDENTITAS MAHASISWA

Pas foto

3x4

Nama :

NIM :

Kelas :

Kelompok Hari :

Tanda tangan :
KATA PENGANTAR

Pelayanan kefarmasian saat ini telah mengalami perkembangan dari orientasi produk ke
orientasi pasien, pelayanan yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai
komuditi menjadi pelayanan yang konprehensif bertujuan untuk meningkatkan kualitas
hidup pasien. Sebagai konsekuensi perubahan orientasi tersebut, apoteker dituntut untuk
senantiasa meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku guna melaksanakan
interaksi langsung dengan pasien. Bentuk interaksi tersebut meliputi pelaksaan KIE,
monitoring penggunaan obat, memastikan tujuan akhir sesuai harapan dan terdokumentasi
dengan baik. Apoteker harus memahami dan menyadari kemungkinan terjadinya kesalahan
pengobatan (medication error) serta mengantisipasi timbulnya berbagai maslah terkait
penggunaan obat baik aktual maupun potensial dalam proses pengobatan. Di samping itu
munculnya peran baru sebagai konsekuensi perubahan orientasi tersebut, apoteker harus
tetap menjalankan peran tradisionalnya sebagai pengelola produk, oleh karena hal ini
merupakan bagian dari penjaminan mutu bagi pelayanan kefarmasian yang komprehensif di
farmasi komunitas/apotek.

Penuntun praktikum ini dimaksudkan sebagai pedoman bagai mahasiswa program


Pendidikan Profesi Apoteker dalam mengikuti kegiatan Praktikum Pelayanan Farmasi
Komunitas, berupa latihan pelayanan resep, pelayanan swamedikasi, dan pelayanan KIE,
serta melaksanakan pengelolaan obat meliputi pengadaan, penyimpanan, dan
penyelenggaraan administrasi.

Isi penuntun praktikum ini meliputi Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP),
Deskripsi Singkat dan tujuan dilaksanakannya Praktikum Pelayanan Farmasi Komunitas,
Perincian Kegiatan Praktikum, Ketentuan Praktikum, Tata Cara Praktikum, Prosedur
Penyiapan Resep, Skrining Resep, Pelayanan Resep Pasien Kardiovaskular, Pelayanan Resep
Pasien Gangguan Endokrin, Pelayanan Resep Pasien Gangguan Pencernaan, Pelayanan
Resep Campuran, Prosedur Pelayanan Swamedikasi, dan mengerjakan studi kasus dari
setiap bagiannya.

Diharapkan Penuntun Praktikumyang sederhana ini dapat membantu mahasiswa dalam


mengikuti kegiatan praktikum dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat dicapai hasil sesuai
dengan tujuan yang telah ditetapkan secara optimal.

Medan, 16 September 2015

Penyusun

Dr. Azizah Nasution, M.Sc .,Apt.


Juanita Tanuwijaya, M.Si.,Apt.
Dr. Poppy Anjelisa Z. Hsb.,M.Si.,Apt.
Khairunnisa, M.Pharm.,Ph.D.,Apt
Aminah Dalimunthe, M.Si.,Apt.
Hari Ronaldo Tanjung, M.Sc.,Apt.
Marianne, M.Si.,Apt.
Dadang Irfan Husori, M.Sc.,Apt.
Embun Suci Nasution, S.Si.,M.Farm.Klin.,Apt.
Lia Laila, M.Sc.,Apt
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...........................................................................................................................iii


DAFTAR ISI ...........................................................................................................................iv

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN.....................................................................................v

BAB I PENDAHULUAN ...........................................................................................................................1


BAB II PELAYANAN RESEP PASIEN KARDIOVASKULAR ..........................................................................14
BAB III PELAYANAN RESEP PASIEN GANGGUAN ENDOKRIN .................................................................22
BAB IV PELAYANAN RESEP PASIEN GANGGUAN PENCERNAAN ...........................................................29

BAB V PELAYANAN RESEP CAMPURAN ................................................................................................38


BAB VI PELAYANAN SWAMEDIKASI ......................................................................................................45
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................................59
GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN

I. Deskripsi singkat
Praktikum Pelayanan Farmasi Komunitas membimbing mahasiswa
melakukan Pelayanan kefarmasian berorientasi pasien sesuai dengan
Kepmenkes No. 1027/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di
Apotek.

II. Tujuan
Setelah mengikuti praktikum Laboratorium Farmasi Komunitas Fakultas
Farmasi USU, mahasiswa Program Pendidikan Profesi Apoteker diharapkan
mampu melakukan Pelayanan Resep dan Pelayanan Swamedikasi di Apotek
sesuai konsep asuhan kefarmasian.

No Tujuan Intruksional Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Waktu


. Khusus
1. Mampu menyiapkan Skrining Resep Administration error 27 jam
resep dan Pharmaceutical error
menyerahkannya Clinical error
kepada pasien sesuai KIE
standar pelayanan
swamedikasi
2. Mampu melaksanakan Kebutuhan obat Pengetahuan tentang 6 jam
pelayanan swamedikasi pasien obat dan produk obat
Komunikasi verbal
Kebutuhan pasien
Pengalaman bagi
peningkatan
kemampuan
3. Mampu melakukan Konseling Three prime questions 3 jam
konseling kepada Final verification
pasien Show and tell
4. Mampu melakukan Pengadakan, Cara pengadaan obat 3 jam
pengadaan, penyimpanan, Pedagang besar farmasi
penyimpanan dan dan penetapan Penyimpanan
menetapkan harga obat harga obat Kartu stock
Daftar harga obat
Harga netto apoteker
Harga jual apotek
5. Mampu melaksanakan kaedah-kaedah Kode etik dan standar 3 jam
kaedah-kaedah profesi profesi dan profesi UU, PP,
dan peraturan peraturan Permenkes dan
perundang-undangan perundang- Kepmenkes
kefarmasian undangan

III. Perincian kegiatan praktikum


Praktikum pelayanan farmasi komunitas mempunyai beban 1 sks terdiri
dari 12 x 3 jam = 3 jam yang terbagi dalam kegiatan pelayanan resep dan
pelayanan swamedikasi dengan berbagai kasus penyakit, dengan perincian
sebagai berikut:
1. Mengerjakan resep bukan campuran dengan berbagai kasus penyakit
2. Mengerjakan resep campuran/racikan dengan berbagai kasus penyakit
3. Mengerjakan permintaan swamedikasi sebanyak 3 permintaan berbagai
kasus penyakit
4. Mengerjakan resep narkotika/psikotropika minimal 1

Tiap mahasiswa dinyatakan telah menyelesaikan praktikum apabila telah


melaksanakan keseluruhan beban sks dan lulus evaluasi praktikum

Evaluasi praktikum berupa ujian menyiapkan resep dan atau permintaan


swamedikasi dalam batas waktu yang ditentukan oleh panitia ujian
ditambah KIE saat penyerahan.
IV. Persyaratan Mengikuti Praktikum
1. Mahasiswa peserta praktikum adalah mahasiswa Program Pendidikan
Profesi Apoteker Semester 1.
2. Semua sarana praktikum yang diperlukan disediakan labolatorium kecuali
lap/serbet bersih dan kalkulator.
3. Praktikan harus siap dengan materi farmakologi pada tiap jadual praktikum
sesuai dengan yang ditentukan dengan membaca berbagaipustaka dengan
membuat rangkuman edukasi tiap penyakit yang akan dipraktikumkan.
4. Pustaka wajib yang diperlukan harus dibawa sendiri oleh masing-masing
praktikum (ISO ISFI tahun terbaru, MIMS edisi terbaru, buku farmakologi-
farmakoterapi yang berkaitan, dll).
Daftar pustaka yang harus dicari dan dibaca:
a. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51 Tahun 2009 Tentang
Pekerjaan Kefarmasian
b. Kurniawan, D.W. dan chabib, L. 2010. Pelayanan Informasi Obat: Teori
Dan Praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu.
c. Tan, H.T dan Rahardja, K. 2010. Obat-obat Sederhana untuk Gangguan
Sehari-hari, Jakarta: Elex Media Komputindo.
d. Aslem, M, Tan, C.K, dan Prayitno, A. 2003. Farmasi Klinis: Menuju
Pengobatan Rasional dan Penghargaan Pilihan Pasien, Jakarta: Elex
Media Komputindo.
e. Siregar, C.J.P 2003. Farmasi Rumah Sakit: Teori dan Penerapan. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran.
f. Siregar, C.J.P 2004. Farmasi Klinik: Teori dan Penerapan. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
g. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. 2006.
PedomanPelayanan Informasi Obat di Rumah Sakit. Jakarta:Departemen
Kesehatan RI.
h. Malon, et. Al. 2001. Drug information: A Guide For Pharmacist.Edisi
Kedua. McGraw Hill.
i. www.mywebmd.com
j. www.rxlist.com
k. www.binfar.depkes.go.id
l. www.piolk-ubaya.ac.id
m. www.dharmais.co.id
n. www.dmcpharmacy.org
o. www.pharmacy.org

V. Tata Tertib Praktikum


1. Praktikan harus hadir 10 menit sebelum praktikum berlangsung.
2. Praktikan harus memakai jas/seragam P3A.
3. Praktikan harus membawa pustaka dan rangkuman edukasi yang
berakaitan dengan topik penyakit yang ditemukan.
4. Praktikan harus segera mengerjakan resep dan atau permintaan
swamedikasi sesuai dengan topic penyakit pada tiapa pertemuan dalam
waktu 30 menit sesuai dengan panduan prosedur penyiapan resep pada
poin VI dibawah ini.
5. Hasil pengerjaan resep dikumpulkan pada dosen pembimbing praktikum.
6. Praktikan harus menunggu giliran untuk melaporkan dan melakukan KIE
kepada dosen pembimbing praktikum yang akan bertindak sebagai pasien
7. Praktikan yang sedang menunggu giliran KIE tidak boleh membuat
kegaduhan yang menggangu ketertiban praktikum. Para praktikan tersebut
sebaiknya membaca pustaka yang berkaitan untuk dapat memberikan
pelayan konseling yang komprehensif.
8. Mahasiswa wajib menjaga ketenangan dan kebersihan selama praktikum
berlngsung.
9. Sesi praktikum dinyatakan selesai dan praktikan boleh keluar
ruangan praktikum jika semua alat, ruang dan lemari pajang apotek
telah dirapikan dan dibersihkan kembali

VI. Prosedur Penyimpanan Resep (30 menit)


1. Mahasiswa menerima 1 lembar resep dokter yang berisi lebih kurang 3 R/
2. Lakukan skrining resep yang meliputi identifikasi administrasion eroor,
Pharmaceutical error dan chinical error.
3. Ajukan three prime question atau pertanyaan lain yang diperlukan kepada
pasien.
4. Informasikan mengenai ketersediaan obat-obat dalam resep dan harga
resep kepada pasien untuk mendapat persetujuan pasien.
5. Sediakan obat-obat yang diminta dalam resep.
6. Buat etiket masing-masing obat sesuai dengan signa dalam resep dan
informasi yang menurut saudara sebagai apoteker perlu diketahui oleh
pasien
7. Buat copy resep
8. Buat catatan pengobatan pasien (patient medication record)
9. Isi Kolom KIE pada PMR dengan materi Konsultasi, Informasi, dan
Edukasi yang SESUAI DENGAN KONDISI PASIEN, PENYAKIT , JENIS OBAT
YANG MENDUKUNG BAGI KETETAPAN PENGOBATAN DAN
KEBERHASILAN TERAPI dengan mengacu pada pustaka yang relevan.
10. Serahkan resep yang sudah disiapkan disertai KIE (Konseling, Informasi,
dan Edukasi) yang diperlukan kepada dosen pembimbing praktikum yang
bertindak sebagai pasien.

VII. Prosedur Pelayanan Swamedikasi (30 Menit)


1. Mahasiswa menerima permintaan swamedikasi
2. Tentukan kebutuhan obat untuk mengatasi kebutuhan pasien
3. Sediakan obat-obat sesuai kebutuhan pengobatan
4. Tetapkan harga semua obat yang dibutuhkan
5. Buat catan pengobatan pasien (PMR)
6. Serahkan obat disertai KIE yang diperlukan bagi keberhasilan terapi
kepada dosen pembimbing praktikum yang bertindak sebagai pasien.

VIII. Penilaian
Penilaian akhir praktikum meliputi:
1. Peilaian Harian : 30% ( Lihat Lembar Penilaian Konseling Terlampir)
2. Laporan Praktikum : 30%
3. Ujian Akhir : 40 %
BAB I
PENDAHULUAN

I. Pengertian resep
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 35 tahun 2014, Resep adalah
permintaan tertulis dari dokter atau dokter gigi, kepada apoteker, baik dalam bentuk
paper maupun electronic untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi pasien
sesuai peraturan yang berlaku.
Resep yang ditulis harus lengkap dan jelas, apabila resep tidak jelas atau tidak
lengkap, apoteker harus menanyakan kepada dokter penulis resep tersebut.
Resep yang lengkap memuat hal-hal sebagai berikut :
1. Bagian inscriptio/superscriptio, meliputi: nama, alamat, nomor ijin praktek,
nomor telepon dokter dan tempat serta tanggal penulisan resep.
2. Bagian invocatio yaitu tanda penulisan R/ pada bagian sebelah kiri sebagai
awal penulisan resep
3. Bagian praescriptio/ordonatio, meliputi: nama, bentuk sediaan, kekuatan dan
jumlah obat.
4. Bagian signatura yaitu aturan pemakaian obat yang tertulis.
5. Bagian subscriptio yaitu tanda tangan atau paraf dokter yang menuliskan
resep
6. Tanda seru atau paraf dokter pada setiap resep yang melebihi dosis maksimal.

II. Pelayanan resep


Setiap Apoteker wajib melayani resep sesuai dengan tanggung jawab dan
keahlian profesinya dan dilandasi pada kepentingan masyarakat. Berikut
digambarkan tahap-tahap pelayanan resep di apotek secara umum :
Kegiatan pengkajian resep / skrining resep meliputi 3 aspek yaitu:
a. Skrining/pengkajian administratif
Berguna untuk menghindari kesalahan penulisan resep maupun pemalsuan
resep. Pada bagian ini yang penting untuk dikaji mencakup:
. nama pasien, umur, jenis kelamin dan berat badan;
2. nama dokter, nomor Surat Izin Praktik (SIP), alamat, nomor telepon dan paraf;
dan
. tanggal penulisan Resep.

b. Skrining/pengkajian kesesuaian farmasetik


Kajian kesesuaian farmasetik meliputi:
. bentuk dan kekuatan sediaan;
. stabilitas; dan
. kompatibilitas (ketercampuran Obat).
Terkait dengan ketercampuran obat maka perlu
dipahami inkompatibilitas obat. Inkompatibilitas obat
terbagi atas:
Inkompatibilitas fisika
Obat obat yang tidak tercampurkan secara fisika yaitu terjadi perubahan-perubahan yang tidak
diinginkan dalam waktu pencampuran sediaan obat tanpa ada perubahan
susunan kimianya. Selain itu bahan obat yang dicampurkan tidak
memberikan campuran yang homogen maka hal tersebut juga merupakan
inkompatibilitas fisika.
Contoh inkompatibilitas fisika antara lain:
- campuran serbuk meleleh atau menjadi basah
- obat tidak dapat melarut dan bercampur
- salting out
Inkompatibilitas kimia
Yaitu perubahan-perubahan yang terjadi karena timbulnya reaksi kimia pada waktu mencampurkan
bahan obat-obatan. Contoh inkompatibilitas kimia antara lain:
- reaksi pengendapan
- reaksi asam basa
- reaksi oksidasi-reduksi
c. Pertimbangan klinis
Pertimbangan klinis meliputi:
. ketepatan indikasi dan dosis Obat;
. aturan, cara dan lama penggunaan Obat;
. duplikasi dan/atau polifarmasi;
4. reaksi Obat yang tidak diinginkan (alergi, efek samping Obat, manifestasi klinis
lain);
. kontra indikasi; dan
. interaksi.
Jika ditemukan adanya ketidaksesuaian dari hasil pengkajian maka Apoteker harus
menghubungi dokter penulis Resep.
III. Dispensing
Dispensing terdiri dari penyiapan, penyerahan
dan pemberian informasi Obat.
Setelah melakukan pengkajian Resep dilakukan hal sebagai berikut:
1. Menyiapkan Obat sesuai dengan permintaan Resep:
- menghitung kebutuhan jumlah Obat sesuai dengan Resep;
- mengambil Obat yang dibutuhkan pada rak penyimpanan dengan memperhatikan nama Obat, tanggal
kadaluwarsa dan keadaan fisik Obat.
2. Melakukan peracikan Obat bila diperlukan
3. Memberikan etiket sekurang-kurangnya meliputi:
- warna putih untuk Obat dalam/oral;
- warna biru untuk Obat luar dan suntik;
- menempelkan label kocok dahulu pada sediaan bentuk suspensi atau
emulsi.
4. Memasukkan Obat ke dalam wadah yang tepat dan terpisah untuk Obat yang
berbeda untuk menjaga mutu Obat dan menghindari penggunaan yang salah.

Setelah penyiapan Obat dilakukan hal sebagai berikut:


1. Sebelum Obat diserahkan kepada pasien harus dilakukan pemeriksaan kembali
mengenai penulisan nama pasien pada etiket, cara penggunaan serta jenis dan
jumlah Obat (kesesuaian antara penulisan etiket dengan Resep);
2. Memanggil nama dan nomor tunggu pasien;
3. Memeriksa ulang identitas dan alamat pasien;
4. Menyerahkan Obat yang disertai pemberian informasi Obat;
5. Memberikan informasi cara penggunaan Obat dan hal-hal yang terkait dengan
Obat antara lain manfaat Obat, makanan dan minuman yang harus dihindari,
kemungkinan efek samping, cara penyimpanan Obat dan lain-lain;
6. Penyerahan Obat kepada pasien hendaklah dilakukan dengan cara yang baik,
mengingat pasien dalam kondisi tidak sehat mungkin emosinya tidak stabil;
7. Memastikan bahwa yang menerima Obat adalah pasien atau keluarganya;
8. Membuat salinan Resep sesuai dengan Resep asli dan diparaf oleh Apoteker
(apabila diperlukan);
9. Menyimpan Resep pada tempatnya;
10. Apoteker membuat catatan pengobatan pasien

IV. Informasi, Edukasi dan Konseling


Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah
dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada pasien
sekurang-kurangnya meliputi: cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka
waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari
selama terapi.
Konseling merupakan proses interaktif antara Apoteker dengan
pasien/keluarga untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, kesadaran dan
kepatuhan sehingga terjadi perubahan perilaku dalam penggunaan Obat dan
menyelesaikan masalah yang dihadapi pasien. Untuk mengawali konseling, Apoteker
menggunakan three prime questions. Apabila tingkat kepatuhan pasien dinilai
rendah, perlu dilanjutkan dengan metode Health Belief Model. Apoteker harus
melakukan verifikasi bahwa pasien atau keluarga pasien sudah memahami Obat yang
digunakan.
Kriteria pasien/keluarga pasien yang perlu diberi konseling:
1. Pasien kondisi khusus (pediatri, geriatri, gangguan fungsi hati dan/atau ginjal, ibu
hamil dan menyusui).
2. Pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (misalnya: TB, DM, AIDS,
epilepsi).
3. Pasien yang menggunakan Obat dengan instruksi khusus (penggunaan
kortikosteroid dengan tappering down/off).
4. Pasien yang menggunakan Obat dengan indeks terapi sempit (digoksin, fenitoin,
teofilin).
5. Pasien dengan polifarmasi; pasien menerima beberapa Obat untuk indikasi
penyakit yang sama. Dalam kelompok ini juga termasuk pemberian lebih dari satu
Obat untuk penyakit yang diketahui dapat disembuhkan dengan satu jenis Obat.
6. Pasien dengan tingkat kepatuhan rendah.

Tahap kegiatan konseling:


1. Membuka komunikasi antara Apoteker dengan pasien
2. Menilai pemahaman pasien tentang penggunaan Obat melalui Three Prime
Questions, yaitu:
- Apa yang disampaikan dokter tentang Obat Anda?
- Apa yang dijelaskan oleh dokter tentang cara pemakaian Obat Anda?
- Apa yang dijelaskan oleh dokter tentang hasil yang diharapkan setelah Anda
menerima terapi Obat tersebut?
3. Menggali informasi lebih lanjut dengan memberi kesempatan kepada pasien
untuk mengeksplorasi masalah penggunaan Obat
4. Memberikan penjelasan kepada pasien untuk menyelesaikan masalah
penggunaan Obat
5. Melakukan verifikasi akhir untuk memastikan pemahaman pasien

Apoteker mendokumentasikan konseling dengan meminta tanda tangan


pasien sebagai bukti bahwa pasien memahami informasi yang diberikan dalam
konseling.
Tugas!
I. Carilah kepanjangan dan arti dari setiap istilah dalam resep di bawah ini:
Kepanjangan Arti
II. Skrining resep
STUDI KASUS
Pada tanggal 15 September 2014, Bapak Sujono (57 tahun) datang ke apotek
anda hendak menebus resep yang didapatkan dari dokter yang dijumpainya. Pasien
tersebut telah mengalami diabetes mellitus tipe 2 selama 2 tahun, dan selama ini
telah menggunakan obat antidiabetes glibenklamid. Pemeriksaan HbA1C terakhir
nilainya 7,5% (normal <6.5%). Bapak Sujono juga diketahui memiliki riwayat
hipertensi selama 4 tahun dan mengkonsumsi captopril. Pemeriksaan tekanan darah
terakhir adalah 160/100 mmHg. Pasien ingin menebus resepnya setengah saja.
dr. Samsul Siswandy, Sp.PD.
Jl. Pemuda No. 234D, Medan
Praktik: Senin s/d Jumat, Pukul 17.00-20.00 WIB

R/ Diamicron tab No. XXX


S 2 dd tab 1 p.c

R/ Captopril tab No. X


S 1 dd tab 1 malam p.c

Nama : Bapak Sujono


Alamat:
Resep tidak boleh diganti tanpa sepengetahuan dokter

Riwayat penyakit: Diabetes mellitus tipe 2 dan hipertensi stage 1


Riwayat pengobatan: Sanadryl DMP
Riwayat Alergi: Tidak ada
BAB II
HIPERTENSI
I. Pengertian
Hipertensi mempunyai hubungan yang erat dengan resiko kejadian penyakit
kardiovaskular, dimana pada tekanan darah yang lebih tinggi maka akan lebih besar pula
kemungkinan terjaidnya penyakit ginjal, stroke, serangan jantung, dan gagal jantung.
Klasifikasi hipertensi berdasarkan seventh report of the Joint National Committee on
Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7)
memasukkan prehipertensi dalam klasifikasinya kewaspadaan pada golongan tersebut
dengan cara meningkatkan edukasi untuk menurunkan tekanan darah dan mencegah
terjadinya hipertensi dengan cara memodifikasi kebiasaan hidup.
II. Klasifikasi Hipertensi
Klasifikasin hipertensiberdasarkan JNC7 adalah klasifikasi untuk orang dewasa
umur 18 tahun. Menurut JNC 7, defenisi hipertensi adalah jika didapatkan tekanan darah
sistolik 140 mmHg atau tekanan darah diastolik 90 mmHg. Penuntuan klasifikasi ini
berdasarkan rata-rata 2 kali pengukuran tekanan darah pada posisi duduk.
Klasifikasi Tekanan Darah Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastol
< 120 < 80
120 - 139 80 - 89
140 - 159 90 - 99
160 100

III. Pengobatan
Pengobatan hipertensi tidak hanya berdasarkan pada derajat tekanan darah, tetapi
juga mempertimbangkan terdapatnya faktor resiko kardiovaskular.
Target Tekanan Darah
Menurut JNC 7, tujuan utama kesehatan
Pada 1 Oktober 2014, Ibu S datang ke apotek anda, ingin menebus resep yang
didapatkan dari dokter yang merawatnya. Pasien tersebut baru didiagnosa diabetes mellitus
tipe 2 berdasarkan gejala klinis ringan dan pemeriksaan laboratorium klinik dengan kadar
glukosa puasa 180 mg/dL, glukosa 2 jam post prandial pada uji toleransi glukosa 220 mg/dL,
HbA1c 7%m Indeks Massa Tubuh (IMT) = 28 kg/m2 (overweight), fungsi ginjal normal.
Berdasarkan riwayat keluarga, diketahui bapak dari Ibu S adalah penderita diabetes mellitus,
Ibu S juga menderita hipertensi selama 3 bulan dan mengkosumsi captopril, pemeriksaan
tekanan darah terakhir adalah 150/100 mmHg. Pasien ingin menebus resep setengah saja.
dr. Raffi, Sp. PD.
Praktek: Senin s/d Jumat, Jam 16.00-21.00 wib
Alamat: Jln. Tri Dharma No. 1, Medan Telp. (061)-7362798

Medan, 30 September 2014

R/ Glumin tab 500 mg No. XC


S 3 dd tab I a.c.
__________________________
R/ Glucovance tab No. XXX
S 3 dd tab I a.c.
__________________________

R/ Captopril tab No. XXX


S 1 dd tab I
__________________________

Pro: Ibu S (55 tahun)

Riwayat penyakit:
Diabetes mellitus tipe 2 dan hipertensi stage 1
Riwayat pengobatan:
Sanadryl DMP
Riwayat alergi:
Tidak ada

-Apakah pemberian obat diabetes tersebut rasional ?


-Apakah pemberian obat hipertensi tersebut rasional dimana pasien mengeluhkan batuk
kering dan sangat terganggu dengan batuk kering tersebut.
-Apakah ada Drug Related Problem (DRP) pada resep tersebut?

KASUS
Seorang pasien wanita, ibu A, berusia 45 tahun datang ke apotek anda ingin
menebus resep yang didapatkannya dari dokter yang merawatnya. Pasien baru saja
didiagnosa menderita hipertensi, dengan hasil pengukuran tekanan darah 150/90 mmHg.
Dari hasil pemeriksaan juga diperoleh nilai LDL 230 mg/dL, HDL 35 mg/dL.

dr. Suci ,S. PD.


Praktek: Senin s/d Jumat, Jam 16.00-21.00 wib
Alamat: Jln. Tri Dharma No. 1, Medan Telp. (061)-7362798

Medan, ..

R/ Captoril tab No. XXX


S 1 dd tab I

Pro: Ibu A (60 tahun)

Riwayat penyakit:
Maag
Riwayat pengobatan:
Antasida
Riwayat alergi:
Tidak ada

-Apakah pemberian obat rasional?


-Apakah ada Drug Related Problems (DRP) pada resep tersebut?
BAB III
ENDOKRIN

I. Pengertian
DM adalah penyakit metabolic (kebanyakan herediter) sebagai akibat dari
kurangnya insulin efektif baik oleh karena adanya disfungsi sel beta pancreas atau
ambilan glukosa di jaringan perifer, atau keduanya (pada DM-Tipe 2), atau
kurangnya insulin absolute (pada DM-Tipe 1), dengan tanda-tanda hiperglikemia dan
glukosuria, disertai dengan gejala klinis akut (poliuria, polidipsia, penurunan berat
badan), dan atau pun gejala kronik atau kadang-kadang tanpa gejala. Gangguan
primer terletak pada metabolism karbohidrat, dan sekunder pada metabolism lemak
dan protein.

II. Klasifikasi
Klasifikasi DM yang dianjurkan oleh PERKENI (2003, 2006) adalah yang
sesuai dengan klasifikasi DM oleh American Diabetes Association (ADA).
Klasifikasi Etiologi DM (ADA 2006):
1. DM Tipe 1 (destruksi sel beta, biasanya menjurus ke defisiensi insulin
absolute):
- Autoimun (immune mediated)
- Idiopatik
2. DM Tipe 2 (biasanya berawal dari resistensi insulin yang predominan dengan
defisiensi insulin relative menuju ke defek sekresi insulin yang predominan
dengan resistensi insulin)
3. DM Tipe Spesifik Lain:
a. Defek genetic fungsi sel beta
- Maturity-Onset Diabetes of the Young (MODY) 1,2,3,4,5,6 (yang
terbanyak MODY 3)
- DNA mitokondria
- Dan lain-lain
b. Defek genetic kerja insuin
c. Penyakit eksokrin pancreas
- Pancreatitis
- Sindrom cushing
- Tumor/Pankreatektomi
- Pankreatopati fibrokalkulus
- Dan lain-lain
d. Endokrinopati
- Akromegali
- Sindrom cushing
- Feokromositoma
- Hipertiroidisme
- Dan lain-lain
e. Karena obat zat kimia
- Vacor, pentamidin, asam nikotinat
- Glukokortikoid, hormone tiroid
- Tiazid, dilantin, interferon alfa dan lain-lain
f. Infeksi
- Rubella congenital, cytomegalovirus (CMV)
- Dan lain-lain
g. Sebab imunologi yang jarang
- Antibody anti insulin
- Dan lain-lain
h. Sindrom genetic yang lain yang berkaitan dengan DM
- Sindrom Down, sindrom Klinefelter, sindrom Turner, dan lain-lain
4. Diabetes Millitus Gestasional

III. Gejala klinis


Gejala klinis DM yang klasik: mula-mula polifagi, polidipsi, poliuria, dan
berat badan naik (Fase Kompensasi). Apabila keadaan ini tidak segera diobati, maka
akan timbul gejala Fase Dekompensasi (Dekompensasi Pankreas), yang disebut
gejala klasik DM, yaitu poliuria, polidipsi, dan berat badan turun. Ketiga gejala
klasik tersebut di atas disebut pula TRIAS SINDROM DIABETES AKUT
(poliuria, polidipsi, berat badan menurun) bahkan apabila tidak segera diobati dapat
disusul dengan muntah-muntah dan Ketosidosis Diabetik.
Gejala kronis DM yang sering muncul antara lain lemah badan, semutan,
kaku otot, penurunan kemampuan seksual, gangguan penglihatan yang sering
berubah, sakit sendi, dan lain-lain.
BAB IV
HIPERASIDITI

I. Uraian Umum
Peptic ulcers adalah suatu kondisi dimana terjadi
gangguan pada mukosa lambung atau duodenum,
kadang-kadang menyebar sampai ke mukosa muskularis.
Sel-sel epitel lambung dan usus mensekresikan mukus
sebagai akibat respons terhadap iritasi ataupun stimulasi
kolinergik. Bagian superficial dari mukosa lambung dan
usus berada dalam bentuk lapisan gel dan bersifat tidak
permeabel (impermeable) terhadap asam dan pepsin.
Sel-sel lambung dan usus yang lainnya mensekresikan
bicarbonate yang berfungsi sebagai buffer asam yang
berada di sekitar mukosa. Prostaglandin E (PGE)
berperan meningkatkan ke dua2 nya bicarbonate dan
lapisan mukus.
Bila asam dan pepsin memasuki sel-sel epitel,
mekanisme tertentu berperan untuk mengurangi luka. Di
dalam sel-sel epitel, pompa ion di dalam membrane sel
basolateral berperan mengatur pH interselular dengan
mengeluarkan kelebihan ion hidrogen. Melalui proses
restitusi, sel-sel sehat mengisi bagian yang luka. Aliran
darah di mukosa mengeliminir asam yang berdiffusi
melalui mukosa yang rusak dan melepaskan bicarbonate
ke permukaan sel-sel epitel.
Dalam keadaan normal, terdapat keseimbangan
fisiologi antara sekresi asam lambung dengan
gastroduodenal mucosal defense. Bila terganggu
keseimbangan antara faktor-faktor aggressive dengan
defensive mechanisms, maka akan mengakibatkan
kerusakan mukosa dan peptic ulcer. Faktors tersebut
seperti NSAIDs, infeksi H pylori, alcohol, garam
empedu, asam, dan pepsin dapat mempengaruhi mucosal
defense melalui pendiffusian kembali ion hydrogen,
selanjutnya melukai sel epitel.
Pencetus utama ulcer adalah H pylori, asam, dan
pepsin. Ciri khusus mikroorganisme H.Pylori ini yaitu
menghasilkan urease sehingga mengalkaliskan
lingkungannya, dan dapat hidup bertahun tahun di
lambung. Kondisi ini mengakibatkan inflammasi, dan
memberburuk kondisi peptic ulcer.
Pasien yang terinfeksi H pylori, memiliki kadar
gastrin dan pepsinogen yang tinggi, penurunan kadar
somatostatin, dan mengalami gangguan sekresi
bicarbonate di duodenum. Kombinasi peninggian sekresi
asam lambung dan penurunan sekresi bikarbonat
menurunkan pH di duodenum, selanjutnya
mengakibatkan gastric metaplasia (terjadi gastric
epithelium di lapisan pertama duodenum). Infeksi H
pylori di daerah gastric metaplasia menginduksi
duodenitis serta cenderung mengakibatkan kerusakan
dan ulcer pada duodenum.

II. Tanda-tanda Klinis


Rasa sakit/panas pada bagian perut, rasa penuh, tidak nyaman, dan kram.
Pada ulcer duodenum rasa sakit berlangsung 1-3 jam setelah makan, dapat hilang
setelah makan.
III. Pendekatan Penanganan Peptic Ulcer
Pengobatan peptic ulcers bervariasi, tergantung
kepada etiologi dan kondisi klinik pasien. Tujuan
pengobatan adalah untuk menghilangkan rasa sakit,
menyembuhkan luka, mencegah timbulnya kembali
ulcer, serta mengurangi komplikasi.
Pengobatan dilakukan melalui pendekatan non-
farmakologi dan farmakologi. Pendekatan non-
farmakologi dilakukan dengan menghindari stress,
merokok, dan penggunaan NSAIDs non-selektif (seperti
aspirin). Disarankan agar diganti dengan obat lain seperti
acethaminophen dan inhibitor selektif COX-2. Pasien
dianjurkan agar menghindari makanan yang
mengakibatkan dyspepsia, misalnya makanan pedas,
caffeine, dan alcohol. Pendekatan farmakologi dapat
dilaksanakan sebagaimana tertera pada flowchart
(Gambar 1).
Beberapa golongan obat-obatan yang dapat digunakan untuk pengobatan Peptic
Ulcer antara lain:
1. Antasida
Antasida diberikan untuk menghilangkan keluhan rasa sakit dan obat dispepsia,
biasanya Aluminium hydroxide, Calcium carbonate, Magnesium hydroxide or
trisilicate. Mekanisme kerjanya menetralkan asam lambung secara lokal. Preparat
yang mengandung magnesium akan menyebabkan diare sedangkan alumunium
menyebabkan konstipasi dan kombinasi keduanya saling menghilangkan pengaruh
sehingga tidak terjadi diare dan konstipasi.

2. Histamine-2 receptor antagonist


Empat antagonis H2 yang beredar di Indonesia adalah: simetidin, ranitidin,
nizatidin dan famotidin. Kerja antagonis reseptor H2 yang paling penting adalah
mengurangi sekresi asam lambung. Obat ini menghambat sekresi asam yang
dirangsang histamin, gastrin, obat-obat kolinomimetik dan rangsangan vagal. Volume
sekresi asam lambung dan konsentrasi pepsin juga berkurang. Mekanisme kerja:
Memblokir histamin pada reseptor H2 sel pariental sehingga sel pariental tidak
terangsang mengeluarkan asam lambung. Inhibisi ini bersifat reversibel.
1. Proton Pump Inhibitors (PPIs)
Inhibitor pompa proton merupakan prodrug, yang memerlukan aktivasi di
lingkungan asam. Mekanisme kerjanya adalah memblokir kerja enzim K+/H+ ATP-
ase yang akan memecah K+/H+ ATP. Pemecahan K+/H+ ATP akan menghasilkan
energi yang digunakan untuk mengeluarkan asam dan kanalikuli sel pariental ke
dalam lumen lambung. Inhibitor pompa proton memiliki efek yang sangat besar
terhadap produksi asam. Omeprazol juga secara selektif menghambat karbonat
anhidrase mukosa lambung, yang kemungkinan turut berkontribusi terhadap sifat
suspensi asamnya
Gambar1. Flow chart pengobatan hyperacidity

2. Analog Prostaglandin: Misoprostol


Mekanisme kerjanya mengurangi sekresi asam lambung menambah sekresi
mukus, sekresi bikarbonat dan meningkatkan aliran darah mukosa. Efek samping
yang sering dilaporkan diare dengan atau tanpa nyeri dan kram abdomen. Sekarang
ini misoprostol telah disetujui penggunaanya oleh United States Food and Drug
Administration (FDA) untuk pencegahan luka mukosa akibat NSAID.

3. Obat penangkal kerusakan mukus


Koloid Bismuth
Mekanisme kerja melalui sitoprotektif membentuk lapisan bersama protein
pada dasar tukak dan melindunginya terhadap rangsangan pepsin dan asam. Obat ini
mempunyai efek penyembuhan hampir sama dengan H2RA serta adanya efek
bakterisidal terhadap H. pylori sehingga kemungkinan relaps berkurang. Efek
samping tinja berwarna kehitaman sehingga timbul keraguan dengan perdarahan
Sukralfat
Pada kondisi adanya kerusakan yang disebabkan oleh asam, hidrolisis protein
mukosa yang diperantarai oleh pepsin turut berkontribusi terhadap terjadinya erosi
dan ulserasi mukosa. Protein ini dapat dihambat oleh polisakarida bersulfat.
Karena diaktivasi oleh asam, maka disarankan agar sukralfat digunakan pada
kondisi lambung kosong, satu jam sebelum makan, selain itu harus dihindari
penggunaan antasid dalam waktu 30 menit setelah pemberian sukralfat. Efek
samping konstipasi, mual, perasaan tidak enak pada perut.
Beberapa kombinasi obat yang digunakan untuk pengobatan Peptic ulcer

Antibiotik/antimikroba
Antibiotik digunakan jika pasien terindikasi peptic ulcer disebabkan H pylori
umumnya diberikan amoxicillin, metronidazol dan claritromisin. Beberapa
kombinasi obat yang digunakan untuk pengobatan Peptic ulcer yang disebabkan H
pylori adalah sebagai berikut:
Tugas:
Seorang pasien lelaki berinisial RN datang ke apotek dengan membawa resep. Sebelumnya
pasien datang ke dokter dengan keluhan sakit pada perutnya, sakit itu muncul setiap kali dia
selesai makan, dan kemaren ketika BAB kotorannya bercampur darah. Untuk itu dokter
melakukan endoskopi untuk mengetahui keadaan lambung pasien. Hasil pemeriksaan dokter
mendagnosa pasien mengalami peptic ulcer disease (PUD) disebabkan oleh H.Pilory. Oleh
dokter, pasien diberi resep :

dr. Raffi, Sp. PD.


Praktek: Senin s/d Jumat, Jam 16.00-21.00 wib
Alamat: Jln. Tri Dharma No. 1, Medan Telp. (061)-7362798

Medan, 30 September 2014

Inpepsa Flash No. II


S 3 dd cth 2

Omeprazol 40 mg No. XV
S 1 dd caps 1

Flamints No. XX
Sprn

Pro :
Umur :

Sejarah pengobatan: pasien selalu menggunakan Ponstan untuk menghilangkan rasa sakit
yang dia derita.

Apakah pendapat saudara terhadap pengobatan yang diberikan kepada pasien ini dan apa
tindakan saudara?
BAB V
CAMPURAN
I. Resep Campuran

Dalam ilmu farmasi, sediaan serbuk dapat diartikan sebagai campuran


homogen dua atau lebih bahan obat yang telah dihaluskan, dan ditujukan untuk
pemakaian oral atau luar. Penggunaan obat dalam bentuk serbuk sangat dibutuhkan
oleh masyarakat terutama bagi anak-anak maupun orang dewasa yang sulit
meminum obat dalam bentuk tablet, pil ataupun kapsul.

Serbuk bagi (pulveres) adalah serbuk yang dibagi dalam bobot yang kurang
lebih sama dibungkus dengan kertas perkamen atau pengemas lain yang cocok,
sedangkan serbuk tak terbagi atau serbuk tabur (pulvis) adalah serbuk ringan yang
digunakan untuk pemakaian topikal dikmas dalam wadah yang bagian atasnya
berlubang untuk memudahkan penggunaan pada kulit. Dalam mempersiapkan
sediaan pulveres, perhitungan dosis merupakan hal utama yang harus diperhatikan.

Dosis adalah takaran obat yang diberikan kepada pasien yang dapat
memberikan efek farmakologis (khasiat) yang diinginkan. Secara umum penggunaan
dosis dalam terapi dibagi menjadi :

a. Dosis lazim
Dosis lazim adalah dosis yang digunakan sebagai pedoman umum
pengobatan (yang direkomendasikan dan sering digunakan) sifatnya tidak mengikat
(biasanya diantara dosis minimum efek dan dosis maksimum),

b. Dosis maksimum/maksimal
Dosis maksimum adalah dosis yang terbesar yang masih boleh diberikan
kepada pasien baik untuk pemakaian sekali maupun sehari tanpa membahayakan
(berefek toksik ataupun over dosis).

Sebagai pedoman terapi, digunakan dosis lazim. Takaran dosis yang ada
dalam farmakope umumnya untuk dosis orang dewasa, sedangkan untuk anak-anak
memerlukan rumus perhitungan khusus.

1. Berdasarkan Umur
a. Rumus young (untuk anak <8 tahun)

n: umur dalam tahun

b. Rumus dilling (untuk anak Besar-sama dengan 8 tahun)

n: umur dalam tahun

c. Rumus Fried (untuk bayi)

n : umur dalam bulan


2. Berdasarkan berat badan
Perhitungan dosis berdasarkan berat badan sebenarnya lebih tepat karna
sesuai dengan kondisi pasien ketimbang umur yang terkadang tidak sesuai dengan
berat badan, bila memungkinkan hitung dosis melalui berat badan.

a. RumusThermich, digunakan jika tidak tersedia dosis lazim suatu obat.

n : berat badan dalam kilogram

b. jika tersedia/tercantum dosis lazim suatu obat tiap kg berat badan maka dosis
tersebut digunakan sebagai acuan dalam perhitungan dosis sebelumnya.
Contoh : Amoksisilin 25 mg/kg bb, maka untuk anak 10 kg dosisnya adalah 250 mg.

Cara Pengerjaan Resep Campuran


Pada umumnya penulisan resep pulveres terdiri dalam dua bentuk , yaitu:
1. Ditulis jumlah obat untuk seluruh serbuk, lalu dibagi menjadi beberapa
bungkus.
Contoh :
R/ Asetosal 10
m.f pulv No.XX

maka ditimbang 10 gram asetosal, digerus lalu dibagi 20 bungkus.

2. Ditulis jumlah untuk setiap bungkus serbuknya dan membuat beberapa


bungkus.
Contoh :
R/ Asetosal 0,5
m.f pulv dtd No.XX
maka ditimbang serbuk sebanyak 0,5 gram x 20 bungkus = 10 gram, setelah digerus lalu dibagi menjadi
20 bungkus.

Soal Latihan
Seorang ibu membawa anaknya yang berumur 24 bulan (BB=20 kg) ke dokter.
Anaknya mengalami batuk selama 3 hari dan sesak nafas. Hasil diagnosis dokter
menunjukkan terjadi gangguanpada saluran pernafasan dan diberi obat sebagai
berikut:
Dr. Ida Leman, SpA
Praktik: Jl. Lalu Ilalang no. 1 Medan
Telp. (061)8210007

R/ Longcef syr Fl I
S3 dd cth 1

R/ Lasal syr Fl I
Dexamethason tab No. X
Codein 60 mg
Stesolid 10 mg
S3 dd C 1

Pro: Amir (13 kg)


BAB VI
SWAMEDIKASI
Swamedikasi merupakan upaya masyarakat mengobati dirinya sendiri dimana
masyarakat menggunakan obat tanpa resep/konsultasi ke dokter untuk mengobati
penyakit/gejala yang ringan. Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi
keluhan seperti demam, nyeri, pusing, batuk, influenza, sakit maag, kecacingan,
diare, penyakit kulit, dan lain-lain. Swamedikasi menjadi alternative yang diambil
masyarakat untuk meningkatkan keterjangkauan pengobatan.
Dalam prakteknya, swamedikasi dapat menjadi sumber terjadinya kesalahan
pengobatan karena keterbatasan pengetahuan masyarakat akan obat dan
penggunaannya. Masyarakat cenderung hanya tahu merk dagang obat tanpa tahu zat
berkhasiatnya.
Pada umumnya, masyarakat datang ke Apotek dengan 3 tujuan:
1. Meminta nasehat/saran untuk mengatasi symptom/ gejala yg diderita.
2. Langsung mengatakan produk/merk obat yg ingin mereka beli.
3. Meminta nasehat mengenai kesehatan secara umum: diet suplemen, usaha
preventif.
Sehingga apoteker dalam melakukan pelayanan swamedikasi harus memiliki
keterampilan berikut:
1. Membedakan antara gejala yg minor atau gejala yg serius.
2. Listening Skills
3. Questioning Skills
4. Kemampuan memilih treatment yg tepat berdasarkan bukti.

Apoteker harus mempertimbangkan hal berikut dalam melakukan pelayana


swamedikasi kepada pasien, bahwa:
Pasien bukan kertas putih yang kosong.
Pasien mungkin merasa ahli dengan caranya sendiri.
Pasien mungkin telah memiliki pengalaman/kondisi yang sama pada waktu
lampau
Pasien mungkin telah mencoba beberapa treatment.
Pasien mungkin memiliki ide sendiri tentang penyebab.

Seorang apoteker perlu mengembangkan metode konsultasi dalam rangka


memperoleh informasi dari pasien yang akan diperlukan dalam pelayanan
swamedikasi. Metode konsultasi diperlukan agar dapat memastikan bahwa seluruh
informasi yang penting dapat diperoleh dan tidak ada yang terlewatkan.

Salah satu metode konsultasi yang dapat dipergunakan adalah metode WHAM.
Metode ini adalah metode konsultasi dengan urutan pertanyaan sebagai berikut:

W - Who is the patient and what are the symptom?


Pastikan identitas pasien anda! ORANG yg datang ke apotek bisa saja orang
yg mewakili pasien.
Gejala yg jelas harus diketahui: pasien sering mendiagnosa sendiri penyakit
yg dideritanya dan farmasis jangan menerima langsung.

H - How long have the syptoms been present?


Durasi terjadinya gejala menjadi indikasi yang penting dalam memutuskan
apakah pasien harus dirujuk ke dokter atau tidak.
Semakin lama gejala terjadi, semakin besar kemungkinan penyakit serius
terjadi
Gejala minor kebanyakan self-limiting dan sembuh sendiri dalam beberapa
hari.
A Action taken?
Setiap tindakan yg telah dilakukan pasien harus dijelaskan. 1 dari 2 pasien
paling tidak telah mencoba satu pengobatan sebelum mencari nasihat
farmasis.
Jika pasien telah mencoba terapi yg sesuai namun gagal, merujuk ke dokter
kemungkinan merupakan aksi yg terbaik.
M Medication being taken?
Obat yg sedang digunakan pasien secara reguler penting untuk diketahui:
mencegah terjadinya kemungkinan interaksi obat dan reaksi obat yg
merugikan.
Keluhan yg sedang terjadi pd pasien, ada kemungkinan disebabkan oleh obat
yg sedang digunakan. Mis: keluhan nyeri perut yg ditimbulkan oleh
pemakaian NSAIDs atau batuk yg ditimbulkan olah ACE inhibitor.

Dalam melakukan pelayanan swamedikasi apoteker juga harus mampu


mengidentifikasi kondisi pasien dalam menentukan apakah pasien tersebut dapat
melakukan swamedikasi atau seharusnya dirujuk ke dokter (Treat or Referral).
Kondisi yang harus dipertimbangkan untuk dirujuk:
- Durasi gejala yg lama
- Masalah yg berulang atau semakin berat
- Nyeri berat
- Pengobatan yg gagal
- Diduga akibat efek samping obat
- Gejala yg berbahaya seperti dahak dalam darah, muntah, berat badan turun
tanpa sebab yang jelas, dan lain-lain.

Apoteker sebagai tenaga kesehatan yang berada pada lini terdepan terutama dalam
pelayanan di farmasi komunitas (apotek) dituntut untuk dapat memberikan informasi
yang tepat kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat terhindar dari
penyalahgunaan obat (drug abuse) dan penggunasalahan obat (drug misuse).

Daftar Pustaka

1. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, DepKes RI. (2006).
Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas.
2. Tietze. K.J. (2003). Clinical Skills For Pharmacists: A Patient-Focused Approach.
Second Edition. St. Louis, Missouri: Mosby inc.
3. Faculty of Pharmacy, University of Cairo. (2009). Community Pharmacy and
Pharmacy Practice.
4. Blenkinsopp, A., Paxton, P., Blenkinsopp, J. (2009). Symptoms in Pharmacy: A
Guide to The Management of Common Illness. Sixth edition. West Sussex, UK:
Wiley-Blackwell.
Kasus:
1. Seorang bapak berumur 45 tahun datang ke apotek dengan keluhan gejala flu dan
batuk yang sudah dialami satu hari yang lalu. Pekerjaan beliau adalah supir
angkot dan menderita penyakit hipertensi sejak setahun yang lalu. Berikanlah
swamedikasi yang benar disertai saran yang perlu dilakukan Bapak tersebut.