Anda di halaman 1dari 80

KONSTITUSI Februari 2015 | i

ii | KONSTITUSI Februari 2015


Salam Redaksi
No. 96 Februari 2015

Dewan Pengarah:

M
Arief Hidayat
Anwar Usman ahkamah Konstitusi memiliki Ketua dan Wakil Ketua baru. Mereka adalah
Maria Farida Indrati Arief Hidayat dan Anwar Usman. Arief Hidayat terpilih secara aklamasi
Muhammad Alim menggantikan Hamdan Zoelva untuk periode 2015-2017. Sementara
Patrialis Akbar
Wahiduddin Adams itu Anwar Usman terpilih menjadi Wakil Ketua MK periode 2015-2017 melalui
Aswanto voting.
Suhartoyo
I Dewa Gede Palguna Ke depan, Arief menyatakan dirinya dan Anwar bersama seluruh hakim konstitusi
akan selalu taat pada konstitusi dan menjalankan konstitusi dengan sebaik-baiknya
Penanggung Jawab: Janedjri M. Gaffar dan selurus-lurusnya agar muruah MK bisa terjaga dengan baik dan putusan-
Pemimpin Redaksi: Budi Achmad Djohari putusannya bisa dijalan oleh seluruh penyelenggara negara.
Wakil Pemimpin Redaksi: Poniman
Redaktur Pelaksana: Ardli Nuryadi
Arief juga meminta dukungan lembaga negara lain dan seluruh masyarakat
Sekretaris Redaksi: Tiara Agustina
Redaktur: Nur Rosihin Ana untuk mengawal konstitusi dengan sebaik-baiknya. Pelaksanaan putusan MK
Nano Tresna Arfana sepenuhnya bergantung kepada kesadaran dan komitmen mewujudkan negara
Reporter: Lulu Anjarsari P
hukum yang konstitusional. Tak kalah penting, ia menekankan pentingnya
Yusti Nurul Agustin
Dedy Rahmadi integritas, independensi, dan imparsialitas hakim konstitusi.
Rahmat Hidayat
Hanna Juliet Dua wajah baru juga menghiasi lembaga peradilan konstitusi ini pada Januari 2015,
Ilham Wiryadi
yaitu Hakim Konstitusi I Dewa Gede Palguna dan Hakim Konstitusi Suhartoyo.
Panji Erawan
Lulu Hanifah I Dewa Gede Palguna yang berasal dari unsur Pemerintah, menggantikan Hamdan
Triya Indra Rahmawan Zoelva yang berakhir masa jabatannya pada awal 2015. Sedangkan Suhartoyo
berasal dari unsur Mahkamah Agung, menggantikan Ahmad Fadlil Sumadi.
Fotografer: Gani
Andhini Sayu Fauzia Itulah sekilas pengantar redaksi kami. Tanpa berpanjang kata, kami mengucapkan
Annisa Lestari Selamat Membaca!
Kencana Suluh H.
Ifa Dwi Septian
Fitri Yuliana
Kontributor: Pan Mohamad Faiz
Luthfi Widagdo Eddyono

Desain Visual: Herman To


Rudi
Nur Budiman
Teguh
Distribusi:
Utami Argawati
Foto Sampul:
Mochamad Syamsiro

Alamat Redaksi:
Gedung MK
Jl. Medan Merdeka Barat No. 6
Jakarta Pusat
Telp. (021) 2352 9000
Fax. 3520 177
email: bmkmkri@mahkamahkonstitusi.go.id
www. mahkamahkonstitusi.go.id

KONSTITUSI Februari 2015 | 1


DAFTA R ISI
No. 96 Februari 2015

16 Ruang sidang 40 aksi

8 LAPORAN UTAMA
Proses Perpanjangan Izin
Tak Halangi Pengelolaan Limbah B3
General Manager (GM) Sumatera Light South PT CPI, Bachtiar Abdul Fatah
3 editorial menandatangani kontrak pengelolaan limbah B3. Namun, Bachtiar justru tersandung
5 Konstitusi Maya pidana karena dianggap melakukan pengelolaan limbah B3 tanpa izin.

6 Opini
16 ruang sidang
24 kilas perkara
30 bincang-bincang
32 ikhtisar putusan
34 Catatan perkara
36 tahukah anda
40 aksi
54 cakrawala
58 jejak konstitusi
60 resensi
62 pustaka klasik
64 khazanah
68 kaidah Hukum
72 kamus hukum
74 Catatan MK

2 | KONSTITUSI Februari 2015


Edit orial

Pengelolaan Limbah

K
eberadaan limbah Kasus yang menimpa Bachtiar
seringkali menimbukan A b d u l Fa t a h , G e n e r a l M a n a g e r
masalah bagi lingkungan. Sumatera Light South PT Chevron
Terlebih lagi limbah Pacific Indonesia (PT. CPI) menjadi
bahan berbahaya dan kaca benggala dalam pengelolaan
beracun (B3). Limbah B3 limbah B3. Bachtiar didakwa atas
adalah sisa suatu usaha atau kegiatan tuduhan melanggar Pasal 2 dan Pasal
yang mengandung B3. Limbah B3 3 UU Tipikor. Alasannya antara lain,
baik secara langsung maupun tidak proyek bioremediasi yang dikerjakan
langsung, berpotensi mencemarkan, atas tanah yang terkontaminasi minyak
dapat membahayakan lingkungan hidup, bumi (limbah B3), yang dihasilkan oleh
kesehatan, kelangsungan hidup manusia PT. CPI, dilakukan tanpa adanya izin.
serta makhluk hidup lainnya. Benarkah proyek bioremediasi
Karakteristik limbah B3 yaitu PT CPI tak berizin? Sesungguhnya
mudah meledak, mudah terbakar, PT CPI telah mengantongi izin proyek
bersifat reaktif, beracun, menyebabkan bioremediasi. Soil Bioremediasi Facility saat proses pengurusan perpanjangan
infeksi, bersifat korosif, dan lain-lain. (SBF) Lokasi 8D-58, memiliki izin dari izin pengelolaan limbah B3, secara
Oleh karena itu, diperlukan penanganan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) hukum dianggap telah memperoleh
dan pengolahan khusus terhadap Nomor 69 Tahun 2006 dengan masa izin, sehingga secara hukum pula dapat
limbah jenis ini. berlaku sampai Maret 2008. melakukan pengelolaan limbah B3.
Lantas, siapa yang bertanggung Saat proses perpanjangan izin Subjek hukum yang dalam proses
j a w a b m e n g e l o l a n y a ? Te n t u di KLH pada 2008 itulah pangkal mengajukan permohonan perpanjangan
perusahaan produsen limbah yang masalahnya. Bachtiar didakwa tetap izin, secara formal memang belum
wajib mengelolanya. Pengelolaan menjalankan proyek bioremediasi tanpa mendapat izin, meskipun sebelumnya
limbah B3 pun harus mendapatkan izin. Padahal Pengawas Lingkungan sudah mendapatkan izin. Namun
izin. Ketentuan Pasal 59 ayat 4 Hidup KLH dalam salah satu Berita secara materiil dianggap telah
Undang-Undang Nomor 32 Tahun Acara-nya menyatakan proses operasi memperoleh izin. Terlabih lagi tidak
2009 tentang Perlindungan dan bioremediasi bisa dilakukan pada saat terdapat pelanggaran terhadap syarat-
Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU perpanjangan izin pengoperasian SBF syarat pengelolaan limbah B3 yang
PPLH) menyebutkan pengelolaan sedang diproses di KLH. ditentukan dalam pemberian izin.
limbah B3 harus seizin Menteri, KLH sebagai regulator tidak Apabila pengelolaan limbah
gubernur, atau bupati/walikota sesuai mempermasalahkan PT. CPI yang tetap B3 harus dihentikan karena proses
dengan kewenangannya. melanjutkan proyek bioremediasi di perpanjangan izin belum keluar, maka
Pengelolaan limbah B3 tanpa tengah proses mengurus perpanjangan akan berdampak kerugian cukup
izin, merupakan tindak pidana, dalam izin. Namun rupanya pihak Penyidik dan serius baik bagi perusahaan maupun
hal ini tindak pidana lingkungan Penuntut Umum mengabaikan sikap masyarakat dan negara. Terlebih
hidup. Lalu bagaimana halnya jika izin KLH. Hal ini berujung pemidanaan lagi apabila izin tak kunjung terbit
dalam proses perpanjangan, apakah kepada Bachtiar. justru karena lambatnya birokrasi
pengelolaan limbah harus dihentikan Sewajarnya perusahaan penghasil pemerintahan. Oleh karena itu, tepat
sementara? Jika pengelolaan limbah limbah B3 berkewajiban mengelola kiranya pengelolaan limbah B3 yang
tetap berlangsung di tengah proses limbah yang dihasilkannya. Sewajarnya sedang dalam proses permohonan
perpanjangan izin, apakah hal ini pula pengelolaan limbah B3 harus perpanjangan izin, harus dianggap
merupakan tindak pidana? berizin. Permasalahannya adalah, apakah telah memperoleh izin.

KONSTITUSI Februari 2015 | 3


suara Anda

Mahkamah Konstitusi Yth.


Saya mau tanya putusan MK untuk Perkara No. 32/PUU-XII/2014 tentang uji materi Pasal 122 huruf e UU
Aparatur Sipil Negara (ASN) kapan keluar? Terakhir sidang ke-VI tertanggal 24 September 2014. Kira-kira berapa
lama lagi putusannya keluar? Karena saya sedang meneliti isu tersebut. Akan lebih baik jika ada acuan berupa
putusan MK yang bersifat final dan mengikat. Terima kasih.

Ainun
(via laman Mahkamah Konstitusi)

Jawaban:
Yth. Sdr Ainun, Perkara No. 32/PUU-XII/2014 saat ini masih dalam proses pembahasan di Rapat
Permusyawaratan Hakim (RPH). Untuk informasi jadwal persidangan, Saudara dapat mengikutinya melalui
laman MKRI.

Terima kasih.

Kami Mengundang Anda


Redaksi Majalah Konstitusi (yang diterbitkan Mahkamah Konstitusi RI) mengundang
pakar, intelektual dan warga masyarakat untuk menyumbangkan tulisan dalam rubrik
Opini, Suara Anda dan Resensi.
Rubrik Opini, merupakan rubrik yang berisikan pendapat-pendapat berbentuk opini
yang mendalam terhadap kajian Konstitusi dan Hukum Tata Negara. Panjang tulisan
maksimal 6000 karakter.
Rubrik Suara Anda merupakan rubrik yang berisikan komentar-komentar tentang
Konstitusi dan Mahkamah Konstitusi. Panjang tulisan maksimal 2000 karakter.
Rubrik Resensi merupakan rubrik yang berisikan resensi buku-buku baru hukum dan
Konstitusi. Panjang tulisan maksimal 6000 karakter.
Tulisan dapat dikirimkan dengan menyertakan data diri, alamat yang jelas, dan foto
melalui pos/fax/email ke Redaksi Majalah Konstitusi:

Gedung Mahkamah Konstitusi RI,


Jalan Medan Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat
Telp. (021) 23529000 ext. 18242; Untuk rubrik "Resensi" harap menyertakan
Fax. (021) 3520177; tampilan cover buku yang diresensi. Tulisan
E-mail : bmkmkri@mahkamahkonstitusi.go.id yang dimuat akan mendapat honorarium.

4 | KONSTITUSI Februari 2015


Konstitusi maya

www.lps.go.id Indonesia dan dapat mempunyai kantor


perwakilan, serta bertanggung jawab
wewenang Kepala Eksekutif ditetapkan
dalam Keputusan Dewan Komisioner.
kepada Presiden. Dari dua fungsi utama yang diuraikan
Merunut sejarahnya, LPS lahir sebelumnya, untuk menjalankan fungsi
dari adanya pengalaman krisis moneter menjamin simpanan nasabah penyimpan,
dan perbankan di Indonesia pada 1998. LPS bertugas untuk merumuskan dan
Sebagaimana diketahui, industri perbankan menetapkan kebijakan pelaksanaan
merupakan salah satu komponen sangat penjaminan simpanan dan melaksanakan
penting dalam perekonomian nasional, penjaminan simpanan. Sedangkan dalam
yakni untuk menjaga keseimbangan menjalankan fungsi turut aktif dalam
kemajuan dan kesatuan eknonomi memelihara stabilitas sistem perbankan,
nasional. Sedangkan kepercayaan LPS bertugas untuk merumuskan dan
masyarakat terhadap industri perbankan menetapkan kebijakan dalam rangka
nasional merupakan salah satu kunci untuk turut aktif memelihara stabilitas sistem
memelihara stabilitas industri perbankan perbankan; merumuskan, menetapkan,
sehingga krisis tersebut tidak terulang. dan melaksanakan kebijakan penyelesaian
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Untuk itu, LPS dihadirkan dalam rangka Bank Gagal (bank resolution) yang tidak
adalah lembaga independen, transparan meningkatkan sistem perbankan yang berdampak sistemik; dan melaksanakan
dan akuntabel, yang mempunyai dua sehat dan stabil. penanganan Bank Gagal yang berdampak
fungsi utama. Fungsi LPS yang pertama, Secara kelembagaan, LPS terdiri sistemik.
yakni untuk menjamin simpanan nasabah atas Dewan Komisioner yang merupakan Sebagai lembaga yang independen,
penyimpan, dan fungsi kedua adalah pimpinan LPS dan Kepala Eksekutif. LPS menjamin akuntabilitasnya dengan
turut aktif dalam memelihara stabilitas Anggota Dewan Komisioner berjumlah membuat laporan tahunan yang terdiri
sistem perbankan, yang sesuai dengan 6 (enam) orang, yang bertugas untuk dari laporan kegiatan kerja dan laporan
kewenangannya. Lembaga yang mulai merumuskan dan menetapkan kebijakan keuangan. LPS wajib menyampaikan
efektif bekerja sejak tanggal 22 September serta melakukan pengawasan dalam laporan tahunan tersebut kepada Presiden
2005 ini terbentuk berdasarkan Undang- rangka pelaksanaan tugas dan wewenang dan Dewan Perwakilan Rakyat. Adapun
undang Republik Indonesia Nomor 24 LPS. Sedangkan Kepala Eksekutif ditetap nilai-nilai lembaga yang dijunjung oleh
tentang Lembaga Penjamin Simpanan (UU kan dari salah satu angggota Dewan LPS yakni, Profesional, Integritas, Layanan
LPS). Berdasarkan UU LPS tersebut, LPS Komisioner yang bertugas melaksanakan Prima, Proaktif dan Sinergi.
berkedudukan di ibukota Negara Republik kegiatan operasional LPS. Tugas dan triya indra rahmawan

www.infid.org
ini, sejak 2004 memiliki status sebagai dari regional barat, timur, tengah maupun
lembaga yang diakui dan diakreditasi masyarakat sipil nasional.
oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Adapun yang menjadi visi dari INFID
dengan UN Special Consultation Status adalah untuk mewujudkan demokrasi,
with the Economic and Social Council. kesetaraan, keadilan sosial dan perdamaian
INFID juga merupakan anggota IFP serta terjamin dan terpenuhinya hak asasi
(International Forum for national NGO manusia di tingkat nasional (Indonesia)
Platform), yang merupakan jaringan NGO dan di tingkat global. Sedangkan misinya
global sebagai wadah forum-forum NGO antara lain: Menumbuhkan kesadaran
(non-governmental organization) nasional masyarakat tentang nilai-nilai hak
di seluruh dunia. Selain itu, INFID juga asasi manusia, demokrasi, kesetaraan,
sebagai salah satu bagian dari Beyond keadilan sosial dan perdamaian melalui
International NGO Forum on Indonesian 2015 yang merupakan jaringan CSO pendidikan publik; Melakukan penelitian
Development (INFID) didirikan oleh beberapa (Civil Society Organization) multinasional dan kajian kebijakan; Melakukan dialog
tokoh masayarakat pada 1985. Gus Dur, yang melakukan kampanye untuk agenda kebijakan untuk mendorong terciptanya
Asmara Nababan, Gaffar Rahman, Adnan pembangunan pasca 2015. kebijakan yang berpihak dan menjamin
Buyung Nasution, Dawam Rahardjo, Fauzi Pada November 2014, INFID terpenuhinya hak asasi manusia bagi
Abdullah, Wukirsari, Kartjono, Zoemrotin pernah mengadakan pertemuan seluruh masyarakat terutama kelompok
KS, adalah sebagian tokoh masyarakat nasional masyarakat sipil yang bertema miskin dan marjinal berdasarkan nilai-nilai
yang menjadi pelopor terbentuknya INFID. Memperkuat Jaringan Kerjasama demokrasi, kesetaraan, keadilan sosial
INFID merupakan lembaga yang bergerak Masyarakat Sipil Yang Efektif dan dan perdamaian; dan Bekerja sama dan
dalam bidang penelitian, kajian, dan advokasi Kredibel Untuk Pelaksanaan OGP (Open melakukan jejaring kerja membangun
kebijakan pembangunan di Indonesia. Government Partnership) di Indonesia. solidaritas sosial di tingkat nasional dan
Lembaga yang dulunya bernama INGI Pertemuan ini dihadiri oleh 72 peserta internasional.
(Inter-NGO Conference on IGGI Matters) yang mewakili kelompok masyarakat sipil triya indra rahmawan

KONSTITUSI Februari 2015 | 5


Opini Konstitusi

Lembaga Negara
(bagian 1 dari 2 tulisan)

D
engan perkembangan yang mengatakan sebagai lembaga negara.
tumbuh di lingkungan Dasarnya melaksanakan ayat (1) Pasal 28H
masyarakat akan muncul yang berbunyi, Setiap orang berhak hidup
pertanyaan sesungguhnya sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal,
apa sih lembaga negara dan mendapatkan lingkungan hidup yang
itu? Lihatlah dalam pembahasan tentang baik dan sehat serta berhak memperoleh
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Mahkamah pelayanan kesehatan.
Konstitusi dan perdebatannya, yang Dengan berdasar kerangka berpikir
disajikan dalam majalah Konstitusi No. 93 itu maka Puskesmas melaksanakan tugas
November 2014. Ada ahli yang berpendapat, negara. Karena itu, sah saja menyebut
kalau OJK itu bukan lembaga negara, ada Puskesmas sebagai lembaga negara.
pula yang menyebutnya sebagai lembaga Selanjutnya sebagai lembaga negara, maka
negara. para dokter, perawat, petugas administrasi,
Bahkan tidak hanya OJK. Juga banyak penyuluh kesehatan dan pekerja di
Baharuddin Aritonang
Mantan Anggota DPR dan hal yang sama berlangsung di masyarakat. Puskesmas akan dapat mengklaim diri
Anggota BPK Misalnya, SKK Migas, yang lahir setelah sebagai pejabat negara.
MK membubarkan BPH Migas. Dalam Sepanjang tidak memiliki dampak
berbagai iklan yang disajikannya di media atas penegasan sebagai lembaga negara
massa, lembaga ini disebutnya sebagai dan pejabat negara, maka mungkin tidak
lembaga negara. Rangkaian cerita dari ada persoalan. Bahkan kalau dikaitkan
iklan yang biasanya setengah halaman dan dengan kebanggaan melaksanakan
dilengkapi ilustrasi berwarna ini dimulai tugas negara, akan memberi semangat
dari rangkaian cerita ayat (3) Pasal 33 UUD dalam melaksanakan pengabdian. Tapi
1945, Bumi dan Air dan kekayaan alam adakah sebatas itu? Dalam kenyataannya
yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh penyebutan sebagai lembaga negara
negara dan dipergunakan untuk sebesar- tidak hanya berdampak pada semangat
besar kemakmuran rakyat. Pemerintah pengabdiannya, akan tetapi juga
sebagai tangan negara menugaskan konsekuensi lainnya yang harus
lembaga ini untuk mengelola industri disediakan.
hulu. Secara tersamar akan diuraikan bila Mungkin saja ada baiknya kita mulai
lembaga SKK Migas sebagai pelaksana dari dari kata lembaga. Dalam kaitan bahasan
Pasal 33 UUD 1945 ayat (3) di atas. kita ini, Kamus Besar Bahasa Indonesia
Sesungguhnya kalau cara berpikir (KBBI) merumuskan kata lembaga sebagai
seperti itu digunakan, maka semua yang Organisasi yang tujuannya melakukan
melakukan tugas-tugas untuk kepentingan suatu usaha. Dikaitkan dengan negara,
umum (baca rakyat) akan dapat menyebut maka tujuannya melakukan suatu usaha
dirinya sebagai lembaga negara. negara. Dan di entri negara dijelaskan
Katakanlah misalnya Pusat Kesehatan sebagai Organisasi di suatu wilayah yang
Masyarakat (Puskesmas), yang melakukan mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah
pekerjaan menyehatkan rakyat akan dapat dan ditaati oleh rakyat.

6 | KONSTITUSI Februari 2015


Betapapun penggunaan kata negara ini. Bagaimana kita membentuk sebuah
di dalam penyelenggaraan negara menjadi lembaga (negara) yang fungsinya hanya
kurang beraturan, dengan menilik pada menyeleksi dan mengawasi para hakim.
rumusan di atas, maka pemahaman lembaga Bayangan saya semula KY itu semacam
negara ini bisa lebih disederhanakan komisi lainnya, sebagai state auxiliary bodies
sebagai organisasi yang mempunyai (lembaga kuasi negara). Tapi karena masuk
kekuasaan tertinggi. Tampaknya rumusan ke dalam UUD 1945, secara pelan menjadi
itu akan sejalan dengan yang sejak semula lembaga negara. Tidak hanya masuk dalam
dirumuskan oleh Prof. Dr. Jimly Asshidiqie forum lembaga tinggi negara akan tetapi
SH, Ketua MK pertama. juga dilengkapi dengan fasilitas pejabat
Dampak akan konsekuensi lainnya negara (wajar saja untuk menjadi Ketua
tadi akan amat nyata terlihat pada Komisi dan Wakil Ketua sering terjadi kericuhan).
Yudisial (KY), salah satu dari tiga lembaga Sesungguhnya tidak hanya KY, yang
negara yang lahir sejak reformasi. Melalui di dalam rapat PAH I BP MPR saya sebut
pengelompokan KY sebagai lembaga adanya tiga lembaga negara di bidang
negara, maka pimpinannya juga harus Yudisial (MA, MK dan KY), saya juga
mendapat fasilitas yang sama dengan memandang MPR bukanlah sebuah lembaga
pimpinan dan anggota lembaga negara yang formal. Akan tetapi merupakan
lainnya. Bahkan lembaga ini masuk ke lembaga yang muncul di kala dibutuhkan
dalam forum lembaga tinggi negara (yang (misalnya pada perubahan UUD 1945) atau
beberapa tahun terakhir ini rajin bertemu ketika joint session, sidang bersama antara
secara rutin). Lembaga yang dimaksud DPR dan DPD. Tapi di dalam penyusunan
adalah DPR,DPD,MPR, Presiden, MA, MK, UU Susduk, karena pimpinannya dibentuk
KY, dan BPK. tersendiri, jadilah sebuah lembaga negara
Dari mana dasarnya? Karena yang permanen dan tersendiri (Dapat kita
merupakan lembaga-lembaga yang fungsi bayangkan, sosialisasi Perubahan UUD
dan kewenangannya diatur langsung oleh 1945 belum berjalan sudah muncul 4 Pilar
Undang Undang Dasar Negara Republik yang fenomenal). Kini, dalam faktanya,
Indonesia Tahun 1945. Langkah ini sama MPR menjadi lembaga permanen, dengan
dengan yang diteorikan oleh Prof. Dr. pimpinan tetap, dengan alat kelengkapan
Jimly Asshiddiqie SH. Semula ahli ini sendiri, dengan fasilitas dan anggaran
tidak memasukkan KY. Karena fungsinya, tersendiri. Mungkin kita berharap agar
sesungguhnya menopang Mahkamah Agung lembaga ini dapat meneruskan sosialisasi
dan Mahkamah Konstitusi (bahkan hanya Perubahan UUD 1945 dan pengkajian
untuk MA, untuk menyeleksi dan mengawasi atas penyelenggaraan negara (yang sesuai
para hakim). Di dalam persidangan tentang dengan UUD 1945, termasuk mempertegas
sengketa kewenangan MA dan KY, sebagai istilah negara dan lembaga negara yang
mantan anggota PAH I BP MPR saya diulas ini).
pun sesungguhnya mempertanyakan hal

KONSTITUSI Februari 2015 | 7


Laporan Utama

Proses Perpanjangan Izin


Tak Halangi Pengelolaan
Limbah B3
General Manager (GM) Sumatera Light South PT
CPI, Bachtiar Abdul Fatah menandatangani kontrak
pengelolaan limbah B3. Namun, Bachtiar justru
tersandung pidana karena dianggap melakukan
pengelolaan limbah B3 tanpa izin.

U
ntuk membuktikan terdakwa dan dinyatakan bersalah oleh
dirinya tidak Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor)
bersalah saat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena
m ena n d at a nga n i dituduh telah melanggar ketentuan
p r o y e k dalam UU PPLH. Bachtiar juga didakwa
bioremediasi PT telah melanggar Pasal 2 dan Pasal 3
CPI, Bachtiar Undang-Undang Pemberantasan Tindak
mengajukan uji konstitusionalitas Pasal Pidana Korupsi dengan alasan proyek
59 ayat (4), Pasal 95 ayat (1), dan Pasal bioremediasi tanah yang terkontaminasi
102 Undang-Undang Perlindungan dan limbah minyak bumi yang dihasilkan oleh
Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PT CPI dilakukan oleh PT CPI tanpa
PPLH). Pada 21 Januari 2015, Mahkamah adanya izin sebagaimana diwajibkan oleh
mengabulkan seluruh permohonan Pasal 59 ayat (4) UU PPLH. Pasal a
Bachtiar dan menyatakan pasal-pasal yang quo memang mewajibkan pengelolaan
berisi ketentuan perizinan pengolahan limbah B3 mendapat izin dari menteri,
limbah bahan berbahaya dan beracun gubernur, atau bupati/walikota sesuai
(B3) bertentangan dengan Konstitusi. dengan kewenangan masing-masing.
Namun, menurut Bachtir ketentuan
Bachtiar Abdul Fatah lewat
Pasal 59 ayat (4) tersebut bertentangan
permohonan perkara nomor 18/PUU-
dengan ketentuan dalam ayat (1) pasal
XII/2014 menjelaskan legal standing yang
yang sama. Pasal 59 ayat (1) UU a
dipakai untuk mengajukan permohonan
quo justru mewajibkan setiap orang
a quo. Bachtiar telah dinyatakan sebagai

8 | KONSTITUSI Februari 2015


yang menghasilkan limbah B3, seperti Keberadaan kedua norma yang dianggap telah melanggar ketentuan Pasal
PT CPI, melakukan pengelolaan limbah bersifat kontradiktif tersebut telah 59 ayat (4) UU PLH yang mensyaratkan
B3 yang dihasilkannya. Dengan kata menciptakan situasi di mana penghasil adanya izin untuk mengolah limbah B3,
lain, ada atau tidaknya izin, penghasil limbah B3 yang belum memiliki ujar Maqdir Ismail selaku kuasa hukum
limbah harus mengolah limbah B3 yang izin pengolahan izin B3 misalnya Pemohon pada sidang perdana perkara ini
dihasilkannya bila tidak ingin dikenai dikarenakan izin tersebut sedang diurus yang digelar 13 Maret 2014 lalu.
sanksi pidana. Padahal, izin pengelolaan perpanjangannya di instansi terkait, Situasi tersebut dialami Bachtiar
limbah B3 yang diwajibkan oleh Pasal terpaksa tetap mengelola limbah B3 yang pada akhirnya disidik dan didakwa
59 ayat (4) UU PPLH dapat saja belum tersebut sebab ada ancaman pidana Kejaksaan Republik Indonesia atas
keluar, salah satunya karena perpanjangan berdasar Pasal 53 ayat (1) juncto Pasal tuduhan melanggar Pasal 2 dan Pasal 3
izin sedang diurus. Hal tersebutlah yang 103 UU PLH. Namun di sisi lain karena UU Tipikor. Alasannya, Bachtiar dianggap
menjadi salah satu argumentasi dalam belum memiliki izin mengolah limbah mengerjakan proyek bioremediasi atas
permohonan Bachtiar. B3 maka penghasil limbah B3 tersebut tanah yang terkontaminasi minyak bumi
(limbah B3) yang dihasilkan oleh PT CPI
tanpa adanya izin.
Adanya kontradiksi kedua norma
tersebut menurut Bachtiar telah merugikan
hak konstitusionalnya atas pengakuan,
jaminan, perlindungan, dan kepastian
hukum yang adil sesuai amanat Pasal
28D ayat (1) UUD 1945. Selain dianggap
merugikan hak konstitusional Pemohon,
kedua norma tersebut juga dianggap
berpotensi merugikan hak asasi manusia.
Sebab, jaminan untuk mendapatkan
lingkungan hidup yang baik dan sehat
merupakan bagian dari hak asasi manusia
yang dilindungi oleh Pasal 28H ayat (1)
UUD 1945. Bachtiar mendalilkan bahwa
dengan adanya ketentuan Pasal 59 ayat
(4) UU PPLH telah menyulitkan pihaknya
(PT CPI) sebagai penghasil limbah
B3 untuk mengolah limbah dimaksud
bila tidak memiliki izin. Padahal, bila
menunggu izin dilayangkan oleh pihak
berwenang, penghasil limbah seperti PT
CPI justru melanggar peraturan lainnya
karena tidak mengolah limbah B3 yang
dihasilkannya sendiri.

Perpanjangan Izin
Upaya hukum yang dilakukan
Bachtiar di tingkat penyidikan mengangkat
fakta bahwa perpanjangan izin memang
tengah ditempuh PT CPI. Kala itu
Pemohon menghadirkan berbagai bukti,
salah satunya bukti berupa Berita
energitoday.com

PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI), dalam acara Convention and Exhibition Indonesian Petroleum Acara Verifikasi Lapangan tertanggal
Association (IPA) 37th di hari terakhir melayangkan protes dengan cara menutup stan pamerannya.
29 November 2008 tentang proses

KONSTITUSI Februari 2015 | 9


Laporan Utama

ke dalam lingkungan hidup maka akan


mengancam lingkungan hidup, kesehatan,
dan kelangsungan hidup manusia serta
makhluk hidup lain. Oleh karena itu,
upaya pengendalian dampak tersebut,
baik secara preemptif, preventif, maupun
represif harus dikembangkan secara terus
menerus.
Oleh karena itu, Mahkamah menilai
ketentuan yang menyatakan bahwa industri
penghasil limbah B3 wajib melakukan
pengelolaan dan wajib memperoleh izin dari
instansi yang berwenang untuk mengolah

Humas MK/GANIE
limbah adalah ketentuan yang tepat secara
konstitusional. Sebab, mengingat sifat limbah
Kuasa hukum Pemohon, Maqdir Ismail dkk saat persidangan di MK, Selasa, (9/9/2014). B3 yang dapat mengancam lingkungan hidup,
kesehatan, dan kelangsungan hidup manusia
serta makhluk hidup lain maka pengelolaan
Perpanjangan Izin Pengelolaan Limbah B3 proyek bioremediasi tersebut yang justu limbah B3 memang seharusnya dilarang
atas nama PT CPI yang ditandatangani membawanya ke dalam kurungan penjara dan hanya yang mendapat izin negara atau
oleh Aderina dari Kementerian Lingkungan selama dua tahun. pemerintah yang diperbolehkan melakukan
Hidup (KLH). Adanya berita acara proses Merasa dirugikan hak pengelolaan limbah B3 tersebut.
perpanjangan izin tersebut menurut konstitusionalnya sekaligus merasa Mahkamah melihat instrumen
Bachtiar menunjukan bahwa pihak KLH ketentuan a quo berpotensi merenggut perizinan dalam perspektif hukum
sebagai regulator telah mengetahui bahwa hak asasi manusia untuk mendapat administrasi negara merupakan salah
PT CPI sedang tidak memiliki izin ketika lingkungan hidup yang baik dan sehat, satu upaya dan strategi negara untuk
proyek bioremediasi dilakukan. Bachtiar lewat petitum permohonannya menguasai atau mengendalikan suatu
Pada berita acara tersebut, KLH meminta Mahkamah untuk mengabulkan objek hukum dari kegiatan terhadapnya.
menyatakan bahwa proses operasi permohonan untuk seluruhnya. Salah Izin diberikan oleh pemerintah kepada
bioremediasi dapat dilakukan pada satu petitumnya meminta Mahkamah pihak tertentu setelah permohonan izin
saat perpanjangan izin operation Soil meyatakan Pasal 59 ayat (4) juncto beserta syarat-syaratnya telah memenuhi
Bioremediation Facility (SBF) sedang Pasal 102 UU PPLH dinyatakan tidak kualifikasi sesuai dengan peraturan
diproses KLH. Pernyataan KLH konstitusional bersyarat (conditionally perundang-undangan.
tersebut dianggap Pemohon sebagai unconstitutional). Syaratnya, pasal a quo Oleh karena itu, sepanjang
persetujuan atas pengelolaan limbah tidak dimaknai bahwa ketentuan pidana mengenai kewajiban pengelolaan limbah
B3 yang dilakukan oleh PT CPI untuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 B3 bagi yang menghasilkannya dan
menjalankan kewajibannya mengelola ayat (4) juncto Pasal 102 UU PPLH kewajiban pengelolaan limbah B3 dengan
limbah B3 sebagaimana disyaratkan oleh tidak berlaku pada pengelola limbah mendapatkan izin adalah wajar dan
Pasal 59 ayat (1) UU PPLH. B3 yang belum memiliki izin mengelola semestinya, tutur Hakim Konstitusi
Bachtiar pun berargumen bila pada limbah B3 sendiri namun limbah B3 Muhammad Alim membacakan kutipan
saat verifikasi lapangan dilakukan pihak tersebut berdasarkan alasan teknis dan pertimbangan hukum Mahkamah dalam
KLH melarang proyek bioremediasi perizinan tidak dapat dikelola oleh pihak Putusan No. 18/PUU-XII/2014 di Ruang
dilanjutkan, Bachtiar selaku GM saat itu lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal Sidang Pleno MK, Rabu (21/1/2015).
tentu akan meminta penghentian proyek 59 ayat (3) UU PPLH.
bioremediasi tersebut ke PT CPI. Namun Peroleh Izin Materiil
karena Bachtiar menganggap KLH selaku Wajar dan Semestinya Masih dibacakan oleh Alim,
regulator telah memberikan persetujuan Terhadap dalil Pemohon, Mahkamah berpendapat perpanjangan
sekaligus demi menaati ketentuan Pasal Mahkamah mempertimbangkan sifat izin yang tengah diurus oleh penghasil
Aksi 59 ayat (1)
penolakan UU PPLH,
UU Ormas di depanBachtiar
MK, Senin,selaku
(17/3/2014)limbah B3 terlebih dulu. Mahkamah limbah dapat dianggap telah memperoleh
penandatangan kontrak tetap menjalankan menganggap apabila limbah B3 dibuang izin materiil. Mahkamah menilai bila

Aksi penolakan UU Ormas di depan MK, Senin, (17/3/2014)


10 | KONSTITUSI Februari 2015
subjek hukum (penghasil limbah B3, red) beralasan menurut hukum, lanjut Alim. atau bupati/walikota sesuai dengan
belum memperoleh izin lalu mengajukan Mahkamah juga memerintahkan kewenangannya sesuai perintah Pasal 59
permohonan izin dan proses pengurusan agar Pasal 59 ayat (4) UU PPLH dimaknai ayat (4) UU a quo. Namun, Mahkamah
memperoleh izin sedang berlangsung, sesuai amar putusan Mahkamah dalam juga menyatakan bagi pengelolaan limbah
maka dapat dikatakan pengelola limbah perkara ini. Ketua MK, Arief Hidayat B3 yang permohonan perpanjangan
dimaksud tidak dapat secara hukum membacakan langsung redaksi Pasal 59 izinnya masih dalam proses juga harus
dianggap telah memperoleh izin. ayat (4) UU PPLH dalam amar putusan dianggap telah memperoleh izin seperti
Otomatis, pengelolaan limbah tidak Mahkamah. Pada intinya, Mahkamah yang dialami PT CPI.
boleh dilakukan. menyatakan pengelolaan limbah B3 wajib Yusti Nurul Agustin

Lain halnya bila yang terjadi mendapat izin dari menteri, gubernur,
seperti yang dialami PT CPI. Sebab,
Mahkamah menilai bila subjek hukum
yang telah memperoleh izin namun
izinnya berakhir kemudian subjek hukum Kutipan Amar Putusan Nomor 18/PUU-XII/2014
dimaksud mengajukan permohonan
perpanjangan izin, maka secara materiil Pasal 59 ayat (4) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
sesungguhnya subjek hukum dimaksud dan Pengelolaan Lingkungan Hidup bertentangan dengan Undang-Undang
sudah memperoleh izin. Terlebih, bila Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, sepanjang tidak dimaknai
izin terlambat dikeluarkan bukan karena Pengelolaan limbah B3 wajib mendapat izin dari Menteri, gubernur, atau
kesalahan penghasil limbah selaku subjek bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dan bagi pengelolaan limbah
hukum. B3 yang permohonan perpanjangan izinnya masih dalam proses harus
Walaupun demikian, Mahkamah dianggap telah memperoleh izin.
berpendapat tidak berarti subjek hukum Pasal 59 ayat (4) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
tersebut boleh melepaskan kewajibannya dan Pengelolaan Lingkungan Hidup tidak mempunyai kekuatan hukum
untuk terus mengurus perpanjangan mengikat sepanjang tidak dimaknai Pengelolaan limbah B3 wajib mendapat
izinnya. Terlebih lagi bila hasil pengawasan izin dari Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
terakhir oleh instansi atau pejabat yang dan bagi pengelolaan limbah B3 yang permohonan perpanjangan izinnya
berwenang setelah izin tersebut berakhir masih dalam proses harus dianggap telah memperoleh izin.
tidak terdapat pelanggaran terhadap
syarat-syarat pengelolaan limbah B3 yang
ditentukan dalam pemberian izin.
Selain itu, Mahkamah tetap
menganggap subjek hukum yang
memproduksi limbah B3 menurut hukum
wajib untuk mengelola limbahnya. Sebab,
bila tidak dilakukan akan dapat merusak
kelestarian lingkungan hidup dan dapat
diancam dengan pidana. Apabila
pengelolaan limbah B3 tersebut dihentikan
dampaknya akan sungguh-sungguh
menjadi realitas yang merugikan, baik
bagi perusahaan maupun masyarakat dan
negara. Hal tersebut benar-benar akan
menjadi permasalahan serius apabila tidak
segera terbitnya izin pengelolaannya justru
karena lambatnya birokrasi pemerintahan.
Humas MK/ifa

Berdasarkan pertimbangan tersebut,


permohonan pengujian konstitusionalitas Pengunjung sidang menyimak perbaikan permohonan uji materi UU PPLH di MK, Rabu (26/3/2014).
Pasal 59 ayat (4) UU 32 Tahun 2009

KONSTITUSI Februari 2015 | 11


Laporan Utama

Para Ahli Bicara Izin Pengelolaan Limbah B3


Untuk meyakinkan Mahkamah, Bachtiar Abdul Fatah menghadirkan para ahli pada sidang
pemeriksaan perkara No. 18/PUU-XII/2014. Dari ahli Hukum Tata Negara hingga ahli
Lingkungan Hidup kenamaan hadir untuk menyampaikan keahliannya terkait gugatan ketentuan
perizinan pengelolaan limbah B3 dalam Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup (PPLH) yang diajukan mantan General Manager (GM) Sumatera Light South
PT CPI itu. Berikut pokok pikiran yang dipaparkan para ahli.

Saldi Isra
Kewajiban mendapatkan izin pengelolaan limbah sebagaimana termuat dalam Pasal 59 ayat
(4) merupakan kewajiban lanjutan dari kewajiban setiap orang menghasilkan limbah untuk
melakukan pengelolaan limbah. Artinya, ada dua kewajiban yang secara berturut-turut
dibebankan kepada setiap orang yang menghasilkan limbah, yaitu kewajiban melakukan
pengelolaan limbah dan juga kewajiban untuk memiliki izin pengelolaan limbah. Bila mereka
yang tidak melaksanakan kedua kewajiban dimaksud dapat diancam dengan pidana.
Pemenuhan kewajiban bagi penghasil limbah B3 untuk melakukan pengelolaan limbah B3 yang
dihasilkannya dapat dilaksanakan atas inisiatif penghasil limbah. Namun, kewajiban untuk mendapat izin pengolahan
limbah sesuai Pasal 59 ayat (4) UU PPLH tidak hanya terkait itikad baik penghasil limbah, melainkan juga terdapat
peran pemerintah sebagai pemberi izin. Walaupun berbeda kondisinya, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tetap
membebankan sepenuhnya akibat hukum yang timbul dari ketidakterpenuhan kewajiban kepada pihak penghasil limbah.
Hal itulah yang kemudian menimbulkan ketidakpastian hukum bagi penghasil limbah, sebab pemenuhan kewajiban
yang pertama akan tergantung pada pemenuhan kewajiban kedua yang tidak sepenuhnya berada di bawah kuasa si
penghasil limbah. Kondisi ini tidak saja menghadirkan ketidakpastian hukum, melainkan juga menyebabkan terjadinya
ketidakadilan bagi orang yang beriktikad baik mengelola limbah, tetapi terganjal persoalan izin atau lambat dikeluarkan
izin oleh pemerintah.

Pembebanan kedua kewajiban tersebut secara berturut-turut atau berbarengan dapat dibenarkan jika terdapat ketentuan
batas waktu bagi pemegang otoritas pemberi izin dalam mengeluarkan atau menerbitkan izin. Bila tidak, UU PPLH
dapat dinilai telah melegalkan ketidakpastian dan ketidakadilan. Sebab di satu sisi, orang dibebani kewajiban disertai
kewajiban memiliki izin, namun pada sisi lain, pemerintah sebagai pihak pemberi izin, justru tidak diberi batas waktu dan
sanksi yang jelas atas ketidakpastian proses izin yang dilakukan.

Zainal Arifin Mochtar


Pasal mengenai kegiatan untuk melakukan pembersihan lingkungan hidup dalam bentuk
pengelolaan limbah lingkungan dan pasal yang berkaitan dengan kewajiban untuk mendapatkan
izin dalam melakukan pengelolaan limbah lingkungan, sepintas lalu memang tidak serta-
merta dapat dikatakan berlaku kontradiktif. Logika hukum antara relasi negara dengan pihak
yang diberikan kontrak oleh negara untuk melaksanakan pengelolaan limbah lingkungan akibat
kegiatan usahanya, dapat dijelaskan sebagai adanya kewajiban oleh negara bahwa perusahaan

12 | KONSTITUSI Februari 2015


harus membersihkan lingkungan yang tercemar. Negara lalu menetapkan standar-standar bagi pelaksanaannya, sehingga
standar tersebutlah yang dituangkan dalam bentuk perizinan pengelolaan limbah sebagaimana yang dimaksud dalam
pasal-pasal yang dipersoalkan oleh Pemohon. Artinya, kalau dilihat secara biasa menjadi wajar jika ada kewajiban yang
diiringi dengan adanya standar perizinan bagi pelaksanaan kewajiban oleh perusahaan pelaksana.

Perizinan adalah suatu bentuk pelaksanaan fungsi pengaturan dan bersifat pengendalian yang dimiliki oleh pemerintah
terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat. Perizinan dapat berbentuk pendaftaran, rekomendasi,
sertifikasi, penentuan kuota, dan izin untuk melakukan sesuatu usaha yang biasanya harus dimiliki atau diperoleh
oleh suatu organisasi perusahaan atau seseorang, sebelum yang bersangkutan dapat melakukan suatu kegiatan atau
tindakan. Artinya, penguasa memperkenankan orang untuk melakukan suatu kegiatan, kecuali setelah memperoleh izin.
Hal ini dilakukan negera sebagai bentuk pengawasan demi memerhatikan kepentingan umum.

Akan ada kondisi saat penghasil limbah beriktikad baik untuk mengelola limbah walaupun orang tersebut belum memiliki
izin karena sedang mengurus izin atau sedang mengurus perpanjangan izin. Tetapi, penghasil limbah tersebut akan
tetap dikenakan hukuman. Padahal pada saat yang sama, saat penghasil limbah mau menguasakan pada pihak ketiga
juga tidak dimungkinkan karena adanya standar untuk diberikan izin pengelolaan limbah yang berbeda. Seharusnya ada
cara pandang konstitusionalisme bersyarat atau tidak konstitusional secara bersyarat yang dikenakan pada pasal-pasal
tersebut. Dan hal ini disesuaikan dengan korelasi antara negara, penghasil limbah, dan pihak ketiga yang diperbolehkan
mengerjakan atas nama penghasil limbah.

Sukanda Husin
Pasal 59 ayat (1) UU PPLH bertentangan dan kontradiktif dengan ketentuan Pasal 59 ayat (4) UU PPLH. Terutama,
karena tidak adanya norma yang menjembatani atau bridging norm berupa norma yang mengatur suatu kondisi relaxatio
legis. Di mana bila izin dalam proses perpanjangan, pemilik kegiatan boleh melakukan pengelolaan
limbah B3, tetapi dengan pengawasan ketat pemerintah.

Bridging norm ini sekaligus akan berguna bagi terlaksananya prinsip pengelolaan lingkungan
hidup atau pencegahan pengelolaan lingkungan hidup (pollution prevention principle). Bila
bridging norm ini tidak ada, maka limbah B3 menjadi terlantar dan tentu akan merusak
lingkungan hidup dan ekosistemnya bila pertentangan antara Pasal 59 ayat (1) dengan Pasal
59 ayat (4) tidak diatasi.

Pertentangan antara Pasal 59 ayat (1) dengan Pasal 59 ayat (4) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 akan menyebabkan
banyak limbah B3 tidak terolah. Bila ini terjadi, maka masyarakat umum akan dirugikan dengan pencemaran dan/atau
perusakan lingkungan hidup yang merupakan pelanggaran terhadap hak konstitusional warga negara sesuai amanat
Pasal 28H UUD 1945. Untuk mencegah pelanggaran konstitusi tersebut, maka perlu tafsir Pasal 59 ayat (4) UU PPLH
melalui pendekatan futuristik guna membentuk ius constituendum agar mencegah berulangnya kejadian serupa di masa
yang akan datang. Untuk itu, Pasal 59 tidak boleh tidak, harus diubah dengan menambahkan norma baru berupa
bridging norm untuk mengakomodir relaxtatio legis.

Yusti Nurul Agustin

KONSTITUSI Februari 2015 | 13


Laporan Utama

Pemerintah
Hak konstitusi setiap warga negara berupa lingkungan hidup yang
baik dan sehat, sebagaimana diamanatkan di dalam Undang-
Undang Dasar 1945 hanya akan terwujud apabila negara,
Pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan dapat mengelola
limbah bahan dan racundengan baik. Pengelolaan Limbah B3 ini
perlu dilakukan dengan secara benar, baik, dan serius, mengingat
Limbah B3 memiliki karakteristik inheren, sangat berbahaya, yaitu
antara lain mudah meledak, mudah menyala, reaktif, korosif,
infeksius, dan beracun, baik beracun akut maupun kronis atau
teratogenik dan mutagenik.

Instrumen perizinan sebagai alat kendali pengelolaan Limbah B3


sangat memperhatikan tingginya risiko bahaya Limbah B3 bagi
kesehatan manusia dan lingkungan hidup, maka pengaturan pengelolaan Limbah B3 harus dilakukan dengan penerapan prinsip
kehati-hatian melalui penerapan instrumen perizinan. Instrumen perizinan diterapkan untuk memastikan pengendalian pada setiap
simbol pengelolaan Limbah B3, yaitu melalui penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, dan penimbunan
Limbah B3 dilakukan dengan secara benar sesuai dengan karakteristik Limbah B3. Dengan demikian, penerapan instrumen perizinan
dapat menjamin hak konstitusi setiap warga negara terhadap lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Izin lingkungan dan/atau izin PPLH ditujukan untuk memastikan setiap usaha dan/atau kegiatan pengelolaan limbah B3 dilaksanakan
sesuai dengan serangkaian peraturan perundangan. Oleh karena itu, suatu usaha dan/atau kegiatan pengelolaan limbah B3 tidap
dapat dilakukan sebelum terbitnya izin lingkungan dan/atau izin PPLH. Sebab, izin lingkungan dan izin PPLH merupakan prasyaratan
untuk memperoleh izin usaha dan/atau kegiatan, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 40 ayat (1) Undang-Undang Lingkungan
Hidup dan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan.

DPR
Pengelolaan limbah B3 perlu dilakukan dengan secara benar,
baik, dan serius karena limbah B3 memiliki karakteristik yang
sangat berbahaya. Apabila limbah B3 tidak dikelola dengan baik,
benar, dan seriu maka limbah B3 akan membahayakan kesehatan
manusia maupun lingkungan hidup. Oleh karena sifat limbah B3
yang berbahaya dan berisiko terhadap kesehatan manusia dan
lingkungan tersebut, maka pengelolaan limbah B3 wajib dilakukan
dengan pendekatan prinsip kehati-hatian atau precautionary
principles melalui penerapan instrumen perizinan. Instrumen
perizinan diterapkan untuk memastikan pengendalian pada
setiap simpul pengelolaan limbah B3, yaitu melalui penyimpanan,
pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, dan
penimbunan limbah B3 dilakukan dengan secara benar sesuai
dengan karakteristik limbah B3.

Penerapan instrumen perizinan pengelolaan limbah B3 merupakan upaya preventif untuk mencegah risiko terhadap kesehatan
manusia dan tercemarnya lingkungan hidup. Bila pengelolaan limbah B3 dilakukan dengan tidak benar dan/atau sudah terjadinya
pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, maka perlu dilakukan upaya represif berupa penegakan hukum yang efektif, konsekuen,
dan konsisten terhadap pengelolaan limbah B3 yang tidak sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

Mekanisme perizinan dalam pengelolaan limbah B3 mempunyai fungsi yuridis preventif dan fungsi pengendalian. Fungsi yuridis preventif,
yaitu izin berfungsi untuk mencegah pemegang izin melakukan pelanggaran persyaratan izin dan/atau peraturan perundang-undangan yang
dilakukan dengan mencantumkan norma larangan dan norma perintah yang dilekatkan kepada putusan izin. Sedangkan fungsi pengendalian
izin untuk mencegah, mengatasi, dan menanggulangi penyebaran dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan secara cepat, tepat, serta
terkoordinasi. Selain itu, pengendalian izin berfungsi untuk mengurangi kerugian pada pemerintah, masyarakat, dan pemegang izin.

14 | KONSTITUSI Februari 2015


KONSTITUSI Februari 2015 | 15
Ruang sidang UU pasar modal

bisnis.com
Ilustrasi

Penjualan Saham Bank Gagal


Bukan Tindak Pidana

U
ntuk memberikan tertentu juga dapat terhalang lantaran menyatakan bahwa tindakan atau
jaminan atas seluruh harga atau upaya untuk menjual saham perbuatan hukum yang akan dilakukan
kewajiban pembayaran bank gagal tersebut nilainya di bawah oleh LPS berpotensi menjadi terhambat
bank, termasuk sim nilai penyertaan modal sementara. dengan adanya pasal-pasal yang diujikan.
pana n masyarakat, Namun Mahkamah Konstitusi dalam Pasal 45 UU Pasar Modal, Pasal 6 ayat
P e m e r i n t a h Putusan Nomor 27/ PUU-XII/2014 (1) huruf d, Pasal 30 ayat (5), Pasal 38
m engeluar ka n menilai tindakan penjualan saham ayat (5), Pasal 38 ayat (5), Pasal 42 ayat
Undang-Undang Nomor 3 Tahun bank gagal oleh LPS tidak dapat (5), Pasal 85 ayat (2) dan ayat (3) UU
2003 tentang Lembaga Penjamin dikategorikan sebagai tindakan pidana LPS yang diujikan tersebut terkait fungsi,
Simpanan (LPS) sebagai pelaksana yang merugikan keuangan negara, tugas, dan wewenang LPS.
penjaminan dana masyarakat. Namun selama dilakukan secara terbuka dan Kami mengambil contoh terhadap
menurut LPS, UU tersebut justru transparan. fungsi dari LPS untuk menjamin
membatasi kewenangan LPS dalam Untuk itulah, LPS mengajukan simpanan nasabah penyimpan. Untuk
mendapatkan data nasabah. Terutama permohona n uji materi Undang-Undang melaksanakan pengambilan simpanan,
aturan mengenai penjualan saham bank Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar LPS mempunyai hak juga untuk
gagal. Kewajiban LPS untuk menjual Modal dan UU No. 3 Tahun 2003 mendapatkan data nasabah. Dalam
seluruh saham bank gagal, baik yang tentang Lembaga Penjamin Simpanan kaitannya dengan data nasabah, ada
tidak berdampak sistemik dan yang (LPS) ke Mahkamah Konstitusi. LPS yang perundang-undangan lain yang mengatur
berdampak sistemik, dalam waktu diwakili kuasa hukumnya Eri Hertiawan mengenai rahasia bank, ujar Eri dalam

16 | KONSTITUSI Februari 2015


sidang perdana perkara nomor 27/ PUU-
XII/2014 di Ruang Sidang Pleno MK,
Jakarta, yang digelar pada 27 Maret
2014.
Dalam konteks rahasia bank
tersebut, sambung Eri, LPS berpotensi
untuk mengalami hambatan karena ada
bank yang berdampak sistemik tengah
diselamatkan. Terhadap bank tersebut,
pihak LPS harus melakukan pemeriksaan.
Namun, tugas itu lagi-lagi terhambat
lantaran adanya ketentuan terkait rahasia
bank. Selain itu, kewajiban LPS untuk
menjual seluruh saham bank gagal, baik
yang tidak berdampak sistemik dan

Humas MK/GANIE
yang berdampak sistemik, dalam waktu
tertentu juga dapat terhalang lantaran
harga atau upaya untuk menjual saham Kepala Biro BAPEPAM-LK Isa Rachmatarwata menyampaikan keterangan Pemerintah dalam sidang uji
bank gagal tersebut nilainya di bawah Materi UU LPS, (5/5/2014) di Ruang Sidang Pleno MK.
nilai penyertaan modal sementara.
Pada sidang perbaikan permohonan, Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam- tidak dapat serta merta memberikan
Pemohon yang diwakili oleh Asep LK) Isa Rachmatarwata yang mewakili pinjaman pada LPS.
Ridwan, memaparkan secara spesifik Pemerintah menyatakan pengujian Lebih lanjut terkait kerahasian
urgensi bagi pihaknya untuk mengajukan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 bank dan penjualan saham bank gagal
permohonan judicial review itu. Untuk tentang Pasar Modal (UU Pasar Modal) yang ditangani LPS, hal tersebut dinilai
memastikan bahwa yang kita uji adalah dan UU No. 24 Tahun 2004 tentang Pemerintah hanya soal penerapan
pengujian undang-undang terhadap Lembaga Penjamin Simpanan (UU LPS) norma dan implementasi tidak terkait
Undang-Undang Dasar 1945, maka bukan isu konstitusionalitas. konstitusionalitas norma. Apabila
kami cantumkan session tersediri. Pertama, Pemerintah memper Pemohon merasa kesulitan, sebagai
Intinya mengenai batu uji dalam judicial tanyakan kedudukan hukum Pemohon, anggota Forum Koordinasi Stabilitas
review ini, yakni Pasal 1 angka 3, Pasal apakah dalam kapasitas pejabat LPS yang Sistem Keuangan (FKSSK), Pemohon
28 huruf c ayat (2) dan Pasal 28 huruf d bertindak untuk dan atas nama pribadi atau seyogianya menyampaikan kesulitan
ayat (1) UUD 1945, jelas Asep di ruang pejabat LPS yang bertindak untuk dan tersebut ke FKSSK, imbuhnya.
sidang pleno Gedung MK, Jakarta, pada atas nama LPS. Karena menurut Pemohon
sidang yang berlangsung 10 April 2014. Pasal 38 ayat (5) dan Pasal 42 ayat (5) Tindakan Penjualan Saham Bank
Pemohon juga memperbaiki UU LPS berpotensi merugikan keuangan Gagal Bukan Tindak Pidana yang
petitum sesuai dengan nasihat dari negara, sementara menurut Pemerintah Merugikan Keuangan Negara
Majelis Hakim dengan mencantumkan pihak yang merugikan keuangan negara
petitum secara lebih detail. Pertama, dan dapat dipidana adalah perseorangan, Mahkamah Konstitusi (MK)
intinya ketentuan ini bertentangan dengan bukan lembaga. Sehingga kekhawatiran menyatakan menolak seluruh permohonan
UUD 1945 dan kedua, kita juga mohon yang disampaikan Pemohon bukanlah isu uji materi UU No. 24/2004 tentang
untuk ketetentuan tersebut dinyatakan konstitusionalitas, ujar Isa. Lembaga Penjamin Simpanan (UU LPS).
tidak mempunyai kekuatan hukum atas Kata dapat dalam Pasal 85 ayat Menyatakan menolak permohonan
ketentuan yang kita uji. Termasuk juga (2) menurut Pemohon tidak mengikat untuk seluruhnya, demikian ucap Ketua
memerintahkan pemuatan putusan ini sehingga Pasal 85 ayat (2) dan ayat (3) MK Arief Hidayat saat memimpin sidang
dalam Berita Negara Republik Indonesia tidak memberikan kepastian hukum. pengucapan putusan MK pada Rabu
sebagaimana mestinya, imbuhnya. Sementara menurut Pemerintah, (28/1) sore.
ketentuan tersebut tidak tepat dibawa Ketentuan Pasal 30 ayat (5) UU
Pemerintah: Pengujian UU ke ranah MK. Kata dapat, imbuhnya, LPS menunjukkan adanya kewajiban
Pasal Modal dan LPS bukan Isu harus dimaknai dalam memberikan LPS untuk menjual saham bank gagal
Konstitusionalitas pinjaman pada LPS, Pemerintah dalam yang tidak berdampak sistemik tersebut
Dalam sidang ketiga yang mengelola keuangan negara harus tunduk selambat-lambatnya pada tahun kelima
digelar pada 5 Mei 2014, Kepala Biro pada Anggaran Pendapatan dan Belanja meskipun tidak mencapai tingkat
Perasuransian Badan Pengawas Pasar Negara (APBN). Sehingga Pemerintah pengembalian yang optimal bagi LPS

KONSTITUSI Februari 2015 | 17


Ruang sidang UU pasar modal

hak dan kewenangan pemegang saham


(pemegang saham lama) pada bank gagal
yang diselamatkan.
Secara lebih spesifik, berdasarkan
Pasal 30 ayat (1), Pasal 38 ayat (1)
dan Pasal 42 ayat (1) UU Lembaga
Penjamin Simpanan, Pemohon telah
diberikan wewenang serta kewajiban
untuk menjual seluruh saham pada bank
gagal yang diselamatkan. Dengan adanya
frasa wajib menjual seluruh saham
Bank dalam ketentuan-ketentuan di
atas telah jelas Pemohon diberikan tugas
dan kewenangan untuk menjual seluruh
saham bank gagal yang diselamatkan,
baik saham milik Pemohon yang berasal
dari penyertaan modal maupun saham
milik pemegang saham lama pada bank
gagal yang diselamatkan.
Namun demikian, menurut

Humas MK/GANIE
Pemohon, dalam Pasal 45 UU Pasar Modal
terdapat frasa yang dapat menghambat
Pemohon dalam melaksanakan tugas dan
Kuasa hukum LPS dalam uji Materi UU LPS menerangkan pokok-pokok permohonan dalam sidang kewenangannya untuk menjual seluruh
pendahuluan yang digelar di Ruang Sidang Pleno MK (27/3/2014).
saham pada bank gagal, khususnya
ataupun terdapat potensi kerugian LPS. gagal, menurut Mahkamah, tindakan saham milik pemegang saham lama yang
Kerugian yang dimaksud yaitu kerugian tersebut adalah perintah undang-undang tercatat di bursa.
dalam arti nilai jual saham bank gagal tidak yaitu perintah Pasal 42 ayat (5) UU Artinya, dalam konteks penanganan
sepadan dengan nilai Penempatan Modal LPS. Atas dasar perintah undang-undang bank gagal, apabila pemegang saham
Sementara (PMS) yang dikeluarkan LPS tersebut, tindakan penjualan saham bank lama tidak memberikan perintah,
dalam pengelolaan bank gagal tersebut. gagal oleh LPS tidak dapat dikategorikan tidak memberikan surat kuasa kepada
Sementara ketentuan Pasal 38 ayat sebagai tindakan pidana yang merugikan Pemohon, maka kustodian tidak dapat
(5) UU LPS, memunculkan potensi bahwa keuangan negara, selama penjualan saham mengeluarkan saham tersebut. sekalipun
Pemohon akan dianggap merugikan bank gagal dimaksud telah dilakukan secara terdapat permintaan dari pihak lain (in
keuangan negara ketika nilai penjualan terbuka dan transparan sebagaimana diatur casu Pemohon) yang telah diberikan
bank gagal dimaksud kurang dari tingkat dalam Pasal 42 ayat (2) UU LPS. kewenangan berdasarkan UU untuk
pengembalian optimal yang dikehendaki Berdasarkan pertimbangan hukum menjual saham tersebut.
oleh UU LPS. tersebut, Mahkamah berpendapat Supaya ada jaminan, perlindungan
Terhadap dalil Pemohon tersebut, ketentuan Pasal 42 ayat (5) UU LPS tidak dan kepastian hukum terhadap Pemohon
Mahkamah berpendapat pengaturan penjualan melanggar atau tidak bertentangan dengan melaksanakan tugas dan kewenangannya,
bank gagal yang berdampak sistemik, dalam Pasal 1 ayat (3), Pasal 28C ayat (2), dan ketentuan Pasal 30 ayat (5), Pasal 38 ayat
kaitannya dengan tingkat pengembalian yang Pasal 28D ayat (1) UUD 1945, sehingga (5) dan Pasal 42 ayat (5) UU Lembaga
optimal dan jangka waktu penanganan bank permohonan Pemohon mengenai pasal a Penjamin Simpanan harus ditafsirkan
gagal tersebut oleh LPS, memiliki kesamaan quo tidak beralasan menurut hukum. bahwa apabila pada tahun ke-5 (pada bank
substansi dengan pengaturan penjualan bank Sebagaimana diketahui, Pemohon gagal yang tidak berdampak sistemik) atau
gagal yang tidak berdampak sistemik yang dalam hal ini Kartika Wirjoatmojo tahun ke-6 (pada bank gagal berdampak
diatur dalam Pasal 30 ayat (5) UU LPS. Dengan diwakili kuasa hukumnya Eri Hertiawan sistemik) Pemohon menjual saham bank
demikian, menurut Mahkamah, substansi menjelaskan latar belakang permohonan. gagal di bawah tingkat pengembalian
pertimbangan hukum Mahkamah tersebut Berdasarkan Pasal 6 ayat (2) UU yang optimal, maka tindakan tersebut
berlaku mutatis mutandisbagi pertimbangan Lembaga Penjamin Simpanan, dalam merupakan tindakan sah dalam rangka
hukum pengujian konstitusionalitas Pasal 38 menangani dan menyelamatkan bank menjalankan kewajiban hukum Pemohon
ayat (5) UU LPS. gagal, Pemohon secara langsung telah serta tidak dapat dituntut.
Lulu Hanifah/Nano Tresna Arfana
Kemudian mengenai Tindakan LPS diberikan kewenangan oleh undang-
pada tahun keenam menjual saham bank undang untuk mengambilalih segala

18 | KONSTITUSI Februari 2015


komisi informasi Ruang sidang

hukumonline.com
Komisi Informasi Pusat

Komisi Informasi Gugat Kemandirian


Komisi Informasi yang berdiri pada 2010 berdasarkan amanat Undang tugas dan wewenangnya di bidang
Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU komunikasi dan informasi di tingkat
Keterbukaan Informasi Publik) merasa pemberlakuan sejumlah norma provinsi yang bersangkutan.
dalam aturan yang membentuknya telah merugikan hak konstitusional (5) Sekretariat Komisi Informasi

S
Komisi Informasi, antara lain terkait dengan seketariat dan penatakelolaan kabupaten/kota dilaksanakan oleh
informasi yang belum mandiri. pejabat yang mempunyai tugas dan
wewenang di bidang komunikasi
ebanyak 22 Komisioner (1) Dukungan administratif, keuangan, dan informasi di tingkat kabupaten/
Komisi Informasi, baik dan tata kelola Komisi Informasi kota yang bersangkutan.
Pusat maupun Provinsi, dilaksanakan oleh sekretariat (6) Anggaran Komisi Informasi Pusat
membawa norma Pasal komisi. dibebankan pada Anggaran
29 ayat (2), ayat (3), (2) Sekretariat Komisi Informasi Pendapatan dan Belanja Negara,
ayat (4), dan ayat (5) UU dilaksanakan oleh Pemerintah. anggaran Komisi Informasi
Keterbukaan Informasi (3) Sekretariat Komisi Informasi provinsi dan/atau Komisi Informasi
Publik ke Mahkamah Konstitusi. Sebagai Pusat dipimpin oleh sekretaris kabupaten/kota dibebankan
pemohon, para komisioner memandang yang ditetapkan oleh Menteri pada Anggaran Pendapatan dan
aturan tersebut bertentangan dengan yang tugas dan wewenangnya di Belanja Daerah provinsi dan/atau
Pasal 24 ayat (1) dan Pasal 28F Undang- bidang komunikasi dan informatika Anggaran Pendapatan dan Belanja
Undang Dasar Negara Republik Indonesia berdasarkan usulan Komisi Daerah kabupaten/kota yang
Tahun 1945. Informasi. bersangkutan.
Adapun Pasal 29 ayat (2), ayat (3), (4) Sekretariat Komisi Informasi provinsi Dalam permohonan yang teregistrasi
ayat (4), dan ayat (5) menyatakan: dilaksanakan oleh pejabat yang nomor 116/PUU-XII/2014 tersebut, selain

KONSTITUSI Februari 2015 | 19


Ruang sidang komisi informasi

pada sidang perdana di ruang sidang MK,


Jakarta, Senin (10/11/2014).
Pasal 23 UU Komisi Keterbukaan
Informasi Publik menyebutkan, Komisi
Informasi adalah lembaga mandiri yang
berfungsi menjalankan undang-undang
dan peraturan pelaksanaannya menetapkan
petunjuk teknis standar pelayanan informasi
publik dan menyelesaikan sengketa informasi
publik melalui mediasi dan/atau ajudikasi
nonlitigasi. Fungsi tersebut dijabarkan lebih
lanjut melalui tugas-tugas sebagaimana
tercantum dalam Pasal 26 UU Keterbukaan
Informasi Publik. Penegasan Komisi
Informasi sebagai lembaga kuasi peradilan

Humas MK/GANIE
kemudian dikuatkan dalam peraturan
Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2011
tentang Tata Cara Penyelesaian Sengketa
(Ka-ki) Kuasa Hukum Pemohon: Jamil Burhan, Veri Junaidi, John Fresly dan Infomasi Publik di Pengadilan. Wewenang
M. Dawam memaparkan perbaikan permohonan, Senin (24/11/2014).
KIP sebagai lembaga yang menyelesaikan
sengketa informasi publik telah berjalan.
komisioner Komisi Informasi, terdapat pula yang melibatkan pemerintah, khususnya Dalam kurun waktu 2010 hingga 2014,
perseorangan Warga Negara Indonesia Kementerian Komunikasi dan Informasi Komisi Informasi telah menyelesaikan
yang pernah menjadi pemohon dalam (Kominfo), yakni terkait dengan kurang lebih 772 sengketa infomasi.
sengketa informasi publik di Komisi seketariat dan penatakelolaan informasi Menjalankan fungsi dan tugasnya
Informasi Publik. Kerugian konstitusional yang belum mandiri atau yang berdiri sebagai mediator dan ajudikator dalam
yang dialami Pemohon perseorangan sendiri. Kerugian lainnya adalah adanya menyelesaikan sengketa informasi, Komisi
yang bernama Sunaki Matram (Pemohon ketergantungan atau ketidakberdayaan Infomasi merupakan lembaga mandiri
23) tersebut berlandaskan pada Pasal 28F dari segi penganggaran atau pendanaan yang menjalankan wewenang serta
UUD 1945 bahwa setiap orang berhak dan model bangunan Kesekretariatan tugas dan fungsinya termasuk dalam
untuk berkomunikasi dan memperoleh Komisi Informasi pada lembaga lain. memutuskan sengketa informasi publik,
informasi untuk mengembangkan pribadi Hal tersebut berimplikasi pada sulitnya kepentingan umum, dan kepentingan
dan lingkungan sosialnya serta berhak pelaksanaan manajerial dan pengawasan negara kesatuan Republik Indonesia.
untuk mencari, memperoleh, memiliki, pegawai di Komisi Informasi. Pemohon menilai kemandirian lembaga
menyimpan, mengolah, dan menyampaikan Sedangkan kerugian konstitusional penyelesaian sengketa diperlukan agar
informasi dengan menggunakan segala jenis yang dialami Pemohon 23 adalah mampu memberikan keadilan kepada
saluran yang tersedia. terhambatnya proses penyelesaian para pihak, baik melalui proses maupun
Menurut pemohon, pemberlakuan sengketa yang diajukan oleh pemohon hasilnya. Lembaga penyelesaian sengketa
Pasal 29 ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat kepada Komisi Informasi. Selain itu, mesti dilepaskan dari kepentingan para
(5) telah mengakibatkan kerugian secara tidak terpenuhinya rasa keadilan bagi pihak, sehingga putusan yang dihasilkan
langsung maupun tidak langsung atau pemohon akibat tidak mandirinya komisi dapat diterima kedua belah pihak secara
berpotensi merugikan hak konstitusional informasi dalam menyelesaikan sengketa berimbang. Fungsi ajudikasi Komisi
Pemohon untuk menjalankan tugas dan informasi. Terakhir, sulit terpenuhinya Informasi yang mandiri sesungguhnya
wewenang sebagai komisioner komisi hak atas informasi bagi Pemohon. sama seperti fungsi lembaga peradilan
informasi, terutama dalam memberikan Lahirnya pasal dan frasa dalam undang- pada umumnya. Lembaga peradilan,
jaminan hak kepada warga negara untuk undang a quo telah sangat mengganggu imbuh pemohon, dalam menjalankan
memperoleh informasi atau hak untuk dan menghambat aktivitas Pemohon 1 tugasnya dibebaskan dari kepentingan
memperoleh informasi. Bentuk kerugian hingga Pemohon 23 dalam memberikan para pihak dan diberikan kebebasan
konstitusional yang dialami pemohon keadilan untuk penyelesaian sengketa untuk menjalankan tugas dan fungsinya
antara lain, tidak dapat menjalankan informasi atau memperoleh perlakuan tersebut dari pengaruh apa pun sesuai
tugas dan wewenangnya secara optimal yang adil dalam memperoleh informasi, dengan ketentuan Pasal 24 ayat (1)
dalam menyelesaikan sengketa informasi ujar Kuasa Hukum Pemohon Veri Junaidi UUD 1945 bahwa kekuasaan kehakiman

20 | KONSTITUSI Februari 2015


merupakan kekuasaan yang merdeka Tunduk pada UU ayat tersebut pada intinya menyatakan
untuk menyelenggarakan peradilan guna Menanggapi permohonan tersebut, Sekretariat Komisi Informasi dilaksanakan
menegakkan hukum dan keadilan. Pemerintah yang diwakili Staf Ahli oleh Pemerintah dan keanggotaannya
Konsep dan pengaturan kemandirian Menkominfo Bidang Sosial, Ekonomi, dan ditetapkan oleh menteri bidang komunikasi
Komisi Informasi tidak didukung dengan Budaya Djoko Hariyadi menyampaikan, dan informatika. Menurut Para Pemohon,
konsep kemandirian kelembagaan dengan pada prinsipnya setiap warga negara berhak campur tangan Pemerintah dalam
pengaturan kesekretariatan sebagaimana untuk berkomunikasi dan memperoleh ketentuan tersebut telah menyebabkan
ketentuan Pasal 29 ayat (2), (3), (4), dan informasi sesuai amanat Pasal 28F UUD para komisioner tidak dapat menjalankan
ayat (5) UU Keterbukaan Informasi Publik. 1945. Agar hak warga negara tersebut tugas dan wewenangnya dengan
Pasal 29 UU Keterbukaan Informasi dapat dipenuhi, maka fungsi informasi optimal. Terutama, sengketa informasi
Publik yang menyatakan Sekretariat publik perlu dimaksimalkan dengan yang melibatkan pemerintah maupun
Komisi Informasi ditetapkan oleh Menteri selalu mengedepankan prinsip pengaturan Kementerian Kominfo.
Bidang Komunikasi dan Informatika, informasi publik. Djoko mengatakan Komisi Informasi
telah menghambat kemandirian Komisi Sesuai tujuannya Komisi merupakan badan yang diatur langsung
Informasi dalam pelaksanaan tugas dan Informasi dibentuk untuk menjalankan oleh Konstitusi yang menjalankan fungsinya
fungsi penyelesaian sengketa. Berdasarkan UU Keterbukaan Informasi Publik, terkait dengan kekuasaan kehakiman.
tugas dan fungsinya KI memerlukan termasuk menetapkan petunjuk teknis Komisi Informasi menurut Pemerintah
independensi, namun pemerintah melalui standar layanan informasi publik dan merupakan quasi rechtspraak yang
sekretariatannya masih mengintervensi. menyelesaikan sengketa informasi publik melaksanakan peradilan semu. Komisi
Semestinya lembaga peradilan melalui media sidang ajudikasi non-litigasi. Informasi secara hierarki terletak pada
penyelesaian sengketa yang mandiri Komisi Informasi bersifat mandiri dalam kekuasaan eksekutif yang menjalankan
memiliki kemandirian pembiayaan menjalankan tugasnya tersebut. fungsi ajudikasi non-litigasi. Komisi
penganggaran dan organ pendukungnya. Djoko juga memberi penjelaskan Informasi sebagai pelaksana dari fungsi
Implikasi yang timbul sebagai konsekuensi terkait dengan dalil Para Pemohon yang pemerintah eksekutif dalam tugas dan
ketidakmandirian Sekretariat Komisi menyatakan para komisioner di Komisi wewenangnya yang diatur dalam Undang-
Informasi antara lain permasalahan Informasi tidak dapat menjalankan tugas Undang KIP, wajib tunduk pada undang-
anggaran dan pertanggungjawaban dan wewenangnya akibat diberlakukannya undang yang melahirkannya, tegasnya.
Sekretariat Komisi Informasi. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 29 ayat (2), Terkait kemandirian dan
argumentasi-argumentasi tersebut, para ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) UU kemerdekaan Komisi Informasi yang
pemohon meminta kepada Majelis Hakim Keterbukaan Informasi Publik. Keempat dipertanyakan oleh Para Pemohon,
Konstitusi untuk menyatakan Pasal 29
ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5)
Undang-Undang Keterbukaan Informasi
Publik bertentangan dengan UUD 1945
dan tidak mempunyai kekuatan hukum
mengikat sepanjang tidak dimaknai;
Ayat (2) Sekretariat Komisi Informasi
dilaksanakan oleh Kesekretariatan Komisi
Informasi Pusat. Ayat (3) Sekretariat
Komisi Informasi Pusat dipimpin oleh
sekjen yang diusulkan oleh Komisi
Informasi Pusat kepada presiden. Ayat
(4) Sekretariat Komisi Informasi Provinsi
dilaksanakan oleh sekretaris yang
diusulkan oleh Komisi Informasi Provinsi
kepada Komisi Informasi Pusat. Ayat (5)
Sekretariat Komisi Informasi kabupaten/
Humas MK/GANIE

kota dilaksanakan oleh sekretaris


yang diusulkan oleh Komisi Informasi
kabupaten/kota kepada Komisi Informasi
Mantan Hakim Konstitusi Harjono usai mengucapkan sumpah sebagai Ahli Pemerintah,
Provinsi. Senin (26/1/2015).

KONSTITUSI Februari 2015 | 21


Ruang sidang komisi informasi

Djoko mengatakan hal tersebut telah bersengketa merupakan prasangka atau Harjono menjelaskan bahwa aspek
ditetapkan oleh pembentuk undang- asumsi belaka. Pemerintah beranggapan eksternal deklaratoir atau pemberitahuan
undang sebagai kebijakan hukum terbuka diperlukannya unsur pemerintah kepada publik tentang kemandirian atau
(open legal policy) dalam membentuk dikarenakan tidak semua informasi independensi lembaga yang bersangkutan.
Undang-Undang KIP. Dengan kata lain, bersifat terbuka. Oleh karenanya Sedangkan aspek internal mempunyai
pembentuk UU Keterbukaan Informasi terhadap sengketa informasi yang sifatnya sifat obligatoir atau kemandirian justru
Publik telah menempatkan kebebasan tertutup perlu adanya unsur pemerintah memberikan kewajiban-kewajiban
yang penuh kepada komisioner di dalamnya. Selain daripada itu bahwa bahkan batasan dan larangan tertentu
Komisi Informasi yang diangkat dan informasi yang terbuka juga telah kepada pelaksana dari lembaga yang
bertanggung jawab kepada presiden dijamin dan diatur oleh Undang-Undang bersangkutan. Sebab, justru dengan
dan menyampaikan laporan pelaksanaan Keterbukaan Informasi Publik melalui adanya kewajiban, batasan, atau larangan,
fungsi, tugas, dan wewenangnya kepada suatu mekanisme dalam memperoleh kemandirian atau independensi lembaga
DPR. Adanya dukungan administratif, informasi, jelas Djoko. dapat direalisasi.
keuangan, dan tata kelola lembaga Kemandirian bukan dimaksudkan
Komisi Informasi yang dilaksanakan oleh Bukan Tanpa Batas sebagai atribut hak istimewa lembaga
Sekretariat Komisi Informasi merupakan Pernyataan Pemerintah dikuatkan dari yang diberi status mandiri untuk
bagian tanggung jawab dari Pemerintah oleh ahli yang dihadirkannya pada sidang berbuat sesukanya tanpa batas, tapi
sesuai dengan peraturan perundang- terakhir. Mantan Hakim Konstitusi justru kemandirian menjadi kewajiban
undangan. Kemandirian Komisi Informasi Harjono menegaskan bahwa kemandirian dari pemangku tugas lembaga tersebut.
dijamin sejak pemilihan anggota komisi atau independensi tidak bermakna bahwa Kemandirian atau independensi kekuasaan
yang dilakukan secara terbuka, jujur, lembaga negara dimaksud lepas dan kehakiman bukanlah hak istimewa hakim,
dan objektif, sampai dengan diajukan tidak mempunyai kaitan apapun dengan tapi justru kewajiban hakim dan untuk
kepada Dewan Perwakilan Rakyat lembaga negara lain. Kemandirian atau kemudian dibuatlah aturan yang justru
atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah independensi diberikan sebatas mandiri membatasi hakim untuk berbuat tanpa
untuk dilakukan fit and proper test yang dan independen pada soal-soal yang batas, jelasnya.
selanjutnya ditetapkan pengangkatannya berkaitan dengan fungsi yang diberikan Terkait dengan kemandirian
oleh Presiden dan atau kepala daerah. kepada lembaga tersebut. Harjono Komisi Informasi, Harjono menjelaskan
Djoko juga mengatakan anggapan menegaskan bahwa kemandirian atau bahwa Komisi Informasi wajib untuk
Para Pemohon mengenai ketidakmandirian independensi lembaga sebenarnya mandiri ketika menjalankan fungsinya.
Komisi Informasi akan terganggu mempunyai dua aspek, yaitu aspek Namun, pengertian mandiri yang dimiliki
ketika Pemerintah menjadi pihak yang eksternal dan aspek internal. oleh Komisi Informasi tidak dapat
dipersamakan dengan makna kekuasaan
yang merdeka sebagaimana yang disebut
dalam Pasal 24 Undang-Undang Dasar
Tahun 1945. Menurut Harjono, Komisi
informasi bukanlah penyelenggara
kekuasaan kehakiman dan tidak
termasuk dalam salah satu lingkungan
peradilan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 24 UUD 1945. Hal tersebut sesuai
dengan original intent pembuatan UU a
quo yang tidak bermaksud menjadikan
Komisi Informasi sebagai lembaga
peradilan.
Oleh karena itu, tidak tepat kalau
kemudian ketentuan tentang komisi
informasi akan diuji dengan Pasal 24D
Undang-Undang Dasar Tahun 1945.
Humas MK/GANIE

Ahli berkesimpulan bahwa permohonan


Pemohon baik dari kelompok pertama
yaitu yang terdiri dari atas anggota
Pemohon (Ki-Ka) Muhammad Dawam, Mahyudin Yusdar, Fadli Ramadhanil, Jamil Burhan Rumadi dan komisi informasi baik pusat maupun
Jhon Fresly saat sidang mendengarkan keterangan pemerintah, Selasa (13/1/2015)

22 | KONSTITUSI Februari 2015


daerah, kelompok kedua yang bukan
anggota komisi informasi baik pusat
maupun daerah, tidak berdasar atau
tidak beralasakan hukum karena Pasal
24 Undang-Undang Dasar Tahun 1945
sebagai batu uji permohonan tidaklah
tepat, tegas Harjono.

UU KIP Mereduksi Kemandirian


Bertentangan dengan Pemerintah,
Guru Besar Hukum Tata Negara Saldi
Isra mengatakan, dilihat dari sisi politik
hukum pembentukan komisi informasi, KI
didesain sebagai lembaga yang mandiri.
Hal tersebut dinyatakan oleh pembentuk
undang-undang melalui Pasal 23 UU

Humas MK/GANIE
KIP yang menyatakan Komisi Informasi
adalah lembaga mandiri yang berfungsi
menjalankan undang-undang ini. Bahkan, Hakim Konstitusi mendengarkan keterangan Ahli Pemohon Saldi Isra melalui video conference
kata mandiridalam ketentuan tersebut Universitas Andalas, Selasa (13/1/2015)
dijelaskan dalam Penjelasan Pasal 23 UU
a quo yang menjelaskan bahwa mandiri melibatkan eksekutif dan legislatif atau Lebih lanjut, Saldi mengatakan
adalah independen dalam menjalankan paling tidak ada dua lembaga yang terlibat UU Keterbukaan Informasi Publik yang
wewenang serta tugas dan fungsinya. pada proses perekrutannya. Keempat, mereduksi sifat kemandirian Komisi
Sebagai suatu lembaga mandiri, sifat kepemimpinan komisi bersifat kolektif Informasi sebagai pelindung hak atas
kemandirian Komisi Informasi sebanding kolegial. Dan kelima, kepemimpinan informasi secara tidak langsung juga telah
dengan kemandirian lembaga-lembaga komisi tidak dikuasai atau mayoritas mengurangi tanggung jawab Negara.
negara lainnya. Baik yang dibentuk atas berasal dari partai politik tertentu. Terutama, dalam memenuhi hak atas
perintah Undang-Undang Dasar Tahun Melihat karakteris tersebut, Saldi informasi. Bahkan lebih dari itu, penempatan
1945 maupun atas perintah undang- mengatakan hanya satu ciri terkait komisi informasi sebagai lembaga yang tidak
undang, seperti kemandirian KPU dalam pengaruh lembaga lain, yakni ciri kedua, mandiri justru merupakan perwujudan
Pasal 22E ayat (5) Undang-Undang Dasar terutama pemerintah dan lembaga politik intervensi negara atas keterpenuhan hak
Tahun 1945, kemandirian KY dalam kepemimpinan, pertanggungjawaban, serta atas informasi publik.
Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang penatakelolaan lembaga Komisi Informasi Terlebih, Komisi Informasi
Dasar Tahun 1945, ataupun kemandirian yang justru jauh dari sifat kemandirian. merupakan lembaga semi peradilan yang
KPK dalam Undang-Undang Nomor 30 Sebab KIP sangat bergantung pada peran putusannya memiliki kekuatan setara
Tahun 2002. Dalam arti segala hal ikhwal pemerintah, baik dalam mendukung dengan putusan pengadilan. Hal tersebut
yang melekat pada kemandirian lembaga administrasi, keuangan, penatakelolaan, tercatat dalam Pasal 23 UU KIP yang
negara yang secara eksplisit dinyatakan maupun pertanggungjawaban. menyatakan Komisi Informasi bertugas
sebagai lembaga mandiri dalam Undang- Lebih lagi, peran pemerintah menyelesaikan sengketa informasi
Undang Dasar Tahun 1945 maupun dalam dalam melaksanakan sekretariat, publik melalui mediasi dan/atau ajudikasi
undang-undang juga berlaku sama bagi termasuk administrasi keuangan, serta nonlitigasi. Bila dikaitkan dengan sifat
Komisi Informasi, jelas Saldi. pertanggungjawaban Komisi Informasi kemandirian, Komisi Informasi mesti
Sebagai lembaga mandiri, KIP harus kepada pemerintah dan pemerintah betul-betul lepas dari segala macam
memenuhi lima karakteristik. Pertama, daerah justru menempatkan lembaga ini bentuk intervensi pihak-pihak yang
daftar hukum pembentukan yang di bawah pengaruh pemerintah. Saldi pun bersengketa, baik pihak Pemohon
menyatakan secara tegas sifat kemandirian mengatakan desain kelembagaan Komisi maupun pihak Termohon. Oleh karena
atau independensi komisi atau lembaga Informasi sesungguhnya bila demikian itu, sifat mandiri Komisi Informasi harus
tersebut. Dua, lembaga atau komisi bukanlah sebagai lembaga mandiri, dimaknai setara dengan sifat merdeka
dimaksud bebas dari pengaruh atau kontrol melainkan sekadar untuk memenuhi yang dimiliki oleh lembaga kekuasaan
cabang kekuasaan eksekutif. Tiga, proses tuntutan masyarakat mengenai adanya kehakiman, tandas Saldi.
pengisian pimpinan lembaga atau komisi keterbukaan informasi. Lulu Hanifah

KONSTITUSI Februari 2015 | 23


KILAS PERKARA

BPJS Dinilai Monopoli Jasa Layanan Sosial


Ketentuan yang mewajibkan memilih BPJS sebagai penyelenggara jaminan
sosial bagi pekerja, mengundang keberatan dari PT Papan Nirwana, PT
Cahaya Medika Health Care, PT Ramamuza Bhakti Husada, PT Abdiwaluyo
Mitrasejahtera, Sarju, dan Imron Sarbini. Para Pemohon merasa ketentuan
Pasal 15 ayat (1), Pasal 17 ayat (1), ayat (2) huruf c, dan ayat (4), Pasal Pasal
19 ayat (1) dan ayat (2), serta Pasal 55 UU Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial (BPJS) bertentangan dengan UUD 1945.
Dalam sidang perdana perkara nomor 138/PUU-XII/2014 yang digelar di
MK, Rabu (7/1), kuasa hukum para Pemohon, Aan Eko Widiarto, menyatakan
kewajiban untuk mendaftarkan kepada BPJS menyebabkan perusahaan pemberi kerja tidak bisa memilih penyelenggara
jaminan sosial (jaminan kesehatan) lainnya. Padahal, penyelenggara jaminan sosial lainnya lebih baik dari BPJS. Terlebih
lagi, perusahaan akan mendapatkan sanksi administratif bila tidak mendaftarkan pekerjanya ke BPJS.
Kewajiban untuk memilih BPJS juga menyebabkan monopoli dalam penyelenggaraan jasa layanan sosial. Monopoli
ini berimbas langsung kepada penyedia jasa layanan kesehatan lainnya (perusahaan asuransi) seperti yang dialami oleh
PT Ramamuza Bhakti Husada dan PT Abdiwaluyo Mitrasejahtera. (Yusti Nurul Agustin)

Calhaj Gugat UU Penyelenggaraan Ibadah Guru Non PNS Gugat UU Guru dan Dosen
Haji Fathul Hadie Utsman, Sumilatun, Aripin, Hadi Suwoto,
dan Sholehudin yang berprofesi sebagai guru Non PNS
merasa hak konstitusionalnya dirugikan dengan adanya
aturan sejumlah pasal dalam Undang-Undang Nomor 14
Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta UU No. 20
tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam
sidang perkara Nomor 10 dan 11/PUU-XIII/2015 yang digelar
di MK pada Rabu (28/1), Fathur Hadie menuturkan guru
honorer yang semestinya sudah diangkat sebagai PNS tidak
kunjung diangkat dan tidak digaji secara layak.
Norma yang merugikannya antara lain adalah
Pasal 1 butir 11 UU Guru dan Dosen, yang menyatakan
Fathul Hadie Utsman, calon jamaah haji daftar
sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik
tunggu merasa ketentuan Pasal 4 ayat (1), Pasal 5,
terhadap guru. Kerugian lain adalah guru yang sudah
Pasal 23 ayat (2), dan Pasal 30 ayat (1) UU No. 13
mendapatkan sertifikat karena mengajar di swasta,
Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan
lalu mengajar di sekolah negeri, sertifikasinya dicabut
sejumlah pasal dalam UU No. 34 Tahun 2014 tentang
dan tunjangan profesinya tidak dicairkan. Kemudian,
Pengelolaan Keuangan Haji, bertentangan dengan UUD
ketentuan Pasal 13 ayat (1) UU Guru dan Dosen yang
1945. Pasal 4 ayat (1) UU Penyelenggaraan Ibadah Haji
menyatakan pemerintah wajib menyediakan anggaran
menyatakan, Setiap Warga Negara yang beragama Islam
untuk program sertifikasi bagi semua guru. Menurutnya,
berhak untuk menunaikan Ibadah Haji dengan syarat:
ketentuan ini diartikan lain oleh pemerintah, yakni guru
a. berusia paling rendah 18 (delapan belas) tahun atau
non PNS yang bekerja di satuan yang didirikan oleh
sudah menikah; dan b. mampu membayar BPIH
pemerintah tidak diikutkan, tidak boleh ikut program
Dalam persidangan perkara Nomor 12 dan 13/
sertifikasi guru. (Lulu Hanifah)
PUU-XIII/2015 di MK, Selasa (27/1) Fathul menyatakan
aturan tersebut menjadi inkonstitusional bersyarat
karena setiap muslim dapat menjalankan ibadah haji
lebih dari satu kali. Padahal kuota haji sangat terbatas.
Menurutnya, ketentuan iniharus dimaknai khusus bagi
yang belum berhaji. Sedangkan yang sudah pernah haji
tidak boleh berhaji apabila masih terdapat daftar haji
tunggu atau waiting list.
Fathul juga mempersoalkan masalah setoran awal
biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) saat calon
jemaah mendaftar haji. Pengertian membayar BPIH itu
harus diterjemahkan sebagai BPIH pada tahun berjalan.
Calon jemaah haji harus membayar BPIH setelah
mendapat persetujuan dari presiden dan DPR, dan
sesuai dengan kuota yang ditetapkan. (Lulu Hanifah)

24 | KONSTITUSI Februari 2015


Anggap Status PPPK Inkonstitusional, Anggap DPR Tak Berfungsi, UU MD3
UU ASN Digugat Kembali Digugat ke MK
Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2014 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014
tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD (UU MD3) kembali
diajukan untuk diuji. Kali ini ketentuan mengenai hak
Interpelasi, hak angket, hak menyatakan pendapat, dan
komposisi jabatan wakil komisi DPR, digugat oleh Abu
Bakar. Pada sidang pendahuluan perkara Nomor 15/
PUU-XIII/2015 yang digelar Rabu (28/1), Habiburokhman
selaku kuasa hukum Pemohon menyatakan UU MD3
tersebut telah mengakibatkan DPR sebagai lembaga
negara tidak bisa melaksanakan fungsinya dengan
baik, terutama dalam konteks melaksanakan hak
interpelasi, dan menyatakan pendapat. Dengan kata lain,
Materi UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Pemohon mengatakan DPR tidak berfungsi dengan baik.
Sipil Negara (UU ASN) kembali diuji persidangan MK, Sehingga, dapat dipastikan DPR tidak bisa mengawasi
Rabu (28/1). Permohonan Nomor 9/PUU-XIII/2015 ini penyelenggaraan negara oleh pemerintah. Ujung-
diajukan oleh Fathul Hadie Utsman, dkk. Para Pemohon ujungnya, kesejahteraan rakyat yang juga merupakan
merasa dirugikan dengan berlakunya Pasal 1 butir 4, hak konstitusional Pemohon menjadi terganggu.
Pasal 96 ayat (1) Pasal 98 ayat (1), ayat (2), Pasal 99 Terkait dengan pokok permohonan, Habiburokhman
ayat (1), ayat (2), Pasal 105 ayat (1) huruf a dan Pasal mengatakan Pemohon bermaksud mengajukan pengujian
135 UU ASN. Para Pemohon merasa tidak memperoleh formil maupun materiil. Pemohon menganggap lahirnya
kepastian hukum yang adil untuk dapat bekerja sebagai UU MD3 semata-mata akibat kepentingan politik.
Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Pemohon melihat ketika UU MD3 disahkan tanpa adanya
yang tidak memakai sistem kontrak dan hak untuk perubahan apa pun di masyarakat. Terlebih, UU MD3
dapat ditetapkan sebagai PNS secara otomatis. diubah tanpa dilengkapi dengan naskah akademik. (Yusti
Pemohon menjelaskan saat ini pada instansi Nurul Agustin)
pemerintah sudah terdapat pegawai tidak tetap
pemerintah/pegawai Non-PNS yang sudah bekerja
dengan status pegawai Non-PNS. Pegawai tersebut
harus secara otomatis dapat ditetapkan sebagai pegawai
ASN dengan status sebagai PPPK. Jika tidak ditetapkan
secara otomatis sebagai PPPK maka akan terjadi PHK
massal. Pegawai tersebut juga akan kehilangan hak
untuk mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai ASN/
PPPK. Padahal, pegawai pemerintah yang berstatus
sebagai PNS secara otomatis ditetapkan sebagai pegawai
ASN. Pemohon berpendapat, hal tersebut merupakan
perlakuan yang diskriminatif. (Lulu Anjarsari)

Bupati Kutai Barat Gugat Luas Wilayah Kabupaten


Mahakam Ulu
Sidang pemeriksaan pendahuluan Perkara Nomor 139/PUU-XII/2014
ihwal uji materi UU No.2/2013 tentang Pembentukan Kabupaten Mahakam
Ulu, Kalimantan Timur, digelar MK pada Kamis (15/1). Bupati Kutai Barat, Ismail
Thomas dan Ketua Presidium Dewan Adat Kabupaten Kutai Barat, Yustinus
Dullah, selaku para Pemohon, mempersoalkan lampiran UU a quo berupa
peta wilayah yang luas wilayahnya berbeda dengan luas wilayah dalam
paragraf 7 penjelasan umum UU No.2/2013.
Perbedaan luas wilayah tersebut adalah 3.541,20 km persegi yang
didapat dari selisih 18.856,20 km persegi dengan 15.315 km persegi yang terdapat di wilayah Kecamatan Long Hubung
berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Barat. Luas wilayah Kecamatan Long Hubung berdasarkan data Badan
Pusat Statistik Tahun 2010 hanya seluas 530,90 km persegi. Namun pada penghitungan peta wilayah dalam lampiran
UU No.2/2013, luas Kecamatan Long Hubung adalah 4.072,10 km persegi yang didapat dari penambahan 530,90 km
persegi dengan 3.541,20 km persegi.
Pengurangan wilayah tersebut menimbulkan kerugian pada Dana Bagi Hasil Pertambangan Umum TA 2014 serta
Dana Bagi Hasil Pajak Bumi dan Bangunan TA 2014. Selain itu, menimbulkan ketidakpastian urusan pemerintahan.
(Nano Tresna Arfana)

KONSTITUSI Februari 2015 | 25


KILAS PERKARA

Kepala Daerah Maju Sebagai Capres Tak


Harus Mundur
Mahkamah menolak seluruh permohonan pengujian
UU No. 42 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden
dan Wakil Presiden, Rabu (21/01). Permohonan ini diajukan
oleh Yonas Risakotta dan Baiq Oktavianty. Pemohon menguji
materi Pasal 6 ayat (1), penjelasan Pasal 6 ayat (1) dan Pasal
7 ayat (1) dan ayat (2) UU Pilpres terhadap UUD 1945.
Dalam permohonannya, Pemohon mendalilkan norma
yang menentukan bahwa gubernur atau wakil gubernur,
bupati atau wakil bupati, atau walikota atau wakil walikota
yang diusulkan oleh partai politik (Parpol) atau gabungan
Parpol sebagai calon Presiden atau Wakil Presiden harus meminta izin kepada Presiden dan tidak mengundurkan diri
dari jabatan dimaksud, adalah bertentangan dengan UUD 1945.
Menurut Mahkamah, pengaturan lebih lanjut terkait dengan desentralisasi pemerintahan secara konstitusional
menjadi ruang lingkup kebijakan pembentuk UU secara terbuka (open legal policy. Norma Pasal 27 ayat (1) yang
menentukan keharusan meminta izin kepada Presiden, tidak bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945.
Keharusan meminta izin tersebut tidak dapat diartikan sebagai suatu pengaturan yang memperlakukan secara berbeda
terhadapnya dari warga negara lain. (Panji Erawan)

Permohonan Uji UU Otsus Papua Tidak Tidak Memenuhi Syarat, Uji KUHAP Ditolak
Dapat Diterima Mahkamah memutuskan tidak dapat menerima
pengujian UU No. 8 Tahun 1981 tentang Undang-
Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang diajukan
oleh tersangka kasus percobaan pemerkosaan dan
kekerasan, Sanusi Wiradinata, , Rabu (21/1). Dalam
Putusan Nomor 67/PUU-XII/2014 Mahkamah berpendapat
bahwa permohonan pengujian Pasal 77 huruf a KUHAP
tidak memenuhi syarat formal sebagaimana ditentukan
dalam Pasal 30, Pasal 31 ayat (1), dan Pasal 60 UU MK.
Oleh karena itu, Mahkamah tidak mempertimbangkan
kedudukan hukum (legal standing) dan pokok permohonan
Pemohon.
Pemohon sebelumnya pernah mengajukan
permohonan dengan substansi yang sama dan telah
diputus oleh Mahkamah dalam Putusan Nomor 102/
MK memutuskan tidak dapat menerima permohonan PUU-XI/2013, bertanggal 20 Februari 2014. Kala itu amar
uji materi UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus putusan Mahkamah menyatakan permohonan Pemohon
bagi Provinsi Papua (Putusan Nomor 121/PUU-XII/2014), tidak dapat diterima. Menurut Mahkamah, pasal dalam
Rabu (21/1). Mahkamah menemukan fakta bahwa tidak UUD 1945 yang digunakan sebagai dasar pengujian,
ada alat bukti yang menunjukkan bahwa Lembaga baik permohonan Pemohona quomaupun permohonan
Masyarakat Adat Provinsi Papua adalah suatu Kesatuan Nomor 102/PUU-XI/2013 adalah sama yakni Pasal 27 ayat
Masyarakat Hukum Adat. Oleh karena itu, menurut (1), Pasal 28D ayat (1), dan Pasal 28I ayat (2) UUD 1945.
Mahkamah, para Pemohon tidak memiliki kedudukan (Lulu Hanifah)
hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan
sebagai Kesatuan Masyarakat Hukum Adat, sebagaimana
dimaksud Pasal 51 ayat (1) huruf b UU MK.
Permohonan ini diajukan oleh Lenis Kogoya dan
Paskalis Netep (Ketua dan Sekretaris Lembaga Masyarakat
Adat Provinsi Papua). Pemohon merasa dirugikan
karena tidak dapat diangkat dalam keanggotaan Dewan
Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) periode 2004-2009, 2009-
2014 dan periode 2014-2019. Sebab, Keanggotaan DPRP
diatur melalui Perdasus. Tapi, Perdasus keanggotaan
DPRP periode 2004-2009 belum diatur. Akibatnya,
keanggotaan DPRP melalui pengangkatan tidak dapat
dilakukan. (Nano Tresna Arfana)

26 | KONSTITUSI Februari 2015


Dalil Tidak Tepat, MK Tolak Uji UU PPh MK Gugurkan Permohonan Paguyuban
Kades Sidoarjo
Tidak hadiri sidang lanjutan yang beragendakan
mendengarkan pokok-pokok perbaikan permohonan,
permohonan Paguyuban Kepala Desa Se-Kabupaten
Sidoarjo dinyatakan gugur oleh Mahkamah Konstitusi
(MK). Demikian Putusan Nomor 133/PUU-XI/2014 yang
dibacakan pada Rabu (21/1). Mahkamah menyatakan
ketidakhadiran Pemohon tanpa alasan apa pun telah
menyiratkan ketidakseriusan dalam mengajukan
permohonan.
Sebelumnya, Paguyuban Kepala Desa Se-Kabupaten
Sidoarjo menganggap hak konstitusionalnya terlanggar
akibat berlakunya dua pasal dalam UU Desa, yaitu Pasal
Mahkamah dalam amar Putusan 57/PUU-XII/2014 39 ayat (1) dan Pasal 39 ayat (2) UU Desa. Pasal 39
menyatakan menolak pengujian UU No. 36 Tahun 2008 ayat (1) UU Desa menyatakan kepala desa memegang
tentang Perubahan Keempat Atas UU No. 7 Tahun jabatan selama enam tahun. Sementara Pasal 39 ayat
1993 tentang Pajak Penghasilan (UU PPh), Rabu (21/01). (2) UU Desa menyatakan Kades dapat menjabat paling
Supriyono selaku Pemohon, mempersoalkan PP Nomor banyak tiga kali masa jabatan secara berturut-turut atau
46 Tahun 2013 yang terbit dan berlaku berdasarkan tidak secara berturut-turut. Menurut Pemohon, ketentuan
ketentuan Pasal 4 ayat (2) huruf e UU PPh. tersebut menunjukkan pertentangannya dengan hak
Mahkamah berpendapat norma Pasal 4 ayat istimewa yang dimiliki tiap daerah untuk menjunjung
(2) huruf e UU PPh yang diujikan oleh Pemohon, adat setempat. Lama masa jabatan selama enam tahun
sebelumnya pernah diuji yakni dalam perkara Nomor dianggap belum cukup bagi kades untuk memaksimalkan
28/PUU-VII/2009. Mahkamah pada 11 Maret 2010 telah program kerja dan visi serta misi yang diusung. (Yusti
menjatuhkan putusan dengan pertimbangan antara Nurul Agustin)
lain, pendelegasian wewenang UU untuk mengatur
lebih lanjut dalam peraturan perundang-undangan
yang lebih rendah tingkatannya adalah suatu kebijakan
pembentuk UU.
Pengaturan lebih lanjut dalam bentuk Peraturan
Pemerintah, Keputusan Menteri Keuangan dan
Keputusan Direktur Jenderal Pajak, di samping untuk
memenuhi kebutuhan Pemerintah dengan segera supaya
ada landasan hukum yang lebih rinci dan operasional,
sekaligus juga merupakan diskresi yang diberikan oleh
UU kepada Pemerintah yang dibenarkan oleh hukum
administrasi. Dengan demikian maka pasal-pasal yang
diuji konstitusionalnya tidak bertentangan dengan UUD,
sehingga dalil Pemohon tidak beralasan hukum.

Permohonan Tidak Jelas, Uji UU Pemda Tidak Diterima


Mahkamah menyatakan permohonan uji materi Pasal 29 ayat (1) dan
ayat (3) UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (UU Pemda)
tidak dapat diterima, Kamis (22/1). Erwin Erfian Rifkinnanda selaku Pemohon
mendalilkan Pasal 29 ayat (1) UU Pemda memungkinkan kepala daerah dan/
atau wakil kepala daerah berhenti dan meninggalkan kewajiban dan tugas
yang telah diamanahkan oleh rakyat pemilih, demi mengejar ambisi pribadi
dan kelompok partainya. Sedangkan Pasal 29 ayat (3), kepala daerah yang
ingin mengundurkan diri menyampaikan pengunduran dirinya kepada DPRD.
Seharusnya, pengunduran diri tersebut langsung kepada rakyat melalui
mekanisme referendum.
Mahkamah dalam Putusan Nomor 34/PUU-XII/2014 menilai permohonan Pemohon tidak jelas maksud dan
tujuannya. Di satu sisi Pemohon menginginkan agar siapapun yang dipilih oleh rakyat menjadi kepala daerah harus
menyelesaikan tugasnya secara sempurna terkecuali dengan alasan yang tidak terhindarkan (force majeure) atau alasan
yang tak terelakkan (act of God). Namun di sisi lain, Pemohon menginginkan Pasal 29 ayat (1) dan ayat (3) UU Pemda
dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak berkekuatan hukum mengikat. (Lulu Hanifah)

KONSTITUSI Februari 2015 | 27


KILAS PERKARA

Permohonan Warga Kepulauan Nias Tidak Jelas


Mahkamah dalam Putusan Nomor 59/PUU-XII/2014 menyatakan tidak dapat
menerima permohonan pengujian UU No 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara
Pidana (KUHAP) terhadap UUD 1945 yang mengatur perihal tenggat kedaluwarsa
masa penuntutan, Kamis (22/01). MK berpendapat permohonan kabur atau tidak
jelas. Ketidakjelasan inti permohonan dapat dilihat dari kesalahan pencantuman
UU yang akan diuji.
Para Pemohon telah salah dalam mencantumkan UU yang dimaksudkan untuk dimohonkan pengujiannya kepada
Mahkamah. Permohonan pengujian Pasal 78 dan Pasal 79 yang didalilkan para Pemohon adalah pasal-pasal yang
terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), dan bukan KUHAP.
Permohonan ini diajukan oleh lima warga Kepulauan Nias yang masih terikat kekerabatan, yaitu Duhuaro Zega,
Aroziduhu Zega, Arosokhi Zega, Aronasokhi Zega dan Arozatulo Zega. Kelimanya mengklaim berlakunya ketentuan
tersebut menyebabkan pihaknya tidak dapat mengajukan gugatan sertifikat palsu atas tanah dan rumah yang dimilikinya
karena telah kedaluwarsa masa penuntutannya. Hal ini mengakibatkan dihentikannya proses penyidikan laporan.
Akibat penerapan pasal 78 dan 79 KUHP kelimanya mengaku kehilangan haknya untuk menempati rumah warisan
dan lahan untuk penghidupan.(Julie)

MK Tolak Gugatan Ketentuan Komposisi Forkot Gresik Tidak Miliki Kedudukan


Pimpinan DPRD dalam UU MD3 Hukum Uji UU Pelayaran
Uji materi UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran
yang diajukan oleh Forum Kota (Forkot) Kabupaten
Gresik dengan nomor perkara 65/PUU-XII/2014, tidak
dapat diterima oleh MK, Kamis (22/01). Mahkamah
menemukan fakta Pemohon tidak memiliki kedudukan
hukum (legal standing). Hal ini dikarenakan bahwa apa
yang dimohonkan oleh Pemohon menyangkut dengan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang terkait erat dengan
kepentingan daerah Kabupaten Gresik.
Menurut Mahkamah, para Pemohon sebagai
perseorangan warga negara Indonesia maupun sebagai
anggota organisasi Forkot Gresik tidak dapat mewakili
kepentingan daerah, tanpa adanya surat kuasa yang
sah dari pemerintahan daerah. Mahkamah juga tidak
Mahkamah dalam Putusan Nomor 124/PUU- menemukan adanya kerugian konstitusional baik faktual
XII/2014 yang dibacakan pada pada Kamis (22/1), maupun potensial yang akan dialami oleh Pemohon
menyatakan tidak dapat menerima pengujian UU No. dengan berlakunya pasal-pasal yang dimohonkan
17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU pengujian konstitusionalitasnya.
MD3) yang dimohonkan Mohamad Sangaji (Pemohon I) Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas,
dan Veri Yonnevil (Pemohon II). Sementara permohonan menurut Mahkamah, para Pemohon tidak memenuhi
Wibi Andrino (Pemohon III) dan Muannas (Pemohon IV) syarat kedudukan hukum untuk mengajukan permohonan
ditolak Mahkamah. tersebut. Sehingga pokok permohonan Pemohon tidak
Pemohon III dan Pemohon IV mendalilkan dipertimbangkan. (Panji Erawan)
berlakunya Pasal 327 ayat (1) huruf a UU MD3 tidak
eksplisit menyebutkan berapa jumlah wakil ketua yang
pasti untuk DPRD Provinsi yang memiliki keanggotaan
lebih dari 100 orang. Padahal pada Pemilu legislatif
2014 jumlah keanggotaan DPRD Provinsi DKI Jakarta
berjumlah 106 orang.
Menurut Mahkamah, penentuan susunan lembaga
DPRD Kabupaten/Kota termasuk cara dan mekanisme
pemilihan pimpinannya DPRD Kabupaten/Kota,
adalah ranah kebijakan pembentuk UU. Menurut
Mahkamah, mekanisme pemilihan pimpinan dan alat
kelengkapan DPRD sebagaimana diatur dalam UU MD3
tidak bertentangan dengan UUD 1945. (Nano Tresna
Arfana)

28 | KONSTITUSI Februari 2015


Pengujian UU MD3 Anggota F-Hanura Dalil Tak Jelas, Uji UU Pilpres dan UU
dan F-PKB Tidak Diterima Pileg Tidak Dapat Diterima
Permohonan dua orang anggota DPRD Provinsi
NTT, yaitu Jimmy Willbaldus Sianto (Partai Hanura) dan
Yucundianus Lepa (PKB) tidak dapat diterima. Mahkamah
menilai keduanya tidak memiliki legal standing untuk
mengajukan pengujian terhadap ketentuan pengisian
pimpinan DPRD. Permohonan tersebut tidak dapat
diterima dengan mempertimbangkan etika politik
mengingat UU MD3 juga disahkan atas persetujuan PKB
dan Partai Hanura. Sidang pengucapan putusan perkara
No. 123/PUU-XII/2014 ini digelar Kamis (22/1).
Pemohon mendalilkan Pasal 327 ayat (2) dan ayat
(3) UU No. 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan
DPRD (UU MD3) telah melanggar hak konstitusional
mereka. Pasal-pasal ini mengatur bahwa pimpinan Mahkamah memutus tidak dapat menerima
DPRD berasal dari partai politik (Parpol) berdasarkan permohonan Koramen Haulian Sirait dan Dolfijn Max
urutan perolehan kursi terbanyak. Menurut Pemohon, Lawalata, dalam pengujian sejumlah pasal dalam
ketentuan ini tidak sejalan dengan mekanisme UU No. 8 Tahun 2012 tentang Pemilu Anggota DPR,
pemilihan pimpinan maupun ketua anggota dewan DPD, dan DPRD (UU Pileg), dan UU No. 42 Tahun
di tingkat pusat (DPR RI) yang menggunakan sistem 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden
paket. Akibatnya Pemohon yang merupakan anggota (UU Pilpres), Kamis (22/01). Dalam Putusan Nomor
DPRD Provinsi NTT kehilangan kesempatan untuk ikut 43/PUU-XII/2014 Mahkamah berpendapat, alasan
dalam proses pemilihan alat kelengkapan DPR. (Yusti permohonan para Pemohon bertentangan satu sama
Nurul Agustin) lain. Di satu sisi para Pemohon menguraikan proses
input data dan proses rekapitulasi penghitungan suara
melalui sistem informasi harus transparan dan dapat
dipertanggungjawabkan seperti dinyatakan dalam Pasal
173 ayat (1) UU Pileg dan Pasal 248 UU Pilpres. Namun
di sisi lain, para Pemohon menguraikan pembentukan
Pasal 173 ayat (1) UU Pileg dan Pasal 248 UU Pilpres.
Mahkamah juga melihat antara posita dengan
petitum permohonan para Pemohon tidak konsisten
satu sama lain. Dalam argumentasi permohonan, para
Pemohon memohon pengujian formil atas Pasal 173 UU
Pileg dan Pasal 248 UU Pilpres, namun dalam bagian
tuntutan, para Pemohon tidak memohon putusan terkait
pengujian formil dimaksud. Di samping itu, pengujian
formil bukan menyangkut pasal dalam UU melainkan
berkenaan dengan pembentukan UU yang tidak
memenuhi ketentuan pembentukan UU berdasarkan
UUD 1945. (ilham)

Pemohon Meninggal Dunia Uji UU KUHAP Gugur


Pemohon Pengujian Pasal 1 angka 10 huruf a dan Pasal 270 UU No. 8 Tahun
1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang juga
terpidana kasus korupsi pengadaan tanah Pasar Induk Agrobisnis (PIA) Jemundo,
Sudarto meninggal. Dengan fakta hukum tentang meninggalnya Pemohon, MK
menyatakan permohonan perkara No. 136/PUU-XII/2014 tersebut gugur sebab
subjek permohonan hanya Sudarto seorang, tanpa ada Pemohon lainnya.
Sesuai kewajiban yang diserahkan kepada MK lewat ketentuan Pasal 39
ayat (1) Undang-Undang MK, pada 18 Desember 2014 telah digelar sidang
pendahuluan perkara tersebut. Pada 13 Januari 2015, MK menggelar sidang
kedua dengan agenda mendengarkan pokok-pokok perbaikan permohonan
Pemohon. Namun, Pemohon tidak hadir. Saat itu, Sugeng Nugroho selaku kuasa hukum Pemohon yang menghadiri
sidang kedua tersebut mengabarkan bahwa Sudarto telah meninggal pada 28 Desember 2014. (Yusti Nurul Agustin)

KONSTITUSI Februari 2015 | 29


30 | KONSTITUSI Februari 2015
Bincang-bincang

Arief Hidayat
MK akan Bekerja dalam Diam Lewat Putusan
Prof. Dr. Arief Hidayat S.H., M.S., terpilih menggantikan Hamdan Zoelva sebagai Ketua MK periode 20152018.
Keterpilihan Arief sebagai Ketua MK secara aklamasi memberikan warna tersendiri dalam sejarah pemilihan Ketua
dan Wakil Ketua MK. Lantas, bagaimana visi dan misi serta program kerja Arief selama 2 tahun 6 bulan mendatang
terhadap MK di bawah kepemimpinannya? Simak wawancara kami berikut.

Selamat atas keterpilihan Bapak penyidikan dan memeriksa MK sampai melalui agenda Pemilihan Umum
secara aklamasi sebagai Ketua MK secara personal terkait perkara yang Legislatif 2014 dan Pemilihan Presiden/
periode 2015 2018, apa Bapak muncul. Kita juga telah mencoba Wakil Presiden 2014 karena mampu
terpikir akan terpilih? melakukan upaya menjaga martabat memutuskan PHPU Legislatif dan PHPU
Saya bersyukur kepada Allah SWT hakim dengan membentuk Majelis Presiden/ Wakil Presiden tepat waktu
atas keterpilihan saya yang sebenarnya Kehormatan MK di bawah kempimpinan tanpa ada persoalan yang berarti. Hal
tidak pernah terpikirkan oleh saya. Pak Harjono. Dan dengan PMK, kita ini membuktikan bahwa upaya untuk
Apalagi saya sebelumnya hanya seorang membentuk Dewan Etik yang sudah mengembalikan muruah MK berhasil
akademisi di Universitas Diponegoro bertugas setahun ke belakang. perlahan-lahan.
yang kemudian terpilih menjadi Hakim Ke depan, saya bersama hakim
Konstitusi. Tak terbayang, setelah Sejauhmana Dewan Etik ini konstitusi lainnya serta segenap jajaran
menjadi hakim konstitusi, kemudian sudah bertugas? Kepaniteraan dan Sekretariat Jenderal
menjadi wakil ketua MK dan sekarang Dewan Etik ini bertugas untuk MK berupaya untuk meningkatkan
menjadi ketua MK. Itu semua kehendak menjaga harkat dan martabat hakim kualitas putusan MK. Langkah yang
Allah SWT sehingga amanah ini harus konstitusi. Untuk itulah, Dewan Etik ditempuh yakni kami (hakim konstitusi,
sebenar-benarnya dan selurus-lurusnya terbuka untuk menerima laporan dari red.) tidak bekerja melalui pernyataan-
saya jalankan. masyarakat selama setahun terakhir baik pernyataan di media massa, tapi kami
secara lisan maupun tulisan. Mereka akan lebih banyak diam dan melahirkan
Badai yang mendera MK memiliki posisi yang independen terpisah putusan yang berkualitas. Putusan
pada 2013 lalu masih tersisa dan dari Kepaniteraan dan Sekretariat berkualitas di sini berarti putusan
berefek pada turunnya kepercayaan Jenderal MK dan tidak berada di bawah yang dapat memnuhi rasa keadilan di
masyarakat. Bagaimana cara Bapak kepemimpinan MK. Sehingga diharapkan masyarakat, yang dapat memberikan
untuk mengembalikan kepercayaan Dewan Etik bisa bekerja sesuai dengan kepastian hukum, dan memberikan
masyarakat kepada MK di bawah harapan kita, menjaga hakim kontitusi kemanfaatan bagi pembangunan nasional
kepemimpinan Bapak? supaya bisa menjalankan kewajiban sehingga mencapai tujuan negara sesuai
Sejak kepemimpinan Pak dengan selurus-lurusnya. Selama setahun UUD 1945.
Hamdan, kita sudah mulai berupaya ini, Dewan Etik sudah banyak mendapat
secara terstruktur dan sistematis untuk laporan, namun ternyata tidak ada teguran Harapan ke depan Bapak bagi
mengembalikan muruah MK di mata dan sanksi secara lisan maupun tertulis, MK di bawah kepemimpinan Bapak?
masyarakat. Upaya-upaya yang telah yang diberikan kepada hakim kontitusi Saya berharap MK dapat menjadi
dilakukan adalah dengan secara terbuka, maupun panitera dan jajarannya. lembaga yang sesuai fungsinya seperti
transparan dan akuntabel, membuka amanat UUD 1945 sebagai pengawal
diri dan membangun sistem yang baik. Adakah upaya lainnya yang konsitusi. Dalam rangka membangun
Sehingga diharapkan tidak terjadi lagi ditempuh untuk membuktikan bahwa negara hukum yang demokratis, MK
peristiwa tersebut dan sekarang kita MK bisa kembali dipercaya sebagai akan berupaya menuju lembaga yang
berupaya agar MK tidak tergelincir lembaga peradilan yang modern, dapat dipercaya masyarakat baik dalam
untuk kedua kalinya. Saat itu, kami transparan, dan terpercaya? maupun luar negeri.
masih membuka akses seluas-luasnya MK sudah mampu membuktikan Lulu Anjar Sari

bagi penegak hukum untuk melakukan melalui putusan-putusannya terutama

KONSTITUSI Februari 2015 | 31


Ikhtisar putusan

PERLINDUNGAN HAK ATAS KEBEBASAN BERSERIKAT


ORGANISASI KEMASYARAKATAN (ORMAS)
IKHTISAR PUTUSAN
PERKARA NOMOR 3/PUU-XI/2014

Pemohon 1. Yayasan FITRA Sumatera Utara, diwakili oleh Irvan Hamdani HSB., S.Kom;
2. Perkumpulan Indonesia Corruption Watch (ICW), diwakili oleh Danang Widoyoko, ST;
3. Yayasan Penguatan Partisipasi Inisiatif Dan Kemitraan Masyarakat Indonesia (YAPPIKA), diwakili oleh
Abdi Suryaningati;
4. Ir. H. Said Iqbal;
5. M. Choirul Anam, S.H; dan
6. Poengky Inarti, S.H., Ll.M.
Jenis Perkara Pengujian Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan terhadap Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pokok Perkara Pengujian Konstitusionalitas Pasal 1 angka 1 dan angka 6, Pasal 5, Pasal 8, Pasal 10, Pasal 11, Pasal
23, Pasal 29 ayat (1), Pasal 42 ayat (2), Pasal 57 ayat (2) dan ayat (3), serta Pasal 59 ayat (2) huruf
b, huruf c, dan huruf e UU 17/2013 mengenai Perlindungan Hak atas Kebebasan Berserikat Organisasi
Kemasyarakatan (Ormas) bertentangan dengan Pasal 1 ayat (3), Pasal 28, Pasal 28C ayat (2), Pasal 28D
ayat (1), dan Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 mengenai Hak atas Kebebasan Berserikat di Indonesia.

Amar Putusan Mengabulkan permohonan Pemohon untuk sebagian.

Tanggal Selasa, 23 Desember 2014.


Putusan

Ikhtisar Putusan Berdasarkan ketentuan Pasal 24C ayat (1) UUD


Pemohon yaitu Irvan Hamdani HSB., S.Kom, Drs. 1945, Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 24
Anton Silalahi, Ak., Danang Widoyoko, ST, Abdi Suryaningati, Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah
Ir. H. Said Iqbal, M. Choirul Anam, S.H, Poengky Inarti, S.H., diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang
Ll.M adalah perseorangan warga negara Indonesia yang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003
mengajukan permohonan pengujian (Pasal 1 angka 1 dan tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik
angka 6, Pasal 5, Pasal 8, Pasal 10, Pasal 11, Pasal 23, Indonesia Tahun 2011 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara
Pasal 29 ayat (1), Pasal 42 ayat (2), Pasal 57 ayat (2) dan Republik Indonesia Nomor 5226, selanjutnya disingkat UU
ayat (3), serta Pasal 59 ayat (2) huruf b, huruf c, dan huruf MK), serta Pasal 29 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor
e Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran
Kemasyarakatan, Lembaran Negara Republik Indonesia Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan
Tahun 2013 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5076), salah
Republik Indonesia Nomor 5430), selanjutnya disebut UU satu kewenangan Mahkamah adalah mengadili pada tingkat
17/2013 tentang Ormas terhadap UUD 1945. Menurut pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk
Pemohon, Pasal 1 angka 1 dan angka 6, Pasal 5, Pasal 8, menguji Undang-Undang terhadap UUD 1945.
Pasal 10, Pasal 11, Pasal 23, Pasal 29 ayat (1), Pasal 42 Berkaitan dengan kedudukan hukum Pemohon,
ayat (2), Pasal 57 ayat (2) dan ayat (3), serta Pasal 59 ayat menurut Mahkamah, dengan memperhatikan dalil Pemohon
(2) huruf b, huruf c, dan huruf e bertentangan dengan Pasal yang dihubungkan pokok permohonan para Pemohon adalah
1 ayat (3), Pasal 28, Pasal 28C ayat (2), Pasal 28D ayat pengujian konstitusionalitas Pasal 1 angka 1 dan angka 6,
(1), dan Pasal 28E ayat (3) karena telah menciptakan suatu Pasal 5, Pasal 8, Pasal 10, Pasal 11, Pasal 23, Pasal 29 ayat
ketidakpastian hukum, melahirkan penafsiran yang ambigu, (1), Pasal 42 ayat (2), Pasal 57 ayat (2) dan ayat (3), serta
tidak jelas, dan multi tafsir, serta mengekang pemenuhan hak- Pasal 59 ayat (2) huruf b, huruf c, dan huruf e UU 17/2013
hak konstitusional warga negara. tentang Ormas terhadap Pasal 1 ayat (3), Pasal 28, Pasal 28C

32 | KONSTITUSI Februari 2015


ayat (2), Pasal 28D ayat (1), dan Pasal 28E ayat (3) UUD 1945. Berdasarkan pertimbangan tersebut, Mahkamah
Menurut Pemohon, telah mempersempit jaminan perlindungan Konstitusi menjatuhkan putusan pada hari Selasa, 23 Desember
hak atas kebebasan berserikat, sehingga , pengertian mengenai 2014 pukul 16.46 WIB. Yang amarnya menyatakan:
organisasi kemasyarakatan seperti yang diatur dalam Pasal 1. Mengabulkan permohonan para Pemohon untuk
1 angka 1 UU 17/2013 yang ,membawahi semua bentuk sebagian:
asosiasi atau organisasi yang hidup di Indonesia, dengan 1.1. Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun
memberikan nomenklatur sebagai organisasi kemasyarakatan 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Lembaran
(ormas), telah mempersempit ruang lingkup perlindungan hak Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 116,
atas kebebasan berserikat dan tidak mampu mengakomodasi Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
berbagai macam bentuk asosiasi atau organisasi yang masuk Nomor 5430) bertentangan dengan Undang-Undang
dalam cakupan perlindungan hak. Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Bahwa terhadap Pasal 1 angka 1, Pasal 5, Pasal 8, sepanjang tidak dimaknai adanya kemungkinan
Pasal 23, Pasal 57 ayat (2) dan ayat (3), UU 17/2013 yang pengambilan keputusan berdasarkan suara
dimohonkan pengujian konstitusionalitas oleh para Pemohon terbanyak;
telah dipertimbangkan dan diputus oleh Mahkamah dalam 1.2. Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 17
putusan Nomor 82/PUU-XI/2013, bertanggal 23 Desember Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan
2014, sehingga pertimbangan hukum dalam putusan tersebut (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013
mutatis mutandis menjadi pertimbangan hukum pula dalam Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik
permohonan a quo. Indonesia Nomor 5430) tidak mempunyai kekuatan
Bahwa Pasal 1 angka 6, Pasal 10, Pasal 11, Pasal 29 hukum mengikat, sepanjang tidak dimaknai adanya
ayat (1), Pasal 42 ayat (2), dan Pasal 59 ayat (2) huruf b, huruf kemungkinan pengambilan keputusan berdasarkan
c, serta huruf e UU 17/2013 yang juga dimohonkan pengujian suara terbanyak;
konstitusionalitasnya oleh para Pemohon. 1.3. Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun
Menurut Mahkamah, bahwa menteri yang dimaksud 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Lembaran
dalam Pasal 1 angka 6 UU 17/2013 adalah menteri yang termasuk Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 116,
dalam kelompok keempat yaitu menteri yang tidak secara spesifik Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
disebutkan urusannya sehingga menteri yang termasuk dalam Nomor 5430) selengkapnya menjadi, Kepengurusan
kelompok tersebut harus dimaknai sebagaimana dimaksud Pasal Ormas di setiap tingkatan dipilih secara musyawarah
1 angka 6 Undang-Undang a quo. dan mufakat atau dengan suara terbanyak;
Bahwa mengenai Pasal 10 dan Pasal 11 UU 2. Menolak permohonan para Pemohon untuk selain dan
17/2013, Mahkamah tidak menemukan pertentangan antara selebihnya;
kedua norma yang dimohonkan pengujian a quo dengan 3. Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita
norma yang lain, baik dalam Undang-Undang a quo maupun Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya.
Undang-Undang yang lainnya sehingga tidak menimbulkan
ketidakpastian hukum dan ketidakadilan, atau bahkan tidak
pula bersifat diskriminatif.
Bahwa mengenai Pasal 29 ayat (1) UU 17/2013, menurut
Mahkamah, musyawarah dan mufakat adalah proses pengambilan
keputusan yang didasarkan pada demokrasi Pancasila. Namun
demikian, demokrasi Pancasila tidak menegasikan proses
pengambilan keputusan melalui suara terbanyak.
Bahwa mengenai Pasal 42 ayat (2) UU 17/2013,
menurut Mahkamah, pengaturan yang demikian adalah
pengaturan yang wajar dan semestinya dalam rangka
implementasi administrasi pemerintah mengenai sistem
informasi Ormas yang diintegrasikan melalui kementerian yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam negeri.
Bahwa mengenai Pasal 59 ayat (2) huruf b, huruf
c, dan huruf e UU 17/2013, menurut Mahkamah, larangan
tersebut adalah bentuk pembatasan terhadap Ormas yang
dimungkinkan Pasal 28J ayat (2) UUD 1945 sehingga tidak
bertentangan dengan UUD 1945

KONSTITUSI Februari 2015 | 33


Catatan PERKARA

Fungsi Alat Berat dan Pasal 47 ayat (2) UU LLAJ:


Kendaraan Bermotor sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a

Kendaraan Bermotor dikelompokkan berdasarkan jenis:


a. sepeda motor;
b. mobil penumpang;
Oleh: Nur Rosihin Ana
c. mobil bus;
d. mobil barang; dan
Alat berat berfungsi sebagai alat produksi. Sedangkan e. kendaraan khusus.

kendaraan bermotor berfungsi sebagai moda transportasi.


Benarkah alat berat tidak sama dengan kendaraan Penjelasan Pasal 47 ayat (2) huruf
bermotor? e UU LLAJ:
Yang dimaksud dengan kendaraan
khusus adalah Kendaraan Bermotor
yang dirancang khusus yang memiliki

A
fungsi dan rancang bangun tertentu,
lat berat diperlakukan oleh Kepaniteraan Mahkamah pada antara lain:
sama dengan kendaraan Jumat, 9 Januari 2015, dengan Nomor a. Kendaraan Bermotor Tentara
bermotor. Padahal secara 3/PUU-XIII/2015. Nasional Indonesia;
kualitatif dari aspek Mahkamah kemudian b. Kendaraan Bermotor Kepolisian
fungsional (teleologis), alat membentuk Panel Hakim untuk Negara Republik Indonesia;
berat dan kendaraan bermotor adalah memeriksa perkara ini. Panel Hakim c. alat berat antara lain bulldozer,
berbeda. Alat berat sejak awal (kodrati) terdiri dari tiga hakim konstitusi, yakni traktor, mesin gilas (stoomwaltz),
dibuat dan ditujukan untuk kegiatan Hakim Konstitusi Wahiduddin Adams, forklift, loader, excavator, dan
produksi atau secara fungsional Muhammad Alim, dan Suhartoyo, crane; serta
(teleologis) merupakan alat produksi. dan dibantu seorang Panitera
d. Kendaraan khusus penyandang
Sedangkan kendaraan bermotor Pengganti, Mardian Wibowo. Gelar
cacat.
sejak awal dibuat untuk kegiatan perkara pemeriksaan pendahuluan
transportasi berlalu lintas di jalan atau dilaksanakan pada Rabu, 21 Januari
secara fungsional adalah sebagai alat 2015 Pukul 11.00 WIB. Berselang
pengangkut barang atau orang. 14 hari kemudian, tepatnya pada 4 Beda Tapi Disamakan
Penjelasan Pasal 47 ayat (2) huruf Februari 2015, Mahkamah menggelar Para Pemohon berdalil,
e bagian c Undang-Undang Nomor 22 sidang pemeriksaan perbaikan pengelompokan alat berat sebagai
Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan permohonan. Gelar perkara berikutnya kendaraan bermotor, merupakan
Angkutan Jalan (UU LLAJ) menempatkan beragendakan mendengar keterangan perlakuan yang keliru. Perlakuan
alat berat sebagai kendaraan bermotor. Pemerintah dan DPR, dijadwalkan pada yang sama ini menimbulkan sejumlah
Ketentuan ini digugat oleh tiga perseoran 23 Februari 2015. konsekuensi, antara lain, alat berat
terbatas (PT) yang bergerak di bidang PT Tunas Jaya Pratama, PT diharuskan mengikuti uji tipe dan uji
jasa rental alat berat, yakni PT Tunas Multi Prima Universal, dan PT Marga berkala serta memiliki perlengkapan
Jaya Pratama, PT Multi Prima Universal, Maju Mapan merupakan pemilik/ kendaraan seperti halnya kendaraan
dan PT Marga Maju Mapan. Menurut pengelola alat-alat berat berupa antara bermotor.
para Pemohon, ketentuan tersebut lain: crane, mesin gilas (stoomwaltz), Menurut para Pemohon,
bertentangan dengan Pasal 1 ayat (3) excavator, vibrator, dump truck, wheel persyaratan uji tipe dan uji berkala
serta Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2) loader, bulldozer, tractor, forklift tidak mungkin dapat dipenuhi oleh alat
UUD 1945. dan batching plant. Ketiga PT ini berat karena karakteristik alat berat
Para Pemohon melalui kuasa menggunakan alat-alat berat tersebut tidak pernah sama dengan kendaraan
hukum Adnan Buyung Nasution, Ali dalam aktivitas usahanya. Maka tidak bermotor. Alat berat yang dimiliki
Nurdin, Rasyid Alam Perkasa Nasution, mengherankan jika para Pemohon dan/atau dikelola Para Pemohon
dan Absar Kartabrata, mengajukan merasa hak-hak konstitusionalnya seperti crane, mesin gilas (stoomwaltz),
permohonan melalui surat bertanggal dirugikan oleh berlakunya ketentuan excavator, vibrator, bulldozer dan
28 November 2014 ke Mahkamah dalam Penjelasan Pasal 47 ayat (2) batching plant tidak memiliki ban karet
Konstitusi. Permohonan ini diregistrasi huruf e bagian c UU LLAJ. seperti kendaraan bermotor pada

34 | KONSTITUSI Februari 2015


umumnya. Roda alat berat tersebut Persyaratan-persyaratan yang menjadi bukti bahwa alat berat tidak
terbuat dari besi, sehingga tidak secara imperatif diatur dalam dapat disamakan dengan kendaraan
mungkin memenuhi syarat kedalaman ketentuan pasal-pasal tersebut, bermotor.
alur ban. Bahkan terdapat alat berat tidak bakal dapat dipenuhi oleh Secara teleologis, alat berat
yang sama sekali tidak bergerak seperti Para Pemohon. Sebab, terdapat merupakan alat produksi yang dibuat
crane dan batching plant, sehingga tidak keanekaragaman alat berat baik dalam secara khusus guna memudahkan
mungkin memenuhi persyaratan laik fungsi, ukuran, bentuk, berat dan kegiatan produksi. Sedangkan
jalan. Sebab crane dan batching plant operator dalam mengoperasikannya. kendaraan bermotor merupakan
tidak memiliki rem, tidak memiliki roda Masing-masing alat berat memiliki kendaraan guna alat angkut
depan dan tidak menggunakan ban. karakteristik tersendiri. Akibatnya, (transportasi) manusia dan barang,
Alat berat juga diharuskan alat berat tidak dapat dioperasikan, yang setiap saat melintasi jalan
memiliki perlengkapan kendaraan yang pada gilirannya mengakibatkan raya.
bermotor, sebagaimana dinyatakan kegiatan produksi Para Pemohon Alat berat sama sekali tidak
dalam Pasal 57 ayat (3) UU LLAJ. terhenti. ber fungsi sebaga i a la t a ngkut
Kelengkapan dimaksud seperti sabuk (transportasi) manusia atau barang.
keselamatan, ban cadangan, segitiga Perbedaan Teleologis Meskipun terdapat alat berat di
pengaman, dongkrak, pembuka Ketentuan Penjelasan Pasal 47 jalan umum, seperti halnya bulldozer,
roda. ayat (2) huruf e bagian c UU LLAJ namun keberadaan alat berat
Kemudian alat berat juga harus menimbulkan ketidakjelasan dan di jalanan adalah dalam rangka
diregistrasi dan diidentifikasi untuk ketidakpastian hukum. Berdasarkan kegiatan produksi, bukan dalam
mendapatkan sertifikat uji tipe seperti aspek konstruksi hukum, jelas terdapat kaitan transportasi. Alat berat tidak
halnya kendaraan bermotor. Hal ini perbedaan secara teleologis antara alat akan pernah berfungsi sebagai alat
sebagaimana diatur dalam Pasal 64 berat dan kendaraan bermotor. transportasi umum.
UU LLAJ. Padahal sebagaimana telah Untuk memperkuat dalilnya, para M e m a n g d a l a m
diuraikan di atas, alat berat tidak dapat Pemohon memaparkan definisi alat perkembangannya terdapat beberapa
dilakukan uji tipe. Dengan demikian berat dan kendaraan bermotor yang alat berat yang karena kondisi di
sudah tentu ketentuan imperatif secara universal diterima dalam dunia lapangan industri membutuhkan
yang mengharuskan adanya Surat perindustrian dan transportasi. Dalam perpindahan dari satu tempat ke
Tanda Nomor Kendaraan Bermotor buku Manajemen Alat Berat Untuk tempat lain dalam satu wilayah industri,
(STNK) dan Tanda Nomor Kendaraan Konstruksi, Asiyanto mendefinisikan terkesan seolah-olah sama dengan
Bermotor (TNKB) sebagaimana diatur alat berat adalah, Alat yang sengaja kendaraan bermotor. Namun secara
dalam ketentuan Pasal 68 ayat diciptakan/didesain untuk dapat hakikat dan fungsinya (teleologis)
(1) UU LLAJ tidak mungkin dapat melaksanakan salah satu fungsi/ tetap tidak mengubah hakikat alat
dipenuhi sehingga pada gilirannya kegiatan proses konstruksi yang berat sebagai alat produksi, yang
alat berat Para Pemohon tidak dapat sifatnya berat bila dikerjakan oleh sejak semula tidak dapat disamakan
dioperasikan. tenaga manusia seperti: mengangkut, dengan kendaraan bermotor sebagai
Operator alat berat pun mengangkat, memuat, memindah, alat transportasi. Berdasarkan sudut
diharuskan memiliki Surat Izin menggali, mencampur, dan seterusnya pandang teleologis, alat berat tidak
Mengemudi (SIM). Menurut para dengan cara yang mudah, cepat, akan pernah berubah fungsi menjadi
Pemohon, Ketentuan ini tidak hemat, dan aman. kendaraan bermotor.
mungkin bisa dipenuhi. Sebab Sedangkan definisi kendaraan Fakta menunjukkan perbedaan
untuk mengoperasikan alat berat bermotor, Menurut Wikipedia, alat berat dengan kendaraan
membutuhkan keahlian tertentu kendaraan bermotor adalah kendaraan bermotor. Oleh karena itu, menurut
yang tidak ada relevansinya dengan yang digerakkan oleh peralatan teknik para Pemohon, Penjelasan Pasal
kemampuan seseorang yang sudah untuk pergerakkannya dan digunakan 47 ayat (2) huruf e bagian c UU
memiliki SIM B II. Alat berat yang untuk transportasi darat. LLAJ, harus dibatalkan karena tidak
dimiliki oleh Para Pemohon hanya Definisi tersebut jelas memenuhi prosedur konstitusi (hak
dapat dioperasikan oleh orang yang menunjukkan adanya perbedaan uji formil). Para Pemohon meminta
sudah mengikuti pelatihan khusus alat berat sebagai suatu peralatan Mahkamah menyatakan Penjelasan
alat berat tanpa harus memiliki SIM (heavy equipment) untuk suatu proyek Pasal 47 ayat (2) huruf e bagian c
B II yang secara khusus mensyaratkan (produksi) dan kendaraan bermotor UU LLAJ bertentangan dengan UUD
umur dan administrasi SIM B I dan SIM (motor vehicle) sebagai sarana angkutan 1945 dan tidak berkekuatan hukum
A sebelum mendapatkan SIM B II. (moda transportasi). Hal ini cukup mengikat.

KONSTITUSI Februari 2015 | 35


Catatan PERKARA

Daftar Putusan Pengujian Undang-Undang


Sepanjang Januari 2015

No Nomor Registrasi Pokok Perkara Pemohon Tanggal Putusan


Putusan

1 18/PUU-XII/2014 Pengujian Undang-Undang Nomor 32 Bachtiar Abdul Fatah 21 Januari Dikabulkan


Tahun 2009 tentang Perlindungan dan 2015 Seluruhnya
Pengelolaan Lingkungan Hidup terhadap
Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945

2 47/PUU-XII/2014 Pengujian Undang-Undang Nomor 36 PT. COTRANS ASIA 21 Januari Ditolak


Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat 2015
Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun
1983 tentang Pajak Penghasilan terhadap
Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945

3 52/PUU-XII/2014 Pengujian Undang-Undang Nomor 42 1. Yonas Risakotta 21 Januari Ditolak


Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum 2. Baiq Oktavianty 2015 Seluruhnya
Presiden dan Wakil Presiden terhadap
Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945

4 57/PUU-XII/2014 Pengujian Undang-Undang Nomor 36 Supriyono 21 Januari Ditolak


Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat 2015
Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun
1993 tentang Pajak Penghasilan terhadap
Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945

5 67/PUU-XII/2014 Pengujian Undang-Undang Nomor 8 Tahun Sanusi Wiradinata 21 Januari Tidak Dapat
1981 tentang Undang-Undang Hukum 2015 Diterima
Acara Pidana terhadap Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945

6 121/PUU-XII/2014 Pengujian Undang-Undang Nomor 21 1. Lenis Kogoya 21 Januari Tidak Dapat


Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi 2. Paskalis Netep 2015 Diterima
Provinsi Papua terhadap Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945

7 133/PUU-XII/2014 Pengujian Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1. H. Moch. 21 Januari Gugur


2014 tentang Desa terhadap Undang- Supriyadi 2015
Undang Dasar Negara Republik Indonesia 2. Khoirun Nasirin
Tahun 1945

8 136/PUU-XII/2014 Pengujian Undang-Undang Nomor 8 Sudarto 21 Januari Gugur


Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana 2015
terhadap Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945

9 34/PUU-XII/2014 Pengujian Undang-Undang Nomor 32 Erwin Erfian 22 Januari Tidak Dapat


Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Rifkinnanda 2015 Diterima
terhadap Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945

36 | KONSTITUSI Februari 2015


10 43/PUU-XII/2014 Pengujian Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1. Koramen Haulian 22 Januari Tidak Dapat
2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Sirait 2015 Diterima
Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan 2. Dolfijn Max
Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Lawalata
Rakyat Daerah serta Undang-Undang
Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan
Umum Presiden dan Wakil Presiden
terhadap Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945

11 59/PUU-XII/2014 Pengujian Undang-Undang Nomor 8 1. Duhuaro Zega 22 Januari Tidak Dapat


Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana 2. Aroziduhu Zega 2015 Diterima
terhadap Undang-Undang Dasar Negara 3. Arosokhi Zega
Republik Indonesia Tahun 1945 4. Aronasokhi Zega
5. Arozatulo Zega

12 65/PUU-XII/2014 Pengujian Formil dan Materiil UU No. 17 1. Musa 22 Januari Tidak Dapat
Tahun 2008 tentang Pelayaran 2. Yuyun Wahyudi 2015 Diterima
3. Hasanudin Farid;
dkk

13 86/PUU-XII/2014 Pengujian Undang-Undang Nomor 5 Rochmadi 22 Januari Tidak Dapat


Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara Sularsono, dkk 2015 Diterima
terhadap Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945

14 123/PUU-XII/2014 Pengujian Undang-Undang Nomor 1. Jimmy Willbaldus 22 Januari Tidak Dapat


17 Tahun 2014 tentang Majelis Sianto 2015 Diterima
Permusyawaratan Rakyat, Dewan 2. Yucundianus
Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Lepa
Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah terhadap Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945

15 124/PUU-XII/2014 Pengujian Undang-Undang Nomor Mohamad Sangaji 22 Januari Tidak Dapat


17 Tahun 2014 tentang Majelis 2015 Diterima dan
Permusyawaratan Rakyat, Dewan Ditolak
Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan
Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah terhadap Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945

16 134/PUU-XII/2014 Pengujian Undang-Undang Nomor 5 Ricky Elviandi Afrizal 28 Januari Ketetapan


Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara 2015
terhadap Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945

17 27/PUU-XII/2014 Pengujian Undang-Undang Nomor 8 Tahun Lembaga Penjamin 28 Januari Ditolak


1995 tentang Pasar Modal dan Undang- Simpanan (LPS) 2015 Seluruhnya
Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang
Lembaga Penjamin Simpanan terhadap
Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945

18 66/PUU-XII/2014 Pengujian Undang-Undang Nomor 24 1. Forum Kajian 28 Januari Ditolak


Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Hukum dan 2015 Seluruhnya
Dan Lambang Negara, Serta Lagu Konstitusi (FKHK)
Kebangsaan terhadap Undang-Undang 2. Erwin Agustian
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 3. Eko Santoso
1945

KONSTITUSI Februari 2015 | 37


TAHUKAH ANDA?

Mudahnya Prosedur tahapannya. Berikut Majalah Konstitusi paparkan tahapan


pada kedua prosedur pendaftaran permohonan khusus untuk

Pendaftaran Perkara
Anda, Pembaca.
Bila Anda bisa datang langsung ke Gedung MK yang
berlokasi di Jakarta, tepatnya di Jakarta Pusat, Anda dapat
Konstitusi langsung menemui pranata peradilan registrasi perkara atau

S
disebut petugas registrasi perkara. Sesudah memasuki lobi
aat ini Anda berkeinginan mengajukan utama Gedung MK, Anda langsung saja menuju loket
permohonan perkara ke Mahkamah Konstitusi pendaftaran yang terletak di bagian kanan lobi dekat dengan
(MK)? Tapi Anda tidak punya dana untuk lift. Tahukah Anda, petugas pendaftaran siap menerima
membayar advokat sebagai kuasa hukum kehadiran calon Pemohon tiap Senin sampai Jumat, sejak
untuk menyusun permohonan? Tidak usah pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.
bingung, Anda bisa datang langsung ke Petugas pendaftaran perkara akan mencatat nama Anda
MK dan menemui petugas registrasi perkara. Di sana, selaku pihak yang mengajukan permohonan dalam buku
Anda bisa menanyakan prosedur pengajuan permohonan penerimaan permohonan. Bila permohonan sudah disusun
atau pertanyaan lainnya seputar prosedur pendaftaran dengan baik dan lengkap, Pemohon harus menyerahkan
permohonan perkara konstitusi. Belum puas? Anda bisa berkas permohonan miliknya sebanyak 12 rangkap. Petugas
meminta layanan konsultasi penulisan permohonan. Satu yang menerima permohonan Anda akan memeriksa
lagi, bila Anda kesulitan hadir ke Gudung MK, Anda bisa kelengkapan berkas permohonan sesuai dengan ketentuan
melayangkan permohonan online. Pasal 29 dan Pasal 31 UU No. 8 Tahun 2011 tentang
Prosedur pendaftaran permohonan perkara konstitusi MK. Ketentuan pada Pasal 29 UU MK memerintahkan
memang dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pendaftaran permohonan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia
permohonan langsung dan pendaftaran permohonan online. oleh Pemohon atau kuasa hukumnya sebanyak 12 rangkap.
Tentu saja, kedua prosedur permohonan tersebut berbeda Sedangkan Pasal 31 UU MK memerintahkan permohonan

38 | KONSTITUSI Februari 2015


sekurang-kurangnya harus memuat nama dan alamat Setelah permohonan online Anda diterima, petugas
Pemohon, uraian mengenai dasar permohonan, dan hal- registrasi p erkara akan menerima dan menyampaikan
hal yang diminta untuk diputus oleh Mahkamah (petitum konfirmasi kepada Pemohon atau kuasanya dalam satu hari
permohonan). Pasal 31 UU MK juga memerintahkan setelah dokumen masuk ke dalam sistem. Konfirmasi tersebut
pengajuan permohonan harus disertai dengan alat bukti harus dijawab oleh Pemohon maupun kuasanya paling lambat
yang mendukung permohonan. tiga hari sejak permohonan diterima oleh MK. Konfirmasi
Selesai? Belum. Berkas permohonan akan diproses dari Pemohon harus dilaksanakan langsung. Maksudnya, Anda
terlebih dulu oleh internal MK sampai akhirnya dicarar harus datang ke MK untuk melakukan konfirmasi langsung
dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi (BPRK). Bila sekaligus menyerahkan 12 rangkap dokumen permohonan
semua proses sudah dilalui, Pemohon akan menerima tanda asli.
terima permohonan. Anda pun tinggal menunggu panggilan Masih bingung? Anda bisa melakukan konsultasi
dari MK untuk hadir pada sidang pendahuluan dengan penulisan permohonan yang sesuai dengan peraturan MK
agenda memaparkan pokok-pokok permohonan. sekaligus menanyakan prosedur permohonan kepada petugas
Tidak berbeda dengan pengajuan permohonan secara penerimaan permohonan perkara konstitusi. Bila sempat, Anda
langsung, permohonan secara online hampir serupa namun bisa mengakses peraturan MK tentang pedoman beracara
Anda perlu mengakses laman www.mahkamahkonstitusi. di website MK. Ingin lihat contoh permohonan, Anda pun
go.id terlebih dulu. Selanjutnya, Anda selaku Pemohon bisa memintanya ke petugas Pusat Pelayanan Informasi dan
maupun diwakili kuasa hukum harus melakukan registrasi Dokumentasi (PPID) yang ruangannya terletak bersebelahan
utuk mendapatkan nama identifikasi (username) dan dengan loket registrasi perkara. Oh ya, semua tahapan untuk
kode akses (password). Berkas permohonan Anda dapat mengajukan permohonan tersebut tidak dipungut biaya sepeser
langsung Anda unggah dalam bentuk softcopy setelah pun alias gratis!
semua kolom registrasi online dilengkapi. Jangan lupa, Yusti Nurul Agustin

Anda perlu mencetak tanda terima pengajuan permohonan


online.

KONSTITUSI Februari 2015 | 39


aksi pimpinan MK

Humas MK/GANIE
Ketua Mahkamah Konstitusi terpilih Arief Hidayat (kiri) berjabat tangan dengan Wakil Ketua MK terpilih Anwar Usman (kanan) seusai Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua MK
Priode 2015-2017, Senin (12/1) di Ruang Sidang Pleno Gedung MK.

Duet Arief Hidayat dan Anwar Usman


Pimpin MK 2015-2017

H
akim Konstitusi Arief Hidayat Sebelumnya, Arief mer upakan hakim. Pemilihan Wakil Ketua ini bahkan
terpilih secara aklamasi menjadi Wakil Ketua MK p eriode 2013-2015 diwarnai suara abstain dan tidak sah.
Ketua Mahkamah Konstitusi bersama dengan Hamdan Zoelva sebagai Dalam sambutannya sebagai Ketua
p er io d e 2015-2017. A r i ef Ketua. Guru Besar Universitas Diponegoro MK, Arief menyatakan dirinya dan Anwar
menggantikan posisi Hamdan Zoelva yang Semarang ini menjadi hakim konstitusi bersama seluruh hakim konstitusi akan
masa baktinya sebagai hakim konstitusi sejak 1 April 2013. selalu taat pada Konstitusi dan menjalankan
berakhir Rabu (7/1) silam. Sementara Hakim Konstitusi Anwar Konstitusi dengan sebaik-baiknya dan selurus-
Ket er piliha n A rief s e cara a k la ma si Usman ter pilih menjadi Wakil Ketua lurusnya agar muruah MK bisa terjaga dengan
diumumkan melalui rapat pleno terbuka. melalui voting. Tak tanggung-tanggung, baik dan putusan-putusannya bisa dijalan
Ket ua MK t ela h t er pi l i h s e c a ra perlu voting sebanyak empat kali putaran oleh seluruh penyelenggara negara. Kita
musyawarah mufakat, yakni Profesor untuk mengukuhkannya menjadi Wakil akan selalu berusaha dan meningkatkan
Arief Hidayat untuk mengemban tugas Ketua MK mengalahkan perolehan suara kualitas putusan sehingga putusan-putusan
menggantikan Hamdan Zoelva untuk Hakim Konstitusi Aswanto, dan Patrialis kita adalah putusan yang memenuhi rasa
masa bakti 2015 sampai 2017 dengan A kbar. Ha l ters ebut karena jum la h keadilan masyarakat, memberikan kepastian
masa jabatan 2,5 tahun, ujar Arief perolehan suara masing-masing calon tidak hukum, dan bermanfaat untuk pembangunan
di r uang sidang pleno MK, Jakarta, memenuhi syarat, yakni lebih dari setengah Indonesia menuju masyarakat yang adil dan
Senin (12/1). jumlah hakim yang hadir atau lima orang makmur, tegasnya.

40 | KONSTITUSI Februari 2015


Resmi Pimpin MK Usai Ucapkan Sumpah

K
e t u a d a n Wa k i l K e t u a mengembalikan muruah MK sebagai dan masyarakat yang telah dengan penuh
Mahkamah Konstitusi peradilan yang terpercaya. Untuk kesadaran mematuhi dan menjalankan
terpilih Arief Hidayat dan meneguhkan independensi sebagai putusan-putusan MK sebagai bagian dari
Anwar Usman mengucapkan lembaga peradilan yang terpercaya, MK komitmen mematuhi dan melaksanakan
sumpah di hadapan hakim konstitusi telah banyak melakukan instrospeksi konstitusi, imbuhnya.
lainnya. Pengucapan sumpah sebagai dan perbaikan internal. Institusi Dewan Sebagai Ketua MK, Arief
Pimpinan MK masa jabatan 2015-2017 Etik sebagai lembaga permanen telah pun berjanji MK akan akan terus
tersebut dihadiri oleh Wakil Presiden efektif bekerja dan kelembagaan Majelis meningkatkan kualitas putusannya
Jusuf Kalla, sejumlah menteri Kabinet Kehormatan telah diatur sedemikian rupa untuk memenuhi rasa keadilan bagi
Kerja, pimpinan lembaga negara, dan guna menjaga kehormatan, keluhuran masyarakat, memenuhi asas kepastian
mantan hakim konstitusi. martabat dan perilaku Hakim Konstitusi, hukum, serta bermanfaat bagi bangsa
Dalam sambutannya usai jelasnya. Indonesia. Karena itu, kualitas MK akan
mengucapkan sumpah, Arief ditingkatkan secara akademik sehingga
menekankan pentingnya integritas, Menjalankan Putusan MK betul-betul mampu menafsirkan konstitusi
independensi, dan imparsialitas dimiliki Dalam kesempatan tersebut, yang komperhensif ditinjau dari kacamata
oleh para hakim konstitusi. Hanya Arief juga mengatakan MK merupakan konstitusi yuridis yang berdasarkan pada
dengan integritas, independensi dan bagian dari tatanan kelembagaan moralitas dan nilai-nilai luhur bangsa
imparsialitas yang dijalankan oleh negara hukum. MK hanya akan dapat Indonesia,\\\ tutupnya.
negarawan itulah, Mahkamah Konstitusi mengawal konstitusi jika mendapatkan Senada, Ketua MK Periode
mampu mengawal dan menafsir UUD dukungan dari lembaga negara lain 2013-2015 Hamdan Zoelva berpesan
1945 sebagai dokumen hukum tertinggi dan seluruh masyarakat. Berbeda kepada Arief serta delapan hakim
melalui putusan yang memenuhi harapan dengan pengadilan biasa, pelaksanaan konstitusi lainnya untuk terus menjaga
keadilan segenap warga negara, putusan MK sepenuhnya bergantung dan meningkatkan kualitas putusan
ujarnya di ruang sidang pleno MK, kepada kesadaran dan komitmen Mk dengan berlandaskan pada UUD
Jakarta, Rabu (14/1). untuk mewujudkan negara hukum 1945 dan Pancasila. Kalau putusannya
Apalagi MK pernah mengalami yang konstitusional. Arief optimistis, bagus, maka dengan sendirinya putusan
ujian yang sangat berat. Di bawah dengan kesadaran dan komitmen, itu akan sangat dihormati, ujarnya usai
kepemimpinan Hamdan Zoelva, MK konstitusionalitas Indonesia akan terjaga. mengikuti pengucapan sumpah Ketua
kemudian bisa bangkit dari masa-masa Karena itu, kami sangat mengapresiasi dan Wakil Ketua MK.
Lulu Hanifah
sulit dan secara bertahap telah mampu dan menghargai semua lembaga negara

Arif Hidayat mengucapkan sumpah sebagai Ketua MK di hadapan Mahkamah Konstitusi, Rabu (14/1)

KONSTITUSI Februari 2015 | 41


aksi Sumpah jabatan

Humas MK/GANIE
I Dewa Gede Palguna (kanan) bersama Suhartoyo (kiri) saat diambil sumpah di hadapan Presiden sebagai Hakim Konstitusi, Rabu (7/1) di Istana Negara.

Palguna dan Suhartoyo Bersumpah


sebagai Hakim Konstitusi

S
uhartoyo dan I Dewa Gede Palguna 1/ P/ 2015 d ia ng kat s eb a ga i Ha k i m of Law University of San Fransisco,
resmi menjabat sebagai Hakim Konstitusi terhitung setelah mengucapkan California, (1995 dan 1997).
Konstitusi, setelah mengucapkan sumpah sebagai Hakim Konstitusi yang Pada 2003, Palguna terpilih menjadi
sumpa h ja bat a n di hada pa n diusulkan oleh Presiden, menggantikan salah satu Hakim Konstitusi generasi
Presiden, di Istana Negara, Rabu, (7/01). hakim Konstitusi Hamdan Zoelva yang pertama dari unsur Dewan Perwakilan
Dalam Surat Keputusan Presiden berakhir masa baktinya. Rakyat dan menjabat selama lima tahun.
Nomor 151/P/2014 tentang Pemberhentian Sebelumnya, I Dewa Gede Palguna Pada Selasa (6/1) kemarin, I Dewa Gede
dan Pengangkatan Hakim Konstitusi yang merupakan dosen hukum tata negara di Palguna kembali terpilih menjadi Hakim
dibacakan Deputi Menteri Sek retaris Fakultas Hukum Universitas Udayana. Konstitusi setelah melalui serangkaian
Negara Bidang Sumber Daya Manusia, Sejak kelulusannya dari Program Sarjana proses seleksi yang digelar oleh Panitia
Cecep Sutiawan, Suhartoyo diangkat Universitas Udayana dan Program Pasca- Seleksi Hakim Konstitusi yang dibentuk
sebagai Hakim Konstitusi terhitung sejak sarjana Universitas Padjadjaran, aktivitas oleh Presiden Joko Widodo.
setelah mengucapkan sumpah sebagai Pria kelahiran Bali, 24 Desember 1961 Sementara Suhartoyo, sebelumnya
Hakim Konstitusi, setelah sebelumnya ini sangat lekat dengan dunia akademik merupakan Hakim Madya Utama Pengadilan
dalam SK yang sama Presiden menyatakan dan hukum. Pengabdiannya pada dunia Tinggi Denpasar. Setelah kelulusannya dari
memberhentikan dengan hormat Ahmad akademis antara lain diwujudkan sebagai Program Sarjana Universitas Islam Indonesia
Fadlil Sumadi dari jabatan Hakim Konstitusi dosen di Fakultas Hukum Universitas dan Program Pasca-sarjana Universitas
pada 7 Januari 2015. Suhartoyo merupakan Udayana (sejak tahun 1988), Dosen Tarumanagara, Suhartoyo mengabdikan
Hakim Konstitusi yang diusulkan oleh Luar Biasa pada Fakultas Keguruan dan hidupnya dalam dunia hukum. Beberapa
Mahkamah Agung untuk menggantikan Ilmu Pendidikan Universitas Dwijendra, di antaranya, Suhartoyo tercatat pernah
Hakim Konstitusi Ahmad Fadlil Sumadi Denpasar (1987-1988), dan sebagai Co- menjadi Hakim Pengadilan Negeri Metro
yang habis masa jabatannya. Lecturer pada Summer Law Programme Lampung dan Ketua Pengadilan Negeri
Sementara I Dewa Gede Palguna ker ja s a ma a nt a ra Fa k u l t a s Hu k u m Jakarta Selatan.
dalam Surat Keputusan Presiden Nomor Universit a s Udaya na denga n School Ilham

42 | KONSTITUSI Februari 2015


pisah sambut aksi

perkara Pemilukada. Kemudian, masa


terberat baginya, lanjut Hamdan, ketika
menghadapi badai yang menerpa MK pada
2013. Namun kekompakan para hakim
konstitusi dan dukungan seluruh jajaran
MK mampu mengembalikan mar wah
MK kembali. Pada 2013, MK tertimpa
dinamika yang luar biasa. Yang saya
rasakan adalah kekompakan para hakim
dalam menjaga marwah MK di kalangan
masyarakat yang saat itu gencar meminta
untuk membubarkan MK. Cobaan luar
biasa karena adanya rumor hakim MK

Humas MK/GANIE
tidak bersih. Kami (hakim konstitusi, red.)
tidak dipercaya. Kami memilih diam dan
menunjukkan putusan.
Ha m d a n b er p e s a n a ga r MK
Hakim Konstitusi Arief Hidayat didampingi Sekjen MK Janedjri M. Gaffar memberikan lukisan kalikatur
kepada mantan Hakim Ketua MK Hamdan Zoelva dan Hakim Konstitusi Ahmad Fadlil Sumadi dalam senantiasa menjaga kekuatan tetapnya,
acara pisah sambut, Rabu (15/1) di Aula Lt. Dasar Gedung MK. yakni sumber daya manusia. Menurutnya,
para pegawai merupakan kekuatan tetap

MK Lepas Hamdan-Fadlil
yang juga memberikan dukungan terhadap
keberadaan MK. Untuk itulah, lanjut
Hamdan, di saat terakhir masa jabatannya,

dan Sambut Palguna- ia berusaha untuk memperkuat sumber


daya manusia di MK dengan menjalin

Suhartoyo
beberapa kerja sama dengan MK negara
la in. D enga n b egit u, sumb er daya
manusia di MK bisa belajar dari MK
negara lain, terangnya.
Sementara kedua hakim konstitusi

M
yang baru dilantik pada 7 Januari 2015,
enya m b u t ke d at a nga n I besar baginya dalam membesarkan dirinya Hakim Konstitusi I Dewa Gede Palguna
Dewa Gede Palguna serta sebagai hakim konstitusi. Arief mengakui da n Suhar toyo pun b er sy uk ur bis a
Suhar toyo s ebaga i ha k im di awal bertugas sebagai hakim konstitusi, bergabung dalam jajaran sembilan hakim
konstitusi sekaligus melepas ia sempat mengalami sedikit depresi karena konstitusi. Palguna dalam sambutannya
A h mad Fadlil Sumadi da n Ha mda n menghadapi perkara pemilukada yang kala menerangkan ia merasa terpilihnya kembali
Zo elva, Ma hkama h Konstit usi (MK) itu banyak masuk ke MK. Sosok Pak menjadi hakim konstit usi adalah hal
menggelar acara pisah sambut yang digelar Fadlil ini mengingatkan saya. Bapak kan yang tak pernah terpikir olehnya meski
pada Rabu (14/1) di Aula MK. Dalam dosen yang tidak mungkin meninggalkan telah dua kali ia diminta kembali untuk
kesempatan itu, hadir sejumlah pejabat, ma ha siswanya, ma ka anggapla h juga bergabung dalam lembaga negara hasil
s ep ert i Ket ua Bawa slu Muha m mad, seperti itu di MK, tugas yang tidak dapat reformasi tersebut. Ia menyebut tidak
Wakil Ketua Komisi Yudisial Abbas Said, ditinggalkan, jelasnya. elok baginya untuk menolak ketiga kalinya
Ketua Dewan Etik Abdul Mukthie Fajar, Ket ua MK p eriod e 2013-2015 pengajuannya sebagai hakim konstitusi
Forum Konstitusi, Ketua MK periode Ha m d a n Z o el va ya ng ha d i r juga menggantikan Hamdan Zoelva. Sementara
2008-2013 Moh. Mahfud MD, serta memberikan pesan dan kesan sebelum terkait independensi, ia menuturkan akan
mantan hakim konstitusi lainnya. m en ingga l ka n MK. Baginya s ela ma membuktikan melalui pemikirannya bagi
Dalam sambutannya, Ketua MK lima tahun menjadi hakim konstitusi, ia putusan MK ke depan.
Arief Hidayat mengungkapkan Ahmad mengalami masa penuh dinamika. Sejak Lulu Anjarsari
Fadlil Sumadi da n Ha mda n Zo elva pertama ia masuk pada 2010, kala itu
merupakan sosok yang memiliki andil MK suda h mulai disibuk kan dengan

KONSTITUSI Februari 2015 | 43


aksi konsultasi

Humas MK/Dedy Rahmadi


Hakim Konstitusi Patrialis Akbar, Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi Anwar Usman, dan Wakil Ketua DPR-RI Fadli Zon (ki-ka) bertemu di Gedung Nusantara 3
DPR-RI, konsultasi masalah pelaksanaan Pilkada.

Pimpinan DPR Undang MK Konsultasikan


Pelaksanaan Pilkada

W
akil Ketua Mahkamah Konstitusi, pikiran-pikiran di luar putusan MK. menimbulkan perdebatan, apakah KPU
Anwar Usman, bersama Hakim Menu r u t Pat ria l i s, MK d a la m yang menyelenggarakan pikada, karena
Konstitusi Patrialis Akbar mewakili putusannya menyatakan bahwa pemilihan kalau KPU yang menyelenggarakan pemilu
MK memenuhi undangan Komisi kepala daerah bukan rezim kepala daerah, maka termasuk rezim pemilu, ujar politisi
II Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk karena pemilihan kepala daerah diatur Partai Golkar itu.
melakukan pertemuan konsultasi terkait dalam Pasal 18 ayat (4) Undang-Undang Persoalan lain yang disampaikan
dengan pelaksanaan pemilihan kepala Da s ar (U U D) s em ent ara p em iliha n Ra mb e ya k ni terka it lembaga ya ng
daerah. umum diatur dalam Pasal 22. Patrialis m ena nga n i s eng ket a ha si l pi l ka d a.
Bertempat di ruang rapat pimpinan menegaskan pengaturan pemilihan kepala Jika pilkada tidak lagi menjadi rezim
DPR, Gedung Nusantara III, Rabu (28/1), daerah merupakan urusan pembentuk pemilu maka MK tidak lagi berwenang
rapat yang dipimpin oleh Wakil Ketua Undang-Undang. Sebagai Hakim MK menyelesaikan sengketa pilkada maka
DPR, Fadli Zon, membahas tindak lanjut kami tidak mau ikut campur, tegas penyelesaian sengketa pilkada berada di
putusan MK terkait rezim pemilihan kepala mantan anggota Panitia Ad Hoc I Majelis Mahkamah Agung.
daerah, penyelenggara pemilihan kepala Permusyaratan Rakyat (MPR) itu. Sedangkan terkait dengan pemilihan
daerah, dan lembaga yang berwenang Sementara Ketua Komisi II DPR, umum serentak, Rambe mengatakan MK
memut us sengketa p emilihan kepala Rambe Kamarul Zaman, mengatakan dalam putusannya menyatakan pemilu
daera h. Usa i mela k uka n p ertemua n bahwa yang menjadi soal setelah Perppu serentak berlaku untuk Pemilu Presiden
tertutup yang berlangsung selama satu Pemilihan Kepala Daerah disahkan DPR dan Wakil Presiden. Sementara untuk
jam, Patrialis Akbar mengatakan bahwa menjadi Undang-Undang adalah putusan pilkada ma ka hal it u har us diba ha s
dalam pertemuan ini, dirinya dan Wakil MK menyatakan bahwa pilkada bukan kembali,pungkasnya.
Ketua MK membatasi diri dengan tidak rezim p emilu dan itu berlaku untuk ilham
memberikan opini dan tidak memberikan semua. Sehingga hal tersebut just r u

44 | KONSTITUSI Februari 2015


audiensi aksi

Humas MK/GANIE
Ketua MK Arief Hidayat didampingi Kepala P4TIK M. Guntur Hamzah menerima Asosiasi Pengajar Hukum Acara Mahkamah Konstitusi (APHAMK), dihadiri
Widodo Ekatjahjana selaku Ketua APHAMK (kanan) beserta para perwakilan APHAMK Provinsi lainnya, Rabu (21/01) di Ruang Delegasi Gedung MK.

Ketua MK Terima Audiensi APHAMK

A
s o s ia s i Pengaja r Hu k u m Arief yang didampingi oleh Kepala
Acara Ma hkama h Konstit usi Hal ini menunjukkan adanya hubungan
P4TIK menjelaskan saat ini MK telah
(A P H A M K ) m e n y a m b a n g i subordinat padahal dala UUD, MK tidak
la hir kembali usai dihanta m ka sus
Mahkamah Konstitusi (MK) pada membawahi maupun dibawahi lembaga
penangkapan mantan ketua MK pada
Rabu (21/1) di Ruang Delegasi MK. Dalam manapun, jelasnya.
2013. Namun Arief mengakui bahwa
kesempatan tersebut, Ketua MK Arief Secara internasional, meski MKRI
MK menyoroti mengenai perppu yang
Hidayat menemui perwakilan APHAM bar u melewati badai dan mendapat
dikeluarkan MK terkait dengan aturan
dari sejumlah provinsi di Indonesia. perhatian tidak hanya dalam negeri, namun
MK yang diawasi oleh Komisi Yudisial. Ia
Wid od o Ekat ja hja na s ela k u MKRI tetap mendapat tempat di dunia
menjelaskan perbedaan perlakuan antara
Ketua APHAMK menjelaskan maksud internasional. Salah satu bukti adalah
hakim agung dengan hakim konstitusi
kedatangan para pengajar di berbagai dengan terpilihnya MKRI sebagai Presiden
yang dilakukan oleh KY. KY menggunakan
universitas tersebut. Tujuannya untuk Asosiasi MK dan Institusi Sejenis se-Asia.
nomenklatur menjaga bagi hakim agung,
meningkatkan kerja sama yang terbangun Pada 2015, akan menjadi tuan rumah
sementara untuk hakim konstitusi, KY
sejak 2009 serta untuk bertukar pikiran penyelenggaraan symposium tingkat Asia,
mempergunakan nomenklatur mengawasi.
mengenai langkah MK ke depan. tandasnya.
Lulu Anjarsari

KONSTITUSI Februari 2015 | 45


aksi kunjungan

Humas MK/GANIE
Kunjungan Anggota Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Kehidupan Bernegara ke Pusat Sejarah Kosntitusi, Rabu (28/01) di Gedung MK.

Para Saksi Sejarah Bangsa Kunjungi


Pusat Sejarah Konstitusi

2
0 orang anggota Lembaga Pengkajian Seto Harianto, bahkan menjadi pemandu disosialisasikan kepada sekolah-sekolah
dan Pengembangan Kehidupan dada ka n mem impin reka n-reka nnya. agar siswa-siswa dapat mempelajari sejarah
Ber negara mengunjungi Pusat Para anggota LPPKB yang mengunjungi perkembangan konstitusi di Indonesia.
Sejarah Konstitusi (Puskon), yang PUSKON itu memahami betul dan melihat Lebih lanjut menurut Soeprapto,
terletak di lantai 5 dan 6 gedung Mahkamah data yang ditampilkan sangat lengkap. dengan materi yang sangat luas, dirinya
Konstitusi (MK), Rabu (28/1). berharap sekolah-sekolah nantinya dapat
Para tokoh yang turut menjadi saksi Data Lengkap m eny u s u n t a ha p a n-t a ha p a n d a la m
perjalanan bangsa sejak era kemerdekaan Seperti disampaikan Ketua Dewan m ema nfa at ka n fa silit a s P u skon in i.
it u tampa k ant usias dengan fasilitas Peng u r u s LPPK B, S o ep ra pt o, u s a i Memang kami lihat bahwa materi yang
edukasi Pusat Sejarah Konstitusi yang menyaksikan penayangan film sejarah diberikan luar biasa banyaknya, sehingga
menempati areal seluas 1.4 62,5 meter konstitusi yang menjadi penutup rangkaian kalau mau disampaikan kepada anak
p ersegi. Dalam kesempatan itu para k unjunga n LPPK B di Pusat Sejara h dapat disusun dalam tahap-tahap supaya
anggota LPPKB nampak memperhatikan Konstitusi. Dirinya melihat fasilitas yang dapat lebih bermanfaat, ujar Soeprapto.
betul materi-materi sejarah konstitusi dikem ba ngka n MK t er s ebu t s a ngat Menurutnya hal tersebut penting agar
Indonesia yang terbagai dalam delapan menarik. Sajian dan bahan-bahan yang anak-anak mengerti sejarah bagaimana
zona yang mendokumentasikan secara terdapat di Mahkamah Konstitusi ini luar ter jadinya konstit usi dan p eran dari
r unt u t dina m i ka p er ja la na n s ejara h biasa, kami mengusulkan agar bahan yang para pendahulu bangsa ini. Soeprapto
konstitusi dan perkembangan MK melalui disusun sangat indah dan sistematis ini mengungkapkan rasa terima kasihnya dan
perpaduan informasi, seni, dan teknologi. dapat dimanfaatkan oleh seluruh warga sangat bersyukur dengan adanya pusat
Salah satu mantan anggota Panitia Ad Hoc negara Indonesia, ujar Soeprapto. Dirinya sejarah konstitusi.
I Majelis Permusyaratan Rakyat (MPR), bahkan mengusulkan Puskon ini dapat Ilham

46 | KONSTITUSI Februari 2015


Humas MK/GANIE
Kunjungan Fakultas Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu 21/01) di Aula Gedung MK.

Maria Farida Terima Kunjungan


Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah

D
i ha d a p a n p a ra m a ha s i s wa telah sesuai dengan naskah akademik yang untuk membatalkan UU sep enuhnya
Fa kultas Hukum Universitas berlandaskan faktor filosofis, yuridis dan merupakan hak DPR sebagai lembaga
Islam Negeri Syarif Hidayatullah sosiologis. Sementara pengujian materil negara pembentuk UU
Jakarta, Hakim Konstitusi Maria merupakan pengujian atas materi muatan Ter ka it p er t a nya a n s a la h s at u
Farida menya mpa ika n materi umum UU yang berfokus pada pemeriksaan mahasiswa seputar dibolehkannya warga
seputar Hukum dan Konstitusi, Rabu apakah suatu produk UU bertentangan negara asing mengajukan permohonan di
(21/01) pagi. Ma hka ma h Konst it usi dengan peraturan yang lebih tinggi dalam Mahkamah Konstitusi, Maria menolak
yang berdiri sejak tahun 2003, memiliki hirarki peraturan perundang-undangan, berkomentar karena saat ini Majelis Hakim
sejumlah kewenangan, salah sat unya dalam hal ini UUD 1945. tengah menangani permohonan serupa.
adalah menguji UU terhadap UUD 1945. Lebih lanjut Maria memaparkan, Saya menolak menjawab karena masih
Maria menjelaskan, sejauh ini Mahkamah jika pengujian formil dikabulkan oleh dalam pengujian, ada yang mengajukan,
Konstitusi telah melakukan pengujian Mahkamah Konstitusi maka seluruh UU ucapnya.
formil dan pengujian materil terhadap tersebut dianggap tidak berlaku. Namun Dalam p er jalanannya, MK juga
materi muatan UU dan kedua-duanya demikian, MK tidak berwenang untuk telah mengemban tugas sebagai positive
dapat dikabulkan. mencabut karena kewena nga n ya ng legislator, yakni dengan mengeluarkan
Pengujian formil adalah pengujian diberikan oleh konstitusi hanya agar MK sebuah norma baru, contohnya pada saat
yang dilakukan berdasarkan pembentukan menyata kan suat u UU b ertentangan MK memutuskan KTP dapat digunakan
UU yang menitik beratkan wewenang dengan UUD 1945 dan tidak memiliki saat pemilu tahun 2009.
untuk menilai apakah suatu produk legislasi kekuatan hukum mengikat. Kewenangan Julie

KONSTITUSI Februari 2015 | 47


48 | KONSTITUSI Februari 2015
kunjungan aksi

Humas MK/GANIE
Mahasiswa jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Universitas Muhammadiyah Purwokerto kunjungi Pusat Sejarah Konstitusi, Selasa
(6/1) di Gedung MK.

Mahasiswa PPKn Universitas


Muhammadiyah Purwokerto Sambangi MK

U
ntuk mengetahui lebih jauh fungsi Kewenangan kedua MK adalah mengadili perkara tersebut pascaputusan
dan kewenangan Mahkamah memutus sengketa kewenangan lembaga MK terhadap pengujian Pasal 236C UU
Konstitusi, mahasiswa jurusan negara. Menurut Budi, sengketa kewenangan No. 12 Tahun 2008tentang Pemerintahan
Pen d id i ka n Pa n c a s i la d a n yang dapat diputus oleh MK adalah terhadap Daerah dan Pasal 29 ayat (1) hurufeUU
Kewarganegaraan (PPKn) Universitas lembaga negara yang kewenangannya No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Muhammadiyah Purwokerto, melakukan diberikan oleh UUD. Kewanangan MK Kehakiman.
kunjungan studi ke Mahkamah Konstitusi, berikutnya yang dijelaskan oleh Budi adalah Menurut Budi, MK telah memberikan
Selasa, (6/01). Kunjungan para mahasiswa pembubaran partai politik. Menurutnya, penafsiran berdasar UUD, yang termasuk
ter s ebut diterima oleh Kepa la Biro pemerintah tidak bisa lagi sewenang- pemilihan umum adalah pemilihan umum
Hubungan Masyarakat dan Protokol MK, wenang membubarkan partai politik tanpa legislatif dan pemilihan umum Presiden/
Budi Achmad Djohari. putusan pengadilan, seperti yang terjadi di Wakil Presiden. Sementara pemilihan
Budi menjelaskan, MK memiliki masa lalu. Kewenangan MK selanjutnya kep a la d a era h ma su k d a la m rez im
sejumlah kewenangan dan kewajiban yang adalah memutus perselisihan hasil pemilihan p enyelenggaraan p emerinta h daera h.
diberikan oleh Undang-Undang Dasar umum, dan MK memiliki 1 kewajiban, yaitu Berdasar putusan MK, perselisihan hasil
(UUD). Kewenangan pertama MK adalah memberikan pendapat hukum atas pendapat pemilihan kepala daerah diperiksa dan
menguji Undang-Undang (UU) terhadap DPR mengenai dugaan pelanggaran oleh diputus oleh lembaga lain, hal ini tentu
UUD. Dikatakan Budi, UU sebagai produk Presiden/Wakil Presiden menurut UUD. bergantung pada keputusan pembuat UU.
antara Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Menjawab pertanyaan dari peserta Namun demikian, Sepanjang belum ada
bersama Presiden, merupakan representasi kunjungan mengenai kewenangan MK aturan yang mengatur, pemilukada tetap
produk demokrasi, di mana orang-orang d a la m m emu t u s p er s el i s i ha n ha s i l ditangani MK, kata Budi.
yang mengisi kedua lembaga tersebut pemilihan umum kepala daerah, Budi Ilham

dipilih melalui proses demokrasi. mengatakan MK tidak lagi berwenang

KONSTITUSI Februari 2015 | 49


aksi kunjungan

Humas MK/GANIE
Kepala Bidang Penelitian, Pengkajian Perkara dan Perpustakaan Mahkamah Konstitusi, Wiryanto menerima kunjungan Fakultas Syariah dan Hukum
Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (20/01) di Aula Lt. Dasar Gedung MK.

Mahasiswa FH UIN Sunan Kalijaga


Yogyakarta Bertandang ke MK

B
erperkara di MK tidak dikenakan MK harus mengeluarkan biaya besar. tidak perlu mengeluarkan biaya besar
biaya. "Tidak ada biaya untuk Tetapi biayanya bukan untuk MK, tegas untuk datang ke Jakarta.
b er p er kara di Ma h ka ma h Wiryanto. Selain itu ada pertanyaan terkait
Konstitusi, tidak satu sen pun Ia mencontohkan, begitu banyak penanganan korupsi dan suap di MK.
untuk membayar dalam berperkara di pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan I k ht iar MK suda h mendelega sika n
Ma hka ma h Konstit usi, ujar Kepala s id a ng p em i lu ka d a d i MK, ha r u s areal bebas korupsi untuk memberikan
Bidang Penelitian, Pengkajian Perkara mengeluarkan biaya tak sedikit. Pemohon keyakinan kepada masyarakat bahwa di
dan Perpustakaan Mahkamah Konstitusi, sid a ng p em i lu ka d a m i s a l nya ha r u s MK tidak ada praktik-praktik korupsi,
Wir yanto menjawab pertanyaan salah mendatangkan banyak saksi dari daerah jelas Wiryanto.
s eorang ma ha siswa Fa kulta s Syaria h untuk ke MK. Ada yang mendatangkan Petugas di tempat permohonan
dan Hukum Universitas Islam Negeri 50 saksi dari Aceh maupun Merauke, perkara MK misalnya, tidak ada seorang
(UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta yang bahkan ada yang mendatangkan lebih pun yang mau menerima uang suap. Pihak
berkunjung ke Mahkamah Konstitusi dari 200 saksi. yang mau memberi banyak, tetapi tidak
(MK) pada Selasa (20/1) pagi. Ko n d i s i i n i , k a t a W i r y a n t o , ada satu pun yang mau menerima. Karena
W i r ya nt o m enj ela s ka n, ka lau membuat biaya jadi besar. Padahal MK MK tidak pandang bulu untuk menindak
b er p erkara di MK har us membayar sebenarnya sudah menyediakan fasilitas tegas mereka yang menerima suap.
berarti hal itu melanggar undang-undang. video conference di beberapa perguruan Nano Tresna Arfana

Di sisi la in Wir ya nto memb enarka n tinggi sejumlah provinsi. Tujuannya untuk
bahwa tak jarang untuk berperkara di melakukan persidangan jarak jauh, sehingga

50 | KONSTITUSI Februari 2015


KONSTITUSI Februari 2015 | 51
aksi raker

Humas MK/GANIE
Ketua Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat membuka Rapat Kerja Kepaniteraan dan Sekretariat Jenderal Mahkamah Konstitusi Tahun 2015, Kamis (29/01) di
Aula Gedung MK.

Segenap Pegawai di Lingkungan


Kepaniteraan dan Setjen MK Ikuti Rapat
Kerja 2015
S
egenap pegawai di lingkungan demokrasi konstitusional yang ternyata MK mampu menghadapi tantangan dan
Kepaniteraan dan Sek retariat tidak mudah ditiru oleh mesir. MKRI tetap berdiri tegak menjaga muruahnya.
Jenderal Mahkamah Konstitusi bersama-sama dengan Komisi Pemilihan Dengan prinsip imparsialitas, lembaga
mengikuti Rapat Ker ja 2015, Umum dan Badan Pengawas Pemilu ini tida k tergoya hkan. Bukan hanya
29 Januari hingga 2 Februari 2015, yang diminta memberikan pengalamannya, ditunjukkan hakimnya, tapi juga didukung
dibuka oleh Ketua MK Arief Hidayat. imbuh Arief. Kepaniteraan dan Sekretariat Jenderal.
Da la m s a m bu t a n nya, A rief Menurut Arief, kendati MK pernah Kerja keras teman-teman yang telah
menuturkan MKRI kini telah menjadi mengalami tsunami pada Oktober 2013 memberikan kontribusi sehingga para
lembaga peradilan yang menjadi contoh silam, MK mampu kembali bangkit karena hakim mampu menghasilkan putusan-
bagi lembaga peradilan lain di Indonesia. senantiasa yakin dan teguh memegang putusan yang berkualitas, tegasnya.
Bahkan, MKRI menjadi contoh bagi MK independensi dan imparsialitas sebagai L ebih la nju t, d a la m ra ngka
di berbagai negara. Saat saya mewakili lembaga peradilan. MK selalu mampu m em b a ng un sis t em p era dila n ya ng
MKRI menghadiri Kongres MK se-Asia, menjaga putusannya yang memberikan berkualitas, Arief menekankan beberapa
saya melihat kolega kita dari negara rasa keadilan, memberikan kepastian prinsip ya ng p erlu dijunjung t inggi.
lain sangat mengapresiasi dan mengikuti hukum, dan memberikan kemanfaatan Pertama, komitmen dari semua pihak,
perkembangan yang kita lakukan dan bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana mulai dari hakim, panitera dan jajarannya,
putusan yang kita buat, ujarnya di aula yang diamanatkan Undang-Undang Dasar sekjen dan jajarannya, sampai tingkat staf.
lantai dasar gedung MK, Jakarta, Kamis Tahun 1945. Arief tidak menampik adanya kekurangan,
(29/1). Keberhasilan tersebut tidak bisa namun, MK juga memiliki orang-orang
MKRI bahkan mendapat undangan lepa s dari p era n Kepa n it era a n da n ya ng mempunya i k redibilit a s tinggi.
dari Pemerintah Mesir untuk berbagi Sek ret ariat Jendera l ya ng diduk ung Kedua, adalah faktor komunikasi yang
pengalaman bagaimana mewujudkan negara tata peradilan yang modern sehingga harus terus terjalin. Bukan hanya antara

52 | KONSTITUSI Februari 2015


pimpinan, tetapi juga antara pimpinan dan presiden dan wakil presiden dengan tetap kerja keras dan kontribusinya sehingga
bawahan. Terakhir, adalah kecerdasan berpegang teguh pada independensi dan hakim konstitusi bisa memberi putusan
para pegawai MK yang memiliki peran imparsialitas merupakan tonggak penting yang adil. Saya mengucapkan terima
tidak kalah penting dalam perjalanan MK keberhasilan MK, jelas Janedjri. kasih atas kerja keras Sekjen, Panitera,
selama 12 tahun terakhir. dan rekan-rekan. Selamat berjuang, saya
Keberhasilan MK buah Reformasi yakin hal yang diperoleh bukan akhr
Harapan Baru Birokrasi sebuah mimpi, tapi mer upakan awal
Sementara Sekretaris Jenderal MK Rapat yang b era khir pada hari meraih sukses untuk mewujudkan visi
Janedjri M. Gaffar berharap Raker pertama Senin (2/2) itu, ditutup oleh Wakil Ketua dan misi MK, tutupnya.
pada era kepemimpinan Arief Hidayat MK Anwar Usman. Dalam sambutannya
tersebut akan membawa semangat, cita- Anwar mengatakan, sebaik apapun hasil Pakta Integritas
cita, dan harapan baru untuk mewujudkan dari rapat kerja, penilaian akhirnya adalah Rapat Ker ja Kepa niteraa n da n
MK yang unggul di segala aspek. ketika implementasi dari hasil raker ini bisa Sekretariat Jenderal menghasilkan sejumlah
Menginjak usia 12 tahun, dinamika terlaksana. Apakah hanya sebagai sebuah kesepakatan, antara lain program kerja
yang terjadi semakin meneguhkan peran mimpi yang indah namun sulit untuk jangka panjang (2015-2019) dan program
penting MK dalam upaya mendorong diwujudkan? Antara lain disampaikan kerja selama tahun 2015, perbaikan dan
trwujudnya negara hukum yang demokratis bagaimana visi dan misi MK ke depan, penambahan sarana dan prasarana guna
dalam skala nasional, global dan regional. it u ter ma suk sebua h m impi inda h, menunjang tugas dan fungsi pegawai,
MKRI tampil sebagai ikon menegakkan ujarnya di Pusat Pendidikan Pancasila dan serta kesepakatan pagu anggaran untuk
hukum dan pembangunan demokrasi. Konstitusi, Bogor. masing-masing biro dan pusat.
MKRI bahkan menjadi salah satu MK Anwar pun meyakini, keberhasilan Pada kesempatan tersebut, para
terbaik di dunia dan mendapat posisi MK saat ini adalah buah dari rencana pejabat dan pegawai MK menandatangani
terhormat di kancah internasional, yakni b es ar ya ng mer upa ka n bagia n dari pakta integritas dalam rangka mewujudkan
dipercaya menjadi Presiden Association of impian reformasi, termasuk di dalamnya komitmen penyelenggaraan pemerintahan
Asian Constitutional Courts and Equivalent reformasi birokrasi. Berhasil tidaknya ya ng b er sih d a n a nt i kor up si.
Institutions Periode 2014-2016. tugas dan fungsi utama lembaga kita Penandantanganan yang dilakukan oleh
Tidak dapat dipungkiri, keberhasilan dalam melahirkan putusan, tergantung empat orang perwakilan pegawai tersebut
dicapai b erkat ker ja kolektif dengan dari bagaimana dukungan Kepaniteraan disaksikan secara langsung oleh Wakil
dukungan seluruh pemangku kepentingan dan Sekretariat Jenderal, imbuhnya Ketua MK, Sekretaris Jenderal MK dan
dan pihak di luar MK. Keb erhasilan Oleh karena itu, Anwar menghaturkan Panitera MK.
memutus perkara PHPU legislatif serta terima kasih kepada para pegawai MK atas Lulu Hanifah

Keluarga Besar MK Mengucapkan Keluarga Besar MK Mengucapkan


Selamat atas Kelahiran Selamat atas Kelahiran

Chevalia Atifajati Hadziqa Radinka Satria Wiguna


(Perempuan) (Laki-Laki)
Lahir di Jakarta 11 Desember 2014 Lahir : 30 Januari 2015

Putera Pertama
Puteri Pertama
Hendy Prasetya Wiguna
Ery Satria Pamungkas
(Panitera Pengganti tk. II) (MKTV)
dan
dan
Lusi Natria Silati
Titis Anindyajati
(Peneliti Pertama) Semoga menjadi anak yang
Semoga menjadi anak yang Shaleh, taat beragama dan
Shalehah, taat beragama dan berbakti kepada kedua orang tua
berbakti kepada kedua orang tua

KONSTITUSI Februari 2015 | 53


C akrawala

Putusan MK Moldova tentang Hak Imunitas


Anggota Parlemen

constcourt.md

Gedung MK Moldova

N
egara Moldova menyatakan Republik Sosialis Soviet Moldova adalah memiliki lahan p ertanian yang baik,
kemerdekaan pada 1991 dan bagian dari Uni Soviet. namun hanya memiliki sedikit sumber
m em ilih republik s ebaga i Secara geografis, Negara Moldova daya mineral. Sumber daya alam Moldova
b ent uk p em erint a ha n nya. terletak di antara Negara Rumania dan berupa material bangunan, bahan mentah
Sedangkan sistem pemerintahan yang Negara Ukraina, yaitu di wilayah Eropa semen, kaca dan besi. Negara ini pun
dianut oleh Negara Moldova adalah sistem Timur. Sebagian besar wilayah Moldova hanya memiliki sedikit ladang minyak
pemerintahan parlementer. Pilihan-pilihan terletak di antara dua sungai, yaitu sungai dan gas.
itu muncul sejak runtuhnya Uni Soviet Dniester dan Prut. Negara Moldova tidak Ko n s i t u s i R e p u b l i k M o l d o v a
pada 1991, di mana dalam sejarahnya, memiliki akses ke laut meskipun terletak disahkan pada 29 Juli 1994. Konstitusi
Negara Moldova yang dulunya bernama dekat dengan Laut Hita m. Moldova ini di antaranya mengatur tentang adanya

54 | KONSTITUSI Februari 2015


constcourt.md
Hakim MK Moldova

p emisahan kekuasaan dan kerjasama sementara Presiden, sebagaimana diatur Dalam Pa sal 134 dinyata kan ba hwa
dalam pelaksanaan kewenangan antara dalam ketentuan Pasal 91 Konstitusi Mahkamah Konstitusi adalah satu-satunya
legislatif, eksekutif dan yudikatif (Pasal Republik Moldova. Kekosongan jabatan otoritas peradilan konstitusi di Republik
6). Konstitusi Moldova juga menegaskan Presiden ini dapat terjadi karena konsekuensi Moldova.
ba hwa hukum tertinggi di Republik d a r i b era k h i r nya ma n d at P r e sid en M a h k a m a h Ko n s t i t u s i t i d a k
Moldova adala h Konstit usi Republik karena pengunduran diri, pemindahan tergantung pada otoritas publik lainnya
Moldova, sehingga tidak ada undang- jabatan, adanya ketidakmungkinan untuk (bersifat independen) dan hanya mematuhi
u n d a ng at au hu k u m la i n nya ya ng menjalankan t uga s s ecara pa sti dan konstitusi. Mahkamah Konstitusi menjamin
bertentangan dengan konstitusi, dapat kematian (Pasal 90 ayat (1). Sedangkan supremasi konstitusi dan mempraktikkan
memiliki kekuatan hukum. Kepala Pemerintahan dipimpin oleh perdana prinsip pemisahan kekuasaan negara ke
Sebagaimana dinyata kan dalam menteri. Presiden dapat menunjuk Perdana dalam kekuasaan legislatif, eksekutif
Konstitusi Moldova 1994, Negara Moldova Menteri sebagai kepala pemerintahan atas dan yudukatif, serta menjamin tanggung
berbentuk republik dan merupakan Negara persetujuan parlemen. jawab negara terhadap warga negara, dan
yang demok ratis. Parlemen Republik Parlemen Republik Moldova dapat juga dari warga terhadap negara. Hakim
Moldova (Parlamentul Republicii Moldova) melakukan penangguhan terhadap jabatan Konstitusi terdiri dari 6 orang dengan
adalah dewan unikameral dengan 101 Presiden. Penangguhan jabatan ini terjadi masa jabatan 6 tahun, yang dipilih oleh
kursi dan merupakan badan representatif ketika dua pertiga dari anggota parlemen parlemen, pemerintah dan Mahkamah
tertinggi Moldova. Anggotanya dipilih memberikan persetujuannnya terhadap Agung (the Higher Magistrates Council),
melalui pemilihan umum dalam empat penangguhan tersebut. Hal ini dapat masing-masing dua orang (Pasal 136 ayat
tahun sekali. dilakukan ketika Presiden melakukan (1) dan ayat (2). Sedangkan kewenangan
Berdasarkan ketentuan Pasal 77 p ela nggara n s eriu s at a s ket ent ua n- Mahkamah Konstitusi Moldova, adalah
Konstitusi Republik Moldova, Presiden ketentuan konstitusional. Jika dua pertiga sebagai berikut: (Pasal 135)
Moldova adala h kepala negara yang anggota parlemen menyetujui, maka dalam a. m e l a k s a n a k a n kontrol
mewakili negara dan merupakan penjamin wa kt u 30 hari diada kan referendum konst it usiona lit a s at a s unda ng-
ke d au lat a n na sio na l, kem erd eka a n, nasional untuk menghentikan jabatan undang, peraturan dan perintah
persatuan, dan integritas wilayah bangsa. Presiden. Parlemen, Keput usan Presiden,
Presiden dipilih melalui pemilihan umum keputusan dan perintah Pemerintah,
yang langsung, umum, bebas dan rahasia M a h k a m a h K o n s t i t u s i N e ga ra serta perjanjian internasional yang
untuk masa jabatan empat tahun dengan Moldova didukung oleh Republik Moldova;
pembatasan dua kali masa jabatan. Keberadaan Mahkamah Konstitusi b. menjelaskan dan mengklarifikasi
Ketika terdapat kekosongan jabatan diatur dalam dalam Bab V Konstitusi Konstitusi;
Presiden, maka Parlemen dapat menunjuk Republi k Mold ova, ya k n i d a la m
Pejabat Presiden untuk mengisi posisi ketentuan Pasal 134 sampai Pasal 140.

KONSTITUSI Februari 2015 | 55


C akrawala

c. menetukan sikap terhadap gagasan parlemen, setelah mendengar sebelumnya t id a k m em i l i k i d a m p a k p a d a


baru yang bertujuan untuk merubah dari anggota yang bersangkutan. anggota parlemen yang dihukum
konstitusi; Seb elum ma su k kep ad a isi di pengadilan dan hukuman tidak
d. m en ega ska n ha sil r efer en d u m p er mohona n, Ma hka ma h Kons t it usi dapat dibat a lka n, p erlindunga n
republik; Moldova menyatakan bahwa apa yang tersebut hilang pada saat kasusnya
e. m e n e ga s k a n h a s i l p e m i l i h a n disampaikan oleh Pemohon berbasiskan sudah didaftarkan ke pengadilan.
Parlemen dan Presiden di Republik pada pendekatan kasus, yang secara b. bahwa berdasarkan Pasal 70 ayat (3),
Moldova; akurat diwujudkan dalam gagasan hukum imunitas parlemen tidak memiliki
f. mengetenga hkan keadaan yang dan kons ep, s ep erti p emb erla kukan dampak pada anggota parlemen
memb enarka n p embubara n hukum hak imunitas dan ketidakmapuan d a la m p er sid a nga n p enga k ua n
Parlemen, suspensi jabatan Presiden unt uk mela k sana kan jabatan. Selain oleh pengadilan nasional dari suatu
Republik Moldova at au ka ntor itu, Mahkamah juga menemukan data putusan yang telah disampaikan oleh
s em ent a ra P r e s id en Rep u bl i k terkait permintaan penarikan mandat pengadilan negara asing.
Moldova; (antara tahun 2001-2011), yang diajukan c. bahwa berdasarkan Pasal 1 ayat (3),
g. menyelesaikan ka sus luar bia sa oleh Kejaksaan Umum untuk parlemen, Pasal 38 ayat (2), Pasal 69 ayat (1)
non-konstitusionalitas dari tindakan ya ng m enunju k ka n ad a nya pra kt ek dan 70 ayat (2), dalam hal hukuman
peradilan, seperti yang diisyaratkan konstan para p enegak hukum untuk at a s keja hat a n ya ng dila k uka n
oleh Mahkamah Agung; m em int a p en ca bu t a n ha k i mun it a s dengan sengaja, kemudian mendapat
h. memut uska n at a s ha l-ha l parlem en. Lebih la nju t, Ma h ka ma h hu k uma n p enjara (p enca bu t a n
ya ng b er hu b u nga n d enga n juga menyebutkan adanya fakta korupsi kebebasan) berdasarkan putusan
konstitusionalitas partai. yang merusak demokrasi dan supremasi yang berkekuatan hukum tetap,
hukum, menyebabkan pelanggaran hak apakah itu terjadi sebelum atau
Putusan tentang Hak Imunitas Anggota asasi manusia, merusak ekonomi dan setelah menjabat, artinya anggota
Parlemen mengikis kualitas hidup, sehingga perang parlemen berada dalam situasi yang
P u t u s a n i n i d i kelua r ka n ol eh melawan korupsi menjadi bagian integral tidak memenuhi syarat dan tidak
Mahkamah Konstitusi Moldova pada dari jaminan menghormati aturan hukum, sesuai dengan kapasitasnya sebagai
Ta ngga l 20 Ja nuari 2015, di ma na sebagaimana tercantum dalam pembukaan seorang anggota parlemen.
Mahkamah Konstitusi Moldova mempunyai dan Pasal 1 ayat (3) Konstitusi. d. Terakhir, berdasarkan Pasal 1 ayat
kewena nga n unt uk menjela ska n da n Setelah melakukan pemeriksaan (3), Pasal 38 ayat (2), Pasal 69 dan
mengklarifikasi konstitusi. Permohonan ini t er ha d a p p er m o h o na n, Ma h ka ma h 70 ayat (2), seseorang yang tidak
diajukan oleh Grigero Petrenco yang pada Konstitusi Moldova kemudian membagi memenuhi syarat akan dibuktikan
saat itu merupakan anggota parlemen, isi permohonan dalam tiga pertanyaan, setelah validasi hasil pemilu dan
pada Tanggal 6 Februari 2014. Dalam yakni sebagai berikut: setelah berakhirnya periode atau
p er mohona nnya, Pemohon mem int a a. Apakah imunitas parlemen memiliki anggota parlemen dalam masa jabatan
agar Mahkamah Konstitusi menafsirkan d a m p a k d a la m ka su s a nggot a akan berada di posisi tidak dapat
ketent ua n Pa sal 69 (Pemb erhentia n parlemen yang melakukan tindakan dipilih dan yang tidak memenuhi
Jabatan Anggota Parlemen) dan Pasal 70 kejahatan yang disengaja. syarat sebagaimana ketentuan dalam
(Ketidakmampuan melaksanakan jabatan b. Apakah imunitas parlemen memiliki pemilihan, orang ini sudah tidak
dan Imunitas) yang kemudian dihubungkan da mpa k dala m p enet apa n da n cocok sebagai anggota parlemen dan
dengan Pasal 1 (Rule of Law) Konstitusi pelaksanaan putusan yang telah diberhentikan dari jabatannya.
Republik Moldova. Hakim Konstitusi yang ditetapkan oleh pengadilan asing
Sumber:
menguji antara lain, Alexandru Tanase, ketika anggota parlemen melakukan Constitution of The Republic of Moldova
Aurel Baiesu, Igor Dolea, Tudor Pantiru tindakan kejahatan yang disengaja. (ijc.md/Publicatii/mlu/.../Constitution_of_
RM.pdf)
dan Victor Popa. c. Nasib jabatan anggota parlemen yang
Republik Moldova (http://id.wikipedia.org/
Terkait dengan hak imunitas ini, divonis untuk tindakan kejahatan wiki/Moldova#cite_note-const-10)
diatur dalam Pasal 70 ayat (3), yang yang disengaja. Mahkamah Konstitusi Republik Maldova
menyata kan bahwa kecuali terhadap Terhadap tiga pertanyaan konstitusional (http://www.constcourt.md/index.php?l=en)
kasus pelanggaran hukum yang mencolok, itu, Mahkamah Konstitusi Moldova kemudian Parlemen Republik Moldova (http://
anggota parlemen tidak mungkin ditahan memberikan penafsiran konstitusional: id.wikipedia.org/wiki/Parlemen_Republik_
Moldova)
untuk dimintai keterangan, ditahan, dicari a. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal
Presiden Moldova (http://id.wikipedia.org/
atau diadili ke pengadilan tanpa persetujuan 70 ayat (3), imunitas parlemen wiki/Presiden_Moldova)

56 | KONSTITUSI Februari 2015


KONSTITUSI Februari 2015 | 57
J ejak Konstitusi

H.R. Rasuna Said


Tokoh Perempuan dan Orator Pergerakan

S
a la h s at u na ma ja la n Rasuna Said pun bergabung dengan
protokol terkemuka di Sarekat Rakyat dan menjadi Sekretaris
Jakarta adalah Jalan H.R. Cabang. Kemudian Rasuna Said bergabung
Rasuna Said. Jalan yang dengan So ematra Thawalib dan ikut
sangat dikenal di kawasan m en d i r i ka n Per s at o e a n Mo e sl i m i n
Kuningan Jakarta tersebut Indonesia (PERMI) di Bukit Tinggi pada
merupakan kawasan bisnis tahun 1930. Rasuna Said masuk di seksi
mewah, sekaligus sumber kemacetan pada propaganda dan rutin menyebarkan ilmu

dunia belum jelas.blogspot.com


jam sibuk Jakarta. Tidak hanya karena dan pandangannya pada sekolah-sekolah
banyak pengguna mobil yang lalu lalang, yang didirikan PERMI. Rasuna Said juga
tetapi juga karena di wilayah itu kerap mendirikan Sekolah Thawalib di Padang,
dijadikan wilayah demonstrasi mengingat dan memimpin Kursus Putri dan Normal
di sana terdapat sebuah kantor lembaga Kursus di Bukit Tinggi. Melalui bidang
negara yang sangat penting bagi Republik p endidika n b eliau ingin menguat ka n
Indonesia, yaitu Komisi Pemberantasan kesadaran perempuan dalam berbagai
Korupsi (KPK). bidang kehidupan, termasuk politik.
Siapa H.R. Rasuna Said? Tulisan
Jejak Konstitusi kali ini akan mengupas oleh pemikiran nasionalis-islam Turki, Perempuan Pertama Yang Terkena
salah seorang perempuan hebat pejuang Mustafa Kemal Attaturk. Akhirnya di Speek Delict
kem erd eka a n I n d o n e s ia ya ng juga Diniyah School Putri Rasuna Said menjadi Rasuna Said dikenal sebagai orator
penerima gelar Pahlawan Nasional sejak pengajar. ya ng ha nda l da n pa nda i b er pidato.
tahun 1974. Da la m ar t i kel republika.co.id, Menurut Rudi Hartono, seorang tokoh
Hajjah Rangkayo (H.R.) Rasuna Said dikatakan Rasuna Said memiliki pandangan islam, H. Hasymi, pernah menggambarkan
lahir di Desa Panyinggahan, Maninjau, yang sangat maju. Ia meyakini bahwa kema m pua n pid ato Ra suna s ebaga i
Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada kemajuan kaum wanita tidak hanya bisa berikut: pidato-pidato Rasuna laksana
15 September 1910. Ayahnya bernama didapat dengan mendirikan s ekola h, petir di siang hari. Kata-katanya tajam
Muhamad Said, keturunan bangsawan tapi harus disertai perjuangan politik. membahana. B el iau s a ngat k r i t i s
Minang, seorang pengusaha dan aktivis Rasuna Said sebenarnya sempat berusaha mengecam pemerintahan Belanda yang
p ergerakan juga. Seusai menamatkan memasukan pendidikan politik dalam dianggapnya menciptakan ketidakadilan.
pendidikan dasarnya, Rasuna Said belajar kurikulum sekolah Diniyah School Putri, Karenanya, Rasuna Said pernah terkena
di Pes a nt ren A r-Ra sy idiya h. Beliau tapi ditolak. Speek Delict, hukum pidana kolonial
merupakan sebagai satu-satunya santri Setela h usa ha nya mema suk ka n yang menyatakan bahwa siapapun dapat
perempuan kala itu. pendidikan politik dalam kurikulum sekolah dihukum karena berbicara menentang
Rasuna Said kemudian melanjutkan Diniyah School Putri ditolak, Rasuna pemerintahan Belanda (delik mimbar).
pendidikan di Diniyah School Putri di Said pun memutuskan untuk mendalami Beliau tercatat sebagai perempuan pertama
Padang Panjang. Di sinilah ia bertemu agama pada Haji Rasul atau H. Abdul yang terkena Speek Delict dan ditangkap
dengan seorang guru bernama Zainuddin Karim Amrullah yang merupakan ayah di Payakumbuh, serta dipenjara pada 1932
Labai el-Junusiah, seorang tokoh gerakan Buya Hamka. Haji Rasul ini yang kerap di Semarang, Jawa Tengah.
Thawalib. Menurut Rudi Hartono dalam mengajarkan pentingnya pembaharuan
la ma n berdikarionline.com, Gera ka n pemikiran Islam dan kebebasan berpikir. Jurnalis dan Politisi Handal
Thawalib adalah gerakan yang dibangun Hal inilah yang memengaruhi padangan Setelah keluar dari penjara, Rasuna
kaum reformis islam di Sumatera Barat. Rasuna Said mengenai islam, perempuan, Said meneruskan pendidikannya di Islamic
Banyak pemimpin gerakan ini dipengaruhi dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. College pimpinan K.H. Mochtar Jahja dan

58 | KONSTITUSI Februari 2015


Dr. Kusuma Atmaja. Rasuna Said sempat Setelah Jepang datang ke Indonesia, mendirika n negara kesat ua n mela lui
pula memimpin sebuah koran bernama Rasuna Said ikut serta dalam organisasi prosedur parlementer. Usulan tersebut
Raya pada tahun 1935. Menurut Rudi pemuda di Padang yang kemudian malah diterima pemimpin fraksi dan anggota
Hartono, koran ini sangat nasionalis dan dibubarkan oleh Pemerintah Jepang. DPR RIS lain termasuk Rasuna Said.
radikal. Koran ini bahkan menjadi obor Rasuna bergabung dengan Gyu Gun Ko Pemerintah yang diwakili Mohammad
perlawanan bagi kebangkitan gerakan En Kai. Menurut Rudi Hartono, meski Hatta sebagai Wakil Presiden merangkap
nasionalis di Sumatera Barat, sehingga bekerja di organisasi massa yang dibuat Perdana Menteri pun menyetujui mosi
Politieke Inlichtingen Dienst (PID)polisi Jepang, bukan berarti Rasuna melemah tersebut. Akhirnya pada 15 Agustus
ra ha sia Belandamemp ersempit r uang di hadapan fasis itu. Pada suatu hari, 1950, Presiden Soekarno membacakan
gerak media itu. kepada seorang per wira Jepang yang Piagam Pembentukan Negara Kesatuan.
Akhirnya Rasuna Said pindah ke menegur aktivitasnya, Rasuna berkata Pada 17 Agustus 1950, Presiden Soekarno
Medan. Menurut tulisan republika.co.id, begini: Boleh tuan menyebut Asia Raya, mengumumkan lahirnya Negara Kesatuan
Rasuna Said kemudian mendirikan sekolah karena tuan menang perang. Tetapi di sini Republik Indonesia (NKRI) yang dikenang
pendidikan khusus wanita Perguruan Putri (sambil menunjuk dadanya), tertanam pula s ebaga i Prok la ma si Kedua Republik
dan juga menerbitkan Majalah Menara Indonesia Raya. Indonesia.
Poeteri, yang khusus membahas seputar Setelah proklamasi kemerdekaan, Menur ut Rudi Hartono, Rasuna
p entingnya p eran wanita, kesetaraan Rasuna Said ikut b ergabung dengan Sa id ada la h p enduk ung s et ia Bung
antara pria wanita dan keislaman. Menurut Badan Penerangan Pemuda Indonesia Karno. Pada saat pemberontakan PRRI-
Rudi Hartono, Majalah mingguan bernama (BPPI). Ia juga sempat menjadi anggota Permesta meletus, yang juga dimotori
Menara Poeteri itu memiliki slogan Front Pert a ha na n Na sional di Bukit oleh Mohammad Natsir, Rasuna Said
mirip dengan slogan Bung Karno: Ini Tinggi. Pada saat sidang Komite Nasional merupakan salah satu tokoh pejuang
dadaku, mana dadamu. Rasuna Said I n d o n e s ia P u s at (K N I P)- p a r l em en Sumatera Barat yang memihak NKRI.
pun mengasuh rubrik Pojok. Ia sering sementara Indonesia-di Malang, Jawa Hal ini yang membuat Bung Karno kagum
menggunakan nama samaran: Seliguri. Tengah, Rasuna terpilih sebagai wakil pada pejuang dari Sumatera Barat ini.
Da la m a r t i kel Ru d i Ha r t o n o, Sumatera. Ia juga sempat ditunjuk sebagai Dalam sebuah pidato di Bandung, 18
disebutkan tulisan-tulisan Rasuna Said Badan Pekerja KNIP. Rasuna Said juga Maret 1958, di hadapan puluhan ribu
dikenal taja m, kupa sannya mengena sempat duduk dalam Dewan Perwakilan massa, Bung Karno memuji kegigihan
sasaran, dan selalu mengambil sikap Sumatera mewakili daerah Sumatera Barat perjuangan Rasuna Said.
lantang anti-kolonial. Sebuah koran di setelah Proklamasi Kemerdekaan dan Ra suna Said kemudian menjadi
Surabaya, Penyebar Semangat, pernah diangkat sebagai anggota parlemen Dewan anggota Dewan Pertimbangan Agung
menulis perihal Menara Poetri ini: Di Per wakilan Rakyat Republik Indonesia setelah Dek rit Presiden 5 Juli 1959
Medan ada sebuah surat kabar bernama Serikat (DPR RIS). sampai akhir hayatnya pada tanggal 2
Menara Poetri; isinya dimaksudkan RIS saat itu kemudian dibubarkan November 1965. Beliau dimakamkan di
untuk jagad keputrian. Bahasanya bagus, berkat kepiawaian Mohammad Natsir dalam Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.
dipimpin oleh Rangkayo Rasuna Said, berpolitik ketika menjadi Ketua Fraksi Hajjah Rangkayo Rasuna Said dinobatkan
seorang putri yang pernah masuk penjara Masyumi yang mengajukan Mosi Integrasi sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat
karena berkorban untuk pergerakan di parlemen Republik Indonesia Serikat. Keputusan Presiden R.I. Nomor 084/
nasional. Karena kondisi keuangan dan Setelah Lobi dilakukan berbulan-bulan, TK/Tahun 1974, bertanggal 13 Desember
p endanaan a k hir nya Menara Poeteri Natsir mengajukan gagasan kompromistis 1974.
akhirnya ditutup. agar semua negara bagian bersama-sama Luthfi Widagdo Eddyono

Sumber Bacaan:
1. Rudi Hartono, Rasuna Said, Nasionalis Dari Tanah Minang [http://m.berdikarionline.com/tokoh/20120226/rasuna-said-nasionalis-dari-tanah-
minang.html], diakses pada tanggal 7 Februari 2015.
2. [http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/11/13/mdf58x-hr-rasuna-said-pejuang-dari-agam-1], diakses pada tanggal 7 Februari
2015.
3. [http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/11/13/mdfb00-hr-rasuna-said-pejuang-dari-agam-2], diakses pada tanggal 7 Februari
2015.
4. [http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/11/13/mdfb4r-hr-rasuna-said-pejuang-dari-agam-3habis], diakses pada tanggal 7
Februari 2015.
5. [http://m.merdeka.com/profil/indonesia/r/rasuna-said/], diakses pada tanggal 7 Februari 2015.
Luthfi Widagdo Eddyono, Mohammad Natsir: Sang Penggagas Negara Demokrasi Islam, Majalah Konstitusi, Januari 2015.
6. [http://pramadtsaneg.blogspot.com.tr/2013/09/biografi-rasuna-said.html?m=1], diakses pada tanggal 7 Februari 2015.
7. [http://profil-biodata.blogspot.com.tr/2013/01/biografi-hr-rasuna-said.html?m=1], diakses pada tanggal 7 Februari 2015.
8. [http://buchyar.pelaminanminang.com/tokoh/rasuna_said.html], diakses pada tanggal 7 Februari 2015.

KONSTITUSI Februari 2015 | 59


R esensi

HIPER REGULASI DI ERA REFORMASI


Oleh; Tri Sulistianing Astuti
Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM,
Bergiat pada Indonesia-Turkey Research Community (www.itrc.or.id)

Make them for the public good. penulis bahwa sejak bergulirnya reformasi
John Locke (Two Treaties of Civil yang ditandai perubahan UUD 1945,
Goverment) telah terjadi perubahan pemahaman dan

S
paradigma dalam pembentukan UU. Ada
epotong pendapat John Locke kecenderungan pembentuk UU semakin Judul buku :
tersebut mengisyaratkan bahwa boros dan terlalu membesar-besarkan
persoalan (hal xiii). Hiper regulasi ini Perkembangan Pembentukan Undang-
u nd a ng- u nd a ng ( U U) ya ng
yang menjadi titik tolak atas pentingnya Undang di Indonesia
dibuat oleh kekuasaan legislatif
adalah yang dapat memberikan pemahaman dan penggunaan asas materi Penulis : Dr. Bayu Dwi Anggono, S.H, M.H.
muatan yang tepat dalam pembentukan Penerbit : Konpress (Konstitusi Press)
kebaikan bagi masyarakat. Kutipan ini
UU yang berkualitas tinggi. Asas materi Tahun : 2014
cukup mengganggu jika disodorkan pada Halaman : xxxii + 332
realitas hukum Indonesia di era reformasi. yang tepat merupakan aspek yang sangat
Salah satu fenomena p enting di era penting dan dominan dalam pembahasan
reformasi adalah maraknya judicial review dalam bab selanjutnya. sidang ini tidak memberikan keputusan
di Ma hkama h Konstit usi b ersamaan Penulis buk u, ya ng b er profesi sehingga UUD 1945 sebelum perubahan
dengan meningkatnya kuantitas produksi s ebaga i D os en Huk um Tat a Negara tidak mencantumkan aturan perubahan.
UU yang disahkan oleh DPR. Kuantitas Fakultas Hukum Universitas Jember, Mahkamah Agung sempat mendapatkan
dan kualitas produk tidaklah selalu linier, menuturkan urgensi keberadaan asas- hak menguji, tetapi sebatas pengujian pada
justru cenderung dipertanyakan melalui asas pembentukan UU yang baik. Uraian peraturan perundang-undangan di bawah
pisau judicial review. Dr. Bayu Dwi tersebut akhirnya akan mengerucut pada UU (hal. 150).
Anggono mewacanakan dan menulisnya asas materi muatan yang tepat, sebagai Ide pengujian UU berlanjut di era
dalam buku Perkembangan Pembentukan salah satu asas penting dalam pembentukan reformasi dan memberikan hak menguji
Undang-Undang di Indonesia. UU. Sentilan terhadap kemungkinan UU kepada MPR berupa pengujian UUD
Buku ini bersumber dari disertasi kadang-kadang membahayakan kebebasan 1954 dan Ketetapan MPR. UUD 1945
Dr. Bayu Dwi Anggono pada Program warga negara juga tersirat dalam bab dua. setelah Perubahan akhirnya menuntaskan
Doktor Pascasarjana Fakultas Hukum Produk hukum yang lahir dari proses dia lekt ika in i m ela lui p em b ent uka n
Un iver sit a s I nd onesia d enga n judul legislasi tidak dapat lepas dari pengaruh Ma hkama h Konstit usi (MK) s ebagai
Asas Materi Muatan yang Tepat Dalam politik sehingga kontrol diperlukan dalam lembaga yang berwenang menguji UUD
Pemb entukan Undang-Undang, Serta pembentukannya (hal. 45). yang dicantumkan dalam Pasal 24C ayat
Akibat Hukumnya: Analisis Undang- Untuk mendukung premisnya, penulis (1) UUD 1945 (hal. 151).
Undang Republik Indonesia yang Dibentuk pun menyertakan pendapat ahli hukum di Menurut Dr. Bayu, MK dalam kurun
pada Era Reformasi (1999-2012). Indonesia perihal pentingnya asas materi waktu 2005-2009, telah menghasilkan
Buku dibagi menjadi lima bab. muatan UU Indonesia. Disertai legitimasi 150 Putusan atas 73 UU yang diajukan
Diawali dengan penjabaran penelitian dalam aturan-aturan hukum Indonesia, judicial review. Dari jumlah put usan
d a n t e ori kon s ept ua l t ent a ng U U, mulai dari payung hukum Indonesia (tegas tersebut, 40 diantaranya dikabulkan (hal.
meliputi pemahaman, pembentukan, dan dala m UUD, Ketetapan MPR, UU) 234). Tingginya angka judicial review
pengujian UU. Studi di empat negara hingga ditegaskan melalui serangkaian menunjukkan bahwa kualitas produk
(Belanda, Jerman, Finlandia, dan Vietnam) argumentasi aturan-aturan yang perlu legislasi DPR masih buruk. Selain itu,
memberikan deskripsi dan komparasi yang untuk melindungi hak dasar, warganegara, pasca reformasi (1999-2012), telah hadir
cukup signifikan bagi peningkatan kualitas pembagian kekuasaan, dan pengaturan 200 UU non UU kategori daftar kumulatif
UU di Indonesia. pendapatan belanja penyelenggara negara terbuka, 14 UU di antaranya diindikasikan
Menarik untuk disimak, sejak bab (hal. 63-99). tidak memuat materi yang seharusnya
pendahuluan penulis telah menyajikan diat ur ( ha l. 293). Pada t it ik in ila h
kontradiksi atas teori hukum yang baik, Menguji Undang-Undang hiper regulasi menjadi berbahaya karena
yak ni hukum yang har us didasarkan Ket id a kt epat a n mat eri muat a n merugikan secara substansi, anggaran,
pada prinsip manfaat, diketahui semua dan hiper regulasi ini membuka wacana dan bahkan bagi kepastian hukum itu
orang, konsisten, pelaksanaannya jelas, akan hak menguji UU sebagai penjaga sendiri. Kepastian hukum yang diidamkan
sederhana, dan ditegakkan secara tegas, kualitas produk hukum. Kilas balik sejarah justr u menjadi eksekutor yang salah
justru tidak terlihat pasca Orde Baru. Hal Indonesia menunjukkan bahwa dialektika karena penerapan asas materi yang tepat
ini terkalkulasi dengan membengkaknya hak menguji UU dimulai sejak sidang diabaikan sehingga menghasilkan produk
jumlah peraturan perundang-undangan BPUPKI pada 15 Juli 2015, atas usulan hukum yang tidak berkualitas.
hingga menimbulkan hyperregulation. Prof. M. Yamin tentang perlunya Mahkamah Men ingkat ka n k ua lit a s U U di
Dr. Maria Farida Indrati S, S.H., M.H., Agung mem iliki ha k memba nding- Indonesia menjadi pokok bahasan yang
dalam pengantar nya, sepakat dengan bandingkan undang-undang. Namun, menarik untuk dicermati karena muncul

60 | KONSTITUSI Februari 2015


solusi atas masalah hiper regulasi. Dimulai negara, yakni Belanda, Jerman, Finlandia, Mayoritas inisiatif judicial review diajukan
dari memahami proses pembentukan dan Vietnam. oleh individu/lembaga non pemerintah.
UU. Secara garis besar, penulis membagi Padahal, pemerintah pun berhak atau
periode pembentukan UU menjadi dua, Reformasi Regulasi Empat Negara malah berkewajiban untuk mengajukan
yakni periode pembentukan UU sebelum Refor ma si reg ula si dip a p ar ka n judicial review atas regulasi yang tidak
p er ubahan UUD 1945, dan p eriode s ebagai motor yang lebih komplek s tepat sasaran/berkualitas rendah.
pembentukan UU pada UUD 1945 setelah diba ndingka n deregula si. D eregula si
perubahan. Titik berat pembahasan adalah hanyalah salah satu bagian dari reformasi Urgensi Asas Materi Muatan
pada badan legislator dan proses legislasi regula si. Menga mbil intepreta si dari Pa d a b ag ia n t era k h i r, p enul is
yang terjadi. Organisasi Untuk Kerjasama Ekonomi menyimpulkan alasan yang mendasari
Realisasi Program Legislasi Nasional dan Pembangunan (OECD), reformasi urgensi asas materi muatan yang tepat,
(Prolegnas), yang menjadi tolok ukur regulasi merujuk pada perubahan untuk ya k n i: (i) m er upa ka n s ara na unt uk
kinerja DPR sebagai badan legislator, meningkatkan kualitas regulasi, yaitu memastikan dalam pembentukan UU
tidak terpenuhi disebabkan fraksi-fraksi meningkatkan kinerja, efektifitas biaya, harus benar-benar memperhatikan materi
cenderung mengabaikan kinerja legislasi kualitas hukum peraturan, serta terkait muatan yang tepat yaitu materi yang
dan ketidakjelasan politik legislasi. Banyak formalitas pemerintah (hal. 259). memang seharusnya diatur dengan UU; (ii)
fraksi yang tidak memiliki kebijakan RUU Dari empat negara yang dikaji, dapat berguna untuk memudahkan pembentuk
mana saja yang layak untuk diperjuangkan ditarik benang merah bahwa reformasi da la m m engind ent if ika si kebu t uha n
menjadi prioritas. Ditambah lagi, mayoritas regulasi adalah hal yang lazim dilakukan p emb ent uka n UU; da n (iii) s ebaga i
komisi di DPR lebih memprioritaskan u nt u k m engat a s i r en d a h nya mu t u sarana sarana pembeda untuk mengetahui
p ela k sanaan f ungsi p engawa san dan regulasi serta mengakomodir kebutuhan materi apa yang harus diatur dengan UU
p enga nggara n ( ha l. 237). Muara nya masyarakat dan negara yang bersifat dan materi apa yang harus didelegasikan
adalah kegagalan politik legislasi, yakni dinamis. Hiper regulasi, beban biaya p engat ura n nya kepada p erat ura n di
pemerintah dan DPR gagal merumuskan yang membengkak, dan berkurangnya bawah UU (hal. 291-292). Asas materi
kebijakan pengaturan yang mengutamakan penghormatan terhadap hukum menjadi muatan yang tepat ber potensi besar
kepentingan rakyat. pemantik reformasi regulasi. untuk membendung hiper regulasi pasca
Kegagalan ini akhirnya mendorong Belanda menerapkan enam kriteria reformasi, tentunya tanpa mengabaikan
berbagai kelompok/lembaga berlomba- unt u k reg ula si ya ng b er k ua lit a s di proses pembuataan UU, proses pengujian,
lomba mengajukan topik atau judul UU Kementerian Kehakiman, yang mencegah dan peran pemerintah harus berjalan
sehingga wajar ditemukan banyak UU yang tumpang tindih regulasi serta fokus pada simultan untuk meningkatkan kualitas
disahkan tidak masuk dalam Prolegnas. manfaat dan efesiensi (hal. 260-262). UU.
Kriteria RUU yang layak jadi prioritas dan Jerman membuat kebijakan Programme Hal yang kontroversial menurut Dr.
diajukan dalam Prolegnas terlalu umum Bureaycracy Reduction and Better Bayu adalah temuannya dalam kesimpulan
sehingga jumlah RUU dalam Prolegnas Regulation, legal quality inisiatives, mengenai 14 UU dari 428 UU (atau
terlalu banyak dan tidak sesuai dengan legislative simplification initiative, dan berjumlah 200 apabila dikurangi UU
kebutuhan hukum masyarakat. Jumlah yang p emb ent ukan data ba se (hal. 263). kategori daftar kumulatif terbuka) yang
banyak serta kualitas RUU yang diajukan Finlandia meningkat kan kualita s UU dib entuk sejak 1999-2012 terindikasi
belum mempertimbangkan kapasitas dan dengan menetapkan agenda perbaikan tidak memenuhi butir-butir materi muatan
ketersediaan waktu legislasi sehingga legislatif, membentuk komite regulasi dan UU atau dengan kata lain bukan materi
kinerja legislasi rendah dan terkesan konsultatif, menerapkan kehati-hatian mulai yang seharusnya diatur dengan undang-
seadanya karena tanpa persiapan bahan dari proses perancangan, evaluasi terhadap undang.
yang memadai. Akibatnya, pembahasan altenatif dan dampak serta implementasi Dari segi tata bahasa, alur penulisan,
RUU dengan waktu yang relatif pendek sistem mutu dan data base (hal.264-266). dan pilihan kata, buku ini mudah untuk
tidak dapat menghasilkan kualitas yang Vietnam menjawab tuntutan warganegara dibaca da n r unt ut s ehingga ma mpu
relatif baik (hal. 240). dan dunia usaha akan kebutuhan regulasi memberikan gambaran yang jelas terhadap
Rendahnya partisipasi masyarakat, yang b erkualita s dengan Project 30 pemasalahan. Namun, perlu kiranya penulis
belum terlembagakannya fungsi legislative dan Law on the Promulgation of Legal mempertimbangkan untuk memberikan
review/excecutive review, efekt iv it a s Normative Documents. porsi lebih banyak tentang pembahasan
kinerja dan kualitas Badan Legislasi, Salah satu terobosan Vietnam yang metode reformasi regulasi di empat negara
waktu pembahasan RUU yang dihabiskan menarik untuk dilihat implementasinya di tersebut.
untuk hal teknis kalimat, kinerja legislasi Indonesia adalah dukungan resmi terhadap Bu k u in i wajib unt u k di m ili k i
pemerintah yang menunjukkan kurangnya penilaian dampak regulasi (regulatory oleh mahasiswa/aktivis/pembaca yang
tanggung jawab dalam pembuatan UU, impact asessment) sebagai kunci untuk b er m inat da n b ergelut pada subjek
anggaran yang tidak tepat sasaran, hingga meningkatkan kualitas regulasi baru (hal. p er unda ng-unda ng s ebaga i referensi
p engar uh a sing dalam p emb ent ukan 268). Namun, sayangnya penulis buku Ilmu Pengetahuan Perundang-undangan
UU yang menyentil syarat International tidak memberikan eloborasi yang lebih (Gesetzgebungswissenschatf). Kajiannya
Monetary Fund di masa krisis, dianggap mendalam atas inovasi ini. yang lugas menjadi pengingat bahwa
penulis buku sebagai masalah dalam Dukungan resmi menjadi alat yang hip er reg ula si d a p at dicega h s eja k
p eny usunan dan realisa si Prolegna s. penting untuk menindaklanjuti analisa/ awal pembentukan UU, yakni dengan
Per m a s a la ha n t er s eb u t kemu d ia n ma suka n at a s da mpa k regula si dari kep edulian ata s a sa s materi muatan
menjadi pintu masuk untuk mencermati berbagai pihak. Saat ini, pemerintah tepat.
implementasi reformasi regulasi empat Indonesia masih merespon secara sporadis.

KONSTITUSI Februari 2015 | 61


P ustaka KLASIK

Dari Desentralisasi Hingga


ke Negara Federal
Triya Indra Rahmawan
Editor Majalah Konstitusi

U
paya pemantapan hubungan merupakan hasil penelitiannya sejak tahun kehidupan rakyat Indonesia. Alasan yang
pusat dan daerah merupakan 1962. Alasan dilakukannya penelitian pun juga melandasi pemberlakukan desentralisasi
disk u r su s la ma d a la m cukup sederhana, karena pada waktu itu adalah adanya tugas pemerintahan yang luas,
p enyel engga ra a n s i s t em buku referensi yang mampu menguraikan sehingga tidak mungkin diselenggrakan oleh
p em er i nt a ha n Nega ra secara lengkap tentang persoalan-persoalan pemerintah pusat saja. Pola pemerintahan ini
Indonesia. Era reformasi, yang kemudian dan perkembangan pemerintahan daerah kemudian berlangsung hingga akhir Tahun
menghantarkan pada amandemen UUD 1945 di I ndonesia s a ngat la h m in im. Unt uk 1941, karena pada Tanggal 9 Maret 1942
mengatur secara tegas adanya hubungan it u, Lia ng Gie m enco ba m enga na lis a Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada
antara pusat dan daerah. Kemudian dalam permasalahan desentralisasi pada waktu pihak Jepang dalam Perang Pasifik.
ketentuan Pasal 18 ayat (7) UUD 1945, itu dan mengusulkan cara penyelesaiannya. Pada ma sa p enduduka n Jepa ng,
terdapat mandat bahwa susunan dan tata Namun perlu diketahui, bahwa buku ini ternyata juga diterapkan pola pemerintahan
cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diterbitkan dalam 3 edisi, dimana pada edisi d e s ent ra l i s a s i, d i m a na d iat u r b a hwa
diatur dalam undang-undang. Akhirnya, 1 ini hanya akan menguraikan tiga bagian dari b a lat ent a ra Jep a ng u nt u k s em ent a ra
dis a h ka n Und a ng-Und a ng Nom or 32 enam bagian keseluruhan hasil penelitian. m ela ngsungka n p em erint a h m iliter di
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Dalam buku edisi 1 ini, Penulis (The Liang daerah- daerah yang telah didudukinya.
beserta perubahannya. Kini, pengaturan Gie) membagi tiga bagian tersebut dalam Selanjutnya juga ditentukan bahwa semua
p em erint a ha n d a era h t erd a pat d a la m beberapa pokok tema, dalam bab. badan pemerintahan dengan kekuasaannya,
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Pada bagian pertama, yang kemudian hukum dan undang-undang dari Pemerintah
tentang Pemerinta han Daera h, dimana terbagi menjadi delapan bab, Liang Gie Hindia Belanda untuk sementara tetap
penyelenggaraan pemerintahan daerah salah menguraikan pelaksanaan desentralisasi diakui sah ketika tidak bertentangan dengan
satunya dilakukan dengan desentralisasi, pada masa 1945-1949, yaitu menjelang aturan pemerintahan militer Jepang. Liang
yakni penyerahan urusan pemerintahan oleh terbentuknya Republik Indonesia Serikat. Gie kemudian memberikan kesimpulannya,
Pemerintah Pusat kepada daerah otonom Berbagai peraturan perundang-undangan bahwa Pemerintah Jepang yang menduduki
berdasarkan asas otonomi (Pasal 1 ayat (8) yang merupakan warisan Hindia Belanda Indonesia dari 1942-1945 pada umumnya
Undang Nomor 23 Tahun 2014). dan Jepang diuraikan dalam Bab I. Dengan tetap mener uskan politik desentralisasi
Set ida k nya it ula h ula sa n singkat mengutip p endapat J.H.A. Logemann, Hindia Bela nd a. Na mun m enur u t nya,
tentang pengaturan pemerintahan daerah d i n y a t a k a n b a h wa H i n d i a B e l a n d a sekaligus mengutip pendapat dari A.G .
yang dimulai sejak era reformasi, khususnya m enja la n ka n p ola p em erint a ha n ya ng Pringgodigdo, desentralisasi pada masa
setelah amandemen UUD 1945. Namun sentralistik (gecentraliseerd geregeerd land), pendudukan Pemerintahan Jepang lebih
sebagaimana diketahui, konsepsi tentang namun juga menjalankan pola dekonsentrasi, ditujukan pada kep entingan dan usaha
hubungan antara pemerintah pusat dengan dima na ter jadi p elimpa ha n t uga s dari perang, serta untuk menanamkan kekuasaan
pemerintah daerah ini bukan hanya diterapkan aparatur pemerintah pusat kepada pejabat- dan mempertahankan penjajahan Jepang di
sejak amandemen UUD 1945. Jauh sebelum pejabat yang secara hierarkis lebih rendah Indonesia (hal 30).
itu, Negara Indonesia sudah menerapkan tingkatannya. Pola p emerinta han yang Liang Gie meneruskan pembahasannya
tata hubungan antara pemerintah pusat sentralistik itu hanya berlangsung sampai pada ketentuan-ketentuan desentralisasi
dengan pemerintah daerah pada jaman permulaan abad 20, karena setelah itu, dalam UUD 1945 (sebelum perubahan-
kemerdekaan. muncul berbagai tuntutan agar pemerintahan red). Pembahasan ini terdapat dalam Bab
Da la m buk u ya ng b er judul disusun secara lebih modern dan demokratis. II, dimana menghadirkan uraian berbagai
Pertumbuhan Pemerintahan Daerah Di Selain itu, gerakan politik etis juga melandasi rancangan konsep desentraliasi yang dibuat
Negara Republik Indonesia, The Liang dilakukannya perubahan pola pemerintahan oleh Soepomo-Soebardjo-Maramis, Yamin,
Gie memaparkan secara jelas bagaimana ini, dima na gera ka n ini menghenda k i Panitia Perancang Undang-Undang Dasar dan
penerapan hubungan pusat dan daerah agar politik kolonial tidak semata-mata Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
sejak masa kemerdekaan Indonesia. Buku mengeruk kekayaan bumi Indonesia, tetapi Dari konsep desentralisasi yang kemudian
yang diterbit kan pada ta hun 1967 ini juga meningkatkan taraf kecerdasan dan terca nt um da la m ketent ua n Pa s a l 18

62 | KONSTITUSI Februari 2015


Judul : Pert umbuhan
Pemerintahan Daerah Di
Negara Republik Indonesia
UUD 1945, Liang Gie memberikan suatu Pengarang : The Liang Gie
tinjauan yang salah satunya menyatakan, Penerbit : PT. Gunung Agung
bahwa riwayat terbentuknya Pasal 18 UUD Edisi : Edisi 1
1945, menunjuk kan dapat diterimanya Tahun : 1967
desentralisasi oleh para tokoh Indonesia
Jumlah : 269 Halaman
sebagai suat u kehar usan dalam sistem
ketetanegaraan Indonesia.
Dalam penelitiannya ini, Liang Gie
memantapkan definisi tentang desentralisasi
dalam bidang pemerintahan. Menurutnya,
desentralisasi adalah pelimpahan wewenang tetap mempertahankan kekuasaanya, yakni
dari p emerintah pusat kepada sat uan- dengan membentuk suatu Negara serikat, yang
sat ua n orga nisa si p emerint a ha n unt uk kemudian pada saat Konferensi Meja Bundar
menyelenggarakan segenap kep entingan (KMB), yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia
s et empat dari s ekelomp ok p enduduk Belanda, Republik Indonesia dan delegasi
yang mendiam i suat u w ilaya h. Sat uan Bijeenkomst voor Federaal Overleg (perwakilan
o rga n i s a s i p em er i nt a ha n i t u b er i k u t Negara bagian bentukan Pemerintah Hindia
lingkungan w ilaya hnya dis ebut daera h Belanda), disepakati bahwa Belanda bersedia
otonom. Wewenang untuk menyelenggarakan menyerahkan kedaulatan kepada Republik
segenap kepentingan setempat yang diterima Indonesia Serikat, sehingga terbentuklah
oleh satuan organisasi pemerintahan itu Negara bernama Republik Indonesia Serikat
disebut otonomi. Aparatur daerah otonom pemerintahan daerah, seperti di Yogyakarta, (RIS).
yang memegang otonomi disebut pemerintah Surakarta dan Sumatera. Mengakhiri buku jilid pertama ini,
daerah, sedangkan segenap penyelenggaraan Pa d a b a g ia n ke d ua, b u k u i n i Lian Gie pada bagian ketiga bukunya
wewenang untuk kepentingan setempat terfokus pada pembahasan pertumbuhan menguraikan tentang pemerintahan daerah
tersebut b erikut kewajiban, t ugas dan pemerintahan daerah di wilayah Indonesia d a la m Ko n s t i t u s i R IS. Menu r u t nya,
tanggungjawabnya tercakup dalam istilah Bagian Timur, Jawa dan Sumatera pada ketentuan-ketentuan Konstitusi RIS yang
pemerintahan daerah. (hal.4 4) Tahun 1945-1949. Liang Gie mengungkapkan mengatur tentang pemerintahan daerah
S ela nju t nya Lia ng Gi e b a nya k bahwa pada masa itu di Indonesia bagian terdapat dalam Pasal 47, Pasal 192 dan
memaparkan pelaksanaan desentralisasi timur masih dikuasai oleh Hindia Belanda, Pasal 65. Ketentuan pemerintahan daerah
di Indonesia pada jaman kemerdekaan. sehingga pemerintahan daerah masih tersusun dalam Pasal 47 dapat diketahui dari adanya
Liang Gie menyatakan bahwa pelaksanaan menur ut p ola Hindia Belanda. Konsep kemungkinan pada tiap-tiap Negara bagian
desentralisasi, dimulai dengan dibentuknya desentralisasi pertama yang diterapkan oleh untuk membentuk daerah-daerah otonom.
Unda ng-Unda ng Ta hun 1945 Nomor.1 pemerintah Hindia Belanda terdapat dalam Pada Pasal 192 ketentuan pemerintahan
Tent a ng Ke duduka n Kom it e Na siona l Voorloopige Voorzieningen met betrekking tot daerah dapat dipahami dengan adanya
Daerah. Meskipun keberadaan undang- de Bestuurrsvoering in de Gewesten Borneo p engakuan bahwa segenap p er undang-
undang ini lebih mengatur kedudukan dan en de Groote Oost (Staatsblad 1946/17). undangan desentralisasi dari masa sebelum
kekuasaan Komite Nasional Daerah. Liang Berdasarkan ketentuan yang terdapat dalam R IS tet ap b erla ku. Seda ngka n dala m
Gie menyatakan bahwa undang-undang Staat sblad 1948/17, kemudian t umbuh Pasal 65, pada pokonya mengatur bahwa
ini mer upa kan p erat uran desent ralisasi berbagai macam daerah otonom baru seperti R IS menga kui swapraja (swa: s endiri,
ya ng p ert a ma, karena unda ng-unda ng neo-landschap, neo-stadsgemeente atau neo- praja: pemerintahan) sebagai daerah yang
ini menetapkan adanya 3 jenis daerah groepsgemeenschap. mempunyai kedudukan istimewa dalam
(keresidenan, kota, dan kabupaten), yang Terkait dengan pemerintahan daerah lingkungannya, kedudukan swapraja diatur
berhak mengatur dan mengurus rumah di wilayah Indonesia bagian timur, Lian Gie oleh Negara bagian RIS yang bersangkutan
tangga daerahnya sebagaimana dimaksud menegasakan ada pola dan pertumbuhan dengan kontrak dan swapraja tidak dapat
dalam Pasal 18 UUD 1945. Namun pada tersendiri. Di Indonesia Bagian Timur, dihapuskan atau diperkecil apabila swapraja
Tahun 1948, undang-undang ini dipandang Pemerintah Hindia Belanda tidak mengatur itu tidak menyetujuinya. Kalau toh swapraja
tidak memuaskan karena isinya yang sangat p emerint a ha n daera h s e cara s eraga m, yang a kan dihapuskan atau dip erkecil
sederhana, yang kemudian diganti dengan pluralisme dari masa sebelum perang masih bertentangan dengan kehendaknya, ini hanya
Undang-Undang Pokok Tahun 1948 Nomor terus dijalankan. Sedangkan persamaan dapat dilakukan dengan UU RIS dalam
22 tentang Pemerintahan Daerah. Meskipun antara Pemerintah Republik Indonesia dan mana dinyatakan bahwa kepentingan umum
dianggap sempur na, undang-undang ini Hindia Belanda, yaitu mencoba lebih menuntut penghapusan atau pengecilan dan
belum sempat dilaksanakan karena terjadi mendemokratiskan dan memberikan otonomi memberi kuasa pada Negara bagian untuk
Agresi Militer II. Untuk bab-bab yang lain, yang seluas-luasnya kepada daerah. Mengakhiri menjalankan hal itu, katanya mengakhiri
pembahasan buku ini lebih diarahkan pada bagian kedua bukunya, Lian Gie menguraikan analisa tentang desentralisasi dalam Pasal
uraian sejarah pelaksanaan dan pertumbuhan gagasan Pemerintah Hindia Belanda untuk 65 Konstitusi RIS.

KONSTITUSI Februari 2015 | 63


K hazanah

Pendekatan MK terhadap
Konstitusionalitas Hukuman Mati
Australia meninggal dunia; dan Putusan Myuran Sukumaran dan Andrew Chan
Judul Penelitian : MK terkait konstitusionalitas hukuman tetap dijatuhi hukuman mati. Belum lama
mati yang di antaranya diajukan oleh ini, permohonan grasi yang diajukan oleh
Decision No. 2-3/PUU-V/2007 [2007] tiga orang berkewarganegaraan Australia keduanya kepada Presiden Joko Widodo
(Indonesian Constitutional
Court)
yang terlibat dalam Bali Nine, yaitu sebagai upaya terakhir juga telah ditolak
Penulis : Natalie Zerial Scott Rush, Andrew Chan, dan Myuran pada 30 Desember 2014 dan 22 Januari
Sumber : Australian International Law Sukumaran. 2015.
Journal Berbeda dengan perspektif para Dalam proses menunggu eksekusi
Volume : 14 penulis lainnya, Natalie lebih memfokuskan hukuman mati oleh regu penembak, Chan
Tahun : 2008 a na lisa terhadap Put usa n MK ya ng dan Sukumaran terus berupaya melakukan
dinilainya merefleksikan perspektif budaya upaya-upaya hukum lain melalui kuasa
dan kawa san terkait dengan hukum hukumnya. Pemerintah Australia juga

P
internasional hak asasi manusia, termasuk memb erikan dukungan s ecara resm i
emba ha sa n mengena i mengenai perdebatan nilai-nilai Asia dengan meminta kepada Pemerintah
konstitusionalitas hukuman dalam hak asasi manusia. Analisanya juga Indonesia untuk mengubah hukuman mati
mati di Indonesia akhir-akhir mendiskusikan mengenai penggunaan dan bagi kedua warganya tersebut.
ini kembali marak didiskusikan. penafsiran hukum internasional oleh MK
Pa s a l nya, d i awa l m a s a yang menurutnya tidak hanya terbatas Pancasila, Hukum, dan HAM di
Pemerintahan Presiden Joko konteks nasional, namun juga Konstitusi Indonesia
Widodo, Indonesia kembali mengeksekusi Indonesia secara global. Tulisan berikut Setelah jatuhnya Presiden Soeharto
terpidana mati, baik terhadap warga negara ini akan menguraikan argumentasi dan dari tampuk kepemimpinan rezim orde
Indonesia maupun warga negara asing. temua n ya ng dia na lisa oleh Nat a lie baru tahun 1998, sistem hukum dan
Pada 2007 silam, Mahkamah Konstitusi Zerial. politik Indonesia mengalami reformasi
sebenarnya telah menjatuhkan putusan s e cara b esar-b esara n. Dala m wa kt u
terkait konstitusionalitas hukuman mati kurang dari empat tahun, UUD 1945
dalam perkara Pengujian Undang-Undang Sekilas tentang Bali Nine dia ma ndemen s eba nya k empat kali,
Narkot ika denga n menyat a ka n jenis Pada 17 April 20 05, s embila n termasuk diadopsinya perlindungan HAM
hukuman tersebut adalah konstitusional. warga Australia ditangkap di Bali dan di dalam konstitusi secara komprehensif.
Putusan MK itu disambut baik oleh seluruhnya kemudian didakwa melakukan Bagi Natalie, pemuatan HAM tersebut
sebagian besar penggiat anti-narkotika. tinda k pidana p enyelundupan heroin cukup unik dan visioner dalam konteks
Namun, bagi para penggiat hak asasi sebanyak 8,3 kg dari Indonesia menuju kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara
m a nu s ia, p u t u s a n t er s eb u t d i n i la i Australia. Berdasarkan sistem hukum di yang selama ini dikenal penuh curiga
konservatif. Indonesia, tindak pidana tersebut dapat dengan model HAM rezim barat.
Berbagai analisa pro dan kontra dijatuhi pidana mati. Dalam Putusannya, Begitu pula dengan sistem hukum
terhadap Putusan tersebut juga tersebar Pengadilan Negeri Denpasar menjatuhkan Indonesia, Natalie mendeskripsikannya
di berbagai tulisan. Salah satu analisa hukuman seumur hidup kepada tujuh kurir sebagai produk yang sangat menarik
akademis terhadap Putusan MK terkait Bali Nine, yaitu Matthew Norman, karena adanya keragaman pengaruh, baik
hukuman mati ditulis oleh Natalie Zerial Si Yi Chen, Tan Duc Thanh Nguyen, dari hukum sisa-sisa kolonialisasi Belanda,
di dalam Australian International Law Renae Lawrence, Scott Rush, Michael hukum adat, hukum Islam, dan standar
Journal yang berjudul Decision No. Czugaj, dan Martin Stephens. Sedangkan hukum internasional. Sistem hukum yang
2-3 / PUU-VI/20 07 [2007] (Indonesian dua orang lainnya yang dijuluki sebagai sinkretis ini kemudian didukung dengan
Constitutional Court. Saat membuat ringleaders, yaitu Andrew Chan dan adanya Pancasila yang memuat prinsip-
t ulisan ters ebut, Natalie mer upa kan Myuran Sukumaran, divonis hukuman prinsip ketuhanan, kemanusiaan, persatuan,
mahasiswi di Harvard Law School dan saat mati. demokrasi perwakilan, dan keadilan sosial.
ini sebagai Barrister di Australia. Kes embila n ter pida na ter s ebut Kelima prinsip ini dibuat untuk membentuk
Natalie tertarik untuk mengkaji kemudian melakukan berbagai upaya karakter nasional terhadap masyarakat
Putusan MK Indonesia karena secara hukum mulai dari proses banding, kasasi, yang heterogen. Pada masa Soeharto,
tidak langsung Putusan-Put usan MK hingga peninjauan kembali. Pada akhirnya, Pancasila ditempatkan sebagai sumber
juga m em ili k i sig n if ika n si t er had a p hukuman dua puluh tahun penjara hanya hukum yang tertinggi. Namun pada
Australia. Misalnya, Putusan MK terkait diberikan kepada Lawrence, sedangkan masa reformasi, Pancasila dimasukan ke
konstitusionalitas penjatuhan hukuman Chen, Czugaj, Nguyen, Norman, Rush, dalam UUD 1945 sebagai bagian yang
bagi para pelaku Bali Bombings (2004) dan Stephens tetap menerima hukuman tidak ter pisahkan ketika menafsirkan
yang mengakibatkan 88 warga negara penjara seumur hidup. Sementara itu, konstitusi.

64 | KONSTITUSI Februari 2015


Menurut Natalie, Pancasila selalu Natalie menyimpulkan dua hal. Pertama, terlepas dari kewarganegaraannya.
membawa unsur kemanusiaan dan UUD t iga o ra ng p em o h o n warga n egara Walaupun MK menyatakan ketiga
1945 tela h mema suka n s ep era ngkat Australia dinilai oleh MK tidak memiliki warga negara asing tersebut tidak memiliki
jaminan atas HAM sebagai salah satu dari ke d ud u ka n hu k u m (legal standing) kedudukan hukum, namun MK tetap
tiga pilar reformasi, di samping prinsip- untuk mengajukan pengujian undang- memeriksa dan memutuskan substansi
prinsip demokrasi dan negara hukum. undang. Kedua, p enjatuhan hukuman permasalahan konstitusional yang sedang
Ketentuan mengenai HAM terdapat Pasal mati terhadap kejahatan narkotika tidak diuji. Alasannya, permohonan juga diajukan
28A sampai dengan Pasal 28J di dalam melanggar UUD 1945. Putusan ini tidak secara bersama-sama oleh dua orang wanita
Bab XA UUD 1945. Dalam konteks dia mbil s e cara bulat. Empat Ha k im Indonesia bernama Edith Yunita Sianturi
analisa terhadap Putusan MK terkait Kons t it u si m enya mpa ika n p enda pat dan Rani Andriani (Melisa Aprilia) yang
hukuman mati, ketentuan HAM yang berbeda (dissenting opinions). telah memenuhi syarat kedudukan hukum.
terkait langsung terdapat pada Pasal 28A, Ha k i m Ha r j o n o b er p en d a p at Dengan mempertimbangkan maksud dari
Pasal 28I, dan Pasal 28J UUD 1945 yang s ehar u snya p ara Pem oh on ya ng pembuat UUD 1945 dan berbagai aspek
selengkapnya berbunyi sebagai berikut b erkewarga negaraa n a sing dib erika n hukum internasional, MK menyimpulkan
dengan cetak miring oleh Penulis: kedudukan hukum; Hakim Roestandi bahwa hak untuk hidup yang termuat
menyatakan hukuman mati seharusnya di dalam UUD 1945 tidak melarang
dinyatakan inkonstitusional; dan Hakim hukuman mati yang diatur berdasarkan
Pasal 28A: La ica b er s a ma Ha k im Mar uarar undang-undang dan setelah menjalani
Setiap orang berhak untuk hidup berpendapat para Pemohon warga negara proses hukum yang adil serta hanya
serta berhak mempertahankan hidup dan asing memiliki kedudukan hukum dan untuk kejahatan serius. Sementara itu,
kehidupannya. hukuman mati juga har us dinyatakan tiga Hakim Konstitusi yang berpendapat
Pasal 28I ayat (1): i n ko n s t i t u s io na l. Menu r u t Nat a l i e, berbeda menyandarkan argumentasinya
Hak untuk hidup, hak untuk tidak keputusan mayoritas dan adanya empat juga pada huk um inter na siona l da n
disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati pendapat berbeda membuka jendela baru praktik bahwa hak untuk hidup tidak
nurani, hak beragama, hak untuk tidak terhadap isu krusial terkait implementasi dapat dikurangi dalam keadaan apapun
diperbudak, hak untuk diakui sebagai dan p enafsiran hak asasi manusia di (non-derogable).
pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk Asia Tenggara, bahkan dalam konteks Natalie Zerial menilai bahwa Putusan
tidak dituntut atas dasar hukum yang sistem hukum yang sangat dipengaruhi MK tersebut memiliki pertimbangan hukum
berlaku surut adalah hak asasi manusia oleh mayoritas pemeluk agama Islam di yang kompleks dan beragam, termasuk
yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan Indonesia. dari pendapat berbeda Hakim Konstitusi.
apa pun. Berdasarkan Pasal 51 ayat (1) huruf a Beberapa isu penting yang termuat di
Pasal 28J ayat (1): Setiap orang wajib UU MK, pemohon yang dapat mengajukan dalam Putusan tersebut diuraikan oleh
menghormati hak asasi manusia orang lain permohonan pengujian undang-undang Natalie ke dalam tiga bagian, yaitu:
dalam tertib kehidupan bermasyarakat, memang dibata si bagi warga negara (1) Keseimbangan masyarakat terhadap
berbangsa, dan bernegara. Indonesia. Oleh karenanya, MK menolak individu; (2) Peran dan pengaruh dari
Pa s a l 28 J ayat (2): Da la m untuk memberikan kedudukan hukum agama; dan (3) Hukum internasional.
menjalankan hak dan kebebasannya, setiap bagi para pemohon berkewarganegaraan
orang wajib tunduk kepada pembatasan a sing. Wa laupun p endapat b er b e da
yang ditetapkan dengan undang-undang yang disampaikan oleh Hakim Harjono, 1. K e s i m b a n g a n m a s y a ra k a t
denga n ma k sud s emat a-mat a unt uk Hakim Laica, dan Hakim Maruarar tidak terhadap individu
menjamin pengakuan serta penghormatan secara tegas menyatakan warga negara Menurut Natalie, kesimbangan antara
atas hak dan kebebasan orang lain dan asing dapat diberikan kedudukan hukum HAM individu dengan kesejahteraan
untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai untuk menguji konstitusionalitas setiap masyarakat merupakan isu yang sering
dengan pertimbangan moral, nilai-nilai unda ng-unda ng, na mun para Ha k im menjadi karakteristik perdebatan
agama, keamanan, dan ketertiban umum Kon s t it u si t er s ebu t s ep a kat ba hwa tentang HAM di Asia. Isu inilah yang
dalam suatu masyarakat demokratis. ket iga warga negara Aust ra lia ya ng dinilai oleh Natalie sebagai isu utama
Formulasi ketentuan dalam Pasal menjadi para Pemohon telah memenuhi yang diambil oleh Hakim mayoritas.
28J UUD 1945 di atas menurut Natalie syarat kedudukan hukum untuk menguji Presp ektif ini memp erhadapkan
mer upakan konseptualisasi hak asasi konstitusionalitas hukuman mati yang antara hak untuk hidup dari mereka
manusia di Indonesia dalam konteks termuat di dalam UU Narkotika. Hakim yang dijatuhi hukuman dengan hak-
kesim b a nga n a nt ara ha k a s a si d a n Harjono beralasan bahwa menolak warga hak para korban sebagai individu
kewajib a n ya ng kemu d ia n m enja d i asing untuk menguji pasal tersebut akan at au p u n ha k d a r i m a s ya ra kat
pertimbangan utama bagi MK dalam menimbulka n tert unda nya kepa stia n sebagai korban (society as victims).
berbagai putusannya. huk um s eba b MK p erlu m enungg u Mengutip pendapat Eldrige (2003),
adanya warga negara Indonesia yang Natalie mengatakan bahwa sistem
mengujinya terlebih dahulu. Sementara perlindungan HAM di Indonesia
Analisa Putusan MK itu, Hakim Laica dan Maruarar lebih s a ngat dip engar uhi oleh isu-isu
Terhadap inti Putusan MK Nomor mempertimbangkan pendekatan hukum tentang kemiskinan, budaya, agama,
2-3 / PU U-V/ 20 07 t er ka i t p eng ujia n dan instrument internasional tentang hak stabilitas dan ketertiban nasional.
konstitusionalitas hukuman mati yang asasi manusia dengan mengedepankan Pentingnya isu-isu tersebut nampak
dijat uhka n pada 30 Oktob er 20 07, prinsip equal rights bagi sertiap orang terlihat pada pertimbangan hukum

KONSTITUSI Februari 2015 | 65


K hazanah
P u t u s a n MK m engena i a pa ka h hidup, diambil dari ajaran agama, 3. Hukum Internasional
negara dapat menjatuhkan hukuman nila i mora l univer sa l, da n nila i Menurut Natalie, perspektif mengenai
mati kepada individu, khususnya luhur budaya ba ngsa. MK juga H A M int er na siona l m em ili k i
dalam konteks kejahatan narkotika. mengakui bahwa sebagai negara p era n k unci d a la m p em buat a n
dengan penduduk muslim terbesar Put usa n a quo. Selur uh Ha kim
Nat a l i e juga b er p en d a p at di dunia, Indonesia merujuk secara Kon s t it u si ya ng t erlibat d a la m
ba hwa p er hat ia n MK ter hadap khusus pada Deklarasi Kairo tentang memutus perkara tersebut sepakat
kes eja hteraa n ma syara kat Ha k-Ha k A s a si Ma nusia da la m untuk menggunakan p endekatan
Indonesia dapat dilihat ketika MK Islam yang dalam Pasal 2 huruf m ela lui ins t r um en inter na siona l
membantah dalil para Pemohon, a [sic] menyata kan, Kehidupan guna memperkaya cakrawala dalam
yang mengatakan tujuan utama dari adalah berkah Tuhan dan hak untuk menafsirkan UUD 1945. MK juga
hukuman pidana adalah rehabilitasi, hidup dijamin bagi setiap umat mempertimbangkan bahwa walaupun
dengan argumentasi bahwa setiap manusia. Adalah tugas dari individu, penafsiran konstitusi merupakan isu
keja hat a n m er up a ka n s era nga n masyarakat dan negara-negara untuk utama dalam perkara ini, namun MK
terhadap harmoni sosial masyarakat melindungi hak-hak ini dari setiap perlu menegaskan posisinya apakah
(social harmony of society) yang pelanggaran apa pun, dan dilarang hukuman mati bertentangan dengan
menimbulkan luka (wound) atau untuk mencabut kehidupan kecuali kewajiban Indonesia dalam hukum
sakit (illness) di masyarakat. Selain berdasarkan syariat. internasional.
itu, MK juga mempertimbangkan Da la m p em b a ha s a n nya, MK
b a hwa hu k u m a n pid a na ya ng Menu r u t Nat a lie, ba ik MK menyimpulkan bahwa hak untuk
dijatuhkan kepada pelaku kejahatan maupun para ahli mencoba untuk hidup tidaklah mutlak sebagaimana
juga har us dilihat sebagai upaya mendamaikan pertentangan antara tert uang di s ejum la h inst r umen
unt u k m engem ba lika n har m on i kesucian hidup dengan hukuman hukum internasional, di antaranya,
s o s ia l ya ng t erga ngg u a k ib at mati. Salah satu caranya dengan International Covenant on Civil and
dari kejahatan itu. Bagi Natalie, mempertimbangkan adanya prasyarat Political Rights (ICCPR); Protocol
pembahasan yang dilakukan oleh proses peradilan yang adil. Metode Additional I to the 1949 Conventions
MK terhadap isu-isu terkait HAM lainnya yaitu dengan memindahkan and Relating to the Protection of
da n hukuma n mati menunjuka n tanggung jawab dari negara sebagai Victims of International Armed
ba hwa MK memp ercayai HAM eksekutor kepada pelaku kejahatan Conflict; Protocol Additional II to
haruslah dibatasi, setidaknya untuk dengan penekanan bahwa hukuman the 1949 Conventions and Relating
sebagian, sepanjang p embatasan mati lebih mer upakan hasil dari to the Protection of Victims of Non-
tersebut dapat melayani kebutuhan keputusan yang dibuat dari seorang International Armed Conflict; Rome
ma s yara kat s eb aga i ma na indiv idu, bu ka n d ari kebija ka n Statute of International Criminal
terkonseptualisasi di dalam budaya negara. Court; Convention for the Protection
dan sejarah Indonesia. of Human Rights and Fundamental
Pemba ha sa n ya ng juga menarik Freedoms (European Convention on
2. Peran dan pengaruh agama perhatian Natalie dalam konteks Human Rights), American Convention
Dalam Putusan a quo, Natalie juga agama datang dari dissenting opinion on Human Rights, Protocol No. 6 to
menyimpulkan adanya pengaruh dari ya ng dis a m p a i ka n oleh Ha k i m the Convention for the Protection
ajaran agama dalam pertimbangan Roestandi mengenai hubungan antara of Human Rights and Fundamental
huk um ya ng dia mbil oleh MK. negara hukum dan hukum Islam. Freedoms Concerning the Abolition
Natalie memahami bahwa agama Hakim Roestandi mengakui fakta of the Death Penalty. MK juga
mem iliki tempat p enting dalam bahwa hukum Islam membolehkan meny impulka n ba hwa inst umen
hukum dan masyarakat Indonesia. ad a nya hu k uma n mat i. Na mun i nt er na sio na l t er s eb u t m emuat
D enga n ada nya Pa nca sila ma ka demikian, dia menyatakan bahwa ketentuan tentang hukuman mati
t id a k d a p at d ipi s a h ka n a nt a ra terdapat perbedaan antara norma dengan batasan-batasan tertentu,
penafsiran hukum dan konstitusi agama yang bersifat internal terkait s ehingga t ida k dapat dikat a ka n
dari perspektif agama. Walaupun dengan motivasi dan niat, dengan b a hwa p eng ha p u s a n hu k u m a n
hukum Islam memiliki p engar uh norma hukum yang bersifat eksternal mati telah menjadi norma hukum
b es ar da la m huk um I ndonesia, terkait dengan pelaksanaan secara yang diterima secara universal oleh
namun Islam tidak menjadi agama lahiriyah. Secara khusus, Hakim masyarakat internasional.
negara ataupun konstitusi negara. Roestandi juga mengatakan bahwa
Sebab, ajaran agama-agama lainnya masyarakat Indonesia sangat pluralistik Dalam p ertimbangan hukumnya,
juga memberikan pengaruh terhadap dan telah membuat kesepakatan MK memosisikan diri untuk menilai
hukum Indonesia. nasional di dalam Pancasila dan apakah penjatuhan hukuman mati
UUD 1945 sebagai hukum tertinggi. merupakan pelanggaran bagi negara
Pandangan Natalie tersebut ditarik Dengan demikian, seharusnya tidak I n d o n e s ia t er ha d a p i n s t r u m en
d ari p er t im ba nga n hu k um MK a d a ko nt ra d i k si a nt a ra hu k u m huk um inter na siona l, k hususnya
ya ng menega ska n ba hwa p osisi Islam yang membolehkan hukuman ICCPR. Walaupun mengakui bahwa
ba ngsa Indonesia terhadap ha k mati dengan hukum sekuler yang semangat dari ICCPR adalah untuk
asasi manusia, khususnya hak untuk melarangnya. menghapuskan hukuman mati, namun

66 | KONSTITUSI Februari 2015


MK berpendapat Pasal 6 ayat (2) foundation of society and cause a yang apabila terpidana berkelakuan
ICCPR menyedia kan r uang bagi danger of incalculable gravity. terpuji dapat diubah dengan pidana
penjatuhan hukuman mati khusus penjara seumur hidup atau selama
terhadap kejahatan-kejatan yang Kemudian, MK berpendapat bahwa 20 tahun;
pa ling s eriu s (the most serious kei k u t s er t a a n I nd onesia d a la m c. pidana mati tidak dapat dijatuhkan
crimes). Selanjutnya, MK menilai Konvensi Narkotika dan Psikotropika, terhadap anak-anak yang belum
apakah kejahatan narkotika yang yang memberikan mandat untuk dewasa;
d a p at di hu k u m d enga n pid a na mengambil langkah nasional secara d. ek s ek u si pida na mat i t er had a p
mati mer upa kan jenis kejahatan keras dalam memberantas kejahatan perempuan hamil dan seseorang
paling serius. Menurut MK, frasa narkotika, memiliki kedudukan lebih ya ng s a k i t ji wa d i t a ngg u h ka n
kejahatan yang paling serius harus tinggi berdasarkan Pasal 38 ayat (1) sampai perempuan hamil tersebut
dibaca juga dengan frasa sesuai Statuta Mahkamah Inter nasional melahirkan dan terpidana yang sakit
dengan hukum yang berlaku pada apabila dibandingkan dengan Komisi jiwa tersebut sembuh.
saat kejahatan itu dilakukan. MK H A M PBB ya ng b er p en d a p at Dengan menganalisa Put usan a
menilai bahwa hukum yang berlaku bahwa kejahatan terhadap obat- quo, terlepa s dari adanya p endapat
pada saat itu di tingkat nasional obatan terlarang tidak termasuk b er b e d a ya ng cu k up k uat, Nat a lie
adalah adalah UU Narkotika dan dalam kejahatan yang paling serius. mempredik si ba hwa Indonesia a ka n
untuk tingkat internasional adalah Terhadap argumentasi ini, Natalie tetap mempertahankan hukuman mati
Konvensi Narkotika dan Psikotropika b er p endapat ba hwa kesimpula n untuk kejahatan narkotika untuk saat ini.
yang telah diratifikasi oleh Indonesia MK cu k u p b er m a s a la h u nt u k Natalie juga berpendapat bahwa Putusan
pada 1997. beberapa alasan. MK dinilainya telah yang diambil MK sangat menarik karena
mengabaikan pendapat dari Komisi mencoba untuk menyeimbangkan antara
Dalam konteks ini, MK merujuk HAM PBB yang termuat di dalam prinsip-prinsip lokal dan kep entingan
pada Pasal 3 ayat (5) dan ayat (6) General Comment 6 yang diadopsi terhadap sistem HAM inter na sional.
serta Pasal 24 Konvensi tersebut pada 1982 dan beberapa laporan Menur utnya, MK ingin membuktikan
yang memuat ketentuan bagi negara negara anggota, di mana penafsiran bahwa negara dapat bertanggung jawab
pihak untuk dapat memaksimalkan secara langsung terhadap most untuk memenuhi kewajibannya dalam
efekt i v i t a s p en ega ka n hu k u m serious crimes merujuk pada ICCPR sistem hukum internasional tanpa harus
terka it t inda k pida na narkot ika dan HAM, sedangkan Konvensi membungkuk (bowing) kepada para
dan psikotropika, termasuk dengan Narkotika dan Psikotropika merujuk abolisionis barat dan kekuatan mantan
m enera pka n la ngka h-la ngla h pada konteks keseriusan kejahatan kolonialis Indonesia.
lebih kera s ya ng da la m ha l ini narkotika secara umum. Putusan ini dinilai oleh Natalie juga
m enu r u t Ma h ka ma h t er ma s u k memperlihatkan bahwa adopsi HAM di
dengan ancaman pidana mati. MK Kesimpulan kawasan Asia Pasifik tidak akan selalu
juga m er ujuk pada Pem buka a n Walaupun MK memutuskan hukuman membawa hasil yang diharapkan atau
Konvensi untuk menyatakan bahwa mati tidak bertentangan dengan UUD dapat diprediksi. Dengan meminjam istilah
pada faktanya kejahatan narkotika 1945, namun dalam kesimpulan akhirnya Harding (2002), Natalie ber pendapat
merupakan kejahatan yang sangat MK berpendapat agar di masa mendatang Putusan a quo telah mendemonstrasikan
serius (particularly serious) dengan dalam rangka pembaharuan hukum pidana b a hwa hu k u m i nt er na sio na l H A M,
menyandingkan antara kejahatan nasional, beberapa hal harus sungguh- s ebaga ima na dip er kena l ka n di A sia
narkotika dengan genosida (genocide sungguh menjadi perhatian, yaitu: Tenggara oleh para kolonis dan imigran, di
crime) da n keja hat a n ter hadap a. pidana mati bukan lagi merupakan satu sisi telah berhasil menemukan tanah
k e m a n u s i a a n ( crimes against pidana pokok, melainkan sebagai yang subur dan berakar, namun di sisi lain
humanity). Sebab, menurut MK, pidana yang bersifat khusus dan juga gagal digunakan untuk tujuan-tujuan
ket iga jen is keja hat a n ter s ebu t alternatif; lokal atau dimodifikasi dalam aplikasi
secara negatif dapat memengaruhi b. pidana mati dapat dijatuhkan dengan praktiknya.
economic, cultural, and political masa percobaan selama sepuluh tahun

Kolom Khazanah Konstitusi merupakan rubrik yang menguraikan hasil penelitian ataupun tulisan ilmiah yang dilakukan oleh
para peneliti di luar Indonesia terkait dengan tema-tema konstitusi. Rubrik ini dimaksudkan untuk mengetahui berbagai pandangan
dan perspektif akademis yang berkembang di luar Indonesia terhadap keberadaan Mahkamah Konstitusi ataupun pelaksanaan sistem
Konstitusi di Indonesia. Tulisan ini juga ditujukan sebagai materi literature review yang dapat digunakan oleh para mahasiswa,
peneliti, ataupun para praktisi hukum konstitusi sebagai bahan referensi akademis ataupun studi lanjutan.
Rubrik ini diasuh oleh Pan Mohamad Faiz Kusuma Wijaya, Peneliti di Mahkamah Konstitusi yang kini tengah menempuh
program PhD di bidang Hukum Tata Negara di School of Law, University of Queensland, sekaligus menjadi Research Scholar
pada Center for International, Public and Comparative Law (CPICL), Australia. Untuk informasi dan korespondensi lebih lanjut,
Penulis dapat dihubungi melalui email: p.wijaya@uq.edu.au.

KONSTITUSI Februari 2015 | 67


kaidah hukum

PENGATURAN PENGELOLAAN LIMBAH B3


Nomor Perkara 18/PUU-XII/2014 tentang Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup

Tanggal Putusan 21 Januri 2015

Kaidah Hukum kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain.


Oleh karena itu, upaya pengendalian dampak tersebut,
Putusan Mahkamah Konstitusi nomor 18/PUU-XII/2014
baik secara preemptif, preventif, maupun represif
mengenai pengujian Undang-Undang Nomor 32 Tahun
harus dikembangkan secara terus menerus seiring
2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
dengan pembangunan dalam rangka meningkatkan
Hidup memuat kaidah hukum baru yakni:
kesejahteraan kehidupan bangsa yang juga
Pengaturan pengelolaan limbah B3 wajib mendapat izin dilaksanakan secara terus menerus. Sejalan dengan
dari pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud itu maka ketentuan bahwa industri penghasil limbah
dalam Pasal 59 ayat (4) Undang-Undang Nomor 32 B3 wajib melakukan pengelolaan dan untuk itu wajib
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan memperoleh izin dari instansi yang berwenang adalah
Lingkungan Hidup yang terkait norma, bahwa tepat secara konstitusional, karena alasan tersebut di
penghasil limbah B3 wajib melakukan pengelolaan atas. Hal tersebut mengandung makna bahwa oleh
limbah B3 yang dihasilkannya sebagaimana dimaksud karena limbah B3 berdampak dapat mengancam
dalam Pasal 59 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 lingkungan hidup, kesehatan, dan kelangsungan hidup
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan manusia serta makhluk hidup lain maka pengelolaan
Lingkungan Hidup. Dengan adanya norma tersebut limbah B3 dilarang dan hanya yang mendapat izin
menjadikan peluang penegak hukum terhadap tindak negara atau pemerintah yang diperbolehkan melakukan
pidana lingkungan hidup dan tindak pidana lain sebagai pengelolaan limbah B3 tersebut. Izin dalam perspektif
pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 32 hukum administrasi negara merupakan salah satu
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan upaya dan strategi negara, dalam hal ini Pemerintah
Lingkungan Hidup berjalan sendiri-sendiri, sehingga atau Pemerintah Daerah, dalam rangka penguasaan
mengabaikan semangat Undang-Undang Nomor 32 atau pengendalian terhadap suatu objek hukum dari
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan kegiatan terhadapnya. Upaya dan strategi dimaksud
Lingkungan Hidup untuk melakukan penegakan dilakukan dengan melarang tanpa izin melakukan
hukum secara terpadu di bawah koordinasi Menteri kegiatan apa pun tehadap objek hukum dimaksud.
Lingkungan Hidup. Dengan demikian, pasal tersebut Izin diberikan kepada pihak tertentu setelah yang
menimbulkan ketidakpastian hukum dan ketidakadilan bersangkutan mengajukan permohonan dengan
sebagaimana dimaksud Pasal 28D ayat (1) UUD disertai syarat-syarat yang ditentukan. Permohonan
Bahwa limbah B3, sebagaimana dipertimbangkan di tersebut kemudian dinilai dan dipertimbangkan oleh
atas adalah limbah yang dihasilkan oleh industri yang pejabat yang berwenang. Manakala permohonan dan
mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3), yang syarat-syaratnya telah memenuhi kualifikasi tertentu
apabila dibuang ke dalam media lingkungan hidup yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan
dapat mengancam lingkungan hidup, kesehatan, dan maka permohonan dikabulkan dan izin diberikan,

68 | KONSTITUSI Februari 2015


Pemohon diperlakukan sama dengan subjek hukum
di dalamnya ditentukan pula adanya syarat-syarat
yang tidak memiliki izin sama sekali. Walaupun demikian
tertentu yang harus dipenuhi oleh pemegang izin.
tidak berarti subjek hukum tersebut boleh melepaskan
Syarat-syarat yang terakhir tersebut sesungguhnya
kewajibannya untuk terus mengurus perpanjangan
merupakan hal atau kegiatan guna mewujudkan
izinnya. Terlebih lagi apabila hasil pengawasan terakhir
keadaan yang dikehendaki oleh negara. Oleh karena itu,
oleh instansi atau pejabat yang berwenang setelah izin
apabila dalam pelaksanaannya syarat-syarat tersebut
tersebut berakhir tidak terdapat pelanggaran terhadap
tidak diselenggarakan dengan sebaik-baiknya, negara
syarat-syarat pengelolaan limbah B3 yang ditentukan
dapat mencabut izin tersebut atau apabila di dalamnya
dalam pemberian izin. Pertimbangan lain terkait dengan
terdapat unsur kriminal maka selain dicabutnya izin,
anggapan hukum demikian adalah karena keadaan
negara dapat menyidik, menuntut, bahkan menjatuhkan
tersebut adalah keadaan transisional, izin yang baru
pidana sesuai dengan mekanisme dan prosedur yang
belum terbit dan izin lama secara formal telah tidak
tersedia menurut hukum. Dengan demikian, secara
berlaku adalahsuatu keadaan anomali, ada hal terkait
hukum dengan instrumen izin tersebut negara masih
dengan objek hukum dalam permasalahan tersebut
memiliki kekuasaan yang sangat besar terhadap
adalah limbah B3, limbah yang dapat berdampak
objek hukumnya dan dengan demikian pula maka
buruk dan mengancam kelestarian lingkungan hidup,
fungsi pengendalian negara terhadap kegiatan yang
kesehatan, dan kelangsungan hidup manusia serta
dilakukan terhadap objek dimaksud secara rasional
makhluk hidup lain. Disamping itu, karena subjek
diharapkan dapat berlangsung secara efektif. Oleh
hukum tersebut adalah juga yang memproduksi
karena itu, sepanjang mengenai kewajiban pengelolaan
limbah B3 maka menurut hukum adalah kewajibannya
limbah B3 bagi yang menghasilkannya dan kewajiban
untuk mengelola limbah yang apabila tidak dilakukan
pengelolaan limbah B3 dengan mendapatkan izin
akan dapat merusak kelestarian lingkungan hidup dan
adalah wajar dan semestinya. Namun demikian,
dapat diancam dengan pidana. Apabila pengelolaan
permasalahannya adalah apakah orang atau subjek
limbah B3 tersebut dihentikan dampaknya akan
hukum penghasil limbah B3 yang sedang mengurus izin
sungguh-sungguh menjadi realitas yang merugikan,
atau sedang mengurus perpanjangan izin pengelolaan
baik bagi perusahaan maupun masyarakat dan
limbah B3 secara hukum dianggap telah memperoleh
negara. Hal tersebut benar-benar akan menjadi
izin, sehingga secara hukum pula dapat melakukan
permasalahan serius apabila tidak segera terbitnya
pengelolaan limbah B3. Terhadap permasalahan
izin pengelolaannya justru karena lambatnya birokrasi
tersebut, menurut Mahkamah, bahwa untuk subjek
pemerintahan.
hukum yang belum memperoleh izin maka ketika yang
bersangkutan mengajukan permohonan izin dan proses Bahwa Pasal 95 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32
pengurusan memperoleh izin sedang berlangsung Tahun 2009 menyatakan, Dalam rangka penegakan
maka hal demikian tidak dapat secara hukum dianggap hukum terhadap pelaku tindak pidana lingkungan
telah memperoleh izin dan oleh karena itu tidak dapat hidup, dapat dilakukan penegakan hukum terpadu
melakukan pengelolaan limbah B3. Adapun untuk antara penyidik pegawai negeri sipil, kepolisian, dan
subjek hukum yang telah memperoleh izin akan tetapi kejaksaan di bawah koordinasi Menteri. Frasa dapat
izinnya tersebut telah berakhir maka ketika yang menjadi suatu kebijakan pilihan dalam melakukan
bersangkutan mengajukan permohonan perpanjangan koordinasi penegakan hukum tersebut, sehingga
izin sesuai dangan peraturan perundang-undangan dalam praktiknya berjalan sendiri-sendiri. Selain itu,
dan pengurusan izinnya sedang dalam proses, hal Pemohon mengajukan permohonan konstitusionalitas
tersebut secara formal memang belum mendapat izin, norma yang menjadi materi muatan pada frasa tindak
namun secara materiil sesungguhnya harus dianggap pidana lingkungan hidup, yang seharusnya termasuk
telah memperoleh izin. Apalagi terlambat keluarnya tindak pidana lain sebagai pelanggaran terhadap
izin tersebut bukan karena faktor kesalahan dari pihak Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
yang mengajukan perpanjangan izin maka tidak layak Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

KONSTITUSI Februari 2015 | 69


kaidah hukum
supaya sesuai dengan semangat Undang-Undang Tindak pidana yang bersumber dari Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup. Bahwa dalam rangka Pengelolaan Lingkungan Hidup tidak saja tindak
memberikan perlindungan hukum terhadap masyarakat pidana lingkungan hidup, tetapi juga tindak pidana
dan lingkungan hidupnya Undang-Undang Nomor 32 lainnya. Mahkamah menilai tujuan dari hukum
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan acara pidana, antara lain, adalah untuk memberikan
Lingkungan Hidup, sebagaimana dipertimbangkan di perlindungan terhadap hak-hak asasi warga negara
atas, mendayagunakan berbagai ketentuan hukum, dari kesewenang-wenangan negara dalam penegakan
baik hukum administrasi, hukum perdata, maupun hukum. Oleh karena penegakan hukum terpadu yang
hukum pidana adalah suatu keharusan. Oleh karena diatur dalam Undang-Undang a quo hanya terhadap
itu, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009, antara tindak pidana lingkungan hidup, padahal dapat saja
lain, dalam penegakan hukum pidana lingkungan tindak pidana lain, seperti tindak pidana korupsi,
mempergunakan keterpaduan penegakan hukum terjadi sebagai akibat pelanggaran terhadap Undang-
pidana dengan tetap memperhatikan asas ultimum Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
remedium yang mewajibkan penerapan penegakan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup maka adalah
hukum pidana sebagai upaya terakhir setelah tidak adil jika penegakan hukum terpadu tersebut
penerapan penegakan hukum administrasi dianggap hanya mengenai tindak pidana lingkungan hidup, tidak
tidak berhasil. Penerapan asas ultimum remedium mencakup tindak pidana lainnya.
ini hanya berlaku bagi tindak pidana formil tertentu,
Intan Permata Putri
yaitu pemidanaan terhadap pelanggaran baku mutu
air limbah, emisi, dan gangguan. Bahwa berdasarkan
pertimbangan tersebut, pelanggaran terhadap
hukum lingkungan adalah tidak bersifat tunggal,
karena di dalamnya terdapat pelanggaran hukum
yang bersifat administratif, perdata, maupun pidana.
Keluarga Besar MK Mengucapkan
Selain itu pelanggaran tersebut juga terkait dengan
Selamat atas Kelahiran
permasalahan sosial dan ekonomi atau kesejahteraan
yang diamanatkan oleh Pasal 33 UUD 1945. Oleh karena
itu koordinasi dalam penegakan hukum lingkungan Dewendra Attar Yudhistira
menjadi suatu yang niscaya. Keniscayaan koordinasi (Laki-Laki)
tersebut didasarkan pada fakta tentang dampak buruk Lahir : Depok, 12 Februari 2015
limbah B3 sebagaimana dipertimbangkan di atas.
Menggeneralisasi pelanggaran hukum lingkungan Putera Kedua
yang tidak tunggal sebagai suatu kejahatan juga Lutfi Yudhistira
sebagai tindakan ketidakadilan. Untuk itu forum (Pengelola Keprotokolan)
koordinasi memastikan kategori pelanggaran terhadap dan
hukum lingkungan tersebut. Dengan koordinasi, Rizqa Permana
ketidakpastian hukum dan ketidakadilan dapat dihindari
dan bersamaan dengan itu terdapat peluang untuk Semoga menjadi anak yang
mewujudkannya. Berdasarkan pertimbangan hukum Shaleh, taat beragama dan
tersebut permohonan pengujian konstitusionalitas berbakti kepada kedua orang tua
norma dalam Pasal 95 ayat (1) Undang-Undang Nomor
32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup beralasan menurut hukum, yaitu
mengenai norma yang terdapat dalam kata dapat.

70 | KONSTITUSI Februari 2015


Tak Semua Kalangan
Kenal Nama Pejabat
Lembaga Negara.

S
iapa bilang semua kalangan masyarakat mengenali
nama nama pejabat lembaga negara. Mungkin
masyarakat juga belum tentu tahu nama Presiden
kita yang benar, biasa akrab dipanggil Jokowi,
tetapi banyakan mereka masyarakat dari anak SD, SMP,
belum tentu tahu. Oleh karena itu, peran guru atau pengajar
sangat penting untuk membimbing dan memberitahu serta
mengenal siapa saja nama-nama pejabat lembaga negara

Pemborong Perkara di Indonesia. Mulai dari Presiden, Wakil Presiden, hingga

D
seluruh menteri kabinet kerja.
Hal ini juga dibuktikan dengan adanya salah sebut
alam ketentuan beracara di Mahkamah Konstitusi
oleh para siswa SMP Citra Kencana Bekasi yang pada saat
yang tercantum dalam Bab II Pasal 3 Peraturan
berkunjung ke MK, pada Rabu (4/2) lalu. Dimana mereka
Mahkamah Konstitusi (PMK), memang tidak ada di beri pertanyaan, siapakah Ketua Mahkamah Konstitusi
larangan bagi warga negara untuk mengajukan saat ini, ujar Wiryanto Kepala Bidang Penelitian, Pengka-
suatu perkara ke Mahkamah Konstitusi. Seperti Pemohon jian Perkara dan Perpustakaan Mahkamah Konstitusi. Para
yang satu ini, Fathul Hadie Ustman. Ia mengajukan perkara siswa berebut menjawab Arief Windarto. Salah kata
ke Mahkamah Konstitusi tidak hanya satu perkara saja, wiryanto, Namanya itu Prof. Arief Hidayat, bukan Arief
melainkan ia langsung menggugat pengujian Undang-Undang Windarto, jelasnya sambil tersenyum.
baik formil maupun materiil sebanyak tujuh perkara.
Inilah contoh kecil bagaimana anak-anak kurang men-
Mungkin hal tersebut masih terbilang biasa saja
genal nama-nama pejabat lembaga negara Indonesia. Oleh
bagi para advokat atau pakar hukum Indonesia. Tetapi
karena itu, sekali lagi, peran guru atau pengajar, bahkan
Fathul, mengajukan 7 perkara tersebut dalam dua hari
orangtua sangatlah penting. Mungkin sepele dianggapnya,
berturut-turut. Pada sidang pengujian Undang-Undang tetapi itu penting juga.
Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas), Rabu (28/01)
lalu. Hakim Konstitusi I Dewa Gede Palguna mengatakan panji erawan

bahwa baru kali ini ada Pemohon sekaligus Kuasa Hukum


yang mengajukan perkara ke MK sekaligus 7 perkara.
Pak Fathul Hadie ini mirip pemborong ya, hari
ini saja sudah tiga perkara yang diajukan. Sementara
kemarin, bapak sudah mengajukan empat perkara. Saya
pikir orang Padang saja yang bilang, Tambo ciek. Rupa-
nya Bapak juga tambah-tambah terus, ya, ujar Palguna
dalam sidang perkara No. 11/PUU-XIII/2015.

Mendengar pernyataan tersebut, terlihat dalam ru-


ang sidang yakni Hakim Konstitusi lainnya serta Pemohon
sendiri tersenyum.

Panji Erawan

KONSTITUSI Februari 2015 | 71


Kamus hukum

RECHTSVINDING

P
enemua n huk um penegak hukum lainnya, serta penemuan at a s p ert a nyaa n-p ert a nyaa n tent a ng
(rechtsvinding) pada hukum yang dilakukan oleh lembaga/ hukum yang ditimbulkan oleh kejadian-
dasarnya merupakan pejabat pembentuk peraturan perundang- kejadian konkret.
bagian dari praktek undangan. Titik berat penemuan hukum Dalam berbagai kesempatan, hakim
hukum yang memiliki pada seorang hakim justru dikarenakan akan dihadapkan kepada keadaan harus
wilayah kerja ia sebagai pejabat yang diberi amanah mengadili suat u p erkara ya ng t ida k
y a n g s a n ga t l u a s mulia untuk memeriksa, memutus, dan memiliki dasar hukum atau pengaturan
cakupannya. Bersandar pada kenyataan mengadili suatu perkara yang dihadapkan hukumnya tidak jelas. Namun demikian,
empiris bahwa norma hukum positif tidak kepadanya. Atas nama otoritas publik, ha k i m t id a k d a p at m enola k u nt u k
sepenuhnya mengatur secara lengkap dan ia diberi legitimasi untuk mengambil mengadili perkara tersebut dengan dalih
jelas atau bahkan sudah tidak relevan keputusan berdasarkan kebenaran dan tidak ada hukum yang mengatur atau
dengan zaman (out of date), penemuan nurani. Hasil penemuan hukum oleh hakim p engaturannya kabur. Hal ini sejalan
hukum menjadi sebuah kebutuhan. Oleh itu merupakan hukum karena mempunyai dengan asas ius curia novit sebagaimana
karena bermanfaat bagi pengembangan kekuatan mengikat sebagai hukum yang pernah dibahas dalam Majalah Konstitusi
keilmuan hukum itu sendiri, penemuan dituangkan dalam bentuk putusan. edisi Desemb er 2010, bahwa hakim
hukum dan ilmu hukum saling bertalian Penemuan hukum (rechtsvinding), dianggap tahu hukum atau the court
satu sama lain. Sebagaimana diungkapkan menurut Sudikno Mertokusumo, adalah knows the law.
Sudikno Mertokusumo dalam bukunya proses pembentukan hukum oleh hakim Peluang hakim untuk menemukan
yang berjudul Penemuan Hukum (2010), atau aparat hukum lainnya yang ditugaskan hukum dapat dilihat dalam Pasal 20
praktek hukum memerlukan landasan untuk menerapkan peraturan hukum umum dan Pasal 22 Algemene Bepalingen van
teoritis dari ilmu hukum dan sebaliknya pada peristiwa hukum konkret. Mengutip Wetgeving (AB) yang berlaku di masa
ilmu hukum memerlukan materialnya dari Eika Holmes, lebih lanjut diungkapkan kolonia l Hindia Bela nda. Ketent ua n
praktek hukum. bahwa penemuan hukum adalah proses tersebut kemudian diadopsi ke dalam
Penemuan hukum (rechtsvinding) konkretisasi atau individualisasi peraturan UU Nomor 14 Tahun 1970 dan UU
pertama-tama merupakan tugas seorang hukum ya ng b ersifat umum denga n Nomor 4 Ta hun 20 04. Berda sarkan
hakim. Namun demikian, hal tersebut mengingat peritiwa konk ret tertentu. hukum positif saat ini, ketentuan serupa
m ena f i ka n p en emua n hu k u m ya ng Senada dengan pendapat tersebut, JA. termaktub dalam Pasal 10 ayat (1) UU
dilakukan oleh perorangan, baik sebagai Pontier mengemukakan bahwa penemuan Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
p eneliti, advokat, ja k sa, dan aparat hukum diarahkan pada pemberian jawaban Kehakiman yang menyatakan, Pengadilan

72 | KONSTITUSI Februari 2015


dilara ng menola k unt uk memerik sa, Pemisahan keduanya cenderung dilihat Interpretation, Equitable Interpretation,
mengadili, dan memutus suatu perkara dari ada atau tidaknya norma hukum yang dan Natural Interpretation.
yang diajukan dengan dalih bahwa hukum mengatur tentang suatu peristiwa hukum. Di samping menggunakan metode
tidak ada atau kurang jelas, melainkan Metode p enafsira n atau inter preta si p enafsira n, upaya p enemua n hukum
wajib untuk memeriksa dan mengadilinya. hukum dilakukan dalam hal pengaturannya oleh hakim juga dapat dilakukan dengan
Manakala kondisi ketiadaan hukum yang ada, namun tidak atau kurang jelas untuk metode konst r uk si hukum. Bia sanya
mengatur atau tidak jelas pengaturannya dapat diterapkan pada peristiwa konkret. a d a 4 (em p at) m eto d e ko n s t r u k si
benar-benar terjadi, berdasarkan Pasal Sedangkan metode konstruksi hukum hukum yang biasa digunakan oleh para
5 ayat (1) UU Nomor 48 Tahun 2009, dilakukan dalam hal peraturannya tidak hakim, yaitu metode argumentum per
Hakim dan Hakim Konstitusi wajib ada, sehingga terdapat kekosongan hukum analogiam, m et o d e argumentum a
menggali, mengikuti, dan memahami (rechtsvacuum atau wet vacuum). contrario, metode p enyempitan atau
nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang Setiap aturan perundang-undangan penghalusan hukum (rechtsverfijning),
hidup dalam masyarakat. Ketentuan ini t er t u l i s m em b u t u h ka n i nt er p r et a si dan fiksi hukum. Metode argumentum
dimaksudkan agar putusan hakim dan (Elke geschreven weygeving behoeft per analogiam (A nalogi) mer upa ka n
hakim konstitusi sesuai dengan hukum interpretatie), dem ikian diungkapkan salah satu jenis konstruksi hukum yang
dan rasa keadilan masyarakat. Atas dasar van Bemmelen dan van Hattum. Dalam digunakan dalam perkara perdata, namun
itulah seorang hakim dan hakim konstitusi perkembangannya, jenis atau metode seringkali menimbulkan polemik dalam
harus terjun ke tengah-tengah masyarakat penafsiran yang digunakan dalam ilmu perkara pidana karena terikat asas nullum
untuk mengenal, merasakan dan mampu hukum cukup banyak. Beberapa jenis crimen sine lege. Metode argumentum a
menyelami perasaan hukum dan rasa penafsiran yang sering digunakan oleh contrario diterapkan jika suatu peraturan
keadilan yang hidup dalam masyarakat. hakim, antara lain interpretasi gramatikal, m enet a pka n ha l-ha l t er t ent u unt uk
Menyitir pendapat PJ. Fitzgerald, sis t emat is, his toris, s o siolog is at au peristiwa tertentu, maka peraturan itu
Satjipto Ra hardjo da la m buk u Ilmu teleologis, komparatif, dan futuristis. terbatas diterapkan pada untuk peristiwa
Hukum (2006) mengemukakan bahwa Namun demikian, para pakar mencoba tersebut dan untuk peristiwa di luarnya
sa la h sat u sifat ya ng melekat pada memberikan pandangan yang berbeda berlaku kebalikannya. Jika suatu peraturan
perundang-undangan atau hukum tertulis terkait hal ini. Jimly Asshiddiqie (1997) mencakup ruang lingkup yang terlalu
adala h sifat otoritatif dari r umusan- menguraikan ada 9 (sembilan) teori umum atau luas, maka perlu dilakukan
rumusan peraturannya. Pengutaraan dalam p ena fsi ra n, ya it u: Te o ri Pena fsi ra n dip ers empit unt uk dapat diterapka n
bentuk tulisan atau litera scripta itu Letterlijk atau harfiah, Teori Penafsiran terhadap p eristiwa konk ret tertent u
sesungguhnya hanyalah bentuk saja dari Gramatikal, Teori Penafsiran Historis, Teori (rechtsverfijning). Sedangkan fiksi hukum
usaha untuk menyampaikan sesuatu ide Penafsiran Sosiologis, Penafsiran Sosio- merupakan metode penemuan hukum
atau pikiran yang hendak dikemukakan, historis, Penafsiran Filosofis, Penafsiran dengan mengemukakan fakta-fakta baru
atau semangat dari suatu peraturan. Teleologis, Teori Penafsiran Holistik, sehingga muncul personifikasi baru.
Usa ha unt uk menggali semangat it u Penafsiran Holistik Tematis-sistematis. Sekalipun cukup banyak jenisnya,
dengan sendirinya merupakan bagian dari Ronald Dworkin yang mengidentifikasi 6 namun tidak ada ketentuan baku yang
keharusan yang melekat khusus pada (enam) model interpretasi, yakni Creative menentukan metode mana yang harus
hukum perundang-undangan yang bersifat Interpretation, Artistic Interpretation, digunakan oleh hakim untuk menggali
tertulis. Usaha tersebut akan dilakukan Social Interpretation, Constructive d a n m en emu ka n n i la i- n i la i hu k u m
oleh kekuasaan pengadilan dalam bentuk Interpretation, Literal Interpretation, dan serta rasa keadilan yang hidup dalam
interpretasi atau konstruksi. Interpretasi Conversational Interpretation. Sedangkan masyarakat. Dalam praktek peradilan,
atau konstruksi ini adalah suatu proses Jon Roland dalam tulisannya Principles berbagai metode penafsiran tersebut
yang ditempuh oleh pengadilan dalam of Constitutional Interpretation, secara sering digunakan secara bersama-sama,
rangka mendapatkan kepastian mengenai lebih spesifik mengemukakan 7 (tujuh) sehingga batasan-batasannya tidak dapat
arti dari hukum perundang-undangan. prinsip yang digunakan dalam penafsiran dipisahkan dengan jelas. Kombinasi dari
Dua cara yang lazim dipergunakan konstit usi. Ket ujuh prinsip ters ebut, berbagai metode penafsiran justru akan
hakim dalam menemukan hukum, yakni meliputi: Textual Interpretation, Historical semakin menjernihkan pandangan hakim
dengan metode penafsiran atau interpretasi Interpretation, Functional Interpretation, dan diperoleh hasil yang memuaskan.
Alboin Pasaribu
hukum, dan metode konstruksi hukum. Doctrinal Interpretation, Prudential

KONSTITUSI Februari 2015 | 73


Catatan MK

Sekretaris Jenderal MK Janedjri M. Gaffar

Uji Publik dalam Pilkada

P
erat u ra n Pem erint a h Salah satu di antaranya adanya tahapan dilaksanakan oleh panitia yang bersifat
P e n gga n t i U n d a n g - uji publik sebagai persyaratan yang harus ma ndiri ya ng dib ent uk oleh kom isi
Undang Nomor 1 Tahun dilalui oleh setiap orang yang akan menjadi pemilihan umum provinsi atau kabupaten/
2014 tentang Pemilihan calon kepala daerah. Namun demikian, uji kota. Tujuan uji publik menurut penjelasan
Gubernur, Bupati, dan publik tidak bersifat menggugurkan. Uji umum Perppu adalah untuk menciptakan
Wa l i Kot a ( Per pp u) publik dilaksanakan sebelum pendaftaran kualitas kepala daerah yang memiliki
telah disetujui oleh DPR. Walaupun belum calon kepala daerah. kompetensi, integritas, kapabilitas, serta
disahkan sebagai undang-undang (UU) Setiap orang yang mengikuti uji memenuhi unsur akseptabilitas.
oleh Presiden hingga tulisan ini dibuat, publik akan mendapatkan surat keterangan Ka pa bilit a s suda h t era ngk um
secara konstitusional Per ppu tersebut telah mengikuti uji publik. Surat ini menjadi dalam unsur komp etensi yang tela h
sudah pasti akan menjadi landasan hukum salah satu persyaratan pada saat mendaftar ditegaskan dalam ketentuan umum. Karena
penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. sebagai calon kepala daerah. Artinya, uji itu, tujuan uji publik sesungguhnya meliputi
Paling lambat 30 hari setelah persetujuan publik tidak bersifat menggugurkan, tidak tiga aspek, yaitu kompetensi, integritas,
DPR, Perppu itu dengan sendirinya akan ada pernyataan lulus atau tidak lulus uji dan akseptabilitas.
menjadi UU. Bahkan, DPR pun saat ini publik. Terdapat beberapa hal penting di
telah membahas perubahan yang akan dalam ketentuan umum Perppu Pemilihan Manfaat Uji Publik
dilakukan terhadap Perppu yang telah Kepala Daerah tentang uji publik. Ada nya meka nisme uji publik
disetujui. Pertama, uji publik merupakan setidaknya memberikan tiga manfaat
Terdapat perubahan mendasar di pengujian kompetensi dan penting dalam proses pemilihan kepala
dalam Perppu Pemilihan Kepala Daerah, integritas. Kedua, uji publik dilaksanakan daerah. Pertama, uji publik merupakan
jika dibandingkan ketentuan sebelumnya. s e c a ra t er b u ka. Ket iga, uji p u bl i k bagia n d ari pro s es s elek si int er na l

74 | KONSTITUSI Februari 2015


partai politik yang melibatkan partisipasi
masyarakat. Hal ini memiliki arti penting
bagi proses demokratisasi internal partai
mela kuka n p engujia n adala h publik,
bukan panitia. Tugas panitia hanyalah
menjalankan tahapan, mengeksplorasi
,,
Mekanisme uji publik
politik yang selama ini di beberapa daerah bakal calon, dan memastikan adanya
harus memosisikan
sangat kuat dengan karakter oligarki. partisipasi publik. Panitia tidak memberikan
Penentuan calon tidak lagi hanya penilaian terhadap calon. Publiklah yang pihak yang melakukan
oleh internal partai politik yang kadang memberikan penilaian. pengujian adalah
terdistorsi oleh hubungan politik praktis, Ta nt a nga n nya d i s i n i a d a la h publik, bukan panitia.
tetapi juga harus memperhatikan kualitas bagaimana penilaian publik itu dapat
Tugas panitia hanyalah
dan integritas calon yang akan diuji oleh diketahui atau diukur terutama oleh parpol
menjalankan tahapan,
publik. Agar manfaat ini dapat diperoleh, yang mengajukan. Tanpa adanya alat ukur
sudah sewajarnya partai politik mengajukan ini uji publik dapat kehilangan makna. mengeksplorasi bakal
lebih dari satu calon untuk mengikuti Mekanisme uji publik juga harus mampu calon, dan memastikan
uji publik. Dengan adanya lebih dari menunjukkan kepada publik kapasitas adanya partisipasi publik.
satu calon, masyarakat juga akan dapat dan integritas calon. Untuk mengetahui
Panitia tidak memberikan
menilai apakah partai memerhatikan atau kapa sit a s da n integrit a s dapat s aja

,,
mengesampingkan proses uji publik. dilakukan melalui ujian tertentu yang akan penilaian terhadap
Kedua, uji publik dapat ditempatkan menghasilkan nilai kuantitatif tertentu. calon. Publiklah yang
sebagai bagian dari kampanye calon Namun jika hal ini dilakukan, berarti memberikan penilaian.
yang objektif. Semua calon memiliki penilaian telah dilakukan oleh panitia
kes em p at a n ya ng lebih lua s unt u k dan akan menghasilkan peringkat bakal
menunjukkan kapasitas dan integritasnya calon berdasarkan nilai yang diperoleh. s et ia p c a lo n d a p at m enya m p a i ka n
agar dapat meyakinkan partai pengusung Karena itu, cara untuk menunjukkan kapasitas dan integritasnya serta panitia
serta pemilih. kepada publik bagaimana kapasitas dan melakukan pendalaman dan klarifikasi
Ketiga, melalui uji publik, terdapat integritas bakal calon adalah melalui berdasarkan masukan dan informasi dari
perluasan partisipasi masyarakat dalam rekam jeja k dan for um tanya-jawab masyarakat.
proses pemilihan kepala daerah. Jika secara terbuka. Persoalannya kemudian Hasil dari semua proses tersebut,
sebelumnya masyarakat tidak memiliki kembali pada bagaimana penilaian publik baik dari rekam jejak, informasi masyarakat,
peran menentukan calon yang diusung dapat diketahui dan diukur setelah publik maupun dari forum dialog, diumumkan
oleh partai politik, melalui uji publik suara mengetahui rekam jejak dan mengikuti kepada publik dan disampaikan kepada
masyarakat sedikit banyak akan ikut forum dialog. parpol pengusul atau calon perseorangan
menentukan keputusan partai. Untuk mencapai tujuan uji publik dengan harapan dapat menjadi instrumen
dan menjawab permasalahan yang muncul, untuk mengetahui penilaian publik.
Mekanisme Uji Publik mekanisme uji publik dapat dilakukan Kunci keberhasilan uji publik ada
Sa la h s at u kelema ha n d a la m dalam tiga tahapan. Pertama, semua pada dua hal. Pertama, keseriusan parpol
Perppu adalah tidak mengatur mekanisme ba ka l ca lon m enya mpa ika n riwayat pengusul memanfaatkan uji publik sebagai
uji publik secara detail. Ketentuan Pasal hidup yang memuat rekam jejak. Panitia bagian dari seleksi internal. Misalnya,
38 Perppu hanya menentukan bahwa m eng u mum ka n s e cara lua s riwayat parpol dapat melakukan survei mandiri
setiap WNI yang mendaftar sebagai bakal hidup dan rekam jejak kepada seluruh terhadap bakal calon yang diajukan setelah
calon kepala daerah wajib mengikuti uji masyarakat. adanya uji publik untuk mengetahui calon
publik. Parpol atau gabungan parpol dapat Kedua, masyarakat dipersilakan mana yang lebih diterima oleh masyarakat.
mengusulkan lebih dari satu bakal calon memb erikan ma sukan dan infor ma si Kedua, tingkat partisipasi publik. Tanpa
untuk mengikuti uji publik. terkait dengan rekam jejak kapasitas adanya partisipasi publik, tidak akan
Setiap bakal calon yang mengikuti dan integritas bakal calon. Masukan diketahui kapasitas dan integritas calon,
uji publik mendapatkan surat keterangan dan informasi dari masyarakat ini juga dan pengambilan keputusan kembali milik
telah mengikuti uji publik. Mekanisme diumum kan kepada masyarakat luas. sepenuhnya partai politik.
uji publik harus memosisikan pihak yang Ketiga, dibuat forum terbuka di mana Tulisan ini pernah dimuat di Koran Sindo.

KONSTITUSI Februari 2015 | 75


MELALUI
VIDEO CONFERENCE
MAHKAMAH KONSTITUSI
MEMBUKA AKSES PADA PERADILAN
Fakultas Hukum Fakultas Hukum Fakultas Hukum Fakultas Hukum
1 Universitas Syiah Kuala 12 Universitas Padjadjaran 23 Universitas Nusa Cendana 34 Universitas Cendrawasih
Banda Aceh Bandung Kupang Jayapura
Fakultas Hukum Fakultas Hukum Fakultas Hukum Fakultas Hukum
2 Universitas Malikussaleh 13 Universitas Diponegoro 24 Universitas Tanjungpura dan Ilmu Sosial
35
Lhokseumawe Semarang Pontianak Universitas Bangka Belitung
Bangka
Fakultas Hukum Fakultas Hukum Fakultas Hukum
3 Universitas Sumatera Utara Universitas 25 Universitas Palangkaraya Universitas Batam
14 36
Medan Jenderal Soedirman Palangkaraya Batam
Purwokerto
Fakultas Hukum Fakultas Hukum Fakultas Hukum
4 Universitas Andalas Fakultas Hukum 26 Universitas Mulawarman 37 Universitas Negeri Gorontalo
Padang 15 Universitas Sebelas Maret Samarinda Gorontalo
Surakarta
Fakultas Hukum Fakultas Hukum Universitas Al Asyariah
5 Universitas Jambi Fakultas Hukum Universitas 38 Mandar
27
Jambi 16 Universitas Gajah Mada Lambung Mangkurat Polewali
Yogyakarta Banjarmasin
Fakultas Hukum Universitas Negeri Papua
39
6 Universitas Riau Fakultas Hukum Fakultas Hukum Manokwari
Pekanbaru 17 Universitas Airlangga 28 Universitas Hasanuddin
Universitas Musamus
Surabaya Makassar 40
Fakultas Hukum Merauke
7 Universitas Sriwijaya Fakultas Hukum Fakultas Hukum
Universitas Borneo
Palembang 18 Universitas Brawijaya 29 Universitas Tadulako 41
Tarakan
Malang Palu
Fakultas Hukum
Universitas Pancasakti
8 Universitas Bengkulu Fakultas Hukum Fakultas Hukum 42
Tegal
Bengkulu 19 Universitas Jember 30 Universitas Haluoleo
Jember Kendari
Fakultas Hukum
9 Universitas Lampung Fakultas Hukum Fakultas Hukum
Bandar Lampung 20 Universitas Trunojoyo 31 Universitas Sam Ratulangi
Bangkalan Manado
Fakultas Hukum
Universitas Fakultas Hukum Fakultas Hukum
10
Sultan Ageng Tirtayasa 21 Universitas Udayana 32 Universitas Pattimura
Serang Denpasar Ambon
Fakultas Hukum Fakultas Hukum Fakultas Hukum
11 Universitas Indonesia 22 Universitas Mataram 33 Universitas Khairun
Depok Mataram Ternate

Informasi Penggunaan Video Conference dapat menghubungi Bidang Teknologi Informasi MK


76Gedung Mahkamah Konstitusi Lantai 5 - Jl. Medan Merdeka Barat No.6 Telp. 021-23529000 ext. 18112
| KONSTITUSI Februari 2015
KONSTITUSI Februari 2015 | 77
78 | KONSTITUSI Februari 2015