Anda di halaman 1dari 9

Komponen Kimia Kayu

Komponen kimia kayu di dalam kayu mempunyai arti yang penting, karena menentukan
kegunaan sesuatu jenis kayu. Juga dengan mengetahuinya, kita dapat membedakan jenis-
jenis kayu. Susunan kimia kayu digunakan sebagai pengenal ketahanan kayu terhadap
serangan makhluk perusak kayu. Selain itu dapat pula menentukan pengerjaan dan
pengolahan kayu, sehingga didapat hasil yang maksimal. Pada umumnya komponen kimia
kayu daun lebar dan kayu daun jarum terdiri dari 3 unsur (Novianto, 2009) :

Unsur karbohidrat terdiri dari selulosa dan hemiselulosa


Unsur non- karbohidrat terdiri dari lignin
Unsur yang diendapkan dalam kayu selama proses pertumbuhan dinamakan zat
ekstraktif (Novianto, 2009).
Distribusi komponen kimia tersebut dalam dinding sel kayu tidak merata. Kadar selulosa dan
hemiselulosa banyak terdapat dalam dinding sekunder. Sedangkan lignin banyak terdapat
dalam dinding primer dan lamella tengah. Zat ekstraktif terdapat di luar dinding sel kayu
(Novianto, 2009).

Komponen penyusun dinding sel adalah komponen kimia yang menyatu dalam dinding sel.
Tersusun atas banyak komponen yang tergabung dalam karbohidrat dan lignin. Karbohidrat
yang telah terbebas dari lignin dan ekstraktif disebut holoselulosa. Holoselulosa sebagian
besar tersusun atas selulosa dan hemiselulosa. Selulosa merupakan komponen terbesar dan
paling bermanfaat dari kayu. Jumlah zat selulosa mayoritas 40 %, hemiselulosa sekitar 23%
dan lignin kurang dari 34 % (Batubara, 2002).

1. Selulosa

Selulosa merupakan komponen utama penyusun dinding sel tanaman dan hampir tidak
pernah ditemui dalam keadaan murni di alam melainkan berkaitan dengan lignin dan
hemiselulosa membentuk lignoselulosa (Lynd et al., 2002). Ditambahkan oleh Lee et al.
(2009) yang menerangkan bahwa Selulosa adalah polimer dari rantai unit -D-1-4
anhidroglukosa (C6H12O6)n, sebanyak 40-60 % yang terdapat dalam dinding sel pada
tumbuhan berkayu. Beberapa ciri-ciri dari struktur selulosa yang berdasarkan pada
karakteristik kimia yang dimiliki adalah dapat mengembang dalam air, berbentuk kristalin,
adanya kelompok fungsional yang spesifik dan dapat bereaksi dengan enzim selulolitik
(Sierra et al., 2007).
Selulosa sangat erat berasosiasi dengan hemiselulosa dan lignin dalam lignoselulosa.
Selulosa merupakan komponen utama penyusun dinding sel tanaman. Kandungan selulosa
pada dinding sel tanaman tingkat tinggi sekitar 35-50 % dari berat kering tanaman (Lynd et
al., 2002).
Selulosa merupakan polimer glukosa dengan ikatan -1,4 glukosida dalam rantai lurus.
Bangun dasar selulosa berupa suatu selobiosa yaitu dimer dari glukosa. Selulosa terdiri atas
15-14.000 unit molekul glukosa Rantai panjang selulosa terhubung secara bersama melalui
ikatan hidrogen dan gaya van der Waals (Coughlan, 1989). Panjang molekul selulosa
ditentukan oleh jumlah unit glukan di dalam polimer, disebut dengan derajat polimerisasi.
Derajat polimerasi (DP) selulosa tergantung pada jenis tanaman dan umumnya dalam kisaran
2.000-27.000 unit glukan. Selulosa terdiri dari daerah kristalin dan daerah amorf (non-
kristalin) yang membentuk suatu struktur dengan kekuatan tegangan tinggi, yang pada
umumnya tahan terhadap hidrolisis enzimatik terutama pada daerah kristalin. Selulosa tidak
larut dalam air dingin maupun air panas serta asam panas dan alkali panas.

Ikatan -1,4 glukosida pada serat selulosa dapat dipecah menjadi monomer glukosa dengan
cara hidrolisis asam atau enzimatis. Selanjutnya glukosa yang dihasilkan dapat difermentasi
menjadi etanol.

2. Lignin
Lignin adalah zat yang bersama-sama dengan selulosa adalah salah satu sel yang terdapat
dalam kayu. Lignin merupakan suatu makromolekul kompleks, suatu polimer aromatik alami
yang bercabangcabang dan mempunyai struktur tiga dimensi yang terbuat dari fenil
propanoid yang saling terhubung dengan ikatan yang bervariasi. Lignin membentuk matriks
yang mengelilingi selulosa dan hemiselulosa, penyedia kekuatan pohon dan pelindung dari
biodegradasi. Lignin sangat resisten terhadap degradasi, baik secara biologi, enzimatis,
maupun kimia (Isroi, 2008a).
Menurut Batubara (2002) Lignin merupakan zat yang keras, lengket, kaku dan mudah
mengalami oksidasi. Ditambahkan pula oleh Ibrahim et al., (2005) dalam Misson et al.,
(2009) yang mengemukakan bahwa Lignin merupakan rantai dengan karbon-karbon terikat
dan ikatan lainnya yang terdiri dari jaringan yang dihubungkan dengan polisakarida yang
terdapat di dalam dinding sel. Lignin banyak pada kelompok kayu daun jarum yaitu diatas 26
% sedangkan pada kayu daun lebar biasanya kurang dari 26 %.

3. Hemiselulosa

Hemiselulosa mirip dengan selulosa yang merupakan polimer gula. Namun, berbeda dengan
selulosa yang hanya tersusun dari glukosa, hemiselulosa tersusun dari bermacam-macam
jenis gula. Monomer gula penyusun hemiselulosa terdiri dari monomer gula berkarbon 5 (C-
5) dan 6 (C-6), misalnya: xylosa, mannose, glukosa, galaktosa, arabinosa, dan sejumlah kecil
ramnosa, asam glukoroat, asam metal glukoronat, dan asam galaturonat. Xylosa adalah salah
satu gula C-5 dan merupakan gula terbanyak kedua di biosfer setelah glukosa. Kandungan
hemiselulosa di dalam biomassa lignoselulosa berkisar antara 11 % hingga 37 % (berat
kering biomassa).
Struktur hemiselulosa dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan komposisi rantai
utamanya yaitu (1) D- xilan yaitu 1-4 xilosa; (2) D- manan yaitu (14) -D-mannosa; (3) D-
xiloglukan dan (4) D-galaktan yaitu 1-3 -D-galaktosa. Hemiselulosa mudah
disubtitusi dengan berbagai karbohidrat lain atau residu non karbohidrat. Karena berbagai
rantai cabang yang tidak seragam menyebabkan senyawa ini secara parsial larut air.
Perbedaan selulosa dengan hemiselulosa yaitu hemiselulosa mempunyai derajat polimerisasi
rendah (50-200 unit) dan mudah larut dalam alkali, tetapi sukar larut dalam asam, sedangkan
selulosa sebaliknya (Isroi, 2008b).
Kandungan hemiselulosa di dalam biomassa lignoselulosa berkisar antara 11 % hinga 37 %
(berat kering tanur). Hemiselulosa lebih mudah dihidrolisis daripada selulosa, tetapi gula C-5
lebih sulit difermentasi menjadi etanol daripada gula C-6 (Isroi, 2008b).
4. Zat Ekstraktif

Zat ekstraktif terdiri dari berbagai jenis komponen senyawa organik seperti minyak yang
mudah menguap, terpen, asam lemak dan esternya, lilin, alkohol polihidrik, mono dan
polisakarida, alkaloid, dan komponen aromatik (asam, aldehid, alkohol, dimer fenilpropana,
stilbene, flavanoid, tannin dan quinon). Zat ekstraktif adalah komponen diluar dinding sel
kayu yang dapat dipisahkan dari dinding sel yang tidak larut menggunakan pelarut air atau
organik (Lewin dan Goldstein, 1991). Kayu teras secara khas mengandung zat ekstraktif jauh
lebih banyak dari pada kayu gubal. Kandungan zat ekstraktif dalam kayu biasanya kurang
dari 10 % (Sjstrm, 1995).

Kandungan dan komposisi zat ekstraktif berubah-ubah diantara spesies kayu, dan bahkan
terdapat juga variasi dalam satu spesies yang sama tergantung pada tapak geografi dan
musim. Sejumlah kayu mengandung senyawa-senyawa yang dapat diekstraksi yang bersifat
racun atau mencegah bakteri, jamur dan rayap. Selain itu zat ekstraktif juga dapat
memberikan warna dan bau pada kayu (Fengel dan Wegener, 1995).

5. Abu

Kayu juga mengandung komponen-komponen anorganik. Komponen ini diukur sebagai


kadar abu yang jumlahnya jarang melebihi 1% dari berat kering kayu. Abu ini berasal
terutama dari berbagai garam yang diendapkan dalam dinding sel dan lumen (Sjostrom,
1995). Fengel dan Wegener (1995) menyatakan bahwa komponen abu utama dalam kayu
adalah Ca (hingga 50%), K dan Mg, yang diikuti oleh Mn, Na, P dan Cl. Selain itu juga
masih terdapat unsur-unsur lain yang disebut sebagai unsur runut dengan konsentrasi di
dalam kayu tidak lebih dari 50 ppm. Mineral tidak hanya terikat dalam diding sel tetapi juga
diendapkan dalam rongga sel parenkim dan dalam serat libriform. Endapan mineral
kebanyakan terdiri atas kalsium karbonat, kalsium oksalat dan silikat yang mempunyai
bentuk yang berbeda-beda. Kristal yang muncul dalam kayu setelah terserang oleh jamur
atau bakteri disebabkan oleh hasil metabolik mikroorganisme tersebut (Fengel dan Wegener,
1995).

Abu merupakan senyawa anorganik di dalam kayu yang dapat dianalisis dengan cara kayu
dibakar pada suhu 600-850C. Komponen utama abu kayu adalah kalium, kalsium dan
magnesium maupun silikon dalam beberapa kayu tropika (Fengel dan Wegener, 1995).
Diukur sebagai abu yang jarang melebihi 1% dari berat kayu kering

MENGENAL SIFAT DAN KOMPONEN KIMIA KAYU


Oleh : Bambang Wijanarko,S.Pd,MT
Widyaiswara PPPPTK BOE Malang Departemen Bangunan
Program Studi Teknologi kayu

A. Pengenalan kayu
Kayu adalah bagian batang atau cabang serta ranting tumbuhan yang mengeras
karena mengalami lignifikasi (pengayuan).
Kayu digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari memasak, membuat perabot
(meja, kursi, lemari), bahan bangunan (pintu, jendela, rangka atap), bahan kertas,
kerajinan dan banyak lagi. Kayu juga dapat dimanfaatkan sebagai hiasan-hiasan
rumah tangga dan sebagainya.
Penyebab terbentuknya kayu adalah akibat akumulasi selulosa dan lignin pada
dinding sel berbagai jaringan di batang.
Ilmu perkayuan (dendrologi) mempelajari berbagai aspek mengenai klasifikasi kayu
serta sifat kimia, fisika, dan mekanika kayu dalam berbagai kondisi penanganan.
Sifat-sifat kayu itu sangat mempengaruhi dan menentukan kwalitas yang dimiliki oleh
kayu bila digunakan untuk suatu pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan
pengerjaan yang berkwalitas baik.

Gambar 1. Timbunan Kayu


B. Sifat sifat Kayu
Untukmengenal/menentukan suatu jenis kayu, tidak selalu dilakukan dengan cara
memeriksa kayu dalam bentuk log (kayu bundar), tetapi dapat dilakukan dengan
memeriksa sepotong kecil kayu. Penentuan jenis kayu dalam bentuk log, pada
umumnya dengan cara memperhatikan sifat-sifat kayu yang mudah dilihat seperti
penampakan kulit, warna kayu teras, arah serat, ada tidaknya getah dan
sebagainya.
Penentuan beberapa jenis kayu dalam bentuk olahan (kayu gergajian, moulding, dan
sebagainya) masih mudah dilakukan dengan hanya memperhatikan sifat-sifat kasar
yang mudah dilihat. Sebagai contoh, kayu jati (Tectona grandis) memiliki gambar
lingkaran tumbuh yang jelas). Namun apabila kayu tersebut diamati dalam bentuk
barang jadi dimana sifat-sifat fisik asli tidak dapat dikenali lagi karena sudah dilapisi
dengan cat, maka satu-satunya cara yang dapat dipergunakan untuk menentukan
jenisnya adalah dengan cara memeriksa sifat anatomi/strukturnya. Demikian juga
untuk kebanyakan kayu di Indonesia, dimana antar jenis kayu sukar untuk
dibedakan, cara yang lebih lazim dipakai dalam penentuan jenis kayu adalah
dengan memeriksa sifat anatominya (sifat struktur).
Pada dasarnya terdapat 2 (dua) sifat utama kayu yang dapat dipergunakan untuk
mengenal kayu, yaitu sifat fisik (disebut juga sifat kasar atau sifat
makroskopis) dan sifat struktur (disebut juga sifat mikroskopis). Secara obyektif, sifat
struktur atau mikroskopis lebih dapat diandalkan dari pada sifat fisik atau
makroskopis dalam mengenal atau menentukan suatu jenis kayu. Namun untuk
mendapatkan hasil yang lebih dapat dipercaya, akan lebih baik bila kedua sifat ini
dapat dipergunakan secara bersama-sama, karena sifat fisik akan mendukung sifat
struktur dalam menentukan jenis kayu. Sifat-sifat yang dimiliki oleh kayu yaitu sifat
fisik maupun sifat struktur adalah merupakan sifat-sifat alami yang dimiliki oleh
setiap jenis kayu berdaun jarum maupun jenis kayu berdaun lebar.
Sifat fisik/kasar atau makroskopis adalah sifat yang dapat diketahui secara jelas
melalui panca indera, baik dengan penglihatan, penciuman, perabaan dan
sebagainya tanpa menggunakan alat bantu. Sifat-sifat kayu yang termasuk dalam
sifat kasar antara lain adalah :
1. Warna, umumnya yang digunakan adalah warna kayu teras.
2. Tekstur, yaitu penampilan sifat struktur pada bidang lintang.
3. Arah serat, yaitu arah umum dari sel-sel pembentuk kayu.
4.Gambar, baik yang terlihat pada bidang radial maupun tangensial.
5. Berat, umumnya dengan menggunakan berat jenis.
6. Kesan raba, yaitu kesan yang diperoleh saat meraba kayu.
7. Lingkaran tumbuh.
8. Bau, dan sebagainya.
Sifat struktur/mikroskopis adalah sifat yang dapat kita ketahui dengan
mempergunakan alat bantu, yaitu kaca pembesar (loupe) dengan pembesaran 10
kali. Sifat struktur yang diamati adalah :
1. Pori (vessel) adalah sel yang berbentuk pembuluh dengan arah
longitudinal. Dengan mempergunakan loupe, pada bidang lintang, pori terlihat
sebagai lubang-lubang beraturan maupun tidak, ukuran kecil maupun besar. Pori
dapat dibedakan berdasarkan penyebaran, susunan, isi, ukuran, jumlah dan bidang
perforasi).
2.Parenkim (Parenchyma) adalah sel yang berdinding tipis dengan bentuk batu bata
dengan arah longitudinal. Dengan mempergunakan loupe, pada bidang
lintang, parenkim (jaringan parenkim) terlihat mempunyai warna yang lebih cerah
dibanding dengan warna sel sekelilingnya. Parenkim dapat dibedakan berdasarkan
atas hubungannya dengan pori, yaitu parenkim paratrakeal (berhubungan dengan
pori) dan apotrakeral (tidak berhubungan dengan pori).
3.Jari-jari (Rays) adalah parenkim dengan arah horizontal. Dengan mempergunakan
loupe, pada bidang lintang, jari-jari terlihat seperti garis-garis yang sejajar dengan
warna yang lebih cerah dibanding warna sekelilingnya. Jari-jari dapat dibedakan
berdasarkan ukuran lebarnya dan keseragaman ukurannya.
4.Saluran interseluler adalah saluran yang berada di antara sel-sel kayu yang
berfungsi sebagai saluran khusus. Saluran interseluler ini tidak selalu ada pada
setiap jenis kayu, tetapi hanya terdapat pada jenis-jenis tertentu, misalnya beberapa
jenis kayu dalam famili Dipterocarpaceae, antara lain meranti (Shorea spp), kapur
(Dryobalanops spp), keruing (Dipterocarpus spp), mersawa (Anisoptera spp), dan
sebagainya. Berdasarkan arahnya, saluran interseluler dibedakan atas saluran
interseluler aksial (arah longitudinal) dan saluran interseluler radial (arah sejajar jari-
jari). Pada bidang lintang, dengan mempergunakan loupe, pada umumnya saluran
interseluler aksial terlihat sebagai lubang-lubang yang terletak diantara sel-sel kayu
dengan ukuran yang jauh lebih kecil.
5. Saluran getah adalah saluran yang berada dalam batang kayu, dan bentuknya
seperti lensa. Saluran getah ini tidak selalu dijumpai pada setiap jenis kayu, tapi
hanya terdapat pada kayu-kayu tertentu, misalnya jelutung (Dyera spp.)
6. Tanda kerinyut adalah penampilan ujung jari-jari yang bertingkat-tingkat dan
biasanya terlihat pada bidang tangensial. Tanda kerinyut juga tidak selalu dijumpai
pada setiap jenis kayu, tapi hanya pada jenis-jenis tertentu seperti kempas
(Koompasia malaccensis) dan sonokembang (Pterocarpus indicus).
7. Gelam tersisip atau kulit tersisip adalah kulit yang berada di antara kayu, yang
terbentuk sebagai akibat kesalahan kambium dalam membentuk kulit. Gelam tersisip
juga tidak selalu ada pada setiap jenis kayu. Jenis-jenis kayu yang sering memiliki
gelam tersisip adalah karas (Aquilaria spp), jati (Tectona grandis) dan api-api
(Avicennia spp).
Terdapat perbedaan yang mendasar antara sifat struktur kayu daun lebar dan sifat
struktur kayu daun jarum. Kayu-kayu daun jarum tidak mempunyai pori-pori kayu
seperti halnya kayu-kayu daun lebar.
Untuk menentukan jenis sepotong kayu, kegiatan pertama yang harus dilakukan
adalah memeriksa kayu tersebut dengan memeriksa sifat kasarnya

Gambar 2. Sifat kasar kayu (tekstur dan lingkaran tumbuh kayu)


Apabila dengan cara tersebut belum dapat ditetapkan jenis kayunya, maka terhadap
kayu tersebut dilakukan pemeriksaan sifat strukturnya dengan mempergunakan
loupe.
Untuk memudahkan dalam menentukan suatu jenis kayu, kita dapat
mempergunakan kunci pengenalan jenis kayu. Kunci pengenalan jenis kayu pada
dasarnya merupakan suatu kumpulan keterangan tentang sifat-sifat kayu yang telah
dikenal, baik sifat struktur maupun sifat kasarnya. Sifat-sifat tersebut kemudian
didokumentasikan dalam bentuk kartu (sistim kartu) atau dalam bentuk percabangan
dua (sistem dikotom).
Pada sistem kartu, dibuat kartu dengan ukuran tertentu (misalnya ukuran kartu pos).
Disekeliling kartu tersebut dicantunkan keterangan sifat-sifat kayu, dan pada bagian
tengahnya tertera nama jenis kayu. Sebagai contoh, kayu yang akan ditentukan
jenisnya, diperiksa sifat-sifatnya. Berdasarkan sifat-sifat tersebut, sifat kayu yang
tertulis pada kartu ditusuk dengan sebatang kawat dan digoyang sampai ada kartu
yang jatuh. Apabila kartu yang jatuh lebih dari satu kartu, dengan cara yang sama
kartu-kartu itu kemudian ditusuk pada sifat lain sesuai dengan hasil pemeriksaan
sampai akhirnya tersisa satu kartu. Sebagai hasilnya, nama jenis yang tertera pada
kartu terakhir tersebut merupakan nama jenis kayu yang diidentifikasi.
Dikotom berarti percabangan, pembagian atau pengelompokan dua-dua atas dasar
persamaan sifat-sifat kayu yang diamati. Kayu yang akan ditentukan jenisnya
diperiksa sifat-sifatnya, dan kemudian dengan mempergunakan kunci dikotom,
dilakukan penelusuran sesuai dengan sifat yang diamati sampai diperolehnya nama
jenis kayu yang dimaksud.
Kunci cara pengenalan jenis kayu di atas, baik sistem kartu maupun dengan sistem
dikotom, keduanya mempunyai kelemahan. Kesulitan tersebut adalah apabila kayu
yang akan ditentukan jenisnya tidak termasuk ke dalam koleksi. Walaupun sistem
kartu ataupun sistem dikotom digunakan untuk menetapkan jenis kayu, keduanya
tidak akan dapat membantu mendapatkan nama jenis kayu yang dimaksud. Dengan
demikian, semakin banyak koleksi kayu yang dimiliki disertai dengan pengumpulan
mengumpulkan sifat-sifatnya ke dalam sistem kartu atau sistem dikotom, akan
semakin mudah dalam menentukan suatu jenis kayu.
C. Komponen kimia kayu
Komponen kimia kayu di dalam kayu mempunyai arti yang penting, karena
menentukan kegunaan sesuatu jenis kayu. Juga dengan mengetahuinya, kita dapat
membedakan jenis-jenis kayu. Susunan kimia kayu digunakan sebagai pengenal
ketahanan kayu terhadap serangan makhluk perusak kayu. Selain itu dapat pula
menentukan pengerjaan dan pengolahan kayu, sehingga didapat hasil yang
maksimal. Pada umumnya komponen kimia kayu daun lebar dan kayu daun jarum
terdiri dari 3 unsur yaitu :
1.Unsur karbohidrat terdiri dari selulosa dan hemiselulosa
2.Unsur non- karbohidrat terdiri dari lignin
3.Unsur yang diendapkan dalam kayu selama proses pertumbuhan dinamakan
zat ekstraktif .
Distribusi komponen kimia tersebut dalam dinding sel kayu tidak merata. Kadar
selulosa dan hemiselulosa banyak terdapat dalam dinding sekunder. Sedangkan
lignin banyak terdapat dalam dinding primer dan lamella tengah dan merupakan zat
ekstraktif yang terdapat di luar dinding sel kayu baik untuk kayu yang termasuk
golongan berdaun lebar dan daun jarum.
Komponen penyusun dinding sel adalah komponen kimia menyatu dalam dinding
sel. Tersusun atas banyak komponen yang tergabung dalam karbohidrat dan lignin.
Karbohidrat yang telah terbebas dari lignin dan ekstraktif disebut holoselulosa.
Holoselulosa sebagian besar tersusun atas selulosa dan hemiselulosa. Selulosa
merupakan komponen terbesar dan paling bermanfaat dari kayu. Jumlah zat
selulosa mayoritas 40 %, hemiselulosa sekitar 23% dan lignin kurang dari 34 % .
Komponen kimia tersebut dijelaskan sebagai berikut dibawah ini :

Gambar 3. Pembentukan komponen kimia kayu


1. Selulosa
Selulosa merupakan komponen utama penyusun dinding sel tanaman dan hampir tidak pernah
ditemui dalam keadaan murni di alam melainkan berkaitan dengan lignin dan hemiselulosa
membentuk lignoselulosa.
2. Lignin
Lignin adalah zat yang bersama-sama dengan selulosa adalah salah satu sel yang terdapat dalam
kayu. Lignin merupakan suatu makromolekul kompleks, suatu polimer aromatik alami yang
bercabangcabang dan mempunyai struktur tiga dimensi yang terbuat dari fenil propanoid yang
saling terhubung dengan ikatan yang bervariasi.
3. Hemiselulosa
Hemiselulosa mirip dengan selulosa yang merupakan polimer gula. Namun, berbeda dengan
selulosa yang hanya tersusun dari glukosa, hemiselulosa tersusun dari bermacam-macam jenis gula.
Monomer gula penyusun hemiselulosa terdiri dari monomer gula berkarbon 5 (C-5) dan 6 (C-6),
misalnya: xylosa, mannose, glukosa, galaktosa, arabinosa, dan sejumlah kecil ramnosa, asam
glukoroat, asam metal glukoronat, dan asam galaturonat.
4. Zat Ekstraktif
Zat ekstraktif terdiri dari berbagai jenis komponen senyawa organik seperti minyak yang mudah
menguap, terpen, asam lemak dan esternya, lilin, alkohol polihidrik, mono dan polisakarida, alkaloid,
dan komponen aromatik (asam, aldehid, alkohol, dimer fenilpropana, stilbene, flavanoid, tannin dan
quinon), zat ekstraktif adalah komponen diluar dinding sel kayu yang dapat dipisahkan dari dinding
sel, tidak larut dengan pelarut air atau organik.
5. Abu
Kayu juga mengandung komponen-komponen anorganik. Komponen ini diukur sebagai kadar abu
yang jumlahnya jarang melebihi 1% dari berat kering kayu. Abu ini berasal terutama dari berbagai
garam yang diendapkan dalam dinding sel dan lumen. Abu merupakan senyawa anorganik di dalam
kayu yang dapat dianalisis dengan cara kayu dibakar pada suhu 600-850C. Komponen utama abu
kayu adalah kalium, kalsium dan magnesium maupun silikon dalam beberapa kayu tropika.
Referensi :
1. www.dephut.go.id/Halaman//INFO_III01/III_III01.htm
2. Abdur Wahin Mertawijaya,Dkk,1981, Atlas kayu Indonesia, Penerbit Badan
Penelitian dan Pengembangan pertanian, Bogor
3.raymoon760.wordpress.com/2013/09/21/komponen-kimia-kayu.