Anda di halaman 1dari 6

PEMBIDANGAN LINGUISTIK

Linguistik adalah disiplin ilmu yang mempelajari tentang bahasa.


Berdasarkan pembidangan atau ruang lingkupnya, linguistik dibagi
menjadi dua macam, yaitu :
Mikrolinguistik adalah lingkup linguistik yang mempelajari bahasa dalam
rangka kepentingan ilmu bahasa itu sendiri, tanpa mengaitkan dengan ilmu
lain dan tanpa memikirkan bagaimana penerapan ilmu tersebut dalam
kegiatan sehari-hari. Mikrolinguistik ini meliputi bidang dan subdisiplin
berikut:(1)teori linguistik; (2) linguistik deskriptif; dan (3) linguistik
historis komparatif. Teori linguistik adalah subdisiplin linguistik yang
membahas bahasa dan ilmu bahasa dari sudut pandang teori tertentu.
Misalnya: teori tradisional, struktural, transformasional dan tagmemik.
Linguistik umum (general linguistics) merumuskan secara umum semua
bahasa manusia yang bersifat alamiah itu. Linguistik umum memberikan
gambaran umum tentang suatu bahasa sehingga menghasilkan teori bahasa
yang bersangkutan. Pada linguistik umum diberikan ciri umum bahasa
manusia, diuraikan secara sederhana, umum, tepat, dan objektif. Linguistik
umum memberikan informasi umum mengenai teori, prosedur kerja, dan
paham-paham yang berkembang dalam linguistik.
Linguistik terapan (applied linguistics) adalah ilmu yang berusaha
menerapkan hasil penelitian dalam bidang linguistik untuk keperluan
praktis. Linguistik terapan dapat juga dimanfaatkan untuk memecahkan
persoalan-persoalan praktis yang banyak sangkut-pautnya dengan bahasa.
Jadi, linguistik hanya dipakai sebagai alat. Misalnya: dalam pengajaran
bahasa Indonesia, linguistik dapat dimanfaatkan untuk mengajarkan
bahasa agar perolehan anak akan bahasa lebih meningkat. Linguistik
terapan menganalisis dan mempelajari teori-teori yang umum tentang
bahasa dan berusaha menerapkannya pada bahasa-bahasa tertentu demi
kepentingan pengajaran bahasa, penulisan tata bahasa sebuah bahasa, demi
kepentingan terjemahan ataupun menteknologikan bahasa.
Linguistik teoritis adalah subdisiplin linguistik yang mengutamakan
penelitian bahasa dari segi internal. Jadi, meneropong bahasa dari
kegiatan-kegiatan yang dijumpai dalam bahasa. Linguistik teoritis tidak
melihat bahasa sebagai alat, tetapi bahasa sebagai bahasa. Istilah linguistik
hendaknya dibedakan dengan istilah teori linguistik. Sebab, teori linguistik
adalah ilmu yang berusaha menguraikan bagaimana cara yang seharusnya
dipakai kalau orang hendak mengadakan penelitian dalam bidang bahasa.
Linguistik teoritis dapat dibedakan dengan linguistik terapan, karena
dalam linguistik terapan, orang melihat bahasa sebagai alat atau dapat
dikatakan linguistik sebagai alat untuk kepentingan yang lain.
Linguistik deskriptif adalah subdisiplin linguistik yang bertujuan untuk
mendeskripsikan bahasa-bahasa di dunia. Linguistik deskriptif besifat
menguraikan bahasa dan menganalisis bahasa berdasarkan keadaan dan
kenyataan bahasa yang bersifat kontemporer se-zaman dengan para
pembicaranya dan pencatatnya dalam satu waktu tertentu. Deskripsi
bahasa meliputi bidang fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis, semantik,
leksikologi.
Linguistik historis komparatif adalah membandingkan dua bahasa atau
lebih pada periode yang berbeda. Misalnya: kita mengadakan
perbandingan antara bahasa Gorontalo, Atiloga, dan Suwawa pada tahun
1950 dan tahun 1980. Apakah titik-titik persamaan dan perbedaannya?
Dengan linguistik historis komparatif, orang dapat menentukan
kekeluargaan bahasa dan dapat menemukan bahasa induk dari bahasa yang
dipergunakan.
Makrolinguistik adalah lingkup lingustik yang mempelajari bahasa dalam
kaitannya dengan dunia di luar bahasa, yang berhubungan dengan ilmu
lain dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Makrolinguistik meliputi bidang linguistik interdisipliner dan bidang
linguistik terapan.
A. Bidang Linguistik Interdisipliner
1) Fonetik adalah ilmu yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa tanpa
memperhatikan fungsinya untuk membedakan makna (Verhaar; 1981: 2;
lihat juga Mansoer Pateda; 1981: 2). Linguis membagi fonetik manjadi
tiga bagian, yakni sebagai berikut.
a) Fonetik akustis yakni melukiskan bagaimana bunyi bahasa yang
dihasilkan oleh alat bicara, yang kemudian berwujud gelombang-
gelombang bunyi melewati udara sampai ke telinga pendengar. Pendekatan
seperti ini berhubungan dengan ilmu fisika, diperlukan alat-alat elektronis
untuk membantunya, namun alat-alat tersebut cukup terbilang mahal,
sehingga pendekatan ini sulit dillaksanakan sehingga kurang diperhatikan
orang. b) Fonetik auditoris yakni memerikan bunyi bahasa yang
diterima oleh alat dengar orang yang diajak bicara. Cara ini bersifat
subjektif, karena banyak dipengaruhi oleh orang yang mendengarkan
bunyi itu. Pendekatan ini memperhatikan pengaruh bunyi terhadap syaraf
pendengaran. Pendekatan ini dipengaruhi oleh neurologi sebab proses
perolehan bunyi melewati syaraf pendengar sulit dianalisis, maka
pendekatan ini pun tidak diperhatikan orang. c) Fonetik organis atau
artikulator yakni memerikan bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat bicara
manusia. Alat bicara seperti bibir, mulut, lidah, ternyata dapat dilihat
sehingga pendekatan ini dianggap praktis dan mudah dilaksanakan. Oleh
karena pendekatan ini berhubungan dengan fisik, maka fonetik artikularis
erat hubungannya dengan fisiologis.
2) Stilistika adalah ilmu tentang penggunaan bahasa dan gaya bahasa di
dalam karya sastra atau hal lain yang berkaitan dengan faktor seni.
Menurut Richard et al. (1992), kajian mengenai gaya bahasa dapat
menangkap gaya bahasa lisan, namun stilistika cenderung melakukan
kajian bahasa tulis termasuk karya sastra. Stilistika mencoba memahami
mengapa si penulis menggunakan kata-kata atau ungkapan tertentu.
Adakalanya Stilistika digunakan untuk maksud yang lebih luas, yaitu
menandai bahasa berdasarkan variasi bahasa regional dan juga variasi
bahasa sosial. 3) Filsafat bahasa merupakan suatu bentuk penggabungan
dari penggunaan bahasa dihubungkan dengan jelas pada berpikirnya
manusia, hal sanggup dan hal dapatnya manusia dan ini semua akan
menjadi dasar studi filsafat itu. Pada dewasa ini filsafat bahasa
berkembang dalam pelbagai arah, sehingga banyak filsuf berpendapat
bahwa soal-soal filosofis tradisional pada akhirnya harus dikembalikan
kepada cara bagaimana orang mempergunakan bahasanya. Dalam
pendapat umum ini yang perlu dibedakan yakni sebagai berikut.
a) Filsafat bahasa yang kritis, aliran ini berpendapat bahwa bahasa
alamiah pada dasarnya masih terlalu kosong dan berganda unutk
menganalisis problem filsafat dengan cara yang tepat. Mereka mencoba
untuk menghubungkannya dengan keformalan dari logika simbolis.
b) Aliran yang kedua berkembang di Inggris dan dikenal dengan
nama analisis filsafat yang mengatakan: penyelesaian dari soal-soal dan
pertanyaan filsafat dapat diketemukan dalam analisis secara teliti atas cara-
cara penggunaan kata-kata, ungkapan-ungkapan dalam bahasa pergaulan
sehari-hari. Mereka sering mempergunakan istilah ordinary language
philosophy atau sering pula disebut linguistic analysis.
4)Psikolinguistik adalah suatu subdisiplin linguistik yang mempelajari
bahasa dalam kaitannya dengan faktor kejiwaan si penutur dan lawan
tuturnya. Psikolinguistik merupakan salah satu cabang linguistik yang
sangat kompleks. Ahli psikolinguistik dituntut dapat melakukan analisis
pada semua tataran linguistik (fonologi-morfologi-sintaksis-wacana-
semantik-pragmatik) dengan baik, karena psikolinguistik berusaha
memahami bagaimana proses berbahasa di otak manusia. Selain itu
psikolinguistik juga mempertanyakan kembali apakah terdapat bukti
biologis bahwa bahasa bersifat anugerah kodrati (innate properties)
sebagai mana yang dicetuskan oleh Chom-sky. 5) Sosiolinguistik adalah
subdisiplin linguistik yang mempalajari bahasa dalam kaitannya dengan
faktor-faktor kemasyarakatan atau faktor sosial. Kajian sosiolinguistik
cenderung berfokus pada variasi bahasa yang muncul di masyarakat yang
biasanya dapat ditelusuri karena keberadaan berbagai stratifikasi sosial
dalam masyarakat. Kajian sosiolinguistik sangat luas dan beragam. Kajian
yang dapat dilakukan antara lain : fungsi dan peran sebuah bahasa,
keberterimaan istilah akuntansi di kalangan ahli ekonomi, kata sapaan
ditinjau dari solidaritas sosial danjarak sosial diantara penutur, kriteria dan
persepsi kesatuan berbahasa, pelacakan bahasa rahasia kelompok bajak
laut, pengungkapan jati diri secara sosial melalui graffiti, mantra dan
berbagai istilah penangkapan ikan di antara kelompoknelayan pesisir
pantai Utara Jawa, perbedaan variasi bahasa berdasarkan gender,
pemertahanan bahasa Melayu di Bali, dan masih banyak lagi.
6) Etnolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa
dalam kaitannya dengan faktor-faktor teknis.Etnolinguistik dapat pula
diartikan sebagai cabang linguistik yang menyelidiki hubungan antara
bahasa dan masyarakat pedesaan atau masyarakat yang belum mempunyai
tulisan
7) Filologi adalah subdisiplin linguistik yang tertua yang mengkhususkan
diri pada comparative historical linguistic, yaitu bidang penelitian
kekerabatan bahasa (language relationships)dan perubahan bahasa
(language change) dengan cara membandingkan berbagai bahasa. Selain
itu, filologi juga mengkaji transkripsi, terjemahan, pelacakan, naskah
babon, dan memaknai informasi yang terdapat dalam naskah-naskah kuno.
Kajian Filologi pada umumnya terfokus pada naskah kuno yang ditulis di
atas kertas, lontar, atau bilah bambu. Isi tulisan naskah kuno ini bervariasi,
antara lain dapat berupa naskah hukum adat, obat-obat tradisional, tata
cara bercocok tanam, dan ajaran agama. Selain memahami isi naskah,
seorang ahli filologi juga bertugas untuk mendeteksi usia naskah. Hal ini
dapat ditelusuri misalnya dengan melalui jenis kertas dan jenis tinta yang
dipakai.
8) Semiotika adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa dalam
kaitannya dengan lambang dan simbol.
9) Epigrafi adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa dalam
kaitannya dengan tulisan kuno pada prasastri. Dengan demikian, erat
kaitannya dengan ilmu sejarah.
10) Paleografi adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa
dalam kaitannya dengan pendeskripsian tulisan-tulisan kuno terutama yang
berasal dari abad pertengahan.
B.Bidang Linguistik Terapan
1) Pengajaran bahasa adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari
bahasa untuk kepentingan proses belajar mengajar bahasa, baik bahasa ibu
maupun bahasa kedua atau bahasa asing yang mencakup empat jenis
keterampilan, yaitu: mendengar, membaca, berbicara, dan menulis.
Keempat jenis keterampilan ini perlu mendapatkan latihan-latihan
tersendiri, namun pada akhirnya harus dapat dipadukan dan digunakan
secara bersamaan.
2) Penerjemahan adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa
untuk kepentingan mengalihbahasaan dari bahasa tertentu ke bahasa yang
lain. Penerjemahan merupakan suatu kegiatan kompleks yang menuntut
kecermatan. Seorang penerjemah tidak hanya dituntut menguasai sumber
dan bahasa target dengan baik, namun juga harus menguasai isi materi
yang diterjemahkan. Selain itu, seorang penerjemah juga harus peka
terhadap berbagai faktor sosial, budaya, politik, dan emosi agar dapat
menerjemahkan secara tepat. Tujuan utama penerjemahan adalah
menghasilkan terjemahan yang semirip mungkin dengan teks aslinya.
3) Leksikografi adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa
dalam rangka untuk menuliskan leksikon dalam bentuk kamus,
ensiklopedi, dan thesaurus. Secara singkat, leksikografi dapat diartikan
sebagai ilmu yang mempelajari cara penyusunan kamus (ilmu
perkamusan).
4) Fonetik terapan adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bunyi
bahasa dan penggunaannya di dalam praktik (misalnya: olah vocal di
dalam seni drama dan seni musik dan untuk pembetulan ucapan anak-anak
yang pelat lidah).
5) Sosiolinguistik terapan adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari
penerapan atau penggunaan bahasa dalam komunikasi sosial. Penerapan
atau penggunaan bahasa dalam komunikasi sosial ini harus selalu
memperhatikan faktor-faktor situasi, maksud pembicaraan, dan status
lawan tutur. Penerapan atau penggunaan bahasa semacam itu selanjutnya
lebih dikenal dengan istilah pragmatik.
6) Pembinaan bahasa internasional adalah subdisiplin linguistik yang
mempelajari tentang bahasa internasional dalam rangka untuk
mengarahkan pemakai bahasa sadar dan patuh terhadap kaidah yang
berlaku.
7) Pembinaan bahasa khusus adalah subdisiplin linguistik yang
mempelajari tentang bahasa-bahasa tertentu (khusus) dalam rangka untuk
mengarahkan pemakai bahasa sadar dan patuh terhadap kaidah yang
berlaku.
8) Linguistik medis adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari
bahasa untuk diterapkan didalam pengobatan. Misalnya untuk pengobatan
bagi orang yang sedang stress dan terapi medis untuk anak autis.
9) Grafologi adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari tulisan
dengan tujuan untuk mengetahui sifat, nasib, jodoh dan peruntungan si
penulis. Subdisiplin ini sangat erat kaitannya dengan ilmu klenik
(perdukunan). Oleh karena itu, tidak salah pula apabila subdisiplin ini
dikelompokkan ke dalam lingkup linguistik interdisipliner. Dalam bidang
grafologi juga dibicarakan beberapa sistem tulisan seperti: ortografi yaitu
sistem ejaan yang disepakati untuk sebuah bahasa; stenografi yaitu sistem
menulis secara cepat dan singkat; kriptografi yaitu sistem menulis pesan-
pesan rahasia; paedografi yaitu sistem menulis yang didesain khusus untuk
membantu anak-anak belajar membaca dan teknografi yaitu sistem
menulis hal-hal khusus untuk kepentingan ilmu pengetahuan sepertiaksara
fonetik untuk para linguis, simbol-simbol khusus untuk bidang kimia,
simbol-simbolkhusus kartografi untuk membuat peta, atau bahkan simbol-
simbol khusus untuk pemrograman komputer.
10) Mekanolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempalajari
bahasa yang dipergunakan di dalam menyusun program-program mekanik.