Anda di halaman 1dari 19

LANDASAN HISTORIS PENDIDIKAN

Oleh:

Elok Ayu Khumaerok Ertika Subekti

Pendidikan Geografi_Pascasarjana_Universitas Negeri Malang

E-mail: elokayus@yahoo.com

A. Pendahuluan

UU RI No. 20 Tahun 2003 menyebutkan bahwa Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran supaya peserta didik secara aktif dapat
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kesuatan spiritual keagamaan, pengendalaian diri,
kepribadia, kecerdasaan, akhlak mulia, dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa
dan Negara.

Pendidikan nasional merupakan pendidikan yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945, yang berakar
pada nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.
Sistem pendidikan Nasional merupakan keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara
terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. UU RI pasal 3 menyebutkan bahwa fungsi
pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan pendidikan nasional
untuk berkembangnya potensi peserta didik supaya menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
terhadap Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, aktif, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara
yang demokratis dan bertanggung jawab.

Pendidikan Nasional di Indonesia tidak terlepas dari pandangan landasan pendidikan sebelumnya.
Pandangan pencapaian pendidikan bagi manusia selalu berkaca kepada pendidikan di masa lampau. Hal
ini, membuktikan bahwa sejarah pendidikan dapat dijadikan sebagai acuan pembanding untuk
memajukan pendidikan di masa yang akan datang di suatu bangsa. Untuk itu, dalam peper ini penulis
berkeinginan untuk menulis tentang landasan historis pendidikan yang terjadi di Indonesia.

B. Landasan Historis Kependidikan Di Indonesia

Sejarah (history) merupakan keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian didasari oleh konsep
konsep tertentu. Sejarah memiliki banyak informasi informasi yang mengandung kejadian, konsep,
model, teori, praktik, moral, cita cita, bentuk dan lain lain (pidarta, 2007: 109). Sejarah (history)
merupakan suatu warisan dari generasi ke generasi yang tidak ternilai harganya. Adanya sejarah dapat
memberikan wawasan, pengetahuan, informasi tentang kejadian dimasa lampau, dan contoh bagi
generasi muda dalam perkembangan peradaban di masa akan datang.

Indonesia dan Negara lain awalnya memiliki dua perkembangan yaitu ekonomi dan sistem pendidikan
yang baik berdasarkan kebudayaan tradisional. Pada masa Kolonial, sistem pendidikan berkembang
berdasarkan pada sistem pendidikan sebelumnya. Pada masa modern saat ini sistem pendidikan yang
berlaku berdasarkan pada perkembangan dari sistem pendidikan kolonial (Williams, 1977:17).
Sejarah (historis) pendidikan nasional di Indonesia berkaca pada pandangan ke masa lalu, sehingga
melahirkan studi studi historis tentang proses perjalanan pendidikan Nasional Indonesia, terjadi pada
periode tertentu di masa lampau. Sejarah perjalanan pendidikan di Indonesia dimulai sebelum Indonesia
merdeka tahun 1945, sebagai aktivitas intelektualisasi, budaya dan sebagai alat perjuangan politik untuk
membebaskan bangsa dari belenggu kolonialisme. Menjelang kemerdekaan Indonesia ke 64, adanya
sistem politik sebagai penjabaran demokrasi Pancasila di Era Reformasi yang mewujudkan pola
pendidikan nasional seperti sekarang ini. Partisipasi manusia dalam penyelenggaraan pendidikan di
Indonesia berkaca pada pandangan dan dasar pemikiran pendidikan diarahkan pada optimasi sebagai
integral dari proses pembangunan bangsa.

Pendidikan berperan penting dalam menyiapkan generasi kearah yang baik dan berkualitas demi
kepentingan masa depan. Pendidikan sebagai institusi yang utama dalam pembentuk sumber daya
manusia yang handal dan berkualitas dan bermanfaat bagi bangsa dan negera. Indonesia memiliki SDM
tergolong rendah dalam dunia persaingan baik dalam kompetensi bekerja dan daya sanding (bekerja
sama) dengan bangsa lain di dunia (Anzizhan, 2004:1). Kegiatan manusia yang ingin di capai untuk maju,
berkaitan dengan bagimana keadaan bidang tersebut di masa lampau (pidarta, 2007:110). Bahan
pembanding kemajuan pendidikan suatu bangsa melalui sejarah pendidikan. Adapun pembahasan
landasan sejarah (historis) kependidikan di Indonesia sebagai berikut ini:

1. Sejarah Pendidikan Dunia

Perjalanan sejarah pendidikan di dunia berkembang dari Zaman Hellenisme (150 SM 500), zaman
pertengahan (500 1500), zaman Humanisme (Renaissance), zaman Reformasi dan Kontra Reformasi
(1600an). Pendidikan saat ini belum memberikan kontribusinya pada zaman sekarang (Pidarta, 2007:
110). Adapun sejarah pendidikan dunia berikut ini:

a. Realisme

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan alam dan adanya penemuan ilmiah yang baru, mengarahkan
pendidikan pada kehidupan yang bersumber pada keadaan dunia. Adanya perbedaan pendidikan
sebelumnya bersumber (berkiblat) pada dunia ide, surga dan akhirat. Realisme menghendaki pikiran
yang praktis (Pidarta, 2007: 111). Aliran pengetahuan yang benar tidak hanya diperoleh melalui
penginderaan saja tetapi melalui persepsi penginderaan (Mudyahardjo, 2008:117). Tokoh pendidikan
zaman realisme yaitu Francis Bacon dan Johann Amos Comeniusm.

b. Rasionalisme

Zaman ini manusia diberikan kekuasaan berfikir dan bertindak sesuai dengan keinginannya dan
dibutuhkan latihan pengetahuan dan tindakan. Paham ini muncul karena masyarakat dengan kekuatan
akalnya dapat menumbangkan kekuasaan Raja Perancis yang memiliki kekuasaan absolut. Tokoh
pendidikan zaman ini adalah John Locke di abad ke 18. Teorinya yang terkenal adalah leon Tabularasa
yaitu mendidik ibaratnya seperti menulis diatas kertas putih dan dengan kebebasan dan kekuatan akal
yang dimilikinya manusia untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Teori yang membebaskan jiwa
manusia ini bisa mengarah kepada hal hal yang negatif, seperti intelektualisme, individualisme, dan
materialisme.

c. Naturalisme
Abad ke 18 terjadi reaksi protes aliran Rasionalisme dan muncul aliran yang bertokohkan J.J Rousseaum.
Aliran ini menginginkan keseimbangan antara kekuatan rasio, hati dan alamiah (pendidikan alam), dan
menentang kehidupan yang tidak wajar di aliran Rasionalisme yaitu korupsi, gaya hidup yang dibuat
buat dan sebagainya. Adanya aliran Naturalisme manusia didorong untuk memenuhi kebutuhan dan
menemukan jalan kebenaran dalam dirinya sendiri (Mudyaharjo, 2008: 118).

d. Developmentalisme

Pendidikan merupakan suatu proses perkembangan jiwa sehingga aliran ini disebut gerakan psikologis
dalam pendidikan. Tokoh aliran ini yaitu Pestalozzi, Johan Fredrich Herbart, Friedrich Wilhelm Frobel,
dan Stanley Hall. Konsep pendidikan yang dikembangkan menurut Pidarta dan Mudyaharjo ada 6 salah
satunya yaitu:

v Pengembangan dilakukan sejalan dengan tingkat tingkat perkembangan anak (Pidarta, 2007: 116)
melalui observasi dan eksperimen (Mudyaharjo, 2008: 114).

v Pengembangan pendidikan mengutamakan perbaikan pendidikan dasar dan pengembangan


pendidikan universal (Mudyaharjo, 2008: 114).

e. Nasionalisme

Abad ke 19 muncul aliran ini dan membentuk patriot bangsa demi mempertahankan bangsa dari kaum
imperialis. Tokohnya yaitu La Chatolais (Perancis), Fichte (Jerman), dan Jefferson (Amerika Serikat) dan
konsep yang di kembangkan yaitu:

v Menjaga, memperkuat, dan mempertinggi kedudukan Negara

v Mengutamakan pendidikan sekuler, jasmani dan kejuruan

v Materi pelajaran meliputi bahasa dan kesusastraan nasional, pendidikan kewarganegaraan, lagu
lagu kebangsaan, sejarah dan geografi Negara, dan pendidikan jasmani.

Pengaruh negatif pendidikan zaman ini munculnya chaufinisme, yaitu kegilaan atau kecintaan terhadap
tanah air yang berlebih lebihan seperti yang terjadi di Jerman, dan menimbulkan pecahnya Perang
Dunia 1 (Pidarta, 2007: 120).

f. Liberalisme, Positivisme, dan Individualisme

Zaman ini lahir pada abad ke 19, liberalisme menyebutkan pendidikan merupakan alat untuk
memperkuat kedudukan penguasa (pemerintahan) dipelopori oleh Adam Smith dalam bidang ekonomi.
Mengarah pada individualism seseorang yang memiliki pengetahuan luas maka berkuasa. Positivisme
adalah percaya adanya kebenaran dan dapat diamati oleh panca indera sehingga kepercayaan terhadap
agama semakin melemah. Sedangkan tokoh dalam positivisme yaitu Agust Comte.

g. Sosialisme

Kegiatan pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara dua individu bahkan dua generasi,
sehingga memungkinkan generasi muda untuk mengembangkan diri, dan lahirlah sosialogi pendidikan.
Kajian sosiologi tentang pendidikan prinsipnya mencakup semua jalur pendidikan, baik pendidikan di
sekolah maupun luar sekolah. Adapun ruang lingkup sosiologi pendidikan yaitu:
1) Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain dan hubungan kemanusiaan di
sekolah, serta pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya

2) Sekolah dalam komunitas, yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok sosial.

2. Sejarah Pendidikan Indonesia

Sejarah pendidikan di Indonesia berjalan sangat lama, yaitu mulai zaman tradisoinal (pengaruh agama
Hindu dan Budha, zaman penjajahan) sampai zaman merdeka. Zaman perkembangan sejarah
pendidikan di Indonesia sebagai berikut:

a. Zaman Pengaruh Hindu Dan Budha

Abad ke 5 Indonesia kedatangan aliran Hinduisme dan Budhaisme. Aliran dua agama ini sangat berbeda,
tetapi di Indonesia keduanya memiliki kecenderungan sinkretisme yaitu keyakinan mempersatukan figur
Syiwa dengan Budha sebagai satu sumber Yang Maha Tinggi. Secara estimologi berasal dari lambang
Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika (berbeda beda tepi tetap satu jua) sebagai dasar keyakinan
tersebut (Mudyaharjo, 2008: 215). Zaman ini memiliki tujuan yang sama dengan tujuan kedua agama
tersebut. Pendidikannya dilakukan dalam rangka penyebaran dan pembinaan kehidupan kedua agama
tersebut.

b. Zaman Pengaruh Islam (Tradisional)

Islam masuk di Indonesia di akhir abad 13 dan berkembangan pesat di masyarakat Nusantara pada abad
16. Perkembangan pendidikan islam di Indonesia sejalan dengan berkembangnya penyebaran islam di
Nusantara, baik melalui agama ataupun sebagai arus kebudyaan. Pendidikan islam disebut pendidikan
islam tradisional dan memiliki tujuan yang sama dengan tujuan hidup islam untuk mengabdi kepada
ajaran Allah SWT sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad S.A.W untuk mencapai kebahagiaan di dunia
dan akhirat. Pendidikan islam tradisional tidak secara terpusat tetapi penyebarannya melalui para ulama
di suatu wilayah tertentu dan terkoordinir secara perorangan oleh para Wali Songo (di Jawa), dan diluar
Jawa dikembangkan oleh pemangku adat misalnya di Minangkabau.

c. Zaman Pengaruh Nasrani (Katholik Dan Kristen)

Bangsa Portugis berkeinginan untuk menguasai perdagangan dan perniagaan Timut Barat dengan
menenukan jalan laut menuju dunia Timur, menguasai Bandar Bandar di daerah strategis sebagai mata
rantai perdagangan dan perniagaan pada abad 16 (Mudyaharjo, 2008: 242).

Bangsa Portugal datang ke wilayah Timur (termasuk Indonesia) dalam mencari kejayaan (glorious) dan
kekayaan (gold) dengan maksud untuk menyebarkan agama Katholik (gospel). Perdagangan bangsa
Portugis menetap di bagian Timur Indonesia (wilayah kaya hasil rempah rempah).

Kakuasaan Portugis mulai melemah akibat pengaruh peperangan dengan raja raja Indonesia dan
digeser dengan kedatangan Belanda tahun 1605 (Nasution, 2008: 4). Portugis melibatkan paderi
misionaris terkenal di Maluku dijadikan pijakan menjajah Franciscus Xaverius dari orde Jesuit. Orde
Jesuit berdiri tahun (1491 1556) oleh Ignatius Layola dan bertujuan untuk keagungan dari Tuhan
(Mudyahardjo, 2008: 243). Pencapaiannya dengan cara memberikan khotbah, memberi pelajaran, dan
pengakuan. Xaverius menyebutkan bahwa melihat pendidikan sebagai alat canggih untuk penyebaran
agama (Nasution, 2008: 4).

Orang Belanda datang pertama kali tahun 1596 memberikan pengaruh Kristen dan bertujuan mencari
rempah rempah di pimpin oleh Cornelis de Houtman. Menghindari adanya persaingan, pemerintah
Belanda mendirikan kongsi dagang VOC (ureenigds Oost Indische Compagnie) dan persekutuan dagang
Hindia Belanda tahun 1602 (Mudyahardjo, 2008:245). Pengaruh sikap VOC terhadap pendidikan yaitu
tetap membiarkan penyelenggaraan pendidikan tradisional Nusantara, dan mendukung
penyelenggaraan sekolah untuk tujuan menyebarkan agama Kristen. VOC berpusat pada pendidikan di
wilayah Timur Indonesia (katholik berakar di Batavia Jakarta) merupakan pusat administrasi kolonial.
Selain itu bertujuan untuk menghapuskan agama Khatolik diganti agama Kristen Protestan, Calvinisme
(Nasution, 2008: 4).

d. Zaman Kolonial Belanda

Perkembangan VOC diperkuat oleh persenjataan dan benteng dari Belanda, sebagai landasan untuk
menguasai daerah sekitarnya. Semakin lama kantor pusat komersial perdagangan menjadi berbasis
politik dan territorial. Setelah perang colonial di berbagai daerah di Indonesia, menyebabkan Indonesia
jatuh dalam penguasaan pemerintah Belanda. Tahun 1816 VOC turun dan pemerintahan dikendalikan
oleh Komisaris Jendral Inggris. Sehingga pendidikan zaman VOC gagal total menyebabkan sistem
pendidikan mulai dari awal lagi. Ide Liberal aliran Ufklarung atau Enlightement menyebutkan bahwa
pendidikan sebagai alat untuk mencapai kemajuan ekonomi dan sosial, dan memberikan pengaruh bagi
mereka. Hal inilah yang menyebabkan kurikulum sekolah mengalami perubahan secara radikal.
Tujuannya untuk mengembangkan kemapuan intelektual, nilai nilai rasional dan sosial dan diterapkan
untuk anak anak Belanda di abad 19.

Tahun 1848 pemerintah mengeluarkan peraturan untuk menerima tanggung jawab pendidikan anak
anak Indonesia yang lebih besar, dan peraturan ini menjadi perdebatan di parlemen Belanda sebagai
cermin sikap liberal dan menguntungkan bagi rakyat Indonesia. Artikel majalah De Gids tahun 1899
dikeluarkan oleh Van Deventer berjudul Hutang Kehormatan menyebutkan bahwa menganjurkan
pemerintahannya lebih memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia sebagai Politik Etis dan bertujuan
untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui irigasi, transmigrasi, reformasi, pendewasaan,
perwakilan. Semua tujuan membutuhkan peranan penting dalam pendidikan. Van Deventer juga
mengembangkan pengajaran bahasa Belanda, untuk menguasai Belanda secara kultural lebih maju dan
dapat menjadi pelopor lainnya.

Berjalannya Politik Etis menunjukkan kemajuan yang pesat dalam bidang pendidikan selama beberapa
dekade. Pendidikan berorientasi Barat, bersifat terbatas hanya untuk beberapa golongan saja yaitu
untuk anak anak Indonesia yang orang tuanya sebagai pegawai pemerintahan Belanda, menjadi elite
intelektual baru. Golongan inilah yang berjuang merintis kemerdekaan melalui pendidikan.
Perjuangannya masih bersifat kedaerahan dan berubah menjadi perjuangan bangsa sejak berdirinya
Budi Utomo tahun 1908 dan meningkat perkembangan ditandai lahirnya Sumpah Pemuda tahun 1928.
Tokoh pendidikan yaitu Muhammad Syafei dengan Indonesisch Nederlandse Schoolnya, Ki Hajar
Dewantoro dengan Taman Siswanya, dan Kyai Haji Ahmad Dahlan dengan pendidikan
Muhammadiyahnya semuanya mendidik anak anak supaya bisa mandiri dengan jiwa mereka (Pidarta,
2008: 125).
e. Zaman Kolonial Jepang

Masa penjajahan Jepang, perjuangan bangsa Indonesia tetap berlanjut untuk mencapai kemerdekaan.
Bangsa Jepang telah menguras kekayaan alam di Indonesia, tetap bangsa Indonesia tidak pantang
menyerah, dan terus mengobarkan semangat 45 di hati. Sisi positif dari penjajahan Jepang di bidang
pendidikan. Pendidikan dualisme dari Belanda dihapuskan dan digantikan dengan pendidikan yang sama
untuk semua orang. Penggunaan bahasa Indonesia secara luas diinstruksikan Jepang dalam dunia
pendidikan, perkantoran, dan kehidupan sehari hari. Hal inilah yang mempermudah jalannya bangsa
Indonesia untuk merealisasikan Indonesia merdeka tanggal 17 agustus 1945 dan membuat cita cita
bangsa Indonesia menjadi kenyataan saat kemerdekaan Indonesia diproklamasikan kepada dunia.

f. Zaman Kemerdekaan (Awal)

Perjuangan bangsa Indonesia berlanjut meskipun kemerdekaan sudah tercapai. Hal ini dipengaruhi
adanya gangguan penjajah silih berganti untuk menguasai Indonesia lagi. Pengaruh tersebut
menyebabkan pendidikan bukan menjadi prioritas utama, prioritas utama Indonesia yaitu untuk
mempertahankan kemerdekaan yang sudah diraih dengan penuh perjuangan. Adapun tujuan
pendidikan masih belum dirumuskan dalam undang undang pendidikan. Sistem persekolahan di
Indonesia bekas jajahan Jepnag terus disempurnakan. Tetapi pelaksanaannya masih belum tercapai
sesuai dengan apa yang diharapkan bahkan pendidikan di daerah daerah tidak dapat dilaksanakan.
akibat adanya pengaruh keamanan para pelajar yang terancam, dan banyak pelajar yang ikut serta
dalam mempertahankan perjuangan kemerdekaan sehingga tidak pergi kesekolah.

g. Zaman Orde Lama

Gangguan penjajah mulai meredam, kemerdekaan digunakan untuk menggerakkan pembangunan


dalam segala bidang (spiritual ataupun material). Adanya konsolidasi yang intensif, sistem pendidikan
Indonesia terdiri atas pendidikan rendah, menengah, dan tinggi. Pendidikan menekankan untuk
membimbing siswanya menjadi warga Negara yang bertanggung jawab, sesuai dengan dasar keadilan
sosial, dan sekolah harus terbuka bagi setiap penduduk Negara.

Tujuannya membangun bangsa supaya menjadi bangsa mandiri dan mampu menyelesaikan revolusinya,
baik di dalam maupun diluar. Pendidikan secara spiritual dapat membina bangsa yang ber-pancasila dan
mempu menyelenggarakan UUD 1945. Sosialisme Indonesia, demokrasi terpimpin, kepribadian
Indonesia, dan merealisasikan ketiga kerangka tujuan Revolusi Indonesia sesuai dengan membentuk
Manipol NKRI dari wilayah Sabang sampai Merauke. Rangka menyelenggarakan masyarakat sosialis
Indonesia yang adil dan makmur, lahir dan batin, menghapuskan kolonialisme, mengusahakan dunia
baru, tanpa penjajahan, penindasan dan penghisapan, kearah perdamaian, persahabatan nasional yang
sejati dan abadi (Mudyahardjo, 2008: 403).

h. Zaman Orde Baru

Orde Baru mulai setelah peristiwa G30 SPKI tahun 1965 ditandai adanya upaya melaksanakan UUD 1945
secara murni dan konsekuen. Penyelanggaraan pendidikan dikoreksi dari penyimpangan di masa Orde
Lama yaitu menetapkan pendidikan agama sebagai mata pelajaran wajib di SD sampai perguruan tinggi.
Orde Baru menyebut pendidikan sebagai suatu usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan
kemampuan di dalam sekolah dan di luar sekolah. Sehingga pendidikan berlangsung seumur hidup dan
dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan zaman ini
memungkinkan adanya penghayatan dan pengetahuan Pancasila secara meluas di masyarakat, tidak
hanya di sekolah sebagai mata pelajaran pada setiap jenjang pendidikan, tetapi dikembangkan pula
kebijakan link and match di bidang pendidikan. konsep keterkaitan dan kepadanan dijadikan strategi
operasional dalam meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan pasar (Pidarta, 2008: 137).
Sistem pendidikannya sentralisasi yang berpusat pada pemerintahan.

i. Zaman Reformasi

Orde Baru berlangsung kekuasaan dipegang rezim partai terbesar (Golkar) berisi tentang kebebasan
masyarakat untuk melakukan sesuatu, kebebasan untuk berbicara dan menyampaikan pendapatnya.
Orde Baru berlangsung tahun 1998 menyebabkan masyarakat bebas bagikan burung lepas dari
sangkarnya. Masa Reformasi ini, merupakan tahap awal untuk mengejar kebebasan tanpa program yang
jelas. Perekonomian Indonesia juga mengalami perubahan di era Orde Baru serta menyebabkan bangsa
Indonesia mangalami ekonomi terpuruk, bertambahnya pengangguran, banyak penduduk miskin,
korupsi semakin menjadi dan susah diberantas. Bidang pendidikan ada perubahan dengan munculnya
Undang undang pendidikan yang mengubah sistem pendidikan sentralisasi menjadi desentralisasi
untuk mewujudkan pendidikan secara perlahan misalnya KBM (Kurikulum Berbasis Kompetensi), MBS
(Manajemen Berbasis Sekolah), Life Skills (Lima Keterampilan Hidup), TQM (Total Quality Management),
KTSP (Kurikulum Satuan Pendidikan).

Sistem pendidikan di Indonesia diatur dalam UU RI No. 20 Th 2003, Bab VI, menyatakan bahwa
pemerintah telah berusaha menyelenggarakan pendidikan dengan sebaik baiknya, setiap tahun dan
setiap ada pergantian pimpinan selalu berupaya untuk menyempurknakan kurikulum, pola dan strategi
pembelajaran dan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.

C. Implikasi Sejarah Terhadap Konsep Pendidikan Nasional Indonesia

Adapun implementasi konsep pendidikan dalam landasan sejarah atau historis sebagai berikut ini:

1. Tujuan Pendidikan

Pendidikan diharapkan memiliki tujuan dan dapat mengembangkan berbagai macam potensi siswa,
serta mengembangkan kepribadian siswa secara lebih harmonis. Tujuan pendidikan diarahkan untuk
mengembangkan aspek keagamaan, kemanusiaan, serta kemandirian siswa. Di samping itu, tujuan
pendidikan harus diarahkan kepada hal hal praktis dan memiliki nilai guna tinggi sehingga dapat
diaplikasikan dalam kehidupan sehari hari.

2. Proses Pendidikan

Proses pendidikan terutama proses belajar mengajar dan materi pelajaran harus disesuaikan dengan
tingkat perkembangan siswa, mengembangkan kemandirian dan kerjasama antar siswa dalam
pembelajaran, mengembangkan pembelajaran lintas disiplin ilmu, demokratisasi dalam pendidikan,
serta mengembangkan ilmu dan tehnologi.

3. Kebudayaan Nasional
Pendidikan harus memajukan perkembangan kebudayaan Nasional. Kebudayaan nasional merupakan
puncak budaya daerah dan menjadi identitas bangsa Indonesia, supaya tidak hilang terkena arus
globalisasi (Pidarta, 2008: 149).

D. Penutup

1. Kesimpulan

Pendidikan mewariskan peradaban masa lampau sehingga peradaban masa lampau yang memiliki nilai
nilai luhur dapat dipertahankan dan diajarkan serta digunakan oleh generasi muda dalam kehidupan
sehari hari dimasa ini. Dengan adanya warisan masa lampau (baik karya dan pengalaman) dalam dunia
pendidikan harus tetap dijaga, di pelihara, dan lestarikan sehingga warisan (peradaban pendidikan masa
lampau tetap diakui eksistensinya dan tidak tersia siakan) pada masa modernisasi saat ini.

E. Daftar Rujukan

Anzizhan, Syafaruddin. 2004. Sistem Pengambilan Keputusan Pendidikan.Jakarta: PT. Gramedia


Widiasarana Indonesia.

Mudyahardjo, Redja. 2008. Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal tentang Dasar-Dasar Pendidikan
pada Umumnya dan Pendidikan di indonesia. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Nasution, S. 2008. Sejarah Pendidikan Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Pidarta, Made. 2007. Landasan Pendidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: PT
Rineka Cipta.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta:
Depdiknas, 2005 (online diakses tanggal 2 September 2015).

Williams, G. 1977. Towards Lifelong Education: A New Role for Higher Education Institutions. Paris:
UNESCO (online diakses tanggal 2 September 2015).
Makalah Landasan Historis Pendidikan

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Selama ada kehidupan di dunia, selama itu pula perlu adanya pendidikan. Kondisi pendidikan di setiap
negara berubah-ubah tergantung masa atau zamannya, termasuk di Indonesia. Kondisi pendidikan di
Indonesia terus berkembang dari waktu ke waktu. Baik dari zaman purba, hingga sampai saat ini.
Perkembangan pendidikan dipengaruhi banyak hal. Dalam pelaksanaan pendidikan, tentunya muncul
berbagai permasalahan, baik masalah sederhana hingga masalah yang serius.

Tidak hanya sejarah militer dan politik saja yang dapat diteliti dan ditulis. Pendidikanpun ada historis/
sejarah yang mencatatnya. Untuk itu, dalam makalah ini kami akan membahas mengenai Landasan
Historis Pendidikan di Indonesia. Yang menjelaskan perkembangan pendidikan di Indonesia dari masa ke
masa.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan dari makalah ini adalah:

1. Apa yang dimaksud dengan Landasan Historis Pendidikan?

2. Bagaimana pendidikan zaman purba sampai dengan zaman kolonial Belanda?

3. Bagaimana pendidikan kaum pergerakan kebangsaan/ nasional ?

4. Bagaimana sistem pendidikan nasional berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003

C. Tujuan Penulisan

Adapun maksud dan tujuan penulisan makalah ini adalah:

1. Agar mahasiswa dapat mengetahui konsep, sistem, dan perkembangan pendidikan di Indonesia
dari zaman purbakala hingga zaman modern saat ini, serta

2. Untuk memenuhi tugas Presentasi kelompok dalam mata kuliah Landasan Pendidikan.

BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian Historis
Sejarah/historis adalah keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian atau kegiatan yang
didasari oleh konsep-konsep tertentu. Sejarah penuh dengan informasi-informasi yang mengandung
kejadian, model, konsep, teori, praktik, moral, cita-cita, bentuk dan sebagainya (Pidarta, 2007: 109).

Sejarah menjadi sebuah acuan untuk mengembangkan suatu kegiatan atau kebijakan pada saat ini.
Mempelajari sejarah sangatlah penting karena dengan mempelajari sejarah manusia memperoleh
banyak informasi dan manfaat sehingga menjadi lebih arif dan bijaksana dalam menentukan sebuah
kebijakan dimasa yang akan datang.

Sedangkan pendidikan adalah sebuah proses yang arif, terencana dan berkesinambungan guna
mendorong atau memotivasi peserta didik dalam mengembangkan potensinya. Maka dari itu, yang
dimaksud dengan landasan historis pendidikan adalah sejarah yang menjelaskan dasar-dasar pendidikan
di masa lalu yang menjadi acuan terhadap pengembangan pendidikan di masa kini.

B. Pendidikan Pada Zaman Purba Sampai Zaman Belanda

1. Zaman Purba

Pendidikan pada zaman Purba, didominasi oleh peranan seorang ayah pada anak lelakinya dengan
menurunkan kepandaian dan pengetahuan pada anaknya. Adapun pengetahuan yang diturunkan
biasanya pengetahuan praktis seperti berburu, menangkap ikan dan memanjat pohon. Sedangkan ibu
punya tugas mendidik anak perempuannya seperti memasak dan memelihara anak-anaknya. Jadi,
konsep pendidikan pada zaman purba adalah konsep pendidikan keluarga. Selain ayah dan ibu, pada
zaman purba juga ada yang dianggap guru.

1. Empu, ia seorang yang dianggap punya pengetahuan dan kelebihan dalam bidang kerohanian
maupun etika.

2. Pandai besi, pandai besi kala itu juga dianggap sebagai seorang yang punya kelebihan dan
kekuatan. Maklum zaman itu senjata tajam adalah alat utama dalam peradaban kala itu untuk bercocok
tanam, berperang atau mempertahankan diri dari serangan kelompok lain.

3. Dukun, dukun pada zaman itu juga dianggap orang punya kelebihan dan sangat di segani dan
dihormati segala nasihatnya sangat di taati.

Tujuan pendidikan secara umum pada zaman purba adalah membentuk seseorang agar menjadi seorang
yang berjiwa ''gotong royong'' dan membentuk manusia agar mempunyai kecakapan dalam hal beretika,
ilmu berburu dan menangkap ikan.

Walaupun pada zaman ini belum di kenal istilah kurikulum, namun pendidikannya telah mencakup aspek
kajian kurikulum, yakni meliputi pengetahuan, sikap dan nilai mengenai kepercayaan melalui upacara-
upacara keagamaan dalam rangka menyembah nenek moyang.

2. Zaman Belanda

Pendidikan di bawah kekuasaan kolonial Belanda diawali dengan pelaksanaan pendidikan yang
dilakukan oleh VOC. Pada masa VOC, yang merupakan sebuah kongsi (perusahaan) dagang, kondisi
pendidikan di Indonesia dapat dikatakan tidak lepas dari maksud dan kepentingan komersial. Zaman
VOC (Kompeni) Orang belanda datang ke Indonesia bukan untuk menjajah melainkan untuk berdagang.
Mereka di motifasi oleh hasrat untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya, sekalipun harus
mengarungi laut yang berbahaya sejauh ribuan kilometer dalam kapal layar kecil untuk mengambil
rempah-rempah dari Indonesia. Sekolah pertama didirikan VOC di Ambon pada tahun 1607. Sampai
dengan tahun 1627 di Ambon telah berdiri 16 sekolah, sedangkan di pulau-pulau lainnya sekitar 18
sekolah (Tatang, 2010:197).

VOC menyelenggarakan sekolah dengan tujuan untuk misi keagamaan (Protestan), bukan untuk misi
intelektualitas, adapun tujuan lainnya adalah untuk menghasilkan pegawai administrasi rendahan di
pemerintahan dan gereja. Sekolah-sekolah utamanya didirikan di daerah-daerah yang penduduknya
memeluk Katholik yang telah disebarkan oleh bangsa Portugis.

Pada awalnya yang menjadi guru adalah orang Belanda, kemudian digantikan oleh penduduk pribumi,
yaitu mereka yang sebelumnya telah dididik di Belanda. Kurikulum pendidikan pada zaman VOC berisi
mengenai pelajaran membaca, menulis dan sembahyang. Tujuan didirikan sekolah-sekolah oleh VOC
adalah untuk melaksanakan pemeliharaan dan penyebaran agama Protestant, maka dari itu guru yang
diangkat adalah para pendeta. Adapun mengenai uraian rencana pelajaran tidak dibuat karena sekolah
yang didirikan memiliki tujuan keagamaan bukan intelektualitas Indonesia (Djumhur, 1976:116)

Ciri-ciri pendidikan zaman ini antara lain:

1. Minimnya partisipasi pendidikan bagi kalangan Bumi Putera, pendidikan umumnya hanya
diperuntukan bagi bangsa Belanda dan anak-anak bumi putera dari golongan priyayi

2. Pendidikan bertujuan untuk menghasilkan tenaga kerja murah atau pegawai rendahan (Tatang,
2010:198).

Tahun 1893 keluar kebijakan diferensiasi sekolah untuk bumi putera sebagai akibat dikeluarkannya UU
Agraris 1870. Kebijakan tersebut ditandai dengan dikeluarkannya Indisch Staatsblad 1893, No 125 yang
membagi sekolah Bumi Petera yaitu Sekolah Kelas I untuk golongan priyayi, sedangkan Sekolah Kelas II
untuk golongan rakyat jelata. Isi rencana pelajaran disesuaikan dengan keharusan sekolah untuk
mendidik calon-calon pegawai. Pada mata pelajaran tampak adanya penyesuaian dengan keperluan dan
kebutuhan perkantoran seperti menggambar, berhitung, dan ilmu pertanian. Mata pelajaran
menggambar dilaksanakan dengan cara memberi tugas menggambar peta-peta lapangan, mata
pelajaran berhitung tidak terlepas dari soal-soal yang berhubungan dengan pemungutan pajak tanah,
administrasi gudang-gudang garam dan kopi, membuat macam-macam daftar dan tata buku yang
sederhana, sedangkan mata pelajaran ilmu pertanian diupayakan agar meningkatkan hasil kuantitas dan
kualitas pertanian (Djumhur, 1976:124).

Pengajaran bumiputera pada sekolah kelas I memiliki tujuan memenuhi kebutuhan akan pegawai-
pegawai pemerintah, perdagangan, dan perusahaan dengan lama waktu belajar lima tahun dan mata
pelajaran yang diberikan adalah membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi, sejarah, pengetahuan alam,
menggambar, dan ilmu mengukur tanah, sedangkan sekolah kelas II memiliki tujuan untuk memenuhi
kebutuhan akan pengajaran di kalangan rakyat umum dengan lama pendidikan tiga tahun. Adapun
mengenai mata pelajaran yang diberikan adalah membaca, menulis, dan berhitung. Tahun 1914 Sekolah
Kelas I diubah menjadi HIS (Holands Inlandse School) 6 tahun dengan bahasa pengantar bahasa Belanda.
Sedangkan Sekolah Kelas II tetap bernama demikan atau disebut Vervoleg School (sekolah sambungan)
dan merupakan lanjutan dari Sekolah Desa yang pelaksanaan pendidikan terdiri dari tiga tingkat kelas
yaitu Kelas I, Kelas II, dan Kelas III didirikan mulai tahun 1907 (Djumhur, 1976:124; Tatang, 2010:198;
Komarudin, 2009:134).

Contoh kurikulum sekolah Desa di Aceh: Pada tingkat kelas I materi pelajaran yaitu membaca dan
menulis bahasa melayu dan huruf latin, selain itu terdapat pula latihan bercakap-cakap dan berhitung
dari angka 1 sampai dengan angka 20. Pada tingkat kelas II, materi pelajaran yang disampaikan ialah
membaca dan menulis dengan huruf latin dan juga arab. Di kelas ini juga diperkenalkan materi dikte.
Pada tingkat Kelas III mulai mengenal ulangan atau tes materi pelajaran yang dipelajari, demikian pula
dengan berhitung sudah diatas 100, di kelas ini pun telah dikenalkan pecahan sederhana (Komarudin,
2009:134).

C. Pendidikan Kaum Pergerakan Kebangsaan/ Nasional

Ditinjau dari istilah katanya pergerakan berasal dari kata dasar gerak. Di dalam bahasa Inggris
pergerakan dapat diartikan movement. Kemudian istilah pergerakan ini digunakan dalam sejarah
perjuangan bangsa, menjadi pergerakan nasional yang identik dengan kebangkitan nasional.

Pergerakan nasional adalah suatu bentuk perlawanan terhadap kaum penjajah yang dilaksanakan tidak
dengan menggunakan kekuatan bersenjata, tetapi menggunakan organisasi yang bergerak di bidang
sosial, budaya, ekonomi dan politik. Demikian halnya dengan pergerakan nasional yang terjadi di
Indonesia.

Pergerakan nasional Indonesia yaitu perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme dan
imperialisme yang dilalui dengan mendirikan organisasi-organisasi yang bersifat nasional dan tidak
terikat lagi dengan perjuangan fisik yang suporadis dan berbau kedaerahan maupun agama.

Sejak dijalankannya Politik Etis ini tampak kemajuan yang lebih pesat dalam bidang pendidikan selama
beberapa dekade. Pendidikan yang berorientasi Barat ini meskipun masih bersifat terbatas untuk
beberapa golongan saja, antara lain anak-anak Indonesia yang orang tuanya adalah pegawai pemerintah
Belanda, telah menimbulkan elite intelektual baru.

Golongan baru inilah yang kemudian berjuang merintis kemerdekaan melalui pendidikan. Perjuangan
yang masih bersifat kedaerahan berubah menjadi perjuangan bangsa sejak berdirinya Budi Utomo pada
tahun 1908 dan semakin meningkat dengan lahirnya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Setelah itu tokoh-tokoh pendidik lainnya adalah Mohammad Syafei dengan Indonesisch Nederlandse
School-nya, Ki Hajar Dewantara dengan Taman Siswa-nya, dan Kyai Haji Ahmad Dahlan dengan
Pendidikan Muhammadiyah-nya yang semuanya mendidik anak-anak agar bisa mandiri dengan jiwa
merdeka (Pidarta, 2008: 125-33).

1. Pendidikan Pada Zaman Jepang

Perjuangan bangsa Indonesia dalam masa penjajahan Jepang tetap berlanjut sampai cita-cita untuk
merdeka tercapai. Walaupun bangsa Jepang menguras habis-habisan kekayaan alam Indonesia, bangsa
Indonesia tidak pantang menyerah dan terus mengobarkan semangat 45 di hati mereka.
Pada masa penjajahan Jepang kegiatan pendidikan dan pengajaran menurun akibatnya angka buta huruf
meningkat. Oleh karena itu diadakanlah program pemberantasan buta huruf yang di pelopori oleh
organisasi Putera. Namun di bidang pendidikan, Jepang telah menghapus dualisme pendidikan dari
penjajah Belanda dan menggantikannya dengan pendidikan yang sama bagi semua orang. Jepang
menerapkan beberapa kebijakan terkait pendidikan yang memiliki implikasi luas terutama bagi sistem
pendidikan di era kemerdekaan.

Hal-hal tersebut antara lain:

1. Dijadikannya Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi pengantar pendidikan menggantikan Bahasa
Belanda.

2. Adanya integrasi sistem pendidikan dengan dihapuskannya sistem pendidikan berdasarkan kelas
sosial di era penjajahan Belanda.

Sistem pendidikan pada masa pendudukan Jepang itu kemudian dapat dikategorikan sebagai berikut :

1. Sekolah Rakyat

Lama studi 6 tahun. Sekolah Pertama yang merupakan konversi nama dari Sekolah dasar 3 atau 5 tahun
bagi pribumi di masa Hindia Belanda.

2. Pendidikan Lanjutan

Terdiri dari Shoto Chu Gakko (Sekolah Menengah Pertama) dengan lama studi 3 tahun dan Koto Chu
Gakko (Sekolah Menengah Tinggi) juga dengan lama studi 3 tahun. Sekolah guru terdiri dari sekolah
guru 2 tahun, sekolah guru 3 tahun dan sekolah guru lama pendidikannya 6 tahun

2. Pendidikan Indonesia Periode tahun 1945-1969

Setelah Indonesia merdeka, perjuangan bangsa Indonesia tidak berhenti sampai di sini karena
gangguan-gangguan dari para penjajah yang ingin kembali menguasai Indonesia datang silih berganti
sehingga bidang pendidikan pada saat itu bukanlah prioritas utama karena konsentrasi bangsa Indonesia
adalah bagaimana mempertahankan kemerdekaan yang sudah diraih dengan perjuangan yang amat
berat.

Tujuan pendidikan belum dirumuskan dalam suatu undang-undang yang mengatur pendidikan. Sistem
persekolahan di Indonesia yang telah dipersatukan oleh penjajah Jepang terus disempurnakan. Namun
dalam pelaksanaannya belum tercapai sesuai dengan yang diharapkan, bahkan banyak pendidikan di
daerah-daerah tidak dapat dilaksanakan karena faktor keamanan para pelajarnya. Di samping itu,
banyak pelajar yang ikut serta berjuang mempertahankan kemerdekaan sehingga tidak dapat
bersekolah.

Setelah gangguan-gangguan itu mereda, pembangunan untuk mengisi kemerdekaan mulai digerakkan.
Pembangunan dilaksanakan serentak di berbagai bidang, baik spiritual maupun material. Setelah
diadakan konsolidasi yang intensif, system pendidikan Indonesia terdiri atas: Pendidikan Rendah,
Pendidikan Menengah, dan Pendidikan Tinggi.
Orde Baru dimulai setelah penumpasan G-30S PKI pada tahun 1965 dan ditandai oleh upaya
melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Haluan penyelenggaraan pendidikan dikoreksi
dari penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh Orde Lama yaitu dengan menetapkan
pendidikan agama menjadi mata pelajaran dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi.

Menurut Orde Baru, pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan
kemampuan di dalam sekolah dan di luar sekolah yang berlangsung seumur hidup serta dilaksanakan di
dalam lingkungan rumahtangga, sekolah dan masyarakat. Pendidikan pada masa kemerdekaan
memungkinkan adanya penghayatan dan pengamalan Pancasila secara meluas di masyarakat, tidak
hanya di dalam sekolah sebagai mata pelajaran di setiap jenjang pendidikan.

Namun demikian, dalam dunia pendidikan pada masa ini masih memiliki beberapa kesenjangan. Buchori
dalam Pidarta (2008: 138-39) mengemukakan beberapa kesenjangan, yaitu:

1. Kesenjangan okupasional (antara pendidikan dan dunia kerja),

2. Kesenjangan akademik (pengetahuan yang diperoleh di sekolah kurang bermanfaat dalam


kehidupan sehari-hari),

3. Kesenjangan kultural (pendidikan masih banyak menekankan pada pengetahuan klasik dan
humaniora yang tidak bersumber dari kemajuan ilmu dan teknologi), dan

4. Kesenjangan temporal (kesenjangan antara wawasan yang dimiliki dengan wawasan dunia terkini).

Namun, keberhasilan pembangunan yang menonjol pada zaman ini adalah :

1. Kesadaran beragama dan kebangsaan meningkat dengan pesat,

2. Persatuan dan kesatuan bangsa tetap terkendali, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga meningkat.

D. Sistem Pendidikan Nasional berdasarkan UUD no 20 tahun 2003

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. (UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional)

Pendidikan juga merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peseta didik agar dapat berperan aktif dan
positif dalam hidupnya sekarang dan yang akan datang. Sedangkan pendidikan nasional Indonesia
adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia yang berdasar kepada pencapaian
tujuan pembangunan Indonesia. Sistem pendidikan nasional merupakan satu keseluruhan yang terpadu
dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang saling berkaitan untuk mengusahakan tercapainya
tujuan pendidikan nasional. Yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan terciptanya kesejahteraan
umum dalam masyarakat.
Setiap bangsa memiliki sistem pendidikan nasional. Sistem pendidikan nasional Indonesia disusun
berlandaskan kepada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan pada pancasila dan UUD 1945
sebagai kristalisasi nilai-nilai hidup bangsa Indonesia. Sehingga penyelenggaraan sistem pendidikan
nasional sesuai dengan kebutuhan pendidikan Indonesia secara geografis, demokrafis, historis, dan
kultural berciri khas.

Sistem pendidikan nasional diselenggarakan oleh pemerintah dan swasta di bawah tanggung jawab
menteri pendidikan dan kebudayaan dan menteri lainnya. Penyelenggaraan sistem pendidikan nasional
dilaksanakan melalui bentuk-bentuk kelembagaan beserta program-programnya.

Secara konsep sudah cukup bagus, mengarah ke pendidikan yang integral/ terpadu, meliputi semua
aspek kepribadian (IQ, EQ dan SQ). Namun yang seringkali yang menjadi masalah adalah bagaimana
implementasi di lapangan, di sekolah, dan di universitas. Bisa jadi jauh dari harapan. Keragaman SDM,
lingkungan, sarana prasarana mungkin menjadi beberapa hal penyebabnya. Berikut beberapa UU
Sisdiknas:

1. Pasal 1

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

2. Pasal 3

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia

yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

3. Pasal 4

Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan
menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

4. Pasal 12

Mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu membiayai
pendidikannya.

Mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai
pendidikannya.

5. Pasal 25

Lulusan perguruan tinggi yang karya ilmiahnya digunakan untuk memperoleh gelar akademik, profesi,
atau vokasi terbukti merupakan jiplakan dicabut gelarnya.
6. Pasal 36

Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia dengan memperhatikan:

a. peningkatan iman dan takwa;

b. peningkatan akhlak mulia;

c. peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;

d. keragaman potensi daerah dan lingkungan;

e. tuntutan pembangunan daerah dan nasional;

f. tuntutan dunia kerja;

g. perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;

h. agama;

i. dinamika perkembangan global; dan

j. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.

7. Pasal 68

Setiap orang yang membantu memberikan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi,
dan/atau vokasi dari satuan pendidikan yang tidak memenuhi persyaratan, dipidana dengan pidana
penjara paling lama lima tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah).

Setiap orang yang menggunakan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi, dan/atau vokasi
yang diperoleh dari satuan pendidikan yang tidak memenuhi persyaratan, dipidana dengan pidana
penjara paling lama lima tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah).

E. Upaya Pembangunan Sistem Pendidikan Nasional

1. Jenis Upaya Pembaruan Pendidikan

a. Pembaruan Landasan Yuridis

Merupakan pembaharuan paling mendasar yang tertuju pada landasan Yuridisnya. Dikatakan demikian
karena landasan Yuridis mendasari semua kegiatan pelaksanaan pendidikan dan mengenai hal-hal yang
penting seperti komponen struktur pendidikan.

b. Pembaruan Kurikulum

Ada dua faktor pengendali yang menentukan pembaruan kurikulum, yaitu yang sifatnya
mempertahankan dan yang mengubah.

1. Faktor pertama
Landasan Filosofis, yaitu falsafah bangsa Indonesia yaitu Pancasila dan UUD 1945 dan landasan historis.

2. Faktor kedua

1. Landasan Sosial, berupa kekuatan-kekuatan sosial dalam masyarakat.

2. Landasan Psikologis, yaitu cara peserta di dalam belajar.

c. Pembaruan Pola Masa Studi

Pembaruan pola masa studi termaksud pendidikan yang meliputi pembaruan jenjang dan jenis
pendidikan serta lama waktu belajar pada satuan pendidikan. Perubahan pola masa studi sebagai suatu
tanda adanya pembaruan pendidikan berupa penambahan/ pengurangan. Perubahan pola tersebut,
dilakukan dengan tujuan dan alasan-alasan tertentu.

d. Pembaruan Tenaga Kependidikan

Yang dimaksud tenaga kependidikan adalah tenaga yang bertugas menyelenggarakan kegiatan
mengajar, melatih, meneliti, mengembangkan, mengelola serta memberikan pelayanan teknis dalam
bidang pendidikan. Pembaruan terhadap komponen tenaga kependidikan dipandang sangat penting
karena pembaruan pada komponen-komponen lain tanpa ditunjang oleh tenaga-tenaga pelaksana yang
kompeten, tidak akan ada artinya. Tenaga lain selain guru adalah pustakawan, laboran, konselor, teknisi
sumber belajar, dan lain-lain.

2. Dasar dan Aspek Legal Pembangunan Pendidikan Nasional.

Berupa ketentuan-ketentuan Yuridis yang menjadi dasar, acuan, serta mengatur penyelenggaraan
pendidikan nasional, seperti Pancasila, UUD 1945, GBHN, UU organik pendidikan, Perda, dan lain-lain.

Program Utama Pembangunan Pendidikan

1. Perluasan dan pemerataan kesempatan mengikuti pendidikan.

2. Peningkatan mutu pendidikan.

3. Peningkatan relevansi pendidikan.

4. Peningkatan efisiensi dan efektifitas pendidikan.

5. Pengembangan kebudayaan.

6. Pembinaan generasi muda.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari rangkaian sejarah yang menjadi landasan historis pendidikan di Indonesia, kita dapat menyimpulkan
bahwa masa-masa tersebut memiliki wawasan yang tidak jauh berbeda satu dengan yang lain. Mereka
sama-sama menginginkan pendidikan bertujuan mengembangkan individu peserta didik. Dalam arti
memberi kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan potensi mereka secara alami, dan demi
kemajuan bangsa yang lebih baik. Sementara itu, pendidikan pada dasarnya hanya memberi bantuan
dan layanan dengan menyiapkan segala sesuatunya. Sejarah juga menunjukkan betapa sulitnya
perjuangan mengisi kemerdekaan dibandingkan dengan perjuangan mengusir penjajah.

Dengan demikian kami berharap hasil pendidikan dapat berupa ilmuwan, innovator, orang yang peduli
dengan lingkungan serta mampu memperbaikinya, dan meningkatkan peradaban manusia. Bukan justru
sebaliknya.

Hal ini dikarenakan pendidikan selalu dinamis mencari yang baru, memperbaiki dan memajukan diri,
agar tidak ketinggalan zaman, dan selalu berusaha menyongsong zaman yang akan datang.

B. Saran

Sebagai calon pendidik atau orang yang akan berkecimpung dalam dunia pendidikan, sudah sepatutnya
mengetahui dan memahami sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia, dalam hal ini Landasan
Historis Pendidikan. Dengan memahami historis tersebut, dimaksudkan agar calon pendidik beserta para
instrument pendidikan lainnya, dapat menghindari kesalahan-kesalahan pada pendidikan yang
terdahulu, sehingga tidak terulang kembali pada pendidikan yang akan datang. Sebaliknya, yakni dapat
mempertahankan bahkan meningkatkan nilai-nilai pendidikan yang baik dan bermutu demi kemajuan
pendidikan Indonesia. Dengan mewariskan, menggunakan karya dan pengalaman masa lampau,
pendidikan menjadi pengawal, perantara, dan pemelihara peradaban.

DAFTAR PUSTAKA

Anzizhan, Syafaruddin (2004). Sistem Pengambilan Keputusan Pendidikan. Jakarta: PT. Gramedia
Widiasarana Indonesia.

Buchori, Mochtar (1995). Transformasi Pendidikan. Jakarta: IKIP Muhammadiyah Jakarta Press.

Mudyahardjo, Redja (2008). Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal tentang Dasar-Dasar Pendidikan
pada Umumnya dan Pendidikan di indonesia. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Nasution, S. (2008). Sejarah Pendidikan Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.


Pidarta, Made (2007). Landasan Pendidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: PT
Rineka Cipta.

http://geovinablog.blogspot.co.id/2014/09/v-behaviorurldefaultvmlo.html

https://bluejundi.wordpress.com/2012/10/23/sistem-pendidikan-nasional-dalam-uu-no-20-tahun-2003/

Anda mungkin juga menyukai