Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PEMBEKALAN MATERI PESERTA PLPG TAHUN 2017

Nama Peserta : Ari Eka Prasetiyanto, S. Kom


NUPTK : 4761 7626 6320 0032
Nomor Peserta PLPG : 17051352510166
Bidang Studi Sertifikasi : 525 - Teknik Komputer dan Jaringan
Sekolah Asal : SMK Negeri 1 Ngasem Kabupaten Kediri
I. LAPORAN PEMBEKALAN PERIODE SATU
A. Ringaksan Materi
1. Pengembangan Pendidikan Karakter Dan Potensi Peserta Didik
Sebagai seorang pendidik tentunya tidak hanya bertugas
mengajar di kelas saja, akan tetapi mendidik, mengajar, dan juga
melatih. Hal ini sangat tepat apabila dikaitkan dengan pembentukan
karakter yang baik bagi para peserta didik. Seperti apa seorang
pendidik mendidik, bagaimana mengajar, dan bagaimana melatih para
peserta didik. Semua tantangan di atas berawal dari pendidik itu
sendiri, bagaimana menciptakan pembelajaran yang menyenangkan,
diantaranya dengan kesan pertama pendidik itu berada di lingkungan
kelas. Setiap peserta didik memiliki potensi. Potensi peserta didik
yang dimaksud adalah kemampuan yang mungkin dikembangkan atau
menunjang potensi lain. Potensi ini meliputi potensi fisik, intelektual,
kepribadian, minat, potensi moral dan religius.
Faktor-faktor yang memengaruhi potensi peserta didik berasal
dari aspek internal dan eksternal. Selain itu, aspek fisik, psikologis dan
lingkungan sosial budaya juga berperan penting. Pendidik harus
mampu mengidentikasi dengan cermat keberagaman dari karakteristik
peserta didik agar proses dan hasil belajardari peserta didik menjadi
maksimal.
Peserta didik memiliki pemahaman awal (entry behavior).
Mengetahui pemahaman awal sangat penting untuk diperhatikan
karena dengan mengidentifikasi kondisi pembelajaran dapat
memberikan informasi penting untuk guru dalam pemilihan strategi
pengelolaan pembelajaran yang efektif dan bermakna yang sesuai
dengan karakteristik peserta didik. Dalam pembelajaran, peserta didik
mengalami kesulitan belajar. Pengertian kesulitan belajar adalah suatu
hambatan yang dialami oleh peserta didik untuk mencapai hasil
belajar yang memuaskan.
2. Teori Belajar
a. Teori Behaviorisme
Teori behaviorisme adalah sebuah teori pembelajaran yang
berfokus pada perilaku yang bisa diamati dan adanya stimuli yang
mengontrolnya. Ada beberapa tokoh teori belajar behaviorisme.
Tokoh-tokoh aliran behavioristik tersebut antaranya adalah
Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner.
Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi
antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang
dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi
walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental
dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia
menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu
diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah
seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar
disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi
yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu
sejauh mana dapat diamati dan diukur.
Menurut Watson sebagai salah satu orang yang mengusung
teori ini, belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan
respon namun stimulus dan respon tersebut harus berbentuk
tingkah laku yang dapat diamati. Jadi menurut teori ini perubahan
mental tidak perlu terlalu diperhatikan. Teori belajar ini seolah-
olah menyampingkan perbedaan-perbedaan yang timbul diantara
peserta didik dan kurang dapat menjelaskan adanya variasi
tingkat emosi peserta didik.
Pengaplikasian teori behaviorisme ini sering digunakan
dalam mengembangkan teori pembelajaran disekolah-sekolah.
Hal ini dilakukan karena teori ini diyakini mampu mengukur
pemahaman siswa terhadap pembelajaran itu sendiri. Pendidikan
behaviorisme merupakan kunci dalam mengembangkan
keterampilan dasar dan dasar-dasar pemahaman dalam semua
bidang subjek dan manajemen kelas. Ada ahli yang menyebutkan
bahwa teori belajar behavioristik adalah perubahan perilaku yang
dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret.
Ciri dari teori belajar behaviorisme adalah mengutamakan
unsur-unsur dan bagian kecil, b ersifat mekanistis, menekankan
peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau
respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan
mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan
hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang
diinginkan. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat
bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan
dan tingkah laku adalah hasil belajar.
Aplikasi teori belajar behaviorisme dalam kegiatan
pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan
pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar,
media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran
yang dirancang dan berpijak pada teori behaviorisme memandang
bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah.
Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar
adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah
memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang
yang belajar atau pebelajar. Fungsi mind atau pikiran adalah
untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui
proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna
yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh
karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Pelajar diharapkan
akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan
yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau
guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Metode behaviorisme ini sangat cocok untuk perolehan
kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan yang
mengandung unsur-unsur seperti : Kecepatan, spontanitas,
kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya:
percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan
komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini juga
cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih
membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi
dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-
bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
b. Teori Belajar Humanistik
Pengertian humanistik yang beragam membuat batasan-
batasan aplikasinya dalam dunia pendidikan mengundang
berbagai macam arti pula. Sehingga perlu adanya satu pengertian
yang disepakati mengenai kata humanistik dala pendidikan.
Dalam artikel What is Humanistik Education?, Krischenbaum
menyatakan bahwa sekolah, kelas, atau guru dapat dikatakan
bersifat humanistik dalam beberapa kriteria. Hal ini menunjukkan
bahwa ada beberapa tipe pendekatan humanistik dalam
pendidikan. Ide mengenai pendekatan-pendekatan ini terangkum
dalam psikologi humanistik.
Dalam artikel some educational implications of the
Humanistic Psychologist Abraham Maslow mencoba untuk
mengkritisi teori Freud dan behavioristik. Menurut Abraham,
yang terpenting dalam melihat manusia adalah potensi yang
dimilikinya. Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan
kepribadian manusia daripada berfokus pada ketidaknormalan
atau sakit seperti yang dilihat oleh teori psikoanalisa Freud.
Pendekatan ini melihat kejadian setelah sakit tersebut sembuh,
yaitu bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan
hal-hal yang positif. Kemampuan bertindak positif ini yang
disebut sebagai potensi manusia dan para pendidik yang beraliran
humanistik biasanya memfokuskan penganjarannya pada
pembangunan kemampuan positif ini.
Kemampuan positif disini erat kaitannya dengan
pengembangan emosi positif yang terdapat dalam domain afektif,
misalnya ketrampilan membangun dan menjaga relasi yang
hangat dengan orang lain, bagaimana mengajarkan kepercayaan,
penerimaan, keasadaran, memahami perasaan orang lain,
kejujuran interpersonal, dan pengetahuan interpersonal lainnya.
Intinya adalah meningkatkan kualitas ketrampilan interpersonal
dalam kehidupan sehari-hari.
Selain menitik beratkan pada hubungan interpersonal, para
pendidikan yang beraliran humanistik juga mencoba untuk
membuat pembelajaran yang membantu anak didik untuk
meningkatkan kemampuan dalam membuat, berimajinasi,
mempunyai pengalaman, berintuisi, merasakan, dan berfantasi.
Pendidik humanistik mencoba untuk melihat dalam spektrum
yang luas mengenai perilaku manusia. Berapa banyak hal yang
bisa dilakukan manusia? Dan bagaimana aku bisa membantu
mereka untuk melakukan hal-hal tersebut dengan lebih baik?
Melihat hal-hal yang diusahakankan oleh para pendidik
humanistik, tampak bahwa pendekatan ini mengedepankan
pentingnya emosi dalam dunia pendidikan. Freudian melihat
emosi sebagai hal yang mengganggu perkembangan, sementara
humanistik melihat keuntungan pendidikan emosi. Jadi bisa
dikatakan bahwa emosi adalah karakterisitik yang sangat kuat
yang nampak dari para pendidik beraliran humanistik. Karena
berpikir dan merasakan saling beriringan, mengabaikan
pendidikan emosi sama dengan mengabaikansalah satu potensi
terbesar manusia. Kita dapat belajar menggunakan emosi kita dan
mendapat keuntungan dari pendekatan humanistik ini sama
seperti yang kita dapatkan dari pendidikan yang menitikberatkan
kognisi.
Berbeda dengan behaviorisme yang melihat motivasi
manusia sebagai suatu usaha untuk memenuhi kebutuhan
fisiologis manuisa atau dengan freudian yang melihat motivasi
sebagai berbagai macam kebutuhan seksual, humanistik melihat
perilaku manusia sebagai campuran antara motivasi yang lebih
rendah atau lebih tinggi. Hal ini memunculkan salah satu ciri
utama pendekatan humanistik, yaitu bahwa yang dilihat adalah
perilaku manusia, bukan spesies lain. Akan sangat jelas
perbedaan antara motivasi manusia dan motivasi yang dimiliki
binatang. Hirarki kebutuhan motivasi maslow menggambarkan
motivasi manusia yang berkeinginan untuk bersama manusia lain,
berkompetensi, dikenali, aktualisasi diri sekaligus juga
menggambarkan motovasi dalam level yang lebih rendah seperti
kebutuhan fisiologis dan keamanan.
Menurut aliran humanistik, para pendidik sebaiknya
melihat kebutuhan yang lebih tinggi dan merencanakan
pendidikan dan kurikukum untuk memenuhi kebutuhan-
kebutuhan ini. Beberapa psikolog humanistik melihat bahwa
manusia mempunyai keinginan alami untuk berkembang, untuk
lebih baik, dan juga belajar. Jadi sekoah harus berhati-hati supaya
tidak membunuh insting ini dengan memaksakan anak belajar
sesuatu sebelum mereka siap. Jadi bukan hal yang benar apabila
anak dipaksa untuk belajar sesuatu sebelum mereka siap secara
fisiologis dan juga punya keinginan. Dalam hal ini peran guru
adalah sebagai fasilitator yang membantu siswa untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi, bukan sebagai konselor
seperti dalam Freudian ataupun pengelola perilaku seperti pada
behaviorisme.
Secara singkatnya, penedekatan humanistik dalam
pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan
yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan
menemukan kemampuan yang mereka punya dan
mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup
kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk
pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri,
menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Ketrampilan
atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi
sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan
keberhasilan akademik.
Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil
jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri.
Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun
ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori
belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut
pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa
untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing
individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia
yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi
yang ada dalam diri mereka.
Berikut adalah para tokoh dalam aliran psikologi
humanistik. 3 tokoh aliran humanistik akan disinggung, namun
demikian tokoh humanistik yang menjadi fokus dalam paper ini
adalah
1. Carl Rogers
Teori Rogers disebut humanis karena teori ini percaya
bahwa setiap individu adalah positif, serta menolak teori
Freud dan behaviorisme.
Asumsi dasar teori Rogers adalah kecenderungan
formatif dan kecenderungan aktualisasi.
Diri (self) adalah terbentuk dari pengalaman mulai dari
bayi, di mana diri terdiri dari 2 subsistem yaitu konsep
diri dan diri ideal.
Kebutuhan individu ada 4 yaitu : (1) pemeliharaan, (2)
peningkatan diri, (3) penghargaan positif (positive
regard), dan (4) Penghargaan diri yang positif (positive
self-regard)
Stagnasi psikis terjadi bila terjadi karena pengalaman
dan konsep diri yang tidak konsisten dan untuk
menghindarinya adalah pertahanan (1) distorsi dan (2)
penyangkalan. Jika gagal dalam menerapkan pertahanan
tersebut konsep diri akan hancur dan menyebabkan
psikotik.
Dalam terapi, terapis hanya menolong dan mengarahkan
klien dan yang melakukan perubahan adalah klien itu
sendiri.,
2. Arthur Combs (1912-1999)
Bersama dengan Donald Snygg (1904-1967) mereka
mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan.
Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang
sering digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti
bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang
tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan
mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan
karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa
dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka
harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak
lain hanyalah dari ketidakmampuan seseorang untuk
melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan
kepuasan baginya.
3. Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam
diri individu ada dua hal : (1) suatu usaha yang positif
untuk berkembang, (2) kekuatan untuk melawan atau
menolak perkembangan itu. Maslow mengemukakan
bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk
memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri
masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan
takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang,
takut untuk mengambil kesempatan, takut
membahayakan apa yang sudah ia miliki dan
sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki
dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan
diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah
kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat
itu juga ia dapat menerima diri sendiri(self). Maslow
membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia
menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat
memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan
fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan
yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan
rasa aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia
menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting
yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia
mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian
dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau
kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.
c. Teori belajar kognitivisme
1. Pengertian Kognitivisme
Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar
merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran
manusia. Pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha
yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri
manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan
lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam
bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan
dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.
a. Ciri-ciri Aliran Kognitivisme
Mementingkan apa yang ada dalam diri manusia
Mementingkan keseluruhan dari pada bagian-bagian
Mementingkn peranan kognitif
Mementingkan kondisi waktu sekarang
Mementingkan pembentukan struktur kognitif
Belajar kognitif ciri khasnya terletak dalam belajar
memperoleh dan mempergunakan bentuk-bentuk
reppresentatif yang mewakili obyek-obyek itu di
representasikan atau di hadirkan dalam diri seseorang
melalui tanggapan, gagasan atau lambang, yang semuanya
merupakan sesuatu yang bersifat mental, misalnya seseorang
menceritakan pengalamannya selama mengadakan
perjalanan keluar negeri, setelah kembali kenegerinya
sendiri. Tampat-tempat yang dikunjuginya selama berada di
lain negara tidak dapat diabawa pulang, orangnya sendiri
juga tidak hadir di tempat-tempat itu. Pada waktu itu sedang
bercerita, tetapi semulanya tanggapan-tanggapan, gagasan
dan tanggapan itu di tuangkan dalam kata-kata yang
disampaikan kepada orang yang mendengarkan ceritanya.
b. Tokoh-tokoh
Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan
oleh Jean Piaget. Teorinya memberikan banyak
konsep utama dalam lapangan psikologi
perkembangan dan berpengaruh terhadap
perkembangan konsep kecerdasan. Menurut Piaget,
bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan
dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik.
Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk
melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang
ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan
dibantu oleh pertanyaan tilikan dari
guru. Guru hendaknya banyak memberikan
rangsangan kepada peserta didik agar mau
berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari
dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam
pembelajaran adalah : Bahasa dan cara berfikir anak
berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru
mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai
dengan cara berfikir anak; Anak-anak akan belajar
lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan
dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat
berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya;
Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya
dirasakan baru tetapi tidak asing; Berikan peluang
agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya. Di
dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang
untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-
temanya.
Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh
Bruner.
Berbeda dengan Piaget, Burner melihat
perkembangan kognitif manusia berkaitan dengan
kebudayaan. Bagi Bruner, perkembangan kognitif
seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan
kebudayaan, terutama bahasa yang biasanya
digunakan.
Menurut Bruner untuk mengajar sesuatu tidak usah
ditunggu sampai anak mancapai tahap perkembangan
tertentu. Yang penting bahan pelajaran harus ditata
dengan baik maka dapat diberikan padanya. Dengan
lain perkataan perkembangan kognitif seseorang
dapat ditingkatkan dengan jalan mengatur bahan yang
akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan
tingkat perkembangannya. Penerapan teori Bruner
yang terkenal dalam dunia pendidikan adalah
kurikulum spiral dimana materi pelajaran yang sama
dapat diberikan mulai dari Sekolah Dasar sampai
Perguruan tinggi disesuaikan dengan tingkap
perkembangan kognitif mereka. Cara belajar yang
terbaik menurut Bruner ini adalah dengan memahami
konsep, arti dan hubungan melalui proses intuitif
kemudian dapat dihasilkan suatu kesimpulan.
(discovery learning).
Implikasi Teori Bruner dalam Proses Pembelajaran :
Menghadapkan anak pada suatu situasi yang
membingungkan atau suatu masalah; anak akan
berusaha membandingkan realita di luar dirinya
dengan model mental yang telah dimilikinya; dan
dengan pengalamannya anak akan mencoba
menyesuaikan atau mengorganisasikan kembali
struktur-struktur idenya dalam rangka untuk
mencapai keseimbangan di dadalam benaknya
Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh
Ausebel, Proses belajar terjadi jika siswa mampu
mengasimilasikan pengetahuan yang dimilikinya
dengan pengetahuan baru
Proses belajar terjadi melaui tahap-tahap:
1 Memperhatikan stimulus yang diberikan
2 Memahami makna stimulus menyimpan dan
menggunakan informasi yang sudah dipahami.
Menurut Ausubel siswa akan belajar dengan baik jika
isi pelajarannya didefinisikan dan kemudian
dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa
(advanced organizer), dengan demikian akan
mempengaruhi pengaturan kemampuan belajar
siswa. Advanced organizer adalah konsep atau
informasi umum yang mewadahi seluruh isi pelajaran
yang akan dipelajari oleh siswa. Advanced organizer
memberikan tiga manfaat yaitu : Menyediakan suatu
kerangka konseptual untuk materi yang akan
dipelajari. Berfungsi sebagai jembatan yang
menghubungkan antara yang sedang dipelajari dan
yang akan dipelajari. Dapat membantu siswa untuk
memahami bahan belajar secara lebih mudah
c. Aplikasi teori Kognitivisme
Aplikasi teori belajar kognitivisme dalam
pembelajaran yaitu guru harus memahami bahwa siswa
bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses
berpikirnya, anak usia pra sekolah dan awal sekolah
dasar belajar menggunakan benda-benda konkret,
keaktifan siswa sangat dipentingkan, guru menyusun
materi dengan menggunakan pola atau logika tertentu
dari sederhana kekompleks, guru menciptakan
pembelajaran yang bermakna, memperhatian perbedaan
individual siswa untuk mencapai keberhasilan siswa.
d. Kelebihan dan kelemahan teori Kognitivisme
Kelebihannya yaitu : menjadikan siswa lebih kreatif
dan mandiri; membantu siswa memahami bahan
belajar secara lebih mudah.
Kekurangannya yaitu : teori tidak menyeluruh untuk
semua tingkat pendidikan; sulit di praktikkan
khususnya di tingkat lanjut; beberapa prinsip seperti
intelegensi sulit dipahami dan pemahamannya masih
belum tuntas.

3. Model Model Pembelajaran


A. Hakikat Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu
pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan
pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial.
B. Macam-macam Model Pembelajaran
Kelompok model interaksi sosial
Kelompok model pengolahan informasi
Kelompok model personal
Kelompok model-model sistem perilaku

4. Evaluasi Hasil Belajar


Evaluasi adalah suatu proses di mana kita mempertimbangkan
sesuatu barang atau gejala dengan mempertimbangkan patokan-
patokan tertentu,patokan itu yang mengandung baik dan
buruk,memenuhi syarat atau tidak memenuhi syarat.
Tujuan evaluasi hasil belajar peserta didik adalah sebagai
berikut;
1. Untuk mengetahui kemajuan anak didik setelah peserta didik
menyadari selama jangka waktu tertentu.
2. Untuk mengetahui efisiensi metode pendidikan yang
dipergunakan selama jangka waktu tertentu.
Teknik Evaluasi adalah suatu cara yang dapat ditempuh oleh
seseorang dalam melakukan sesuatu.Berarti teknik evaluasi adalah
suatu cara yang ditempuh oleh seseorang dalam mengadakan evaluasi.
Ada dua teknik evaluasi hasil belajar peserta didik yaitu teknik tes dan
non tes.
Ada dua kriteria penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik
yaitu:
1. Kriteria acuan patokan
2. Kriteria acuan norma

B. Materi yang sulit dipahami


Materi yang sulit kami pahami
1. Memahami Karakter siswa tingkat SMK dari berbagai latar belakang
diimbangi dengan kemajuan teknologi dan menerapkan dengan teori
pembelajaran yang sesuai dengan karakter peserta didik.
2. Berbagai Model Pembelajaran manakah yang sesuai dan diterapkan
kepada peserta didik di sekolah kami karena ada beberapa siswa yang
memiliki Berkebutuhan Khusus dan bagaimana dalam memberikan
evalusi belajarnya.

C. Materi esensial apa saja yang tidak ada dalam Sumber Belajar
materi yang menurut dianggap esensial tetapi tidak dijelaskan dalam bagian
ini :
1. Paradigma Pembelajaran Abad 21
2. Belum adanya contoh atau study kasus secara aplikatif yang bisa
diterapkan secara baik terhadap peserta didik yang memiliki karakter
yang beraneka ragam.

D. Materi apa saja yang tidak esensial namun ada dalam Sumber
Belajar
Menurut pendapat saya tidak ada materi yang tidak esensial dalam sumber
belajar, semua sebagai bahan pembelajaran dan pengetahuan dan bisa
menjadi bahan pertimbangan dan masukkan untuk di pakai dalam proses
pembelajaran.