Anda di halaman 1dari 22

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Aspal
Aspal didefinisikan sebagai material perekat (cementitious), berwarna hitam
atau coklat tua dengan unsur utama bitumen. Aspal dapat diperoleh di alam ataupun
juga merupakan hasil residu dari pengilangan minyak bumi. Aspal merupakan
material yang umum digunakan untuk bahan pengikat agregat, oleh karena itu
seringkali bitumen disebut pula sebagai aspal. Pada suhu ruang, aspal adalah material
yang berbentuk padat sampai agak padat, dan bersifat termoplastis. Jadi, aspal akan
mencair jika dipanaskan sampai dengan temperatur tertentu, dan kembali membeku
jika temperatur turun. Bersama dengan agregat, aspal merupakan material pembentuk
campuran perkerasan jalan. (Sukirman, 2003).
Aspal dikenal sebagai bahan atau material yang bersifat viskos atau padat,
berwarna hitam atau coklat, yang mempunyai daya lekat (adhesif), mengandung
bagian-bagian utama yaitu hidokarbon yang dihasilkan dari minyak bumi atau
kejadian alami (aspal alam) dan terlarut dalam karbondisulfida. Aspal sendiri
dihasilkan dari minyak mentah yang dipilih melalui proses destilasi minyak bumi.
Proses penyulingan ini dilakukan dengan pemanasan hingga temperatur 350oC
dibawah tekanan atmosfir untuk memisahkan fraksi-fraksi ringan, seperti gasoline
(bensin), kerosene (minyak tanah), dan gas oil (Wignall, 2003).

2.1.1 Jenis Jenis Aspal


Secara umum, jenis aspal dapat diklasifikasikan berdasarkan asal dan proses
pembentukannya adalah sebagai berikut :
a. Aspal Alam
Aspal alam ada yang diperoleh di gunung-gunung seperti aspal di pulau
buton, dan ada pula yang diperoleh di pulau Trinidad berupa aspal danau. Aspal alam
terbesar di dunia terdapat di Trinidad, berupa aspal danau. Indonesia memiliki aspal

Universitas Sumatera Utara


alam yaitu di Pulau Buton, yang terkenal dengan nama Asbuton (Aspal Pulau Buton).
Penggunaan asbuton sebagai salah satu material perkerasan jalan telah dimulai sejak
tahun 1920, walaupun masih bersifat konvensional. Asbuton merupakan batu yang
mengandung aspal. Asbuton merupakan material yang ditemukan begitu saja di alam,
maka kadar bitumen yang dikandungnya sangat bervariasi dari rendah sampai tinggi.
b. Aspal Minyak
Aspal minyak bumi adalah aspal yang merupakan residu destilasi minyak
bumi. Setiap minyak bumi dapat menghasilkan residu jenis asphaltic base crude oil
yang mengandung banyak aspal, parafin base crude oil yang mengandung banyak
parafin, atau mixed base crude oil yang mengandung campuran aspal dengan parafin.
Untuk perkerasan jalan umumnya digunakan asphaltic base crude oil. Hasil destilasi
minyak bumi menghasilkan bensin, minyak tanah, dan solar yang diperoleh pada
temperatur berbeda-beda, sedangkan aspal merupakan residunya. Residu aspal
berbentuk padat, tetapi dapat pula berbentuk cair atau emulsi pada temperatur ruang.
Jadi, jika dilihat bentuknya pada temperatur ruang, maka aspal dibedakan atas
beberapa bagian, yaitu :
1. Aspal padat adalah aspal yang berbentuk padat atau semi padat pada suhu ruang
dan mencair jika dipanaskan. Aspal padat dikenal dengan nama semen aspal
(asphalt cement). Oleh karena itu, semen aspal harus dipanaskan terlebih dahulu
sebelum digunakan sebagai bahan pengikat agregat.
2. Aspal cair (asphalt cut-back) yaitu aspal yang berbentuk cair pada suhu ruang.
Aspal cair merupakan semen aspal yang dicairkan dengan bahan pencair dari hasil
penyulingan minyak bumi seperti minyak tanah, bensin, atau solar. Bahan pencair
membedakan aspal cair menjadi tiga bagian, yaitu :
- Slow Curing dengan bahan pencair solar
- Medium Curing dengan bahan pencair minyak tanah
- Rapid Curing dengan bahan pencair bensin.

Universitas Sumatera Utara


3. Aspal emulsi, yaitu campuran aspal (55%-65%) dengan air (35%-45%) dan bahan
pengemulsi 1% sampai 2% yang dilakukan di pabrik pencampur. Aspal emulsi ini
lebih cair daripada aspal cair. Dimana dalam aspal emulsi, butir-butir aspal larut
dalam air. Untuk menghindari butiran aspal saling menarik membentuk butir-butir
yang lebih besar, maka butiran tersebut diberi muatan listrik. Aspal emulsi dapat
dibedakan berdasarkan muatan listriknya, antara lain yaitu :
- Aspal emulsi anionik atau disebut juga dengan emulsi alkali
- Aspal emulsi kationik atau disebut dengan emulsi asam
- Aspal emulsi nonionik (tidak mengalami ionisasi).
Sedangkan berdasarkan kecepatan mengerasnya, aspal emulsi dapat dibedakan
atas tiga bahagian yaitu :
- Rapid Setting
- Medium Setting
- Slow Setting
Berdasarkan ketiga bentuk aspal tersebut, semen aspal atau aspal padat yang
paling banyak digunakan, terutama untuk perkerasan jalan (Sukirman, 2007).
Aspal yang digunakan untuk perkerasan jalan yang dicampurkan dengan
agregat dengan atau tanpa bahan tambahan disebut dengan aspal beton. Dan yang
paling umum digunakan yaitu aspal beton campuran panas yang dikenal dengan Hot
Mix sedangkan jenis lainnya seperti aspal beton campuran hangat, aspal beton
campuran dingin, dan aspal mastis (Asiyanto, 2008).
Aspal padat iran merupakan salah satu jenis aspal minyak bumi yang diimpor
dari Iran-Teheran. Aspal jenis ini sangat sesuai dan direkomendasikan untuk negara
beriklim tropis seperti Indonesia, karena di desain untuk bisa elastis menyesuaikan
suhu yang naik dan turun, contohnya aspal yang dipergunakan sebagai bahan utama
dalam penelitian ini yaitu aspal dengan angka penetrasi 60/70. Untuk data jenis
pengujian dan data persyaratan aspal tersebut tercantum pada Tabel 2.1 (Anonim,
2010).

Universitas Sumatera Utara


Tabel 2.1 Data Jenis Pengujian dan Persyaratan Aspal Penetrasi 60/70
Standart
Sifat Ukuran Spesifikasi
Pengujian
Densitas pada T 25 oC K/m3 1010 - 1060 ASTM-D71/3289
Penetrasi pada T 25 oC 0,1 mm 60/70 ASTM-D5
o
Titik leleh C 49/56 ASTM-D36
Daktilitas pada T 25 oC Cm Min. 100 ASTM-D113
Kerugian pemanasan %wt Max. 0,2 ASTM-D6
Penurunan pada penetrasi setelah
% Max. 20 ASTM-D6&D5
pemanasan
o
Titik nyala C Min. 250 ASTM-D92
Kelarutan dalam CS2 %wt Min. 99,5 ASTM-D4
Spot Test Negatif AASHO T102

2.1.2 Sifat Kimiawi Aspal


Aspal dipandang sebagai sebuah sistem koloidal yang terdiri dari komponen
molekul berat yang disebut asphaltene, dispersi/hamburan di dalam minyak perantara
disebut maltene. Bagian dari maltene terdiri dari molekul perantara disebut resin yang
menjadi instrumen di dalam menjaga dispersi asphaltene (Koninklijke, 1987).
Aspal merupakan senyawa hidrogen (H) dan karbon (C) yang terdiri dari
bebebrapa senyawa seperti: paraffin, siklo paraffin. naften dan aromatis. Fungsi
kandungan aspal dalam campuran juga berperan sebagai selimut agregat dalam
bentuk film, dimana aspal yang berperan menahan gaya gesek permukaan dan
mengurangi kandungan pori udara yang juga berarti mengurangi penetrasi air masuk
ke dalam campuran (Rianung, 2007).
Aspal seperti pada Gambar 2.1, merupakan senyawa yang kompleks, bahan
utamanya disusun oleh hidrokarbon dan atom-atom Nitrogen (N), Sulfur (S), dan
Oksigen (O) dalam jumlah yang kecil. Dimana unsur-unsur yang terkandung dalam
aspal atau bitumen adalah Karbon (82-88%), Hidrogen (8-11%), Sulfur (0-6%),
Oksigen (0-1,5%), dan Nitrogen (0-1%).

10

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.1 Struktur Aspal

Berikut sifat-sifat dari senyawa penyusun dari aspal :


a. Asphaltene
Asphaltene, seperti pada Gambar 2.2, merupakan senyawa komplek aromatis
yang berwarna hitam atau coklat amorf, bersifat termoplatis dan sangat polar,
perbandingan komposisi untuk H/C yaitu 1 :1, memiliki berat molekul besar antara
1000 100000, dan tidak larut dalam n-heptan. Asphaltene juga sangat berpengaruh
dalam menentukan sifat reologi bitumen, dimana semakin tinggi asphaltene, maka
bitumen akan semakin keras dan semakin kental, sehingga titik lembeknya akan
semakin tinggi, dan menyebabkan harga penetrasinya semakin rendah.

Gambar 2.2 Struktur Asphaltene

11

Universitas Sumatera Utara


b. Maltene
Di dalam maltene terdapat tiga komponen penyusun yaitu saturate, aromatis,
dan resin. Dimana masing-masing komponen memiliki struktur dan komposisi kimia
yang berbeda, dan sangat menentukan dalam sifat rheologi bitumen.
Resin merupakan senyawa yang berwarna coklat tua, dan berbentuk solid atau
semi solid dan sangat polar, dimana tersusun oleh atom karbon dan hidrogen, dan
sedikit atom oksigen, Sulfur, dan Nitrogen, untuk perbandingan hidrogen dengan
karbon H/C yaitu 1.3 1.4, memiliki berat molekul antara 500 50000, serta larut
dalam n-heptan.
Aromatis merupakan senyawa yang berwarna coklat tua, berbentuk cairan
kental, bersifat non polar, dan di dominasi oleh cincin tidak jenuh, dengan berat
molekul antara 300 2000, terdiri dari senyawa naften aromatis, dengan
komposisinya antara 40 - 65% dari total bitumen.
Saturate merupakan senyawa ini berbentuk cairan kental, bersifat non polar,
dan memiliki berat molekul hampir sama dengan aromatis., serta tersusun dari
campuran hidrokarbon berantai lurus, bercabang, alkil naften, dan aromatis, dengan
komposisinya berjumlah antara 5-20% dari total bitumen. Gambar 2.3 merupakan
struktur kimia dari senyawa saturate dengan bentuk susunan rantai yang berbeda.

Gambar 2.3 Struktur Saturate


Dengan demikian maka aspal atau bitumen adalah suatu campuran cairan
kental senyawa organik, berwarna hitam, lengket, larut dalam karbon disulfida (CS2),
dan struktur utamanya merupakan polisiklik aromatis hidrokarbon yang sangat
kompak. (Nuryanto, 2008).

12

Universitas Sumatera Utara


2.1.3 Fungsi Aspal Sebagai Material Perkerasan Jalan
Aspal yang digunakan sebagai bahan material perkerasan jalan dipandang
berfungsi sebagai :
1. Bahan pengikat, memberikan ikatan yang kuat antara aspal dengan agregat dan
antara sesama aspal.
2. Bahan pengisi, mengisi rongga antar butir agregat dan pori-pori yang ada dalam
butir agregat itu sendiri.
Untuk dapat memenuhi kedua fungsi aspal itu dengan baik, maka aspal
haruslah memiliki sifat adhesi dan kohesi yang baik, serta pada saat dilaksanakan
mempunyai tingkat kekentalan tertentu. Penggunaan aspal pada perkerasan jalan
dapat melalui dicampurkan pada agregat sebelum dihamparkan (prahampar), seperti
lapisan beton aspal atau disiramkan pada lapisan agregat yang telah dipadatkan dan
ditutupi oleh agregat-agregat yang lebih halus (pascahampar).
Fungsi utama aspal untuk kedua jenis proses pembentukan perkerasan jalan
yaitu proses pencampuran prahampar dengan pascahampar itu berbeda. Pada proses
prahampar aspal yang dicampurkan dengan agregat akan membungkus atau
menyelimuti butir-butir agregat, mengisi pori antar butir, dan meresap ke dalam pori-
pori masing-masing butir.
Pada proses pascahampar, aspal disiramkan pada lapisan agregat yang
dipadatkan, lalu di atasnya ditaburi butiran agregat halus. Pada proses ini aspal akan
meresap ke dalam pori-pori antar butir agregat dibawahnya. Fungsi utamanya adalah
menghasilkan lapisan perkerasan bagian atas yang kedap air dan tidak mengikat
agregat sampai ke bagian bawah.

2.2 Modifikasi Polimer Aspal


Bahan aditif aspal adalah suatu bahan yang dipakai untuk ditambahkan pada
aspal. Penggunan bahan aditif aspal merupakan bagian dari klasifikasi jenis aspal
modifier yang yang berunsur dari jenis karet, karet sintetis atau buatan juga dari karet
yang sudah diolah (dari ban bekas), dan juga dari bahan plastik (Rianung, 2007).

13

Universitas Sumatera Utara


Penggunaan campuran polimer aspal merupakan trend yang semakin
meningkat tidak hanya karena faktor ekonomi, tetapi juga demi mendapatkan kualitas
aspal yang lebih baik dan tahan lama. Modifikasi polimer aspal yang diperoleh dari
interaksi antara komponen aspal dengan bahan aditif polimer dapat meningkatkan
sifat-sifat dari aspal tersebut. Dalam hal ini terlihat bahwa keterpaduan aditif polimer
yang sesuai dengan campuran aspal. Penggunaan polimer sebagai bahan untuk
memodifikasi aspal terus berkembang di dalam dekade terakhir. (Fei-Hung, 2000).
Badan Litbang Kementerian PU (2007), melakukan pengujian dengan
menggunakan bahan aditif dengan menggunakan karet alam untuk meningkatkan
mutu perkerasan jalan beraspal sebesar 3 % dari berat aspal minyak dengan hasil
memperbaiki karakteristik aspal konvensional, meningkatkan mutu perkerasan
beraspal yang ditunjukkan dengan peningkatan modulus resilien dan kecepatan
deformasi, meningkatkan umur konstruksi perkerasan jalan yang ditunjukkan
percepatan terjadinya retak dan alur.
PT. Tunas Mekar Adiperkasa dengan produknya aspal BituPlus. Dimana
aspal ini memakai polimer elastomer atau dari bahan jenis karet. Pengujian terhadap
pemakaian aspal tersebut dihasilkan aspal yang memiliki titik lembek tinggi,
kelenturan yang lebih baik serta penetrasi yang optimal daripada menggunakan aspal
biasa serta perkerasan jalan lebih tahan terhadap aging akibat pengaruh sinar
ultraviolet sehingga memperbaiki kinerja beton aspal (Rianung, 2007).
Penambahan bahan polimer pada aspal yang bersifat plastomer dapat
meningkatkan kekuatan tinggi dalam campuran aspal polimer. Pada sisi lain, bahan
yang bersifat elastomer seperti karet alam, maupun karet sintetis, dapat memberikan
aspal dengan fleksibilitas dan keelastisan yang lebih baik, termasuk juga perbaikan
terhadap resistensi dan ketahanan terhadap temperatur rendah. (Strommer 1986).
Untuk memperbaiki sifat-sifat dari bahan permukaan aspal, peneliti telah
memusatkan perhatian pada aditif yang diperoleh dengan memanfaatkan bahan-bahan
bekas, seperti karet ban dan polistirena bekas. Untuk bahan-bahan polimer haruslah

14

Universitas Sumatera Utara


yang dapat meningkatkan resistensi terhadap keretakan letih, mengurangi cakupan
deformasi permanen dan mengurangi pengerasan pada suhu tinggi.

2.2.1 Pemanfaatan Karet Ban


Ban merupakan produk karet yang diproduksi dalam jumlah volume yang
cukup banyak, dan juga merupakan elemen terpenting dalam bagian suatu kenderaan.
Penggunaan karet alam maupun karet sintetis cukup banyak dipakai di dalam industri
ban.
Ban saat ini secara essensial merupakan suatu komposit karet. Ban diproduksi
dari beberapa komponen yang terpisah seperti tread, inerlainer, beads, belds, dan lain-
lain serta komponen-komponen yang berbeda yang memiliki kandungan karet yang
berbeda pula. Ban bekas tidaklah murni tetapi ini dibentuk dari kandungan bahan
pengisi yang tinggi, seperti campuran elastromer dan bermacam-macam aditif.
Beberapa jenis ban seperti ban radial walaupun dalam pembuatannya dicampur
dengan karet sintetis, tetapi jumlah karet alam yang digunakan tetap lebih besar, yaitu
dua kali lipat komponen karet alam untuk pembuatan ban non-radial. Jenis-jenis ban
yang besar kurang baik apabila dibuat dari bahan karet jenis sintetis yang lebih
banyak (Tim Penulis PS, 2004).
Ban bukanlah hanya campuran antara karet alam dengan karet sintetik, tetapi
dalam wujud campuran-campuran, yang terdiri dari elastomer-elastomer dan berbagai
bahan tambahan. Bahan tambahan tersebut dapat digolongkan sebagai bahan
vulkanisasi, akselerator, penguat, antidegradants, dan pelunak.
Umumnya ban ini dapat dipergunakan kembali setelah diperbaiki, dimana
hasil pengembangannya biasa disebut dengan vulkanisir. Ban-ban bekas tersebut
dapat dikelola berupa ban bekas utuh, dibelah, dipotong-potong, dan diserut. Setiap
ban mobil umumnya mempunyai berat 9,1 kg dengan berat dari karet sebesar 5,4 - 5,9
kg yang terdiri dari 35% karet alam dan 65% karet sintetis. Sedangkan ban truk
biasanya mempunyai berat 18,2 kg yang mengandung 60 70% karet yang terdiri
dari 65% karet alam dan 35% karet sintetis. Dan dari berbagai macam ban, ban jenis

15

Universitas Sumatera Utara


radial dengan serat baja merupakan ban yang paling banyak dipakai. Tabel 2.2
merupakan kandungan kimia yang terdapat pada kendaraan bermotor (Satyarno,
2006).
Tabel 2.2 Kandungan Kimia Karet Ban Kendaraan Bermotor

No Jenis Pemeriksaan Hasil


1 Kadar Karet Alam 25%
2 Kadar Karet Butadien 15%
3 Kadar Butil Karet 5%
4 Kadar Karbon Hitam 35%
5 Kadar ZnO 4%
6 Kadar Oil/Naften/Aromatik 4%
7 Kadar Kotoran/Debu/Kaolin/Kalsium 12%

Di Indonesia, ban bekas ini setelah divulkanisir, pada umumnya digunakan


lagi sebagai peralatan rumah tangga, seperti ember, meja-kursi, sandal, dan tali.
Sementara di Amerika ban bekas sudah didaur ulang untuk keperluan bahan campur
pada pengerjaan lapis keras. Tentunya karet ban bekas ini pun dapat pula
dimanfaatkan di Indonesia sebagai bahan aditif untuk campuran aspal.
Ban bekas bersifat sangat stabil dan merupakan suatu polimer berantai
panjang. Beberapa karakteristik dari ban bekas yaitu stabilitasnya dan sifatnya yang
tahan lama, menarik, dan kelayakannya selama pemakaiannya. Faktanya adalah
bahwa ban bekas merupakan suatu polimer termoset yang berarti sulit untuk meleleh
atau sulit diuraikan menjadi komponen penyusunnya (Liang, 2004).
Dalam daur ulang ban bekas, banyak sekali penelitian-penelitian yang telah
dilakukan, terutama terhadap alternatif temuan teknologi yang bersifat lebih
ekonomis dan banyak sumber daya konservatif agar memperoleh kembali bahan-
bahan yang berharga dari bermacam-macam bahan yang berbasis polimer. Metoda
pendaur-ulangan ini dapat diterapkan tetapi tidak terbatas pada ban roda sisa saja,
bisa juga plastik, dan sejumlah bahan-bahan polimer yang berbeda atau campuran-
campuran kompleks (Ediputra, 2010).

16

Universitas Sumatera Utara


Pemanfaatan karet ban sebagai aditif juga dinilai efektif untuk meningkatkan
sifat mekanik dari campuran aspal sehingga menjadi lebih elastis dan tidak mudah
mengalami deformasi ketika diberi beban yang berat.

2.2.2 Pemanfaatan Polistirena


Polistirena pertama kali dibuat pada 1839 oleh Eduard Simon, seorang
apoteker Jerman. Polistirena adalah sebuah polimer dengan monomer stirena, sebuah
hidrokarbon cair yang dibuat secara komersial dari minyak bumi. Pada suhu ruangan,
polistirena biasanya bersifat termoplastik padat, dapat mencair pada suhu yang lebih
tinggi.
Polistirena merupakan polimer hidrokarbon parafin yang terbentuk dengan
cara reaksi polimerisasi, dimana reaksi pembentukan polistirena seperti pada Gambar
2.4 (Rianung, 2007).

Gambar 2.4 Reaksi Polimerisasi Polistirena

Polistirena adalah molekul yang memiliki berat molekul ringan, dimana


polistirena terbentuk dari monomer-monomer stirena yang berbau harum. Polistirena
memeiliki bentuk padatan murni yang tidak berwarna, bersifat ringan, keras, tahan
terhadap panas, agak kaku, tidak mudah patah dan tidak beracun, memiliki kestabilan
dimensi yang tinggi dan shrinkage yang rendah, tahan terhadap air, tahan terhadap
bahan kimia non-organik, juga tahan terhadap alkohol, dan sangat mudah terbakar.
Untuk sifat-sifat fisik dari polistirena disajikan pada Tabel 2.3 (Rianung, 2007).

17

Universitas Sumatera Utara


Tabel 2.3 Sifat-Sifat Fisik Polistirena

Sifat Fisis Ukuran


Densitas 1050 kg/m
Densitas EPS 25 - 200 kg/m
Spesifik Gravitasi 1,05
-16
Konduktivitas Listrik (s) 10 S/m
Konduktivitas Panas (k) 0.08 W/(mK)
Modulus Young(E) 3000-3600 MPa
Kekuatan Tarik (st) 4660 MPa
Perpanjangan 34%
Notch test 25 kJ/m
Temperatur Transisi gelas (Tg) 95 C

Salah satu jenis polistirena yang cukup populer di kalangan masyarakat


produsen maupun konsumen adalah polistirena foam. Polistirena foam dikenal luas
dengan istilah styrofoam yang seringkali digunakan secara tidak tepat oleh publik
karena sebenarnya styrofoam merupakan nama dagang yang telah dipatenkan oleh
perusahaan Dow Chemical. Oleh pembuatnya Styrofoam dimaksudkan untuk
digunakan sebagai insulator pada bahan konstruksi bangunan.
Polistirena foam dihasilkan dari campuran 90-95% polistirena dan 5-10% gas
seperti n-butana atau n-pentana. Polistirena foam dibuat dari monomer stirena melalui
polimerisasi suspensi pada tekanan dan suhu tertentu, selanjutnya dilakukan
pemanasan untuk melunakkan resin dan menguapkan sisa blowing agent. Polistirena
foam merupakan bahan plastik yang memiliki sifat khusus dengan struktur yang
tersusun dari butiran dengan kerapatan rendah, mempunyai bobot ringan, dan terdapat
ruang antar butiran yang berisi udara yang tidak dapat menghantar panas sehingga hal
ini membuatnya menjadi insulator panas yang sangat baik (Anonim, 2008).
Polistirena foam begitu banyak dimanfaatkan dalam kehidupan, tetapi tidak
dapat dengan mudah direcycle sehingga pengolahan limbahnya harus dilakukan
secara benar agar tidak merugikan lingkungan. Pemanfaatan limbah dari polistirena
foam yang cukup banyak dan sangat mudah diperoleh ini dinilai efektif meningkatkan

18

Universitas Sumatera Utara


kekuatan tekan dan ketahanan terhadap air karena sifat fisis dari polistirena yang
tahan terhadap air, juga kaku dan keras sehingga perlu ditambahkan sebagai bahan
aditif dalam campuran aspal untuk pembuatan aspal polimer. Dan hal ini juga
merupakan salah satu cara yang paling tepat untuk meminimalisir limbah tersebut.
(Damayanthi, 2004).

2.3 Agregat
Yang dimaksud agregat dalam hal ini adalah berupa batu pecah, krikil, pasir
ataupun komposisi lainnya, baik hasil alam (natural aggregate), hasil pengolahan
(manufactured aggregate) maupun agregat buatan (syntetic aggregate) yang
digunakan sebagai bahan utama penyusun perkerasan jalan.
Menurut Pedoman No. 023/T/BM/1999, SK No. 76/KPTs/Db/1999. Dep.
Kimpraswil Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Prasarana Jalan, agregat
dibedakan dalam beberapa kelompok yaitu :
1. Agregat kasar, yaitu batuan yang tertahan saringan No. 8 (2,36 mm) terdiri atas
batu pecah atau kerikil pecah. Agregat kasar dalam campuran beraspal panas
untuk mengembangkan volume mortar dengan demikian membuat campuran
lebih ekonomis dan meningkatkan ketahanan terhadap kelelehan.
2. Agregat halus, yaitu batuan yang lolos saringan No. 8 (2,36 mm) dan tertahan
saringan No. 200 (0.075 mm) terdiri dari hasil pemecahan batu atau pasir alam.
Fungsi utama dari agregat halus adalah untuk mendukung stabilitas dan
mengurangi deformasi permanen dari campuran melalui ikatan dan gesekan antar
partikel, berkenaan dengan itu agregat halus harus memiliki kekerasan yang
cukup dan mempunyai sudut, mempunyai bidang pecah permukaan, bersih dan
bukan bahan organik.
3. Agregat pengisi (filler), terdiri atas bahan yang lolos saringan No. 200 (0,075
mm) tidak kurang dari 75% terhadap beratnya.(SK. SNI M-02- 1994-03). Fungsi
dari Filler adalah untuk meningkatan viskositas aspal dan untuk mengurangi
kepekaan terhadap temperatur (Rianung, 2007).

19

Universitas Sumatera Utara


2.3.1 Penggunaan Pasir Sebagai Bahan Agregat
Pasir adalah bahan batuan halus yang terdiri dari butiran sebesar 0,14 - 5 mm
didapat dari hasil disintegrasi batu alam (natural sand) atau dapat juga pemecahanya
(artifical sand), dari kondisi pembentukan tempat terjadinya pasir alam dapat
dibedakan atas : pasir galian, pasir sungai, pasir laut yaitu bukit-bukit pasir yang
dibawa ke pantai (Setyono, 2003).
Pasir merupakan agregat halus yang berfungsi sebagai bahan pengisi dalam
campuran aspal beton. Agregat ini menempati kurang lebih 70% dari volume aspal,
sehingga akan sangat berpengaruh terhadap kekuatannya. Persyaratan pasir menurut
PUBI 1982 agar dapat digunakan sebagai bahan konstruksi adalah sebagai berikut :
- Pasir harus bersih. Bila diuji dengan memakai larutan pencuci khusus, tinggi
endapan pasir yang kelihatan dibandingakan tinggi seluruhnya endapan tidak
kurang dari 70%.
- Kandungan bagian yang lewat ayakan 0,063 mm (Lumpur) tidak lebih besar dari
5% berat.
- Angka modulus halus butir terletak antara 2,2 sampai 3,2 bila diuji memakai
rangkaian ayakan dengan mata ayakan berukuran berturut-turut 0,16 mm, 0,315
mm, 0,63 mm, 1,25 mm, 2,5 mm, dan 10 mm dengan fraksi yang lewat ayakan
0,3 mm minimal 15% berat.
- Pasir tidak boleh mengandung zat-zat organik yang dapat mengurangi mutu aspal.
Kekekalan terhadap larutan MgSO4, fraksi yang hancur tidak lebih dari 10%
berat.
- Untuk beton dengan tingkat keawetan yang tinggi, reaksi pasir terhadap alkali
harus negatif (Setyawan, 2006).
Senyawa kimia silikon dioksida, juga yang dikenal dengan silika (dari bahasa
latin silex), adalah oksida dari silikon dengan rumus kimia SiO 2 dan telah dikenal
sejak dahulu kekerasannya. Silika ini paling sering ditemukan di alam sebagai pasir
atau kuarsa, serta di dinding sel diatom.

20

Universitas Sumatera Utara


2.4 Inisiator Dikumil Peroksida
Diantara berbagai tipe inisiator, peroksida (ROOR) dan hidroperoksida
(ROOH) merupakan jenis yang paling banyak digunakan. Mereka tidak stabil dengan
panas dan terurai menjadi radikal-radikal pada suatu suhu dan laju yang tergantung
pada strukturnya. Yang ideal, suatu inisiator peroksida mestilah relatif stabil pada
suhu pemrosesan polimer untuk menjamin laju reaksi yang layak (Stevens, 2001).
Dekomposisi termal dapat berguna diaplikasikan ke peroksida organik atau
senyawaan azo, contohnya dikumil peroksida ketika dipanaskan mungkin membentuk
dua fenil radikal dengan melepas CO2. Suatu keadaan awal dekomposisi yang didapat
ketika dikumil peroksida digunakan :

Teknik crosslinking (ikat silang) karet dengan peroksida telah dikenal sejak
lama. Keuntungan umum menggunakan peroksida sebagai zat ikat silang adalah
ketahanannya baik pada suhu tinggi dalam waktu yang lama, keelastisannya yang
baik, dan tidak ada penghilangan warna pada produk akhir.
Dikumil Peroksida (DCP), seperti pada Gambar 2.5 adalah sumber radikal
sumber yang kuat, digunakan sebagai inisiator polimerisasi, katalis, dan zat
penvulkanisasi. Temperatur waktu paruh 100 oC (untuk 890 menit) 120 oC (untuk 120
menit atau 2 jam) 160 oC (untuk 3 menit), dan 180 (untuk 1,2 menit). DCP
terdekomposisi dengan cepat, menyebabkan kebakaran dan ledakan, pada pemanasan
dibawah pengaruh cahaya (Eddyanto, 2007).

Gambar 2.5 Struktur Dikumil Peroksida

21

Universitas Sumatera Utara


Dikumil peroksida pada pemanasan tertentu dapat membentuk kumiloksi
radikal, dan dapat juga membentuk fenil radikal dan metil radikal, seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2.6 yang merupakan mekanisme radikal dari dikumil
peroksida (Eddyanto, 2007).

Gambar 2.6 Mekanisme Radikal Dari Dikumil Peroksida

2.5 Divenil Benzena (DVB)


Divenil benzena (DVB) berubah-ubah secara ekstrim zat crosslinking (ikat
silang) yang sangat baik dan juga meningkatkan sifat-sifat polimer. Sebagai contoh,
divenil benzena banyak digunakan pada pabrik adesif, plastik, elastromer, keramik,
material biologis, mantel, katalis, membran, peralatan farmasi, khususnya polimer
dan resin penukar ion. Gambar 2.7 merupakan struktur dari divenil benzena dalam
bentuk meta (m) dan para (p).

Gambar 2.7 Struktur Divenil Benzena

22

Universitas Sumatera Utara


Rumus molekul DVB C10H10, dengan titik didih 195o C dan titik nyala 76 o C,
bersifat tidak larut dalam air akan tetapi larut dalam etanol dan eter. Ketika bereaksi
bersama-sama dengan stirena, DVB dapat digunakan sebagai monomer reaktif dalam
resin poliester. Stirena dan DVB bereaksi secara bersama-sama menghasilkan suatu
kopolimer stirena DVB (James, 2005). Adapun penggunaan divenil benzena dalam
penelitian ini sebagai pengikat sambung silang (crosslinker) pada campuran antara
aspal, serbuk halus karet ban, dan juga polistirena.

2.5.1 Grafting Divenil Benzena Pada Polistirena


Reaksi grafting divenil benzena pada polistirena dapat terjadi selama proses
pembuatan aspal polimer. Mekanisme reaksi diperkirakan berlangsung melalui
radikal bebas. Reaksi diawali dengan dekomposisi inisiator oleh termal sehingga
terbentuk radikal bebas. Selanjutnya radikal bebas ini menyerang ikatan rangkap dari
divenil benzena dan terbentuk radikal divenil benzena. Kemudian radikal divenil
benzena ini berikatan dengan polistirena dan terbentuk ikatan silang. Adanya ikatan
slang akan menambah kekuatan sifat mekaniknya (Eddyanto, 2007).
Menurut Eddyanto (2007) reaksi pengikatan silang antara rantai polistirena
dengan molekul divenil benzena berlangsung seperti Gambar 2.8 Disamping
terjadinya ikatan silang, reaksi polimerisasi divenil benzena membentuk
homopolimer yang sangat mungkin terjadi karena adanya inisiator dikumil peroksida
sebagai sumber radikal bebas dan reaksi ini tidak diharapkan.

Gambar 2.8 Reaksi Antara Polistirena dengan Divenil Benzena

23

Universitas Sumatera Utara


2.6 Karakterisasi Modifikasi Aspal Polimer
Karakteristik dari modifikasi aspal polimer yang diukur dengan pengujian
sifat mekanik, sifat fisik dan analisis dengan FTIR. Dimana untuk pengujian sifat
mekanis yaitu dengan uji kuat tekan. Sedangkan pengujian sifat fisik yaitu dengan uji
penyerapan air, uji sifat termal material dengan DTA, dan uji morfologi dengan SEM.
Untuk analisis gugus fungsi dengan Spektroskopi FT-IR.

2.6.1 Pengujian Kuat Tekan


Untuk pengujian kuat tekan berdasarkan ASTM D 1559-76. Prinsip dasar
metode ini adalah pemeriksaan stabilitas dan kelelehan (flow), serta analisis
kepadatan dan pori dari campuran padat yang terbentuk. Prosedur pengujian
mengikuti SNI 03-6758-2002, atau ASTM D 1559-76.
Pemeriksaan uji kuat tekan dilakukan untuk mengetahui secara pasti akan
kekuatan tekan yang sebenarnya apakah sesuai dengan yang direncanakan atau tidak.
Pada mesin uji kuat tekan benda diletakkan dan diberikan beban sampai benda
runtuh, yaitu pada saat beban maksimum. Pengukuran kuat tekan (compressive
strength) aspal polimer dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut :
P
Fc ..................................(2.1)
A

Dengan : P = Gaya maksimum dari mesin tekan, kgf


A = Luas permukaan yang diberi tekanan, mm2
Fc = Nilai kuat tekan, kgf/mm2 (MPa)
Nilai P yang merupakan gaya maksimum dari hasil pengujian dimasukkan ke
dalam persamaan diatas untuk memperoleh nilai kuat tekan dari masing-masing
material yang diuji (Newdesnetty, 2009).

24

Universitas Sumatera Utara


2.6.2 Pengujian Penyerapan Air
Pengujian penyerapan air ini mengacu pada ASTM C 20-00-2005. Dimana
untuk mengetahui besarnya penyerapan air oleh aspal polimer, dihitung dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut (Newdesnetty, 2009) :
( B j Bk )
Nilai Penyerapan Air PA x100% .................................. (2.2)
Bk

Dengan : PA = persentase penyerapan air (%)


Bk = berat sampel kering (kg)
Bj = berat jenuh air (kg)

2.6.3 Pengujian Termal dengan Differential Thermal Analysis


Differential Thermal Analysis (DTA) yaitu merupakan suatu alat untuk
menganalisis sifat termal suatu sampel yang memiliki berat molekul tinggi seperti
bahan-bahan polimer dengan perlakuan sampel dipanaskan sampai terurai, yang
kemudian transisi-transisi termal dalam sampel tersebut dideteksi dan diukur. DTA
digunakan untuk menentukan temperatur kitis atau transisi gelas (T g), temperatur
maksimum (Tm) dan perubahan temperatur (T), dengan ukuran sampel berkisar 30
mg (Stevens, 2001).
Analisis termal bukan saja mampu untuk memberikan informasi tentang
perubahan fisik sampel (misalnya titik leleh dan penguapan), tetapi terjadinya proses
kimia yang mencakup polimerisasi, degradasi, dekomposisi, dan sebagainya. Dalam
bidang campuran polimer (poliblen) pengamatan suhu transisi kaca (T g) sangat
penting untuk meramalkan interaksi antara rantai dan mekanisme pencampuran
beberapa polimer.
Campuran polimer yang homogen akan menunjukkan satu puncak T g
(eksotermis) yang tajam dan merupakan fungsi komposisi. T g campuran biasanya
berada diantara Tg dari kedua komponen, karena itu pencampuran homogen
digunakan untuk menurunkan Tg , seperti halnya plastisasi dengan pemlastis cair.

25

Universitas Sumatera Utara


Pencampuran polimer heterogen ditujukan untuk menaikkan ketahanan bentur
bahan polimer. Campuran polimer heterogen ini ditandai dengan beberapa puncak T g,
karena disamping masing-masing komponen masih merupakan fase terpisah, daerah
antarmuka mungkin memberikan Tg yang berbeda. Pengamatan termal campuran
polimer juga dapat digunakan untuk menentukan parameter interaksi, yang
merupakan faktor penurunan suhu leleh kristal (Wirjosentono, 1995).
Sifat termal polimer merupakan salah satu sifat yang paling penting karena
menentukan sifat mekanis bahan polimer. Senyawa senyawa polimer menunjukkan
suhu transisi gelas pada suhu tertentu. Senyawa polimer amorf seperti polistirena dan
bagian amorf dari polimer semi kristalin seperti polietilen memiliki suhu transisi
gelas (Tg), namun polimer kristalin murni seperti elastomer tidak memiliki suhu
transisi gelas, namun hanya menunjukkan suhu leleh (T m). Gambar 2.9 berikut
merupakan pola kuva umum DTA.

Gambar 2.9 Pola Umum Kurva DTA

26

Universitas Sumatera Utara


Suhu transisi gelas terjadi ketika polimer amorf atau bagian amorf polimer
semi-kristalin menunjukkan perubahan dari keadaan lunak dan elastis menjadi
keadaan keras, rapuh dan mirip getas. Suhu transisi gelas dipengaruhi oleh
fleksibilitas rantai, kekuatan dan ukuran gugus samping dan fleksibilitas rantai
samping. Fleksibilitas rantai ditentukan oleh kemudahan gugus gugus yang
berikatan kovalen untuk berotasi. Rotasi ditentukan oleh energi dari gaya gaya
kohesi molekul. Penurunan fleksibilitas rantai meningkatkan Tg melalui peningkatan
halangan sterik. Halangan sterik ditentukan oleh ukuran dan bentuk rantai utama.
Gugus gugus samping yang besar dan kaku menurunkan fleksibilitas rantai
utama sehingga Tg meningkat. Penamabahan gugus samping yang fleksibel
menghsilkan peningkatan jarak antar rantai sehingga gaya intermolekuler menurun
dan kemuluran meningkat. Hal ini dapat dicapai dengan penambahan pemlastis dan
aditif lainnya (Kristian, 2008).

2.6.4 Pengujian Morfologi dengan Scanning Electron Microscopy


Scanning Elektron Mikroskopy (SEM) merupakan alat yang dapat membentuk
bayangan permukaan. Morfologi suatu benda uji dapat dipelajari dengan mikroskop
elektron pancaran karena jauh lebih mudah mempelajari struktur permukaan atau
morfologi itu secara langsung (Stevens, 2001).
Berkas elektron dengan diameter 5-10 nm diarahkan pada spesimen. Interaksi
berkas elektron dengan spesimen menghasilkan beberapa fenomena yaitu hamburan
balik berkas elektron, sinar X, elektron sekunder dan absorpsi elektron. Teknik SEM
pada hakekatnya merupakan pemeriksaan dan analisa permukaan. Data atau tampilan
yang diperoleh adalah data dari permukaan atau dari lapisan yang tebalnya sekitar 20
m dari permukaan.
Gambar permukaan yang diperoleh merupakan tofografi dengan segala
tonjolan, lekukan dan lubang pada permukaan. Gambar tofografi diperoleh dari
penagkapan elektron sekunder yang dipancarkan oleh spesimen. Sinyal elektron
sekunder yang dihasilkan ditangkap oleh detector yang diteruskan ke monitor. Pada

27

Universitas Sumatera Utara


monitor akan diperoleh gambar yang khas menggambarkan mofologi spesimen.
Selanjutnya gambar di monitor dapat dipotret dengan menggunakan film hitam putih
atau dapat pula direkam ke dalam suatu disket. Sampel yang dianalisa dengan teknik
ini harus mempunyai permukaan dengan konduktivitas tinggi. Karena polimer
mempunyai kondiktivitas rendah maka bahan perlu dilapisi dengan bahan konduktor
(bahan pengantar) yang tipis. Bahan yang biasa digunakan adalah perak, tetapi juga
dianalisa dalam waktu yang lama, lebih baik digunakan emas atas campuran emas
dan palladium (Rafli, 2008).

2.6.5 Analisis Gugus Fungsi dengan Spektroskopi Fourier Transform Infra Red
Spektroskopi FT-IR merupakan suatu metode analisis yang umum dipakai
untuk meneliti bahan polimer dan analisis gugus fungsi. Dengan cara menentukan
dan merekam hasil spektra residu dengan serapan energi oleh molekul organik dalam
sinar infra merah.
Daerah infra merah merupakan bagian yang memiliki panjang gelombang dari
7601 jt nm. Apabila daerah ini, molekul diberi energi maka molekul tersebut dapat
menyebabkan tekukan dan uluran ikatan itu akan meningkat, atau energi ini dapat
menyebabkan getaran dalam molekul-molekul dimana atom dalam molekul
mengubah posisi relatifnya. Setiap gugus fungsi dalam molekul umumnya
mempunyai karakteristik sendiri sehingga spektroskopi IR dapat digunakan untuk
mendeteksi gugus yang spesifik pada polimer. Intensitas pita serapan merupakan
ukuran konsentrasi gugus yang khas yang dimiliki oleh polimer (Stevens, 2001).
Penetapan secara kualitatif dapat dilakukan dengan membandingkan tinggi
peak (transmitansi) pada panjang gelombang tertentu yang dihasilkan oleh zat yang
diuji dan zat yang standar. Dalam ilmu material analisa ini digunakan untuk
mengetahui ada tidaknya reaksi atau interaksi antara bahan -bahan yang dicampurkan.
Selain itu, nilai intensitas gugus yang terdeteksi dapat menentukan jumlah bahan
yang bereaksi atau yang terkandung dalam suatu campuran (Antonius, 2009).

28

Universitas Sumatera Utara