Anda di halaman 1dari 15

BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Masalah

Anemia merupakan faktor komorbid utama pada pasien dengan penyakit ginjal

kronis (PGK) dengan mekanisme yang cukup kompleks. Defisiensi eritropoietin

(EPO) merupakan salah satu penyebab anemia pada PGK yang cukup signifikan.

Anemia pada PGK yang tidak diatasi akan menimbulkan gangguan fisiologis seperti

berkurangnya suplai oksigen jaringan, hipertrofi ventrikel kiri, gagal jantung

kongestif, dan penurunan kognitif dan mental. Anemia pada PGK sangat berpengaruh

terhadap penurunan kualitas hidup penderita, menurunkan kemampuan fisik, serta

meningkatkan morbiditas dan mortalitas.1,2 Oleh karena itu anemia pada PGK perlu

mendapat perhatian khusus dalam upaya penanganan yang komprehensif.

Penyakit ginjal kronis merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh

dunia, di Amerika Serikat penderita PGK mencapai 30 juta orang dan yang

mengalami stadium akhir meningkat dari 450.000 pada tahun 2003 menjadi 661.330

pada tahun 2010. 3 Berdasarkan National Health and Nutrition Examination Survey

(NHANES) 2007-2010 sekitar 14.0 % penduduk Amerika Serikat menderita PGK

sementara prevalensi anemia meningkat seiring meningkatnya stadium PGK dari 8.4

% pada stadium 1 sampai 53.4 % pada stadium akhir.4 sementara itu, di Indonesia

berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 prevalensi PGK di

Indonesia berdasar diagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,2 persen. Prevalensi

tertinggi di Sulawesi Tengah sebesar 0,5 persen, diikuti Aceh, Gorontalo, dan

1
2

Sulawesi Utara masing-masing 0,4 persen. Sementara Nusa Tenggara Timur,

Sulawesi Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa

Timur masingmasing 0,3 persen. 5

Penatalaksanaan anemia pada PGK terus mengalami perkembangan. Sejak

disetujuinya oleh US FDA pada tahun 1989, Erythropoietin stimulating agents (ESA)

menjadi terapi standard pada pasien PGK dengan anemia. 3 Penggunaan ESA

merupakan alternatif yang lebih baik dibanding transfusi darah secara berulang

kepada pasien PGK dengan anemia, sehingga dapat menurunkan angka perawatan di

rumah sakit serta meminimalkan risiko transfusi yaitu infeksi dan kelebihan kadar zat

besi sekunder. 6

Penggunaan ESA di Indonesia masih sangat jarang karena harga ESA tergolong

cukup mahal. Selain itu seringnya interval dan pemberian dengan rute parenteral juga

dapat mempengaruhi kepatuhan penderita dalam penggunaan terapi ESA. Selain itu,

penelitian mengenai penggunaan ESA sebagai terapi anemia pada pasien PGK di

Indonesia masih kurang, sehingga penelitian kami ini dilakukan untuk mengetahui

efektifitas ESA dalam memperbaiki anemia pada pasien PGK, selain itu juga

ditujukan untuk mengetahui profil efek dan dosis ESA yang sesuai dengan

masyarakat Indonesia, sehingga bisa dijadikan acuan terapi pada pasien anemia

dengan PGK di Indonesia.


3

1.2 Rumusan Masalah

a. Bagaimana rata-rata peningkatan kadar Hemoglobin (Hb) pada pasien anemia

dengan PGK setelah mendapat terapi ESA selama 3 bulan?

b. Berapa dosis efektif ESA yang dapat memberikan efek peningkatan Hb pada

pasien anemia dengan PGK?

c. Bagaimana variabilitas rata-rata peningkatan kadar Hb pada subjek yang berbeda?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai pada penelitian ini adalah:

1.3.1 Tujuan umum

Mengetahui efektifitas ESA dalam memperbaiki anemia pada pasien PGK

setelah pemberian ESA selama 3 bulan

1.3.2 Tujuan khusus

Penelitian ini bertujuan untuk:

a. Mengetahui rata-rata peningkatan kadar Hemoglobin (Hb) pada pasien

anemia dengan PGK setelah mendapat terapi ESA selama 3 bulan

b. Mengetahui dosis efektif ESA yang dapat memberikan efek peningkatan

Hb pada pasien anemia dengan PGK

c. Mengetahui variabilitas rata-rata peningkatan kadar Hb pada subjek yang

berbeda
4

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini antara lain:

a. Bagi peneliti

1. Memberikan informasi ilmiah tentang efektifitas ESA dalam memperbaiki

anemia pada pasien PGK.

2. Memberikan acuan standard terapi pasien anemia pada PGK sehingga

dapat diaplikasikan dalam tatalaksana klinis sehari-hari.

b. Bagi institusi

Memberikan informasi ilmiah mengenai manfaat ESA sebagai tatalaksana

yang efektif pada pasien Anemia dengan PGK sehingga dapat dijadikan dasar

penyusunan standar operasional pelayanan pada pasien.

c. Bagi masyarakat

Menambah wawasan masyarakat terhadap tatalaksana anemia pada penyakit

ginjal kronik sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif

pengobatan.
BAB II

Tinjauan Pustaka

2.1 Anemia

2.2 Penyakit Ginjal Kronik (PGK)

2.3 Anemia Pada PGK

2.4 Recombinant Human Erythropoietin (rHu-EPO)

2.4.1

2.4.2

5
BAB III

Kerangka Konseptual dan Hipotesis

3.1 Kerangka Konseptual

Masa hidup eritrosit Pasien PGT dengan


HD rutin dan
anemia

Defisiensi besi Preparat besi

Anemia pada Defisiensi rHu-EPO


PGK eritropoietin

Inflamasi

Evaluasi anemia dengan


pemeriksaan laboratorium:
Kehilangan darah Hemoglobin (Hb)

Keterangan
: Hubungan yang diteliti dalam penelitian
: Hubungan yang tidak diteliti dalam penelitian
: Titik tangkap kerja
: Patofisiologi terjadinya anemia pada PGK

Gambar 3.1 Kerangka Konseptual

6
7

3.2 Keterangan Kerangka Konseptual

Secara patofisiologi, anemia pada penyakit ginjal kronik dapat disebabkan oleh

masa hidup eritrosit yang menurun, defisiensi besi, defisiensi eritropoietin, proses

inflamasi, kehilangan darah karena gangguan fungsi platelet. Dari patofisiologinya

anemia pada pasien penyakit ginjal terminal dengan hemodialisis rutin dapat diterapi

dengan pemberian eritropoietin eksogen berupa recombinant human erythropoietin,

maupun pemberian preparat besi, namun hanya pemberian recombinant human

erythropoietin saja yang diteliti pengaruhnya terhadap kadar hemoglobin pada

pasien tersebut.

3.3 Hipotesis

Ada pengaruh penambahan sediaan rHu-EPO terhadap perbaikan kadar Hb dalam

pengelolaan anemia pada penderita PGT dengan hemodialisis rutin.


BAB IV

Metode Penelitian

4.1 Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian analitik eksperimental dengan desain randomized

clinical trial. Sampel memiliki peluang yang sama untuk masuk ke dalam kelompok

perlakuan dengan menggunakan randomisasi.

4.2 Populasi, Sampel, Teknik Pengambilan Sampel, dan Besar Sampel

4.2.1 Populasi

Populasi umum pada penelitian ini adalah semua orang dewasa.

Populasi terjangkau adalah pasien dewasa dengan penyakit ginjal terminal

yang berobat di Instalasi Rawat Jalan RSU Dr. Soetomo Surabaya pada bulan

Januari 2016 hingga Juli 2016.

Populasi sasaran adalah pasien dewasa dengan penyakit ginjal terminal yang

berobat di Instalasi Rawat Jalan RSU Dr. Soetomo Surabaya yang memenuhi

kriteria inklusi dan eksklusi penelitian ini.

4.2.2 Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah pasien dewasa dengan penyakit ginjal

terminal yang berobat di Instalasi Rawat Jalan RSU Dr. Soetomo Surabaya

yang memenuhi kriteria inklusi dan telah menyatakan bersedia untuk menjadi

sampel penelitian dengan menandatangani surat persetujuan.

8
9

a. Kriteria inklusi

1. Pasien PGT yang sudah menjalani HD sekurang kurangnya selama 6

bulan

2. Pasien dalam kondisi anemia dibuktikan dengan pemeriksaan kadar

Hb 10 g/dl

3. Status besi pasien dalam kondisi baik, dibuktikan dengan konsentrasi

feritin serum 100 ng/ml dan saturasi transferin 20%

b. Kriteria eksklusi

1. Pasien didiagnosis dengan suatu infeksi akut

2. Pasien dengan diagnosis tuberkulosis

3. Pasien dengan diagnosis kelainan hematologis lainnya (leukemia,

limfoma, dll.)

4. Pasien dengan perdarahan saluran cerna yang dibuktikan dengan

pemeriksaan darah samar feses

5. Pasien yang telah mendapatkan transfusi dalam 8 minggu terakhir

6. Pasien yang terlalu sensitif terhadap r-HuEPO (memerlukan dosis <

30 U/kgBB/minggu)

7. Pasien yang resisten terhadap r-HuEPO (memerlukan dosis > 500

U/kgBB/minggu)

8. Pasien dengan gangguan fungsi hati yang berat (sirosis hati Child C,

hepatitis akut)
10

4.2.3 Teknik pengambilan sampel

Metode pengambilan sampel dilakukan dengan rancangan non-probability

sampling (consecutive non-random sampling) mengingat keterbatasan waktu

dan sumber daya. Sampel diperoleh pada saat pemeriksaan dilakukan di

Instalasi Rawat Jalan RSU Dr. Soetomo Surabaya. Apabila pasien telah

memenuhi kriteria inklusi dan bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian

pada periode bulan Januari 2016 hingga Juli 2016, maka pasien

tersebutdengan sendirinya dimasukkan ke dalam sampel penelitian.

4.2.4 Besar sampel

4.3 Instrumen dan Bahan Penelitian

4.3.1 Instrumen penelitian

a. ccc

4.3.2 Bahan penelitian

a.

4.4 Prosedur Penelitian


11

4.5 Variabel Penelitian

4.5.1 Variabel bebas

a.

4.5.2 Variabel terikat

4.5.3 Variabel kontrol

a.

4.5.4 Variabel moderator

4.5.5 Variabel rambang

4.6 Definisi Operasional Variabel

4.6.1 Variabel bebas

a.

b.

4.6.2 Variabel terikat

4.6.3 Variabel kontrol

a)

4.6.4 Variabel moderator


12

4.6.5 Variabel rambang

4.7 Lokasi dan Jadwal Penelitian

4.7.1 Lokasi penelitian

4.7.2 Jadwal penelitian

4.8 Pengolahan dan Analisis Data

4.9 Kerangka Operasional Penelitian


DAFTAR PUSTAKA

Anson ML, 1951. Advances in Protein Chemistry, Volume 6. San Diego: Academic Press.
hal. 237-238

13
Lampiran 1:

14
15